0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
49 tayangan3 halaman

Memahami Decoupling Point dalam SCM

Dokumen tersebut membahas tentang tipe-tipe sistem produksi (supply chain) berdasarkan posisi titik pemisahan (decoupling point) antara kegiatan yang dilakukan berdasarkan ramalan dan kegiatan yang menunggu pesanan pasti dari pelanggan. Ada empat tipe sistem produksi yang dijelaskan yaitu Make-to-Stock (MTS), Assemble-to-Order (ATO), Make-to-Order (MTO), dan Engineer-to-Order (ETO) yang masing-masing memiliki karakteristik ber

Diunggah oleh

Adelia Debrina
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
49 tayangan3 halaman

Memahami Decoupling Point dalam SCM

Dokumen tersebut membahas tentang tipe-tipe sistem produksi (supply chain) berdasarkan posisi titik pemisahan (decoupling point) antara kegiatan yang dilakukan berdasarkan ramalan dan kegiatan yang menunggu pesanan pasti dari pelanggan. Ada empat tipe sistem produksi yang dijelaskan yaitu Make-to-Stock (MTS), Assemble-to-Order (ATO), Make-to-Order (MTO), dan Engineer-to-Order (ETO) yang masing-masing memiliki karakteristik ber

Diunggah oleh

Adelia Debrina
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG

Tipe Supply Chain


Menurut Pujawan (2005, p37) Decoupling Point adalah titik temu sampai di
mana suatu kegiatan bisa dilakukan atas dasar ramalan (tanpa harus menunggu
permintaan dari pelanggan) dan dari mana kegiatan harus ditunggu sampai ada
permintaan yang pasti. Istilah lain dari decoupling point adalah order penetration
point (OPP). Istilah decoupling point merupakan istilah yang jarang digunakan
untuk suatu sistem produksi, namun karena ada kesamaan analogi dapat kita
gunakan untuk memahami order penetration point supply chain.
Menurut Pujawan (2005, p39) secara umum, terdapat empat macam posisi
decoupling point pada supply chain dalam merespon permintaan pelanggan:
[Link]-to-Stock (MTS)
MTS adalah sistem dimana decoupling berada pada proses terakhir, yaitu
pada pengiriman ke pelanggan. Produk akhir dibuat berdasarkan ramalan. Hanya
kegiatan pengiriman yang dilakukan setelah ada pesanan dari pelanggan. Efisiensi
fisik menjadi fokus dalam pengelolaanya. MTS cocok untuk produk yang
variasinya sedikit dan ketidakpastian permintaannya relative rendah. Aspek kunci
dalam mengelola supply chain yang beroperasi pada lingkungan MTS adalah
penentuan berapa persediaan produk akhir yang harus disimpan dan bagaimana
mekanisme pengiriman produk jadi ke suatu lokasi pemasaran. Keseimbangan
antara tingkat layanan pelanggan dan banyaknya persediaan produk juga menjadi
hal penting yang harus ditentukan pada supply chain yang beroperasi dengan sistem
MTS.
[Link]-to-Order (ATO)
ATO adalah sistem dimana hanya kegiatan perakitan yang menungu
pesanan dari pelanggan, sedangkan kegiatan fabrikasi komponen atas dasar
peramalan. ATO cocok diterapkan pada sistem yang memproduksi banyak variasi
produk dengan kesamaan antara komponen dari tiap produk yang cukup tinggi.
Jadi, decouple point ditempatkan setelah proses fabrikasi atau diawal proses
perakitan yang berarti bahwa persediaan akan disimpan dalam bentuk komponen
siap rakit. Aspek kunci dalam mengelola supply chain yang beroperasi pada
lingkungan ATO adalah lamanya proses perakitan setelah ada pesanan dari
pelanggan dan jumlah variasi produk yang dapat ditawarkan ke pelanggan
Kecepatan perusahaan dalam memenuhi pesanan pelanggan sangat ditentukan oleh
lead time perakitan.

[Link]-to-Order (MTO)
MTO adalah sistem dimana kegiatan fabrikasi tidak bisa dikerjakan tanpa
menunggu pesanan dari pelanggan karena setiap pesanan memiliki variabilitas yang
tinggi dan berbeda – beda. Untuk mengatasi masalah variabilitas ini perusahaan
harus memproduksi pesanan pelanggan setelah pelanggan melakukan pesanan.
Usaha perusahaan untuk menyiapkan produk sebelum adanya pesanan dari
pelanggan dianggap memiliki biaya yang mahal dan resiko yang tinggi. Aspek
kunci dalam mengelola supplu chain yang beroperasi pada lingkungan MTO adalah
kecepatan perusahaan dalam menerima, menterjemahkan, dan memproses pesanan
dari pelanggan sehingga produksi dapat berjalan secepat mungkin.
[Link]-to-Order (ETO)
ETO adalah sistem dimana perancangan produk baru diakukan setelah ada
pesanan dari pelanggan. Model ini cocok digunakan bila setiap pelanggan
memerlukan produk dengan rancangan yang spesifik. Rancangan spesifik ini
nantinya akan berimplikasi pada kebutuhan material dan urutan proses yang
berbeda untuik tiap produk. Aspek kunci dalam mengelola supply chain yang
beroperasi pada lingkungan ETO adalah kesepakatan waktu dan rancangan
produksi antara perusahaan dan pelanggan serta fleksibilitas dari bagian produksi
dan perancangan untuk dapat menyerap permintaan dari pelanggan yang berbeda –
beda.
[Link]

Gorby Situmorang, Senin May 12,2014, Supply Chain Management

Keputusan sampai di mana aktivitas produksi bisa dilakukan tanpa menunggu permintaan
definitif dari pelanggan merupakan keputusan yang sangat penting bagi suatu supply chain
dan akan secara langsung berpengaruh terhadap kemampuannya untuk menciptakan
efisiensi fisik maupun kecepatannya untuk merespon pasar. Titik temu di mana suatu
kegiatan bisa dilakukan atas dasar ramalan dan dari mana kegiatan harus ditunda sampai
ada permintaan yang pasti dinamakan decoupling point.

Biasanya proses produksi secara umum dapat diklasifikasikan menjadi empat bagian
utama yaitu perancangan produk, fabrikasi, perakitan, dan pengiriman. Sistem produksi
yang dikenal dalam keempat bagian tersebut adalah:

a. Make to Stock (MTS)


Pada MTS, produk akhir dibuat berdasarkan ramalan. MTS akan cocok dengan produk-
produk fungsional yang variasinya sedikit dan ketidakpastian permintaannya relatif rendah.

b. Assembly to Order (ATO)


ATO adalah sistem di mana hanya kegiatan perakitan yang menunggu pesanan dari
pelanggan, sedangkan kegiatan lainnya dilakukan berdasarkan ramalan. ATO cocok pada
sistem yang memproduksi banyak variasi produk dengan kesamaan komponen
antarproduk yang cukup tinggi.

c. Make to Order (MTO)


Pada sistem MTO, kegiatan fabrikasi komponen tidak bisa dikerjakan tanpa menunggu
pesanan dari pelanggan karena setiap pesanan mungkin membutuhkan jenis komponen
yang berbeda-beda.

d. Engineer to Order (ETO)


Pada sistem ETO, produk baru dirancang setelah ada pesanan dari pelanggan. Model ini
pada umumnya digunakan jika pelanggan membutuhkan produk dengan rancangan yang
spesifik. Rancangan yang spesifik ini bisa berimplikasi pada kebutuhan material dan urutan
proses yang berbeda untuk setiap produk.

Tafzia, Saturday, April 18,2015, Decoupling Pont dalam SCM


[Link]

Anda mungkin juga menyukai