Asuhan Keperawatan RDS pada Bayi
Asuhan Keperawatan RDS pada Bayi
Oleh :
KELOMPOK 3
Segala puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa .bahwa penulis
telah dapat membuat makalah tentang “Konsep Keperawatan Anak Dalam Konteks Keluarga”
walaupun banyak sekali hambatan dan kesulitan yang penulis hadapi dalam menyusun makalah
ini,dan mungkin makalah ini masih terdapat kekurangan dan belum bisa dikatakan sempurna
dikaranakan keterbatasan kemampuan penulis.
Oleh karena itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun
dari semua pihak terutama dari Bapak/Ibu dosen maupun teman-teman sekalian supaya penulis
dapat lebih baik lagi dalam menyusun sebuah makalah dikemudian hari, dan semoga makalah ini
berguna bagi siapa saja.
Penulis
i
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI........................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
C. Patofisiologi ........................................................................................... 5
D. Pathway .................................................................................................. 7
F. Klasifikasi ............................................................................................... 8
H. Pencegahan............................................................................................. 9
I. Penatalaksanaan ....................................................................................... 10
J. Komplikasi .............................................................................................. 11
A. Pengkajian .............................................................................................. 13
ii
E. Evaluasi Keperawatan ............................................................................ 32
A. Kesimpulan ............................................................................................ 35
B. Saran ....................................................................................................... 35
DAFTAR PUSTAKA
iii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pola pernafasan normal adalah teratur dengan waktu ekspirasi lebih panjang daripada
waktu inspirasi, karena pada inspirasi otot pernafasan bekerja aktif, sedangkan pada waktu
ekspirasi otot pernapasan bekerja secara pasif. Pada keadaan sakit dapat terjadi beberapa
kelainan pola pernapasan yang paling sering adalah takipneu. Ganguan pernafasan pada bayi
dan anak dapat disebabkan oleh berbagai kelainan organic, trauma, alargi, insfeksi dan lain-
lain. Gangguan dapat terjadi sejak bayi baru lahir.
RDS (Respiratory Distress Syndrome) atau disebut juga Hyaline membrane disease
merupakan hasil dari ketidak maturan dari paru-paru dimana terjadi gangguan pertukaran
gas. Berdasarkan perkiraan 30 % dari kematian neonatus diakibatkan oleh RDS atau
komplikasi yang dihasilkannya
Pada penyakit ini, terjadi karena kekurangan pembentukan atau pengeluaran surfaktan
sebuah kimiawi paru-paru. Surfaktan merupakan suatu campuran lipoprotein aktif dengan
permukaan yang melapisi alveoli dan mencegah alveoli kolaps pada akhir ekspirasi.
Secara klinis bayi dengan RDS menunjukkan takipnea (> 60 x/menit) , pernapasan cuping
hidung, retraksi interkosta dan subkosta, expiratory grunting (merintih) dalam beberapa jam
pertama kehidupan. Tanda-tanda klinis lain, seperti: hipoksemia dan polisitema. Tanda-tanda
lain RDS meliputi hipoksemia, hiperkabia, dan asidosis respiratory atau asidosis campuran.
Secara tinjauan kasus, di negara-negara Eropa sebelum pemberian rutin antenatal steroid
dan postnatalsurfaktan, terdapat angka kejadian RDS 2-3%, di USA 1,72% dari kelahiran
bayi hidupperiode 1986-1987. Sedangkan jaman modern sekarang ini dari pelayanan NICU
turun menjadi 1%.Di negara berkembang termasuk Indonesia belum ada laporan tentang
kejadian RDS.
1
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah konsep asuhan keperawatan pada pasien RDS pada anak?
2. Bagaimanakah contoh Kasus RDS konsep asuhan keperawatan pada anak?
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui konsep asuhan keperawatan pada pasieen RDS pada anak.
2. Untuk mengetahui kasus RDS konsep asuhan keperawatan pada anak.
2
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi
Respiratory Distress Syndrome (RDS) disebut juga Hyaline Membrane Disease (HMD),
merupakan sindrom gawat napas yang disebabkan defisiensi surfaktan terutama pada bayi
Sindrom gawat napas pada neonatus (SGNN), dalam bahasa Inggris disebut neonatal
respiratory distress syndrome (RDS) merupakan kumpulan gejala yang terdiri dari dispnea
atau hiperpnea dengan frekuensi pernapasan lebih dari 60 kali per menit; sianosis; merintih
intekostal pada saat inspirasi. Bila di dengar dengan stetoskop akan terdengar penurunan
Istilah SGNN merupakan istilah umum yang menunjukkan terdapatnya kumpulan gejala
tersebut pada neonatus. Sindrom ini dapat terjadi karena adanya kelainan di dalam atau di
luar paru. Beberapa kelainan paru yang menunjukkan sindrom ini adalah
B. Etiologi
RDS sering ditemukan pada bayi prematur. Insidens berbanding terbalik dengan usia
kehamilan dan berat badan. Artinya semakin muda usia kehamilan ibu. Semakin tinggi
3
kejadian RDS pada bayi tersebut. Sebaliknya semakin tua usia kehamilan, semakin rendah
kejadian RDS.
PMH ini 60-80% terjadi pada bayi yang umur kehamilannya kurang dari 28 minggu,
15-30% pada bayi antara 32 dan 36 minggu, sekitar 5% pada bayi yang lebih dari 37
minggu dan jarang pada bayi cukup bulan. Kenaikan frekuensi dihubungkan dengan bayi
dari ibu diabetes, persalinan sebelum umur kehamilan 37 minggu, kehamilan multi janin,
persalinan seksio sesaria, persalinan cepat, asfiksia, stress dingin dan adanya riwayat bahwa
bayi sebelumnya terkena, insidens tertinggi pada bayi preterm laki-laki atau kulit putih
4
C. Patofisiologi
Bayi prematur lahir dengan kondisi paru yang belum siap sepenuhnya untuk berfungsi
sebagai organ pertukaran gas yang efektif. Hal ini merupakan faktor kritis dalam terjadinya
tidak terjadi kola Surfaktan juga menyebabkan ekspansi yang merata dan jarang ekspansi
paru pada tekanan intraalveolar yang rendah. Kekurangan atau ketidakmatangan fungsi
sufaktan menimbulkan ketidakseimbangan inflasi saat inspirasi dan kolaps alveoli saat
ekspirasi tanpa surfaktan, janin tidak dapat menjaga parunya tetap mengembang. Oleh karena
itu, perlu usaha yang keras untuk mengembangkan parunya pada setiap hembusan napas
(ekspirasi), sehingga untuk bernapas berikutnya dibutuhkan tekanan negatif intratoraks yang
lebih besar dengan disertai usaha inspirasi yang lebih kuat. Akibatnya, setiap kali perapasan
menjadi sukar seperti saat pertama kali pernapasan (saat kelahiran). Sebagai akibatnya, janin
lebih banyak menghabiskan oksigen untuk menghasilkan energi ini daripada ia terima dan ini
menyebabkan bayi kelelahan. Dengan meningkatnya kekelahan, bayi akan semakin sedikit
menyebabkan atelektasis.
resistem (PVR) yang nilainya menurun pada ekspansi paru normal. Akibatnya, terjadi
hipoperfusi jaringan paru dan selanjutnya menurunkan aliran darah pulmonal. Di samping
itu, peningkatan PVR juga menyebabkan pembalikan parsial sirkulasi, darah janin dengan
arah aliran dari kanan ke kiri melalui duktus arteriosus dan foramen ovale.
5
Kolaps paru (atelektasis) akan menyebabkan gangguan vektilisasi pulmonal yang
menimbulkan hipoksia. Akibat dari hipoksia adalah kontraksi vaskularisasi pulmonal yang
asidosis metabolik pada bayi dan penurunan curah jantung yang menurunkan perfusi ke
organ vital. Akibat lain adalah kerusakan endotel kapiler dan epitel duktus alveolus yang
bersama-sama dengan jaringan epitel yang nekrotik membentuk suatu lapisan yang disebut
membran hialin. Membran hialin ini melapisi alveoli dan menghambat pertukaran gas.
Atelektasis menyebabkan paru tidak mampu mengeluarkan karbon dioksida dari sisa
vasokonstriksi yang semakin berat. Dengan penurunan sirkulasi paru dan perfusi alveolar,
PaO2 akan menurun tajam, pH juga akan menurun tajam, serta materi yang diperlukan untuk
Sintesis surfaktan dipengaruhi sebagian oleh pH, suhu dan perfusi normal, asfiksia,
hipoksemia dan iskemia paru terutama dalam hubungannya dengan hipovolemia, hipotensi
dan stress dingin dapat menekan sintesis surfaktan. Lapisan epitel paru dapat juga terkena
trauma akibat kadar oksigen yang tinggi dan pengaruh penatalaksanaan pernapasan yang
6
D. Pathway
E. Manifestasi Klinis
Penyakit membran hialin ini mungkin terjadi pada bayi prematur dengan berat badan
100-2000 gram atau masa gestasi 30-36 minggu. Jarang ditemukan pada bayi dengan berat
badan lebih dari 2500 gram. Sering disertai dengan riwayat asfiksia pada waktu lahir atau
tanda gawat bayi pada akhir kehamilan. Tanda gangguan pernapasan mulai tampak dalam 6-
8 jam pertama. Setelah lahir dan gejala yang karakteristik mulai terlihat pada umur 24-72
jam. Bila keadaan membaik, gejala akan menghilang pada akhir minggu pertama.
Gangguan pernapasan pada bayi terutama disebabkan oleh atelektasis dan perfusi paru
yang menurun. Keadaan ini akan memperlihatkan gambaran klinis seperti dispnea atau
hiperpneu, sianosis karena saturasi O2 yang menurun dan karena pirau vena-arteri dalam paru
atau jantung, retraksi suprasternal, epigastrium, interkostal dan respiratory grunting. Selain
tanda gangguan pernapasan, ditemukan gejala lain misalnya bradikardia (sering ditemukan
7
pada penderita penyakit membran hialin berat), hipotensi, kardiomegali, pitting oedema
terutama di daerah dorsal tangan/kaki, hipotermia, tonus otot yang menurun, gejala sentral
F. Klasifikasi
Derajat beratnya distress nafas dapat dinilai dengan menggunakan skor Downes.
Penilaian dengan sistem skoring ini sebaiknya dilakukan tiap setengah jam untuk menilai
progresivitasnya.
Skor
Pemeriksaan
0 1 2
Frekuensi napas < 60 x/menit 60 – 80 x/menit > 80 x/menit
Retraksi Tidak ada retraksi Retraksi ringan Retraksi berat
Sianosis hilang Sianosis menetap
Sianosis Tidak ada sianosis
dengan O₂ walaupun diberi O₂
Penurunan udara Tidak ada udara
Air entry Udara masuk
masuk masuk
Dapat di dengan Dapat didengar tanpa
Merintih Tidak merintih
dengan stetoskop alat bantu
8
G. Pemeriksaan Penunjang dan Diagnostik
H. Pencegahan
Faktor yang dapat menimbulkan kelainan ini adalah pertumbuhan paru yang belum
sempurna. Karena itu salah satu cara untuk menghindarkan penyakit ini ialah mencegah
kelahiran bayi yang maturitas parunya belum sempurna. Maturasi paru dapat dikatakan sempurna
bila produksi dan fungsi surfaktan telah berlangsung baik (Gluck, 1971) memperkenalkan suatu
cara untuk mengetahui maturitas paru dengan menghitung perbandingan antara lesitin dan
sfigomielin dalam cairan amnion.
Bila perbandingan lesitin/sfingomielin sama atau lebih dari dua, bayi yangakan lahir tidak
akan menderita penyakit membrane hialin, sedangkan bila perbandingan tadi kurang dari tiga
berati paru-paru bayi belum matang dan akan mengalami penyakit membrane hialin. Pemberian
9
kortikosteroid dianggap dapat merangsang terbentuknya surfaktan pada janin. Cara yang paling
efektif untuk menghindarkan penyakit ini ialah mencegah prematuritas.
I. Penatalaksanaan
a. Memberikan lingkungan yang optimal, suhu tubuh bayi harus selalu diusahakan agar
tetap dalam batas normal (36,5o-37oC) dengan cara meletakkan bayi dalam
jumlah yang disesuaikan dengan umur dan berat badan ialah 60-125 ml/kg BB/hari.
asidosis metabolik yang selalu dijumpai harus segera dikoreksi dengan memberikan
u/kg BB/hari atau ampisilin 100 mg/kg BB/hari, dengan atau tanpa gentamisin 3-5
mg/kg BB/hari.
eksogen (surfaktan dari luar), obat ini sangat efektif, namun harganya amat mahal.
2. Penatalaksanaan keperawatan
10
a) Pasang jalur infus intravena, sesuai dengan kondisi bayi, yang paling sering dan
d) Berikan Oksigen (2-3 liter/menit dengan kateter nasal) e. Jika bayi mengalami
apneu
lanjut
J. Komplikasi
1) Ruptur alveoli
memburuk dengan gejala klinis hipotensi, apnea, atau bradikardi atau adanya asidosis
yang menetap
2) Dapat timbul infeksi yang terjadi karena keadaan penderita yang memburuk dan
adanya perubahan jumlah leukosit dan thrombositopeni. Infeksi dapat timbul karena
tindakan invasiv seperti pemasangan jarum vena, kateter, dan alat-alat respirasi
11
Perdarahan intraventrikuler terjadi pada 20-40% bayi prematur dengan frekuensi
4) PDA dengan peningkatan shunting dari kiri ke kanan merupakan komplikasi bayi
dengan RDS terutama pada bayi yang dihentikan terapi surfaktannya. Komplikasi
jangka panjang dapat disebabkan oleh toksisitas oksigen, tekanan yang tinggi dalam
paru, memberatnya penyakit dan kurangnya oksigen yang menuju ke otak dan organ
lain.
2) Retinopathy premature
infeksi.
12
ASUHAN KEPERAWATAN
RESPIRATORY DISTRESS SYNDROME
A. PENGKAJIAN
1. Identitas pasien
Nama : Bayi Ny.W I
Tanggal lahir : 29 Mei 2018
Jenis kelamin : Perempuan
Alamat : Br. Yangapi Tembuku, Bangli
Agama : Islam
[Link] : 780763
[Link] : Neo Perempuan,KMK , PP Spontan, Gemeli dengan ibu
KPD Jam
Tanggal Masuk : 29 Mei 2018
2. Penanggung jawab
Nama : Tn. S
Usia : 29 Tahun
Alamat : Br. Yangapi Tembuku, Bangli
Agama : Islam
Jenis kelamin : Laki-laki
Hubungan dengan pasien : Orang tua
3. Keluhan Utama
Sesak nafas (+)
13
5. Riwayat Penyakit Dahulu
Ny. W I mengatakan tidak ada keluhan saat [Link]. W I hanya mengkonsumsi obat-
obatan yang diberikan oleh [Link]. W I tidak mempunyai riwayat penyakit deabetes
militus maupun hipertensi.
7. Riwayat Psikososial
Ny. W I sering menengok anaknya keruang Bakung bagian isolasi neonatus.
8. Riwayat Antenatal
Ny. W I mengatakan selama hamil rutin memeriksakan kandungannya ke bidan didekat
rumahnya setiap bulan.
9. Riwayat Natal
Bayi Ny. W I lahir pada tanggal 29 Mei 2018 jam 15.05 WIB secara [Link]. W I
mengatakan air ketuban sudah keluar sejak sebelum melahirkan. Ny.S mengatakan umur
kehamilannya baru ± 34 minggu, karena air ketubannya sudah keluar, maka oleh dokter
bayi Ny. W I harus segera dikeluarkan.
14
tidak tak
baik pernapasan 1 1
ada teratur
Lemah sedang baik tonus otot 1 2
tidak peka
merintih menangis 0 1
ada rangsang
Merah
biru jambu Merah
Warna 1 1
putih ujung-2 jambu
biru
Jumlah 5 7
15
d) Pola Aktivitas dan Istirahat
Bayi Ny. W I terlihat lemah di dalam inkubator, tangisnya masih merintih dan
geraknya belum aktif.
e) Latar Belakang Sosial dan Budaya
Ny. W I tidak merokok, tidak memiliki kebiasaan untuk diet ketat,Ny. W I tidak
memiliki pantangan makanan tertentu ketika hamil, Ny. W I tidak ketergantungan
maupun mengonsumsi obat psikotropika maupun alkohol/minuman keras.
f) Hubungan Psikologis
Ny. W I sering menjenguk [Link]. W I merasa khawatir dengan kondisi anaknya
yang menurutnya sangat [Link] pasien selalu berdoa agar anaknya segera diberi
kesembuhan dan segera pulang bersamanya.
g) Persepsi-Kognitif
Ny. W I tahu tentang kondisi bayinya, menurut Ny. W I bayinya dalam kondisi tidak
baik, dan terlihat sesak nafas sampai tulang dadanya terlihat tertarik, Ny. W I tahu
bahwa anaknya belum bisa disusui karena reflek menelannya dan menghisap masih
kurang sehingga harus dipasang selang makan.
16
Leher : Bersih,tidak ada pembesaran kelenjar tiroid.
Thorax : Simetris (kanan kiri sama), tarikan intercosta (+), retraksi dada (+),
dada cekung kebawah (di bawah px), RR=68x/menit, ditemukan
suara nafas ronki.
Cardio : HR = 184x/menit
Abdomen :Simetris, tidak ada lesi, terdapat bising usus 5 x/mnt.
Umbilikus : Tali pusat basah, tidak terjadi perdarahan, tidak terjadi infeksi,
terpasang infus umbilikalis D10%.
Genetalia :Labia mayora belum menutupi labia minora, tidak ada kelainan letak
lubang uretra
Anus : Tidak ada lesi, tak ada iritasi perineal, warna feces hitam lembek.
Ekstremitas : Akral dingin, Jumlahjari tangan 5/5, Jumlah jari kaki 5/5, tak ada
kelumpuhan, gerak kurang aktif.
Reflek :
Reflek Moro ; ketika ada suara agak keras di sekitar ruangan /
tempat inkubator maka pasien kurang merespon/ diam saja.
Reflek Sucking (Menghisab); Ketika di test dengan spuit diberikan
ASI, maka pasien tidak dapat menelan dengan sempurna ASI yang
diberikan dan selalu ada ASI yang keluar dari mulutnya.
Reflek Grasping (Menggenggam) ; ketika perawat meletakkan jari
telunjuknya ke tangan pasien, pasien dapat menggenggam jari
telunjuk perawat, namun genggaman masih lemah.
Reflek Tonic Neck (Menoleh); ketika perawat membuat gerakan /
suara di sekitar pasien, pasien kurang merespon.
Reflek Babinski (Sentuhan Telapak Kaki); Jika disentuh kakinya
oleh perawat, pasien akan menarik kakinya ke atas.
Reflek Menelan ; kurang, jika diberi munim lewat spuit maka ASI
kan keluar sebagian dari mulutnya,
13. Data Penunjang
17
No Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai normal
1 WBC 11,7 103/ul 9-30
2 RBC 3,95 106/ul 3,7 – 6,5
3 HGB 14,3 g/dl 14,9 – 23,7
4 HCT 42,5 % 47 – 75
5 MCV 107,6+ fL 80 – 99
6 MCH 36,2+ fL 27 – 31
7 MCHC 33,6 Pg 33 – 37
8 PLT 358 AG 103/ul 150 – 450
9 RDW 69 fL 35 – 45
10 PDW 11,1 fL 9 – 13
11 MPV 9,7 fL 7,2 – 11,1
12 P-LCR 21,8 % 15 – 25
12 LYM% 58,3 % 19 – 48
13 MXD% 7,7 % 0 -12
14 NEUT% 34,0- % 40 – 74
15 LYM# 6,8 103/ul 1 – 3,7
16 MXD# 0,9 103/ul 0 – 1,2
16 NEUT# 4,0 103/ul 1,5 – 7
17 Gol Darah O - -
14. Terapi
29-05-2013 :
O2 NCPAP 40% PEEP 5
Infus D10% 6 cc/jam
Injeksi :
Ampicillin-Sulbactam 2x85 mg (hari 1)
Gentamicyn 1x7,5 mg (hari 1)
30-05-2013:
O2 NCPAP 40% PEEP 5
18
Infus D10% 6 cc/jam
Injeksi :
Ampicillin-Sulbactam 2x85 mg (hari 2)
Gentamicyn 1x7,5 mg (hari 2)
31-05-2013
O2 NCPAP 35% PEEP 5
Infus TPN IL
Injeksi :
Ampicillin-Sulbactam 2x85 mg (hari 2)
Gentamicyn 1x7,5 mg (hari 2)
ANALISA DATA
No Data Fokus Problem Etiologi
19
o suara nafas ronki berfungsinya
o sianosis ventilator
o KU: Lemah
o RR = 68 x/menit
o Suhu = 36,70 C
o HR = 186 x/menit
- Terpasang O2 NCPAP 40 % PEEP
5 l/mnt
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Gangguan pertukaran gas b.d imaturitas paru dan neuromuskular, defisiensi surfaktan dan
ketidakstabilan alveolar.
2. Tidak efektifnya pola nafas yang berhubungan dengan ketidaksamaan nafas bayi dan
ventilator, tidak berfungsinya ventilator
3. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan
menghisap, penurunan motilitas usus.
20
4. Resiko tinggi gangguan termoregulasi : hipotermi b.d belum terbentuknya lapisan lemak
pada kulit.
C. INTERVENSI KEPERAWATAN
21
misalnya:
mengorok,
pernafasan
cuping hidung,
apnea
4. Lakukan
penghisapan
5. Penghisapan
selang
endotrakeal
sebelum
pemberian
surfaktan
6. Observasi
peningkatan
pengembangan
dada setelah
pemberian
surfaktan
22
x/menit tidaknya suara atau tidak ada
nafas dan ditemukan
b. Pernapasan 40-
adanya bunyi Hipoksemia dapat
60 x/menit
nafas tambahan menyebabkan
c. Takipneu atau
seperti crakles, iritabilitas dari
apneu tidak ada
dan wheezing miokardium
d. Sianosis tidak
7) Observasi Memaksimalkan
ada
adanya pertukaran oksigen
e. Tidak ada
somnolen, secara terus
pernafasan
confusion, menerus dengan
cuping hidung
apatis, dan tekanan yang sesuai
ketidakmampua Untuk mencegah
n beristirahat ARDS
8) Berikan
humidifier
oksigen dengan
masker CPAP
jika ada indikasi
9) Kolaborasi
dengan dokter
pemberikan
obat, jika ada
indikasi seperti
steroids,
antibiotik,
bronchodilator
dan
ekspektorant
23
Keperawatan dalam output penting untuk
waktu 3x24 jam b) Berikan ASI menentukan ketidak
intake nutrisi dapat atau susu seimbangan cairan
terpenuhi formula dengan sebagai dasar untuk
Bayi dapat prinsip gravitasi penggantian cairan
minum dengan dengan Memberikan
baik ketinggian 6– 8 makanan tanpa
BC seimbang inchi dari menurunkan tingkat
Berat Badan kepala bayi energi bayi
Bayi tidak turun c) Berikan infus D Untuk
lebih dari 10% 10% W sekitar menggantikan
D. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
24
Pukul [Link] Tindakan Keperawatan Respon pasien ttd
25
WIB karena pasien BAB feces coklat, konsistensi
lembek, jumlah kurang
lebih satu sendok makan.
DS : -
15.00 3 Mengecek residu lambung, DO : - Residu 0.5 cc lendir
WIB dan memasukan sesuai diet bening dibuang, ASI5 cc
pasien. dimasukan melalui OGT
DS : -
16.00 1,2,4 Mengukur suhu , RR, HR DO : Suhu : 36,5 0C
WIB RR : 48 x/Menit
HR : 154 x/menit
DS : -
18.00 3 Mengecek residu lambung, DO : - Residu 1 cc lendir, ASI
WIB dan memasukan sesuai diet 5 cc dimasukan melalui
pasien. OGT
H. Pasien tampak
mengunyah-ngunyah
selang OGT ketika ASI
dimasukan
DS : -
20.00 4 Memberikan terapi obat DO : - Obat injeksi cefotaxime 70
WIB Injeksi cefotaxime 70 mg mg masuk melalui
IV/Infus
DS : -
21.00 2 Mengganti popok pasien DO : - Pasien tenang, urine
WIB karena pasien BAK berwarna kuning,
DS : -
21.15 1,2,4 Mengukur suhu , RR, HR DO : Suhu : 36,80C
WIB RR : 44 x/Menit
HR : 150 x/menit
DS : -
26
23.00 1 Memberikan terapi O2 DO :- Pasien terpasang headbox
WIB headbox 2 liter/menit 2 liter/menit. Kulit tidak
mengalami sianosis,
Memonitor tanda-tanda akral hangat, warna kulit
sianosis, Memonitor warna kemerahan
kulit DS: -
27
DS : -
08.15 1,2,4 Mengukur suhu , RR, HR DO : Suhu : 36,50C
WIB RR : 40 x/Menit
HR : 148 x/menit
DS : -
09.00 1 Memberikan terapi DO : - Pasien terpasang headbox
WIB O2headbox 2 liter/menit 2 liter/menit. Kulit tidak
mengalami sianosis,
Memonitor tanda-tanda akral hangat, warna kulit
sianosis, Memonitor warna kemerahan
kulit DS : -
09.00 1 Memberikan terapi O2 DO : - Pasien terpasang headbox
WIB headbox 2 liter/menit 2 liter/menit. Kulit tidak
mengalami sianosis,
Memonitor tanda-tanda akral hangat, warna kulit
sianosis, Memonitor warna kemerahan
kulit DS : -
4. Memantau adanya DO : - Tak ada kemerahan pada
kemerahan atau area umbilikal tempat
pembengkakan pada area pemasangan infus
pemasangan infus. DS : -
10.00 3 Memonitor suhu inkubator. DO : -Suhu inkubator 350C
WIB DS: -
10.15 3 Mengecek residu lambung, DO:- Residu 1 cc lendir berwarna
WIB dan memasukan sesuai diet putih keruh dibuang, ASI
pasien. 5 cc dimasukan melalui
OGT
DS : -
12.00 1 Observasi RR DO : RR = 54 x/menit
WIB pasien,adanya suara I. Tak ada suara tambahan
tambahan/tidak, adanya yang abnormal, suara
28
retraksi dada. nafas vesikuler,
J. Tak ada gerakan cuping
hidung,
K. Terdapat retraksi dada
L. Kulit tidak sianosis
DS : -
12.15 3 Mengecek residu lambung, DO : - Residu 1 cc lendir
WIB dan memasukan asi sesuai berwarna putih keruh
diet pasien. dibuang, ASI 5 cc
dimasukan melalui OGT
M. Pasien tampak
mengunyah-ngunyah
selang OGT ketika ASI
dimasukan
DS : -
14.00 3 Mengganti popok pasien DO : - Pasien menanggis, warna
WIB karena pasien BAB feces coklat, konsistensi
lembek, jumlah kurang
lebih satu sendok makan.
DS : -
15.00 3 Mengecek residu lambung, DO : - Residu 0.5 cc lendir
WIB dan memasukan sesuai diet bening dibuang, ASI 5
pasien. cc dimasukan melalui
OGT
DS : -
16.00 1,2,4 Mengukur suhu , RR, HR DO : Suhu : 36,5 0C
WIB RR : 48 x/Menit
HR : 154 x/menit
DS : -
18.00 3 Mengecek residu lambung, DO : - Residu 1 cc lendir, ASI
WIB dan memasukan sesuai diet 5 cc dimasukan melalui
29
pasien. OGT
N. Pasien tampak
mengunyah-ngunyah
selang OGT ketika ASI
dimasukan
DS : -
20.00 4 Memberikan terapi obat DO : - Obat injeksi cefotaxime 70
WIB Injeksi cefotaxime 70 mg mg masuk melalui
IV/Infus
DS : -
21.00 2 Mengganti popok pasien DO : - Pasien tenang, urine
WIB karena pasien BAK berwarna kuning,
DS : -
21.15 1,2,4 Mengukur suhu , RR, HR DO : Suhu : 36,8 0C
WIB RR : 44 x/Menit
HR : 150 x/menit
DS : -
23.00 1 Memberikan terapi O2 DO : - Pasien terpasang headbox
WIB headbox 2 liter/menit 2 liter/menit. Kulit tidak
mengalami sianosis,
Memonitor tanda-tanda akral hangat, warna kulit
sianosis, Memonitor warna kemerahan
kulit DS : -
30
WIB
06.00 3 Mengecek residu lambung, DO : - Residu 1,5 cc lendir
WIB dan memasukan sesuai diet berwarna putih keruh
pasien. dibuang, ASI 5 cc
dimasukan melalui OGT
DS : -
07.00 2, 4 Menyibin pasien dengan air DO : - Pasien menangis ketika
WIB hangat, mengganti popok disibin dengan air
dengan popok yang bersih, hangat, popok sudah
melakukan perawatan tali diganti dengan yang
pusat, mengobservasi tanda- besih, tali pusat kuning
tanda infeksi pada tali pusat segar, tidak terjadi
infeksi pada tali pusat.
DS : -
08.00 4 Memberikan terapi obat DO : - Obat injeksi cefotaxime 70
WIB Injeksi cefotaxime 70 mg mg masuk melalui
IV/Infus
DS : -
08.15 1,2,4 Mengukur suhu , RR, HR DO : Suhu : 36,5 0C
WIB RR : 40 x/Menit
HR : 148 x/menit
DS : -
09.00 1 Memberikan terapi O2 DO : - Pasien terpasang headbox
WIB headbox 2 liter/menit 2 liter/menit. Kulit tidak
mengalami sianosis,
Memonitor tanda-tanda akral hangat, warna kulit
sianosis, Memonitor warna kemerahan
kulit DS : -
09.00 1 Memberikan terapi O2 DO : - Pasien terpasang headbox
WIB headbox 2 liter/menit 2 liter/menit. Kulit tidak
mengalami sianosis,
31
Memonitor tanda-tanda akral hangat, warna kulit
sianosis, Memonitor warna kemerahan
kulit DS : -
4. Memantau adanya DO : - Tak ada kemerahan pada
kemerahan atau area umbilikal tempat
pembengkakan pada area pemasangan infus
pemasangan infus. DS : -
10.00 3 Memonitor suhu inkubator. DO : - Suhu inkubator 350C
WIB DS : -
10.15 3 Mengecek residu lambung, DO : - Residu 1 cc lendir
WIB dan memasukan sesuai diet berwarna putih keruh
pasien. dibuang, ASI 5 cc
dimasukan melalui OGT
DS : -
E. EVALUASI
No Tanggal/jam Dx Evaluasi
32
V. Monitor retraksi dada,adanya suara napas
tambahan
[Link] terapi O2headbox 2 ltr/mnt
2. 2 mei 2018 II S:-
12.00 WIB O: - Suhu pasien 36.80 C
X. RR : 55x/m
Y. HR : 147x/m
Z. Pasien ditempatkan dalam incubator
dengan suhu incubator 350 C
AA. Akral hangat
BB. Tidak terjadi sianosis
A : Masalah teratasi
P : Pertahankan Intervensi
3. 3 mei 2018 III S:-
12.00 WIB O : - ASI 5 cc masuk melalui OGT
CC. BB 1400 gram
DD. Reflek menghisap dan
menelan masih lemah
A : Masalah belum teratasi
P : Lanjutkan Intervensi
EE. Monitor Vitalsign
FF. Pantau intake ASI
GG. Cek residu setiap 3 jam
HH. Timbang BB / hari
4. 3 Mei 2018 IV S :-
12.00 WIB O : - tidak terdapat kemerahan pada area
umbilikul pemasangan infuse
II. HR : 147 x/m
[Link] : 55 x/m
KK. Suhu : 36.80 C
33
A : Masalah teratasi sebagian
P : Lanjutkan Intervensi
LL. Monitor Vitalsign
MM. Pantau adanya tanda-tanda
infeksi
NN. Laksanakan terapi injeksi
cefotaxime 70 mg/12 jam dan gentamicin
7 mg/36 jam
34
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Respiratory Distress Syndrome (RDS) disebut juga Hyaline Membrane Disease (HMD),
merupakan sindrom gawat napas yang disebabkan defisiensi surfaktan terutama pada bayi
B. Saran
Semoga makalah ini dapat berguna bagi penyususun dan pembaca. Kritik dan saran
35
DAFTAR PUSTAKA
Herdman, T. 2017. Nanda Internasional IncDiagnosis Keperawatan Definisi & Klasifikasi 2015-
2017 Edisi [Link]: EGC
Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI. 1985. Buku Kuliah 3. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta :
Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran UI.
Suriadi & Yuliani. 2006. Buku Pegangan Praktik Klinik. Asuhan keperawatan pada Anak Edisi
2. Jakarta : Sagung Seto.
In Respiratory Distress Syndrome, surfactant deficiency leads to alveolar collapse (atelectasis) due to increased surface tension, impaired gas exchange, and decreased lung compliance. This results in clinical manifestations such as dyspnea, cyanosis, and respiratory acidosis, as the infant struggles to breathe without sufficient lung expansion capability .
The primary clinical signs of Respiratory Distress Syndrome (RDS) in neonates include nasal flaring, intercostal and subcostal retractions, and expiratory grunting. Other clinical signs can include hypoxemia, hypercapnia, and respiratory or mixed acidosis .
Short-term complications of Respiratory Distress Syndrome include air leaks such as pneumothorax and pneumomediastinum, infections due to invasive procedures, intraventricular hemorrhage, and patent ductus arteriosus (PDA) with left-to-right shunting, especially after surfactant therapy is discontinued .
Common risk factors for Respiratory Distress Syndrome (RDS) include prematurity, maternal diabetes, multiple births, cesarean delivery without labor, rapid labor, asphyxia, cold stress, and a history of RDS in previous infants. The condition is especially prevalent in preterm male infants or those born to white mothers .
The incidence of Respiratory Distress Syndrome (RDS) inversely correlates with gestational age and birth weight. RDS occurs in about 60-80% of infants born at less than 28 weeks gestation, 15-30% in those between 32 and 36 weeks, and only about 5% in full-term infants, declining further with increased gestational age .
Oxygen therapy is critical in managing Respiratory Distress Syndrome to correct hypoxemia and support respiration. However, it must be administered cautiously to avoid complications, such as pulmonary fibrosis and retinopathy of prematurity, resulting from excessive oxygen .
The severity of Respiratory Distress Syndrome in neonates is assessed using the Downes score, which evaluates respiratory rate, retraction level, cyanosis presence, air entry, and grunting. A score of less than 3 indicates mild distress, 4-5 indicates moderate distress, and greater than 6 indicates severe distress .
The Lecithin/Sphingomyelin (L/S) ratio in amniotic fluid is an indicator of fetal lung maturity. A ratio of 2 or more suggests sufficient surfactant production, decreasing the risk of developing Hyaline Membrane Disease. If the ratio is less than three, it indicates immature lungs and a higher likelihood of the disease .
Essential nursing interventions for neonates with Respiratory Distress Syndrome include maintaining clear airways, monitoring vital signs, administering oxygen, ensuring thermoregulation, and providing nutrition via nasogastric feeding. Regular assessments for complications such as apnea and blood glucose levels are also critical .
Corticosteroid administration to pregnant women can stimulate fetal surfactant production, enhancing lung maturity and reducing the incidence of Respiratory Distress Syndrome in preterm newborns. This preemptive measure is pivotal in preventing the disease in fetuses at risk of preterm birth .