0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
83 tayangan14 halaman

Modul Praktikum Leaching Teknik Kimia

Dokumen tersebut merangkum proses ekstraksi padat-cair (leaching) yang dilakukan oleh mahasiswa Teknik Kimia untuk memenuhi tugas kuliah. Terdapat penjelasan mengenai tujuan, dasar teori, metode operasi, dan perpindahan massa yang terjadi selama proses ekstraksi. Juga dijelaskan kandungan kimia yang terkandung dalam daun teh.

Diunggah oleh

Oki Andri Oktaviana
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
83 tayangan14 halaman

Modul Praktikum Leaching Teknik Kimia

Dokumen tersebut merangkum proses ekstraksi padat-cair (leaching) yang dilakukan oleh mahasiswa Teknik Kimia untuk memenuhi tugas kuliah. Terdapat penjelasan mengenai tujuan, dasar teori, metode operasi, dan perpindahan massa yang terjadi selama proses ekstraksi. Juga dijelaskan kandungan kimia yang terkandung dalam daun teh.

Diunggah oleh

Oki Andri Oktaviana
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LABORATORIUM PILOT PLANT

SEMESTER GANJIL TAHUN AJARAN 2018/2019


disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Praktikum Pilot Plant
Semester V Prodi D3-Teknik Kimia

MODUL : Leaching (Ekstraksi Padat-Cair)


PEMBIMBING : Ir. Mukhtar Gozali., [Link]

Tanggal Praktikum : 6 Desember 2018


Tanggal Penyerahan : 14 Desember 2018

Oleh :

Kelompok : 8 (Delapan )
Nama : Selina Afriani (161411054)
Selly Cahyani (161411055)

Kelas : 3B-Teknik Kimia

PROGRAM STUDI DIPLOMA III TEKNIK KIMIA


JURUSAN TEKNIK KIMIA POLITEKNIK NEGERI
BANDUNG
2018
I. TUJUAN
a. Menjalankan peralatan ekstraksi di Politeknik dengan aman dan benar
b. Menjelaskan fenomena perpindahan massa (proses fisis ekstraksi tersebut)
c. Menghitung efisiensi tahap percobaan dan hasil ekstraksi (Yield)
d. Menghitung kalor terpakai dari kukus (steam) oleh pemanasan pelarut

II. DASAR TEORI


2.1 Ekstraksi
Ekstraksi adalah pemisahan satu atau beberapa bahan dari suatu padatan atau cairan
dengan bantuan pelarut. Ekstraksi juga merupakan proses pemisahan satu atau lebih
komponen dari suatu campuran homogen menggunakan pelarut cair (solven) sebagai
separating agen. Pemisahan terjadi atas dasar kemampuan larut yang berbeda dari
komponen-komponen dalam campuran.

2.2 Ekstraksi Padat-Cair (Leaching)

Leaching ialah ekstraksi padat-cair dengan perantara suatu zat pelarut. Proses ini
dimaksudkan untuk mengeluarkan zat terlarut dari suatu padatan atau untuk memurnikan
padatan dari cairan yang membuat padatan terkontaminasi, seperti pigmen. Metode yang
digunakan untuk ekstraksi akan ditentukan oleh banyaknya zat yang larut, penyebarannya
dalam padatan, sifat padatan dan besarnya partikel. Jika zat terlarut menyebar merata di
dalam padatan, material yang dekat permukaan akan pertama kali larut terlebih dahulu.
Pelarut, kemudian akan menangkap bagian pada lapisan luar sebelum mencapai zat
terlarut selanjutnya, dan proses akan menjadi lebih sulit dan laju ekstraksi menjadi turun.
Ekstraksi Padat-Cair (Leaching) adalah proses pemisahan zat yang dapat melarut
(solut) dari suatu campurannya dengan padatan yang tidak dapat larut (inert) dengan
menggunakan pelarut cair (solvent). Proses ini dilakukan untuk mendapatkan bagian
yang mudah terlarut karena berharga ataupun untuk menghilangkan bagian yang kurang
berharga. Pelarut akan lebih mudah melarutkan solute yang ada pada permukaan padatan
sebelum mencapai solute selanjutnya.

2.3 Metode Operasi Leaching


Dikenal 4 jenis metoda operasi ekstraksi padat-cair. Berikut ini disajikan
uraian singkat mengenai masing-masing metoda tersebut:
a. Operasi dengan Sistem Bertahap Tunggal
Dengan metoda ini, pengontakan antara padatan dan pelarut dilakukan sekaligus,
dan kemudian disusul dengan pemisahan larutan dari padatan sisa. Cara ini jarang
ditemukan dalam operasi industri karena perolehan solut yang rendah.
b. Operasi dengan sistem bertahap banyak dengan aliran sejajar atau aliran silang.
Operasi ini dimulai dengan pencampuran umpan padatan dan pelarut dalam tahap
pertama; kemudian aliran bawah dari tahap ini dikontakkan dengan pelarut baru pada
tahap berikutnya, dan demikian seterusnya. Larutan yang diperoleh sebagai aliran
atas dapat dikumpulkan menjadi satu seperti yang terjadi pada sistem dengan aliran
sejajar, atau ditampung secara terpisah, seperti pada sistem dengan aliran silang.

Gambar 1. Sistem bertahap banyak dengan aliran sejajar

Gambar 2. Sistem bertahap banyak dengan aliran silang


c. Operasi secara kontinu dengan aliran berlawanan
Dalam sistem ini, aliran bawah dan atas mengalir secara berlawanan. Operasi dimulai
pada tahap pertama dengan mengontakkan larutan pekat yang merupakan aliran atas
tahap kedua, dan padatan baru. Operasi berakhir pada tahap ke-n (tahap terakhir),
dimana terjadi pencampuran antara pelarut baru dan padatan yang berasal dari tahap
ke-n (n-1). Dapat dimengerti bahwa sistem ini memungkinkan didapatkannya
perolehan solut yang tinggi, sehingga banyak digunakan di dalam industri.
Gambar 3. Sistem bertahap banyak dengan aliran berlawanan
[Link] secara batch dengan sistem bertahap banyak dengan aliran berlawanan
Sistem ini terdiri dari beberapa unit pengontak batch yang disusun berderet atau dalam
lingkaran yang dikenal sebagai rangkaian ekstraksi (extraction battery). Didalam
sistem ini, padatan dibiarkan stationer dalam setiap tangki dan dikontakkan dengan
beberapa larutan yang konsentrasinya makin menurun. Padatan yang hamper tidak
mengandung solut meninggalkan rangkaian setelah dikontakkan dengan pelarut baru,
sedangkan larutan pekat sebelum keluar dari rangkaian terlebih dahulu dikontakkan
dengan padatan baru di dalam tangki yang lain.

Gambar 4. Operasi batch bertahap empat dengan aliran berlawanan

Ada empat faktor penting yang harus diperhatikan dalam operasi ekstraksi:
1. Ukuran partikel
Ukuran partikel mempengaruhi kecepatan ekstraksi. Semakin kecil ukuran
partikel maka areal terbesar antara padatan terhadap cairan memungkinkan
terjadi kontak secara tepat. Semakin besar partikel, maka cairan yang akan
mendifusi akan memerlukan waktu yang relative lama.
2. Faktor pengaduk
Semakin cepat laju putaran pengaduk partikel akan semakin terdistribusi dalam
permukaan kontak akan lebih luas terhadap pelarut. Semakin lama waktu
pengadukan berarti difusi dapat berlangsung terus dan lama pengadukan
harus dibatasi pada harga optimum agar dapat optimum agar konsumsi energi tak
terlalu besar. Pengaruh faktor pengadukan ini hanya ada bila laju pelarutan
memungkinkan.
3. Temperatur
Pada banyak kasus, kelarutan material akan diekstraksi akan meningkat dengan
temperatur dan akan menambah kecepatan ekstraksi.
4. Pelarut
Pemilihan pelarut yang baik adalah pelarut yang sesuai dengan viskositas yang
cukup rendah agar sirkulasinya bebas. Umumnya pelarut murni akan digunakan
meskipun dalam operasi ekstraksi konsentrasi dari solute akan meningkat dan
kecepatan reaksi akan melambat, karena gradien konsentrasi akan hilang dan
cairan akan semakin viskos pada umumnya (Coulson, 1955: 721). Dalam biologi
dan proses pembuatan makanan, banyak produk yang dipisahkan dari struktur
alaminya menggunakan ekstraksi cair-padat. Proses terpenting dalam pembuatan
gula, leaching dari umbi-umbian dengan produksi minyak tumbuhan, pelarut
organic seperti hexane, acetone, dan lainnya digunakan untuk mengekstrak
minyak dari kacang kedelai, biji bunga tumbuhan dan lain-lain. Dalam industri
farmasi, banyak produk obat-obatan diperoleh dari leaching akar tanaman, daun
dan batang. Untuk produksi kopi instan, kopi yang sudah dipanggang di leaching
dengan air segar. Teh dapat larut diproduksi dengan menggunakan pelarut air dan
daun teh (Geankoplis, 1997: 724-725).

2.4 Perpindahan Massa Pada Proses Leaching

Persamaan perpindahan massa dapat ditulis sebagai berikut :


𝑑𝑀 𝑘 ′ 𝐴(𝐶-𝑠 − 𝐶)
=
𝑑𝑡 𝑏
Keterangan: A = luas area kontak padatan – pelarut
b = ketebalan efektif lapisan tipis cairan
C = konsentrasi solute dalam pelarut pada waktu t
Cs = konsentrasi jenuh solute di pelarut
M = massa solute yang telah pindah pada waktu t
k’ = koefisien difusi (lihat tabel dalam lampiran)
2.5 Kalor yang Dibutuhkan/Dilepas oleh Steam (Kukus), Q
(Asumsi semua kukus mengalami kondensasi)
Q = mkks hg - mkks hf + mkks hfg 5
Keterangan:
mkks = laju massa steam (kukus)
hg = energi dalam/entalpi kukus pada tekanan kerja P
hfg = kalor laten kondensasi penguapan kukus suhu kondensat
hf = energi dalam/entalpi kondensat pada suhu kondensat
Catatan : hg, hfg, dan hf diambil dari table uap (uap jenuh)
Sebuah persamaan empiris difusifitas dalam larutan encer dapat dihitung dengan
pendekatan Maxwell dan dimodifikasi oleh Gilliland.
7,7 𝑥 10−16 𝑇
𝐷𝐿 = 1 1
𝜇 (𝑉 3 − 𝑉0 3 )

Dengan: DL = difusifitas
𝜇 = viskositas pelarut
T = temperatur (K)
V = volume molekular zat bersangkutan (pelarut) dalam 1 kmol bentuk fasa
cair
V0 = 0.008 untuk air; 0.0149 untuk etanol; 0.0228 untuk benzene
2.6 Kandungan Teh
Teh (Camelia sinensis) sebagai bahan minuman dibuat dari pucuk muda daun
teh yang telah mengalami proses pengolahan tertentu seperti pelayuan, penggilingan,
oksidasi enzimatis dan pengeringan. Selama pengolahan kandungan senyawa kimia
pada daun teh mengalami perubahan, perubahan-perubahan yang terjadi pada
senyawa kimia tersebut sangat penting diketahui terutama bagi pelaku industri teh
seperti pengusaha dan petani sehingga dapat menghasilkan produk teh yang bercita
rasa dan beraroma serta berkhasiat tinggi yang dapat bersaing dengan teh produksi
luar negeri.
Kandungan senyawa kimia dalam daun teh dapat digolongkan menjadi 4
kelompok besar yaitu: golongan fenol; golongan bukan fenol; golongan aromatis;
dan enzim. Keempat kelompok tersebut bersama-sama mendukung
terjadinya sifat-sifat baik pada teh, apabila pengendaliannya selama pengolahan
dapat dilakukan dengan tepat. Pelarut yang digunakan untuk ekstraksi padat – cair
adalah ethanol.

Karakteristik ethanol ditunjukan dalam tabel berikut ini.


Tabel 1. Karakteristik ethanol
Bentuk Liquid
Bau Sedikit kuat
Rasa Tajam
Berat Molekul 46,07 g/mol
Titik Didih 78,5°C
Titik Leleh -114,1°C
Spesifik Gravitasi 0,789
Warna Tidak berwarna, bening

III. ALAT DAN BAHAN

3.1 Skema Alat Leaching


3.2 Alat dan Bahan

(Tabel 2. Alat dan Bahan)


No Alat Jumlah
1. Unit Ekstraksi Padat-Cair 1 set
2. Termometer 1 buah
3. Kunci Kunci pembuka wadah 1 set
4. Stop watch 1 buah
5. Gelas Plastik 1 liter 1 buah
6. Pipa Plastik 1 buah
7. Tangga 1 buah
8. Ember Plastik 15 liter 1 buah
9. Teh 1,5 Kg
10. Etanol 40 Liter
11. Picnometer 1 buah

3.3 Prosedur Kerja

Mulai Menutup wadah

Membuka V1 dan V2 (aliran air Mengisi labu utama dengan


kondensor) pelarut etanol sebanyak 24 L

Membuka tutup wadah Membuka V3 hingga tekanannya


1.5 bar

Membuka tutup wadah


Mengambil sampel ekstrak dan
rafinat pada setiap siklus

Memasukkan kertas saring dan


0.25 kg umpan
Mengukur turbiditas dan densitas
setiap sampel

Mengatur sudut sifon antara 60° -


90°
Mencatat massa steam yang
digunakan dan suhu kondensat
pada setiap siklus
Memasukkan air ke dalam wadah
umpan hingga air mengalir
melalui sifon ke labu utama
Selesai

Mengambil air melalui drain di


bawah wadah dan mencatat
sebagai nilai B
3.4 Keselamatan Kerja
 Membaca dan memahami jobsheet dengan baik.
 Menggunakan wear pack, sepatu tertutup, dan helm.
 Mengalirkan air pendingin sebelum mengalirkan umpan atau pun steam.
 Mengalirkan umpan terlebih dahulu sebelum mengalirkan steam.
 Menutup aliran steam, lalu umpan, dan terakhir air pendingin saat akan
mematikan alat.
 Menggunakan sarung tangan tahan panas.
 Berhati-hati saat akan melakukan kontak dengan air kondensat steam.
 Mengetahui aliran steam dengan baik sehingga tidak sembarangan
menyentuh pipa.

IV. DATA PENGAMATAN


1. Massa Umpan
a. Berat Umpan (Teh) = 0,25 kg
2. Volume Pelarut Ethanol (Solvent) = 24 L
3. Tekanan = 1,6 Bar
4. Densitas ethanol = 0,790 gram/ml
5. Densitas rafinat total 4 siklus = 0,83 gram/ml

Tekanan Suhu Suhu Suhu Suhu Suhu


Siklus Steam Steam Kondensat Pelarut Pemanas Reaktor
( Bar ) ( °C ) ( °C ) ( °C ) ( °C ) ( °C )
1 1,6 113,298 65 69 71 74
2 1,6 113,298 75 70 72 75
3 1,6 113,298 70 70 73 74
4 1,6 113,298 71 69 72 74

Waktu Kekeruhan Laju alir Berat


Siklus siklus (NTU) Steam Steam
(menit) (kg/min ) (kg)
1 14,33 9,71 0,2581 7,74
2 14,42 7,52 0,3884 9,2
3 13,76 6,33 0,3516 7,2
4 11,93 5,89 0,4600 6,74
V. PENGOLAHAN DATA

Densitas Katekin Katekin Hasil Yield Effisiensi


Siklus Ektrak dalam teh Praktikum (%) ( %)
( gr/ml ) (%) (%)
1 0,8206 2 3,74 187 25,1
2 0,8182 2 3,44 172 25
3 0,8172 2 3,32 166 24,97
4 0,8157 2 3,14 157 24,93

5.1 Perhitungan Yield dan Efisisensi Ekstrak


Contoh Perhitungan Yield :
% 𝑘𝑎𝑡𝑒𝑘𝑖𝑛 ℎ𝑎𝑠𝑖𝑙 𝑝𝑟𝑎𝑘𝑡𝑖𝑘𝑢𝑚
Yield = 𝑥 100%
% 𝑘𝑎𝑡𝑒𝑘𝑖𝑛 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑡𝑒ℎ
3,74
= 2 𝑥 100 %
= 187 %

Contoh Perhitungan Efisiensi :


𝐷𝑒𝑛𝑠𝑖𝑡𝑎𝑠 𝑒𝑘𝑠𝑡𝑟𝑎𝑘 𝑠𝑖𝑘𝑙𝑢𝑠 𝑛
Efisiensi = 𝐷𝑒𝑛𝑠𝑖𝑡𝑎𝑠 𝑒𝑘𝑠𝑡𝑟𝑎𝑘 𝑠𝑒𝑙𝑢𝑟𝑢ℎ 𝑠𝑖𝑘𝑙𝑢𝑠 𝑥 100 %
0,8206
= 3,2717 𝑥 100 %
= 25,1 %

5.2 Perhitungan Kalor yang Digunakan


Laju Alir 𝝀
Siklus Steam HV (kJ/kg) HL (kJ/kg) (kJ/kg) Q (kJ/s)
(kg/s)
1 0,0043 2696,01 475,34 2220,67 9,54
2 0,0064 2696,01 475,34 2220,67 14,21
3 0,0059 2696,01 475,34 2220,67 13,10
4 0,0076 2696,01 475,34 2220,67 16,87
Contoh perhitungan kalor steam:
Diketahui laju alir steam = 0,0043 kg/s dan 𝜆 = 2220,67 kJ/kg
Q = m x 𝜆 = (0,0043 kg/s) x (2220.67 kJ/kg) = 9,54 kJ/s
VI. PEMBAHASAN
7.1 Pembahasan oleh Selina Afriani (161411054)

7.2 Pembahasan oleh Selly Cahyani (161411055)


Telah dilakukan praktikum ekstraksi padat-cair (Leaching), dengan tujuan
untuk dapat mengetahui fenomena perpindahan massa, dapat menghitung efisiensi
tahap percobaan dan hasil ekstraksi (Yield), dapat menghitung kalor terpakai dari kukus
(steam) oleh pemanasan pelarut serta mengambil ektrak yang terdapat dalam teh
dengan menggunakan pelarut ethanol.
Prinsip kerja Leaching dengan mengambil zat telarut yang didapat dalam teh
berupa ekstrak katekin. Kandungan katekin yang berada didalam teh sebanyak 2%
(Litbang, 2013). Pemilihan ethanol pada praktikum ini karena kelarutan katekin dalam
ethanol lebih tinggi dibandingkan kelaurtan didalam air sebagai pelarut. Kondisi
operasi yang ada dalam percobaan ini adalah dengan tekanan steam sebesar 1,6 bar dan
temperatur 113,298 oC.
Dilakukan proses leaching sebanyak 4 siklus dan didapatkan data densitas ekstrak
dari siklus 1 hingga siklus 4 mengalami penurunan. Hal ini sesuai dengan literatur yang
menyebutkan bahwa semakin lama densitas ekstrak akan menurun mendekati densitas
solvent (etanol), yang artinya solute dalam daun teh semakin berkurang. Begitupula
dengan nilai kekeruhan yang didapatkan juga mengalami penurunan hal ini
dikarenakan kandungan padatan terlarut / ekstrak dari teh sudah hampir jenuh.
Dari data pengamatan didapatkan efisiensi pada leaching mengalami penurunan
dari siklus 1 hingga siklus 4 sebesar 25,1%, 25%, 24,94%, dan 24,93%. Hal ini
disebabkan ekstrak dari teh atau katekin sudah terambil oleh solvent sehingga dapat di
prediksi konsentrasi teh didalam solvent semakin meningkat dan konsentrasi ektrak teh
didalam rafinat terus berkurang sejalan dengan penambahan siklus dan perpanjangan
waktu. Jika dilakukan penambahan siklus dan perpanjang waktu kembali maka dapat
di prediksi bahwa kandungan katekin atau ekstrak yang ada didalam teh akan mendekati
2 yang bersesuaian dengan teori (Litbang.2013). %Yield yang dihasilkan dari siklus 1
hingga siklus 4 mengalami penurunan sebesar 187%, 172%, 166%, dan 157. Besarnya
%Yield lebih dari 100% dapat disebabkan ada kandungan zat lain selain zat katekin
yang ikut larut didalam solvent sehingga mempengaruhi besarnya %Yield.
Nilai kalor yang didapatkan dari siklus 1 hingga siklus 4 mengalami fluktuatif
dengan nilai berturut turut sebesar 9,54 kj/s, 14,21 kj/s, 13,10 kj/s, dan 16,87 kj/s. Naik
turunnya nilai kalor dapat disebabkan naik turunnya aliran steam yang ditunjukkan
dengan massa steam tiap siklusnya. Semakin besar massa steam, makan semakin besar
pula nilai kalor yang terpakai.

VII. KESIMPULAN
Berdasarkan percobaan didapatkan hasil :
1. Nilai katekin pada :
Siklus 1 : 3,74
Siklus 2 : 3,44
Siklus 3 : 3,32
Siklus 4 : 3,14
2. Nilai Efisiensi pada :
Siklus 1 : 25,1 %
Siklus 2 : 25 %
Siklus 3 : 24,97%
Siklus 4 : 24,993
3. Nilai % yield pada
Siklus 1 : 187 %
Siklus 2 : 172 %
Siklus 3 : 166 %
Siklus 4 : 157 %
4. Nilai kalor yang dihasilkan pada
Siklus 1 : 9,54 kj/s
Siklus 2 : 14,21 kj/s
Siklus 3 : 13,10 kj/s
Siklus 4 : 16,87 kj/s
DAFTAR PUSTAKA
Geankoplis, CJ. 2003. “Transport Processes and Separation Process
Principles (includes unit operation), 4th ed, pp 776-777, 802-806,
Prentice Hall, New Jersey
McCabe Smith & Harriot 1986, Unit Operations of Chemical Engineering 4th
Ed.
McGraw Hill.

Setiawan, DA.2014. BAB 1 PENDAHULAN.


[Link] (Diakses pada 20 November
2018)
Tim dosen. Jobsheet Praktikum Pilot Plant. 2010. ”Leaching”. Bandung :
Jurusan Teknik Kimia Polteknik Negeri Bandung.
LAMPIRAN

Labu Utama Pemanas Tangki Umpan

Sifon Ekstrak

Anda mungkin juga menyukai