LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN
BIDANG ANALISIS DAMPAK KESEHATAN LINGKUNGAN
BALAI BESAR TEKNIK KESEHATAN LINGKUNGAN DAN
PENGENDALIAN PENYAKIT YOGYAKARTA
Oleh :
1. Sherlyana Effendi (P1337433216023)
2. Syifa Darmawan (P1337433216061)
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SEMARANG
JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN PURWOKERTO
PRODI DIPLOMA IV KESEHATAN LINGKUNGAN
TAHUN 2019
ii
LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN
BALAI BESAR TEKNIK KESEHATAN LINGKUNGAN DAN
PENGENDALIAN PENYAKIT (BBTKLPP) YOGYAKARTA
Disusun Oleh :
1. Sherlyana Effendi
2. Syifa Darmawan
Telah diujikan pada tanggal:
........................................
Menyetujui
Kepala Instalasi Diklat BBTKLPP Pembimbing Diklat
Yogyakarta
Mieng Nova Sutopo,SKM.,[Link] [Link] Sumanta,STP,SKM,[Link]
NIP. 19691110 199303 1 005 NIP. 19661205 198803 1 005
iii
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat, hidayah dan karunia-Nya, sehingga saya dapat menyelesaikan Praktek
Kerja Lapangan dan sekaligus menyusun laporan ini.
Laporan Praktek Kerja Lapangan ini disusun berdasarkan data-data yang
diperoleh selama saya melaksanakan Praktek Kerja Lapangan di Balai Besar
Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP)
Yogyakarta.
Saya menyadari sepenuhnya bahwa terwujudnya laporan ini berkat
adanya kerjasama serta adanya bantuan dari berbagai pihak. Oleh sebab itu,
pada kesempatan ini saya mengucapkan terima kasih kepada :
1. Bapak Marsum BE, [Link], MHP, selaku Direktur Politeknik Kesehatan
Kemenkes Semarang
2. Bapak Asep Tata Gunawan SKM., [Link], selaku Ketua Jurusan Kesehatan
Lingkungan Purwokerto
3. Bapak Hari Rudijanto I.W, ST., [Link], selaku Ketua Program Studi Diploma
IV Kesehatan Lingkungan
4. Dr. dr. Irene, MKM Selaku Kepala Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan
dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Yogyakarta
5. Ibu Feri Astuti, ST. [Link], selaku Kepala Bidang Analiasis Dampak
Kesehatan Lingkungan (ADKL)
6. Bapak Suharsa, [Link], selaku Pembimbing PKL dari Balai Besar Teknik
Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Yogyakarta
7. Mieng Nova Sutopo, SKM, [Link] dan Dr. Hadi Sumantra STP SKM, [Link],
selaku Pembimbing PKL dari Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan
Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Yogyakarta
8. Para pendamping dan staff karyawan di Bidang Analiasis Dampak
Kesehatan Lingkungan (ADKL), serta semua pihak yang tak dapat saya
sebutkan satu persatu atas segala bantuan, dukungan, dan dorongan
iv
sehingga kegiatan ini dapat selesai sesuai dengan waktu yang telah
ditentukan.
Saya menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari kesempurnaan
dengan segala kekurangannya. Untuk itu saya mengharapkan adanya kritik
dan saran dari semua pihak demi kesempurnaan dari laporan praktek kerja
lapangan ini.
Akhir kata penulis berharap, semoga laporan ini dapat bermanfaat
bagi rekan-rekan mahasiswa-mahasiswa dan pembaca sekaligus demi
menambah pengetahuan tentang Praktek Kerja Lapangan.
Yogyakarta, Mei 2019
Penyusun
v
DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN iii
KATA PENGANTAR iv
DAFTAR ISI vi
DAFTAR GRAFIK viii
DAFTAR TABEL ix
BAB I PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang..........................................................................................1
B. Tujuan.......................................................................................................2
C. Manfaat.....................................................................................................3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 4
A. Gambaran Umum.....................................................................................4
B. Pemeriksaan Kualitas Air..........................................................................6
1. Air Bersih...................................................................................................6
2. Air Minum...................................................................................................6
C. Analisis Dampak Kesehatan Lingkungan (ADKL)..................................11
BAB III METODOLOGI 14
A. Waktu Pengambilan Data.......................................................................14
1. Waktu 14
2. Lokasi 14
B. Kegiatan..................................................................................................14
1. Data primer 14
2. Data sekunder 15
3. Kegiatan Bidang Analisis Dampak Kesehatan Lingkungan
15
vi
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 17
A. Hasil dan Pembahasan air bersih..........................................................17
B. Hasil Pemeriksaan sampel air minum di wilayah DIY............................27
BAB V PENUTUP 35
A. Kesimpulan.............................................................................................35
B. Saran......................................................................................................37
DAFTAR PUSTAKA38
vii
DAFTAR GRAFIK
Grafik 1 Jumlah Contoh Uji Air Bersih Berdasarkan Parameter Contoh Uji
di Daerah Istimewa Yogyakarta Tri Wulan Pertama (Desember
2018-Februari 2019).............................................................................17
Grafik 2 Jumlah pemeriksaan Air Minum Berdasarkan Sumber dan
Pemeriksaan yang dilakukan di Daerah Istimewa Yogyakarta......28
Grafik 3 Hasil Pemeriksaan Air Minum Parameter Fisik Tidak....................29
Grafik 4 Hasil Pemeriksaan Air Minum Parameter Kimia.............................30
Grafik 5 Gambaran Hasil Pemeriksaan Air Minum Parameter Biologi
Berdasarkan asal Kabupaten/Kota Daerah Istimewa Yogyakarta
Tri Wulan Pertama (Desember 2018-Februari 2019)......................33
viii
DAFTAR TABEL
Table 1 Parameter Fisik dalam Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan untuk
Media Air untuk Keperluan Higiene Sanitasi.................................... .........6
Table 2 Parameter Biologi dalam Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan untuk
Media Air untuk Keperluan Higiene Sanitasi..............................................7
Table 3 Parameter Kimia dalam Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan untuk
Media Air untuk Keperluan Higiene Sanitasi..............................................8
Table 4 Hasil Pemeriksaan Air Bersih Parameter Kimia Tidak Memenuhi Syarat di
Daerah Istimewa Yogyakarta Tri Wulan PertamaJumlah Contoh Uji Air
Bersih Berdasarkan Asal Kabupaten/Kota di Daerah Istimewa Yogyakarta
Tri Wulan Pertama (Desember 2018-Februari 2019)....................... ........16
Table 5 Hasil Pemeriksaan Air Bersih Parameter Fisik Tidak Memenuhi Syarat di
Daerah Istimewa Yogyakarta Tri Wulan Pertama (Desember 2018-
Februari 2019)..........................................................................................17
Table 6 Hasil Pemeriksaan Air Bersih Parameter Kimia Tidak Memenuhi Syarat di
Daerah Istimewa Yogyakarta Tri Wulan Pertama (Desember 2018-
Februari 2019).........................................................................................17
Table 7 Gambaran Hasil Pemeriksaan Air Bersih Parameter Kimia Berdasarkan
asal Daerah Istimewa Yogyakarta Tri Wulan Pertama (Desember 2018-
Februari 2019)..........................................................................................18
Table 8 Hasil Pemeriksaan Air Bersih Parameter Kimia Tidak Memenuhi Syarat di
Daerah Istimewa Yogyakarta Tri Wulan Pertama (Desember 2018-
Februari 2019)..........................................................................................19
Table 9 Gambaran Hasil Pemeriksaan Air Bersih Parameter Biologi Berdasarkan
asal Daerah Istimewa Yogyakarta Tri Wulan Pertama (Desember 2018-
Februari 2019)..........................................................................................22
Table 10 Parameter Biologi yang Tidak Memenuhi Syarat Kualitas Air Bersih
Daerah Istimewa Yogyakarta Tri Wulan Pertama (Desember 2018-
Februari 2019)..........................................................................................23
ix
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
BBTKLPP Yogyakarta merupakan Unit Pelaksana Teknis di
Lingkungan Kementerian Kesehatan yang berada di bawah dan
bertanggungjawab kepada Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan
Penyehatan Lingkungan, sebagaimana ditetapkan dalam Keputusan Menteri
Kesehatan Nomor 2349/Menkes/PER/XI/2011 Tentang Organisasi dan Tata
Kerja Unit Pelaksana Teknis di Bidang Teknis Kesehatan Lingkungan dan
Pengendalian Penyakit. Keputusan ini dikeluarkan dengan pertimbangan
adanya perubahan pada organisasi dan tata kerja Direktorat Jenderal
Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan sehingga perlu
dilakukan penyesuaian pada Unit Pelaksana Teknis di bawahnya.
Perubahan ini juga mengingat Peraturan Menteri Kesehatan Nomor
1144/Menkes/Per/VIII/2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian
Kesehatan.
Dipilihnya Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan
Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Yogyakarta sebagai tempat pelaksanaan
praktek kerja lapangan karena merupakan instansi pemerintah yaitu
Kementerian Kesehatan yang menangani masalah pencemaran lingkungan
dan teknik pengujiannya yang menerapkan ilmu yang diperoleh selama
perkuliahan. Masalah lingkungan tersebut meliputi pencemaran udara,
pencemaran air, pencemaran tanah, pencemaran oleh zat-zat kimia tertentu
serta kebisingan. Dimana semuanya ditinjau dari aspek biologis, kimiawi,
fisik, serta saling terkait dengan pemberantasan penyakit menular. Selain itu
BBTKLPP Yogyakarta merupakan salah satu lahan praktek yang dapat
dijadikan sarana belajar mengajar untuk mewujudkan mahasiswa yang siap
menghadapi dunia kerja dan meningkatkan keterampilan secara utuh
sebagai wujud penerapan mata kuliah di kelas, bengkel kerja dan
laboratorium.
2
Kegiatan magang merupakan kegiatan lapangan atau praktek kerja
lapangan yang dilakukan secara aktif dalam suatu perusahaan atau instansi
yang diikuti oleh mahasiswa peserta magang. Pihak perusahaan atau
instansi berhak untuk mendayagunakan mahasiswa peserta magang
seoptimal mungkin selama masih berkaitan dengan lingkup tugas
magangnya. Adanya program kegiatan magang ini diharapkan mahasiswa
peserta magang dapat mengetahui tentang pengalaman dan terjun langsung
kedunia kerja. Kegiatan magang memperlihatkan kepada mahasiswa
peserta magang tentang dunia kerja yang sebenarnya dan penerapan ilmu,
teori-teori yang selama ini dipelajari dan didapat mahasiswa selama
mengikuti perkuliahan di Jurusan Kesehatan Lingkungan Politeknik
Kesehatan Kementrian Kesehatan Semarang.
Bidang Analisis Dampak Kesehatan Lingkungan (ADKL) mempunyai
tugas menyusun perencanaan program, melakukan evaluasi pelaksanaan
program kegiatan bidang ADKL, melakukan analisis dampak kesehatan
lingkungan, baik fisik, kimia, maupun biologi, menyelenggarakan pendidikan
dan pelatihan di bidang pengendalian penyakit menular dan tidak menular,
kesehatan lingkungan serta kesehatan matra. Dalam melaksanakan tugas,
bidang Analisis Dampak Kesehatan Lingkungan menyelenggarakan fungsi
analisis dampak kesehatan lingkungan fisik dan kimia, dan analisis dampak
biologi. Pelaksanaan jejaring kerja dan kemitraan di bidang analisis dampak
kesehatan lingkungan antara lain pendidikan dan pelatihan di bidang analisis
dampak kesehatan lingkungan.
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui kualitas air bersih dan air minum di wilayah Daerah
Istimewa Yogyakarta berdasarkan pengolahan data pasif periode
Desember 2018-Februari 2019.
3
2. Tujuan Khusus
a. Diketahuinya kualitas air bersih dan air minum di wilayah Daerah
Istimewa Yogyakarta ditinjau dari pemeriksaan parameter fisika
b. Diketahuinya kualitas air bersih dan air minum di wilayah Daerah
Istimewa Yogyakarta ditinjau dari pemeriksaan parameter kimia
c. Diketahuinya kualitas air bersih dan air minum di wilayah Daerah
Istimewa Yogyakarta ditinjau dari pemeriksaan parameter kimia
C. Manfaat
1. Bagi Mahasiswa
a. Menambah ilmu pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan kerja
mahasiwa.
b. Dapat mengaplikasikan materi dan pencapaian pembelajaran di
kampus pada bidang yang sesuai.
c. Mengenal dunia kerja di BBTKLPP Yogyakarta.
d. Meningkatkan kemampuan komunikasi mahasiswa dengan
masyarakat luas dan mampu bekerjasama dengan staff atau
karyawan di BBTKLPP Yogyakarta.
2. Bagi Jurusan Kesehatan Lingkungan
Menjalin hubungan baik dengan BBTKLPP Yogyakarta sehingga dapat
menunjang Tri Dharma Perguruan Tinggi.
3. Bagi BBTKLPP Yogyakarta
Sebagai masukan terhadap instansi terutama di bidang Analisis Dampak
Kesehatan Lingkungan (ADKL).
4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Gambaran Umum
Balai/Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian
Penyakit (B/BTKLPP) di seluruh Indonesia berjumlah 10, yang terdiri dari :
empat Balai Besar yaitu BBTKLPP Yogyakarta, Surabaya, Jakarta, dan
Banjarbaru; lima BTKLPP Kelas I yaitu BTKLPP Batam, Palembang,
Makassar, Manado, dan Medan; dan satu BTKLPP Kelas II yaitu BTKLPP
Ambon. Perjalanan menjadi organisasi seperti sekarang ini telah melewati
rentang waktu cukup panjang yang berawal sejak sebelum kemerdekaan
Republik Indonesia diproklamasikan.
Setelah proklamasi kemerdekaan RI, laboratorium ini diganti nama
menjadi Laboratorium Kesehatan Teknik (LKT) dibawah pimpinan Bapak
Kahar yang dalam pelaksanaan tugasnya bekerja sama dengan Sekolah
Tinggi Teknik (STT) yang dipimpin Prof. Ir. Rooseno sebagai direkturnya.
Pada tahun 1953 LKT berganti nama menjadi Lembaga Ilmu Kesehatan
Teknik Bandung Cabang Yogyakarta, selanjutnya pada tahun 1954
Departemen Kesehatan menyerahkan Lembaga Ilmu Kesehatan Teknik
Bandung kepada ITB, sedangkan Lembaga Ilmu Kesehatan Teknik Bandung
Cabang Yogyakarta pada tahun 1967 kembali bernama Laboratorium
Kesehatan Teknik Yogyakarta di bawah Biro V/Umum, Bagian Teknik Umum
dan Teknik Penyehatan, Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan RI.
Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian
Penyakit (BBTKLPP) Yogyakarta merupakan Unit Pelaksana Teknis di
Lingkungan Kementerian Kesehatan yang berada di bawah dan
bertanggungjawab kepada Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan
Penyehatan Lingkungan, sebagaimana ditetapkan dalam Keputusan Menteri
Kesehatan Nomor 2349/Menkes/PER/XI/2011 Tentang Organisasi dan Tata
Kerja Unit Pelaksana Teknis di Bidang Teknis Kesehatan Lingkungan dan
Pengendalian Penyakit. Keputusan ini dikeluarkan dengan pertimbangan
5
adanya perubahan pada organisasi dan tata kerja Direktorat Jenderal
Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan sehingga perlu
dilakukan penyesuaian pada Unit Pelaksana Teknis di bawahnya.
Perubahan ini juga mengingat Peraturan Menteri Kesehatan Nomor
1144/Menkes/Per/VIII/2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian
Kesehatan.
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 2349/ Menkes/
PER/ XI/ 2011 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis di
Bidang Teknis Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit,
BBTKLPP Yogyakarta mempunyai tugas melaksanakan:
a. Surveilans epidemiologi,
b. kajian dan penapisan teknologi,
c. laboratorium rujukan,
d. kendali mutu, kalibrasi,
e. pendidikan dan pelatihan,
f. pengembangan model dan teknologi tepat guna,
g. kewaspadaan dini dan
h. penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB) di bidang pemberantasan
penyakit menular dan kesehatan lingkungan serta kesehatan matra.
Dalam melaksanakan tugas BBTKLPP Yogyakarta
menyelenggarakan fungsi:
a. Pelaksanaan survelans epidemiologi;
b. Pelaksanaan analisis dampak kesehatan lingkungan (ADKL);
c. Pelaksanaan laboratorium rujukan;
d. Pelaksanaan pengembangan model dan teknologi tepat guna;
e. Pelaksanaan uji kendali mutu dan kalibrasi;
f. Pelaksanaan penilaian dan respon cepat, kewaspadaan dini, dan
penanggulangan KLB/wabah dan bencana;
g. Pelaksanaan pendidikan dan pelatihan;
h. Pelaksanaan kajian dan pengembangan teknologi pemberantasan
penyakit menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra;
i. Pelaksanaan ketatausahaan dan kerumahtanggaan BBTKLPP
6
B. Pemeriksaan Kualitas Air
1. Air Bersih
Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan menurut permenkes
no.32 tahun 2017 untuk media Air untuk Keperluan Higiene Sanitasi
meliputi parameter fisik, biologi, dan kimia yang dapat berupa parameter
wajib dan parameter tambahan. Parameter wajib merupakan parameter
yang harus diperiksa secara berkala sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan, sedangkan parameter tambahan hanya diwajibkan
untuk diperiksa jika kondisi geohidrologi mengindikasikan adanya potensi
pencemaran berkaitan dengan parameter tambahan. Air untuk
Keperluan Higiene Sanitasi tersebut digunakan untuk pemeliharaan
kebersihan perorangan seperti mandi dan sikat gigi, serta untuk
keperluan cuci bahan pangan, peralatan makan, dan pakaian. Selain
itu Air untuk Keperluan Higiene Sanitasi dapat digunakan sebagai air
baku air minum.
2. Air Minum
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 492 Tahun 2010
Tentang Persyaratan Kualitas Air Minum, air minum adalah air yang
melalui proses pengolahan atau tanpa melalui proses pengolahan yang
memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum. Jenis air
minum meliputi air yang didistribusikan melalui pipa untuk keperluan
rumah tangga, air yang didistribusikan melalui tangki air, air kemasan,
serta air yang digunakan untuk produksi makanan dan minuman yang
disajikan kepada masyarakat. Air dengan kualitas layak minum memiliki
standar persyaratan tertentu yakni persyaratan fisik, kimiawi dan
bakteriologis, syarat- syarat tersebut merupakan satu kesatuan sehingga
apabila salah satu parameter tidak memenuhi syarat maka air tersebut
tidak layak minum.
Depot Air Minum (DAM) merupakan badan usaha yang melakukan
proses pengolahan air baku menjadi air minum dan menjual langsung
7
kepada konsumen (Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor
736/Menkes/Per/VI/2010 tentang Tata Laksana pengawasan Kualitas Air
Minum).
Kualitas air produksi Depot Air Minum (DAM) akhir-akhir ini
ditenggarai semakin menurun, dengan permasalahan secara umum
antara lain pada peralatan DAM yang tidak dilengkapi alat sterilisasi, atau
mempunyai daya bunuh rendah terhadap bakteri, atau pengusaha belum
mengetahui peralatan DAM yang baik dan cara pemeliharaan.
Kegiatan pemantauan DAM (Depot Air Minum) diwilayah Jawa
Tengah dipandang perlu diadakan guna mewujudkan kualitas air minum
yang diproduksi oleh DAM dapat memenuhi syarat sesuai Keputusan
Menteri Kesehatan RI No. 492/Menkes/Per/IV/2010 tentang persyaratan
Kualitas Air Minum dan No. 736/Menkes/Per/IV/2010 tentang tata
Laksana Pengawasan Kualitas Air minum khususnya DAM, dengan cara
memberikan masukan/informasi kepada pemerintah daerah yang
selanjutnya dapat dipakai sebagai bahan pertimbangan pengambilan
keputusan dalam rangka meningkatkan kualitas air minum produksi DAM
serta pengawasan dan pembinaan kepada pemilik DAM dalam pelayanan
kepada masyarakat. Adapun tujuan dari pemeriksaan kualitas DAM yaitu :
a. Diketahuinya kualitas air baku dan air minum hasil pengolahan DAM
b. Diperolehnya gambaran aspek teknik dan pemeriksaan fisik (Inspeksi
Sanitasi) DAM
c. Diperolehnya gambaran karakteristik pengelola DAM
d. Diperolehnya gambaran karakteristik konsumen
DAM akan dipantau terus setiap 3 bulan atau 6 bulan sekali oleh
pihak BBTKLPP dengan bantuan dinas setempat. Pengambilan dilakukan
oleh petugas dari BBTLKPP Yogyakarta dan ada petugas dari Dinkes
setempat.
Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan menurut Permenkes
nomor 32 tahun 2017 untuk media Air untuk Keperluan Higiene Sanitasi
meliputi parameter fisik, biologi, dan kimia yang dapat berupa parameter
wajib dan parameter tambahan. Parameter wajib merupakan parameter
8
yang harus diperiksa secara berkala sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan, sedangkan parameter tambahan hanya diwajibkan
untuk diperiksa jika kondisi geohidrologi mengindikasikan adanya potensi
pencemaran berkaitan dengan parameter tambahan. Air untuk
Keperluan Higiene Sanitasi tersebut digunakan untuk pemeliharaan
kebersihan perorangan seperti mandi dan sikat gigi, serta untuk
keperluan cuci bahan pangan, peralatan makan, dan pakaian. Selain
itu Air untuk Keperluan Higiene Sanitasi dapat digunakan sebagai air baku
air minum.
Tabel 1 Parameter Fisik dalam Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan
untuk Media Air untuk Keperluan Higiene Sanitasi
No. Parameter Wajib Unit Standar Baku Mutu
(kadar maksimum)
1. Kekeruhan NTU 25
2. Warna TCU 50
3. Zat padat terlarut mg/l 1000
(Total Dissolved Solid)
4. Suhu oC suhu udara ± 3
5. Rasa tidak berasa
6. Bau tidak berbau
9
Tabel 2 berisi daftar parameter wajib untuk parameter biologi yang
harus diperiksa untuk keperluan higiene sanitasi yang meliputi total
coliform dan escherichia coli dengan satuan/unit colony forming unit
dalam 100 ml sampel air.
Tabel 2 Parameter Biologi dalam Standar Baku Mutu Kesehatan
Lingkungan untuk Media Air untuk Keperluan Higiene Sanitasi
No. Parameter Wajib Unit Standar Baku Mutu
(kadar maksimum)
1. Total coliform CFU/100ml 50
2. E. coli CFU/100ml 0
Tabel 2 berisi daftar parameter kimia yang harus diperiksa untuk
keperluan higiene sanitasi yang meliputi 10 parameter wajib dan 10
parameter tambahan. Parameter tambahan ditetapkan oleh pemerintah
daerah kabupaten/kota dan otoritas pelabuhan/bandar udara.
Tabel 1 Parameter Kimia dalam Standar Baku Mutu Kesehatan
Lingkungan untuk Media Air untuk Keperluan Higiene Sanitasi
No. Parameter Unit Standar Baku Mutu
(kadar maksimum)
Wajib
1. pH mg/l 6,5 - 8,5
2. Besi mg/l 1
3. Fluorida mg/l 1,5
4. Kesadahan (CaCO3) mg/l 500
5. Mangan mg/l 0,5
6. Nitrat, sebagai N mg/l 10
7. Nitrit, sebagai N mg/l 1
10
8. Sianida mg/l 0,1
9. Deterjen mg/l 0,05
10. Pestisida total mg/l 0,1
Tambahan
1. Air raksa mg/l 0,001
2. Arsen mg/l 0,05
3. Kadmium mg/l 0,005
4. Kromium (valensi 6) mg/l 0,05
5. Selenium mg/l 0,01
6. Seng mg/l 15
7. Sulfat mg/l 400
8. Timbal mg/l 0,05
9. Benzene mg/l 0,01
10. Zat organik (KMNO4) mg/l 10
11
C. Analisis Dampak Kesehatan Lingkungan (ADKL)
Analisis Dampak Kesehatan Lingkungan merupakan suatu
pendekatan untuk mencermati masalah kesehatan kesehatan masyarakat
dengan menggunakan rencana pembangunan sebagai titik awal dan
melihat dampak kesehatan yang berhubungan. Dampak kesehatan tersebut
dapat bersifat langsung atau tidak langsung, sehingga ADKL merupakan
bagian tak terpisahkan dari proses perencanaan dalam suatu pembangunan
menurut Nomor 876/Menkes/SK/VIII/2001 Tentang Pedoman Teknis Analisis
Dampak Kesehatan Lingkungan.
Konsepsi Analisis Dampak Kesehatan Lingkungan (ADKL), pada
dasarnya merupakan model pendekatan guna mengkaji, dan atau menelaah
secara mendalam untuk mengenal, memahami, dan memprediksi kondisi dan
karakteristik lingkungan yang berpotensi terhadap timbulnya risiko kesehatan,
dengan mengembangkan tatalaksana terhadap sumber perubahan media
lingkungan, masyarakat terpajan dan dampak kesehatan yang terjadi.
Penerapan ADKL dapat dilakukan guna menelaah rencana usaha
atau kegiatan dalam tahapan pelaksanaan atau pengelolaan kegiatan serta
untuk melakukan penilaian guna menyusun atau mengembangkan upaya
pemantauan maupun pengelolaan guna mencegah, mengurangi atau
mengelola dampak kesehatan masyarakat akibat suatu usaha atau kegiatan
pembangunan. Penerapan ADKL dapat dikembangkan dalam dua hal pokok
yaitu sebagai :
1. Kajian aspek kesehatan masyarakat dalam rencana usaha atau kegiatan
pembangunan baik yang wajib menyusun studi AMDAL, meliputi dokumen
Kerangka Acuan (KA ANDAL), Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL),
Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan
Lingkungan (RPL) atau yang tidak wajib menyusun studi AMDAL, meliputi
dokumen RKL dan RPL.
2. Kajian aspek kesehatan masyarakat dan atau kesehatan lingkungan
dalam rangka pengelolaan kualitas lingkungan hidup yang terkait erat
dengan masalah kesehatan masyarakat.
12
Telaah ADKL sebagai pendekatan kajian aspek kesehatan masyarakat
meliputi :
1. Parameter lingkungan yang diperkirakan terkena dampak rencana
pembangunan dan berpengaruh terhadap kesehatan;
2. Proses dan potensi terjadi pemajanan;
3. Potensi besarnya risiko penyakit (angka dan kesakitan dan angka
kematian);
4. Karakteristik penduduk yang berisiko; dan
5. Sumber daya kesehatan;
Telaah tersebut di atas dilakukan dengan pengukuran pada :
1. Sumber dampak atau sumber perubahan (emisi);
2. Media lingkungan (ambien) sebelum kontak dengan manusia;
3. Penduduk terpajan (Biomarker);
4. Potensi dampak kesehatan;
Dalam ADKL terdapat komponen penyusun
1. Langkah-Langkah ADKL
a. Dalam Konteks Rencana Usaha Atau Kegiatan
1) Penapisan
2) Pelingkupan
3) Penyajian Rona Lingkungan Awal
4) Analisis Risiko
5) Rencana Pengelolaan Risiko
6) Implementasi dan Pengambilan Keputusan
7) Rencana Pemantauan
8) Rencana Pengelolaan
b. Dalam Konteks Pemantauan Atau Pengelolaan Kegiatan
1) Penyehatan
2) Pengamanan
3) Pengendalian
4) Investigasi
2. Penerapan ADKL
a. Pada rencana usaha atau kegiatan yang wajib AMDAL ADKL
diterapkan dalam menilai dokumen yang meliputi :
1) Kerangka Acuan (KA) AMDAL
2) Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL)
3) Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL)
13
4) Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL)
b. Rencana usaha kegiatan tidak wajib AMDAL, meliputi
dokumen:
1) Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL)
2) Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL)
c. Pelaksanaan program-program kesehatan seperti Program
Penyehatan Lingkungan Permukiman, Program Penyediaan Air
Bersih, Program Pemberantasan Penyakit Menular, dan program
lain yang terkait.
BBTKLPP memiliki beberapa bidang diantaranya Bidang Analisis
Dampak Kesehatan Lingkungan yang terdiri dari :
1. Seksi Lingkungan Fisik dan Kimia yang mempunyai tugas melakukan
penyiapan bahan perencanaan, evaluasi dan koordinasi pelaksanaan
analisis dampak lingkungan fisik dan kimia di bidang pengendalian
penyakit, kesehatan lingkungan dan kesehatan matra.
2. Seksi Lingkungan Biologi yang mempunyai tugas melakukan penyiapan
bahan perencanaan, evaluasi dan koordinasi pelaksanaan analisis
dampak lingkungan biologi di bidang pengendalian penyakit, kesehatan
lingkungan dan kesehatan matra.
14
BAB III
METODOLOGI
A. Waktu Pengambilan Data
1. Waktu
Praktek kerja lapangan dilaksanakan selama 3 minggu, dari
tanggal 14 Mei – 31 Mei 2019. Jam kerja praktek kerja lapangan pada
hari Senin – Kamis pukul 07.30 WIB – 15.00 WIB WIB dan pada hari
Jumat dimulai pukul 07.30 WIB – 11.00 WIB.
2. Lokasi
Tempat praktek berada di Balai Besar Teknik Kesehatan
Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Yogyakarta yang
berlokasi di Jalan Wiyoro Lor No. 21, Baturetno, Banguntapan, Bantul,
Daerah Istimewa Yogyakarta 55197.
B. Kegiatan
Metode pengumpulan data dan informasi dalam ADKL dibedakan
menjadi 2 cara pokok yaitu pengumpulan data primer dan data sekunder
(Ditjend PL.2002:2-15) :
1. Data primer
Metode pengumpulan data primer yang umum digunakan antara lain:
a. Wawancara,
b. Kuesioner (subyek mengisi sendiri),
c. Pengamatan terhadap subyek,
d. Pengukuran fisik atau kimiawi tentang subyek,
e. Pengukuran fisik atau kimiawi lingkungan atau dengan kunjungan
lapangan.
15
2. Data sekunder
Metode pengumpulan data sekunder yang dapat digunakan untuk
pengukuran pemajanan dalam kaitannya dengan analisis epidemiologis
antara lain :
a. Catatan harian ; untuk mengumpulkan data perilaku atau
pengalaman sekarang.
b. Catatan lain : catatan yang belum dikumpulkan secara khusus untuk
tujuan pengukuran pemajanan, misalnya catatan medis, pekerjaan,
dan sensus
3. Kegiatan Bidang Analisis Dampak Kesehatan Lingkungan
a. Entry data pemeriksaan Air Bersih dan Air Minum di wilayah DIY
1) Pembimbing : Bp. Suharsa, [Link]
2) Alat : a) Laptop
b) Ms. Excel
c) Aplikasi SPSS
3) Bahan : File pemeriksaan Air Bersih dan Air
Minum wilayah Jawa Tengah dan DIY
4) Prinsip : Entry data pemeriksaan Air Bersih
dan Air Minum wilayah Jawa Tengah
dan DIY ke dalam aplikasi SPSS 21
secara berurutan.
5) Output : Data telah dientry
b. Pembuatan Laporan Triwulan dan Pembahasan Air Bersih dan Air
Minum di Wilayah DIY
1) Pembimbing : Bp. Suharsa, [Link]
2) Alat : a) Laptop
b) Ms. Excel
c) Aplikasi SPSS
d) Ms. Word
3) Bahan : File pemeriksaan Air Bersih dan Air
Minum wilayah Jawa Tengah dan DIY
4) Prinsip : Membuat tabel pemeriksaan Air Bersih
dan Air Minum wilayah Jawa Tengah dan
DIY sesuai data di SPSS
5) Output : Data telah dientry
16
c. Entry data pemeriksaan laboratorium parameter fisika, kimia, biologi
pada Air Bersih di wilayah Jawa Tengah dan DIY
1) Pembimbing : Bp. Suharsa, [Link]
2) Alat a) Laptop
: b) Ms. Word
c) [Link]
d) Aplikasi SPSS
3) Bahan Data pemeriksaan laboratorium
: parameter fisika, kimia biologi pada air
bersih dan air minum di wilayah Jawa
Tengah dan DIY
4) Prinsip Entry data pemeriksaan laboratorium
: parameter fisika, kimia, biologi pada air
bersih dan air minum di wilayah Jawa
Tengah dan DIY ke dalam aplikasi
Microsoft Excel secara berurutan dan
sesuai parameter yang diuji.
5) Output : Data telah dientry
17
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil dan Pembahasan air bersih
Hasil pemeriksaan contoh uji selama tri wulan Pertama (Desember
2018-Februari 2019) terhadap contoh uji pasif kualitas air bersih yang
diterima di Laboratorium BBTKLPP Yogyakarta adalah sebagai berikut :
1. Contoh uji air bersih Daerah Istimewa Yogyakarta
a. Jumlah Contoh uji
Pada Tri Wulan Pertama (Desember 2018-Februari 2019) jumlah
contoh uji air bersih Daerah Istimewa Yogyakarta yang diperiksa di
Laboratorium BBTKLPP Yogyakarta sebanyak 351 contoh uji
dengan perincian 137 contoh uji Fisik-Kimia dan 214 contoh uji
Biologi.
Sumber : bidang ADKL BBTKLPP Yogyakarta
Grafik 1 Jumlah Contoh Uji Air Bersih Berdasarkan Parameter Contoh
Uji di Daerah Istimewa Yogyakarta Tri Wulan Pertama
(Desember 2018-Februari 2019)
18
b. Cakupan hasil pemeriksaan contoh uji
Cakupan hasil pemeriksaan contoh uji di laboratorium
BBTKLPP Yogyakarta, pada tri wulan I tahun 2019 dapat dilihat
pada tabel berikut :
Tabel 4 Hasil Pemeriksaan Air Bersih Parameter Kimia Tidak
Memenuhi Syarat di Daerah Istimewa Yogyakarta Tri
Wulan PertamaJumlah Contoh Uji Air Bersih Berdasarkan
Asal Kabupaten/Kota di Daerah Istimewa Yogyakarta Tri
Wulan Pertama (Desember 2018-Februari 2019)
Jumlah Contoh Uji
NO Kabupaten/Kota Fisika-
% Biologi %
Kima
1 Bantul 30 21,90 41 19,16
2 Gunungkidul 8 5,84 29 13,55
3 Kulon Progo 9 6,57 35 16,36
4 Sleman 49 35,77 65 30,37
5 Yogyakarta 41 29,93 44 20,56
TOTAL 137 100,00 214 100,00
SSumber : data pasif air bersih DIY Bidang ADKL BBTKLPP
Yogyakarta
Jumlah Contoh Uji Air Bersih Berdasarkan Asal Kabupaten/Kota di
Daerah Istimewa Yogyakarta Tri Wulan Pertama (Desember 2018-
Februari 2019)
c. Kualitas hasil pemeriksaan contoh uji
Berdasarkan hasil pemeriksaan contoh uji kualitas air
bersih selama Tri Wulan Pertama (Desember 2018-Februari
2019), BBTKLPP Yogyakarta telah melakukan pemeriksaan
terhadap contoh uji pasif air bersih dengan mengacu pada
persyaratan kualitas air bersih sesuai Peraturan Menteri
Kesehatan RI Nomor 32 Tahun 2017 tentang Standar Baku Mutu
Kesehatan Lingkungan dan Persyaratan Kesehatan Air Untuk
Keperluan Higiene Sanitasi, Kolam Renang, Solus Per Aqua, dan
Pemandian Umum. Pemeriksaan contoh uji air bersih selama Tri
19
Wulan Pertama (Desember 2018-Februari 2019) sebanyak 351
contoh uji dengan hasil pemeriksaan sebagai berikut :
1) Gambaran Hasil Pemeriksaan Parameter Fisik
Kualitas air bersih parameter fisika dapat dilihat sebagai
berikut.
Tabel 5 Hasil Pemeriksaan Air Bersih Parameter Fisik Daerah
Istimewa Yogyakarta Tri Wulan Pertama (Desember 2018-Februari 2019)
No Kabupaten/Kota Fisika TMS %
1 Bantul 30 6 20
2 Gunungkidul 8 4 50
3 Kulon Progo 9 1 11,11
4 Sleman 49 6 12,24
5 Yogyakarta 41 13 31,70
TOTAL 137 30 125,05
Sumber : data pasif air bersih DIY Bidang ADKL BBTKLPP
Yogyakarta
Dari tabel 5 terlihat bahwa kualitas air bersih dari lima
Kabupaten/Kota di DIY Tri Wulan Pertama (Desember 2018-
Februari 2019) secara fisik terdapat 137 contoh uji. Contoh uji,
yang tidak memenuhi syarat parameter fisik terbanyak pada
daerah atau Kota Yogyakarta, jumlah contoh uji sampel 41,
yang tidak memenuhi syarat 13 sampel dengan presentase
31,70%, sedangkan yang terendah terdapat dua daerah yaitu
Kabupaten Bantul dengan jumlah sampel 30, yang tidak
memenuhi syarat 6 sampel dan presentasenya 20% , yang
kedua pada daerah atau Kota Sleman dengan jumlah sampel
49 contoh uji, yang tidak memenuhi syarat 6 sampel dengan
presentase 12,24%.
20
Tabel 6 Hasil Pemeriksaan Air Bersih Parameter Fisik Tidak
Memenuhi Syarat di Daerah Istimewa Yogyakarta Tri
Wulan Pertama (Desember 2018-Februari 2019)
Parameter TMS
No Kab./Kota
Bau Kekeruhan Rasa Warna
1 Bantul 4 1 5 1
2 Gunungkidul 4 0 0 0
3 Kulonprogo 1 0 0 0
4 Sleman 2 3 2 4
5 Yogyakarta 11 1 8 2
Sumber : data pasif air bersih DIY Bidang ADKL BBTKLPP
Yogyakarta
Tabel 6 menunjukan ada dua parameter fisik dominan yang
tidak memenuhi syarat yaitu bau dan rasa.
Air bersih yang berbau selain mengganggu estetika juga tidak
disukai oleh masyarakat. Bau merupakan petunjuk akan
kualitas air, contohnya bau amis air disebabkan oleh
tumbuhnya algae. Air bersih seharusnya tawar atau tidak
berasa, apabila air bersih berasa menunjukkan adanya
kandungan zat-zat yang dapat membahayakan tubuh. Contoh
rasa pada air bersih yang sering dijumpai antara lain rasa
logam/amis, rasa pahit, asin, dan lain-lain. (Said, 2008). Secara
fisik kualitas air tanah dapat diketahui dengan memeriksa kadar
warna, kekeruhan, bau dan rasa. Dengan menggunakan indera
yang kita miliki sebenarnya kita sudah bisa memperkirakan
akan adanya bahan pencemar dalam air tanah yang
mempengaruhi fisik dari air tanah tersebut seperti bau, warna,
rasa atau air terlihat keruh. Pada saat air sudah menunjukkan
perubahan fisik, orang cenderung untuk tidak menggunakan air
tersebut, sehingga bisa dikatakan bahwa dari segi parameter
fisik cenderung kurang berbahaya karena perubahan fisik pada
air tanah bisa terlihat dengan panca indera manusia sehingga
orang bisa lebih waspada dalam mengkonsumsi air tersebut.
21
a. Gambaran Hasil Pemeriksaan Parameter Kimia
Kualitas air Bersih parameter Kimia dapat dilihat sebagai berikut.
Tabel 7 Hasil Pemeriksaan Air Bersih Parameter Kimia Berdasarkan
asal Kabupaten/Kota Daerah Istimewa Yogyakarta Tri
Wulan Pertama (Desember 2018-Februari 2019)
No Kabupaten/Kota Kimia TMS %
1 Bantul 30 6 20
2 Gunungkidul 8 4 50
3 Kulon Progo 9 1 11,11
4 Sleman 49 6 12,24
5 Yogyakarta 41 13 31,70
TOTAL 137 30 125,05
Sumber : data pasif air bersih DIY Bidang ADKL BBTKLPP
Yogyakarta
Dari tabel 7 terlihat bahwa kualitas air bersih dari lima
Kabupaten/Kota di DIY Tri Wulan Pertama (Desember 2018-
Februari 2019) secara kimia terdapat 137 contoh uji. Contoh
uji, yang tidak memenuhi syarat parameter fisik terbanyak
pada daerah atau Kota Yogyakarta, jumlah contoh uji sampel
41, yang tidak memenuhi syarat 13 sampel dengan
presentase 31,70%, sedangkan yang terendah terdapat dua
daerah yaitu Kabupaten Bantul dengan jumlah sampel 30,
yang tidak memenuhi syarat 6 sampel dan presentasenya
20% , yang kedua pada daerah atau Kota Sleman dengan
jumlah sampel 49 contoh uji, yang tidak memenuhi syarat 6
sampel dengan presentase 12,24%. Secara rinci parameter
dapat dilihat pada tabel berikut:
22
Tabel 8 Hasil Pemeriksaan Air Bersih yang tidak memenuhi
syarat (TMS) berdasarkan Parameter kimia
Parameter TMS
No. Kab./Kota
pH Fe Mn Nitrat Nitrit Deterjen KMNO4
1 Bantul 4 0 3 0 0 2 0
2 Gunungkidul 1 0 0 0 0 0 3
3 Kulonprogo 0 0 0 0 0 4 0
4 Sleman 2 1 1 0 1 0 0
5 Yogyakarta 4 4 2 1 2 1 1
Jumlah 11 5 5 1 3 7 4
Sumber : data pasif air bersih DIY Bidang ADKL BBTKLPP Yogyakarta
Berdasarkan Tabel 8 diketahui bahwa contoh uji air bersih tidak
memenuhi syarat meliputi parameter pH (NAB nilai ambang batas
6,5 – 8,5, hasil terendah 6,0, tertinggi 9,7), Fe (NAB 1,0 mg/L, hasil
terendah 1,01 mg/L tertinggi 25,99 mg/L), Mn (NAB 0,5 mg/L, hasil
terendah 0,56 mg/L, tertinggi 0,95 mg/L), Nitrat (NAB 10 mg/L, hasil
terendah 10,75 mg/L, tertinggi 35,10 mgL), Nitrit (NAB 1,0 mg/L, hasil
terendah 0,18 mg/L, tertinggi 17,10 mg/L), Deterjen (NAB 0,05 mg/L,
hasil terendah 0,053 mgL, tertinggi 90 mg/L), KMNO4 (NAB 10 mg/L,
hasil terendah 10,48 mg/L, tertinggi 75,07 mg/L).
Dari segi kualitas kimia, agak sulit untuk mengidentifikasi
adanya bahan kimia tertentu dalam air tanah, karena secara visual
tidak semua bahan kimia menimbulkan perubahan fisik pada air tanah
yang bisa diidentifikasi dengan indera manusia. Karena itu
pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui unsur kimia apa saja
dan berapa kadarnya, adalah langkah yang paling tepat untuk
memastikan bahwa air tanah yang akan kita konsumsi aman dari
unsur-unsur kimia yang berbahaya
Kandungan pH air yang terlalu rendah akan menjadikan air
berasa pahit dan asam. Air bersih dan air minum sebaiknya netral,
tidak asam ataupun basa, untuk mencegah terjadinya pelarutan
23
logam berat dan korosi jaringan distribusi air minum. Air merupakan
bahan pelarut yang sangat bagus dan dibantu dengan pH yang tidak
netral dapat melarutkan berbagai elemen kimia yang dilaluinya, (Juli
Soemirat Slamet, 2004)
Besi di dalam air bersih menimbulkan rasa, warna (kuning),
pengendapan pada dinding pipa, pertumbuhan bakteri besi dan
kekeruhan. Besi dibutuhkan oleh tubuh dalam pembentukan
hemoglobin. Banyaknya Fe dalam tubuh dikendalikan pada fase
absorbsi. Tubuh manusia tidak dapat mengekskresi/mengeluarkan Fe,
karenanya mereka sering mendapat transfusi darah, warna kulitnya
menjadi hitam karena akumulasi Fe (Slamet, 2007)
Deterjen menurut Said (2008) baik yang bersifat kationik,
anionik, dan nonanionik membuat zat yang lipofilik mudah terlarut dan
menyebar di perairan dan ukuran halus zat lipofilik mempertinggi
toxisitas racun. Deterjen mempermudah absorpsi racun melalui
insang dan ada yang persisten sehingga terjadi akumulasi. Contoh
deterjen yang persisten yaitu DDT. Kandungan deterjen pada air
minum merupakan pertanda air tersebut tercemar, bisa berasal dari
sumber lingkungan kurang baik (misal dekat pembuangan limbah cair
rumah tangga sehingga meresap di sumber air), dari perilaku
manusianya bila deterjen masuk ke dalam sumber air (sumur) atau
wadah sampel tidak steril/bersih.
Pencemaran air oleh Nitrat bersumber dari tanah dan
tanaman. Nitrat dapat terjadi baik dari NO2 atmosfer maupun dari
pupuk-pupuk yang digunakan dan dari oksidasi NO 2 oleh bakteri dari
kelompok Nitrobacter. Jumlah Nitrat yang lebih besar dalam usus
cenderung untuk berubah menjadi Nitrit yang dapat bereaksi langsung
dengan hemoglobine dalam darah membentuk methaemoglobine
yang dapat menghalang perjalanan oksigen di dalam tubuh.
Kandungan pH air yang terlalu rendah akan menjadikan air berasa
pahit dan asam. Air bersih dan air minum sebaiknya netral, tidak asam
ataupun basa, untuk mencegah terjadinya pelarutan logam berat dan
korosi jaringan distribusi air minum. Air merupakan bahan pelarut
yang sangat bagus dan dibantu dengan pH yang tidak netral dapat
24
melarutkan berbagai elemen kimia yang dilaluinya, (Juli Soemirat
Slamet, 2007).
Mangan merupakan salah satu zat kimia yang merupakan
unsur esensial bagi tubuh manusia dan hewan, namun juga dapat
bersifat toksik (WHO, 2011). Mangan adalah suatu logam berwarna
kelabu keputihan yang rapuh dan terdapat dalam bentuk oksidan
(Achmadi, 2012). Mangan berperan sebagai kofaktor beberapa enzim
antara lain glutamine sintetase, superoksida dismutase di dalam
mitokondria, dan piruvat karboksilase yang berperan dalam
metabolisme karbohidrat dan lipida, serta enzim-enzim lain yang
berperan dalam sintesa ureum, pembentukan jaringan ikat dan
tulang, serta pencegahan peroksidasi lipida oleh radikal bebas
(Almatsier, 2010).
Konsumsi mangan yang kurang atau berlebihan dapat
menyebabkan dampak yang buruk untuk kesehatan manusia (WHO,
2011). Kekurangan mangan dapat menyebabkan steril pada hewan
betina dan jantan, kelainan kerangka, dan gangguan kerangka otot.
Sedangkan kelebihan mangan dapat menyebabkan gejala-gejala
kelainan otak serta penampilan dan tingkah laku yang abnormal
seperti penyakit Parkinson (Almatsier, 2010)
25
b. Gambaran Hasil Pemeriksaan Parameter Biologi
Gambaran Hasil Pemeriksaan Air Bersih Parameter Biologi sebagai
berikut :
Tabel 9 Gambaran Hasil Pemeriksaan Air Bersih Parameter Biologi
Berdasarkan asal Kabupaten/Kota Daerah Istimewa
Yogyakarta Tri Wulan Pertama (Desember 2018-2019)
No Kabupaten/Kota Biologi TMS %
1 Bantul 30 29 96,6
2 Gunungkidul 8 18 225
3 Kulon Progo 9 11 122,2
4 Sleman 49 50 102,0
5 Yogyakarta 41 22 53,6
TOTAL 137 120 599,4
Sumber : data pasif air bersih DIY Bidang ADKL BBTKLPP
Yogyakarta
Parameter kualitas biologi yang diperiksa pada Tabel 9 adalah
Total coliform dan Escherichia coli. Tabel 9 menunjukkan bahwa
contoh uji tertinggi pada daerah atau Kabupaten Kulon Progo, jumlah
contoh uji 9 sampel, tidak memenuhi syarat 11 sampel sedangkan
untuk presentasenya yaitu 122,2%, dan untuk hasil terendah terdapat
pada daerah atau Kota Yogyakarta, jumlah contoh uji 41 sampel,
tidak memenuhi syarat 22 sampel, sedangkan presentasenya 53,6% .
Secara rinci parameter Biologi yang tidak memenuhi syarat dapat
dilihat pada tabel 10.
26
Tabel 10 Parameter Biologi yang Tidak Memenuhi Syarat Kualitas
Air Bersih Daerah Istimewa Yogyakarta Tri Wulan Pertama
(Desember 2018-Februari 2019)
Kombinasi
Total Total
No Kab./Kota E. Coli
Coliform Coliform
dan E. Coli
1 Bantul 28 8 8
2 Gunungkidul 18 1 1
3 Kulon Progo 11 6 5
4 Sleman 50 20 17
5 Yogyakarta 22 7 6
Jumlah 129 42 37
Sumber : data pasif air bersih DIY Bidang ADKL BBTKLPP
Yogyakarta
Tabel 10 memperlihatkan bahwa parameter biologi di lima
Kabupaten/Kota di D.I Yogyakarta yang tidak memenuhi syarat paling
banyak adalah parameter total Coliform sejumlah 28 contoh uji pada
daerah atau Kabupaten Bantul, sedangkan yang terendah pada daerah
atau Kabupaten Kulon Progo.
Keberadaan Total coliform dan E. coli pada air bersih merupakan
indikator adanya kontaminasi tinja manusia. Air dengan kandungan
organisme ini apabila diminum maka dapat menyebabkan penyakit
diare dan infeksi saluran kencing (Brooks etc, 2005). Penanggulangan
Total coliform dan E. coli pada air minum dapat dilakukan dengan
desinfeksi menggunakan larutan klorin atau memasak air sebelum
dikonsumsi hingga benar-benar mendidih (Chandra, 2014).
E. coli merupakan penyebab paling banyak dari infeksi sistem
saluran kencing (ISK). Gejala dan tanda-tanda ISK ini antara lain
frekuensi kencing, dysuria (susah buang air kecil), hematuria (ada
darah dalam urin), dan pyuria (ada pus dalam urin) (Brooks etc., 2005).
E. coli juga menjadi penyebab penyakit diare. E. Coli dapat
diklasifikasikan berdasarkan sifat dan karakteristik virulensinya antara
lain Enterophatogenic E coli (EPEC), Enterotoxigenic E coli (ETEC),
Enterohemorrhagic E coli (EHEC), Enteroinvasive E coli (EIEC), dan
Enteroagregative E coli (EAEC) (Brooks etc., 2005).
27
Kualitas air bersih berdasarkan parameter biologi tidak bisa
dilihat secara visual, tetapi dibanding parameter kimia dan fisika
mungkin bisa dikatakan bahwa parameter biologi adalah parameter
yang paling mudah penanganannya, karena dengan cara direbus
sampai mendidih dengan waktu tertentu dapat menghilangkan semua
bakteri Coliform. Jika dikehendaki lebih permanen dengan perbaikan
sanitasi lingkungan sumber air, perbaikan dinding sumur (buis) dan
diplester antar sambungan buis serta dilakukan dengan disinfeksi
dengan klorin (sumur gali), mengingat air bersih tersebut tidak hanya
digunakan minum/masak saja, melainkan digunakan juga untuk cuci
alat/makan dan cuci lalapan dan sayuran mentah.
B. Hasil Pemeriksaan sampel air minum di wilayah DIY
Pemeriksaan sampel air minum di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta
ditinjau berdasarkan parameter fisika, kimia, dan biologi. Hasil pemeriksaan
contoh uji selama tri wulan Pertama (Desember 2018-Februari 2019)
terhadap contoh uji pasif kualitas air minum yang diterima di Laboratorium
BBTKLPP Yogyakarta adalah sebagai berikut :
2. Jumlah Pemeriksaan Sampel
Pada tri wulan pertama (Desember 2018-Februari 2019) jumlah
pemeriksaan sampel air minum Daerah Istimewa Yogyakarta yang
diperiksa di Laboratorium BBTKLPP Yogyakarta sebanyak 279 sampel
dengan perincian 97 pemeriksaan fisik, 97 pemeriksaan kimia, dan 85
pemeriksaan biologi.
Sumber : Bidang ADKL BBTKLPP Yogyakarta
28
Grafik 2 Jumlah pemeriksaan Air Minum Berdasarkan Sumber dan
Pemeriksaan yang dilakukan di Daerah Istimewa Yogyakarta
Tri Wulan Pertama (Desember 2018-Februari 2019)
2. Wilayah pelayanan pemeriksaan sampel
Wilayah pelayanan pemeriksaan laboratorium BBTKLPP
Yogyakarta di DIY pada Tri Wulan I tahun 2019 yaitu 5 Kabupaten/Kota
sudah tercakup semuanya, sebagaimana terlihat pada Tabel 4.
Tabel 11 Jumlah Pemeriksaan Air Minum Berdasarkan Asal
Kabupaten/Kota di Daerah Istimewa Yogyakarta Tri Wulan
Pertama (Desember 2018-Februari 2019)
Jenis Pemeriksaan
No Kabupaten/Kota Jumlah
Fisika Kimia Biologi
1 Bantul 20 20 21 61
2 Gunung Kidul 11 11 1 23
3 Kulon Progo 2 2 12 16
4 Sleman 33 33 28 94
5 Yogyakarta 31 31 23 85
Jumlah 97 97 85 279
Sumber : Bidang ADKL BBTKLPP Yogyakarta
Dari Tabel 4 terlihat bahwa dari lima kabupaten/kota di DIY yang
paling banyak memanfaatkan layanan Laboratorium Rujukan BBTKLPP
Yogyakarta pada Tri Wulan Pertama (Desember 2018-Februari 2019)
yaitu Kabupaten Sleman sebanyak 94 (33,7%) sampel dari jumlah
keseluruhan.
29
3. Kualitas hasil pemeriksaan sampel
Berdasarkan hasil pemeriksaan sampel kualitas air minum selama
Tri Wulan Pertama (Desember 2018-Februari 2019), BBTKLPP
Yogyakarta telah melakukan pemeriksaan terhadap sampel air minum
dengan mengacu pada persyaratan kualitas air minum sesuai
Kepmenkes RI No 492/Menkes/Per/IV/2010 tentang persyaratan kualitas
air minum yang meliputi syarat fisik, kimia, bakteriologi. Pemeriksaan
sampel air minum selama Tri Wulan Pertama (Desember 2018-Februari
2019) sebanyak 279 sampel dengan hasil pemeriksaan berdasarkan jenis
pemeriksaan sebagai berikut :
a. Hasil Pemeriksaan Parameter Fisik
Hasil pemeriksaan kualitas air minum parameter fisika dapat dilihat
sebagai berikut.
No. Kabupaten/Kota Fisika %
1 Bantul 20 20.62
2 Gunungkidul 11 11.34
3 Kulonprogo 2 2.06
4 Sleman 33 34.02
5 Yogyakarta 31 31.96
Jumlah 97 100
Sumber : Bidang ADKL BBTKLPP Yogyakarta
Grafik 3 Hasil Pemeriksaan Air Minum Parameter Fisik Tidak
Memenuhi Syarat di Daerah Istimewa Yogyakarta
Tri Wulan Pertama (Desember 2018 - Februari 2019)
Dari Grafik 3 terlihat bahwa kualitas air minum dari lima
Kabupaten/Kota di DIY Tri Wulan Pertama (Desember 2018-Februari
2019) secara fisika ada 97 sampel. Sampel yang tidak memenuhi
syarat parameter fisika tertinggi di Kabupaten Sleman sebanyak 33
(34,02%) sampel, Kabupaten Yogyakarta sebanyak 31 (31,96%)
sampel, Kabupaten Bantul sebanyak 20 (20,62%) sampel, Kabupaten
Gunungkidul sebanyak 11 (11,34%) sampel, dan Kabupaten
Kulonprogo sebanyak 2 (2,06%) sampel.
Dari Grafik 3 terlihat bahwa kualitas air minum dari lima
Kabupaten/Kota di DIY Tri Wulan Pertama (Desember 2018-Februari
2019) sampel yang tidak memenuhi syarat parameter fisika ada 6
30
sampel dengan rincian sebagai berikut: empat sampel tidak memenuhi
syarat bau dan warna, dua sampel tidak memenuhi syarat kekeruhan
dan rasa.
Air minum yang berbau selain mengganggu estetika juga tidak
disukai oleh masyarakat. Bau merupakan petunjuk akan kualitas air,
contohnya bau amis air disebabkan oleh tumbuhnya algae. Air minum
seharusnya tawar atau tidak berasa, apabila air minum berasa
menunjukkan adanya kandungan zat-zat yang dapat membahayakan
tubuh. Contoh rasa pada air minum yang sering dijumpai antara lain
rasa logam/amis, rasa pahit, asin, dan lain-lain. (Said, 2008).
b. Hasil Pemeriksaan Parameter Kimia
Hasil pemeriksaan kualitas air minum parameter Kimia dapat dilihat
sebagai berikut.
No. Kabupaten/Kota Kimia %
1 Bantul 20 20.62
2 Gunungkidul 11 11.34
3 Kulonprogo 2 2.06
4 Sleman 33 34.02
5 Yogyakarta 31 31.96
Jumlah 97 100
Sumber : Bidang ADKL BBTKLPP Yogyakarta
Grafik 2 Hasil Pemeriksaan Air Minum Parameter Kimia
Berdasarkan asal Kabupaten/Kota Daerah Istimewa
Yogyakarta Tri Wulan Pertama (Desember 2018-Februari
2019)
Grafik 4 menunjukkan bahwa jumlah contoh uji kualitas air
minum parameter kimia di Kabupaten/Kota wilayah DIY pada Tri Wulan
Pertama (Desember 2018-Februari 2019) dengan total jumlah sampel
yang diperiksa ada 97 contoh uji . Contoh uji yang tidak memenuhi
syarat ada 14 contoh uji yang berasal dari seluruh Kabupaten/Kota
yang ada di DIY. Perolehan tertinggi terdapat pada Kabupaten Sleman
sebanyak 33 (34,02%), Kabupaten Yogyakarta sebanyak 31 (31,96%)
contoh uji, Kabupaten Bantul sebanyak 20 (20,62%) contoh uji,
Kabupaten Gunungkidul sebanyak 11 (11,34%) contoh uji, dan
Kabupaten Kulonprogo sebanyak 2 (2,06%) contoh uji. Kualitas kimia
31
air minum yang tidak memenuhi syarat secara rinci dapat dilihat pada
tabel berikut:
Tabel 12 Hasil Pemeriksaan Air Minum Parameter Fisik
Tidak Memenuhi Syarat di Daerah Istimewa Yogyakarta
Tri Wulan Pertama (Desember 2018 - Februari 2019)
Kabupaten/Kota
Parameter
Gunung Jumlah
TMS Sleman Yogyakarta
Kidul
Flourida + PH 0 1 1 2
Nitrat 2 2 1 5
Besi 0 0 1 1
Besi +
1 3 2 6
Mangan
Jumlah 3 6 5 14
Sumber : Bidang ADKL BBTKLPP Yogyakarta
Berdasarkan Tabel 5 dapat diketahui bahwa penyebab tidak
memenuhi syarat pada sampel air minum didominasi oleh Besi +
Mangan (NAB besi 0,3 g/L, hasil 0,34 mg/L, NAB Mangan 0,4 mg/L,
hasil 0,4864 - 0,5912 mg/L, Nitrat (NAB 50 mg/L, hasil 55,23 – 84,59
mg/L) , serta diikuti oleh , Flourida NAB 1,5 mg/L ,hasil 2,137 mg/L),
dan pH (NAB 6,5-8,5, hasil 5,6).
Besi di dalam air minum menimbulkan rasa, warna (kuning),
pengendapan pada dinding pipa, pertumbuhan bakteri besi dan
kekeruhan. Besi dibutuhkan oleh tubuh dalam pembentukan
hemoglobin. Banyaknya Fe dalam tubuh dikendalikan pada fase
absorbsi. Tubuh manusia tidak dapat mengekskresi/mengeluarkan
Fe, karenanya mereka sering mendapat transfusi darah, warna
kulitnya menjadi hitam karena akumulasi Fe (Slamet, 2007).
Mangan merupakan salah satu zat kimia yang merupakan
unsur esensial bagi tubuh manusia dan hewan, namun juga dapat
bersifat toksik (WHO, 2011). Mangan adalah suatu logam berwarna
kelabu keputihan yang rapuh dan terdapat dalam bentuk oksidan
(Achmadi, 2011).
32
Mangan berperan sebagai kofaktor beberapa enzim antara
lain glutamine sintetase, superoksida dismutase di dalam
mitokondria, dan piruvat karboksilase yang berperan dalam
metabolisme karbohidrat dan lipida, serta enzim-enzim lain yang
berperan dalam sintesa ureum, pembentukan jaringan ikat dan
tulang, serta pencegahan peroksidasi lipida oleh radikal bebas
(Almatsier, 2010).
Konsumsi mangan yang kurang atau berlebihan dapat
menyebabkan dampak yang buruk untuk kesehatan manusia (WHO,
2011). Kekurangan mangan dapat menyebabkan steril pada hewan
betina dan jantan, kelainan kerangka, dan gangguan kerangka otot.
Sedangkan kelebihan mangan dapat menyebabkan gejala-gejala
kelainan otak serta penampilan dan tingkah laku yang abnormal
seperti penyakit Parkinson (Almatsier, 2010).
Mangan dan besi valensi dua hanya terdapat dalam perairan
yang memiliki kondisi anaerob. Keberadaan besi pada kerak bumi
menempati posisi keempat terbesar. Besi ditemukan dalam bentuk
kation ferro (Fe2+) dan ferri (Fe3+). Pada perairan alami, besi
berikatan dengan anion membentuk senyawa FeCl 2, Fe(HCO3), dan
Fe(SO4). Pada perairan yang diperuntukkan bagi keperluan domestik,
pengendapan ion ferri dapat mengakibatkan warna kemerahan pada
porselin, bak mandi, pipa air, dan pakaian. Kelarutan besi meningkat
dengan menurunnya pH (Effendi, 2007).
Fluoride merupakan sebuah senyawa yang sudah sering kita
dengar dan bahkan kita pun sering memanfaatkannya karena ini
suatu garam fluoride yang kerap dijumpai di dalam alam dan berupa
sodium fluoroide, magnesium fluoride, ammonium fluorofosfat,
ammonium fluoride, calcium fluoride, hexadesil ammonium fluoride,
dan ammonium fluorosilikat serta aluminium fluoride serta garam
lainnya.
Tingkat keasaman atau pH merupakan ukuran konsentrasi ion
hidrogen dari larutan. Air dikatakan basa apabila pH lebih dari 7 dan
dikatakan asam apabila pH kurang dari 7. Secara ilmiah pH suatu
perairan dipengaruhi oleh konsentrasi karbondioksida dan senyawa
33
yang bersifat asam. pH air yang kurang dari 6 atau lebih dari 8,5
perlu diwaspadai karena ada pencemaran diperairan tersebut, hal ini
juga dapat menyebabkan terjadinya gangguan metabolisme dan
respirasi hewan laut.
c. Hasil Pemeriksaan Parameter Biologi
Hasil pemeriksaan kualitas air minum parameter Biologi dapat dilihat
sebagai berikut.
No. Kabupaten/Kota Biologi %
1 Bantul 23 27.05
2 Gunungkidul 1 1.17
3 Kulonprogo 10 11.76
4 Sleman 28 32.94
5 Yogyakarta 23 27.05
Jumlah 85 100
Sumber : Bidang ADKL BBTKLPP Yogyakarta
Grafik 3 Gambaran Hasil Pemeriksaan Air Minum Parameter Biologi
Berdasarkan asal Kabupaten/Kota Daerah Istimewa
Yogyakarta Tri Wulan Pertama (Desember 2018-Februari
2019)
Parameter kualitas bakteriologis yang diperiksa pada Grafik 5
adalah Total coliform dan Escherichia coli. Grafik 5 menunjukkan
bahwa sampel yang tidak memenuhi syarat kualitas bakteriologis ada
35 dari 85 sampel. Jumlah sampel terbanyak yang tidak memenuhi
syarat adalah dari Kabupaten Sleman sebanyak 28 ( 32,94%)
sampel, Kota Yogyakarta dengan jumlah 23 ( 27,05%) sampel,
Kabupaten Bantul sebanyak 23 (27.05%) sampel, Kabupaten
Kulonprogo sebanyak 10 (11,76%) sampel, dan Gunungkidul
sebanyak 1 (1,17%) sampel.
Parameter biologi di lima Kabupaten/Kota di D.I Yogyakarta
yang tidak memenuhi syarat paling banyak adalah parameter total
Coliform sejumlah 35 sampel (NAB Total Coliform dan [Link] 0
CFU/100ml, hasil 1 – TNCT CFU/100ml).
Keberadaan Total coliform dan E. coli pada air minum
merupakan indikator adanya kontaminasi tinja manusia. Air dengan
kandungan organisme ini apabila diminum maka dapat menyebabkan
34
penyakit diare dan infeksi saluran kencing (Brooks, 2005).
Penanggulangan Total coliform dan E. coli pada air minum dapat
dilakukan dengan desinfeksi menggunakan larutan klorin atau
memasak air sebelum dikonsumsi hingga benar-benar mendidih
(Chandra, 2014).
E. coli merupakan penyebab paling banyak dari infeksi sistem
saluran kencing (ISK). Gejala dan tanda-tanda ISK ini antara lain
frekuensi kencing, dysuria (susah buang air kecil), hematuria (ada
darah dalam urin), dan pyuria (ada pus dalam urin) (Brooks etc.,
2005).
E. coli juga menjadi penyebab penyakit diare. E. Coli dapat
diklasifikasikan berdasarkan sifat dan karakteristik virulensinya antara
lain Enterophatogenic E coli (EPEC), Enterotoxigenic E coli (ETEC),
Enterohemorrhagic E coli (EHEC), Enteroinvasive E coli (EIEC), dan
Enteroagregative E coli (EAEC) (Brooks etc., 2005)
35
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan Praktek Kerja Lapangan yang saya lakukan di
BBTKLPP Yogyakarta pada tahun 2019 khususnya di Bidang ADKL pada
proses pengolahan data air bersih Daerah Istimewa Yogyakarta dapat
disimpulkan bahwa hasil pemeriksaan yang saya input dengan
menggunakan software [Link] dan aplikasi SPSS versi 21 merupakan
data yang hasil akhirnya akan diolah lebih lanjut oleh pembimbing di bidang
ADKL. Praktek kerja lapangan yang saya lakukan di bidang Analisis Dampak
Kesehatan Lingkungan banyak mendapat pengetahuan baru dengan adanya
proses pengolahan data pasif serta inspeksi sanitasi kesehatan seperti
desiminasi arus mudik.
1. Kesimpulan Pemeriksaan Air Bersih Daerah Istimewa Yogyakarta
Informasi ini bukan merupakan gambaran kualitas air bersih
Daerah Istimewa Yogyakarta secara keseluruhan, tetapi dapat dipakai
sebagai masukan bagi instansi pemerintah dan swasta, juga masyarakat
untuk kewaspadaan dini tentang adanya pencemaran di lingkungan
sekitar tempat tinggalnya.
Kesimpulan yang dapat dikemukakan berdasarkan hasil kajian
data pasif kualitas contoh uji air bersih pada Tri Wulan Pertama
(Desember 2018-Februari 2019) di wilayah D.I Yogyakarta sebagai
berikut:
a. Jumlah contoh uji air bersih Tri Wulan Pertama (Desember 2018-
Februari 2019) yang diperiksa adalah 351 contoh uji yang berasal dari
5 Kabupaten/Kota yang ada di DIY
b. Contoh uji air bersih parameter fisik kimia sebanyak 137 dan
parameter biologi sebanyak 214 contoh uji.
c. Gambaran kualitas air bersih dilihat dari parameter fisik, kimia dan
biologi adalah sebagai berikut:
36
1) Contoh uji yang tidak memenuhi syarat parameter fisik ada 30
dari 137 contoh uji yang terdiri dari berasa, berwarna, keruh dan
bau.
2) Contoh uji yang tidak memenuhi syarat parameter kimia ada 36
dari 137 contoh uji, penyebab tidak memenuhi syarat karena
didapatkan adanya beberapa parameter yang melebihi baku mutu
yaitu deterjen, nitrat, nitrit, pH, Mn, KMNO4 dan Fe.
3) contoh uji yang tidak memenuhi syarat kualitas biologi ada 130
dari 214 contoh uji yang terdiri dari kombinasi parameter Total
Coliform dan E. Coli, Total Coliform serta E. Coli.
2. Kesimpulan Pemeriksaan Air Minum Daerah Istimewa Yogyakarta
Informasi ini bukan merupakan gambaran kualitas air minum
Daerah Istimewa Yogyakarta secara keseluruhan, tetapi dapat dipakai
sebagai masukan bagi instansi pemerintah dan swasta, juga masyarakat
untuk kewaspadaan dini tentang adanya pencemaran di lingkungan
sekitar tempat tinggalnya.
Kesimpulan yang dapat dikemukakan berdasarkan hasil kajian
data pasif kualitas contoh uji air minum pada Tri Wulan Pertama
(Desember 2018-Februari 2019) di wilayah D.I Yogyakarta dan wilayah
Jawa Tengah sebagai berikut:
a. Jumlah sampel air minum Tri Wulan Pertama (Desember 2018-
Februari 2019) yang diperiksa adalah 279 sampel yang berasal dari
5 Kabupaten/Kota yang ada di DIY
b. Sampel air minum dari PDAM sebanyak 99 dan non PDAM
sebanyak 180
c. Gambaran kualitas air minum dilihat dari parameter fisik, kimia dan
biologi adalah sebagai berikut:
1) Sampel yang tidak memenuhi syarat parameter fisik ada 6
dari 97 sampel dengan rincian sebagai berikut: 4 sampel tidak
memenuhi syarat bau dan warna, dua sampel tidak memenuhi
syarat kekeruhan dan rasa.
2) Sampel yang tidak memenuhi syarat parameter kimia ada 14
dari 97 sampel, penyebab tidak memenuhi syarat karena
37
didapatkan adanya beberapa parameter yang melebihi baku
mutu yaitu: Besi, Mangan, Nitrat, Flourida, dan pH.
3) Sampel yang tidak memenuhi syarat kualitas biologi ada 41
dari 85 sampel yang terdiri dari gabungan parameter Total
Coliform dan E. Coli sejumlah 6 sampel dan Total Coliform 35
sampel.
B. Saran
1. Bagi Mahasiswa
Sebaiknya mahasiswa PKL lebih aktif lagi dalam mengikuti kegiatan di
Bidang ADKL
2. Bagi Jurusan Kesehatan Lingkungan
Institusi tetap menjaga hubungan baik dengan BBTKLPP Yogyakarta agar
mahasiswa satu almamater yang akan PKL dipermudah dalam urusan
perizinannya
3. Bagi BBTKLPP Yogyakarta
a. Pada saat orientasi PKL, informasi yang disampaikan harus secara
rinci dan jelas. Hal tersebut bertujuan untuk memudahkan mahasiswa
dalam melaksanakan PKL
b. Bagi Bidang ADKL, sebaiknya dalam mempersiapkan salah satu
kegiatan dipersiapkan secara baik dikarenakan pada saat kegiatan
akan berlangsung tidak ada hal yang tertinggal
c. Sebaiknya disetiap bidang memiliki program kegiatan untuk
mahasiswa PKL
d. Pada Wilayah padat penduduk sebaiknya dibuatkan IPAL domistik
komunal untuk mengurangi septic tank perorangan dan mengurangi
pencemaran air bersih.
4. Bidang Pengembangan Teknologi Laboratorium BBTKLPP Yogyakarta
Melakukan upaya teknologi tepat guna untuk meningkatkan kualitas air
bersih yang tidak memenuhi syarat menjadi memenuhi syarat, yaitu:
Parameter fisik (bau, keruh, rasa dan warna)
Parameter kimia (pH, Fe, nitrat, deterjen dan zat organik)
Parameter biologi (Total Coliform dan E. Coli)
38
DAFTAR PUSTAKA
Suharsa. (2018). Contoh Hasil Uji Paramater Air Bersih Wilayah DIY dan Jawa
Tengah. Yogyakarta: Bidang ADKL BBTKLPP.
BIBLIOGRAPHY Admin Web BBPTKLPP Yogyakarta. (2018, Mei 27). Sejarah
BBTKLPP. Diambil kembali dari [Link]: [Link]