0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
109 tayangan70 halaman

Struktur Organisasi Ruang Cilinaya RSD Mangusada

Struktur organisasi ruang perawatan anak cilinaya RSD Mangusada terdiri dari kepala ruangan, wakil kepala ruangan, dua perawat primer dan enam belas perawat asosiatif. Tenaga kesehatannya terdiri dari lima orang S1 keperawatan, sembilan orang DIII keperawatan dan dua orang DIII kebidanan yang telah mengikuti berbagai pelatihan. Pembagian tugas mencakup perencanaan, pengembangan staf, mutasi

Diunggah oleh

denikwidiantari
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
109 tayangan70 halaman

Struktur Organisasi Ruang Cilinaya RSD Mangusada

Struktur organisasi ruang perawatan anak cilinaya RSD Mangusada terdiri dari kepala ruangan, wakil kepala ruangan, dua perawat primer dan enam belas perawat asosiatif. Tenaga kesehatannya terdiri dari lima orang S1 keperawatan, sembilan orang DIII keperawatan dan dua orang DIII kebidanan yang telah mengikuti berbagai pelatihan. Pembagian tugas mencakup perencanaan, pengembangan staf, mutasi

Diunggah oleh

denikwidiantari
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

A.

PENGUMPULAN DATA
1. M1-Man
Struktur Organisasi Ruang Cilinaya RSD Mangusada.
Struktur organisasi Ruang Cilinaya RSD Mangusada terdiri dari kepala
ruangan, wakil kepala ruangan, perawat primer, ketua tim, perawat asosiate
serta 1 orang dibagian Administrasi.
Ruang perawatan Cilinaya RSD Mangusada dipimpin oleh seorang kepala
ruangan dengan dibantu satu wakil kepala ruangan, dua perawat Primer (PP),
masing-masing PP dibantu enam sampai dengan tujuh perawat Assosiate (PA),
satu tenaga administrasi dan empat tenaga cleaning services (CS). Adapun
struktur organisasi di ruang Cilinaya sebagai berikut:
Keterangan Bagan :
1. [Link] Rawat Inap/Intensif
2. Ka. Instalasi Rawat Inap
3. Kepala Ruang Cilinaya
4. Wakil Kepala Ruang Cilinaya
5. Perawat Primer (PP)
6. Perawat Assiosiatif (PA)

1
a. Struktur Ruang Perawatan Anak Cilinaya
STRUKTUR ORGANISASI UNIT KERJA
RUANG PERAWATAN ANAK CILINAYA RSD MANGUSADA

STRUKTUR ORGANISASI

RUANG RAWAT CILINAYA

[Link] Rawat Inap/Intensif

Ns Ni Nyoman Suardani, [Link]. MM

[Link] Rawat Inap

Dr. I Wayan Muliana

Kepala Ruangan

Ns. I Nengah Suarmayasa, [Link]

Wakil Kepala Ruangan

Ns Ni Nyoman Darmini [Link]


Administrasi Ruangan
Ni Nyoman Suartini

Perawat Primer I Perawat Primer II


Ida Ayu Intan Widhyantari A [Link] Ni Luh Meli Antari A [Link]

Perawat Assosiate I Perawat Assosiate II


1. Ni Made Wita Trisnasari, A Md Kep 1. Yuni Widiastari A Md. Kep
2. I.D.A.A Lilis Trisnayanti, A [Link] 2. Ni Luh Tiya Risna Dewi, A Md. Keb
3. Kadek Desy Ratnaswari, A [Link] 3. Ni Kadek Verayuni, A Md. Kep
4. Ni Luh Putu Eka Purnamasari, A [Link]
4. Ns Ni Nyoman Thrisna K.D S Kep
5. Ns Ni Made Arie Dwijayanti, [Link]
5. Ns Ari Swandani S Kep
6. Luh Gede Putu Nuning Ardiani, A [Link]
6. Ni Putu Yesi Rahayu A Md. Keb

2
b. Ketenagaan Ruang Cilinaya RSD Mangusada
1) Riwayat pendidikan, ketenagaan dan sertifikasi Ruang Cilinaya RSD
Mangusada
a) Tenaga keperawatan
1. Tenaga S1 sebanyak 5 orang
2. Tenaga DIII Keperawatan sebanyak 9 orang
3. Tenaga DIII Kebidanan sebanyak 2 orang
b) Tenaga Non Keperawatan
1. Tenaga Administrasi sebanyak 1 orang
2. Tenaga cleaning service sebanyak 3 orang
Tabel ketenagaan dan riwayat pendidikan perawat serta pelatihan yang
didapat:

Tabel
Ketenagaan dan Riwayat Pendidikan Perawat Ruang Cilinaya RSD
Mangusada

Status Masa Pelatihan yang


No Nama Pendidikan
Ketenagaan Kerja pernah diikuti
1. Ns.I Nengah Kepala Ners 17 tahun BHD, BTCLS,
Suarmayasa, Ruangan ATCLS, PPI,
[Link] AKPAR, K3RS,
Service Excelen,
Case fix,
Manajemen Bangsal
2. Ns. Ni Nyoman Wakil Ners 17 tahun BHD, BTCLS,
Darmini, [Link] Kepala ATCLS, PPI,
Ruangan AKPAR, K3RS,
Service Excelen,
Case fix,
Manajemen Bangsal

3
3. Ni Luh Meli Perawat DIII Kep 8 tahun BHD, BTCLS,
Antari, Primer ATCLS, PPI,
[Link] AKPAR, K3RS
4. Ida Ayu Intan Perawat DIII Kep 8 tahun BHD, BTCLS,
Widiantari, Asosiate ATCLS, PPI,
[Link] AKPAR, K3RS
5. Ni Made Wita Perawat DIII Kep 8 tahun BHD, BTCLS,
Trisnasari, Asosiate ATCLS, PPI,
[Link] AKPAR, K3RS
6. I.D.A Lilis Perawat DIII Kep 5 tahun BHD, BTCLS,
Trisnayanti, Asosiate ATCLS, PPI,
[Link] AKPAR, K3RS
7. Kadek Desy Perawat DIII Kep 4 tahun BHD, BTCLS,
Ratnaswari, Asosiate ATCLS, PPI,
[Link] AKPAR, K3RS
8. Ni Luh Eka Perawat DIII Kep 4 tahun BHD, BTCLS,
Purnamasari, Asosiate ATCLS, PPI,
[Link] AKPAR, K3RS
9. Ns. Ni Made Arie Perawat Ners 4 tahun BHD, BTCLS,
Dwijayanti, Primer ATCLS, PPI,
[Link] AKPAR, K3RS
10. Luh Putu Nuning Perawat DIII Kep 8 tahun BHD, BTCLS,
Ardiani, Asosiate ATCLS, PPI,
[Link] AKPAR, K3RS
11. Kadek Yuni Perawat DIII Kep 8 tahun BHD, BTCLS,
Widhiastari, Asosiate ATCLS, PPI,
[Link] AKPAR, K3RS
12. Ni Kadek Perawat DIII Kep 8 tahun BHD, BTCLS,
Verayuni, Asosiate ATCLS, PPI,
[Link] AKPAR, K3RS
13. Ni Luh Tiya Perawat DIII Keb 5 tahun BHD, BTCLS,
Risna Dewi, Asosiate ATCLS, PPI,

4
[Link]. Keb AKPAR, K3RS

14. Ns. Ni Nyoman Perawat Ners 4 tahun BHD, BTCLS,


Thrisna Kumala Asosiate ATCLS, PPI,
D, [Link] AKPAR, K3RS
15. Ns. Ari Perawat Ners 4 tahun BHD, BTCLS,
Swandani, [Link] Asosiate ATCLS, PPI,
AKPAR, K3RS
16. Ni Putu Yesi Perawat DIII Keb 4 tahun BHD, BTCLS,
Rahayu, [Link]. Asosiate ATCLS, PPI,
Keb AKPAR, K3RS

Dilihat dari kuantitas, Ruang Cilinaya memiliki 16 orang perawat


(termasuk kepala ruangan, wakil kepala ruangan dengan kualifikasi
pendidikan terdiri dari 5 orang dengan pendidikan S1 Keperawatan Ners dan 9
orang dengan pendidikan DIII Keperawatan dan 2 orang pendidikan DIII
Kebidanan. Ruang Cilinaya RSD Mangusada yang berlatar belakang S1
Keperawatan Ners, DIII Keperawatan dan DIII Kebidanan sudah pernah
mengikuti pelatihan seperti; BHD, BTCLS, ATCLS, PPI, AKPAR, K3RS.

c. Pembagian tugas
1. Kepala Ruangan
a) Tugas
1) Membuatrencanakebutuhan : tenaga, alat, obat emergency,
alat/bahanhabispakai
2) Membuat program pengembanganstaf
3) Melaksanakan program mutasidanrotasi
4) Membuat jadwal dinas
5) Membuatlaporanbulanan
6) Membuatlaporanjaga
7) Membuatsensusharian
8) Menganalisiswork Load Index (WLI)

5
9) Mendelegasikan tugas
10) Melakukan rapat kordinasi
11) Melakukan diskusi refleksi kasus (DRK)
12) Melakukan pengendalian infeksi nosokomial
13) Mengadakan pertemua rutin
14) Melaksanakan sosialisasi hasil rapat, pelatihan, kebijakan,
Standar atau SOP (standar operasional prosedur) baru, hasil
audit
15) Mensupervisi dan melakukan evaluasi etika dan kinerja staf
16) Melaksanakan program bimbingan/coaching :pegawaibaru, staf,
dan mahasiswa.
17) Melakukan pengelolaan penyimpangan kinerja staf
18) Mengelola system penugasan staf
19) Mengkoordinir pertukaran jaga staf
20) Mengikuti pendidikan dan pelatihan
21) Melaksanakan pemantauan dan pengendalian infeksi nasokomial
22) Melaksanakan survey kepuasanpasien
23) Mensupervisi pengelolaan alat-alat medis, ala trumah tangga
habis pakai dan tenun
24) Mensupervisi pelaksanaan administrasi pada rekam medis dan
entry data pada SIMRS
25) Mensupervisi operan obat floor stock, high alert medicine, dan
obat emergency
26) Melakukan registrasi pasien masuk dan keluar
27) Melakukan kerjasama lintas unit dalam meningkatkan mutu
pelayanan
28) Melakukan operan tiap shift
29) Melakukan orientasi pasien baru
30) Memberikan penyuluhan perorangan, keluarga
31) Melakukan discharge planning

6
b) Wewenang
1) Mengkoordinir dan melaksanakan evaluasi pelaksanaan asuhan
keperawatan di ruang cilinaya
2) Memberi teguran kepada staff dibawahnya yang melanggar
ketentuan standar dan etika
3) Mengusulkan staf bawahannya dalam meningkatkan kompetensi
(pendidikan dan pelatihan
c) Tanggung jawab
Bertanggung jawab atas terpenuhinya tugas-Tugas di atas.
2. Wakil Kepala Ruangan
a) Tugas
1) Mencatat rencana kebutuhan : tenaga, alat, obat emergency,
alat/bahan habis pakai
2) Mengatur dan mendokumentasiakan mobilisasi alat - alat
kedokteran
3) Mendokumentasikan program pengembangan staf
4) Membuat jadwal dinas
5) Membuat laporan bulanan
6) Membuat laporan jaga
7) Membuat sensus harian
8) Menganalisis Work Load Index (WLI)
9) Mengikuti rapat kordinasi
10) Melakukan diskusi refleksi kasus (DRK)
11) Melakukan pengendalian infeksi nosokomial
12) Mengikuti pertemua rutin
13) Melaksanakan sosialisasi hasil rapat, pelatihan, kebijakan,
Standar atau SOP (standar operasional prosedur) baru, hasil audit
14) Mensupervisi dan melakukan evaluasi etika dan kinerja staf
15) Melaksanakan program bimbingan/coaching :pegawai baru, staf,
dan mahasiswa.
16) Melakukan pengelolaan penyimpangan kinerja staf
17) Mengelola system penugasan staf

7
18) Mengkoordinir pertukaran jaga staf
19) Mengikuti pendidikan dan pelatihan
20) Melaksanakan pemantauan dan pengendalian infeksi nasokomial
21) Melaksanakan survey kepuasan pasien
22) Mensupervisi pengelolaan alat-alat medis, alat rumah tangga
habis pakai dan tenun
23) Mensupervisi pelaksanaan administrasi pada rekam medis dan
entry data pada SIMRS
24) Mensupervisi operan obat floor stock, high alert medicine, dan
obat emergency
25) Melakukan registrasi pasien masuk dan keluar
26) Melakukan kerjasama lintas unit dalam meningkatkan mutu
pelayanan
27) Melakukan operan tiap shift
28) Melakukan orientasi pasien baru
29) Memberikan penyuluhan [Link]
30) Melakukan discharge planning
b) Wewenang
1) Merekomendasikan evaluasi pelaksanaan asuhan keperawatan di
Ruang Cilinaya kepada Kepala Ruangan
2) Mengusulkan staf bawahannya dalam meningkatkan kompetensi
(pendidikan dan pelatihan)
c) Tanggungjawab
Bertanggung Jawab atas Terpenuhinya Tugas-Tugas di atas.
3. Perawat Primer
a) Tugas
1) Melakukan absensi datang dan pulang
2) Register pasien baru
3) Membuat Work Load Index (WLI)
4) Membuat sensus harian
5) Membuat laporan obat habis
6) Melakukan pedokumentasian Asuhan keperawatan

8
7) Melengkapi administrasi pasien keluar,masuk, meninggal, rawat
jalan dan pulang paksa
8) Membuat amprahan dan perubahan makanan
9) Melakukan pendalian infeksi nasokomial
10) Melakukan survey kepuasan pasien
11) Melaksanakan RDK (refleksi diskusi kasus)
12) Melakukan orientasi pegawai baru
13) Memberikan penyuluhan kepada pasien dan keluarga pasien
14) Melakukan dischard planning/ perencanaan pulang
15) Membimbing mahasiswa
16) Melakukan evaluasi tindakan pelaksanaan Asuhan keperawatan di
tim-nya
17) Membuat survey kepuasan pelanggan
18) Membuat penugasan kepada anggota tim
19) Melakukan pertukaran jaga
20) Melakukan pelimpahan tugas
21) Mendampingi pasien dalam pengisian inform consent
22) Menjaga privasi pasien
23) Mendampingi pasien dalam keadaan kritis
24) Melakukan asuhan keperawatan
- Melakukan pengkajian
- Melakukan diagnosa keperawatan
- Menyusun rencana perawatan
- Melakukan tindakan keperawatan
- Melakukan tindakan keperawatan dasar/ komplek/ delegatif
- Memberiterapi O2 binasal, simple mask (SM)/rebreathing mask
(RM)/non rebrething mask (NRM)
- Membantu, memfasilitasi dan mempertahankan personal hygiene
- Mengatur dan merubah posisi pasien
- Mengukur vital sign yaitu : suhu, nadi, tekanan darah dan skala
nyeri
- Memberi makan dan minum

9
- Merawat luka
- Memberikan obat melalui intra vena (IV), intra muscular (IM),
sub cutan (SC), intra cutan (IC), Oral, Suppositoria dan topical
- Memasang infus
- Memasangnaso gastric tube (NGT)
- Memberikant ransfusi darah
- Memasang kateter
- Melakukan huknah tinggi/rendah
- Memasang dan merekam elektro kardio grafi (EKG)
- Mencatat intake dan output cairan
- Melakukan resusitasi jantung paru (RJP)
- Merawat jenazah
25) Fungsi kritis (critical care)
- Setting ventilator
- Merawat ventilator
- Melakukan suction dan bronchial washing
- Merawat ETT(endo tracheal tube)
- Asistensi melakukan ETT
- Merawat CVC (central venous catheter)
- Merawat WSD(water seal drainage)
- Melakukan defibrilasi/kardioversi
- Memasang syringe pump/infusion pump
- Melakukan nebulizer
- Mengubah pola ventilator
- Melakukan [Link]
b) Wewenang
1) Mengkoordinir dan melaksanakan asuhan keperawatan di tim nya
di Ruang Cilinaya
2) Melakukan koordinasi dengan dokter jaga atau MOD (manager
on duty) dan atau dokter spesialis terhadap kondisi pasien
3) Melakukan koordinasi dengan perawat supervisi terhadap
permasalahan di ruangan

10
c) Tanggungjawab
Bertanggung Jawab atas Terpenuhinya Tugas-Tugas di atas.
4. Perawat Assosiate
a) Tugas
1) Melakukan absensi datang dan pulang
2) Register pasien baru
3) Membuat Work Load Index (WLI)
4) Membuat sensus harian
5) Membuat laporan obat habis
6) Melakukan pedokumentasian Asuhan keperawatan
7) Melengkapia dministrasi pasien keluar,masuk, meninggal, rawat
jalan dan pulang paksa
8) Membuat amprahan dan perubahan makanan
9) Melakukan pendalian infeksi nasokomial
10) Melakukan survey kepuasanpasien
11) Melaksanakan RDK (refleksi diskusi kasus)
12) Melakukan orientasi pegawai baru
13) Melakukan orientasi pasien baru
14) Memberikan penyuluhan kepada pasien dan keluarga pasien
15) Melakukan dischard planning/ perencanan pulang
16) Membimbing mahasiswa
17) Melakukan evaluasi tindakan pelaksanaan Asuhan keperawatan di
tim-nya
18) Membuat survey kepuasan pelanggan
19) Membuat penugasan kepada anggota tim
20) Melakukan pertukaran jaga
21) Melakukan pelimpahan tugas
22) Mendampingi pasien dalam pengisian inform consent
23) Menjaga privasi pasien
24) Mendampingi pasien dalam keadaan kritis
25) Melakukan asuhan keperawatan
a. Melakukan pengkajian

11
b. Melakukan diagnose keperawatan
c. Menyusun rencana perawatan
d. Melakukan tindakan keperawatan
e. Melakukan tindakan keperawatan dasar/ komplek/ delegatif
f. Memberi terapi O2 binasal, simple mask (SM)/rebreathing
mask (RM)/non rebrething mask (NRM)
g. Membantu, memfasilitasi dan mempertahankan personal
hygiene
h. Mengatur dan merubah posisi pasien
i. Mengukur vital sign yaitu : suhu, nadi, tekanan darah dan skala
nyeri
j. Memberi makan dan minum
k. Merawat luka
l. Memberikan obat melalui intra vena (IV), intra muscular
(IM), sub cutan (SC), intra cutan (IC), Oral, Suppositoria dan
topical
m. Memasang infus
n. Memasang naso gastric tube (NGT)
o. Memberikan transfusi darah
p. Memasang kateter
q. Melakukan huknah tinggi/rendah
r. Memasang dan merekam elektro kardio grafi (EKG)
s. Mencatat intake dan output cairan
t. Melakukan resusitasi jantung paru (RJP)
u. Merawat jenazah
26) Fungsi kritis (critical care)
a. Setting ventilator
b. Merawat ventilator
c. Melakukan suction dan bronchial washing
d. Merawat ETT(endo tracheal tube)
e. Asistensi melakukan ETT
f. Merawat CVC (central venous catheter)

12
g. Merawat WSD (water seal drainage)
h. Melakukan defibrilasi/kardioversi
i. Memasang syringe pump/infusion pump
j. Melakukan nebulizer
k. Mengubah pola ventilator
l. Melakukan [Link]
b) Wewenang
Mengkoordinasi dengan ketua tim dalam melaksanakan asuhan
keperawatan di tim nya di Ruang Cilinaya
c) Tanggung jawab
Bertanggung Jawab atas Terpenuhinya Tugas-Tugas di atas.

Tabel
Pembagian Tugas Kepala Ruangan dan Staff
Data
No SDM Fungsi Standar Teori Pengkajian
Ya Tidak
1. Kepala Administrasi 1. Melakukan absensi √
Ruangan 2. Membuat jadwal jaga √
3. Membuat laporan jaga √
4. Membuat laporan (harian, √
bulanan, triwulan)
5. Membuat sensus harian √
6. Melakukan registrasi pasien √
masuk dan keluar
7. Membuat perencanaan kebutuhan √
tenaga, alat, fasilitas dan obat
8. Membuat laporan KLB √
9. Membuat program pemeliharaan √
alat dan fasilitas
10. Menyusun program:
a) Pengembangan staf √

13
b) Orientasi staf baru √
c) Bimbingan staf √
d) Membuat laporan kinerja staf √

Kepemimpinan 1. Mendelegasikan tugas √


2. Membimbing staf √
3. Membina kerja staf √
4. Membagi tugas harian √
5. Mengoordinasikan pertukaran √
jaga staf
6. Membuat usulan penilaian kinerja √
staf/daftar penilaian pelaksanaan
pekerjaan

Jaminan Mutu 1. Melaksanakan refleksi diskusi √


kasus
2. Melakukan pengendalian infeksi √
nosocomial
3. Melaksanakan gugus kendali √
mutu
4. Melakukan bimbingan/coach √
keterampilan staf
5. Melakukan survey kepuasan
pasien:
a) Angket √
b) Kotak saran √
c) Buku pesan dan kesan √
6. Mengikuti pendidikan/pelatihan √

Promosi 1. Melakukan operan jaga setiap √


shift
2. Melakukan orientasi staf √

14
3. Melakukan orientasi pasien baru √
4. Mengadakan rapat rutin ruangan √
5. Menyosialisasikan
a) Kebijakan √
b) Standar √
c) SOP √
6. Mengikuti rapat rutin dan √
coordinator
7. Memberi penyuluhan perorangan √
8. Memberi penyuluhan kelompok √
9. Melaksanakan PKM RS √
10. Melaksanakan discharge √
planning

Monitoring 1. Monitoring kerja staf √


2. Melakukan supervisi keperawatan √
RS
3. Melakukan evaluasi standar √
asuhan keperawatan
4. Memantau pelaksanaan, √
pengembangan/bimbingan staf

Advokasi 1. Melakukan informed concent √


2. Melakukan pendampingan pasien √
3. Menjaga privasi √
4. Menjaga kerahasiaan pasien √

2 STAFF Administrasi 1. Melakukan absensi √


2. Membuat laporan jaga √
3. Membuat sensus harian √
4. Melakukan registrasi pasien √
masuk dan keluar

15
Jaminan Mutu 1. Melaksanakan refleksi diskusi √
kasus
2. Melakukan pengendalian infeksi √
nosocomial
3. Melaksanakan gugus kendali √
mutu
4. Melakukan survey kepuasan
pasien:
a) Angket √
b) Kotak saran √
c) Buku pesan dan kesan √
5. Mengikuti pendidikan/pelatihan √

Promosi 1. Melakukan operan jaga setiap √


shift
2. Melakukan orientasi staf baru √
3. Melakukan orientasi pasien baru √
4. Mengadakan rapat rutin ruangan √
5. Mensosialisaikan :
a) Kebijakan √
b) Standar √
c) SOP √
6. Mengikuti rapat rutin dan √
koordinasi
7. Memberi penyuluhan perorangan √
8. Memberi penyuluhan kelompok √
9. Melaksanakan PKM RS √
10. Melaksanakan discharge planning √

Advokasi 1. Melakukan informed consent √

16
(lisan dan tulisan)
2. Melakukan pendampingan pasien √
3. Menjaga privasi pasien √
4. Menjaga kerahasiaan dokumen. √

d. BOR dan Kebutuhan tenaga perawat

Berdasarkan hasil pengkajian tanggal 25 Juni 2019 didapatkan gambaran


kapasitas tempat tidur Ruang Cilinaya RSD Mangusada yaitu 12 tempat
tidur dengan rincian sebagai berikut:

Tabel
BOR Ruang Oleg RSD Mangusada

Pencapaian BOR Standar Nasional Keterangan


tahun 2019
Tanggal 25 Juni 2019
BOR Kelas I : 2 60 – 85 Penggunaan TT
Kelas II : 4 yang ada untuk
Kelas III : 6 perawatan pasien
Total R. Cilinaya : 12 tergolong sedang
sehingga beban
kerja tenaga
kesehatan di Ruang
Cilinaya sedang.

17
Tabel
Gambaran Umum Jumlah Tempat Tidur di Ruang Cilinaya RSD
Mangusada
Tanggal 25-29 Juni 2019
Tanggal 25 Juni 2019
No Shift Kls I Kls II Kls III BOR

1 Pagi 2 bed (terisi 1) 4 bed (terisi 1) 6 bed (terisi 4) 6:12x100%

= 62%

2 Sore 2 bed (terisi 1) 4 bed (terisi 1) 6 bed (terisi 4) 6:12x100%

= 62%

3 Malam 2 bed (terisi 1) 4 bed (terisi 3) 6 bed (terisi 6) 10:12x100%

= 84%

Tanggal 26 Juni 2019


No Shift Kls I Kls II Kls III BOR

1 Pagi 2 bed (terisi 1) 4 bed (terisi 3) 6 bed (terisi 6) 10:12x100%

= 84%

2 Sore 2 bed (terisi 1) 4 bed (terisi 3) 6 bed (terisi 6) 10:12x100%

= 84%

3 Malam 2 bed (terisi 2) 4 bed (terisi 4) 6 bed (terisi 6) 12:12x100%

= 100%

18
Tanggal 27 Juni 2019
No Shift Kls I Kls II Kls III BOR

1 Pagi 2 bed (terisi 1) 4 bed (terisi 4) 6 bed (terisi 6) 11:12x100%

= 92%

2 Sore 2 bed (terisi 1) 4 bed (terisi 2) 6 bed (terisi 6) 9:12x100%

= 75%

3 Malam 2 bed (terisi 1) 4 bed (terisi 2) 6 bed (terisi 6) 9:12x100%

=75%

Tanggal 28 Juni 2019


No Shift Kls I Kls II Kls III BOR

1 Pagi 2 bed (terisi 1) 4 bed (terisi 2) 6 bed (terisi 5) 8:12x100%

= 67%

2 Sore 2 bed (terisi 1) 4 bed (terisi 3) 6 bed (terisi 6) 10:12x100%

= 84%

3 Malam 2 bed (terisi 1) 4 bed (terisi 3) 6 bed (terisi 6) 10:12x100%

= 84%

Tanggal 29 Juni 2019


No Shift Kls I Kls II Kls III BOR

1 Pagi 2 bed (terisi 1) 4 bed (terisi 3) 6 bed (terisi 6) 10:12x100%

= 84%

2 Sore 2 bed (terisi 1) 4 bed (terisi 2) 6 bed (terisi 5) 8:12x100%

19
= 67%

3 Malam 2 bed (terisi 1) 4 bed (terisi 2) 6 bed (terisi 5) 8:12x100%

= 67%

BOR Selama 5 periode :


62+90+81+79+73 = 385 = 77%
5 5

e. Perhitungan beban kerja dan kebutuhan perawat di Ruang Cilinaya


1) Metode Douglas:
Menurut Douglas dalam Nursalam (2014), klasifikasi
ketergantungan klien dibagi menjadi tiga kategori yaitu perawatan
minimal yang memerlukan waktu 1-2 jam/24 jam, perawatan
intermediate, dengan waktu 3-4 jam/24 jam, dan perawatan total
dengan waktu 5-6 jam/24jam.

Tabel Kriteria Klasifikasi Tingkat Ketergantungan Klien Douglas


dalam Nursalam (2014)
NO. KLASIFIKASI DAN KRITERIA
1 Minimal Care (1-2 jam)
1. Dapat melakukan kebersihan diri sendiri, mandi, ganti
pakaian dan minum.
2. Pengawasan dalam ambulasi atau gerakan.
3. Observasi Tanda vital setiap shift.
4. Pengobatan minimal, status psikologi stabil.
5. Persiapan prosedur pengobatan

20
2 Intermediet Care (3-4 jam)
1. Dibantu dalam kebersihan diri, makan dan minum,
ambulasi.
2. Observasi tanda vital tiap 4 jam.
3. Pengobatan lebih dari 1 kali.
4. Pakai foley kateter.
5. Pasang infuse, intake out-put dicatat.
6. Pengobatan perlu prosedur.
3 Total Care (5-6 jam)
1. Dibantu segala sesuatunya.
2. Posisi diatur.
3. Observasi tanda vital tiap 2 jam.
4. Pakai NG tube.
5. Terapi intravena, pakai suction.
6. Kondisi gelisah / disorientasi / tidak sadar.

1) Perhitungan Menurut Rumus Douglas


(a) Perhitungan beban kerja dan kebutuhan perawat

Tabel
Perhitungan Beban Kerja dan Kebutuhan Perawat Menurut
Rumus Douglas
Minimal Care Parsial Care Total Care
Pagi 0,17 0,27 0,36
Siang 0,14 0,15 0,30
Malam 0,07 0,10 0,20

21
Diketahui:
Ruang Cilinaya dengan kapasitas pasien tanggal 25-29 Juni
2019 Tingkat Ketergantungan pasien:
Minimal Care : 4 pasien
Parsial Care : 8 pasien
Total Care : 0 pasien
Tabel
Kebutuhan Perawat Menurut Tingkat Ketergantungan Pasien
Klasifikasi Shift
Pagi Sore Malam
Minimal Care 4 X 0,17 = 0,68 4 x 0,14 = 0,56 4 x 0,36 = 1,44
Parsial Care 8 x 0,27 = 2,16 8 x 0,15 = 1,2 8 x 0,30 = 2,4
Total Care 0 x 0,36 = 0 0 x 0,30 = 0 0 x 0,20 = 0
Jumlah 2,84 1,76 3,84
3 2 3

Total tenaga perawat yang dibutuhkan dalam sehari :


Pagi : 3 orang
Sore : 2 orang
Malam : 3 orang
Total : 8 orang

Jadi, total perawat yang dibutuhkan dalam sehari : 8 orang


perawat

22
(b) Kebutuhan Perawat Untuk Hari Libur/Cuti/Hari Besar dan
Tugas Non Keperawatan:
1. Hari Libur/Cuti/Hari Besar
2. Total kebutuhan perawat :

Jumlah hari minggu dalam 1 tahun + cuti + hari besar


x Jumlah Hari Kerja Efektif
Jumlah Hari Kerja Efektif

= 52 + 12 + 21 x8
292
= 2,32 ( dibulatkan 3 orang )

Perawat yang mengerjakan tugas non profesi/perawatan tidak


langsung (perincian, kebersihan, dll)

(jumlah tenaga perawat + lost day) x 25 %

= (16 + 2) x 25%
= 4,5 (dibulatkan 5 Orang)
(c) Structural
Kepala ruangan : 1 orang
Wakil Kepala Ruangan : 1 orang
PP : 2 orang
Total : 4 orang
(d) Total kebutuhan perawat :
[Link] + [Link] + Tugas Non Keperawatan + Perawat
Struktural
= 8 orang + 3 orang + 5 orang + 4 orang
= 20 orang
2) Rumus DEPKES
Minimal : 4 orang Pasien : 12 orang
Parsial : 8 orang
Total : 0 orang
Jam perawatan langsung
Minimal : 4 x 3 jam = 12 jam

23
Parsial : 8 x 4 jam = 32 jam
Total : 0 x 6 jam = jam
44 jam
Jam perawatan tidak langsung :
35 Menit/hari x 12 Pasien = 480 menit= 8 jam
Jam penyuluhan = 15 menit x 12 pasien = 180 menit = 3 jam
Total jam perawatan = 44 jam + 4 jam + 2 jam
= 30 jam
Rata-rata ketergantungan pasien
Total jam perawatan
= Jumlah pasien

= 50
12
= 4 Jam
Jumlah jam perawat
Kebutuhan Perawatan = Jumlah jam kerja perhari

= 50
6
= 8 orang
Pembagian perawat/shift
Pagi : 47% x 12 orang = 5,64 = 6 orang
Sore : 35% x 12 orang = 4,2 = 4 orang
Malam : 17% x 12 orang = 2,04 = 2 orang

Struktural
Kepala Ruangan = 1 orang
Wakil Kepala Ruangan = 1 orang
Ketua TIM = 2 orang
P. Logistik = 1 orang
Total Kebutuhan Perawat/bidan = 12 orang

24
f. Alur pasien masuk Ruang Cilinaya

ALUR PASIEN MASUK DAN KELUAR


RUANG CILINAYA RSUD BADUNG MANGUSADA 2018

 Datang sendiri
 Rujukan
- Instansi pemerintah
swasta
- Praktek Swasta

Loket Karcis/ Pembayaran

Loket Pendaftaran

B
Poliklinik IRD
A

Y
Ruang Rawat Inap
A

Sembuh Rujuk Meninggal

Pulang Ruang Jenasah

Keterangan :

Pasien yang masuk ruang perawatan Cilinaya, berasal dari IGD dan Poliklinik
Anak setelah mendapat pemeriksaan dari dokter umum dan dokter spesialis
serta perawatan. Selama perawatan di ruang Cilinaya pasien yang sembuh
akan dipulangkan. Pasien dengan asuransi atau jaminan kemungkinan pindah
ruang perawatan, Pasien bisa pulang paksa serta pasien yan tidak dapat
ditangani karena keterbatasan peralatan akan dirujuk ke pusat pelayanan
kesehatan yang lebih memadai. Pasien yang dalam kondisi tertentu yang tidak
dapat ditanggulangi dapat menimbulkan kematian dan pasien sembuh.
25
2. M2-Material
a. Lokasi dan denah ruangan Ruangan Cilinaya RSD Mangusada
1) Gambaran lokasi Ruangan Cilinaya RSD Mangusada sebagai berikut:
Timur: -
Utara: 3 ruangan
Barat: -
Selatan: 8 ruangan
2) Denah lokasi Ruangan Cilinaya RSD Mangusada
Gambar 3.1

Denah Ruang Rawat Inap Anak Cilinaya

A B C Q

E P

D I L M O
R S
J N
K F

Keterangan Gambar :

A. : Ruang Rawat Kelas II Keterangan Letak :


B. : Ruang Rawat Kelas I
C. : Ruang Tindakan dan Ruang Perawat
D. : Ruang Rawat Kelas III U
E. : Ruang Rawat Inap Kecak
F. : Ruang Rawat Inap Margapati
G. : Lorong Utara
H. : Lorong Selatan
I. : Ruang Kepala Ruangan
J. : Spolhok
K. : Ruang Laken S
L. : Ruang Laktasi
M. : Dapur
N. : Kamar Mandi
O. : Nurse Station
P. : Pintu Masuk
Q. : Ruang Bermain
R. : Ruang Makan
S. : Ruang Baca 26
b. Kondisi Ruangan:
1. Hubungan Ruang Cilinaya Dengan Manajement
Membuat kebijakan, regulasi pelaksanaan pelayanan ruang rawat inap
cilinaya, menentukan indicator mutu, penyelenggaraan pelayanan dan
pengadaan sarana prasarana pendukung (dalam pelaksanaan keselamatan
pasien rumah sakit) yang dibutuhkan di ruang perawatan
[Link] kegiatan asuhan mutu layanan dan penerapan standar
pelayanan minimal di ruang cilinaya. Peningkatan pengetahuan dan
keterampilan tenaga pemberi asuhan dalam pengembangan ilmu sesuai
bidang profesi (pelatihan, seminar, workshop).
2. Hubungan Ruang Cilinaya Dengan Bank Darah
Melakukan penyediaan darah sesuai kebutuhan pasien dalam proses
perawatan.
3. Hubungan Ruang Cilinaya Dengan Komite RSD Mangusada
Tatalaksana kegiatan asuhan dibawah pengawasan komite sesuai bidang
profesi seperti kredinsial, pengembangan mutu profesi dan pengawasan
profesi terkait dengan kode etik.
4. Hubungan Ruang Cilinaya Dengan Satuan Pengawas Internal RSD
Mangusada
Pemantauan penerapan asuhan pada tatanan pelayanan di ruang cilinaya.
5. Hubungan Ruang Cilinaya Dengan Penunjang Medik
Penunjang medic merupakan sarana pendukung dalam menegakkan
diagnose seperti rotgen, laboratorium. Sarana pendukung dalam pemberian
pengobatan (farmasi) dan penunjang yang lain seperti loundrey
6. Berdasarkan hasil observasi di Ruang Cilinaya RSD Mangusada,
didapatkan lingkungan kerja yang kondusif yang mana hubungan antara
perawat dengan perawat lainnya baik, hubungan antara perawat dengan
atasan baik, hubungan antara perawat dengan tenaga medis lainnya baik,
hubungan antara perawat dengan staf rumah sakit non medis baik
hubungan antara perawat dengan pasien baik. Batas Ruang Rawat Inap
Cilinaya :

27
Ruang Cilinaya merupakan bagian dari Ruang rawat inap yang
khusus memberikan perawatan pada pasien anak-anak dengan batasan usia
0 bulan lebih 1 hari samapai dengan usia 18 tahun. Ruang Cilinaya
sendiri terletak dilantai II Gedung A. Berbatasan bagian timur dengan
taman Rumah Sakit, sebelah Barat Ruang Rawat Inap Kecak, sebelah
selatan Ruang Inap Margapati dan disebelah utara Pintu gerbang RSD
Mangusada.

c. Sarana dan Prasarana


Di dalam manajemen keperawatan sangat diperlukan adanya
pengelolaan peralatan sebagai faktor pendukung atau penunjang
terlaksananya pelayanan keperawatan. Peralatan kesehatan untuk
pelayanan keperawatan digunakan untuk melaksanakan asuhan
keperawatan untuk menunjang kelancaran pelaksanaan sehingga diperoleh
tujuan pelayanan keperawatan yang efisien dan efektif. Jumlah fasilitas
dan alat-alat kedokteran dan keperawatan dapat dipenuhi dengan standar
yang telah ditetapkan oleh masing-masing institusi dengan memperhatikan
jenis, alat, bahan, ukuran jumlah yang dibutuhkan. Ruang Cilinaya
penyedian alat-alat kesehatan sesuai buku Standar Peralatan Keperawatan
disarana Kesehatan yang disusun oleh tim Departemen Kesehatan RI.
Ruang Cilinaya merupakan ruang rawat inap untuk penyakit Anak. Data
fasilitas ruangan sebagai berikut:
1) Fasilitas Alat Medis/Keperawatan
Ruang Cilinaya memiliki fasilitas alat medis/keperawatan sebagai
penunjang dalam memberikan asuhan keperawatan.

2) Fasilitas Alat Kantor dan Rumah Tangga


Ruang Jempiring juga memiliki fasilitas alat kantor dan rumah tangga
yang menunjang pemberian asuhan keperawatan. Namun belum
dilakukan pencatatan.

28
3) Jenis dan Fasilitas Layanan ruang Perawatan Cilinaya
a. Jenis layanan Ruang Cilinaya
Berdasarkan jenis pelayananya, ruang rawat Cilinaya
memberikan pelayanan pada satu bidang atau jenis perawatan yaitu
anak dengan batasan usia 1 bulan lebih dari 1hari sampai umur 14
tahun. Ruang Cilinaya dibuat dengan tujuan Kesadaran perlunya
perlakuan khusus bagi anak Dalam bidang kesehatan, anak
membutuhkan perlakuan yang tidak dapat disamakan dengan orang
dewasa, memberikan rasa aman dan nyaman, anak yang berada
dirumah sakit, cenderung mengalami reaksi-reaksi kecemasan yang
perlu penanganan [Link] Cilinaya memiliki tiga ruang kelas
perawatan yang terdiri dari:
1. Ruang Perawatan Kelas I
Ruang perawatan kelas I dilengkapi dengan 2 tempat Tidur
Pasien elektrik, lampu emergency, kursi penunggu pasien,
almari kecil untuk obat, alamari besar untuk perlengkapan
pasien, almari pendingin, TV, AC, kamar mandi pasien,
wastafel, tempat sandal/sepatu dan dinding ruangan bergambar
yang memiliki tema “DORA” film kartun yang disukai oleh
anak-anak.
Gambar :

2. Ruang Perawatan Kelas II


Ruang perawatan kelas II dilengkapi dengan 4 tempat Tidur
Pasien elektrik, lampu emergency, kursi penunggu pasien,

29
almari kecil untuk obat, alamari besar untuk perlengkapan
pasien, , AC, kamar mandi pasien, wastafel, tempat
sandal/sepatu dan dinding ruangan bergambar yang memiliki
tema “Marsya and the Bear” film kartun yang disukai oleh
anak-anak.

3. Ruang Perawatan Kelas III


Ruang perawatan kelas III dilengkapi dengan 6 tempat Tidur
pasien, lampu emergency, kursi penunggu pasien 6 buah,
almari kecil untuk obat 6 buah, alamari besar untuk
perlengkapan pasien 6 buah, AC, kamar mandi pasien,
wastafel, tempat sandal/sepatu dan dinding ruangan bergambar
yang memiliki tema “Ketimun Mas” cerita rakyat yang disukai
oleh anak-anak memiliki filisofi antara kebaikan dan
keburukan.

30
b. Fasilitas Ruang Perawatan Cilinaya
Ruang perawatan yang ada akan dilengkapi juga dengan fasilitas
ruang yang lain yang bertujuan memberikan kemudahan kepada
pasien, keluarga dan pengunjung dalam melakukan perawatan
selama pasien menjalani hospitalisasi di ruang Cilinaya. Fasilitas
yang dimaksud meiputi :
1. Ruang Nurse Station
Nurse Station merupakan suatu ruangan yang terletak paling
depan. Ruangan ini dipergunakan untuk melakukan kegiatan
administrasi pasien, timbang terima, memberikan edukasi, tempat
diskusi team pemberi asuhan. Ruangan ini dilengkapi dengan meja
panjang, satu perangkat komputer adan satu buah almari
penyimpanan file.
Gambar

2. Ruang Menyusui
Ruang menyusui berada pada daerah lorong ruang cilinaya yang
bertujuan memberikan ruang kepada pasien, pengunjung dan
pegawai dalam memberikan asi kepada anaknya. Ruangan
dilengkapi dengan 1) Tempat Duduk, 2) Meja, 3) Standar Infus 4)
Buku-buku tentang manfaat Asi.
Gambar,

31
3. Ruang Baca
Ruangan baca ini diharapkan dapat memberikan inspirasi kepada
pasien dan pengujung selama berada di ruang cilinaya.
Perpustakaan mini yang letaknya bersebelahan dengan ruang
Margapati dilengkapi dengan 600 judul buku yang merupakan
kerjasama RSD Mangusada dengan Dinas Perpustakaan Pemda
Badung dan beberapa buku sumbangan dari pasien, pangunjung,
petugas kesehatan dan masyarakat umum.
Gambar

4. Ruang Bermain
Hospitalisasi sering menyebabkan kecemasan pada anak. Ruang
bermain disiapkan untuk mengurangi atau menghilangkan efek
hospitalisasi sehingga pasien anak yang dirawat bisa dengan
nyaman menjalani perawatan dan kesembuhan pasien menjadi
lebih cepat karena merasa seperti di rumah sendiri tambah
menghilangkan tumbuh kembangnya.
Gambar

32
5. Ruang Makan
Tempat makan yang disiapkan di ruang cilinaya bertujuan
memberikan rasa kebersamaan antara pasien dan keluarga saat
makan. Situasi ini akan memberikan arti kedekatan antara anak
dan kedua orangtuanya, serta bagi pasien yang lain. Tempat ini
juga menjadi ajang diskusi serta tukar informasi terkait kesehatan
anak mereka selama hospitalisasi.
Gambar

6. Ruang Tindakan
Ruangan ini dilengkapi dengan bed pasien, central oksigen, Kit
Emergency, Troli tindakan, Tempat penyimpanan obat, almari
pendingin obat serta tempat sampat infeksius, non infeksius dan
samapah benda tajam.
7. Ruang linen
Perlengkapan pasien seperti selimut, laken, stik linen serta
assesorisnya diletakkan pada ruang linen ini bertujuan mencengah
terjadinya penularan Heal Care Assosiate Infeksion (hais)
8. Ruang perawat
Ruang ini dipergunakan untuk melakukan rapat bulanan, tempat
menyimpan file kepegawaian.
9. Ruang Dapur.
Dapur ruangan diperuntukkan kepada pasien untuk membuat air
hangat, bikin susu formula, dan kegiatan yang ada dengan dapur.

33
Fasilitas Alat Medis/Keperawatan Ruang Cilinaya RSD Mangusada
Ruang Perawat

Keadaan
No. Nama Barang Bahan Jumlah Barang
1. Loker Kayu Kayu 1 Baik
2. Filling Cabinet 4 Laci Besi 1 Baik
3. Loker Besi Besi 1 Baik
4. Lemari Es Besi 1 Baik
5. Meja ½ Biro Kayu 1 Baik
6. Meja Hias Kayu/Kaca 1 Baik
7. Sofa 1 Set Kayu/Spons 1 Baik
9. Televisi Fiber 1 Baik
10. Tempat Sampah Plastik 1 Baik
11. AC - 1 Baik
12. Matras - 2 Baik

Ruang Tindakan

Keadaan
No. Nama Barang Bahan Jumlah Barang
1. Instrumen Trolly Kayu 1 Baik
2. Stetoskop Anak Besi 1 Baik
3. Stetoskop Dewasa Besi 1 Baik
4. Cuvet Kecil Besi 2 Baik
5. Cuvet Sedang Kayu 1 Baik
6. Cuvet Besar Kayu/Kaca 1 Baik
7. Cucing Kayu/Spons 4 Baik
9. Sterilisator Kering Fiber 1 Baik
10. Emergency Trolly Plastik 1 Baik
11. Kulkas - 1 Baik
12. Meja - 3 Baik

34
13. Ambu Bag Karet 1 Baik
14. Tromol Sedang Besi 2 Baik
15. Tensimeter Dewasa Besi/Plastik 1 Baik
16. Tensimeter Mobile Besi 1 Baik
17. Syringe Pump Besi/Plastik 3 Baik
18. Infusion Pump Besi/Plastik 2 Baik
19. Nebulizer Omron Plastik 1 Baik
20. Nebulizer Philips Plastik 1 Baik
21. Pulse Oksimetri Plastik 2 Baik
22. EKG Fiber 1 Baik
23. Standar Infus - 2 Baik
24. Stetoskop anak Karet 3 Baik
25. Timbangan bayi Fiber 1 Baik
26. Tempat sampah Redal Plastik 4 Baik
27. Stetoskop bayi - 2 Baik
28. Nebul Prizma - 1 Baik
29. Bed Electrik Besi 1 Baik

Ruang Nurse Station

Keadaan
No. Nama Barang Bahan Jumlah Barang
1. Kaca hias Kayu/kaca 1 Baik
2. Kursi rapat Besi/spon 1 Baik
3. Rak arsip Kayu 1 Baik
4. Meja Resepsion Kayu 2 Baik
5. Kursi putar dengan pegangan Besi/spon 1 Baik
6. Kursi putar bulat Besi/spon 5 Kurang Baik
7. Kursi putar tanpa pegangan Besi/spon 2 1 Baik
8. Komputer Fiber 1 Baik
9. Tempat brosur Plastik 1 Baik

35
10. Pesawat telepon Plastik 1 Baik
11. APAR Besi 1 Baik
12. Timbangan badan Besi 1 Baik
13. Printer Fiber 1 Baik
14. Nurse Call 2 Baik
15. Meja visite Kayu 1 Baik

Ruang Gudang

Keadaan
No. Nama Barang Bahan Jumlah Barang
1. Lemari kayu 1 Baik
2. Lemari pasien Kayu 2 Baik
3. Timbangan bayi 1 Kurang Baik
4. Troly Besi 1 Baik

Ruang Dapur

Keadaan
No. Nama Barang Bahan Jumlah Barang
1. Kompor gas Besi 1 Baik
2. Lemari kayu pasien Kayu 1 Baik
3. Lemari dorong kaca Besi /spon 1 Baik

Ruang Cilinaya I

Keadaan
No. Nama Barang Bahan Jumlah Barang
1. Bed pasien electrik Plastik 2 Baik
2. Meja pasien Kayu 2 Baik
3. Sofa Kayu/spon 2 Baik

36
4. Lemari pasien Kayu 2 Baik
5. Lukisan Kanvas 1 Baik
6. Televisi Fiber 1 Baik
7. Standar infus dengan roda Besi 3 Baik
8. Kulkas Fiber 1 Baik
9. Rak sepatu - 1 Baik

Ruang Cilinaya I

Keadaan
No. Nama Barang Bahan Jumlah Barang
1. Bed pasien electrik Plastik 2 Baik
2. Meja pasien Kayu 2 Baik
3. Sofa Kayu/spon 2 Baik
4. Lemari pasien Kayu 2 Baik
5. Lukisan Kanvas 1 Baik
6. Televisi Fiber 1 Baik
7. Standar infus dengan roda Besi 3 Baik
8. Kulkas Fiber 1 Baik
9. Rak sepatu - 1 Baik

Ruang Cilinaya II

Keadaan
No. Nama Barang Bahan Jumlah Barang
1. Bed pasien manual Plastik 2 Baik
2. Bed pasien Plastik 1 Baik
3. Bed pasien Plastik 1 Baik
4. Lemari pasien Kayu 4 Baik
5. Meja pasien Kayu 1 Baik
6. Sofa panjang Kayu/spon 1 Baik

37
7. Standar infus dengan roda - 3 Baik
8. Standar infus tanpa roda - 1 Baik
9. Rak sepatu - 1 Baik
10. Kursi plastik - 4 Baik

Ruang Cilinaya III

Keadaan
No. Nama Barang Bahan Jumlah Barang
1. Bed pasien Plastik 4 Baik
2. Lemari pasien Kayu 2 Baik
3. Meja pasien Kayu 2 Baik
4. Sofa panjang Kayu/spon 1 Baik
5. Kursi plastik Plastik 4 Baik

2) Fasilitas ruangan untuk petugas kesehatan


a. Diruang jaga perawat tersedia meja, kursi, komputer,
telepon, printer, dan meja resepsionis.
3) Buku administrasi penunjang
1) Buku Lest CM
2) Buku Amprahan Barang
3) Buku Rujukan
4) Buku Pasien Pulang dan Kesan Pesan
5) Buku Laporan Kerusakan
6) Buku Timbang Terima
7) Buku Shift Jaga
8) Buku Rapat
9) Buku Timbang Terima Pasien Baru
10) Buku Laporan Kematian
11) Buku Laundry
12) Buku Peminjaman Alat

38
13) Buku Operan Alat
14) Buku O2
15) Buku Amprahan Apotek
16) APS
17) Buku Mutasi Alat
18) Buku Catatan Umum
19) Buku Inventaris
20) Buku Laporan Kerusakan
21) Blangko Lab + Transfusi
22) Buku Sensus Harian
23) Blangko Rontgen
24) Blangko Pengkajian
25) Surat Masuk
26) Blangko Tindakan dan Evaluasi
27) Blangko Neraca Cairan
28) Panduan Assessment Pasien
29) Laporan Hasil Penyuluhan
30) Blangko Medikasi
31) Buku Konsul Dokter
32) Blangko Konsul Dokter
33) Blangko Rujukan
34) Resume
35) Blangko TTV
36) Buku Rencana Keperawatan
37) Kamus Saku Keperawatan

39
3. M3-Metode
a. Penerapan MPKP
Metode yang digunakan
Dari hasil wawancara dengan kepala ruangan didapatkan hasil
bahwa metode yang digunakan di Ruang Cilinaya adalah penerapan
MPKP dengan metode modifikasi keperawatan primer dan ketua tim.
Metode ini digunakan sejak ruangan ini ada hingga saat ini dengan
pembagian 2 perawat primer dan ketua tim setiap shif siang dan malam
yang akan bertanggung jawab kepada kepala ruangan.
Alasan menggunakan metode tersebut
Karena metode perawat primer di dasari pada oleh keyakinan
bahwa setiap perawat primer bekerja selama 24 jam dan mempunyai
tanggung jawab untuk perencanaan perawatan pasien sehingga asuhan
keperawatan terstruktur dan berkesinambungan.
Kendala dalam penerapan MPKP:
Pelaksanaan metode modifikasi keperawatan digunakan karena
kebutuhan tenaga keperawatan masih kurang sehingga menggunakan
perawat primer dan ketua tim sebagai tanggung jawab pelaksanaan asuhan
keperawatan. Dalam perhitungan beban kerja perawat tidak secara khusus
memberikan asuhan keperawatan pada pasien dikarenakan semua perawat
bertanggung jawab pada semua pasien.
b. Timbang Terima
Timbang terima dilakukan 3 kali dalam sehari yaitu pada
pergantian dari shif malam ke pagi (pukul 07.30 WITA), pagi ke sore
(pukul 13.30 WITA), dan sore ke malam (pukul 19.30). Kegiatan ini
selalu diikuti oleh semua perawat yang telah dan akan dinas. Pada operan
malam ke pagi dan operan pagi ke siang kegiatan ini dipimpim langsung
oleh kepala ruangan. Untuk operan siang ke malam dilakukan tanpa
kepala ruangan. Timbang terima sudah dilakukan pada setiap pergantian
shif, tetapi belum sesuai dengan teori yang ada. Timbang terima dari shif
malam ke shif pagi dilakukan langsung ke ruangan pasien, namun dari
shif pagi ke shif sore, dan shif sore ke shif malam dilakukan di nurse

40
station. Perawat terlebih dahulu memperkenalkan diri sendiri dan
menjelaskan limpahan tanggung jawab ke siapa yang akan bertugas untuk
shif selanjutnya kepada pasien. Perawat sudah mempersiapakan buku
laporan untuk kelengkapan operan, namun hasil catatan kondisi pasien
tidak dibicarakan secara menyeluruh saat operan jaga dilakukan. Isi buku
timbang terima mencakup jumlah pasien, diagnosa medis atau intervensi
keperawatan yang sudah dilakukan serta intervensi yang belum dilakukan.
Dalam setiap timbang terima selalu ada klarifikasi langsung, tanya jawab
dan validasi terhadap semua hal yang ditimbang terimakan. Pelaporan
timbang terima dicatat menggunakan buku lapoan harian namun tidak
dibagi berdasarkan tanggung jawab petugas primer, diakhir kegiatan
dilakukan penandatanganan oleh perawat primer atau seorang perawat
pelaksana yang bertanggungjawab atas tugas yang dilaksanakan dan
diketahui oleh kepala ruangan.
Kajian teori :
Timbang terima klien (operan) merupakan teknik atau cara untuk
menyampaikan dan menerima sesuatu (laporan) yang berkaitan dengan
keadaan klien. Timbang terima klien harus dilakukan seefektif mungkin
dengan menjelaskan secara singkat, jelas dan lengkap tentang tindakan
mandiri perawat, tindakan kolaboratif yang sudah dilakukan atau belum
dan perkembangan klien saat itu. Informasi yang disampaikan harus
akurat sehingga berkesinambungan dan asuhan keperawatan dapat
berjalan dengan sempurna. Timbang terima dilakukan oleh perawat
primer keperawatan kepada perawat primer (penanggung jawab) dinas
sore atau dinas malam secara tertulis dan lisan (Nursalam, 2014).
a) Persiapan
(1) Timbang terima dilaksanakan setiap pergantian shiftt/ operan
(2) Prinsip timbang terima, semua klien baru masuk dan klien yang
dilakukan timbang terima khususnya klien memliki permasalahan
yang belum/ dapat teratasi serta yang membutuhkan observasi lebih
lanjut

41
(3) AN/PN menyampaikan timbang terima kepada PN (yang menerima
pendelegasian) berikutnya, hal yang perlu disampaikan dalam
tembang terima:
- Aspek umum yang meliputi: M1 s/d M5
- Jumlah klien
- Identitas klien dan diagnosa medis
- Data (keluhan/subjektif dan objektif)
- Masalah keperawatan yang masih muncul intervensi
keperawatan yang sudah dan belum dilaksanakan (secara
umum)
- Intervensi kolaboratif dan dependen
- Rencana umum dan persiapan yang perlu dilakukan (persiapan,
pemeriksaan penunjang, dan program lainnya.)
b) Pelaksanaan
(1) Nurse Station
- Kedua kelompok dinas sudah siap (shift jaga).
- Kelompok yang akan bertugas menyiapkan buku catatan.
- Kepala ruang membuka acara timbang terima.
- Penyampaian yang jelas, singkat dan padat oleh perawat jaga
(NIC).
- Perawat jaga shift selanjutnya dapat melakukan klarifikasi, tanya
jawab dan melakukan validasi terhadap hal-hal yang telah
ditimbangterimakan dan berhak menanyakan mengenai hal-hal
yang kurang jelas
(2) Bed
- Kepala ruang menyampaikan salam dan PN menanyakan
kebutuhan dasar klien.
- Perawat jaga selanjutnya mengkaji secara penuh terhadap masalah
keperawatan, kebutuhan, dan tindakan yang telah/belum
dilaksanakan, serta hal-hal penting lainnya selama masa perawatan.

42
- Hal-hal yang sifatnya khusus dan memerlukan perincian yang
matang sebaiknya dicatat secara khusus untuk kemudian
diserahterimakan kepada petugas berikutnya
c) Post Timbang Terima
(1) Diskusi.
(2) Pelaporan untuk timbang terima dituliskan secara langsung pada
format timbang terima yang ditandatangani oleh PN yang jaga
saat itu dan PN yang jaga berikutnya diketahui oleh Kepala
Ruang.
(1) Ditutup oleh KARU
d) Teknik operan fokus ke klien :
(1) Dekati dan sentuh klien
(2) Ucapkan salam
(3) Bicarakan perkembangan sementara klien serta diagnosa
keperawatannya
(4) Tanyakan keluhan klien
(5) Tanyakan respon klien selama dirawat
(6) Laporan klien (Vital Sign, KU stabil atau tidak)
(7) Pemeriksan luka, drain, IVFD, balance cairan, catheter.
(8) Cek rencana keperawatan
(9) Cek program baru
(10) Jelaskan ke klien rencana hari ini
(11) Beri kesempatan klien bertanya
(12) Pemeriksaan kembali catatan keperawatan
(13) Dokumentasikan
(14) Lanjutkan ke klien selanjutnya
e) Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam timbang terima
(1) Dilaksanakan tepat pada waktu pergantian shift.
(2) Dipimpin oleh kepala ruang atau penanggung jawab klien (PN).
(3) Diikuti oleh semua perawat yang telah dan yang akan dinas.

43
(4) Informasi yang disampaikan harus akurat, singkat, sistematis,
dan menggambarkan kondisi klien saat ini serta menjaga
kerahasiaan klien.
(5) Timbang terima harus berorientasi pada permasalahan klien.
(6) Pada saat timbang terima di kamar klien, menggunakan volume
suara yang cukup sehingga klien di sebelahnya tidak mendengar
sesuatu yang rahasia bagi klien. Sesuatu yang dianggap rahasia
sebaiknya tidak dibicarakan secara langsung di dekat klien.
(7) Sesuatu yang mungkin membuat klien terkejut dan shock
sebaiknya dibicarakan di nurse station.
Pelaksanaan diruangan:
a) Karu, PP, PA telah mengadakan diskusi tentang keadaan klien,
jumlah klien dan ada/tidaknya tindakan khusus di nurse station
tepat pada waktu pergantian shift.
b) Perawat sudah menyebutkan identitas dan diagnosa medis
klien.
c) Karu, PP, PA mengadakan operan keliling, ke ruangan pasien.
d) Perawat jarang memperkenalkan nama pengganti shift jaga
berikutnya dan dari/sampai jam berapa mereka akan berjaga.
e) Perawat menanyakan keluhan yang dirasakan klien pada saat
operan berlangsung.
f) Perawat sudah memberikan laporan klien, misalnya vital sign
dan kedaaan umum saat ini. Isi timbang terima sebagian besar
tentang program delegatif dokter dan membahas apakah terapi
masih tetap dilanjutkan atau tidak. Pada saat timbang terima,
perawat kurang membahas tentang masalah keperawatan yang
muncul pada klien dan intervensi keperawatan yang sudah
maupun belum dilakukan.
g) Perawat sudah mengecek program dokter.
h) Perawat sudah mengoperkan rencana perawatan hari ini
kepada shiftt jaga berikutnya namun tidak diinformasikan ke
klien.

44
i) Perawat kurang memberi kesempatan klien untuk bertanya.
j) Timbang terima telah dicatat pada lembar perkembangan klien
dan disampaikan dengan menggunakan tehnik SBAR.
Kesenjangan:
Untuk operan siang ke malam dilakukan tanpa kepala ruangan.
Timbang terima sudah dilakukan pada setiap pergantian shift, tetapi
belum sesuai dengan teori yang ada. Timbang terima dari sift
malam ke shift pagi, dari sift pagi ke sift sore, dan dari sift sore ke
sift malam telah dilakukan di nurse station terlebih dahulu
kemudian dilanjutkan berkeliling setiap ruangan pasien, namun
perawat tidak memperkenalkan diri sendiri dan siapa yang akan
bertugas pada sift selanjutnya kepada pasien . Perawat sudah
mempersiapkan buku laporan untuk kelengkapan operan namun
hasil catatan perkembangan kondisi pasien tidak dibicarakan secara
menyeluruh saat operan jaga dilakukan. Isi buku timbang terima
mencakup jumlah pasien, diagnosa medis intervensi yang sudah
dilakukan serta intervensi yang belum dilakukan. Dalam setiap
timbang terima selalu ada klarifikasi langsung, tanya jawab dan
validasi terhadap semua hal yang di timbang terimakan. Pelaporan
timbang terima dicatat menggunakan buku laporan harian namun
tidak dibagi berdasarkan tim, diakhir kegiatan dilakukan
penandatanganan oleh katim atau seorang bidan pelaksana yang
bertanggung jawab atas dan diketahui oleh kepala ruangan.
c. Sentralisasi Obat
Hasil wawancara yang dilakukan kepada kepala ruangan bahwa
semua perawat di ruang Cilinaya menerapkan tentang pengadaan
sentralisasi obat sebagian. Saat ini sistem penyimpanan obat yang
dilakukan di ruang Cilinaya adalah dokter memberi resep kepada perawat
kemudian perawat memberikan resep ke pihak apotek kemudian dari
pihak apotek menyiapkan obat dan langsung mengirim obat keruangan.
Setelah sampai diruangan perawat mengecek kembali obat yang telah
diterima sesuai dengan obat yang telah diresepkan. Kemudian sebagian

45
obat ditempatkan di lemari tempat penyimpanan obat ruang Cilinaya
sesuai dengan identitas pasien dan sebagian diletakkan pada kamar pasien
tetapi tetap dalam pengawasan perawat.
Kajian teori :
a) Pengertian
Sentalisasi obat adalah pengolahan obat dimana seluruh obat
yang akan diberikan kepada klien diserahkan pengolahan
sepenuhnya oleh perawat (Nursalam 2014).
b) Teknik Pengolahan Obat (Sentalisasi)
Pengeluaran dan pembagian obat sepenuhnya di lakukan oleh
perawat.
1) Penanggung jawab pengelolaan obat adalah kepala ruangan
yang secara oprasional dapat didelegasikan kepada staf
yang ditunjuk.
2) Keluarga wajib mengetahui dan ikut serta mengontrol
penggunaan obat dan penerimaan obat.
3) Obat yang telah diresepkan ditunjukan kepada perawat dan
obat yang telah diambil oleh keluarga diserahkan kepada
parawat dengan menerima lembar terima obat.
4) Perawat menuliskan nama klien, register, jenis obat,
jumlah dan sediaan (bila perlu) dalam kartu kontol, dan
diketahui (ditandatangani) oleh keluarga atau klien dalam
buku masuk obat, keluarga atau klien selanjutnya
mendapatkan penjelasan kapan atau bilamana obat tersebut
akan habis, serta penjelasan tentang 5T (jenis, dosis,
waktu, klien, dan cara pemberian).
5) Klien atau keluarga selanjutnya mendapatkan salinan obat
yang harus diminum beserta kartu sediaan obat.
6) Obat yang telah diserahkan selanjutunya disimpan oleh
perawat dalam kontak obat (Nursalam 2012).
c) Pembagian obat

46
1) Obat yang telah diterima untuk selanjutnya disalin dalam
buku daftar pemberian obat.
2) Obat yang telah disiapkan untuk selanjutnya diberikan oleh
perawat dengan memperhatikan alur yang tercantum dalam
buku daftar pemberian obat, dengan terlebih dahulu
dicocokkan dengan terapi yang diinstruksi dokter dan kartu
obat yang ada pada klien.
3) Pada saat pemberian obat, perawat menjelaskan macam
obat, kegunaan obat, jumlah obat dan efek samping.
Usahakan tempat/ wadah obat kembali ke perawat setelah
obat di konsumsi. Pantau efek samping pada klien.
4) Sediaan obat yang ada selanjutnya diperiksa setiap pagi
oleh kepala ruang atau petugas yang ditunjuk dan
didokumentasikan dalam buku masuk obat.
5) Obat-obatan yang hampir habis akan di konfirmasikan
kepada keluarga dan kemudian dimintakan resep (jika
masih perlu dilanjutkan) kepada dokter penanggungjawab
klien (Nursalam 2012).
d) Penambahan obat baru
1) Bilamana tedapat penambahan atau perubahan jenis, dosis
atau perubahan alur pemberian obat, maka informasi ini
akan dimasukkan dalam buku masuk obat dan sekaligus
dilakukan perubahan dalam kartu sediaan obat.
2) Pada pemberian obat yang bersifat tidak rutin (sewaktu
saja) maka dokumentasi hanya dilakukan pada buku masuk
obat dan selanjutnya diinformasikan kepada keluarga
dengan kartu khusus obat (Nursalam 2012).
Pelaksanaan di ruangan :
Berdasarkan pengamatan di ruang Cilinaya, obat yang telah
diresepkan oleh dokter kemudian perawat menyerahkan resep tersebut
kepada bagian farmasi untuk menyiapkan obat yang diperlukan oleh
pasien. Kemudian sebagian obat ditempatkan di lemari tempat

47
penyimpanan obat ruang Cilinaya sesuai dengan identitas pasien dan
sebagian diletakkan pada kamar pasien tetapi tetap dalam pengawasan
perawat.
Kesenjangan:
Pada kajian teori dijelaskan pengelolaan obat dimana seluruh obat
yang akan diberikan kepada pasien diserahkan pengelolaannya
sepenuhnya kepada perawat tetapi belum sesuai dengan teori karena
sebagian obat ditempatkan di lemari tempat penyimpanan obat ruang
Cilinaya sesuai dengan identitas pasien dan sebagian diletakkan pada
kamar pasien tetapi tetap dalam pengawasan perawat.

d. Supervisi Keperawatan
Berdasarkan wawancara yang dilakukan, didapatkan data bahwa
pelaksanaan supervisi dilakukan setelah libur panjang selama supervisi ini
ditunjukkan seluruh ruangan di RSD Mangusada yang dilaksanakan oleh
koordinator kepala ruangan, sedangkan supervisi dari kepala ruangan
untuk seluruh anggota perawat di ruang Oleg belum pernah dilakukan,
hanya supervisi rumah sakit yang pernah dilakukan diruangan.
Kajian Teori :
Supervisi merupakan salah satu proses kegiatan atau pelaksanaan
sistem manajemen yang merupakan bagian dari fungsi pengarahan serta
pengawasan dan pengendalian (controlling)
Menurut Depkes supervisi keperawatan kegiatan pengawasan dan
pembinaan yang dilakukan secara berkesinambungan oleh supervisi
mencakup masalah pelayanan kepeawatan, masalah ketenagaan dan
peralatan agar klien mendapat pelayanan yang bermutu setiap saat.
Unsur–unsur pokok dalam supervisi menurut Azwar adalah:
a) Pelaksana
Pelaksana atau yang bertanggung jawab melaksanakan
supervisi adalah atasan, yakni mereka yang memiliki kelebihan
dalam organisasi. Kelebihan yang dimaksud sering dikaitkan
dengan status yang lebih tinggi (supervisor) dan karena itu

48
fungsi supervisi memang dimiliki oleh atasan. Namun untuk
keberhasilan, supervisi harus lebih mengutamakan kelebihan
pengetahuan atau ketrampilan.
Menurut Ali Zaidin dalam bukunya Dasar-Dasar
Kepemimpinan dalam Keperawatan membagi tingkatan atas
kelas manajer dalam melakukan supervisi:
(1) Manajer puncak/top manajer bertanggung jawab atas
seluruh kegiatan dari hasil kegiatan serta proses
manajamen organisasi (misalnya: Kakanwil Depkes,
Kadinkes darah dan Diretur RS)
(2) Manajer menengah/middle manajer memimpin sebagian
manajer tingkat pertama (missal: kepala bagian tata usaha,
kepala bidang, Kasubdin Provinsi)
(3) Manajer tingkat pertama/First Line Manajer yang bertugas
memimpin langsung para pelaksana atau pekerja ( missal:
Kepala Seksi dan kepala urusan)
Untuk dapat melaksanakan supervisi dengan baik
diperlukan beberapa syarat atau karakteristik yang harus
dimiliki oleh pelaksana supervisi atau supervisor (Azwar A,
2009) adalah sebagai berikut :
(1) Sebaiknya pelaksana supervisi adalah atasan langsung dari
yang disupervisi, atau apabila tidak mungkin dapat
ditunjuk staf khusus dengan batas-batas wewenang dan
tanggung jawab yang jelas.
(2) Pelaksana supervisi harus memiliki pengetahuan dan
keterampilan yang cukup untuk jenis pekerjaan yang
disupervisi.
(3) Pelaksana supervisi harus memiliki keterampilan
melakukan supervisi, artinya memahami prinsip-prinsip
pokok serta teknik supervisi.
(4) Pelaksana supervisi harus mempunyai sifat edukatif,
suportif dan bukan otoriter.

49
(5) Pelaksana harus mempunyai waktu yang cukup, tidak
tergesa-tergesa melainkan secara sabar berupaya
(6) Meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap
bawahan yang di supervisi.
Pelaksana supervisi yang baik, memerlukan bekal
kemampuan yang banyak. Selain lima syarat di atas juga
dibutuhkan kemampuan melakukan komunikasi, motivasi,
pengarahan, bimbingan, dan kepemimpinan.
(1) Sasaran
Sasaran atau objek dari supervisi adalah pekerjaan yang
dilakukan oleh bawahan yang melakukan pekerjaan.
(2) Frekuensi
Frekuensi harus dilakukan dengan frekuensi yang berbeda.
Supervisi yang dilakukan hanya sekali, bukankah supervisi
yang baik. Tidak ada pedoman yang pasti tentang seberapa
sering supervisi dilakukan, tergantung derajat kesulitan
pekejaan.
(3) Tujuan
Tujuan supervisi adalah memberikan bantuan kepada
bawahan secara langsung sehingga bawahan memiliki
bekal yang cukup untuk dapat melaksanakan tugas atau
pekerjaan dengan hasil baik.
(4) Teknik
Kegiatan pokok pada supervisi pada dasanya mencangkup
empat hal pokok yaitu menetapkan masalah dan prioritas,
menetapkan penyebabkan masalah atau prioritas/jalan
keluar, melaksanakan jalan keluar, menilai hasil yang
dicapai untuk tindaklanjut berikutnya.
Teknik supervisi ada dua yaitu dengan pengamatan
langsung dan kerjasama. Langkah – langkah supervisi ada tiga
yaitu:
(1) Mengadakan persiapan pengawasan

50
(2) Menjalankan pengawasan
(3) Memperbaiki penyimpangan
Manfaat supervisi ada 2 yaitu :
(1) Meningkatkan efektivitas kerja
Pelaksanaan di ruangan :
Supervisi dari kepala ruangan untuk seluruh anggota perawat di
ruang cilinaya dan sudah pernah dilakukan dan supervisi dari manajemen
rumah sakit yang pernah dilakukan diruangan. Kepala atau wakil kepala
ruangan mengatakan jarang melakukan supervise terhadap perawat
diruangan. Kepala ruangan atau wakil kepala ruangan biasanya
melakukan refleksi diskusi kasus (RDK) jika ada masalah yang muncul
diruangan.
Kesenjangan :
Supervisi dari kepala ruangan untuk seluruh anggota perawat di
ruang Cilinaya belum pernah dilakukan, hanya supervisi dari manajemen
rumah sakit yang pernah dilakukan diruangan.

e. Perencanaan Pulang (Discharge Planning)


Kajian Teori :
Perencanaan pulang (discharge planning) merupakan komponen
yang terkait dengan rentang ners. Rentang keperawatan sering pula
disebut dengan keperawatan yang berkelanjutan yang artinya
keperawatan yang selalu dibutuhkan klien di mana pun klien berada.
Rentang keperawatan kontinu (continue of care) adalah integrasi sistem
keperawatan yang berfokus pada klien terdiri atas mekanisme pelayanan
keperawatan yang membimbing, mengarahkan klien sepanjang waktu
(Chesca, 1982 dalam Nursalam, 2014). Perencanaan pulang merupakan
bagian penting dari program keperawatan klien yang dimulai segera
setelah klien masuk rumah sakit. Hal ini merupakan suatu proses yang
menggambarkan usaha kerja sama antara tim kesehatan, keluarga, klien
dan orang yang penting bagi klien.

51
Perencanaan pulang merupakan suatu proses yang dinamis dan
sistematis dari penilaian, persiapan, serta koordinasi yang dilakukan
untuk memberikan kemudahan pengawasan pelayanan kesehatan dan
pelayanan sosial sebelum dan sesudah pulang. Perencanaan pulang
merupakan proses yang dinamis, agar tim kesehatan mendapatkan
kesempatan yang cukup untuk menyiapkan klien melakukan keperawatan
mandiri di rumah. Perencanaan pulang didapatkan dari proses interaksi
ketika keperawatan profesional, klien dan keluarga berkolaborasi untuk
memberikan dan mengatur kontinuitas keperawatan yang diperlukan oleh
klien saat perencanaan harus berpusat pada masalah klien yaitu
pencegahan, terapeutik, rehabilitative serta keperawatan rutin yang
sebenarnya (Swenberg, 2000 dalam Nursalam, 2014).
Tujuan perencanaan pulang adalah:
a) Menyiapkan klien dan keluarga secara fisik, psikologis dan
sosial
b) Meningkatkan kemandirian klien dan keluarga
c) Meningkatkan keperawatan yang berkelanjutan pada klien
d) Membantu rujukan klien pada sistem pelayanan yang lain
e) Membantu klien dan keluarga memiliki pengetahuan dan
keterampilan serta sikap dalam memperbaiki serta
mempertahankan status kesehatan klien
f) Melaksanakan rentang keperawatan antara rumah sakit dan
masyarakat
Rorden dan Nursalam (2011) dalam Nursalam (2014)
mengungkapkan bahwa perencanan pulang bertujuan untuk:
a) Membantu klien dan keluarga untuk dapat memahami
permasalahan, pencegahan yang harus ditempuh sehingga dapat
mengurangi angka kambuh dan penerimaan kembali di rumah
sakit.
b) Terjadi pertukaran informasi antara klien sebagai penerima
pelayanan dengan keperawatan dari klien masuk sampai keluar
rumah sakit.

52
Menurut Nursalam (2014) perencanaan pulang mempunyai
manfaat antara lain sebagai berikut :
a) Memberi kesempatan kepada klien untuk mendapat pelajaran
selama di rumah sakit sehingga bisa dimanfaatkan sewaktu di
rumah.
b) Tindak lanjut yang sistematis yang digunakan untuk menjamin
kontinuitas keperawatan klien.
c) Mengevaluasi pengaruh dari intervensi yang terencana pada
penyembuhan klien dan mengidentifikasi kekambuhan atau
kebutuhan keperawatan baru.
d) Membantu kemandirian klien dalam kesiapan melakukan
keperawatan rumah.
Prinsip-prinsip dalam perencanaan pulang klien adalah sebagai
berikut:
a) Klien merupakan fokus dalam perencanan pulang. Nilai
keinginan dan kebutuhan dari klien perlu dikaji dan dievaluasi.
b) Kebutuhan dari klien diidentifikasi. Kebutuhan ini dikaitkan
dengan masalah yang mungkin timbul pada saat klien pulang
nanti, sehingga kemungkinan masalah yang timbul di rumah
dapat segera diantisipasi.
c) Perencanaan pulang dilakukan secara kolaboratif. Perencanaan
pulang merupakan pelayanan multidisiplin dan setiap tim harus
saling bekerja sama.
d) Perencanaan pulang disesuaikan dengan sumber daya dan
fasilitas yang ada. Tindakan atau rencana yang akan dilakukan
setelah pulang disesuaikan dengan pengetahuan dari tenaga
yang tersedia atau fasilitas yang tersedia di masyarakat.
e) Perencanaan pulang dilakukan pada setiap sistem pelayanan
kesehatan. Setiap klien masuk tatanan pelayanan maka
perencanaan pulang harus dilakukan.
Menurut Chesca (1982) dalam Nursalam (2014)
mengklasifikasikan jenis pemulangan klien sebagai berikut.

53
a) Conditioning discharge (pulang sementara atau cuti), keadaan
pulang ini dilakukan apabila kondisi klien baik dan tidak
terdapat komplikasi. Klien untuk sementara dirawat di rumah
namun harus ada pengawasan dari pihak rumah sakit atau
puskesmas terdekat.
b) Absolute discharge (pulang mutlak atau selamanya), cara ini
merupakan akhir dari hubungan klien dengan rumah sakit.
Namun apabila klien perlu dirawat kembali maka prosedur
keperawatan dapat dilakukan kembali.
c) Judicial discharge (pulang paksa), kondisi ini klien
diperbolehkan pulang walaupun kondisi kesehatan tidak
memungkinkan untuk pulang, tetapi klien harus dipantau dengan
melakukan kerja sama dengan keperawatan puskesmas terdekat.
Hal-hal yang harus diketahui klien sebelum pulang adalah sebagai
berikut:
a) Instruksi tentang penyakit yang diderita, pengobatan yang harus
dijalankan, serta masalah-masalah atau komplikasi yang dapat
terjadi.
b) Informasi tertulis tentang keperawatan yang harus dilakukan di
rumah.
c) Pengaturan diet khusus dan bertahap yang harus dijalankan.
d) Jelaskan masalah yang mungkin timbul dan cara mengantisipasi.
e) Pendidikan kesehatan yang ditujukan kepada keluarga maupun
klien sendiri dapat digunakan metode ceramah, demonstrasi, dan
lain-lain.
f) Informasi tentang nomor telepon layanan keperawatan, medis
dan kunjungan rumah apabila klien memerlukan.
Menurut Jipp dan Saras (1986) dalam Nursalam (2012),
komponen perencanaan pulang terdiri atas:
a) Perawatan di rumah meliputi pemberian pengajaran atau
pendidikan kesehatan (health education) mengenai diet,
mobilisasi, waktu kontrol dan tempat kontrol-pemberian

54
pelajaran disesuaikan dengan tingkat pemahaman dan keluarga
mengenai perawatan selama klien di rumah nanti.
b) Obat-obatan yang masih diminum dan jumlahnya, meliputi
dosis, cara pemberian dan waktu yang tepat minum obat.
c) Obat-obat yang dihentikan, karena meskipun ada obat-obat
tersebut sudah tidak diminum lagi oleh klien, obat-obat tersebut
tetap dibawa pulang klien.
d) Hasil pemeriksaan, termasuk hasil pemeriksaan luar sebelum
MRS dan hasil pemeriksaan selama MRS, semua diberikan ke
klien saat pulang.
e) Surat-surat seperti surat keterangan sakit, surat kontrol.
Adapun pelaksanaan Discharge Planning yang idealnya
dilaksanakan:
a) PN memberi Health Education (HE) pada klien yang akan
pulang atau yang direncanakan pulang, meliputi: obat-obatan
yang masih harus diminum di rumah, diet, aktivitas, istirahat,
kapan kontrol kembali dan dimana, apa saja yang dibawa pulang
dan hal-hal yang perlu diperhatikan klien selama di rumah.
b) Jika klien pulang dengan meneruskan perawatan khusus, seperti
perawatan kateter atau perawatan luka, maka klien dan keluarga
dibekali pengetahuan tentang perawatan kateter dan perawatan
luka.
c) Selain memberikan penjelasan secara lisan, PN juga
memberikan kartu discharge planning dan leaflet-leaflet lain
yang berisi penjelasan yang diperlukan.
d) Setelah klien dan keluarga mendapatkan discharge planning,
maka klien atau keluarga menandatangani format discharge
planning sebagai bukti telah mendapatkan discharge planning
dari perawat.
Perencanaan pulang (discharge planning) akan menghasilkan
sebuah hubungan terintegrasi, yaitu antara perawatan yang diterima pada
waktu di rumah sakit dengan perawatan yang diberikan setelah klien

55
pulang. Perawatan di rumah sakit akan bermakna jika dilanjutkan dengan
perawatan di rumah.

Pelaksanaan di ruangan :
Berdasarkan wawancara yang dilakukan kepada kepala ruangan di
Ruang Cilinaya RSD Mangusada dikatakan bahwa discharge planning
sudah dilakukan dengan baik. Pasien yang sudah diperbolehkan pulang
oleh dokter hanya diberikan jadwal untuk kontrol kembali termask terapi
obatnya dan mengajarkan pada pasien yang harus dilakukan dan dihindari
selama di rumah, serta hasil-hasil pemeriksaan selama dirawat. Saat
pemulangan pasien perawat ruangan Cilinaya memberikan kuesioner
kesan dan pesan kepada keluarga pasien maupun pasien selama mendapat
perawatan di Ruang Cilinaya. Pemberian health education kepada pasien
dan keluarga pasien hanya dijelaskan secara lisan.

Kesenjangan :
Dicharge planning di Ruang Cilinaya dilakukan pada pasien yang
sudah diperbolehkan pulang oleh dokter yang telah melakukan visite,
penyuluhan telah dilakukan, namun tidak melakukan evaluasi kembali
selama diberikan penyuluhan. Melakukan health education tidak disertai
dengan pemberian leaflet yang digunakan untuk menambahkan
pengetahuan pasien dan keluarga secara menyeluruh karena keterbatasan
sarana dan prasarana.

f. Ronde Keperawatan
Metode keperawatan primer merupakan salah satu metode
pemberian pelayanan keperawatan dimana salah satu kegiatannya
adalah ronde keperawatan, yaitu suatu metode untuk menggali dan
membahas dan secara mendalam masalah kepeawatan yang terjadi
kepada klien dan kebutuhan klien akan keperawatan yang
dilakukan oleh perawat primer/Associate, konselor, kepala ruangan

56
dan seluruh tim keperawatan dengan melibatkan secara langsung
sebagai fokus kegiatan.
Ronde keperawatan akan memberikan media bagi perawat
untuk membahas lebih dalam masalah dan kebutuhan klien serta
merupakan suatu proses belajar bagi perawat dengan harapan
dalam meningkatkan kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor.
Kepekaan dan cara berpikir kritis perawat akan tumbuh dan
berlatih melalui suatu transfer pengetahuan dan mengaplikasikan
konsep teori kedalam praktik perawatan (Nursalam, 2012).
a) Adapun kegiatan ini mempunyai karakteristik meliputi:
(1) Klien telibat secara langsung
(2) Klien merupakan fokus kegiatan
(3) AN/ PN dan konselor melakukan diskusi bersama
(4) Konselor memfasilitasi kreativitas
(5) Konselor membantu mengembangkan kemampuan AN dan
PN dalam meningkatkan kemampuan mengatasi masalah
b) Manfaat ronde keperawatan:
(1) Masalah klien dapat teratasi
(2) Kebutuhan klien dapat terpenuhi
(3) Terciptanya komunitas keperawatan yang profesional
(4) Terjalin kerjasama antara tim kesehatan
(5) Perawat dapat melaksanakan model asuhan keperawatan
dengan tepat dan benar.
c) Kriteria klien:
Klien yang dipilih untuk melakukan ronde keperawatan adalah
klien yang memiliki kriteria sebagai berikut:
(1) Mempunyai masalah keperawatan yang belum teratasi
meskipun sudah dilakukan tindakan keperawatan.
(2) Klien dengan kasus baru atau langka

57
Pelaksanaan di ruangan :
Dari hasil wawancara dengan kepala ruangan pelaksanaan ronde di
Ruang Cilinaya ada namun jarang dilakukan. Sejauh ini pemecahan
masalah-masalah khusus pada pasien dilakukan dengan cara perawat
primer dan ketua tim berdiskusi dengan kepala ruangan, jika kepala
ruangan tidak bisa menemukan cara pemecahan masalah pasien, maka
akan didiskusikan dengan tim medis lain ataupun non medis yang
berkaitan dengan masalah pasien, seperti dokter spesialis, ahli gizi, dan
lain-lain. Proses pemecahan masalah tidak melalui proses pembentukan
tim ronde, proposal maupun persiapan pasien. Ronde tersebut dilakukan
di nurse station atau di ruang pertemuan bukan disamping pasien beserta
keluarganya.

Kesenjangan :
Ronde keperawatan di Ruang Cilinaya jarang dilakukan, karena kasus
pasien jarang mengarah ke kasus yang lebih serius. Jika kasus pasien
tidak teratasi maka perawat primer dan ketua tim akan mengadakan
pertemuan dan berdiskusi dengan kepala ruangan mengenai kasus yang
belum teratasi, jika kondisi atau kasus pasien memburuk maka
selanjutnya akan melibatkan profesi-profesi lainnya.

58
Tabel
Dokumentasi Ruang Cilinaya RSD Mangusada
No Item RM No RM Nama form RM Keterangan fungsi

1 Admisi 1.0 Form pendaftaran pasien Pendaftaran pasien ke rs


1.1 General concent Persetujuan secara umum saat pertama pasien datang ke rs
1.2 Permintaan pasien opname Permintaan mrs oleh dokter ke admisi
2 Irja (rawat 2.0 Resume rawat jalan (summary list) Riwayat kunjungan ps ke poliklinik dan diisi secara berlanjut
jalan)
2.0.1 Riwayat dpjp Memuat daftar riwayat dokter penanggungjawab pasien
2.0.2 Formulir surat pernyataan Diisi pada saat pasien mendapatkan surat pengantar rawat inap
memilih/menyetujui dpjp
2.1 Pengkajian klinik filter terintegrasi Khusus pengkajian/assesment klinik umum, vct
2.2 Pengkajian klinik bedah terintegrasi Khusus pengkajian/assesment klinik bedah, ortopedi dan bedah saraf
2.3 Pengkajian klinik penyakit dalam Khusus pengkajian/assesment klinik penyakit dalam, klinik diabetik
terintegrasi
2.3.1 Pengkajian klinik penyakit jantung Khusus pengkajian/assesment klinik penyakit jantung
terintegrasi
2.4 Pengkajian klinik mata terintegrasi Khusus pengkajian/assesment klinik mata

59
2.5 Pengkajian klinik kulit kelamin Khusus pengkajian/assesment klinik kulit
terintegrasi
2.6 Pengkajian klinik jiwa terintegrasi Khusus pengkajian/assesment klinik jiwa
2.7 Pengkajian klinik kebidanan Khusus pengkajian/assesment klinik kebidanan, pmtct
terintegrasi
2.8 Pengkajian klinik tht terintegrasi Khusus pengkajian/assesment klinik tht
2.9 Pengkajian klinik anak terintegrasi Khusus pengkajian/assesment klinik anak
2.10 Pengkajian klinik fisioterapi Khusus pengkajian/assesment klinik fisioterapi
2.11 Pengkajian klinik saraf terintegrasi Khusus pengkajian/assesment klinik saraf
2.12 Pengkajian klinik gigi terintegrasi Khusus pengkajian/assesment klinik gigi
2.13 Konsultasi dan jawaban konsultasi Konsultasi dokter antar klinik kecuali jika ada pasien rencana operasi
tidak memerlukan konsultasi ke klinik anestesi
2.14 Asuhan keperawatan rawat jalan Form asuhan keperawatan dan tidak digunakan pada klinik kebidanan
dan klinik pmtct
2.15 Catatan perkembangan terintegrasi Di isi pada oleh semua profesi yang merawat pasien dan digunakan pada
(soap) saat kunjungan pasien yang berulang atau pada saat konsultasi ke klinik
lain yang diisi oleh perawat/bidan
2.16 Edukasi terintegrasi Harus diisi oleh perawat/bidan/ fisioterapi/gizi dan dokter pada saat
pasien datang ke klinik
2.17 Penolakan rawat inap Diisi pada saat pasien/klg menolak untuk mrs

60
2.18.0 Edukasi esophago gastro Diisi pada pasien yang direncanakan pemeriksaan egd
duodenoskopi (egd)
2.18.1 Edukasi kolonoskopi Diisi pada pasien yang direncanakan pemeriksaan kolonoskopi
2.19.0 Cek list serah terima egd Cek list serah terima pasien di ruang endoskopi dengan pemeriksaan egd
2.19.1 Cek list serah terima kolonoskopi Cek list serah terima pasien di ruang endoskopi dengan pemeriksaan
kolonoskopi
2.20 Ceklist endoskopi Diisi di ruang endoskopi berupa sign in, time out, sign out.
3 IGD 3.0.0 Form triage Diisi pada saat pasien di triage igd dan vk
3.0.1 Form pengkajian terintegrasi Asuhan medis yang diisi oleh tim dokter
Instalasi gawat darurat
3.0.2 Riwayat dokter penanggung jawab Memuat daftar riwayat dokter penanggungjawab pasien
pasien (dpjp)
3.1.0 Pengkajian keperawatan gawat Asuhan perawat yang diisi oleh tim perawat
darurat
3.1.1 Pengkajian kebidanan gawat darurat Asuhan bidan yang diisi oleh bidan
3.1.2 Partograf Asuhan bidan yang diisi oleh bidan/perawat
3.1.3 Pengkajian bayi baru lahir Asuhan bidan yang diisi oleh bidan/perawat
3.2 Pengkajian neonatologi Asuhan bidan yang diisi oleh bidan/perawat
3.3 Catatan perkembangan terintegrasi Di isi pada oleh semua profesi yang merawat pasien dan digunakan pada
(soap) saat pasien diobservasi (setiap pergantian shif oleh perawat dan dokter)

61
atau dokter spesialis yang langsung menvisite di bed pasien
3.4 Edukasi terintegrasi Harus diisi oleh perawat/bidan dan dokter pada saat pasien datang ke
igd/vk
3.5 Form observasi induksi persalinan Asuhan bidan yang diisi oleh bidan
3.6 Form konsultasi dan jawaban Konsultasi yang dianjurkan oleh dokter spesialis ke dpjp tambahan atau
konsultasi dari dokter jaga ke dokter gigi
3.7 Penolakan rawat inap Diisi pada saat pasien/klg menolak untuk mrs
3.8 Form penitipan barang Digunakan pada pasien tidak sadar tanpa pengantar/penanggung jawab
atau digunakan atas permintaan pasien
3.9 Formulir observasi pasien Digunakan oleh tim ambulance igd
Di ambulance
4 IRNA- 4.0.0 Timbang terima (sbar) Digunakan pada serah terima pasien dari poliklinik/ igd ke ruang rawat
IRIT inap
4.0.1 Orientasi pasien baru Digunakan pada pasien yang mrs
4.1.0a Asesmen awal keperawatan Digunakan khusus untuk asemen awal oleh perawat
Pasien rawat inap dewasa
4.1.0b Asesmen awal medis Digunakan khusus untuk asemen awal oleh dokter
Pasien rawat inap dewasa
4.1.1 Pengkajian keperawatan anak Digunakan pada pasien anak
4.1.2 Pengkajian keperawatan kebidanan Digunakan pada pasien kebidanan

62
4.1.3 Pengkajian neonatus Digunakan pada pasien neonatus
4.1.4 Pengkajian resiko gangg integritas
kulit
4.1.5 Pengkajian ulang risiko jatuh Digunakan di ruang rawat inap/ ruang intensif pada pasien dewasa yang
dewasa di assesment awal (pengkajian dipoliklinik/igd) memiliki risiko jatuh dan
juga digunakan pada pasien yang ditemukan memiliki risiko jatuh pada
saat di ruang inap/ruang intensif
4.1.6 Pengkajian ulang risiko jatuh anak Digunakan di ruang rawat inap/ ruang intensif pada pasien anak yang di
assesment awal (pengkajian dipoliklinik/igd) memiliki risiko jatuh dan
juga digunakan pada pasien yang ditemukan memiliki risiko jatuh pada
saat di ruang inap/ruang intensif
4.1.7 Pengkajian risiko jatuh psikiatri Digunakan di ruang rawat inap/ ruang intensif pada pasien psikiatri yang
di assesment awal (pengkajian dipoliklinik/igd) memiliki risiko jatuh dan
juga digunakan pada pasien yang ditemukan memiliki risiko jatuh pada
saat di ruang inap/ruang intensif
4.1.8 Asuhan resiko jatuh neonatus Digunakan di ruang rawat inap/ ruang intensif pada pasien neonatus
4.1.9 Form rencana pelayanan dpjp Form program care plan dokter dpjp sesuai dengan clinical phatway
4.1.10 Formulir surat persetujuan alih dpjp Digunakan jika terjadi perubahan dpjp saat perawatan pasien
4.2.0 Catatan perkembangan terintegrasi Di isi pada oleh semua profesi (dokter, perawat, ahli gizi, fisioterapi,
(soap) farmasi) yang merawat pasien dan di isi oleh perawat setiap pergantian

63
shif
4.2.1 Edukasi terintegrasi Di isi pada oleh semua profesi yang memberi pendidikan kepada pasien (
dokter,perawat, ahli gizi, fisioterapi, farmasi) dan termasuk edukasi
dalam pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan laboratorium,
radiologi
4.3 Perencanaan keperawatan Asuhan perawat dalam menegakkan diagnosa keperawatan, kriteria
waktu dan evaluasi serta
Intervensinya
4.4 Tindakan keperawatan Asuhan perawat dalam memberi tindakan keperawatan
4.5.0 Catatan observasi koperhensif Catatan vital sign, skala nyeri
diruang rawat inap
4.5.1 Catatan observasi di ruang intensif Catatan observasi khusus diruang intensif icu, hcu (flicat)
4.5.2 Catatan observasi di ruang neonatus Catatan observasi khusus diruang intensif nicu (flicat) belum ada
intensif
4.6 Catatan keseimbangan cairan Catatan balance cairan pasien setiap 24 jam, dibalancekan setiap jam
08.00 wita
4.7.0 Catatan pemberian obat antibiotik Catatan delegatif pemberian antibiotik pada pasien opname/mrs yang di
isi oleh perawat ( cukup diisi jam masuk obat tanpa dilingkari jam/waktu
pemberian) dan catatan kefarmasian, cek balance obat diisi oleh apoteker
4.7.1 Catatan pemberian obat-obat lain Catatan delegatif pemberian obat selain antibiotik pada pasien

64
opname/mrs yang di isi oleh perawat ( cukup diisi jam masuk obat tanpa
dilingkari jam/waktu pemberian) dan catatan kefarmasian, cek balance
obat diisi oleh apoteker
4.8 Discharge planing Catatan perencanaan pasien mrs sampai pulang diisi oleh perawat
4.9 Form permintaan pulang Form permintaan pulang pasien dengan permintaan sendiri disertai
alasannya
4.10 Ringkasan pasien pulang (discharge Catatan keluar pasien dari ruangan diisi oleh dokter (dpjp) kecuali pada
summary) pasien meninggal diisi oleh dokter jaga atas nama dpjp
4.11 Resume pasien masuk dan keluar Catatan keluar masuk pasien dari ruangan diisi oleh perawat, dokter .
4.12 Laporan medis (medical report) Diisi jika pasien meminta laporan medis saat pasien masih dirawat inap
5 Kamar 5.0 Assesment presedasi anestesi Asuhan medis anestesi diisi sebelum ke kamar operasi kecuali pada
operasi tindakan cito diisi diruang pre operasi
(ok)
5.0.1 Assesment pra operasi Asuhan medis yang wajib diisi sebelum dilakukan tindakan operasi
5.1 Informent concent anestesi Persetujuan tindakan anestesi diisi sebelum ke kamar operasi kecuali
pada tindakan cito diisi diruang pre operasi
5.2 Cek list serah terima pasien pre Form serah terima pasien dari ruangan/poli/igd/vk ke kamar operasi dan
operasi dan post operasi dari kamar operasi ke ruang rawat inap/ruang intensif
5.3 Cek list bedah (sign in, time out, Cek list di kamar operasi ( ruang pre op, ruang tindakan dan ruang
sign out) pemulihan)

65
5.3.1 Check list kesiapan anestesi Check list tentang kesiapan dilakukannya tindakan anastesi
5.4 Asuhan keperawatan kamar operasi Asuhan keperawatan di kamar bedah
5.5 Laporan operasi Laporan operasi diisi oleh operator sebelum ke ruang rawat inap/ruang
intensif
5.6 Catatan anestesi Catatan anestesi pasien selama tindakan anestesi diisi sebelum pasien ke
ruang rawat inap/ruang intensif
5.8 Perencanaan pasca pembedahan Catatan perencanaan yang akan dilakukan setelah tindakan operasi
5.9 Catatan anastesi Seluruh catatan anastesi baik pra maupun pasca anastesi
6 Hemodialis 6.0 Form status hemodialisa Form asuhan medis di isi dokter konsultan hd (dpjp di ruang hd)
a (hd)
6.1 Pengkajian keperawatan hd Asuhan keperawatan pasien hd
6.2 Form perjalanan penggunaan obat- Sdh jelas
obatan
6.3 Form penggunaan obat saat hd Sdh jelas
6.4 Form catatan transfusi Sdh jelas
6.5 Form pemakaian eritropoetin dan Sdh jelas
zat besi
6.6 Form adekuasi hemodialisis Sdh jelas
6.7 Form catatan pemeriksaan Sdh jelas
laboratorium

66
6.8 Form catatan keluar Form catatan keluar pasien dari ruang hd
7 Gizi 7.0 Pengkajian dan rencana terapi gizi Khusus pengkajian/assesment klinik gizi dan ruang hemodialisa yang
rawat jalan/hd dilakukan oleh ahli gizi
7.0.1 Pengkajian awal dan rencana Khusus pengkajian gizi klinik dan ruang hemodialisa yang dilakukan
perawatan gizi klinis oleh ahli gizi
7.1 Skrining lanjutan mst Form khusus menskrining ulang pada pasien yang opname (mrs)
7.2.1 Pengkajian gizi rawat inap Form asuhan gizi pasien dewasa
7.2.2 Pengkajian gizi bayi dan anak rawat Form asuhan gizi pada bayi dan anak
inap
7.3 Formulir permintaan makanan Form permintaan makanan pada tiap ruangan di isi petugas ahli gizi
7.4 Monitoring dan evaluasi Form khusus pada pasien yang bermasalah pada nutrisinya

8 Umum 8.0 Persetujuan tindakan medik Khusus digunakan pada pasien yang akan menjalani operasi atau
tindakan medik lain seperti pasang traksi, gips, wsd dll
Harus diisi oleh operator/dokter yang akan melakukan tindakan
8.1 Persetujuan tindakan berisiko tinggi Khusus digunakan pada pasien yang diambil tindakan seperti pemberian
transfusi, hemodialisa, khemoterapi, endoskopi, ngt, pasang kateter,

67
restrain, pemeriksaan radiologi dengan obat kontras
8.1.1 Edukasi dan persetujuan tindakan Khusus digunakan pada pasien yang diambil tindakan untuk
holter mengevaluasi fungsi jantung dan atau kelistrikan jantung
8.2 Penolakan tindakan medik Digunakan pada pasien/klg yang menolak tindakan setelah diberi
informasi (rm.8.0 dan rm.8.1) atau tindakan lainnya spt pasang infus,
hecting, dll
8.3 Chek list dnr Digunakan pada pasien yang tidak memerlukan resusitasi dengan
memberi gelang unggu pada list pasien (ditentukan oleh dpjp, dpjp
tambahan, dokter anestesi, dokter kardiologi)
8.4 Assesment dan intervensi restrain Digunakan pada pasien yang gelisah, gangguan kejiwaan/mengamuk
8.5 Form kerohanian Digunakan pada pasien/keluarga yang meminta pelayanan kerohaniaan
atau pada pasien yang terminal ditawari permintaan layanan kerohaniaan
8.5.1 Asesmen terminal terintegrasi Digunakan pada saat pasien terminal, diisi oleh dokter dan perawat
8.6 Form ijin pulang sementara Digunakan pada pasien yang akan menjalani operasi tapi belum
mendapatkan kamar (dari penilaian medis tidak memerlukan opname)
Dan digunakan pada pasien yang ijin karena ada pemeriksaan pengadilan,
upacara agama
8.7 Form catatan reaksi transfusi Digunakan pada pasien yang mengalami reaksi pada saat transfusi (dibuat
rangkap 2 (untuk list ps dan unit pmi))
8.8 Surat rujukan Digunakan pada pasien yang akan dirujuk dengan rangkap 2 ( dilist

68
pasien dan rs rujukan)
8.9.0 Surat keterangan lahir Digunakan pada bayi yang lahir di rsud badung dengan pemberian nomor
dari ruang vk/bersalin dibuat rangkap 2 (list pasien dan untuk pasien)
8.9.1 Form keterangan kematian Digunakan pada pasien yang meninggal di rsud badung dengan
pemberian nomor di ruang igd dibuat rangkap 2 (list pasien dan untuk
pasien)
8.9.2 Pesan pulang dan kontrol kembali Digunakan pada pasien yang dianjurkan kontrol kembali diisi oleh
perawat
8.9.3 Surat keterangan diagnosis Digunakan pada pasien yang meminta keterangan diagnosis medis atau
pasien yang akan meminta rujukan ke puskesmas
8.9.4 Surat keterangan dirawat inap Sdh jelas
8.9.5 Surat keterangan sakit Sdh jelas
8.9.6 Surat keterangan sehat Sdh jelas
8.10a Formulir surat pernyataan Ditandatangani pasien/wali pasien jika setuju dirujuk
persetujuan untuk dirujuk
8.10b Formulir surat pernyataan Ditandatangani pasien/wali pasien jika menolak dirujuk
penolakan untuk dirujuk
8.11a Form a Diisi evaluasi awal a (identifikasi) pasien rawat inap oleh mpp/case
Evaluasi awal mpp manager
(manajer pelayanan pasien)

69
8.11b Form b Diisi evaluasi awal b (rencana s/d terminasi) pasien rawat inap oleh
Evaluasi awal mpp mpp/case manager
(manajer pelayanan pasien)

70

Anda mungkin juga menyukai