0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
15 tayangan198 halaman

Emosi Marah: Peningkatan Melalui Menulis

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan mengelola emosi marah siswa kelas XI SMA Negeri 2 Bantul melalui teknik expressive writing. Penelitian menggunakan metode action research dalam dua siklus. Hasilnya menunjukkan bahwa expressive writing berhasil meningkatkan kemampuan mengelola emosi marah siswa.

Diunggah oleh

Eka Septiani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
15 tayangan198 halaman

Emosi Marah: Peningkatan Melalui Menulis

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan mengelola emosi marah siswa kelas XI SMA Negeri 2 Bantul melalui teknik expressive writing. Penelitian menggunakan metode action research dalam dua siklus. Hasilnya menunjukkan bahwa expressive writing berhasil meningkatkan kemampuan mengelola emosi marah siswa.

Diunggah oleh

Eka Septiani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENGELOLA EMOSI MARAH

MELALUI TEKNIK EXPRESSIVE WRITING (MENULIS


EKSPRESIF) PADA SISWA KELAS XI
DI SMA NEGERI 2 BANTUL

SKRIPSI

Diajukan kepada Fakultas Ilmu Pendidikan


Universitas Negeri Yogyakarta
untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan
guna Memperoleh GelarSarjana Pendidikan

Oleh
Yeni Dwi Rejeki
NIM 10104244008

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING


JURUSAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN DAN BIMBINGAN
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
JUNI 2014

i
ii
PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi ini benar-benar karya saya sendiri.
Sepanjang pengetahuan saya tidak terdapat karya atau pendapat yang ditulis atau
diterbitakan oleh orang lain kecuali sebagai acuan atau kutipan dengan mengikuti
tata penulisan karya ilmiah yang telah lazim.

Tanda tangan dosen penguji yang tertera dalam halaman pengesahan adalah asli.
Jika tidak asli, saya siap menerima sanksi ditunda yudisium pada periode
berikutnya.

Yogyakarta, Mei 2014

iii
iv
MOTTO

“Orang yang kuat tidaklah orang yang kuat dalam bergulat, namun
mereka yang bisa mengendalikan dirinya ketika marah”
(H.R Malik)

“Marah itu gampang, tetapi marah kepada siapa, dengan kadar kemarahan
yang pas, pada saat dan tujuan yang tepat, serta dengan cara yang benar itu
sulit”
(Aristoteles)

v
PERSEMBAHAN

Skripsi ini saya persembahkan kepada :

1. Bapak, Ibu, Kakak dan seluruh keluarga tersayang

2. Para dosen yang telah meluangkan waktunya untuk membimbing

3. Almamater tercinta, Universitas Negeri Yogyakarta

4. Agama, Nusa dan Bangsa

vi
PENINGKATAN KEMAMPUAN MENGELOLA EMOSI MARAH
MELALUI TEKNIK EXPRESSIVE WRITING (MENULIS
EKSPRESIF) PADA SISWA KELAS XI
DISMA NEGERI 2 BANTUL

Oleh
Yeni Dwi Rejeki
NIM 10104244008

ABSTRAK

Penelitian didasarkan pada kemampuan mengelola emosi marah siswa kelas


XI SMA Negeri 2 Bantul yang cukup rendah. Penelitian ini bertujuan untuk
meningkatkan kemampuan mengelola emosi marah siswa kelas XI SMA Negeri 2
Bantul melalui teknik expressive writing (menulis ekspresif).
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian tindakan kelas (action research)
yang dilaksanakan dalam dua siklus menggunakan model kemmis dan Taggart
yang terdiri atas empat tahap, yaitu perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi.
Siklus pertama dilaksanakan dengan tiga tindakan, mengungkapkan emosi marah
yang sering muncul, mengungkapkan emosi marah yang terkait dengan teman
dekat, dan puisi “kemarahan”. Tindakan pada siklus kedua, mengungkapkan
emosi marah yang masih terpendam, cara mengekspresikan emosi marah dan
menulis surat kepada seseorang yang membuat marah. Subjek dalam penelitian ini
adalah siswa kelas XI IPS 3 SMA Negeri 2 Bantul yang berjumlah 17 siswa.
Teknik pengumpulan data dengan menggunakan skala kemampuan mengelola
emosi marah, observasi dan wawancara. Analisis data yang digunakan pada
penelitian ini adalah analisis data kuantitatif, dan diperkuat dengan analisis data
kualitatif (observasi dan wawancara).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik expressive writing dapat
meningkatkan kemampuan mengelola emosi marah siswa kelas XI SMA Negeri 2
Bantul. Peningkatan yang signifikan dibuktikan dengan hasil skor skala
kemampuan mengelola emosi marah dan rata-rata skor pre test 80,70; post test I
95,82; dan post test II 105,88. Hasil tersebut diperkuat dengan wawancara dan
observasi yang menunjukkan adanya peningkatan kemampuan mengelola emosi
marah. siswa mampu mengekspresikan emosi marahnya secara tepat, tidak
memendam emosi marah secara terus menerus, mampu merefleksikan diri, dan
mampu meredakan emosi marah apabila pikiran negatif mulai muncul agar emosi
marah tersebut tidak meluap-luap. Selain itu, siswa memiliki motivasi untuk
berubah dalam mengungkapkan emosi marah ke arah yang lebih baik lagi.

Kata kunci: kemampuan mengelola emosi marah, expressive writing

vii
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang senantiasa melimpahkan rahmat,


hidayat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikanskripsi yang
berjudul “Peningkatan Kemampuan Mengelola Emosi Marah melalui Teknik
Expressive Writing pada Siswa Kelas XI di SMA Negeri 2 Bantul”. Penyusunan
skripsi ini bertujuan untuk memenuhi salah satu persyaratan guna memperoleh
gelar Sarjana Pendidikan pada Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan,
Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta.
Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini tidak lepas dari
dukungan, bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu,
penulismenyampaikan ucapan terima kasih kepada:
1. Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta yang telah
memberikan izin penelitian.
2. Bapak Fathur Rahman, M. Si. selaku Ketua JurusanPsikologi Pendidikan dan
Bimbingan Universitas Negeri Yogyakarta.
3. Ibu Kartika Nur Fathiyah, M. Si. selaku pembimbing yang begitu sabar dalam
memberikan bimbingan, arahan, motivasi, dan nasehat dalam penyusunan
skripsi ini.
4. Bapak Agus Basuki, M. Pd. selaku penasehat akademik yang telah
memberikan arahan dan motivasi dalam penyelesaian studi.
5. Seluruh Dosen Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan yang telah
memberikan wawasan, ilmu dan pengalamannya selama penulis mengikuti
perkuliahan.
6. Bapak Drs. Isdarmoko, M. Pd, M. [Link] selaku kepala SMA Negeri 2 Bantul
yang telah bekerjasama dan memberikan izin dalam proses penelitian skripsi
ini.
7. Bapak Tris Sutikna, S. Pd. dan bapak ibu guru BK lainnya yang telah
membantu dalam kelancaran proses penelitian ini.
8. Siswa kelas XI SMA Negeri 2 Bantul, khususnya kelas XI IPS 3 atas
kerjasama dan kesediannya dalam membantu penelitian ini.

viii
9. Kedua orang tua tersayang dan kakak yang selalu memberikan motivasi, doa
yang luar biasa dan kasih sayang sehingga peneliti dapat menyelesaikan
skripsi ini.
10. Peri Prasongko yang selalu memberikan dukungan, perhatian, motivasi, dan
selalu ada untuk membantu ketika penulis sedang mengalami kesulitan.
11. Teman-temanku satu perjuangan Adul, Dita, Nurin, Nia, Anes, Via, dan Ria
dan teman-teman lainnya yang selalu memberikan bantuan dan motivasi
sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini.
12. Sahabat-sahabatku “ISTIMEWA” yang telah memberikan bantuan, motivasi
dan dukungan sehingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik.
13. Teman-teman BK B 2010, teman-teman praktikum B1dan teman-teman
bimbinganIbu Kartikayang telah berbagi suka, duka serta pengalaman yang
berharga selama perkuliahan.
14. Semua pihak yang telah membantu penulis dalam segala hal yang tidak dapat
disebutkan satu persatu.

Semoga semua pihak yang telah memberikan bantuan, bimbingan


dan dukunganmendapatkan balasan dari Allah SWT. Penulis menyadari
bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, sehingga kritik dan saran
penulis harapkan demi perbaikan dalam penelitian ini.

Yogyakarta, Mei 2014

Yeni Dwi Rejeki

ix
DAFTAR ISI
hal
HALAMAN JUDUL ..................................................................................... i
HALAMAN PERSETUJUAN ..................................................................... ii
HALAMAN PERNYATAAN ........................................................................ iii
HALAMAN PENGESAHAN ........................................................................ iv
HALAMAN MOTTO .................................................................................... v
HALAMAN PERSEMBAHAN .................................................................... vi
ABSTRAK ...................................................................................................... vii
KATA PENGANTAR .................................................................................... viii
DAFTAR ISI ................................................................................................... x
DAFTAR TABEL ......................................................................................... xiii
DAFTAR GAMBAR ..................................................................................... xiv
DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................. xv

BAB I PENDAHULUAN .......................................................................... 1


A. Latar Belakang................................................................................. 1
B. Identifikasi Masalah ........................................................................ 8
C. Batasan Masalah .............................................................................. 9
D. Rumusan Masalah ........................................................................... 9
E. Tujuan Penelitian ............................................................................. 10
F. Manfaat Penelitian ........................................................................... 10

BAB II KAJIAN PUSTAKA ..................................................................... 12


A. Kemampuan Mengelola Emosi Marah ............................................ 12
1. Emosi Marah ............................................................................... 12
a. Pengertian Emosi Marah ........................................................ 12
b. Ciri-ciri Emosi Marah ............................................................ 13
c. Kategori Emosi Marah ........................................................... 18
d. Faktor-faktor Penyebab Emosi Marah .................................. 19

x
2. Perkembangan Emosi Remaja .................................................... 24
3. Pengelolaan Emosi Marah .......................................................... 26
a. Pengertian Pengelolaan Emosi Marah………………………. 26
b. Aspek-aspek dalam Mengelola Emosi Marah……………… 27
c. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengelolaan Emosi Marah 31
d. Langkah-langkah dalam Mengelola Emosi Marah ……. ...... 34
B. Teknik Expressive Writing (Menulis Ekspresif) ............................. 42
1. Pengertian Expressive Writing (Menulis Ekspresif) ................... 42
2. Bentuk-bentuk Expressive Writing (Menulis Ekspresif) ............ 43
3. Manfaat Expressive Writing (Menulis Ekspresif) ...................... 45
C. Peningkatan Kemampuan Mengelola Emosi Marah melalui
Teknik Expressive Writing (menulis ekspresif)............................... 48
D. Hipotesis Tindakan ......................................................................... 50

BAB III METODE PENELITIAN ............................................................. 51


A. Pendekatan Penelitian ..................................................................... 51
B. Subjek Penelitian ............................................................................. 51
C. Tempat dan Waktu Penelitian ......................................................... 52
D. Desain Penelitian ............................................................................. 52
E. Variabel Penelitian .......................................................................... 54
F. Rancangan Tindakan ....................................................................... 55
1. Pra Tindakan ............................................................................... 55
2. Pemberian Tindakan ................................................................... 56
G. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data....................................... 60
1. Skala ........................................................................................... 60
2. Observasi ................................................................................... 64
3. Wawancara ................................................................................. 66
H. Uji Validitas dan Realibilitas Instrumen ........................................... 68
1. Uji Validitas Instrumen .............................................................. 68
2. Uji Reliabilitas Instrumen .......................................................... 70
I. Teknik Analisis Data ....................................................................... 71

xi
J. Indikator Keberhasilan Tindakan ..................................................... 72
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ............................ 73
A. Lokasi dan Waktu Penelitian .......................................................... 73
1. Lokasi Penelitian......................................................................... 73
2. Waktu Penelitian ......................................................................... 74
B. Data Subjek Penelitian ................................................................... 75
C. Langkah Sebelum Pelaksanaan Tindakan ....................................... 76
D. Pelaksanaan Tindakan Siklus I ........................................................ 76
E. Pelaksanaan Tindakan Siklus II ....................................................... 94
F. Hasil Tindakan Siklus 1 dan 2 ......................................................... 107
G. Pembahasan .................................................................................... 109
H. Keterbatasan Penelitian ................................................................... 113

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ........................................................ 114


A. Kesimpulan .................................................................................... 114
B. Saran .............................................................................................. 115

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 117


LAMPIRAN .................................................................................................... 120

xii
DAFTAR TABEL

hal

Tabel 1. Kisi-kisi Skala Kemampuan Mengelola Emosi Marah .................. 63


Tabel 2. Pedoman Observasi pada Guru BK ............................................... 65
Tabel 3. Pedoman Observasi pada Subjek Penelitian .................................. 65
Tabel 4. Pedoman Wawancara dengan Guru BK......................................... 66
Tabel 5. Pedoman Wanwancara dengan Subjek Penelitian ......................... 67
Tabel 6. Rangkuman Item Sahih dan Item Gugur........................................ 69
Tabel 7. Kategori Skor Kemampuan Mengelola Emosi Marah ................... 72
Tabel 8. Hasil Skor Pre Test Siswa.............................................................. 76
Tabel 9. Hasil Skor Post Test I Siswa .......................................................... 88
Tabel 10. Prosentase Peningkatan Skor Siswa (Siklus 1) .............................. 92
Tabel 11. Hasil Skor Post Test 2 Siswa ......................................................... 101
Tabel 12. Prosentase Peningkatan Skor Siswa (Siklus 2) .............................. 104
Tabel 13. Hasil Skor Kemampuan Mengelola Emosi Marah ........................ 107

xiii
DAFTAR GAMBAR

hal

Gambar 1. Proses Penelitian Tindakan …………………………….... 53


Gambar 2. Diagram Peningkatan Skor Siswa Siklus 2………………. 105
Gambar 3. Diagram Peningkatan Skor Rerata Kemampuan 108
Mengelola Emosi Marah Siswa …………………………..…

xiv
DAFTAR LAMPIRAN

hal

Lampiran 1. Skala Kemampuan Mengelola Emosi Marah (Sebelum Uji


Validitas)………………………………………………….. 120
Lampiran 2. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas ………………………. 127
Lampiran 3. Kisi-kisi Instrumen (Setelah Uji Validitas)…………....…..… 129
Lampiran 4. Skala Kemampuan Mengelola Emosi Marah (Setelah Uji
Validitas)……………………..……………………………. 130

Lampiran 5. Hasil Observasi Siklus I ...………………………………… 135


Lampiran 6. Hasil Observasi Siklus II …………………………………. 141
Lampiran 7. Hasil Wawancara dengan Subjek …..…………….……….. 147
Lampiran 8. Hasil Wawancara dengan Guru BK …..…………….…….. 155
Lampiran 9. Puisi “Kemarahan” …..…………….……..…..………….... 158
Lampiran 10. Hasil Pre Test …..…………….……..…..…………...…..... 159
Lampiran 11. Hasil Post Test I ….……..…..…………...…........................ 160
Lampiran 12. Hasil Post Test II ….……..…..…………...…...................... 161
Lampiran 13. Hasil Tulisan Siswa ….……..…..…………...….................. 162
Lampiran 14. Dokumentasi …..…..…………...…...................................... 177
Lampiran 15. Surat Izin dan Surat Keterangan Penelitian …...…............... 180

xv
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Remaja berada dalam periode yang banyak mengalami masalah

pertumbuhan dan perkembangan antara lain perkembangan fisik,

perkembangan emosional dan perkembangan seksual, khususnya

menyangkut penyesuaian diri terhadap tuntutan-tuntutan yang ada di

lingkungan sekolah maupun masyarakat. Salah satu tuntutannya adalah

remaja dituntut memiliki pola pikir sendiri dalam memecahkan masalah-

masalah pribadi maupun sosialnya. Namun, pada masa remaja sering

menjadi masa yang kacau. Secara emosional, remaja bukanlah anak kecil

lagi tetapi juga belum dewasa. Tahap “antara” ini dapat menjadi waktu

yang membingungkan bagi remaja (Hershorn, 2003: 135). Perubahan-

perubahan dapat terlihat dari hubungan sosial pada remaja itu sendiri, yang

mengakibatkan ketegangan emosi pada remaja (Harry Theozard Fikri,

2012).

Ketegangan emosi pada remaja bersifat khas sehingga masa ini

disebut masa badai dan topan (storm and stress) yaitu masa yang

menggambarkan keadaan emosi remaja yang tidak menentu, tidak stabil

dan meledak-ledak. Kepekaan emosi yang meningkat sering diwujudkan

dalam bentuk remaja lekas marah, suka menyendiri, dan adanya kebiasaan

nervous (Rita Eka I. dkk, 2008:135). Remaja selalu berusaha agar bisa

berkuasa diantara teman-temanlainnya untuk menunjukkan pada orang lain

1
bahwa remaja mempunyai kekuatan yang lebih dari yang lainnya. Emosi

remaja lebih kuat dan lebih menguasai diri mereka dari pada pikiran yang

realistis.

Emosi marah yang ada dalam diri remaja merupakan emosi

manusia yang [Link] remaja emosi marah lebih mudah timbul

dibandingkan emosi [Link] marah pada remaja berhubungan erat

dengan [Link] digambarkan sebagai emosi marah yang berbalik

pada diri [Link] akibatnya, mereka rentan marah, kurang mampu

mengendalikan emosi, yang selanjutnya dapat memicu munculnya

berbagai masalah dengan emosi negatifnya (Risa Yuliani, 2013).Penyebab

timbulnya emosi marah pada remaja ialah apabila remaja tertekan, terhina,

terhambat, diperlakukan seperti anak kecil, merasa pendapatnya tidak

didengarkan, merasa keinginannya tidak terpenuhi oleh orang tua

meskipun orang tuanya mampu, merasa terlalu dikekang oleh orang tua

ketika membina keakraban dengan lawan jenis, frustrasi, dipermalukan

atau dipojokkan dihadapan teman-temannya. Remaja sering mendesak

orang tua agar diberi kebebasan namun orang tua masih menahan dengan

memberikan batasan-batasan tertentu.

Ada berbagai cara yang dilakukan remaja dalam mengekespresikan

emosi marahnya. Sebagian dari remaja lebih suka memilih untuk

memendam emosi marahnya dari pada mengekspresikan [Link]

dari sikap dan perilaku remaja dengan mengurangi aktivitas, sikap

mengucilkan diri,upaya bunuh diri, pikiran negatif tentang orang lain dan

2
diri sendiri. Selain itu bagi remaja yang lebih memilih mengekspresikan

emosi marahnya dengan cara-cara yang kurang tepat, terlihat dari perilaku

tindak kriminalitas, penyalahgunaan obat terlarang, tawuran, minum-

minuman keras, melakukan perusakan pada tempat-tempat umum.

Terkadang remaja menciptakan masalah yang lain dengan cara yang dapat

merugikan dirinya sendiri yaitu dengan mengekspresikan emosi marah

yang kurang terkendali melalui kebut-kebutan motor di jalanan,

membanting pintu kamar, melakukan [Link] yang diuraikan di

atas menunjukkan kurangnya kemampuan mengelola emosi, dalam hal ini

emosi marah pada remaja. Menurut Goleman (2001: 28) berbagai perilaku

ketidakmampuan mengelola emosi merupakan gambaran adanya emosi-

emosi yang tidak terkendali, dan mencerminkan meningginya

ketidakseimbangan [Link] emosi memainkan peranan penting

dalam perilaku remaja.

Berbagai contoh kasus emosi marah dapat diuraikan sebagai

[Link] data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI)

pada tahun 2012 yaitu 103 kasus tawuran, Baiquni ([Link], 2012).

Selain itu, menurut kepala kepolisian sektor Cilandak, Jakarta Selatan

pemicu terjadinya tawuran yang dilakukan remaja dengan tindak

pembacokan yang mengakibatkan 3 remaja menjadi korban karena

masalah dendam antar sekolah, Robertus belarminus ([Link], 2013).

Kasus lain adalah puluhan siswa SMK di Depok, Jakarta remaja

mengekspresikan emosi marahnya dengan cara merusak fasilitas sekolah

3
seperti meja, kursi, pot bunga dan kaca jendela ruang kelas. karena 13

temannya di keluarkan dari sekolah karena terlibat tawuran, Ilham Tirta

([Link], 2013).

Berbagai macam faktor yang memicu terjadinya tindak kriminalitas

yang terjadi pada remaja dari kurangnya kemampuan mengelola emosi

marah diantaranya kurangnya perhatian dari keluarga ataupun orang tua,

pengaruh kelompok atau pengaruh pergaulan, pendapat dari remaja yang

kurang dihargai atau didengarkan, ketidakstabilan emosi, berawal dari

saling mengejek, remaja menginginkan keberadaannya diakui oleh orang-

orang disekelilingnya, mengetahui temannya terancam oleh sekolah lain,

ingin membuktikan kekuatan dari dirinya maupun kelompoknya dan

memiliki dendam yang turun temurun.

Selain kasus tawuran yang sering terjadi pada remaja, pada kasus

lain yang terkait dengan emosi marah yang tidak terkendali di daerah

Bogor, yaitu kasus pembunuhan yang dilakukan oleh siswa kelas VIII

SMP membunuh teman sekelasnya sendiri karena sering marah-marah.

Selain itu kasus serupa pembunuhan yang dilakukan siswa SMA karena

mengetahui pacarnya selingkuh, Windoro Adi ([Link], 2012).

Terkait dengan pengelolaan emosi marah pada remaja, berdasarkan

hasil observasi dan wawancara dengan siswa di SMA Negeri 2 Bantul

pada saat [Link] diketahui bahwa siswa di SMA Negeri 2

Bantul kurang dapat mengelola emosi marahnya. Beberapa siswa

mengungkapkan pada peneliti merasa mudah marah, sulit untuk

4
mengontrol emosinya ketika dipermalukan atau dipojokkan dihadapan

teman-temannya, bertengkar dengan teman ataupun pacar dan mengetahui

temannya terancam oleh sekolah lain. Beberapa cara yang dilakukan oleh

siswa untuk mengungkapkan emosi marah antara lain dengan menangis di

dalam kelas, keluar dari kelas dan tidak mengikuti pelajaran (mengurangi

aktivitas), menyendiri ataupun menyimpan dendam dengan melakukan

tindakan tawuran. Selain itu, ada kasus lain yang diceritakan pada peneliti

yang dialami oleh siswa di SMA Negeri 2 Bantul. Siswa tersebut merasa

pendapatnya kurang didengarkan baik oleh teman-temannya maupun oleh

[Link] direndahkan. Siswa sering mengekspresikan emosi marahnya

dengan cara sering ribut ketika di kelas karena ingin mendapat perhatian

lebih baik dari guru maupun teman di kelasnya, sering berkomentar

dengan komentar yang tidak perlu ketika ada teman lain yang sedang

presentasi di depan kelas. Padahal wali kelas ataupun guru sudah berusaha

[Link] itu, guru Bimbingan dan Koseling di sekolah sudah

melakukan upaya dengan memberikan bimbingan klasikal maupun

bimbingan kelompok terkait dengan permasalahan di atas.

Melihat berbagai permasalahan yang terkait dengan pengelolaan

emosi marah pada remaja, maka perlu adanya upaya bimbingan dan

konseling yang bersifat pengembangan dan pencegahan yang membantu

siswa memiliki kemampuan mengelola emosi marah yang baik dan tidak

terjerumus pada perilaku yang [Link] expressive writing

belum pernah digunakan di SMA Negeri 2 Bantul dalam bidang

5
bimbingan dan konseling untuk memecahkan masalah [Link] ini

penyelesaian permasalahan siswa sering dilakukan melalui konseling

individual maupun kelompok dan home [Link] tersebut sudah

cukup baik, namun masih sering ditemui siswa yang sulit untuk

mengungkapkan perasaannya dan menceritakan hal-hal yang terkait

dengan permasalahan yang dihadapinya.

Berdasarkan paparan di atas, peneliti menganggap perlu adanya

upaya yang lebih tepat untuk mengatasi kesulitan dalam mengelola emosi

marah pada [Link] yang peneliti anggap cocok dengan

menggunakan teknik expressive writing(menulis ekspresif) yang

difokuskan pada emosi marah remaja, dan upaya meningkatkan

kemampuan mengelola emosi marah [Link] satu proses atau cara

untuk mencapai manajemen emosi adalah dengan [Link] menulis

merupakan salah satu teknik yang digunakan di dalam terapi

[Link] ketika emosi marah sulit diungkapkan kepada orang

lain atau ketika siswa malu untuk bercerita, tidak berterus terang, dan tidak

terbuka menimbulkan sikap yang tidak asertif pada siswa. Menulis

ekspresif siswa akan dapat lebih mudah untuk mengekspresikan diri,

mengungkapkan perasaan, menuangkan ide, menceritakan peristiwa-

peristiwa yang terjadi, maupun masalah yang sedang dialaminya. Salah

satu cara tidak langsung seperti menulis maka remaja dapat mencurahkan

perasaan yang ada dalam dirinya dengan jujur, terbuka dan leluasa.

Menulis juga merupakan media untuk siswa dalam mengelola emosi

6
[Link] itu, siswa dapat mengekspresikan emosi yang berlebihan

(katarsis) dan menurunkan ketegangan, siswa dapat bercerita dengan

bebas, terbuka dan dapat mengungkapkan seluruh perasaannya melalui

tulisan.

Beberapa teknik yang dapat digunakan untuk mengelola emosi

selain dengan menulis menurut Caruso dan Salovey (Anisa Rahmadani,

2013: 5) diantaranya adalah disentisisasi sistematik dan music

[Link] sistematik dapat membantu untuk tetap terbuka

terhadap emosi yang datang, sekaligus tetap tenang dalam

[Link] mendengarkan musik juga mampu

memperbaiki dan memelihara keadaan mental fisik dan emosi.

Bagi remaja yang mengalami kesulitan dalam mengungkapkan

emosi marahnya secara verbal, aktivitas menulis akan membantu mereka

melepaskan perasaan yang cenderung mereka bawa. Dan bagi remaja yang

memiliki kemampuan verbal sangat tinggi, menulis dapat menjaga remaja

agar tidak terlalu banyak bicara pada waktu yang tidak [Link] dapat

membantu seseorang mengubah cara menghadapi emosi marah. Dengan

menulis seseorang akan melepaskan emosi marah dan tidak

menyimpannya atau mewujudkannya dalam tindakan. Selain itu, menulis

dapat membantu seseorang untuk melihat masalah lebih jelas

dibandingkan dengan membicarakannya. (Norman Wright, 2000: 126).

Beberapa penelitian terdahulu yang memanfaatkan terapi menulis

ekspresif sudah banyak dilakukan dan hasil terbukti efektif, misal peelitian

7
Susilowati (2009) terapi menulis pengalaman emosional untuk

menurunkan [Link] itu, pada penelitian Harry Theozard (2012)

Teknik expressive writing terbukti efektif untuk meningkatkan

kemampuan mengelola emosi marah [Link] terapi tulis lainnya

dimana terapi tulis mampu menurunkan skor ketegangan emosi pada

mahasiswa yang mengalami kesulitan dalam mengungkapkan emosinya

(Melianawati, 2004).Sejalan dengan penelitian-penelitian lainnya, pada

penelitian Anisa Rahmadani (2013) melalui teknik expressive writing

siswa dapat mengeksplorasi perasaan dan pemikiran yang terdalam

kedalam sebuah tulisan yang dapat memberikan informasi kepada siswa

untuk dapat menghadapi situasi emosional secara lebih baik.

Dari beberapa penelitian yang terkait dengan teknik expressive

writing,salah satumanfaat dariteknik expressive writing dapat digunakan

dalam meningkatkan pengelolaan emosi [Link] karena itu, peneliti

tertarik menggunakan teknik Expressive Writing (Menulis Ekspresif)

untuk membantu meningkatakan kemampuan mengelola emosi marah

pada siswa di SMA Negeri 2 Bantul.

B. Identifikasi Masalah

1. Siswa ataupun remaja pada umumnya masih mengalami kesulitan

dalam mengelola emosi marah dan terkadang bagi remaja yang lebih

memilih untuk memendam emosi marah yang dilakukannya dengan

mengurangi aktivitas.

8
2. Masalah kemampuan mengelola emosi marah masih banyak di alami

oleh remaja sekarang ini yang akibatnya remaja sering

mengungkapkan emosinya dengan cara kurang tepat. Seperti tawuran,

perusakan tempat-tempat umum maupun kebut-kebutan di jalan.

3. Siswa kurang terbuka terhadap permasalahannya pada wali kelas

maupun guru BK di sekolah.

4. Teknik expressive writing dalam meningkatkan kemampuan mengelola

emosi marah pada siswa belum pernah digunakan di SMA Negeri 2

Bantul.

C. Batasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah yang didapatkan, agar peneliti ini

dapat dilakukan dengan lebih mendalam maka peneliti membatasi masalah

pada peningkatan kemampuan mengelola emosi marah melalui teknik

expressive writing (menulis ekspresif) pada siswa kelas XI di SMA Negeri

2 Bantul.

D. Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

“Bagaimanateknik expressive writing (menulis ekspresif)dapat

meningkatkan kemampuan mengelola emosi marah padasiswa kelas XI di

SMA Negeri 2 Bantul?”

9
E. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang sudah peneliti tetapkan di atas,

tujuan penelitian adalah meningkatkan kemampuan mengelola emosi

marah melalui teknik expressive writing (menulis ekspresif) pada siswa

kelas XI di SMA Negeri 2 Bantul.

F. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat dari penelitian ini adalah:

1. Secara teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai acuan

teoritis maupun wawasan yang konseptual tentang bagaimana teknik

expressive writing dapat meningkatkan kemampuan mengelola emosi

marah siswa.

2. Secara praktis

a. Bagi pihak sekolah

Memberikan sumbangan dalam pengambilan keputusan dan

sebagai bahan refleksi terhadap permasalahan psikologis siswa dan

sekolah mendapatkan sumbangan teknik yang dapat digunakan

untuk meningkatkan kemampuan mengelola emosi marah siswa.

b. Bagi Guru Bimbingan dan Konseling

Memberi masukan bagi guru BK dalam membantu

meningkatkan kemampuan mengelola emosi marah siswa melalui

teknik expressive writing (menulis ekspresif).

10
c. Bagi peneliti

Memberi pengalaman dan wawasan mengenai teknik

expressive writing (menulis ekpresif) yang dapat diterapkan oleh

peneliti sebagai salah satu teknik dalam meningkatkan kemampuan

mengelola emosi marah.

d. Bagi peneliti selanjutnya

Dapat memberikan pengalaman serta dapat menambah

wawasan khususnya dalam mengembangkan teknik yang lebih

efektif dalam hal mengelola emosi marah.

e. Bagi siswa

Dapat membantu siswa dalam menyadari pentingnya

meningkatkan kemampuan mengelola emosi marah melalui teknik

expressive writing, sehingga dapat diaplikasikan dalam kehidupan

sehari-hari.

11
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Kemampuan Mengelola Emosi Marah

1. Emosi Marah

a. Pengertian Emosi Marah

Chaplin (Purwanto dan Mulyono, 2006: 8) bahwa marah

(anger) adalah reaksi emosional akut yang timbul karena sejumlah

situasi yang merangsang. Situasi ini meliputi termasuk ancaman,

agresi lahiriah, pengekangan diri, serangan lisan, kekecewaan, atau

frustasi. Kemarahan dicirikan sebagai suatu reaksi yang kuat pada

sistem syaraf otonomik, khususnya oleh reaksi darurat pada bagian

simpatetik, dan secara implisit disebabkan oleh reaksi serangan

lahiriah, baik yang bersifat somatik atau jasmaniah maupun yang

verbal atau lisan.

Menurut Albin (Triantoro Safaria dan Nofrans Eka Saputra,

2012: 74) bahwa rasa marah merupakan emosi yang sangat sukar

bagi setiap orang, baik dalam hal menerima ataupun untuk

mengungkapnya. Rasa marah menunjukkan bahwa suasana

perasaan tersinggung oleh seseorang atau sesuatu yang

dianggapnya sudah tidak baik.

James J. Messina (2004: 21) menjelaskan bahwa emosi

marah merupakan tanda bahwa ada sesuatu yang berjalan tidak

sesuai dengan kehendak [Link] marah biasanya berkaitan

12
dengan diri dan bagaimana reaksi diri terhadap sesuatu atau

seseorang.

Stuart dan Sundeen (Safaria dan Eka Saputra, 2012: 75)

menjelaskan emosi marah sebagai perasaan jengkel yang timbul

sebagai respons terhadap kecemasan yang dirasakan sebagai

ancaman.

Berdasarkan pengertian tentang emosi marah oleh para ahli

di atas, maka dapat disimpulkan bahwa emosi marah merupakan

gejolak emosi pada seseorang yang disebabkan oleh berbagai hal

yang dapat mengurangi ketenangan dalam dirinya dan diungkapkan

dengan perbuatan atau ekspresi kepada orang yang menyebabkan

marah untuk memperoleh kepuasan.

b. Ciri-ciri Emosi Marah

Beck (Purwanto dan Mulyono, 2006: 14), menjelaskan

bahwa pada dasarnya ciri-ciri emosi marah, dapat dilihat dari

beberapa aspek diantaranya:

1) Aspek biologis

Dalam aspek biologis, terdapat gejala yang sama

dengan kecemasan seperti meningkatnya kewaspadaan,

ketegangan otot seperti rahang terkatup, tangan dikepal, tubuh

kaku, dan refleksi cepat. Hal ini disebabkan energi yang

dikeluarkan pada saat marah [Link] samping itu ada

13
seseorang yang tidak menyukai atau marah karena tidak puas

dengan kondisi tubuhnya yang tidak sesuai dengan harapan

atau keinginannya.

2) Aspek emosional

Ciri-ciri emosi marah pada diri seseorang dilihat dari

aspek emosional adalah sebagai [Link] seseorang

marah seseorang juga merasa tidak nyaman, merasa tidak

berdaya, jengkel, frustasi, dendam, ingin berkelahi,

mengamuk, bermusuhan, sakit hati, menyalahkan dan

[Link] secara emosional seseorang yang marah

melakukan perilaku menarik perhatian dan ada konflik pada

diri sendiri, ada keinginan melarikan diri, bolos dari sekolah,

mencuri, melakukan perusakan fasilitas umum dan

penyimpangan seksual.

3) Aspek intelektual

Sebagian besar pengalaman kehidupan seseorang

termasuk emosi marah dapat dilihat dari proses intelektual.

Peran pancaindera sangat penting untuk beradaptasi dengan

lingkungan yang selanjutnya diolah dalam proses intelektual

sebagai suatu pengalaman. Oleh karena itu, perlu diperhatikan

cara seseorang ketika marah, mengidentifikasikan keadaan

yang menyebabkan marah, kemudian bagaimana informasi

diproses, diklasifikasikan dan diintegrasikan. Pada gangguan

14
fungsi pancaindera dapat terjadi penyimpangan persepsi

seseorang sehingga menimbulkan marah.

4) Aspek sosial

Ciri emosi marah pada diri seseorang dilihat dari aspek

sosial, yaitu sebagai berikut. Emosi marah sering merangsang

kemarahan dari orang lain, dan menimbulkan penolakan dari

orang lain. Sebagian orang mengeluarkan kemarahan dengan

menilai dan mengkritik tingkah laku orang lain, sehingga

orang lain merasa sakit hati. Proses tersebut dapat

menyebabkan seseorang menarik diri dari orang lain.

Pengalaman marah dapat mengganggu hubungan interpersonal

sehingga beberapa orang memilih menyangkal atau berpura-

pura tidak marah untuk mempertahankan hubungan tersebut.

5) Aspek spiritual

Ciri emosi marah pada diri seseorang dilihat dari aspek

spiritual yang mempengaruhi hubungan seseorang dengan

lingkungan. Hal yang bertentangan dengan norma yang

dimiliki dapat menimbulkan kemarahan dan terlihat dengan

tindakan amoral dan rasa tidak berdosa ataupun rasa bersalah.

Seseorang sering menuntut kebutuhannya dari orang lain atau

lingkungan untuk memenuhi keinginannya, namun keinginan

tersebut tidak terpenuhi sehingga timbul sikap frustasi dan

timbul emosi marah.

15
Hamzah (Purwanto dan Mulyono, 2006: 17)

menjabarkan secara rinci mengenai ciri-ciri apabila seseorang

marah yaitu sebagai berikut:

1) Ciri pada wajah

Berupa perubahan warna kulit menjadi kuning pucat,

tubuh terutama pada ujung-ujung jari bergetar keras, timbul

buih pada sudut mulut, bla mata memerah, hidung kembang

kempis, gerakan menjadi tidak terkendali serta terjadi

perubahan lain pada fisik.

2) Ciri pada lidah

Ketika emosi marah pada seseorang tidak dapat

terkontrol, maka akan menyebabkan seseorang mengeluarkan

makian, celaan, kata-kata yang menyakitkan, dan ucapan-

ucapan yang membuat seseorang merasa tidak nyaman ketika

mendengarnya.

3) Ciri pada anggota tubuh

Terkadang kemarahan menimbulkan keinginan untuk

memukul, melukai, merobek, bahkan membunuh. Jika amarah

itu tidak terlampiaskan pada orang yang dimarahinya,

kekesalannya akan berbalik pada diri sendiri.

4) Ciri pada hati

Di dalam hatinya akan timbul rasa benci, dendam, dan

dengki,dengan menyembunyikan keburukan, merasa gembira

16
dalam dukanya, dan merasa sedih atas kegembiraanya,

memutuskan hubungan dan menjelek-jelekkannya.

Adapula pendapat dari Nuh (Purwanto dan Mulyono, 2006:

17) mengenai ciri-ciri lain yang dapat dilihat apabila seseorang

marah diantaranya:

1) Membesarnya pembuluh darah dan urat leher disertai

memerahnya wajah dan kedua mata.

2) Merengut dan mengerutnya wajah dan dahi.

3) Permusuhan kepada pihak lain melalui lisan, tangan, kaki,

atau saran lainnya.

4) Membalas permusuhan orang lain dengan permusuhan

pula tanpa memperhitungkan akibat yang ditimbulkannya.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan

ciri-ciri emosi marah terlihat dari fisik yang berubah

maupun cara berpikir seseorang ketika dalam keadaan

marah. Seseorang yang mampu memahami emosi marah

yang ada pada dirinya, maka dapat mempertimbangkan

hal-hal yang akan dilakukannya. Namun, bagi seseorang

yang kurang mampu mengontrol emosi marahnya maka

tidak dapat mempertimbangkan hal-hal yang akan terjadi

nantinya.

17
c. Kategori Emosi Marah

Ada 3 kategori dalam masalah kemarahan menurut Michael

Hershorn (2003:39) yaitu

1) Kategori pertama, internalisasi kemarahan yang

menggambarkan seseorang memendam emosi marahnya.

Seseorang yang mampu menahan dirinya untuk

mengekspresikan emosi marah karena memiliki pengendalian

internal yang kuat. Seseorang yang tidak dapat melepaskan

emosi marahnya dengan cara apapun dapat mengakibatkan

depresi dan kecemasan. Selain itu, remaja seringkali

mengekspresikan emosi marah dengan mogok berbicara atau

tidak mau melakukan kegiatan apapun.

2) Kategori kedua, kemarahan yang terlalu dikendalikan. Pada

kategori ini, seseorang memiliki kendali yang kuat dalam

mengekspresikan emosi marahnya. Namun, karena membiarkan

emosi marah yang ada pada dirinya menumpuk, pada akhirnya

remaja melepaskan emosi marah dengan meledak-ledak seperti

ketika di kelas sering diejek oleh teman yang lain, karena lebih

memilih memendam emosi marahnya namun pada akhirnya

emosi marah tersebut tidak terkendali yang mengakibatkan

perkelahian pada saat di kelas.

3) Kategori ketiga, kemarahan yang kurang dikendalikan. Remaja

ini kurang dapat mengendalikan emosi marahnya. Ledakan

18
emosi marah mereka tidak terlalu dahsyat, namun sering dan

dapat diarahkan pada objek apapun, termasuk teman, guru,

orang tua, bahkan polisi. Seperti pada kasus tawuran yang

sering dilakukan oleh remaja dengan membawa senjata tajam

ataupun merusak tempat-tempat umum.

Berdasarkan penjelasan di atas, bahwa ada berbagai

macam kategori emosi [Link] yang dilakukan remaja

ketika mengekspresikan emosi marah berbeda-beda. Ketika

emosi marah dipendam terus menerus nantinya emosi tersebut

akan meledak dan kurang terkendali. Kemudian bagi remaja

yang terlalu mengekspresikan emosi marahnya, maka hal

tersebut dapat merugikan dirinya maupun lingkungan sekitar

karena kurangnya kontrol dalam mengekspresikan emosi

marahnya.

d. Faktor-faktor Penyebab Emosi Marah

Berbagai faktor yang dapat menyebabkan emosi marah

pada [Link] Bhave dan Saini (2009: 7) menyebutkan hal

yang paling sering menyebabkan rasa marah adalah ketika

seseorang menghadapi suatu situasi yang tidak sesuai, perasaan

frustasi maupun kecewa dan ketika memiliki keinginan yang tidak

terpenuhi. Kesulitan dalam mengelola emosi marah dapat

menyebabkan munculnya gangguan-gangguan psikopatologis di

19
samping gangguan fisik, kegagalan dalam menjalin hubungan

dengan orang lain.

Edy Zaques (Safaria dan Eka Saputra, 2012: 81)

menjelaskan faktor yang menyebabkan rasa marah diantaranya:

1) Faktor internal antara lain menyangkut self control seseorang,

pola pandang yang dianutnya, serta kebiasaan-kebiasaan yang

ditumbuhkannya dalam respons suatu permasalahan.

2) Faktor eksternal antara lain adalah situasi-situasi di luar diri

seseorang yang dapat memancing respon emosional, latar

belakang keluarga, serta budaya dan lingkungan sekitar.

Nuh (Purwanto & Mulyono, 2006: 19) menjelaskan

beberapa faktor penyebab dan pendorong seseorang marah,

diantaranya:

1) Lingkungan

Penyebab pertama yang menyebabkan seseorang

marah dari lingkungan tempat tinggal, baik itu lingkungan

keluarga atau masyarakat. Seseorang yang berada dalam

lingkungan yang kurang dapat mengontrol emosi marah, akan

menjadi sebuah kebiasaan dengan mengekspresikan emosi

pada perilaku yang kurang tepat. Selain itu, lingkungan

tersebut mempengaruhi dirinya hingga seseorang dapat cepat

marah dan tersinggung.

20
2) Pertengkaran dan perdebatan

Penyebab kedua yang menyebabkan kemarahan

adalah pertengkaran ataupun perdebatan dengan cara yang

kurang tepat ataupun salah. Hal tersebut karena masing-masing

pihak ingin membela yang lain, walaupun yang dibela itu

sebenarnya [Link] itu, hal yang menyebabkan seseorang

marah apabila keinginannya tidak terpenuhi, maka orang

tersebutakan marah dan emosi. Kemudian perbuatan yang

masih sering terjadi perbuatan untuk membalas dendam,

terutama jika melihat dirinya lebih kuat dan lebih gagah dari

pada lawan pertengkaran atau perdebatan, orang tersebut akan

merasa puas.

3) Sendau gurau dengan cara yang berlebihan

Penyebab ketiga yang menimbulkan kemarahan

adalah sendau gurau dengan cara yang berlebihan. Jika

seseorang bersendau gurau melampaui batas, maka hal tersebut

akan menimbulkan pertengkaran. Pertengkaran tersebut dapat

memicu kemarahan dan menyebabkan timbulnya upaya untuk

membalas.

4) Memusuhi orang lain dengan segala cara

Faktor penyebab lain yang menimbulkan kemarahan

adalah sikap memusuhi orang lain dengan segala cara, seperti

tindakan mengolok-olok, mengejek, mencari-cari kesalahan,

21
memata-matai, menggunjing, mengadu domba, mencaci,

menyinggung perasaan, memenjarakan memukul, dan

menyiksa.

5) Sombong dengan keadaan dirinya

Orang yang sombong akan sulit untuk menerima

keadaan orang lain yang lebih baik dari dirinya. Seseorang

tersebut merasa bahwa dirinya yang paling baik.

6) Tidak dapat mengendalikan diri

Merupakan sikap diri yang tidak dapat mengendalikan

hawa nafsu. Penyakit apapun yang menimpa manusia akan

semakin parah sehingga dia menjadi bagian dari kejadian

manusia jika dia tidak mengendalikan hawa nafsunya.

7) Seseorang yang tidak bisa menerima prasangka buruk orang

lain terhadap dirinya

Terkadang seseorang mengakui kesalahan yang ada

pada [Link], karena kelemahannya sering mengulangi

kesalahannya. Dalam kondisi demikian, dia sangat

memerlukan bantuan dari orang lain agar dapat melepaskan

diri yang ditimbulkan oleh sifat marah. Sebab sifat marah ini

akan berkembang dan membesar sehingga seolah-olah

merupakan bagian dari kepribadian pemiliknya yang tidak

terpisahkan.

22
8) Penjelasan orang lain atas kelemahan dirinya

Apabila orang lain menjelaskan sesuatu yang ada

dalam dirinya dan penjelasan tersebut dapat merendahkan

seseorang, maka akan menimbulkan emosi marah.

9) Mengingat permusuhan dendam lama

Sebab kemarahan pada seseorang adalah mengingat

permusuhan dan dendam yang terpendam. Sebab, terkadang

seseorang menyimpan dendam kepada orang lain.

10) Lalai terhadap akibat yang ditimbulkan oleh marah

Kelalaian terhadap dampak negatif yang ditimbulkan

oleh marah, baik dampak yang bersifat individual maupun

sosial merupakan faktor penyebab seseorang [Link]

seserang lengah terhadap dampak yang ditimbulkan oleh

sesuatu, maka dapat merugikan dirinya sendiri tanpa diketahui

dan disadari oleh dirinya.

Berdasarkan penjelasan di atas, berbagai faktor yang

mempengaruhi emosi marah seseorang diantaranya dari dalam

dirinya maupun lingkungan sekitar. Emosi marah seseorang

akan timbul ketika ada hal yang kurang sesuai dengan dirinya

maupun kurang sesuai dengan kenyataan yang ada. Selain itu,

lingkungan sekitar dapat mempengaruhi emosi marah

seseorang, baik keluarga ataupun teman.

23
2. Perkembangan Emosi Remaja

Menurut Hurlock (1991: 213) menjelaskan bahwa remaja tidak

lagi mengungkapkan amarahnya dengan gerakan amarah yang

meledak-ledak, melainkan dengan menggerutu, tidak mau berbicara

atau bersuara keras, mengkritik orang-orang yang menyebabkan

amarah.

Masa remaja merupakan masa peralihan antara masa kanak-

kanak ke masa [Link] masa ini, remaja mengalami

perkembangan mencapai kematangan fisik, mental, sosial, dan

[Link] biasanya memiliki energI yang besar, emosi

berkobar-kobar, namun pada pengendalian diri belum sempurna.

Selain itu, remaja sering mengalami perasaan tidak aman, tidak tenang

dan terkadang khawatir akan kesepian. Perkembangan emosi remaja

terlihat dari beberapa tingkah laku emosional, misalnya agresif, rasa

takut yang berlebihan, tingkah laku yang menyakiti diri sendiri

(Mohammad Ali & Mohammad Asrori, 2005: 67).

Mohammad Ali & Mohammad Asrori (2005: 76)menjelaskan

bahwa karakteristik perkembangan emosi remaja sejalan dengan

perkembangan masa remaja dapat terlihat dari:

a. Perubahan fisik tahap awal pada periode praremaja disertai

kepekaan terhadap rangsangan dari luar menyebabkan respons

yang berlebihan. Sehingga mereka mudah tersinggung, namun juga

cepat merasa senang hingga meledak-ledak.

24
b. Perubahan fisik yang semakin jelas pada peride remaja awal

menyebabkan remaja cenderung menyendiri, sehingga tidak jarang

remaja merasa dirinya terasing, kurang perhatian dari orang lain

dan terkadang merasa tidak ada yang mempedulikannya.

c. Periode remaja sudah semakin menyadari pentingnya nilai-nilai

yang dapat dipegang teguh, sehingga jika melihat fenomena yang

terjadi di masyarakat yang menunjukkan adanya kontradiksi

dengan nilai-nilai moral yang menyebabkan remaja seringkali

secara emosional ingin membentuk nilai-nilai yang dianggapnya

benar, baik, dan pantas untuk dikembangkan di lingkungan remaja

tersebut.

d. Periode remaja akhir mulai memandang dirinya sebagai orang

dewasa dan mulai mampu menunjukkan pemikiran, sikap, dan

perilaku yang semakin dewasa. Dari hal tersebut, orang tua dan

lingkungan masyarakat mulai memberikan kepercayaan dalam

bertingkah laku. Interaksi sosial juga dapat terlihat lebih baik dan

lancar karena sudah lebih terkontrol dan emosinya mulai stabil.

Emosi remaja seringkali meluap-luap terlihat dari emosi

marah yang lebih mudah timbul apabila dibandingkan dengan

emosi lainnya dalam kehidupan [Link] remaja

direndahkan, dipermalukan ataupun dipojokkan dihadapan teman-

temannya. Perkembangan emosi marah memberikan pengaruh yang

25
besar terhadap kehidupannya, cara mengontrol emosi marah dan

mengekspresikan emosi marah tersebut.

3. Pengelolaan Emosi Marah

a. Pengertian Pengelolaan Emosi Marah

Pengelolaan emosi menurut teori yang dikembangkan oleh

Freud (Robik Anwar Dani, 2011) adalah pengelolaan terhadap

dorongan-dorongan [Link] dorongan-dorongan ini

dilakukan melalui pengembangan ego sebagai penengah antara id

dan super ego.

Sedangkan menurut Adler (Robik Anwar Dani, 2011)

pengelolaan emosi marah merupakan suatu tindakan yang

menyebabkan seseorang mengatur emosi atau mengelola

[Link] ini meliputi kecakapan untuk tetap tenang,

menghilangkan kegelisahan, kesedihan, atau sesuatu yang

dianggapknya menjengkelkan.

Kemarahan merupakan emosi pertama yang perlu

diwaspadai seseorang, tetapi jarang merupakan emosi pertama

yang seseorang alami dalam situasi khusus [Link] yang

sering mendahului kemarahan adalah takut, sakit hati atau

[Link] hadirnya emosi kemarahan tidak menjadi

[Link] yang sebenarnya adalah ketidakmatangan emosi

26
dari seseorang yang membiarkan dirinya sendiri dikendalikan oleh

energi kemarahan tersebut. (Norman Wright, 2000: 85).

Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan, bahwa

pengelolaan emosi marah merupakan tindakan untuk mengatur

pikiran, perasaan, emosi marah yang ada pada dirinya dengan cara

yang tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain dan bertindak

secara positif.

b. Aspek-Aspek dalam Mengelola Emosi Marah

Menurut Goleman (Robik Anwar Dani, 2011) ada beberapa

aspek dari pengelolaan emosi marah, yaitu:

1) Mengenali emosi marah

Mengenali emosi marah merupakan kemampuan untuk

mengenali perasaan marah sewaktu perasaan marah itu muncul,

sehingga seseorang tidak dikuasai oleh emosi [Link]

yang memiliki kemampuan dalam mengenali emosi marah

dapat bereaksi secara tepat dan pada saat yang tepat terhadap

kemarahan yang muncul. Mengenali emosi marah dapat

dilakukan dengan mengenali tanda-tanda awal yang menyertai

kemarahan, seperti: denyut nadi terasa kencang, jantung

berdetak keras, rahang terasa kaku, otot menjadi tegang,

sekujur tubuh terasa panas, mengepalkan tinju, berjalan cepat-

cepat, gelisah, tidak bisa beristirahat atau duduk dengan tenang,

27
berbicara dengan lebih cepat atau keras, berpikir akan

mengamuk atau balas dendam dan lain-lain. Selain itu,

seseorang juga dapat lebih peka mengenali emosi marah

dengan cara mengenali situasi-situasi atau hal-hal apa saja yang

menjadi pemicu munculnya kemarahan.

Kurangnya kemampuan mengenali emosi marah, dapat

menyebabkan seseorang tidak mampu untuk mengendalikan

emosinya serta bereaksi secara tidak sesuai dan [Link]

tersebut juga berdampak pada kebingungan dalam mengenali

secara pasti emosi yang sedang dialaminya, sehingga seringkali

seseorang bereaksi secara tidak tepat terhadap situasi

emosional.

2) Mengendalikan emosi marah

Seseorang yang dapat mengendalikan emosi marah

tidak membiarkan dirinya dikuasai oleh emosi marah, dapat

mengatur emosinya dan menjaga keseimbangan emosi,

sehingga emosi marah tidak berlebihan dan tidak terjadi pada

tingkat intensitas yang [Link] yang tidak terkendali

dapat menimbulkan perilaku-perilaku yang agresif baik secara

verbal maupun non verbal. Hal ini tentunya dapat merusak

relasi dengan orang lain dan merugikan bagi diri sendiri.

28
3) Meredakan emosi marah

Merupakan suatu kemampuan untuk menenangkan diri

sendiri setelah seseorang [Link] satu strategi efektif yang

dilakukan secara umum untuk meredakan kemarahan adalah

pergi menyendiri. Seseorang akan mengalami kesulitan untuk

meredakan amarahnya, apabila pikirannya masih dipenuhi oleh

kemarahan. Pemikiran tentang rasa marah sekecil apapun

dapat mencetuskan kembali perasaan marah yang lebih besar.

Untuk menghentikan pikiran marah, dapat ditempuh dengan

cara mengalihkan perhatian dari apa yang memicu amarah

tersebut. ada beberapa cara yang sering digunakan untuk

mengatasi amarah, dengan melakukan kegiatan selingan dapat

menghambat pikiran-pikiran buruk yang menimbulkan amarah,

yaitu dengan cara menonton film, membaca, mendengarkan

musik dan semacamnya.

4) Mengungkapkan emosi marah secara asertif

Seseorang yang asertif dapat mengungkapkan perasaan

marahnya secara jujur dan tepat tanpa melukai perasaan orang

lain. Orang yang asertif dapat membela hak-hak pribadinya,

mengekspresikan perasaan yang sebenarnya, menyatakan

ketidaksenangan, mengungkapkan pendapat pribadi,

mengajukan permintaan dan tidak membiarkan orang lain

mengambil keuntungan dari dirinya. Pada saat yang

29
bersamaanjuga mempertimbangkan perasaan dan hak-hak

orang lain.

Perilaku asertif tentunya sangat menguntungkan bagi

diri sendiri dan juga tidak merugikan orang lain. Dengan

berperilaku asertif, seseorang dapat berkomunikasi dengan baik

serta menjalin relasi yang sehat dengan orang lain.

Selain itu, Menurut Norman Wright (2000: 81-82) terdapat

tiga karakter utama dalam menghadapi emosi marah yaitu:

1) Harus terkendali

Meskipun penyebab emosi marah beralasan dan

terarah pada ketidakadilan, kemarahan yang tidak

terkendali dapat menyebabkan kesalahan dalam penilaian

dan menambah kesulitan. Namun pikiran harus dapat

mengendalikan emosi-emosi sehingga kemampuan untuk

bernalar tidak hilang

2) Harus tidak ada rasa benci, dendam atau sakit hati dalam

kemarahan

Kemarahan yang merupakan serangan balasan

hanya akan mempersulit situasi.

3) Motivasi dalam kemarahan tidak didasari rasa egois

Apabila seseorang tidak dapat mengontrol emosi

marah biasanya yang terlihat dalam sikapnya adalah sikap

egois, kesombongan dan rasa sakit hati. Kemarahan yang

30
terarah dalam bentuk perilaku yang tidak mementingkan

dirinya sendiri dan tidak menyalahkan orang lain atas

kemarahannya.

Berdasarkan penjelasan di atas, bahwa aspek-aspek

dalam mengelola emosi marah dapat dilihat dari cara

seseorang menerima emosi marah dan

mengekspresikannya. Mengelola emosi marah dilakukan

dengan mengendalikan dan tidak mengabaikan lingkungan

sekitar. Apabila seseorang mampu mengelola emosi marah

secara asertif maka akan lebih tenang dalam menghadapi

permasalahannya dan tidak merugikan diri sendiri maupun

orang lain.

c. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengelolaan Emosi Marah

Goleman (Robik Anwar Dani, 2011) menyebutkan bahwa

tumbuhnya emosi pada diri individu disebabkan oleh pengaruh dari

luar. Emosi positif timbul karena suasana hati atau faktor

lingkungan yang mendukung ke arah positif pada diri seseorang.

Begitu juga halnya dengan emosi [Link] beberapa faktor yang

diidentifikasi mempengaruhi kemampuan seseorang dalam

mengelola emosi marah yaitu:

31
1) Keluarga

Kehidupan keluarga merupakan sekolah pertama

untuk mempelajari [Link] karena itu, keluarga memiliki

peran yang sangat penting di dalam keluarga. Anak belajar

bagaimana merasakan perasaannya sendiri, bagaimana orang

lain menanggapi perasaannya, bagaimana berpikir tentang

perasaannya dan pilihan-pilihan apa yang dimiliki untuk

bereaksi, serta bagaimana mengungkapkan perasaannya

terhadap orang lain.

2) Gaya mendidik

Gaya mendidik orang tua juga sangat berpengaruh

bagi pembelajaran emosi di dalam keluarga. Ada tiga gaya

mendidik anak yang secara emosional pada umumnya tidak

efisien, yaitu:

a) Sama sekali mengabaikan perasaan

Orang tua semacam ini memperlakukan masalah

emosional anaknya sebagai hal kecil, yang terlihat dalam

bentuk menyepelekan emosi [Link] mendidik orang

tua jenis ini gagal memanfaatkan momen emosional sebagi

peluang untuk menjadi dekat dengan anak, atau untuk

menolong anak memperoleh pelajaran-pelajaran dalam

keterampilan emosional.

32
b) Terlalu membebaskan

Orang tua yang terlalu membebaskan bahwa apa

pun yang dilakukan anak untuk menangani badai emosinya

sendiri itu baik adanya, bahkan misalnya dengan cara

memukul. Seperti orang tua yang mengabaikan perasaan

anaknya, orang tua jenis ini jarang berusaha

memperlihatkan kepada anaknya respons-respons

emosional [Link] yang sering dilakukan dengan

memberikan hadiah ataupun sesuatu yang membuat anak

senang yang bertujuan agar anak berhenti marah.

c) Menghina, tidak menunjukkan penghargaan terhadap

perasaan anak

Orang tua yang seperti ini biasanya suka mencela,

mengecam, dan menghukum keras anak [Link],

mereka mencegah setiap ungkapan kemarahan anak dan

menjadi kejam bila melihat tanda kemarahan paling kecil

sekalipun. Mereka adalah orang tua yang akan berteriak

dengan marah pada anak yang mencoba menyampaikan

alasannya, “Jangan membantah!”.

3) Lingkungan Sosial

Lingkungan sosial mencakup lingkungan sekolah, yaitu

pendidikan yang anak dapat di sekolah, hubungan dengan

teman-temannya, serta bagaimana sikap [Link]

33
sosial, terutama teman sebaya (peers group) merupakan

kumpulan orang-orang lain yang cukup berpengaruh terhadap

perkembangan emosi [Link] secara tidak langsung

lingkungan sosial juga membantu anak untuk mencapai

kematangan emosi.

Berdasarkan penjelasan di atas, bahwa faktor-faktor

yang mempengaruhi dalam pengelolaan emosi marah adalah

keluarga dan lingkungan [Link] belajar memahami

perasaannya, menanggapi perasaan dan mengekspresikan

perasaan tersebut dengan tepat.

d. Langkah-Langkah dalam Mengelola Emosi Marah

Menurut Michael Hersorn (2002: 21) terdapat 4 langkah

dalam mengelola emosi [Link] membantu mengingatnya,

dengan menggunakan huruf-huruf yang ada dalam namadr. Ah.

Langkah-langkah tersebut:

1) Decide. Memutuskan untuk membuat sebuah komitmen.

Seseorang yang mengalami permasalahan dalam hal

mengelola emosi marah harus mempunyai sebuah komitmen

yang kuat untuk mengubah dirinya. Dengan adanya komitmen

yang kuat seseorang akan semakin termotivasi untuk belajar

mengelola emosi marah.

34
2) Recognize. Mengenali petunjuk, tanda, isyarat kemarahan

Setiap orang memegang kendali pada saat bertindak

atas dasar [Link] kemarahan pasti memiliki tanda-

tanda isyarat [Link] tersebut bersifat fisiologis, tingkah

laku dan [Link] belajar mengenali tanda-tanda

isyarat awal kemarahan, seseorang dapat lebih sungguh-

sungguh memegang kendali atas tindakan kemarahannya.

3) Activate. Mengaktifkan respons relaksasi

Relaksasi merupakan langkah yang dapat

mengurangi stress secara umum, mengurangi kemarahan

ketika tanda-tanda peringatan awal kemarahan muncul.

4) Halt. Berhentimengambil jeda dari situasi marah

Waktu jeda merupakan waktu dimana seseorang

menjauhi situasi yang mengakibatkan kemarahan. Waktu jeda

berguna untuk menenangkan diri sehingga seseorang dapat

menangani kemarahan dengan cara yang lebih baik. Selama

waktu jeda seseorang dapat terlibat dalam suatu kegiatan yang

bersifat berlawanan dengan kemarahan, yaitu relaksasi.

Selain itu, langkah yang dapat digunakan seseorang

dalam mengekspresikan emosi marah menurut James J.

Messina (2004: 21):

35
1) Repression

Seseorang yang mengalami emosi marah tetapi segera

melupakan perasaan marahnya

2) Displacement

Memiliki perasaan marah terhadap seseorang atau benda yang

sebenarnya bukan orang atau benda tersebut target dari

amarahnya

3) Controlling

Menahan dan mengendalikan secara emosional badai amarah

yang sedang berlangsung dalam dirinya

4) Suppression

Bagi seseorang yang mengalami perasaan marah tetapi

dipendam, sehingga tidak ada pengekspresian marah tersebut

5) Quiet crying

Penekanan perasaan marah dengan tanpa proses verbal atau

fisik seperti menangis. Cara ini dapat meredakan emosi marah

dan mengubahnya menjadi kesedihan dan perasaan sakit dalam

diri orang tersebut.

6) Assertive confrontation

Suatu respon langsung yang tegas terhadap seseorang atau

benda yang membuat atau membangkitkan emosi marah

7) Overreaction

36
Merusak atau menyakiti secara fisik suatu benda atau

seseorang yang sebenarnya benda atau orang tersebut bukan

sasaran emosi marah yang sesungguhnya.

Triantoro Safaria dan Nofrans Eka Saputra (2012:

86) menjelaskan empat langkah pendekatan dalam menangani

emosi marah yaitu:

1) Menerima perasaan marah

Apabila di masa yang akan datang seseorang merasa

marah, berusaha untuk menerima dengan cara tidak

mengingkari perasaan, menolak emosi marah tersebut atau

mencoba untuk menutupinya dengan memendam emosi

marah. Karena ketika emosi marah diabaikan maka akan

semakin berbahaya bagi diri sendiri.

2) Menggali sumber marah

Berusaha mencari sumber emosi marah, apabila

sumbernya merupakan sesuatu yang dikatakan seseorang

yang menyinggung perasaan, terlebih dahulu bertanya

kepada diri sendiri dengan introspeksi diri mengapa kata-

kata atau perilaku orang lainmembuat marah. Apabila

sumbernya sesuatu yang dilakukan atau tidak dilakukan

oranglain, mencoba mencari alasan mengapa seseorang

sampai merasa [Link] menggali sumber kemarahan

37
hingga menemukan jawabannya, maka nantinya

seseorangakan mengetahui akar dari kemarahan tersebut.

3) Mengekspresikan perasaan marah secara tepat

Cara paling efektif untuk mengelola kemarahan

adalah dengan mengungkapkannnya dan

mengomunikasikannya secara verbal dengan asertif.

Kemarahan yang dipendam dapat menjadi bom waktu,

yang sewaktu-waktu nantinya akan meledak dan tidak

dapat dikendalikan sehingga menjadi amuk.

4) Melupakan masalah yang membuat marah

Langkah terakhir ini merupakan langkah yang

cukup sulit dan juga paling penting, begitu seseorang sudah

menyampaikan perasaan kepada orang yang membuat

marah, mencoba melupakan masalah tersebut. Berubah

atau tidaknya sikap orang lain, tidak menjadikan masalah,

yang terpenting telah mengekspresikan dan

mengomunikasikan kemarahan secara sehat dan asertif.

Selain itu menurut Anthony Dio Martin (2003: 247)

meskipun kemarahan tidak dapat dibendung, ekspresi

dalam emosi marah dapat dikendalikan dengan berbagai

upaya, diantaranya:

38
1) Fokus pada masalah, bukan perasaan

Ketika orang lain mencela pekerjaan yang telah

dilakukan dengan usaha tekun, seseorang bisa saja marah.

Karena terlalu fokus dengan kemarahan diri kita sendiri,

akibatnya kemarahan yang ada pada diri kita yang akan

memuncak. Dengan berbalik mencari-cari atau

mengungkit-ungkit kesalahan yang pernah dilakukan

oranglain, nantinya akan membuat kita semakin marah.

2) Jangan cepat berasumsi, lakukan cek dan ricek masalah

Ketika seseorang memiliki persepsi tertentu

terhadap orang lain, apalagi persepsi negatif, orang itu

sering menjadi tidak rasional. Apapun yang dilakukan

orang lain tersebut akan dinilai negatif. Cek terlebih dahulu

kebenarannya sebelum anda marah.

3) Menunda reaksi

Reaksi marah yang tidak terkontrol akan berbahaya.

Akibatnya bukan masalahnya yang selesai, namun akan

tambah runyam. Dengan sejenak memikirkan penyelesaian

yang lebih baik, tenang sejenak dari perasaan marah.

4) Jangan terlalu menuntut

Kemarahan juga dapat terjadi karena frustasi,

jengkel karena adanya tuntutan yang tidak terpenuhi. Hal

tersebut dapat terjadi karena seseorang menetapkan standar

39
yang terlalu tinggi, sehingga ketika harapannya tidak

tercapai, dengan mudahnya emosi marah yang ada dalam

dirinya akan keluar. Ketika emosi marah telah menguasai,

seseorang akan sulit untuk berpikir rasional bagaimana

mencari cara untuk mengatasi suatu masalah.

5) Jangan terimbas oleh sebab lain

Banyak kemarahan terjadi karena penyebab-

penyebab lain yang tidak berhubungan [Link]

seseorang sebenarnya telah menyimpan suatu emosi

tertentu pada seseorang. Maka ketika orang lain melakukan

satu kesalahan kecil berikutnya, meledaklah emosi

marahnya.

6) Merusak pola kemarahan dengan pikiran lain

Setiap orang memiliki pola kemarahan yang

berbeda-beda. Ada yang langsung membalas, ada yang

dengan cara memaki-maki, ada yang teriak-teriak dan ada

pula yang melempar barang-barang yang ada. Sebenarnya

cara tersebut dapat dialihkan.

7) Membangun sayap-sayap emosi

Seseorang membutuhkan tempat untuk

mengekspresikan emosi marah dengan tepat untuk

mengurangi tingkat emosi marah yang ada dalam

[Link] menyadari suhu thermometer emosinya

40
sangatpenting untuk segera [Link],

emosi yang tinggi bukan saja menguras energi, namun juga

berpotensi memicu berbagai penyakit [Link]-sayap

emosi merupakan komentar atau kata-kata yang bertujuan

untuk mengurangi ketegangan emosi yang sedang

[Link] adanya sayap-sayap emosi ini, bukan saja

seseorang dapat bersikap lebih relaks dalam menghadapi

masalah-masalah kecil yang datang silih berganti

memancing emosi [Link], dapat lebih terkendali

dalam mengatur energi emosi marah seseorang.

8) Melakukan emotionalde-stressing

Emotionalde-stressing yang biasanya dalam dunia

psikologi disebut dengan katarsis yang berarti

“menyucikan” atau “ membersihkan” perasaannya yang

tertekan saat menyaksikan suatu drama atau pertunjukkan.

Seseorang perlu melakukan Emotionalde-stressinguntuk

menyucikan atau membersihkan pikirannya dari energi

negatif untuk menggantinya dengan energi positif sehingga

dapat mengekspresikan emosi marah dengan tepat

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan

langkah-langkah dalam mengelola emosi marah yaitu

dengan menenangkan pikiran terlebih dahulu, melupakan

sejenak emosi marah untuk mendapatkan pikiran yang

41
jernih sehingga permasalah dapat terselesaikan dengan

baik. Selain itu, terlebih dahulu mencari penyebab

seseorang merasa marah dengan melakukan cek dan ricek

yang nantinya akan diketahui penyebab emosi marah yang

sebenarnya. Tanpa menuduh atau menyalahkan orang lain

yang tidak terlibat di dalamnya.

B. Teknik Expressive Writing (Menulis Ekspresif)

1. Pengertian Expressive Writing (Menulis Ekspresif)

Menurut Foulk & Hoover ( Intan Imannawati, 2013: 28)

expressive writing adalah kegiatan menulis, tetapi bukan menulis

kreatif melainkan menuliskan pengalaman yang telah dilakukannya,

dan dikomunikasikan untuk orang lain. Sedangkan menurut

Perwadarminta (Ekawati Istiana, 2007: 45) Expressive writing

merupakan pengalaman batin atau emosi dapat dirumuskan sebagai

kegiatan untuk mencurahkan segala pikiran perasaan, dan pengalaman-

pengalaman yang bermakna pada suatu tulisan. Teknik expressive

writing ini merupakan salah satu bentuk terapi yang dapat digunakan

untuk mengelola emosi marah.

Pennebaker (Reyza Dahlia Murti dan Hamidah, 2012: 3)

menjelaskan bahwa expressive writing ialah belajar menyatukan isi

pikiran, mengingat peristiwa traumatis yang pernah dialami untuk

dihadirkan kembali ke dalam pikiran [Link] hal-hal yang

42
ingin disampaikan melalui tulisan, dan melatih emosi agar terbiasa

menghadapi kembali peristiwa yang awalnya dianggap traumatis.

Cameron dan Nicholls (1998) menjelaskan bahwa Expressive

writing merupakan penyesuaian terhadap peristiwa-peristiwa yang

penuh tekanan dengan mengintegrasikan keyakinan, emosi dan

pengalaman, sehingga seseorang dapat lebih baik memahami peristiwa

dan mengidentifikasi cara-cara untuk mengatasinya.

Dapat disimpulkan bahwa expressive writing merupakan

kegiatan dalam mengekspresikan atau mengungkapkan segala

perasaannya, pikiran maupun pengalaman yang berkaitan dengan

emosi dari dalam dirinya melalui tulisan tanpa memikirkan aturan

dalam [Link] seseorang dapat dengan bebas

mengekspresikan emosinya.

2. Bentuk-Bentuk Expressive Writing (Menulis Ekspresif)

Farida Harahap (2012: 1) menjelaskan bahwa bentuk tulisan

dalam expressive writing antara lain:

a. Journal therapy (terapi jurnal): katarsis dan refleksi secara

mendalam dan penuh tujuan, sebagai tujuan terapeutik melalui

proses atau integrasi dalam menulis. Istilah jurnal dan diari sering

dipertukarkan, padahal perbedaannya adalah jurnal lebih bersifat

curahan perasaan yang terdalam lebih fokus dan lebih reflektif

sementara diari bersifat lebih dangkal dan merupakan catatan

43
perasaan terhadap peristiwa dan kegiatan yang dilakukan sehari-

hari.

b. Therapeutic writing (terapi menulis): terapi menulis yang

melibatkan partisipasi secara terus menerus dan observasi

perjalanan hidup yang telah dialami, trauma, hikmah, pertanyaan,

kekecewaan, rasa senang untuk mendorong timbulnya pemahaman,

insight, penerimaan dan pertumbuhan diri.

c. Chatartic writing (menulis katarsis): menulis katarsisberfokus pada

ekspresi kesadaran afeksi yang tinggi dan eksternalisasi perasaan

dalam bahasa dan tulisan.

d. Reflective writing (menulis refleksi), meningkatkan pengamatan

diri, meningkatkan kesadaran adanya ketidaksinambungan pikiran

dengan tubuh, internal dg eksternal, pikiran dengan perasaan atau

harapan dengan hasil.

Menurut Foulk & Hover (Intan Imannawati, 2013: 31)

beberapa contoh expressive writing untuk siswa yang diberikan di

dalam kelas yaitu:

a. Pengamatan pada kondisi cuaca baru-baru ini dan bagaimana

mereka dapat menganalisis dan menuliskannya.

b. Catatan diambil selama seminar, termasuk daftar fakta, deskripsi

rumit, atau marjinal bahkan singkat ketidaksetujuan atau

kebingungan yang dialami siswa.

44
c. Catatan yang dialami saat membaca sebuah artikel jurnal, bahkan

mungkin hanya menuliskan dalam beberapa kalimat.

d. Sebuah daftar ide yang dihasilkan dari diskusi anda miliki dengan

seorang rekan.

e. Sebuah daftar pertanyaan yang ingin ditanyakan siswa kepada

seseorang.

f. Sebuah draft atau sebuah artikel di mana guru membiarkan siswa

untuk menulis dengan bebas.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa

bentuk-bentuk dalam expressive writing diantaranya adalah

menulis katarsis maupun menulis refleksi yang berdasarkan pada

pikiran seseorang maupun bahasa tulisanyang secara tidak

langsung dapat mendeskripsikan keadaan seseorang pada saat itu.

3. Manfaat Expressive Writing ( Menulis Ekspresif)

Manfaat expressive writing menurut Pennebaker & Chung (

2007: 21) ialah sebagaiterapi
yang
mampu
untuk
mengembangkan

pemahaman dalam menghadapi permasalahandan
reaksi
terhadap

permasalahan tersebut. Expressive writing menyediakan peluang bagi

seseorang untuk memantulkan perasaanya secara emosional dalam

bentuk peningkatan penggunaan kata-kata penyampaian emosi selama

interaksi [Link] tersebut dapat meningkatkan perbaikan dalam

stabilitas hubungan.

45
Menurut Boals
&
Klein (Pennebaker & Chung, 2007: 20)

manfaatdariexpressive writing
adalahmendapatkanperbaikan ketika

terdapat hal yang mengganggu
pikiran.

Expressive writing ini dapat diterapkan pada anak-anak,

remaja, orang dewasa, pasangan suami istri, individual maupun

kelompok (Farida Harahap, 2012: 1) Manfaatnya antara lain:

a. Mengeksternalisasi masalah sehingga seseorang dapat

mengekspresikan emosinya secara tepat, memisahkan masalah dari

diri, mengurangi munculnya gejala-gejala negatif akibat timbulnya

masalah (pusing, sakit perut, dll), meningkatkan insight, dan

meningkatkan pemberdayaan diri

b. Meningkatkan motivasi untuk berubah meskipun dalam situasi

krisis atau darurat baik secara individual maupun kelompok.

c. Mengurangi rasa frustrasi karena keinginan yang tidak terpenuhi

atau tidak tercapai Bagi seseorang yang patah hati, kehilangan

pekerjaan, remaja yang sedih karena orang tua bercerai atau suami

dan istri yang baru bercerai atau kematian pasangan hidupnya dapat

mencurahkan perasaan negatifnya melalui tulisan. Penelitian Soper

dan Bergen (Farida Harahap, 2012: 1) menunjukkan konseling

melalui tulisan bermanfaat untuk memverbalkan emosi negatif,

menghilangkan pikiran irasional, sebagai katarsis yang melegakan,

dan meredakan perasaan yang tadinya berkecamuk.

46
Ekawati Istiana (2007: 51) menyebutkan manfaat dari expressive

writing adalah:

a. Dapat memahami dan memaknai diri sendiri dan peristiwa yang

meningkat.

b. Menulis dapat mengurangi efek dari pengekangan.

c. Dapat menjernihkan pikiran akibat kekurangmampuan dalam

memaknai peristiwa.

d. Dapat digunakan untuk mengatasi trauma karena menulis mengenai

kemarahan, kesedihan dan emosi lain yang menyakitkan membantu

melepaskan intensitas perasaan-perasaan tersebut.

e. Menulis dapat membantu menganalisis masalah sehingga seseorang

bisa mengambil keputusan untuk memecahkan masalah pribadinya.

Penyelesaian masalah juga dapat dipecahkan dengan lebih efektif

karena umumnya masalah dapat dipecahkan melalui otak kiri tetapi

kadang-kadang jawaban hanya dapat ditemukan dengan

menggunakan otak kanan yang bersifat kreatif dan intuitif.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa

manfaat expressive writing dapat menjadikan seseorang mampu

merefleksikan diri, lebih terbuka dalam mengungkapkan

perasaannya dan mengekspresikan perasaannya secara

[Link] menulis pengalaman emosional, seseorang dapat

memunculkan dan mencurahkan seluruh perasaan emosi, keinginan-

keinginannya bahkan segala sesuatu yang tersembunyi dalam dirinya

47
melalui tulisan yang sedang dirinya buat dengan [Link]

yang melakukan expressive writingakan belajar menyatukan

pikirannya, mengingat peristiwa traumatis yang pernah dialami

untuk dihadirkan kembali ke dalam pikiran, memilih hal-hal yang

ingin disampaikan melalui tulisan, dan melatih mengelola emosi

dengan baik.

C. Peningkatan Kemampuan Mengelola Emosi Marah melalui Teknik

Expressive Writing (menulis ekspresif)

Emosi marah merupakan salah satu jenis emosi yang dianggap

sebagai emosi dasar, marahpun sering bernilai negatif bagi seseorang.

Namun emosi ini dapat dikatakan emosi yang sehat apabila diekspresikan

secara bebas dan tepat sehingga tidak merugikan orang lain. Emosi,

pikiran, dan tingkah laku merupakan tiga hal yang saling

[Link] perasaan, pikiran dan tindakan saling mendorong

dan memperkuat dirinya sendiri. Semakin sering seseorang memikirkan

tentang kemarahannya semakin ia menjadi marah. Hal ini membawa

seseorang bertindak atas dasar kemarahannya tersebut.

Emosi marah pada remaja merupakan emosi manusia yang

[Link] remaja emosi marah lebih mudah timbul dibandingkan emosi

lainnya. Penyebab timbulnya emosi marah pada remaja ialah apabila

remaja tertekan, terhina, terhambat, diperlakukan seperti anak kecil,

merasa pendapatnya tidak didengarkan, merasa keinginannya tidak

48
terpenuhi oleh orang tua meskipun orang tuanya mampu, merasa terlalu

dikekang oleh orang tua ketika membina keakraban dengan lawan jenis,

frustrasi, dipermalukan atau dipojokkan dihadapan teman-temannya.

Berbagai cara yang dilakukan remaja dalam mengekespresikan emosi

marahnya. Sebagian dari remaja lebih suka memilih untuk memendam

emosi marahnya dari pada mengekspresikan keluar. Terlihat dari sikap dan

perilaku remaja dengan mengurangi aktivitas, sikap mengucilkan diri,

upaya bunuh diri, pikiran negatif tentang orang lain dan diri sendiri.

Salah satu cara untuk dapat mengelola emosi marah adalah dengan

menulis. Melalui expressive writing seseorang dapat menurunkan emosi

[Link] penelitian yang membuktikan bahwa menulis

pengalaman emosional mempunyai manfaat yang besar sebagai alat

terapeutik dalam beberapa permasalahan [Link] expressive writing

seseorang mampu meningkatkan perawatan diri dari kesedihan mendalam.

Hal ini disebabkan karena menulis digunakan sebagai media untuk

membuka diri sehingga seseorang lebih mampu untuk melakukan rawat

diri dengan lebih baik. Semakin sering menulis, diharapkan seseorang

dapat memperoleh gambaran mengenai peristiwa traumatisnya secara

menyeluruh sehingga semakin memahami peristiwa tersebut, berpikir luas

dan integratif, mampu melakukan refleksi diri, dan akhirnya memandang

peristiwa traumatis tersebut dari sudut pandang yang berbeda sehingga

mampu menemukan penyelesaiannya. Teknik expressive writing mampu

menurunkan emosi marah pada [Link] menulis, rasa marah

49
yang berlebihan dapat berkurang, menjadi lega dan lebih tenang karena

sudah mengungkapkan emosi marahnya. Teknik menulis pengalaman

emosional merupakan sarana bantu diri yang terbukti efektif menurunkan

depresi pada mahasiswa tahun pertama. Melalui expressive writing

seseorang dapat membicarakan pengalaman atau kejadian traumatis

mengenai pengalaman emosi yang tersembunyi untuk mendapatkan

wawasan dan cara penyelesaian dari trauma, dapat meningkatkan dan

memperbaiki suasana hati.

Mengelola emosi marah adalah suatu tindakan untuk mengatur

pikiran, perasaan, nafsu amarah dengan cara yang tepat dan positif serta

dapat diterima secara sosial, sehingga dapat mencegah sesuatu yang buruk

atau merugikan diri sendiri dan orang lain. Kemampuan mengelola emosi

meliputi kemampuan penguasaan diri dan kemampuan menenangkan

kembali.

D. Hipotesis Tindakan

Rumusan hipotesis berdasarkan teori dan kerangka pikir yang telah

diuraikan di atas, maka dapat diajukan hipotesis dalam penelitian tindakan

kelas ini adalah “Teknik Expressive writing (menulis

ekspresif)dapatmeningkatkan kemampuan mengelola emosi marah pada

siswa kelas XI di SMA Negeri 2 Bantul”.

50
BAB III
METODE PENELITIAN

A. Pendekatan Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatanpenelitian tindakan kelas.

Istilah dalam bahasa Inggris Penelitian Tindakan Kelas (PTK) biasa

disebut dengan Classroom Action Research (CAR).Suharsimi Arikunto

(2010: 129) menjelaskan bahwa penelitian tindakan kelas yaitu penelitian

tentang hal-hal yang yang terjadi di masyarakat atau kelompok sasaran,

dan hasilnya langsung dapat dikenakan pada masyarakat yang

bersangkutan. Selanjutnya Salah satu karakterisiktik PTK adalah bersifat

kolaboratif yang artinya proses PTK selalu terjadi kerjasama antar guru,

antarpeneliti atau antarpeneliti dengan pihak-pihak yang terkait dalam

pemahaman, kesepakatan tentang permasalahan, pengambilan keputusan

yang akhirnya melahirkan kesamaan tindakan (action) (Trianto, 2011:

22).

B. Subjek Penelitian

Subjek penelitian adalah siswa kelas XI di SMA Negeri 2 Bantul

melalui teknik purposive, dimana penentuan subjek didasarkan atas

adanya karakteristik yang menunjukkan kurangnya kemampuan mengelola

emosi marah. Karakteristik yang menunjukkan kurangnya kemampuan

mengelola emosi marah siswa antara lain:

51
1. Sering menunjukkan emosi marah berdasarkan informasi dari guru

Bimbingan dan Konseling

2. Skor yang diperoleh dari hasil skala kemampuan mengelola emosi

marah rata-rata berada pada kategori rendah dan sedang

Peneliti mengambil subjek 17 siswa berdasarkan

karakteristik kurang dalam mengelola emosi marah berdasarkan

hasil skala emosi marah, observasi dan wawancara dengan guru

BK dan siswa.

C. Tempat dan Waktu Penelitian

1. Tempat penelitian

Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 2 [Link] RA Kartini,

Trirenggo, Bantul, Yogyakarta

2. Waktu penelitian

Pelaksanaan penelitian ini dimulai pada bulan November 2013 sampai

Mei 2014

D. Desain Penelitian

Penelitian tindakan kelas ini terdiri dari rangkaian kegiatan berupa

perencanaan, tindakan, dan pengamatan, serta [Link]

menggunakan penelitian tindakan model spiral. Gambar 1 berikut ini

memaparkan model visualisasi bagan yang disusun oleh Kemmis & Mc

Taggart (Suharsimi Arikunto, 2010: 131):

52
Gambar 1. Proses Penelitian Tindakan

Siklus di atas dapat dijabarkan sebagai berikut:

1. Perencanaan

Mempersiapkan instrument yang berupa skala emosi marah.

Tahap persiapan dimulai dengan berkoordinasi dengan guru BK

terkait dengan subjek yang nantinya akan diteliti. Selain itu, peneliti

berkolaborasi dengan guru BK untuk menjalin hubungan yang baik

dengan siswa. Peneliti mempersiapkan materi yang akan diberikan

kepada siswa melalui teknik expressive writing dan berkoordinasi

dengan guru BK untuk menentukan jadwal pemberian tindakan.

2. Pelaksanaan tindakan

Pelaksanaan tindakan peneliti dibantu oleh guru BK dan

mahasiswa BK sebagai observer penelitian untuk membantu peneliti

dalam mengamati perilaku siswa di dalam kelas pada saat

[Link] tindakan tersebut mengacu pada rencana yang

telah disusun [Link] tahap ini melibatkan guru BK,

mahasiswa BK dan siswa.

53
3. Observasi

Observasi dilaksanakan pada saat dilakukannya tindakan dan

setelah dilakukannya tindakan peningkatan kemampuan mengelola

emosi marah siswa melalui teknik expressive writing. Observasi ini

meliputi antusias siswa dalam proses tindakan, suasana di dalam kelas

ketika mengikuti tindakan, dan hambatan yang dialami ketika

menggunakan teknik expressive writing.

4. Refleksi

Tahap refleksi ini, data yang telah terkumpul kemudian

dianalisis sebagai hasil [Link] dari data yang telah dianalisis,

peneliti dapat mengetahui apakah pendekatan yang dilakukan dapat

meningkatkan kemampuan mengelola emosi marah siswa atau

[Link] mengetahui hasil dari refleksi, maka hasil tersebut dapat

digunakan sebagai bahan acuan untuk merencanakan tindakan pada

siklus selanjutnya yang lebih efektif.

E. Variabel Penelitian

Sugiyono (2007: 38) menyatakan variabel penelitian adalah segala

sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk

dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian

ditarik kesimpulannya. Variabel dalam penelitian ini adalah:

1. Variabel bebas (Independent Variable)

54
Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau yang

menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel terikat. Variabel

bebas dalam penelitian ini adalah expressive writing

2. Variabel terikat (Dependent Variable)

Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau yang

menjadi akibat, karena adanya variabel bebas. Variabel terikat dalam

penelitian ini adalah kemampuan mengelola emosi marah

F. Rancangan Tindakan

1. Pra Tindakan

Sebelum dilakukan rencana tindakan terlebih dahulu peneliti

melakukan beberapa langkah pra tindakan agar pelaksanaan tindakan

dapat berjalan sesuai dengang tujuan. Adapun langkah-langkah pra

tindakan sebagai berikut:

a. Peneliti melakukan observasi dan wawancara dengan guru

bimbingan dan konseling terkait dengan kemampuan mengelola

emosi marah pada siswa kelas XI di SMA Negeri 2 Bantul yang

masih rendah, kemudian peneliti menjelaskan teknik expressive

writing sebagai alternatif pengelolaan emosi marah.

b. Selain dengan guru bimbingan dan konseling, peneliti juga

bekerjasama dengan observer pendamping yaitu sesama mahasiswa

PPB/ BK UNY yang akan membantu peneliti dalam pelaksanaan

terhadap subjek penelitian.

55
c. Peneliti meminta izin kepada pihak sekolah untuk melakukan

penelitian

d. Peneliti menyebar angket kepada siswa kelas XI SMA Negeri 2

Bantul sebelum melakukan tindakan, untuk mengetahui tingkat

kemampuan pengelolaan emosi marah pada siswa.

2. Pemberian Tindakan

a. Perencanaan

Sebelum tindakan ini dilakukan perlu dilakukan beberapa

langkah:

1) Peneliti menyusun dan menyiapkan skala pre test,

kemudian menyebar skala pre test kepada siswa kelas XI

SMA Negeri 2 Bantul sebelum tindakan untuk mengetahui

untuk mengetahui tingkat kemampuan mengelola emosi

marah siswa,.

2) Setelah mengetahui hasilpre test kemudian peneliti

menentukan subjek penelitian yang memiliki kriteria dalam

kategori rendah dan sedang, yaitu siswa yang memiliki

permasalahan dalam kemampuan mengelola emosi marah.

3) Peneliti memberitahukan dan berkoordinasi dengan guru

bimbingan dan konseling mengenai hal-hal yang

berhubungan dengan tindakan-tindakan yang akan

dilakukan dalam penelitian.

56
4) Menyusun jadwal dan menentukan tempat pelaksanaan

tindakan penelitian bersama guru bimbingan dan konseling.

b. Tindakan dan observasi

Expressive writing akan dilaksanakan dalam 6 kali

tindakan. Tema atau jenis expressive writing akan disesuaikan

dengan indikator kemampuan mengelola emosi marah yang akan

ditingkatkan. Waktu pelaksanaan setiap expressive writing 20

menit. Pada setiap tindakan, instruksi yang diberikan sama, namun

dengan tema yang berbeda. Selama dua minggu ke depan siswa

diminta untuk menulis tentang emosi marah yang sering dirasakan

selama ini. Siswa diberikan kebebasan untuk benar-benar

mengeksplorasi perasaan dan pikiran mengenai hal [Link]

siswa melakukan expressive writing, siswa dapat mengaitkan

tulisan tersebut dengan pengalaman ketika masa kecil, hubungan

dengan orang tua, dengan teman bermain ataupun orang yang dekat

dengan siswa.

Apapun yang akan dituliskan oleh siswa, hal yang

terpenting adalah siswa dapat menuangkan perasaan dan pikiran

yang berkaitan dengan emosi marah yang terdalam dalam sebuah

tulisan. Semua tulisan akan menjadi rahasia. Siswa tidak perlu

memikirkan penggunaam ejaan, tata bahasa ataupun struktur

57
[Link] diminta untuk mengekspresikan emosi marah

melalui tulisan, sampai waktu habis.

Tindakan I

Tindakan pertama, merupakan pembukaan dan pengenalan

yang dilakukan dalam mengelola emosi marah siswa kelas XI

SMA Negeri 2 Bantul yaitu pertemuan pertama siswa sebagai

subjek penelitian, peneliti menjalin hubungan yang baik dengan

para siswa. Selanjutnya, membantu siswa untuk dapat memahami

apa yang dimaksud dengan kemampuan mengelola emosi marah

dan meminta siswa untuk menuliskan perasaan emosi marah yang

sering muncul. Kemudian, peneliti menginstruksikan siswa untuk

menulis selama 10 menit tanpa henti.

Tindakan II

Tindakan kedua bertujuan untuk membangun kesadaran diri

siswa terkait dengan kemampuan mengelola emosi marah, serta

melatih siswa terbuka terhadap emosi marah yang sering

[Link] mempersilahkan siswa untuk menuliskan

pengalaman emosi marah yang berhubungan dengan teman

bermain ataupun teman dekat.

Tindakan III

Tindakan ketiga bertujuan untuk melatih siswa terbuka

terhadap pengalaman emosi marah dengan diberikannya puisi

mengenai “kemarahan”.Setelah siswa membaca dan memahami isi

58
dari puisi tersebut, siswa diminta untuk menuliskan isi dari puisi

tersebut sesuai dengan pemahaman siswa.

Tindakan IV

Tindakan keempat bertujuan untuk mengungkapkan emosi

marah yang sampai saat ini belum diungkapkan dan masih

mengganjal pikiran ataupun [Link] meminta siswa

untuk menuliskan emosi marah yang sampai saat ini masih

terpendam.

Tindakan V

Tindakan kelima bertujuan meningkatkan kemampuan

siswa untuk mengelola emosi marah yang sedang dirasakannya

sehingga semakin fokus pada cara mengekspresikan emosi marah

ataupun perilaku yang dapat menyelesaikan masalah dan

mengontrol emosi marah tersebut. Peneliti meminta siswa untuk

menuliskan cara ataupun tindakan yang dapat ketika dalam situasi

marah.

Tindakan VI

Tindakan keenam bertujuan untuk melatih siswa

mengendalikan emosi marah yang berlebihan dan menyalurkannya

melalui tulisan. Siswa diminta untuk menulis surat yang dapat

ditujukan baik kepada dirinya sendiri maupun kepada orang lain

yang pernah berhubungan dengan emosi marah yang dirasakan

siswa.

59
c. Refleksi

Peneliti melakukan kegiatan refleksi setelah peneliti selesai

melakukan [Link] adalah untuk mengetahui sejauh

mana pengaruh teknik expressive writing dalam meningkatkan

kemampuan mengelola emosi marah pada siswa. Peneliti akan

melakukan refleksi pada setiap tindakan. Peneliti melakukan

evaluasi terhadap kegiatan expressive writing dan melihat

kekurangan ataupun hambatan yang terjadi sehingga dapat

dilakukan perbaikan untuk rencana [Link] ini

dilakukan dengan menggunakan [Link] yang diberikan

berfungsi sebagai post test.

Apabila dirasa sudah tidak ada kekurangan dalam

pemberian tindakan dan terjadi perubahan yang diinginkan yaitu

skala pengelolaan emosi marah siswa meningkat, maka penelitian

dapat [Link] apabila belum, maka dapat dilanjutkan

dengan siklus berikutnya untuk memperbaiki kekurangan pada

siklus sebelumnya.\

G. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data

1. Skala

Peneliti menggunakan skala Likert untuk mengetahui tingkat

kemampuan mengelola emosi marah siswa, untuk mengukur tinggi

rendahnya pengelolaan emosi marah [Link] skala mengelola

60
emosi marah ini disusun oleh peneliti yang terdiri dari 35 item. Dalam

skala likert responden diminta untuk menjawab suatu pernyataan

dengan pilihan jawaban yaitu Sangat Sesuai (SS), Sesuai (S), Tidak

Sesuai (TS), Sangat Tidak Sesuai (STS). Langkah-langkah untuk

membuat skala kemampuan mengelola emosi marah adalah sebagai

berikut:

a. Penyusunan Definisi Operasional

Kemampuan mengelola emosi marah merupakan

kemampuan untuk mengatur pikiran, perasaan, emosi marah yang

ada pada dirinya dengan cara yang tidak merugikan diri sendiri

maupun orang lain dan tindakan yang positif. Dalam penelitian ini

yang dimaksud kemampuan mengelola emosi marah adalah

persepsi siswa terkait dengan caramengelola emosi [Link]

cara yang dilakukan remaja ketika mengekspresikan emosi marah

berbeda-beda. Ketika emosi marah dipendam terus menerus

nantinya emosi tersebut akan meledak dan kurang terkendali.

Kemudian bagi remaja yang terlalu mengekspresikan emosi

marahnya, maka hal tersebut dapat merugikan dirinya maupun

lingkungan sekitar karena kurangnya kontrol dalam

mengekspresikan emosi [Link] kisi-kisi angket

kemampuan mengelola emosi marah disusun berdasarkan aspek-

aspek pengelolaan emosi marah menurut Goleman (Robik Anwar

Dani, 2011), antara lain:

61
1) Mengenali Emosi marah

Mengenali emosi marah merupakan kemampuan untuk

mengenali perasaan marah sewaktu perasaan marah itu

muncul, sehingga seseorang tidak dikuasai oleh emosi

[Link] yang memiliki kemampuan dalam mengenali

emosi marah dapat bereaksi secara tepat dan pada saat yang

tepat terhadap kemarahan yang muncul. Mengenali emosi

marah dapat dilakukan dengan mengenali tanda-tanda awal

yang menyertai kemarahan,

2) Mengendalikan emosi marah

Seseorang yang dapat mengendalikan emosi marah

tidak membiarkan dirinya dikuasai oleh emosi marah, dapat

mengatur emosinya dan menjaga keseimbangan emosi,

sehingga emosi marah tidak berlebihan dan tidak terjadi pada

tingkat intensitas yang tinggi.

3) Meredakan emosi marah

Merupakan suatu kemampuan untuk menenangkan diri

sendiri setelah seseorang [Link] satu strategi efektif yang

dilakukan secara umum untuk meredakan kemarahan adalah

pergi menyendiri. Seseorang akan mengalami kesulitan untuk

meredakan amarahnya, apabila pikirannya masih dipenuhi oleh

kemarahan.

62
4) Mengungkapkan emosi marah secara asertif

Seseorang yang asertif dapat mengungkapkan perasaan

marahnya secara jujur dan tepat tanpa melukai perasaan orang

lain.

b. Membuat kisi-kisi skala kemampuan mengelola emosi arah

Kisi-kisi dan instrument skala kemampuan mengelola

emosi marah disusun berdasarkan modifikasi dari penelitian Septya

Muti Fadhila (2013) berdasarkan aspek-aspek dalam mengelola

emosi marah menurut Goleman (Robik Anwar Dani, 2011).Tabel 1

berikut menjelaskan kisi-kisi kemampuan mengelola emosi marah.

Tabel 1. Kisi-kisi Skala Kemampuan Mengelola Emosi Marah

No Item
Variabel Sub Variabel Indikator Σ
+ -
Kemampuan 1. Mengenali 1.1. Memahami tanda-
4,5,6,
Mengelola emosi marah tanda awal emosi 1,2,3 7
7
Emosi marah
Marah 1.2. Mengidentifikasi 11,12,
8,9,10 6
emosi marah 13
1.3. Menghadapi emosi 14,15, 17,18,
7
marah yang dirasakan 16 19,20
2. Mengendalik 2.1. Memiliki kendali 23,24,
21,22
an emosi pikiran emosi marah 25 5
marah
2.2. Memiliki kendali 26,27,
perasaan emosi marah 28 29,30 5

2.3. Memiliki kendali


motorik emosi
31,32 33,34,
marah(verbal dan non 5
35
verbal)

2.4. Memiliki kendali 36,37,


39,40 5
fisiologi emosi marah 38
3. Meredakan [Link] mengetahui 41,42, 46,47,
10
emosi marah cara meredakan emosi 43,44, 48,49,

63
marah pada diri 45 50
4. Mengungkap 4.1. Mampu
51,52,
kan emosi mengungkapkan 54,55
53 5
marah secara emosi marah pada diri
asertif sendiri secara tepat
[Link]
mengungkapkan emosi 56,57,
59,60 5
marah pada orang lain 58
secara tepat
Jumlah: 30 30 60

c. Penyusunan item skala berdasarkan kisi-kisi

Setiap pernyataan dalam skala kemampuan mengelola

emosi marah menggunakan empat pilihan jawaban, yaitu selalu

(SL), sering (SR), jarang (J), dan tidak pernah (TP). Skor

pernyataan positif dimulai dari 1 untuk jawaban tidak pernah (TP),

2 untuk jawaban jarang (J), 3 untuk jawaban sering (SR), dan 4

untuk jawaban selalu (SL). Skor pernyataan negatif dimulai dari 1

untuk selalu (SL), 2 untuk sering (SR), 3 untuk jarang (J), dan 4

untuk tidak pernah (TP). Hasil angket nantinya akan menunjukkan

tingkat kemampuan mengelola emosi marah siswa. Semakin tinggi

skor yang diperoleh siswa maka semakin tinggi tingkat

kemampuan mengelola emosi marah siswa.

2. Observasi

Observasi merupakan suatu proses yang kompleks, tersusun

dari pelbagai proses biologis dan psikologis. Menurut Suharsimi

Arikunto (2010: 199) Observasi sebagai alat pengumpul data banyak

64
digunakan untuk mengukur tingkah laku individu ataupun proses

terjadinya suatu kegiatan yang dapat diamati ataupun proses terjadinya

suatu kegiatan yang dapat diamati baik dalam situasi yang sebenarnya

maupun situasi buatan. Observasi dilakukan oleh peneliti saat proses

expressive writing dilaksanakan, agar dapat dijadikan sebagai acuan

untuk melakukan perbaikan dalam tindakan selanjutnya. Instrumen

observasi berupa pedoman observasi yang dapat dilihat pada tabel 2

berikut.

Tabel 2. Pedoman Observasi pada Guru Bimbingan dan Konseling

No Aspek yang diobservasi Hal yang diungkap


1. Proses pelaksanaan Penyampaian materi kepada siswa
expressive writing
2. Hambatan siswa saat Fasilitas yang digunakan dalam
melakukan tindakan expressive writing

Tabel 3. Pedoman Observasi pada Subjek Penelitian

No Aspek yang diobservasi Hal yang diungkap


1. Proses pelaksanaan a. Perilaku siswa saat
expressive writing pelaksanaan Expressive
Writing
b. Suasana saat proses
expressive writing

2. Hambatan siswa saat Fasilitas penunjang expressive


melakukan tindakan writing

65
3. Wawancara

Sugiyono (2010: 194) berpendapat bahwa wawancara

digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin

melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang

harus diteliti, dan juga apabila peneliti ingin mengetahui hal – hal dari

responden yang lebih mendalam dan jumlah respondennya

sedikit/[Link] dilakukan peneliti untuk mewawancarai guru

bimbingan dan konseling serta siswa kelas XI SMA Negeri 2 Bantul

pada saat awal penelitian, proses expressive writing, dan akhir

[Link] wawancara awal dilakukan sebagai acuan dalam

melakukan proses penelitian. wawancara selanjutnya dilakukan setelah

pelaksanaan penelitian. Hal tersebut dilakukan untuk mengungkap

keberhasilan pelaksanaan kegiatan expressive writing dalam

meningkatkan kemampuan mengelola emosi marah pada siswa kelas

XI SMA Negeri 2 [Link] wawancara berupa pedoman

wawancara yang dapat dilihat pada tabel 4 dan tabel 5 berikut.

Tabel 4. Pedoman Wawancara dengan Guru Bimbingan dan

Konseling

No Aspek yang diteliti Hal yang diungkap


1. Proses pelaksanaan Kesesuaian rencana dengan proses
expressive writing expressive writing
2. Hasil pelaksanaan a. Keberhasilan expressive writing
expressive writing dalam meningkatksn kemampuan
mengelola emosi marah pada
siswa kelas XI SMA Negeri 2
Bantul
b. Tanggapan guru bimbingan dan
konseling terhadap hasil

66
pelaksanaan expressive writing
dalam meningkatksn kemampuan
mengelola emosi marah pada
siswa kelas XI SMA Negeri 2
Bantul
3. Kemampuan mengelola a. Aspek kognitif
emosi marah siswa b. Aspek afektif
c. Aspek psikomotorik

Tabel 5. Pedoman Wawancara dengan Subjek Penelitian

No Aspek yang diteliti Hal yang diungkap


1. Proses pelaksanaan a. Pemahaman tentang proses
expressive writing expressive writing
b. Menarik tidaknya proses
expressive writing yang telah
dilaksanakan
c. Suasana saat proses expressive
writing
2. Hasil pelaksanaan Manfaat expressive writing dalam
expressive writing meningkatkan kemampuan mengelola
emosi marah pada siswa kelas XI
SMA Negeri 2 Bantul
3. Kemampuan mengelola a. Kemampuan mengelola emosi
emosi marah marah siswa sebelum pelaksanaan
expressive writing
b. Manfaat kemampuan mengelola
emosi marah saat dilaksanakannya
expressive writing
d. Peningkatan kemampuan
mengelola emosi marah setelah
mengikuti expressive writing

Wawancara dalam penelitian ini dilakukan setelah

[Link] ditujukan kepada siswa terkait dengan

hambatan-hambatan yang dialami selama tindakan, hasil dari

tindakan, perbedaan siswa sebelum dan setelah melakukan

tindakan.

67
H. Uji Validitas dan Realibilitas Instrumen

1. Uji Validitas Instrumen

Uji validitas instrument merupakan suatu ukuran yang

menunjukkan pada tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan suatu

instrumen. Suatu instrumen yang valid atau sahih mempunyai validitas

yang [Link], instrumen yang kurang valid berarti memiliki

validitas yang rendah (Suharsimi Arikunto, 2010: 211).Sedangkan

menurut Burhan Nurgiyantoro, dkk (2004: 338) validitas instrument

dilakukan untuk mengetahui seberapa jauh instrumen penelitian

mampu mencerminkan isi sesuai dengan hal dan sifat yang

[Link] berarti bahwa instrumen tersebut dapat digunakan untuk

mengukur apa yang seharusnya diukur. Dalam penelitian ini, validitas

yang digunakan adalah validitas konstrak. Validitas konstrak dilakukan

dengan menghubungkan skor item instrumen dalam suatu faktor dan

menghubungkan skor faktor dengan skor total. Analisis skor dilakukan

dengan analisis Product Momentmenggunakan softwareSPSS For

Window Seri 16.0.

Dalam penelitian ini, skala diujicobakan kepada 18 responden

yang tidak terlibat dalam proses pemberian tindakan dalam penelitian.

Responden yang diambil adalah siswa kelas XI SMA Negeri 2

[Link] coba skala ini dilakukan pada 11 Maret 2014. Alasan

peneliti mengambil responden adalah karena memiliki persamaan

karakteristik yang sama dengan subjek, yaitu kemampuan mengelola

68
emosi marah. Data yang diperoleh kemudian diuji validitas dengan

menggunakan program komputer SPSS seri 16.

Bila korelasi tiap faktor tersebut positif dan ≥ 0,3 maka faktor

tersebut memiliki validitas yang baik. Sebaliknya apabila korelasi tiap

faktor tersebut ≤ 0,30 maka butir instrument itu tidak valid (Sugiyono,

2009: 124). Berdasarkan perhitungan terlihat ada 35 item sahih dan 25

item gugur dari total 60 item skala kemampuan mengelola emosi

[Link] rangkuman hasil uji validitas menggunakan SPSS-16,

item sahih dan gugur dapat dilihat dalam tabel 6 berikut ini:

Tabel 6. Rangkuman Item Sahih dan Item Gugur

Item Item
Variabel Sub Variabel Indikator
gugur Sahih
Kemampuan [Link] 1.1. Memahami tanda- 1,2,3,4,5 6
Mengelola emosi marah tanda awal emosi
Emosi marah
Marah 1.2. Mengidentifikasi 7,8,11 9,10,,12,
emosi marah 13
1.3. Menghadapi emosi 15,19 14,16,17,
marah yang 18,20
dirasakan
[Link] 2.1 Memiliki kendali 23 21,22,24,
an emosi pikiran emosi marah 25
marah
[Link] kendali 29 26,27,28,
perasaan emosi 30
marah
2.3. Memiliki kendali 31,33,34, 32
motorik emosi 35
marah(verbal dan
non verbal)

2.4. Memiliki kendali 38,39 36,37,40


fisiologi emosi
marah
3. Meredakan 3. Mampu mengetahui 41,43,47,4 42,44.,45,
emosi marah cara meredakan 8 46,49,50

69
emosi marah pada
diri
4. Mengungkap 4.1. Mampu 54,55 51,52, 53
kan emosi mengungkapkan
marah secara emosi marah pada
asertif diri sendiri secara
tepat
[Link] 57 56,58,59,
mengungkapkan 60
emosi marah pada
orang lain secara
tepat
Jumlah: 25 35

2. Uji Reliabilitas Instrumen

Uji reliabilitas bertujuan untuk melihat sebuah instrument atau

mengukur sejauh mana suatu instrument mampu menghasilkan skor-

skor secara [Link] Suharsimi Arikunto (2010: 221)

menjelaskan bahwa reliabilitas merujuk pada satu pengertian bahwa suatu

instrumen cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat

pengumpul data karena instrumen tersebut sudah baik. Sedangkan

menurut Sugiyono (2010: 173) menjelaskan bahwa instrumen yang

reliabel adalah instrumen yang bila digunakan beberapa kali untuk

mengukur objek yang sama, akan menghasilkan data yang sama.

Pengujian reliabilitas dalam penelitian ini dilakukan dengan

menggunakan rumus Alpha Cronbach. Perhitungan statistiknya

dilakukan dengan menggunakan komputer program SPSS For Window

Seri 16.0. Kriteria penentuan reliabilitas suatu instrumen dengan

membandingkan dengan nilai r [Link] r alpha > r tabel maka

instrumen tersebut dinyatakan reliabel (Suharsimi Arikunto 2010:

70
239).Reliabilitas dinyatakan oleh koefisien reliabilitas yang angkanya

berkisar antara 0 sampai dengan 1,00. Semakin tinggi koefisien

realibilitas mendekati 1,00 berarti semakin tinggi realibilitasnya,

sebaliknya koefisien yang semakin rendah mendekati angka 0. Setelah

diuji reliabilitas dengan menggunakan komputer program SPSS For

Window Seri 16.0, instrumen memiliki koefisien 0,938. Hal tersebut

menunjukkan bahwa instrumen penelitian memiliki reliabilitas yang

tinggi.

I. Teknik Analisis Data

Pada penelitian ini, analisis data yang digunakan adalah dengan

menghitung skor maksimal dan minimal dari nilai skala mengelola emosi

marah serta menghitung skor masing-masing subjek. Penentuan kategori

kecenderungan dari tiap-tiap variabel didasarkan pada norma dan

kententuan kategori. Merujuk pada penjelasan Saifuddin Azwar (2010:

107-119), berikut langkah-langkah pengkategorisasian kemampuan

mengelola emosi marah siswa dalam penelitian ini sebagai berikut:

1. Menentukan skor tertinggi dan terendah

Skor tertinggi = 4 x 35 = 140

Skor terendah = 1 x 35 = 35

2. Menghitung mean ideal (M) yaitu ½ (skor tertinggi + skor terendah)

M = ½ (140 +35)= ½ (175)= 87,5

71
3. Menghitung standar deviasi (SD) yaitu 1/6 (skor tertinggi- skor

terendah)

SD = 1/6 (140 -35)= 1/6 (105)=17,5

Jadi, dapat disimpulkan batas antara kategori tersebut adalah

(M+1SD)=87,5+17,5=105 dan (M-1SD)=87,5-17,5=70

Kategori untuk kemampuan mengelola emosi marah siswa

dapat diamati pada tabel berikut:

Tabel7. Kategori Skor Kemampuan Mengelola Emosi Marah

Batas (Interval) Kategori


Skor < 70 Rendah
Skor 70 sampai dengan 105 Sedang
Skor > 105 Tinggi

J. Indikator KeberhasilanTindakan

Pada penelitian ini, indikator keberhasilan pada peningkatan

kemampuan mengelola emosi marah mencapai kategori tinggi, ditandai

dengan peningkatan hasil skala siswa dari kategori rendah meningkat pada

kategori sedang atau tinggi dan adanya peningkatan skor pada kategori

sedang meningkat pada kategori tinggi. Analisis data kualitatif digunakan

untuk mendukung data kuantitatif yang diperoleh melalui observasi dan

wawancara pada saat proses tindakan berlangsung dan setelah proses

tindakan berlangsung.

72
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Lokasi dan Waktu Penelitian

1. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 2 Bantul yang

beralamat di Jln. R.A. Kartini Bantul, merupakan sekolah Adiwiyata di

kabupaten Bantul. SMA Negeri 2 Bantul menempati lokasi yang cukup

strategis karena mudah dijangkau oleh siswa, dan berada di kompleks

perkantoran dan instansi pendidikan [Link] beberapa jenjang

pendidikan seperti TK, SD dan [Link] itu, sekolah ini juga berada

pada lingkungan perkantoran yang sangat representatif untuk

mendukung kegiatan permbelajaran. Di selatan sekolah, terdapat

Kantor Kejaksaan, kantor Polisi dan dinas-dinas lainnya. Letak sekolah

yang tidak dekat dengan jalan utama, mendukung kondisi

pembelajaran di sekolah ini karena tidak terlalu ramai oleh orang-

orang yang berlalu lalang di jalan. Sehingga sangat menunjang proses

pembelajaran.

SMA Negeri 2 Bantul memiliki 48 guru tetap dan 9 guru tidak

[Link] 7 karyawan adalah pegawai tetap dan 15 karyawan

pegawai tidak [Link] Negeri 2 Bantul sudah dilengkapi dengan

beberapa sarana prasarana penunjang PBM. Adapun sarana prasarana

yang dimiliki oleh SMA Negeri 2 Bantul diantaranya adalah gedung

sekolah yang terdiri dari ruang belajar, ruang kantor, ruang penunjang,

73
dan halaman sekolah yang biasa digunakan untuk kegiatan apel pagi,

olahraga (bola basket, bola voli, kegiatan bulutangkis) dan kegiatan

ekstrakulikuler.

Peneliti mengambil setting penelitian di kelas XI, khususnya

kelas XI IPS [Link] mengambil kelas ini berdasarkan hasil

observasi dan wawancara dengan siswa di kelas XI IPS 3, serta

wawancara dengan guru BK yang menunjukkan bahwa tingkat

kemampuan mengelola emosi marah siswa cukup rendah dibandingkan

dengan kelas XI lainnya.

2. Waktu Penelitian

Waktu penelitian dilakukan dari bulan maret 2014 sampai dengan april

2014

1) Pemberian pre test : Rabu, 26 Maret 2014.

2) Pemberian tindakan I : Jumat,28 Maret 2014.

3) Pemberian tindakan II : Sabtu, 29 Maret 2014

4) Pemberian tindakan III : Kamis, 3 April 2014

5) Pemberian post test siklus I : Jumat, 4 April 2014

6) Pemberian tindakan I : Sabtu, 5 April 2014

7) Pemberian tindakan II : Senin, 7 April 2014

8) Pemberian tindakan III :Selasa, 8 April 2014

9) Pemberian post testsiklus IIdan wawancara diadakan pada hari

Jumat, 11 April 2014.

74
B. Data Subjek Penelitian

Subjek penelitian adalah siswa kelas XI IPS 3 SMA Negeri 2

Bantul, diambil melalui teknik purposive yang berjumlah 17 siswa dari 20

siswa dengan skor kemampuan mengelola emosi marah <105 yang

menunjukkan kemampuan mengelola emosi marah siswa dalam kategori

rendah dan sedang. Rata-rata usia siswa adalah 16-17 tahun. Pemilihan

subjek penelitian didasarkan pada hasil observasi dan wawancara dengan

siswa dan guru BK di sekolah yang menunjukkan bahwa kemampuan

mengelola emosi marah siswa yang kurang pada kelas XI IPS 3 dan

kurang menghargai guru apabila merasa tidak senang dengan guru

tersebut. Berdasarkan hasil observasi, siswa kelas XI IPS 3 sering gaduh di

kelas, mengolok-olok teman di kelas. Sedangkan pada saat wawancara

dengan beberapa siswa kelas XI IPS 3, siswa sering memendam emosi

marahnya dengan cara berdiam diri, ataupun menangis. Selain itu,

beberapa siswa laki-laki pernah terlibat tawuran dengan sekolah lain.

Peneliti mengambil data dengan menggunakan skala untuk

mengukur kemampuan mengelola emosi marah siswa yang terdiri dari 35

item [Link] melakukan pemberian tindakan, peneliti

melakukan pre test terlebih dahulu untuk mengukur tingkat kemampuan

mengelola emosi marah siswa.

Setelah peneliti melakukan pre test maka diberi tindakan dan

kemudian melakukan post test untuk mengukur kemampuan mengelola

75
emosi marah siswa setelah diberikan tindakan. Tabel 8 berikut ini

merupakan daftar inisial subjek penelitian beserta hasil skor pre test siswa.

Tabel [Link] Skor Pre Test Siswa Kelas XI IPS 3 SMA Negeri 2
Bantul

No. Nama Subjek Skor pre test Kategori


1 RM 70 Rendah
2 MA 84 Sedang
3 DN 105 Sedang
4 MH 68 Rendah
5 DP 84 Sedang
6 LM 93 Sedang
7 AD 81 Sedang
8 NT 68 Rendah
9 RD 69 Rendah
10 NS 94 Sedang
11 AK 78 Sedang
12 SN 69 Rendah
13 BS 87 Sedang
14 NA 89 Sedang
15 RK 66 Rendah
16 IP 98 Sedang
17 NK 69 Rendah

Hasil pre test 17 siswa selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 10

halaman 159.

C. Langkah Sebelum Pelaksanaan Tindakan

Sebelum melaksanakan pemberian tindakan, terlebih dahulu

peneliti dan guru BK melakukan observasi dan wawancara bahwa subjek

di kelas kurang dapat mengelola emosi marahnya. Dapat terlihat dari

perilaku di kelas ketika mengungkapkan emosi marah dengan kata-kata

yang kurang sopan, marah-marah kepada guru di depan kelas, dan ingin

membalas perbuatan yang membuat dirinya marah. Selain itu, berdasarkan

76
hasil wawancara, siswa sering membiarkan emosi marahnya begitu saja

tanpa memikirkan dampak bagi dirinya sendiri maupun lingkungan

sekitar.

Setelah dilakukan observasi dan wawancara kemudian dilakukan

persiapan untuk pemberian tindakan. Persiapan yang dilaksanakan pada

tanggal 25 Maret 2014 adalah sebagai berikut:

a. Melakukan diskusi terlebih dahulu dengan guru BK mengenai rencana

tindakan penelitian yang akan dilaksanakan.

b. Mempersiapkan rangkaian kegiatan teknik expressive writing terkait

dengan peningkatan kemampuan mengelola emosi marah.

c. Mengatur jadwal pemberian tindakan dan sarana pendukung yang

diperlukan sesuai dengan kebutuhan dalam pemberian tindakan.

d. Mempersiapkan angket pre test, post test, lembar observasi dan

pedoman wawancara.

D. Pelaksanaan Tindakan Siklus 1

1. Perencanaan

Tahap perencanaan dimulai dengan mempersiapkan media

dalam teknik expressive writing, dan refleksi kegiatan selama penelitian

dengan guru BK. Peneliti berkordinasi dengan guru BK terkait

tindakan-tindakan yang akan diberikan, serta maksud dan tujuan

kegiatan dalam pemberian teknik expressive writing pada kegiatan yang

akan dilaksanakan.

77
a. Tindakan Pertama

1) Peneliti bersama guru BK berdiskusi mengenai tema yang

akan diberikan.

2) Tema yang akan diberikan adalah memberikan gambaran

tentang kemampuan mengelola emosi marah.

3) Guru BK terlebih dahulu menjelaskan kemampuan mengelola

emosi marah kepada siswa dan berdiskusi dengan siswa

terkait dengan emosi marah.

4) Guru BK mempersilahkan siswa untuk menuliskan perasaan

emosi marah yang sering muncul selama 10 menit tanpa

henti.

b. Tindakan kedua

1) Peneliti bersama guru BK berdiskusi mengenai tema yang

akan diberikan.

2) Tema yang akan diberikan adalah pengalaman emosi marah

dengan orang terdekat

3) Guru BK mempersilahkan siswa untuk menuliskan

pengalaman emosi marah yang berhubungan dengan teman

bermain ataupun teman dekat.

c. Tindakan ketiga

1) Peneliti bersama guru BK berdiskusi mengenai tema yang

akan diberikan.

2) Tema yang akan diberikan tentang puisi “kemarahan”

78
3) Guru BK membacakan puisi “kemarahan”

4) Guru BK mempersilahkan siswa untuk membaca dan

memahami isi dari puisi tersebut, siswa diminta untuk

menuliskan isi dari puisi tersebut sesuai dengan pemahaman

masing-masing siswa.

2. Tindakan dan Observasi

Tindakan yang dilakukan selama penelitian pada umumnya

berjalan lancar. Persiapan yang dilakukan selama tindakan

dilaksanakan hampir sama yaitu mempersiapkan media yang

dibutuhkan kertas HVS. Selain itu, melakukan briefing kepada

observer untuk melaksanakan tugas sebagai observer. Tindakan yang

diberikan dapat dilihat dengan rincian sebagai berikut:

a. Pelaksanaan tindakan I

1) Kegiatan Pembuka

Pada pelaksanaan expressive writing yang pertama

peneliti dan guru BK menyiapkan media yang diperlukan yaitu

kertas [Link] dibuka oleh guru BK dengan mengabsen

siswa dan memberikan motivasi kepada siswa. Guru BK

menjelaskan tujuan dan manfaat teknik expressive writing

yang akan dilaksanakan siswa. Guru BK menjelaskan bahwa

dengan mengikuti rangkaian kegiatan ini siswa akan dapat

meningkatkan kemampuan mengelola emosi marah.

79
2) Kegiatan inti

Tindakan ini dilakukan pada hari Jumat tanggal 28

Maret [Link] BK menjelaskan kegiatan yang akan

dilakukan pada tindakan pertama. Kemudian guru BK

memberikan penjelasan bahwa tema yang akan diberikan pada

tindakan pertama mengenai perasaan emosi marah yang sering

muncul. Tujuan dari kegiatan ini, agar siswa mampu

memahami hal yang sering membuat emosi marah yang sering

munculdan tindakan yang sering [Link] BK

memberikan penjelasan mengenai perasaan emosi marah yang

sering muncul yang disebabkan oleh diri sendiri maupun

lingkungan sekitar.

Kemudian dari penjelasan yang sudah disampaikan

oleh guru BK, siswa diminta untuk menuliskan perasaan emosi

marah yang sering muncul selama 10 menit tanpa

[Link] siswa merasa tidak yakin dapat menulis selama

10 menit tanpa henti. Namun, setelah kertas dibagikan dan

waktu untuk menulis sudah dimulai semua siswa mampu

menuliskan perasaan emosi marahnya dengan lancar walaupun

RM masih melihat-lihat tulisan dari teman lain dan LM kurang

bersemangat ketika menulis.

Pada akhir kegiatan, ada 2 siswa yaitu RM dan SN

yang mau membacakan dan menceritakan perasaan emosi

80
marah yang sering [Link] saat RM menceritakan emosi

marahnya tangannya sambil mengepal terlihat sangat emosi

selain itu, kata-kata yang dikeluarkan menunjukkan tidak

senang dengan perlakuan orang yang membuat dirinya

[Link] siswa mampu mendengarkan dan

memperhatikan RM dan SN ketika bercerita dan beberapa

siswa memberikan tanggapan.

Selain itu, RK dan NA menceritakan perasaan emosi

marah yang sering muncul secara mendalam terlihat dari hasil

tulisannya. Pernyataan yang ditulis RK yaitu ”Saya marah saat

saya diganggu oleh tindakan orang lain, dan ketika kesabaran

saya sudah habis, dan orang tersebut masih mengganggu saya.

Saya akan membalas tindakan orang yang mengganggu saya

dengan tindakan yang lebih menyakitkan”.(Hasil tulisan

subjek dapat dilihat di lampiran halaman 162)

Sedangkan pernyataan NA yaitu “Hal yang membuat

saya merasa emosi biasanya mungkin saat ada teman saya

sedang ramai di [Link] saat teman laki-laki yang

ramai dan membuat gaduh saat pelajaran berlangsung. Saya

biasanya merasa marah hanya diam, kadang dengan mimic

muka yang tidak menyenangkan”. (Hasil tulisan subjek dapat

dilihat di lampiran halaman 163).

81
3) Penutup

Sebelum mengakhiri tindakan pertama guru BK

menanyakan kepada beberapa siswa mengenai perasaan ketika

menulis perasaan emosi [Link] siswa mengatakan

pada diawal akan mulai menulis merasa kesulitan, karena

bingung dengan tulisan apa yang akan ditulis. Terlihat dari

beberapa siswa yang saling bertanya apa yang akan ditulis.

Dari hasil tindakan pertama beberapa siswa sudah mampu

menuliskan perasaan emosi marah yang sering muncul secara

mendalam, namun siswa AD, BS belum mampu menuliskan

perasaan emosi marahnya terlihat dari tulisannya yang hanya

beberapa kalimat dan belum dapat mengungkapkan secara

mendalam.

b. Pelaksanaan Tindakan 2

1) Kegiatan Pembuka

Pelaksanaan expressive writing yang kedua, peneliti dan

guru BK menyiapkan kertas HVS seperti pada tindakan

[Link] dibuka oleh guru BK dengan mengabsen

siswa dan memberikan motivasi kepada [Link] BK

menjelaskan tindakan yang kedua mengenai pengalaman emosi

marah yang berhubungan dengan teman bermain ataupun

teman [Link] dari kegiatan ini, agar siswa mampu

82
mengungkapkan pengalaman emosi marah yang berhubungan

dengan teman dekat dan siswa mampu merefleksikan diri.

2) Kegiatan Inti

Pelaksanaan tindakan expressive writing pada hari

Sabtu tanggal 29 Maret [Link] BK menjelaskan

pengalaman emosi marah terkait dengan teman [Link] BK

mempersilahkan siswa untuk menuliskan pengalaman emosi

marah yang berhubungan dengan teman bermain ataupun

teman [Link] dan AK masih kurang fokus ketika yang lain

sudah mulai menulis, mereka menganggap tidak ada masalah

dengan teman-temannya. Namun, sebagian dari siswa sudah

mampu mengungkapkan pengalaman emosi marah yang

berhubungan dengan teman bermain ataupun dengan teman

dekat secara [Link] pengalaman yang dirasakan

oleh beberapa siswa NK, RK, RD dan IP.

NK mengungkapkan pengalaman emosi marah terlihat

dari pernyataannya“Dulu sewaktu kelas X saya berteman dekat

dengan [Link] dia di kelas XI IPA sedangkan

saya di kelas XI [Link] bukanna iri dengan mereka. Nah,

sekarang saya menjauhi teman saya ang di kelas XI IPA

karena sewaktu di kelas dia lebih memilih dengan teman yang

lain dari pada saya”.(Hasil tulisan subjek dapat dilihat di

lampiran halaman 164).

83
RK mengungkapkan pengalaman emosi marah dengan

teman secara mendalam terlihat dari pernyataannya “Sewaktu

saya masih dibangku TK, saya sering dicaci oleh orang tua

teman-teman saya, dan saya dianggap sebagai tunggakan.

Saya tidak punya teman sewaktu itu, saat saya ingin bermain

sesuatu teman-teman saya meninggalkan saya sendiri dan

berganti atau pindah pada permainan yang lain. saat saya

mencoba untuk bergabung, teman-teman saya selalumenyuruh

saya pergi. Saya ingin marah, tapi saya hanya bisa

diam”.(Hasil tulisan subjek dapat dilihat di lampiran halaman

165).

Pengalaman emosi marah dengan teman dekat juga

dirasakan oleh RD “Aku mempunyai beberapa orang

[Link] suatu ketika terjadi perselisihan diantara kami

dan salah seorang sahabat saya salah [Link]

mencoba menengahi masalah yang terjadi paa sahabat-

[Link] satu dari mereka malah menyindirku dengan

kata-kata yang membuatku [Link] kali aku lewat

kelasnya orang itu pasti [Link] sudah minta maaf

tapi dia tidak meresponnya”.(Hasil tulisan subjek dapat dilihat

di lampiran halaman 166).

Begitu pula IP memiliki pengalaman emosi marah yang

sampai saat ini diingatnya “Dulu saya berteman baik dengan

84
seseorang. Setelah sekian lama, pernah saya mendengar dia

menjelek-jelekkan saya dibelakang saya. Saya marah dan sedih

karena tidak menyangka jika teman yang saya anggap baik

ternyata berbuat seperti itu kepada [Link] memutuskan

unutuk menjaga jarak dengan dia”.(Hasil tulisan subjek dapat

dilihat di lampiran halaman 167)

Guru BK dan siswa berdiskusi mengenai tindakan yang

ke 2 ini, guru BK menanyakan kepada beberapa siswa setelah

menuliskan pengalaman emosi marah yang terkait dengan

teman dekat.

3) Penutup

Sebelum mengakhiri tindakan kedua guru BK

menanyakan kepada beberapa siswa mengenai Setelah tindakan

kedua selesai guru BK bertanya kepada beberapa siswa yang

dilakukan ketika emosi marah yang berhubungan dengan teman

dekat masih banyak yang memilih untuk memendam emosi

marah tersebut dan tidak berani untuk mengungkapkannya

kepada teman yang [Link] itu, ada siswa yang

mengungkapkannya dengan menangis atau menyendiri. Dan

adapula yang berusaha menghindari untuk bertemu.

85
c. Pelaksanaan tindakan III

1) Kegiatan Pembuka

Pelaksanaan expressive writing yang ketiga peneliti dan

guru BK menyiapkan kertas HVS dan lembar puisi

“kemarahan”. Guru BK menjelaskan prosedur yang akan

dilaksanakan yaitu guru BK membacakan puisi kemarahan,

sedangkan siswa mendengarkan dan menyimak puisi yang

dibacakan guru BK. Kemudian guru BK memberikan

penjelasan bahwa tema yang akan diberikan pada tindakan

ketiga mengenai puisi “kemarahan”. Tujuan dari kegiatan ini,

agar siswa mampu memahami isi dari puisi tersebut dengan

mengenali emosi marah yang ada dalam puisi, mengungkapkan

emosi marah ketika emosi marah muncul.(Puisi kemarahan

dapat dilihat dilampiran halaman 158).

2) Kegiatan inti

Pelaksanaan tindakan expressive writing pada hari

Sabtu tanggal 3 April [Link] BK membagikan puisi

kemarahan pada setiap siswa beserta kertas HVS, kemudian

guru BK membacakan puisi kemarahan dan semua siswa

menyimak dan memahami isi puisi [Link] guru

BK meminta siswa untuk menceritakan isi dari puisi melalui

[Link] siswa masih terlihat bingung dan

menanyakan instruksi pada guru [Link] guru BK

86
menjelaskan kembali, siswa mampu menceritakan isi dari puisi

kemarahan dengan lancar sesuai pikirannya masing-masing.

Terlihat dari tulisan AD yang mengaitkan puisi

kemarahan dengan kehidupan sehari-hari “Saat aku lelah pasti

aku marah, entah apa penyebabnya pasti akan menjadi

masalah. Aku marah pada diriku jika tidak bisa pahami

temenku,aku sering egois sehingga menyebabkan salah paham

yang membuat suasana semakin panas dan semakin marah.

tetapi, kadang terpikirkan dalam hatiku apa artina marah jika

pertemanan atau persahabatan menjadi terpecah”.(Hasil

tulisan subjek dapat dilihat di lampiran halaman 168).

Selain AD, NK dapat menceritakan isi dari puisi

kemarahan “orang ini marah pada dirinya sendiri yang tidak

bisa memahami orang lain ang membuat dia diusik dengan

suara-suara yang menyinggung. Dia marah karena tidak bisa

menangkap maksud dan suara-suara yang

menyinggung”.(Hasil tulisan subjek dapat dilihat di lampiran

halaman 169).

3) Penutup

Sebelum mengakhiri tindakan ketiga guru BK

menanyakan kepada beberapa siswa mengenai isi dari puisi

[Link] dan IP menceritakan inti dari puisi

[Link] itu, guru BK memberikan apresiasi kepada

87
siswa karena sudah mulai terbuka untuk mengungkapkan

emosi marah apa yang dialami dan dirasakan. Selain itu, guru

BK menanyakan perasaan siswa setelah melakukan teknik

expressive writing dalam mengungkapkan emosi marah.

Berdasarkan pengamatan dari observer, siswa terlihat

antusias walau awalnya terlihat bingungdengan teknik

expressive [Link] arahan dan penjelasan dari guru BK

siswa mampu memahami dan mengambil manfaat yang

didapat selama kegiatan.

3. Hasil Tindakan Siklus 1

Hasil dari tiga tindakan pada siklus 1 dalam penelitian ini dapat

dilihat dari pengamatan dan post [Link] post test dilaksanakan

setelah tindakan yaitu hari Jumat, tanggal 4 April [Link]

kemampuan mengelola emosi marah siswa setelah dilakukan pre test

dari 17 siswa, skor tertinggi adalah 105 dan skor terendah adalah

[Link] post test pasca siklus 1 Berikut hasil penelitian terhadap

17siswa pasca siklus 1 berlangsung dapat dilihat pada tabel 9berikut:

Tabel [Link] Skor Post Test I Siswa Kelas XI IPS 3

No Nama Subjek Skor Post Test I Kategori


1 RM 93 Sedang
2 MA 111 Tinggi
3 DN 120 Tinggi
4 MH 82 Sedang
5 DP 94 Sedang
6 LM 105 Sedang
7 AD 87 Sedang
8 NT 101 Sedang
9 RD 105 Sedang

88
10 NS 104 Sedang
11 AK 84 Sedang
12 SN 75 Sedang
13 BS 89 Sedang
14 NA 95 Sedang
15 RK 71 Sedang
16 IP 107 Tinggi
17 NK 106 Tinggi
Hasil post test Isiswa selengkapnya dapat dilihat pada lampiran

11halaman 160.

Berdasarkan hasil post test sudah menunjukkan adanya

peningkatan dari hasil pre [Link] skor rata-rata siswa masih dalam

kategori sedang.

Selain hasil post test I yang menunjukkan adanya peningkatan dari

pre test, hal tersebut ditunjukkan dengan hasil observasi. Berdasarkan

observasi yang dilakukan oleh peneliti selama tindakan siklus I

berlangsung, secara keseluruhan tindakan yang diberikan dapat berjalan

dengan [Link] tindakan I, siswa belum menunjukkan antusias yang

tinggi karena masih merasa [Link], siswa dapat mengikuti

tindakan dengan [Link] siswa mampu menuliskan perasaan emosi

marah secara mendalam. Guru BK terlihat antusias dalam memberikan

pemahaman dan pengarahan kepada siswa serta mendampingi siswa

dalam melakukan tindakan.

Tindakan II siswa terlihat lebih antusias dalam menuliskan

pengalaman emosi marah dengan teman [Link] diawal beberapa

siswa sempat berdiskusi dengan teman disebelahnya mengenai emosi

marah dengan teman [Link] berusaha mengingat-ingat setelah itu

89
dapat menuangkan dalam tulisan dengan baik dan lebih [Link]

BK terlihat bersemangat dan mengarahkan siswa dengan baik, mampu

memberikan contoh-contoh kepada [Link] di dalam kelas terlihat

lebih tenang sehingga kegiatan dapat berajalan dengan baik.

Pada tindakan III, suasana di kelas masih ramai karena baru selesai

[Link] guru BK mengkondisikan kelas terlebih [Link]

itu, siswa dapat mengikuti dengan santai namun [Link] BK terlihat

antusias dalam memberikan tindakan dengan membacakan puisi

“kemarahan” dan suasana dapat tenang kembali setelah guru BK

membacakan puisi.

Selain observasi yang dilakukan peneliti selama tindakan

berlangsung, peneliti juga melakukan observasi setelah dilakukan

[Link] observasi ini adalah untuk mengetahui perkembangan

yang terjadi pada siswa setelah dilaksanakan tindakan. Hasil dari observasi

peneliti dengan mengamati siswa ketika ada di sekolah dari pagi hingga

jam pulang sekolah menunjukkan perkembangan atau perubahan yang

lebih baik.

Pengamatan yang dilakukan oleh peneliti membuktikan ada

perkembangan atau perubahan dalam mengungkapkan dan mengelola

emosi marahnya. Siswa mulai mengontrol kata-kata yang diucapkan agar

tidak menyinggung perasaan orang lain, siswa mulai mengenali pertanda

awal emosi marah yang muncul, ketika pelajaran siswa mampu

90
menghormati guru dengan cara mendengarkan guru saat menerangkan

tidak ramai sendiri.

Dari hasil observasi setelah siklus pertama mengidentifikasikan

bahwa siswa sudah menunjukkan perkembangan yang lebih baik dalam

mengungkapkan emosi [Link] perkembangan yang terjadi belum

sepenuhnya maksimal dan masih ada beberapa aspek kemampuan

mengelola emosi marah yang belum terlaksana dengan [Link]

karena itu, peneliti memutuskan untuk melanjutkan penelitian dan

mengadakan siklus kedua.

4. Refleksi dan Evaluasi

Refleksi dilakukan untuk mengetahui kekurangan yang ada pada

pelaksanaan [Link] dilakukan melalui diskusi antar peneliti

dan guru BK di sekolah. Beberapa kekurang yang ada pada siklus I

diantaranya: waktu pemberian tindakan dilakukan pada jam terakhir,

sehingga diawal siswa kurang antusias, teknik expressive writing belum

pernah dilakukan sebelumnya sehingga siswa belum begitu paham

dengan teknik tersebut, dan suasana di kelas yang ramai membuat siswa

kurang fokus dalam mengikuti tindakan. Namun, berdasarkan hasil dari

post test siklus I dan hasil pengamatan diketahui ada perubahan dari

sebelum tindakan sampai setelah tindakan expressive writing siklus

[Link] keseluruhan pelaksanaan teknik expressive writing sudah ada

peningkatan, dapat dilihat pada tabel [Link] hasil pre test dan hasil post

test berikut:

91
Tabel [Link] Peningkatan Skor Siswa (Siklus I)

Nama Skor
No Peningkatan Prosentase
Subjek Pre Test Post Test 1
1 RM 70 93 23 16,42%
2 MA 84 111 27 19,28%
3 DN 105 120 15 10,71%
4 MH 68 82 14 10%
5 DP 84 94 10 7,14%
6 LM 93 105 12 8,57%
7 AD 81 87 6 4,28%
8 NT 68 101 33 23,57%
9 RD 69 105 36 25,71%
10 NS 94 104 10 7,14%
11 AK 78 84 6 4,28%
12 SN 69 75 6 4,28%
13 BS 87 89 2 1,42%
14 NA 89 95 6 4,28%
15 RK 66 71 5 3,57%
16 IP 98 107 9 6,42%
17 NK 69 106 37 26,42%

Berdasarkan hasil pre test dan post test pada siklus I dengan

perolehan skor sudah menunjukkan adanya peningkatan. Peningkatan

tertinggi terjadi pada siswa NT, RD dan [Link] proses pre test ketiga

siswa tersebut kurang antusias ketika mengerjakan angket pre testtetapi

pada saat pengisian angket post test I antusiasme siswa lebih baik dan

terlihat lebih semangat dalam mengisi angket. Sehingga hasil peningkatan

skor dari pre test ke post test I cenderung lebih besar dibandingkan dengan

siswa lain. selain itu, minat dan semangat siswa dalam mengikuti proses

expressive writing pada siklus I cukup baik sehingga hasilnya pun

berpengaruh pada skor angket kemampuan mengelola emosi marah.

92
Presentase peningkatan terkecil terjadi pada BS yaitu sebesar 1,42%. Tiga

siswa yang tergolong dalam kategori tinggi yaitu MA, DN, [Link], 13

siswa masih dalam kategori sedang meskipun sudah ada peningkatan skor.

Meskipun peningkatan pada siklus pertama sudah cukup baik,

yaitu mencapai rata-rata 10,79% namun masih belum sesuai dengan target.

Selain itu, tindakan yang dilaksanakan masih ada beberapa kekurangan

seperti antusias siswa ketika menuliskan emosi marah dalam dirinya dan

kondisi fisik siswa yang kelelahan karena kegiatan yang dilaksanakan pada

jam siang hari ataupun pada jam terakhir. Selain itu, faktor kebosanan

siswa sehingga terkadang siswa kurang serius dengan mengganggu teman

lain dalam mengikuti kegiatan.

Untuk mengatasi kekurangan yang ada pada pada siklus I, maka

peneliti merasa perlu memberikan tindakan lanjutan. Tindakan lanjutan

dengan memberikan temayang berbeda dari siklus I. Selain mengungkap

emosi marah siswa, cara mengungkapkan emosi marah dan kemampuan

dalam mengelola emosi marah [Link] meningkatkan antusiasme

siswa dan keterbukaan siswa terkait dengan emosi marah siswa, dengan

memberikan diskusi yang lebih diperdalam sehingga siswa mampu

memahami tujuan dan manfaat dari setiap kegiatan yang [Link]

itu, kegiatan dapat dilakukan pada jam kegiatan yang lebih awal sehingga

siswa masih bersemangat.

93
E. Pelaksanaan Tindakan Siklus II

1. Perencanaan

Tahap perencanaan hampir sama dengan tahap perencanaan

pada siklus 1, dimulai dengan mempersiapkan media dalam teknik

expressive writing untuk meningkatkan kemampuan mengelola emosi

marah [Link] itu, dilakukan refleksi selama penelitian dengan

guru BK. Peneliti berkordinasi dengan guru BK terkait tindakan-

tindakan yang akan diberikan pada siklus 2.

a. Tindakan Pertama

1) Peneliti bersama guru BK berdiskusi mengenai tema yang akan

diberikan.

2) Tema yang akan diberikan adalah emosi marah yang masih

terpendam

3) Guru BK mempersilahkan siswa untuk mengungkapkan emosi

marah yang sampai saat ini belum diungkapkan dan masih

mengganjal pikiran ataupun perasaannya melalui tulisan.

b. Tindakan kedua

1) Peneliti bersama guru BK berdiskusi mengenai tema yang akan

diberikan.

2) Tema yang akan diberikan adalah cara ataupun tindakan yang

dapat dilakukan ketika dalam situasi marah

3) Guru BK mempersilahkan siswa untuk menuliskan dan

menceritakan cara mengekspresikan emosi marah ataupun

94
perilaku yang dapat dilakukan untuk menyelesaikan masalah

dan mengontrol emosi marah tersebut.

c. Tindakan ketiga

1) Peneliti bersama guru BK berdiskusi mengenai tema yang akan

diberikan.

2) Tema yang akan diberikan adalah menulis surat kepada

seseorang yang membuat dirinya marah.

3) Guru BK mempersilahkan siswa untuk menulis surat kepada

orang lain terkait dengan emosi marah yang selama ini masih

dirasakannya.

2. Tindakan dan Observasi

Tindakan yang dilakukan selama penelitian pada umumnya

berjalan lancar. Persiapan yang dilakukan selama tindakan dilaksanakan

hampir sama yaitu mempersiapkan media yang dibutuhkan kertas HVS.

Selain itu, melakukan briefing kepada observer untuk melaksanakan

tugas sebagai observer. Tindakan yang diberikan dapat dilihat dengan

rincian sebagai berikut:

a. Pelaksanaan Tindakan 1

1) Kegiatan Pembuka

Pelaksanaan expressive writing yang pertama pada

siklus ke II, peneliti dan guru BK menyiapkan kertas

[Link] BK membuka kegiatan dan menjelaskan mengenai

emosi marah yang masih [Link] BK memberikan

95
contoh seseorang yang sering memendam emosi marahnya dan

dampak bagi diri sendiri maupun orang lain. Tindakan kedua

bertujuan agar siswa dapat mengungkapkan emosi marah yang

sampai saat ini masih terpendam dan masih mengganjal pikiran

ataupun perasaannya.

2) Kegiatan Inti

Pelaksanaan tindakan expressive writing pada hari Sabtu

tanggal 5 April [Link] BK menjelaskan dampak

memendam emosi marah terlalu [Link], menanyakan

kepada beberapa siswa mengenai emosi marah yang

[Link] terlihat antusias dalam mengingat kembali

emosi marah yang [Link] siswa diminta untuk

menuliskan emosi marah yang masih terpendam dan sampai

saat ini emosi marah tersebut mengganjal pikiran dan

[Link] kelas lebih tenang sehingga siswa dengan

nyaman dan fokus menuangkan isi perasaannya secara

[Link] contohhasil tulisan siswa dalam

mengungkapkan emosi marah yang masih terpendam sampai

saat ini. Pernyataan yang ditulis oleh AP “Sampai sekarang aku

masih dendam sama kakak DA yang membentak dan

memarahiku saat acara pramuka di sekolah” (Hasil tulisan

subjek dapat dilihat di lampiran halaman 170)

96
Selain AP, RM mengungkapkan emosi marah yang

masih terpendam secara mendalam“Disaat saya sedang

melakukan apa yang diinginkan orang tua saya, saya tidak

pernah dihargai. Saya tidak pernah mengatakannya, mungkin

diam menjadi jawaban. Bermain, olahraga menjadi

pelarian”.(Hasil tulisan subjek dapat dilihat di lampiran

halaman 171).

LM juga masih mengingat emosi marah yang masih

terpendam sampai saat ini “Dua kali saya pernah dikhianati

teman dekat [Link] yang membuat sakit hati adalah

kejadian sewaktu SMA. Saya mempunyai teman dekat beda

kelas. Teman yang menyakiti saya adalah [Link] gak

nyangka teman dekat saya tega menyuruh saya untuk

melupakan cowok yang dekat dengan saya tanpa rasa

[Link] saya pernah memergoki teman saya sedang

berusaha mendekati cowokyang sedang dekat dengan saya

dalam suatu acara”.(Hasil tulisan subjek dapat dilihat di

lampiran halaman 172).

3) Kegiatan Penutup

Sebelum mengakhiri tindakan pertama guru BK

berdiskusi dengan siswa dan mengajak siswa untuk

merefleksikan diri terkait dengan emosi marah yang

[Link] hasil observasi, siswa terlihat lebih

97
lancar dan mendalam saat menuliskan sesuai dengan

perasaannya.

b. Pelaksanaan Tindakan 2

1) Kegiatan Pembuka

Pelaksanaan expressive writing yang kedua, peneliti

dan guru BK menyiapkan kertas HVS seperti pada tindakan

[Link] dibuka oleh guru BK dengan mengabsen

siswa dan memberikan motivasi kepada siswa. Guru BK

menjelaskan tindakan yang kedua mengenai cara ataupun

tindakan yang dapat dilakukan ketika dalam situasi marah.

Tujuan dari kegiatan ini siswa dapat meningkatkan

kemampuan siswa untuk mengelola emosi marah yang sedang

dirasakannya sehingga semakin fokus pada cara

mengekspresikan emosi marah ataupun perilaku yang dapat

menyelesaikan masalah dan mengontrol emosi marah tersebut.

2) Kegiatan Inti

Pelaksanaan tindakan expressive writing pada hari

Senin, tanggal 7 April [Link] BK menjelaskan beberapa

caramengungkapkan emosi marah baik yang positif maupun

negatif. Agar siswa mengetahui hal-hal apa saja yang sering

dilakukan keika emosi marah muncul. Setelah itu, siswa

diminta untuk menuliskan cara mengungkapkan emosi marah

sesuai dengan dirinya dan yang selama ini pernah

98
[Link] terlihat antusias dalam menuliskan cara

mengungkapkan emosi marah.

Beberapa cara untuk mengungkapkan emosi marah

seperti yang ditulis oleh DN “Diam,mencari teman untuk

bercerita, menangis sendiri di kamar, melakukan

aktivitas,introspeksi diri, merenungkan, mencoret-coret nama

di buku ”.(Hasil tulisan subjek dapat dilihat di lampiran

halaman 173).

Selain DN, NK menuliskan beberapa cara untuk

mengungkapkan emosi marah “menonton film

komedi,menghindar dari sumber marah, tarik nafas dalam-

dalam, diam saja jangan bicara saat marah”.(Hasil tulisan

subjek dapat dilihat di lampiran halaman 174).

3) Penutup

Kegiatan penutup pada tindakan kedua, guru BK dan

siswa berdiskusi mengenai cara yang telah dilakukan ketika

emosi marah muncul. Beberapa siswa menyebutkan cara

mengungkapkan emosi marah. Sebagian dari siswa sudah

dapat menyebutkan cara mengungkapkan emosi marah secara

asertif. Guru BK memberikan motivasi dan memberikan

informasi mengenai kegiatan pada pertemuan terakhir.

99
c. Pelaksanaan Tindakan 3

1) Kegiatan Pembuka

Pelaksanaan expressive writing yang ketiga peneliti dan

guru BK menyiapkan kertas HVS dan amplop. Guru BK

membuka kegiatan dan menjelaskan tindakan ke 3 yaitu siswa

diminta untuk menulis surat yang dapat ditujukan baik kepada

dirinya sendiri maupun kepada orang lain yang pernah

berhubungan dengan emosi marah. Tujuan dari kegiatan ini,

melatih siswa mengungkapkan emosi marah yang berlebihan

dengan meredamnya atau menyalurkannya melalui tulisan.

2) Kegiatan inti

Pelaksanaan tindakan expressive writing pada hari

Selasa tanggal 8 April [Link] BK menjelaskan tindakan

yang terakhir dan membagikan kertas HVS dan amplop pada

masing-masing [Link] guru BK selesai menjelaskan,

siswa diminta untuk mulai [Link] terlihat lebih

tenang karena semua siswa langsung [Link] terlihat

antusias dalam menuliskan cara mengungkapkan emosi marah.

(Hasil tulisan subjek dapat dilihat di lampiran halaman 175,

176).

3) Penutup

Pada tindakan ketiga, guru BK memberikan apresiasi

kepada siswa karena telah mengikuti rangkaian kegiatan secara

100
[Link] BK kemudian menyampaikan kesimpulan dari

kegiatan dari awal hingga akhir mengenai pentingnya

kemampuan mengelola emosi [Link] DP, SN, dan AP

dapat memahami dan maksud dan tujuan dari expressive

writing yang telah dilakukan. Siswa lain juga merasakan

pentingnya mengelola emosi marah.

3. Hasil Tindakan Siklus II

Hasil tindakan dari ketiga pertemuan dalam siklus 2 dapat

dilihat dari observasi, wawancara dan post test. Pelaksanaan

dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 11 April 2014 Data17 siswa

kemampuan mengelola emosi marah siswa setelah dilakukan post test I

adalah sebagai berikut:

Tabel [Link] Skor Post Test 2 Siswa Kelas XI IPS 3

No Nama Subjek Skor Post Test 2 Kategori


1 RM 103 Sedang
2 MA 131 Tinggi
3 DN 127 Tinggi
4 MH 88 Sedang
5 DP 100 Sedang
6 LM 123 Tinggi
7 AD 99 Sedang
8 NT 104 Sedang
9 RD 113 Tinggi
10 NS 106 Tinggi
11 AK 87 Sedang
12 SN 105 Sedang
13 BS 93 Sedang
14 NA 113 Tinggi
15 RK 87 Sedang
16 IP 111 Tinggi
17 NK 110 Tinggi

101
Hasil post test 2 selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 12halaman

161.

Dari hasil post test menunjukkan bahwa skor tertinggi adalah 131

dan skor terendah adalah 87. Berdasarkan hasil pre test dan post test sudah

menunjukkan peningkatan kategori dari sedang ke tinggi yang

menunjukkan sudah adanya peningkatan kemampuan mengelola emosi

marah siswa.

Hasil observasi pada saat tindakan siklus 2 menunjukkan bahwa

siswa mampu menunjukkan perkembangan yang lebih baik dari siklus

[Link] observasi yang dilakukan oleh peneliti selama tindakan

siklus II berlangsung, secara keseluruhan tindakan yang diberikan dapat

berjalan dengan [Link] dapat mengenali emosi marahnya,

mengendalikan emosi marah, meredakan emosi marah dan mampu

mengungkapkan emosi marah secara asertif baik di sekolah maupun

dilingkungan [Link] observasi yang dilakukan peneliti selama

tindakan berlangsung, peneliti juga melakukan observasi pasca tindakan

seperti pada siklus [Link] bertujuan untuk mengetahui perkembangan

yang terjadi pada siswa setelah dilaksanakan tindakan lanjutan. Hasil dari

observasi peneliti dengan mengamati siswa ketika ada di sekolah dari pagi

hingga jam pulang sekolah menunjukkan perubahan yang lebih baik.

Pada tindakan I, siswa dapat memahami penjelasan dari guru BK,

terlihat dalam pelaksanaanya siswa mampu menuliskan emosi marah yang

masih terpendam sampai saat ini dengan lancar dan [Link]

102
tenang, sehingga siswa terlihat nyaman dan fokus dalam

mengungkapkannya secara [Link] BK menjelaskan dampak

apabila memendam emosi marah dan diakhir kegiatan melakukan diskusi

dengan siswa agar siswa mampu merefleksi diri.

Tindakan II suasana kurang kondusif karena kegiatan dilakukan

pada jam terakhir sehingga siswa terlihat lelah dan tergesa-gesa dalam

menuliskan cara dalam mengekspresikan ataupun mengungkapkan emosi

marah. Namun, beberapa siswa mampu mengikuti kegiatan dengan baik.

Guru BK memberikan gambaran cara mengekspresikan emosi marah baik

yang positif maupun negatif dan melakukan diskusi dengan siswa. Suasana

dapat lebih kondusif karena diantara siswa saling berpendapat saat diskusi.

Tindakan III, siswa terlihat bersemangat dan antusias dengan

menanyakan kepada guru BK tema pada kegiatan terakhir. Guru BK

menjelaskan kegiatan terakhir menuliskan surat kepada seseorang yang

membuat dirinya marah dan membagikan amplop untuk tempat surat

tersebut. siswa mampu memahami penjelasan dari guru BK dan mampu

menuliskan surat tersebut. Diakhir kegiatan guru BK berdiskusi dan

merefleksikan kegiatan yang sudah dilakukan terkait dengan cara

mengelola emosi marah.

Pengamatan yang dilakukan oleh peneliti membuktikan ada

perkembangan atau perubahan dalam mengungkapkan dan mengelola

emosi marahnya. Siswa mulai mengontrol kata-kata yang diucapkan

dengan mengeluarkan kata-kata yang lebih halus dan tidak menimbulkan

103
emosi marah pada orang lain ataupun menyinggung perasaan orang lain,

siswa mulai mengenali pertanda awal emosi marah yang muncul, ketika

pelajaran siswa mampu menghormati guru dengan cara mendengarkan

guru saat menerangkan siswa tidak ramai sendiri di dalam kelas.

Setiap selesai pelaksanaan tindakan guru BK memberikan feed

backpada siswa cara yang dapat dilakukan ketika emosi marah muncul

dengan menenangkan pikiran sejenak agar emosi marah tidak memuncak.

Mencurahkan dengan teman dekat agar mendapatkan masukan-masukan

yang [Link] kegiatan yang positif yang disenangi untuk

meredakan emosi marah.

4. Refleksi dan Evaluasi

Refleksi dari pelaksanaan tindakan expressive writing

menunjukkan siklus 2 sudah berjalan sesuai dengan [Link] post test

II menunjukkan adanya peningkatan. Peningkatan skor antara post test I

dan post test II, dapat dilihat pada tabel 12berikut:

Tabel 12. Prosentase Peningkatan Skor Siswa (Siklus 2)

Nama Skor
No Peningkatan Prosentase
Subjek Post Test 1 post test 2
1 RM 93 103 10 7,14%
2 MA 111 131 20 14,28%
3 DN 120 127 7 5%
4 MH 82 88 6 4,28%
5 DP 94 100 6 4,28%
6 LM 105 123 18 12,85%
7 AD 87 99 12 8,57%
8 NT 101 104 3 2,14%
9 RD 105 113 8 5,71%

104
10 NS 104 106 2 1,42%
11 AK 84 87 3 2,14%
12 SN 75 105 30 21,42%
13 BS 89 93 4 2,85%
14 NA 95 113 18 12,85%
15 RK 71 87 16 11,42%
16 IP 107 111 4 2,85%
17 NK 106 110 4 2,85%
Selain dari tabel diatas, persentase peningkatan skor siswa

siklus 2 juga ditunjukkan dalam bentuk diagram sebagai berikut:

140
120
100
80
Skor Post Test 1
60
40 Skor post test 2
20
0
NT

NA
NS

NK
IP
AK

RK
MA

MH
RM

DN

DP
LM
AD

RD

SN
BS

Gambar 2. Diagram Peningkatan Skor Siswa Siklus 2

Berdasarkan tabel dan diagram skor angket siswa dari pre

test(80,70),post test I(95,82)dan post test (105,88) menunjukkan

bahwa rata-rata skor tersebut masih dalam kategori sedang. Hal

tersebut dapat disebabkan adanya beberapa faktor, diantaranya siswa

kurang tertarik dalam pengisian [Link] itu, siswa merasa jenuh

dengan pengisian angket yang dilakukan beberapa [Link] hal

tersebut berpengaruh pada hasil akhir skor angket [Link],

berdasarkan analisis kualitatif melalui observasi dan wawancara dalam

dua siklus menunjukkan bahwa adanya peningkatan kemampuan

mengelola emosi marah siswa.

105
Berdasarkan hasil post test pada tabel dapat diketahui bahwa

prosentase peningkatan terbesar ada pada siswa SN sejumlah 21, 42%,

dan persentase peningkatan terkecil ada pada siswa NS sejumlah 1,

42%. Hasil wawancara menunjukkan bahwa siswa sudah memahami

pentingnya kemampuan mengelola emosi marah dalam kehidupan

[Link] merasa bahwa teknik ini baru pernah didapatkan dan

menarik untuk dilakukan [Link] dari siswa mengatakan

bahwa pada awalnya siswa merasa kesulitan dalam mengelola emosi

marah. Namun, setelah diberikan teknik expressive writing, siswa

mampu memahami tanda-tanda ketika emosi marah akan muncul,

siswa mengetahui cara mengungkapkan emosi marah secara asertif.

Siswa juga merasa memiliki pengetahuan baru dan manfaat setelah

mengikuti kegiatan.

Berdasarkan hasil observasi saat tindakan dan pasca tindakan

juga menunjukkan adanya perubahan perilaku pada [Link] mulai

mampu beradaptasi dengan baik tanpa harus secara berlebihan dalam

mengekspresikan emosi [Link] terlihat antusias dalam

mengikuti [Link] yang diperoleh dari penelitian ini yaitu

kegiatan dapat berjalan sesuai dengan rencana dan sudah sesuai

dengan kriteria keberhasilan yang telah ditetapkan oleh [Link]

itu, pelaksanaan tindakan juga sudah berjalan dengan lancar, dan tidak

mengalami hambatan dan kendalan yang mempengaruhi hasil

106
[Link] yang dicapai sudah baik, sehingga peneliti

memutuskan untuk tidak melanjutkan pada siklus selanjutnya.

F. Hasil Tindakan Siklus 1 dan Siklus 2

Hasil tindakan siklus 1 dan siklus 2 dalam penelitian ini dapat

dilihat dari pengamatan, wawancara dan hasil pre test, post test I dan post

test II. Data kemampuan mengelola emosi marah siswa dapat dilihat

peningkatannya melalui skor pre test ke skor post test I dan selanjutnya

post test II. Berikut ini hasil penelitian terhadap 17 siswa pasca pemberian

tindakan siklus 2 berlangsung.

Tabel [Link] Skor Kemampuan Mengelola Emosi Marah

Pra tindakan Siklus I Siklus II


No Nama Subjek
Skor Kategori Skor Kategori Skor Kategori
1 RM 70 Rendah 93 Sedang 103 Sedang
2 MA 84 Sedang 111 Tinggi 131 Tinggi
3 DN 105 Sedang 120 Tinggi 127 Tinggi
4 MH 68 Rendah 82 Sedang 88 Sedang
5 DP 84 Sedang 94 Sedang 100 Sedang
6 LM 93 Sedang 105 Sedang 123 Tinggi
7 AD 81 Sedang 87 Sedang 99 Sedang
8 NT 68 Rendah 101 Sedang 104 Sedang
9 RD 69 Rendah 105 Sedang 113 Tinggi
10 NS 94 Sedang 104 Sedang 106 Tinggi
11 AK 78 Sedang 84 Sedang 87 Sedang
12 SN 69 Rendah 75 Sedang 105 Sedang
13 BS 87 Sedang 89 Sedang 93 Sedang
14 NA 89 Sedang 95 Sedang 113 Tinggi
15 RK 66 Rendah 71 Sedang 87 Sedang
16 IP 98 Sedang 107 Tinggi 111 Tinggi
17 NK 69 Rendah 106 Tinggi 110 Tinggi
Skor rata-rata 80,70 95,82 105,88

107
Selain dari tabel di atas, skor rerata peningkatan kemampuan

mengelola emosi marah siswa juga ditunjukkan dalam bentuk diagram

sebagai berikut:

Peningkatan Skor Rerata Kemampuan Mengelola


Emosi Marah

105,88
95,82
80,7

Pre Test Post Test 1 Post Test 2

Gambar 3. Diagram Peningkatan Skor Rerata Kemampuan Mengelola

Emosi Marah Siswa

Dari hasil tersebut dapat diketahui bahwa siswa sudah

menunjukkan peningkatan kemampuan mengelola emosi [Link] dari

hasil skala, setelah pelaksanaan tindakan dapat diketahui bahwa siswa

sudah dapat menunjukkan adanya peningkatan perubahan dalam

mengelola emosi [Link] mampu mengenali tanda-tanda awal

emosi marah, mengendalikan emosi marah, meredakan emosi marah, dan

mengungkapkan emosi marah secara asertif sehingga siswa mampu

meningkatkan kemampuan mengelola emosi marah yang ada dalam

dirinya.

Hasil wawancara juga menunjukkan bahwa teknik expressive

writing dapat meningkatkan kemampuan mengelola emosi marah

108
[Link] merasa senang selama pelaksanaan tindakan karena

mendapatkan pengalaman baru dan pengetahuan yang baru pernah

[Link] siswa juga mengatakan bahwa awalnya merasa sulit

untuk mengelola emosi [Link]-latihan yang telah dilakukan selama

tindakan memiliki manfaat untuk meningkatkan kemampuan mengelola

emosi marah yang lebih baik.

Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini sudah sesuai dengan

kriteria keberhasilan yang ditetapkan oleh peneliti yaitu skor kemampuan

mengelola emosi marah siswa meningkat sampai sedang dan [Link]

itu, dalam pelaksanaan tindakan, peneliti tidak mengalami hambatan

kendala yang dapat mempengaruhi hasil sehingga peneliti tidak

melanjutkan ke siklus selanjutnya.

G. Pembahasan

Penelitian tindakan ini, dilakukan untuk meningkatkan kemampuan

mengelola emosi marah siswa kelas XI IPS 3 SMA Negeri 2 Bantul

dengan menggunakan teknik expressive [Link] teknik expressive

writing siswa dibawa pada suasana nyata yang menggambarkan emosi

marah yang sering dirasakan dan kondisi siswa ketika dalam keadaan

marah. Selain itu cara mereka keluar dari masalah emosi marah yaitu

kebiasaan marah yang diekspresikan secara negatif kearah

mengekspresikan secara lebih positif. Hal ini sejalan dengan penelitian

Perwadarminta (Ekawati Istiana, 2007: 45) yang menyebutkan bahwa

109
penggunaan expressive writing sebagai kegiatan untuk mencurahkan

segala pikiran perasaan, dan pengalaman-pengalaman yang bermakna pada

suatu tulisan. Teknik expressive writing ini merupakan salah satu bentuk

terapi yang dapat digunakan untuk mengelola emosi marah.

Selain itu, berdasarkan hasil observasi menunjukkan bahwa siswa

lebih dapat mengontrol emosi marahnya, ketika pelajaran siswa mampu

mendengarkan guru tidak ribut sendiri di dalam [Link] mampu

mengontrol kata-katanya ketika akan marah ke teman lain atau orang lain

dengan mengeluarkan kata-kata yang lebih halus dan tidak menimbulkan

emosi marah pada orang lain. Hal ini sejalan dengan pendapat Safaria dan

Eka Saputra (2012: 86) menyatakan bahwa cara efektif untuk mengelola

emosi marah adalah dengan mengungkapkan dan mengomunikasikannya

secara verbal dan asertif. Emosi marah yang dipendam dapat menjadi bom

waktu, yang sewaktu-waktu nantinya akan meledak dan tidak dapat

dikendalikan sehingga menjadi amuk dan berdampak negatif.

Sedangkan hasil wawancara dengan siswa terkait teknik expressive

writing siswa mampu mengekspresikan emosi marahnya secara tepat,

tidak memendam emosi marah secara terus menerus, mampu merefleksi

diri dan mampu meredakan emosi marah apabila pikiran negatif mulai

muncul agar emosi marah tersebut tidak [Link] itu, siswa

memiliki motivasi untuk berubah dalam mengungkapkan emosi marah ke

arah yang lebih baik [Link] tersebut senada dengan pendapat Farida

Harahap (2012: 1) dalam pemberian teknik expressive writing siswa

110
mampu mengeksternalisasi masalah sehingga dapat mengekspresikan

emosinya secara tepat, meningkatkan motivasi untuk berubah, mengurangi

rasa frustasi karena keinginan yang tidak terpenuhi dan melegakan

perasaan yang tadinya berkecamuk.

Dari hasil penelitian ini, dapat diketahui bahwa terdapat

peningkatan kemampuan mengelola emosi marah siswa kelas XI IPS 3

SMA Negeri 2 Bantul melalui teknik expressive [Link] dengan

pendapat Cameron dan Nicholls (1998)yang menyebutkan bahwa

penggunaan teknik expressive writing membantu penyesuaian terhadap

peristiwa-peristiwa yang penuh tekanan dengan mengintegrasikan

keyakinan, emosi dan pengalaman, sehingga seseorang dapat lebih baik

memahami peristiwa dan mengidentifikasi cara-cara untuk mengatasinya.

Peningkatan kemampuan mengelola emosi marah dapat dilihat dari

perbandingan hasil pre test dengan post test I dan post test II. Skor rata-

rata-rata hasil pre test siswa sebelum dilaksanakan tindakan adalah

(80,70). Setelah dilaksanakan siklus I yang skor rata-rata meningkat

menjadi (95,82), kemudian dilakukan tindakan siklus II yang skor rata-rata

siswa meningkat menjadi (105,88). Selain itu, berdasarkan analisis

kualitatif melalui proses observasi dan wawancara dalam dua siklus

menunjukkan bahwa adanya peningkatan kemampuan mengelola emosi

marah siswa kelas XI SMA Negeri 2 Bantul. Hasil penelitian ini

menunjukkan bahwa kemampuan mengelola emosi marah siswa

mengalami peningkatan pada keempat aspek menurut Goleman (Robik

111
Anwar Dani, 2011) yaitu: 1) mengenali emosi marah, 2) mengendalikan

emosi marah, 3) meredakan emosi marah, 4) mengungkapkan emosi marah

secara asertif.

Peran fasilitator dalam proses pemberian teknik expressive writing

sangat penting. Fasilitator berperan memberikan dukungan dan motivasi

agar peserta mampu dalam mengikuti seluruh kegiatan atau tindakan yang

[Link] itu, fasilitator meminta siswa untuk merefleksikan dari

setiap kegiatan agar siswa mengetahui manfaat yang didapat dan

memahami kekurangan dan kelebihan dari setiap kegiatan yang telah

dilaksanakan. Diakhir pelaksanaan guru BK maupun peneliti melakukan

evaluasi untuk mengetahui pendapat atau gagasan yang dipikirkan dari

siswa dalam proses menulis pada teknik expressive writing. Guru BK juga

meminta siswa untuk mencari manfaat yang dapat diambil, yang nantinya

dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Berdasarkan hasil penelitian ini, sudahsesuai dengan tujuan

penelitian yang menunjukkan bahwa teknik expressive writing yang

digunakan sebagai metode pemberian layanan Bimbingan dan Konseling

dapat meningkatkan kemampuan mengelola emosi marah siswa kelas XI

IPS 3 SMA Negeri 2 Bantul.

112
H. Keterbatasan Penelitian

Selama proses penelitian yang dilakukan, peneliti menyadari

bahwa masih terdapat kelemahan dan keterbatasan. Keterbatasan-

keterbatasan yang dihadapi peneliti selama penelitian dilaksanakan adalah:

1. Siswa belum begitu paham dengan teknik expressive writing, sehingga

ada beberapa siswa yang merasa bosan dengan kegiatan menulis.

2. Ketika siswa melakukan expressive writing, peneliti belum memberikan

perlakuan untuk memunculkan emosi marah siswa dalam mengingat

pengalaman-pengalaman emosi marah siswa.

3. Berdasarkan hasil skor kemampuan mengelola emosi marah siswa rata-

rata dalam kategori sedang. Hanya beberapa siswa yang masuk dalam

indikator keberhasilan yaitu mencapai skor tinggi. Peneliti tidak

melakukan pada siklus selanjutnya dikarenakan terbatasnya waktu dan

perlu adanya pendampingan peneliti dan guru BK dalam melakukan

tindakan. Namun secara keseluruhan siswa sudah mengalami

peningkatan dalam kemampuan mengelola emosi marahnya.

113
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Pemberian tindakan expressive writing dapat meningkatkan

kemampuan mengelola emosi marah siswa kelas XI IPS 3 SMA Negeri 2

[Link] tersebut dapat dilihat dari peningkatan nilai rata-rata

kemampuan mengelola emosi marah mulai dari pra tindakan ke skor pasca

tindakan I kemudian ke skor pasca tindakan II. Hasil skor rata-rata pre test

siklus I sebesar 80,70; kemudian meningkat setelah post test I sebesar

95,82; dan pada post test II meningkat sebesar 105,88.

Hasil observasi setelah pasca tindakan menunjukkan siswa sudah

mengalami perubahan dan [Link] dapat mengenali emosi

marahnya, mengendalikan emosi marah, meredakan emosi marah dan

mampu mengungkapkan emosi marah secara asertif baik di sekolah

maupun dilingkungan [Link] lebih dapat mengontrol emosi

marahnya, ketika pelajaran siswa mampu mendengarkan guru tidak ribut

sendiri di dalam kelas.

Hasil wawancara menunjukkan bahwa adanya peningkatan

mengelola emosi marah [Link] mampu mengekspresikan emosi

marahnya secara tepat, tidak memendam emosi marah secara terus

menerus, mampu merefleksi diri dan mampu meredakan emosi marah

apabila pikiran negatif mulai muncul agar emosi marah tersebut tidak

114
[Link] itu, siswa memiliki motivasi untuk berubah dalam

mengungkapkan emosi marah ke arah yang lebih baik lagi.

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan hasil penelitian yang telah

dilaksanakan,maka dikemukakan saran sebagai berikut:

1. Bagi Sekolah

Kemampuan mengelola emosi marah siswa kelas XI IPS 3

SMA Negeri 2 Bantul telah mengalami peningkatan melalui teknik

expressive [Link] dapat menambahkan kegiatan yang

berkaitan dengan kemampuan mengelola emosi marah siswa.

2. Bagi Guru Bimbingan dan Konseling

Guru BK diharapkan dapat menggunakan teknik expressive

writing sebagai sarana dalam meningkatkan kemampuan mengelola

emosi marah siswa dan dapat mengembangkan teknik expressive

writing ini dalam memberikan layanan bimbingan bagi siswa.

3. Bagi Siswa

Kemampuan mengelola emosi marah siswa kelas XI IPS 3

SMA Negeri 2 Bantul telah mengalami peningkatan melalui teknik

expressive [Link] karena itu, disarankan kepada siswa agar

kemampuan mengelola emosi marah yang telah dimiliki dapat

dikembangkan dan diaplikasikan dalam kehidupan [Link]

dilingkungan keluarga, sekolah maupun dimasyarakat.

115
4. Bagi Peneliti Selanjutnya

Peningkatan kemampuan mengelola emosi marah dalam

penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik expressive

[Link], masih ada kekurangan ataupun kelemahan seperti

siswa yang kurang antusias karena belum paham dengan teknik

expressive [Link] peneliti selanjutnya dapat memodifikasi

teknik expressive writing menjadi lebih baik agar siswa lebih antusias

lagi.

116
DAFTAR PUSTAKA

Anisa Rahmadani. (2013). Teknik Expressive Writing untuk Meningkatkan


Kemampuan Pengelolaan Emosi Siswa. [Link]-UPI.

Anthony Dio Martin. (2001). Emotional Quality Management. Jakarta: Arga.

Baiquni.(2012). Sebanyak 17 Pelajar Tewas dalam Tawuran. Diakses dari


[Link]
[Link]. Tanggal 19 November 2013, pukul 19.00 WIB.

Bhave, Swati. Y & Saini, Sunil. (2009). Anger Management. New Delhi. India:
Sagepublication.

Burhan Nugiyantoro,dkk. (2004). Statistik Terapan untuk Penelitian Imu-ilmu


Sosial. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Cameron, L.D. & Nicholls, G. (1998). of Sterssful Experiences Trough Writing:


Effect of a self regulation Manipulation and Optimist. Health Psychology,
17 (1), 84-92.

Ekawati Istiana. (2007). Aktifitas Menulis Untuk Mengurangi Frekuensi


Kekambuhan dan Keluhan Fisik Pada Penderita Asma. [Link]
Psikologi-Universitas Katolik Soegijapranata.

Farida Harahap. (2012). Expressive Writing Sebagai Teknik Bimbingan, Media


Konseling dan Teknik Psikoterapi. Jurnal Bimbingan dan Konseling. FIP-
Universitas Negeri Yogyakarta.

Goleman, Daniel. (2001). Kecerdasan Emosi untuk Mencapai Puncak Prestasi.


Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Harry Theozard Fikri. (2012). Pengaruh Menulis Pengalaman Emosional dalam


Terapi Ekspresif terhadap Emosi Marah pada Remaja. Jurnal Padang:
Humanitas [Link], No 2.

Hersorn, Michael. (2003). Alih bahasa, Hendry M. Redakan Amarahmu tip-tip


Pengendalian Emosi [Link]: PT. Bhuana Ilmu Populer.

Hurlock, Elizabeth B. (1991). Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan


Sepanjang Rentang Kehidupan. Edisi Kelima. Jakarta: Erlangga.

Ilham Tirta. (2013). Emosi Marah dan Pengendalian Diri. Diakses dari
[Link] 19 November 2013, pukul 15.20 WIB.

117
Intan Imannawati. (2013). Pengaruh Expressive Writing Terhadap Self Disclosure
Pada Siswa Kelas XI SMK YPKK1 Sleman Tahun 2012/2013. Skripsi. FIP-
Universitas Negeri Yogyakarta.

Manktelow, James. (2008). Mengendalikan Stres. Jakarta: Erlangga.

Melianawati. (2004). Pengaruh Terapi Tulis terhadap Ketegangan Emosi. Skripsi.


Fakultas Psikologi-Universitas Surabaya.

Messina James J. & Messina Constance M. (2004). Anger Work-Out Teknik


Mengelola Amarah. Jogjakarta: Book Mark.

Mohammad Ali & Mohammad Asrori.(2005). Psikologi Remaja: Perkembangan


Peserta Didik. Jakarta: Bumi Aksara.

Norman Wright. (2000). Meredakan Emosi Jiwa. Yogyakarta: ANDI offset.

Pennebaker, J.W. & Chung C. K. (2007). Expressive Writing: Connections to


Physical and Mental Healh. Austin: University of Texas.

PurwantoY. & MulyonoR. M., (2006).Psikologi Marah, Perspektif Psikologi


Islami. Bandung: Refika Aditama.

Reyza Dahlia Murti & Hamidah.(2012). Pengaruh Expressive Writing terhadap


Penurunan Depresi pada Remaja SMK di [Link] Psikologi Klinis
dan Kesehatan Mental Vol. 1, No. 02. Fakultas Psikologi-Universitas
Airlangga Surabaya.

Risa Yuliani. (2013). Emosi Negatif Siswa Kelas XI SMA N 1 Sungai Limau.
Jurnal Padang. Vol.2, No.1.

Rita Eka Izzati, dkk. (2008). Perkembangan Peserta Didik. Yogyakarta: UNY
Press.

Robertus belarminus. (2013). Usia Penjahat yang Kian Muda Sungguh


Merisaukan. Diakses dari [Link] 1
November 2013, pukul 19.45 WIB.

Robik Anwar Dani. (2011). Skala Pengendalian Emosi (Anger Management)


Diakses dari [Link]
pengendalian-emosi-anger_02.html. Tanggal 1 Juni 2013, pukul 19.30 WIB.

Saifudin Azwar. (2010). Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta: UNY Press.

118
Septya Muti Fadhila. (2013). Peningkatan Kemampuan Mengelola Emosi Marah
Melalui Teknik Biblioterapi Pada Siswa Kelas VII di SMP Negeri 15
Yogyakarta. Skripsi. FIP: Universitas Negeri Yogyakarta.

Sugiyono. (2007). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung:


Alfabeta.

_______. (2010). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif,


Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Suharsimi Arikunto. (2010). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.


Jakarta: Rineka Cipta.

Susilowati. (2009). Pengaruh Terapi Menulis Pengalaman Emosional terhadap


Penurunan Depresi pada Mahasiswa Tahun [Link]. Fakultas
Psikologi: Universitas Gadjah Mada.

Trianto. (2011). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Prestasi Pustaka Usaha


Nasional.

Triantoro Safaria dan Nofrans Eka Saputra. (2009). Manajemen Emosi: Sebuah
Panduan Cerdas Bagaimana Mengelola Emosi Positif Dalam Hidup Anda.
Jakarta: Bumi Aksara.

Windoro Adi. (2012). Mengapa Remaja Gampang Marah. Diakses dari


[Link] 19 November 2013, pukul 19.40
WIB.

119
BIMBINGAN DAN KONSELING
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
Karangmalang, Yogyakarta 55281 | Phone :(0274)586168 Psw.312

SKALA KEMAMPUAN MENGELOLA EMOSI MARAH (Sebelum Uji

Validitas)

A. PENGANTAR

Berikut ini adalah skala kemampuan mengelola emosi marah, skala

ini dibuat untuk penelitian dan pengembangan potensi para siswa. oleh

karena itu, saya meminta bantuan kepada para siswa untuk meluangkan

waktunya guna mengisi pernyataan-pernyataan di bawah ini. Kejujuran

dan kesungguhan dalam menjawab pernyataan-pernyataan sangat

membantu dalam mengetahui tingkat kemampuan mengelola emsi marah

para siswa. Setiap jawaban itu benar jika mencerminkan diri kalian karena

awaban dari satu siswa dan siswa lain berbeda-beda sesuai dengan kondisi

diri saat ini dan jawaban kalian akan dijamin kerahasiaannya. Hasil dari

pernyataan pengisian ini tidak akan mempengaruhi nilai maupun prestasi

siswa di sekolah. Atas kesediaan dan kerjasama kalian saya ucapkan

terima kasih.

Hormat saya,

Yeni Dwi Rejeki

120
B. PETUNJUK PENGISIAN

1. Isilah identitas diri secara lengkap pada bagian yang telah disediakan.

2. Bacalah setiap pernyataan dibawah ini dengan seksama, jawaban tidak

ada benar atau salah maka pilihlah sesuai dengan kondisi yang

sebenarnya. Setiap pernyataan dalam skala ini dilengkapi empat

pilihan jawaban:

SL : apabila anda selalu melakukan/ merasakan pernyataan

tersebut.

SR : apabila anda sering melakukan/ merasakan pernyataan

tersebut.

J : apabila anda jarang melakukan/ merasakan pernyataan

tersebut.

TP : apabila anda tidak pernah melakukan/merasakan

pernyataan tersebut.

3. Berilah tanda centang/ cek (√) pada lembar jawaban mengenai

pernyataan yang sesuai dengan keadaan diri Anda.

Contoh:

Apabila pernyataan dibawah ini selalu dirasakan dan sesuai dengan

keadaan anda, berilah tanda chek list (√) pada pilihan pernyataan SL

(Selalu)

121
JAWABAN
NO PERNYATAAN
SL SR J TP
1. Saya merasa nyaman berada di √
sekolah

C. IDENTITAS SISWA

Nama Lengkap :

Kelas :

Jenis Kelamin : L/ P

D. DAFTAR PERNYATAAN

JAWABAN
NO PERNYATAAN
SL SR J TP
1. Jika jantung saya terasa berdetak lebih kencang dan rahang
saya mengatup kaku, saya sedang menahan kemarahan.
2. Ketika sedang marah denyut nadi saya terasa lebih kencang.
3. Apabila saya sedang marah darah dalam tubuh berdesir lebih
deras.
4. Saya merasa marah apabila orang lain tidak menghargai
hasil pekerjaan saya sendiri.
5. Saya sulit mengetahui alasan mengapa saya marah.
6. Jika saya sedang kesal, biasanya saya memukul-mukulkan
tangan saya sendiri.
7. Saya tidak tahu saya tipe orang yang tenang atau meledak-
ledak ketika saya marah.
8. Saya mengetahui dengan sadar ketika saya marah.
9. Saya akan mengontrol diri dari rasa marah, karena apabila
marah saya merasa capek.

122
10. Saya selalu berusaha mencari penyebab rasa marah dan
berusaha menghilangkan perasaan marah tersebut.
11. Ketika marah, saya tidak peduli dengan apapun yang terjadi
di sekitar.
12. Saya merasa wajar apabila saya membalas perlakuan orang
yang berbuat jahat kepada saya.
13. Pada saat-saat tertentu,saya tidak bisa mengontrol
keinginanku untuk memukul orang lain.
14. Saya ingin emosi marah yang saya alami segera berakhir
karena mengganggu aktifitas saya.
15. Saya meminta bantuan orang lain untuk menenangkan
kemarahan.
16. Saya melakukan kegiatan lain untuk mengurangi emosi
marah yang dirasakan.
17. Jika orang lain menyepelekkan pekerjaan yang saya lakukan,
saya akan marah-marah dan tidak akan mendengarkan
penjelasannya
18. Apabila saya sedang marah dengan orang lain, saya akan
terus mencaci orang yangmembuat saya marah sampai saya
merasa puas.
19. Saya menarik diri dari lingkungan ketika marah.
20. Saya membalas dan melepaskan emosi marah pada orang
lain sampai puas.
21. Jika saya sedang marah saya akan diam dan mencoba
berpikir positif.
22. Saya berusaha tidak mengungkit-ungkit kesalahan orang lain
yang membuat saya marah
23. Saya sering berpikiran negatif apabila saya melihat orang
yang pernah membuat saya marah
24. Saya berpikir bahwa semua orang akan membuat saya

123
semakin marah.
25. Saya membiarkan pikiran-pikiran negatif ketika marah.
26. Saya berusaha menjaga dan mengendalikan perasaan agar
tetap positif.
27. Saya mencoba memaafkan orang yang membuat saya marah.
28. Ketika marah, saya mencoba mengalihkan kepada kegiatan
yang menyenangkan agar perasaan lebih ringan.
29. Saya merasa benci dengan orang yang membuat saya marah.
30. Saya ingin membalas dendam perlakuan orang yang
membuat saya marah.
31. Meskipun marah, saya tidak pernah menjelek-jelekkan orang
yang pernah membuat saya marah.
32. Saya lebih memilih menahan ucapan saya dan perilaku saya
agar tidak menyakiti orang lain.
33. Saya dapat memaki-maki orang yang membuat saya marah.
34. Apabila saya marah, saya sulit konsentrasi dalam bekerja.
35. Ketika saya marah, saya akan berteriak dan melempar
sesuatu yang ada di dekat saya.
36. Saya mencari kegiatan yang dapat melegakan perasaan dan
berusaha berfikiran positif terhadap orang lain.
37. Ketika saya marah saya melakukan aktifitas yang membuat
saya senang.
38. Ketika saya marah, saya lebih suka memukul bantal untuk
mengendalikan emosi marah.
39. Terkadang sulit bagi saya untuk mengendalikan emosi
marah.
40. Ketika saya marah, saya ingin mengungkapkan kemarahan
sampai saya puas.
41. Ketika saya marah, saya lebih baik menyendiri untuk
sementara waktu.

124
42. Apabila saya marah, saya lebih memilih menangis di tempat
yang sepi untuk mengeluarkan kemarahan saya.
43. Ketika saya marah saya memilih menulis buku diary atau
melakukan kegiatan yang menyenangkan .
44. Ketika saya marah, saya akan bergaul dengan teman-teman
yang dapat membuat saya tertawa sehingga dapat melupakan
perasaan marah.
45. Saya menenangkan diri sejenak dan kembali menemui orang
yang membuat saya marah untuk membicarakan baik-baik.
46. Saya melampiaskan kemarahan saya langsung kepada orang
yang membuat saya marah.
47. Saya meredakan marah dengan mengurung diri.
48. Saya menghindari melakukan interaksi dengan orang yang
membuat saya marah, sampai rasa marah saya yang
berkurang.
49. Saya melampiaskan kemarahan dengan mengejek teman lain
50. Saya jarang melakukan kegiatan untuk meredakan emosi
marah yang dialami.
51. Saya tidak suka memendam rasa marah, lebih baik
introspeksi diri sendiri
52. Saya selalu berusaha melupakan kejadian yang membuat
saya marah.
53. Saya akan mengungkapkan kemarahan yang saya rasakan
dengan cara yang sesuai dan tidak menyakiti orang lain.
54. Saya memilih diam dan memendam kemarahan dalam hati.
55. Ketika saya marah, saya berusaha tidak menunjukkan
kemarahan tersebut.
56. Saya mencoba untuk mencari tahu apa yang terjadi pada diri
saya dan orang lain rasakan sehingga dalam bertindak saya
tidak menyinggung perasaan orang lain.

125
57. Jika saya merasa kurang setuju dengan pendapat orang lain,
saya akan mengatakan kepada orang tersebut dengan kata-
kata yang baik agar tidak menyinggung perasaan.
58. Saya tidak suka menyalahkan orang lain tanpa mengetahui
sebab yang jelas.
59. Saya sering mengabaikan perasaan orang lain ketika marah
60. Saya tidak akan mendengarkan saran/ pendapat dari orang
lain yang tidak saya sukai, walaupun saran tersebut demi
kebaikan saya.

TERIMAKASIH

126
HASIL SPSS UJI INSTRUMEN

Reliability

Case Processing Summary

N %

Cases Valid 18 100.0


a
Excluded 0 .0

Total 18 100.0

a. Listwise deletion based on all variables in the


procedure.

Reliability Statistics

Cronbach's Alpha N of Items

.938 35

Item-Total Statistics

Scale Mean if Item Scale Variance Corrected Item- Cronbach's Alpha


Deleted if Item Deleted Total Correlation if Item Deleted

Butir_1 169.0556 267.938 -.331 .879


Butir_2 168.8333 253.912 .163 .871
Butir_3 169.0556 254.408 .115 .872
Butir_4 169.5556 257.085 .073 .871
Butir_5 168.3889 256.722 .097 .871
Butir_6 168.4444 242.732 .552 .865
Butir_7 168.7778 256.301 .066 .872
Butir_8 168.7222 256.330 .046 .874
Butir_9 169.0000 249.647 .366 .868
Butir_10 168.7778 243.595 .586 .864
Butir_11 168.8889 249.281 .279 .869
Butir_12 168.9444 244.761 .679 .864
Butir_13 168.6111 232.134 .739 .860
Butir_14 168.2778 246.683 .613 .865
Butir_15 169.6667 256.706 .052 .873
Butir_16 168.6667 250.824 .380 .868
Butir_17 168.8333 250.735 .425 .868
Butir_18 168.6667 250.235 .317 .869
Butir_19 169.0000 262.235 -.159 .875
Butir_20 168.5000 235.559 .838 .860
Butir_21 169.0556 246.644 .548 .866
Butir_22 168.7778 246.301 .531 .866
Butir_23 168.9444 251.585 .293 .869
Butir_24 168.1111 249.163 .373 .868
Butir_25 168.5000 246.029 .482 .866
Butir_26 168.5000 241.206 .755 .862
Butir_27 168.5556 251.438 .362 .868
Butir_28 168.3889 244.722 .640 .864
Butir_29 168.7222 261.154 -.135 .874
Butir_30 168.7778 251.359 .425 .868

127
Butir_31 169.4444 251.203 .268 .869
Butir_32 168.8333 247.912 .495 .866
Butir_33 168.8889 250.693 .276 .869
Butir_34 169.6667 267.882 -.340 .879
Butir_35 168.2222 262.301 -.170 .875
Butir_36 168.7222 248.918 .440 .867
Butir_37 168.5556 249.320 .362 .868
Butir_38 170.0556 257.820 .028 .872
Butir_39 169.4444 252.379 .250 .869
Butir_40 169.0556 247.703 .581 .866
Butir_41 169.0556 251.703 .272 .869
Butir_42 169.4444 240.967 .453 .866
Butir_43 169.9444 248.997 .263 .870
Butir_44 168.3889 243.428 .623 .864
Butir_45 169.3333 247.647 .436 .867
Butir_46 168.8889 235.163 .875 .859
Butir_47 168.5556 268.614 -.400 .879
Butir_48 169.0556 267.232 -.392 .877
Butir_49 168.0556 249.938 .459 .867
Butir_50 168.3333 243.294 .619 .864
Butir_51 169.0556 248.056 .481 .866
Butir_52 168.6667 251.412 .350 .868
Butir_53 168.9444 243.703 .733 .864
Butir_54 169.0556 271.585 -.451 .881
Butir_55 169.1667 266.735 -.329 .878
Butir_56 169.0556 244.291 .660 .864
Butir_57 168.5556 256.497 .103 .871
Butir_58 168.9444 247.703 .378 .868
Butir_59 168.7778 242.654 .527 .865
Butir_60 168.4444 241.320 .560 .864

128
Kisi-kisi Skala Kemampuan Mengelola Emosi Marah (Setelah Uji Validitas)

No Item
Variabel Sub Variabel Indikator Σ
+ -
Kemampuan 5. Mengenali 5.1. Memahami tanda-
Mengelola emosi marah tanda awal emosi 6 1
Emosi marah
Marah 5.2. Mengidentifikasi
9,10 12,13 4
emosi marah
5.3. Menghadapi
17,18,
emosi marah yang 14,16 5
20
dirasakan
6. Mengendali- 6.1. Memiliki kendali
21,22 24,25
kan emosi pikiran emosi marah 4
marah
6.2. Memiliki kendali 26,27,2
perasaan emosi 8 30 4
marah
6.3. Memiliki kendali
motorik emosi
32
marah(verbal dan 1
non verbal)

6.4. Memiliki kendali


fisiologi emosi 36,37 40 3
marah
7. Meredakan [Link] mengetahui
46,49,
emosi marah cara meredakan emosi 42,44,45 6
50
marah pada diri
8. Mengungkap 8.1. Mampu
kan emosi mengungkapkan 51,52,
marah secara emosi marah pada 53 3
asertif diri sendiri secara
tepat
[Link]
mengungkapkan
56,58 59,60 4
emosi marah pada
orang lain secara tepat
Jumlah: 20 15 35

129
BIMBINGAN DAN KONSELING
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
Karangmalang, Yogyakarta 55281 | Phone :(0274)586168 Psw.312

SKALA KEMAMPUAN MENGELOLA EMOSI MARAH (Sesudah Uji

Validitas)

A. PENGANTAR

Berikut ini adalah skala kemampuan mengelola emosi marah, skala

ini dibuat untuk penelitian dan pengembangan potensi para siswa. oleh

karena itu, saya meminta bantuan kepada para siswa untuk meluangkan

waktunya guna mengisi pernyataan-pernyataan di bawah ini. Kejujuran

dan kesungguhan dalam menjawab pernyataan-pernyataan sangat

membantu dalam mengetahui tingkat kemampuan mengelola emsi marah

para siswa. Setiap jawaban itu benar jika mencerminkan diri kalian karena

awaban dari satu siswa dan siswa lain berbeda-beda sesuai dengan kondisi

diri saat ini dan jawaban kalian akan dijamin kerahasiaannya. Hasil dari

pernyataan pengisian ini tidak akan mempengaruhi nilai maupun prestasi

siswa di sekolah. Atas kesediaan dan kerjasama kalian saya ucapkan

terima kasih.

Hormat saya,

Yeni Dwi Rejeki

130
B. PETUNJUK PENGISIAN

1. Isilah identitas diri secara lengkap pada bagian yang telah disediakan.

2. Bacalah setiap pernyataan dibawah ini dengan seksama, jawaban tidak

ada benar atau salah maka pilihlah sesuai dengan kondisi yang

sebenarnya. Setiap pernyataan dalam skala ini dilengkapi empat

pilihan jawaban:

SL : apabila anda selalu melakukan/ merasakan pernyataan

tersebut.

SR : apabila anda sering melakukan/ merasakan pernyataan

tersebut.

J : apabila anda jarang melakukan/ merasakan pernyataan

tersebut.

TP : apabila anda tidak pernah melakukan/merasakan

pernyataan tersebut.

3. Berilah tanda centang/ cek (√) pada lembar jawaban mengenai

pernyataan yang sesuai dengan keadaan diri Anda.

Contoh:

Apabila pernyataan dibawah ini selalu dirasakan dan sesuai dengan

keadaan anda, berilah tanda chek list (√) pada pilihan pernyataan SL

(Selalu)

131
JAWABAN
NO PERNYATAAN
SL SR J TP
1. Saya merasa nyaman berada di √
sekolah

C. IDENTITAS SISWA

Nama Lengkap :

Kelas :

Jenis Kelamin : L/ P

D. DAFTAR PERNYATAAN

JAWABAN
NO PERNYATAAN
SL SR J TP
1. Jika saya sedang kesal, biasanya saya memukul-mukulkan
tangan saya sendiri.
2. Saya akan mengontrol diri dari rasa marah, karena apabila
marah saya merasa capek.
3. Saya selalu berusaha mencari penyebab rasa marah dan
berusaha menghilangkan perasaan marah tersebut.
4. Saya merasa wajar apabila saya membalas perlakuan orang
yang berbuat jahat kepada saya.
5. Pada saat-saat tertentu,saya tidak bisa mengontrol
keinginanku untuk memukul orang lain.
6. Saya ingin emosi marah yang saya alami segera berakhir
karena mengganggu aktifitas saya.
7. Saya melakukan kegiatan lain untuk mengurangi emosi
marah yang dirasakan.

132
8. Jika orang lain menyepelekkan pekerjaan yang saya lakukan,
saya akan marah-marah dan tidak akan mendengarkan
penjelasannya
9. Apabila saya sedang marah dengan orang lain, saya akan
terus mencaci orang yangmembuat saya marah sampai saya
merasa puas.
10. Saya membalas dan melepaskan emosi marah pada orang
lain sampai puas.
11. Jika saya sedang marah saya akan diam dan mencoba
berpikir positif.
12. Saya berusaha tidak mengungkit-ungkit kesalahan orang lain
yang membuat saya marah
13. Saya berpikir bahwa semua orang akan membuat saya
semakin marah.
14. Saya membiarkan pikiran-pikiran negatif ketika marah.
15. Saya berusaha menjaga dan mengendalikan perasaan agar
tetap positif.
16. Saya mencoba memaafkan orang yang membuat saya marah.
17. Ketika marah, saya mencoba mengalihkan kepada kegiatan
yang menyenangkan agar perasaan lebih ringan.
18. Saya ingin membalas dendam perlakuan orang yang
membuat saya marah.
19. Saya lebih memilih menahan ucapan saya dan perilaku saya
agar tidak menyakiti orang lain.
20. Saya mencari kegiatan yang dapat melegakan perasaan dan
berusaha berfikiran positif terhadap orang lain.
21. Ketika saya marah saya melakukan aktifitas yang membuat
saya senang.
22. Ketika saya marah, saya ingin mengungkapkan kemarahan
sampai saya puas.

133
23. Apabila saya marah, saya lebih memilih menangis di tempat
yang sepi untuk mengeluarkan kemarahan saya.
24. Ketika saya marah, saya akan bergaul dengan teman-teman
yang dapat membuat saya tertawa sehingga dapat melupakan
perasaan marah.
25. Saya menenangkan diri sejenak dan kembali menemui orang
yang membuat saya marah untuk membicarakan baik-baik.
26. Saya melampiaskan kemarahan saya langsung kepada orang
yang membuat saya marah.
27. Saya melampiaskan kemarahan dengan mengejek teman lain
28. Saya jarang melakukan kegiatan untuk meredakan emosi
marah yang dialami.
29. Saya tidak suka memendam rasa marah, lebih baik
introspeksi diri sendiri
30. Saya selalu berusaha melupakan kejadian yang membuat
saya marah.
31. Saya akan mengungkapkan kemarahan yang saya rasakan
dengan cara yang sesuai dan tidak menyakiti orang lain.
32. Saya mencoba untuk mencari tahu apa yang terjadi pada diri
saya dan orang lain rasakan sehingga dalam bertindak saya
tidak menyinggung perasaan orang lain.
33. Saya tidak suka menyalahkan orang lain tanpa mengetahui
sebab yang jelas.
34. Saya sering mengabaikan perasaan orang lain ketika marah
35. Saya tidak akan mendengarkan saran/ pendapat dari orang
lain yang tidak saya sukai, walaupun saran tersebut demi
kebaikan saya.

TERIMA KASIH

134
Lembar Observasi Pelaksanaan Expressive Writing pada Guru BK

Siklus I (Tindakan I)

Aspek yang Kriteria


No Hal yang diungkap Keterangan
diobservasi Baik Cukup Kurang
1. Proses Penyampaian √ Guru BK
pelaksanaan materi kepada memberikan
expressive siswa penjelasan pada
writing siswa mengeai
teknik expressive
writing hingga siswa
paham
2. Hambatan Fasilitas yang √ Guru BK
siswa saat digunakan dalam membagikan kertas
melakukan expressive writing pada setiap siswa.
tindakan

135
Lembar Observasi Pelaksanaan Expressive Writing pada Subjek Penelitian

Siklus I (Tindakan I)

Aspek yang Kriteria


No Hal yang diungkap Keterangan
diobservasi Baik Cukup Kurang
1. Proses a. Perilaku siswa √ Siswa belum
pelaksanaan saat pelaksanaan menunjukkan
expressive Expressive antusias yang
writing Writing tinggi dan terlihat
bingung karena
masih bertanya
dengan teman di
sebelahnya.
b. Suasana saat √ Beberapa siswa
proses expressive masih melihat-lihat
writing hasil tulisan milik
teman lain. namun,
setelah semua
siswa selesai, ada 2
siswa yang mau
menceritakan di
depan kelas.
2. Hambatan Fasilitas penunjang √ Siswa dapat
siswa saat expressive writing melakukan
melakukan kegiatan dengan
tindakan menuliskan pada
kertas yang sudah
disediakan

136
Lembar Observasi Pelaksanaan Expressive Writing pada Guru BK

Siklus I (Tindakan II)

Aspek yang Kriteria


No Hal yang diungkap Keterangan
diobservasi Baik Cukup Kurang
1. Proses Penyampaian √ Guru BK
pelaksanaan materi kepada menyampaikan
expressive siswa penjelasan dengan
writing memberikan
contoh-contoh
pengalaman emosi
marah yang terkait
dengan teman
dekat, yang terjadi
dalam kehidupan
sehari-hari.
2. Hambatan Fasilitas yang √ Guru BK
siswa saat digunakan dalam membagikan kertas
melakukan expressive writing pada setiap siswa.
tindakan

137
Lembar Observasi Pelaksanaan Expressive Writing pada Subjek Penelitian

Siklus I (Tindakan II)

Aspek yang Kriteria


No Hal yang diungkap Keterangan
diobservasi Baik Cukup Kurang
1. Proses a. Perilaku siswa √ Diawal siswa
pelaksanaan saat pelaksanaan masih sibuk
expressive Expressive sendiri. Sehingga
writing Writing siswa kurang
memperhatikan
penjelasan dari
guru BK.
Beberapa siswa
menanyakan
kembali tema
pada tindakan
kedua.
b. Suasana saat √ Pada saat guru
proses expressive BK mengulangi
writing menjelasakan
tindakan kedua,
siswa
memperhatikan
dan mulai fokus
dengan tulisannya
masing-masing.
2. Hambatan Fasilitas penunjang √ Siswa dapat
siswa saat expressive writing melakukan
melakukan kegiatan dengan
tindakan menuliskan pada
kertas yang sudah
disediakan

138
Lembar Observasi Pelaksanaan Expressive Writing pada Guru BK

Siklus I (Tindakan III)

Aspek yang Kriteria


No Hal yang diungkap Keterangan
diobservasi Baik Cukup Kurang
1. Proses Penyampaian √ Guru BK
pelaksanaan materi kepada mengkondisikan siswa
expressive siswa terlebih dahulu karena
writing siswa baru selesai
ulangan, sehingga
suasana di kelas masih
ramai. Setelah guru
BK mengkondisikan
siswa, siswa diberikan
kertas yang berisi
puisi kemarahan. Guru
BK membacakan puisi
tersebut agar siswa
lebih paham dan dapat
fokus mengikuti
kegiatan.
2. Hambatan Fasilitas yang Guru BK membagikan
siswa saat digunakan dalam kertas kosong dan
melakukan expressive writing kertas yang berisi
tindakan puisi kemarahan pada
setiap siswa.

139
Lembar Observasi Pelaksanaan Expressive Writing pada Subjek Penelitian

Siklus I (Tindakan III)

Aspek yang Kriteria


No Hal yang diungkap Keterangan
diobservasi Baik Cukup Kurang
1. Proses a. Perilaku siswa √ Siswa masih ramai
pelaksanaan saat pelaksanaan di dalam kelas
expressive Expressive membahas ulangan.
writing Writing Setelah guru BK
mengkodisikan,
siswa mulai okus
dan mulai tertarik
dengan puisi yang
telah dibagikan oleh
guru BK. Semua
siswa memahami
puisi yang sudah ada
di mejanya masing-
masing dan
menuliskan isi dari
puisi kemarahan
tersebut.
b. Suasana saat √ Suasana lebih
proses expressive tenang, sehingga
writing siswa dapat
menuliskan makna
dari puisi kemarahan
dengan lebih
mendalam.
2. Hambatan Fasilitas penunjang √ Siswa lebih dapat
siswa saat expressive writing memahami puisi
melakukan kemarahan yang
tindakan sudah dibagikan dan
mendapat kertas
kosong yang sudah
disediakan untuk
menuliskan makna
dari puisi
kemarahan.

140
Lembar Observasi Pelaksanaan Expressive Writing pada Guru BK Siklus

II ( Tindakan I)

Aspek yang Kriteria


No Hal yang diungkap Keterangan
diobservasi Baik Cukup Kurang
1. Proses Penyampaian √ Guru BK
pelaksanaan materi kepada menjelaskan tema
expressive siswa emosi marah yang
writing masih terpendam
dan menjelaskan
dampaknya.
Kemudian
melakukan diskusi
agar siswa mampu
merefleksi diri.
2. Hambatan Fasilitas yang √ Guru BK
siswa saat digunakan dalam membagikan kertas
melakukan expressive writing kosong pada setiap
tindakan siswa.

141
Lembar Observasi Pelaksanaan Expressive Writing pada Subjek Penelitian

Siklus II (Tindakan I)

No Aspek yang Hal yang diungkap Kriteria Keterangan


diobservasi Baik Cukup Kurang
1. Proses a. Perilaku siswa √ Siswa terlihat
pelaksanaan saat pelaksanaan antusias, mampu
expressive Expressive mendengarkan
writing Writing penjelasan dari
guru BK. Siswa
menuliskan
dengan tenang
dan fokus pada
tulisannya
masing-masing.
b. Suasana saat √ Suasana tenang,
proses expressive sehingga siswa
writing dapat menuliskan
secara mendalam.
2. Hambatan Fasilitas penunjang √ Siswa dapat
siswa saat expressive writing melakukan
melakukan kegiatan dengan
tindakan menuliskan pada
kertas yang sudah
disediakan

142
Lembar Observasi Pelaksanaan Expressive Writing pada Guru BK Siklus

II (Tindakan II)

No Aspek yang Hal yang diungkap Kriteria Keterangan


diobservasi Baik Cukup Kurang
1. Proses Penyampaian √ Guru BK
pelaksanaan materi kepada menjelaskan cara
expressive siswa mengekspresikan
writing emosi marah dan
melakukan diskusi
dengan siswa.
2. Hambatan Fasilitas yang √ Guru BK
siswa saat digunakan dalam membagikan kertas
melakukan expressive writing kosong pada setiap
tindakan siswa.

143
Lembar Observasi Pelaksanaan Expressive Writing pada Subjek Penelitian

Siklus II (Tindakan II)

Aspek yang Kriteria


No Hal yang diungkap Keterangan
diobservasi Baik Cukup Kurang
1. Proses a. Perilaku siswa √ Siswa kurang fokus
pelaksanaan saat pelaksanaan karena kegiatan
expressive Expressive dilakukan pada jam
writing Writing terakhir. Namun,
setelah guru BK
memberikan contoh
dan melakukan
diskusi siswa
mampu mengikuti
kegiatan dengan
baik.
b. Suasana saat √ Awalnya suasana
proses expressive kurang kondusi
writing karena beberapa
siswa sudah lelah
dan ingin cepat
pulang.
2. Hambatan Fasilitas penunjang √ Siswa dapat
siswa saat expressive writing melakukan kegiatan
melakukan dengan menuliskan
tindakan pada kertas yang
sudah disediakan

144
Lembar Observasi Pelaksanaan Expressive Writing pada Guru BK Siklus

II (Tindakan III)

No Aspek yang Hal yang Kriteria Keterangan


diobservasi diungkap Baik Cukup Kurang
1. Proses Penyampaian √ Guru BK
pelaksanaan materi kepada menjelaskan
expressive siswa salah satu cara
writing yang dapat
dilakukan untuk
mengungkapkan
emosi marahn
dengan menulis
surat kepada
orang yang
membuat
marah.
2. Hambatan Fasilitas yang √ Guru BK
siswa saat digunakan dalam membagikan
melakukan expressive writing kertas kosong
tindakan dan amplop
pada setiap
siswa.

145
Lembar Observasi Pelaksanaan Expressive Writing pada Subjek Penelitian

Siklus II (Tindakan III)

Aspek yang Kriteria


No Hal yang diungkap Keterangan
diobservasi Baik Cukup Kurang
1. Proses a. Perilaku siswa saat √ Siswa terlihat
pelaksanaan pelaksanaan bersemangat dan
expressive Expressive Writing antusias dan
writing paham dengan
penjelasan yang
disampaikan oleh
guru BK.
b. Suasana saat √ Semua siswa
proses expressive fokus pada surat
writing yang ditulisnya
dan terlihat
berusaha
menuliskan
dengan serius.
2. Hambatan Fasilitas penunjang √ Siswa dapat
siswa saat expressive writing melakukan
melakukan kegiatan dengan
tindakan menuliskan pada
kertas yang sudah
disediakan.
Setelah selesai
dimasukkan
kedalam amplop.

146
Wawancara dengan SN

No Aspek Yang Hal Yang Pertanyaan Jawaban


Diteliti Diungkap
1. Proses a. Pemahaman Apakah anda Awalnya masih
pelaksanaan tentang proses paham dengan bingung karena
expressive expressive teknik expressive belum pernah
writing writing writing yang dilakukan. Namun
telah dilakukan? setelah mengikuti
beberapa kegiatan
lebih paham.
Apabila kita
marah, tidak perlu
marah-marah bisa
diungkapkan
melalui tulisan.
b. Menarik Bagaimana Saya bisa
tidaknya proses pendapat anda mengekspresikan
expressive mengenai teknik kemarahan saya
writing yang expressive melalui tulisan.
telah writing yang
dilaksanakan telah
dilaksanakan?
c. Suasana saat Bagaimana Pada saat menulis
proses suasana pada saat lebih suka dalam
expressive proses expressive suasana yang
writing writing? tenang.
2. Hasil Manfaat Manfaat apa Manfaatnya jadi
pelaksanaan expressive yang dapat bisa
expressive writing dalam diperoleh setelah mengungkapkan
writing meningkatkan melakukan emosi marah saya
kemampuan expressive melalui tulisan.
mengelola writing terkait Saya dapat lebih
emosi marah dengan mengontrol emosi
pada siswa kemampuan marah untuk tidak
kelas XI SMA mengelola emosi mengungkapkan
Negeri 2 marah? secara berlebihan.
Bantul
3. Kemampuan a. Kemampuan Bagaimana Biasanya jika
mengelola mengelola kemampuan saya marah
emosi marah emosi marah mengelola emosi dengan seseorang,
siswa siswa sebelum marah anda saya lebih sering
pelaksanaan selama ini marah-marah dan
expressive sebelum mudah terpancing
writing melakukan emosi apabila
expressive pendapat atau

147
writing? pemikiran saya
berbeda.

b. Manfaat Apa yang Saya bisa


kemampuan dirasakan anda mengekspresikan
mengelola pada saat emosi marah saya
emosi marah dilaksanakannya dengan puas.
saat expressive
dilaksanakanny writing?
a expressive
writing

c. Peningkatan Bagaimana Saya berusaha


kemampuan tingkat menahan emosi
mengelola kemampuan marah saya agar
emosi marah mengelola emosi tidak meledak-
setelah marah setelah ledak, berusaha
mengikuti anda melakukan meredamnya.
expressive expressive walaupun
writing writing? sebenarnya cukup
sulit.

148
Wawancara dengan DP

No Aspek Yang Hal Yang Pertanyaan Jawaban


Diteliti Diungkap
1. Proses a. Pemahaman Apakah anda Awalnya belum
pelaksanaan tentang proses paham dengan begitu paham,
expressive expressive teknik expressive namun setelah
writing writing writing yang mengikuti kegiatan
telah dilakukan? lebih paham dengan
teknik expressive
writing,
b. Menarik Bagaimana Cukup menarik
tidaknya pendapat anda karena tema yang
proses mengenai teknik diberikan dalam
expressive expressive setiap kegiatan
writing yang writing yang berbeda, sehingga
telah telah jadi tidak bosan
dilaksanakan dilaksanakan? ketika diminta
untuk menulis
perasaan emosi
marah.
c. Suasana saat Bagaimana Suasana yang
proses suasana pada tenang
expressive saat proses memudahkan saya
writing expressive dalam menuangkan
writing? perasaan emosi
marah lewat tulisan.
2. Hasil Manfaat Manfaat apa Ketika saya marah,
pelaksanaan expressive yang dapat saya lebih memilih
expressive writing dalam diperoleh setelah diam, saya pendam
writing meningkatkan melakukan sendiri. Setelah
kemampuan expressive melakukan
mengelola writing terkait expressive writing
emosi marah dengan saya dapat
pada siswa kemampuan mengungkapkan
kelas XI SMA mengelola emosi emosi marah.
Negeri 2 marah? Sehingga perasaan
Bantul saya lebih tenang.
3. Kemampuan d. Kemampuan Bagaimana Ketika saya marah,
mengelola mengelola kemampuan saya lebih sering
emosi marah emosi marah mengelola emosi memendamnya
siswa siswa sebelum marah anda sendiri. Terkadang
pelaksanaan selama ini jika saya bertemu
expressive sebelum dengan orang yang
writing melakukan membuat saya
expressive marah, saya lebih

149
writing? memilih
menghindar karena
malas jika harus
bertemu.
e. Manfaat Apa yang Saya dapat
kemampuan dirasakan anda mengungkapkan
mengelola pada saat perasaan emosi
emosi marah dilaksanakannya marah dengan
saat expressive bebas sampai saya
dilaksanakann writing? merasa lebih lega
ya expressive karena selama ini
writing saya lebih memilih
untuk
memendamnya.
f. Peningkatan Bagaimana Kemampuan
kemampuan tingkat mengelola emosi
mengelola kemampuan marah saya lebih
emosi marah mengelola emosi baik, dengan
setelah marah setelah mengungkapkannya
mengikuti anda melakukan lewat tulisan maka
expressive expressive sedikit meredakan
writing writing? emosi marah dan
mengurangi
perasaan emosi
marah yang selama
ini saya pendam.

150
Wawancara dengan RM

No Aspek Yang Hal Yang Pertanyaan Jawaban


Diteliti Diungkap
1. Proses a. Pemahaman Apakah anda Yang saya
pelaksanaan tentang proses paham dengan ketahui selama
expressive expressive teknik expressive kegiatan
writing writing writing yang mencurahkan
telah dilakukan? emosi marah
melalui tulisan
b. Menarik Bagaimana Kegiatan tersebut
tidaknya proses pendapat anda baru pernah saya
expressive mengenai teknik lakukan. Selama
writing yang expressive ini jika ada yang
telah writing yang membuat saya
dilaksanakan telah marah, saya akan
dilaksanakan? langsung
memarahinya,
dan terkadang
terbawa emosi
c. Suasana saat Bagaimana Awalnya masih
proses suasana pada saat ramai karena
expressive proses expressive saling bertanya
writing writing? dengan teman
lain. Namun, saat
semua mulai
menulis suasana
lebih tenang
sehingga fokus
dengan tulisan
sendiri.
2. Hasil Manfaat Manfaat apa Emosi marah
pelaksanaan expressive yang dapat yang selama ini
expressive writing dalam diperoleh setelah saya rasakan bisa
writing meningkatkan melakukan saya ungkapkan
kemampuan expressive melalui tulisan.
mengelola writing terkait
emosi marah dengan
pada siswa kemampuan
kelas XI SMA mengelola emosi
Negeri 2 marah?
Bantul
3. Kemampuan d. Kemampuan Bagaimana Jika saya sedang
mengelola mengelola kemampuan marah, emosi
emosi marah emosi marah mengelola emosi marah saya
siswa siswa sebelum marah anda kurang dapat

151
pelaksanaan selama ini terkontrol.
expressive sebelum
writing melakukan
expressive
writing?
e. Manfaat Apa yang Saya dapat
kemampuan dirasakan anda mengungkapkan
mengelola pada saat emosi marah
emosi marah dilaksanakannya dengan menulis.
saat expressive Apa saja yang
dilaksanakanny writing? mengganjal
a expressive dalam perasaan
writing saya dapat saya
ungkapkan lewat
tulisan.
f. Peningkatan Bagaimana Kemampuan
kemampuan tingkat mengelola emosi
mengelola kemampuan marah saya lebih
emosi marah mengelola emosi baik. Saya
setelah marah setelah berusaha
mengikuti anda melakukan mengontrol
expressive expressive emosi marah saya
writing writing? jika ada yang
membuat saya
marah.

152
Wawancara dengan AD

No Aspek Yang Hal Yang Pertanyaan Jawaban


Diteliti Diungkap
1. Proses a. Pemahaman Apakah anda Mengungkapkan
pelaksanaan tentang proses paham dengan perasaan emosi
expressive expressive teknik expressive marah melalui
writing writing writing yang tulisan.
telah dilakukan?
b. Menarik Bagaimana Menarik karena
tidaknya proses pendapat anda saya dapat
expressive mengenai teknik mengungkapan
writing yang expressive emosi marah saya
telah writing yang yang saya
dilaksanakan telah pendam sejak
dilaksanakan? dulu.
c. Suasana saat Bagaimana Ketika sudah
proses suasana pada saat mulai menulis
expressive proses expressive suasana tenang
writing writing? sehingga nyaman
dalam menulis
dan tidak suka
tulisan dibaca
oleh teman lain.
Fokus dengan
tulisan masing-
masing.
2. Hasil Manfaat Manfaat apa Perasaan saya
pelaksanaan expressive yang dapat lebih tenang dan
expressive writing dalam diperoleh setelah lega. Berusaha
writing meningkatkan melakukan berpikir jernih
kemampuan expressive ketika dalam
mengelola writing terkait keadaan marah.
emosi marah dengan
pada siswa kemampuan
kelas XI SMA mengelola emosi
Negeri 2 marah?
Bantul
3. Kemampuan d. Kemampuan Bagaimana Jika ada yang
mengelola mengelola kemampuan tidak sejalan
emosi marah emosi marah mengelola emosi dengan pikiran
siswa siswa sebelum marah anda saya, saya
pelaksanaan selama ini direndahkan,
expressive sebelum keinginan saya
writing melakukan tidak terpenuhi
expressive dan membuat

153
writing? saya tidak
nyaman. Pasti
emosi marah saya
akan terpancing
dan ingin
membalas
perbuatan yang
sama.
e. Manfaat Apa yang Pada saat diawal
kemampuan dirasakan anda kegiatan kurang
mengelola pada saat tertarik untuk
emosi marah dilaksanakannya menulis. Namun,
saat expressive setelah paham
dilaksanakanny writing? dengan tujuan
a expressive dan manfaat
writing expressive
writing saya
mencoba
berusaha
memahami dan
bertanya dengan
teman lain.
f. Peningkatan Bagaimana Saya berusaha
kemampuan tingkat mengendalikan
mengelola kemampuan emosi marah saya
emosi marah mengelola emosi agar tidak mudah
setelah marah setelah terpancing emosi.
mengikuti anda melakukan Sehingga pikiran
expressive expressive dan perasaan saya
writing writing? lebih tenang.

154
WAWANCARA DENGAN GURU BK

No Aspek Yang Diteliti Hal Yang Diungkap Pertanyaan Jawaban


1. Proses pelaksanaan Kesesuaian rencana Apakah dalam teknik expressive
expressive writing dengan proses pelaksanaan teknik writing yang
expressive writing expressive writing telah
sesuai dengan dilaksanakan
rencana yang sudah sesuai
diharapkan? dengan rencana
dan sudah
berjalan cukup
baik.
2. Hasil pelaksanaan c. Keberhasilan Apakah teknik Teknik
expressive writing expressive writing expressive writing expressive
dalam yang sudah writing ini cukup
meningkatksn dilaksanakan berpengaruh dan
kemampuan mampu bermanfaat
mengelola emosi berpengaruh terhadap perilaku
marah pada siswa terhadap ataupun cara
kelas XI SMA kemampuan berpikir siswa
Negeri 2 Bantul mengelola emosi dalam mengelola
marah siswa? emosi marah.
Terlihat dari cara
mengungkapkan
emosi marah
yang lebih baik.
d. Tanggapan guru Bagaimana Cukup bagus dan
bimbingan dan tanggapan bapak menarik.
konseling terhadap terhadap teknik Terkadang siswa
hasil pelaksanaan expressive writing malu, kurang
expressive writing yang masih jarang terbuka dan takut
dalam digunakan dalam untuk bercerita
meningkatksn proses pemberian langsung
kemampuan layanan pada mengenai
mengelola emosi siswa? masalah
marah pada siswa pribadinya.
kelas XI SMA Apalagi terkait
Negeri 2 Bantul dengan emosi
marah. Siswa
lebih sering
melakukan
tindakan yang
kurang
bermanfaat
seperti marah-
marah di kelas,

155
ramai di kelas
ataupun
mengganggu
teman lain ketika
pelajaran untuk
melampiaskan
emosi marahnya.
3. Kemampuan e. Aspek kognitif Bagaimana respon Ketika diberi
mengelola emosi kognitif siswa pertanyaan
marah siswa setelah tindakan terkait emosi
expressive writing? marah siswa
mampu berpikir
salah satu cara
yang dapat
dilakukan
dengan
mengungkapkan
emosi marah
melalui teknik
expressive
writng. Siswa
merasa
mendapatkan
dampak positif
dari tindakan
yang telah
dilakukan.
f. Aspek afektif Bagaimana respon Siswa lebih
afektif siswa? menghargai
perasaan orang
lain ketika ada
yang membuat
marah dapat
lebih tenang
mengontrol dan
tidak
mengeluarkan
kata-kata yang
membuat siswa
lain ataupun
orang lain
smerasa sakit
hati.
g. Aspek Bagaimana respon Siswa lebih
psikomotorik psikomotorik tenang dapat
siswa? mengurangi

156
kegaduhan di
kelasdan tidak
melakukan
perusakan
fasilitas sekolah
dalam
mengungkapkan
emosi marahnya.

157
PUISI EMOSI MARAH

“KEMARAHAN PADA DIRI SENDIRI”

Lelah
Aku pun marah
Pada suara-suara yang memerahkan telinga
Pada bisikan yang mengusik jiwa

Aku marah pada diriku


yang tidak bisa pahami dirimu
Aku marah pada diriku
yang selalu salah menangkap maksud hatimu sahabat

Tapi apalah artinya amarah


Jika persahabatan menjadi terpecah

Semakin kupendam amarah


Semakin tak kutemukan alasan untuk ku marah
Setiap ku ingin marah
Kepada air mata akupun mengalah

Keimanan melahirkan kecemburuan


Akan sahabat yg didapatinya dalam keburukan
Bencilah apa-apa keburukan yang kalian temukan
Marahlah sesuka kalian
Sesungguhnya itu adalah tanda cinta dan kasih sayang, sahabat

Sungguh apalah yang bisa kalian harapkan


Dari aku yang lemah dan hina ini
Selain kealpaan dan kesalahan
Yang menghiasi hari demi hari
Kepada siapa lagi ku tumpahkan amarah
Kalau bukan kepada diri ini yang lemah
Mungkin lebih pantas bila kalian yg marah
Dan menunjukkan apa yang salah
Bukankah aku yang lebih sering mengecewakanmu?

158
SKOR PRE TEST

Jumlah item
Nama 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3 3 3 3 3 3 Jmlh
1 2 3 4 5 6 7 8 9 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 0 1 2 3 4 5
RM 2 2 2 1 3 3 2 3 2 3 2 2 1 2 3 2 2 2 3 1 2 1 1 2 1 2 3 1 2 2 2 3 2 1 2 70
MA 3 2 2 2 3 2 3 3 2 3 2 2 3 2 2 2 3 2 2 3 3 2 2 2 2 3 3 2 2 2 2 2 3 3 3 84
DN 3 3 2 3 3 3 3 2 3 2 3 3 3 3 3 2 4 4 3 3 4 4 3 4 2 4 3 2 2 3 3 3 3 3 4 105
MH 3 2 2 1 2 2 2 2 3 2 2 2 1 1 2 3 2 2 2 1 2 1 1 3 2 2 3 1 2 2 2 2 2 1 3 68
DP 3 3 2 3 3 3 1 2 3 3 2 2 2 2 3 2 2 2 2 2 2 3 3 2 2 2 3 3 2 2 3 2 2 3 3 84
LM 2 3 3 2 2 2 3 4 3 3 3 2 3 3 3 4 2 3 2 3 3 1 3 3 2 1 3 2 2 2 3 3 3 3 4 93
AD 2 3 2 2 3 3 2 1 2 2 2 3 3 2 2 3 2 2 2 3 3 2 3 3 2 2 3 1 3 2 3 2 3 1 2 81
NT 2 2 1 2 2 2 2 2 2 3 2 2 1 1 2 2 2 3 2 1 2 2 2 2 1 2 2 1 2 3 2 2 3 2 2 68
RD 3 2 2 1 3 3 2 2 2 3 2 2 1 1 2 2 2 3 2 2 2 1 2 2 1 2 3 1 2 2 2 2 2 1 2 69
NS 3 3 3 2 3 4 2 2 3 4 2 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 2 3 3 1 3 2 3 2 3 2 3 94
AK 2 2 3 3 2 3 3 2 2 2 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2 3 2 1 4 1 2 2 2 3 3 2 3 2 2 3 78
SN 1 2 3 2 2 2 1 2 2 3 2 2 3 2 2 2 1 2 1 2 2 2 1 2 1 2 2 2 2 2 2 3 2 2 3 69
BS 3 2 2 2 3 2 2 3 3 2 2 3 3 2 3 3 2 2 4 2 3 2 2 3 2 3 3 2 2 3 3 2 3 2 2 87
NA 2 3 2 3 3 2 3 2 3 3 2 3 3 2 3 2 3 2 2 3 2 3 1 3 3 2 3 3 2 2 3 3 2 3 3 89
RK 2 2 3 1 2 1 2 1 3 1 3 3 2 1 3 2 2 1 2 3 2 2 1 3 1 1 3 1 2 2 2 2 2 1 1 66
IP 3 3 3 3 4 3 2 3 3 3 3 3 4 2 2 3 2 4 3 3 2 3 4 2 1 3 4 2 3 2 3 2 3 2 3 98
NK 2 3 2 1 3 2 1 1 2 1 2 2 1 2 2 2 3 2 2 1 2 2 3 2 1 3 2 1 3 2 2 3 3 1 2 69

159
SKOR POST TEST I

Jumlah item
Nam
1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3 3 3 3 3 3 Jmlh
a
1 2 3 4 5 6 7 8 9 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 0 1 2 3 4 5
RM 2 2 3 2 3 3 2 3 2 3 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 1 1 2 1 2 4 2 3 3 4 3 3 2 3 93
MA 3 3 3 2 3 3 4 3 3 3 4 3 3 3 4 4 4 3 3 3 4 3 4 3 2 3 3 4 2 3 3 4 3 3 3 111
DN 4 3 4 3 3 3 3 2 3 2 3 3 4 3 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 4 4 3 4 2 3 3 4 4 3 4 120
MH 4 3 3 1 3 3 3 1 2 3 3 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 4 4 2 2 4 3 2 1 1 2 2 2 2 82
DP 4 3 4 3 3 4 2 2 3 2 3 3 2 2 3 3 3 2 2 3 3 2 4 2 4 1 1 2 4 3 3 3 2 3 1 94
LM 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 4 3 3 3 3 4 4 3 3 3 4 3 2 3 4 3 3 3 3 2 3 3 1 3 4 105
AD 3 3 3 2 3 3 3 1 2 2 2 3 2 2 3 3 3 2 2 3 3 2 2 4 2 2 3 2 2 3 3 3 2 3 1 87
NT 3 3 2 3 3 4 3 3 2 3 3 2 2 2 3 3 2 3 3 4 4 2 4 3 2 2 3 3 4 4 3 3 4 2 2 101
RD 3 3 3 3 4 3 3 3 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 105
NS 3 3 3 3 3 4 3 3 3 4 3 3 4 2 4 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 2 3 3 3 3 3 2 4 2 3 104
AK 1 2 3 3 2 2 3 4 1 2 2 2 3 2 3 2 4 1 2 4 4 1 1 4 2 3 2 3 2 2 3 3 2 2 2 84
SN 1 2 3 2 2 2 2 2 2 3 2 2 3 2 2 2 1 2 1 2 2 2 1 4 3 3 2 2 2 2 2 3 2 2 3 75
BS 3 3 2 3 3 2 2 3 3 3 2 3 3 2 2 3 2 2 3 2 3 2 2 3 3 3 3 2 2 2 2 2 3 3 3 89
NA 2 3 3 3 2 3 3 2 3 4 2 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 4 1 3 3 2 3 2 3 2 3 3 2 3 3 95
RK 1 2 4 1 2 1 2 1 4 1 4 4 2 1 3 2 2 1 2 3 2 2 1 3 1 1 4 2 2 2 2 2 2 1 1 71
IP 4 3 3 3 4 3 3 3 4 3 4 3 3 3 3 3 2 4 2 3 2 3 3 3 2 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 107
NK 3 4 4 2 3 4 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 4 2 4 3 3 4 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 4 3 2 106

160
SKOR POST TEST II

Jumlah Item
Nam
1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3 3 3 3 3 3 Jmlh
a
1 2 3 4 5 6 7 8 9 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 0 1 2 3 4 5
RM 1 2 3 2 1 4 4 1 3 3 4 4 2 1 4 4 4 3 2 3 4 1 1 4 4 2 3 4 4 4 4 4 4 2 3 103
MA 3 2 2 3 4 4 3 4 3 4 4 4 4 4 4 4 3 4 4 4 4 3 2 4 4 4 4 4 2 3 3 4 4 3 4 131
DN 3 2 4 4 2 4 4 3 4 4 4 4 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 3 4 4 3 4 4 3 3 4 127
MH 4 2 4 1 4 3 2 2 3 3 3 2 1 1 2 3 2 2 2 2 2 2 3 4 3 4 4 3 2 2 2 2 3 2 2 88
DP 4 4 4 3 4 4 2 2 3 3 3 2 2 2 4 4 2 3 2 2 2 3 4 2 2 1 3 2 2 4 3 3 2 4 4 100
LM 3 4 4 2 4 4 4 3 3 4 3 4 4 3 4 3 4 4 4 4 4 4 3 4 3 4 4 4 3 3 2 3 3 3 4 123
AD 4 3 3 2 4 4 3 1 2 2 3 3 3 2 4 4 3 3 2 3 3 2 3 3 4 2 3 3 3 3 3 3 3 1 2 99
NT 3 3 3 3 3 4 3 2 3 3 3 3 3 3 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 4 3 3 3 2 3 104
RD 4 3 3 4 4 3 2 4 4 4 3 3 4 4 3 3 1 4 3 3 3 2 2 3 3 4 4 3 3 4 3 3 3 3 4 113
NS 3 4 4 3 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 106
AK 2 2 3 4 2 4 4 2 2 2 2 1 4 2 2 2 2 2 2 2 3 2 1 4 2 2 2 4 3 3 3 3 2 2 3 87
3
SN
2 2 2 2 1 2 3 2 2 2 2 2 2 2 3 2 2 2 2 3 1 3 4 2 2 2 3 2 3 2 2 2 3 1 1 105
BS 4 3 2 2 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 4 2 3 2 2 3 2 3 3 2 2 3 3 2 3 2 2 93
NA 3 3 3 3 3 3 3 3 4 4 3 3 4 3 3 3 4 4 3 3 3 3 4 3 3 3 4 3 3 3 3 3 3 3 4 113
RK 2 2 2 3 3 3 3 1 1 2 3 1 2 3 3 3 3 1 4 4 3 2 2 3 2 1 1 3 3 4 4 4 2 2 2 87
IP 4 3 3 3 4 3 2 3 4 4 4 3 4 3 3 3 3 4 3 4 2 3 4 3 2 3 4 2 3 3 3 3 3 3 3 111
NK 3 4 4 2 3 4 3 2 2 3 4 3 3 3 3 3 4 2 4 4 4 2 3 3 3 3 3 3 3 4 3 4 4 3 2 110

161
162
163
164
165
166
167
168
169
170
171
172
173
174
175
176
DOKUMENTASI

Gambar 1. Pelaksanaan siklus 1 (Tindakan I).

Guru BK menjelaskan tema pada tindakan I

Mengenai perasaan emosi marah yang sering


muncul.

Gambar 2. Pelaksanaan siklus 1 (Tindakan II).

Suasa pada saat beberapa siswa sedang


mengingat pengalaman emosi marah yang
berhubungan dengan teman bermain
ataupun teman dekat

177
Gambar 3. Pelaksanaan siklus 1 (Tindakan III).

Guru BK membacakan puisi kemarahan

Gambar 4. Pelaksanaan siklus 2 (Tindakan I).

Guru BK dan siswa berdiskusi mengenai


emosi marah yang masih terpendam sampai
saat ini

178
Gambar 5. Pelaksanaan siklus 2 (Tindakan II).

Siswa SN menyampaikan pendapatnya


mengenai cara ataupun tindakan dalam
mengungkapkan emosi marah

Gambar 6. Pelaksanaan siklus 2 (Tindakan III).

Suasana tenang ketika siswa menulis surat


yang ditujukan baik kepada dirinya sendiri
maupun kepada orang lain yang pernah
berhubungan dengan emosi marah,

179
180
181
182
183

Anda mungkin juga menyukai