MAKALAH SENI BUDAYA
ALAT MUSIK SASANDO
Disusun Oleh:
Nama : Arnold Jason Albertus Klau
Kelas : X MIPA 1
SMA NEGERI 2 ATAMBUA
KABUPATEN BELU
2018
SASANDO
Sasando merupakan sebuah alat instrumen musik petik. Instumen musik ini berasal
dari pulau Rote, Nusa Tenggara Timur. Bentuk sasando ada miripnya dengan instrumen petik
lainnya seperti gitar, biola dan kecapi. Secara harfiah nama sasando menurut asal katanya
dalam bahasa Rote sebagai “sasandu”, yang berarti alat yang bergetar atau berbunyi.
Memainkan alat musik Sasando tidaklah mudah, dibutuhkan harmonisasi perasaan dan teknik
sehingga tercipta alunan nada merdu. Memainkan sasando memerlukan keterampilan jari
jemari untuk memetik dawai seperti pada harpa. Akan tetapi, sasando dimainkan
menggunakan dua tangan dengan arah berlawanan, inilah yang membuatnya unik dan
berbeda. Di Nusa Tenggara Timur sendiri, sasando dimainkan untuk beberapa keperluan
seperti menghibur kerabat atau orang yang berduka cita, sebagai pengiring tarian dan upacara
adat, menyambut tamu penting, atau sekadar alat musik penghibur. Secara fungsi dan
pemakaiannya, sasando biasanya dimainkan untuk mengiringi nyanyian, menirukan
nyanyian, mengiringi pembacaan syair daerah Rote juga untuk mengiri tari, menghibur
keluarga yang berduka dan yang sedang mengadakan pesta. Tidak ada syarat atau ritual
khusus untuk bisa memainkanya. Siapa pun bisa belajar untuk memainkannya.
Ada beberapa cerita yang menjelaskan tentang asal muasal Sasando. Cerita pertama
menyebutkan jika dahulu ada seorang pemuda yang bernama Sangguana terdampar di pulau
Ndana ketika melaut. Lalu ia dibawa oleh masyarakat untuk menghadap Raja. Selama berada
di istana tersebut, bakat seni Sangguana mulai dikenal oleh masyarakat hingga akhirnya Putri
kerajaan terpikat oleh Sangguna. Akhirnya sang Putri meminta Sangguana untuk membuat
alat musik yang tidak pernah ada sebelumnya. Suatu malam Sangguana mendapatkan mimpi
dimana ia memainkan sebuah alat musik dengan bentuk dan suara yang indah. Dari
mimpinya tadi, Sangguana mulai membuat alat musik dan menyebutnya dengan nama Sandu.
Ketika sang Putri bertanya kepada Sangguana mengenai lagu yang dimainkannya
menggunakan Sandu, Sangguana menjawab lagu tersebut adalah Sari Sandu. Ketika
Sangguana memberikan alat musik tersebut, sang Putri memberinya nama Depo Hitu yang
memiliki arti Sekali Dipetik Tujuh Dawai Bergetar.
Sedangkan pada cerita kedua memiliki cerita yang sama sekali berbeda. Disebutkan
jika Sasando awalnya ditemukan oleh dua orang penggembala yang bernama Balialang dan
Lumbilang. Saat menggiring domba-domba tersebut, mereka berdua membawa daun lontar.
Ketika merasa haus, mereka akan melipat daun lontar tersebut dan menggunakannya untuk
menimba air. Caranya dengan melipat daun tersebut, lalu bagian tengah yang berwarna
kuning dibuang dan saat melepasnya, tali dikencangkan. Ternyata ketika tali tersebut ditarik
dengan kencang, ia akan menimbulkan bunyi-bunyian yang berbeda-beda. Namun karena tali
tersebut sering putus, akhirnya lidi-lidi tersebut dicungkili. Keduanya kemudian menemukan
apabila tali tersebut diikatkan dengan rapat akan menimbulkan nada yang tinggi, dan ketika
direnggangkan akan menghasilkan nada rendah.
Cerita ketiga menyebutkan bahwa Sasando ditemukan oleh Balok Ama Sina dan
Lunggi. Cerita ini tidak berbeda jauh dengan cerita kedua dimana Lunggi dan Balon Ama
Sina merupakan penggembala domba. Ketika keduanya membuat haik dari daun lontar,
diantara daun lontar tersebut ada benang atau fifik, jika dikencangkan akan menimbulkan
bunyi. Pengalaman tersebut menjadi inspirasi kedua orang tersebut untuk membuat alat
musik petik yang dapat menirukan suara yang ada pada gong. Caranya adalah dengan
mencungkil tulang daun lontar dan disenda menggunakan batang kayu. Karena suaranya yang
dihasilkan tidak bagus, akhirnya daun lontar diganti dengan batang bambu yang kulitnya
dicungkili dan disenda dengan batang kayu.
Sasando memiliki beberapa jenis, yakni:
1. Sasando gong
Sasando gong lebih dikenal di Pulau Rote, memiliki nada pentatonik, biasanya dimainkan
dengan irama gong dan dinyanyikan dengan syair khas Pulau Rote. Sasando jenis ini
berdawai 7 buah atau 7 nada kemudian kini berkembang menjadi 11 dawai.
2. Sasando biola
Sasando jenis biola merupakan sasando yang telah berkembang dengan nada diatonis.
Bentuk sasando biola sekilas mirip sasando gong namun diameter bambunya lebih besar.
Sasando jenis ini diperkirakan mulai berkembang pada abad ke-18. Disebut sasando biola
karena menyerupai nada biola dengan 30 nada kemudian berkembang menjadi 32 dan 36
dawai.
3. Sasando Elektrik
Sasando elektrik umumnya memiliki 30 dawai dan merupakan pengembangan dari
sasando biola yang diberi sentuhan teknologi. Sasando jenis ini diciptakan oleh Arnoldus
Eden yang telah almarhum, ia merupakan seorang musisi sasando dan telah mendapat
piagam penghargaan oleh Gubernur NTT tahun 2008.
Pada proses pembuatannya bahan utama sasando adalah bambu yang membentuk
tabung panjang. Lalu pada bagian tengah, melingkar dari atas ke bawah diberi penyangga
atau ganjalan-ganjalan—dalam bahasa rote disebut senda—tempat senar-senar atau dawai
direntangkan mengelilingi tabung bambu, bertumpu dari atas kebawah. Senda ini
memberikan nada yang berbeda-beda kepada setiap petikan senar. Pada mulanya alat
penyetem dawai terbuat dari kayu, yang harus diputar kemudian diketok untuk mengatur
nada yang pas. Lalu tabung sasando ini ditaruh dalam sebuah wadah yang terbuat dari
anyaman daun lontar yang disebut haik. Haik inilah yang berfungsi sebagai resonansi
sasando.
Untuk memainkannya dibutuhkan keahlian khusus karena tidak mudah untuk
memainkannya. Anda membutuhkan keselarasan dari perasaan hingga teknik bermain
sehingga dapat menciptakan alunan nada-nada yang [Link] memainkannya, jari anda
harus dapat bergerak seperti ketika memainkan harpa, namun bedanya dengan harpa adalah
pada Sasando anda harus memainkannya dengan menggunakan dua tangan dengan arah yang
berlawanan. Cara memainkan alat musik sasando hamper mirip dengan kecapi. Tangan kiri
berfungsi untuk memetik melodi dan bas, sedangkan tangan kanan digunakan untuk
memainkan akor(gabungan beberapa nada tunggal). Perpaduan melodi, bas dan akor yang
dapat dimainkan secara bergantian ataupun bersamaan menjadi salah sat ciri khas dari bunyi
yang dihasilkan oleh sasando.