0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
69 tayangan8 halaman

Decoupling Point dalam Manajemen Rantai Pasok

Makalah ini membahas tentang Decoupling Point (DP) dalam Supply Chain Management. DP adalah titik dimana aktivitas dapat dilakukan berdasarkan perkiraan tanpa menunggu pesanan pelanggan. DP dapat menempatkan inventory di hulu atau hilir rantai pasok. Terdapat 4 sistem produksi berdasarkan lokasi DP yaitu Make to Stock, Assemble to Order, Make to Order, dan Engineer to Order. Makalah ini menjelaskan pengertian dan contoh penerapan masing-masing

Diunggah oleh

Adelia Debrina
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai RTF, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
69 tayangan8 halaman

Decoupling Point dalam Manajemen Rantai Pasok

Makalah ini membahas tentang Decoupling Point (DP) dalam Supply Chain Management. DP adalah titik dimana aktivitas dapat dilakukan berdasarkan perkiraan tanpa menunggu pesanan pelanggan. DP dapat menempatkan inventory di hulu atau hilir rantai pasok. Terdapat 4 sistem produksi berdasarkan lokasi DP yaitu Make to Stock, Assemble to Order, Make to Order, dan Engineer to Order. Makalah ini menjelaskan pengertian dan contoh penerapan masing-masing

Diunggah oleh

Adelia Debrina
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai RTF, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Decoupling Point Pada Supply Chain Management

ditujukan untuk memenuhi tugas mata kuliah pengantar supply chain management

dari dosen Dr. Ir. Roland Y. H. Silitonga, M.T

oleh :
Adelia Debrina (1616006)
Fanuel Clemens (1616037)
Jenny Mayai (1616045)
Stefan (1616040)

DEPARTEMEN SUPPLY CHAIN MANAGEMENT


INSTITUT TEKNOLOGI HARAPAN BANGSA
BANDUNG
2016
BAB I
Pendahuluan

1.1 Latar Belakang


Setiap perusahaan yang ingin menang atau bertahan dalam persaingan harus
memiliki supply chain management yang terintegrasi dengan bidang usaha dalam
produk yang digelutinya. Menurut I Nyoman Pujawan, Supply Chain
Management sendiri berarti jaringan perusahaan yang secara bersama-sama
bekerja untuk menciptakan dan menghantarkan suatu produk ke tangan pemakai
akhir. Perusahaan tersebut biasanya termasuk supplier, pabrik, distributor, toko
atau retail, serta perusahaan-perusahaan pendukung seperti perusahaan jasa
logistik. Maka dari itu, terdapat berbagai macam strategi dalam Supply Chain
Management , salah satunya adalah Decoupling Point yang akan dijelaskan pada
makalah ini.

1.2 Tujuan
 Pembaca mengetahui dan mengerti definisi Decoupling Point
 Pembaca mengerti system produksi dalam Decoupling Point
 Decoupling Point dapat direalisasikan dalam kinerja Supply
Chain Management

2
BAB II
Pembahasan

2.1 Pengertian DP (Decoupling Point)


Menurut Pujawan (2010, hlm.39) Decoupling Point (DP) adalah titik temu
sampai di mana suatu kegiatan bisa dilakukan atas dasar ramalan (tanpa harus
menunggu permintaan dari pelanggan) dan dari mana kegiatan harus ditunggu
sampai ada permintaan yang pasti. Istilah lain dari Decoupling Point adalah order
penetration point (OPP). Istilah Decoupling Point merupakan istilah yang jarang
digunakan untuk suatu sistem produksi, namun karena ada kesamaan analogi dapat
kita gunakan untuk memahami order penetration point supply chain. Maka dari
pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa Decoupling Point adalah penentuan
posisi inventory pada hulu atau hilir dari rantai pasok tersebut.

2.2 Perbedaan posisi DP pada supply chain


Dalam manajemen produksi kita dapat mengenal beberapa macam sistem
produksi yang dibedakan berdasarkan posisi DP/OPP. Pada bagian ini akan
dijelaskan klasifikasi bagian utama dalam proses produksi yaitu perancangan
produk, fabrikasi komponen atau pembuatan sub assembly, perakitan menjadi
produk akhir, kemudian pengiriman ke pelanggan. Decoupling Point dapat
diposisikan di salah satu dari empat proses umum tersebut. Kalau kita
menggunakan empat bagian besar ini, kita mengenal sistem produksi berikut :
 Make To Stock (MTS)
 Assembly To Order (ATO)
 Make To Order (MTO)
 Engineer To Order (ETO)

2.2.1 Make To Stock (MTS)

Make To Stock (MTS) adalah sistem dimana decoupling berada pada


proses terakhir, yaitu pada pengiriman ke pelanggan. Produk akhir
dibuat berdasarkan ramalan. Hanya kegiatan pengiriman yang dilakukan
setelah ada pesanan dari pelanggan. Efisiensi fisik menjadi fokus dalam
pengelolaanya. MTS cocok untuk produk yang variasinya sedikit dan
ketidakpastian permintaannya relative rendah. Aspek kunci dalam mengelola
supply chain yang beroperasi pada lingkungan MTS adalah penentuan berapa
persediaan produk akhir yang harus disimpan dan bagaimana mekanisme
pengiriman produk jadi ke suatu lokasi pemasaran. Keseimbangan antara
tingkat layanan pelanggan dan banyaknya persediaan produk juga menjadi hal

3
penting yang harus ditentukan pada supply chain yang beroperasi dengan
sistem MTS. Contohnya adalah mie instan.
2.2.2 Assemble-to-Order (ATO)
ATO adalah sistem dimana hanya kegiatan perakitan yang menungu
pesanan dari pelanggan, sedangkan kegiatan fabrikasi komponen atas dasar
peramalan. ATO cocok diterapkan pada sistem yang memproduksi banyak
variasi produk dengan kesamaan antara komponen dari tiap produk yang
cukup tinggi. Jadi, decouple point ditempatkan setelah proses fabrikasi atau
diawal proses perakitan yang berarti bahwa persediaan akan disimpan dalam
bentuk komponen siap rakit. Aspek kunci dalam mengelola supply chain yang
beroperasi pada lingkungan ATO adalah lamanya proses perakitan setelah ada
pesanan dari pelanggan dan jumlah variasi produk yang dapat ditawarkan ke
pelanggan. Kecepatan perusahaan dalam memenuhi pesanan pelanggan sangat
ditentukan oleh lead time perakitan. Contohnya adalah produk otomotif,
seperti mobil, motor, dan lain-lain.
2.2.3 Make-to-Order (MTO)
MTO adalah sistem dimana kegiatan fabrikasi tidak bisa dikerjakan
tanpa menunggu pesanan dari pelanggan karena setiap pesanan memiliki
variabilitas yang tinggi dan berbeda – beda. Untuk mengatasi masalah
variabilitas ini perusahaan harus memproduksi pesanan pelanggan setelah
pelanggan melakukan pesanan. Usaha perusahaan untuk menyiapkan produk
sebelum adanya pesanan dari pelanggan dianggap memiliki biaya yang mahal
dan resiko yang tinggi. Aspek kunci dalam mengelola supply chain yang
beroperasi pada lingkungan MTO adalah kecepatan perusahaan dalam
menerima, menterjemahkan, dan memproses pesanan dari pelanggan sehingga
produksi dapat berjalan secepat mungkin. Contohnya adalah mesin-mesin
produksi pada pabrik-pabrik yang memiliki spesifikasi berbeda antara mesin
satu dengan yang lainnya.
2.2.4 Engineer-to-Order (ETO)
ETO adalah sistem dimana perancangan produk baru diakukan setelah
ada pesanan dari pelanggan. Model ini cocok digunakan bila setiap pelanggan
memerlukan produk dengan rancangan yang spesifik. Rancangan spesifik ini
nantinya akan berimplikasi pada kebutuhan material dan urutan proses yang
berbeda untuik tiap produk. Aspek kunci dalam mengelola supply chain yang
beroperasi pada lingkungan ETO adalah kesepakatan waktu dan rancangan
produksi antara perusahaan dan pelanggan serta fleksibilitas dari bagian
produksi dan perancangan untuk dapat menyerap permintaan dari pelanggan

4
yang berbeda – beda. Contohnya adalah perancangan bangunan, perumahan,
busana, dan yang lainnya.

2.3 Pertanyaan presentasi


1. Perusahaan apa saja yang menggunakan Decoupling Point ?
Jawab :
Perusahaan manufaktur

2. Apakah contoh perancangan rumah dapat masuk dalam metode


lain selain ETO ?
Jawab :
Tentu saja bisa, contohnya bisa digeser ke MTO, karena model rumah
bisa saja sama tetapi hanya dibedakan dari spesifikasi warna dan
jumlah ruangan yang ada didalamnya. bisa juga digeser ke dalam
metode MTS, contoh nya ialah rumah rumah yang persis sama seperti
rumah rumah cluster"

3. Apakah kasus indomie dapat digeser kepada ETO, ATO atau


MTO? Lalu kondisi seperti apa yang menyebabkan pergeseran kasus
tersebut dari MTS ke metode lain?
Jawab :
Untuk saat ini, tidak memungkinkan untuk menggeser metode dari
penjualan indomie tersebut ke metode lain.
Contoh, metode tersebut dipindahkan ke ETO, tentu saja akan
memakan proses yang lama, sementara indomie dapat dikatakan
makanan pengganti yang dibutuhkan saat keadaan mendesak. Untuk
metode lain seperti ATO dan MTO juga memakan waktu yg relatif
lebih lama daripada MTS, sehingga untuk bahan pangan, tentulah
MTS adalah metode yang paling cocok digunakan.

5
BAB III
Penutup

3.1 Kesimpulan

Melalui Decoupling Point kita dapat menentukan penempatan


posisi/letak inventory dari hulu atau hilir dalam suatu rantai pasok.
Untuk menentukan system produksi dalam perancangan produk,
fabrikasi komponen atau pembuatan sub assembly, perakitan menjadi
produk akhir, dan pengiriman ke pelanggan kita dapat menggunakan
sistem produksi berikut untuk diposisikan di salah satu dari empat
proses umum tersebut, yaitu :

 Make To Stock (MTS), contoh : mie instan. Setelah mie instan


diproduksi, maka hasil jadinya ditimbun dengan kapasitas yang
banyak , sebelum akhirnya dijual. Jadi barang di produksi bukan
berdasarkan pesanan, namun setiap kali konsumen menginginkan
produk tersebut, produk tersebut harus sudah tersedia. Untuk barang
jenis ini, konsumen tidak mau menunggu atau dengan kata lain tidak
ada lead time.
 Assembly To Order (ATO), contoh : produk otomotif seperti
mobil. Komponen untuk pembuatan mobil sudah disediakan, maka
hanya perlu dirakit.
 Make To Order (MTO), contoh : mesin-mesin produksi pada
pabrik-pabrik yang memiliki spesifikasi dan fungsi yang berbeda
antara mesin satu dengan yang lainnya, seperti pembuatan mesin untuk
mesin pemotong pola sepatu berbeda dengan mesin untuk pengepress
pola sepatu.
 Engineer To Order (ETO), contoh : arsitek. Klien mempunyai
kebutuhan dan keinginan tersendiri untuk rumahnya, maka yang
dibutuhkan ketika klien meminta bantuan kepada arsitek adalah arsitek
mengumpulkan data berupa konsep dan rancangan desain yang
dibutuhkan dalam pembuatan rumah dan menysesuaikan dengan apa
yang diidamkan klien. Jika disetujui oleh klien, maka arsitek akan
memulai merealisasikan konsep yang diminta oleh klien tersebut.

6
Daftar Pustaka
Situmorang,G. (2014). Supply Chain Management. Tersedia :
[Link] [12 Mei
2014].

Tafzia. (2015). Decoupling Point dalam SCM. Tersedia : [Link]


[Link]/2015/04/[Link] [18 April 2015].

Pujawan. (2010). Supply Chain Management. (second ed.). Surabaya: Guna Widya

[Link]

7
Glosarium
Lead Time: Waktu tunggu yang diperlukan untuk mendapatkan suatu produk tertentu.

Anda mungkin juga menyukai