0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
41 tayangan24 halaman

Terapi Komplementer dan Manajemen Nyeri

Makalah ini membahas tentang terapi komplementer dan manajemen nyeri. Terapi komplementer adalah terapi medis alternatif yang digunakan sebagai tambahan untuk pelayanan kesehatan konvensional. Beberapa jenis terapi komplementer yang dijelaskan meliputi akupuntur, herbal obat tradisional, dan manipulasi tulang belakang. Makalah ini juga membahas definisi nyeri, cara menilai nyeri, faktor yang mempengaruhi nyeri, dan

Diunggah oleh

Achmad Sy
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
41 tayangan24 halaman

Terapi Komplementer dan Manajemen Nyeri

Makalah ini membahas tentang terapi komplementer dan manajemen nyeri. Terapi komplementer adalah terapi medis alternatif yang digunakan sebagai tambahan untuk pelayanan kesehatan konvensional. Beberapa jenis terapi komplementer yang dijelaskan meliputi akupuntur, herbal obat tradisional, dan manipulasi tulang belakang. Makalah ini juga membahas definisi nyeri, cara menilai nyeri, faktor yang mempengaruhi nyeri, dan

Diunggah oleh

Achmad Sy
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Perkembangan terapi komplementer akhir-akhir ini menjadi
sorotan banyak negara. Terapi komplementer dikenal dengan terapi
tradisional yang digabungkan dalam pengobatan modern. Terminologi ini
dikenal sebagai terapi modalitas atau aktivitas yang menambahkan
pendekatan ortodoks dalam pelayanan kesehatan. Bentuk terapi yang
digunakan dalam terapi komplementer ini beragam sehingga disebut juga
dengan terapi holistik. Pendapat ini didasari oleh bentuk terapi yang
mempengaruhi individu secaa menyeluruh yaitu sebuah keharmonisan
individu untuk mengintegrasikan pikiran, badan, dan jiwa dalam kesatuan
fungsi. Pengobatan dengan menggunakan terapi komplementer
mempunyai selain dapat meningkatkan kesehatan secara lebih menyeluruh
juga lebih murah. Kebutuhan masyarakat yang meningkat dan
berkembangnya penelitian terhadap terapi komplementer menjadi peluang
perawat untuk berpartisipasi sesuai kebutuhan masyarakat. Perawat dapat
berperan sebagai konsultan untuk klien dalam memilih alternatif yang
sesuai ataupun membantu memberikan terapi langsung (Widyatuti, 2008).
Nyeri merupakan alasan paling umum seseorang mencari bantuan
perawatan keseshatan. Nyeri terjadi bersama proses penyakit, pemeriksaan
diagnostik dan proses pengobatan. Nyeri sangat mengganggu dan
menyulitkan banyak orang. Perawat tidak bisa melihat dan merasakan
nyeri yang dialami oleh klien, karena nyeri bersifat subjektif (antara satu
individu dengan individu lainnya berbeda dalam menyikapi nyeri).
Perawat memberikan asuhan keperawatan kepada klien di berbagai situasi
dan keadaan, yang memberikan intervensi untuk meningkatkan
kenyamanan (Widyatuti, 2008).

1
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa definisi yang dimaksud dengan terapi komplementer?
2. Apa saja tipe-tipe dari komplementer?
3. Apa definisi nyeri dalam merawat pasien?
4. Bagaimana cara mengkaji intesitas nyeri pasien?
5. Apa saja yang termasuk dalam klasifikasi nyeri?
6. Apa saja faktor pengaruh persepsi dan reaksi nyeri?
7. Bagaimana penatalaksanaan non farmakologis untuk pasien nyeri?
8. Apa yang saja medikasi nyeri?

1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Tujuan umum pada makalah terapi komplementer dan manajemen nyeri
yaitu sebagai berikut:
Mengetahui tentang konsep penanganan terapi komplementer dan
manajemen nyeri.
1.3.2 Tujuan Khusus
Tujuan khusus pada makalah terapi komplementer dan manajemen
nyeri yaitu sebagai berikut:
1. mengetahui definisi dari terapi komplementer.
2. mengetahui tipe-tipe dari komplementer.
3. mengetahui definisi nyeri dalam merawat pasien.
4. memahami cara mengkaji nyeri pasien.
5. mengetahui klasifikasi nyeri.
6. mengetahui faktor pengaruh persepsi dan reaksi nyeri.
7. memahami penatalaksanaan non farmokologis untuk pasien nyeri.
8. mengetahui medikasi nyeri.

2
BAB 2
TINJAUAN TEORI

2.1 Definisi Terapi Komplementer


Terapi komplementer adalah terapi medis alternatif yang
digunakan sebagai tambahan untuk pelayanan kesehatan individu yang
bersumber pada berbagai sistem, modalitas, dan praktik kesehatan yang
didukung oleh teori dan kepercayaan untuk usaha menyembuhkan diri
(Patricia A, Potter & Anne G, Perry. 2010).

2.2 Tipe-Tipe Terapi Komplementer


1. Sistem medis alternatif diantara sistem teori dan praktik yang lengkap
antara lain:
a. Akupuntur
Suatu metode tradisional China yang menghasilkan analgesia
atau perubahan fungsi sistem tubuh dengan cara memasukkan jarum
tipis disepanjang rangkaian garis atau jalur yang disebut meridian.
Manipulasi jarum langsung pada meridian energi akan
mempengaruhi organ internal.
b. Ayuvedha
Sistem pengobatan tradisional hindu yang digunakan di India
sejak abad pertama AD. Suatu kombinasi obat seperti herbal, obat
pencahar, dan minyak gosok untuk mengobati penyakit.
c. Pengobatan homeopatik
Sistem pengobatan medis didasari pada teori bahwa penyakit
tertentu dapat diobati dengan memberikan dosis kecil substansi pada
individu sehat akan menghasilkan gejala seperti penyakit. Substansi
yang dianjurkan tersebut adalah obat yang dibuat dari tumbuh-
tumbuhan alami, hewan, atau substansi mineral.
d. Praktik Amerika Latin
Sistem medis curanderismo, dimana memasukkan suatu model
humonal untuk mengklasifikasikan makanan, aktifitas, obat-obatan,
dan penyakit serta rangkaian penyakit masyarakat.

3
e. Pengobatan naturopatik
Pengobatan yang menggabungkan terapi tradisional alami
dengan pengobatan botanical (tumbuh-tumbuhan).
f. Pengobatan tradisional China (Asian)
Merupakan kumpulan teknik dan metode sistematik yang
menggabungkan pengobatan akupuntur, pengobatan herbal, pijatan,
akupresur, muxibistion (menggunakan panas dari herbal yang
dibakar).
g. Terapi oksigen
Adalah untuk mencegah dan memperbaiki hipoksia jaringan,
sedangkan tujuan khususnya adalah untuk mendapatkan PaO2 lebih
dari 90 mmHg atau SaO2 lebih dari 90%.
2. Terapi secara biologis yang menggunakan substansi dari alam, seperti
herbal, makanan, dan vitamin.
a. Zona
Program diet yang membutuhkan makanan yang berprotein,
karbohidrat, dan lemak dalam perbandingan 30:40:30% kalori dari
protein, 40% karbohidrat, 30% dari lemak. Digunakan untuk
menyeimbangkan insulin dan hormon lain untuk kesehatan yang
optimal.
b. Diet makribiotik
Merupakan diet vegetarian (tidak ada produk hewan kecuali
ikan). Awalnya diet ini digunakan dalam manajemen berbagai
kanker. Penekanan diet ini terdapat pada semua biji-bijian padi,
sayur-sayuran, dan makanan yang tidak diawetkan.
c. Pengobatan ortomelekular (megavitamin)
Merupakan pengobatan dengan cara meningatkan masukan
nutrisi seperti vitamin C dan delta karoten. Pengobatan ini dilakukan
pada penyakit kanker, skizofrenia, penyakit autis, dan penyakit
kronis tertentu seperti hiperkolesterolemia dan penyakit arteri
koroner.

4
d. European phytomedicines
Produk yang dikembangkan di bawah kontrol kualitas yang
ketat pada pabrik farmasi yang berpengalaman, dibungkus secara
profesional dalam tablet atau kapsul. Contoh obat-obatan herbal
yang telah diteleti dengan baik adalah gingko biloba, susu dari
tanaman liar, dan bilberry.
e. Obat-obatan tradisional China
Sudah lebih dari 50.000 jenis tanaman obat, banyak yang telah
diteliti secara luas.
f. Herbal Ayuveda
Sistem herbal tradisional Hindu yang telah digunakan lebih
dari 2000 tahun.
3. Manipulasi dan metode didasari tubuh-didasari pada manipulasi dan
pergerakan dari satu atau lebih bagian tubuh.
a. Akupresur
Tekhnik terapeutik yang menggunakan tekanan digital dalam
cara tertentu pada titik yang dibuat pada tubuh untuk mengurangi
rasa nyeri, menghasilkan analgesia, atau mengatur fungsi tubuh.
b. Pengobatan kiropratik
Sistem terapi yang melibatkan manipulasi kolumna spinalis
dan memasukkan fisioterapi dan terapi diet.
c. Metode Feldenkrais
Terapi alternatif yang didasarkan pada citra tubuh yang baik
melalui perbaikan pergerakan tubuh. Tekhnik ini mengintregasikan
pemahaman fisika tentang pola pergerakan tubuh dengan
kewaspadaan seseorang dalam mempelajari gerak, sikap, dan
interaksi.
d. Tai Chi
Tekhnik yang menggabungkan pernafasan, gerakan, dan
meditasi untuk membersihkan, memperkuat, dan sirkulasi energi dan
darah kehidupan yang penting. Terapi merangsang sistem imun dan
mempertahankan keseimbangan internal dan eksternal.

5
e. Terapi pijat
Manipulasi jaringan ikat melalui pukulan, gosokan, atau
meremas untuk meningkatkan sirkulasi, memperbaiki sifat otot, dan
relaksasi.
f. Sentuhan ringan
Sentuhan pada klien dengan cara yang tepat dan halus untuk
membuat hubungan, menunjukkan penerimaan, dan memberikan
penghargaan.
4. Intervensi tubuh dan pikiran-menggunakan berbagai tekhnik yang dibuat
untuk meningkatkan kapasitas pikiran untuk mempengaruhi tubuh.
a. Terapi seni
Penggunaan seni untuk mendamaikan konflik emosional,
meningkatkan kewaspadaan diri, dan mengungkapkan masalah yang
tidak dikatakan dan disadari klien tentang penyakit mereka.
b. Umpan balik biologis
Suatu proses yang memberikan individu dengan informasi visual
dan suara tentang fungsi fisiologis otonom tubuh, dan aktivitas
gelombang otak melalui penggunaan alat-alat.
5. Intervensi tubuh-pikiran-menggunakan berbagai tekhnik yang dibuat untuk
meningkatkan kapasitas pikiran guna mempengaruhi fungsi dan gejala
tubuh.
a. Terapi dansa
Sarana memperdalam dan memperkuat terapi karena merupakan
ekspresi langsung dari pikiran dan tubuh. Terapi ini mampu mengobati
individu dengan masalah sosial, emosional, kognitif, atau fisik.
b. Terapi pernapasan
Menggunakan segala jenis pola pernapasan untuk untuk
merelaksasi, memperkuat, atau membuka jalur emosional.
c. Imajinasi terbimbing
Tekhnik terapeutik untuk mengobati kondisi patalogis dengan
berkonsentrasi pada imajinasi atau serangkaian gambar.

6
d. Meditasi
Praktik yang ditujukan pada diri untuk merelaksasi tubuh dan
menerangkan pikiran menggunakan ritme pernapasan yang berfokus.
e. Terapi musik
Menggunakan musik untuk menunjukkan kebutuhan fisik,
psikologis, kognitif, dan sosial individu yang menderita cacat dan
penyakit. Terapi memperbaiki gerakan dan atau kmunikasi fisik,
mengembangkan ekspresi emosional, memperbaiki ingatan, dan
mengalihkan rasa nyeri.
f. Usaha pemulihan (doa)
Berbagai teknik yang digunakan dalam budaya menggabungkan
pelayanan, kesabaran, cinta, atau empati dengan target doa.
g. Psikoterapi
Pengobatan kelainan mental dan emosional dengan teknik
psikologi.
h. Yoga
Teknik yang berfokus pada susunan otot, postur, mekanisme
pernapasan, dan kesadaran tubuh. Tujuan yoga adalah memperoleh
kesejahteraan mental dan fisik melalui pencapaian kesempurnaan
tubuh dengan olahraga, mempertahankan postur tubuh, pernapasan
yang benar, dan meditasi.
6. Terapi energi melibatkan pengunaan medan energi
a. Terapi reiki
Terapi yang berasal dari praktik budha kuno dimana praktisi
menempatkan tangannya pada atau diatas bagian tubuh dan
memindahkan “energi kehidupan sementara” kepada klien. Energi ini
memberikan kekuatan.
b. Sentuhan terapeutik
Pengobatan melibatkan pedoman keseimbangan energi praktisi
dalam suatu cara yang disengaja terhadap semua klien. Termasuk
peletakan tangan praktisi pada atau dekat tubuh klien. (Patricia A,
Potter, dkk, 2010)

7
2.3 Definisi Nyeri
Nyeri merupakan bentuk ketidaknyamanan yang didefnisikan
dalam berbagai perspektif. Menurut Arthur C. Curton (1983) dalam
Prasetyo (2010) mengatakan bahwa nyeri merupakan suatu mekanisme
proteksi bagi tubuh, timbul ketika jaringan sedang rusak, dan
menyebabkan individu tersebut bereaksi untuk menghilangkan rasa nyeri.
Sedangkan menurut Tournaire & Theau-Yonneau (2007) dalam Judha dkk
(2012), mendefinisikan nyeri sebagai pengalaman yang tidak
menyenangkan, baik sensori maupun emosional yang berhubungan dengan
risiko atau aktualnya kerusakan jaringan tubuh (Andarmoyo, 2013).

2.4 Klasifikasi Nyeri


1. Berdasarkan sumbernya
a. Cutaneus/ superfisial, yaitu nyeri yang mengenai kulit/ jaringan
subkutan. Biasanya bersifat burning (seperti terbakar). Contoh:
terkena ujung pisau atau gunting (Andarmoyo, 2013).
b. Deep somatic/ nyeri dalam, yaitu nyeri yang muncul dari ligamen,
pembuluh darah, tendon dan syaraf, nyeri menyebar & lebih lama
daripada cutaneus. Contoh: sprain sendi (Andarmoyo, 2013).
c. Visceral (pada organ dalam), stimulasi reseptor nyeri dalam rongga
abdomen, cranium dan thorak. Biasanya terjadi karena spasme otot,
iskemia, regangan jaringan (Andarmoyo, 2013).
2. Berdasarkan penyebab
Menurut Tamsuri (2012) lokasi nyeri bedasarkan penyebabnya, dapat
dibagi menjadi 2 yaitu sebagai berikut:
a. Fisik
Bisa terjadi karena stimulus fisik. Contoh: Faktur femur
b. Psikogenik
Nyeri ini terjadi karena sebab yang kurang atau susah diidentifikasi,
bersumber dari emosi atau psikis, dan biasanya tidak pernah disadari.
Contoh: Ketika orang sedang merasa marah, dadanya terasa nyeri.

8
3. Berdasarkan durasinya
Menurut Tamsuri (2012) klasifikasi nyeri bedasarkan waktu kejadian,
nyeri dapat dikelompokkan menjadi 2 yaitu sebagai berikut:
a. Nyeri Akut
Merupakan nyeri yang terjadi dalam waktu atau durasi kurang
dari 6 bulan. Nyeri akut dapat dipandang sebagai nyeri yang terbatas
dan bermanfaat untuk mengindikasikan adanya cedera atau penyakit
pada tubuh. Nyeri jenis ini biasanya hilang dengan sendirinya
dengan atau tanpa tindakan setelah kerusakan jaringan sembuh.
b. Nyeri Kronis
Merupakan yang terjadi dalam waktu lebih dari 6 bulan. Nyeri
kronis umumnya timbul tidak teratur, intermiten atau bahkan
persisten. Karakteristik nyeri kronis adalah penyembuhannya tidak
dapat diprediksi meskipun penyebabnya dapat ditemukan (namun,
pada beberapa kasus sulit ditemukan). Nyeri kronis dapat
menyebabkan klien merasa putus asa dan frustasi. Klien yang
mengalami nyeri kronis mungkin menarik diri dan mengisolasi diri
karena nyeri ini dapat menimbulkan kelelahan mental dan fisik.

2.5 Intesitas Nyeri


Intensitas nyeri merupakan gambaran tentang seberapa parah nyeri
dirasakan oleh seseorang, pengukuran intensitas nyeri sangat subjektif dan
individual. Pengukuran nyeri dengan pendekatan objektif yang paling
mungkin adalah menggunakan respons fisiologik tubuh terhadap nyeri itu
sendiri, namun pengukuran dengan teknik ini juga tidak dapat memberikan
gambaran pasti tentang nyeri itu sendiri. Penatalaksaan nyeri memerlukan
penilaian dan usaha yang cermat untuk memahami pengalaman nyeri
pasien. Pasien dapat menunjukan lokasi nyeri dengan menunjuk bagian
tubuh atau menandakannya di gambaran tubuh manusia. Menurut
Prasetryo (2010) derajat nyeri dapat diukur dengan berbagai macam cara
yang sering digunakan untuk menilai intensitas nyeri pasien yaitu sebagai
berikut:

9
1. Numeric Rating Scale (NRS)
Skala numerik merupakan alat bantu pengukur intensitas nyeri
pada pasien yang terdiri dari skala horizontal yang dibagi secara rata
menjadi 10 segmen dengan nomor 0 sampai 10. Pasien diberi
pengertian yang menyatakan bahwa angka 0 bermakna intensitas nyeri
yang minimal (tidak ada nyeri sama sekali) dan angka 10 bermakna
nyeri yang sangat (nyeri paling parah yang dapat mereka bayangkan).
Pasien kemudian dimintai untuk menandai angka yang menurut mereka
paling tepat dalam mendeskripsikan tingkat nyeri yang dapat mereka
rasakan pada suatu waktu.
2. Faces Rating Scale Skala
Penilaian wajah biasanya digunakan untuk mengukur intensitas
nyeri pada anak-anak. Foto wajah seorang anak yang menunjukkan rasa
tidak nyaman dirancang sebagai petunjuk untuk memberi pengertian
kepada anak-anak sehingga dapat memahami makna dan tingkat
keparahan nyeri. Skala tersebut terdiri dari enam wajah dengan profil
kartun yang menggambarkan wajah dari mulai gambar wajah yang
sedang tersenyum (tidak merasa nyeri) kemudian secara bertahap
meningkat menjadi wajah kurang bahagia (sangat nyeri). Saat ini para
peneliti mulai menggunakan skala wajah ini pada orang-orang dewasa
atau pasien yang kesulitan dalam mendeskripsikan intensitas nyerinya,
dan orang dewasa yang memiliki gangguan kognitif.

Gambar: Faces Pain Rating Scale

3. Visual Analog Scale (VAS)


VAS merupakan suatu garis lurus atau horizontal sepanjang 10 cm,
yang mewakili intensitas nyeri yang terus-menerus dan pendeskripsi

10
verbal pada setiap ujungnya. Pasien diminta untuk membuat tanda pada
garis tersebut dan nilai yang didapat ialah jarak dalam mm atau cm dari
tanda di sebelah kiri skala sampai tanda yang dibuat. VAS adalah skala
yang paling sering digunakan untuk mengukur intensitas nyeri. VAS
dinilai dengan kata tidak nyeri di ujung kiri dan sangat nyeri di ujung
kanan. Dinilai tidak ada nyeri apabila nilai VAS 0-5mm, nyeri ringan
apabila panjang garis menunjukkan angka 5-44 mm, 45-74 mm
dinyatakan sebagai nyeri sedang, dan lebih dari 70 mm dinilai sebagai
nyeri berat.
Alat bantu untuk mengukur intensitas nyeri sangat bervariatif dan
sangat subjektif penilaiannya tergantung dari pasien. VAS merupakan
skala pengukuran yang lebih sensitif terhadap intensitas nyeri
dibandingkan skala pengukuran lainnya. Secara statistik VAS paling
kuat rasionya karena dapat menyajikan data dalam bentuk rasio. Selain
mengumpulkan data subjektif mengenai nyeri, pengamatan langsung
terhadap perilaku non verbal dan verbal dapat memberikan petunjuk
tambahan mengenai pengalaman nyeri pasien. Signal verbal dan
emosional seperti meringis, 16 menangis, ayunan langkah dan postur
yang abnormal bisa menjadi indikator nyeri yang sering dijumpai,
perilaku tersebut dipengaruhi oleh jenis kelamin dan perbedaan budaya.

Gambar: Visual Analog Scale

11
2.6 Faktor Pengaruh Presepsi Dan Reaksi Nyeri
Menurut mccafery dan pasero (1999) dalam Prasetyo (2010)
menyatakan bahwa hanya klien yang paling mengerti dan memahami
tentang nyeri yang ia rasakan. Oleh karena itu dikatakan klien sebagai
expert tentang nyeri yang ia rasakan. Terdapat sebagai faktor yang dapat
mempengaruhi presepsi dan reaksi masing-masing individu terhadap nyeri.
Seorang perawat harus menguasai dan memahami faktor-faktor tersebut
agar dapat memberikan pendekatan yang tepat dalam pengkajian dan
perawatan terhadap klien yang mengalami masalah nyeri. Faktor-faktor
tersebut antara lain:
1. Usia
Usia merupakan variabel yang penting dalam mempengaruhi
nyeri pada individu. Anak yang masih kecil mempunyai kesulitan
dalam memahami nyeri dan prosedur pengobatan yang dapat
menyebapkan nyeri. Anak-anak kecil yang belum dapat mengucapkan
kata-kata juga mengalami kesulitan dalam mengungkapkan secara
verbal dan mengekspresikan nyeri kepada kedua orang tuanya ataupun
kepada perawat. Sebagian anak-anak terkadang segan untuk
mengungkapkan keberadaan nyeri yang ia alami, mereka takut akan
tindakan perawatan yang harus mereka terima nantinya.
2. Jenis kelamin
Secara umum pria dan wanita tidak berbeda secara signifikan
dalam berespon terhadap nyeri. Hanya beberapa budaya yang
menganggap bahwa seorang anak laki-laki harus lebih berani dan
tidak boleh menangis dibandingkan anak perempuan dalam situasi
yang sama ketika merasakan nyeri. Akan tetapi dari penelitian terakhir
memperlihatkan hormon seks pada mamalia berpengaruh terhadap
tingkat toleransi terhadap nyeri. Hormon seks testosteron menaikan
ambang nyeri pada percobaan binatang sedangkan estrogen
meningkatkan pengenalan atau sensitivitas terhadap nyeri.
Bagaimanapun, pada manusia lebih kompleks, dipengaruhi oleh
personal, sosial, budaya dan lain-lain.

12
3. Kebudayaan
Perawat seringkali berasumsi bahwa cara berespon pada setiap
individu dalam masalah nyeri adalah sama, sehingga mereka mencoba
mengira bagaimana pasien berespon terhadap nyeri. Sebagai contoh
apabila seorang perawat yakin bahwa menangis dan merintih
mengindikasikan suatu ketidakmampuan dalam mengontrol nyeri
akibat pemberian therapy bisa jadi tidak cocok untuk klien
berkebangsaan meksiko yang selalu menangis karena tidak selalu
mempresepsikan pengalaman nyeri sebagai sesuatu yang berat atau
mengharapkan perawat melakukan intervensi.
4. Makna nyeri
Makna nyeri pada seseorang mempengaruhi pengalaman nyeri
dan cara seseorang beradaptasi terhadap nyeri. Seorang wanita yang
merasakan nyeri saat bersalin akan mempresepsikan nyeri secara
berbeda dengan wanita lainya yang nyeri karena di pukul oleh
suaminya.
5. Lokasi dan tingkat keparahan nyeri
Nyeri yang dirasakan bervariasi dalam intensitas dan tingkat
keparahan pada masing-masing individu. Nyeri yang dirasakan
mungkin terasa ringan, sedang atau bisa jadi nyeri yang berat. Dalam
kaitannya dalam kualitas nyeri, masing-masing individu juga
bervariasi, ada yang melaporkan nyeri seperti tertusuk, nyeri tumpul,
berdenyut, terbakar dan lain-lain, sebagai contoh individu yang
tertusuk jarum akan melaporkan nyeri yang berbeda dengan individu
yang terkena luka bakar.
6. Perhatian
Tingkat perhatian seseorang terhadap nyeri akan mempengaruhi
presepsi nyeri. Perhatian yang meningkat terhadap nyeri akan
meningkatkan respon nyeri sedangkan upaya pengalihan (distraksi)
dihubungkan dengan respon nyeri. Konsep inilah yang mendasari
berbagai terapi untuk menghilangkan nyeri seperti relaksasi, teknik
imajinasi terbimbing (guided imagery), dan masase.

13
7. Ansietas (kecemasan)
Hubungan antara nyeri dan ansietas bersifat kompleks, ansietas
yang dirasakan seseorang seringkali meningkatkan presepsi nyeri,
akan tetapi nyeri juga dapat menimbulkan perasaan ansietas. Sebagai
contoh seseorang yang menderita kanker kronis dan merasa takut akan
kondisi penyakitnya akan semakin meningkatkan presepsi nyerinya.
8. Keletihan
Keletihan yang dirasakan seseorang akan menciptakan sensasi
nyeri dan menurunkan kemampuan koping individu.
9. Pengalaman sebelumnya
Setiap individu belajar dari pengalaman nyeri, akan tetapi
pengalaman yang telah dirasakan individu tersebut tidak berarti bahwa
individu tersebut akan mudah dalam menghadapi nyeri pada masa
yang mendatang. Seseorang yang terbiasa merasakan nyeri akan lebih
siap dan mudah mengantisipasi nyeri daripada individu yang
mempunyai pengalam sedikit tentang nyeri.
10. Dukungan keluarga dan sosial
Individu yang mengalami nyeri seringkali membutuhkan
dukungan, bantuan, perlindungan dari anggota keluarga lain, atau
teman terdekat. Walaupun nyeri masih dirasakan oleh klien, kehadiran
orang yang terdekat akan meminimalkan kesepian dan ketakutan.

2.7 Penatalaksanaan Non-Farmakologis Nyeri


Penatalaksanaan non-farmakologis terdiri dari berbagai tindakan
penanganan nyeri bedasarkan stimulasi fisik maupun perilaku kognitif.
Menurut Tamsuri (2012) penanganan fisik terdiri sebagai berikut:
1. Masase Kulit
Masase kulit memberikan efek penurunan kecemasan dan
ketegangan otot. Rangsangan masase otot ini dipercaya akan
merangsang serabut berdiameter besar, sehingga mampu memblok
atau menurunkan impuls nyeri. Masase adalah stimulasi kulit tubuh

14
secara umum, dipusatkan pada punggung dan bahu, atau dapat
dilakukan pada satu atu beberapa bagian tubuh dan dilakukan sekitar
10 menit pada masing-masing bagian tubuh untuk mencapai hasil
relaksasi yang maksimal.
2. Kompres
Penggunaan kompres panas dingin meliputi penggunaan
kantong es, masase mandi air dingin atau panas, penggunaan selimut
atau bantal panas. Kompres panas dingin, selain menurunkan sensasi
nyeri juga dapat meningkatkan proses penyembuhan jaringan yang
mengalami kerusakan.
3. Stimulasi Kontralateral
Stimulasi kontralateral adalah memberikan stimulasi pada
daerah kulit disisi yang berlawanan dari daerah kulit yang berlawanan
dari daerah yang terjadinya nyeri. Stimulasi kontralateral dapat berupa
garukan pada daerah yang berlawanan jika terjadi gatal, menggosok
(masase) jika kram, atau memberikan kompres dingin atau panas serta
pemberian balsam atau obat gosok.
4. Akupresur
Akupresur atau pijat refleksi dikembangkan dari ilmu
pengobatan kuno Cina dengan menggunakan sistem akupuntur.
Terapis memberi tekanan jari-jari pada berbagai titik organ tubuh
seperti pada akupuntur. Tindakan ini merupakan tindakan sederhana
dan mudah dipelajari. Terdapat banyak buku yang membahas tentang
teknik pijat refleksi ini. Apabila dengan teknik ini terbukti efektif
untuk mengatasi nyeri, teknik ini dapat terus digunakan dan bahkan
dapat diajarkan kepada klien.
5. TENS
Stimulasi saraf elektris transkutan menggunakan satu unit
peralatan yang dijalankan dengan elektroda yang dipasang pada kulit
untuk menghasilkan sensasi kesemutan, getaran, atau mendengung
pada area kulit tertentu. Pada penggunaan alat ini, elektroda sebaiknya
tidak dipasang diatas rambut, kulit yang iritasi, jahitan, sinus karotis

15
(menyebabkan bradikardi), otot laring dan faring (menyebabkan
spasme), atau pada uterus ibu hamil.
6. Imobilisasi
Imobilisasi terhadap organ tubuh yang mengalami nyeri hebat
mungkin dapat meredakan nyeri. Kasus seperti artritis rheumatoid
mungkin memerlukan teknik ini untuk mengatasi nyeri.
7. Distraksi
Distraksi adalah pengalihan dari fokus perhatian terhadap nyeri
ke stimulus yang lain. Teknik distraksi dapat mengatasi nyeri
bedasarkan teori bahwa aktivasi retikuler menghambat stimulus nyeri,
jika seseorang menerima input sensori yang berlebihan dapat
menyebabkan terhambatnya impuls nyeri ke otak (nyeri dapat
berkurang atau tidak dirasakan klien). Terdapat macam-macam
distraksi antara lain sebagai berikut:
a. Distraksi visual, merupakan teknik distraksi atau pengalihan
dengan melibatkan sensori penglihatan seperti melakukan kegiatan
melihat pertandingan, menonton televisi, membaca koran, melihat
pemandangan dan gambar.
b. Distraksi pendengaran, merupakan teknik distraksi atau pengalihan
dengan melibatkan sensori pendengaran seperti melakukan
kegiatan mendengarkan musik, suara burung, atau gemericik air.
Klien dianjurkan untuk memilih musik yang tenang dan disukai,
dan diminta untuk berkonsentrasi pada lirik dan irama lagu.
c. Distraksi pernapasan, merupakan teknik distraksi atau pengalihan
seperti melakukan bernapas ritmik, menganjurkan klien untuk
memandang fokus pada satu objek atau memejamkan mata dan
melakukan inhalasi perlahan melalui hidung dengan hitungan dari
satu sampai empat dan kemudian menghembuskan napas melalui
mulut secara perlahan sambil menghitung satu sampai empat
(dalam hati).

16
d. Distraksi intelektual, merupakan teknik distraksi atau pengalihan
seperti melakukan kegiatan mengisi teka teki silang, bermain kartu,
melakukan kegemaran (ditempat tidur) seperti mengumpulkan
perangko, menulis cerita.
e. Imajinasi terbimbing, merupakan teknik distraksi atau pengalihan
seperti melakukan kegiatan klien membuat bayangan yang
menyenangkan, dan konsentrasikan diri pada bayangan tersebut
serta berangsur-angsur membebaskan diri dari perhatian nyeri.
8. Relaksasi
Relaksasi otot rangka dipercaya dapat menurunkan nyeri dengan
merelaksasikan ketegangan otot yang mendukung rasa nyeri.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa relaksasi efektif dalam
menurunkan nyeri pascaoperasi. Teknik relaksasi mungkin perlu
diajarkan beberapa kali agar mencapai hasil yang optimal. Klien yang
telah mengetahui teknik ini mungkin hanya perlu diinstruksikan
menggunakan teknik relaksasi untuk menurunkan atau mencegah
meningkatnya nyeri.
Teknik relaksasi yang sederhana terdiri atas napas abdomen
dengan frekuensi lambat, dan berirama. Klien dapat memejamkan
matanya dan bernapas dengan perlahan dan nyaman. Irama yang
konstan dapat dipertahankan dengan cara menghitung lambat dalam
hati saat bersamaan dengan inspirasi dan ekspirasi. Pada saat perawat
mengajarkan teknik ini, akan sangat membantu jika menghitung
dengan keras bersama-sama dengan klien pada awalnya. Apabila
pernafasan yang teratur telah tercapai, perintahkan klien untuk
perlahan-lahan merelaksasikan otot-otot pada leher, tangan, dada,
paha, dan kaki.

17
9. Umpan Balik Tubuh (Biofeedback)
Merupakan teknik mengatasi nyeri dengan memberikan
informasi kepada klien tentang respons fisiologis tubuh terhadap nyeri
yang dialami klien (misalnya tekanan darah atau ketegangan otot serta
EKG) dan cara untuk mengendalikan secara involunter respons
tersebut. Dengan memberi informasi yang akurat tentang tekanan
darah, ketegangan otot, atau melihat monitor poligraf, klien akan
berusaha untuk mencapai relaksasi yang optimal, sehingga nyeri yang
dirasakan klien berkurang.
10. Sentuhan Terapeutik
Terapi ini sangat dipercaya dapat menolong klien yang sedang
menderita nyeri. Teknik yang digunakan adalah perawat melakukan
meditasi dalam waktu singkat sebelum kontak dengan pasien. Pada
periode ini, perawat menyembunyikan tingkat energi internal,
kemudian meraba klien dan menstramisikan energi penyembuhan.
Rasionalisasi keberhasilan metode ini tidak dapat dimengerti dengan
jelas.

2.8 Medikasi Nyeri


Menurut Tamsuri (2012) penatalaksanaan obat meliputi
penggunaan opiat narkotik, dan obat anti-inflamasi non-steroid dan
analgesik lain:
1. Analgesik narkotik
Narkotik meredakan nyeri dan memberikan rasa euforia.
Narkotik seperti morfin memberikan peredaan nyeri maksimal. Dosis
dapat secara mantap ditingkatkan untuk meredakan nyeri. Morfin
adalah obat terbaik untuk nyeri sangat hebat dan untuk sakit terminal,
yang nyerinya dapat meningkat secara terus-menerus. Petidin juga
analgesik narkotik efektif yang dapat digunakan sebagai alternatif
morfin. Tetapi kerja obat ini tidak bertahan lama seperti morfin dan
tidak seefektif morfin untuk pasien yang menderita nyeri hebat.
Kodein adalah narkotik. Parasetamol atau obat anti-inflamasi lain dan

18
narkotik bekerja bersama dengan baik. Obat ini memberikan peredaan
nyeri lebih baik daripada obat yang diberikan tunggal. Dosis efektif
parasetamol atau aspirin untuk peredaan nyeri adalah antara 650 dan
1000 mg. Dosis narkotik bervariasi, dan perawat harus mengetahui
dosis efektif. Dosis bervariasi tergantung pada cara obat diberikan.
Pemberian Narkotik: Narkotik dapat diberikan dalam berbagai
cara yang berbeda. Narkotik paling umum diberikan peroral,
intramuskular atau rute intravena seperti bolus intravena atau infus
intravena kontinu. Pemberian peroral adalah rute paling mudah.
Namun, efek kebanyakan narkortik opiat hanya berlangsung kira-kira
4 jam. Ini berarti bahwa pasien yang menggunakan atau opiat lain
peroral harus bangun tengah malam untuk mengontrol nyeri mereka
dengan tepat. Ada beberapa bentuk morfin yang bekerja lama, dengan
durasi 8 jam. Ada juga morfin cair baru untuk mereka yang tidak tepat
menelan pil.
Beberapa opiat narkotik tersedia dalam bentuk supositoria. Rute
pemberian ini terutama membantu untuk pasien yang tidak dapat
menelan atau yang mengalami mual dan muntah. Pasien yang
nyerinya tidak dapat di kontrol dengan obat oral mendapatkan obat
mereka diinjeksikan di bawah kulit (injeksi subkutan). Pereda nyeri
juga dapat diberikan ke dalam otot. Ini tidak diminati karena
menimbulkan nyeri, absorsi obat bervariasi dan penyuntikan harus
diulang setiap tiga sampai empat jam. Pemberian obat per intravena
cepat dan efektif. Obat ini bermanfaat untuk pasien yang mengalami
nyeri akut. Beberapa rumah sakit besar sekarang memiliki pereda
nyeri yang dikendalikan-pasien. Phompa mengalirkan opiat ketika
pasien menekan tombolnya.
Pereda nyeri yang dikendalikan-pasien juga mungkin dengan
memberikan pasien. Penggunaan analgesik narkotik normalnya
dikendalikan dengan berbagai peraturan dan prosedur untuk mencegah
penyahlagunaan dan untuk memenuhi konvensi internasional
mengenai obat narkotik. Akses ke obat narkotik mungkin sulit karena

19
obat ini normalnya disimpan dalam penyimpanan terkunci. Petugas
kesehatan dituntut untuk menyimpan catatan rinci penggunaan obat
ini. Penggunaan analgesik narkotik kadang dihindari karena hal ini
menambah bebankerja dan tanggung jawab dokter dan perawat. Tetapi
kesejahteraan pasien harus menjadi pertimbangan utama perawat.
Jangan membiarkan kerja tambahan ini menghentikan anda
menggunakan analgesik yang efektif. Semua narkotik mempunyai
efek samping. Anda harus meninjau ulang efek sampingnya etika
memberikan narkotik apapun.
a. Depresi pernapasan: Narkotik dapat membuat pasien susah
bernapas. Depresi pernapasan ini adalah efek samping paling
berbahaya. Semua narkotik juga membuat pasien mengantuk pada
awalnya. Periksa kesadaran pasien dan pernapasannya sebelum
memberikan narkotik. Informasi ini akan membantu Anda
memutuskan apakah pasien mengalami kesulitan pernapasan atau
terlalu mengantuk. Jika anda melihat ada masalah ini, dosis
terlalu besar, dan Anda harus mendapatkan pesan dari dokter
untuk mengurangi dosis dengan segera. Tingkat sedasi dari
analgesic narkotik akan berkurang secara bertahap setelah pasien
menggunakan obat ini selama tiga sampai lima hari.
b. Konstipasi, tingkatkan asupan cairan pasien, tingkatkan serat dan
agens pembentuk serat pada diet, tingkatkan latihan fisik dan bila
perlu berikan pelunak feses atau laksatis. Mual dan muntah secara
bertahap akan berhenti. Berikan antiemetic sampai mual dan
muntah berhenti. Pasien mungkin menginginkan analgesik
diganti.
c. Pruritus (gatal), gunakan kemasan pendingin, lotion dan berikan
pasien antihistamin seperti prometazin (fenergan). Selalu sediakan
prometazin kapanpun obat diberikan, untuk mengatasi reaksi.
d. Retensi urine (ketidakmampuan berkemih), perawat perlu
mengkaterisasi pasien, atau memberikan obat antagonis narkotik
seperti Narcan.

20
2. Analgesik non-narkotik
Obat anti-inflamasi non-steroid atau non-narkotik meliputi
aspirin, asetaminofen, dan ibu profen. Obat ini dapat bekerja sebagai
pereda nyeri dan juga menurunkan demam. Efek samping paling
umumnya adalah susah makan, atau pada kasus ekstrem ulkus
lambung dan perdarahan lambung. Efek samping ini dapat dicegah
dengan makan makanan ketika minum obat.
Analgesik adjuvan adalah obat yang tidak dikembangkan untuk
pereda nyeri tetapi dapat mengurangi beberapa tipe nyeri, khususnya
nyeri kronis. Obat ini meliputi sedative ringan atau tranquilizer. Obat
ini dapat menurukan spame otot serta ansietas dan ketegangan, yang
dapat meningkatkan nyeri. Anti-depresan seperti amitriptilin
hidroklorida juga dapat membantu mengatasi nyeri. Anti-konvulsan
seperti karbamazetin dapat mengontrol nyeri herpes zoster (shigles)
dan masalah syaraf diabetik, seperti nyeri pada kaki.
Anda dapat memeriksa pasien dengan sering yang mungkin
mengalami nyeri akut, seperti setelah pembedahan. Periksa setiap 2
jam selama 24 jam pertama setelah pembedahan, kemudian setiap 3
sampai 4 jam sampai pulang. Berikan analgesik narkotik dan obat anti
inflamasi non-steroid (NSAID) sesuai program dokter. NSAID
meningkatkan peredaan nyeri yang diberikan narkotik. Nyeri
berkurang hebatnya jika obat pereda diberikan berdasarkan jadwal.
Jangan menunggu sampai pasien yang mengalami nyeri meminta
peredaan tersebut.
Ketika pasien tidak jelas mengenai penyebab nyeri dan jumlah
nyerinya, akan membantu bila mengikuti 3 tahap pendekatan
penunjuk nyeri yang dikembangkan oleh World Health Organization
untuk nyeri kanker. Pendekatan ini secara seimbang bermanfaat untuk
nyeri dan penyebab lain.

21
a. Pertama berikan pasien obat anti-inflamasi nonsteroid non-
nakotik (NSAID)
b. Jika pasien masih merasa nyeri setelah menggunakan dosis
maksimum NSAID, tambahkan narkotik opioid ringan.
c. Jika pasien merasa nyeri, tambahkan narkotik opioid kuat. Pada
setiap langkah, analgesic adjuvan juga dapat diberikan

22
BAB 4
PENUTUP

4.1 Simpulan
Banyaknya masyarakat yang memilih menggunakan pengobatan
komplementer saat ini, ada beberapa alasan yang menyebabkan mereka
takut untuk menggunakan pengobatan komplementer ialah pengalaman
berobat ke dokter yang tidak kunjung sembuh, banyaknya pengobatan
modern yang gagal, pengobatan komplementer lebuh murah dibandingkan
dengan pengobatan modern. Kepercayaan terhadap pengobatan
komplementer bahkan budaya juga dapat anggapan tersebut.
Nyeri adalah sensori subjektif dan emosional yang tidak
menyenangkan yang didapat terkait dengan kerusakan jaringan aktual
maupun potensial, atau menggambarkan kondisi terjadinya sedangkan
pengertian nyeri secara umum keperawatan sebagai apapun yang
menyakitkan tubuh yang dikatakan individu yang mengalaminya, yang ada
kapanpun individu mengatakannya.

4.2 Saran
Kami berharap setiap mahasiswa mampu memahami dan
mengetahui tentang Terapi Komplementer dan Penanganan Nyeri.
Walaupun dalam makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari
kesempurnaan.

23
Daftar Pustaka

Andarmoyo, Sulistyo. 2013. Konsep & Proses Keperawatan Nyeri. Yogyakarta:


Ar-Ruzz Media
Judha M, dkk. 2012. Teori Pengukuran Nyeri & Nyeri Persalinan. Yogyakarta:
Nuha Medika
Patricia A, Potter & Anne G, Perry. 2010. Fundamental of Nursing Fundamental
Keperawatan Edisi: 7 Buku: 1. Singapore: Elsevier
Prasetyo, Sigit Nian. 2010. Konsep Dan Proses Keperawatan Nyeri. Yogyakarta:
Graha Ilmu
Smith – Temple, Jean & Young Johnson, Joyce. 2010. Buku Saku Prosedur Klinis
Keperawatan. Jakarta: EGC
Tamsuri, Anas. 2012. Konsep dan Penatalaksanaan Nyeri. Jakarta: EGC
Widyatuti, W. 2008. Terapi Komplementer dalam Keperawatan. Jakarta: EGC

24

Anda mungkin juga menyukai