0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
502 tayangan6 halaman

Proses dan Manfaat Sublimasi Zat Padat

Dokumen tersebut membahas tentang sublimasi sebagai metode pemisahan dan pemurnian zat padat. Secara khusus dibahas proses sublimasi naftalen dari campuran dengan pasir, batu tela, dan garam dengan tujuan memisahkan naftalen secara murni.

Diunggah oleh

nurul arbie
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
502 tayangan6 halaman

Proses dan Manfaat Sublimasi Zat Padat

Dokumen tersebut membahas tentang sublimasi sebagai metode pemisahan dan pemurnian zat padat. Secara khusus dibahas proses sublimasi naftalen dari campuran dengan pasir, batu tela, dan garam dengan tujuan memisahkan naftalen secara murni.

Diunggah oleh

nurul arbie
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

SUBLIMASI

Oleh: Meliza Fransiska Latif/85AK18013/ melisalatif123@[Link]


Program Studi D-III Analis Kesehatan
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Gorontalo
Alamat: Jl. Prof. Dr. Aloe Saboe No. 173 Kelurahan Wongkaditi, Kota Gorontalo 96122
Gorontalo, Indonesia
a. Latar Belakang
Saat ini seringkali kita melihat di laboratorum, bahkan dalam kehidupan
sehari-hari beberapa zat yang tidak murni. cara memurnikan zat tersebut bisa
digunakan berbagai cara. Memperoleh suatu senyawa kimia dengan kemurnian
yang sangat tinggi merupakan hal yang sangat esensi bagi kepentingan kimiawi.
Bila zat tersebut merupakan zat cair maka dapat dilakukan metode destlasi untyk
memurnikannya. Sedangkan jika zat tersebut berupa padatan, maka tekhnik
pemisahan dan pemurnian yang dilakukan adalah dengan menggunakan metode
kristalisasi, namun bila zat padat tersebut bersifat volatil maka pemurniannya
dilakukan dengan metode sublimasi. Sebagai contoh pada kehidupan sehari-hari
adalah proses pengkristalan garam dari air laut (Ahmadi, 2010).
Rekristalisasi merupakan salah satu cara pemurnian zat padat yang jamak
digunakan, dimana zat-zat tersebut atau zat-zat padat tersebut dilarutkan dalam
suatu pelarut kemudian dikristalkan kembali. Cara ini bergantung pada kelarutan
zat dalam pelarut tertentu di kala suhu diperbesar. Karena konsentrasi total impuriti
biasanya lebih kecil dari konsentrasi zat yang dimurnikan, bila dingin, maka
konsentrasi impuriti yang rendah tetapi dalam larutan sementara produk yang
berkonsentrasi tinggi akan mengendap (Arsyad, 2001)
Sublimasi merupakan metode yang dilakkan untuk memurnikan suatu zat
padatan berdasarkan titik lelehnya. Metode perubahan yang menyebabkan
murninya suatu zat padat bila telaj mencapai titik tertentu. Sehingga zat pengotor
dapat terurai dari zat yang disublimasi. Dalam percobaan ini akan dilakukan
pemisahan dan pemurnian zat padat dengan menggunakan metode rekatristalisasi
dan sublimasi berdasarkan titik leleh zat tertentu (Fessenden, 1994).

1
b. Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah untuk memisahkan campuran
dengan cara sublimasi.
c. Manfaat
Adapun manfaat dari praktikum ini agar mahasiswa dapat mengetahui cara
memisahkan campuran dengan metode sublimasi.
d. Teori
Proses pemisahan dan pemurnian suatu zat dari zat lain yang tidak
diinginkan, merupakan proses yang sangat penting pada pembuatan suatu senyawa.
Ada berbagai cara pemisahan dan pemurnian suatu zat dari campurannya secara
fisik antara lain :
 Pemisahan cair-cair, dapat dilakukan dengan cara destilasi, ekstraksi dan
koagulasi
 Pemisahan padat-cair, dapat dilakukan dengan cara dekantasi, filtrasi, adsorpsi
dan destilasi.
Sublimasi adalah proses pemurnian zat padat melalui pemanasan sehingga zat
tersebut dapat berubah fasa secara langsung, dari fasa padat ke fasa gas dan kembali
lagi ke fasa padat pada penampung yang disiapkan. Proses ini sangat efektif untuk
memurnikan zat padat tertentu karena kemampuannya untuk berubah fasa dari
padat ke gas tidak dimiliki oleh pengotor-pengotornya, sehingga produk yang
tertampung dari proses ini dapat dipastikan murni (Kartimi, 2012).
Sublimasi adalah perubahan wujud zat dari padat ke gas atau dari gas ke
padat. Bila partikel penyusun suatu zat padat diberikan kenaikan suhu, maka
partikel tersebut akan menyublim menjadi gas. Sebaliknya, bila suhu gas tersebut
diturunkan, maka gas akan segera berubah wujudnya menjadi padat. Cara yang
dapat kita lakukan adalah memisahkan partikel yang mudah menyublim tersebut
menjadi gas. Gas yang dihasilkan ditampung, lalu didinginkan kembali. Syarat
pemisahan campuran dengan menggunakan sublimasi adalah partikel yang
bercampur harus memiliki perbedaan titik didih yang besar, sehingga kita dapat
menghasilkan uap dengan tingkat kemurnian yang tinggi (Shevla,2010).
Pada umumnya perubahan tingkat wujud berlangsung menurut pola padat –
cair – gas – atau kebalikannya. Ada beberapa zat yang dapat berubah langsung dari

2
keadaan uap ke keadaan padat yang disebut menyublim. Sifat demikian dimiliki
oleh unsur yodium, kamfer, naftalen, belerang. Zat padat pada umumnya
mempunyai bentuk kristal tertentu: Kubus, heksagonal, rombik, monoklin dan
sebagainya. Unsur belerang dalam suhu biasa berwarna kuning dengan bentuk
kristal rombik. Jika naftalen dipanaskan sampai 96° bentuk kristalnya berubah
menjadi monoklin. Jika naftalen cair didinginkan tiba-tiba pada 119° terjadi pula
bentuk kristal monoklin (seperti bentuk jarum) (Kartimi, 2012).
e. Prosedur Kerja
1. Naftalen dan Pasir
Mencampurkan 2 gr naftalen/kamfer yang sudah dihaluskan dengan 1 gr
pasir ke dalam cawan petri. Aduklah secara merata. Panaskan campuran naftalen
dan pasir diatas hotplate diatasnya letakkan kawat kasa kemudian penutup
cawan petri. Panaskan hingga terjadi perubahan pada cawan petri. Amati
perubahan terjadi. Matikan hotplate, turunkan cawan petri lalu dinginkan. Amati
apa yang terjadi pada penutup cawan petri.
2. Naftalen dan Batu tela
Mencampurkan 2 gr naftalen/kamfer yang sudah dihaluskan dengan 1 gr
serbuk batu tela ke dalam cawan petri. Aduklah secara merata. Panaskan
campuran naftalen dan serbuk batu tela diatas hotplate diatasnya letakkan kawat
kasa kemudian penutup cawan petri. Panaskan hingga terjadi perubahan pada
cawan petri. Amati perubahan terjadi. Matikan hotplate, turunkan cawan petri
lalu dinginkan. Amati apa yang terjadi pada penutup cawan petri.
3. Naftalen dan Garam
Mencampurkan 2 gr naftalen/kamfer yang sudah dihaluskan dengan 1 gr
garam ke dalam cawan petri. Aduklah secara merata. Panaskan campuran
naftalen dan garam diatas hotplate diatasnya letakkan kawat kasa kemudian
penutup cawan petri. Panaskan hingga terjadi perubahan pada cawan petri.
Amati perubahan terjadi. Matikan hotplate, turunkan cawan petri lalu
dinginkan. Amati apa yang terjadi pada penutup cawan petri.
f. Hasil
Berdasarkan pengamatan terhadap proses sublimasi, hasil yang dapat
diperoleh ialah sebagai berikut:

3
No Sampel Pengotor Gambar Keterangan
1. Pasir Terjadi
pengkristalan
saat
didinginkan
2. Batu Tela Terjadi
Naftalen pengkristalan
saat
didinginkan

3. Garam Terjadi
pengkristalan
saat
didinginkan

g. Pembahasan
Terdapat beberapa cara dalam proses pemisahan dan pemurnian zat yaitu
antara lain kristalisasi, detilasi, sublimasi, rekristalisasi, ekstraksi, kromatografi,
dan penukaran ion. Tetapi yang dilakukan yaitu Rekristalisasi dan Sublimasi yang
bertujuan melakukan kristalisasi dengan baik, memilih pelarut yang sesuai untuk
rekristalisasi, menjernihkan dan menghilangkan warna larutan serta memisahkan
dan memurnikan campuran dengan rekristalisasi. Prinsip dari pemisahan dan
pemurnian zat padat akan lebih larut dalam pelarut panas dibandingkan dengan
pelarut dingin. Kristalisasi dari zat murni akan menghasilkan Kristal yang identik
dan teratur bentuknya sesuai dengan Kristal senyawanya.
Pada prinsipnya rekristalisasi adalah proses pembentukan kembali kristal dari
padatan yang dilarutkan. Perolehan kristal dari larutan dapat dilakukan dengan
pemanasan yang didasari pada perbedaan titik didih dimana zat lain (pengotor)
akan menguap terlebih dahulu dan zat yang akan dikristalkan akan mengendap.
Prinsip sublimasi adalah membuat zat padat yang ingin dimurnikan
dipanaskan yang kemudian menguap dan menjadi padat kembali karena proses
pendinginan.

4
Sublimasi adalah salah satu pemisahan zat-zat yang mudah menyublim.
perubahan wujud zat padat ke gas atau dari gas ke padat. Bila partikel penyusun
suatu zat diberikan kenaikan suhu maka partikel tersebutakan menyublim menjadi
gas, sebaliknya jika suhu gas tersebut diturunkanmaka gas akan segera berubah
wujudnya menjadi panas. Gas yang dihasilkan ditampung lalu didinginkan kembali.
Syarat pemisahan campuranpada sublimasi adalah partikel yang bercampur harus
memiliki perbedaan titik didih yang besar sehingga kita dapat menghasilkan uap
dengan tingkat kemurnian yang tinggi. Begitupun syarat sampel untuk sublimasi
adalah dengan sifat kimia mudah menguap agar mudah proses sublimasinya. Pada
percobaan sublimasi, Pemurnian naftalen dengan menggunakanproses sublimasi
dikarenakan karena sifat naftalen yang mudah menyublimdan merupakan padat
kristal yang tak bewarna.
Reaksi dari naftalen berlangsung dengan sangat cepat. hal ini disebabkan zat
padatdalam proses sublimasi mengalami proses perubahan langsung menjadi
gastanpa melalui fase cair, kemudian terkondensasi menjadi padatan atau kristal
kembali. Sehingga dalam proses sublimasi, naftalen tidak berubahmenjadi senyawa
lain, hanya beubah bentuk fase dari padat ke gas. Pada percobaan diperoleh berat
naftalen murni, gram yang sebelumnya berat naftalen adalah gram. Berat naftalen
yang didapatkan lebih sedikit dari pada jumlah awal dari naftalen sebelum
sublimasi. dalam percobaan sublimasi tidak dilakukan pengujian titk leleh. Bentuk
memestikan kristal naftalen yang didapat yaitu dari bentuk kristal yang seperti
jarum monoklin & dan bentuk kristal yang didapatkan lebih tipis dan jernih dari
pada sebelum sublmasi.
h. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat didapat dari percobaan ini adalah pada saat suhu
dinaikan dan dipengaruhi oleh tekanan maka sampel akan mengubah menjadi gas.
Dia akan mencapai titik didih. Pada saat suhu diturunkan dan dipengaruhi oleh
tekanan maka sampel akan menjadi padat/mengkristal.
i. Saran
Saran untuk praktikum selanjutnya, dapat digunakan sampel benzene. Agar
dapat dilihat perbedaan sublimasi benzene dan naftalen.

5
DAFTAR PUSTAKA

Arsyad, M. Natsir, 2001, Kamus Kimia Arti dan Penjelasan Istilah, Gramedia, Jakarta.
Kartimi, [Link]. 2012. Panduan Praktikum Kimia dasar I. Cirebon : IAIN Press
Ahmadi. 2010. Kristalisasi Pelarut Suhu Rendah Pada Pembuatan Konsentrat Vitamin E
Dari Distilat Asam Lemak Minyak Sawit : Kajian Jenis Pelarut. Jurnal
Teknologi Pertanian.

Fessenden dan Fessenden. 1994. Kimia OrganikJilid I EdisiKetiga. Jakarta:Erlangga

Svehla. 1979. Buku Ajar Vogel: Analisis Anorganik Kuantitatif Makrodan Semimikro.
Jakarta : PT Kalman Media Pusaka.

Common questions

Didukung oleh AI

Prinsip dasar dari metode sublimasi adalah pemisahan zat padat dengan cara memanaskannya hingga berubah dari fasa padat langsung ke fasa gas, kemudian didinginkan kembali untuk memperoleh zat padat murni. Proses ini efektif untuk zat yang dapat dengan mudah berubah fase tanpa melalui fasa cair, seperti yodium, kamfer, dan naftalen. Pengotor dalam campuran biasanya tidak akan ikut menyublim karena perbedaan titik didih yang signifikan antara zat utama dan pengotornya .

Dalam industri, teknik sublimasi dapat digunakan untuk memurnikan naftalen atau mentol dari campurannya. Sebagai contoh sehari-hari, proses ini mirip dengan pemurnian kapur barus yang digunakan sebagai pengharum ruangan atau pengusir hama. Kapur barus menyublim dan menyebar ke udara dalam bentuk gas, memurnikan zat saat dikondensasi kembali sebagai padatan bersih. Teknik ini mengilustrasikan kemampuan sublimasi untuk menghasilkan produk murni tanpa pelarut, cocok untuk senyawa kimia volatil di industri .

Proses sublimasi di laboratorium dengan naftalen dimulai dengan mencampurkan naftalen yang sudah dihaluskan dengan pasir atau zat lain dalam cawan petri. Campuran ini kemudian dipanaskan hingga naftalen menyublim menjadi gas. Gas ini ditangkap dan didinginkan sehingga mengendap kembali menjadi kristal padat di bagian penutup cawan petri. Pada saat pendinginan, naftalen membentuk kristal monoklin yang khas, dan kristal yang terbentuk lebih bersih dibandingkan sebelum proses sublimasi .

Tujuan utama dari praktik sublimasi dalam lingkungan akademik adalah untuk memisahkan campuran menggunakan teknik sublimasi sehingga siswa memahami cara kerja proses ini dan penerapannya dalam pemurnian zat padat. Manfaatnya adalah memberikan pengetahuan praktis kepada mahasiswa mengenai pemisahan dan pemurnian zat, serta meningkatkan keterampilan dalam melakukan eksperimen yang melibatkan perubahan fasa zat .

Metode sublimasi dianggap efektif karena hanya zat yang mudah menyublim yang akan berubah fasa dari padat ke gas ketika dipanaskan, sementara pengotor yang tidak mudah menyublim akan tetap dalam bentuk padat. Ini memungkinkan pemisahan yang efisien dimana produk yang diperoleh dapat dipastikan kemurniannya. Selain itu, sublimasi tidak memerlukan penggunaan pelarut, yang membuatnya lebih sederhana dan hemat biaya dibandingkan metode seperti rekristalisasi yang bergantung pada pelarut .

Rekristalisasi melibatkan melarutkan zat padat dalam pelarut panas sehingga semua zat menjadi larut, kemudian mendinginkannya untuk mengendapkan zat murni kembali. Pemilihan pelarut sangat penting dalam rekristalisasi karena zat murni harus memiliki kelarutan yang lebih besar pada suhu tinggi dibandingkan zat pengotornya. Sebaliknya, sublimasi tidak memerlukan pelarut dan bekerja dengan memanaskan zat padat hingga langsung berubah menjadi gas dan kemudian dikondensasi kembali menjadi padat. Sublimasi efektif untuk zat dengan titik lebur yang signifikan berbeda dengan pengotornya .

Suhu yang cukup tinggi akan memicu zat padat untuk menyublim menjadi gas. Selama pemanasan, tekanan juga berperan di mana peningkatan tekanan dapat meningkatkan titik sublimasi beberapa zat, memungkinkan gas untuk terkondensasi menjadi padatan saat didinginkan pada tekanan yang memadai. Sebaliknya, penurunan suhu mendukung pengendapan kembali zat menjadi kristal padat murni dari fasa gas. Penyesuaian suhu dan tekanan yang tepat sangat penting untuk memastikan efektivitas pemurnian dengan sublimasi .

Saran untuk eksperimen sublimasi selanjutnya termasuk menggunakan sampel benzene untuk dibandingkan dengan naftalen, untuk mengamati perbedaan sifat sublimasi antara kedua zat. Menggunakan zat dengan sifat volatil dan kristalisasi berbeda akan memberikan insight lebih lanjut tentang perbedaan dan persamaan dalam pengendapan kembali setelah sublimasi, serta memungkinkan pengamatan langsung efek variabel seperti suhu dan tekanan pada proses sublimasi .

Naftalen adalah contoh yang baik dalam percobaan sublimasi karena sifatnya yang mudah menyublim dan merupakan senyawa padatan kristalin. Naftalen menyublim dengan cepat, tanpa melewati fase cair antara padat dan gas, dan kembali mengkristal saat gasnya didinginkan. Sifat kimianya yang dapat berubah bentuk fase tanpa terdekomposisi atau berubah menjadi senyawa lain membuatnya ideal untuk mendemonstrasikan sublimasi dalam percobaan laboratorium .

Kesimpulan dari eksperimen sublimasi naftalen adalah bahwa zat padat dapat berubah menjadi gas ketika kenaikan suhu dan tekanan mencapainya. Saat suhu berkurang dan tekanan kembali ke nilai awal, naftalen mengkristal kembali. Hasil eksperimen menunjukkan bahwa naftalen, sebelum dan setelah sublimasi, menghasilkan kristal yang lebih tipis dan jernih, membuktikan bahwa pengotor telah berhasil dipisahkan, mendukung teori bahwa sublimasi adalah teknik pemurnian efektif untuk zat padat yang volatil .

Anda mungkin juga menyukai