I
Makalah Alat Ukur & Pengukuran
Sistematika Penulisan Karya Ilmiah
Dosen Pengampu : Lingga Ghufira Oktariza, S.T., M.T.
Disusun oleh:
Fazihan Tachta Firdaus 1803332058
Muhamad Aldi Ramdhan 1803332021
Muhammad Raihan Ramadhan 1803332075
Program Studi Teknik Telekomunikasi
Jurusan Teknik Elektro
Politeknik Negeri Jakarta
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah memberikan
nikmat dan karunianya kepada kita semua sehingga dapat menyusun makalah ini.
Makalah ini disusun semata-mata tidak hanya untuk pemenuhan tugas
Bahasa Indonesia tetapi juga sebagai langkah untuk dapat membuat sebuah karya
tulis sesuai dengan yang aturan telah ditentukan. Penulisan makalah ini telah
semaksimal mungkin kami upayakan dan didukung bantuan berbagai pihak,
sehingga dapat memperlancar dalam penyusunannya. Untuk itu tidak lupa kami
mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam
pembuatan makalah ini.
Tidak lepas dari semua itu, kami menyadari bahwa masih terdapat
kekurangan baik dari segi penyusunan bahasa dan aspek lainnya. Karena itu kami
mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun demi perbaikan makalah
mendatang. Harapan kami semoga makalah ini bermanfaat dan memenuhi harapan
berbagai pihak.
Depok, December 2018
Penyusun
I
DAFTAR ISI
Kata Pengantar I
Daftar Isi II
Pendahuluan 1
Pembahasan 3
Kata Penutup 14
Daftar Pustaka 15
II
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pengukuran adalah suatu teknik untuk menyatakan suatu sifat fisis dalam
bilangan sebagai hasil untuk membandingkan dengan suatu besaran baku yang
diterima sebagai satuan.
Dalam pengukuran dibutuhkan instrumen untuk membantu
keterampilanmanusia dalam menentukan nilai dari suatu besaran yang tidak
diketahui. Dengan demikian sebuah instrumen dapat didefinisikan sebagai
sebuah alat yang digunakan untuk menentukan besaran dari suatu kuantitas dan
[Link] disadari bahwa besaran listrik seperti arus, tegangan daya, dan
yang lainnya tidak dapat secara langsung kita tanggapi dengan panca indra kita.
Untuk memungkinkan pengukuran, maka besaran listrik ini ditransformasikan
melalui suatu phenomena fisis ke dalam besaran yang memungkinkan untuk
diamati oleh panca indrakita.
Dengan demikian kegiatan yang dilakukan untuk merubah besaran listrik ke
dalam suatu phenomena fisis yang dapat diamati oleh panca indra kita dikenal
sebagai pengukuran besaran listrik. Listrik merupakan kebutuhan hidup yang
tidak bisa dipisahkan dengan kehidupan kita. Listrik mempunyai ukuran
sehingga dapat diketahui keberadaannya juga besar nilainya. Daya merupakan
besar kekuatan listrik Adapun ukuran dari daya menurut satuan internasional
adalah watt. Watt disini biasa digunakan untuk mengukur daya yang digunakan
atau yang terpakai dari suatu beban listrik. Adapun alat yang digunakan untuk
mengukur daya adalah Watt meter.
1
1.2. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian dari Wattmeter.
2. Untuk mengetahui fungsi dari Wattmeter.
3. Untuk mengetahui komponen-komponen dalam Wattmeter.
4. Untuk mengetahui fungsi setiap komponen dalm Wattmeter.
5. Untuk mengetahui prinsip kerja dari Wattmeter.
6. Untuk mengetahui cara menggunakan Wattmeter.
7. Untuk megetahui macam-macam Wattmeter.
2
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Wattmeter
Wattmeter pada dasarnya merupakan penggabungan dari dua alat ukur yaitu
Amperemeter dan Voltmeter, untuk itu pada Wattmeter terdiri dari kumparan
arus (kumparan tetap) dan kumparan tegangan (kumparan putar), sehingga
pemasangannya juga sama yaitu kumparan arus dipasang seri dengan beban
dan kumparan tegangan dipasang paralel dengan sumber tegangan.
Wattmeter merupakan alat ukur yang digunakan untuk mengukur daya listrik
secara langsung. Wattmeter dapat digunakan untuk pengukuran pada arus
searah maupun arus bolak balik. Untuk arus searah, maka daya yang dipakai
dalam beban tahanan R dinyatakan sebagai
Dengan V adalah tegangan beban dan I adalah arus beban Pada arus bolak
balik, daya yang dipakai pada beban pada saat tegangan beban v dan arus beban
i dinyatakan sebagai p = v i dengan v dan i adalah tegangan dan arus sebagai
fungsi waktu yang memenuhi persamaan sinusoida. Terdapat beberapa jenis
Wattmeter yaitu diantaranya wattmeter elektrodinamis wattmeter Induksi,
wattmeter elektrostatis, wattmeter digital dan sebagainya.
Paling banyak digunakan adalah Wattmeter elekrodinamis.
2.2. Fungsi Alat
Fungsi wattmeter adalah alat ukur yang digunakan untuk mengukur daya
listrik secara langsung. Wattmeter dapat digunakan untuk pengukuran pada
arus searah (DC) maupun arus bolak balik (AC).
3
2.3. Komponen Alat
Gambar 1. Wattmeter analog
Wattmeter analog yang paling sederhana adalah wattmeter jenis
elektrodinamis, dimana terdiri dari sepasang kumparan tetap yang disebut
kumparan arus dan kumparan bergerak yang disebut kumparan tegangan
(potensial). Kumparan arus dihubungkan dengan rangkaian secara seri,
sedangkan kumparan potensial dihubungkan secara paralel dengan rangkaian
alat ukurnya. Selain itu pada wattmeter ini, kumparan potensial membawa
jarum yang bergerak di atas skala untuk menunjukkan pengukuran. Sebuah arus
yang mengalir melalui arus kumparan menghasilkan medan elektromagnetik di
sekitar kumparan. Kuat medan ini sebanding dan sefase dengan arus. Sebuah
resistor bernilai tinggi dihubungkan secara seri dengan alat ini untuk
mengurangi arus yang mengalir melewatinya. Kumparan potensial pada
wattmeter umumnya memiliki resistansi yang tinggi. Pada rangkaian arus
searah, simpangan jarum penunjuk sebanding dengan arus dan tegangan, dan
memenuhi persamaan P = VI.
4
Di bawah ini merupakan gambar komponen alat beserta keterangannya.
5
6
Keterangan:
2 1 Jarum penunjuk
1
2 Kaca
4 3 Pengatur Nol (Zero)
4 Skala : terdiri dari 120 bagian
3
(linear)
5 Terminal tegangan
6 Terminal arus
7
7 Tabel Perkalian
Gambar 2. Komponen Alat
2.4. Fungsi Setiap Komponen
2.4.1. Jarum penunjuk berfungsi sebagai penunjuk besaran yang di ukur.
2.4.2. Kaca berfungsikan untuk mengeliminir kesalahan parallax dalam
pembacaan.
2.4.3. Pengatur Nol (Zero) berfungsi untuk mengatur posisi nol dari
penunjukan jarum.
2.4.4. Skala berfungsi untuk membaca dari hasil pengukuran.
2.4.5. Terminal tegangan digunakan untuk menyambungkan tegangan.
Terminal common tegangan diberi tanda (±), dan terminal tegangan yang
lain mengindikasikan ukuran tegangan terukur.
2.4.6. Terminal arus : Salah satu terminal diberi tanda (±) untuk menunjukkan
bahwa terminal ini dihubungkan dengan terminal common tegangan, dan
terminal arus yang lain mengindikasikan ukuran arus terukur.
5
2.4.7. Tabel Perkalian : letak tabel perkalian di sisi samping alat ukur, tabel ini
digunakan untuk menentukan besarnya daya nyata dari nilai penunjukan.
2.5. Prinsip Kerja Wattmeter
Wattmeter bekerja berdasarkan prinsip kerja gaya lorentz. Gaya dimana
gerak partikel akan menyimpang searah dengan gaya lorentz yang
mempengaruhi. Arah gaya lorentz pada muatan yang bergerak dapat juga
ditentukan dengan kaidah tangan kanan dari gaya lorentz (F) akibat dari arus
listrik, I dalam suatu medan magnet B.
Ibu jari menunjukkan arah arus listrik (I). Jari telunjuk menunjukkan arah
medan magnet (B). Jari tengah menunjukkan arah gaya lorentz. Untuk muatan
positif arah gerak searah dengan arah arus, sedangkan untuk muatan negatif
arah gerak berlawanan dengan arah arus. I
Keterangan : B
F = Gaya Lorentz
I = Arus
B = Kuat Medan Magnet F
Gambar 3. Kaidah tangan kanan
2.6. Cara Menggunakan
1. Cara menggunakan wattmeter pertama-tama telitilah kedudukan jarum.
Penunjuknya, jika kedudukannya sudah tepat pada angka 0 berarti wattmeter
sudah siap untuk digunakan. Apabila kedudukan jarum penunjuk belum
tepat pada angka 0, maka harus diatur dengan memutar sekrup pengatur
kedudukan jarum.
6
2. Hasil pengukuran wattmeter didapatkan dengan mengalikan angka
penunjukkan jarum penunjuk dengan faktor pengali sesuai dengan batas
ukurnya.
Gambar 4. Cara menggunakan Wattmeter
Diagram hubungan wattmeter dapat diperlihatkan seperti pada gambar di bawah.
Gambar 5. Diagram hubungan Wattmeter
7
Dari gambar diagram hubungan wattmeter diatas terlihat bahwa terminal tegangan
yaitu terminal 240 V dan terminal ± dihubungkan secara paralel, sedangkan
terminal arus A dan terminal ± dihubungkan secara seri. Gambar a terlihat bahwa
terminal-terminal hubungan disambung antara terminal atas dan terminal bawah,
ini disebut hubungan seri. Sedangkan pada gambar b terminal samping kanan
disambung dengan terminal samping kiri, ini disebut hubungan paralel.
Hasil pengukuran wattmeter didapatkan dengan mengalikan angka penunjukkan
jarum penunjuk dengan faktor pengali sesuai dengan batas ukur dan jenis
hubungannya seperti terlihat pada tabel di bawah ini.
Tabel di atas dapat dijelaskan sebagai berikut :
• Dalam hubungan seri, batas ukur arus listriknya 0.5 ampere, jika
digunakan batas ukur tegangan berturut-turut 60 V; 120 V; 240 V, maka
hasil pengukuran dayanya adalah angka penunjukkan jarum dikalikan
dengan 0.25; 0.5; 1.
• Dalam hubungan parallel, batas ukur arus listriknya 1 ampere, jika
digunakan batas ukur tegangan berturut-turut 60 V; 120 V; 240 V, maka
hasil pengukuran dayanya adalah angka penunjukkan jarum dikalikan
dengan 0.5; 1; 2.
• Dalam hubungan seri, batas ukur dayanya sebesar 120 X 1 (Watt) = 120
Watt.
8
• Dalam hubungan parallel, batas ukur dayanya sebesar 120 X 2 (Watt) =
240 Watt.
2.7. Macam - macam Wattmeter
Wattmeter dapat dibedakan menjadi 2, yaitu Wattmeter Analog dan Wattmeter
Digital.
2.7.1. Wattmeter Analog
Wattmeter analog terdiri dari 2 tipe yaitu : wattmeter tipe
elektrodinamometer, wattmeter tipe induksi.
[Link]. Wattmeter tipe elektrodinamometer
Instrumen ini cukup familiar dalam desain dan konstruksi elektro
dinamometer tipe ampermeter dan voltmeter analog. Kedua koilnya
dihubungkan dengan sirkuit yang berbeda dalam pengukuran power. Koil
yang tetap atau field coil dihubungkan secara seri dengan rangkaian, koil
bergerak dihubungkan paralel dengan tegangan dan membawa arus yang
proporsional dengan tegangan. Sebuah tahanan non-induktif dihubungkan
secara seri dengan koil bergerak supaya dapat membatasi arus menuju nilai
yang kecil. Karena koil bergerak membawa arus proposional dengan
tegangan maka disebut pressure coil atau voltage coil dari wattmeter.
Gambar 6. Konstruksi wattmeter elektrodinamometer
9
[Link] Wattmeter tipe Induksi
Prinsip kerja wattmeter induksi sama dengan prinsip kerja amperemeter
dan voltmeter induksi. Perbedaan dengan wattmeter jenis dinamometer
adalah wattmeter induksi hanya dapat dipakai dengan suplai listrik bolak
balik sedangkan wattmeter jenis dinamometer dapat dipakai baik dengan
suplai listrik bolak balik atau searah. Kelebihan dan keterbatasan wattmeter
induksi yaitu wattmeter induksi mempunyai skala lebar, bebas pengaruh
medan liar, serta mempunyai peredaman bagus. Selain itu, alat ukur ini juga
bebas dari error akibat frekuensi.
Kelemahannya adalah timbulnya error yang kadang-kadang serius yang
diakibatkan oleh pengaruh suhu, sebab suhu ini berpengaruh pada tahanan
lintasan arus eddy.
[Link]. Wattmeter tipe thermokopel
Alat pengukur wattmeter tipethermokopel merupakan contoh dari suatu alat
pengukur yang dilengkapi dengan sirkuit perkalian yang khusus. Bila arus-
arus berbanding lurus terhadap tegangannya, sehingga memenuhi
persamaan:
Gambar 7 Prinsip wattmeter jenis thermokopel
10
Prinsip kerja wattmeter thermokopel bekerja berdasarkan pada adanya gaya
listrik termos. Wattmeter jenis thermocouple ini biasanya digunakan untuk
mengukur daya yang kecil yaitu pada frekuensi audio.
Jika ditinjau dari fasanya, Wattmeter ada 2 yaitu : wattmeter satu fasa dan
wattmeter tiga fasa.
• Wattmeter satu fasa
Secara luas dalam pengukuran daya, wattmeter tipe Elektrodinamometer
dapat dipakai untuk mengukur daya searah (DC) maupun daya bolak-balik (AC)
untuk setiap bentuk gelombang tegangan dan arus dan tidak terbatas pada
gelombang sinus saja. Wattmeter tipe elektrodinamometer terdiri dari satu pasang
kumparan yaitu kumparan tetap yang disebut kumparan arus dan kumparan
berputar yang disebut dengan kumparan tegangan, sedangkan alat penunjuknya
akan berputar melalui suatu sudut, yang berbanding lurus dengan hasil perkalian
dari arus-arus yang melalui kumparan-kumparan tersebut. Gambar 8 menunjukkan
susunan wattmeter satu fasa
Gambar 8. Diagram Rangkaian Wattmeter satu fasa
• Wattmeter tiga fasa
Sistem fasa banyak, memerlukan pemakaian dua atau lebih wattmeter.
Kemudian daya nyata total diperoleh dengan menjumlahkan pembacaan masing-
11
masing wattmeter secara aljabar. Teorema Blondel menyatakan bahwa “daya
nyata dapat diukur dengan mengurangi satu elemen wattmeter dan sejumlah
kawat-kawat dalam setiap fasa banyak, dengan persyaratan bahwa satu kawat
dapat dibuat common terhadap semua rangkaian potensial”.
Gambar 9 menunjukkan sambungan dua wattmeter untuk pengukuran konsumsi
daya oleh sebuah beban tiga fasa yang setimbang yang dihubungkan secara delta.
Kumparan arus wattmeter 1 dihubungkan dalam jaringan A, dan kumparan
tegangan dihubungkan antara (jala-jala, line) A dan C. Kumparan arus wattmeter
2 dihubungkan dalam jaringan B , dan kumparan tegangannya antara jaringan B
dan C. Daya total yang dipakai oleh beban setimbang tiga fasa sama dengan
penjumlahan aljabar dari kedua pembacaan wattmeter. Diagram fasor gambar 4-
5 menunjukkan tegangan tiga fasa VAC, VCB, VBA dan arus tiga fasa IAC,
ICB dan IBA. Beban yang dihubungkan secara delta dan dihubungkan secara
induktif dan arus fasa ketinggalan dari tegangan fasa sebesar sudut.
L1
L2
L3
Gambar 9. Diagram Rangkaian Wattmeter 3 fasa
12
Gambar10. Wattmeter 1 fasa dan 3 fasa
2.7.2 Wattmeter Digital
Wattmeter elektronik digital modern/energy meter menghasilkan sampel
tegangan dan arus ribuan kali dalam sedetik. Nilai rata-rata tegangan instan
yang dikalikan dengan arus adalah true power (daya murni). Daya murni yang
dibagi oleh volt-ampere (VA) nyata adalah power factor. Rangkaian komputer
menggunakan nilai sampel untuk menghitung tegangan RMS, arus RMS, VA,
power (watt), power factor, dan kilowatt-hours (kwh). Model yang sederhana
menampilkan informasi tersebut pada layar display LCD. Model yang lebih
canggih menyimpan informasi tersebut dalam beberapa waktu lamanya, serta
dapat mengirimkannya ke peralatan lapangan atau lokasi pusat.
Gambar 11. Wattmeter Digital
13
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Dari pembahasan diatas maka dapat diambil beberapa kesimpulan, yaitu:
• Wattmeter merupakan alat untuk mengukur daya listrik secara langsung.
• Prinsip kerja wattmeter induksi sama dengan prinsip kerja amperemeter dan
voltmeter induksi. Perbedaan dengan wattmeter jenis dinamometer adalah
wattmeter induksi hanya dapat dipakai dengan suplai listrik bolak balik
sedangkan wattmeter jenis dinamometer dapat dipakai baik dengan suplai
listrik bolak balik (AC) atau searah (DC).
• Berdasarkan dari fasanya, jenis-jenis Wattmeter ada 2 yaitu : wattmeter
satu fasa dan wattmeter tiga fasa.
• Prinsip kerja wattmeter sama dengan prinsip kerja amperemeter dan
voltmeter, dimana alat tersebut menggunakan prinsip kerja gaya lorentz.
• Pada rangkaian arus searah, simpangan jarum penunjuk sebanding dengan
arus dan tegangan, dan memenuhi persamaan P = VI, dimana persamaan
tersebut merupakan persamaan daya listrik.
3.2 SARAN
Wattmeter merupakan alat ukur listrik yang sering digunakan, maka dari itu
sebelum menggunakan wattmeter kita harus mengerti dulu tentang cara memakai
wattmeter dengan benar serta dalam pengoperasiaannya harus memperhatikan
manual book yang ada, jangan menggunakan alat dengan sembarangan,,
gunakanlah dengan benar sesuai dengan fungsinya
14
DAFTAR PUSTAKA
[Link]
[Link] ilmuwan-
[Link]
[Link]
[Link] [Link]
wattmeter/
Sapiie S., Nishino O., 1979, Pengukuran dan Alat-alat Ukur Listrik., Jakarta :
Pradnya Paramita.
Sears, Zemansky: fisika untuk universitas 2 Listrik Magnet. Bina Cipta: Bandung,
1992.
Suryatmo S, 1999, Teknik Pengukuran Listrik dan Elektronika, Bumi aksara:
Jakarta
Wahyuni,A & Susanna. (2012). Alat ukur dan pengukuran. Banda Aceh: FKIP
UNSYIAH
15