Pengertian Plasmolisis dan Deplasmolisis
Plasmolisis adalah peristiwa terlepasnya membran sel pada sel tumbuhan akibat sel
berada pada lingkungan yang bersifat hipertonis. Plasmolisis juga merupakan peritiwa
lepasnya plasmalemma atau membrane plasma dari dinding sel karena dehidrasi (sel
kehilangan air). Kondisi sel yang hipotonis terhadap lingkungan mengakibatkan terjadinya
peristiwa osmosis dari sel ke lingkungan. Akibatnya kadar air di dalam sel menurun drastis
dan membran sel terlepas dari dinding [Link] biasanya terjadi pada kondisi yang
ekstrim, dan jarang terjadi di alam. Plasmolisis adalah suatu proses yang secara riil bisa
menunjukkan bahwa sel sebagai unit terkecil kehidupan ternyata terjadi sirkulasi keluar
masuk suatu zat, artinya suatu zat atau materi bisa keluar dari sel, dan bisa masuk melalui
membrannya. Dalam sirkulasi ini bisa menjelaskan bahwa sel tidak diam, ternyata dalam
lingkungan berubah menjadi dinamis, jika memerlukan materi dari luar maka ia harus
mengambil materi itu dengan segala cara, yaitu mengatur tekanan agar terjadi perbedaan
tekanan sehingga materi dari luar itu bisa [Link] sel tidak selalu berada pada keadaan
yang normal yang dengan mudah ia mengaturnya ia bisa mencapai homeostatis (seimbang).
Terkadang sel juga bisa berada di lingkungan yang ekstrem menyebabkan semua isi sel
dapaksakan keluar karena diluar tekanan lebih besar, jika terjadi demikian maka terjadilah
lisis (plasmolisis) yang membawa sel itu mati. Tapi ketika tanaman tersebut plasmolisis
belum parah dan lingkungan sel segera berubah menjadi hipotonik terhadap cairan sel
sehingga terjadi endoosmosis, yang akhirnya sel mengalami deplasmolisis. Dan
jika Tumbuhan dengan sel dalam kondisi seperti ini layu. Kehilangan air lebih banyak akan
menyebabkan terjadinya plasmolisis: tekanan terus berkurang sampai di suatu titik di
mana protoplasma sel terkelupas dari dinding sel, menyebabkan adanya jarak antara dinding
sel dan membran. Akhirnya runtuhnya seluruh dinding sel dapat terjadi. Tidak ada
mekanisme di dalam sel tumbuhan untuk mencegah kehilangan air secara berlebihan, juga
mendapatkan air secara berlebihan, tetapi plasmolisis dapat dibalikkan jika sel diletakkan di
larutan hipotonik. Bagian yang dapat diamati adalah pada sekaput tipis yang biasanya ada
diantara umbi bawang merah atau pada sel selaput episdermis daun Rhoe discolor. (Bambang,
2006)
Metabolisme merupakan salah sau cirri makhluk hidup karena dalam tubuh makhluk
hidup banyak terjadi perubahan yang terjadi perubahan yang terjadi secara kimia . ribuan
reaksi kimia berlangsung di dalam tubuh makhluk hidup, dan disebut makhluk hidup. Pada
makhluk hidup, banyak reaksi kimia yang terjadi secara simultan. Jika kita melihat reaksi
tersebut satu per satu, akan sulit memahami aliran energi yang terjadi di dalam sel.
Metabolisme dibedakan menjadi dua yaitu reaksi penyusun (anabolisme) dan reaksi
penguraian (katabolisme). Apabila suatu sel diletakkan dalam larutan yang hipertonis
terhadap sitoplasma maka air didalam sel akan mengalir keluar sehingga sitoplasma
kekurangan cairan, akibatnya mengerut sel dan terlepas dari dinding sel dan sitoplasma
kembali mengembang (deplasmolisis). Plasma sel (sitoplasma) dibungkus oleh selaput tipis
yang disebut membran plasma. Selaput ini mengatur secara selektif aliran cairan dari
lingkungan suatu sel ke dalam sel dan sebaliknya. Pada umumnya membrane pada organisme
hidup bersifat semipermiabel yang berarti hanya molekul-molekul tertentu saja yang dapat
[Link] saat air di dalam sitoplasma maksimum, sel akan mengurangi kandungan
mineral garam dan zat-zat lain yang terdapat dalam sitoplasma. Hal ini membuat konsentrasi
dalam zat terlarut di luar sel sama besar dinandingkan konsentrasi air di dalam sel. Pada sel
Rhoe discolor yang ditetesi air suling sel menjadi membengkak karena air masuk melului
osmosis. Akan tetapi dibandingkan yang lentur akan menegmbang hanya sampai pada ukuran
tertentu. Sebelum dinding sel ini mengerahkan tekanan balik pada sel yang melawan
penyerapan air lebih lanjut. Hal ini disebabkan sel berada pada kondisi paling hebat sehat
dalam lingkungan hipotonik dimana kecenderungan untuk menyerap aitsecara terus menerus
akan diimbangi oleh dinding lentur yang mendorong sel. ( Jane B. Reech, 2003)
Pergerakan molekul air melalui membran semipermeable selalu dari laruran hipotonis
menuju larutan hipertonis sehingga perbandingan konsentrasi zat terlarut kedua zat seimbang
(isotonik). Pada saat sel di letakkan dalam air suling, konsentrasi zat terlarut dalam sel
hipertonik karen adanya garam mineral, asam organik, dan berbagai zat lain yang di kandung
sel. Dengan demikian, air akan terus mengalir ke dalam sel sehingga konsentrasi larutan di
dalam sel dan di luar sel sama. Namun, membran sel mempunyai kemampuan yang terbatas
untuk mengembang sehingga sel tersebut tidak pecah. Pada sel tumbuhan hal ini dapat
teratasi karena sel tumbuhan memiliki dinding sel yang menahan sel mengembang lebih
lanjut. (Fiktor Ferdinand. 2007)
Sel yang mengalami plasmolisis dapat kembali ke keadaan semula. Proses
pengembalian dari kondisi terplasmolisis ke kondidi semula ini dikenal dengan istilah
deplasmolisis. Tapi, konsentrasi larutan medium dibuat lebih hipotonis, sehingga yang terjadi
adalah cairan yang memenuhi ruang antara dinding sel dengan membran sel bergerak ke luar,
sedangkan air yang berada diluar bergerak masuk kedalam dan dapat menembus membran sel
karena membran sel mengizinkan molekul-molekul air untuk masuk ke dalam. Masuknya
molekul-molekul air tersebut mengakibatkan ruang sitoplasma terisi kembali dengan cairan
sehingga membran sel kembali terdesak ke arah luar sebagai akibat timbulnya tekanan turgor
akibat gaya kohesi dan adhesi air yang masuk. Akhir dari peristiwa ini adalah sel kembali ke
keadaan semula. ( Elsa, 2009)
Osmosis adalah gerakan suatu materi, misalnya air melintasi suatu selaput atau
membran. Air selalu bergerak melewati membran ke arah sisi yang mengandung jumlah
materi terlarut paling banyak dan kadat air paling sedikit. Asmosis adalah difusi melalui
membran semipermeable. Masuknya larutan ke dalam sel-sel endodermis merupakan contoh
dari osmosis. Dalam tubuh organisme multiseluler, air bergerak dari satu sel ke sel lainnya
dengan leluasa. Selain air, molekul-molekul yang berukuaran kecil seperti O 2 dan CO2 juga
mudah melewati membran sel. Molekul-molekul tersebut akan berdifusi dari daerah dengan
konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah. Proses osmosis akan berhenti jika konsentrasi zat
dikedua sisi membran sel tersebut tepat mencapai keseimbangan. Osmosis juga dapat terjadi
dari sitoplasma ke organel-organel bermembran. Osmosis dapat di cegah dengan
menggunakan tekanan. Oleh karena itu, ahli fisiologi tanaman lebih suka menggunakan
istilah potensila osmotik yakni tekanan yang diperlukan untuk mencegah osmosis. Jadi dapat
disimpulkan bahwa ada atau tidaknya plasmolisis menjadi indikator dari ada atau tidanya
osmosis yang terjadi, (Ernawati, 2006)
Memperoleh cairan murni tumbuhan jauh lebih sulit. Cairan tersebut bisa diperas
keluar dengan cara memberikan tekanan, membekikan jaringan untuk merusak sel, dan
kemudian memeras cairannya ataupun mengocok jaringan dalam blender, lalu menyaring
cairannya semua metode tersebut., bila dipakai untuk jaringan yang sama, akan menghasilkan
nilai ῳs yang berlainan, selisihnya bisa mencapai 50% nilai dari blender biasanya paling
pekat. Sedangkan cairan hasil perasan tangan yang disaring dengan kain saring yang paling
kurang efektif. Masalah utamanya ialah berbagai macam metode ini menghasilkan tingkat
percampuran yang berbeda pada isi sitoplasma, air dinding sel. ( Markhart, 1980)
1.2 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Plasmolisis Dan Deplasmolisis
Dalam proses terjadinya dinding sel yang mengalami plasmolisis dan deplasmolisis
dipengaruhi oleh beberapa faktor, dari terjadinya akibat dari tekanan potensial osmotik ialah
antara lain:
1. Konsentrasi, meningkatnya konsentrasi suatu larutan karena menurunkan nilai osmotiknya.
2. Ionisasi zat terlarut, potensial suatu larutan tidak ditentukan oleh macam zat, tetapi
ditentukan oleh jumlah pertikel yang ada didalam larutan tersebut.
3. Suhu, potensial osmotic suatu larutan akan berkurang nilainya dengan naiknya suhu.
4. Hidrasi molekul zat terlarut, air yang berasosiasi dengan pertikel zat terlarut disebut air
hidrasi, dampak air hidrasi terhadap suatu larutan dapat menyebabkan larutan menjadi lebih
pekat.
Kadar air dan materi yang terlarut didalam sel, hal ini mempengaruhi dari dinding sel
Lakitan, Benyamin. 2012. Dasar-Dasar Fisiologi [Link]: Raja Wali pers
Nugroho, Hartanto. 2004. Biologi Dasar. Bandung: Penebar Swadaya
Reece. Campbell. 2008. BIOLOGI edisi kedelapan jilid 1. Jakarta: Erlangga
Reshi. Gusta dkk. 2013. Penuntun Praktikum Fisiologi Tumbuhan. Bandar Lampung: IAIN
Raden Intan Lampung
Salisbury, Frank [Link]. 1995. FISIOLOGI TUMBUHAN jilid 1. Bandung: ITB
Bambang. 2006. Biologi Erlangga : Jakarta
Elsa. 2009. Anatomi Tumbuhan. Esis : Jakarta
Ernawati. 2006. BIOLOGI. Widya Utama : Jakarta