100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
100 tayangan194 halaman

Praktik Alat Ukur Tekanan dan Aliran

Instrumen pengukuran tekanan seperti pressure gauge, pressure transmitter, dan differential pressure transmitter digunakan untuk mengukur tekanan proses. Pressure gauge menggunakan tabung Bourdon yang akan mengembang jika diberi tekanan dan gerakannya diubah menjadi penunjukkan melalui linkage dan roda gigi.

Diunggah oleh

Dicky Prasetya
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
100 tayangan194 halaman

Praktik Alat Ukur Tekanan dan Aliran

Instrumen pengukuran tekanan seperti pressure gauge, pressure transmitter, dan differential pressure transmitter digunakan untuk mengukur tekanan proses. Pressure gauge menggunakan tabung Bourdon yang akan mengembang jika diberi tekanan dan gerakannya diubah menjadi penunjukkan melalui linkage dan roda gigi.

Diunggah oleh

Dicky Prasetya
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

F IE L D

INSTR UME NT

PJB Ac Kampus Gr esik

2 Apr il 2018
CUR R ICUL UM VITAE INSTR UK TUR

BUDI SANTOSO
NID : 8308081JA
TTL : Gresik, 20 Agustus 1983
Pendidikan Terakhir: S1 Teknik Elektro ITS

Riwayat Jabatan
2015 Jan – 2018 Apr : SPVS Kontrol Instrument UJTA
2008 Jul – 2014 Des : Ass Eng Har Kontrol Instrument UPPTN
2006 Jul - 2008 Jul : Pre-employment Trainee
K omitmen

1/1

ANTUSIAS, AKTIF, POSITIF, OPEN MIND


Agenda
HARI,
WAK TU K E GIATAN K E TE R ANGAN
TANGGAL
K epala K ampus
08.00 - 08 .15 P embukaan Gr esik
08.15 - 10.00 F ield Instr ument Input Device
10 00 – 10.15 Coffe br eak
Har i I,
2 Apr il 10.15 – 12.00 F ield Instr ument Input Device
2018 12.00 – 13.00 Ishoma B udi Santoso
13.00 – 15.00 F ield Instr ument Output Device
15.00 - 15.30 B r eak sholat Ashar
15.30 – 17.00 F ield Instr ument Output Device

08.00 – 10.00 P r aktek Ther mocouple dan Switch (P S, TS, LS)


10.00 – 10.15 Coffe br eak
Har i II, 10.15 – 12.00 P r aktek Ther mocouple dan Switch (P S, TS, LS) - B ambang H
3 Apr il 12.00 - 13.00 Ishoma - M Mus takim
2018 13.00 - 15.00 P r aktek Contr ol Valve, P ositioner , dan I/P Conver ter - Achmat Zaeni S
15.00 - 15.30 B r eak sholat ashar
15.30 – 17.00 P r aktek Contr ol Valve, P ositioner , dan I/P Conver ter
Agenda (2)
08.00 – 10.00 P r aktek Tr ansmitter
10.00 – 10.15 Coffe br eak
10.15 – 12.00 P r aktek Ther mocouple dan P r essur e Switch - B ambang H
Hari III,
12.00 – 13.00 Ishoma - M Mustakim
4 Apr il 2018
13.00 – 15.00 P r aktek Contr ol Valve dan I/P Conver ter - Achmat Zaeni S
15.00 – 15.30 B r eak sholat ashar
15.30 – 17.00 P r aktek Contr ol Valve dan I/P Conver ter
08.00 – 09.00 P ost test
09.00 – 10.00 Uji pr aktek
10.00 – 10.15 Coffe br eak - B ambang H
Har i IV, 10.15 – 12.00 Uji pr aktek - M Mustakim
5 Apr il 2018 12.00 – 13.00 Ishoma - Achmat Zaeni S
13.00 – 15.00 Uji pr aktek
15.00 – 15.30 B r eak sholat Ashar
15.30 – 15.45 P enutupan K epala K ampus
Siklus PL TU
Definis i Ins tr umentas i?

• Apa itu instrument ?


• Apa saja jenis peralatan instrument?
Definis i Ins tr umentas i & K ontr ol
Instrumentasi adalah teknologi penggunaan alat- alat yang
dipergunakan sebagai pengukuran dan pengendalian suatu proses
atau keadaan tertentu, yang meliputi sifat- sifat fisika maupun kimia

Jenis-jenis instr ument :


• Besaran fisika :
Level, Pressure, Flow, Temperature, Vibrasi, Speed, Posisi, dsb
• Besaran kimia
pH, spesific conductivity, silica, turbidity, O2 content, CO, NOx, SOx, dsb

Sistem Kontrol: Sistem yang terdiri dari beberapa elemen sistem


yang dapat mengendalikan/ mengatur suatu besaran tertentu
(process variabel)

9
Ins tr umentas i& K ontr ol

Fungsi instrument:
Parameter Indikasi
operasi
Alarm / announciator
Protection /interlock
Sequencial control
Modulating control
Coordinate Control

Blok proses secara umum


Ins tr umentas i& K ontr ol

Manual control Automatic control


Sis tem K ontr ol Automatic

4-20 mA

4-20 mA
F ield Ins tr ument

Terdiri dari :
• Sensor /input device : adalah suatu peralatan yang berfungsi
sebagai alat ukur suatu besaran di lapangan.
• Final control element (FCE)/output device : peralatan yang
berfungsi mengatur manipulated variable dalam sebuah sistem
control, untuk mengendalikan parameter yang diinginkan sesuai
nilai setpoint yang diinginkan.
F ield Ins tr ument (2)

Jenis sinyal field instrument dibagi menjadi 2 jenis, yaitu :


a. Digital /discrete:
Hanya mempunyai 2 keadaan (1- 0, ON- OFF, OPE N- CL OSE )
b. Analog :
Memiliki nilai variable atau memiliki banyak keadaan (4- 20 mA,
0,2- 1 kg/cm², 3- 15 psi)

Sebutkan salah satu contohnya..


Dis cr ete Signal Types

• Selector switches • Annunciator s


• Temperature switches • Alarm lights
• Flow switches • E lectr ic contr ol r elays
• Level switches • E lectr ic fans
• Valve position switches • Indicating lights
• Starter auxiliary contacts • E lectric valves
• Pushbuttons
• Alarm hor ns
• Motor starter contacts
• Selenoid valves
• Limit switches
• Motor star ter s
• Pressure switches
• Heater star ter s
• Hand switches
• Proximity switches
• Relay contacts
• Photoelectric sensors

2-15
Analog Devices

• Flow transmitters • E lectric motor drives


• Pressure transmitters • Analog meters
• Temperature transmitters • Chart data recorders
• Analytical transmitters • Process controllers
• Position transmitters • Current- to- pneumatic (I/P)
converter
• Potentiometers
• E lectrical- operated valve
• Level transmitters
• Variable speed drives
• Speed instruments

2-16
Piping & Ins tr umentation Diagr am (P& ID)

• Diagram yang menggambarkan detil perpipaan dalam proses


beserta semua instrument yang terpasang pada sistem tersebut.
Fokusnya pada detil instrumentasi
Piping & Ins tr umentation Diagr am (P& ID)

Jelaskan
F IE L D
INSTR UME NT
INPUT
Standar s inyal tr ans mis i

• Evolusi instrumentasi
Pneumatic vs electr ic s tandar t

Standart sinyal tr ansmisi industri :


• Pneumatic dimana variabel proses 0-100% dinyatakan dalam 3 ~15 Psi
• Electric dimana variabel proses 0-100% dinyatakan dalam 4-20 mA

Output Output Electronic


PROCESS Pneumatic transmitter PROCESS transmitter
100% 15 Psi 100% 20 mA

12 Psi 16 mA

50% 9 Psi 50% 12 mA

6 Psi 8 mA

0% 3 Psi 0% 4 mA
Standar s inyal tr ans mis i

Pneumatic Electric
Transmisi dengan udara
Transmisi dengan sinyal listrik
bertekanan
Jalur transmisi dengan tube Jalur transmisi dengan kabel biasa
Respon lambat Respon cepat
Butuh control room besar Lebih compact
Perawatan relative lebih murah
Perawatan lebih mahal
(jarang rusak)
Pneumatic vs electr ic s tandar t

• Contoh aplikasi

Cold water in
Heat Exchanger
steam in CV
hot water out

3-15psi
Steam out

I/P
Air supply Set point TT
Controller
4-20 mA 4-20 mA
Sinyal tr ans mis i 4- 20 mA

• Per samaan

X = desired percentage (%)

Why 4 mA = 0%??? 4 mA = life zer o


0 mA = fault zer o
Contoh s oal

1. B erapakah besar per sen


sinyal yang ditunjukkan oleh
arus 14.4 mA tsb?
2. B ila range instr ument yang
diukur adalah 30- 150 degC,
ber apa indikasi temper atur
yang ditunjukkan pada soal
no 1 di atas?
Contoh s oal

2. Suatu alat ukur pressure transmitter mempunyai range


100 s/d 400 PSI, dengan output range 4 – 20 mA. Pada
tekanan 200 PSI berapa arus outputnya ?
PRESSURE
TRANSMITTER
Pengukur an Tekanan
Pressure
Transmiiter Manometer pipa U
[Link] Transmiiter

P res s ure Gauge

Pressure
Gauge
Pengukur an Tekanan

Pressure Gauge • Apabila tabung Bourdon diberi


tekanan maka Bourdon akan
mengembang dan gerakan tersebut
dirubah menjadi penunjukkan
melalui linkage dan roda gigi.
• Material bourdon antara lain :
phospor bronze,
alloy steel,
stainless steel
berrylium copper.
Pr es s ur e Tr ans mitter
Proses perubahan tekanan menjadi
arus bisa dijelaskan sebagai berikut
• Perubahan tekanan yang terjadi
pada pipa akan diteruskan ke
sensing diagram melalui oil fill.
• Sensing diagram merupakan
sebuah pegas yang perubahan
posisinya sebanding dengan
perubahan tekanan yang terjadi.
• Terjadinya perubahan jarak antara
pegas dan plat kapasitor akan
menimbulkan perubahan
kapasitansi yang akan dirubah ke
dalam sinyal 4-20 mA
Ter minologi pengukur an tekanan

1. Absolute Pressure (tekanan absolut) : tekanan ini dinyatakan dan


diukur ter hadap tekanan NOL .
2. Gauge Pressure (tekanan r elatif) : Tekanan yang dinyatakan dan
diukur r elatif ter hadap tekanan atmosfer .
3. Vacum Pressure (tekanan hampa) : Tekanan yang lebih r endah dar i
tekanan atmosfer , diukur r elatif terhadap atmosfer .
4. Differential Pressure (tekanan differ ential) : Tekanan yang diukur
ter hadap tekanan yang lain.
K onver s i s atuan

Kgf/cm2
MPa
bar
kpa
mbar
psi
mmH2O
mmHg
atm
HAR T & SMAR T Tr ans mitter

• SMART Transmitter, dilengkapi HART communication dengan fungsi:


• Device Configuration or re- configuration
• Device Diagnostics
• Device Troubleshooting
• Pembacaan nilai pengukuran lain yang disediakan oleh instrument
• Device Health and Status

Instalasi : HART communicator :


mis Rosemont 375/475
HAR T communication

• HART (Highway Addressable Remote Transducer Protocol):


Pengembangan standar 4- 20 mA dengan menambahkan komunikasi digital 2 arah
dengan smart field devices.
• Komunikasi digital merupakan modulasi 4-20 mA dengan sinyal digital
menggunakan metode frequency shift keying (FSK), dimana (“1” = 1200 Hz dan “0”
= 2200 Hz)
F L OW
TR ANSMITTE R
J enis pengukur an flow

• Turbin flowmeter
• Ultrasonic flowmeter
• DP flowmeter
Tur bine F lowmeter

• Turbine meter adalah alat ukur laju aliran dengan menggunakan baling-
baling /blade.
• Blade tersebut akan berputar apabila terkena laju aliran. Putaran blade
tersebut akan sebanding dengan kecepatan aliran yang mengalir melalui
blade tersebut
• Frekuensi putaran blade akan dideteksi oleh proximity sensor

Proximity sensor
Tur bine F lowmeter

 Dapat diaplikasikan pada high flow rate ataupun


very low flow rate.
 Pembacaan yang sangat akurat.
 Range temperatur dan pressurenya lebar.
 Responnya cepat.

 Tidak bisa dipakai pada fluida yang kotor.


 Harganya relatif mahal.
 Memerlukan penangan dan perawatan khusus,
terutama setelah perbaikan bearing.
 Memerlukan saringan (strainer) pada sisi masukan.
DP F low Meter

Pr insip ker ja:


• Dengan menempatkan suatu penghalang pada pipa secara tegak
lurus dimana fluida dialirkan sehingga terjadi perbedaan tekanan
antara upstream dan downstream.
• Berdasarkan hukum Bernoulli

FLOW FLOW

High side Low side

Penghalang
DP F low Meter

• Persamaan bernoulli

persamaan (1)

persamaan (2)

Dimana:
v : mean steam velocity (m/s)
p : tekanan absolut (Pa absolut)
p : density fluida (kg/m 2)
F : luas area aliran (m 2)
DP F low Meter
• Persamaan bernoulli
Dari persamaan (1) dan (2):

Secara sederhana dapat ditulis:

Dimana:
Q : Volume rate
K : Konstanta fluida yg mengalir
DP F low Meter : Or ifice plate

• Suatu plate berlubang dimasukkan


ke dalam pipa dan ditempatkan
secara tegak lurus terhadap flow
stream.
• Ketika fluida mengalir melewati
orifice plate tersebut maka
menyebabkan peningkatan
kecepatan dan penurunan
tekanan.
DP F low Meter : Or ifice plate
DP F low Meter : Or ifice plate
DP F lowmeter : F low nozzle

Nozzle

Up stream Down stream

Berbentuk lonceng dengan pr ofile ellips diikuti dengan leher silindris dan
diletakkan di dalam pipa untuk mer ubah bidang aliran sehingga
menghasilkan penur unan tekanan (pressure drop)
DP F lowmeter : F low nozzle

Peralatan cocok untuk alir an dengan kecepatan tinggi bila dibandingkan dengan
orifice plat, dapat digunakan untuk fluida yang mengandung par tikel solid.
DP F low Meter : Ventur i tube

Tabung ventur y ter dir i dar i 2 buah kerucut ber ongga yang terpotong bagian
atasnya. B agian yang berdiameter terkecil dari kedua kerucut ini dihubungkan
sesamanya dengan sebuah pipa pendek. B agian yang terkecil itu disebut juga
"throat section".
DP F low Meter : Ventur i tube

Up stream

Down stream
DP F low Meter
• Tabel Perbandingan

No Or ifice plate Venturi Tube Flow Nozzle


1 Harganya relatif murah Desain dapat disesuaikan Harganya relatif murah
2 Mudah diganti dengan Baik untuk fluida yang Cocok untuk fluida
desain mengandung endapan dengan kecepatan tinggi
3 Akurasi dpt bertahan lama

No Or ifice plate Venturi Tube Flow Nozzle


1 Drop tekanan tinggi Biaya awal tinggi Drop pressure tinggi
2 Rawan rusak terkena Tidak mudah dipasang
benda asing karena bentuk yang panjang
3 Tidak terlalu akurat Tidak dapat di desain ulang
J enis F low Meter L ainnya

• Coriolis
• Ultrasonic
• Fortex
• Turbin
• Magnetik
Cor iolis
L E VE L
TR ANSMITTE R
J enis Pengukur an level

• Displacement
• DP level
• Ultrasonic
• Capasitance
• Radar
• Guided Wave Radar (GWR)
DP L evel Tr ans mitter

• Jenis DP level Tx
DP L evel Tr ans mitter

• Pengukuran level jenis


differential pressure (DP)
didasarkan pada prinsip
“hydrostatic head”.
• Menggunakan DP transmitter
dengan range D/P untuk level
adalah sekitar (10 ~ 150) inches
H20.

P = ρgH
DP L evel : Tangki Ter buka

• With zero supression


DP L evel : Tangki Ter tutup, dengan dr y leg
DP L evel : Tangki Ter tutup, dengan wet leg
DP L evel : Steam dr um

• Ph = Static Pressure pada high side


transmitter (Pa)
PL = Static Pressure pada low side
transmitter (Pa)
Ps = Static Pressure drum pada
bagian atas high tapping point (Pa)
H1 = Jarak vertical high dengan
low tapping point (m)
H2 = Jarak vertical antar low
tapping point dengan transmitter (m)
h = Drum water level (m)
γ water = Berat jenis air (N/m3)
γ steam = Berat jenis uap (N/m3)
γ leg = Berat jenis air pada wet leg
reference (N/m3)
DP L evel Tr ans mitter
Capas itance level

• Memanfaatkan prinsip
perubahan capasitance
antara sensor dan
dinding tangki Capasitance
sensor

Timbul
kapasitansi
antara dinding
tangki dengan
elektroda

Tangki metal

Elektroda
fluida
R adar L evel

• Radar Level transmitter bekerja dengan


memancarkan suatu gelombang mikro
(microwave) ke arah fluida yang akan di
ukur
• Gelombang mikro tersebut
dipancarkan oleh suatu transmitter
(pemancar) dan diterima oleh
penerima (receiver).
• Jarak waktu antara gelombang
dipancarkan hingga diterima kembali
oleh penerima akan merepresentasikan
jarak antara pemancar dengan fluida
(object)
Ultr as onic L evel Tr ans mitter
• Pada prinsipnya sistem radar dan
sistem ultrasonic adalah sama,
yakni dengan cara memancarkan
suatu gelombang ke arah fluida
yang akan di ukur dengan
transmitter dan receiver
• Perbedaannya terletak pada
frekuensi gelombang yang
digunakan.
• Frekuensi yang biasa digunakan
sistem radar adalah kisaran 36-40
Khz
Daya pancar paling jauh untuk gelombang radar
dan ultrasonic adalah berada di 0o di arah depan
pemancar (dengan lebar pancaran 20o). Sehingga
pemasangan sensor radar dan ultrasonic haruslah
tegak lurus agar pengukuran lebih akurat.
 Tidak ada part yang bergerak (No moving parts),
membutuhkan sedikit maintenance,non contact
 Mudah dipasang dan dikalibrasi
 Akurasi baik bilamana aplikasi sesuai.
 Dapat diaplikasikan pada pengukuran level material.

 Tidak dapat beroperasi pada vakum dan tekanan tinggi.


 Range Temperature dan Pressure terbatas.
 Harga relative tinggi.
 Posisi sangat sensitive dibanding teknologi lain.
K AL IB R ASI
Definis i K alibr as i ?

• Apa yang disebut kalibrasi?


• Apa tujuan dilakukan kalibrasi
• Kapan dilakukan kalibrasi instrument?
Definis i K alibr as i

• Apa yang disebut kalibrasi?


• Apa tujuan dilakukan kalibrasi
• Kapan dilakukan kalibrasi instrument?
K apan diper lukan kalibr as i

1. Perangkat baru
2. Suatu perangkat setiap waktu tertentu
3. Suatu perangkat setiap waktu penggunaan tertentu (J am operasi)
4. K etika suatu perangkat mengalami tumbukan atau getaran yang
berpotensi mengubah kalibrasinya
5. K etika hasil operasi dipertanyakan
Ter minologi pengukur an

• Tr ansmitter :
Sebuah perangkat yang menerjemahkan sinyal yang dihasilkan oleh
Primary sensing element (PSE) menjadi sebuah standar sinyal
instrumentasi seperti 3-15 PSI tekanan udara, 4-20 mA DC, paket sinyal
digital (HART/Fieldbus) dll, yang kemudian disampaikan ke perangkat
indicator, controller, atau keduanya.
• Lower Range Value (LRV) dan Upper Range Value (URV), masing-masing
adalah nilai-nilai proses pengukuran dianggap 0% dan 100% dari range
kalibrasi transmitter.
Contoh, jika sebuah temperature transmitter dikalibrasi untuk mengukur
suhu mulai 300 degC hingga 500 derajat Celcius, maka LRV = 300 derajat
dan URV = 500 derajat.
• Range : batas ukur atau daerah ukur dari Min pengukuran sampai Max
pengukuran
• Zero: deskripsi alternatif untuk LRV atau 0%
• Span : selisih URV dengan URV dari range kalibrasi instrumen
Definis i K alibr as i

• Akur asi : Adalah kedekatan harga pengukuran suatu alat ukur


dengan harga sebenarnya “ true value “.
B iasa dinyatakan dalam persentase (%) terhadap span (FS),
variabel proses, atau persentase output

• Error = penunjukan actual – standar X 100%


Range

• Hyster esis : perbedaan respon atau output alat ukur ketika


diberikan input dengan arah naik dengan arah turun
Contoh s oal

1. Suatu alat ukur pressure transmitter mempunyai range 100 s/d


400 PSI, Mempunyai akurasi 0,5 % of span. J ika hasil
pembacaan transmitter 200 PSI , maka berapa tekanan yang
sebenarnya ?

J AWAB :

Setiap sinyal yang keluar dari transmitter dapat


menyimpang sampai 0,5/100 x 300 PSI = 1,5 PSI

J ika hasil pembacaan transmiiter 200 PSI , maka


tekanan yang sebenarnya : antara 198,5 s/d 201,5 PSI
Contoh s oal

2. Sebuah sensor temperatur dengan skala 0 – 100 F mempunyai


akurasi 1 F. B ila termometer tersebut menunjukkan suhu 60 F ,
Maka berapa suhu yang sebenarnya?

J AWAB :

Suhu sebenarnya adalah : 59 F s/d 61 F


Contoh s oal

3. Sebuah transmitter mempunyai akurasi 0,5% output. J ika R ange


transmitter adalah 0 s/d 100 inch, pada saat transmitter
memberikan indikasi 40 inch, berapa level yang sebenarnya ?

J AWAB :

Penyimpangan output : 0,5/ 100 x 40 = 0,2


J adi level sebenarnya : 39,8 s/d 40,2 inch
K alibr as i

• Adjustment analog tr ansmitter:


K alibr as i

• Adjustment SMART Tr ansmitter:


K alibr as i

• Er ror pada SMART Tr ansmitter (1):

Harus dilihat apakah error terdapat pada rangkaian ADC atau DAC
Misalnya :
K alibr as i

• Er ror pada SMART Tr ansmitter (2):

• Error pada bagian


sensor (input)
pressure
transmitter
• Correct calibration :
sensor tr im
K alibr as i

• Er ror pada SMART Tr ansmitter (3):

• Error pada bagian


DAC (output)
pressure
transmitter
• Correct calibration:
output tr im
K alibr as i

Contoh pengambilan data kalibrasi

Error (%) = 100 x (measured – ideal)/16


K alibr as i

• Jenis er r or dalam kalibrasi :


Zero shift error Span shift error
K alibr as i

• Jenis er r or dalam kalibrasi :


Linearity error Hysteresis error
Tur n down r atio

• Menyatakan ratio antara maximum span yang diijinkan dengan


minimum span yang diijinkan untuk instrument tertentu
• Sering juga disebut sebagai “r angeability”

• Misal :
PT mempunyai range kalibrasi maximum 0- 300 PSI, dan
turndown ratio 20:1
Maka span PT tersebut bisa diadjust pada nilai antara 300 PSI
(range = 0 sampai 300 PSI) dan 15 PSI (range = 0 sampai 15 PSI)
Contoh s oal

• Operator meminta teknisi I&C melakukan penggantian pressure


transmitter dengan range 50 PSI sampai 90 PSI. Di gudang
terdapat stok pressure transmitter dengan maximum range 0 –
1000 PSI, dan turn down ratio 20:1. Bisakah PT tersebut
digunakan?

• Bagaimana bila PT yang ada di gudang tersebut digunakan untuk


range 40 PSI – 90 PSI?
Tool kalibr as i

1. Differ ential Pressure 7. Power Supply 24 VDC


Tr ansmitter
2. Hand Pump / Dead Weight 8. R esistance 250 Ω
dan PI Standard

3. AVO meter 9. Cable connector


4. 475 HAR T Communicator 10. Nepple/Connector

5. Tool set lengkap 11. Contact Cleaner


6. For m kalibr asi pressure
tr ansmitter
R angkaian kalibr as i tr ans mitter
R angkaian kalibr as i tr ans mitter

• DP Transmitter
Power Supply 24 VDC

+ +
Differential Pressure
Transmitter - -
0 ~ 10 kg/cm2

Multimeter
Pressure Gauge Hi Low
With mA
Standar
Selected

- +

Hand Pump/
Dead Weight
Pr os edur (1)

• Lakukan pengambilan data pengukuran instrument sebelum


dilakukan adjustment.
a. Berikan input pressure menggunakan handpump/
deadweight sebesar 0% (minimum range).
b. Catat output arus miliampere dari transmitter dengan
menggunakan AVO meter
c. Ulangi langkah (a) dan (b) dengan menaikkan input pressure
sebesar 25%, 50%, 75% dan kemudian 100% dari range
pressure. Catat masing-masing output arusnya.
d. Lakukan pengambilan data dengan arah inputan pressure
menurun sebesar 75%, 50%, 25% dan kemudian 0% range
pressure.
Pr os edur (2)

• Bila output transmitter tidak sesuai (atau diluar toleransi error


yang diperbolehkan) dibandingkan dengan standar output, maka
lakukan adjusment pada zero dan span transmitter tersebut
dengan menggunakan obeng minus.
• Lakukan pengambilan data setelah dilakukan adjustment seperti
langkah no 1 di atas.
• Catat hasil akhir dari kalibrasi transmitter tersebut kemudian
masukan pada form kalibrasi data before dan after kalibrasi
• Perhitungan error
Tr oubles hooting
TR OUB L E SHOOTING
Temper atur e
Temper atur s ens or - R TD

Temperatur r esistansi detector ( RTD )


• Berdasarkan prinsip perubahan temperature akan mengakibatkan
perubahan nilai tahanan listrik (resistansi).
• Besarnya harga tahanan terhadap perubahan temperature adalah :

R t = R o ( 1 + αt )
Dimana :
R t = R esistansi pada temper atur e t ⁰c
R o = R esistansi pada temper atu 0 ⁰c
α = koefisien R esistansi ter hadap
per ubahan temper atur e
Mater ial R TD

• Common materials for RTD


• Platinum
• Nickel
• Copper
• Balco (rare)
• Tungsten (rare)
K ons tr uks i R TD
K ons tr uks i R TD
Temper atur s ens or - R TD

Konfigurasi wiring RTD

Two-Wire Configuration
Three-Wire Configuration

Four-Wire Configuration
Temper atur s ens or - Ther mocouple

Termocouple ter dir i dar i dua logam berlainan jenis, salah satu ujung
dari kedua logam tersebut digabungkan dan diber i sumber panas
sehingga pada ujung yang lain akan timbul tegangan listr ik ber upa mili
volt.
Ther mocouple
Type Ther mocouple
Type ther mocouple
• Tipe K
o chr omel {90% nickel and 10% chromium} – alumel {95%
nickel, 2% manganese, 2% aluminium and 1% silicon}
o Sensitifitas: 41 µV/°C
o R ange: −200 °C to +1350 °C
• Tipe E
– chr omel – constantan
– Sensitifitas: 68 µV/°C
– R ange: −50 °C to +740 °C
• Tipe J
– iron – constantan
– Sensitifitas: 50 µV/°C
– R ange: −40 °C to +750 °C
Color Code for Ther mocouple
R TD vs Ther mocouple
Temp tr ans mitter

• Mengkonversi RTD input


(misalPT100) atau
thermocouple menjadi sinyal
standar instrument 4-20 mA
Aks es or ies : Ther mowell

• Merupakan fitting berbentuk


tabung berfungsi melindungi
sensor temperatur yang
terpadang pada proses
industri
• Bila sensor mengalami
kerusakan, dapat dengan
mudah dilakukan
penggantian tanpa
melakukan drain pada tangki
atau pipa
K alibr as i Temper atur e Sens or
1. Nyalakan temperature calibrator
meter, posisikan setting pada
thermocouple.
2. Naikan temperature step by step,
biarkan temperature steady dulu
kemudian dinaikkan lagi
3. Catat hasil perubahan suhu pada
temperature meter
4. Catat kembali hasil perubahan suhu
tersebut
5. B andingkan nilai antara temperature
meter dengan calibrator, bila
hasilnya mendekati atau hampir
sama maka thermocouple tersebut
dinyatakan masih bagus, bila
hasilnya melenceng jauh maka
thermocouple tersebut harus
diganti, karena thermocouple tidak
bisa dikalibrasi.
Tr ouble Shooting

Per masalahan Penyebab Penyelesaian masalah


Penunjukan OL pada Sensor thermocouple Ganti thermocouple
temperature meter putus baru
Pemasangan kabel Perbaiki pemasangan
konektor kurang pas kabel koneksi
Penunjukan Temperature Polaritas terbalik antara Perbaiki posisi polaritas
meter semakin turun bila positif dan negatif
dipanasi
Penunjukan Temperature Terjadi short pada sensor Ganti thermocouple
meter tidak mau naik baru
saat dipanasi Terjadi short pada Perbaiki pemasangan
konektor kabel kabel koneksi
INSTR UME NT
SWITCH
Penger tian Switch

• Switch adalah peralatan yang memiliki 2 kondisi output , yaitu ON


dan OFF, atau open dan close
• Pada instrument switch terdapat 2 bagian yaitu
(a) Penggerak/sensor, dan
(b) switch
L imit Switch

• Gambar

Limit switch
Pr es s ur e Switch

• Gambar

Pressure switch
DP Switch

• Gambar
L evel Switch
F low s witch
Temper atur s witch
K alibr as i
1. Hubungkan output hand pump ke input PS
sesuai dengan spesifikasi.
2. Hubungkan juga output hand pump ke
pressure gauge standar sebagai acuan.
3. Hubungkan output hand pump ke input
pressure indicator.
4. B erikan besaran input sesuai range
pressure switch tersebut. Ambil data pada
saat kondisi switch ON dan OFF.
5. Catat hasilnya di lembar kalibrasi pada
kolom B E FOR E UP
6. B andingkan nilai tersebut dengan nilai
standar dan hitung errornya.

R umus :
Error = penunjukan actual – standar X 100%
Range

Bila diperlukan lakukan adjustment


K alibr as i
Adjustment
1. Untuk adjustment, kencangkan (putar
ke kir i) Set Point Adjsting Nut untuk
menambah, putar ke kanan untuk
mengur angi, ditunjukkan pada gambar
1.
2. B er ikan tekanan secar a ber tahap,
amati tekanan pada posisi ON/OFF.
3. J ika belum sesuai dengan standar set
point, ulangi langkah 1 & 2.
4. B ila telah sesuai, catat hasilnya di
lembar kalibrasi pada kolom AFTE R
(UP).
5. B ila ada kelainan, ber ikan catatan pada
lembar kalibrasi
Tr oubles hooting
Final Contr ol
E lement
Contr ol Valve
Definisi

• Control valve merupakan peralatan yang digunakan mengubah


flowrate fluida pada suatu sistem control proses.
• Laju aliran dikontrol dengan memberikan variasi hambatan/
resistansi pada aliran, sehingga pada control valve akan timbul
pressure drop antara sisi upstream dan downstremnya.

• Control valve terdiri dari :


Body valve : untuk mengatur aliran
Actuator :sebagai penggerak.
Jenis Val ve

• Globe Valve

Globe valve terdiri dari bagian


movable disc yang berbentuk
globe dan seat ring statis
Jenis Val ve

• Gate Valve

• Gate valve menggunakan tipe sliding


disc parallel tegak lurus dengan arah
aliran, yang digerakkan oleh stem
secara linier
• Karakteristik valve ini dapat menutup
dengan rapat (tight shutoff) dan tidak
digunakan untuk throttling
Jenis Val ve

• Ball valve

 Ball valve terdiri dari stem valve untuk


memutar sebuah bola yang terdapat
lubang pembukaan di dalamnya.
 Mempunyai karakteristik valve quick
opening dan tight shutoff .
 Pada saat full open, hambatan flow
yang kecil (pressure drop kecil), serta
kapasitasnya relatif besar.
Jenis Val ve

• Butterfly valve

• Valve ini terdiri dari rotating disc


yang dipasang pada shaft dan
bearing yang digunakan untuk
memutar disc tersebut.
• Mempunyai karakteristik flow
relative besar dengan pressure
drop relative kecil.
• Butterfly valve dapat digunakan
untuk aplikasi throttling dengan
range terbatas dan tidak bisa
digunakan untuk aplikasi tight shut
off .
Jenis Aktuator

• Pneumatic
• Diaphragm, single acting cylinder, double acting cylinder
• Rack and pinnion
• Scotch-yoke
• Electric
• Motor operating valve
• Hydraulic
Jenis Aktuator

• Rack and pinnion

• Scotch-yoke

Yoke
piston
Pneumatic Actuator

Jenis berdasarkan failsafe :


Direct Action/ Air to Close/ Fail to Open
o Udar a digunakan untuk mengger akkan aktuator valve ke ar ah
close, ger akan ke arah open menggunakan spr ing
o K etika ter jadi kehilangan udara supply, valve akan open
Reverse Action/ air to open/ Fail to Close
o Udar a digunakan untuk mengger akkan aktuator valve ke ar ah
open , ger akan ke arah close menggunakan spring
o K etika ter jadi kehilangan udara supply, valve akan close
Fail Lock (FL)
K etika ter jadi kehilangan udara supply, valve ber henti pada posisi
ter akhir
Dir ect Acting vs R ever s e Acting

Direct Acting R everse Acting


Pos itioner

• Pada control valve jenis modulating, maka diperlukan bagian


yang berfungsi untuk mengatur posisi valve (controller posisi),
yang disebut positioner.
• Positioner akan memposisikan stem aktuator sesuai perintah
dari controller, dengan feedback posisi dari stem.

• Fungsi standart dari positioner antara lain


o Mengubah mode action valve (direct /reverse),
o Mengubah panjang stroke,
o Mengubah input sinyal control (split range),
o Menambah tekanan pada actuator,
o Mengubah karakteristik flow dari control valve
J enis pos itioner

• Berdasarkan jumlah outputnya


• Single Acting
Positioner yang hanya mempunyai sebuah output tunggal.

• Double Acting
Positioner yang mempunyai dua output, yakni sebuah
output "direct" action dan yang lainnya "reverse" action
J enis pos itioner

• Berdasarkan karakteristik dari input dan outputnya

a. Pneumatic/pneumatic : untuk actuator type pneumatic ,


inputan sinyal pneumatic (3-15 psig / 0.2-1.0 bar)
b. Electric/pneumatic: untuk actuator type pneumatic , inputan
sinyal elektik(4-20 mA)
c. Electric/hydraulic : positioner untuk actuator hydraulic
dengan input sinyal elektrik
d. Electric/electric : positioner untuk actuator electric
/motorized dengan input sinyal elektrik
Pos itioner
1

Signal from 2
controller
4- 20 mA

Air supply
Pneumatic Pos itioner
E lectr ic pos itioner
BAGIAN-BAGIAN CONTROL VALVE

Actuator

Valve Body assembly


Valve body as s embly
• bagian2
Actuator
• Diapragm actuator
CV F low char acter is tic
Contr ol Valve Acces s or ies
• Air filter regulator (AFR)

• Kebutuhan tekanan untuk peralatan control


valve, cilynder, atau I/P converter berbeda.

• Air Filter : menghilangkan minyak, moisture dan


kotoran dari udara instrument untuk
mengamankan peralatan pneumatic

• Regulator : digunakan untuk mengatur dan


menstabilkan supply udara instrument pada
peralatan pneumatic sesuai tekanan yang
dibutuhkannya.
Contr ol Valve Acces s or ies
• Air filter regulator (AFR)
Contr ol Valve Acces s or ies
• Booster relay

• Sebagai power amplifier yang


memperkuat input sinyal pneumatic
• menghasilkan keluaran udara dengan
volume aliran yang tinggi dan/atau
pressure tinggi untuk diberikan pada
actuator
• Mengurangi lag time dan mempercepat
respon
Contr ol Valve Acces s or ies
• Booster relay
Contr ol Valve Acces s or ies

• Air Lock up Relay

• Cara kerja : menutup/mem-block


tekanan udara dalam control valve ketika
tekanan udara supply drop dibawah
setting cut-off yang diinginkan ataupun
terjadi kegagalan pada supply udara.
• Sehingga hal ini menyebabkan
pneumatic actuator tetap berada pada
posisi terakhirnya ketika terjadi fail
Contr ol Valve Acces s or ies

• Air Lock up Relay


Contr ol Valve Acces s or ies

• Aplikasi air lock

Ket gambar : (1) valve (2) positioner (3) air lock (4) solenoide
Pemelihar aan Contr ol Valve

Secara umum, pemeliharaan yang sering dilakukan:


• Disassembly dan disassembly Control Valve
• Inspeksi komponen internal valve
• Penggantian packing set
• Penggantian membran pneumatic actuator
• Setting dan K alibrasi
Pemelihar aan Contr ol Valve

• Disassembly Control Valve


1. Persiapan :
• Tutup blok valve inlet dan outlet.
• Tutup udara supply dan Lepaskan semua tubing udara
instrument
• Lepas aksesoris instrument pada control valve (regulator,
boster relay, lock up, solenoid, atau limit switch)
2. Pastikan posisi control valve kondisi close, bila belum close
lakukan penutupan dengan handwheel atau berikan tekanan
udara pada aktuator jenis direct acting (air to close)
3. Lepas positioner
4. Pelepasan kopling stem aktuator dengan stem valve:lepas mur
(17). Gunakan kunci pas untuk menahan permukaan datar pada
stem dan putar stem valve (26) keluar dari stem aktuator hingga
kedua stem terpisah.
5. Lepaskan yoke dari bonnet: lepaskan mur penahan aktuator pada
bonnet dan angkat aktuator.
Pemelihar aan Contr ol Valve

• Pembongkaran body valve assembly


Pemelihar aan Contr ol Valve

• Pengecekan komponen internal valve


Pemelihar aan Contr ol Valve

• Penggantian packing set


o Penggantian packing stem valve diperlukan bila control valve telah
beroperasi dalam jangka waktu tertentu dan ada tanda-tanda
keausan.
o Tanda-tanda aus diindikasikan bila terjadi kebocoran (leak out) pada
valve dan sudah tidak dapat diperbaiki dengan pengencangan minor
pada flange packing.
o Sebagai catatan, bila packing merupakan jenis graphite, untuk
mengatasi minor leak packing yang terpasang dapat ditambahkan
packing baru tanpa membongkar control valve
Pemelihar aan Contr ol Valve

• Penggantian packing set


Pemelihar aan Contr ol Valve

• Penggantian membran pada pneumatic actuator


1. Lepaskan konektor udara instrument
2. Untuk diperhatikan bahwa masih terdapat gaya tekan pada spring
aktuator
3. Pastikan terdapat minimal 2 buah baut dan mur yang berukuran
panjang (item 14,15), bila belum ada lepaskan 2 bauh baut(item
14,15) dengan posisi bersebrangan dan ganti dengan baut berukuran
panjang
4. Lepaskan semua baut dan mur casing bagian atas actuator (item
14,15) kecuali yang berukuran panjang
5. Lepaskan mur dan baut (item 14,15) yang berukuran panjang secara
perlahan
6. Lepaskan upper casing aktuator.
7. Lepaskan stem aktuator, stem guidedanplat spring guide
8. Ganti membran aktuator dan re-assembly semua part dengan
urutan sebaliknya
Pemelihar aan Contr ol Valve

• Penggantian membr an pada pneumatic actuator


Pemelihar aan Contr ol Valve

• Reassembly Valve Body & Actuator


K alibr as i Contr ol Valve
Per s iapan

a. Pastikan proses yang berhubungan dengan control valve dalam


kondisi offline, atau perubahan pembukaan control valve
selama proses kalibrasi tidak mengganggu proses pada plant.
b. Pastikan isolation inlet dan outlet control valve pada posisi
CL OSE
c. B uka supply udara instrument yang terhubung ke Control Valve
d. Pastikan setting regulator udara instrument sesuai dan tidak
melebihi spesifikasi Control Valve karena bisa mengakibatkan
kerusakan pada stem, shaft atau trim.
Pos itioner konvensional
(input el ektr ik 4-20 mA, non-SMART)

1. Berikan besaran input Control valve 4 mA (zero = 0 %) dan catat


pergerakan stem Control valve pada posisi full close (zero). Bila
posisi tidak full close (zero) lakukan adjust sampai dicapai posisi
full close (zero)
2. Berikan besaran in-put Control valve 20 mA (zero = 100 %) dan
catat pergerakan stem Control valve pada posisi full open
(span). Bila posisi tidak full open (span) lakukan adjust sampai
dicapai posisi full open (span)
3. Ulangi langka 1 dan 2 sampai mendapatkan hasil yang akurat.
4. Catat data kalibrasi dengan memberikan in-put 4 mA, 8 mA, 12
mA, 16 mA, dan 20 mA (0 %, 25 %, 50 %, 75 %, dan 100 %) range
kerja
5. Catat hasil kalibrasi yang meliputi output dan error, maksimal
error yang diijinkan = 2 %
K alibr as i Pos itioner type SMART

Secara garis besar :


• Ubah mode positioner menjadi MANUAL
• Periksa dan lakukan adjustment pada item konfigurasi
• Masuk pada CALIBRATION mode
• Jalankan fitur FIND STOP untuk mengkalibrasi stroke valve dan
feedback zero-span secara otomatis
• Jalankan fungsi Auto Tune untuk mendapatkan respon dinamic
sesuai yang diinginkan
• Berikan perubahan setpoint pada mode manual untuk mengetahui
respon valve
• Kembalikan mode valve menjadi AUTOMATIC agar valve bisa
diperintah dari CCR
TROUBLE SHOOTING
No Permasa Penyebab Identifikasi dan Solusi
lahan
1 Valve Kebocoran membran actuator - Cek kebocoran udara pada lubang
tidak venting (biasanya actuator
dapat dilengkapi dengan lubang untuk
bergerak pengecekan kebocoran actuator)
- Lakukan penggantian membran
actuator
Masalah pada positioner atau - Lakukan kalibrasi ulang control valve
aksesoris CV: - Bila diperlukan lakukan penggantian
- Linkage berubah posisi part yang rusak
- Kerusakan pada relay valve
- Kerusakan booster relay
No Permasa Penyebab Identifikasi dan Solusi
lahan
1 Valve Kerusakan regulator - Amati pressure gauge udara supply pada
tidak regulator serta pada control valve
dapat - Cek kebocoran pada membran regulator
bergerak - Bila tidak normal, lakukan setting ulang
udara supply pada regulator atau
lakukan penggantian pada regulator
Tidak ada sinyal perintah atau Cek positioner dan sinyal DCS , lakukan
sinyal perintah ke aktuator salah perbaikan
Kebocoran udara melalui tubing Cek sistem piping dan lakukan perbaikan
atau konektor
Adjustment stem aktuator tidak Lakukan adjustment ulang
benar
Material asing atau kotoran Disassembly valve, lakukan pembersihan
menghambat gerakan actuator dan poles stem
No Permasalahan Penyebab Identifikasi dan Solusi
2 Kebocoran Kerusakan atau aus pada Lakukan penggantian packing
sekitar stem packing
valve Kerusakan parah pada valve Ganti valve stem
stem
3 Valve leak Erosi atau kerusakan lain Ganti atau repair sesuai kebutuhan
through melebihi pada valve seat
toleransi Pressure drop pada valve Cek spring preload aktuator dan
terlalu besar kesesuaian aktuator
Kotoran atau material asing Hilangkan kotoran, poles plug bila
yang mengganjal plug valve diperlukan
4 Valve tidak dapat Terjadi kerusakan pada • Lakukan sedikit adjustment pada
bergerak karena internal valve kekencangan gland packing saat
mekanis berat online
• Lakukan pembongkaran pada body
valve pada saat offline
• Lakukan inspeksi bagian yang
mengalami kerusakan/keausan
• Ganti/rapair bila perlu
SOL E NOID VAL VE
Jenis Solenoid Valve

• Direct Acting

• Umumnya digunakan pada


aplikasi kecil / compact pada
tekanan rendal, medium atau
tinggi, tetapi flownya kecil untuk
air, udara bertekanan atau
minyak.
• Maximum perbedaan tekanan
pada valve dibatasi oleh kekuatan
gaya magnet dari coil yang
digunakan dan diameter seat
Jenis Solenoid Valve

• Direct Acting

Bagian-bagian direct
operated solenoid valve
(1) Solenoid coil
(2) solenoid base (shaft)
(3) core
(4) spring
(5) disc seal
(6) valve body
Jenis Solenoid Valve

• Diaphragm Pilot operated solenoid valve

• Membutuhkan minimum
differensial pressure antara 0.1
~1 bar, tergantung dimensinya.
• Coil dengan ukuran sama dapat
digunakan pada valve dengan
dimensi yang berbeda karena
diameter pilot ukurannya sama
untuk valve dengan dimensi yang
berbeda
• Arah aliran ditentukan dan tidak
dapat dibalik.
Jenis Solenoid Valve

• Diaphragm Pilot operated solenoid valve

Bagian-bagian :
(1) Solenoid coil
(2) solenoid base (shaft)
(3) core
(4) spring
(5) disc seal
(6) valve body
(7) diaphragm atau piston
(8) spring
(9) bleed (pilot) orifice
(10) valve bonnet
Jenis Solenoid Valve

• Diaphragm solenoidvalve with force lifting

• Perpaduan antara direct acting


solenoid valve dengan pilot
operated, dimana diaphragm
terhubung secara mekanis pada
plunger.
• Solenoid valve tetap
memanfaatkan energy fluida
untuk membuka dan menutup
aliran, dan tetap dapat
beroperasi ketika tidak ada
perbedaan tekanan antara inlet
dan outlet
Sliding spool solenoid valve

• Directly controlled

Jenis ini biasanya digunakan


untuk mengendalikan aliran
secara shuf off pada flow
rendah dan pressure kecil.
Sliding spool solenoid valve

• Directly controlled
Sliding spool solenoid valve

• indirectly controlled

Menggunakan auxiliary valve


/pilot untuk menggerakkan
slider dengan memanfaatkan
tekanan dari media
Sliding spool solenoid valve

• indirectly controlled
Solenoid Valve

• Berdasarkan fungsinya:
• 2/2 way ( 2 port 2 position)
• Normally close
• Normally open
• 3/2 way (3 port 2 position)
• Normally close
• Normally open
• 5/2 way (5 port 2 position)
• 5/3 way (5 port 3 position)
Car a membaca s imbol s olenoid
Contoh aplikas i
Pemelihar aan Solenoid Valve

Secara umum langkah- langkah pemeliharaan solenoid valve antara


lain:
1. L epaskan power solenoid dan lakukan isolasi pada proses
2. L akukan pembongkaran pada bagian internal solenoid. B ila disain
dan konstruksi solenoid cukup kompleks yang terdiri dari
diaphragm, piston, spool atau lever, maka perlu diperhatikan dan
ikuti instruksi manualnya.
3. L akukan inspeksi dan pengujian pada masing- masing komponen
terhadap adanya kerusakan, antara lain:
• Periksa dan ukur resistansi coil untuk mematikan nilainya
masih dalam range standar dengan deviasi maksimal 5%.
Periksa koneksinya dari kerusakan/korosi.
• Periksa semua seal dan pastikan tidak sobek, retak atau
berubah bentuk
• Periksa spring dari keausan
Pemelihar aan Solenoid Valve (2)

• Periksa body orifice, pastikan tidak mengalami keausan,


sobek, atau buntu.
• Periksa diaphragm, pastikan tidak sobek dan rusak.
4. Lakukan penggantian bagian yang mengalami kerusakan dan
bersihkan valve dari semua kotoran. Pada jenis solenoid tertentu,
pabrikan menyediakan replacement part kit seperti O-ring, spring,
plunger, diaphragm atau piston.
5. Lakukan assembly bagian-bagian solenoid. Perhatikan manual
instruction.
6. Pasang kembali solenoid pada sistem, dan lakukan tes fungsi
solenoid untuk memastikan solenoid bekerja dengan baik.
Tr ouble s hooting

Permasalahan : solenoid tidak berfungsi


Penyebab Identifikasi dan Solusi
Tidak ada tegangan - Ukur tegangan pada terminal coil pada kondisi
pada coil ketika seharusnya energized
- Bila tidak ada tegangan maka cari permasalahan
apakah dari kabel putus, power supply trip atau
permasalahan sinyal interlock dari DCS

Coil solenoid rusak - Ukur tegangan pada terminal coil


- Lepas tubing udara instrument pada sisi outlet,
cek apakah terdapat pressure udara
- Lepas terminal solenoid dan ukur resistansinya
untuk memastikan solenoid terbakar atau tidak
Penyebab Identifikasi dan Solusi
Solenoid tipe pilot - Ukur tegangan pada terminal coil
operated tidak - Ukur resistansi coil
berfungsi - Bongkar membran dan bersihkan dari
sumbatan/kotoran
- Ganti kerusakan part
Spool valve macet pada - Cek kebocoran pada solenoid
tipe solenoid siding - Lakukan pembongkaran pada solenoid
spool - Lakukan repair dengan sedikit pengamplasan
atau gosok dengan “r ubbing paste” pada bagian
yang diper kir akan menyebabkan spool tidak
bergerak
- B eri pelumasan dengan grease dan lakukan
penggantian seal o- r ing bila per lu
Ter ima K as ih

Anda mungkin juga menyukai