0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
218 tayangan26 halaman

Triclofem: Durasi dan Pengalaman KB

Makalah ini membahas tentang swamedisasi keluarga berencana. Topik utama yang dibahas meliputi pengertian, tujuan, manfaat, sasaran, dan metode keluarga berencana serta hubungannya dengan tekanan darah dan kontrasepsi.

Diunggah oleh

putri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
218 tayangan26 halaman

Triclofem: Durasi dan Pengalaman KB

Makalah ini membahas tentang swamedisasi keluarga berencana. Topik utama yang dibahas meliputi pengertian, tujuan, manfaat, sasaran, dan metode keluarga berencana serta hubungannya dengan tekanan darah dan kontrasepsi.

Diunggah oleh

putri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH SWAMEDIKASI

“KELUARGA BERENCANA”

DISUSUN OLEH :

1. Lia Rahmawati 1920384314


2. Rizky Anugerah Syaputra 1920384320
3. Siti Radhiya 1920384295
4. Siti Zeiniyah 1920384296
5. Veronika Nirmala Sari 1920384299
6. Yuliana Imelda Putrivenn 1920384303

Dosen Pengampu :
Dra. Yul Mariyah

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER


ANGKATAN XXXVIII
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SETIA BUDI
2019
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Indonesia adalah salah satu negara berkembang yang menghadapi masalah
di bidang kependudukan, yaitu masih tingginya tingkat pertumbuhan penduduk.
Keadaan yang demikian telah mempersulit usaha peningkatan dan pemerataan
kesejahteraan masyarakat. Semakin tinggi tingkat pertumbuhan penduduk, maka
makin besar pula usaha yang harus dilakukan untuk mempertahankan kesejahteraan
masyarakat.
Oleh, karena itu pemerintah berupaya untuk mengurangi tingkat
pertumbuhan penduduk ini dengan program keluarga berencana Keluarga
Berancana (KB) adalah program nasional yang bertujuan meningkatkan derajat,
kesejahteraan ibu, anak dan keluarga khususnya, serta bangsa pada umumnya. Salah
satunya yaitu dengan membatasi dan menjarangkan kehamilan. Program KB ini
dirintis sejak tahun 1951 dan terus berkembang, sehingga pada tahun 1970
terbentuk Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).
Dengan program keluarga berencana diharapkan dapat meningkatkan derajat
kesehatan dan mutu sumber daya manusia Indonesia sehingga dapat meningkatkan
kesejahteraan masyarakat.
B. Rumusan Masalah
A. Apa pengertian Keluarga Berencana?
B. Apa tujuan dari Keluarga Berencana?
C. Apa manfaat dari Keluarga Berencana?
D. Siapa saja sasaran Keluarga Berencana?
E. Apa saja metode Keluarga Berencana?
F. Bagaimana efektivitas penggunaan kotrasepsi?
G. Apa yang dimaksud tekanan darah?
H. Apa hubungan tekanan darah dengan kontrasepsi?
I. Apa saja obat kontrasepsi yang masuk OWA?

C. Tujuan
A. Mengetahui pengertian Keluarga Berencana
B. Mengetahui tujuan dari Keluarga Berencana
C. Mengetahui manfaat dari Keluarga Berencana
D. Mengetahui sasaran Keluarga Berencana
E. Mengetahui metode Keluarga Berencana
F. Mengetahui efektivitas penggunaan kotrasepsi
G. Mengetahui apa yang dimaksud tekanan darah
H. Mengetahui hubungan tekanan darah dengan kontrasepsi
I. Mengetahui obat kontrasepsi yang masuk OWA
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Keluarga Berencana


Keluarga berencana merupakan istilah yang resmi digunakan di Indonesia
terhadap usaha-usaha untuk mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan keluarga,
dimana pasangan suami istri yang mempunyai perencanaan yang kongkrit mengenai
kapan anaknya diharapkan lahir agar setiap anaknya lahir disambut dengan rasa
gembira dan syukur dan merencanakan berapa anak yang dicita-citakan, yang
disesuaikan dengan kemampuannya dan situasi kondisi masyarakat dan negaranya

Undang-undang nomor 52 tahun 2009 tentang Perkembangan


Kependudukan dan Pembangunan Keluarga menyatakan bahwa pembangunan
keluarga adalah upaya mewujudkan keluarga berkualitas yang hidup dalam
lingkungan yang sehat. Keluarga berencana adalah Upaya mengatur kelahiran anak,
jarak, dan usia ideal melahirkan, mengatur kehamilan melalui promosi,
perlindungan, dan bantuan sesuai hak reproduksi untuk mewujudkan keluarga
berkualitas. UU ini mendukung program KB sebagai salah satu upaya untuk
mewujudkan keluarga sehat dan berkualitas. Pengaturan kehamilan dalam program
KB dilakukan dengan menggunakan alat kontrasepsi (Kemenkes RI 2012).

B. Tujuan Keluarga Berencana


Program keluarga berencana adalah program nasional yang bertujuan untuk
mengurangi tingkat pertumbuhan penduduk sehingga dapat dicapai dengan program
keluarga berencana ini yaitu :
1. Mengatur kehamilan dengan menunda perkawinan, menunda kehamilan anak
pertama dan menjarangkan kehamilan setelah kelahiran anak pertama serta
menghentikan kehamilan bila dirasakan anak telah cukup.
2. Mengobati kemandulan atau infertilitas bagi pasangan yang telah menikah lebih
dari satu tahun tetapi belum juga mempunyai keturunan, hal ini memungkinkan
untuk tercapainya keluarga bahagia.
3. Married Conseling atau nasehat perkawinan bagi remaja atau pasangan yang
akan menikah dengan harapan bahwa pasangan akan mempunyai pengetahuan
dan pemahaman yang cukup tinggi dalam membentuk keluarga yang bahagia
dan berkualitas.
4. Tujuan akhir KB adalah tercapainya NKKBS (Norma Keluarga Kecil Bahagia
dan Sejahtera) dan membentuk keluarga berkualitas, keluarga berkualitas
artinya suatu keluarga yang harmonis, sehat, tercukupi sandang, pangan, papan,
pendidikan dan produktif dari segi ekonomi.
5. Meningkatkan jumlah penduduk untuk menggunakan alat kontrasepsi.
6. Menurunnya jumlah angka kelahiran bayi.
C. Manfaat Keluarga Berencana
1. Memungkinkan wanita untuk mengontrol kesuburan mereka sehingga dapat
memutuskan bila dan kapan mereka ingin hamil dan memiliki anak. Wanita
dapat mengambil jeda kehamilan selama sedikitnya dua tahun setelah
melahirkan, yang memberikan banyak manfaat bagi perempuan dan bayi
mereka.
2. Wanita yang hamil segera setelah melahirkan berisiko memiliki kehamilan
yang buruk. Mereka lebih mungkin menderita kondisi medis yang serius atau
meninggal selama kehamilan. Bayi mereka juga lebih cenderung memiliki
masalah kesehatan (misalnya lahir dengan berat badan rendah). Organisasi
Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan bahwa secara global, 100.000
kematian ibu dapat dicegah setiap tahun, jika semua wanita yang tidak ingin
anak lagi mampu menghindari kehamilan. Kematian ini terjadi sebagian besar
di negara berkembang di mana cakupan kontrasepsi rendah.
3. Wanita lebih dapat berpartisipasi dalam kehidupan sosial, mencari pekerjaan
dan meraih pendidikan ketika mereka menggunakan alat kontrasepsi dan tidak
berisiko hamil. Karena kegiatan ini umumnya meningkatkan status perempuan
dalam masyarakat, kontrasepsi secara tidak langsung mempromosikan hak-hak
dan status perempuan.
4. Memberikan manfaat kesehatan non-reproduksi. Metode kontrasepsi hormonal
gabungan (yaitu estrogen dan progesteron) dapat menurunkan risiko kanker
ovarium dan endometrium. Injeksi progesteron juga melindungi terhadap
kanker ini dan juga terhadap fibroid rahim. Kontrasepsi implan dan sterilisasi
wanita telah terbukti mengurangi risiko penyakit radang panggul.
5. Mencegah efek kesehatan jiwa dari kehamilan yang tidak diinginkan dan
mengurangi aborsi.
6. Kemampuan untuk mengontrol kesuburan juga memungkinkan wanita untuk
lebih mengontrol aspek lain dari kehidupan mereka, misalnya memutuskan
kapan dan mengapa mereka menikah. Sejak kontrasepsi tersedia secara luas
pada 1970-an, pola perkawinan telah berubah. Wanita sekarang menikah dan
memiliki anak di usia yang lebih matang dan rata-rata memiliki anak lebih
sedikit. Perubahan demografis cenderung telah mengurangi beban emosional
dan ekonomi untuk membesarkan anak, karena keluarga sekarang biasanya
memiliki lebih banyak waktu untuk mengumpulkan sumber daya keuangan
sebelum kelahiran anak. Ukuran keluarga yang lebih kecil juga berarti bahwa
orang tua memiliki lebih banyak waktu dan sumber daya yang diberikan per
anak.
D. Sasaran Keluarga Berencana (KB)
Keluarga Berencana pada awalnya dilakukan oleh tenaga sukarela karena
pemerintah negara saat itu anti terhadap program ini. Memasuki Orde Baru,
program KB mulai diakui dan menjadi program pemerintah. Dan setiap tahunnya
sekitar 500.000 perempuan meninggal akibat berbagai masalah selama kehamilan,
persalinan dan pengguguran kandungan (aborsi) yang tidak aman. Sasaran utama
dibentuknya program KB ialah penurunan angka fertilitas dan peningkatan
penggunaan alat kontrasepsi. Disinilah Keluarga Berencana berperan penting untuk
mencegah sebagian besar kematian tersebut. Berikut ini beberapa masalah apabila
tidak diterapkan sistem KB :
1) Kehamilan terlalu dini
Perempuan dibawah usia 17 tahun rentan mengalami kematian sewaktu
persalinan. Hal ini dikarenakan perkembangan tubuhnya belum sempurna dan
belum cukup matang serta siap dilewati bayi. Sang bayi pun terancam resiko
kematian sebelum usianya mencapai satu tahun.
2) Kehamilan terlalu "telat"
Perempuan berusia terlalu tua untuk mengandung dan melahirkan memiliki
banyak resiko berbahaya. Terlebih jika memiliki masalah-masalah kesehatan
lain atau terlalu sering hamil dan melahirkan.
3) Kehamilan-kehamilan jarak dekat
Kehamilan dan persalinan membutuhkan banyak energi dan kekuatan. Jika
belum pulih dari satu pesalinan namun sudah hamil kembali, tubuh tidak akan
sempat memulihkan kebugarannya. Berbagai masalah bahkan kematian pun
akan dihadapi saat berhadapan dengan situasi kehamilan jarak dekat.
4) Terlalu sering hamil dan melahirkan
Perempuan memiliki lebih dari empat anak beresiko menghadapi kematian
akibat pendarahaan hebat dan kelainan-kelainan lainnya.
E. Metode Keluarga Berencana
Keluarga berencana menggunakan metode kontrasepsi untuk mencegah
kehamilan. Terdapat beberapa jenis metode kontrasepsi, yaitu :
1. Kontrasepsi hormonal
Kontrasepsi hormonal berisi 2 hormon steroid yaitu hormon estrogen dan
progesteron. Estrogen sintetik adalah etinil estradiol, mestranol dan progesteron
sintetik adalah progestin, norethindron, noretinodrel, etinodiol, norgestrel. Alasan
utama untuk menggunakan estrogen dan progesteron sintetik adalah bahwa hormon
alami hampir seluruhnya akan dirusak oleh hati dalam waktu singkat setelah
diabsorbsi dari saluran cerna ke dalam sirkulasi porta.
Mekanisme kontrasepsi hormonal antara lain dengan penggunaan estrogen
dan progestin terus menerus terjadi penghambatan sekresi GnRH dan gonadotropin
sedemikian rupa hingga tidak terjadi perkembangan folikel dan tidak terjadi
ovulasi. Progestin akan menyebabkan bertambah kentalnya mukus serviks
sehingga penetrasi sperma terhambat, terjadi gangguan keseimbangan hormonal
dan hambatan progesteron menyebabkan hambatan gangguan pergerakan tuba.
Estrogen menginhibisi pelepasan FSH, progesteron menginhibisi pelepasan
LH. Jelas bahwa ovulasi dapat dicegah dengan inhibisi stimulus ovarium, maupun
pencegahan pertumbuhan folikel. Selain itu kontrasepsi oral dapat langsung
bekerja pada saluran kelamin. Endometrium harus berada pada status yang tepat di
bawah pengaruh estrogen dan progesteron untuk terjadinya nidasi dan hampir tidak
mungkin terjadi implantasi pada endometrium. Demikian pula sekret serviks yang
banyak mengandung air, pada saat ovulasi dianggap esensial bagi sperma dan
lendir kental yang dihasilkan karena pengaruh progesteron merupakan lingkungan
yang tidak mendukung bagi sperma.
a. Kontrasepsi oral (pil kontrasepsi)
Kontrasepsi oral adalah kontrasepsi berupa pil dan diminum oleh wanita,
yang berisi estrogen dan progestin berkhasiat mencegah kehamilan bila diminum
secara teratur. Kontrasepsi oral yang paling sering dipakai saat ini merupakan
kombinasi esterogen dan progresteron yang diminum setiap hari selama tiga
minggu dan bebas minum selama satu minggu, dan pada saat itulah terjadi
pendarahan uterus-withdrawal.
Komponen estrogen dalam pil menghalangi maturasi folikel dalam
ovarium, sedangkan komponen progesteron memperkuat daya estrogen untuk
mencegah ovulasi. Pada keadaan biasa estrogen dan progesteron dihasilkan oleh
ovarium, karena pengaruh folikel stimulating hormone (FSH) dan luteinizing
hormone (LH) yang dikeluarkan oleh hipophyse, akan berpengaruh pada
endometrium sehingga terjadi siklus menstruasi. Selain itu esterogen dan
progresteron berpengaruh langsung pada hipotalamus, yaitu mekanisme feed back,
yang akan menghambat pengeluaran FSH dan LH releasing factor yang akibat
selanjutnya adalah dihambatnya pengeluaran FSH dan LH. Dengan dihambatnya
FSH dan LH maka tidak akan terjadi ovulasi. Pada pemakaian kontrasepsi
hormonal, estrogen dan progesteron yang diberikan akan mengakibatkan kadar
estrogen dan progesteron dalam darah tetap tinggi, sehingga mekanisme feed back
akan bekerja. Mekanisme inilah yang dipakai sebagai dasar bekerjanya kontrasepsi
hormonal. Untuk mengetahui contoh produk dari kontrasepsi oral yang beredar di
Indonesia dapat dilihat pada tabel 1. Kerugian pil KB:
a) Mahal dan membosankan karena harus menggunakannya setiap hari
b) Mual terutama pada 3 bulan pertama
c) Perdarahan bercak
d) Pusing
e) Nyeri payudara
f) Berat badan naik
g) Meningkatkan tekanan darah, retensi cairan sehingga resiko stroke dan
gangguan pembekuan darah pada vena dalam sedikit meningkat. Pada usia
>35 tahun dan merokok perlu hati-hati.
Sampai sekarang dikenal 4 tipe kontrasepsi oral yakni tipe kombinasi, tipe
sekuensial, mini pil dan pil pasca sanggama (morning after pil). Tipe kombinasi
adalah yang mula mula dikenal dan efektifitasnya paling tinggi dan oleh karena itu
tipe inilah yang sampai sekarang paling banyak digunakan.
a) Tipe kombinasi
Terdiri dari 21-22 pil yang setiap pilnya berisi derivat estrogen dan
progestin dosis kecil, untuk penggunaan satu siklus. Pil pertama mulai
diminum pada hari kelima siklus haid selanjutnya setiap hari 1 pil selama
21-22 hari. Umumnya 2-3 hari sesudah pil terakhir diminum akan timbul
perdarahan haid yang merupakan perdarahan putus obat (withdrawal
bleeding). Penggunaan pada siklus selanjutnya sama seperti siklus
sebelumnya yaitu pil pertama ditelan pada hari kelima siklus siklus haid.
Jenis kombinasi :
o Monofasik: pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet mengamdung hormon
aktif estrogen atau progestin, dalam dosisi yang sama, dengan 7 tablet tanpa
hormon aktif, jumlah dan porsi hormonnya konstan setiap hari.
o Bifasik: pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet mengandung hormon
aktif estrogen, progestin, dengan dua dosis berbeda 7 tablet tanpa hormon
aktif, dosis hormon bervariasi.
o Trifasik: pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet mengandung hormon
aktif estrogen atau progestin, dengan tiga dosis yang berbeda 7 tablet tanpa
hormon aktif, dosis hormon bervariasi setiap hari.

b) Tipe sekuensial
Pil ini mengandung komponen yang disesuaikan dengan sistem hormonal
tubuh, 12 pil pertama hanya mengandung estrogen, pil ke-13 dan
seterusnya merupakan kombinasi.
c) Tipe mini pil
Hanya berisi derivat progestin dosis kecil (0,5 mg atau lebih kecil) terdiri
dari 21-22 tablet. Minipil bukan menjadi pengganti dari pil oral kombinasi,
tetapi hanya sebagai suplemen/tambahan, yang digunakan oleh wanita yang
ingin menggunakan kontrasepsi oral tetapi sedang menyusui atau untuk
wanita yang harus menghindari estrogen oleh sebab apapun
(Hartanto, 2004).
d) Pil pasca senggama
Berisi dietilstilbestrol 25 mg diminum 2 kali sehari dalam kurang waktu
72 jam pasca senggama selama 5 hari berturut-turut (Hartanto, 2004).
Keefektifan kontrasepsi oral yaitu bagi ibu yang masih menyusui sampai
sembilan bulan pertama postpartum keefektifan pil ini mencapai
98,5%. Bagi ibu yang tidak menyusui, keefektifan turun menjadi 96%.
Keterbatasan KB Pil menurut Sinclair (2010) yaitu:
a. K
 Amenorhea  Mencetuskan moniliasis
o
 Perdarahan haid yang berat  Cloasma
n
 Perdarahan diantara siklus haid  Hirsutisme
t
 Depresi  leukorhea
r
 Kenaikan berat badan  Pelumasan yang tidak mencukupi
a
 Mual dan muntah  Perubahan lemak
s
 Perubahan libido  Disminorea
e
 Hipertensi  Kerusakan toleransi glukosa
p
 Jerawat  Hipertrofi atau ekropi serviks
s
 Nyeri tekan payudara  Perubahan visual
i
 Pusing  Infeksi pernafasan
 Sakit kepala  Peningkatan episode sistitis
(
 Kesemutan dan baal bilateral  Perubahan fibroid uterus.
S
ringan.
u

b. Suntikan KB
Kontrasepsi suntikan adalah obat pencegah kehamilan yang pemakaiannya
dilakukan dengan jalan penyuntikan obat tersebut pada ibu yang subur. Mekanisme
kerja kontrasepsi suntik secara primer kadar Folikel Stimulating Hormon (FSH) dan
kadar Leutenizing Hormon (LH) menurun sehingga tidak terjadi peningkatan LH.
Respon kelenjar hypofise terhadap gonadotropin realising hormon eksogenous tidak
berubah, sehingga member kesan proses terjadi di hipotalamus daripada di
hypofise. Secara sekunder lender servik menjadi kental dan sedikit, sehingga
merupakan barier terhadap spermatozoa serta membuat endometrium menjadi
kurangt baik untuk implantasi ovum yang telah dibuahi oleh sperma karena
edometrium menjadi atropi, selain itu juga mempengaruhi kecepatan transport
ovum di dalam tubafallopi. Untuk mengetahui contoh produk dari kontrasepsi
suntik yang beredar di Indonesia dapat dilihat pada tabel 1.
Jenis Kontrasepsi yang beredar di Indonesia:
a) DMPA (Depo Medroxy Progesteron Acetat), mengandung 150 mg DMPA,
yang diberikan setiap 3 bulan dengan cara disuntik intramuskular.
b) Depo noretisteron enantat (Depo Noristerat), yang mengandung 200mg
noretisteron enantat, diberikan setiap 2 bulan dengan cara disuntik
intramuskular.
c) Cyclofem, yang mengandung 25 mg depo medroksi asetat dan 5 mg estradiol
sipionat yang diberikan injeksi intramuskular sebulan sekali.

Tabel 1. Contoh Produk Kontrasepsi Oral dan Suntik yang Beredar di Indonesia
No Nama Dagang Produksi Komposisi
1 Cerazatte Organon Desogestrel 75 mcg
2 Cycloginon Tunggal Idaman Etinylestradiol 0,03 mg,
Abadi Levonogestrel 0,15 mg
3 Exluton Organon Linestrenol 0,5 mcg
4 Gynera Schering Gestoden 0,0075 mg da
5 Lyndiol Organon Linestrenol 2,5 mg,
Etunilestradiol
0,5 mg
6 Microdiol Kimia Farma Norgestrel 0,15 mg, ethyl
estradiol 0,03 mg0,03 mg

7 Microgynon Bayer Schering Etinylestradiol 0,03 mg,


FarmaK Levonogestrel 0,15 mg
8 Microlut Bayer Schering Tablet Levonogestrel
FarmaK
9 Marvelon Organon Tablet Desogestrel 150 mcg,
Etunilestradiol 30 mcg
10 Mercilon Organon TabletEtunilestradiol 20 mcg,
Desogestrel 150 mcg
11 Mikrodiol Kimia Farma Tablet Levonogestrel 0,15 mg,
Etunilestradiol 0,03 mg
12 Nordette Sunthi Sepuri, Wyeth Tablet Levonogestrel 0,15 mg,
K Etunilestradiol 30 mcg
13 Ovostat Organon Tablet Linesterol 1 mg,
Etunilestradiol 0,05 mg
14 Pilkab Harsen Tablet Levonogestrel 150
mcg, Etinylestradiol 0,03 mg
15 Yasmin Schering Indonesia K Tablet Drospirenon 3 mg,
etinilestradiol 0,03 mg
16 Prothyra Sunthi Sepuri Tablet Medroksirogesteron
asetat 10 mg
17 Prostinor-2 Tunggal Idaman Tablet Levonogestrel
Abadi/Gedeon
Richter
18 Cyclofem Tunggal Idaman Medroksiprogerteronasetat 50
Abadi K mg, estradiol sipionat 10 mg
tiap injeksi
19 Cyclogeston Triyasa Medroksiprogerteronasetat 50
mg, estradiol sipionat 10 mg
tiap injeksi
20 Depo Geston Tunggal Idaman Medroksiprogerteronasetat 50
Abadi K mg/ml injeksi
21 Deponeo Triyasa Medroksiprogerteronasetat
150 mg/ml injeksi
22 Depo-Progestin Harsen Medroksiprogerteronasetat
50 mg/ml, 150mg/ml
injeksi
23 Depo Provera Pharmacia K Medroksiprogerteronasetat
50 mg/ml, 150mg/ml
injeksi
24 Planibu Fahrenheit Injeksi
Medroksiprogerteronasetat
25 Triclofem Tunggal Idaman Injeksi
Abadi K Medroksiprogerteronasetat

c. Kontrasepsi Mekanik Implant (Susuk)


1) Profil kontrasepsi Implant yaitu:
a) Efektif 5 tahun untuk norplant, 3 tahun untuk Jedena, Indoplant, atau
Implanon
b) Nyaman
c) Dapat dipakai oleh semua ibu dalam usia reproduksi
d) Pemasangan dan pencabutan perlu pelatihan
e) Kesuburan segera kembali setelah implan dicabut
f) Efek samping utama berupa perdarahan tidak teratur, perdarahan bercak,
dan amenorea
g) Aman dipakai pada masa laktasi.
2) Jenis kontrasepsi Implant yaitu:
a) Norplant: terdiri dari 6 batang silastik lembut berongga dengan panjang
3,4 cm, dengan diameter 2,4 mm, yang diisi dengan 3,6 mg
levonorgestrel dan lama kerjanya 5 tahun.
b) Implanon: terdiri dari satu batang putih lentur dengan panjang kira-kira
40 mm, dan diameter 2 mm, yang diisi dengan 68 mg 3-
Keto-desogestrel dan lama kerjanya 3 tahun.
c) Jadena dan indoplant: terdiri dari 2 batang yang diisi dengan 75 mg.
Levonorgestrel dengan lama kerja 3 tahun.
3) Cara kerja kontrasepsi Implant yaitu:
a) Lendir serviks menjadi kental
b) Mengganggu proses pembentukan endometrium sehingga sulit
terjadi implantasi
c) Mengurangi transportasi sperma
d) Menekan ovulasi.
4) Keuntungan kontrasepsi Implant yaitu:
a) Daya guna tinggi
b) Perlindungan jangka panjang
c) Pengembalian tingkat kesuburan yang cepat setelah pencabutan
d) Tidak memerlukan pemeriksaan dalam
e) Tidak mengganggu dari kegiatan senggama
f) Tidak mengganggu ASI
g) Klien hanya kembali jika ada keluhan
h) Dapat dicabut sesuai dengan kebutuhan
i) Mengurangi nyeri haid
j) Mengurangi jumlah darah haid
k) Mengurangi dan memperbaiki anemia
l) Melindungi terjadinya kanker endometrium
m) Melindungi angka kejadian kelainan jinak payudara
n) Melindungi diri dari beberapa penyebab penyakit radang panggul
o) Menurunkan kejadian endometriosis.
5) Keterbatasan kontrasepsi Implant yaitu:
Pada kebanyakan pasien dapat menyebabkan perubahan pola haid berupa
perdarahan bercak (spooting), hipermenorea atau meningkatnya jumlah darah
haid, serta amenorhea.

2. Kontrasepsi metode perintang


Terdapat beberapa jenis yaitu :
1. Spermisida
Cara kerja: Dipakai oleh perempuan. Kontrasepsi ini berupa senyawa kimia
berbentuk gel, tablet, krim, spons, dan tisu yang berfungsi membunuh sperma.

Cara pemakaian: Dimasukkan atau dioleskan ke dalam vagina saat hendak


berhubungan intim. Alat ini mulai bekerja sekitar 5-10 menit setelahnya.
Efektivitas spermisida berlangsung selama kurang lebih satu jam setelah mulai
bekerja. Spermisida jenis gel atau krim juga dapat digunakan bersama dengan
kontrasepsi diafragma atau kondom.

Kelebihan: Mudah didapatkan di apotek tanpa perlu resep dokter. Dapat


sekaligus bersifat sebagai "pelumas" vagina sehingga mencegah timbulnya rasa
sakit. Harga terjangkau.

Kekurangan: Kandungan bahan kimiawinya beresiko menyebabkan iritasi dan


alergi pada vagina maupun penis. Tidak melindungi penggunanya dari risiko
infeksi menular seksual (IMS) seperti HIV/AIDS.
2. Diafragma

Cara kerja: Dipakai oleh perempuan. Alat ini terbuat dari lateks dan berbentuk
seperti mangkuk. Meski bahannya tebal, bagian dalamnya lentur sehingga
mudah disesuaikan ketika dipasang di dalam vagina. Diafragma dapat dipasang
beberapa saat sebelum berhubungan intim dan baru boleh dilepas minimal
enam jam setelahnya. Pemakaian diafragma harus dibarengi dengan
spermisida.

Cara pemakaian: Dipasang di dalam vagina. Sebelum dimasukkan, olesi satu


sendok spermatisida di bagian dalam diafragma dan di sekeliling lingkaran
permukaannya. Bila setelah dua jam dipasang belum juga berhubungan seksual,
maka diafragma perlu diolesi kembali dengan spermatisida/spermisida.

Kelebihan: Mudah dipasang dan dilepaskan. Tidak mengandung hormon, tidak


memengaruhi kondisi hormon tubuh. Dapat dipakai ulang. Setiap kali selesai
digunakan, cuci dengan sabun lalu biarkan mengering. Taburi dengan tepung
jagung sebelum disimpan kembali di wadahnya. Jika digunakan secara benar
dengan spermatisida, efektivitasnya mencapai 97 persen. Alat ini juga
melindungi pengguna dari IMS. Harganya pun terjangkau.

Kekurangan: Penggunaan spermatisida bersama dengan diafragma beresiko


menimbulkan iritasi jaringan vagina. Tidak cocok bagi perempuan dan
pasangannya yang alergi terhadap lateks. Hanya tersedia di apotek dan untuk
membelinya perlu dilengkapi dengan resep dokter.

3. Kondom

Cara kerja: Dipakai oleh laki-laki. Alat ini terbuat dari berbagai macam bahan,
seperti lateks, plastik, dan kulit kambing. Bahannya tipis, bentuknya panjang,
dan berfungsi menampung sperma agar tidak masuk ke vagina. Kini terdapat
kondom yang sudah dilengkapi dengan spermisida sehingga lebih ampuh dalam
mencegah terjadinya kehamilan.

Cara pemakaian: Digunakan saat hendak berhubungan intim. Kondom dipasang


di penis yang sudah ereksi dan dilepas setelah ejakulasi.

Kelebihan: Tersedia dalam berbagai bentuk, ukuran, dan bahan. Mudah


diperoleh di toko maupun apotek. Melindungi pengguna maupun pasangannya
dari risiko infeksi menular seksual. Harganya juga terjangkau.

Kekurangan: Hanya untuk sekali pakai, dapat lepas saat berhubungan intim,
tidak cocok bagi laki-laki mau pun pasagannya yang alergi terhadap lateks.

3. Alat kontrasepsi dalam rahim


Alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR/UID) adalah suatu alat yang terbuat dari
plastik yang dimasukkan ke dalam rahim dan mencegah terjadinya kehamilan
dengan cara menghalangi terjadinya pembuahan atau implantasi.
Tabel 2. Contoh Produk Kontrasepsi IUD/AKDR yang Beredar di
Indonesia
No Nama Dagang Produksi Komposisi
1. Copper T Kimia Farma Terbuat dari bahan khusus polietilen
berbentuk T dengan lilitan tembaga
seluas sekitar 380 mm2 pada bagian
vertikal dan horizontal
2. Nova T CU Bayern IUD berbentuk T dengan kawat tipis
200 AG Schering terbuat dari cooper (tembaga) yang
Pharma distabilkan dengan suatu inti perak
3. Nova T Schering Alat kontrasepsi dalam rahim dari
plastic polietilen dengan lilitan
tembaga berinti perak

4. Kontrasepsi permanen (operatif)


Adalah tindakan yang dilakukan pada pria maupun wanita yang berkeinginan
untuk mencegah kehamilan secara permanen. Pada pria tindakan operasi yang
dilakukan adalah dengan memotong vas deferen yang disebut vasektomi.
Sedangkan pada wanita dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu :
a. Ligasi tuba (pengikatan saluran tuba)
b. Histerektomi (pengangkatan rahim)
c. Oforektomi (pengangkatan ovarium/indung telur).
Selain dengan menggunakan keempat cara di atas, pencegahan kehamilan juga
dapat dilakukan dengan metode alamiah, yaitu perhitungan masa subur dengan
menggunakan sistem kalender.
 Kurangi 18 hari dari panjang siklus terpendek (misal 25 hari = 7).
 Kurangi 11 hari dari panjang siklus yang terpanjang (misal 30 hari = 19).
 Abstain (tidak berhubungan) dari siklus hari ke 7 sampai hari ke 19 karena saat itu
wanita sedang dalam masa suburnya.
Kelemahan sistem kalender ini adalah hanya bisa digunakan oleh wanita dengan
siklus menstrusi yang teratur.
F. Efektivitas penggunaan kontrasepsi
Pilihan kontrasepsi sebagian bergantung kepada efektivitas metode
kontrasepsi dalam mencegah kehamilan yang tidak direncanakan. Pada beberapa
metode tertentu, efektivitas metode kontrasepsi tidak hanya bergantung pada
perlindungan yang diberikan tapi juga pada konsistensi dan ketepatan penggunaan
metode tersebut.
Sangat beragamnya konsistensi maupun ketepatan penggunaan metode
kontrasepsi disebabkan oleh berbagai faktor, seperti usia, penghasilan, keinginan
klien untuk mencegah atau menunda kehamilan, serta budaya. Metode yang
bergantung pada konsistensi dan ketepatan penggunaan oleh klien memiliki rentang
efektivitas yang cukup lebar. Kebanyakan laki-laki dan perempuan cenderung
menjadi pengguna yang lebih efektif seiring dengan semakin bertambahnya
pengalaman mereka mengenai suatu metode. Namun demikian, aspek program juga
memiliki andil yang besar pada efektivitas suatu metode.
G. Tekanan Darah
Istilah umum tekanan darah berlaku untuk tekanan darah arteri dari sirkulasi
sistemik. Tekanan darah arterial ialah kekuatan tekanan darah ke dinding pembuluh
darah yang menampungnya. Tekanan ini berubah-ubah pada setiap tahap siklus
jantung . Tekanan darah sistolik dihasilkan oleh otot jantung yang mendorong isi
ventrikel masuk ke dalam arteri yang telah terenggang. Selama diastol arteri masih
tetap menggembung karena tahanan perifer dari arteriol-arteriol menghalangi
semua darah mengalir ke dalam jaringan. Maka tekanan darah sebagian tergantung
kepada kekuatan dan volume darah yang dipompa oleh jantung, dan sebagian lagi
kepada kontraksi otot dalam dinding arteriol. Kontraksi ini dipertahankan oleh
syaraf vasokonstriktor, dan ini dikendalikan oleh pusat vasomotorik dalam medula .
Pusat vasomotorik mengatur tekanan perifer untuk mempertahankan agar tekanan
darah relatif konstan. Tekanan darah mengalami sedikit perubahan bersamaan
dengan perubahan-perubahan gerakan yang fisiologik seperti waktu latihan jasmani,
waktu adanya perubahan mental karena adanya kecemasan dan emosi, sewaktu tidur
dan sewaktu makan. Karena itu sebaiknya tekanan darah diukur selalu sewaktu
orangnya tenang, istirahat dan sebaiknya dalam sikap rebahan.
Kenaikan tekanan darah dapat diakibatkan oleh kelainan ginjal, kelainan
endokrin, misalnya aldosteronisme primer, sindrom Chusing, feokromasitoma dan
lain-lain. Juga dapat disebabkan beberapa obat misalnya kontrasepsi hormonal,
kortikosteroid, simpatomimetik, kokain, siklosporin, dan eritropoetin. Kecuali itu
tekanan darah juga dapat meningkat tanpa diketahui penyebabnya.
H. Hubungan tekanan darah dengan kontrasepsi
Perempuan memiliki hormon estrogen yang memiliki fungsi mencegah
kekentalan darah serta menjaga dinding pembuluh darah supaya tetap baik. Apabila
tidak ada keseimbangan pada hormon estrogen dan progesteron dalam tubuh, maka
akan dapat mempengaruhi tingkat tekanan darah dan kondisi pembuluh darah.
Gangguan keseimbangan hormonal ini dapat terjadi pada penggunaan
kontrasepsi hormonal. Pada pemakaian hormon estrogen dan progesteron sintesis,
misalnya etinilestradiol untuk menghambat fertilitas akan memberikan efek-efek
tertentu bagi tubuh. Berbagai hormon ovarium terhadap fungsi gonadotropik dan
hipofisis yang menonjol antara lain dari estrogen adalah inhibisi sekresi FSH dan
dari progesteron inhibisi sekresi LH. Sehingga jelas bila sekresi FSH dan LH
dihambat maka akan terjdi ketidak simbangan hormon estrogen dan progesterone
dalam tubuh yang akan memacu terjadinya gangguan pada tingkat pembuluh darah
dan kondisi pembuluh darah yang dimanifestasikan dengan kenaikan tekanan darah.
Efek ini terjadi karena baik estrogen dan progesteron memiliki kemampuan untuk
mempermudah retensi ion natrium dan sekresi air akibat kenaikan aktivitas rennin
plasma dan pembentukan angiotensin yang meneyertainya.
Tabel 3. Persentase perempuan yang mengalami kehamilan tidak diinginkan selama
tahun pertama penggunaan dan persentase kaum perempuan yang
melanjutkan penggunaan pada akhir tahun pertama.

Catatan:
1
Di antara pasangan tipikal yang memulai penggunaan suatu metode (tidak harus
pertama kali), merupakan persentase pasangan yang mengalami kehamilan tak
diinginkan pada tahun pertama jika mereka tidak menghentikan penggunaan untuk
alasan apapun juga. Estimasi probabilitas kehamilan selama tahun pertama
penggunaan tipikal spermisida, sanggama terputus, pantang berkala, diafragma,
kondom pria, pil, dan Depo-Provera berasal dari Survei Nasional Pertumbuhan
Keluarga tahun 1995 yang sudah dikoreksi untuk aborsi tak tercatat: lihat sumber
asli (Trussell J, 2004) yang tertulis di atas untuk melihat estimasi metode
kontrasepsi lainnya.
2
Di antara pasangan yang memulai penggunaan suatu metode (tidak harus pertama
kali) dan yang menggunakannya dengan tepat (konsisten dan benar), merupakan
persentase pasangan yang meng alami kehamilan tak diinginkan pada tahun
pertama jika mereka tidak menghentikan penggunaan untuk alasan apapun juga:
lihat sumber asli (Trussell J, 2004) yang tertulis di atas untuk melihat estimasi
metode kontrasepsi lainnya.
3
Di antara pasangan yang berusaha menghindari kehamilan, merupakan persentase
pasangan yang melanjutkan penggunaan suatu metode untuk satu tahun.
4
Persentase yang mengalami kehamilan pada kolom (2) dan (3) didasarkan pada
data populasi yang tidak menggunakan kontrasepsi dan data perempuan yang
berhenti menggunakan kontrasepsi agar dapat hamil. Di antara populasi tersebut,
sekitar 89% mengalami kehamilan dalam satu tahun. Perkiraan ini sedikit
diturunkan (menjadi 85%) untuk mewakili persentase perempuan yang akan
mengalami ke hamilan dalam satu tahun di antara mereka yang tengah
mengandalkan metode kontraseptif reversibel jika semuanya berhenti
menggunakan kontrasepsi.
5
Busa, krim, gel, supositoria vagina, dan fi lm vagina.
6
Metode lendir serviks (ovulasi) yang ditambah dengan metode kalender pada fase
praovulasi dan suhu basal tubuh pada fase pascaovulasi.
7
Menggunakan krim atau jeli spermisida.
8
Tanpa spermisida.
9
Namun, untuk mempertahankan efektivitas perlindungan terhadap kehamilan,
metode kontrasepsi lainnya harus segera digunakan sesudah kembali menstruasi,
tidak lagi menyusui secara eksklusif, bayi mulai menyusui lewat botol, atau
sesudah bayi mencapai usia 6 bulan.
Obat Oral Kontrasepsi yang masuk OWA
Ketentuan oral kontrasepsi berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan
Nomor: 347/MenKes/SK/VII/1990
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
 Keluarga berencana adalah salah satu cara untuk menunda perkawinan dan
mengurangi kelahiran bayi kedunia dengan tujuan membuat keluarga yang
sederhana dan tercukupi diantaranya dengan berbagai metode seperti pil KB,
IUD, KB suntik dan implant
 Kehamilan dapat menimbulkan bahaya kematian baik bagi ibu maupun
bayinya. Namun, dengan program keluarga berencana hal ini dapat dicegah
sehingga kesehatan ibu terjamin. Dengan membatasi jumlah anak, maka juga
akan dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga. Karena dengan jumlah anak
yang sedikit beban orang untuk menghidupi keluarganya akan berkurang
dibandingkan dengan keluarga yang memiliki banyak anak.
DAFTAR PUSTAKA

Prawirihardjo,Sarwono. 2010. “Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi”. Jakarta:


Yayasan Bina Pustaka Prawirohardjo Sarwono
Scott James R. Dkk. 2002. Danforth buku saku obstetri dan ginekologi, Jakarta : Widya
Media.
Sumadikarya, I. K. Nugroho. A. W. 2009. Rekomendasi praktik pilihan untuk penggunaan
kontrasepsi. Jakarta: Penerbit EGC.

Anda mungkin juga menyukai