100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
105 tayangan23 halaman

Perbandingan Pondasi Jembatan Teluk Kendari

Dokumen tersebut membahas tentang pondasi tiang pancang dan tiang bor. Ia menjelaskan definisi, keuntungan, dan kerugian masing-masing jenis pondasi. Dokumen juga membahas analisis biaya dan waktu pekerjaan pondasi serta perbandingannya antara tiang pancang dan tiang bor.

Diunggah oleh

Dian Witriani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
105 tayangan23 halaman

Perbandingan Pondasi Jembatan Teluk Kendari

Dokumen tersebut membahas tentang pondasi tiang pancang dan tiang bor. Ia menjelaskan definisi, keuntungan, dan kerugian masing-masing jenis pondasi. Dokumen juga membahas analisis biaya dan waktu pekerjaan pondasi serta perbandingannya antara tiang pancang dan tiang bor.

Diunggah oleh

Dian Witriani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Jembatan merupakan struktur yang melintasi sungai, teluk, atau
kondisi-kondisi lain berupa rintangan yang berada lebih rendah, sehingga
memungkinkan kendaraan, kereta api maupun pejalan kaki melintas dengan
lancar dan aman. Jembatan sebagai prasarana transportasi mempunyai
manfaat yang dominan bagi pergerakan lalu lintas. Jembatan adalah istilah
umum untuk konstruksi yang dibangun sebagai jalur transportasi yang
melintasi sungai, danau, rawa, jurang maupun rintangan lainnya. Pentingnya
jembatan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yaitu
dapat meningkatkan pertahanan dan keamanan suatu negara, ketika terjadi
hal-hal yang tidak diinginkan dan dapat mengganggu stabilitas daerah
maupun nasional.
Berdasarkan pada uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa
jembatan mempunyai peranan yang sangat penting dalam aktifitas
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di berbagai bidang, sehingga perlu
adanya perhatian khusus dalam pembangunan dan perawatannya. Seperti
pada Proyek Pembangunan Jembatan Teluk Kendari yang dibangun untuk
mendukung jaringan jalan nasional dengan menghubungkan jalan lingkar
Kendari pada jalur Kota Lama dan Poasia.
Dalam rangka untuk merencanakan dan mengelola proyek yang sukses,
tiga parameter waktu, biaya, dan kualitas harus dipertimbangkan. Dengan
demikian, biaya dan waktu merupakan batasan proyek yang sangat
penting kaitannya terhadap keberhasilan suatu proyek, sehingga harus
direncanakan sebaik mungkin sesuai dengan kondisi proyek yang
direncanakan. Penelitian ini merupakan penelitian komprehensif terhadap
proses perancangan Detailed Engineering Design (DED) Proyek

1
Pembangunan Jembatan Teluk Kendari, khususnya pada aspek pondasi
dalam.
Pada Pembangunan Jembatan Teluk Kendari ini megguakan dua jenis
pondasi yaitu pondasi tiang bor dan tiang pancang. Pelaksanaan pekerjaan
tiang pancang mengguakan Drop Hammer, dengan penggunaan pada
jembatan Teluk Kendari ini pada bagian oprit Poasia, sedangkan pada oprit
Kota lama hanya menggunakan dinding penahan tanah dengan jumlah tiang
pancang yang dibutuhkan ialah 410 tiang dengan panjang rata-rata 30 m dan
dibagi menjadi 3 layer. Sedangkan pada pekerjaan tiang bor dimulai dengan
mengebor tanah yang telah di tentukan titiknya dan di pasangkan casing
temporary. Pondasi tiang bor digunakan di abautmen Kota Lama sampai
abautmen Poasia dengan jumlah 226 tiang dengan diameter 1500 mm dan
2000 mm.
Berdasarkan masalah tersebut di atas, disusunlah penelitian ini
untuk menganalisis perbandingan tiang pancang dan tiang bor terhadap
biaya dan waktu pekerjaan, sehingga pemilihan pondasi benar-benar
mempertimbangkan aspek teknis dan manajemen konstruksinya.

1.2 Rumusan Masalah


Dari latar belakang diatas maka dapat diambi rumusan masalah adalah
sebagai berikut:
1. Bagaimana perbandingan metode pelaksanaan kontruksi pondasi tiang
pancang dan tiang bor?
2. Bagaimana perbandingan pondasi tiang pancang dengan tiang bor di lihat
dari segi biaya dan durasi pekerjaan?

2
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang akan dicapai pada penelitian ini yaitu :
1. Mengetahui perbandingan metode pelaksanaan kontruksi pondasi tiang
pancang dan tiang bor.
2. Mengetahui perbandingan pondasi tiang pancang dengan tiang bor di lihat
dari segi biaya dan durasi pekerjaan.

1.4 Manfaat Penelitian


Manfaat penelitian yang bisa didapat di bidang manajemen konstruksi
pada tugas ini tentang perbandingan pondasi tiang pancang dengan pondasi
tiang bor yaitu untuk menambah pengetahuan khususnya di bidang
manajemen konstruksi tentang biaya dan metode pelaksanaan, dan tidak
ketinggalan pula menambah di bidang pengetahuan tentang pondasi yaitu yang
berhubungan dengan kekuatan pondasi tiang pancang dengan pondasi tiang
bor.

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pondasi Tiang Pancang


Tiang pancang adalah bagian – bagian konstruksi yang dibuat dari
kayu, beton, dan atau baja, yang digunakan untuk meneruskan
(menstranmisikan) beban – beban permukaan ke tingkat – tingkat yang lebih
rendah di dalam massa tanah. (Bowles, 1991)
Penggunaan pondasi tiang pancang sebagai pondasi bangunan apabila
tanah yang berada di bawah dasar bangunan tidak mempunyai daya dukung
(bearing capacity) yang cukup untuk memikul berat bangunan dan beban
yang bekerja padanya (Sardjono, 1988). Atau apabila tanah yang mempunyai
daya dukung yang cukup untuk memikul berat bangunan dan seluruh beban
yang bekerja berada pada lapisan yang sangat dalam dari permukaan tanah
kedalaman > 8 m (Bowles 1991).
Tiang pancang yang biasa digunakan adalah tiang pancang pracetak
yaitu tiang dari beton yang dicetak di suatu tempat dan kemudian diangkut ke
lokasi rencana bangunan.

Keuntungan penggunaan pondasi tiang pancang, antara lain:


a. Tiang pancang dapat dipancang sampai kedalaman tanah yang dalam
b. Bahan tiang dapat diperiksa sebelum pemancangan
c. Prosedur pelaksanaan di lapangan tidak dipengaruhi oleh air tanah
d. Pemancangan tiang dapat menambah kepadatan tanah granuler

Kerugian pemakaian tiang pancang pracetak, antara lain :


a. Penggembungan permukaan tanah dan gangguan tanah akibat
pemancangan dapat menimbulkan masalah.
b. Kepala tiang kadang-kadang pecah akibat pemancangan.
c. Pemancangan sulit, bila diameter terlalu besar.

4
d. Pemancangan menimbulkan gangguan suara, getaran, dang deforms
tanah yang dapat menimbulkan kerusakan bangunan di sekitarnya.
e. Banyaknya tulangan dipengaruhi oleh tegangan yang terjadi pada waktu
pengakuan dan pemancangan tiang.

2.2 Pondasi Tiang Bor


Pondasi Bore Pile adalah jenis pondasi dalam yang berbentuk tabung,
yaitu berfungsi meneruskan beban struktur bangunan diatasnya dari
permukaan tanah sampai lapisan tanah keras di bawahnya. Pondasi bore pile
memiliki fungsi yang sama dengan pondasi tiang pancang atau pondasi dalam
lainya. Perbedaan di antara keduanya adalah pada cara pelaksanaan
pengerjaanya. pelaksanaan pondasi bore pile diawali dari pembuatan lubang
di tanah dengan cara tanah di bor terlebih dahulu kemudian penginstalan besi
tulangan ke dalam lubang yang dilanjutkan dengan pengecoran bor pile
dengan tremi.

Keuntungan pemakaian fondasi bore pile antara lain :


a. Pemasangan tidak menimbulkan gangguan suara dan getaran yang
membahayakan bangunan sekitarnya
b. Mengurangi kebutuhan beton dan tulangan dowel pada pelat penutup
tiang (pile cap)
c. Kedalaman tiang dapat divariasikan
d. Tanah dapat diperiksa dan dicocokkan dengan data laboratorium
e. Tiang bor dapat dipasang menembus batuan
f. Diameter tiang memungkinkan dibuat besar
g. Tidak ada resiko kenaikan muka tanah
h. Penulangan tidak dipengaruhi oleh tegangan pada waktu pengangkutan
dan pemancangan.

5
Namun, fondasi tiang bor ini juga mempunyai kelemahan, diantaranya :
a. Pengecoran tiang dipengaruhi kondisi cuaca pengecoran beton agak sulit
bila dipengaruhi air tanah karena mutu beton tidak dapat di kontrol
dengan baik.
b. Mutu beton hasil pengecoran bila tidak terjamin keseragamannya di
sepanjang badan tiang bor mengurangi kapasitas dukung tiang bor,
terutama bila tiang bor cukup dalam
c. Pengeboran dapat mengakibatkan gangguan kepadatan, bila tanah berupa
pasir atau tanah yang berkerikil
d. Air yang mengalir ke dalam lubang bor dapat mengakibatkan gangguan
tanah, sehingga mengurangi kapasitas dukung tiang

2.3 Analisis Biaya Pekerjaan Pondasi


Harga satuan (unit price) adalah salah satu faktor penting dalam
menentukan biaya proyek, setelah kuantitas pekerjaan. Untuk menyususn
analisis biaya suatu proyek, dilakukan suatu analisis dengan dasar
menghitung harga satuan bangunan. Analisis harga satuan ini berdasarkan
pada perhitungan biaya yang diperlukan untuk satu unit pekerjaan, dengan
satu-satuan seperti Rp.../m;Rp..../m2,;Rp..../m3. Rumus perhitungan harga
satuan pekerjaan adalah sebagai berikut:

Harga Satuan = ∑ (koefisisen x harga satuan)

Asumsi dan pendekatan yang dilakukan adalah:


a. Pekerja bekerja dalam 7 jam kerja / hari
b. Komposisi pelaksanaan pekerjaan: tenaga kerja, peralatan, dan meterial
yang digunakan
c. Harga satuan berdasarkan atas harga yang berlaku.

6
Sedangkan harga koefisien didapatkan dari rumus berikut:

𝑉𝑘 𝑥 𝐷𝑖𝑗
𝑁𝐾 = 𝑉𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙

Dimana:

NK = nilai koefisien

Vk = volume aitem bagian dari pekerjaan

Dij = durasi waktu yang dibutuhkan

Vtotal = volume total terhadap pekerjaan

2.4 Analisis Waktu Pekerjaan Pondasi


Berikut adalah beberapa perhitungan yang diperlukan untuk
mendapatkan produktivitas kerja excavator:
a. Perhitungan waktu produksi

𝑡 = 𝐿𝑒 (6𝑥1)𝑆 𝑥 𝑉𝑏 𝑥 𝑓𝑜
Dimana:
t = waktu pemancangan(menit)
Le = panjang pondasi efektif(menit)
S = msuknya pondasi setiap pukulan (meter)
Vb = kecepatan pemancangan ( jumlah pukulan/menit)
fo = faktor operasi
b. Energi hammer

𝐸𝑝 = 𝑚 𝑥 𝑔 𝑥 ℎ
Dimana:
Ep = energi potensial
g = grafitasi (m/det2)
h = tinggi jatuh (m)
m = masa benda (kg)

7
2.5 Metode Network
Pada dasarnya, metode network baik CPM, PERT,dan PDM memakai
prinsip perhitungan waktunya berdasarkan critical path technique.

a. Metode PERT
PERT adalah suatu alat manajemen proyek yang digunakan untuk
melakukan penjadwalan, mengatur dan mengkoordinasi bagian-bagian
pekerjaan yang ada didalam suatu proyek (febrianto,2011). PERT
merupakan singkatan dari Program Evaluation and Review Technique
(teknik menilai dan meninjau kembali program), teknik PERT adalah
suatu metode yang bertujuan untuk sebanyak mungkin mengurangi
adanya penundaan, maupun gangguan produksi, serta mengkoordinasikan
berbagai bagian suatu pekerjaan secara menyeluruh dan mempercepat
selesainya proyek (Upadi,2011).
Karakteristik PERT dari langkah-langkah penjelasan metode
PERT maka bisa dilihat suatu karakteristik dasar PERT, yaitu sebuah jalur
kritis dengan diketahuinya jalur kritis ini maka suatu proyek dalam jangka
waktu penyelesaian yang lama dapat diminimalisasi.

3
B E
𝐴 C F
1 2 4 6

D G
5

Gambar 2.1. Contoh diagram jaringan dengan PERT

8
b. Metode CPM
CPM merupakan sebuah model ilmu manajemen untuk
perencanaan dan pengendalian sebuah proyek, yang dikembangkan sejak
tahun 1957 oleh perusahaan Du Pont untuk membangun suatu pabrik
kimia dengan tujuan untuk menentukan jadwal kegiatan beserta anggaran
biayanya dengan maksud pekerjaan-pekerjaan yang telah dijadwalkan itu
dapat diselesaikan secara tepat waktu serta tepat biaya (Siswanto, 2007).
Ringkasnya CPM adalah suatu teknik analisis untuk perencanaan,
penjadwalan, dan pengendalian proyek dengan metode jalur kritis dengan
taksiran tunggal untuk lama satu aktivitas. Arah perhitungan CPM ialah
perhitungan maju dan perhitungan mundur.

Gambar 2. 2. Contoh diagram jaringan dengan CPM

c. Metode PDM
Metode preseden diagram (PDM) adalah jaringan kerja yang
termasuk klasifikasiAON. Dalam metode ini, kegiatan dituliskan dalam
node yang umumnya berbentuk segiempat, sedangkan anak panah hanya
sebagai petunjuk hubungan antar kegiatan –kegiatanyang bersangkutan.
Metode penjadwalan PDM ini dapat menumpah-tindihkan
suatukegiatan tanpa memerlukan garis dummy yang rumit. Kegiatan dan
peristiwa pada PDM ditulis dalam node yang berbentuk kotak

9
[Link] PDM, kotak tersebut menandai suatu kegiatan,
dengan demikian harusdicantumkan identitas kegiatan dan kurun
waktunya. Setiap node mempunyai duaperistiwa yaitu peristiwa awal
dan peristiwa akhir.

Gambar 2. 3. Contoh metode PDM

10
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Lokasi Penelitian


Lokasi penelitian tugas akhir dilakukan di lokasi proyek pekerjaan
Proyek Pembangunan Jembatan Teluk Kendari JL. W. R Supratman No.48
(Depan Polsek) Kota lama, Kendari Sulawesi Tenggara.

Gambar 3.1 Peta Lokasi Penelitian (Google Earth)

11
3.2 Time Schedule penelitian

Waktu penelitian akan dilaksanakan dalam waktu bulan terhitung dari


bulan Mei – Oktober 2019.

3.3 Metode Pengumpulan Data


Penelitian ini menggunakan data sekunder berupa data yang didapatkan
melalui koonsultan perencana pembangunan jembatan Teluk Kendari atau
bersumbe dari pihak lain, seperti buku-buku dan hasil penelitian sebelumnya
yang berhubungan dengan judul tugas akhir. Data-data tersebut kemudian
dijadikan landasan teoritis dalam penelitian ysng dilakukan .
Data yang didapatkan dari konsultan pembangunan jembatan teluk
kedari ialah, Gambar perencanaan dan detailing pembangunan Proyek
Jembatan Teluk Kendari tersebut.

3.4 Metode Pelaksanaaan Tiang Pancang dan Tiang Bor


3.4.1 Pelaksanaan Tiang Pancang
Adapun metode pelaksanaan pemancangan pada pembangunan
Jembatan Teluk Kendari adalah sebagai berikut:
a. Alat pancang ditempatkan sedemikian rupa sehingga as hammer jatuh
pada patok titik pancang yang telah ditentukan..

12
b. Tiang diangkat pada titik yang telah disediakan pada setiap tiang.
c. Tiang didirikan disamping “driving lead” dan kepala tiang dipasang
pada helmet yang telah dilapisi kayu sebagai pelindung dan pegangan
kepala tiang.
d. Ujung bawah tiang didudukan secara cermat diatas patok pancang
yang telah ditentukan.
e. Penyetelan vertikl tiang dilakukan dengan mengatur panjang “back
stay” sambil diperiksa dengan waterpass sehingga diperoleh posisi
yang betul-betul vertikal.
f. Sebelum pemancangan dimulai, bagian bawah tiang diklem dengan
“ceneter gate” pada “driving lead” agar posisi tiang tidak bergeser
selama pemancangan, terutama untuk tiang batang pertama.
g. Pamancangan dimulai dengan mengangkat dan menjatuhkan hammer
secara continyu keatas helmrt yang terpasang diatas kepala tiang.
h. Pemancangan dapat dihentuikan sementara untuk penyambuangan
tiang berikutnya bila level tanah keras yang diharapkan belum
tercapai.
Proses penyambungan tiang :
1. Tiang diangkat dan kepala tiang dipasang pada helmet seperti
yang dilakukan pada batang pertama.
2. Ujung bawah tiang didudukan diatas kepala tiang pertama
sedemikian seingga sisi-sisi pelat sambung kedua tiang telah
berimpit dan menempel menjadi satu.
3. Penyambungan dilakukan dengan pengelasan penuh
disekeliling perteuan kedua pelat ujung.
4. Tempat sambungan las dilapisi dengan anti karat. Selesai
penyambungan, pemancangan dapat dilanjutkan seperti yang
dilakukan pada batang pertama. Penyambungan dapat
diulangi sampai mencapai kedalaman tanah keras yang di
tentukan.

13
5. Melaksanakan kalendering pada saat hampir mendekati top
pile yang disyaratkan, Final Set 3 cm untuk 10 pukulan
terakhir, atau bisa dilihat dari data bore log.
i. Pemancangan tiang dapat dihentikan (Selesai) bila ujung bawah tiang
telah mencapai lapisan tanah keras/final set yang ditentukan.
j. Pemotongan tiang pancang pada cut off level yang ditentukan sesuai
shop drawing .

3.4.2 Metode Pelaksanaan Tiang Bor


Adapun metode pelaksanaan pemancangan pada pembangunan
Jembatan Teluk Kendari adalah sebagai berikut:
1. Sebelum memulai pengeboran, kontraktor harus mengajukan aproval
shop drawing terlebih dahulu untuk mendapat persetujuan oleh direksi
pekerjaan. Proses aproval shop drawing ini bertujuan untuk
memastikan agar jangan sampai terjadi kesalahan pada denah posisi
titik-titik bore pile yang akan dibor. Setelah aproval shop drawing
mendapat persetujuan oleh direksi pekerjaan maka surveyor
melakukan pengukuran , marking dan setting out titik pile yang akan
dibor.
2. Setelah pekerjaan marking dan setting out titik bore selesai dilakukan
oleh surveyor lalu dilanjutkan dengan pekerjaan pemasangan casing
temporary. Pemasangan casing temporary ini bertujuan agar pada saat
pekerjaan pengeboran dilakukan jangan sampai terjadi keruntuhan
pada permukaan tanah yang akan dibor tersebut.
3. Sebelum memulai pekerjaan pengeboran , alat bor disetting pada titik
bore pile yg sudah di marking dan dipasang casing temporary tersebut.
Pengeboran dilakukan dengan menggunakan auger, diameter auger dan
panjang kedalaman titik pile disesuaikan dengan gambar rencana atau
shop drawing.

14
4. Setelah mencapai kedalaman design toe level ,alat bor auger diganti
alat bor dengan dasar yang flat (Cleaning Bucket). Cleaning bucket
berfungsi untuk membersikan dasar lubang bor.
5. Pengukuran kedalaman lubang Bor dilakukan dengan menurunkan
measuring tape sampai ke dasar lubang bor. Di ujung measuring tape
di pasang plum dengan berat yang cukup agar memastikan measuring
tape sampai ke dasar bore hole.
6. Steel Cage (tulangan besi) di pabrikasi di lokasi proyek. Steel cage
yang sudah di pabrikasi kemudian di turunkan ke lubang bor yang
sudah selesai di bor sampai kedalaman desain toe level. Steel cage
disambung dengan alat las.
7. Setelah tulangan besi (steel cage) diturunkan ke dasar lubang ,lalu
dilanjutkan dengan setting pipa tremi untuk persiapan pekerjaan
pengecoran. Pemasangan pipa tremi ini bertujuan agar di saat
pengecoran beton segar tidak bercampur dengan tanah.
8. Metode casting / pengecoran adalah dengan menggunakan pipa tremi.
Ready mix dituang melalui bucket yang berbentuk pipa corong.
Panjang pipa tremi disesuaikan dengan kedalaman dasar lubang bor.
Sebelum ready mix dituang terlebih dahulu air di tuang ke dalam
corong untuk melancarkan aliran ready mix dalam pipa tremi. Casting
akan dihentikan jika concrete sudah 1 m diatas cut off level. Selama
pengecoran pipa tremi akan dipotong secara bertahap, tetapi tetap di
jaga agar pipa tremi minimal 2 m tertanam di bawah concrete level .

3.5 Item Pekerjaan Tiang pancang Dan Tiang Bor


3.5.1 Pekerjaan Tiang Pancang
Urutan kerja pekerjaan tiang pancang
1. Pekerjaan persiapan awal meliputi:
– Pengadaan tiang pancang
– Pengukuran lokasi / posisi tiang pancang
– Memeriksa Bench Mark yang diberikan

15
– Menentukan Grid line serta pemberian label grid
– Set up equipment
– Pengiriman dan Penyimpanan Tiang Pancang
– Pengaturan lokasi material pancang

2. Pekerjaan persiapan pemancangan :


- Buat skala pada tiang pancang menurut kedalamannya
- Check posisi titik / koordinat pancang
- Pengangkatan tiang pancang
- Pengangkatan pile dilakukan dengan menggunakan sling baja
yang diikatkan ke pile di dua lokasi yang berjarak 0.6 panjang
pile.
- Perlu dibuat penandaan oleh fabrikan untuk menentukan dimana
lokasi pengangkatan yang diizinkan
- Tiang pancang berada di dalam topi pancang
- Check ketegakkan tiang pancang terhadap 2 sumbu yang saling
tegak lurus
- Pembuatan Cushion, berfungsi untuk menjaga agar kepala tiang
tidak rusak akibat pemukulan, bertempat di antara anvil dan
kepala tiang.

3. Pekerjaan Pemancangan :
- Tiang pancang ini digunakan hanya untuk mendukung
bangunan/konstruksi ringan dengan kedalaman maksimal 12 m,
penggunaan tiang pancang mini lebih dalam dari 12 m sebaiknya
tidak dilakukan dengan alasan menghindari terjadinya bahaya
tekukan.
- Selama pemancangan pastikan posisi tiang pancang tetap tegak
- lurus terhadap 2 sumbu horizontal yang saling tegak lurus
- Catat jumlah pukulan hammer dari saat mulai sampai dengan
berakhirnya pemancangan

16
- Penghentian pemancangan hanya diijinkan setelah mendapat ijin
dari pengawas
- Membuat pile record + data hasil kalendering
- Membuat sambungan jika diperlukan

4. Catatan :
- Bila diragukan tiang pancang mini pile belum menuju tanah keras
walaupun seluruh tiang sudah tertanam diusulkan adanya
penambahan jumlah tiang pancang mini pile sebagai solusinya

Alat-alat yang digunakan :

1. Lier pancang : 1 unit


2. Tiang leader : 1 unit
3. Drop hammer : 1 unit
4. Mesin las : 2 unit

a. Pemotongan Tiang Pancang Beton Bulat Pretensioned, dia 50 cm.


1. Untuk pemotongan tiang pancang digunakan tenaga manual, dan
hasil potongan dikumpulkan serta dibuang ke area yang telah
ditentukan.
2. Untuk ikatan antara Tiang pancang dengan Lantai Konstruksi
ditambahkan besi pada tiang pancang.
b. Pelaksanaan test yang dilakukan adalah:
– PDA Test
– Loading Test
– Tensioned Load Test

3.5.2 Pekerjaan Tiang Bor


a. Pekerjaan Persiapan
1. Menentukan titik yang akan di bor dengan menggunakan alat
Waterpass dan Theodolite. Dengan acuan titik BM (Batch
Mark).

17
2. Setelah titik bor didapat, dibuat titik Bantu dengan
menggunakan patok yang siku dengan titik yang akan dibor
dengan jarak 1.5 meter sampai 2 meter. Ini bertujuan agar
perletakan alat crane / mata bor (auger) lurus dan siku.
3. Mempersiapkan landasan kerja alat (Crane bor). Ini bertujuan
untuk memudahkan mobilisasi alat dalam melakukan
pengeboran.
4. Dengan cara meletakkan pelat besi disekitar titik bor,karena
kondisi lapangan disekitar titik bor becek
5. Menyiapkan dan meletakkan alat-alat bor disekitar lokasi
kerja,ini bertujuan untuk memudahkan penggantian mata bor.
6. Memasang mata bor auger untuk pengeboran pertama, hal ini
disebabkan lapisan permukaan tanah cukup keras, dan selain
itu agar lubang yang dibuat dapat dimasuki casing Membuat
saluran pembuangan air disekitar lubang yang akan
dikerjakan, karena setiap pengeboran dan pengecoran lubang
bor akan mengeluarkan air tanah.
7. Ditempat lain, besi jenis ulir dianyam perbagian. Bagian
pertama terdiri dari dari 30 batang besi ulir dengan diameter
22 mm dengan panjang tulangan utama atas 6 m dan panjang
tulangan utama bawah 6 m, sehingga panjang tulangan
keseluruhan 12 m, belum termasuk overstek tulangan 50
[Link] kedua terdiri dari besi polos dengan diameter 10
mm, yang dibuat secara spiral dengan jarak 15cm.
Keseluruhannya diikat dengan kawat, sehingga membentuk
rangkaian tulangan dengan diameter 1200 mm.
8. Untuk pekerjaan grouthing maka pada tulangan dipasang pipa
grouthing sepanjang tulangan dengan diberi lubang / celah
yang di tempel plester pada dasar [Link] tulangan
dipasang Specier (Beton Decking/Tahu Beton) yang
berfungsi sebagai selimut [Link] tebal 7,5 cm

18
b. Pekerjaan Pengeboran
1. Pengeboran dilakukan dengan menggunakan auger
sedalam ±3 meter dengan diameter 140 cm.
2. Lalu dipasang casing dengan diameter 130 cm sedalam 3
meter. Ukuran diameter auger lebih besar dibandingkan
dengan ukuran diameter casing dikarenakan agar pada
pemasangan casing dapat masuk pada lubang bor.
3. Pengeboran dilakukan dengan menggunakan bucket bor
sampai kedalaman 12 meterSetelah itu mata bor ( bucket
auger) diganti dengan mata bor belling bucket, agar diameter
pondasi bawah lebih besar (enlarged) dengan ukuran
diameter 2 meter dan kedalaman 2 meter.
4. Setelah pengeboran mencapai kedalaman yang diinginkan
(14 meter), mata bor belling bucket diganti dengan mata bor
cleaning bucket. Ini bertujuan untuk membersihkan lumpur-
lumpur yang masih tertinggal di dasar lubang pondasi. Dan
setelah kandungan lumpur didalam lubang bersih barulah
dilakukan pengecoran.

c. Pekerjaan Pengecoran
1. Setelah dibor, tulangan yang sudah disiapkan dimasukkan
kedalam lubang bor dengan menggunakan crane service.
2. Posisi tulangan didalam lubang bor dibuat menggantung
(tidak menempel sampai dasar lubang) dengan diberi
gantungan tulangan dan di las pada casing.
3. Setelah tulangan sudah menggantung, barulah diletakan
ganjelan tremie yang terletak di atas casing. Ini berfungsi
sebagai penahan tremie agar tidak masuk kedalam lubang
[Link] dimasukan pipa tremie yang sudah di pasang

19
corong di atasnya dengan panjang 15 meter (sesuai
kebutuhan).
4. Pengecoran dilakukan dengan menggunakan mutu beton K-
350 yang di order / pesan dari readymix. Sebelum dilakukan
penuangan beton kelubang pondasi, mutu beton diuji nilai
slumpnya yang berkisar ± 18 cm. Lalu sebagian sampel
dimasukan kedalam cetakan berbentuk silinder untuk di uji
lab, agar dapat diketahui apakah mutu beton tersebut sesui
dengan persyaratan K-350 dengan masa uji 28 hari.
5. Pengecoran dilakukan dengan menuangkan beton pada truck
mixer kedalam lubang bor melalu corong yang telah
disediakan yang berkapasitas ± 6 -7 m

d. Penuangan beton melalui corong


1. Agar beton yang berada di dalam pipa tremie tidak
menumpuk, maka pipa tremie diangkat sedikit supaya beton
dapat keluar, danpengangkatan pipa tremie tidak boleh
melebihi tinggi beton yang sudah terisi.
2. Setiap penuangan, lubang bor diukur kedalamannya yang
sudah terisi beton. Ini bertujuan apakah ketinggian beton
sudah sesuia dengan rencana (mencapai cutting of level /
COL)Grouthing
3. Setelah lubang pondasi selesai dicor, didiamkan selama ±3
jam (beton sudah setting). Setelah itu dilakukan base
grouthing.
4. Tujuan dari pekerjaan base grouthing adalah untuk
mengeraskan dasar pondasi yang diakibatkan oleh adanya
kandungan lumpur. Bahan yang digunakan untuk base
grouthing adalah semen tipe I dan air dengan perbandingan 1
: 6. Pekerjaan ini dilakukan dengan cara menyemprotkan

20
pasta semen kedalam pondasi melalui pipa grouthing yang
dipompakan oleh mesin compressor dengan kekuatan 20 s/d
25 kg/cm.
5. Pekerjaan grouthing dilakukan selain untuk mengeraskan
dasar pondasi dari lumpur, akan tetapi manfaat lain dari
pekerjaan grouthing adalah meningkatkan daya dukung tanah
tersebut.

e. Pencatatan (Pilling record)


1. Setelah selesai pekerjaan lapangan, maka data-data yang
diperoleh selama kegiatan pengeboran seperti data waktu
persiapapengeboran, pengecoran, pengukuran kedalaman
lubang, data kubikasi, pengukuran ketinggian coran beton
dan juga laporan-laporan dari lapangan dimasukan kedalam
suatu formulir laporan yang disebut Pilling record.

f. Pemotongan Pondasi Bored Pile


1. Setelah pondasi bore pile selesai seluruhnya dan dicatat hasil
pengerjaannya. Pondasi yang tertimbun oleh tanah digali dan
dipotong sampai nilai COL-nya untuk dilakukan pembuatan
T-Beam dan Pile Cap.

21
3.6 Bagan Alir Penelitian

Mulai

Studi Pustaka

Pengumpulan Data
Data Primer: Upah Pekerja - Harga Bahan - sewa alat - BOW dan SNI
Data sekunder: Alat-alat -Metode Pelaksanaa - dan kesulitan yang
terjadi – Time Schedule –

Analisis

- Hitung RAB pada pondasi tiang


pancang dan tiang bor
- Hitung durasi pekerjaan pada tiang
pancang dan tiang bor
- Analisis Perbandingan durasi
pekerjaan dan biaya dari kedua metode

Pembahasan

Kesimpulan dan Saran

Selesai

22
Dalam penelitian ini, metode yang digunakan untuk menghitung unit
cost (harga satuan pekerjaan) dibagi menjadi 2, yaitu:

1. Analisis BOW dan SNI untuk pekerjaan tanah yang berhubungan dengan
pondasi.
2. Cara modern untuk pekerjaan yang tidak termuat dalam SNI, dengan
menghitung produktivitas tenaga kerja dan alat.

Sedangkan, untuk mengetahui waktu pelaksanaan pekerjaan untuk


masing-masing jenis pondasi, akan dihitung produktivitas tenaga kerja dan
alat. Kemudian, dilakukan analisis network diagram untuk mengetahui urutan
dan ketergantungan antarkegiatan yang membentuk pekerjaan tersebut.
Analisis yang dilakukan setelah data diolah dan diperoleh hasilnya
ialah analisis komparasi, yaitu membandingkan biaya dan waktu pelaksanaan
pekerjaan untuk tiang pancang dan tiang bor. Alternatif yang dipilih dari segi
biaya dan waktu ialah alternatif yang paling kecil biaya dan durasinya.

23

Anda mungkin juga menyukai