0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
92 tayangan27 halaman

RPP Anekdot untuk SMA Kelas X

RPP ini merangkum rencana pelaksanaan pembelajaran mata pelajaran Bahasa Indonesia untuk materi teks anekdot di kelas X semester 1. Materi ini akan diajarkan dalam 4 pertemuan dengan menggunakan pendekatan saintifik dan model pembelajaran discovery learning serta problem based learning. Siswa akan diajak untuk menganalisis struktur dan kebahasaan teks anekdot, kemudian menciptakan teks anekdot sendiri dengan memerhatikan unsur-unsur pentingnya.

Diunggah oleh

Lilis SugiantyRaja
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
92 tayangan27 halaman

RPP Anekdot untuk SMA Kelas X

RPP ini merangkum rencana pelaksanaan pembelajaran mata pelajaran Bahasa Indonesia untuk materi teks anekdot di kelas X semester 1. Materi ini akan diajarkan dalam 4 pertemuan dengan menggunakan pendekatan saintifik dan model pembelajaran discovery learning serta problem based learning. Siswa akan diajak untuk menganalisis struktur dan kebahasaan teks anekdot, kemudian menciptakan teks anekdot sendiri dengan memerhatikan unsur-unsur pentingnya.

Diunggah oleh

Lilis SugiantyRaja
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

RPP TEKS ANEKDOT VERSI KURIKULUM 2013 REVISI

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN


Sekolah : SMA Unggul Del
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia (Wajib)
Kelas/Semester : X/1
Materi Pokok : ANEKDOT
Alokasi Waktu : 4 x 45 menit (2 pertemuan)
A. Kompetensi Inti/KI
KI 1 Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya
KI 2 Memahami, menerapkan, menganalisis pengetahuan faktual, konseptual,
prosedural berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan,
teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kebangsaan,
kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta
menerapkan pengetahuan pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan
bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah
KI 3 Memahami, menerapkan, menganalisis pengetahuan faktual, konseptual,
prosedural berdasarkan rasa ingintahunya tentang ilmu pengetahuan,
teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan,
kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan
kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian
yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan
masalah
KI 4 Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak
terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara
mandiri, dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan

B. Kompetensi Dasar/KD dan Indikator Pencapaian Kompetensi/IPK


Kompetensi Dasar Indikator Pencapaian Kompetensi
3.6 Menganalisis struktur 3.6.1
dan Menyebutkan struktur teks anekdot
3.6.2 Menyebutkan kebahasaan teks anekdot
kebahasaan teks anekdot.
3.6.3 Menganalisis struktur dan kebahasaan teks anekdot
4.6 Menciptakan kembali
4.6.1 Menyusun kerangka teks anekdot dengan
teks anekdot dengan menentukan pokok-pokok pikiran karangan
memerhatikan struktur,4.6.2
dan Mengembangkan kerangka teks anekdot menjadi
kebahasaan. sebuah teks anekdot dengan memerhatikan struktur
dan aspek kebahasaan secara tertulis

C. Tujuan Pembelajaran
Melalui pembelajaran Discovery Learning dan Problem Based Learning siswa dapat
menganalisis teks anekdot dan menciptakan teks anekdot dengan kreatif, aktif, dan
inovatif serta memiliki sikap disiplin dan kerjasama.

D. Materi Pembelajaran
1. Struktur teks anekdot
2. Kebahasaan teks anekdot
3. Cara menganalisis teks anekdot
4. Contoh-contoh berita aktual
5. Cara menyusun kerangka teks anekdot
6. Contoh teks anekdot

E. Pendekatan/Model/Metode Pembelajaran
Pendekatan : Saintifik
Model : Discovery Learning dan Problem Based Learning
Metode : Diskusi, Penugasan

F. Media/Alat dan Bahan Pembelajaran


Media : Kertas plano, LCD, video pembelajaran
Alat & bahan : Papan tulis, kapur

G. Sumber Belajar
Kosasih, E. 2014. Jenis-jenis Teks. Bandung : Yrama Widya.
Kosasih, Engkos. 2016. Cerdas Berbahasa dan Bersastra Indonesia. Jakarta : Erlangga.
Sulistyawati, Trisni, Anang Krisdayanto, dan Sri Suwarni. 2014. Bahasa Indonesia
Kebangaan Bangsaku. Surakarta : PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.

H. Langkah-langkah Pembelajaran
Pertemuan Pertama
Langkah Kegiatan Waktu
Pendahuluan 1. Guru memberi salam dan menunjuk salah 15 menit
seorang siswa untuk berdoa
2. Guru memastikan kesiapan psikis dan fisik
siswa untuk mengikuti proses pembelajaran
3. Guru memberi apersepsi tentang materi yang
sudah dipelajari untuk menyegarkan ingatan
siswa dengan tanya jawab
4. Siswa memahami kompetensi dasar dan
indikator yang akan dicapai
5. Guru memotivasi siswa akan pentingnya
menguasai materi teks anekdot dengan baik
untuk membantu siswa memahami hakikat dan
fungsi anekdot dalam kehidupan manusia
6. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok
diskusi
Kegiatan Inti Memberi Stimulasi (Stimulation) 60 menit
1. Siswa mengamati gambar yang berhubungan
dengan anekdot yang ditampilkan oleh guru
melalui power point
2. Siswa mengamati sebuah video anekdot yang
ditampilkan melalui proyektor
Mengidentifikasi Masalah (Problem
Statement)
3. Siswa menemukan suatu masalah yang dibahas
di dalam video yang ditampilkan
4. Siswa bertanya jawab dengan guru mengenai
isi masalah yang dibahas pada video tersebut
Mengumpulkan Data (Data Collection)
5. Siswa bekerja sama dengan kelompoknya
untuk menganalisis struktur dan kebahasaan
yang terdapat dalam teks anekdot yang
ditampilkan melalui video pembelajaran
6. Siswa diberi waktu untuk mencari dan
mengumpulkan data/informasi berupa buku
pendukung materi di perpustakaan untuk
mendukung hasil analisis (waktu yang
diberikan sebanyak 15 menit)
Mengolah Data (Data Processing)
7. Siswa mencoba untuk menentukan hipotesis
sementara struktur dan kebahasaan teks
anekdot yang telah diperoleh melalui data-data
dan hasil diskusi
Memverifikasi (Verification)
8. Siswa bergantian mempresentasikan hasil
analisisnya di depan kelas secara berkelompok
dan membandingkannya dengan hasil
kelompok lain
9. Siswa lainnya memberikan respon berupa
pertanyaan, kritik, dan saran yang membangun
serta mengecek keabsahan/kebenaran hipotesis
yang telah ditentukan
Menyimpulkan (Generalization)
10. Siswa dibimbing oleh guru membuat simpulan
terkait struktur dan kebahasaan teks anekdot
Kegiatan 1. Guru memberi penilaian kepada siswa untuk 15 menit
Penutup mengetahui tingkat ketercapaian indikator
2. Guru memberikan apresiasi kepada kelompok
yang menunjukkan sikap disiplin dan
kerjasama
3. Guru menyampaikan kegiatan pembelajaran
berikutnya dan menugaskan siswa membawa
sebuah koran
4. Guru memberi salam dan menutup pelajaran

Pertemuan Pertama
Langkah Kegiatan Waktu
Kegiatan 1. Guru memberi salam dan menunjuk salah 15 menit
Pendahuluan seorang siswa untuk berdoa
2. Guru memastikan kesiapan psikis dan fisik
siswa untuk mengikuti proses pembelajaran
3. Guru memberi apersepsi tentang materi yang
sudah dipelajari untuk menyegarkan ingatan
siswa dengan tanya jawab
4. Siswa memahami kompetensi dasar dan
indikator yang akan dicapai
5. Guru memotivasi siswa akan pentingnya
berlatih menulis dalam kehidupan manusia
6. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok
diskusi
Kegiatan Inti Mengorientasi pada Masalah 60 menit
1. Siswa membaca sebuah koran yang telah
ditugaskan oleh guru untuk dijadikan bahan
kegiatan
2. Siswa mengamati berita yang mengungkapkan
masalah-masalah yang dituliskan pada koran
secara berkelompok
Mengorganisasikan Kegiatan Pembelajaran
3. Siswa bertanya jawab dengan guru mengenai
topik berita aktual yang akan dijadikan topik
pembahasan dalam kegiatan menulis teks
anekdot
4. Siswa menentukan berita yang akan dijadikan
teks anekdot secara berkelompok
Membimbing Penyelidikan Mandiri
5. Siswa secara berkelompok berdiskusi membuat
sebuah peta pikiran/peta konsep teks anekdot
pada kertas yang telah disediakan guru untuk
menstimulasi pemikiran siswa dalam kegiatan
menulis teks
6. Siswa bekerja sama mengumpulkan data yang
ditemukan dari berbagai sumber (koran)
Mengembangkan dan Menyajikan Karya
7. Siswa secara individu mengembangkan peta
pikiran yang disusun oleh kelompok menjadi
sebuah teks yang utuh sesuai dengan struktur
dan kebahasaan teks anekdot
Analisis dan Evaluasi
8. Siswa diberi kesempatan untuk membacakan
hasil tulisannya di depan kelas
9. Siswa lainnya menganalisis isi teks yang
dibacakan dan mengevaluasi dengan
pertanyaan, kritik, dan saran yang membangun
Kegiatan 1. Guru memberi penilaian kepada siswa untuk 15 enit
Penutup mengetahui tingkat ketercapaian indikator
2. Guru memberikan apresiasi kepada siswa yang
menunjukkan sikap disiplin dan kerjasama
3. Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk
menyampaikan manfaat menulis teks anekdot
4. Guru memberi salam dan menutup pelajaran

I. Penilaian Proses dan Hasil Pembelajaran


a. Teknik Penilaian :
1. Sikap : Observasi
2. Tes Pengetahuan : Tes Tertulis
3. Keterampilan : Unjuk Kerja/Proyek
b. Bentuk Penilaian :
1. Observasi : Lembar pengamatan aktivitas siswa
2. Tes tertulis : Uraian dan lembar kerja
3. Unjuk Kerja : Lembar penilaian presentasi dan penilaian menulis
c. Remedial
1. Pembelajaran remedial dilakukan bagi siswa yang belum mencapai ketuntasan
minimal
2. Tahapan pembelajaran remedial dilaksanakan melalui pengajaran remedial (klasikal),
atau tutor sebaya, atau tugas dan diakhiri dengan tes.
3. Tes remedial, dilakukan sebanyak 3 kali dan apabila setelah 3 kali tes remedial belum
mencapai ketuntasan, maka remedial dilakukan dalam bentuk tugas tanpa tes tertulis
kembali.
d. Pengayaan
1. Siwa yang mencapai nilai minimal diberikan materi tambahan untuk memperdalam
pengetahuan dan wawasan mengenai materi yang diajarkan.

Sitoluama, 28 September 2017


Mengetahui,
Kepala SMA Unggul Del Guru Mata Pelajaran

J.H.E. Matulessy, [Link]. Ira Novita Situmorang,


[Link].

Dalam keseharian, sering kali kita menemukan cerita-cerita lucu atau guyonan yang isinya menyindir
atau mengkritisi isu-isu yang tengah hangat di masyarakat seperti, carut-marut politik di negeri ini,
kebijakan pendidikan, dan lain sebagainya. Cerita-cerita di atas bisa jadi merupakan beberapa contoh
karangan yang termasuk teks anekdot. Sebenarnya, apa yang dimaksud dengan teks anekdot itu? Untuk
menjawab pertanyaan tersebut, berikut ini kami berikan ulasan tentang pengertian, ciri-ciri, kaidah
penulisan, dan struktur teks anekdot beserta contohnya.

Teks Anekdot

Pengertian Teks Anekdot


Secara singkat, teks anekdot dapat diartikan sebagai cerita pendek yang bersifat lucu
yang ditulis sebagai bentuk kritikan terhadap suatu fenomena di masyarakat. Sedangkan
menurut KBBI, anekdot didefinisikan sebagai cerita singkat yang menarik karena lucu dan
mengesankan, biasanya mengenai orang penting atau terkenal dan berdasarkan kejadian yang
sebenarnya.

Teks anekdot merupakan suatu karangan atau cerita berdasarkan kejadian yang benar-
benar terjadi di kehidupan nyata yang ditulis secara singkat dan mengandung unsur humor
atau kelucuan di dalamnya. Meskipun mengandung unsur humor atau kelucuan yang
bertujuan membangkitkan tawa pembaca, namun tujuan utama penulisan teks anekdot adalah
untuk mengkritisi, menyindir, maupun mengungkapkan kebenaran dibalik suatu kejadian
yang tengah terjadi di masyarakat. Teks anekdot tidak memiliki batasan topik. Penulis
dibebaskan dalam memilih topik seperti politik, kesehatan, pendidikan, dan lain-lain. Biasanya,
teks anekdot menampilkan tokoh penting atau terkenal didalamnya agar lebih menarik
perhatian pembacanya.

Di dalam isi teks anekdot, tidak hanya memuat kisah-kisah humor saja, akan tetapi
didalamnya juga berisikan hal hal seperti pesan moral, amanat bahkan ungkapan mengenai
sesuatu yang sifatnya umum dan benar.

Ciri-ciri Teks Anekdot

1. Teks anekdot sifatnya lelucon, lucu-lucuan dan humor.


2. Teks anekdot sifatnya menyindir.
3. Teks anekdot sifatnya menggelitik/ membuat pembaca tertawa serta terhibur.
4. Teks anekdot dapat membidik orang yang memiliki kedudukan penting.
5. Teks anekdot mempunyai tujuan tertentu/ tujuan yang telah ditetapkan/disasar.
6. Teks anekdot hampir memiliki kemiripan dengan cerita dongeng dalam penyajiannya.
7. Teks anekdot sering menghubungkan antara karakter hewan dengan karakter manusia yang
secara umum serta kebenarannya (realistis).

Ciri-ciri teks anekdot


Supaya kamu dapat membedakannya dan lebih mengerti tentang pengertian teks
anekdot seperti apa, coba pahami juga ciri-ciri teks anekdot di bawah ini:
1. Berupa teks yang mendekati perumpamaan
Perumpaan pada sebuah teks dengan struktur anekdot mendekati bentuk sebuah dongeng.
Layaknya karangan cerita berdasarkan imajinasi dan ditambah dengan segala hal yang bersifat
nyata atau benar-benar terjadi di masayarakat.
2. Menampilkan tokoh-tokoh atau figure yang dekat dengan kehidupan sehari-hari atau juga orang
penting
Biasanya pada sebuah teks anekdot terdapat tokoh atau figure yang ada dalam dunia nyata dan
mudah kita temui dalam keseharian. Contohnya seperti orang-orang pemerintahan, anggota
keluar, dan lainnya.
3. Memiliki sifat humoris, lucu, menggelitik, dan berbau lelucon tapi menyindir
Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, teks yang berupa anekdot memang dibuat untuk
memberi kritik dengan cara yang berbeda. Semacam guyonan yang sengaja dibuat dengan tujuan
tertentu seperti menyindir. Biasanya menyindiri di sini berkaitan dengan isu sosial dalam negeri
yang sudah menjadi rahasia umum.
Struktur Teks Anekdot

Di dalam teks anekdot terdapat struktur yang membangun teks tersebut. Adapun teks
anekdot adalah abstraksi, orientasi, event, krisis, reaksi, koda dan re-orientasi. Berikut
penjelasan lengkap mengenai struktur teks anekdot.

1. Abstraksi
Abstraksi adalah gambaran awal mengenai isi dari sebuah teks anekdot yang biasanya terletak
di bagian awal paragraf teks.
2. Event
Event adalah rangkaian-rangkaian peristiwa atau kejadian yang terjadi didalam teks anekdot.
3. Koda
Koda adalah muncul dan terjadinya perubahan pada tokoh didalam teks anekdot.
4. Krisis
Krisis adalah muncul dan terjadinya permasalahan didalam teks anekdot.
5. Orientasi
Orientasi adalah latar belakang terjadinya suatu kejadian atau peristiwa (awal mula kejadian)
didalam teks anekdot.
6. Reaksi
Reaksi adalah langkah-langkah tahap penyelesaian mengenai permasalahan yang muncul pada
bagian krisis didalam teks anekdot.
7. Re-Orientasi
Re-Orientasi adalah tahap akhir dari teks anekdot yang mana bagian ini juga sebagai penutup
teks didalam teks anekdot.
Tujuan teks anekdot

Pada teks anekdot pastinya memiliki tujuan-tujuan yang disasar oleh penulis untuk
pembaca. Tujuan tersebut adalah yang melatar belakangi pengarang dalam membuat dan
menulis teks anekdot. Berikut ini adalah tujuan teks anekdot yang dapat diuraikan sebagai
berikut :

1. Teks anekdot bertujuan untuk membangkitkan dan membangun tawa untuk para pembaca.
2. Teks anekdot bertujuan sebagai sarana penghibur bagi pembacanya.
3. Teks anekdot bertujuan sebagai sarana pengkritik.
Kaidah kebahasaan teks anekdot

Berikut ini adalah kaidah kebahasaan dari teks anekdot yang dapat membedakan
dengan teks lainnya dan ini menjadi ciri khas sendiri didalam teks nya. Adapun kaidah
kebahasaan teks anekdot adalah antara lain yakni sebagai berikut :

1. Teks anekdot memakai kata penghubung.


2. Teks anekdot memakai kata keterangan waktu lampau.
3. Teks anekdot biasanya sering memakai kata kerja.
4. Urutan peristiwa didalam teks anekdot berdasarkan waktu.
5. Teks anekdot memakai jenis pertanyaan retorik (retorik adalah suatu kalimat pertanyaan yang
tidak mengharuskan pertanyaan tersebut untuk dijawab.
Contoh Teks Anekdot

Soeharto Anak Siapa???

Pada suatu hari Tutut, putri dari mantan presiden Soeharto, melewati salah satu jalan tol di
Jakarta.

Penjaga Tol: "3.000 rupiah".


Pada waktu tersebut kebetulan Tutut tidak memiliki uang ribuan sehingga ia mengeluarkan
uang pecahan 50 ribu rupiah dan langsung menodorkannya ke petugas tol.

Penjaga Tol: "Ini Bu, kembaliannya 47 ribu rupiah. "

Bu Tutut: "[Link] saja itung-itung rezeki tambahan buat keluarga anda."

Penjaga tol merasa sangat senang karena menerima uang lebih 47 ribu rupiah dan langsung
mengungkapkan rasa terima kasih kepada Tutut.

Setelah beberapa waktu Tommy yang juga merupakan anak dari Pak Seoharto datang melewati
jalan tol tersebut. Lagi-lagi Tommy tidak memiliki uang ribuan sebesar 3000 untuk membanyar
tol, akhirnya Tommy mengeluarkan uang 20 ribuan ke petugas tol.

Penjaga Tol: "Ini Pak, kembaliannya jadi 17 ribu."

Tommy: "Sudah, simpan saja itung-itung buat tambahan sekolah anak anda."

Petugas tol tersebut langsung memasukan kembalian itu ke saku bajunya dan berterima kasih
banyak ke Tommy.

Setelah beberapa jam kini giliran Pak Soeharto datang dengan mobilnya lewat jalan tol.

Soeharto yang kebetulan mempunyai uang ribuan kecil mengeluarkan uang 5.000 rupiah dan
langsung disodorkan ke penjaga tol. Soeharto menunggu uang kembaliannya itu, namun
setelah menunggu 5 menit, Pak Soeharto bertanya kepada penjaga tol

Soeharto: "Lho, mana uang kembalian saya ?"

Penjaga Tol: "Ah Bapak, masa kembalian uang 2.000 rupiah saja minta dibalikin. Tadi
sebelumnya Bu Tutut dan Pak Tommy lewat kembaliannya 47 ribu dan 17 ribu saja mereka
berikan ke saya, masa Bapak yang 2.000 aja minta kembalian?? "

Soeharto: " Wah tunggu dulu mas !! Saya tanya kepada anda tau sapa Tutut dan Tommy??"

Penjaga Tol dengan percaya dirinya menjawab: "Ya tentu tahu lah Pak! Orang jawabanya jelas,
jelas Tutut dan Tommy tuh Anaknya Presiden."
Soeharto: "Nah tuh pinter kamu, tahu kalo mereka anak Presiden. Nah sedangkan sekarang
coba pikir saya kan cuma Anak Petani !!Sekarang, mana kembaliannya??"

Penjaga Tol : !@$@!$!%!^$@ ^

Sekolah ‘Bertarif’ Internasional


Di sebuah sekolah, terlihat seorang guru tengah mengajar di sebuah ruang kelas. Sofa
merupakan salah satu murid di kelas tersebut.

“Sebelum mengakhiri pelajaran, ibu guru akan memberikan sedikit pengumuman.”, sontak
terdengar riuh tanda protes dari murid-murid.

“Tenang-tenang!”, sang guru kembali mengambil alih keadaan. “Ada kabar gembira, mulai
pelajaran tahun depan, sekolah kita akan menjadi SBI.”. Kelas pun kembali riuh setelah
mendengar pengumuman dari sang guru.

“Berarti sekolah kita bakal jadi sekolah bertaraf internasional, Bu?”, tanya seorang murid.

“Benar sekali. Seiring meningkatnya taraf sekolah kita, kita juga harus mempersiapkan hal-hal
untuk meningkatkan kapabilitas kita, baik itu dari staf pengajar maupun dari siswa-siswinya.
Kira-kira menurut kalian apa saja yang harus kita persiapkan?”, sang guru melemparkan
pertanyaan ke murid-muridnya.

“Kemampuan bahasa Inggris, Bu. Karena kalau sekolah kita menjadi SBI, maka bahasa
pengantar sehari-harinya menjadi bahasa Inggris, Bu.”, sahut salah seorang murid.

“Ya, benar sekali. Ada lagi yang menambahkan?”

“Harus nyiapin uang lebih banyak, Bu.”, celetuk Sofa dari baris belakang.

“Apa maksud kamu, Sofa?”, sang guru heran dengan jawaban muridnya.

“Ya iya, Bu. Kita harus mempersiapkan uang bayaran lebih banyak. Karena kalau sekolah kita
jadi SBI bukan cuma tarafnya yang internasional, tapi ‘tarifnya’ juga internasional.”
Tawa pun pecah di seluruh ruang kelas, sang guru pun hanya bisa menggelengkan kepala
menanggapi jawaban salah satu muridnya.

Contoh Teks Bukan Anekdot

Beo Nakal

Sassi, Shafira dan Citra bertetangga dan selalu bersama-sama pergi ke kantor. Sebelum
mencapai jalan raya untuk naik kendaraan umum, mereka harus melewati sebuah gang yang
salah satu rumahnya memelihara burung beo.

Setiap kali ketiga perempuan ini melewati depan rumah orang yang memelihara beo, si burung
beo selalu menyebutkan tiga warna. Sassi curiga bahwa beo tersebut mengetahui warna celana
dalam mereka bertiga.

Untuk membuktikan itu benar atau engga mereka janjian untuk menggunakan warna celana
dalam yang sama.

Keesokan harinya mereka lewat gang tersebut, si beo berkata “Hitam, hitam, hitam.” Ketiga
perempuan tersebut terpana dan kagum. Hari berikutnya dengan tepat si beo menebak warna
celana dalam mereka dengan berkata, “Pink, pink, pink.”

Citra mempunyai ide yang sedikit konyol. “Bagaimana kalau besok kita tidak menggunakan
celana dalam ? Mau bilang apa coba si beo usil itu ?” Keesokan harinya ketika mereka lewat, si
beo mondar-mandir di dalam sangkarnya seperti kebingungan.

Citra dan kawan-kawannya mulai tertawa karena bisa ngerjain burung beo yang usil itu. Tapi
tertawa mereka tidak berlangsung lama, karena si beo berkata, “lurus, lurus, keriting.”
LAMPIRAN II

INSTRUMEN PENILAIAN SIKAP

No Waktu Nama Kejadian/Perilaku Butir Sikap Positif/Negatif Tindak Lanjut

Mengetahui Sitoluama, September 2017

Kepala Sekolah SMA Unggul Del Guru Mata Pelajaran Bahasa Indonesia

J.H.E Matulessy, [Link]. Ira Novita Situmorang, [Link].


LAMPIRAN III

INSTRUMEN PENILAIAN PENGETAHUAN

Nama Satuan Pendidikan : SMA Unggul Del

Tahun Pelajaran : 2017/2018

Kelas/Semester : X/Ganjil

Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia-Wajib

Kompetensi Dasar : 3.6 Menganalisis struktur dan kebahasaan teks anekdot.

Soal Pengetahuan Kompetensi Dasar 3.6

1. Tuliskan dan jelaskan struktur teks anekdot!


2. Tuliskan dan jelaskan kebahasaan teks anekdot!
3. Analisislah struktur dan kebahasaan teks anekdot berikut ini!
Teks Anekdot

Budaya Menyerobot
Beberapa hari setelah hari raya idul fitri di sore hari. Yugi sedang mengobrol kesana kemari
dengan sang kakak ipar dan saudara yang berkunjung ke rumahnya. Suadara Yugi menetap di
Purwokerto, karena kebetulan sengaja berkunjung ke Jakarta untuk menikmati sisa libur
lebaran yang ia punya.

Kemudian obrolan mereka bertiga sampai pada pembahasan mengenai riak dan pernik mudik
saat lebaran. Ia bercerita mengenai betapa banyak pengemudi jalan raya tidak mematuhi aturan
lalu lintas yang ada. Contoh saja mengenai seringnya mengabaikan keselamatan, missal satu
sepeda dinaiki 5 orang. Juga aksi kebut-kebutan yang membahayakan banyak orang.

Ia juga bercerita bahwa di Purwokerto kalai ada orang yang main serobot aja di lampu merah
di suasana lebaran, pasti ada yang mengatakan “Itu pasti pemudik dari Jakarta!”

Aksi serobot lampu merah ini memang seperti budaya sendiri di Jakara. Banyak pengguna jalan
yang kurang peduli pada rambu-rambu lalu lintas yang seharusnya ditaati. Ada peluang
sedikit saja, langsung main serobot, melanggar lalu lintas.

Tingginya angka kecelakaan di kala musim mudik ini memang disebabkan karena budaya
melanggar lalulintas
Kunci Jawaban :

1. Struktur teks anekdot adalah :


a. Abstraksi : Abstraksi adalah suatu bagian yang berada di awal paragraf yang memiliki fungsi
untuk menjelaskan gambaran tentang isi teks tersebut. di bagian abstraksi dalam teks anekdot
biasanya memberi petunjuk tentang suatu hal yang unik dalam teks tersebut.
b. Orientasi : Orientasi adalah suatu bagian yang memberikan petunjuk tentang awal kejadian
cerita atau latar belakang dari suatu peristiwa tentang bagaimana hal itu bisa terjadi. Dalam
bagian ini penulis biasanya menceritakan hingga mendetail.
c. Krisis : Krisis adalah suatu bagian yang menunjukkan dimana terjadinya suatu peristiwa atau
masalah yang unik atau masalah yang tidak akan terjadi pada orang yang diceritakan maupun
penulis sendiri.
d. Reaksi : Reaksi adalah suatau bagian dari cara penulis atau bisa juga orang yang ditulis untuk
menyelesaikan masalah yang timbul atau terjadi di bagia krisis tadi.
e. Koda : koda adalah sutau bagian yang menjadi akhir dari cerita unik tersebut. Di bagian koda
teks anekdot biasanya terdapat suatu kesimpulan dari kejadian atau peristiwa yang dialami
oleh tokoh yang di tulis maupun penulis itu sendiri.
2. Kebahasaan teks anekdot :
a. Menggunakan waktu lampau ; contohnya : saya tidak bisa tidur semalam.
b. Menggunakan Pertanyaan rotoris; contohnya : apakah dia tahu ?
c. Menggunakan kata penghubung atau kongjungsi, contohnya : kemudian, lalu, setelah itu. Dll
d. Menggunakan kata kerja, contohnya : Pergi, berdiri, duduk dll.
e. Menggunakan kalimat perintah, contohnya : ambilah, buanglah, dll.
f. Menggunakan kalimat seru.
3. Struktur teks :
Abstraksi Beberapa hari setelah hari raya idul fitri di sore hari. Yugi sedang
mengobrol kesana kemari dengan sang kakak ipar dan saudara yang
berkunjung ke rumahnya. Suadara Yugi menetap di Purwokerto, karena
kebetulan sengaja berkunjung ke Jakarta untuk menikmati sisa libur
lebaran yang ia punya.

Orientasi Kemudian obrolan mereka bertiga sampai pada pembahasan mengenai


riak dan pernik mudik saat lebaran. Ia bercerita mengenai betapa banyak
pengemudi jalan raya tidak mematuhi aturan lalu lintas yang ada. Contoh
saja mengenai seringnya mengabaikan keselamatan, missal satu sepeda
dinaiki 5 orang. Juga aksi kebut-kebutan yang membahayakan banyak
orang.

Krisis Ia juga bercerita bahwa di Purwokerto kalai ada orang yang main serobot
aja di lampu merah di suasana lebaran, pasti ada yang mengatakan “Itu
pasti pemudik dari Jakarta!”

Reaks Aksi serobot lampu merah ini memang seperti budaya sendiri di Jakara.
Banyak pengguna jalan yang kurang peduli pada rambu-rambu lalu lintas
yang seharusnya ditaati. Ada peluang sedikit saja, langsung main serobot,
melanggar lalu lintas.

Koda Tingginya angka kecelakaan di kala musim mudik ini memang disebabkan
karena budaya melanggar lalulintas

LAMPIRAN IV

INSTRUMEN PENILAIAN MENGANALISIS TEKS ANEKDOT DAN PRESENTASI

ASPEK DESKRIPSI SKOR

Struktur 1. Menganalisis struktur teks dengan benar, lengkap, dan


sistematis yaitu :
Abstraksi, Orientasi, Krisis, Reaksi, Koda
2. Menganalisis struktur teks dengan benar, dan lengkap
namun tidak sistematis (4)
3. Menganalisis struktur dengan benar, tetapi tidak 5
lengkap(2)
4. Menganalisis struktur tetapi masih ada yang salah(1)
Kebahasaan 1. Menganalisis kebahasaan dengan benar dan tepat :
konjungsi, kalimat langsung, kata kerja, kata keterangan,
kalimat retoris
2. Hanya menganalisis empat kebahasaan : konjungsi,
kalimat langsung, kata kerja, kata keterangan (4)
3. Hanya menganalisis tiga kebahasaan : konjungsi,
kalimat langsung, kata kerja(3)
4. Hanya menganalisis dua kebahasaan : konjungsi,
kalimat langsung(2)
5
5. Hanya menganalisis satu kebahasaan :
konjungsi/kalimat langsung/kata kerja/kata
keterangan/kalimat retoris (1)

Skor = 10x10 = 100

LAMPIRAN V

INSTRUMEN PENILAIAN KETERAMPILAN

Nama Satuan Pendidikan : SMA Unggul Del

Tahun Pelajaran : 2017/2018

Kelas/Semester : X/Ganjil
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia-Wajib

Kompetensi Dasar : 4.6 Menciptakan kembali teks anekdot dengan


memerhatikan struktur dan kebahasaan.

Soal Keterampilan Kompetensi Dasar 4.6 :

1. Buatlah sebuah peta pikiran berdasarkan topik berita yang dipilih dan kembangkan peta
pikiran tersebut menjadi sebuah teks anekdot yang utuh dengan memperhatikan struktur dan
kebahasaan teks!
[Link], Jambi - Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Kalapas) Klas II B Muaratebo,
Kabupaten Tebo, Jambi, Rizal Permana Z dikabarkan ditahan jaksa usai dijadikan
tersangka kasus dugaan korupsi. Hal itu dibenarkan oleh Kepala Kantor Wilayah
(Kanwil) Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) Jambi, Bambang Palasara.

Menurut Bambang, Kalapas Muaratebo tersebut ditahan oleh penyidik Kejaksaan Negeri
(Kejari) Pasaman Barat (Pasbar), Sumatera Barat. Rizal Permana Z ditahan setelah resmi
ditetapkan sebagai tersangka dugaan korupsi kegiatan pembinaan narapidana saat
dirinya menjabat sebagai Kalapas Terbuka Klas II B Pasaman pada 2013.

"Kami ikuti proses hukum yang ada. Kemenkumham saat ini akan menunjuk pelaksana
tugas, untuk mengisi posisi Kalapas Tebo sementara," ujar Bambang Palasara saat
dihubungi Kamis, 14 September 2017.

Selain itu, kata dia, Kemenkumham Jambi selanjutnya akan mengusulkan ke pemerintah
pusat agar yang bersangkutan diberhentikan dari jabatannya selaku Kalapas.

Selain Rizal, ia mengatakan dua bawahannya juga ikut ditahan jaksa. Mereka adalah
Yunaidi dan Deni Adri. Bambang mengaku sudah menerima surat resmi dari Kejari
Pasbar atas penahanan tiga pegawai Kemenkumham tersebut.

"Agar kegiatan di Lapas Muaratebo berjalan dengan baik dan tidak terganggu, maka akan
segera ditunjuk pelaksana tugas Kalapas," ucap Bambang.

Lapas Muaratebo di Kabupaten Tebo berjarak kurang lebih empat jam perjalanan darat
dari Kota Jambi sebagai ibu kota provinsi. Lapas ini berlokasi di jalur lintas Sumatera
Jambi arah Padang, Sumatera Barat.

Kunci Jawaban
“Korupsi”

Ada seorang anak kecil yang membutuhkan uang sebesar Rp300.000,-untuk membeli sepeda
baru. Ia sudah berhari-hari berdoa, tapi belum ada jawaban. Akhirnya, ia meemutukan untuk
menulis surat permintaan dan mengirimkannya kepada Tuhan. Pada sampul surat dia
meuliskan “Kepada Yth. Tuhan di Surga.”

Tentu saja alamt ini membingungkan Pak pos. Akhirnya, Pak pos memutuskan untuk
meneruskan surat itu kepada Presiden. Saat membaca surat itu, Presiden merasa terharu. Dia
lalu memerintahkan stafnya untuk memenuhi permintaan itu. Staf kePresidenan memutukan
hanya akan memberikan uang sebesar Rp100.000,-. Mereka menilai bahwa uang sejumlah itu
sudah cukup banyak untuk anak kecil.

Seminggu kemudian, Presiden kembali menerima surat dari anak itu yang juga ditunjukkan
kepada Tuhan. Surat itu berbunyi, “Terimakasih Tuhan karena sudah mengabulkan doaku.
Tetapi lain kali kalau mau mengerim uang jangan lewat pemerintah ya. Seperti biasa mereka
mengorupsi uang. Saya yakin bahwa Engkau mengirim Rp300.000,- tetap saya hanya menerima
Rp100.000,-.” Setelah membaca surat dari anak kecil tersebut, Pak Presiden merasa malu.
LAMPIRAN VI

INSTRUMEN PENILAIAN KETERAMPILAN MENULIS TEKS ANEKDOT

Skor Kriteria Komentar

Isi 27—30 Sangat baik—sempurna: menguasai topik tulisan; substantif; abstraksi,


orientasi,krisis, reaksi, koda; relevan dengan topik yang dibahas
22—26 Cukup—baik: cukup menguasai permasalahan; cukup memadai;
pengembangan tesis terbatas; relevan dengan topik, tetapi kurang
terperinci

17—21 Sedang—cukup: penguasaan permasalahan terbatas; substansi kurang;


pengembangan topik tidak memadai

13—16 Sangat kurang—kurang: tidak menguasai permasalahan; tidak ada


substansi; tidak relevan; tidak layak dinilai

Sruktur teks 18—20 Sangat baik—sempurna: ekspresi lancar; gagasan terungkap padat
dengan jelas; tertata dengan baik; urutan logis; kohesif

14—17 Cukup—baik: kurang lancar; kurang terorganisasi, tetapi ide utama


ternyatakan; pendukung terbatas; logis, tetapi tidak lengkap

10—13 Sedang—cukup: tidak lancar; gagasan kacau atau tidak terkait; urutan
dan pengembangan kurang logis

7—9 Sangat kurang—kurang: tidak komunikatif; tidak terorganisasi; tidak


layak dinilai

Kosakata 18 – 20 Sangat baik—sempurna: penguasaan kata canggih; pilihan kata dan


ungkapan efektif; menguasai pembentukan kata; penggunaan register
tepat

14-17 Cukup—baik: penguasaan kata memadai; pilihan, bentuk, dan


penggunaan kata/ungkapan kadang-kadang salah, tetapi tidak
mengganggu

10-13 Sedang—cukup: penguasaan kata terbatas; sering terjadi kesalahan


bentuk, pilihan, dan penggunaan kosakata/ungkapan; makna
membingungkan atau tidak jelas

7-9 Sangat kurang—kurang: pengetahuan tentang kosakata, ungkapan, dan


pembentukan kata rendah; tidak layak nilai

Kalimat 18-20 Sangat baik—sempurna: konstruksi kompleks dan efektif; terdapat


hanya sedikit kesalahan penggunaan bahasa (urutan/fungsi kata, artikel,
pronomina, preposisi)

14-17 Cukup—baik: konstruksi sederhana, tetapi efektif; terdapat kesalahan


kecil pada konstruksi kompleks; terjadi sejumlah kesalahan penggunaan
bahasa (fungsi/urutan kata, artikel, pronomina, preposisi), tetapi makna
cukup jelas
Sedang—cukup: terjadi kesalahan serius dalam konstruksi kalimat
tunggal/kompleks (sering terjadi kesalahan pada kalimat negasi,
urutan/fungsi kata, artikel, pronomina, kalimat fragmen, pelesapan;
makna membingungkan atau kabur

10-13

7-9 Sangat kurang—kurang: tidak menguasai tata kalimat; terdapat


banyak kesalahan; tidak komunikatif; tidak layak dinilai

Mekanik 9-10 Sangat baik—sempurna: menguasai aturan penulisan; terdapat sedikit


kesalahan ejaan, tanda baca, penggunaan huruf kapital, dan penataan
paragraf

7-8 Cukup – baik: Kadang-kadang terjadi kesalahan ejaan,tanda baca,


penggunaan huruf capital, dan penataan paragraf, tetapi tidak
mengaburkan makna

4-6 Sedang- cukup : sering terjadi kesalahan ejaan,tanda baca, penggunaan


huruf kapital,dan penataan paragraph; tulisan tangan tidak jelas; makna
membingungkan atau kabur

1-3 Sangat Kurang-kurang : tidak menguasai aturan penulisan; terdapat


banyak kesalahan ejaan, tanda baca, penggunaan huruf capital, dan
penataan paragraf; tulisan tidak terbaca; tidak layak dinilai

Sitoluama, September 2017

Mengetahui,

Kepala SMA Unggul Del Guru Mata Pelajaran


Justinus H.E. Matulessy, [Link]. Ira Novita Situmorang, [Link].

KISI-KISI SOAL HOTS BAHASA INDONESIA KELAS XI

Kompetensi Dasar Kelas Indikator Tingkat Jenis soal

3.6 Menganalisis struktur X 3.6.1 Mendeskripsikan struktur teks Analisis Esai


dan kebahasaan teks anekdot
anekdot. 3.6.2 Mendeskripsikan kebahasaan teks
anekdot
SOAL ANALISIS TEKS ANEKDOT

”KUHP dalam anekdot”

Seorang dosen fakultas hukum suatu universitas sedang memberikan kuliah hukum
[Link] biasa-biasa saja.

Saat sesi tanya- jawab tiba, Ali bertanya kepada pak dosen.”Apa kepanjangan KUHP,pak?” Pak
dosen tidak menjawab sendiri, melainkan melemparkannya kepada Ahmad.”Saudara Ahmad, coba
dijawab pertanyaan Saudara Ali tadi,”pinta pak [Link] tegas Ahmad menjawab, “Kasih Uang
Habis Perkara,Pak…!”

Mahasiswa lain tentu tertawa, sedangkan pak dosen hanya menggeleng-gelengkan kepala seraya
menambahkan pertanyaan kepada Ahmad, “Saudara Ahmad, dari mana saudara tahu jawaban itu?”
Dasar Ahmad, pertanyaan pak dosen dijawabnya dengan tegas,”Peribahasa Inggris mengatakan
pengalaman adalah guru yang terbaik, Pak…!” Semua mahasiswa di kelas itu tercengang . Mereka
berpandang-pandangan. Lalu, mereka tertawa terbahak-bahak. Gelak tawa [Link] kembali
berlangsung normal.

1. Jelaskan definisi anekdot!


2. Tentukan struktur dan kaidah teks anekdot “KUHP dalam Anekdot”!
3. Tentukan kaidah teks anekdot “KUHP dalam Anekdot”!
4. Tentukan isi teks anekdot “KUHP dalam Anekdot”!
5. Tuliskan kembali isi teks anekdot “KUHP dalam Anekdot” dalam bahasa kalian sendiri!
6. Ceritakan kembali isi teks di atas!

JAWABAN :

1. Jenis teks yang berisi peristiwa-peristiwa lucu, konyol, atau menjengkelkan sebagai akibat dari krisis
yang ditanggapi dengan reaksi.
2. Struktur teks anekdot “ KUHP dalam anekdot”
Abstraksi -------Seorang dosen memberikan kuliah hukum pidana
Orientasi--------Suasana kelas biasa-biasa saja (Paragraf 1)
Krisis ----------- KUHP dipelesetkan menjadi “Kasih Uang Habis Perkara” (Paragraf 2)
Reaksi---------- Mahasiswa tercengang dan tertawa, sedangkan dosen menggeleng-gelengkan kepala
(Paragraf 3)
Koda------------ Kelas kembali berlangsung normal (Paragraf 4)
3. Kaidah teks anekdot “ KUHP dalam anekdot”
Kata sambung ---- Mahasiswa lain tentu tertawa, sedangkan pak dosen hanya menggeleng-gelengkan
kepala seraya menambahkan pertanyaan kepada Ahmad
Kata kerja----------- Seorang dosen fakultas hukum suatu universitas sedang memberikan kuliah hukum
pidana
Kalimat perintah----.”Saudara Ahmad, coba dijawab pertanyaan Saudara Ali tadi,”pinta pak
[Link] tegas Ahmad menjawab, “Kasih Uang Habis Perkara,Pak…!”
4. Isi teks anekdot “KUHP dalam anekdot” adalah menyindir tentang keadilan hukum yang terjadi di
Negara Indonesia .
5. Teks anekdot “KUHP dalam anekdot”: Menceritakan Seorang pria yang bernama Ali menanyakan
kepanjangan KUHP kepada [Link],dosennya melemparkan jawaban kepada Ahmad. Kemudian
,Ahmad menjelaskan bahwa KUHP itu adalah singkatan dari “Kasih Uang Habis Perkara”. Sehingga,
semua mahasiswa tertawa.
6. Teks anekdot “KUHP dalam anekdot”: Menceritakan Seorang pria yang bernama Ali menanyakan
kepanjangan KUHP kepada [Link],dosennya melemparkan jawaban kepada Ahmad. Kemudian
,Ahmad menjelaskan bahwa KUHP itu adalah singkatan dari “Kasih Uang Habis Perkara”. Sehingga,
semua mahasiswa tertawa.

Anda mungkin juga menyukai