Metode Tim dalam Asuhan Keperawatan
Metode Tim dalam Asuhan Keperawatan
Disusun Oleh :
Semester IV
TAHUN 2019
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr. Wb
Segala puji dan syukur kami panjatkan kepada Allah SWT atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya,
berkat karunia dan limpahan rezeki nya kami masih di berikan nikmat iman, nikmah kesehatan sehingga
dapat terselesaikannya makalah yang berjudul Model Metode Tim Dalam Keperawatan untuk memenuhi
salah satu tugas mata kuliah Keperawatan Manajemen Kepemimpinan Dalam Keperawatan Program Studi
D IV Keperawatan Politeknik Kemenkes Banten.
Dalam kesempatan ini kelompok atau penulis ingin mengucapkan kepada Ibu Ermawati Dalami,
[Link], [Link] sebagai pembimbing, segala saran dan kritik yang sifatnya membangun senantiasa kami
harapkan demi kebaikan makalah ini.
Wassalamualaikum Wr. Wb
2
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
DAFTAR PUSTAKA
3
BAB I
PENDAHULUAN
4
1.4. Sistematika Penulisan
BAB I / PENDAHULUAN
Bab ini berisi uraian tentang latar belakang masalah yang mendasari pentingnya diadakan
identifikasi, tujuan penulisan, ruang lingkup, manfaat penulisan dan sistematika penulisan
Bab ini berisi uraian tentang pokok – pokok kesimpulan dan saran saran yang perlu disampaikan
5
BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1 Pengertian
Metode ini menggunakan tim yang terdiri atas anggota yang berbeda-beda dalam memberikan
asuhan keperawatan terhadap sekelompok pasien. Perawat ruangan dibagi menjadi 2-3 tim/grup yang
terdiri atas tenaga profesional, teknikal, dan pembantu dalam 1 kelompok kecil yang saling membantu
(Nursalam, 2011). Metode tim merupakan metode pemberian asuhan keperawatan, yaitu seorang perawat
profesional memimpin sekelompok tenaga keperawatan dalam memberikan asuhan keperawatan pada
sekelompok klien melalui upaya kooperatif dan kolaboratif. Model tim didasarkan pada keyakinan bahwa
setiap anggota kelompok mempunyai kontribusi dalam merencanakan dan memberikan asuhan
keperawatan sehingga timbul motivasi dan rasa tanggung jawab perawat yang tinggi sehingga diharapkan
mutu asuhan keperawatan meningkat. Metode tim adalah pengorganisasian pelayanan keperawatan dengan
menggunakan tim yang terdiri atas kelompok klien dan perawat. kelompok ini dipimpin oleh perawat yang
berpengalaman kerja serta memiliki pengetahuan dibidangnya (registered nurse). pembagian tugas dalam
kelompok dilakukan oleh pimpinan kelompok atau ketua group dan ketua group bertanggung jawab dalam
mengarahkan anggota group atau tim. selain itu ketua group bertugas memberi pengarahan dan menerima
laporan kemauan pelayanan keperawatan klien serta membantu anggota tim dalam menyelesaikan tugas
apabila mengalani kesulitan dan selanjutnya ketua tim melaporkan pada kepala ruang tentang kema"uan
pelayanan atau asuhan keperawatan terhadap klien
2.2 Gambaran
Metode tim didasarkan pada keyakinan bahwa setiap anggota kelompok mempunyai kontribusi
dalam merencanakan dan memberikan asuhan keperawatan sehingga pada perawat timbul motivasi dan
rasa tanggung jawab yang tinggi. Dengan demikian, diharapkan mutu asuhan keperawatan meningkat.
Pelaksanaan metode tim harus berdasarkan konsep berikut:
1. Ketua Tim, sebagai perawat profesional harus mampu menggunakan berbagai teknik kepemimpinan.
Ketua tim harus dapat membuat keputusan tentang prioritas perencanaan, supervisi, dan evaluasi asuhan
6
keperawatan. Pelaksanaan konsep tim sangat tergantung pada filosofi ketua tim, yakni apakah berorientasi
pada tugas atau pada klien. Tanggung jawab ketua tim adalah:
a. Mengkaji setiap klien dan menetapkan rencana asuhan keperawatan.
b. Mengoordinasikan rencana asuhan keperawatan dengan tindakan medis
c. Membagi tugas yang harus dilaksanakan oleh setiap anggota kelompok dan memberikan
bimbingan melalui konferensi
d. Mengevaluasi pemberian asuhan keperawatan dan hasil yang dicapai serta
mendokumentasikannya.
2. Komunikasi yang efektif penting agar kontinuitas rencana asuhan keperawatan terjamin. Komunikasi
yang terbukka dapat dilakukan melalui berbagai cara, terutama melalui rencana asuhan keperawatan
tertulis yang merupakan pedoman pelaksanaan asuhan, supervisi, dan evaluasi.
3. Anggota tim harus menghargai kepemimpinan ketua tim. Ketua tim membantu anggotanya untuk
memahami dan melakukan tugas sesuai dengan kemampuan mereka.
4. Peran kepala ruangan penting dalam metode tim, metode tim akan berhasil baik, apabila didukung
oleh kepala ruangan. Untuk itu, kepala ruangan diharapkan telah:
a. Menetapkan standar kinerja yang diharapkan dari staf
b. Membantu staf menetapkan sasaran dari unit/ruangan
c. Memberi kesempatan kepada ketua tim untuk pengembangan kepemimpinan
d. Mengorentasikan tenaga yang baru tentang fungsi metode tim keperaawatan
e. Menjadi narasumber bagi ketua tim
f. Mendorong staf untuk meningkatkan kemampuan melalui riset keperawatan
g. Menciptakan iklim komunikasi yang terbuka.
Menurut Kron & Gray (1987) pelaksanaan model tim harus berdasarkan konsep sebagai berikut :
7
a. Ketua tim sebagai perawat profesional harus mampu menggunakan tehnik
kepemimpinan.
b. Komunikasi yang efektif penting agar kontinuitas rencana keperawatan
terjamin.
c. Anggota tim menghargai kepemimpinan ketua tim.
d. Peran kepala ruang penting dalam model tim. Model tim akan berhasil baik bila didukung oleh
kepala ruang. Metode tim ini menggunakan tim yang terdiri dari anggota yang berbeda-beda dalam
memberikan asuhan keperawatan terhadap sekelompok pasien. Perawat ruangan dibagi menjadi 2-3
tim / group yang terdiri dar tenaga professional, tehnikal dan pembantu dalam satu grup kecil yang
saling membantu.
Sesuai dengan tujuan tersebut maka tugas dan tanggung jawab keperawatan harus benar benar di
arahkan dan di rencanakan secara matang untuk keberhasilan asuhan keperawatan. sebagaimana di ketahui
bahwa satu tim keperawatan terdiri dari dua orang perawat atau lebih yang bekerja sama dalam pemberian
asuhan keperawatan. ketua tim seharusnya perawat profesional yang sudah berpenngalaman dalam
memberikan asuhan keperawatan dan di tunjuk oleh perawat kepala ruang (nurse unit manager).
selanjutnya, ketua tim akan melaksanakan tugas yang di delegasikan oleh perawat kepala ruang bersama
sama denga anggota tim. tugas dan tanggung jawab ketua tim menjadi hal yang harus di perhatikan secara
cermat. tugas dan tanggung jawab tersebut diarahkan untuk melakukan pengkajian dan penyusunan
rencana keperawatan untuk setiap pasien yang berada di bawah tanggung jawabnya, membagi tugas
kepada semua anggota tim dengan mempertimbangkan kemampuan yang di miliki anggota tim dan
kebutuhan pasien yang harus dipenuhi, mengontrol dan memberikan bimbingan kepada anggota tim dalam
melaksanakan tugasnya apabila diperlukan, melakukan evaluasi terhadap hasil kerja anggota tim,
menerima laporan tentang perkembangan kondisi pasien dan anggota tim.
Metode tim didasarkan pada keyakinan bahwa setiap anggota kelompok mempunyai kontribusi dalam
merencanakan dan memberikan asuhan keperawatan sehingga pada perawat timbul motivasi dan rasa
8
tanggung jawab yang tinggi. Dengan demikian, diharapkan mutu asuhan keperawatan meningkat.
pelaksanaan metode tim harus berdasarkan konsep Berikut:
Tanggung Jawab Perawat Dalam Model Asuhan Keperawatan Profesional (MAKP) Tim (Nursalam,
2002) :
1. Menetapkan standar kerja yang diharapkan sesuai dengan standar asuhan keperawatan
2. Mengorganisir pembagian tim dan pasien
3. Memberi kesempatan pada ketua tim untuk mengembangkan kepemimpinan
4. Menjadi narasumber bagi ketua tim
5. Mengorientasikan tenaga keperawatan yang baru tentang metode atau model tim dalam
pemberian asuhan keperawatan
6. Memberi pengarahan kepada seluruh kegiatan yang ada diruangannya
7. Melakukan pengawasan terhadap seluruh kegiatan yang ada diruangannya
9
8. Memfasilitasi kolaborasi tim dengan anggota tim kesehatan yang lainnya
9. Melakukan audit asuhan dan pelayanan keperawatan di ruangannya, kemudian menindak
lanjutinya
10. Memoti!asi staf untuk meningkatkan kemempuan melalui riset keperawatan
11. Menciptakan iklim komunikasi yang terbuka dengan semua staf
1)Perencanaan
a. Menunjuk ketua
tim yang akan
bertugas di ruangan
masing- masing.
b. Mengikuti serah
terima pasien di
shift sebelumnya.
c. Mengidentifikasi tingkat ketergantungan klien: gawat, transisi dan persiapan pulang bersama
ketua tim.
d. Mengidentifikasi jumlah perawat yang dibutuhkan berdasarkan aktifitas dan kebutuhan klien
bersama ketua tim, mengatur penugasan/ penjadwalan.
f. Mengikuti visite dokter untuk mengetahui kondisi, patofisiologis, tindakan medis yang
dilakukan, program pengobatan dan mendiskusikan dengan dokter tentang tindakan yang akan
dilakukan terhadap pasien.
- Memberikan informasi kepada pasien atau keluarga yang baru masuk RS.
2 Pengorganisasian
10
a. Merumuskan metode penugasan yang digunakan.
b. Merumuskan tujuan metode penugasan.
d. Membuat rentang kendali kepala ruangan membawahi 2 ketua tim dan ketua tim membawahi 2 – 3
perawat.
e. Mengatur dan mengendalikan tenaga keperawatan: membuat proses dinas, mengatur tenaga yang ada
setiap hari dan lain- lain.
h. Mendelegasikan tugas kepala ruang tidak berada di tempat, kepada ketua tim.
3)Pengarahan
b. Memberikan pujian kepada anggota tim yang melaksanakan tugas dengan baik.
d. Menginformasikan hal – hal yang dianggap penting dan berhubungan dengan asuhan keperawatan
pasien.
4)Pengawasan
a. Melalui komunikasi : mengawasi dan berkomunikasi langsung dengan ketua tim dalam pelaksanaan
mengenai asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien.
b. Melalui supervisi:
11
- Pengawasan langsung melalui inspeksi, mengamati sendiri atau melalui laporan langsung secara lisan
dan memperbaiki/ mengawasi kelemahannya yang ada saat itu juga.
- Pengawasan tidak langsung yaitu mengecek daftar hadir ketua tim, membaca dan memeriksa rencana
keperawatan serta catatan yang dibuat selama dan sesudah proses keperawatan dilaksanakan
(didokumentasikan), mendengar laporan ketua tim tentang pelaksanaan tugas.
- Mengevaluasi upaya pelaksanaan dan membandingkan dengan rencana keperawatan yang telah disusun
bersama ketua tim.
Pelaksanaan model tim tidak dibatasi oleh suatu pedoman yang kaku. Model tim dapat
diimplementasikan pada tugas pagi, sore, dan malam. Apakah terdapat 2 atau 3 tim tergantung pada
jumlah dan kebutuhan serta jumlah dan kualitas tenaga keperawatan. Umumnya satu tim terdiri dari 3-5
orang tenaga keperawatan untuk 10-20 pasien.
Berdasarkan hasil penelitian Lambertson seperti dikutip oleh Douglas (1984), menunjukkan bahwa
model tim bila dilakukan dengan benar merupakan model asuhan kperawatan yang tepat dalam
meningkatkan pemanfaatan tenaga keperawatan yang bervariasi kemampuannya dalam memberikan
asuhan keperawatan. Hal ini berarti bahwa model tim dilaksanakan dengan tepat pada kondisi dimana
kemampuan tenaga keperawatan bervariasi.
Kegagalan penerapan model ini, jika penerapan konsep tidak dilaksanakan secara menyeluruh/ total
dan tidak dilakukan pre atau postconference dalam sistem pemberian asuhan keperawatan untuk
pemecahan masalah yang dihadapi pasien dalam penentuan strategi pemenuhan kebutuhan pasien.
1. Kelebihan:
a. Memfasilitasi pelayanan keperawatan yang komprehensif dan holistik.
[Link] pencapaian proses keperawatan
[Link] atau perbedaan pendapat antar staf daapt ditekan melalui rapat tim, cara
ini efektif untuk belajar.
[Link] kepuasan anggota tim dalam hubungan interpersonal
[Link] menyatukan kemampuan anggota tim yang berbeda-beda dengan aman dan
efektif.
[Link] kerjasama dan komunikasi di antara anggota tim menghasilkan sikap moral yang
tinggi, memperbaiki fungsi staf secara keseluruhan, memberikan anggota tim perasaan bahwa ia
mempunyai kontribusi terhadap hasil asuhan keperawatan yang diberika.
[Link] kualitas asuhan keperawatan yang dapat dipertanggung jawabkan
[Link] ini memotivasi perawat untuk selalu bersama klien selama bertugas
[Link] kepuasan pada pasien & perawat
[Link] karena kerjasama, komunikasi dan moral
2. Kerugian:
1. Pre-conference sulit dilakukan pada waktu-waktu sibuk
12
2. Perawat yg belum berpengalaman sehingga perlu dorongan berlatih
3. Akontabel dalam tim kurang jelas
13
2.5 Perhitungan Tenaga Keperawatan Metode Tim
1. Cara Rasio
Metode ini menggunakan jumlah tempat tidur sebagaidenominator personal yang
diperlukan. Metode ini paling sering digunakan karena sederhana dan mudah. Metode ini
hanya mengetahui jumlah personal secara total tetapi tidak bisa mengetahui produktifitas
SDM Rumah sakit, dan kapan personal tersebut dibutuhkan oleh setiap unit atau bagian rumah
sakit yang membutuhkan. Bisa digunakan bila : kemampuan dan sumber daya untuk
perencanaan personal terbatas, jenis, tipe dan volume pelayanan kesehatan relatif stabil. Cara
rasio yang umum digunakan adalah berdasarkan surat keputusan Menkes RI Nomor 262 tahun
1979 Tentang Ketenagaan Rumah Sakit, dengan standart sebagai berikut :
Keterangan :
TM : Tenaga Medis
TT : Tempat Tidur
TPP : Tenaga Paramedis Perawatan
TPNP : Tenaga Paramedis Non Perawatan
TNM : Tenaga Non Medis
Contoh Perhitungan :
1. Suatu RS tipe B dengan jumlah tempat tidur 300 buah, maka seorang pimpinan tenaga
keperawatan akan memperhitungkan jumlah tenaga keperawatan adalah :
a. 3/2 x 300 = 450
b. 4/2 x 300 = 600
Maka jumlah tenaga perawat yang dubuthkan untuk rumah sakit tersebut adalah
anatara 450 orang sampai dengan 600 orang
2. Bila rumah sakit tipe C dengan jumlah tempat tidur 100 buah, maka jumlah tenaga
perawat yang dibutuhkan adalah :
1/1 x 100 = 100, maka jumlah tenaga perawat yang dibutuhkan adalah 100 orang
3. Bila rumah sakitnya tipe D dengan jumlah tempat tidur 75 buah, maka jumlah tenaga
perawat yang dibutuhkan adalah :
½ x 75 = 37,5 maka jumlah tenaga perawat yang dibutuhkan adalah 40 orang
14
2. Cara Need
Cara ini dihitung berdasarkan kebutuhan menurut beban kerja yang diperhitungkan
sendiri dan memenuhi standart profesi. Untuk menghitung seluruh kebutuhan tenaga,
diperlukan terlebih dahulu gambaran tentang jenis pelayanan yang diberikan kepada klien
selama dirumah sakit. Misalnya saja untuk klien yang berobat jalan, ia akan melalui atau
mendapatkan pelayanan antara lain pemberian karcis, pendaftaran, pemeriksaan
perawat/dokter, penyuluhan, pemeriksaan laboratorium, apotik dan sebagainya. Kemudian
dihitung standart waktu yang diperlukan agar pelayanan itu berjalan dengan baik.
Hundgins (1992) menggunakan standart waktu pelayanan klien sebagai berikut :
Lama Waktu (menit)
Tugas
Baru Lama
Pendaftaran 3 4
Pemeriksaan dokter 15 11
Pemeriksaan asisten dokter 18 11
Penyuluhan 51 0
Laboratorium 5 7
Contoh Perhitungan :
Rumah Sakit Mawar tipe B memberikan pelayanan kepada klilen rata-rata 500 orang
perhari, dimana 50% adalah klien baru, maka seorang pimpinan keperawatan akan
memperhitungkan jumlah tenaga sebagai berikut :
1. Tenaga yang diperlukan untuk bertugas dibagaian pendaftaran adalah : (3 + 4 )/2 =
3,5 x 500/240 = 7,29 (7 orang tenaga) jika ia bekerja dari jam 08.00 samapai jam 12.00
(240 menit)
2. Tenaga dokter yang dibutuhkan adalah : (15 + 11)/2 = 13 x 500/180 = 36,11 (36
orang dokter), jika ia bekerja dari jam 09.00 sampai 12.00 (180 menit)
3. Tenaga asisten dokter yang dibutuhkan adalah : (18 + 11)/2 = 14,5 x 500/240 = 30,2
( 30 orang asisten dokter), jika ia bekerja dari jam 08.00 sampai jam 12.00 (240 menit)
4. Tenaga penyuluhan yang dibutuhkan adalah : 51/2 = 25,5 x 500/240 = 53,13 (53
orang tenaga penyuluhan ), jika ia bekerja dari jam 08.00 sampai jam 12.00 (240 menit)
5. Tenaga laboratorium yanng dibutuhkan adalah : (5+7)/2 = 6 x 500/240 = 12,5 (13
orang tenaga laboratorium), jika ia bekerja dari jam 08.00 sampai jam 12.00 (240
menit )
15
Untuk klien rawat inap, Douglas (1984) menyampaikan standart waktu pelayanan
klien rawat inap sebagai berikut :
1. Perawatan minimal memerlukan waktu : 1-2 jam/24 jam
2. Perawatan Intermediate memerlukan waktu : 3-4 jam/24 jam
3. Perawatan Maksimal/total memerlukan waktu : 5-6 jam/24 jam
Dalam penerapan sistem klasifikasi klien dengan tiga kategori tersebut diatas adalah
sebagai berikut :
16
Contoh Perhitungan :
Di ruang Anggrek RSU Bandung dirawat 20 orang pasien dengan kategori sebagai
berikut : 5 pasien dengn perawatan minimal, 10 pasien dengan perawatan parsial dan 5
pasien dengan perawatan total. Maka kebutuhan tenaga perawatan adalah sebagai berikut :
1
Untuk shift pagi 2. Untuk shift sore 3. Untuk shift malam
.
5 p x 0,17 = 0,85 5 p x 0,14 = 0,70 5 p x 0,10 = 0,50
10 p x 0,27 = 2,7 10p x 0,15 = 1,5 10p x 0,07 = 0,70
5 p x 0,36 = 1,80 5 p x 0,30 = 1,50 5 p x 0,20 = 1,00
Total tenaga pagi = 5,35 Total tenaga sore = 3,70 Total tenaga malam = 2,20
Jadi jumlah tenaga yang dibutuhkan adalah = 5,35 + 3,70 + 2,20 = 11,25 ( 11 orang
perawat )
Jadi rata-rata tenaga yang yang dibutuhkan untuk tiga shift adalah : 7 perawat. Berarti
kebutuhan untuk satu ruangan adalah : 11 perawat + 1 orang karu + 3 [Link] + 2 orang
cadangan = 17 orang perawat
2. Cara Demand
Cara demand adalah perhitungan jumlah tenaga menurut kegiatan yang memang nyata
dilakukan oleh perawat. Menurut Tutuko (1992) setiap klien yang masuk ruang gawat
darurat dibutuhkan waktu sebagai berikut :
1. Untuk kasus gawat darurat : 86,31 menit
2. Untuk kasus mendesak : 71,28 menit
3. Untuk kasus tidak mendesak : 33,09 menit
3. Cara Gillies
Gillies (1989) mengemukakan rumus kebutuhan tenaga keperawatan disatu unit
perawatan adalah sebagai berikut :
A B C F
H
(C D) E G
Keterangan :
A = Rata2 jumlah perawatan /pasien/hari
B = rata2 jumlah pasien perhari
C = jumlah hari pertahun
D = hari libur masing2 perawat
E = jumlah jam kerja masing2 perawat
F = jumlah jam perawatn yang dibutuhkan pertahun
G = jumlah jam perawatan yang diberikan perawat/th
H = jumlah perawat yg dibutuhkan untuk unit tsb
17
Dalam memberikan pelayanan keperawatan ada tiga jenis bentuk pelayanan, yaitu :
1. Perawatan Langsung, adalah perawatan yang diberikan oleh perawat yang ada
hubungan secara khusus dengan kebutuhan fisik, psikologis, dan spiritual.
Berdasarkan tingkat ketergantungan pasien pada perawat maka dapat diklasifikasikan
dalam 4 kelompok yaitu : self care, partial care, total care dan intensive care. Menurut
Minetti Huchinson (1994) kebutuhan keperawatan langsung setiap pasien adalah
empat jam perhari sedangkan untuk :
a. Self care dibutuhkan ½ x 4 jam : 2 jam
b. Partial care dibutuhkan ¾ x 4 jam : 3 jam
c. Total care dibutuhkan 1 – 1,5 x 4 jam : 4 – 6 jam
d. Intensive care dibutuhkan 2 x 4 jam : 8 jam
2. Perawatan tak langsung, meliputi kegiatan-kegiatan membuat rencana perawatan,
memasang/ menyiapkan alat, konsultasi dengan anggota tim, menulis dan membaca
catatan kesehatan, melaporkan kondisi pasien. Dari hasil penelitian RS
18
Graha Detroit (Gillies, 1989) = 38 menit/ klien/ hari,
sedangkan menurut Walfe dan Young (Gillies, 1989) = 60
menit/ klien/ hari dan penelitian di RS John Hopkin
dibutuhkan 60 menit/ pasien (Gillies, 1994)
3. Pendidikan kesehatan yang diberikan kepada klien melliputi :
aktifitas, pengobatan serta tindak lanjut pengobatan. Menurut
Mayer dalam Gillies (1994) waktu yang dibutuhkan untuk
pendidikan kesehatan aialah 15 menit/klien/hari.
a. Rata-rata klien perhari adalah jumlah klien yang dirawat
disuatu unit berdasarkan rata-ratanya atu menurut “Bed
3.2 Saran
DaftarPustaka
Kron & Gray. 1987. Pelaksanaan Model Tim Dalam Metode Tim Keperawatan
[Link] K.,
Chapman,Y.