Hal pertama yang dilakukan oleh praktikan adalah membuat larutan dengan konsentrasi yang
berbeda. Setelah semua bahan diukur sesuai dengan ketentuan konsentrasi, bahan dimasukan
kedalam gelas kimia yang selanjutnya akan dilarutkan hingga larut menggunakan alat magnetic
stirrer. Penggunaan alat tersebut bertujuan agar larutan yang dibuat dapat tercampur secara
homogen dengan kecepatan pengadukan yang konstan dan hal tersebut bertujuan untuk
mengurangi faktor perbedaan kecepatan pengadukan yang dapat mempengaruhi hasil akhir larutan
tersebut.
Setelah larutan tercampur secara homogen, praktikan memasukkan Asam Benzoat ke dalam larutan
tersebut agar mendapatkan larutan jenuh. Setelah praktikan menambahkan Asam Benzoat ke dalam
larutan yang dibuat praktikan menggunakan alat magnetic stirrer kembali selama 20 menit untuk
melarutkan Asam Benzoat yang telah dimasukan kedalam larutan agar Asam Benzoat dapat
tercampur secara homogen dan didapatkan larutan jenuh. Setelah didapatkan larutan yang jenuh,
praktikan menyaring hasil larutan yang dibuat menggunakan kertas saring yang bertujuan untuk
menyaring endapan yang terdapat pada larutan. Penyaringan tersebut bertujuan agar endapan tidak
terbawa saat pengujian yang akan mempengaruhi hasil akhir pengujian.
Sebelum larutan siap untuk diuji, praktikan harus menstandarisasi NaOH terhadap Asam Oksalat
terlebih dahulu. NaOH distandarisasi dahulu karena NaOH adalah larutan standar sekunder. Larutan
standar sekunder adalah larutan yang tidak bisa diketahui konsentrasinya melalui penimbangan, dan
hanya bisa diketahui dengan cara dititrasi oleh larutan standar primer. Setelah praktikan melakukan
standarisasi, praktikan memipet larutan yang telah dibuat sebanyak 5 mL yang dimasukan kedalam
erlenmeyer lalu praktikan menambahkan indicator, yaitu fenolftalein sebanyak 3 tetes. Setelah
penambahan indikator, larutan tersebut kemudian dititrasi dengan NaOH 0.1 N hingga warna larutan
berubah warna menjadi merah muda. Praktikan melakukan percobaan tersebut sebanyak 3 kali
untuk setiap larutannya.
Hasil pengamatan menunjukkan W5 mempunyai kelarutan yang paling tinggi, kadar Asam Benzoat
paling tinggi, dan konstanta dielektrik rendah. Pada W5 mempunyai kelarutan yang tinggi karena W5
mempunyai etanol yang paling banyak diantara larutan yang lain. Asam Benzoat sukar larut dalam
air, mudah larut dalam etanol, dalam kloroform, dan dalam eter (Depkes RI, 2014).
Rheologi adalah ilmu yang mempelajari tentang aliran cairan dan deformasi. Ilmu ini digunakan oleh
ahli fisiologi untuk menentukan sirkulasi darah, dan untuk para dokter dipakai untuk menentukan
aliran larutan injeksi, sedangkan untuk ahli farmasi digunakan untuk menentukan aliran suatu
sediaan misalnya emulsi, suspensi, dan salep (Kosman, 2012).
Beberapa tahun terakhir ini prinsip dasar rheologi telah digunakan dalam penyelidikan cat, tinta,
berbagai adonan, bahan-bahan untuk pembuat jalan, kosmetik, produk hasil peternakan, serta
bahan-bahan lain. Penyelidikan viskositas dari cairan sejati, larutan dan sistem koloid baik yang
encer maupun kental jauh lebih bersifat praktis dari pada bernilai teoris (Martin, 2008).
Reologi meliputi pencampuran dan aliran dari bahan, pemasukan kedalam wadah, pemindahan
sebelum digunakan, apakah dicapai dengan penuangan dari botol, pengeluaran dari tube, atau
pelewatan dari suatu jarum suntik. Reologi dari suatu produk tertentu yang dapat berkisar dalam
konsistensi dari bentuk cair ke semisolid sampai kepadatan, dapat mempengaruhi penerimaan bagi
si pasien, stabilitas fisika, dan bahkan availabilitas biologis. Jadi viskositas telah terbukti
mempengaruhi laju absorbsi obat dari saluran cerna (Martin, 2008).
Sifat-sifat reologi dari system farmasetika dapat mempengaruhi pemilihan alat yang akan digunakan
untuk memproses produk tersebut dalam pabriknya. Lebih-lebih lagi tidak adanya perhatian
terhadap pemilihan alat ini akan berakibat diperolehnya hasil yang tidak diinginkan, paling tidak
dalam karekteristik alirannya (Martin, 2008).
Hukum aliran dari Newton perbedaan kecepatan (dv) antara dua bidang cairan dipisahkan oleh suatu
jarak yang kecil sekali (dv) adalah “perbedaan kecepatan” atau rate of shear, dv/dr. Gaya persatuan
luas F’/A diperlukan untuk menyebabkan aliran, ini disebut shearing stress. Newton adalah orang
pertama yang mempelajari sifat-sifat aliran dari cairan secara kuantitatif. Dia menemukan bahwa
makin besar viskositas suatu cairan, akan makin besar pula gaya per satuan luas (shearing stress)
yang diperlukan untuk menghasilkan suatu rate of shear tertentu. Oleh karena itu, rate of shear
harus berbanding langsung dengan shearing stress atau F’/A = η dv/dr
Dimana η adalah koefisien viskositas, biasanya dinyatakan sebagai viskositas saja. Persamaan sering
kali ditulis sebagai (Martin, 2008) :
η = F/ G dimana F = F’/A dan G = dv/dr .
Untuk larutan viskositasnya bergantung pada konsentrasi atau kecepatan larutan. Umumnya larutan
yang konsentrasinya tinggi, viskositasnya juga tinggi. Sebaliknya larutan yang konsentrasinya rendah,
viskositasnya juga akan rendah. Adapun hubungan viskositas atau kekentalan dengan konsentrasi itu
penting karena dapat digunakan untuk mengetahui konsentrasi sel darah. Pada darah normal,
kekentalan terjadi dua kali dan bila konsentrasi darah meningkat mencapai 70 kali di atas normal,
maka kekentalan darah mencapai 20 kali air. Dengan alasan demikian, aliran darah merah sangat
rendah atau viskotasnya turun. Sebaliknya pada penderita polyathemia (kadar sel darah merah
meningkat), aliran darah sangat lambat karena viskositasnya naik (Kosman,2012).
Setiap fluida mempunyai viskositas yang berbeda-beda yang harganya bergantung pada jenis cairan
dan suhu. Cairan mempunyai viskositas lebih besar daripada gas, karena memiliki gaya gesek untuk
mengalir lebih besar. Pada kebanyakan cairan viskositasnya turun dengan naiknya suhu. Menurut
teori lubang terdapat kekosongan dalam cairan dan molekul bergerak secara kontinu ke dalam
kekosongan ini. Sehingga kekosongan akan bergerak keliling. Proses ini menyebabkan aliran, tetapi
memerlukan energi karena ada energi pengaktifan yang harus dimiliki suatu molekul agar dapat
bergerak ke dalam kekosongan. Energi pengaktifan lebih mungkin terdapat pada suhu yang lebih
tinggi dan dengan demikian cairan lebih mudah mengalir (Kosman,2012).
Viskositas mula-mulai diselidiki oleh Newton, yaitu dengan menggambarkan balok zat cair yang
terdiri lapisan-lapisan molekul yang sejajar satu sama lain. Lapisan terbawah tetap diam, sedangkan
lapisan diatasnya bergerak dengan kecepatan konstan, sehingga setiap lapisan akan bergerak
dengan kecepatan yang berbanding langsung dengan jaraknya terhadap lapisan terbawah yang
tetap. Perbedaan kecepatan dv antara dua lapisan yang dipisahkan dengan jarak dx disebut dv/dx
atau kecepatan geser (rate of shear). Sedangkan gaya per satuan luas F/A atau tekanan geser
(shearing stress) (Martin, 2008).
Ahli farmasi kemungkinan besar lebih sering menghadapi cairan non- Newton dibanding dengan
cairan biasa. Oleh karena itu mereka harus mempunyai metode yang sesuai untuk mempelajari zat-
zat kompleks. Ini. Non- Newtonian bodies adalah zat-zat yang tidak mengikuti persamaan aliran
Newton, disperse heterogen cairan dan padatan seperti larutan koloid, emulsi, suspensi cair, salep
dan produk-produk serupa masuk dalam kelas ini. Jika bahan-bahan Non-Newton dianalisis dalam
suatu Viskometer yang dan hasilnya diplot, diperoleh berbagai kurva konsentrasi yang
menggambarkan adanya tiga kelas aliran yakni : plastis, pseudoplastis dan dilatan (Martin, 2008).
Berdasarkan grafik sifat aliran (Rheogram) cairan Newton dibagi atas 2 kelompok, yaitu (Martin,
2008) :
Cairan yang sifat alirnya tidak dipengaruhi oleh waktu, kelompok ini terbagi atas tiga bagian yaitu :
Aliran Plastik
Cairan yang mempunyai aliran plastik tidak akan mengalir sebelum suatu gaya tertentu
dilampauinya. Gaya tersebut adalah “yieldvalue” atau “f”. Pada tekanan di bawah yieldvalue cairan
tersebut bertindak sebagai bahan plastik, sedangkan di atas harga ini aliran mengikuti hukum
Newton.
Aliran Pseudoplastik
Viskositas cairan pseudoplastik akan berkurang dengan naiknya kecepatan geser, berbeda dengan
aliran plastik, di sini tidak ada yieldvalue, karena kurva tidak mempunyai bagian yang linier, maka
cairan akan mempunyai aliran pseudoplastik tidak mempunyai harga viskositas yang absolut.
Aliran Dilatan
Viskositas cairan akan naik dengan naiknya kecepatan geser karena volumenya akan naik bila ia
bergeser. Ada dua jenis Viskometer untuk mengukur viskositas suatu zat cair, yaitu:
Viskometer satu titik : Viskometer Kapiler, Viskometer Bola Jatuh, Penatrometer, Palte Plastometer.
Viskometer banyak titik : Viskometer Rotasi Tipe Stromer, Brokfield
Nilai viskositas dinyatakan dalam viskositas spesifik, kinematik dan intrinsik. Viskositas spesifik
ditentukan dengan membandingkan secara langsung kecepatan aliran suatu larutan dengan
pelarutnya. Viskositas kinematik diperoleh dengan memperhitungkan densitas larutan. Baik
viskositas spesifik maupun kinematik dipengaruhi oleh konsentrasi larutan. Pengukuran viskositas
dilakukan dengan menggunakan Viskometer Ubbelohde yang termasuk jenis Viskometer Kapiler.
Untuk penentuan viskositas larutan polimer, Viskometer kapiler yang paling tepat adalah Viskometer
Ubbelohde (Rochime, 2007).
Stabilitas obat adalah kemampuan suatu obat untuk mempertahankan sifat dan karakteristiknya
agar sama dengan yang dimilikinya pada saat dibuat (identitas, kekuatan, kualitas, kemurnian) dalam
batas yang ditetapkan sepanjang periode penyimpanan dan penggunaan sehingga mampu
memberikan efek terapi yang baik dan menghindari efek toksik.
Praktikum kali ini bertujuan untuk mempelajari kinetika reaksi penguraian suatu zat, menentukan
tingkat reaksi penguraian suatu zat, menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi kestabilan suatu
zat, menentukan energi aktivasi dari reaksi penguraian suatu zat, dan menentukan usia simpan suatu
zat.
Dibuat larutan kafein dengan konsentrasi 5, 10, 12, 14, 16, 18, dan 20 ppm menggunakan larutan
kafein konsentrasi 100 ppm. Pembuatan larutan tersebut bertujuan untuk menentukan kurva
kalibrasi dan persamaan regresi yang berasal dari data serapan larutan yang [Link]
zat tersebut diukur pada panjang gelombang maksimum larutan kafein. Larutan kafein konsentrasi
14 ppm diukur sebagai panjang gelombang maksimum.
Pada pengujian uji stabilitas kafein praktikan sudah mendapatkan sampel yang telah dibuat
sebelumnya oleh dosen pembimbing. Adapun proses pembuatan larutan pada uji stabilitas adalah
mengukur konsentrasi kafein pada suhu yang berbeda. Pada praktikum kali ini digunakan suhu 50 °C,
60 °C, dan 70 °C, dimana maksud dari dilakukannya variasi suhu tersebut yaitu agar diketahui pada
suhu berapa suatu sediaan secara optimum dapat stabil dan untuk mengetahui pengaruh
temperatur terhadap kecepatan reaksi suatu obat.
Pengujian dilakukan dengan mengukur panjang gelombang larutan kafein konsentrasi 14 ppm.
Sebanyak 10 ml larutan dimasukan kedalam 18 vial dan disimpan dalam oven dengan suhu yang
berbeda. Setelah 5 menit diambil satu vial dari masing masing suhu dan kemudian didinginkan.
Fungsi didinginkan disini untuk menghentikan proses reaksi penguraian. Pengujian tersebut
dilakukan dengan rentang waktu yang berbeda beda. Variasi waktu yang digunakan dalam
percobaan yaitu 0’, 10’, 20’, 30’, 40’, dan 60 menit, dimana maksud dilakukannya variasi waktu
tersebut yaitu untuk mengetahui dimana pada setiap waktu kestabilan suatu sediaan atau obat
makin berkurang atau batas kadaluarsa obat semakin cepat.
Selanjutnya, dihitung serapan sampel tiap suhu dan tiap menit. Dihitung serapan ini bertujuan untuk
mengetahui konsentrasi sampel tiap suhu dan menit yang berbeda. Caranya yaitu memasukkan
harga serapan yang diperoleh ke dalam persamaan regresi dari kurva kalibrasi.
Setelah hasil didapatkan praktikan melakukan penentuan usia simpan larutan kafein dengan
menentukan tingkat reaksi penguraian dengan cara perhitungan dan grafik. Dari hasil praktikum
tingkat reaksi penguraian yang stabil pada masing-masing suhu adalah orde satu karena nilai r yang
mendekati satu dibandingkan orde dua dan orde nol. Selanjutnya praktikan menghitung harga
konstanta kecepatan reaksi masing-masing [Link] didapatkan nilai konstanta kecepatan
reaksi, praktikan menghitung energi aktivasi dengan membuat hubungan antara ln k dengan harga
1/T dengan T adalah suhu percobaan mutlak dalam °K. Energi aktivasi (Ea) yaitu kemampuan suatu
sediaan untuk dapat mengalami penguraian zat. Energi aktivasi (Ea) harus ditentukan dengan cara
mengamati perubahan konsentrasi pada suhu tinggi, dengan membandingkan dua harga atau lebih
konstanta penguraian zat pada temperatur atau suhu yang berbeda sehingga dapat ditentukan
energi aktivasinya. Selanjutnya praktikan menentukan harga k pada suhu kamar dan menghitung
usia simpan larutan kafein pada suhu kamar. Selanjutnya praktikan menghitung T90. T90 bertujuan
untuk mengetahui waktu yang digunakan larutan untuk terurai 10%. Jika telah terurai maka larutan
dianggap tidak dapat digunakan. T90 adalah waktu yang tertera yang menunjukkan batas waktu
diperbolehkannya obat tersebut dikonsumsi karena diharapkan masih memenuhi spesifikasi yang
ditetapkan.
Faktor yang mempengaruhi stabilitas sediaan farmasi tergantung pada profil sifat fisika dan kimia.
Faktor utama lingkungan dapat menurunkan stabilitas diantaranya temperatur yang tidak sesuai,
cahaya, kelembaban, oksigen dan mikroorganisme. Beberapa faktor lain yang juga mempengaruhi
stabilitas suatu obat adalah ukuran partikel, pH, kelarutan, dan bahan tambahan kimia.
Disolusi obat adalah proses ketika molekul obat dibebaskan dari fase padat dan masuk ke dalam fase
larutan. Jika partikel tetap di dalam fase padat setelah dimasukkan ke dalam larutan, dihasilkan
suspensi farmasetika. Umumnya, hanya obat dalam bentuk larutan yang dapat di absorpsi, di
distribusi, di metabolisme, di ekskresi, atau bahkan memberikan kerja farmakologis (Sinko, 2011).
Laju disolusi didefinisikan bila suatu tablet atau sediaan obat lainnya dimasukkan ke dalam beaker
berisi air atau dimasukkan ke dalam saluran cerna (saluran gastrointestinal), obat tersebut mulai
masuk ke dalam larutan dalam bentuk padatnya. Jika tablet tersebut tidak dilapisi polimer, matriks
padat juga mengalami disintegrasi menjadi granul-granul, dan granul-granul ini mengalami
pemecahan menjadi partikel-partikel yang halus. Disintegrasi, deagregasi, dan disolusi bisa
berlangsung secara serentak dengan melepasnya suatu obat dari bentuk dimana obat tersebut
diberikan (Martin, 2009).
Dalam praktikum ini, praktikum kali ini dilakukan secara in vitro. Bahan aktif yang digunakan adalah
Asam Benzoat. Asam Benzoat memiliki kelarutan yang sukar larut dalam air. Kelarutan Asam Benzoat
dalam air 100 sampai 1000 bagian (Depkes RI, 2014). Pada uji disolusi digunakan Asam Benzoat yang
bersifat sukar larut dalam air. Kemudian, dilarutkan dengan air yang bersifat polar menggunakan alat
pengaduk magnetik (magnetic stirrer) beserta pengaduknya. Uji disolusi yang diterapkan pada
sediaan obat bertujuan untuk mengukur serta mengetahui jumlah zat aktif yang terlarut dalam
media pelarut yang diketahui volumenya pada waktu dan suhu tertentu, menggunakan alat tertentu
yang didesain untuk uji parameter disolusi.
Pengaruh suhu pada uji disolusi ini dilakukan dengan mengatur kecepatan magnetic stirrer sebesar
50 rpm dalam suhu 30°C dan 40°C. Praktikum kali ini adalah untuk mengetahui pengaruh suhu pada
kecepatan disolusi. Karena semakin tinggi suhu maka akan memperbesar kelarutan suatu zat yang
bersifat endotermik serta akan memperbesar harga koefisien zat tersebut. Setelah aquadest
mencapai suhu 30°C dan 40°C, dimasukan 0,25 gram Asam Benzoat ke dalam aquadest sebanyak 100
mL yang sudah diatur kecepatan pengadukan dan suhunya. Diukur pengaruh suhu terhadap kadar
Asam Benzoat dengan mengambil sampel dari larutan dalam rentang waktu 1 menit, 5 menit, 10
menit, 15 menit, 20 menit, 25 menit, dan 30 menit. Setiap rentang waktu tersebut, larutan Asam
Benzoat diambil 10 mL dan digantikan dengan 10 mL aquadest, hal ini dilakukan secara berulang
untuk menjaga konsentrasi dalam kompartemen reseptor tetap rendah yang disebut dengan sink
condition. Sink condition ini dipertahankan agar konsentrasi kompartemen donor lebih besar
daripada kompartemen reseptor agar tidak terjadi keseimbangan yang dapat menyebabkan keadaan
stasioner dimana konsentrasi donor seimbang dengan konsentrasi reseptor. Dengan adanya
perbedaan konsentrasi dapat mempengaruhi kadar larutan dan menimbulkan perbedaan faktor
koreksi. Lalu setelah itu, sampel yang diambil dari larutan Asam Benzoat sebanyak 5 mL, ditentukan
kadarnya dengan cara dititrasi menggunakan larutan NaOH yang sebelumnya telah di standarisasi
dengan Asam Oksalat. NaOH sebagai larutan standar sekunder yang harus dibakukan dengan larutan
standar primer, yaitu Asam Oksalat. Sebelum dilakukan titrasi teteskan indikator pada titrat.
Indikator digunakan untuk mengetahui titik akhir titrasi. Titik akhir titrasi tercapai ketika titik
ekuivalen terlewati. Titik ekuivalen adalah titrasi mencapai setara secara stoikiometri. Indikator yang
digunakan untuk standarisasi NaOH dengan Asam Oksalat yaitu fenolftalein (Indikator PP). Indikator
PP dipilih karena memiliki rentang pH 8,0 ± 9,6. Karena titrasi ini melibatkan basa kuat dan asam
lemah yang akan menghasilkan garam basa, dimana indikator ini akan merubah warna larutan dari
bening menjadi merah muda akibat dari perubahan pH larutan pada saat penitrasian. Setelah
pembakuan NaOH dengan Asam Oksalat, dilanjutkan dengan pentitrasian antara NaOH dengan
larutan sampel yang diambil dari larutan Asam Benzoat untuk mengetahui konsentrasi Asam
Benzoat terhadap waktu untuk mengetahui pengaruh suhu terhadap larutan . Berdasarkan data
pengamatan praktikum, yaitu semakin tinggi suhu larutan Asam Benzoat maka semakin cepat pula
kecepatan disolusi Asam Benzoat. Sehingga semakin tinggi konsentrasi Asam Benzoatnya. Namun
terdapat kesalahan pada pengujian sampel dengan suhu 40°C. pada pengujian dengan suhu 40°C
grafik yang dihasilkan antara kosentrasi Asam Benzoat terhadap waktu tidak menunjukan hasil yang
meningkat, namun mengalami penurunan pada waktu 20 menit, 25 menit dan 30 menit. Hal
tersebut bisa disebabkan oleh banyak faktor yaitu adanya perbedaan alat yang digunakan dalam uji
disolusi akan menyebabkan perbedaan kecepatan pelarutan obat, kecepatan pengadukan akan
memengaruhi kecepatan pelarutan obat, semakin cepat pengadukan maka gerakan medium akan
semakin cepat sehingga dapat menaikkan kecepatan pelarutan, temperatur serta pengambilan
sampel juga dapat memengaruhi kecepatan pelarutan obat, terbawanya Asam Benzoat saat akan
melakukan titrasi, hasil akhir titrasi yang tidak pas, dan waktu pengambilan sampel yang tidak
konstan. Hal hal tersebut dapat mempengaruhi hasil pada larutan yang diuji pengaruh suhunya
terhadap kelarutan. Namun pengamatan pada suhu 30°C menghasilkan hasil yang sesuai dengan
hasil yang seharusnya yaitu peningkatan kadar Asam Benzoat terhadap waktu yang semakin
berjalan.
Uji disolusi dalam bidang Farmasi memegang peranan penting yaitu :
Uji disolusi digunakan untuk dalam bidang industri; dalam pengembangan produk baru, untuk
pengawasan mutu, dan untuk membantu menentukan kesetersediaan hayati.
Adanya perkembangan ilmu pengetahuan, seperti adanya aturan biofarmasetika, telah menegaskan
pentingnya disolusi.
Karakteristik disolusi biasa merupakan sifat yang penting dari produk obat yang memuaskan.
Uji disolusi digunakan untuk mengontrol kualitas dan menjaga terjaminnya standar dalam produksi
tablet.
Uji disolusi untuk mengetahui terlarutnya zat aktif dalam waktu tertentu menggunakan alat
disolution tester sehingga bisa menentukan waktu paruh dari sediaan tersebut
Sistem dispersi secara sederhana dapat diartikan sebagai larutan atau campuran dua zat yang
berbeda maupun sama wujudnya. Sistem dispersi ditandai dengan adanya zat yang terlarut dan zat
pelarut. Contohnya, jika tiga jenis benda, yaitu pasir, gula dan susu masing-masing dimasukkan ke
dalam suatu wadah yang berisi air, kemudian diaduk dalam wadah terpisah, maka kita akan
memperoleh 3 sistem dispersi (Martin et al, 2008).
Bila suatu zat dicampurkan dengan zat lain, maka akan terjadi penyebaran secara merata dari suatu
zat ke dalam zat lain yang disebut dengan sistem dispersi. Tepung kanji bila dimasukan ke dalam air
panas maka akan membentuk sistem dispersi dengan air sebagai medium pendispersi dan tepung
kanji sebagai zat terdispersi (Sumardjo, 2009).
Sistem terdispersi terdiri dari partikel kecil yang dikenal sebagai fase terdispersi, terdistribusi ke
seluruh medium kontinu atau medium terdispersi. Bahan-bahan yang terdispersi bisa mempunyai
jangkauan ukuran dari partikel-partikel berdimensi atom dan molekul sampai partikel-partikel yang
ukurannya diukur dalam milimeter. Oleh karena itu, cara yang paling mudah untuk penggolongan
sistem terdispersi adalah berdasarkan garis tengah partikel rata-rata dari bahan terdispersi.
Umumnya dibuat tiga golongan ukuran, yaitu dispersi molekuler, dispersi koloid, dan dispersi kasar
(Martin et al, 2008).
Dispersi molekular. Dispersi molekular atau larutan adalah sistem satu fase yang homogen, jernih,
dan memiliki diameter tidak lebih dari 10-7cm. partikel-partikel larutan tidak dapat dilihat dengan
mikroskop biasa maupun mikroskop ultra, sukar diendapkan, dan dapat melewati kertas saring biasa
maupun membran semipermeabel (Sumardjo, 2009).
Dispersi koloid. Koloid adalah campuran yang heterogen. 3 fase (padat, cair dan gas) dapat dibuat
sembilan kombinasi campuran fase zat, tetapi yang dapat membentuk sistem koloid hanya delapan.
Koloid yang mengandung fase terdispersi padat disebut sol. Koloid yang mengandung fase
terdispersi cair disebut emulsi. Koloid yang mengandung fase terdipersi gas disebut buih (Sutresna,
2007).
Emulsi adalah campuran dari dua atau lebih cairan yang biasanya bercampur (nonmixable atau
unblendable). Emulsi adalah bagian dari kelas yang lebih umum dari sistem dua fase materi disebut
koloid. Meskipun istilah koloid dan emulsi kadang-kadang digunakan secara bergantian, emulsi harus
digunakan ketika kedua tersebar dan fase kontinu adalah cairan. Dalam emulsi, satu cair (fase
terdispersi) tersebar di lain (fase kontinu). Contoh emulsi meliputi vinaigrettes, susu, mayones, dan
beberapa cairan pemotongan untuk pengerjaan logam. Pada pembuatan emulsi dibutuhukan
emulgator atau zat penghubung yang menyebabkan pembentukkan emulsi, contoh dari emulgator
ini adalah sabun (Sutresna, 2007).
Dispersi kasar. Dispersi kasar atau suspensi akan terjadi jika diameter fase terdispersi memiliki
ukuran di atas 100 nanometer. Sistem ini mula-mula keruh tetapi dalam beberapa saat segera
nampak batas antara fase terdispersi dengan medium pendispersi karena terjadinya pengendapan.
Kita dapat memisahkan fase terdispersi dari mediumnya dengan cara melakukan penyaringan
(Sutresna, 2007).
Dispersi kasar ini disebut juga dengan suspensi. Suspensi adalah sediaan cair yang mengandung
partikel tidak larut dalam bentuk halus yang terdispersi ke dalam fase cair. Suspensi oral adalah
sediaan cair yang mengandung partikel padat dalam bentuk halus yang terdispersi dalam fase cair
dengan bahan pengaroma yang sesuai yang ditujukan untuk penggunaan oral (Syamsuni, 2007).
Suatu suspensi yang dapat diterima mempunyai kualitas tertentu yang diinginkan (Martin et al,
2008) :
Zat yang tersuspensi (disuspensikan) tidak boleh cepat mengendap.
Partikel-partikel tersebut walaupun mengendap pada dasar wadah tidak boleh membentuk suatu
gumpalan padat tapi harus dengan cepat terdispersi kembali menjadi suatu campuran homogen bila
wadahnya dikocok.
Suspensi tersebut tidak boleh terlalu kental untuk dituang dengan mudah dari botolnya.
Untuk membuat suspensi stabil secara fisik ada dua cara, yaitu (Syamsuni, 2007) :
Penggunaan “structured vehicle” untuk menjaga partikel deflokulasi dalam suspensi. Structured
vehicle adalah larutan hidrokoloid seperti tilose, gom, bentonit, dan lain-lain.
Penggunaan prinsip-prinsip flokulasi untuk membentuk flok, meskipun cepat terjadi pengendapan,
tetapi dengan pengocokan ringan mudah disuspensikan kembali.
Sistem pembentukan suspensi ada dua, yaitu sistem flokulasi dan sistem deflokulasi. Dalam sistem
flokulasi, partikel flokulasi terikat lemah, cepat mengendap dan pada penyimpanan tidak terjadi cake
dan mudah tersuspensi kembali. Sedangkan partikel deflokulasi mengendap perlahan dan akhirnya
membentuk sedimen, akan menjadi agregasi dan akhirnya terbentuk cake yang keras dan sukar
tersuspensi kembali (Syamsuni, 2007).
Parameter yang dapat bisa digunakan dalam peyelidikan sedimentasi adalah volume sedimentasi.
Volume sedimentasi (F) didefinisikan sebagai perbandingan dari volume akhir dari endapan (Vu)
terhadap volume awal dari suspensi (Vo) sebelum mengendap.
Indeks bias adalah perbandingan kecepatan cahaya dalam udara dengan kecepatan cahaya dalam
zat tersebut. Menurut Farmakope, suhu pengukuran indeks bias adalah 25°C, namun pada banyak
monografi indeks bias ditetapkan pada suhu 20°C. Suhu pengukuran harus benar-benar diatur dan
dipertahankan, karena sangat mempengaruhi indeks bias. Indeks bias berguna untuk identifikasi zat
dan deteksi ketakmurnian. (Depkes RI, 2014)
Nilai indeks bias (n) sebuah bahan bening merupakan ukuran kerapatan
optis dari bahan bening itu. Kerapatan optis berarti ukuran kemampuan membelokkan sinar ke arah
mendekati garis normal. Jika n besar, semakin besar pula sudut pembelokkan sinar dari arah lurus ke
arah mendekati garis normal. Artinya, pada sudut datang yang sama (pada n lebih besar)
menghasilkan sudut bias yang lebih kecil. Nilai kerapatan optis ini tidak ada hubungannya dengan
rapat massa bahan atau medium pembias. (Jati, 2010)
Untuk mencapai ketelitian teoritis ±0,0001, perlu dilakukan kalibrasi alat
terhadap baku yang disediakan oleh pabriknya dan dilakukan pengecekan seringkali terhadap
pengendali suhu dan kebersihan alat dengan menetapkan indeks bias air, destilasi, adalah 1,3330
pada suhu 20°C dan 1,3325 pada suhu 25°C . Harga Indeks Bias dalam Farmakope Indonesia
dinyatakan untuk garis D cahaya Natrium dengan panjang gelombang dublet 589,0 nm dan 589,6
nm. Jika nD20 berarti indeks bias menggunakan suatu garis emisi D dari Natrium pada 589,0 nm
dengan temperature 20°C. Refraktometer Abbe’ digunakan untuk mengukur rentang indeks bias dari
bahan-bahan yang tercantum dalam Farmakope Indonesia. (Depkes RI, 2014)
Cahaya berjalan lebih lambat melalui suatu zat dibandingkan melalui ruang
hampa. Apabila cahaya memasuki suatu zat yang lebih rapat, gelombang-gelombang yang diteruskan
pada antar permukaan dimodifikasi menjadi saling mendekat karena kecepatannya yang lebih
lambat dan panjang gelombang yang lebih pendek. Apabila cahaya memasuki suatu zat yang lebih
rapat pada suatu sudut, seperti diperlihatkan satu bagian dari gelombang segera berjalan lebih
lambat begitu melewati antarmuka dan menghasilkan penekukan gelombang menuju antar muka.
Gejala ini disebut pembiasan. Apabila cahaya memasuki suatu zat yang kurang rapat, cahaya itu akan
dibiaskan menjauhi antarmuka dan tidak mengarah kepadanya. Nilai relatif dari efek diantara kedua
zat ini dinyatakan oleh indeks bias.
=
Keterangan: n = indeks bias suatu zat.
Sin i = sinus sudut sinar masuk.
Sin r = sinus sudut sinar bias.
C1 dan C2 = kecepatan cahaya masing-masing medium.
Pada umumnya, pembilang diambil sebagai kecepatan cahaya di udara dan
penyebut adalah bahan yang sedang diselidiki. Secara teoritis, seharusnya cahaya berjalan melalui
ruang hampa, walaupun demikian penggunaan udara sebagai pembanding menghasilkan perbedaan
n hanya 0,03% dan ini lebih umum digunakan. Perubahan indeks bias biasanya tergantung pada
panjang gelombang cahaya dan temperatur. (Sinko, 2014)
Rotasi Optik
Rotasi adalah perputaran benda pada suatu sumbu yang tetap. Misalnya
perputaran gasing dan gerak bumi mengelilingi poros/sumbunya. Optik adalah cabang fisika yang
menggambarkan kelakuan dari sifat cahaya dan interaksi cahaya dengan materi. Optik menerangkan
dan diwarnai oleh gejala optik. Bidang optik biasanya menggambarkan sifat cahaya tampak,
inframerah, dan ultraviolet, tetapi karena cahaya adalah gelombang elektromagnetik, maka gejala
yang sama juga terjadi di sinar X, gelombang mikro, gelombang radio, dan bentuk lain dari radiasi
elektromagnetik. Dengan melewatkan cahaya melalui suatu prisma polarisasi, seperti prisma nikol,
vibrasi, dan radiasi yang secara random terdistribusi dipilih sedemikian rupa sehingga hanya vibrasi
yang terjadi pada suatu bidang tunggal saja yang pancarkan. (Martin, 2009)
Rotasi optik adalah cahaya terpolarisasi yang melewati larutan bersifat optis
aktif dan arah polarisasinya berputar. Peristiwa rotasi optik dapat dimanfaatkan dalam bidang
kesehatan yaitu untuk menganalisi spesifikasi bahan obat dan produk obat (WHO :2005). Banyak
bahan obat, dalam keadaan murni atau dalam bentuk larutan, bersifat optis aktif. Zat optis aktif
adalah zat yang bersifat dapat memutar bidang polarisasi cahaya. Aktivitas optik adalah kemampuan
zat tertentu untuk memutar bidang cahaya terpolarisasi bidang pada saat cahaya melintas melalui
kristal, zat cair atau larutan. Hal ini terjadi bila molekul zat tidak simetris, sehingga molekul-molekul
tersebut dapat memiliki dua bentuk srtuktur yang berbeda, masing-masing merupakan pencerminan
yang lain. Salah satu zat optik aktif adalah larutan gula.
Selain itu, pengukuran rotasi optik dalam bidang kimia digunakan untuk
memeriksa kualitas minyak atsiri. Rotasi optik dapat diukur oleh alat polarimeter. Cahaya adalah
gelombang elektromagnetik, maka gejala yang sama juga terjadi di sinar-X, gelombang mikro,
gelombang radio, dan bentuk lain dari radiasi elektromagnetik dengan melewatkan cahaya melalui
suatu prisma polarisasi. Kecepatan dari cahaya yang dipolarisasi ke bidang ini dapat menjadi lebih
lambat atau lebih cepat apabila cahaya tersebut melalui suatu zat. Perubahan kecepatan ini
menyebabkan pembiasan yang dari cahaya yang terpolarisasi, yang menyatakan zat tersebut adalah
memutar kekanan, sedangkan putaran yang berlawanan dengan jarum jam menyatakan suatu zat
memutar kekiri. Zat memutar ke kanan, yaitu memutar sinar kekanan, menghasilkan sudut rotasi x
yaitu dinyatakan dengan tanda positif (+), sedangkan pada zat yang memutar kekiri sinar akan
memutar ke kiri, yaitu dinyatakan dengan tanda negatif (-).
Pemutaran bidang getar sinar terpolarisir oleh senyawa optis aktif ada 2
macam, yaitu :
Dextro rotary (+), jika arah putarnya ke kanan atau sesuai putaran jarum jam.
Levo rotary (-), jika arah putarnya ke kiri atau berlawanan dengan putaran jarum jam.
Jenis – jenis polarimeter :
Spektropolarimeter
Merupakan satu jenis polarimeter yang dapat digunakan untuk mengukur aktifitas
optik dan besarnya penyerapan. Pada alat ini mula – mula sinar berada dari lampu akan melalui
suatu monokromator dan melewati suatu polarisator untuk menghasilkan sinar terpolarisir.
Polarisator ini berhubungan langsung dengan modulator yang berguna untuk menghatur tingkat
sinar yang terpolarisasi secara elektris yang dapat diamati pada servo amplifier. Kemudian sinar
melewati sampel dan analisator sebelum mencapai tabung pengadaan sinar, dan dapat dilakukan
dengan pengamatan pada indikator.
Circular Dichroism Apparatus ( CDA )
CDA ini merupakan modifikasi dari spektrofotometer konfensional yang digunakan untuk
menentukan dua serapan atau absorban. Nilai polarisasi sekular ini dapat ditentukan dalam 2
langkah, yaitu yang pertama sinar harus mengalami polarisasi bidang dan kedua yaitu sinar
terpolarisasi tersebut diubah menjadi komponen terpolarisasi sirkular kanan dan sirkular kiri. Untuk
mengubah komponen menjadi terpolarisasi sekular kanan dan kiri, dapat digunakan tiga tipe alat,
yaitu the fresnel rhomb, modulator pockets elektro-optik dan modulator tekanan photo-elastik.
Saccarimeter
Alat ini hanya dapat digunakan untuk menentukan kadar gula. Sinar mempunyai arah getar atau
arah rambat kesegala arah dengan variasi warna dan panjang gelombang yang dikenal dengan sinar
polikromatis. Untuk menghasilkan sinar monokromatis, maka digunakan suatu filter atau sumber
sinar tertentu. Sinar monokromatis ini akan melewati suatu prisma yang terdiri dari suatu kristal
yang mempunyai sifat seperti layar yang dapat menghalangi jalannya sinar, sehingga dihasilkan sinar
yang hanya mempunyai satu arah bidang getar yang disebut sebagai sinar terpolarisasi.