LAPORAN PRAKTIKUM III
EMULSIFIER
( Praktikum Mata Kuliah Teknologi Emulsi )
Kelas 3A
Kelompok 3
Alisah Fitriani 1802301064
Deni Rizki Pratama 1802301003
Ermalia Rosalinda 1802301006
M. Firdaus 1802301042
JURUSAN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN
POLITEKNIK NEGERI TANAH LAUT
PELAIHARI
2019
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Menurut McClements dalam Fatimah (2005), emulsifier merupakan
molekul yang mengabsorbsi pada permukaan droplet yang baru terbentuk
selama homogenisasi dan membentuk membran protektif yang menjaga
droplet agar tidak terjadi agregasi. Stabilizer dalam hal ini ditambahkan untuk
menambah viskositas fase kontinyu emulsi sehingga meningkatkan stabilitas
emulsi dengan mencegah pergerakan droplet emulsi. Penelitian ini dilakukan
karena belum adanya penelitian tentang penambahan emulsifier dan stabilizer
dalam produk emulsi santan serta pengaruh teknik pasteurisasi dan
pembekuan pada emulsi santan terhadap kualitas santan tersebut.
Pada umumnya emulsi bersifat tidak stabil, yaitu dapat pecah atau lemak
dan air akan terpisah, tergantung dari keadaan lingkungannya. Emulsi ada dua
macam yaitu emulsi air dalam lemak atau emulsi water in oil dan emulsi
lemak dalam air atau emulsi oil in water. Untuk menstabilkan sistem emulsi
biasanya ditambahkan emulsifier. Emulsifier adalah zat-zat yang dapat
mempertahankan sistem emulsi. Emulsifier atau zat pengemulsi merupakan
zat untuk membantu menjaga kestabilan emulsi minyak dan [Link]
emulsifier merupakan senyawa organik yang memiliki dua gugus, baik yang
polar maupun nonpolar sehingga kedua zat tersebut dapat bercampur.
1.2 Tujuan
Tujuan dari praktikum ini yaitu untuk mengenal beberapa jenis emulsifier
yang digunakan pada produk-produk emulsi dan menentukan jenis emulsifier
yang cocok untuk membentuk emulsi suatu bahan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Emulsifier
Emulsifier merupakan “surfactant” yang mempunyai dua gugus, yaitu
gugus hidrofilik dan gugus lipofilik. Gugus hidrofilik bersifat polar dan
mudah bersenyawa dengan air, sedangkan gugus lipofilik bersifat non polar
dan mudah bersenyawa dengan minyak. Emulsi yang mempunyai fase dalam
minyak dan fase luar air disebut emulsi minyak-dalam-air dan biasanya diberi
tanda sebagai emulsi “M/A”. Sebaliknya emulsi yang mempunyai fase dalam
air dan fase luar minyak disebut emulsi air-dalam-minyak dan diberi tanda
sebagai emulsi “A/M”.
Pada umumnya dikenal dua tipe emulsi yaitu :
1) Tipe A/M (Air/Minyak) atau W/O (Water/Oil)
Emulsi ini mengandung air yang merupakan fase internalnya dan
minyak merupakan fase luarnya. Emulsi tipe A/M umumnya mengandung
kadar air yang kurang dari 10 - 25% dan mengandung sebagian besar fase
minyak. Emulsi jenis ini dapat diencerkan atau bercampur dengan minyak,
akan tetapi sangat sulit bercampur/dicuci dengan air.
Pada fase ini bersifat non polar maka molekul – molekul emulsifier
tersebut akan teradsorbsi lebih kuat oleh minyak dibandingkan oleh air.
Akibatnya tegangan permukaan minyak menjadi lebih rendah sehingga
mudah menyebar menjadi fase kontinyu.
2) Tipe M/A (Minyak/Air) atau O/W (Oil/Water)
Merupakan suatu jenis emulsi yang fase terdispersinya berupa
minyak yang terdistribusi dalam bentuk butiran-butiran kecil didalam fase
kontinyu yang berupa air. Emulsi tipe ini umumnya mengandung kadar air
yang lebih dari 31 - 41% sehingga emulsi M/A dapat diencerkan atau
bercampur dengan air dan sangat mudah dicuci.
Pada fase ini bersifat polar maka molekul – molekul emulsifier
tersebut akan teradsorbsi lebih kuat oleh air dibandingkan minyak.
Akibatnya tegangan permukaan air menjadi lebih rendah sehingga mudah
menyebar menjadi fase kontinyu. Dalam formula pembuatan emulsi
terdapat dua zat yang tidak bercampur yang mempunyai fase minyak
dalam air atau air dalam minyak, biasanya yang stabilitasnya
dipertahankan dengan emulgator atau zat pengelmusi. Zat pengemulsi
(emulgator) adalah komponen yang ditambahkan untuk mereduksi
bergabungnya tetesan dispersi dalam fase kontinu sampai batas yang tidak
nyata. Bahan pengemulsi (surfaktan) menstabilkan dengan cara menempati
antar permukaan antar tetesan dalam fase eksternal, dan dengan membuat
batas fisik disekeliling partikel yang akan berkoalesensi, juga mengurangi
tegangan antarmuka antar fase, sehingga meningkatkan proses
emulsifikasi selama pencampuran. Penggunaan emulgator biasanya
diperlukan 5% – 20% dari berat fase minyak. (Anief, 2004).
Cara Pembuatan Zat Pengemulsi (Emulgator) Emulsi :
1) Metode gom basah (Anief, 2000)
Cara ini dilakukan bila zat pengemulsi yang akan dipakai berupa
cairan atau harus dilarutkan terlebih dahulu dalam air seperti kuning telur
dan metilselulosa. Metode ini dibuat dengan terlebih dahulu dibuat
mucilago yang kental dengan sedikit air lalu ditambah minyak sedikit
demi sedikit dengan pengadukan yang kuat, kemudian ditambahkan sisa
air dan minyak secara bergantian sambil diaduk sampai volume yang
diinginkan.
2) Metode gom kering
Teknik ini merupakan suatu metode kontinental pada pemakaian zat
pengemulsi berupa gom kering. Cara ini diawali dengan membuat korpus
emulsi dengan mencampur 4 bagian minyak, 2 bagian air dan 1 bagian
gom, lalu digerus sampai terbentuk suatu korpus emulsi, kemudian
ditambahkan sisa bahan yang lain sedikit demi sedikit sambil diaduk
sampai terbentuknya suatu emulsi yang baik.
3) Metode HLB (Hidrofilik Lipofilik Balance)
Cara ini dilakukan apabila emulsi yang dibuat menggunakan suatu
surfaktan yang memiliki nilai HLB. Sebelum dilakukan pencampuran
terlebih dahulu dilakukan perhitungan harga HLB dari fase internal
kemudian dilakukan pemilihan emulgator yang memiliki nilai HLB yang
sesuai dengan HLB fase internal. Setelah diperoleh suatu emulgator yang
cocok, maka selanjutnya dilakukan pencampuran untuk memperoleh suatu
emulsi yang diharapkan. Umumnya emulsi akan berbantuk tipe M/A bila
nilai HLB emulgator diantara 9 – 12 dan emulsi tipe A/M bila nilai HLB
emulgator diantara 3 – 6.
Hidrophilic – Lipophilic Balance yang disingkat dengan HLB
menggambarkan rasio berat gugus hidrofilik dan lipofililik didalam
molekul emulsifier. Niai HLB suatu emulsifier dapat ditentukan dengan
salah satu metode titrasi, membandingkan struktur kimia molekul, mencari
korelasi dengan nilai tegangan permukaan struktur kimia molekul, mencari
korelasi dengan nilai tegangan permukaan dan tegangan interfasial,
koefisien pengolesan, daya larut zat warna, konstanta dielektrika dan
dengan teknik kromatografi gas – cairan.
2.2 Kestabilan Emulsi
Emulsi dapat diklasifikasikan menurut kestabilannya, pertamq adalah
“emulsi temporer”,yaiitu emulsi yang memerlukan pengocokan yang kuat
sebelum digunakan. Contohnya adalah “French dressing” yang terbuat dari
minyak, cuka dan bumbu kering, emulsi temporer biasanya mempunyai
viskositas yang rendah. Kedua adalah “emulsi semipermanen”,yaitu emulsi
yang mempunyai viskositas kentalseperti krim, contohnya adalah “salad
dressing” yang mengandung sirupp, madu”, condensed soup” atau stabilizer
komersil seperti gum dan [Link] adalah “emulsi permanen” yaitu emulsi
yang mempunyai viskositas tinggi. Viskositas yang tinggi ini akan
memperlambat penggumpalan fase terdispersi.
Selama suatu emulsi disimpan dapat terjadi perubahan-perubahan fisik
didalam butiran-butiran terdispersinya yang berakibat pada penurunan mutu.
Perubahan stabilitas dapat terjadi melalui proses creaming, flocculation dan
coalescence-creaming meliputi flotais atau sedimentsi butir-butir teremulsi
akibat gaya gravitasi, yaitu pada akhirnya mengakibatkan system emulsi
berubah menjadi dua lapisan emulsi. Yang satunya mempunyai fase
terdispersi dengan konsentrasi yang tinggi, sedangkan yang lainnya mempunyi
fase terdispersi dengan konsentrasi yang rendah. Pada creamin tidak terjadi
pemecahan emulsi, tetapi bila creaming yang terjadi bil creaming yang terjadi
diikuti dengan peningkatan ukuran partikel, maka proses tersebut dapat
berakhir dengan pemecahan emulsi. Creaming hanya terjadi pada emulsi yang
encer dan dengan syarat bahwa kedu fasenya mempunyai berat jenis yang
berbeda dan medium pendispersinya adalah cairan yang mudah mengalir.
Pada creaming, jika fase terdispersinya mempunyai berat jeis yang lebih besar
dari medium dispersinya, maka creamnya akan kebawah, demikian juga
sebalikya. Laju creaming tergantung pada perbedaan berat jenis antara fase
terdispersi dan medium dispersi, ukuran butiran dan viskositas medium
dispersi.
Laju creaming dapat dipercepat dengan cara sentrifugasi dan pengenceran
fase kontinyu. Pada sentrifugasi hanya terjadi penekanan pengaruh perbedaan
bert jenis kedua fase, sedangkan pada pengenceran fase kontinyu terjadi
perubahan rasio distribusi emulsifier didalam sistem emulsi dan juga
mengakibatkan perubahan distribusi emulsifier pada interfase-nya
Flocculation atau fkokulasi pengelompoka butiran-butiran menjadi
gumpalan-gumpalan yang longgar dan tidak teratur. Pada flokulasi tidak
terjadi penggabungan butiran-butiran yang kecil menjadi butiran-butiran yang
lebih [Link] umumnya butir-butir yang mengelompok dapat didispersikan
kembali dengan pengadukan atau pengocokan,apabila gaya-gaya antara
butiran-butirannya ( gaya van der walls) lemah.
Coalescence ialah pengabungan butir-butir emulsi yng kecil menjaid butir-
butir yang lebih besar. Proses ini tidak reversibel dan terjadi setelah flokulasi,
yakni apabila lapisan interfasial emulsifiernya pecah. Coalescence adalah
suatu proses thermodinamika yang terjadi secara spontan dan mempunyai
peranan yang penting pada pemisahan kedua fase di dalam emulsi menjadi
dua lapisan yang [Link] coalescence dipengaruhi oleh daya tahan lapisan
interfasial emulsifier terhadap gesekan atau tumbukan yang meningkat selama
pengadukan atau pembekuan emulsi.
Emulsi dapat dipecahkan dengan beberapa cara, yaitu : pemanasan,
penambahan elektrolit, pengadukan mekanis dan sentrifugasi dengan
kecepatan [Link] tidsk efektif untuk memecahkan emulsi tipe air
dalam minyak da penambahan suatu elektrolit akan merusak kesetimbangan
antar [Link] mekanis yang dapat merusak struktur molekul
emulsifier atau merubah posisi molekul emulsifier yang sudah mapan pada
lapisan interfasial sehingga memungkinkan terjadinya penggabungan kembali
molekul-molekul fase yang sejenis. Sedanglan sentrifugasi berkecepatan
tinggi akan menyebabkan fase yang mempunyai berat jenis lebih rendah
mengapung sehingga membentui lapisan krim dipermukaan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kestabilan emulsi adalah sebagai
berikut :
a. Perbedaan berat jenis antara kedua fase. Perbedaan yang minimum adalah
yang baik.
b. Kohesi fase terdispersi, sifat kohesi yang minimum adalah yang baik.
c. Persentase padatan didalam [Link] fase terdispersi yang rendah
adalah yang baik.
d. Temperatur luar yang ekstrim. Temperatur luar yang tinggi atau rendah
adalah kurang baik.
e. Ukuran butiran fase terdispersi. Makin kecil ukurannya makin baik.
f. Viskositas fase kontinyu. Viskositas yang tinggi adalh yang baik.
g. Muatan fase terdispersi. Muatan yang sama dan seragam adalh yang baik.
h. Distribusi ukuran butiran fase terdispersi. Ukuran yang kecil dan seragam
adalah yang baik.
i. Tegangan interfasial antara kedua fase. Makin rendah nilainya makin baik.
j. Emulsi dapat distabilkan untuk mencegah creaming floculation dan
coalescence dengan membuat suatu lapisan interfasial yang kuat
disekeliling tiap-tiap butiran, menambah muatan listrik permukaan
butiran-butiran dan meningkatkan viskositas fase kontinyu.
BAB III
METODE PRAKTIKUM
3.1 Waktu dan Tempat Praktikum
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Senin, 09 September 2019.
Praktikum ini dikerjakan pada pukul 10.00 – selesai, bertempat di
laboratorium pangan Teknologi Industri Pertanian Politeknik Negeri Tanah
Laut.
3.2 Alat dan Bahan
Alat
Alat yang digunakan pada praktikum ini yaitu baskom, gelas piala (beaker),
mixer, tabung reaksi, dan timbangan analitik.
Bahan
Bahan yang digunakan pada praktikum ini yaitu santan, putih telur, kunin
telur, gelatin dan agar-agar (PDA).
3.3 Prosedur Kerja
1. Disiapkan alat dan bahan yang digunakan.
2. Dituang santan sebanyak 100 ml kedalam gelas beaker, dibuat sebanyak 4
gelas.
3. Ditambahkan emulsifier sebanyak 1% dari 100 ml untuk pengemulsi
kuning telur dan putih telur, 0,5% untuk penegmulsi PDA dan gelatin.
4. Diambil dan dimasukkan emulsifier sebanyak 10 ml kedalam tabung
reaksi.
5. Didiamkan pada suhu kamar.
6. Diamati dengan mengukur ketinggian cairan total dan tinggi lapisan atas
yang terbentuk pada jam ke ¼, ½, ¾, 1, 1 ¼, 1 ½, 1 ¾, dan jam ke-2.
𝑆−𝐴
Dengan rumus kestabilan emulsi × 100%
𝑆
S = tinggi cairan total
A = tinggi lapisan
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Tabel hasil pengamatan emulsifier
No. Jenis Tinggi Tinggi lapisan atas (cm) pengamatan Stabilitas emulsi pengamtan pada jam ke-
emulsifier cairan pada jam ke-
total ¼ ½ ¾ 1 1¼ 1½ 1¾ 2 ¼ ½ ¾ 1 1¼ 1½ 1¾ 2
(cm)
1. Agar-agar 10 cm 9,6 9,4 9,3 9,3 9,4 9,1 9,3 9,6 4% 6% 7% 7% 6% 9% 5% 4%
(PDA)
2. Gelatin 10 cm 9,8 9,5 9,5 9,4 9,3 9,2 9,4 9,7 2% 5% 5% 6% 7% 8% 6% 3%
3. Putih 10 cm 9,9 9,7 9,4 9,4 9,2 9,3 9,5 9,6 1% 3% 6% 6% 8% 7% 5% 4%
telur
4. Kuning 10 cm 9,7 9,5 9,3 9,3 9,2 9,4 9,6 9,3 3% 5% 7% 7% 8% 6% 4% 7%
telur
4.2 Pembahasan
Emulsi adalah suspensi yang stabil dari suatu bahan cair di dalam bahan
cair lain, dimana bahan-bahan cair itu tidak tercampur. Emulsi stabil apabila
cairan tersebut dapat menahan tanpa mengalami perubahan, untuk waktu yang
cukup lama, tanpa butir fase dispersi berkmpul satu sama lain atau mengendap
(Earle, 1969). Banyak jenis emulsi yang dapat ditemukan dalam bahan
makanan, tetapi yang terkenal adalah mayonaise, french dressing, cheese
cream, kuning telur serta susu.
Emulsifier adalah suatu zat yang diperlukan untuk membentuk suatu
selaput (film) disekitar butiran yang terdispersi, sehingga mencegah
bersatunya kembali butir-butiran tersebut. Cara kerja dari emulsifier yaitu bila
butir-butir lemak telah terpisah karena adanya tenaga mekanik (pengocokan),
maka butir-butir lemak yang terdispersi tersebut segera terselubungi oleh
selaput tipis emulsifier. Bagian molekul emulsifier yang non polar larut dalam
lapisan luar butir-butir lemak, sedangkan bagian yang polar menghadap ke
pelarut (air).
Emulsifier ada yang terdapat dalam bentuk alami dan ada juga yang
terdapat dalam bentuk buatan. Dalam bentuk alami diantaranya adalah
fosfolipida, lesithin (fosfatidil kolina), dan fosfatidil etanolamina. Sedangkan
bentuk emulsifier yang buatan adalah ester dari asam lemak sorbitan yang
dikenal sebagai SPANS yang dapat membentuk emulsi air dalam lemak (w/o)
dan ester dari polioksietilena sorbitan dengan asam lemak yang dikenal
sebagai TWEEN yang dapat membentuk emulsi minyak dalam air (o/w),
gliseril laktopalmitat.
Daya kerja emulsifier disebabkan oleh bentuk melokulnya yang dapat
terikat baik pada minyak atau air. Bila emulsifier tersebut lebih terikat pada air
maka akan terjadi disperse minyak dalam air sebagai contoh susu. Sebaliknya
bila emulsifier lebih larut dalam minyak terjadilah emulsi air dalam minyak
sebagai contoh mentega dan margarin.
Kuning telur sebagian besar tersusun oleh lipoprotein yang berfungsi
sebagai suatu zat pengemulsi dan stabilitator yang baik dari seluruh telur.
Lipoprotein kuning telur bersifat koloid senag air yang terserap diantara
minyak dan air. Karena itu kuning telur besar sekali manfaatnya dalam
pembentukan mayonaise dan salad dressing (Maxes, 1984).
Gelatin dan albumin (putih telur), adalah protein yang bersifat sebagai
emulsifier dengan kekuatan biasa dan kuning telur merupakan emulsifier yang
kuat. Paling sedikit sepertiga kuning telur terdiri dari lemak, tetapi yang
menyebabkan daya emulsifier yang kuat adalah kandungan lesitinnya yang
terdapat dalam bentuk kompleks sebagai lesitin-protein (Winarno, 1997).
Adapun pembahasan yang diperoleh pada pengamatan ini yaitu:
Berdasarkan hasil pengamatan yang didapatkan selama praktikum dengan
menggunakan bahan kuning telur, putih telur, Agar-agar (PDA), Gelatin
dilakukan proses emulsi dengan presentasi emulsifier yang berbeda-beda yaitu
dilakukan pengamatan dengan delapan variasi waktu yaitu 15, 30, 45, 60, 75,
90, 105, dan 120 menit.
Pada hasil pengamatan berdasarkan perbedaan variasi yang dilakukan
Berdasarkan perbedaan waktu pengamatan yang dilakukan yaitu
15,30,45,60,75,90,105 dan 120 menit dapat diketahui bahwa berdasarkan
pengamatan dimana emulsi santan kelapa dan putih telur, santan kelapa dan
kuning telur, sntan kelapa dan gelatin, santan kelapa dan agar-agar (PDA)
dimasukkan ke dalam tabung yang masing-masing berisikan 10ml, dan emulsi
dengan perbandingan yang sama yaitu 10ml. Pada proses pembuatannya luas
permukaan salah satu fase akan bertambah berlipat ganda, sedangkan seluruh
sistem umumnya cenderung kembali kepada posisinya yang paling stabil,
yaitu pada saat energi bebasnya paling rendah. Ketidakstabilan emulsi yang
lain adalah terjadinya inversi fasa. Inversi fasa terjadi bila emulsi yang semula
merupakan emulsi minyak dalam air berubah menjadi emulsi air dalam
minyak. Inversi fasa dapat terjadi karena jumlah fasa terdispersi ditingkatkan
hingga mencapai atau melebihi batas maksimum yaitu 74% dari volume total,
perubahan suhu, atau penambahan bahan yang dapat mengganggu kestabilan
emulsi. Inversi fasa juga dapat terjadi karena penggunaan peralatan yang kotor
atau prosedur pencampuran yang salah (Lund, 1994).
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Emulsifier atau zat pengemulsi didefinisikan sebagai senyawa yang
mempunyai aktivitas permukaan (surface-active agents) sehingga dapat
menurunkan tegangan permukaan (surface tension).
5.2 Saran
Disarankan kepada praktikan untuk lebih teliti dalam melakukan
percobaan agar di dapatkan hasil yang sesuai serta alat dan bahan yang akan
digunakan agar dilengkapi untuk menunjang jalannya percobaan.
DAFTAR PUSTAKA
Yuniar, S.T, M.T, dkk. 2010. Teknik Pengolahan Pangan. Palembang: Politeknik
Negeri Sriwijaya.
Fatimah, F dan Rindengan, B. 2011. PENGARUH DIET EMULSI VIRGIN
COCONUT OIL (VCO) TERHADAP PROFIL LIPID TIKUS PUTIH
(Rattus norvegicus). Jurnal Littri 17(1), Maret 2011. Hlm. 18 – 24 ISSN
0853-8212
LAMPIRAN
1. Agar-agar (PDA)
𝑆−𝐴 10 − 9,6
1) Stabilitas jam ke-¼ = × 100% = × 100% = 4%
𝑆 10
𝑆−𝐴 10 − 9,4
2) Stabilitas jam ke-½ = × 100% = × 100% = 6%
𝑆 10
𝑆−𝐴 10 − 9,3
3) Stabilitas jam ke- ¾ = × 100% = × 100% = 7%
𝑆 10
𝑆−𝐴 10 − 9,3
4) Stabilitas jam ke-1 = × 100% = × 100% = 7%
𝑆 10
𝑆−𝐴 10 − 9,4
5) Stabilitas jam ke-1 ¼ = × 100% = × 100% = 6%
𝑆 10
𝑆−𝐴 10 − 9,1
6) Stabilitas jam ke-1 ½ = × 100% = × 100% = 9%
𝑆 10
𝑆−𝐴 10 − 9,5
7) Stabilitas jam ke-1 ¾ = × 100% = × 100% = 5%
𝑆 10
𝑆−𝐴 10 − 9,6
8) Stabilitas jam ke-2 = × 100% = × 100% = 4%
𝑆 10
2. Gelatin
𝑆−𝐴 10 − 9,8
1) Stabilitas jam ke-¼ = × 100% = × 100% = 2%
𝑆 10
𝑆−𝐴 10 − 9,5
2) Stabilitas jam ke-½ = × 100% = × 100% = 5%
𝑆 10
𝑆−𝐴 10 − 9,5
3) Stabilitas jam ke- ¾ = × 100% = × 100% = 5%
𝑆 10
𝑆−𝐴 10 − 9,4
4) Stabilitas jam ke-1 = × 100% = × 100% = 6%
𝑆 10
𝑆−𝐴 10 − 9,3
5) Stabilitas jam ke-1 ¼ = × 100% = × 100% = 7%
𝑆 10
𝑆−𝐴 10 − 9,2
6) Stabilitas jam ke-1 ½ = × 100% = × 100% = 8%
𝑆 10
𝑆−𝐴 10 − 9,4
7) Stabilitas jam ke-1 ¾ = × 100% = × 100% = 6%
𝑆 10
𝑆−𝐴 10 − 9,7
8) Stabilitas jam ke-2 = × 100% = × 100% = 3%
𝑆 10
3. Putih telur
𝑆−𝐴 10 − 9,9
1) Stabilitas jam ke-¼ = × 100% = × 100% = 1%
𝑆 10
𝑆−𝐴 10 − 9,7
2) Stabilitas jam ke-½ = × 100% = × 100% = 3%
𝑆 10
𝑆−𝐴 10 − 9,4
3) Stabilitas jam ke- ¾ = × 100% = × 100% = 6%
𝑆 10
𝑆−𝐴 10 − 9,4
4) Stabilitas jam ke-1 = × 100% = × 100% = 6%
𝑆 10
𝑆−𝐴 10 − 9,2
5) Stabilitas jam ke-1 ¼ = × 100% = × 100% = 8%
𝑆 10
𝑆−𝐴 10 − 9,3
6) Stabilitas jam ke-1 ½ = × 100% = × 100% = 7%
𝑆 10
𝑆−𝐴 10 − 9,5
7) Stabilitas jam ke-1 ¾ = × 100% = × 100% = 5%
𝑆 10
𝑆−𝐴 10 − 9,6
8) Stabilitas jam ke-2 = × 100% = × 100% = 4%
𝑆 10
4. Kuning telur¼ ½, ¾, 1, 1 ¼, 1 ½, 1 ¾,
𝑆−𝐴 10 − 9,7
1) Stabilitas jam ke-¼ = × 100% = × 100% = 3%
𝑆 10
𝑆−𝐴 10 − 9,5
2) Stabilitas jam ke-½ = × 100% = × 100% = 5%
𝑆 10
𝑆−𝐴 10 − 9,3
3) Stabilitas jam ke- ¾ = × 100% = × 100% = 7%
𝑆 10
𝑆−𝐴 10 − 9,3
4) Stabilitas jam ke-1 = × 100% = × 100% = 7%
𝑆 10
𝑆−𝐴 10 − 9,2
5) Stabilitas jam ke-1 ¼ = × 100% = × 100% = 8%
𝑆 10
𝑆−𝐴 10 − 9,4
6) Stabilitas jam ke-1 ½ = × 100% = × 100% = 6%
𝑆 10
𝑆−𝐴 10 − 9,6
7) Stabilitas jam ke-1 ¾ = × 100% = × 100% = 4%
𝑆 10
𝑆−𝐴 10 − 9,3
8) Stabilitas jam ke-2 = × 100% = × 100% = 7%
𝑆 10