SATUAN ACARA PENYULUHAN
Topik : Penyakit
Sub Topik : Diabetes Melitus (DM)
Hari Tanggal :
Waktu : 30 Menit
Penyuluh / Pembicara :
Peserta / Sasaran : Pasien / Keluarga Pasien
Jumlah : 20 orang
Tujuan Umum : Setelah mengikuti penyuluhan ini peserta diharapkan mampu
memahami tentang penyakit Diabetes Melitus
Tujuan Khusus : Pada akhir pertemuan peserta dapat
1. Mengerti dan menjelsakan tentang pengertian
2. Mengerti dan menjelsakan tentang penyebab
3. Menjelsakan tentang ciri dan gejala penyakit
4. Mengerti dan menjelsakan tentang komplikasi
5. Mengerti dan menjelsakan tentang pengobatan
6. Mengerti dan menjelsakan tentang pencegahan
Metode : Ceramah dan Tanya Jawab
Media : Laflet
Kegiatan
No. Kegiatan (Waktu) Materi
1. Pembukaan (3 Menit) Mengucapkan salam dan menjelaskan pertemuan
Menjelaskan tujuan umum dan tujuan khusus pertemuan
Menyampaikan waktu dan kontrak waktu yang akan
digunakan.
2. Proses (17 Menit) Isi materi peyuluhan
Menjelaskan tentang pengertian
Menjelaskan tentang penyebab
Menjelaskan ciri dan gejala
Menjelaskan komplikasi
Menjelaskan pengobatan
Menjelaskan tentang pencegahan
3. Evaluasi (7 Menit) Memberikan pertanyaan kepada peserta secara
bergantian
Memberikan kesempatan kepada peserta untuk bertanya
Mengevaluasi pemahaman seluruh peserta tentang
materi penyuluhan
4. Penutup (3 Menit) Penyuluh mengucapkan terima ksaih atas perhatian
peserta
Mengucapkan salam penutup
Lampiran
Materi Penyuluhan
Definisi
Diabetes adalah penyakit yang berlangsung lama atau kronis serta ditandai dengan
kadar gula (glukosa) darah yang tinggi atau di atas nilai normal. Glukosa yang
menumpuk di dalam darah akibat tidak diserap sel tubuh dengan baik dapat
menimbulkan berbagai gangguan organ tubuh. Jika diabetes tidak dikontrol dengan
baik, dapat timbul berbagai komplikasi yang membahayakan nyawa penderita.
Glukosa merupakan sumber energi utama bagi sel tubuh manusia. Kadar gula
dalam darah dikendalikan oleh hormon insulin yang diproduksi oleh pankreas,
yaitu organ yang terletak di belakang lambung. Pada penderita diabetes,
pankreas tidak mampu memproduksi insulin sesuai kebutuhan tubuh. Tanpa
insulin, sel-sel tubuh tidak dapat menyerap dan mengolah glukosa menjadi
energi.
Jenis-jenis Diabetes
Secara umum, diabetes dibedakan menjadi dua jenis, yaitu diabetes tipe 1 dan
tipe 2. Diabetes tipe 1 terjadi karena sistem kekebalan tubuh penderita
menyerang dan menghancurkan sel-sel pankreas yang memproduksi insulin. Hal
ini mengakibatkan peningkatan kadar glukosa darah, sehingga terjadi kerusakan
pada organ-organ tubuh. Diabetes tipe 1 dikenal juga dengan diabetes autoimun.
Pemicu timbulnya keadaan autoimun ini masih belum diketahui dengan pasti.
Dugaan paling kuat adalah disebabkan oleh faktor genetik dari penderita yang
dipengaruhi juga oleh faktor lingkungan.
Diabetes tipe 2 merupakan jenis diabetes yang lebih sering terjadi. Diabetes
jenis ini disebabkan oleh sel-sel tubuh yang menjadi kurang sensitif terhadap
insulin, sehingga insulin yang dihasilkan tidak dapat dipergunakan dengan baik
(resistensi sel tubuh terhadap insulin). Sekitar 90-95% persen penderita diabetes
di dunia menderita diabetes tipe ini.
Selain kedua jenis diabetes tersebut, terdapat jenis diabetes khusus pada ibu
hamil yang dinamakan diabetes gestasional. Diabetes pada kehamilan
disebabkan oleh perubahan hormon, dan gula darah akan kembali normal
setelah ibu hamil menjalani persalinan.
Gejala Diabetes
Diabetes tipe 1 dapat berkembang dengan cepat dalam beberapa minggu,
bahkan beberapa hari saja. Sedangkan pada diabetes tipe 2, banyak
penderitanya yang tidak menyadari bahwa mereka telah menderita diabetes
selama bertahun-tahun, karena gejalanya cenderung tidak spesifik. Beberapa
gejala diabetes tipe 1 dan tipe 2 meliputi:
Sering merasa haus.
Sering buang air kecil, terutama di malam hari.
Sering merasa sangat lapar.
Turunnya berat badan tanpa sebab yang jelas.
Berkurangnya massa otot.
Terdapat keton dalam urine. Keton adalah produk sisa dari pemecahan otot
dan lemak akibat tubuh tidak dapat menggunakan gula sebagai sumber
energi.
Lemas.
Pandangan kabur.
Luka yang sulit sembuh.
Sering mengalami infeksi, misalnya pada gusi, kulit, vagina, atau saluran
kemih.
Beberapa gejala juga bisa menjadi tanda bahwa seseorang mengalami
diabetes, antara lain:
Mulut kering.
Rasa terbakar, kaku, dan nyeri pada kaki.
Gatal-gatal.
Disfungsi ereksi atau impotensi.
Mudah tersinggung.
Mengalami hipoglikemia reaktif, yaitu hipoglikemia yang terjadi
beberapa jam setelah makan akibat produksi insulin yang berlebihan.
Munculnya bercak-bercak hitam di sekitar leher, ketiak, dan
selangkangan, (akantosis nigrikans) sebagai tanda terjadinya
resistensi insulin.
Beberapa orang dapat mengalami kondisi prediabetes, yaitu kondisi ketika
glukosa dalam darah di atas normal, namun tidak cukup tinggi untuk didiagnosis
sebagai diabetes. Seseorang yang menderita prediabetes dapat menderita
diabetes tipe 2 jika tidak ditangani dengan baik.
Faktor Risiko Diabetes
Seseorang akan lebih mudah mengalami diabetes tipe 1 jika memiliki faktor-
faktor risiko, seperti:
Memiliki keluarga dengan riwayat diabetes tipe 1.
Menderita infeksi virus.
Orang berkulit putih diduga lebih mudah mengalami diabetes tipe 1
dibandingkan ras lain.
Bepergian ke daerah yang jauh dari khatulistiwa (ekuator).
Diabetes tipe 1 banyak terjadi pada usia 4-7 tahun dan 10-14 tahun,
walaupun diabetes tipe 1 dapat muncul pada usia berapapun.
Sedangkan pada kasus diabetes tipe 2, seseorang akan lebih mudah mengalami
kondisi ini jika memiliki faktor-faktor risiko, seperti:
Kelebihan berat badan.
Memiliki keluarga dengan riwayat diabetes tipe 2.
Kurang aktif. Aktivitas fisik membantu mengontrol berat badan, membakar
glukosa sebagai energi, dan membuat sel tubuh lebih sensitif terhadap
insulin. Kurang aktif beraktivitas fisik menyebabkan seseorang lebih mudah
terkena diabetes tipe 2.
Usia. Risiko terjadinya diabetes tipe 2 akan meningkat seiring bertambahnya
usia.
Menderita tekanan darah tinggi (hipertensi).
Memiliki kadar kolesterol dan trigliserida abnormal. Seseorang yang memiliki
kadar kolesterol baik atau HDL (high-density lipoportein) yang rendah dan
kadar trigliserida yang tinggi lebih berisiko mengalami diabetes tipe 2.
Khusus pada wanita, ibu hamil yang menderita diabetes gestasional
dapat lebih mudah mengalami diabetes tipe 2. Selain itu, wanita yang
memiliki riwayat penyakit polycystic ovarian syndrome (PCOS) juga lebih
mudah mengalami diabetes tipe 2.
Diagnosis Diabetes
Gejala diabetes biasanya berkembang secara bertahap, kecuali diabetes tipe
1 yang gejalanya dapat muncul secara tiba-tiba. Dikarenakan diabetes
seringkali tidak terdiagnosis pada awal kemunculannya, maka orang-orang
yang berisiko terkena penyakit ini dianjurkan menjalani pemeriksaan rutin. Di
antaranya adalah:
Orang yang berusia di atas 45 tahun.
Wanita yang pernah mengalami diabetes gestasional saat hamil.
Orang yang memiliki indeks massa tubuh (BMI) di atas 25.
Orang yang sudah didiagnosis menderita prediabetes.
Tes gula darah merupakan pemeriksaan yang mutlak akan dilakukan untuk
mendiagnosis diabetes tipe 1 atau tipe 2. Hasil pengukuran gula darah akan
menunjukkan apakah seseorang menderita diabetes atau tidak. Dokter akan
merekomendasikan pasien untuk menjalani tes gula darah pada waktu dan
dengan metode tertentu. Metode tes gula darah yang dapat dijalani oleh
pasien, antara lain:
Tes gula darah sewaktu. Tes ini bertujuan untuk mengukur kadar
glukosa darah pada jam tertentu secara acak. Tes ini tidak
memerlukan pasien untuk berpuasa terlebih dahulu. Jika hasil tes gula
darah sewaktu menunjukkan kadar gula 200 mg/dL atau lebih, pasien
dapat didiagnosis menderita diabetes.
Tes gula darah puasa. Tes ini bertujuan untuk mengukur kadar
glukosa darah pada saat pasien berpuasa. Pasien akan diminta
berpuasa terlebih dahulu selama 8 jam, kemudian menjalani
pengambilan sampel darah untuk diukur kadar gula darahnya. Hasil
tes gula darah puasa yang menunjukkan kadar gula darah kurang dari
100 mg/dL menunjukkan kadar gula darah normal. Hasil tes gula darah
puasa di antara 100-125 mg/dL menunjukkan pasien menderita
prediabetes. Sedangkan hasil tes gula darah puasa 126 mg/dL atau
lebih menunjukkan pasien menderita diabetes.
Tes toleransi glukosa. Tes ini dilakukan dengan meminta pasien
untuk berpuasa selama semalam terlebih dahulu. Pasien kemudian
akan menjalani pengukuran tes gula darah puasa. Setelah tes tersebut
dilakukan, pasien akan diminta meminum larutan gula khusus.
Kemudian sampel gula darah akan diambil kembali setelah 2 jam
minum larutan gula. Hasil tes toleransi glukosa di bawah 140 mg/dL
menunjukkan kadar gula darah normal. Hasil tes tes toleransi glukosa
dengan kadar gula antara 140-199 mg/dL menunjukkan kondisi
prediabetes. Hasil tes toleransi glukosa dengan kadar gula 200 mg/dL
atau lebih menunjukkan pasien menderita diabetes.
Tes HbA1C (glycated haemoglobin test). Tes ini bertujuan untuk
mengukur kadar glukosa rata-rata pasien selama 2-3 bulan ke
belakang. Tes ini akan mengukur kadar gula darah yang terikat pada
hemoglobin, yaitu protein yang berfungsi membawa oksigen dalam
darah. Dalam tes HbA1C, pasien tidak perlu menjalani puasa terlebih
dahulu. Hasil tes HbA1C di bawah 5,7 % merupakan kondisi normal.
Hasil tes HbA1C di antara 5,7-6,4% menunjukkan pasien mengalami
kondisi prediabetes. Hasil tes HbA1C di atas 6,5% menunjukkan
pasien menderita diabetes.
Hasil dari tes gula darah akan diperiksa oleh dokter dan diinformasikan
kepada pasien. Jika pasien didiagnosis menderita diabetes, dokter akan
merencanakan langkah-langkah pengobatan yang akan dijalani. Khusus bagi
pasien yang dicurigai menderita diabetes tipe 1, dokter akan
merekomendasikan tes autoantibodi untuk memastikan apakah pasien
memiliki antibodi yang merusak jaringan tubuh, termasuk pankreas.
Pengobatan Diabetes
Pasien diabetes diharuskan untuk mengatur pola makan dengan
memperbanyak konsumsi buah, sayur, protein dari biji-bijian, serta makanan
rendah kalori dan lemak. Pasien diabetes dan keluarganya dapat
berkonsultasi dengan dokter atau dokter gizi untuk mengatur pola makan
sehari-hari.
Untuk membantu mengubah gula darah menjadi energi dan meningkatkan
sensitivitas sel terhadap insulin, pasien diabetes dianjurkan untuk
berolahraga secara rutin, setidaknya 10-30 menit tiap hari. Pasien dapat
berkonsultasi dengan dokter untuk memilih olahraga dan aktivitas fisik yang
sesuai.
Pada diabetes tipe 1, pasien akan membutuhkan terapi insulin untuk
mengatur gula darah sehari-hari. Selain itu, beberapa pasien diabetes tipe 2
juga disarankan untuk menjalani terapi insulin untuk mengatur gula darah.
Insulin tambahan tersebut akan diberikan melalui suntikan, bukan dalam
bentuk obat minum. Dokter akan mengatur jenis dan dosis insulin yang
digunakan, serta memberitahu cara menyuntiknya.
Pada kasus diabetes tipe 1 yang berat, dokter dapat merekomendasikan
operasi pencangkokan (transplantasi) pankreas untuk mengganti pankreas
yang mengalami kerusakan. Pasien diabetes tipe 1 yang berhasil menjalani
operasi tersebut tidak lagi memerlukan terapi insulin, namun harus
mengonsumsi obat imunosupresif secara rutin.
Pada pasien diabetes tipe 2, dokter akan meresepkan obat-obatan, salah
satunya adalah metformin, obat minum yang berfungsi untuk menurunkan
produksi glukosa dari hati. Selain itu, obat diabetes lain yang bekerja dengan
cara menjaga kadar glukosa dalam darah agar tidak terlalu tinggi setelah
pasien makan, juga dapat diberikan.
Pasien diabetes harus mengontrol gula darahnya secara disiplin melalui pola
makan sehat agar gula darah tidak mengalami kenaikan hingga di atas
normal. Selain mengontrol kadar glukosa, pasien dengan kondisi ini juga
akan diaturkan jadwal untuk menjalani tes HbA1C guna memantau kadar
gula darah selama 2-3 bulan terakhir.
Komplikasi Diabetes
Sejumlah komplikasi yang dapat muncul akibat diabetes tipe 1 dan 2 adalah:
Penyakit jantung
Stroke
Gagal ginjal kronis
Neuropati diabetik
Gangguan penglihatan
Depresi
Demensia
Gangguan pendengaran
Luka dan infeksi pada kaki yang sulit sembuh
Kerusakan kulit akibat infeksi bakteri dan jamur
Diabetes akibat kehamilan dapat menimbulkan komplikasi pada ibu
hamil dan bayi. Contoh komplikasi pada ibu hamil adalah preeklamsia.
Sedangkan contoh komplikasi yang dapat muncul pada bayi adalah:
Kelebihan berat badan saat lahir.
Kelahiran prematur.
Gula darah rendah (hipoglikemia).
Keguguran.
Penyakit kuning.
Meningkatnya risiko menderita diabetes tipe 2 pada saat bayi sudah
menjadi dewasa.
Pencegahan Diabetes
Diabetes tipe 1 tidak dapat dicegah karena pemicunya belum diketahui.
Sedangkan, diabetes tipe 2 dan diabetes gestasional dapat dicegah, yaitu
dengan pola hidup sehat. Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk
mencegah diabetes, di antaranya adalah:
Mengatur frekuensi dan menu makanan menjadi lebih sehat.
Menjaga berat badan ideal.
Rutin berolahraga.
Rutin menjalani pengecekan gula darah, setidaknya sekali dalam
setahun