6
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Definisi Hotel
Hotel memegang peranan penting dalam industri pariwisata. Tanpa
adanya hotel wisatawan tidak dapat menikmati liburan dengan menyenangkan.
Hal ini disebabkan karena hotel menyediakan layanan menginap dan layanan
lainnya yang dibutuhkan dengan kenyamanan. Hotel itu sendiri memiliki
pengertian yaitu jenis akomodasi yang menyediakan fasilitas dan pelayanan
penginapan, makan dan minuman, serta jasa-jasa lainnya untuk umum yang
tinggal untuk sementara waktu dan dikelola secara komersial (Sihite, 2000).
Adapun pengertian hotel menurut beberapa ahli sebagai berikut :
1. Menurut AHMA ( The America Hotel and Motel Association ) A hotel may
be defined an establishment whose primary business is providing lodging
facilities for the general public and which furnishes one or more of the
following services, uniformed services, laundering of linens and use of
furnitures atau dapat diartikan sebuah hotel dapat didefinisikan sebagai
tempat tinggal atau bangunan yang memiliki usaha utama dalam
menyediakan penginapan untuk publik atau masyarakat secara umum
dan memiliki jasa pelayanan makanan minuman dan lebih dari itu, jasa
pelayanan kamar, pencucian dan penggunaan atau menikmati furnitur
7
yang ada pada bangunan tersebut (hanya pada kamar yang disewakan
dan keseluruhan bangunan selain kamar orang lain).
2. Menurut buku yang berjudul Akuntansi Perhotelan . “ Hotel merupakan
bangunan yang menyediakan jasa kamar untuk jangka pendek, makanan
dan minuman dan jasa lain yang diperlukan dengan imbalan bayaran dari
tamu”. (IBM Wiyasha, 2010 : 5)
3. Menurut Kasavana dalam buku Hotel Courtsey
“A Hotel or Inn maybe defined as an establishment whose primary
business is providing lodging facilities for the general public , and
which furnishes one or more of the following services : food and
beverages services , room attentand services , uniformed services
, laundering of linens services and use of furniture and fixtures.
Hotel can have anywhere from 50 to 2000 rooms sometimes
more. Inns usually have 5 to 50 rooms and the level of service is
more personal”.
“Hotel atau Inn mungkin didefinisikan sebagai perusahaan yang
bisnis utamanya menyediakan fasilitas penginapan untuk
masyarakat umum, dan yang menyediakan satu atau lebih dari
layanan berikut : layanan makanan dan minuman, layanan kamar,
layanan berseragam, pencucian layanan linen dan penggunaan
perabot dan perlengkapan. Hotel dapat memiliki tempat dari 50
hingga 2000 kamar kadang-kadang lebih. Inn biasanya memiliki 5
hingga 50 kamar dan tingkat layanannya lebih bersifat pribadi”.
8
4. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi
No. KM. 37/PW.304/MPPT - 86 : Hotel sebagai jenis akomodasi yang
mempergunakan sebagian besar atau seluruh bangunan untuk
menyediakan jasa penginapan, makan dan minum serta jasa lainnya bagi
umum, yang dikelola secara komersial
2.2 Klasifikasi Hotel
Berdasarkan keputusan Dirjen Pariwisata No. 14/U/II/1988, tentang
usaha dan pengelolaan hotel menjelaskan bahwa klasifikasi hotel menggunakan
sistem bintang. Dari kelas yang terendah diberi bintang satu, sampai kelas
tertinggi adalah hotel bintang lima. Sedangkan hotel - hotel yang tidak
memenuhi standar kelima kelas tersebut atau yang berada dibawah standar
minimum yang ditentukan disebut hotel non bintang. Pernyataan penentuan
kelas hotel ini dinyatakan oleh Dirjen Pariwisata dengan sertifikat yang
dikeluarkan dan dilakukan tiga tahun sekali dengan tata cara pelaksanaan
ditentukan oleh Dirjen Pariwisata.
Dasar penilaian yang digunakan antara lain mencakup:
Persyaratan fisik, meliputi lokasi hotel dan kondisi bangunan.
Jumlah kamar yang tersedia.
Bentuk pelayanan yang diberikan
Kualifikasi tenaga kerja, meliputi pendidikan dan kesejahteraan karyawan.
Fasilitas olahraga dan rekreasi lainnya yang tersedia seperti kolam renang
9
lapangan tenis dan diskotik
Klasifikasi hotel berbintang tersebut secara garis besar adalah sebagai berikut :
a. Hotel Berbintang Satu
- Jumlah kamar standar minimal 15 kamar dan semua kamar dilengkapi
kamar mandi didalam.
- Ukuran kamar minimum termasuk kamar mandi 20 m2 untuk kamar
double dan 18 m2 untuk kamar single.
- Ruang public luas 3 m2 x jumlah kamar tidur tidur, minimal terdiri dari
lobby.
- Ruang makan (>30 m2) dan bar dan pelayanan akomodasi yaitu
berupa penitipan barang berharga.
b. Hotel Berbintang Dua
- Jumlah kamar standar minimal 20 kamar (termasuk minimal 1 suite
room, 44 m2).
- Ukuran kamar minimum termasuk kamar mandi 20 m2 untuk kamar
double dan 18 m2 untuk kamar single
- Ruang public luas 3 m2 x jumlah kamar tidur, minimal terdiri dari
lobby, ruang makan (>75 m2) dan bar san pelayanan akomodasi yaitu
berupa penitipan barang berhargam penukaran uang asing, postal
service, dan antar jemput.
c. Hotel Berbintang Tiga
- Jumlah kamar minimal 30 kamar (termasuk minimal 2 suite room, 48
m2).
10
- Ukuran kamar minimum 11 termasuk kamar mandi 22 m2 untuk
kamar single dan 26 m2 untuk kamar double.
- Ruang publik luas 3 m2 x jumlah kamar tidur, minimal terdiri dari
lobby, ruang makan (>75 m2) dan bar dan pelayanan akomodasi yaitu
berupa penitipan barang berharga, penukaran uang asing, postal
service dan antar jemput.
d. Hotel Berbintang Empat
- Jumlah kamar minimal 50 kamar (temrasuk minimal 3 suite room, 48
m2).
- Ukuran kamar minimum termasuk kamar mandi 24 m2 untuk kamar
single dan 28 m2 untuk kamar double.
- Ruang public luas 3 m2 x jumlah kamar tidur, minimal terdiri dari
kamar mandi, ruang makan (>100 m2) dan bar (>45 m2), pelayanan
akomodasi yaitu berupa penitipan barang berharga, penukaran uang
asing, postal service dan antar jemput.
- Fasilitas penunjang berupa ruang linen (>0,5 m2 x jumlah kamar),
ruang laundry (>40 m2), dry cleaning (>20 m2), dapur (>60% dari
seluruh luas lantai ruang makan).
- Fasilitas tambahan : pertokoan, kantor biro perjalanan, maskapai
perjalanan, drugstore, salon, function room, banquet hall, serta
fasilitas olahraaga dan sauna.
e. Hotel Berbintang Lima
- Jumlah kamar minimal 100 kamar (termasuk mminimal 4 suite room,
58 m2).
11
Uukuran kamar minimum termasuk kamar mandi 26 m2 untuk kamar
single dan 52 m2 untuk kamar double.
- Ruang public luas 3 m2 x jumlah kamar tidur, minimal terdiri dari
lobby, ruang makan (>135 m2) dan bar (>75 m2).
- Pelayanan akomodasi yaitu berupa penitipan barang berharga,
penukaran uang asing, postal service dan antar jemput.
- Fasilitas penunjang berupa ruang linen (>0,5 m2 x jumlah kamar),
ruang 12 laundry (>40 m2 ), dry cleaning (>30 m2), dapur (>60%
dari seluruh luas lantai ruang makan).
- Fasilitas tambahan: pertokoan, kantor biro perjalanan, maskapai
perjalanan, drugstore, salon, function room, banquet hall, serta
fasilitas olahraga dan sauna.
Dengan adanya klasifikasi hotel tersebut dapat melindungi konsumen
dalam memperoleh fasilitas yang sesuai dengan keinginan. Memberikan
bimbingan pada pengusaha hotel serta tercapainya mutu pelayanan yang
baik.
2.3 Food and Beverages Department
Menurut Soekresno (2005 : 273 ) Food and Beverage Department adalah
bagian hotel yang mengurus dan bertanggung jawab mengurus terhadap
kebutuhan pelayanan makanan dan minuman serta kebutuhan lain yang terkait,
dari para tamu yang tinggal maupun yang tidak tinggal di hotel tersebut dan
dikelola secara komersial dan profesional.
12
Menurut Yunus Naimuddin dan Dalimunthe (2004 : 15), “Food and
Beverage Department adalah suatu bidang yang bertugas menangani kebutuhan
makan dan minum”. Dimana kebutuhan makan dan minum merupakan
kebutuhan pokok manusia termasuk tamu - tamu hotel atau setiap individu yang
datang untuk memperoleh jasa hotel, oleh karena itu, Food and Beverage
Department merupakan departemen yang sangat mutlak diperlukan di hotel
dalam menyediakan pelayanan makanan dan minuman dalam menjalankan
tugasnya.
Food and Beverage Department dibagi menjadi dua bagian yaitu:
1. Food and Beverage Bagian Depan
Yaitu bagian yang berhubungan langsung dengan tamu. Terdiri dari bar,
restoran, banquet, dan room service.
2. Food and Beverage Bagian Belakang
Yaitu bagian yang tidak langsung berhubungan dengan tamu karena
harus melalui perantara dengan pramusaji. Terdiri dari kitchen dan
stewarding. Bagian ini menangani produksi makanan yang dibutuhkan
oleh restoran ataupun makanan untuk acara yang diadakan didalam hotel
kamar seperti seminar, acara pernikahan dan pelayanan makanan ke
kamar hotel melalui room service.
13
2.4 Kitchen Section
Pengertian Kitchen Hotel Menurut Sihite (2000 : 14) kitchen adalah
ruangan khusus yang di peruntukkan sebagai tempat untuk memasak makanan.
Dapur dapat di temui baik di dalam rumah, warung makan.
Menurut Sudira (1996 : 1-4) menyebutkan pengertian dan kedudukan
dapur dalam sebuah hotel sebagai berikut : “ kitchen is a room or other space (
as a well area or special bulding ) with facilitas for cooking. Dengan singkat
dapat dikatakan bahwa sebuah dapur adalah suatu ruangan atau tempat khusus
yang memilik Dalam buku All About The Kitchen “ The Kitchen is a place where
food is prepared” yang dapat diartikan “kitchen (dapur) adalah sebuah tempat
dimana makanan tersebut dipersiapkan”. ( Donald R. Laundberg 2006:15)
Pada buku Introduction to Hospitality 5th “ The Kitchen is the heart of
food service operation. There food and another items are received, stored,
prepared, well the level of demand and quality of placed for service”. Kalimat
tersebut dapat diartikan dengan “ kitchen dapur) adalah jantung dari operasi
pelayanan makanan”. (Menurut Jhon R. Walker , 2009 : 171).
Berdasarkan tugasnya kitchen ( dapur ) dibagi menjadi 2 bagaian yaitu
Hot Kitchen dan Cold Kitchen.
1. Hot Kitchen adalah kitchen yang bertugas menyediakan makanan –
makanan panas seperti maincourse, hidangan buffet, soup, ala carte dan
lain sebagainya. Hot Kitchen terbagi menjadi beberapa bagian antara lain
banquete, main kitchen, butcher.
14
2. Cold Kitchen adalah kitchen yang bertugas menyediakan makanan dingin
seperti salad, fruit slice, cake dan cold sauce. Cold Kitchen terbagi
menjadi Pastry, Garde Manger dan Bakery.
2.5 Standard Recipe
Standard recipe merupakan dasar dalam mengolah makanan dalam suatu
hotel agar makanan mempunyai cita rasa yang baik .
Menurut Wayne Gisslen ( 2011 : 102 ) standard recipe is a set of
instruction describing the way a particular establishment prepares a particular
dish. In other words, it is a customized recipe developed by an operation for the
use of its own cooks, using its own equipment , to be served to its patrons.
Pernyataan diatas dapat diartikan sebagai standard recipe merupakan
suatu instruksi dalam mempersiapkan makanan.
2.6 Saus
Kata ”saus” berasal dari bahasa Perancis (sauce) yang diambil dari
bahasa latin salsus yang berarti “digarami”. Sedangkan saus dalam istilah dalam
masak -memasak berarti cairan kental yang digunakan sewaktu atau dihidangkan
bersama - sama makanan sebagai penyedap atau agar makanan kelihatan
bagus. Saus juga dapat diartikan sebagai cairan kental (pasta) yang terbuat dari
bubur buah berwarna menarik (biasanya merah), mempunyai aroma dan rasa
yang merangsang dengan atau tanpa rasa pedas.
Saus merupakan salah satu produk pangan yang sangat populer. Saus tidak saja
hadir dalam sajian seperti mie bakso, atau mie ayam, tetapi juga dijadikan bahan
15
pelengkap nasi goreng, mie goreng dan aneka makanan fast food (Anonim,
2009).
Dalam seni kuliner, istilah "mother sauce" mengacu pada salah satu dari
lima saus dasar, yang merupakan titik awal untuk membuat berbagai saus
sekunder atau turunan saus. Saus pada dasarnya adalah cairan saus ditambah
dengan pengental juga dengan bahan-bahan penyedap lainnya. Masing – masing
dari mother sauce dibuat dengan bahan yang berbeda. Beberapa saus
dipanaskan lebih lama guna mendapatkan aroma dan warna yang di inginkan. Di
bawah ini adalah 5 macam mother sauce :
1. Béchamel adalah saus yang paling sederhana dari mother
sauce. Karena tidak memerlukan membuat kaldu terlebih dulu.
Bahan dasar dari béchamel adalah susu, tepung, dan butter.
Béchamel dibuat oleh pengentalan susu panas dengan roux
kemudian ditambahkan bawang putih dan bawang Bombay
untuk saus dasar. Untuk saus turunan béchamel adalah Cream
Sauce, Cheese Sauce, Mustard Sauce, dll.
2. Velouté adalah mother sauce lainnya yang membutuhkan
kaldu putih sebagai bahan dasar dan dikentalkan
menggunakan roux. Untuk saus veloute ini tergantung jenis
kaldu apa yang digunakan. Dari saus veloute ini bisa
dikembangkan menjadi berbagai macam jenis saus. Seperti
contoh beberapa saus turunan dari veloute seperti mushroom
sauce, Aurora sauce, dll.
16
3. Espagnole Sauce biasanya disebut Brown Sauce. Saus ini
dibuat melalui pengentalan kaldu coklat dengan roux.
Kemudian ditambahkan tomato puree, tulang yang sudah di
oven terlebih duludan mirepoix untuk menghasilkan warna dan
rasa lebih baik. Biasanya saus ini disebut juga dengan demi
glace namun melalui pemanasan dengan api kecil hingga
kandungan air susut setengahnya. Dari espagnole sauce dan
ditambahkan beberapa bahan lainnya bisa menghasilkan
turunan saus seperti lyonnaise sauce, chasseur sauce,
mushroom sauce, wine sauce, dll.
4. Hollandaise tidak seperti mother saucelainnya. Saus ini
berbahan dasarkan kandungan asam dan kuning telur. Proses
pengentalan disebabkan oleh kuning telur itu sendiri yang
diaduk secara berirama dan tidak berlawanan arah. Untuk
turunan saus ini seperti orange lime sauce, Dijon sauce, honey
lime sauce, dll.
5. Tomato sauce adalah mother sauce yang terakhir. Saus ini
hampir sama dengan saus tomat yang biasa kita konsumsi.
Bahan dasar saus ini adalah tomat yang di masak dan
diberikan kaldu, kemudian di kentalkan. Untuk turunan saus
dari tomato sauce sepertitomato fondue, tomato concase, dll.
Pada dasarnya saus terbuat dari kaldu yang dikentalkan menggunakan
roux. Ada 2 macam kaldu yaitu kaldu putih dan kaldu coklat. Pembedanya
17
adalah bahan dasar di tumis terlebih dahulu hingga warna yang
diinginkan dan mengeluarkan aroma yang khas. Kaldu biasanya dipakai
sebagai bahan dasar sop, pemberi rasa gurih, dan saus (Larousse, 1993).
2.7 Fungsi Saus pada Pastry
Selain saus yang memiliki rasa gurih, ada beberapa saus yang memiliki
rasa manis. Yang biasa digunakan pada produk- produk pastry. Dalam
penyajiannya pastry bisa menggunakan saus - saus yang berbahan dasar buah
dengan campuran susu, cream, gula, custard dan lainnya. Contoh saus pada
produk pastry Vanilla Sauce, Caramel Sauce, Strawberry Sauce, Rasberry Sauce,
Lemon Sauce dan Chocolate Sauce. Fungsi saus pada hidangan pastry sebagai
penambah cita rasa dan garnish.
Salah satu contoh saus pada hidangan dessert adalah chocolate sauce
yang berbahan dasar coklat.
2.7.1 Chocolate Sauce
Chocolate sauce adalah salah satu saus berbahan dasar buah
coklat. Bahan – bahan dasar dalam membuat chocolate sauce yaitu dark
chocolate, cokelat bubuk, brown sugar, butter dan air.
1. Coklat
Coklat merupakan olahan dari biji coklat yang dapat dibuat menjadi
berbagai jenis produk seperti coklat blok, permen, coklat bubuk dan jenis
lainnya. Coklat dapat digunakan sebagai bahan utama atau sebagai
bahan hiasan pada produk tertentu sehingga dapat meningkatkan
18
penampilan dari suatu produk makanan. Untuk dapat menggunakan
coklat sebagai bahan utama atau bahan hiasan diperlukan pengetahuan
tentang coklat dari jenis produknya, cara pengolahannya dan trik-trik
menangani coklat.
Biji coklat dapat menghasilkan berbagai macam produk. Salah satu
jenis produk olahan biji coklat adalah coklat batangan (coklat blok).
Coklat blok mempunyai kandungan kokoa yang bervariasi dan sudah
dicampur dengan bahan-bahan seperti susu, gula, dan lemak. Untuk
menyesuaikan cita rasa masyarakat Indonesia kandungan cocoa
butternya relatif sedikit dan ditambah dengan lemak nabati sebagai
pengganti cocoa butter. Coklat batangan dapat dibedakan menjadi 3
(Sufi Sy. 2000). Berikut adalah jenis – jenis coklat :
1. Couverture Chocolate
Coklat jenis ini tergolong mewah dan mahal karena mengandung
cocoa liquor 50%, cocoa butter 30% dan 20% kandungan yang terdiri
dari gula, lechitin dan vanili. Kandungan cocoa butter yang tinggi
mengharuskan coklat jenis ini harus melalui proses tempering guna
menghasilkan coklat yang mengkilat. Coklat couverture mudah mencair
sebaiknya disimpan pada suhu 23°C.
Proses pengolahan coklat ini membutuhkan alat yang tepat dan
penanganan yang khusus sehingga sering digunakan oleh industri dan
hotel berbintang. Coklat jenis ini biasanya digunakan untuk membuat
dekorasi, hiasan atau kerajinan berbahan dasar coklat, permen, dan
19
praline. Jenis easy-melt chocolate (dark, milk, white chocolate) yang
berbentuk seperti kepingan koin biasanya digunakan sebagai pengganti
couverture chocolate karena dalam proses pelelehannya lebih mudah
dengan menggunakan teknik au bain marie, dalam proses au bain marie
air tidak boleh sampai mendidih atau terlalu panas karena akan
mengakibatkan hasilnya menjadi kusam.
2. Compound Chocolate
Coklat compound atau biasa dikenal dengan istilah cooking
chocolate cocok digunakan di daerah tropis seperti Indonesia. Bahan-
bahan yang terkandung dalam compound chocolate adalah lemak nabati,
coklat bubuk, lechitin (emulsifier), gula dan vanilli. Coklat compound
mengandung 50% campuran antara lemak nabati dan coklat bubuk dan
50% campuran antara gula, lechitin dan vanili. Kandungan lemak nabati
dalam compound coklat menggantikan cocoa butter sehingga coklat jenis
ini mudah meleleh dan membeku kembali serta lebih elastis, dan agak
lengket dilidah dan kaya akan aroma. Coklat compound sebaiknya
disimpan pada suhu 23°C. Coklat Compound dapat digunakan sebagai
bahan tambahan dalam kue, hiasan cookies, coklat dekor, permen coklat,
coklat siram, dan lain-lain karena sifatnya sangat serbaguna maka coklat
ini sering digunakan dalam home industry atau rumah tangga. Cara
melelehkan coklat ini tidak sesulit pada compound chocolate teknik yang
sering digunakan adalah au bain marie, oven, dan microwave.
20
3. Baking imported chocolate (coating chocolate)
Baking imported chocolate mengandung bahan-bahan seperti lemak
nabati, susu, gula, lechitin, dan vanilli. Baking chocolate sangat cocok
digunakan sebagai bahan untuk membuat ganache, butter cream, adonan
kue dan saus. Coklat jenis ini dapat dibedakan menjadi 3 yaitu :
a. Unsweetened chocolate
Coklat yang tidak mempunyai kandungan gula didalamnya. Biasanya
coklat ini digunakan untuk kalangan yang mempunyai pantangan
terhadap gula dan memiliki rasa yang lebih pekat.
b. Bittersweet
Sedikit mengandung gula dan rasanya agak pahit
c. Semi-sweet
Semi-sweet memiliki kandungan ekstrak lemak coklat dan
mendapat tambahan gula.
Coklat coating sangat cocok digunakan sebagai bahan untuk
melapisi kue. Dari ketiga penggolongan coklat batangan diatas masing-
masing memiliki jenis coklat yaitu dark chocolate, milk chocolate, dan
white chocolate. Ketiga jenis coklat tersebut perbedaannya terletak pada
komposisi bahan.
21
a. Dark chocolate
Rasa pahit yang ada pada coklat ini identik dengan kemewahan serta
sentuhan continental karena bangsa eropa sangat menyukai coklat yang
bercitarasa pahit. Kandungan lemak padat coklat paling tinggi yaitu 75%
dan tidak mengandung gula sehingga kaya akan citarasa dan mempunyai
kepekatan coklat yang tinggi. Dalam dunia kuliner coklat ini cocok
digunakan untuk membuat hidangan penutup (dessert) dan kue.
b. Milk chocolate
Mengandung susu bubuk atau susu kental dan 20% terdiri dari coklat
padat, sehingga mempunyai rasa lembut dan manis coklat ini sangat
disukai, oleh anak-anak karena mempunyai rasa manis. Sangat cocok
untuk dilelehkan dan dimasak tetapi hasilnya kurang menarik karena
warna coklat ini terlalu lembut
c. White chocolate
White coklat tidak mengandung lemak padat coklat, terbuat dari 20%
mentega cocoa (cocoa butter) dan 55% gula, susu, dan lemak, coklat ini
berasa manis dan bertekstur lembut. White coklat secara teknik bukan
coklat karena tidak terbuat dari coklat solid (pasta cocoa). Warna putih
ditimbulkan karena tidak menggunakan sari coklat (cocoa liquer) ataupun
coklat bubuk serta kandungan minyak nabati sebagai ganti dari cocoa
butter oleh karena itu sifat white coklat lebih sulit untuk dilelehkan. Akan
tetapi sifat itu dapat ditangani dengan memilih merk white chocolate yang
mengandung cocoa butter yang tinggi yang akan menimbulkan aroma
khas.
22
2.7.2 Teknik Mencairkan Coklat
1. Menggunakan uap air (Au Bain Marie)
Teknik au bain marie (teknik tim) adalah teknik melelehkan coklat
dengan menggunakan 2 buah panci atau panci tim. Adapun caranya
sebagai berikut :
a. Masukkan air kedalam panci yang lebih besar lalu didihkan, sementara
panci yang lebih kecil diisi dengan coklat yang sudah dipotong-
potong.
b. Jika sudah mendidih matikan api letakkan panci yang ada coklatnya
diatas panci yang ada air mendidihnya.
c. Biarkan hingga coklat meleleh sambil sesekali diaduk. (Sugeng, 2008)
Suhu yang dibutuhkan untuk melelehkan jenis coklat yang satu
dengan lainnya berbeda karena tiap jenis coklat mempunyai karakteristik
bahan yang berbeda sehingga membutuhkan suhu yang berbeda pula,
seperti pada jenis dark chocolate menggunakan air mendidih dengan
suhu 100C, sedangkan pada white dan milk chocolate suhu air yang
digunakan maksimal 70C. Hal ini disebabkan white chocolate
mengandung kadar gula dan susu yang tinggi. Apabila suhu pengetiman
melebihi 70C akan membuat coklat menjadi menggumpal karena proses
karamelisasi yang diakibatkan oleh adanya kalsium yang terdapat pada
susu yang bersifat higroskopis atau menyerap air.
Teknik au bain marie paling banyak digunakan karena alat yang
digunakan mudah didapat, teknik pelelehannya mudah, hasilnya paling
baik, tingkat kegagalan rendah.
23
2. Menggunakan cairan
Teknik melelehkan coklat dengan menggunakan cairan ini dapat
dilakukan dengan menggunakan sauce pan. Cairan yang dapat digunakan
untuk melelehkan coklat juga sebagai bahan tambahan adalah susu cair,
butter atau mentega, fresh cream. Cara melelehkan coklat dengan
menggunakan cairan adalah :
a. Memasukkan potongan coklat dalam sauce pan atau panci
bertangkai, kemudian tuangi dengan cairan.
b. Masak dengan api kecil sampai coklat meleleh dan tercampur
rata.
Metode pelelehan ini biasanya digunakan untuk membuat saus dan isian
pada praline. (Cucu Cahyana, 2004).
3. Menggunakan oven
Teknik ini menggunakan udara panas sebagai perantara untuk
melelehkan coklat dalam oven. Prosedur melelehkan coklat dalam oven
ini dikemukakan oleh Cucu Cahyana (2004) adalah :
a. Panaskan terlebih dahulu oven dengan suhu 95C.
b. Masukkan coklat potong dalam pinggan tahan panas.
c. Masukkan dalam oven selama beberapa menit jangan
menunggu semua coklat meleleh sudah harus dikeluarkan
aduk hingga coklat meleleh keseluruhannya sehingga coklat
tidak kering.
Teknik ini lebih praktis tetapi perlu diperhatikan waktu pelelehan tidak
boleh terlalu lama karena akan membuat coklat menjadi kering
24
4. Menggunakan Microwave
Teknik ini menggunakan teknologi yang lebih canggih dengan waktu
yang sangat singkat dan panas sedang. Waktu yang dibutuhkan untuk
melelehkan coklat dengan microwave adalah 30 detik dengan panas
sedang, sedangkan untuk jenis milk white chocolate waktu yang
digunakan untuk melelehkan kurang dari 2 menit. Coklat yang dilelehkan
dengan menggunakan microwave tidak akan membuat permukaan coklat
leleh tetapi bagian dalam coklat sudah meleleh karena itu perlu
mengaduknya guna mengatahui apakah coklat sudah meleleh atau
belum. (Hari Susana, 2005).
5. Teknik Tempering
Tempering adalah proses melelehkan coklat dengan memanaskan
dan mendinginkan coklat dengan suhu yang tepat untuk menghasilkan
coklat yang halus mengkilap dan lembut. Prosedur ini hanya digunakan
pada jenis coklat couverture karena mengandung lemak kokoa. Produk
yang sering menggunakan teknik tempering adalah untuk membuat
delicious chocolate candy atau praline, karena menghasilkan coklat yang
kokoh dan mempunyai warna yang mengkilap
Menurut Prosedur pengerjaan tempering tahapannya sebagai
berikut:
a. Coklat couverture dipotong kecil dan lelehkan dengan
teknik au bain marie.
25
b. Ukur suhu coklat dengan temperatur 45-50C (proses
memanaskan)
c. Tuangkan dua pertiga bagian coklat diatas meja
marmer ratakan dengan menggunakan scraper hingga
mencapai suhu 26-28C (proses mendinginkan)
d. Angkat coklat dari atas meja marmer dan masukkan
kembali ke dalam sisa bagian coklat dalam mangkuk,
aduk-aduk (jangan dikocok) hingga mencapai suhu 30-
32C
e. Coklat siap digunakan. (Saji, 2005)