BAB II
ISI
2.1. Kontruksivisme dalam Pembelajaran Matematika
Konstruktivisme merupakan filsafat atau aliran dalam pendidikan yang
perpandangan bahwa siswa mengkreasi pengetahuannya melaui interaksi dengan
lingkungannya termasuk interaksi dengan siswa lain. Konstruktivis berpandangan
bahwa pengalaman dan lingkungan berperan bagi siswa dalam belajar, dan bahwa
bahasa merupakan kunci akusisi pengetahuan. Konstruktivis mempercayai bahwa
praktek pembelajaran harus banyak percakapan. Melalui percakapan, guru memahami
siswa, sehingga dapat mempersiapkan siswa untuk belajar dan bagaimana
mengorganisasi pengalaman, sehingga siswa dapat mengkonstruk makna, pemahaman
dan pengetahuan.
pembelajaran matematika konstruktif membantu siswa menerima kenyataan
bahwa matematika merupakan bagian dari kehidupannya baik di sekolah maupun di
luar sekolah, lebih cepat memahami konten, membangun keterampilan belajar,
membangun kreatifitas, kerjasama, berfikir kritis, kemandirian dan percaya diri.
(zain,8)
Guru konstruktivis menganut metode pembelajaran yang memposisikan siswa
kontak dengan lingkungan, interaksi antara siswa satu dengan yang lain dengan guru
memberi pertanyaan-pertanyaan, siswa mencarisumber dan merancang penyelesaian
[Link] konstruktivis membantu siswa dalam mengkreasi konstruks. Guru
konstruktivis mengamati setiap siswa untuk dapat belajar. Berdasarkan hasil
observasi, guru mengkreasi lingkungan sehingga siswa dapat mengkonstruk
pengetahuannya.
2.2. Implementasi Pembelajaran Konstruktif dalam Pembelajaran Matematika
Tujuan pembelajaran dari pandangan konstuktivis bukan seberapa banyak
memberikan informasi untuk membentuk pengetahuan dan proses metakognitif untuk
berpendapat, mengorganisasikan, dan akuisisi nformasi baru. Kelebihan pembelajaran
konstruktif dibanding pembelajaran yang lain adalah bahwa siswa aktif dan bereaksi
untuk membuat makna dalam proses konstruksi pengetahuan.
Manifestasi pendekatan konstruktivis dalam pembelajaran matematika menurut
Bruning ada beberapa cara antara lain adalah:
1. Memilih materi pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat memanipulasi atau
berinteraksi dengan lingkungannya
2. Memilih aktivitas yang mendorong siswa melakukan pengamatan, mengumpulkan
data, menguji hipotesis, dan berpartisipasi
3. Pembelajaran menggunakan cooperative learningdan diskusi terbimbing
4. Integrasi kurikulum misal menggunakan projek tematik yang menggabungkan
matematika, sain, membaca dan menulis.
Hal tersebut senada dengan Suparno yang menyatakan bahwa pembelajaran
berdasarkan konstruktivisme berusaha untuk melihat dan memperhatikan konsepsi dan
persepsi siswa dari kacamata siswa sendiri. Guru dalam pembelajaran berperan
sebagai moderator dan fasilitator.
Tugas guru dalam pembelajaran adalah :
1. Menyediakan pengalaman belajar yang memungkinkan siswa bertanggung jawab
dalam membuat rancangan dan proses penyelidikan
2. Menyediakan atau memberikan kegiatan-kegiatan yang merangsang keingintahuan
siswa, membantu mereka untuk mengekspresikan gagasan-gagasannya dan
mengkomunikasikan ide ilmiah mereka. Menyediakan sarana yang merangsang siswa
berpikir produktif.
3. Memonitor, mengevaluasi, dan menunjukkan apakah pemikiran siswa jalan atau tidak.
Guru menunjukkan dan mempertanyakan apakah pengetahuan siswa berlaku untuk
menghadapi persoalan baru yang berkaitan.
Dalam pembelajaran konstruktivis, tipe konstruktivisme menentukan metode
pembelajaran yang digunakan. Pressley, Harris, & Marks ,Pressley & Wharton-
McDonald menggolongkan konstruktivisme dalam tiga tipe yaitu konstruktivisme
exsogenous, konstruktivisme endogenousdan konstruktivisme dialektik. Ketiga tipe
melibatkan konstruksi pengetahuan, tetapi mencerminkan perbedaan dalam bagaimana
konstruksi pengetahuan terjadi .
1. Dalam konstruksi exogenous, pembentukan pengetahuan pada dasarnya suatu
rekonstruksi struktur, seperti hubungan sebab-akibat, informasi yang ada, dan pola
tingkah laku yang teramati yang sudah ada di realitas eksternal.
2. pada konstruktivisme endogenousstruktur mental dikreasi dari struktur sebelumnya,
tidak langsung dari informasi yang tersedia di lingkungan. Dalamkonstruktivisme
endogenous, proses kuncinya adalah koordinasi kegiatan mental; pengetahuan berada
pada level yang lebih abstrak dan dibangun melalui aktivitas mental dari dalam diri
sendiri.
3. Konstruktivisme dialektikal menempatkan sumber pengetahuan dalam interaksi antara
pebelajar dengan lingkungannya. Kontruktivisme dialektikal berhubungan dengan
filosofi lain yang mempengaruhi psikologi Amerika yaitu kontektualisme yang
berpegangan bahwa pikiran dan pengalaman merupakan rangkaian yang tak
terpisahkan dengan konteks yang terjadi.
Diantara ketiga tipe konstruktivisme, konstruktivisme dialektikal paling prospetif dan
paling penting dalam perkembangan psikologi kognitif. Pandangan konstruktivisme
dialektikal menyatukan faktor eksternal dan internal dan memfokuskan perhatian pada
interaksi diantaranya.
Vygotsky sangat menekankan pentingnya peranan lingkungan budaya dan interaksi sosial
dalam perkembangan sifat-sifat dan tipe-tipe manusia. Menurut Vygotsky siswa sebaiknya
belajar melalui interaksi dengan orang dewasa dan teman sebaya yang lebih mampu. Interaksi
sosial ini memacu terbentuknya ide baru dan memperkaya perkembangan intelektual siswa
Menurut Vygotsky, perkembangan kemampuan seseorang dapatdibedakan ke dalam dua
tingkat, yaitu tingkat perkembangan aktual dan tingkat perkembangan potensial. Vygotsky
yakin bahwa pembelajaran terjadi apabila siswa bekerja atau belajar menangani tugas-tugas
atau masalah kompleks yang masih berada pada jangkauan kognitif siswa atau tugas-tugas
tersebut berada pada Zone of Proximal Development(ZPD).