27
BAB III
PELAYANAN RESEP DI APOTEK
III.1 Contoh Resep
Gambar. Contoh resep
28
III.2 Skrining Resep
a. Skrining Administratif
Tabel 1. Kelengkapan resep
Bagian Tidak
Kelengkapan Ada Keterangan
resep ada
Nama Dokter √ dr. Dian Purnamasari Sp. PD
No. SIP √ Tidak tercantumkan
( 0411)551667/
No. telp/HP √
0829997431
Inscriptio Praktek : Klinik Medical
Alamat Dokter √ Jl. DR. Sam Ratulangi No.28
Makassar
Tempat dan
tanggal √ Tidak Ada
penulisan resep
Invocatio Tanda R/ √
Nama obat √ R/ Paracetamol 300 mg
Prescriptio Jumlah yang Codein 10 mg
√ Diazepam 2 mg
diminta
Dexamethasone ½ tab
[Link]. dtd da in caps no. LX
S. 2 dd 1 caps
Aturan Pakai √ R/ Acetylcysteine XXX
S. 2 dd 1
R/ Cetirizine XXX
S. 2 dd 1
Bentuk sediaan
√ Ada
obat
Signatura
Nama Pasien √ Ny. Ritha
Umur Pasien √ Tidak tercantum
Bobot Badan
√ Tidak tercantum
Pasien
No. telp pasien √ Tidak tercantum
Alamat Pasien √ √ Tidak tercantum
Paraf/tanda
Subscriptio √ Tidak Ada
tangan dokter
29
Berdasarkan resep di atas tidak semua bagian memenuhi kelengkapan
administrasi resep. Seperti dijelaskan di bawah ini:
1. Nomor SIP
Namun hal ini tidak masalah karena resep ini berasal dari salah satu klinik
rumah sakit di Makassar, yang artinya dokter ini merupakan tanggung jawab
dari klinik tempatnya bekerja. Format suatu resep dari klinik rumah sakit
maupun puskesmas sedikit berbeda dengan resep pada praktik pribadi. Resep
dari puskesmas maupun rumah sakit tidak tercantum Surat Izin Praktik
dokter, hal ini dikarenakan dokter yang bekerja atau melakukan praktik di
rumah sakit tersebut bernaung di bawah izin operasional rumah sakit.
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia no. 147 tahun
2010 tentang izin operasional rumah sakit adalah izin yang diberikan untuk
menyelenggarakan pelayanan kesehatan setelah memenuhi persyaratan.
2. Paraf dokter penting untuk menjamin keaslian resep khususnya untuk resep
narkotik. Dalam resep tidak ada paraf dari dokter, tetapi hal ini bisa diterima
karena dokter tersebut merupakan dokter dari klinik medical, sehingga
apoteker bisa meminta paraf dari dokter tersebut apabila dokter lupa.
3. Tempat dan tanggal penulisan resep tidak tercantum. Menurut PerMenKes no.
35 tahun 2014 dalam kajian administrastif resep harus menulis tanggal resep,
tetapi ini bisa dilakukan oleh apoteker apabila apoteker bekerja di apotek
yang ada di klinik tersebut.
4. Bobot badan pasien dibutuhkan untuk menghitung dosis obat yang diberikan
terutama dalam kategori pasien bayi dan anak-anak. Pasien ini tergolong
dalam kategori dewasa, dan hal ini tidak menjadi masalah, tetapi untuk
penulisan resep selanjutnya akan lebih baik jika dokter mencantumkan berat
badan pasien, atau apoteker bisa menanyakannya secara langsung karena
beberapa obat dosis maksimal dan ataupun dosis lazimnya dihitung
berdasarkan berat badan. Perhitungan dosis berdasarkan berat badan dinilai
lebih akurat dibandingkan dengan berdasarkan umur.
5. Nomor telepon dan alamat pasien tidak tercantum pada resep. Menurut
PerMenKes no. 35 tahun 2014 dalam pengkajian administratif resep tidak ada
dinyatakan nomor telepon dan alamat pasien, tetapi sebaiknya nomor telepon
30
dan alamat pasien dicantumkan dalam resep. Apabila terdapat masalah dalam
pengobatan (medication error) maka alamat dan nomor telepon pasien
merupakan hal yang penting untuk dapat menghubungi pasien tersebut.
Tanyakan secara langsung pada keluarga pasien atau yang membawa resep,
agar jika terjadi sesuatu atau ada hal-hal yang ingin dikonfirmasi kembali,
bisa dengan mudah dihubungi.
III.3 Skrining Farmasetik
a. Kesesuaian Bentuk dan Kekuatan Sediaan
Bentuk sediaan yang diminta merupakan racikan kapsul dan tablet. Resep
tidak mencantumkan umur pasien berarti bisa saja pasien termasuk dewasa
maupun anak, namun dilihat dari sediaan yang dibuat sepertinya pasien
sudah dewasa dan mampu menelan tablet dan kapsul sehingga bentuk
sediaan yang diberikan sudah tepat.
Kekuatan sediaan dituliskan semua oleh dokter yang meresepkan.
1. Paracetamol (setiap tablet mengandung 500 mg)
2. Codein (setiap tablet mengandung 20 mg)
3. Diazepam (setiap tablet mengandung 2 mg)
4. Dexamethasone (setiap tablet mengandung 0,5 mg)
5. Acetylcysteine (setiap tablet mengandung 200 mg)
6. Cetirizine (setiap tablet mengandung 10 mg)
b. Stabilitas
Obat-obat sediaan jadi dan obat racikan yang diberikan dalam kemasan
kapsul stabil pada penyimpanan suhu kamar (25-30°C) dan terlindung dari
cahaya matahari (Sweetman, 2009).
c. Kompatibilitas
Kompatibilitas (ketercampuran obat) pada paracetamol, diazepam, codein dan
dexamethasone tidak terjadi inkompabilitas secara farmasetik antara satu
sama lain sehingga dapat diracik (Sweetman, 2009).
III.4 Pertimbangan Klinis
Berdasarkan resep di atas dokter meresepkan 3 jenis obat. Obat pertama
adalah racikan yang komposisinya terdiri dari paracetamol, codein, diazepam,
dexamethasone, obat kedua adalah acetylcystein dan obat ketiga adalah cetirizine.
31
Dari obat-obat yang telah dokter resepkan dapat diketahui bahwa pasien ini
mengalami infeksi saluran pernafasan.
a. Ketepatan indikasi obat
- Paracetamol diindikasikan sebagai analgetik dan antipireutik.
- Codein diindikasikan sebagai antitusif.
- Diazepam diindikasikan sebagai antikonvulsan, relaksan otot dan sedatif.
- Dexamethasone diindikasikan sebagai penekan reaksi peradangan dan
relaksan otot.
- Acetylcysteine diindikaasikan sebagai mukolitik terapi pada akut dan
kronik penyakit bronkial dan paru dengan mukus yang tebal, seperti: akut
bronkhitis, bronkhitis kronik dan akut berulang, pulmonari emfisema,
mokuvisidosis, bronkiektasis.
- Cetirizine diindikasikan rinitis alergi menahun, musiman dan urtikaria
idiopatik kronik.
b. Ketepatan dosis obat
Dosis obat yang diberikan dalam resep:
1. Racikan
- Paracetamol 300 mg (Dirjen POM, 1979)
Dosis lazim parasetamol untuk dewasa : 500 mg/500 mg– 2 g.
Dokter meresepkan paracetamol 300 mg maka :
Untuk sekali pakai : 1 x 300 mg = 300 mg < 500 mg
Untuk sehari pakai : 3 x 300 mg = 900 mg < 2000 mg
- Codein 10 mg (Dirjen POM, 1979)
Dosis lazim sekali codein yaitu 10 mg - 20 mg, sehari 30 mg - 60 mg.
Dosis maksimum sekali yaitu 60 mg, sehari 300 mg. Berdasarkan
resep, codein yang diberikan adalah 10 mg maka :
Untuk sekali pakai : 1 x 10 mg = 10 mg < 60 mg
Untuk sehari pakai : 3 x 10 mg = 30 mg < 300 mg
- Diazepam 2 mg (Dirjen POM, 1979)
Dosis lazim diazepam untuk dewasa : -/5 mg- 30 mg dalam dosis
terbagi dan Dosis maksimumnya adalah -/40 mg.
Diazepam yang diresepkan dokter 2 mg maka :
Untuk sehari pakai = 3 x 2 mg = 6 mg
- Dexamethasone ½ tab (Dirjen POM, 1979)
Dosis lazim dexamethasone yaitu -/0,5mg-2mg.
Berdasarkan resep, dexamethasone yang diberikan ½ tab. Sediaan
yang tersedia 0,5 mg jadi yang diresepkan adalah 0,25 mg, maka :
32
Untuk sehari pakai : 3 x 0,25 mg = 0,75 mg < 2 mg
2. Acetylcysteine
Dosis lazim acetylcysteine untuk dewasa: 200 mg. Berdasarkan resep
dosis yang digunakan adalah 200 mg dengan aturan pakai 2 kali sehari
1 kapsul, telah sesuai karena tidak melebihi dosisnya.
3. Cetirizine
Dosis lazim cetirizine untuk dewasa: 10 mg per hari. Berdasarkan
resep dosis yang digunakan adalah 10 mg dengan aturan pakai 2 kali
sehari 1 tablet, telah sesuai karena tidak melebihi dosisnya.
c. Aturan dan cara penggunaan obat
1) Kapsul Racikan (Sweetman, 2009; Lacy, 2009)
Obat racikan yang berisi parasetamol 300 mg, codein 10 mg, diazepam
2 mg dan dexamethasone ½ tablet diberikan dalam bentuk sediaan kapsul
sebanyak 60 kapsul dan diminum 2 kali sehari satu kapsul pagi dan siang
setelah makan. Aturan, cara dan lama penggunaan kapsul racikan ini sudah
sesuai dengan literatur.
2) Acetilcystein 200 mg (Direktorat BinFar Komunitas dan Klinik, 2005)
Pada resep diberikan acetilcystein 200 mg sebanyak 30 kapsul dan
diminum 2 kali sehari 1 kapsul setelah makan. Aturan, cara dan lama
penggunaan kapsul racikan ini sudah sesuai dengan literatur.
3) Cetirizine (Direktorat BinFar Komunitas dan Klinik, 2005)
Pada resep diberikan cetirizine 10 mg sebanyak 30 tablet dan diminum 2
kali sehari 1 tablet setelah makan. Aturan, cara dan lama penggunaan
kapsul racikan ini sudah sesuai dengan literatur.
d. Duplikasi atau Polifarmasi
Dalam resep tersebut terjadi polifarmasi dan menurut American Medical
Association (AMA) kombinasi dari 3 obat dalam 1 racikan tidak rasional.
Polifarmasi memang sebaiknya dihindari karena reaksi kimia antar obat yang
terjadi bisa saling mempengaruhi antar obat tersebut, beberapa obat yang dinilai
tidak mendukung efek terapi sebaiknya dihilangkan, namun jika suatu kondisi
mengharuskan pasien untuk menggunakan obat tersebut maka sebaiknya
disesuaikan dengan dosis.
e. Reaksi obat yang tidak diinginkan (alergi, efek samping obat).
1. Kapsul racikan
33
a) Paracetamol (Lacy, 2009)
Paracetamol dapat menyebabkan toksisitas hati yang berat pada
overdosis akut; di samping itu, dosis harian kronis pada orang dewasa
telah mengakibatkan kerusakan hati pada beberapa pasien.
b) Codein (Tatro, 2003; Lacy, 2009)
Codein dapat menyebabkan efek samping berupa depresi pada sistem
saraf pusat yang dapat mengganggu kemampuan fisik atau mental;
pasien harus memperingatkan tentang melakukan tugas- tugas yang
membutuhkan kewaspadaan mental (misalnya, mesin operasi atau
mengemudi). Dapat menyebabkan hipotensi; digunakan dengan hati-
hati pada pasien dengan hipovolemia, penyakit kardiovaskular, atau
obat-obatan yang mungkin melebihkan efek hipotensi (termasuk
fenotiazin atau anestesi umum). Efek samping yang juga terjadi adalah
gangguan pada gastro intestinal seperti mual, muntah, sembelit, sakit
perut, anoreksia, empedu saluran kejang.
c) Diazepam (Tatro, 2003)
Diazepam dapat menyebabkan efek samping terhadap kardiovaskular:
bradikardia, takikardia, hipertensi, palpitasi dan hipotensi. Pada Sistem
Saraf Pusat: Mengantuk, kebingungan, ataxia, pusing, kelesuan,
kelelahan, kegelisahan, sakit kepala. Pada Gastro Intestinal: Sembelit,
diare, mulut kering, lidah dilapisi, mual, anoreksia, muntah
d) Dexamethasone (Tatro, 2003)
Dexamethasone dapat menyebabkan efek samping berupa gangguan
pada cardiovaskuler seperti tromboemboli atau emboli lemak, aritmia,
hipertensi, ruptur miokard . Pada sistem saraf pusat berupa kejang;
peningkatan tekanan intrakranial dengan papilledema (pseudotumor
cerebri); vertigo; sakit kepala; psikosis. Pada gastro intestinal: berupa
pankreatitis, esophagitis ulseratif; mual, muntah, peningkatan nafsu
makan dan berat badan, ulkus peptikum dengan perforasi dan
perdarahan.
2. Acetylcysteine
34
Acetylcysteine dapat menyebabkan efek samping berupa alergi seperti
urtikaria, rash, kesulitan bernapas (bronkospasme), denyut jantung yang
cepat dan turunnya tekanan darah.
3. Cetirizine
Cetirizine dapat menyebakan efek samping ringan dan sementara seperti
sakit kepala, pusing, mengantuk, gelisah, kering mulut dan
ketidaknyamanan pada pencernaan.
f. Kontraindikasi
Untuk penggunaan resep ini sebainya dikontraindikasikan untuk pasien
yang memiliki hipersensitivitas dengan obat-obat yang terdapat di dalam resep.
Penjelasan lebih lanjut dapat dilihat pada poin III.3.
g. Interaksi obat
1) Paracetamol dengan diazepam (Lacy, 2009)
Diazepam akan menurunkan efek dari paracetamol dengan meningkatkan
metabolismenya sehingga dapat menghasilkan metabolit yang bersifat
hepatotoksik yang meningkat pula.
2) Codein dengan acetylcysteine
Codein bersifat mucolitik yaitu mengencerkan dan membersihkan mukus
dari saluran pernapasan dengan memecah sputum (dahak). sedangkan
Acetylcysteine bersifat antitusif yaitu meredakan batuk yang
diindikasikan untuk batuk kering. Ada kemungkinan efek kedua obat
tersebut saling meniadakan sehingga tujuan pengobatan tidak tercapai.
h. Kerasionalan obat
Penggunaan obat dalam resep ini sudah tepat berdasarkan indikasi, dosis
dan pasien namun terdapat obat yang memiliki interaksi yang merugikan yaitu
codein dengan acetylcystein memiliki sifat yang berbeda. Codein bersifat
mengencerkan dan membersihkan mukus dari saluran pernapasan dengan
memecah sputum (dahak) sedangkan acetylcysteine bersifat meredakan batuk
yang diindikasikan untuk batuk kering. Maka kombinasi tersebut tidak
rasional karena kedua obat tersebut efeknya berlawanan.
III.5 Uraian Obat dalam Resep
a) Paracetamol (Tatro, 2003; Lacy, 2009; Dirjen POM, 1979)
35
1. Komposisi :
Setiap tablet mengandung paracetamol 500 mg.
2. Nama dagang :
Sanmol® (Sanbe), Samconal® (Samco), Ottopan® (Otto), Progesic®
(Metiska), Praxion® (Pharos), Pamol® (Interbat), Propyretic® (Combiphar),
Primadol® (Soho) dan Petamol® (Zenith).
3. Farmakologi :
Menghambat prostaglandin di sistem saraf pusat tetapi tidak memiliki
efek anti - inflamasi di sistem saraf tepi; mengurangi demam melalui
tindakan langsung pada hipotalamus yang merupakan pusat pengatur panas
(Tatro, 2003)
4. Indikasi :
Analgetik dan antipireutik (Dirjen POM, 1979). Mengatasi nyeri ringan
sampai sedang; pengobatan demam. Nyeri dan profilaksis demam setelah
vaksinasi (Tatro, 2003).
5. Kontraindikasi :
Penderita gangguan fungsi hati yang berat dan penderita hipersensitif
terhadap obat ini.
6. Efek samping :
Hepatotoksisitas : dapat menyebabkan toksisitas hati yang berat pada
overdosis akut; di samping itu, dosis harian kronis pada orang dewasa
telah mengakibatkan kerusakan hati pada beberapa pasien (Lacy, 2009)
7. Peringatan dan perhatian :
Gunakan dengan hati-hati pada pasien dengan penyakit hati dan alkoholik;
mengkonsumsi minuman beralkohol dapat meningkatkan risiko kerusakan
hati (Lacy, 2009).
8. Dosis dan atauran pakai :
Dosis lazim parasetamol untuk dewasa : 500 mg/500 mg – 2 g (Dirjen
POM, 1979)
Untuk penggunaa oral : 325-650 mg setiap 4-6 jam atau 1000 mg 3-4 kali/
hari dan tidak melebihi 4 g / hari (Lacy, 2009).
36
9. Bentuk sediaan : tablet 500 mg; sirup 120 mg/5mL.
b) Diazepam (Tatro, 2003; Lacy, 2009; Dirjen POM, 1979)
1. Komposisi :
Tiap tablet mengandung 2 mg diazepam
2. Nama dagang :
Decazepam®, Mentalium®, Stesolid®, Trazep®, Valdimex®, Valisanbe®dan
Valium®
3. Farmakologi :
Mempotensiasi aksi GABA, penghambatan neurotransmitter, sehingga
meningkatkan penghambatan saraf dan depresi SSP, terutama dalam sistem
limbik dan formasi reticular (Tatro, 2003).
4. Indikasi :
Digunakan pada keadaan ansietas, halusinasi akibat mengkomsumsi
alkohol, ketakutan dan kecemasan pra operasi dan pengurangan daya
ingat, pengobatan kejang otot, gangguan kejang dan status epileptikus
(Tatro, 2003).
5. Kontraindikasi :
Diazepam dikontraindikasikan pada penderita hipersensitivitas terhadap
benzodiazepin, psikosis, glaukoma sudut sempit akut, syok, koma,
intoksikasi alkohol akut, gunakan pada anak < 6 bulan dan laktasi (Tatro,
2003) (Lacy, 2009).
6. Efek samping :
Terhadap kardiovaskular : bradikardia, takikardia, hipertensi, palpitasi dan
hipotensi. Pada sistem saraf pusat : mengantuk, kebingungan, ataxia,
pusing, kelesuan, kelelahan, kegelisahan, sakit kepala. Pada gastro
intestinal: sembelit, diare, mulut kering, lidah dilapisi, mual; anoreksia,
muntah (Tatro, 2003)
7. Peringatan dan perhatian :
Pada Kehamilan: Kategori D. Hindari obat terutama selama trimester
pertama karena kemungkinan peningkatan risiko cacat bawaan. Laktasi:
diekskresikan dalam ASI. Untuk anak-anak: bentuk oral tidak dianjurkan
pada pasien <6 bln; bentuk parenteral tidak dianjurkan pada bayi <30 hari.
Untuk pasien yang tua dan lemah: dosis awal harus kecil dan secara
bertahap meningkat. Berikan dengan sangat hati-hati untuk pasien usia
37
lanjut dengan cadangan paru terbatas. Penggunaan berkepanjangan dapat
menyebabkan ketergantungan (Tatro, 2003)
8. Dosis dan aturan pakai :
Dosis lazim diazepam untuk dewasa : -/5 mg- 30 mg dalam dosis terbagi
dan dosis maksimumnya adalah -/40 mg (Dirjen POM, 1979).
untuk penanganan anxiety, dewasa : pemberian oral 2 sampai 10 mg 2-4
kali sehari. Secara IM/ IV 2 sampai 10 mg ; ulangi dalam 3 sampai 4 jam
jika diperlukan. Untuk penanganan pada pasien alkoholik akut, dewasa :
pemberian oral 10 mg 3-4 kali dalam 24 jam pertama ; kemudian 5 mg
3-4 kali bila perlu. Secara IM/IV diberikan 10 mg awalnya, kemudian 5
sampai 10 mg dalam 3 sampai 4 jam jika diperlukan. Untuk Skeletal
kekakuan otot, dewasa : pemberian oral 2 sampai 10 mg 3-4 kali sehari.
Secara IM / IV 5 sampai 10 mg awalnya kemudian 5 sampai 10 mg dalam
3 sampai 4 jam jika diperlukan dosis yang lebih besar mungkin diperlukan
dalam penyakit tetanus (Tatro, 2003)
c) Codein (Tatro, 2003; Lacy, 2009; Dirjen POM, 1979)
1. Komposisi :
Tiap tablet mengandung codeine phosphate hemihydrate setara dengan
codeine 10 mg, 15 mg, 20 mg.
2. Nama Generik :
Codein.
3. Nama Dagang lainnya :
Codikaf® (Kimia Farma).
4. Farmakologi :
Merangsang reseptor opiat di sistem saraf pusat, juga menyebabkan
depresi pernafasan, vasodilatasi perifer, penghambatan peristaltik usus,
stimulasi kemoreseptor yang menyebabkan muntah, peningkatan nada
kandung kemih dan penekanan refleks batuk (Tatro, 2003)
5. Indikasi :
Mengatasi nyeri ringan sampai sedang; meredakan batuk (Tatro, 2003)
Sebagai antitusif pada dosis yang rendah (Lacy, 2009)
6. Kontra indikasi
38
Hipersensitivitas terhadap opiat; obstruksi jalan napas atas; kompromi
pernapasan; asma akut; diare yang disebabkan oleh keracunan atau racun
(Tatro, 2003)
7. Efek samping atau efek toksik :
Dapat menyebabkan depresi pada sistem saraf pusat, yang dapat
mengganggu kemampuan fisik atau mental; pasien harus memperingatkan
tentang melakukan tugas-tugas yang membutuhkan kewaspadaan mental
(misalnya, mesin operasi atau mengemudi). Dapat menyebabkan hipotensi;
digunakan dengan hati-hati pada pasien dengan hipovolemia, penyakit
kardiovaskular atau obat-obatan yang mungkin melebihkan efek hipotensi
(termasuk fenotiazin atau anestesi umum) (Tatro, 2003)
Dapat menyebabkan gangguan pada gastro intestinal: mual, muntah,
sembelit, sakit perut, anoreksia, empedu saluran kejang (Lacy, 2009).
8. Peringatan :
Pada Kehamilan: Kategori C. Terapi dosis kodein dapat meningkatkan
durasi kerja. Pada Laktasi: dapat diekskresikan dalam ASI. Pada anak-
anak: jangan memberikan IV untuk anak-anak <12 tahun. Anak-anak lebih
sensitif terhadap efek obat. Pada pasien usia lanjut: lebih sensitif terhadap
efek obat. Pada pasien risiko khusus: gunakan dengan hati-hati pada pasien
dengan myxedema, alkoholisme akut, riwayat potensi penyalahgunaan
obat, kondisi perut akut, ulcerative colitis, penurunan cadangan
pernapasan, cedera kepala atau peningkatan tekanan intrakranial, hipoksia,
takikardia supraventricular, shock peredaran darah, masalah
hipotiroidisme. Dapat menyebabkan ketergantungan: codein memiliki
potensi penyalahgunaan. Pada pasien dengan gangguan ginjal atau hati:
Durasi kerja dapat diperpanjang; mungkin perlu untuk mengurangi dosis.
Pada penggunaan oral, dosis awalnya : 30 mg setiap 4-6 jam sesuai
kebutuhan; pasien dengan paparan opiat sebelumnya mungkin
memerlukan dosis awal yang lebih tinggi. Dosis lazimnya: 15-120 mg
setiap 4-6 jam sesuai kebutuhan (Tatro, 2003)
9. Dosis :
39
a. Sebagai analgesik:
Dewasa : pemberian oral 15-60 mg setiap 4-6 jam (maksimum 360 mg/
hari). Pada anak-anak : pemberian Oral 0,5 mg / kg setiap 4-6 jam
(Tatro, 2003)
Pemberian oral 30 mg setiap 4-6 jam sesuai kebutuhan; pasien dengan
paparan opiat sebelumnya mungkin memerlukan dosis awal yang lebih
tinggi. Dosis lazimnya: 15-120 mg setiap 4-6 jam sesuai kebutuhan
(Lacy, 2009)
b. Sebagai antitusif
Dosis lazim sekali codein yaitu 10 mg-20 mg, sehari 30 mg-60 mg.
Dosis maksimum sekali yaitu 60 mg, sehari 300 mg (Dirjen POM,
1979)
Dewasa: pemberian oral 10-20 mg setiap 4-6 jam (maksimum 120 mg /
hari). Pada anak-anak (6-12 tahun): pemberian oral 5-10 mg setiap 4-6
jam (maksimum 60 mg / hari). (2-6 tahun): pemberian oral 2,5-5 mg
setiap 4-6 jam (maksimum 30 mg / hari) (Tatro, 2003)
d) Dexamethasone (Sweetman, 2009; Dirjen POM, 1979; Tatro, 2003; Lacy,
2009)
1. Obat generik :
Dexamethasone / Deksametason
2. Obat Bermerek :
Camidexon®, Corsona®, Cortidex®, Dexa-M®, Indexon®, Kalmethasone®,
Lanadexon®, Molacort®, Scandexon®.
3. Komposisi :
Dexamethasone 0,5 mg : Setiap tablet mengandung deksametason 0,5 mg.
Dexamethasone 0,75 mg : Setiap tablet mengandung deksametason
0,75 mg.
4. Farmakologi :
Merupakan sintetik glukokortikoid long-acting yang menekan
pembentukan, pelepasan dan aktivitas mediator endogen peradangan
termasuk prostaglandin, kinins, histamin, enzim liposomal dan sistem
pelengkapnya. Juga memodifikasi respon kekebalan tubuh (Tatro, 2003).
5. Indikasi :
40
sebagai Dental Treatment dari berbagai penyakit mulut dari alergi, untuk
mengatasi peradangan atau autoimun (Lacy, 2009). Untuk mengatasi
gangguan rematik, penyakit kolagen, penyakit kulit, keadaan alergi, untuk
alergi pada mata dan inflamasi, penyakit pernapasan, gangguan
hematologi, penyakit neoplastik, edema serebral berhubungan dengan
tumor otak primer atau metastasis, kraniotomi atau cedera kepala, edema
(disebabkan oleh sindrom nefrotik), penyakit gastro intestinal, multiple
sclerosis, meningitis TB (Tatro, 2003)
6. Kontraindikasi :
Hipersensitivitas terhadap deksametason atau komponen lain dalam
formulasi; infeksi jamur sistemik, malaria serebral; Penggunaan pada
mata(yang disebabkan herpes simplex), jamur, atau penyakit TBC pada
mata (Lacy, 2009)
7. Efek samping :
a. Pada cardiovaskuler: Tromboemboli atau emboli lemak; tromboflebitis;
necrotizing angiitis; aritmia atau perubahan EKG jantung; hipertensi;
ruptur miokard; CHF.
b. Pada sistem saraf pusat: kejang, peningkatan tekanan intrakranial
dengan papilledema (pseudotumor cerebri); vertigo; sakit kepala;
psikosis.
c. Pada gastro intestinal: pankreatitis, distensi abdomen, esophagitis
ulseratif, mual, muntah, peningkatan nafsu makan dan berat badan,
ulkus peptikum dengan perforasi dan perdarahan, perforasi usus. (Tatro,
2003)
8. Peringatan dan Perhatian :
Kategori kehamilan belum ditentukan (penggunaan sistemik);
kehamilan kategori C (penggunaan topikal). Untuk laktasi: diekskresikan
dalam ASI. Untuk anak-anak: mungkin lebih rentan terhadap efek samping
dari penggunaan topikal dari pada orang dewasa. Mengamati pertumbuhan
dan perkembangan bayi dan anak-anak pada terapi berkepanjangan. Untuk
lansia: mungkin memerlukan dosis yang lebih rendah. Keseimbangan
cairan dan elektrolit: dapat menyebabkan tekanan darah tinggi, retensi
garam dan air dan peningkatan kalium dan ekskresi kalsium. Pembatasan
41
diet garam dan suplemen kalium mungkin diperlukan. Untuk penggunaan
pada mata: gunakan secara hati-hati pada mata yang disebabkan herpes
simpleks karena kemungkinan terjadi perforasi kornea. Tetes mata yang
digunakan dalam waktu lama dapat menyebabkan glaukoma atau
komplikasi lainnya. Ulkus peptikum: dapat menyebabkan tukak lambung,
terutama dalam dosis besar. Pada gangguan ginjal: Gunakan hati-hati;
memantau fungsi ginjal. Penghentian pengobatan secara mendadak dapat
mengakibatkan insufisiensi adrenal. Maka dari itu dihentikan secara
bertahap (Tatro, 2003)
9. Dosis dan aturan pakai :
Dosis lazim dexamethasone yaitu -/0,5mg-2mg (Dirjen POM, 1979)
Untuk deksametason oral diberikan dalam dosis biasa 0,5 sampai 10 mg
setiap hari (Sweetman, 2009)
Sebagai anti-inflamasi: untuk penggunaan oral, intra muskular, intravena
yaitu 0,75-9 mg / hari dalam dosis terbagi setiap 6-12 jam (Lacy, 2009)
e) Acethylcystein (MIMS, 2016)
1. Komposisi
Tiap kapsul mengandung acetylcysteine 200 mg.
2. Nama generik : acetylcysteine
3. Nama dagang lainnya:
Fluimucil®, Simucil®, Siran®
4. Farmakologi
Cepat diabsorpsi dari saluran cerna dan konsentrasi plasma maksimum
dicapai dalam 0.5 - 1 jam setelah dosis oral 200 - 600 mg. Bioavailabilitas
oral rendah (4-10%), tergantung apakah yang diukur adalah total
asetilsistein atau bentuk reduksinya. Bioavailabilitas oral yang rendah
disebabkan oleh metabolisme dalam dinding usus dan first-pass
metabolisme di hati. Renal clearance sekitar 30% dari total body clearance.
Waktu paruh (oral) : 6.25 jam.
5. Indikasi
Mukolitik terapi pada akut dan kronik penyakit bronkial dan paru dengan
mukus yang tebal, seperti: akut bronkhitis, bronkhitis kronik dan akut
berulang, pulmonari emfisema, mukovisidosis, bronkiektasis.
6. Dosis dan cara pemberian
- Dewasa dan anak diatas 14 tahun : 200 mg 2- 3 kali sehari
- Anak 1-2 th : 100 mg 2 kali sehari
- Anak 2-7 th : 200 mg 2 kali sehari.
42
7. Kontraindikasi
Hipersensitif terhadap acetylcysteine atau bahan-bahan lainnya.
8. Efek samping atau efek toksik
Reaksi hipersensitivitas (bronkospasme, angioedema, kemerahan, gatal),
hipotensi / hipertensi (kadang-kadang), mual, muntah, demam, syncope,
berkeringat, arthralgia, pandangan kabur, gangguan fungsi hati, asidosis,
kejang, cardiac / respiratory arrest.
9. Peringatan dan perhatian
Pasien asthmatic, pasien dengan riwayat ulkus peptik karena asetilcistein
menyebabkan mual dan muntah sehingga meningkatkan risiko
gastrointestinal haemorrhage; mukolitik mengganggu gastric mucosal.
10. Bentuk sediaan : kapsul
11. Penyimpanan : simpan pada suhu kamar (250C-300C)
f) Cetirizine (ISO 2015; MIMS 2016)
1. Komposisi
Tiap kapsul mengandung cetirizine dihidroklorida 10 mg.
2. Nama generik : Cetirizine
3. Nama dagang lainnya
Cerini®, Incidal–0D®, Ryzen®, Tiriz®
4. Farmakologi
Cetirizine adalah antihistamin selektif, antagonis reseptor-H1 perifer yang
mempunyai efek sedatif yang rendah pada dosis aktif dan mempunyai sifat
tambahan sebagai anti alergi. Cetirizine berkerja menghambat pelepasan
histamin pada fase awal dan mengurangi migrasi sel inflamasi.
5. Indikasi
Pengobatan alergi, rhinitis alergi menahun ataupun musiman, dan urtikaria
idiopatik kronik.
6. Dosis dan cara pemberian
- Dewasa dan anak usia diatas 12 tahun : 1 tablet 10 mg, 1 kali sehari
- Penggunaan pada penderita gangguan fungsi ginjal : dosis sebaiknya
dikurangi menjadi ½ tablet sehari
- Untuk kondisi alergi akut dosisnya 12 mg sehari dalam 1-2 dosis
terbagi.
7. Kontraindikasi
43
- Penderita dengan riwayat hipersensitif terhadap kandungan dalam obat.
- Wanita menyusui, karena kandungan aktif cetirizine diekskresi pada air
susu ibu.
8. Efek samping atau efek toksik
Pusing sakit, kepala, rasa kantuk, agitasi, mulut kering dan rasa tidak enak
pada lambung. Pada beberapa penderita dapat terjadi reaksi
hipersensitifitas termasuk reaksi kulit dan angiodema.
9. Peringatan dan perhatian
Selama minum cetirizine tidak dianjurkan mengendarai kendaraan
bermotor dan menjalankan mesin. Hindari penggunaan pada wanita hamil
dan menyusui karena cetirizine dikeluarkan melalui air susu ibu (ASI).
Penggunaan cetirizine bersamaan dengan alkohol atau depresan sistem
saraf pusat lainnya sebaiknya dihindari karena dapat terjadi peningkatan
penurunan kewaspadaan dan kerusakan sistem saraf pusat.
10. Interaksi obat
Interaksi cetirizine dengan obat-obat lain belum diketahui. Pada percobaan
memperlihatkan peningkatan potensi/efek cetirizine terhadap alkohol
(level alkohol 0,8%) oleh karena itu sebaiknya jangan diberikan
bersamaan. Konsentrasi cetirizine plasma tidak terpengaruh pada
pemberian bersama simetidin
11. Bentuk sediaan : tablet
12. Penyimpanan
Simpan pada suhu kamar dan terlindung dari cahaya.
III.6 Penyiapan Obat
a. Peracikan
R/ Paracetamol 300 mg
Codein 10 mg
Diazepam 2 mg
Dexamethasone 1/2 tab
m.f. caps. dtd No. LX
S. 2 dd I
44
R/ Acethylcistein No. XXX
S. 2 dd I
R/ Cetirizine No. XXX
S. 2 dd I
b. Perhitungan Bahan
1. Paracetamol =
2. Codein =
3. Diazepam =
4. Dexamethasone =
c. Cara Peracikan
1. Disiapkan semua alat dan obat sesuai dengan perhitungan.
Obat yang telah disiapkan untuk diracik dimasukkan ke dalam blender
untuk dihaluskan dan tercampur hingga homogen.
Serbuk yang telah halus dan tercampur homogen dimasukkan ke dalam
cangkang kapsul nomor 0 sebanyak 60 kapsul dengan menggunakan alat
pengisi kapsul.
2. Kapsul dibersihkan dari sisa serbuk obat yang melekat pada cangkang
kapsul.
d. Pengemasan Obat
1. Resep Racikan
Kapsul yang sudah dibuat sebanyak 60 kapsul dimasukkan ke dalam sak
obat. Diberi etiket putih dengan aturan pakai 2 kali sehari 1 kapsul.
2. Acethylcistein
Disiapkan acethylcistein sebanyak 30 tablet dan dimasukkan ke dalam sak
obat. Diberi etiket putih dengan aturan pakai 2 kali sehari 1 kapsul.
3. Cetirizine
45
Disiapkan cetirizine sebanyak 30 tablet dan dimasukkan ke dalam sak obat.
Diberi etiket putih dengan aturan pakai 2 kali sehari 1 tablet.
III.7 Etiket dan Copy Resep
a. Etiket
APOTEK KIMIA FARMA N0. 250 RATULANGI
Jln. Ratulangi No.59 Makassar
Telp. (0411) 873789
Apoteker: Faedal Barakatu, [Link], Apt
No. SIPA: 446/573.08/SIPA/DKK/V/2013
No: 001/I Tgl. / /
x sehari kapsul
Sesudah Makan
Gambar 7. Etiket untuk obat racikan
APOTEK KIMIA FARMA N0. 250 RATULANGI
Jln. Ratulangi No.59 Makassar
Telp. (0411) 873789
Apoteker: Faedal Barakatu, [Link], Apt
No. SIPA: 446/573.08/SIPA/DKK/V/2013
No: 001/II Tgl. / /
x sehari kapsul
Sesudah Makan
Gambar 8. Etiket untuk obat acetylcysteine
APOTEK KIMIA FARMA N0. 250 RATULANGI
Jln. Ratulangi No.59 Makassar
Telp. (0411) 873789
Apoteker: Faedal Barakatu, [Link], Apt
No. SIPA: 446/573.08/SIPA/DKK/V/2013
No: 001/III Tgl. / /
x sehari tablet
Sesudah Makan
46
Gambar 9. Etiket untuk obat cetirizine
b. Salinan Resep
APOTEK KIMIA FARMA RATULANGI MAKASSAR
Jl. Dr. Ratulangi No. 59 Telp. (0411) 873789
Apoteker : Faedal B, S. Si, Apt.
SIPA : 446/573-08/SIPA/DKK/V/2013
Salinan dari Resep No.001 Tgl. / /
Dari dokter :
Nomor resep : 001
Dibuat Tanggal :
Untuk :
R/
p.c.c
Stempel
Apotek
(Faedal Barakatu, [Link]., Apt)
Gambar 10. Salinan resep
III.8 Penyerahan Obat
Penyerahan obat ke pasien oleh penyedia obat berperan penting dalam
upaya agar pasien mengerti dan menggunakan obat secara benar seperti yang
dianjurkan. Oleh karena itu penting untuk selalu mengingat mengikuti proses
penyediaan obat dan penyerahan obat secara benar (good dispensing practice).
Proses penyediaan dan penyerahan obat secara benar ke pasien mencakup
kegiatan berikut :
47
1. Membaca dan mengerti isi resep.
2. Menyediaian obat secara benar. Teliti akan ketersediaan obat, waktu
kedaluwarsa, serta cermati bentuk dan kekuatan sediaan.
3. Menentukan jumlah obat. Menghitung jumlah tablet atau kapsul harus
dilakukan dalam cawan yang bersih. Pengukuran sediaan cair harus memakai
alat pengukur yang bersih, misalnya gelas ukur.
4. Mengemas dan memberi etiket. Obat diserahkan ke pasien dengan kemasan
dan etiket berisi informasi yang lengkap dan tepat. Kemasan yang baik akan
memberikan kesan yang baik terhadap pelayanan yang diberikan. Informasi
yang jelas dan lengkap dan menghindari kekeliruan penggunaan. Informasi
pada etiket harus lengkap memuat nama obat, bentuk dan kekuatan
sediaan,dosis serta, frekuensi dan cara penggunaan.
5. Menyerahkan obat dan memberikan informasi.
6. Memastikan bahwa yang menerima obat adalah pasien atau keluarganya.
7. Membuat salinan resep sesuai dengan resep asli dan diparaf oleh apoteker
(apabila diperlukan)
Pada saat obat deserahkan ke pasien terlebih dahulu memperkenalkan diri
sebagai seorang apoteker, lalu bertanya kepada pasien dengan tahapan sebagai
berikut:
1. Keluhan yang dirasakan pasien.
2. Apa yang dokter telah beritahukan mengenai obat yang telah diberikan terkait
nama, jumlah dan aturan pakainya.
3. Apa harapan dari dokter setelah meminum obat ini. Setelah mendapatkan
informasi dari pasien, kemudian dilakukan penyerahan obat.
Informasi yang diberikan kepada pasien pada saat penyerahan obat adalah:
1. Obat racikan kapsul diindikasikan untuk mengatasi batuk dengan aturan pakai
2 kali sehari 1 kapsul setelah makan.
2. Obat acetylcysteine diindikasikan untuk mengencerkan lendir yang
menghalangi saluran pernafasan pasien dengan aturan pakai 2 kali sehari 1
kapsul.
48
3. Obat cetirizine diindikasikan untuk mengatasi gejala – gejala alergi pada
saluran pernafasan yang dialami pasien dengan aturan pakai 2 kali sehari 1
tablet.
4. Obat sebaiknya disimpan pada suhu kamar di tempat yang terlindung dari
sinar matahari dan dijauhkan dari jangkauan anak-anak.
5. Hubungi dokter atau apoteker apabila terjadi efek yang merugikan yang
mungkin terjadi setelah mengonsumsi obat ini berupa mual, muntah, rasa
kantuk dan terjadi penurunan konsentrasi. Jika pasien mengalami gejala efek
samping tersebut, hindari aktivitas yang membutuhkan koordinasi psikomotor
yang baik seperti mengendarai kendaraan atau menjalankan mesin. Selain
efek tersebut dapat terjadi konstipasi. Untuk menghindari terjadinya
konstipasi pasien diharapkan minum air putih yang banyak dan
mengkonsumsi makanan yang berserat.