Perbandingan Pondasi Jembatan Teluk Kendari
Perbandingan Pondasi Jembatan Teluk Kendari
PENDAHULUAN
1
Pembangunan Jembatan Teluk Kendari, khususnya pada aspek pondasi
dalam.
Pada Pembangunan Jembatan Teluk Kendari ini megguakan dua jenis
pondasi yaitu pondasi tiang bor dan tiang pancang. Pelaksanaan pekerjaan
tiang pancang mengguakan Drop Hammer, dengan penggunaan pada
jembatan Teluk Kendari ini pada bagian oprit Poasia, sedangkan pada oprit
Kota lama hanya menggunakan dinding penahan tanah dengan jumlah tiang
pancang yang dibutuhkan ialah 410 tiang dengan panjang rata-rata 30 m dan
dibagi menjadi 3 layer. Sedangkan pada pekerjaan tiang bor dimulai dengan
mengebor tanah yang telah di tentukan titiknya dan di pasangkan casing
temporary. Pondasi tiang bor digunakan di abautmen Kota Lama sampai
abautmen Poasia dengan jumlah 226 tiang dengan diameter 1500 mm dan
2000 mm.
Berdasarkan masalah tersebut di atas, disusunlah penelitian ini
untuk menganalisis perbandingan tiang pancang dan tiang bor terhadap
biaya dan waktu pekerjaan, sehingga pemilihan pondasi benar-benar
mempertimbangkan aspek teknis dan manajemen konstruksinya.
2
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang akan dicapai pada penelitian ini yaitu :
1. Mengetahui perbandingan metode pelaksanaan kontruksi pondasi tiang
pancang dan tiang bor.
2. Mengetahui perbandingan pondasi tiang pancang dengan tiang bor di lihat
dari segi biaya dan durasi pekerjaan.
3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
4
d. Pemancangan menimbulkan gangguan suara, getaran, dang deforms
tanah yang dapat menimbulkan kerusakan bangunan di sekitarnya.
e. Banyaknya tulangan dipengaruhi oleh tegangan yang terjadi pada waktu
pengakuan dan pemancangan tiang.
5
Namun, fondasi tiang bor ini juga mempunyai kelemahan, diantaranya :
a. Pengecoran tiang dipengaruhi kondisi cuaca pengecoran beton agak sulit
bila dipengaruhi air tanah karena mutu beton tidak dapat di kontrol
dengan baik.
b. Mutu beton hasil pengecoran bila tidak terjamin keseragamannya di
sepanjang badan tiang bor mengurangi kapasitas dukung tiang bor,
terutama bila tiang bor cukup dalam
c. Pengeboran dapat mengakibatkan gangguan kepadatan, bila tanah berupa
pasir atau tanah yang berkerikil
d. Air yang mengalir ke dalam lubang bor dapat mengakibatkan gangguan
tanah, sehingga mengurangi kapasitas dukung tiang
6
Sedangkan harga koefisien didapatkan dari rumus berikut:
𝑉𝑘 𝑥 𝐷𝑖𝑗
𝑁𝐾 = 𝑉𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙
Dimana:
NK = nilai koefisien
𝑡 = 𝐿𝑒 (6𝑥1)𝑆 𝑥 𝑉𝑏 𝑥 𝑓𝑜
Dimana:
t = waktu pemancangan(menit)
Le = panjang pondasi efektif(menit)
S = msuknya pondasi setiap pukulan (meter)
Vb = kecepatan pemancangan ( jumlah pukulan/menit)
fo = faktor operasi
b. Energi hammer
𝐸𝑝 = 𝑚 𝑥 𝑔 𝑥 ℎ
Dimana:
Ep = energi potensial
g = grafitasi (m/det2)
h = tinggi jatuh (m)
m = masa benda (kg)
7
2.5 Metode Network
Pada dasarnya, metode network baik CPM, PERT,dan PDM memakai
prinsip perhitungan waktunya berdasarkan critical path technique.
a. Metode PERT
PERT adalah suatu alat manajemen proyek yang digunakan untuk
melakukan penjadwalan, mengatur dan mengkoordinasi bagian-bagian
pekerjaan yang ada didalam suatu proyek (febrianto,2011). PERT
merupakan singkatan dari Program Evaluation and Review Technique
(teknik menilai dan meninjau kembali program), teknik PERT adalah
suatu metode yang bertujuan untuk sebanyak mungkin mengurangi
adanya penundaan, maupun gangguan produksi, serta mengkoordinasikan
berbagai bagian suatu pekerjaan secara menyeluruh dan mempercepat
selesainya proyek (Upadi,2011).
Karakteristik PERT dari langkah-langkah penjelasan metode
PERT maka bisa dilihat suatu karakteristik dasar PERT, yaitu sebuah jalur
kritis dengan diketahuinya jalur kritis ini maka suatu proyek dalam jangka
waktu penyelesaian yang lama dapat diminimalisasi.
3
B E
𝐴 C F
1 2 4 6
D G
5
8
b. Metode CPM
CPM merupakan sebuah model ilmu manajemen untuk
perencanaan dan pengendalian sebuah proyek, yang dikembangkan sejak
tahun 1957 oleh perusahaan Du Pont untuk membangun suatu pabrik
kimia dengan tujuan untuk menentukan jadwal kegiatan beserta anggaran
biayanya dengan maksud pekerjaan-pekerjaan yang telah dijadwalkan itu
dapat diselesaikan secara tepat waktu serta tepat biaya (Siswanto, 2007).
Ringkasnya CPM adalah suatu teknik analisis untuk perencanaan,
penjadwalan, dan pengendalian proyek dengan metode jalur kritis dengan
taksiran tunggal untuk lama satu aktivitas. Arah perhitungan CPM ialah
perhitungan maju dan perhitungan mundur.
c. Metode PDM
Metode preseden diagram (PDM) adalah jaringan kerja yang
termasuk klasifikasiAON. Dalam metode ini, kegiatan dituliskan dalam
node yang umumnya berbentuk segiempat, sedangkan anak panah hanya
sebagai petunjuk hubungan antar kegiatan –kegiatanyang bersangkutan.
Metode penjadwalan PDM ini dapat menumpah-tindihkan
suatukegiatan tanpa memerlukan garis dummy yang rumit. Kegiatan dan
peristiwa pada PDM ditulis dalam node yang berbentuk kotak
9
[Link] PDM, kotak tersebut menandai suatu kegiatan,
dengan demikian harusdicantumkan identitas kegiatan dan kurun
waktunya. Setiap node mempunyai duaperistiwa yaitu peristiwa awal
dan peristiwa akhir.
10
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
11
3.2 Time Schedule penelitian
12
b. Tiang diangkat pada titik yang telah disediakan pada setiap tiang.
c. Tiang didirikan disamping “driving lead” dan kepala tiang dipasang
pada helmet yang telah dilapisi kayu sebagai pelindung dan pegangan
kepala tiang.
d. Ujung bawah tiang didudukan secara cermat diatas patok pancang
yang telah ditentukan.
e. Penyetelan vertikl tiang dilakukan dengan mengatur panjang “back
stay” sambil diperiksa dengan waterpass sehingga diperoleh posisi
yang betul-betul vertikal.
f. Sebelum pemancangan dimulai, bagian bawah tiang diklem dengan
“ceneter gate” pada “driving lead” agar posisi tiang tidak bergeser
selama pemancangan, terutama untuk tiang batang pertama.
g. Pamancangan dimulai dengan mengangkat dan menjatuhkan hammer
secara continyu keatas helmrt yang terpasang diatas kepala tiang.
h. Pemancangan dapat dihentuikan sementara untuk penyambuangan
tiang berikutnya bila level tanah keras yang diharapkan belum
tercapai.
Proses penyambungan tiang :
1. Tiang diangkat dan kepala tiang dipasang pada helmet seperti
yang dilakukan pada batang pertama.
2. Ujung bawah tiang didudukan diatas kepala tiang pertama
sedemikian seingga sisi-sisi pelat sambung kedua tiang telah
berimpit dan menempel menjadi satu.
3. Penyambungan dilakukan dengan pengelasan penuh
disekeliling perteuan kedua pelat ujung.
4. Tempat sambungan las dilapisi dengan anti karat. Selesai
penyambungan, pemancangan dapat dilanjutkan seperti yang
dilakukan pada batang pertama. Penyambungan dapat
diulangi sampai mencapai kedalaman tanah keras yang di
tentukan.
13
5. Melaksanakan kalendering pada saat hampir mendekati top
pile yang disyaratkan, Final Set 3 cm untuk 10 pukulan
terakhir, atau bisa dilihat dari data bore log.
i. Pemancangan tiang dapat dihentikan (Selesai) bila ujung bawah tiang
telah mencapai lapisan tanah keras/final set yang ditentukan.
j. Pemotongan tiang pancang pada cut off level yang ditentukan sesuai
shop drawing .
14
4. Setelah mencapai kedalaman design toe level ,alat bor auger diganti
alat bor dengan dasar yang flat (Cleaning Bucket). Cleaning bucket
berfungsi untuk membersikan dasar lubang bor.
5. Pengukuran kedalaman lubang Bor dilakukan dengan menurunkan
measuring tape sampai ke dasar lubang bor. Di ujung measuring tape
di pasang plum dengan berat yang cukup agar memastikan measuring
tape sampai ke dasar bore hole.
6. Steel Cage (tulangan besi) di pabrikasi di lokasi proyek. Steel cage
yang sudah di pabrikasi kemudian di turunkan ke lubang bor yang
sudah selesai di bor sampai kedalaman desain toe level. Steel cage
disambung dengan alat las.
7. Setelah tulangan besi (steel cage) diturunkan ke dasar lubang ,lalu
dilanjutkan dengan setting pipa tremi untuk persiapan pekerjaan
pengecoran. Pemasangan pipa tremi ini bertujuan agar di saat
pengecoran beton segar tidak bercampur dengan tanah.
8. Metode casting / pengecoran adalah dengan menggunakan pipa tremi.
Ready mix dituang melalui bucket yang berbentuk pipa corong.
Panjang pipa tremi disesuaikan dengan kedalaman dasar lubang bor.
Sebelum ready mix dituang terlebih dahulu air di tuang ke dalam
corong untuk melancarkan aliran ready mix dalam pipa tremi. Casting
akan dihentikan jika concrete sudah 1 m diatas cut off level. Selama
pengecoran pipa tremi akan dipotong secara bertahap, tetapi tetap di
jaga agar pipa tremi minimal 2 m tertanam di bawah concrete level .
15
– Menentukan Grid line serta pemberian label grid
– Set up equipment
– Pengiriman dan Penyimpanan Tiang Pancang
– Pengaturan lokasi material pancang
3. Pekerjaan Pemancangan :
- Tiang pancang ini digunakan hanya untuk mendukung
bangunan/konstruksi ringan dengan kedalaman maksimal 12 m,
penggunaan tiang pancang mini lebih dalam dari 12 m sebaiknya
tidak dilakukan dengan alasan menghindari terjadinya bahaya
tekukan.
- Selama pemancangan pastikan posisi tiang pancang tetap tegak
- lurus terhadap 2 sumbu horizontal yang saling tegak lurus
- Catat jumlah pukulan hammer dari saat mulai sampai dengan
berakhirnya pemancangan
16
- Penghentian pemancangan hanya diijinkan setelah mendapat ijin
dari pengawas
- Membuat pile record + data hasil kalendering
- Membuat sambungan jika diperlukan
4. Catatan :
- Bila diragukan tiang pancang mini pile belum menuju tanah keras
walaupun seluruh tiang sudah tertanam diusulkan adanya
penambahan jumlah tiang pancang mini pile sebagai solusinya
17
2. Setelah titik bor didapat, dibuat titik Bantu dengan
menggunakan patok yang siku dengan titik yang akan dibor
dengan jarak 1.5 meter sampai 2 meter. Ini bertujuan agar
perletakan alat crane / mata bor (auger) lurus dan siku.
3. Mempersiapkan landasan kerja alat (Crane bor). Ini bertujuan
untuk memudahkan mobilisasi alat dalam melakukan
pengeboran.
4. Dengan cara meletakkan pelat besi disekitar titik bor,karena
kondisi lapangan disekitar titik bor becek
5. Menyiapkan dan meletakkan alat-alat bor disekitar lokasi
kerja,ini bertujuan untuk memudahkan penggantian mata bor.
6. Memasang mata bor auger untuk pengeboran pertama, hal ini
disebabkan lapisan permukaan tanah cukup keras, dan selain
itu agar lubang yang dibuat dapat dimasuki casing Membuat
saluran pembuangan air disekitar lubang yang akan
dikerjakan, karena setiap pengeboran dan pengecoran lubang
bor akan mengeluarkan air tanah.
7. Ditempat lain, besi jenis ulir dianyam perbagian. Bagian
pertama terdiri dari dari 30 batang besi ulir dengan diameter
22 mm dengan panjang tulangan utama atas 6 m dan panjang
tulangan utama bawah 6 m, sehingga panjang tulangan
keseluruhan 12 m, belum termasuk overstek tulangan 50
[Link] kedua terdiri dari besi polos dengan diameter 10
mm, yang dibuat secara spiral dengan jarak 15cm.
Keseluruhannya diikat dengan kawat, sehingga membentuk
rangkaian tulangan dengan diameter 1200 mm.
8. Untuk pekerjaan grouthing maka pada tulangan dipasang pipa
grouthing sepanjang tulangan dengan diberi lubang / celah
yang di tempel plester pada dasar [Link] tulangan
dipasang Specier (Beton Decking/Tahu Beton) yang
berfungsi sebagai selimut [Link] tebal 7,5 cm
18
b. Pekerjaan Pengeboran
1. Pengeboran dilakukan dengan menggunakan auger
sedalam ±3 meter dengan diameter 140 cm.
2. Lalu dipasang casing dengan diameter 130 cm sedalam 3
meter. Ukuran diameter auger lebih besar dibandingkan
dengan ukuran diameter casing dikarenakan agar pada
pemasangan casing dapat masuk pada lubang bor.
3. Pengeboran dilakukan dengan menggunakan bucket bor
sampai kedalaman 12 meterSetelah itu mata bor ( bucket
auger) diganti dengan mata bor belling bucket, agar diameter
pondasi bawah lebih besar (enlarged) dengan ukuran
diameter 2 meter dan kedalaman 2 meter.
4. Setelah pengeboran mencapai kedalaman yang diinginkan
(14 meter), mata bor belling bucket diganti dengan mata bor
cleaning bucket. Ini bertujuan untuk membersihkan lumpur-
lumpur yang masih tertinggal di dasar lubang pondasi. Dan
setelah kandungan lumpur didalam lubang bersih barulah
dilakukan pengecoran.
c. Pekerjaan Pengecoran
1. Setelah dibor, tulangan yang sudah disiapkan dimasukkan
kedalam lubang bor dengan menggunakan crane service.
2. Posisi tulangan didalam lubang bor dibuat menggantung
(tidak menempel sampai dasar lubang) dengan diberi
gantungan tulangan dan di las pada casing.
3. Setelah tulangan sudah menggantung, barulah diletakan
ganjelan tremie yang terletak di atas casing. Ini berfungsi
sebagai penahan tremie agar tidak masuk kedalam lubang
[Link] dimasukan pipa tremie yang sudah di pasang
19
corong di atasnya dengan panjang 15 meter (sesuai
kebutuhan).
4. Pengecoran dilakukan dengan menggunakan mutu beton K-
350 yang di order / pesan dari readymix. Sebelum dilakukan
penuangan beton kelubang pondasi, mutu beton diuji nilai
slumpnya yang berkisar ± 18 cm. Lalu sebagian sampel
dimasukan kedalam cetakan berbentuk silinder untuk di uji
lab, agar dapat diketahui apakah mutu beton tersebut sesui
dengan persyaratan K-350 dengan masa uji 28 hari.
5. Pengecoran dilakukan dengan menuangkan beton pada truck
mixer kedalam lubang bor melalu corong yang telah
disediakan yang berkapasitas ± 6 -7 m
20
pasta semen kedalam pondasi melalui pipa grouthing yang
dipompakan oleh mesin compressor dengan kekuatan 20 s/d
25 kg/cm.
5. Pekerjaan grouthing dilakukan selain untuk mengeraskan
dasar pondasi dari lumpur, akan tetapi manfaat lain dari
pekerjaan grouthing adalah meningkatkan daya dukung tanah
tersebut.
21
3.6 Bagan Alir Penelitian
Mulai
Studi Pustaka
Pengumpulan Data
Data Primer: Upah Pekerja - Harga Bahan - sewa alat - BOW dan SNI
Data sekunder: Alat-alat -Metode Pelaksanaa - dan kesulitan yang
terjadi – Time Schedule –
Analisis
Pembahasan
Selesai
22
Dalam penelitian ini, metode yang digunakan untuk menghitung unit
cost (harga satuan pekerjaan) dibagi menjadi 2, yaitu:
1. Analisis BOW dan SNI untuk pekerjaan tanah yang berhubungan dengan
pondasi.
2. Cara modern untuk pekerjaan yang tidak termuat dalam SNI, dengan
menghitung produktivitas tenaga kerja dan alat.
23