0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
18 tayangan64 halaman

Harga Elektrod Pembumian Tembaga

Dokumen tersebut merupakan rencana kerja dan syarat-syarat untuk proyek pembangunan sarana dan prasarana pendidikan di Aceh, mencakup data proyek, dasar hukum, ketentuan umum pelaksanaan, dan persyaratan gambar pelaksanaan.

Diunggah oleh

Dedi mirza
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
18 tayangan64 halaman

Harga Elektrod Pembumian Tembaga

Dokumen tersebut merupakan rencana kerja dan syarat-syarat untuk proyek pembangunan sarana dan prasarana pendidikan di Aceh, mencakup data proyek, dasar hukum, ketentuan umum pelaksanaan, dan persyaratan gambar pelaksanaan.

Diunggah oleh

Dedi mirza
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

RENCANA KERJA & SYARAT-SYARAT

(RKS)

BAB 1
DATA PROYEK

1.1 DESKRIPSI PROYEK


INSTANSI : DINAS PENDIDIKAN DAYAH ACEH
KEGIATAN : PEMBANGUNAN SARANA DAN PRASARANA
PEKERJAAN : PEMBANGUNAN RUANG KELAS BELAJAR
LOKASI : DAYAH ISTIQAMAHTUDDIN BUSTANUL MU'ARIF, GAMPONG LON
BAROH, KEC. LEMBAH SEULAWAH, KAB. ACEH BESAR
TAHUN : 2019

1.2 DASAR HUKUM PROYEK


1.2.1 Secara keseluruhan, seluruh pekerjaan sebagaimana tertera pada spesifikasi teknik serta yang
tercantum pada Gambar-gambar kerja pada dasarnya berlaku standard- standard pengerjaan yang
berlaku di Indonesia.
1.2.2 Standard-standard tersebut adalah; namun tidak terbatas pada:
 Standard Industri Indonesia (SII)
 Standard Nasional Indonesia (SNI)
 Peraturan Umum Bahan bangunan di Indonesia (PUBI-1982)
 Metoda Pembuatan dan perawatan benda uji beton di laboratorium ([Link].M-62-
1990 03)
 Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan Rumah dan Gedung
([Link].T15-1991-03)
 Spesifikasi bahan tambahan untuk beton ([Link]-S-18-1990-03)
 Peraturan Beton bertulang Indonesia (PBI-1971-N12)
 Peraturan perencanaan untuk Struktur Beton bertulang Biasa & Struktur Tembok
Bertulang untuk Gedung 1983.
 Peraturan Konstruksi Kayu di Indonesia (PKKI-N15)
 Peraturan Semen Portland Indonesia (1972-N18)
 Peraturan Umum Instalasi listrik (PUIL-1987)
 Peraturan Perencanaan Bangunan Baja Indonesia 1983 (PPBBI’83)
 Peraturan Umum Mengenai Instalasi Air Ledeng (AVWI)
 Peraturan Instalasi Komunikasi PT. Telkom
 Peraturan Umum Instalasi Penangkal Petir (PUIPP – 1983)
 Keppres no. 18 tahun 2000
 Peraturan Dinas Kebakaran Setempat
 Peraturan yang ditetapkan oleh perusahaan Listrik Negara
 Peraturan yang ditetapkan oleh perusahaan Daerah Air Minum
 Persyaratan Umum dari Dewan teknik Pembangunan Indonesia (DTPI 1980)
 Pedoman Tata Cara penyelenggaraan pembangunan bangunan Gedung Negara oleh
Departemen PU
 Peraturan Pembebanan Indonesia untuk Gedung 1983
 Peraturan perencanaan Tahan Gempa Indonesia untuk Gedung 1981 beserta pedomannya
 Peraturan keselamatan kerja Departemen Tenaga Kerja RI
 Standar Tata cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Rumah dan Gedung, SNI 03 - 1726 2002;
 Tata Cara Perencanaan Pembebanan Untuk Rumah dan Gedung, SNI - 03 - 1727 – 1989;
 Tata Cara Perencanaan Bangunan Baja Untuk Gedung, SNI 02 - 1729 – 2002;
 Tata Cara Perencanaan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung, SNI 03 - 2847 – 2002;
 Spesifikasi Bahan Bangunan Indonesia, SNI 03 - 6861 – 2002;
 Peraturan Umum Bahan Bahan Bangunan Indonesia Tahun 1982;
 Peraturan Umum Instalasi Listrik (PUIL) Tahun 1977;

1
RENCANA KERJA & SYARAT-SYARAT
(RKS)

 Standar Penerangan Buatan dalam Gedung Tahun 1978 Departemen Pekerjaan Umum;
 Petunjuk Perencanaan Struktur Bangunan untuk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan
rumah dan gedung tahun 1987;
 Panduan Pemasangan Sistem Hidran untuk pencegahan bahaya kebakaran pada rumah dan gedung tahun
1987;
 Pedoman Plumbing Indonesia tahun 1981;
 Ketentuan Teknis Pengamanan Terhadap Bahaya Kebakaran pada Bangunan Gedung dan Lingkungan
Nomor 10/KPTS/2000 tanggal 1 Maret 2000;
 Panduan Pemasangan Sistem Instalasi Alarm Kebakaran untuk pencegahan bahaya kebakaran pada
bangunan rumah dan gedung;
 Peraturan Pemerintah RI Nomor 36 Tahun 2005 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang
Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung.
 Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 45/PRT/M/2007 tentang Pedoman Teknis
Pembangunan Gedung Negara.
 Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 29/PRT/M/2006 tentang Pedoman Persyaratan
Teknis Bangunan Gedung.
 Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 30/PRT/2006 tentang Pedoman Teknis
Aksesibilitas pada Bangunan Gedung dan Lingkungan;
 Keputusan Menteri Negara Pekerjaan Umum Nomor 10/KPTS/2000 tentang Ketentuan
Teknis Pengamanan Terhadap Bahaya Kebakaran pada Bangunan Gedung dan Lingkungan;
 Keputusan-keputusan dari Majelis Indonesia, untuk ARBITRASE teknik dari Dewan Teknik
Pembangunan Indonesia ( DTPI );
 Peraturan Beton Bertulang Indonesia ( PBI ) tahun 1971;
 Peraturan Konstruksi Kayu Indonesia ( PKKI ) tahun 1961;
 Peraturan Konstruksi Baja Indonesia (PBBI);
 Peraturan Muatan Indonesia ( NI _ 18 ) tahun 1970;
 Peraturan, Pedoman, Standar atau ketentuan - ketentuan teknis yang lain yang berhubungan
dengan rumah dan gedung.
 Peraturan-peraturan Pemerintah Daerah.

Jika tidak terdapat dalam Peraturan/Standard/Normalisasi tersebut diatas, maka berlaku


peraturan/Standard/Normalisasi Internasional ataupun dari Negara asal produsen bahan/komponen yang
bersangkutan
Selain ketentuan-ketentuan tersebut berlaku pula dalam ketentuan ini:
Dokumen Lelang sudah di Syahkan oleh Pemberi Tugas (Gambar kerja, RKS, BQ, B.A Aanwijzing
dan Surat Perjanjian/Kontrak).
Shop Drawing yang dibuat oleh Pemborong dan sudah disetujui/disahkan oleh pemberi tugas
dan pengawas.
Petunjuk-petunjuk dan peringatan-peringatan tertulis yang diberikan oleh Konsultan Pengawas.

Selain Standard/peraturan di Indonesia, untuk pekerjaan-pekerjaan tertentu, bagi pekerjaan-pekerjaan


yang peraturan dalam negerinya belum lengkap. Peraturan-peraturan tersebut adalah:
1. American Society of Testing Materials/ASTM
2. American Institute of Steel Construction/AIS
3. American Welding Society/AWS
4. National Society of Heating, Refrigerating and Air Conditioning Engineers/ASHRAE
5. National Fire Protection Articles/NFPA
6. International Electronical Commision/EIC
7. British Standard/BS
8. Deutsche Institute fur Normungs
9. Japanese Industrial Standard

2
RENCANA KERJA & SYARAT-SYARAT
(RKS)

BAB II
KETENTUAN UMUM PELAKSANAAN

2.1 PENANGGUNG JAWAB PELAKSANAAN


1. Berdasarkan Kontrak Kerja yang dibuat oleh Owner dengan Penyedia Jasa Pelaksana
Konstruksi, maka Kontraktor Pelaksana untuk proyek seperti yang disebutkan dalam BAB I
diatas adalah Perusahaan seperti yang disebutkan dalam Kontrak Kerja Fisik.
2. Kontraktor Pelaksana harus menyelesaikan pekerjaan secara seluruhnya sesuai dengan
ketentuan-ketentuan di dalam Dokumen Kontrak.
3. Tugas dan kegiatan Kontraktor Pelaksana adalah seperti yang disebutkan dalam Keputusan
Menteri Permukiman Dan Prasarana Wilayah Nomor : 332/KPTS/M/2002 Tanggal 21 Agustus
2002 Tentang Penyedia Jasa Pelaksana Konstruksi atau menurut perubahannya jika ada kecuali
ditentukan lain oleh Owner dalam Kontrak Kerja Fisik.
4. Kontraktor Pelaksana harus mengajukan struktur organisasi pelaksana lapangan proyek kepada
Owner yang didalamnya tercantum beberapa tenaga ahli Kontraktor Pelaksana dengan posisi
minimal seperti berikut atau sesuai yang diajukan:
- Site Manager;
- Pengawas Lapangan;
- Draftman;
- Administrasi Proyek; dan
- Operator Computer.
5. Jumlah personil atau tenaga ahli yang ditempatkan harus sesuai dengan bobot pekerjaan yang
ditangani dan disetujui oleh Konsultan Manajemen Konstruksi dan Owner.
6. Semua tenaga ahli yang namanya tercantum dalam struktur\organisasi lapangan proyek yang
diajukan oleh Kontraktor Pelaksana harus berada dilokasi pekerjaan minimal selama jam kerja.
7. Pengantian tenaga ahli oleh Kontraktor Pelaksana selama proses pelaksanaan pekerjaan harus
diketahui dan disetujui oleh Konsultan Manajemen Konstruksi.
8. Site Manager harus mengajukan ijin tertulis kepada Owner dan diketahui oleh Konsultan
Supervisi jika hendak meninggalkan lokasi pekerjaan dalam jangka waktu lebih dari 3 hari.
9. Konsultan Supervisi berhak mengajukan kepada Owner untuk penggantian tenaga ahli
Kontraktor Pelaksana yang berada dilokasi pekerjaan jika tenaga ahli tersebut dinilai
menghambat pekerjaan dan tidak mampu menjalankan tugasnya dengan baik.
10. Tenaga ahli yang ditempatkan dilokasi pekerjaan oleh Kontraktor Pelaksana harus mampu
memberikan keputusan yang bersifat teknis dan administratif di lokasi pekerjaan.

2.2 GAMBAR PELAKSANAAN ( SHOP DRAWING )


a) Kontraktor wajib membuat Shop Drawing/gambar detail pelaksanaan di lapangan berdasarkan
Gambar Dokumen Kontrak yang telah disesuaikan dengan keadaan lapangan.
b) Kontraktor wajib membuat Shop Drawing juga untuk detail-detail khusus yang belum tercakup
lengkap dalam Gambar Kerja/Dokumen Kontrak maupun yang diminta oleh Konsultan
Pengawas/MK.
c) Dalam semua Shop Drawing harus jelas dicantumkan dan digambarkan semua data yang
diperlukan termasuk pengajuan contoh dari semua bahan, keterangan produk, cara
pemasangan dan atau spesifikasi/persyaratan khusus sesuai dengan spesifikasi pabrik yang
belum tercakup secara lengkap didalam Gambar Kerja/Dokumen Kontrak maupun didalam
buku ini.
d) Kontraktor wajib mengajukan Shop Drawing tersebut kepada Konsultan Pengawas untuk
mendapat persetujuan tertulis dari Konsultan Pengawas/Direksi. Semua gambar yang
dipersiapkan oleh Kontraktor dan diajukan kepada Konsultan Pengawas untuk diminta
persetujuannya harus sesuai dengan format standar dari proyek dan harus digambarkan pada
kertas kalkir yang dapat direproduksi.

2.3 GAMBAR HASIL PELAKSANAAN ( AS BUILD DRAWING )

3
RENCANA KERJA & SYARAT-SYARAT
(RKS)

1. Kontraktor dengan biaya sendiri harus membuat Gambar Hasil Pelaksanaan (Asbuilt Drawing)
yang sesuai dengan hasil pelaksanaan pekerjaan dilapangan sebelum serah terima tahap
pertama dilakukan.
2. Pekerjaan-pekerjaan yang memerlukan As Built Drawing adalah pekerjaan yang berhubungan
dengan instalasi berikut ini dan pekerjaan –pekerjaan lain yang ditentukan oleh Konsultan
Supervisi.
3. As Built Drawing yang dibuat oleh Kontraktor Pelaksana harus disetujui oleh Konsultan
Supervisi, Konsultan Perencana dan Owner.
4. Kontraktor Pelaksana diwajibkan menyerahkan 5 set As Built Drawing yang telah disetujui
kepada Konsultan Supervisi, Owner dan Konsultan Perencana kepada Owner.
5. Satu set As Built Drawing yang telah disetujui harus disimpan di tempat yang baik pada
bangunan oleh Owner atau pengguna bangunan.

2.4 BUKU PETUNJUK PENGGUNAAN BANGUNAN ( OPERATION HAND BOOK )


1. Kontraktor Pelaksana dengan biaya sendiri harus membuat Buku Petunjuk Penggunaan atau
system operasi (Operation Hand-Book) sebelum masa Serah Terima Pertama untuk semua
peralatan dan instalasi yang ada dalam bangunan seperti :
a. Instalasi Listrik;
b. Instalasi Air Bersih dan Air Kotor ;
2. Operation Hand-Book harus diserahkan kepada Owner dan pengguna bangunan dengan
memberikan penjelasan yang diperlukan.
3. Operation Hand-Book harus disimpan dengan baik dalam bangunan pada tempat yang
ditentukan oleh Owner atau pengguna bangunan.

2.5 KESALAHAN PEKERJAAN DAN PEKERJAAN CACAT


1. Kontraktor Pelaksana harus memperbaiki dengan biaya sendiri semua kesalahan pekerjaan dan
cacat pekerjaan baik pada tahap pelaksanaan maupun pada saat sebelum Serah Terima Tahap
Pertama (PHO) dan pekerjaan dinyatakan selesai 100%.
2. Kesalahan pekerjaan dan cacat pekerjaan adalah hasil pemeriksaan bersama antara Kontraktor
Pelaksana, Konsultan Supervisi dan Owner sebelum Serah Terima Tahap Pertama (PHO) dan
pekerjaan dinyatakan selesai 100%.
3. Kesalahan pekerjaan dan cacat pekerjaan dari hasil pemeriksaan oleh Pelaksana, Konsultan
Supervisi dan Owner dicantumkan dalam sebuah Daftar Pekerjaan Cacat yang ditandatangani
oleh ketiga pihak tersebut.
4. Konsultan Manajemen atau Owner harus membuat Berita Acara Hasil Pemeriksaan Pekerjaan
untuk ditandatangani oleh Kontraktor Pelaksana, Konsultan Supervisi dan Owner.
5. Semua kesalahan pekerjaan dan cacat pekerjaan yang ada dalam Daftar Pekerjaan Cacat
menjadi tanggung jawab Kontraktor Pelaksana memperbaikinya dengan biaya sendiri.
6. Kesalahan-kesalahan dan cacat pekerjaan yang dilakukan oleh Kontraktor Pelaksana
dikarenakan kurang memahami Gambar dan kurangnya kontrol terhadap pekerja sepenuhnya
menjadi tanggung jawab Kontraktor Pelaksana untuk memperbaiki dengan biaya sendiri.
7. Kesalahan dan cacat pekerjaan yang dilakukan oleh Kontraktor Pelaksana karena lemahnya
pengawasan dan kontrol oleh Konsultan Supervisi dan bukan atas dasar perintah tertulis dari
Konsultan Supervisi tetap menjadi tanggung jawab Kontraktor Pelaksana untuk
memperbaikinya.
8. Kerusakan dan cacat pada bangunan akibat pemakaian atau sebab-sebab lain tanpa ada unsur-
unsur kesengajaan yang dapat dibuktikan dalam masa pemeliharaan bangunan tetap menjadi
tanggung jawab Kontraktor Pelaksana untuk memperbaikinya dengan biaya sendiri kecuali
ditentukan lain dalam Kontrak Kerja.
9. Konsultan Supervisi berhak setiap saat memerintahkan Kontraktor Pelaksana untuk
memperbaiki kesalahan pekerjaan atau pekerjaan cacat pada masa pelaksanaan.
10. Hasil perbaikan terhadap kesalahan pekerjaan dan pekerjaan cacat harus disetujui oleh
Konsultan Supervisi.

4
RENCANA KERJA & SYARAT-SYARAT
(RKS)

2.6 RENCANA WAKTU PELAKSANAAN


1. Kontraktor Pelaksana harus mengajukan rencana waktu penyelesaian pekerjaan (time schedule)
keseluruhan kepada Konsultan Supervisi dan Owner sebelum dimulainya pelaksanaan
pekerjaan kecuali ditentukan lain dalam Kontrak Kerja.
2. Kontraktor Pelaksana harus menyelesaiankan pekerjaan sesuai dengan rencana waktu
penyelesaian pekerjaan keseluruhan yang telah disetujui oleh Konsultan Supervisi dan Owner
kecuali ditentukan lain dalam Kontrak Kerja.
3. Kontraktor Pelaksana harus menyerahkan rencana waktu penyelesaian pekerjaan keseluruhan
yang telah disetujui oleh Konsultan Supervisi kepada Owner.
4. Kontraktor Pelaksana juga harus mengajukan rencana waktu penyelesaian pekerjaan mingguan
pada tahap pelaksanaan pekerjaan kepada Konsultan Supervisi.
5. Konsultan Supervisi berhak untuk tidak menyetujui rencana penyelesaian pekerjaan mingguan
yang diajukan oleh Kontraktor Pelaksana dengan memberikan alasan-alasan yang dapat
dipertanggung jawabkan secara teknis.
6. Keterlambatan Kontraktor Pelaksana dalam menyelesaikan pekerjaan karena kesalahan dalam
menyusun waktu pemnyelesaian pekerjaan sepenuhnya menjadi tanggung jawab Kontraktor
Pelaksana.
7. Keterlambatan Kontraktor Pelaksana dalam menyelesaikan pekerjaan karena factor cuaca
seperti hujan yang lebih dari 1 hari kerja dan dibuktikan dengan catatan cuaca dalam Laporan
Harian yang disetujui oleh Konsultan Supervisi harus diperhitungkan untuk enambahan waktu
pelaksanaan pekerjaan.
8. Keterlambatan Kontraktor Pelaksana dalam menyelesaikan pekerjaan karena factor-factor non
teknis yang lebih dari 3 hari kerja dan diketahui oleh Konsultan Supervisi seperti permasalahan
dengan tanah/lahan pekerjaan sehingga Kontraktor pelaksanan tidak bisa memasuki dan
memulai pekerjaan, ganguan keamanan dari masyarakat setempat harus diperhitungkan untuk
penambahan waktu pelaksanaan pekerjaan.
9. Keterlambatan Kontraktor Pelaksana dalam menyelesaikan pekerjaan karena permasalahan
yang berhubungan dengan Spesifikasi Teknis, Gambar Disain, Bill of Quantity dan Kontrak Kerja
dimana tidak ada keputusan yang pasti dari Konsultan Supervisi dan Owner lebih dari 3 hari
kerja harus diperhitungkan untuk penambahan waktu pelaksanaan pekerjaan.
10. Keterlambatan Kontraktor Pelaksana dalam menyelesaikan pekerjaan yang disebabkan oleh
hal-hal selain seperti yang disebutkan dalam point 6, point 7 dan point 8 tidak boleh
diperhitungkan untuk penambahan waktu pelaksanaan kecuali ditentukan lain dalam Kontrak
Kerja dengan persetujuan Konsultan Supervisi dan Owner.
11. Lamanya penambahan waktu atau jumlah hari kerja tambahan yang diberikan kepada
Kontraktor Pelaksana karena alasan-alasan seperti yang disebutkan pada point 6, point 7 dan
point 8 adalah menurut keputusan Konsultan Supervisi dan Owner.

2.7 REQUEST MATERIAL DAN REQUEST PEKERJAAN


1. Kontraktor Pelaksana harus mengajukan permohonan penggunaan semua material
bangunan (request material) sebelum material bangunan tersebut dipakai dan dimasukan
kelokasi pekerjaan.
2. Request Material yang diajukan Kontraktor Pelaksana harus disertai dengan contoh material
dan disetujui oleh Konsultan Supervisi dan Owner.
3. Persetujuan Request Material yang diajukan oleh Kontraktor Pelaksana dianggap sah dan
diakui apabila disetujui minimal oleh Konsultan Supervisi.
4. Kontraktor Pelaksana harus menyediakan dan menyerahkan satu set contoh material yang
telah disetujui kepada Konsultan Supervisi.
5. Material bangunan yang tidak disetujui oleh Konsultan Supervisi dan Owner tidak boleh
dipakai sebagai material bangunan dan harus dikeluarkan dari lokasi pekerjaan.
6. Kontraktor Pelaksana juga harus mengajukan permohonan (request pekerjaan) untuk
pekerjaan yang akan dikerjakan.
7. Request Pekerjaan yang diajukan oleh Kontraktor Pelaksana harus disetujui oleh Konsultan
Supervisi.

5
RENCANA KERJA & SYARAT-SYARAT
(RKS)

8. Kontraktor pelaksana tidak dibenarkan melakukan pekerjaan tanpa Request Material atau jika
Request Pekerjaan yang diajukan belum disetujui oleh Konsultan Supervisi.
9. Item-item pekerjaan yang memerlukan Request Pekerjaan ditentukan oleh Konsultan
Supervisi.

2.8 METODE PELAKSANAAN


1. Kontraktor Pelaksana harus mengajukan Metode Pelaksanaan terhadap pekerjaan
Pembesian Plat Lantai, Pengecoran Plat Lantai, Eriction Konstruksi Baja dan Eriction
Konstruksi Kuda-Kuda serta pekerjaan-pekerjaan lain yang memerlukanya.
2. Metode Pelaksanaan yang diajukan oleh Kontraktor Pelaksana harus disetujui oleh Konsultan
Supervisi.
3. Kontraktor Pelaksana tidak dibenarkan melakukan pekerjaan jika Metode Pelaksanaan yang
diajukan belum disetujui oleh Konsultan Supervisi.
4. Item-item pekerjaan yang memerlukan Metode Pelaksanaan ditentukan oleh Konsultan
Supervisi.

2.9 RENCANA MATERIAL DAN PERALATAN


1. Kontraktor Pelaksana harus mengajukan rencana material dan peralatan mingguan yang akan
digunakan untuk penyelesaian pekerjaan setiap minggu kepada Konsultan Supervisi.
2. Semua material dan peralatan sesuai dengan rencana material dan peralatan mingguan yang
diajukan oleh Kontraktor Pelaksana harus berada dilokasi pekerjaan.
3. Konsultan Supervisi berhak untuk tidak menyetujui rencana material dan peralatan mingguan
yang diajukan oleh Kontraktor Pelaksana dengan memberikan alasan-alasan yang dapat
dipertanggung jawabkan secara teknis.

2.10 RENCANA TENAGA KERJA


1. Kontraktor Pelaksana harus mengajukan rencana pengunaan tenaga kerja mingguan yang
akan digunakan untuk penyelesaian pekerjaan setiap minggu kepada Konsultan Supervisi.
2. Semua tenaga kerja sesuai dengan rencana tenaga kerja mingguan yang diajukan oleh
Kontraktor Pelaksana harus berada dilokasi pekerjaan.
3. Konsultan Supervisi berhak untuk tidak menyetujui rencana penggunaan tenaga kerja
mingguan yang diajukan oleh Kontraktor Pelaksana dengan memberikan alasan-alasan yang
dapat dipertanggung jawabkan secara teknis.

2.11 PEKERJAAN DILUAR JAM KERJA


1. Pekerjaan-pekerjaan diluar jam kerja normal yang dilakukan oleh Kontraktor Pelaksana
dengan alasan mempercepat proses penyelesaian pekerjaan harus diketahui oleh Konsultan
Supervisi.
2. Biaya-biaya yang harus dikeluarkan oleh personil Konsultan Supervisi untuk pengawasan
pekerjaan diluar jam kerja normal yang dilakukan oleh Kontraktor Pelaksana sepenuhnya
menjadi tanggung jawab Kontraktor Pelaksana.
3. Kontraktor Pelaksana bertanggung jawab penuh terhadap kualitas pekerjaan yang dilakukan
diluar jam kerja normal atau pada malam hari.

2.12 LAPORAN PELAKSANAAN


1. Kontraktor Pelaksana wajib membuat laporan harian, laporan mingguan, dan laporan bulanan
kepada Konsultan Supervisi tentang kemajuan pelaksanaan pekerjaan.
2. Format laporan harian, laporan mingguan, dan laporan bulanan yang dibuat oleh Kontraktor
pelaksana harus disetujui oleh Konsultan Supervisi.

6
RENCANA KERJA & SYARAT-SYARAT
(RKS)

3. Konsultan Supervisi berhak untuk melakukan pemeriksaan langsung kelapangan akan


kebenaran data yang ada dalam laporan harian, laporan minnguan, dan laporan bulanan yang
dibuat oleh Kontraktor Pelaksana.
4. Laporan harian, laporan mingguan, dan laporan bulanan dibuat dalam rangkap 4 (empat).
Salah satu tembusan laporan harian, laporan mingguan, dan laporan bulanan harus berada
pada lokasi pekerjaan. Masing-masing Laporan harian, laporan mingguan dan bulanan harus
diserahkan kepada Konsultan Supervisi dan Owner.

2.13 SURAT MENYURAT DAN KOMUNIKASI


1. Segala surat-menyurat yang dilakukan oleh Kontraktor Pelaksana yang berhubungan dengan
pelaksanaan pekerjaan yang sifatnya administratif harus melalui dan ditujukan kepada
Konsultan Supervisi serta Owner.
2. Segala surat-menyurat yang dilakukan oleh Kontraktor Pelaksana yang berhubungan dengan
pelaksanaan pekerjaan yang sifatnya teknis harus melalui dan ditujukan kepada Konsultan
Supervisi juga diketahui oleh Owner.
3. Surat menyurat atau perizinan yang berhubungan dengan Instansi lain di luar proyek tidak
perlu melalui dan diketahui oleh Konsultan Supervisi. Kontraktor Pelaksana tetap wajib
memberikan informasi tentang hal tersebut kepada Konsultan Supervisi.

2.14 RAPAT KOORDINASI DAN RAPAT LAPANGAN ( SITE MEETING )


1. Rapat koordinasi diselenggarakan sekurang-kurangnya 1 (satu) kali setiap minggu, dipimpin
oleh Owner atau Konsultan supervisi.
2. Kontraktor Pelaksana wajib hadir dalam rapat koordinasi dengan diwakili minimal oleh Site
Manager atau Supervisor Lapangan.
3. Kosumsi rapat koordinasi tersebut disiapkan oleh Kontraktor Pelaksana kecuali ditentukan lain
oleh Owner.
4. Rapat lapangan (site meeting) diselenggarakan sekurang-kurangnya 1 (satu) kali setiap
minggu, dipimpin oleh Owner atau Konsultan supervisi.
5. Kontraktor Pelaksana wajib hadir dalam rapat lapangan dengan diwakili minimal oleh
Supervisor lapangan.
6. Kosumsi rapat lapangan tersebut disiapkan oleh Kontraktor Pelaksana kecuali ditentukan lain
oleh Owner.
2.15 WEWENANG OWNER (PEMBERI TUGAS) MEMASUKI LOKASI PEKERJAAN
1. Owner (Pemberi Tugas) dan para wakilnya mempunyai wewenang untuk memasuki lokasi
pekerjaan dan bengkel kerja atau tempatt empat lain dimana Kontraktor Pelaksana
melaksanakan pekerjaan untuk Kontrak.
2. Jika pekerjaan dilakukan pada tempat-tempat lain yang dilakukan oleh Sub Kontraktor
Pelaksana menurut ketentuan dalam Sub Pelaksanaan, maka Kontraktor Pelaksana harus
memberikan jaminan agar supaya Owner dan para wakilnya mempunyai wewenang untuk
memasuki bengkel kerja dan tempat-tempat lain kepunyaan Sub Pelaksana pekerjaan.
3. Owner atau Staf Ahli ( Enggineer ) berhak memberikan instruksi langsung dilapangan kepada
Kontraktor Pelaksana dan Konsultan Supervisi untuk suatu perbaikan atau perubahan jika
dalam proses pelaksanaan pekerjaan ditemukan hal-hal yang tidak sesuai dengan Gambar
Bestek, Spesifikasi Teknis, Bill of Quantity dan Kontrak Kerja.
4. Owner atau Staf Ahli ( Enggineer ) berhak memerintahkan Konsultan Supervisi secara tertulis
untuk menghentikan proses pelaksanaan pekerjaan yang dilakukan oleh Kontraktor
Pelaksana sementara waktu jika ditemukan hal-hal yang tidak sesuai dengan Gambar Bestek,
Spesifikasi Teknis, Bill of Quantity dan Kontrak Kerja.
5. Kontraktor Pelaksana harus menjamin dan bertangung jawab penuh akan keselamatan
Owner dan para wakilnya selama berada dilokasi pekerjaan.

2.16 PENANGGUNG JAWAB PENGAWASAN

7
RENCANA KERJA & SYARAT-SYARAT
(RKS)

1. Berdasarkan Kontrak Kerja yang dibuat oleh Owner dengan Penyedia Jasa Konsultasi, maka
Konsultan Supervisi untuk proyek seperti yang disebutkan dalam BAB I diatas adalah
Perusahaan seperti yang disebutkan dalam Kontrak Kerja Konsultan Supervisi.
2. Tugas dan kegiatan Konsultan Supervisi adalah seperti yang disebutkan dalam Keputusan
Menteri Permukiman Dan Prasarana Wilayah Nomor : 332/KPTS/M/2002 Tanggal 21 Agustus
2002 Tentang Penyedia Jasa Pengawas Konstruksi atau menurut perubahannya jika ada
kecuali ditentukan lain oleh Owner dalam Kontrak Kerja konsultan Supervisi.
3. Konsultan Supervisi harus mengajukan struktur organisasi pengawasan lapangan proyek
kepada Owner dimana didalamnya tercantum beberapa tenaga ahli Konsultan Supervisi
dengan posisi minimal seperti berikut atau seperti yang diajukan :
1. Site Engineer/Team Leader;
2. Inspector;
3. Tenaga Administrasi; dan
4. Operator Computer.
4. Semua tenaga ahli yang namanya tercantum dalam struktur organisasi pengawasan lapangan
proyek yang diajukan oleh Konsultan Supervisi harus berada dilokasi pekerjaan minimal
selama jam kerja.
5. Konsultan Supervisi harus menyerahkan Struktur Organisasi pengawasan lapangan proyek
yang telah disetujui oleh Owner kepada Kontraktor Pelaksana.
6. Pengantian tenaga ahli oleh Konsultan Supervisi selama proses pelaksanaan pekerjaan harus
diketahui dan disetujui oleh Owner.
7. Leader harus mengajukan ijin tertulis kepada Owner jika hendak meninggalkan lokasi
pekerjaan dalam jangka waktu lebih dari 3 hari.
8. Kontraktor Pelaksana berhak mengajukan kepada Owner untuk pengantian tenaga ahli
Konsultan Supervisi yang berada dilokasi pekerjaan jika tenaga ahli tersebut dinilai
menghambat pekerjaan dan tidak mampu menjalankan tugasnya dengan baik.
9. Tenaga ahli yang ditempatkan dilokasi pekerjaan oleh Konsultan Supervisi harus mampu
memberikan keputusan yang bersifat teknis di lokasi pekerjaan.
10. Konsultan Supervisi harus membuat laporan mingguan dan laporan bulanan kepada Owner
atas segala hal yang menyangkut pelaksanaan pekerjaan oleh Kontraktor pelaksana. Bentuk,
format, dan isi laporan Konsultan Supervisi adalah berdasarkan hasil diskusi dengan Owner.

2.17 INSTRUKSI KONSULTAN SUPERVISI


1. Kontraktor Pelaksana harus mematuhi dan melaksanakan semua instruksi atau perintah yang
dikeluarkan oleh Konsultan Supervisi yang berhubungan dengan pelaksanaan pekerjaan.
2. Semua instruksi yang dikeluarkan oleh Konsultan Supervisi harus dalam bentuk tulisan.
3. Instruksi Konsultan Supervisi dalam bentuk lisan dibenarkan dan harus diikuti oleh Kontraktor
Pelaksana selama disertai oleh alasanalasan yang jelas dan sesuai dengan Spesifikasi
Teknis.
4. Instruksi dari Konsultan Supervisi dapat berupa hal-hal seperti disebutkan dibawah ini:
5. Teguran atas sesuatu cara pelaksanaan yang salah sehingga membahayakan bagi konstruksi,
atau pekerjaan finishing yang kurang baik atau hal-hal lain yang menyimpang dari Spesifikasi
Teknis dan Gambar Bestek.
6. Perintah untuk menyingkirkan material/bahan bangunan yang tidak sesuai dengan Spesifikasi
Teknis.
7. Perintah untuk mengantikan Pelaksana lapangan dari Kontraktor Pelaksana yang dianggap
kurang mampu.
8. Perintah untuk melakukan penambahan tenaga kerja dengan alasan untuk mempercepat
proses pelaksanaan pekerjaan.
9. Perintah untuk melakukan perubahan-perubahan pada metode pelaksanaan Kontraktor
Pelaksana yang dianggap tidak tepat sehingga dapat mengurangi kualitas dan memperlambat
proses penyelesaian pekerjaan.

8
RENCANA KERJA & SYARAT-SYARAT
(RKS)

2.18 PERUBAHAN-PERUBAHAN DISAIN DAN PERBEDAAN-PERBEDAAN


1. Konsultan Perencana dan Konsultan Supervisi dengan persetujuan Owner berhak
mengadakan perubahan-perubahan pada Gambar Bestek, Spesifikasi Teknis dan Bill of
Quantity yang wajib dilaksanakan oleh Kontraktor Pelaksana.
2. Kontraktor Pelaksana dengan alasan apapun tidak boleh melakukan perubahan pada Gambar
Bestek, Spesifikasi Teknis dan Bill of Quantity tanpa persetujuan Konsultan Supervisi atau
Konsultan Perencana.
3. Perubahan-perubahan akan Gambar Bestek dan Spesifikasi Teknis yang dilakukan oleh
Konsultan Perencana, Konsultan Supervisi Dan Owner harus disampaikan secara tertulis
kepada Kontraktor Pelaksana untuk dilaksanakan.
4. Perubahan-perubahan pada Gambar Bestek dan Spesifikasi Teknis yang dilakukan oleh
Konsultan Supervisi, Konsultan Perencana, dan Owner secara lisan atau tidak tertulis tidak
wajib untuk dilaksanakan oleh Kontraktor Pelaksana. Resiko karena melaksanakan Instruksi
tidak tertulis sepenuhnya menjadi tanggung jawab Kontraktor Pelaksana.
5. Perubahan-perubahan akan Gambar Bestek dan Spesifikasi Teknis tidak boleh menambah
biaya pelaksanaan pekerjaan secara keseluruhan dari biaya pelaksanaan yang ada dalam
Kontrak Kerja kecuali ditentukan lain dalam Kontrak Kerja atau oleh Owner.
6. Perhitungan kuantitas/volume pekerjaan dan biaya karena perubahan Gambar Bestek dan
Spesifikasi Teknis yang diusulkan oleh Konsultan Perencana dan Owner dilakukan oleh
Konsultan Perencana diketahui oleh Owner.
7. Perhitungan kuantitas/volume pekerjaan dan biaya karena perubahan Gambar Bestek dan
Spesifikasi Teknis yang diusulkan oleh Kontraktor Pelaksana dilakukan oleh Kontraktor
Pelaksana diketahui oleh Konsultan Supervisi dan disetujui oleh Owner.
8. Kontraktor berhak memeriksa hasil perhitungan akan kuantitas/volume pekerjaan dan biaya
yang dilakukan oleh Konsultan Perencana.
9. Jika dalam pelaksanaan pekerjaan ditemukan ketidak sesuaian antara Gambar Bestek,
Spesifikasi Teknis, dan Bill of Quantity Konsultan Supervisi tidak dibenarkan mengambil
keputusan secara sepihak tetapi harus melaporkannya kepada owner untuk tindakan
selanjutnya.
10. Konsultan Supervisi dengan persetujuan Konsultan Perencana dan Owner berhak
menentukan acuan mana yang harus dipegang bila terjadi perbedaan antara Gambar Bestek,
Spesifikasi Teknis, dan bill of Quantity kecuali ditentukan lain dalam Kontrak Kerja.
11. Kecuali ditentukan lain dalam Kontrak Kerja atau oleh Konsultan Supervisi, jika terjadi
perbedaan antara Gambar Bestek, Spesifikasi Teknis dan Bill of Quantity maka urutan acuan
yang harus dipegang ditentukan seperti berikut :
1. Kontrak Kerja;
2. Bill of Quantity;
3. Gambar Bestek serta Gambar Revisi; dan
4. Spesifikasi Teknis.

9
RENCANA KERJA & SYARAT-SYARAT
(RKS)

BAB III
PEKERJAAN PERSIAPAN

3.1 PAPAN NAMA PROYEK


1. Kontraktor harus membuat dan memasang Papan Nama Proyek yang memuat tentang
identitas proyek.
2. Papan nama proyek mengunakan papan/kayu dengan ukuran minimal 150 cm x 250 cm
kecuali ditentukan lain oleh Owner. Papan nama proyek rangka dan kakinya terbuat dari kayu
dengan kualitas terbaik sehingga sanggup bertahan minimal sampai selesainya pengerjaan
proyek. Latar papan nama dapat berupa papan kayu tebal minimal 2 cm atau multiplek
dengan tebal minimal 12 mm. Penggunaan bahan dan material lain harus dengan persetujuan
Konsultan Supervisi.
3. Papan nama proyek belatar belakang putih dengan tulisan warna hitam, kecuali untuk logo
atau simbul dapat dipakai warna yang bervariasi.
4. Papan nama proyek harus mencantumkan Instansi Penyandang Dana, Instansi Pemilik
Bangunan, Kontraktor Pelaksana, Konsultan Perencana dan Konsultan Supervisi.
5. Papan juga harus mencantumkan besar anggaran pelaksanaan proyek, waktu mulai proyek,
dan waktu penyelesaian proyek.

3.2 KANTOR LAPANGAN KONSULTAN SUPERVISI ( DIREKSI KEET )


1. Kontraktor Pelaksana dengan biaya sendiri harus membuat kantor konsultan Supervisi
(Direksi Keet) untuk keperluan operasional supervisi.
2. Pemanfaatan bangunan lama untuk keperluan Kantor Konsultan Supervisi (Direksi Keet)
harus dengan persetujuan Konsultan Supervisi.
3. Direksi Keet mempunyai ukuran minimal 24 m2.
4. Direksi Keet tidak boleh dibuat dari material hasil bongkaran bangunan lama.
5. Direksi Keet minimal harus mempunyai 2 unit jendela dan 1 unit pintu dengan penerangan
yang cukup dan sirkulasi udara yang baik.
6. Lantai Direksi Keet minimal dari perkerasan beton dengan campuran 1 Sm : 2 Ps : 3 Kr
dengan permukaan yang rata dan diperhalus dengan acian beton.
7. Jika Direksi Keet harus dibuat dalam bentuk bangunan panggung maka lantai Direksi Keet
harus dibuat dari papan ukuran 2.5/25 cm dengan jarak balok-balok lantai ukuran 5/10 cm
minimal 50 cm dari kayu dengan kelas II.

10
RENCANA KERJA & SYARAT-SYARAT
(RKS)

8. Dinding Direksi Keet minimal papan ukuran 2/20 cm dengan rangka dinding kayu ukuran
5/10 cm dari kayu kelas II. Dinding dapat juga dibuat dari bahan multiplek tebal 6 mm.
9. Atap Direksi Keet dari bahan seng BJLS 0,20 mm.
10. Pengantian bahan dan material berbeda dari seperti yang telah disebutkan diatas harus
dengan persetujuan Konsultan supervisi.
11. Direksi Keet harus dilengkapi minimal dengan :
a. Meja Kerja : 3 Buah
b. Kursi Kerja : 6 buah
c. Papan Tulis : 1 Buah
d. Rak Arsip : 1 Buah
e. Meja Rapat : 1 Buah
f. Kursi Rapat : 6 Buah
g. Air Minum
12. Posisi dan letak Direksi Keet ditentukan bersama antara Konraktor Pelaksana dengan
Konsultan Supervisi. Letak Direksi Keet tidak boleh berada terlalu dekat dengan posisi
bangunan yang sedang dikerjakan.

3.3 KANTOR LAPANGAN KONTRAKTOR PELAKSANA


1. Kontraktor Pelaksana dengan biaya sendiri harus membuat Kantor Lapangan untuk keperluan
operasional pelaksanaan pekerjaan.
2. Pemanfaatan bangunan lama untuk keperluan Kantor Lapangan harus dengan persetujuan
Konsultan Supervisi dan Owner.
3. Kantor Lapangan mempunyai ukuran minimal 24 m2.
4. Kantor Lapangan tidak boleh dibuat dari material hasil bongkaran bangunan lama.
5. Kantor Lapangan minimal harus mempunyai 2 unit jendela dan 1 unit pintu dengan
penerangan yang cukup dan sirkulasi udara yang baik.
6. Lantai Kantor Lapangan minimal dari perkerasan beton dengan campuran 1 Sm : 2 Ps : 3 Kr
dengan permukaan yang rata dan diperhalus dengan acian beton.
7. Jika Kantor Lapangan harus dibuat dalam bentuk bangunan panggung maka lantai Kantor
Lapangan harus dibuat dari papan ukuran 2.5/25 cm dengan jarak balok-balok lantai ukuran
5/10 cm minimal 50 cm dari kayu dengan kelas II.
8. Dinding Kantor Lapangan minimal papan ukuran 2/20 cm dengan rangka dinding kayu
ukuran 5/10 cm dari kayu kelas II.
9. Atap Kantor Lapangan dari bahan seng BJLS 0,20 mm.
10. Pengantian bahan dan material berbeda dari seperti yang telah disebutkan diatas harus
dengan persetujuan Konsultan supervisi.
11. Kantor Lapangan harus dilengkapi minimal dengan :
a. Meja Kerja : 3 Buah
b. Kursi Kerja : 6 buah
c. Papan Tulis : 1 Buah
d. Rak Arsip : 1 Buah
e. Meja Rapat : 1 Buah
f. Kursi Rapat : 6 Buah
g. Air Minum
12. Posisi dan letak Kantor Lapangan ditentukan bersama antara Kontraktor Pelaksana dengan
Konsultan Supervisi. Letak Kantor Lapangan tidak boleh berada terlalu dengan dekat dengan
posisi bangunan yang sedang dikerjakan.

3.4 TOILET / WC DAN KAMAR MANDI LAPANGAN


1. Kontraktor Pelaksana dengan biaya sendiri harus membuat Kamar Mandi dan WC untuk
keperluan Staf Kontraktor Pelaksana, Staf Konsultan Supervisi, dan para pekerjan dan buruh.
2. Pemamfaatan Bangunan Lama atau Kamar Mandi dan WC lama yang telah ada dilokasi
pekerjaan harus disetujui oleh Konsultan Supervisi dan Owner.

11
RENCANA KERJA & SYARAT-SYARAT
(RKS)

3. Kamar Mandi dan WC mempunyai ukuran minimal 12 m2.


4. Toilet/WC staf Kontraktor Pelaksana dan staf Konsultan Supervisi harus dibuat terpisah
dengan Toilet/WC serta Kamar Mandi pekerja.
5. Kamar Mandi dan WC tidak boleh dibuat dari material hasil bongkaran bangunan lama.
6. Lantai Kamar Mandi dan WC minimal dari perkerasan beton dengan campuran 1 Sm : 2 Ps : 3
Kr dengan permukaan yang rata dan diperhalus dengan acian beton.
7. Dinding Kamar Mandi dan WC 1 meter dari lantai dibuat dari pasangan batu bata dan
diplaster sedangkan bagian atasnya boleh dibuat dari dinding papan ukuran 2/20 cm dengan
rangka dinding kayu ukuran 5/10 cm dari kayu kelas II.
8. Atap Kamar Mandi dan WC dari bahan seng BJLS 0,20 mm.
9. Pengantian bahan dan material berbeda dari seperti yang telah disebutkan diatas harus
dengan persetujuan Konsultan supervisi.
10. Kamar Mandi dan WC harus dilengkapi dengan Kloset jongkok, kran air, bak tampungan air,
dan saluran pembuangan air kotor. Kamar Mandi dan WC juga harus dilengkapi dengan
Septictank dan saluran resapan.
11. Posisi dan letak Kamar Mandi dan WC ditentukan bersama antara Konraktor Pelaksana
dengan Konsultan Supervisi. Letak Kantor Lapangan tidak boleh berada terlalu dengan dekat
dengan posisi bangunan yang sedang dikerjakan.

3.5 GUDANG PENYIMPANAN MATERIAL


1. Kontraktor Pelaksana dengan biaya sendiri harus membuat Gudang penyimpanan material
untuk melindungi material yang tidak segera dipakai.
2. Pemamfaatan bangunan lama dilokasi pekerjaan untuk keperluan Gudang Penyimpanan
Material harus dengan persetujuan Konsultan Supervisi dan Owner.
3. Gudang Penyimpanan Material mempunyai ukuran minimal 50 m2.
4. Gudang Penyimpanan Material tidak boleh dibuat dari material hasil bongkaran bangunan
lama.
5. Lantai Gudang Penyimpanan Material minimal dari perkerasan beton dengan campuran 1 Sm:
2 Ps : 3 Kr dengan permukaan yang rata dan diperhalus dengan acian beton.
6. Untuk tempat penyimpanan material semen lantainya harus dibuat benar-benar terlindung dari
rembesan air.
7. Jika Gudang Penyimpanan Material harus dibuat dalam bentuk bangunan panggung maka
lantai Gudang Penyimpanan Material dibuat dari papan ukuran 2.5/25 cm dengan jarak
balok-balok lantai ukuran 5/10 cm minimal 50 cm dari kayu dengan
kelas II.
8. Dinding Gudang Penyimpanan Material minimal papan ukuran 2/20 cm dengan rangka
dinding kayu ukuran 5/10 cm dari kayu kelas II. Dinding dapat juga dibuat dari bahan multiplek
tebal 6 mm.
9. Atap Gudang Penyimpanan Material dari bahan seng BJLS 0,20 mm.
10. Pengantian bahan dan material berbeda dari seperti yang telah disebutkan diatas harus
dengan persetujuan Konsultan supervisi.
11. Posisi dan letak Gudang Penyimpanan Material ditentukan bersama antara Konraktor
Pelaksana dengan Konsultan Supervisi. Letak Gudang Penyimpanan Material tidak boleh
berada terlalu dengan dekat dengan posisi bangunan yang sedang dikerjakan.
12. Gudang Penyimpanan Material sebaiknya tidak diletakkan didalam lokasi pekerjaan kecuali
dalam keadaan memaksa dan sulit mencari lokasi lain.

3.6 BARAK PEKERJA


1. Kontraktor Pelaksana dengan biaya sendiri harus membuat Barak Pekerja untuk keperluan
pekerja yang menginap dilokasi pekerjaan.
2. Pemanfaatan bangunan lama yang ada dilokasi pekerjaan untuk keperluan Barak Kerja harus
dengan persetujuan Konsultan Supervisi dan Owner.

12
RENCANA KERJA & SYARAT-SYARAT
(RKS)

3. Barak Pekerja harus sanggup menampung semua pekerja yang menginap dilokasi pekerjaan
atau minimal berukuran 50 m2.
4. Pada Barak Pekerja harus disediakan juga dapur untuk keperluan kosumsi sehari-hari para
pekerja.
5. Barak Pekerja tidak boleh dibuat dari material hasil bongkaran bangunan lama.
6. Lantai Barak Pekerja minimal dari perkerasan beton dengan campuran 1 Sm : 2 Ps : 3 Kr
dengan permukaan yang rata dan diperhalus dengan acian beton.
7. Jika Barak Pekerja harus dibuat dalam bentuk bangunan panggung maka lantai Gudang
Penyimpanan Material dibuat dari papan ukuran 2.5/25 cm dengan jarak balok-balok lantai
ukuran 5/10 cm minimal 50 cm dari kayu dengan kelas II.
8. Dinding Barak Pekerja minimal papan ukuran 2/20 cm dengan rangka dinding kayu ukuran
5/10 cm dari kayu kelas II. Dinding dapat juga dibuat dari bahan multiplek tebal 6 mm.
9. Atap Barak Pekerja dari bahan seng BJLS 0,20 mm.
10. Pengantian bahan dan material berbeda dari seperti yang telah disebutkan diatas harus
dengan persetujuan Konsultan supervisi.
11. Posisi dan letak Barak Pekerja ditentukan bersama antara Konraktor Pelaksana dengan
Konsultan Supervisi.
12. Barak Pekerja tidak boleh diletakkan didalam lokasi pekerjaan.

3.7 BENGKEL KERJA / PABRIKASI


1. Kontraktor Pelaksana dengan biaya sendiri harus membuat Bengkel Kerja atau tempat
Pabrikasi terutama untuk pekerjaan yang berhubungan dengan kayu dan baja profil dan baja
tulangan.
2. Pemamfaatan bangunan lama yang telah ada dilokasi pekerjaan untuk keperluan Bengkel
Kerja harus dengan persetujuan Konsultan Supervisi dan Owner.
3. Ukuran minimal Bengkel Kerja pekerjaan untuk masing-masing pekerjaan pabrikasi adalah 50
m2.
4. Bengkel Kerja tidak boleh dibuat dari material hasil bongkaran bangunan lama.
5. Bangunan Bengkel Kerja dapat dibuat dari konstruksi kayu.
6. Atap Bengkel Kerja dari bahan seng BJLS 0,20 mm.
7. Bengkel Kerja tidak boleh ditempatkan dalam lokasi pekerjaan kecuali ditentukan lain oleh
Konsultan Supervisi.

3.8 INSTALASI AIR BERSIH DAN INSTALASI LISTRIK SEMENTARA


1. Kontraktor Pelaksana atas biaya sendiri harus menyediakan Instalasi air bersih dan Instalasi
listrik sementara selama berlangsungnya masa pelaksanaan pekerjaan untuk keperluan
operasional dan keperluan pekerjaan-pekerjaan konstruksi.
2. Kontraktor tidak dibenarkan menggunakan Instalsi Listrik dan Instalasi Air Bersih dan Sumber
Air Bersih yang telah ada dilokasi pekerjaan tanpa persetujuan Konsultan Supervisi dan
Owner.

3.9 PERLENGKAPAN KEAMANAN KERJA DAN P3K


1. Kontraktor Pelaksana harus menyediakan perlengkapan keamanan kerja untuk semua
pekerja yang berada dalam lokasi pekerjaan dan tamu yang berkunjung kelokasi pekerjaan.
2. Perlengkapan keamanan kerja dapat berupa alat-alat seperti berikut ini :
1. Helm Pelindung Kepala;
2. Sepatu untuk melindungi kaki;
3. Pemadam Kebakaran; dan
4. Kotak P3K untuk pertolongan pertama pada kecelakaan kerja.
3. Jika terjadi kecelakaan kerja di lokasi pekerjaan yang berhubungan dengan pelaksanaan
pekerjaan maka Kontraktor Pelaksana diwajibkan mengambil segala tindakan guna
kepentingan si korban.

13
RENCANA KERJA & SYARAT-SYARAT
(RKS)

4. Semua biaya yang diperlukan untuk perawatan dan pengobatan korban kecelakaan dilokasi
pekerjaan menjadi tanggungan Kontraktor Pelaksana.
5. Yang dimaksud dengan korban dilokasi pekerjaan yang menjadi tanggung jawab Kontraktor
pelaksana adalah :
a. Personil atau semua tenaga kerja Kontraktor Pelaksana;
b. Personil Konsultan Supervisi.;
c. Owner dan para wakilnya;
d. Tamu yang berkunjung kelokasi pekerjaan; dan
e. Orang yang berada dalam lokasi pekerjaan dengan ijin dan sepengetahuan Kontraktor
Pelaksana.

3.10 PENJAGA KEAMANAN LOKASI PEKERJAAN


1. Kontraktor Pelaksana dengan biaya sendiri harus menyediakan tempat/pos penjaga
keamanan lokasi pekerjaan beserta minimal 2 orang penjaga keamanan yang bekerja selama
24 jam.
2. Bangunan Pos penjaga keamanan lokasi pekerjaan bentuk dan dimensinya ditentukan oleh
Kontraktor Pelaksana.
3. Bangunan Pos penjaga keamanan lokasi pekerjaan tidak boleh berada di dalam lokasi
pekerjaan. Pos penjaga harus berada diluar pagar pengaman lokasi pekerjaan.

BAB IV
PEKERJAAN AWAL

4.1 PEMBERSIHAN LAPANGAN


1. Kontraktor Pelaksana harus membersihkan lokasi pekerjaan dari segala sesuatu yang dapat
menggangu pelaksanaan pekerjaan seperti bangunan lama, hasil bongkaran bangunan lama,
pepohonan, semak belukar, dan tanah humus.
2. Kontraktor Pelaksana harus melakukan pengupasan terhadap tanah humus setebal minimal
30 cm sebelum dilakukan pekerjaan konstruksi terutama pekerjaan timbunan tanah.
3. Yang dimaksud dengan Muka Tanah Dasar pada Gambar Bestek adalah muka tanah yang
telah bersih dari pepohonan, semak belukar, dan lapisan tanah humus atau muka tanah
timbun yang telah dipadatkan kecuali diitentukan lain dalam Gambar Bestek.
4. Hasil bongkaran bangunan lama dan pengupasan tanah humus tidak boleh dipakai sebagai
material timbunan atau diolah kembali untuk dipakai sebagai material bangunan.
5. Material yang dihasilkan dari bongkaran bangunan lama dan pengupasan lapisan humus
harus dikeluarkan dari lokasi pekerjaan dan dibuang sejauh mungkin dari lokasi pekerjaan
atau ketempat yang tidak menggangu lingkungan hidup.
6. Hasil bongkaran bangunan lama dan pengelupasan lapisan humus tidak boleh berada
dilokasi pekerjaan lebih dari 3 (tiga) hari.

4.2 PEMBONGKARAN KONSTRUKSI BANGUNAN LAMA


1. Kontraktor Pelaksana harus membongkar Konstruksi Bangunan Lama atau sisa bangunan
lama sesuai dengan Gambar Bestek atau Bill of Quantity seperti dinding, lantai, atap, plafond,
perkerasan lama dan pondasi yang ada didalam lokasi pekerjaan.
2. Sebelum melakukan pekerjaan pembongkaran Kontraktor Pelaksana harus membuat
permohonan tertulis kepada Konsultan Manajemen Konstruksi dan diketahui Konsultan
Supervisi serta Owner.

14
RENCANA KERJA & SYARAT-SYARAT
(RKS)

3. Dalam melakukan pembongkarann bangunan lama Kontraktor Pelaksana harus menjamin


untuk tidak merusak bangunan disekitar lokasi pekerjaan dan bangunan-bangunan yang oleh
Owner tidak diijinkan untuk dibongkar.
4. Kerusakan-kerusakan bangunan lama dan bangunan disekitar lokasi pekerjaan akibat
aktifitas pembongkaran bangunan oleh Kontraktor Pelaksana menjadi tanggung jawab
Kontraktor Pelaksana apabila ada tuntutan ganti rugi oleh pemilik bangunan.
5. Hasil Bongkaran bangunan lama adalah milik Owner atau pemilik bangunan. Kontraktor
Pelaksana bertanggung jawab penuh terhadap keamanan, kehilangan dan pemanfaatan hasil
bongkaran bangunan lama oleh pihak-pihak ketiga tanpa seizin Owner atau pemilik
bangunan.
6. Hasil bongkaran bangunan lama tidak boleh dimamfaatkan kembali oleh Kontraktor
Pelaksana untuk material bangunan didalam lokasi maupun diluar lokasi proyek tanpa seizin
Konsultan Supervisi dan Owner.

4.3 PENENTUAN LETAK BANGUNAN ( SETTING OUT )


1. Kontraktor Pelaksana harus melakukan Seetting Out atau pengukuran kembali akan kebenaran
posisi bangunan yang akan dibangun seperti yang telah ada dalam Lay Out bangunan pada
Gambar Bestek.
2. Pekerjaan Setting Out yang dilakukan oleh Kontraktor Pelaksana harus diketahui dan didampinggi
oleh Konsultan Supervisi, Konsultan Perencana, Owner dan Pemilik Bangunan.
3. Pekerjaan Setting Out tidak boleh dilakukan secara manual tetapi harus menggunakan alat ukur
seperti Theodolit dan Waterpas.
4. Hasil pekerjaan Setting Out harus menghasilkan satu ketetapan bersama yang pasti akan elevasi
tanah, elevasi bangunan, posisi penempatan bangunan dan batas-batas lahan kerja. Ketetapan
akan elevasi dan posisi bangunan harus direalisasikan dilapangan dengan memasang patok-patok
sementara dari kayu ukuran 5/7 cm yang ditanam minimal 30 cm dalam tanah dan ujungnya
ditandai dengan cat minyak.
5. Hasil pekerjaan Seetting Out tidak boleh berbeda dengan Lay Out bangunan yang ada dalam
Gambar Bestek kecuali dengan alasan-alasan kondisi lahan existing yang berubah dan alasan-
alasan teknis yang disetujui oleh Konsultan Perencana atau Konsultan Supervisi.
6. Perubahan-perubahan posisi bangunan karena alasan keterbatasan lahan atau berubahanya
kondisi existing lahan harus disetujui oleh Konsultan Perencana, Konsultan Supervisi dan Owner.
7. Kontraktor Pelaksana harus membuat gambar hasil pekerjaan Seeting Out dan disetujui oleh
Konsultan Perencana, Konsultan Supervisi dan Owner.

4.4 PAGAR PELINDUNGAN LOKASI PEKERJAAN


1. Kontraktor Pelaksana harus melindungi lokasi pekerjaan selama berlangsungnya pekerjaan
konstruksi dari ganguan luar.
2. Pagar Proyek didirikan pada batas-batas yang mengelilingi tapak proyek, dapat berupa Pagar
Seng BJLS 0,25 mm dengan rangka kayu setinggi 2 meter dari muka tanah dan dicat dengan rapi.
dipasang pada tiang rangka kayu klas II, dan diperkuat dengan beton setempat dan penyokong
kayu. Pada tempat-tempat yang ditentukan dalam gambar dibuat pintu masuk untuk kendaraan
angkutan dan pintu masuk orang dengan persetujuan Pengguna Jasa/Pengawas Lapangan.
3. Pagar proyek harus dipelihara keutuhannya selama pembangunan proyek ini dan dibongkar
hanya atas persetujuan Pengguna Jasa /Pengawas Lapangan.
4. Pagar Pelindung lokasi pekerjaan harus segera dibuat setelah hasil pekerjaan Setting Out disetujui
oleh Konsultan Supervisi, Konsultan Perencana dan Owner.

4.5 PEMASANGAN BOUWPLANK


1. Kontraktor Pelaksana harus melakukan pemasangan Bouwplank sebagai acuan tetap pada semua
bangunan yang akan dikerjakan termasuk septictank dan Ground Resevoir.

15
RENCANA KERJA & SYARAT-SYARAT
(RKS)

2. Jarak pemasangan bouwplank dari struktur terluar bangunan yang akan dibangun minimal 1 m
dan maksimal 2 m.
3. Bouwplank dibuat dari tiang-tiang kayu ukuran 5/7 cm yang ditanam dalam tanah minimal 40 cm
dan dengan jarak maksimal setiap tiang adalah 2 meter. Untuk keperluan acuan elevasi dipakai
papan kayu 2,5/25 cm atau kayu ukuran 2,5/7 cm yang dipaku pada tiang-tiang kayu 5/7 cm.
4. Bouwplank harus mempunyai posisi dan elevasi yang tetap terhadap bangunan yang akan
dibangun dan tidak boleh berubah posisi dan elevasinya sebelum struktur bangunan yang paling
rendah seperti pondasi dan sloof selesai dikerjakan.
5. Posisi penempatan bouwplank harus sesuai dengan hasil pekerjaan Seeting Out.
6. Hasil pekerjaan pemasangan bouwplank harus disetujui oleh Konsultan Supervisi.

4.6 PEMBERSIHAN AKHIR


1. Pada saat penyelesaian pekerjaan, tempat kerja harus ditinggal dalam keadaan bersih dan siap
untuk dipakai Pemilik.
2. Kontraktor Pelaksana juga harus mengembalikan bagian-bagian dari tempat kerja yang tidak
diperuntukan dalam Dokumen Kontrak ke kondisi semula.

BAB V
PEKERJAAN GALIAN DAN TIMBUNAN

5.1. GALIAN TANAH PONDASI


1. Pekerjaan Galian harus dimulai dari elevasi paling atas atau elevasi akhir dari timbunan tanah
yang telah disetujui oleh Konsultan Supervisi.
2. Posisi galian pondasi harus tepat benar dengan posisi perletakan bangunan menurut hasil Setting
Out atau Lay Out daerah galian pondasi yang ada dalam Gambar Bestek.
3. Bentuk galian dan kedalaman galian pondasi sesuai dengan Gambar Bestek.
4. Pengalian pondasi dilakukan secara manual oleh para pekerja.
5. Kesalahan pengalian sehingga kedalaman galian melebihi dari kedalaman yang diperlukan, maka
kelebihi kedalaman tersebut harus diurug kembali dengan biaya sendiri dari Kontraktor Pelaksana.
6. Dasar galian yang telah selesai digali harus dipadatkan kembali dengan alat pemadat sehingga
mencapai kepadatan yang cukup menurut Konsultan Supervisi.
7. Jika pada saat pengalian ditemukan akar-akar tumbuhan lama atau puing-puing bangunan lama
maka akar dan puing tersebut harus diangkat serta diurug kembali dengan pasir urug hingga
mencapai elevasi kedalaman yang diperlukan.
8. Hasil galian pondasi yang akan dipakai kembali untuk urugan pondasi harus ditempatkan dengan
jarak tertentu sehingga tidak masuk kembali kedalam lubang galian dan tidak menggangu
pekerjaan konstruksi pondasi.
9. Dimensi, ukuran, dan kedalaman galian harus tetap dan tidak berubah sebelum pekerjaan
konstruksi pondasi plat lantai selesai dikerjakan.
10. Kontraktor Pelaksana harus membuat dinding penahan tanah sementara jika tanah disekitar galian
adalah tanah agresif, labil, danmudah runtuh sehingga membahayakan pekerjaan pengalian.
11. Hasil pekerjaan galian pondasi harus disetujui oleh Konsultan Supervisi.

16
RENCANA KERJA & SYARAT-SYARAT
(RKS)

5.2 URUGAN GALIAN PONDASI


1. Urugan galian pondasi dikerjakan setelah pekerjaan konstruksi pondasi selesai dikerjakan 100%.
2. Untuk urugan pondasi dapat digunakan tanah hasil galian pondasi atau material lain yang disetujui
oleh Konsultan supervisi.
3. Jika untuk urugan pondasi dipakai tanah lain dan bukan tanah hasil galian pondasi maka tanah
tersebut harus melalui proses pemeriksaan di Laboratorium Tanah sebelum dipakai sebagai
material urugan pondasi dan hal ini harus diketahui serta disetujui oleh Konsultan Supervisi.
Semua biaya yang dikeluarkan untuk pengadaan material tanah dan proses pemeriksaan di
Laboratorium Tanah dibebankan kepada Kontraktor Pelaksana.
4. Tanah Humus atau tanah hasil pembersihan lapangan setebal 30 cm dari muka tanah dasar tidak
boleh digunakan sebagai urugan pondasi.
5. Tanah urugan pondasi harus dipadatkan dengan alat pemadat Stemper atau alat lain yang
disetujui oleh Konsultan supervisi.
6. Pemadatan dilakukan lapis berlapis dengan ketebalan minimal setiap lapisanya adalah 30 cm.
7. Hasil pekerjaan urugan pondasi harus disetujui oleh Konsultan Supervisi.

5.3 TIMBUNAN TANAH


1. Sebelum dilakukan pekerjaan timbunan tanah atau perbaikan tanah Kontraktor Pelaksana harus
memastikan pekerjaan galian tanah pondasi telah selesai 100% dan disetujui oleh Konsultan
Supervisi.
2. Material timbunan adalah tanah gunung yang gembur tidak berbungkah-bungkah, bukan tanah liat,
bukan tanah sawah, bukan hasil bongkaran bangunan lama, bukan pasir laut, bukan pasir urug
dan bukan pasir beton.
3. Material timbunan adalah tanah yang mudah dipadatkan.
4. Kontraktor Pelaksana harus mengajukan Request Material timbunan tanah kepada Konsultan
Supervisi sebelum material tersebut didatangkan ke lokasi pekerjaan.
5. Material timbunan yang akan dipakai harus melalui proses pemeriksaan dan penelitian di
Laboratorium Mekanika Tanah.
6. Tanah timbun harus mempunyai sifat-sifat fisik dan daya dukung yang minimal sama atau lebih
baik dari lapisan tanah dibawahnya setelah dipadatkan.
7. Tanah timbun sekurang-kuranganya harus mempunyai angka CBR Laboratorium minimal 10%
dan angka CBR setelah pemadatan minimal 10%.
8. Material timbunan tanah harus dipadatkan lapisan demi lapisan dengan Alat Stamper. Tebal
minimal tiap lapisan adalah 30 cm.
9. Hasil pemadatan tanah harus disetujui oleh Konsultan Supervisi.
10. Tidak dibenarkan mengerjakan pekerjaan lain diatas permukaan tanah timbunan sebelum
pekerjaan timbunan dan pemadatan tanah selesai 100% serta disetujui oleh Konsultan Supervisi.

5.4 PASIR URUG


1. Pasir Urug hanya dipergunakan untuk urugan bawah lantai bangunan, pasir alas pondasi dan alas
pekerjaan lantai kerja beton Pondasi Tapak.
2. Pasir Urug tidak untuk digunakan pada pekerjaan beton struktural dan beton non struktural.
3. Pasir Urug terdiri dari butiran-butiran yang keras dan bersifat kekal.
4. Pasir urug harus berasal dari pasir sungai dan bukan pasir laut.
5. Tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 10 % dari berat keringnya.
6. Pasir urug harus dipadatkan dengan alat pemadat Stemper hingga mencapai kepadatan yang
disetujui oleh Konsultan Supervisi atau jenuh air sebelum dilakukan pekerjaan lain diatasnya.
7. Hasil pemadatan tanah harus disetujui oleh Konsultan Supervisi.

BAB VI
PEKERJAAN PONDASI

17
RENCANA KERJA & SYARAT-SYARAT
(RKS)

6.1 PASIR PASANG/PASIR HALUS


6.1.1 Pasir Pasang / Pasir Halus
1. Pasir Pasang/Pasir Halus adalah pasir dengan ukuran butiran halus dan tidak lagi
memerlukan proses penyaringan/ayakan jika hendak digunakan.
2. Pasir Pasang/Pasir Halus adalah pasir yang dipakai untuk keperluan Pasangan Batu Gunung,
Pasangan Batu Bata, Pasangan Keramik, dan Plasteran Dinding.
3. Pasir Pasang tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 5% dari berat kering, apabila pasir
pasang tersebut mengandung Lumpur lebih dari 5% maka pasir tersebut harus dicuci sebelum
dipergunakan.
4. Pasir Pasang/Pasir Halus harus mempunyai butiran yang tajam dan keras.
5. Bersifat kekal dan tidak hancur oleh karena pengaruh panas matahari
6. Pasir Pasang/Pasir Halus adalah pasir yang berasal dari Sungai dan bukan Pasir yang
berasal dari laut.

6.1.2 Lantai Kerja


1. Semua komponen struktur dari beton dan beton bertulang yang berhubungan langsung
dengan tanah harus dikerjakan diatas lantai kerja.
2. Lantai kerja dibuat dari beton dengan mutu K-125 atau sesuai Gambar Bestek.
3. Tebal lantai kerja minimal 7 cm atau sesuai Gambar Bestek.
4. Pekerjaan pengecoran lantai kerja tidak boleh dilakukan dalam kondisi tergenang air.
5. Hasil pekerjaan lantai kerja harus disetujui oleh Konsultan Supervisi.

6.2 PONDASI BATU GUNUNG / BATU KALI


1. Batu Gunung/Batu Kali yang dipergunakan harus berkualitas baik dari jenis yang keras, tidak
berlubang.
2. Batu Gunung/Batu Kali harus bersih dan tidak boleh mengadung atau menempel tanah dan
lumut pada permukaannya.
3. Tidak dibenarkan mengunakan batu karang sebagai pasangan batu kosong, pasangan
pondasi dan pasangan dinding saluran air kotor.
4. Untuk keperluan pondasi ukuran maksimal batu gunung/batu kali adalah 25 cm.
5. Untuk keperluan pasangan Aanstamping/Batu Kosong ukuran maksimal batu gunung/batu kali
adalah 10 cm.
6. Penggunaan material lain selain batu gunung untuk keperluan pondasi, pasangan batu
kosong dan saluran air kotor harus dengan persetujuan Konsultan Supervisi.
7. Pondasi batu gunung dipasang dengan cara diprofilkan sesuai Gambar Bestek dengan
perekat spesi campuran 1 pc : 4 Ps.
8. pasir yang dipakai adalah Pasir Pasang/Pasir Halus.
9. Pasangan Pondasi dilakukan lapis demi lapis, Antara batu dengan batu harus diberi spesi
(antara batu dengan batu tidak boleh bersentuhan langsung tanpa spesi),dan rongga-rongga
diisi dengan batu yang sesuai dengan besarnya serta spesi secukupnya.
10. Permukaan bagian atas Pondasi Batu Kali/Batu Gunung harus rata (Water Pass), beri spesi
dan dikasarkan (digaris-garis silang). Pada tempat-tempat yang akan dipasang kolom raktis
harus diberi stick besi beton.

6.3 PONDASI TAPAK BETON BERTULANG


1. Sebelum pekerjaan pondasi tapak dilakukan Kontraktor Pelaksana harus memastikan dan
disetujui oleh Konsultan Supervisi bawah pekerjaan galian tanah sudah selesai 100%.
2. Pondasi Tapak menerus dibuat dari Ready Mix dengan mutu beton K-250 .
3. Dimensi dan ukuran pondasi tapak adalah sesuai dengan Gambar Bestek.
4. Kedalaman galian pondasi tapak dihitung dari elevasi akhir muka tanah timbun atau sesuai
Gambar Bestek.
5. Pekerjaan pengecoran plat pondasi dengan alasan apapun tidak boleh dilakukan dalam
kondisi galian pondasi tergenang air.
6. Elevasi lantai kerja K-100 harus sama untuk semua luas penempatan tapak pondasi.

18
RENCANA KERJA & SYARAT-SYARAT
(RKS)

7. Tidak boleh ada perbedaan elevasi lantai kerja mutu K-100 untuk dudukan tapak pondasi
yang melebihi 1 cm.
8. Hasil pekerjaan pengecoran tapak pondasi dan sumuran harus disetujui oleh Konsultan
Supervisi.

BAB VII
PEKERJAAN BETON

7.1 PASIR BETON


1. Terdiri dari butiran-butiran yang keras dan tajam.
2. Tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 5% dari berat kering, apabila lebih dari 5% maka pasir
tersebut harus dicuci sebelum dipergunakan.
3. Ada tidaknya kandungan lumpur dalam pasir harus dibuktikan dengan penelitian di Laboratorium
Beton.
4. Bersifat kekal dan tidak hancur oleh karena pengaruh panas matahari.
5. Mempunyai gradasi atau susunan butiran yang baik dan sesuai untuk campuran material beton.
6. Ukuran maksimal pasir beton adalah 6 mm dan ukuran minimal pasir beton adalah butiran yang
tertahan pada saringan nomor 100.
7. Pasir beton tidak mengandung zat alkali atau zat-za lain yang dapat merusak beton.
8. Pasir yang akan digunakan untuk campuran beton harus melalui proses penyelidikan di
Laboratorium Beton.
9. Semua Peraturan dan Standar yang disyaratkan untuk Pasir Beton dalam Peraturan Beton
Indonesia (PBI) berlaku juga pada Spesifikasi Teknis ini.

7.2 KERIKIL BETON


1. Terdiri dari butiran-butiran yang keras dan tajam serta bersifat kekal.
2. Tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 1% dari berat kering, apabila lebih dari 1% maka kerikil
tersebut harus dicuci sebelum dipergunakan.
3. Ada tidaknya kandungan lumpur dalam pasir harus dibuktikan dengan penelitian di Laboratorium
Beton.
4. Bersifat kekal dan tidak hancur oleh karena pengaruh panas matahari.
5. Mempunyai gradasi atau susunan butiran yang baik dan sesuai untuk campuran material beton.
6. Ukuran maksimal kerikil beton adalah 30 mm dan ukuran minimal adalah 6 mm.
7. Tidak mengandung zat alkali atau zat-zat lain yang dapat merusak beton.
8. Kerikil yang akan digunakan untuk campuran beton harus melalui proses penyelidikan di
Laboratorium Beton.
9. Kerikil Beton hanya dipakai pada pekerjaan-pekerjaan beton Non Struktural ( K-125 & K-175 ) atau
beton dengan mutu dibawah K250.
10. Semua Peraturan dan Standar yang disyaratkan untuk Kerikil Beton dalam Peraturan Beton
Indonesia (PBI) berlaku juga pada Spesifikasi Teknis ini.

7.3 BATU PECAH


1. Batu pecah adalah hasil produksi mesin pemecah batu (Stone Cruser) dan bukan hasil pekerjaan
manual (manusia).
2. Batu pecah berasal dari batuan kali.
3. Terdiri dari butiran yang keras dan bersifat kekal.
4. Tingkat ketahanan terhadap keausan butiran minimal 95%.
5. Jumlah butiran Lonjong dan Pipih minimal 5%.
6. Tidak boleh mengandung lumpur dan zat-zat yang dapat merusak beton seperti zat alkali.
7. Ukuran butiran terkecil minimal 1 cm dan ukuran butiran terbesar maksimal 3 cm.

19
RENCANA KERJA & SYARAT-SYARAT
(RKS)

8. Butiran batu pecah dalam setiap meter kubiknya tidak boleh seragam tetapi merupakan
campuran antara butiran 1 cm sampai butiran 3 cm.
9. Batu pecah yang akan dipakai untuk material campuran beton harus melalui proses pemeriksaan
di Laboratorium beton.
10. Batu pecah hanya dan harus dipakai pada campuran beton struktural atau beton dengan mutu K-
250 sampai mutu K-300.

7.4 SEMEN PORTLAND


1. Terdaftar dalam merk dagang.
2. Merk Semen Portland yang dipakai harus seragam untuk semua pekerjaan beton structural
maupun beton non struktural.
3. Mempunyai butiran yang halus dan seragam.
4. Tidak berbungkah-bungkah/tidak keras.
5. Semen yang dipakai untuk semua pekerjaan struktur beton adalah Semen Portland Type I.
6. Semua peraturan tentang pengunaan semen portland di Indonesia untuk bangunan gedung
berlaku juga pada spesifikasi teknis ini.
7.5 AIR
1. Secara visual air harus bersih dan bening, tidak berwarna dan tidak berasa.
2. Tidak mengandung minyak, asam alkali, garam dan zat organic yang dapat merusak beton.
3. Air setempat dari sumur dangkal atau sumur bor serta yang didatangkan dari tempat lain
kelokasi pekerjaan harus mendapat persetujuan Konsultan Supervisi sebelum digunakan.

7.6 ZAT ADDITIVE


1. Pemakaian zat additive pada campuran beton untuk segala alasan yang berhubungan
kemudahan dalam pengerjaan beton atau Workability harus disetujui oleh Konsultan Supervisi.
2. Penggunaan zat additive dalam campuran beton harus melalui proses penelitian dan percobaan
dilaboratorium beton dengan biaya sendiri dari Kontraktor Pelaksana.
3. Kontraktor Pelaksana harus menunjukan standar, aturan, dan syarat yang berlaku secara umum
mengenai zat additive yang akan dipakai.
4. Kerusakan dan kegagalan struktur akibat penggunaan zat additive yang dapat dibuktikan secara
teknis sepenuhnya menjadi tanggung jawab Kontraktor Pelaksana.

7.7 TULANGAN BETON


1. Bebas dari karatan. Toleransi terhadap karatan pada baja tulangan ditentukan oleh Konsultan
Supervisi.
2. Baja tulangan diatas diameter 14 mm adalah Baja Ulir.
3. Baja tulangan sengkang/begel atau dibawah diameter 10 mm adalah baja polos.
4. Semua baja tulangan mempunyai tegangan tarik/luluh baja minimal 4000 kg/cm2 atau 400 MPa.
5. Kebenaran akan tegangan tarik/luluh baja tulangan harus dibuktikan dengan percobaan/uji tarik
pada Laboratorium Beton minimal untuk 3 benda uji.
6. Baja tulangan mempunyai bentuk dan penampang yang sesuai dengan yang dibutuhkan atau
sesuai Gambar Bestek.
7. Baja ulir yang telah sekali dibengkokkan tidak boleh dibengkokkan lagi dalam arah yang
berlawanan.
8. Baja tulangan harus disimpan sedemikian rupa sehingga terlindung dari hubungan langsung
dengan tanah dan terlindung dari air hujan.
9. Semua peraturan tentang baja tulangan di Indonesia untuk bangunan gedung berlaku juga pada
spesifikasi teknis ini.
10. Baja tulangan harus mempunyai tanda standard SII dengan ukuransesuai dengan dokumen
lelang.
11. Kontraktor harus memberikan copy sertifikat dan pabrik mengenai kekuatan dan ukuran baja
tulangan.
12. Untuk mendapatkan jaminan akan kualitas besi yang diminta, maka disamping adanya sertifikat
dari pabrik, juga harus ada/dimintakan sertifikat dari laboratorium baik pada saat pemesanan

20
RENCANA KERJA & SYARAT-SYARAT
(RKS)

maupun secara periodik minimum masing-masing 2 (dua) contoh percobaan ( stress strain) dan
pelengkung untuk setiap 20 ton besi. Pengetesan dilakukon pada laboratorium-laboratorium
yangdisetujui oleh direksi teknik.
13. Sebelum baja tulangan dipasang, Kontraktor harus menunjukan hasil-hasil pengujian yang
memperlihatkan mutu baja tulangan tersebut sesuai dengan Gambar Rencana kepada Direksi
Teknik untuk mendapat persetujuan terlebih dahulu.
14. Kontraktor harus mengusahakan supaya besi yang dipasang adalah sesuai dengan apa yang
tertera pada (Gambar Rencana).
15. Semua baja tulangan yang didesain sebagai tulangan praktis dan tidak termasuk pada gambar
rencana tetapi diperlukan/dibutuhkan untuk memlengkapi pekerjaan harus diadakan
pelaksanaannya.
16. Pemasangan dan pengikatan dari baja yang tertanam dalam beton dilakukan pada keadaan
normal, tidak diselesaikan pada saatpengecoran berlangsung. Pada tulangan harus ditempatkan
padaposisinya seakurat mungkin sesuai dengan Gambar Rencana dandiikat kuat agar tidak
bergeser saat pengecoran.
17. Kontraktor harus membuat detail shop drawing dengan skala, untuk disetujui oleh Direksi Teknik
dalam pelaksanaanya.
18. Semua baja pada pekerjaan ini permukaannya harus bersih dari larutan-larutan, bahan-bahan
atau material yang dapat member akibat pengurangan lekatan antara beton dan baja.
19. Semua baja tulangan harus dipasang sesuai dengan panjang maksimumnya. Tidak
diperbolehkan adanya sambungan splice pada baja tulangan, kecuali tertera pada Gambar
Rencana atau disetujui dari Direksi Teknik.
20. Jarak antara dua buah sambungan spilce harus dibuat sejauh mungkin, dengan jarak minimum
sejauh 40 kali diameter baja tulangan yang disambungkan.
21. Panjang penyaluran baja tulangan pada sambungan splice, kecuali tertera pada Gambar
Rencana, harus dipasang sepanjang minimum seperti tertera pada sandard.
22. Dalam hal dimana berdasarkan pengalaman Kontraktor atau pendapatnya terdapat kekeliruan
atau kekurangan atau perlu penyempurnaan pembesian yang ada.
23. Kontraktor dapat menambah ekstra besi dengan tidak mengurangi pembesian yang tertera dalam
gambar.
24. Secepatnyn hal ini diberitahukan pada perencana konstruksi untuk sekedar informasi.
a. Jika hal tersebut di atas akan dimintakan oleh kontraktor sebagai pekerjaan lebih, maka
penambahan tersebut hanya dapat dilakukan setelah ada persetujuan Direksi dan
Perencana konstruksi.
b. Jika diusulkan perubahan dari jalannya pembesian maka perubahan tersebut hanya dapat
dijalankan dengan persetujuan tertulis dari Perencana Konstruksi.
c. Mengajukan usul dalam rangka tersebut di atas adalah merupakan juga keharusan dari
Kontraktor.

7.8 SELIMUT BETON


1. Kecuali ditentukan lain oleh Konsultan Perencana dalam Bill of Quantity dan Gambar Bestek
maka aturan ketebalan selimut beton adalah seperti berikut ini :
Beton yang Tidak Beton yang
Komponen Langsung Berhubungan Berhubungan
Struktur Dengan Tanah Atau Dengan Tanah Atau
Cuaca Cuaca
Lantai ØD 36 Dan Lebih Kecil ØD 16 Dan Lebih
: 20 mm Kecil : 40 mm

21
RENCANA KERJA & SYARAT-SYARAT
(RKS)

> ØD 36 : 40 mm > ØD 36 : 50 mm
Lantai
ØD 36 Dan Lebih Kecil ØD 16 Dan Lebih
Dinding
: 20 mm Kecil : 40 mm
> ØD 36 :
> ØD 36 : 40 mm
Dinding 50

Seluruh Diameter ØD 16 Dan Lebih


Balok : 40 mm Kecil : 40 mm

> ØD 16 :
Balok
50 mm
Seluruh Diameter ØD 16 Dan Lebih
Kolom
: 40 mm Kecil : 40 mm
> ØD 16 :
Kolom
50 mm

2. Untuk konstruksi beton yang dituangkan langsung pada tanah dan selalu berhubungan dengan
tanah berlaku suatu tebal penutup beton minimal yang umum sebesar 70 mm.

7.9 RANCANGAN CAMPURAN BETON ( JOB MIX DISAIN )


1. Sebelum melaksanakan pekerjaan pengecoran beton struktural dengan mutu K-250 sampai
mutu K-300 Kontraktor Pelaksana harus membuat Rancangan Campuran Beton (Job Mix
Disain).
2. Yang dimaksud dengan Mutu Beton adalah Kuat Tekan Karakteristik yang diperoleh dari
pengujian benda uji kubus umur 28 hari minimal 20 benda uji.
3. Mutu beton untuk masing-masing komponen struktur adalah seperti yang dijelaskan dalam
Gambar Bestek dan Bill of Quantity.
4. Job Mix Disain adalah hasil pekerjaan ahli beton pada Laboratorium Beton yang diakui oleh
Pemerintah.
5. Material Pasir dan Batu Pecah yang dipakai untuk Job Mix Disain haruslah material yang akan
dipakai nantinya pada pelaksanaan dilapangan dan material tersebut tersedia dalam jumlah
yang cukup dilokasi pekerjaan sampai volume pekerjaan beton selesai dikerjakan.
6. Pengantian material dengan material selain material dalam Laporan Job Mix Disain pada
tahap pelaksanaan pekerjaan beton tidak dibenarkan.
7. Pengantian material dengan material selain material dalam Laporan Job Mix Disain pada
tahap pelaksanaan pekerjaan beton mengharuskan Kontraktor Pelaksana untuk membuat Job
Mix Disain baru.
8. Laporan Job Mix Disain untuk masing-masing mutu beton minimal harus mencantumkan :
o Laporan hasil penelitian Pasir Beton;
o Laporan hasil penelitian Batu Pecah;
o Komposisi Pasir Beton;
o Komposisi Batu Pecah;.
o Komposisi Air Beton;
o Komposisi Zat Additive jika digunakan;
o Nilai Slump Rencana;
o Nilai Faktor Air semen;
o Job Mix Disain yang dibuat oleh Kontraktor Pelaksana harus disetujui oleh Konsultan
Supervisi sebelum dilaksanakan.
o Semua aturan yang disyaratkan dalam Job Mix Disain dan telah disetujui oleh Konsultan
Supervisi harus diikuti dan dilaksanakan oleh Kontraktor Pelaksana.

22
RENCANA KERJA & SYARAT-SYARAT
(RKS)

7.10 RENCANA CAMPURAN LAPANGAN (JOB MIX FORMULA)


1. Berdasarkan Job Mix Disain yang telah disetujui oleh Konsultan Supervisi, Kontraktor
Pelaksana harus membuat Rencana Campuran Lapangan (Job Mix Formula) beton struktural
dengan mutu K-250 sampai mutu K-300.
2. Job Mix Formula tidak boleh berbeda dengan Job Mix Disain terutama dari segi komposisi
material beton.
3. Hasil perhitungan Job Mix Formula harus disetujui oleh Konsultan Supervisi.
4. Kontraktor Pelaksana harus membuat media standar berupa bakbak dari kayu atau timba-
timba plastik yang dipakai untuk mentakar komposisi material berdasarkan perhitungan Job
Mix Formula.
5. Pentakaran komposisi material campuran beton dengan bak-bak standar dilokasi pekerjaan
tidak boleh mengurangi dan berbeda dengan komposisi material beton yang ada dalam Job
Mix Disain.
6. Kontraktor Pelaksana harus melakukan pengujian hasil perhitungan Job Mix Formula dengan
media benda uji kubus beton ukuran 20x20x20 cm minimal 10 benda uji.
7. Hasil pengujian Job Mix Formula di Laboratorium Beton yang menghasilkan mutu beton yang
tidak sesuai dengan mutu beton pada Job Mix Disain mengharuskan Kontraktor Pelaksana
melakukan perhitungan ulang akan Job Mix formula atau merubah Job Mix Disain.
8. Tidak tercapainya mutu beton seperti yang diinginkan karena kesalahan dalam perhitungan
Job Mix Formula sepenuhnya menjadi tanggung jawab Kontraktor Pelaksana.

7.11 PERAKITAN TULANGAN


1. Perakitan tulangan balok dan kolom dapat dilakukan di bengkel kerja oleh Kontraktor
Pelaksana atau langsung pada lokasi konstruksi.
2. Khusus untuk Pondasi Plat Lantai Beton perakitan tulangan harus dilakukan langsung lokasi
konstruksi atau Bekisting.
3. Dimensi, model, bengkokan, jarak dan panjang penyaluran tulangan harus sesuai dengan
Gambar Bestek dan Shop Drawing, standar Peraturan Beton Indonesia (PBI) dan SK SNI T-
15-1991-03.
4. Kontraktor Pelaksana harus menyediakan Shop Drawing dan daftar bengkokan, dimensi,
model, dan panjang penyaluran tulangan pada bengkel kerja untuk menghidari kesalahan
dalam pekerjaan perakitan tulangan.
5. Tulangan balok dan kolom yang telah selesai dirakit jika tidak langsung dipasang harus
diletakan ditempat yang terlindungi dari hujan dan tidak boleh besentuhan langsung dengan
tanah.
6. Untuk tulangan plat lantai dan plat dack dirakit langsung diatas bekisting yang telebih dahulu
telah selesai dikerjakan.
7. Semua tulangan utama balok dan kolom harus terikat dengan baik oleh sengkang dengan alat
ikat kawat beton.
8. Jaring tulangan plat harus terikat dengan baik satu dengan yang lain dengan alat ikat kawat
beton.
9. Tulangan yang telah selesai dirakit tidak boleh dibiarkan lebih dari 3 hari dalam bekisting.

7.12 SAMBUNGAN ANTAR TULANGAN


1. Sambungan antar tulangan, penjangkaran tulangan dan panjang penyaluran tulangan pada
kondisi pembeban lentur, beban tarik, beban tekan, jika tidak ditentukan lain dalam Gambar
Bestek maka harus sesuai dengan syarat-syarat yang ditentukan dalam Peraturan Beton
Indonesia (PBI) dan SK SNI T-15-1991-03.
2. Sambungan antara tulangan harus sesuai dengan detail prinsip penyambungan yang
diberikan dalam Gambar Bestek.

23
RENCANA KERJA & SYARAT-SYARAT
(RKS)

3. Titik-titik sambungan tulangan lewatan pada plat lantai tidak boleh dibuat pada posisi satu
garis lurus. Sambungan harus dibuat selang-seling atau zig-zag antara batang yang
disambung dengan batang yang tidak disambung.
4. Panjang sambungan lewatan jika tidak ditentukan lain dalam Gambar Bestek, Peraturan
Beton Indonesia (PBI) dan SK SNI T-151991-03 harus diambil minimal 40 kali diameter
batang yang disambung.
5. Sambungan-sambungan harus dibuat antara sesama tulangan utama. Tidak dibenarkan
dengan alasan apapun menggunakan tulangan extra (tulangan tambahan) untuk
menyambung tulangan utama dengan tulangan utama lain kecuali ditentukan lain dalam
Peraturan Beton Indonesia (PBI) dan SK SNI T-15-1991-03.
6. Penjangkaran tulangan atau kait-kait pada posisi pemutusan tulangan jika tidak ditentukan lain
dalam Gambar Bestek maka harus sesuai dengan syarat-syarat yang ditentukan dalam
Peraturan Beton Indonesia (PBI) dan SK SNI T-15-1991-03.
7. Sambungan-sambungan pada kondisi pembeban tarik dan lentur pada komponen balok, plat
lantai dan plat dack ujung-ujung sambungan harus dibuat kait (hook) kecuali ditentukan lain
dalam Peraturan Beton Indonesia (PBI) dan SK SNI T-15-1991-03.
8. Sambungan tulangan kolom harus dilakukan pada posisi permukaan sloof dan plat lantai atau
pada posisi tengah bentang kolom. Penyambungan pada posisi selain pada posisi tersebut
dengan alasan apapun tidak dibenarkan.

7.13 SUPPORT DAN BETON DACKING


a. Support
1. Untuk keperluan dan menjaga dan mempertahankan jarak selimut beton sesuai dengan
disyaratkan maka pada setiap 1 m2 luas plat lantai dan plat dack harus diberikan
support/dukungan dari besi tulangan ulir dengan diameter lebih besar dari diameter
tulangan plat lantai atau 13 mm.
2. Jumlah support/dukungan dalam 1 m2 luas plat lantai, plat dack dan plat pondasi adalah
minimal 5 buah.
3. Bentuk support/dukungan harus sesuai dengan Gambar Bestek atau Shop Drawing
yang telah disetujui oleh Konsultan Supervisi.
4. Bentuk support/dukungan harus sedemikian rupa sehingga dapat mempertahankan
jarak vertikal antara lapis tulangan ketika dibebani oleh beban pekerja perakitan
tulangan atau pekerja pengecoran.

b. Beton Dacking
1. Untuk menjaga dan mempertahankan jarak selimut beton agar sesuai dengan yang
disyaratkan maka pada permukaan besi tulangan balok dan kolom harus diberi
penyangga dari beton atau Beton Tahu sehingga mempunyai jarak yang tetap dengan
bekisting.
2. Ketebalan beton tahu harus disesuaikan dengan jarak atau ketebalan selimut beton pada
masing-masing komponen struktur.
3. Mutu beton tahu mnimal sebesar mutu beton konstruksi utama.
4. Untuk Komponen kolom dan balok ukuran beton tahu adalah 4 x 4 x 4 cm dan dipasang
minimal 2 buah setiap jarak 50 cm panjang balok dan tinggi kolom.
5. Untuk Komponen plat lantai dan plat dack ukuran beton tahu adalah 2 x 4 x 5 cm dan
dipasang minimal 5 buah setiap 1 m2 plat lantai, plat dack dan plat pondasi.

7.14 ACUAN / BEKISTING


1. Bahan utama bekisting adalah multiplek 9 mm yang diperkuat oleh balok-balok kayu 5/7 cm
atau 5/10 cm dari kayu kelas III.
2. Penggunaan papan kayu sebagai bekisting dengan alasan apapun tidak diperbolehkan.

24
RENCANA KERJA & SYARAT-SYARAT
(RKS)

3. Pengantian material bekisting dengan material selain yang disebutkan pada point 1 harus
dengan persetujuan Konsultan Supervisi.
4. Kontraktor pelaksana harus mengajukan Shop Drawing untuk bentuk konstruksi bekisting
balok, kolom, plat lantai, dan plat atap serta konstruksi lain yang dianggap perlu oleh
Konsultan supervisi.
5. Penggunaan bekisting system bongkar pasang dari bahan besi harus disetujui oleh Konsultan
Supervisi.
6. Permukaan bekisting harus dilumuri atau dioleskan dengan cairan Residu atau cairan Ter
supaya hasil campuran beton tidak menempel pada bekisting waktu akan dibuka sehingga
dapat menghasilkan permukaan beton yang rapi.
7. Bentuk bekisting harus menghasilkan konstruksi akhir sesuai rencana.
8. Bekisting harus kokoh dan rapat sehingga pada waktu diisi dengan campuran beton tidak
bocor atau berubah bentuknya.
9. Hasil pekerjaan bekisting harus diperiksa kembali kebenaran elevasi, kelurusannya terhadap
arah vertikal oleh Kontraktor Pelaksana dengan alat Theodolit dan Waterpass. Pemeriksaan
secara manual tidak dibenarkan.
10. Hasil pekerjaan bekisting harus disetujui oleh Konsultan Supervisi sebelum dilakukan
pekerjaan pengecoran beton.
11. Bekisting yang telah dicor beton tidak boleh dibuka kurang dari 28 hari terhitung sejak waktu
pengecoran kecuali ditentukan lain oleh Konsultan Supervisi karena alasan penggunaan zat
additive yang dapat mempercepat proses pengerasan beton atau alasan-alasan teknis yang
dapat dipertanggung jawabkan.
12. Pekerjaan membuka bekisting tidak boleh merusak permukaan beton jika hal ini terjadi
Kontraktor Pelaksana harus memperbaikinya dengan pekerjaan acian beton.
13. Perbaikan permukaan beton yang rusak akibat kesalahan pembukaan bekisting atau sebab
lain harus disetujui oleh Konsultan Supervisi.

7.15 LANTAI KERJA BETON


1. Untuk komponen struktur beton yang berhubungan langsung dengan tanah atau pasir urug,
pada lapisan dasarnya harus memakai Lantai Kerja Beton ( Line Concrete ) dengan tebal
minimal 5 cm atau sesuai Gambar Bestek.
2. Lantai Kerja Beton dibuat dari beton mutu K-125.
3. Hasil pekerjaan Lantai Kerja Beton harus benar-benar elevasi , hal ini harus dibuktikan
dengan pekerjaan Waterpassing.

7.16 PENGECORAN BETON ( CASTING CONCRETE )


1. Sebelum memulai pekerjaan pengecoran Kontraktor Pelaksana harus memastikan
Acuan/bekisting telah selesai 100% dan telah disetujui oleh Konsultan Supervisi.
2. Pengecoran beton struktural mutu K-250 sampai K-300 hanya boleh dilakukan oleh Kontraktor
Pelaksana jika Job Mix Disain, Job Mix Formula, Perakitan Tulangan, Bekisting, Request
Pekerjaan dan hal-hal lain yang diperlukan dan berhubungan dengan pekerjaan pengecoran
sudah disetujui oleh Konsultan Supervisi.
3. Sedapat mungkin untuk melakukan sekali pengecoran untuk setiap bagian konstruksi
sehingga dapat menghindari sambungan-sambungan beton.
4. Pengecoran dalam kondisi cuaca hujan tidak dibenarkan kecuali Kontraktor Pelaksana
menjamin bahwa bekisting dan hasil pengecoran tidak berhubungan langsung dengan air
hujan.
5. Pengecoran beton harus dilakukan dengan Concrete Mixer (molen) dan tidak diperbolehkan
melakukan pengecoran dengan cara pengadukan manual kecuali untuk beton-beton dengan
mutu dibawah K-125 atau nonstruktural.
6. Urutan pemasukan material beton dimulai dengan Batu Pecah Beton, Pasir Beton, Semen,
Air, dan Zat Additive (jika ada). Urutan ini bisa dirubah dengan persetujuan Konsultan
Supervisi.

25
RENCANA KERJA & SYARAT-SYARAT
(RKS)

7. Lama pengadukan material beton dalam Concrete Mixer minimal 1,5 menit kecuali ditentukan
lain oleh Konsultan Supervisi.
8. Hasil pengadukan beton dalam Concrete Mixer apabila diputusan oleh Konsultan supervise
sudah cukup langsung dituang dalam wadah yang sebelumnya telah disiapkan oleh Kontrator
Pelaksana.
9. Beton segar hasil pengadukan molen dapat diangkut dengan kereta dorong oleh pekerja
kelokasi bekisting untuk dituang.
10. Beton segar harus segera dituang kedalam bekisting dan tidak boleh dibiarkan lebih dari 10
menit berada dalam wadah kereta sorong atau bak tampungan beton. Penggunaan zat
additive seperti Super Plasticizer juga tidak membolehkan beton segar terlalu lama dalam
wadah tampungan kecuali disetujui oleh Konsultan Supervisi.
11. Beton segar yang telah dituangkan harus dipadatkan dengan Concrete Vibrator sampai
mencapai kepadatan optimum.
12. Tinggi jatuh penuangan beton untuk bekisting kolom minimal 1,5 meter.
13. Penuangan beton dalam balok, plat lantai, plat atap, dan kolom tidak boleh menciptakam
sangkar kerikil atau penumpukan kerikil pada posisi tententu pada saat bekisting dibuka.
14. Jika terjadi sangkar kerikil Kontraktor Pelaksana harus memperbaiki bagian itu dengan
mempergunakan beton campuran zat kimia khusu untuk sambungan (joint) seperti Produk
SIKA dengan persetujuan Konsultan Supervisi.
15. Pengecoran beton tidak boleh dilakukan langsung diatas tanah Kontraktor Pelaksana harus
membuat lantai kerja dari campuran 1 Sm : 3 Ps : 6 Kr sehingga air semen tidak meresap
dalam tanah dan bentuk penampang beton sesuai dengan yang direncanakan.
16. Antara pengecoran pertama dengan pengecoran kedua untuk konstruksi yang sama tidak
boleh lebih dari 1 hari.

7.17 BETON READY MIX


1. Penggunaan beton Ready Mix oleh Kontraktor Pelaksana harus disetujui oleh Konsultan
Supervisi.
2. Kontraktor Pelaksana tetap diwajibkan untuk menyerahkan Job Mix Disain kepada Konsultan
Supervisi terhadap semua mutu beton structural yang menggunakan Beton Ready Mix.
3. Job Mix Disain harus disetujui oleh Konsultan Supervisi sebelum digunakan.
4. Kualitas beton yang dihasilkan oleh Batching Plant tetap menjadi tanggung jawab Kontraktor
Pelaksana.

7.18 PEMBONGKARAN BEKISTING/MAL BETON


1. Bekisting tidak boleh dibuka/dibongkar dan dibebani jika beton dalam bekisting belum
berumur 28 hari kecuali ditentukan lain oleh Konsultan Supervisi.
2. Walaupun ditentukan lain oleh Konsultan Supervisi bekisting beton tetap tidak boleh dibuka
dan dibebani sebelum berumur minimal 21 hari.
3. Pembukaan dan pembebanan Bekisting beton kurang dari 21 hari karena alasan adanya
pemakaian Zat Additive yang dapat mempercepat pengerasan beton harus disetujui oleh
Konsultan Supervisi.

7.19 PERAWATAN BETON ( CURING )


1. Kontraktor Pelaksana harus melakukan perawatan dan pemeliharaan terhadap beton yang
telah selesai dituang dalam bekisting.
2. Perawatan dapat berupa menutup permukaan beton dengan karung goni kemudian menyiram
air secara rutin kepermukaan beton sampai beton berumur 28 hari. Penggunaan metode lain
untuk perawatan beton harus disetujui oleh Konsultan Supervisi.

26
RENCANA KERJA & SYARAT-SYARAT
(RKS)

3. Perawatan harus terus menerus dilakukan minimal sampai beton berumur 28 hari atau sampai
beton siap untuk dibebani menurut keputusan Konsultan Supervisi.

7.20 QUALITY CONTROL


a. Slump Test
 Pemeriksaan kekentalan beton (kosistensi) harus dilakukan setiap beton dituangkan dari
Concrete Mixer atau minimal setiap 3 m3 pekerjaan beton pada setiap mutu beton.
Pemeriksaan kekentalan beton dilakukan dengan metode Slump Test dimana nilai slump
yang diperoleh harus sesuai dengan nilai slump rencana yang ada pada Job Mix Disain.

b. Benda Uji Beton


1. Kontraktor Pelaksana harus mengambil benda uji beton dalam bentuk kubus dan slinder
standar. Ukuran kubus adalah 20 x 20 x 20 cm dan ukuran silinder tinggi 30 cm dan
diameter 15 cm.
2. Benda uji beton harus diambil minimal 20 benda uji untuk setiap mutu beton yang
berbeda atau minimal satu benda uji setiap 3 m3 beton dalam satu kali pengecoran.
3. Pengambilan benda uji harus dilakukan secara acak dan selang seling antara satu
campuran dengan campuran yang lain untuk mutu beton yang sama.
4. Benda uji beton harus dirawat dalam bak dan terendam dalam air sampai berumur 28
hari.
5. Pada benda uji beton harus dicantumkan mutu beton, nama benda uji ,dan tanggal
pengambilan benda uji yang tidak mudah hilang dan luntur.

c. Pemeriksaan Kuat Tekan Beton


1. Kontraktor Pelaksana harus melakukan pemeriksaan terhadap kuat tekan beton yang
telah selesai mereka kerjakan minimal sebelum pekerjaan pengecoran melebihi 50% dari
total pekerjaan pengecoran.
2. Tujuan pemeriksaan kuat tekan beton adalah untuk mendapatkan Mutu Beton hasil
pelaksanaan pekerjaan pengecoran lapangan.
3. Yang dimaksud dengan Mutu Beton adalah Kuat Tekan Karakteristik yang diperoleh dari
hasil pemeriksaan kuat tekan benda uji kubus ukuran 20 x 20 x 20 cm umur 28 hari
dengan minimal 20 benda uji.
4. Pemeriksaan kuat tekan beton dilakukan di Laboratorium Beton dengan minimal 20 benda
uji kubus atau silinder untuk setiap mutu beton.
5. Pemeriksaan kuat tekan beton pada Laboratorium Beton oleh Kontraktor Pelaksana harus
didampingi oleh Konsultan Supervisi. Pemeriksaan kuat tekan beton tanpa didampingi
oleh Konsultan Supervisi hasilnya dianggap tidak sah.
6. Semua biaya yang dikeluarkan untuk pekerjaan pemeriksaan kuat tekan beton ini
dibebankan kepada Kontraktor Pelaksana.
7. Mutu Beton hasil pemeriksaan kuat tekan benda uji kubus yang kurang dari 95% dari
Mutu Beton Rencana dianggap gagal dan beton yang telah selesai dikerjakan dilapangan
harus dibongkar kecuali diputuskan lain oleh Konsultan Perencana dengan disertakan
Rekomendasi Ahli beton.
8. Kontraktor Pelaksana tidak diperbolehkan melanjutkan pekerjaan pengecoran beton jika
hasil pemeriksaan kuat tekan beton menghasilkan kuat tekan yang berbeda dengan kuat
tekan beton rencana.
9. Perencanaan ulang untuk Job Mix Disain harus dilakukan oleh Kontraktor Pelaksana
untuk beton yang gagal dalam uji kuat tekan jika dalam pemeriksaan oleh Konsultan
Supervisi bersama dengan Kontraktor Pelaksana kegagalan kuat tekan disebabkan oleh
kesalahan dalam perencanaan campuran dan bukan karena kesalahan pada tahap
pelaksanaan.

27
RENCANA KERJA & SYARAT-SYARAT
(RKS)

10. Pemeriksaan kuat tekan beton selain dengan uji tekan pada laboratorium beton harus
disetujui oleh Konsultan Supervisi.
11. Laporan hasil pemeriksaan Mutu Beton harus disetujui oleh Konsultan Supervisi.
d. Pemeriksaan Kuat Tekan Beton Dengan Cara Lain
1. Jika pemeriksaan Kuat Tekan Beton dengan cara Uji Tekan Kubus Beton hasilnya
meragukan dan tidak disetujui oleh Konsultan Perencana, Konsultan Supervisi atau
Owner, maka cara pemeriksaan mutu beton dengan uji langsung pada konstruksi beton
harus dilakukan.
2. Pemeriksaan mutu beton dengan uji langsung ke konstruksi beton jika tidak ditentukan
khusus oleh Konsultan Perencana maka harus dilakukan dengan salah satu metode
seperti dibawah ini :
a. Metode Core Drill.
b. Metode Hammer Test.
3. Konsultan Perencana berhak menentukan metode mana yang akan dipakai untuk
pemeriksaan kuat tekan beton langsung ke konstruksi beton.
4. Posisi dan lokasi pengujian untuk masing-masing komponen struktur ditentukan oleh
Konsultan Perencana atau Konsultan Supervisi.
5. Jumlah titik pengujian jika tidak ditentukan oleh Konsultan Perencana, maka harus diambil
minimal 10 titk untuk masingmasing komponen struktur dan masing-masing mutu beton.
6. Data Kuat Tekan yang diperoleh dari hasil uji langsung kuat tekan pada konstruksi beton
harus dikalkulasi kembali oleh Kontarktor Pelaksana untk memperoleh Kuat Tekan
karakteristik Beton (mutu beton).
7. Kuat Tekan Beton Karakteristik yang diperoleh dari uji langsung ke konstruksi beto adalah
hasil final yang harus diakui oleh Konsultan Perencana, Konsultan Supervisi, Kontraktor
Pelaksana dan Owner.

7.21 INSTALASI DALAM KONSTRUKSI BETON


1. Instalasi air bersih, instalasi air kotor, dan instalsi listrik sebaiknya tidak ditanam atau diletakan
dalam konstruksi beton kecuali ditentukan lain dalam Gambar Bestek atau oleh Konsultan
Supervisi.
2. Pipa-pipa instalasi dari bahan aluminium tidak boleh ditanam dalam konstruksi beton untuk
alasan apapun.
3. Pipa-pipa PVC atau besi yang ditanam dalam kolom beton diameternya tidak boleh melebihi
1/3 (sepertiga) dari dimensi terkecil kolom.
4. Pipa-pipa PVC atau besi dengan diameter berapapun tidak boleh ditanam dalam komponen
balok beton.
5. Pembongkaran sebagian kecil atau sebagian besar konstruksi beton untuk keperluan instalasi
air bersih, instalasi air kotor, dan instalasi listrik harus dengan persetujuan Konsultan
Supervisi.
6. Pembongkaran konstruksi beton pada daerah joint balok dan kolom serta pada posisi
tumpuan balok untuk keperluan instalasi air dan instalasi listrik tidak diperbolehkan untuk
alasan apapun kecuali ditentukan lain oleh Konsultan Perencana dan Konsultan Supervisi
dengan disertakan Rekomendasi Ahli Beton.

7.22 SAMBUNGAN ANTAR BETON


1. Penyambungan-penyambungan antara beton lama dengan beton baru sebaiknya dihindari
pada konstruksi beton kecuali sambungan antar kolom tiap lantai.
2. Jika penyambungan terpasak dilakukan permukaan beton lama harus dibersihkan dan
dikasarkan sebelum disambung dengan beton baru.
3. Penyambungan pada posisi tengah kolom dan tengah bentang balok tidak diperbolehkan.
4. Untuk sambungan pada balok dan plat lantai harus dilakukan pada posisi 80 cm dari tumpuan
sedangkan untuk kolom harus disambung pada posisi tumpuan kedua (lantai 2).

28
RENCANA KERJA & SYARAT-SYARAT
(RKS)

5. Bentuk akhir dari konstruksi beton lama (plat lantai dan balok) harus dibuat sedemikian rupa
sehingga ketika disambung beton baru akan menumpu pada beton lama.
6. Penyambungan pada kondisi beton lama yang sudah berumur lebih dari 3 hari harus
dilakukan dengan perkuatan kimia ( Epoxy )dan hal ini harus dengan persetujuan Konsultan
supervisi.
7. Penggunaan zat-zat kimia untuk memperkuat sambungan harus dengan persetujuan
Konsultan Supervisi.

7.23 LAIN-LAIN
1. Persyaratan pekerjaan beton dari sub bab 7.1 sampai dengan sub bab 7.22 berlaku untuk
semua item pekerjaan beton structural dan nonstructural yang ada dalam Proyek ini.
2. Hal-hal yang belum ditentukan dan diperlukan penjelasannya dalam proses pelaksanaan
pekerjaan ditentukan kemudian oleh Konsultan Perencana bersama dengan Konsultan
Supervisi dalam proses pelaksanaan pekerjaan dengan persetujuan Owner.
3. Semua pekerjaan beton untuk proyek ini sekurang-kurangnya harus sesuai dan mengikuti
semua aturan yang ditentukan oleh Peraturan Beton Indonesi ( PBI ).
4. Hal-hal yang ditentukan kemudian tersebut menjadi satu ketentuan yang mengikat dan wajib
untuk dilaksanakan oleh Kontraktor Pelaksana.
5. Kontraktor harus menyerahkan rencana konstruksi acuan dan perancah kepada Direksi Teknik
untuk memperoleh persetujuannya. Pelaksanaan pembuatan Bangunan acuan dan perancah
tidak diperkenankan sebelum gambar rencana bangunan pembentuk disetujui Direksi Teknik.
6. Acuan adalah konstruksi cetakan yang dilapisi tegofilm dan hanya boleh digunakan 2 kali
yang digunakan untuk membentuk beton muda yaitu sebelum beton mencapai kekuatan yang
disyaratkan dan sebelum mendapat bentuknya yang permanen, agar apabila telah mengeras
struktur beton mencapai dimensi dan kedudukan seperti yang tercantum pada gambar
perencanaan. Sedangkan perencah adalah konstruksi yang mendukung acuan dan beton
muda yang digunakan sampai beton mencapai kekuatan yang disyaratkan. Segala biaya yang
diperlukan sehubungan dengan perencanaan bangunan acuan dan perancah dan
pelaksanaanya sepenuhnya menjadi tanggung jawab Kontraktor.
7. Konstruksi acuan harus cukup kuat untuk menahan beban mati dan beban hidup yang
bekerja, tekanan beton dalam keadaan basah dan getaran-getaran, tanpa mengalami distorsi.
Perancah harus direncanakan dan dibuat dari material padat seperti kayu terentang, baja
atau beton cetak yang bermutu baik dan tidak mudah lapuk yang ditopang dan diberi pengaku
dan ikatan secukupnya agar posisi dan bentuknya tidak mengolami perubahan baik sebelum
maupun setelah pengecoran. Spesiflkasi kayu acuan harus sesuai dengan Standar Konstruksi
Bangunan Indonesia (SKBI) 1.4.53.1989-UDC: 693.5.
8. Pemakaian bahan bambu tidak diperbolehkan. Perancah harus dibuat diatas pondasi yang
kuat dan kokoh sehingga terhindar dari bahaya penggerusan dan penurunan.
9. Cetakan dari Multyplex 12 mm harus datar dan tegak lurus, cetakan tidak bergetar, bocor,
harus kokoh, sehingga kedudukan dan bentuknya tetap tidak bergetanr maupun bergeser
pada waktu beton dicor dan setelah selesai pengecoran tidak mudah dibongkar. Sebelum
pengecoran dilaksanakan, semua cetakan beton harus bersih dari segala material yang bisa
mengurangi mutu dan kekuatan beton. Cetakan yang sudah pernah dipakai harus dicuci dan
dikeringkan terlebih dahulu. Sebelum dicor harus dilapisi dengan Form Oil”. Pekerjaan ini
harus dilaksanakan setiap kali sebelum pengecoran dilakukan.
10. Semua sambungan pada acuan harus rapat untuk mencegah kebocoran adukan dan
terbentuknya bekas sambungan dan sarang-sarang agregat pada permukaan beton.
Pekerjaan pengecoran tidak dapat dimulai sebelum rencana tahap-tahap, cara-cara dan
persiapan pengecoran mendapat persetujuan Direksi Teknik .
11. Perbandingan adukan harus sesuai hasil percobaan dan persyaratan yang diminta dan angka
perbandingan adukan tersebut harus menyatakan takaran dalam satuan isi yang dilaksanakan
dalam keadaan kering tanpa digetarkan. Alat penakar harus dibuat dengan baik, kuat dan
harus mendapatkan persetujuan Direksi Teknik terlebih dahulu.

29
RENCANA KERJA & SYARAT-SYARAT
(RKS)

12. Pengadukan bahan beton harus dilakukan dengan mesin pengaduk sekurang-kurangnya 1,5
menit setelah semua bahan beton sesuai persyaratan mulai diaduk.
13. Adukan beton tersebut sudah harus terpakai dalam waktu 1 jam setelah pengadukan dengan
air dimulai.
14. Bila digerakkan kontinyu secara mekanik, jangka waktu tersebut bisa diperpanjang satu jam.
Adukan beton tersebut harus dcorkan sedekat-dekatnya ke tujuan secara kontinyu sampai
mencapai syarat-syart pelaksanaan yang disetujui Direksi Teknik.
15. Supaya dalam beton tidak terjadi rongga kosong/udara masuk selama pengecoran harus
digunakan concrete vibrator. Concrete vibrator harus ditanam tegak Iuns, tidak boleh lebih dari
30 detik setiap penanaman untuk tebal lapisan 8 cm dan tidak boleh kena langsung baik pada
baja tulangan maupun cetakan.
16. Harus dihindari terjadinya pemisahan material (segregation) pada saat pengecoran dan
perubahan letak tulangan.
17. Alat-alat penuangan seperti talang, pipa chute dan sebagainya harus selalu bersih dan bebas
dari lapisan-lapisan beton yang mengeras. Adukan beton tidak boleh dijatuhkan secara bebas
dari ketinggian lebih dari 1.00 meter.
18. Pengacoran harus diakukan secara teliti dan harus selalu diperiksa sehingga bisa
menghasikan bentuk permukaan, ketinggian yang dibutuhkan sesuai dengan Gambar
Rencana kerja.
19. Pangecoran yang Terhenti, Apabila pengecoran beton terhenti pada daerah yang tidak
direncanakan sebagai pemberhentian pengecoran, misalkan akibat terjadinya kerusakan pada
peralatan pengecoran. Maka pengecoran selanjutnya hanya dapat dilakukan dengan
memperhatikan persyaratan sebagai berikut:
- Pengecoran selanjutnya dapat langsung dilakukan jika tidak melebihi 2 jam dari saat
penghentian pengecoran.
- Apabila pengecoran selanjutnya ternyata dilaksanakan pada waktu melebihi 2 jam dan
saat penghentian pengecoran, maka daerah pengecoran yang terhenti tersebut harus
diperlakukan sebagai siar dilatasi. Permukaan beton pada daerah pengecoran yang
terhenti harus dibobok minima 5 cm sehingga membentuk bidang yang kasar. Permukaan
beton tersebut kemudian diberi bahan bonding agent seperti EMAGG atau yang setara
dan yang dapat menjamin kontinuitas adukan Beton lama dengan beton baru.
20. Selama dan sesudah pengecoran, beton harus dipadatkan dengan peralatan pemadat
(vibrator) mekanis. Kontraktor harus menyediakan peralatan yang cukup untuk mengangkut
dan menuangkan beton dengan konsistensi yang cukup sehingga dapat diperoleh beton padat
tanpa perlu menggetarkan/memadatkan secara berlebihan. Ketelitian dalam proses
pemadatan harus benar-benar diperhatikan agar tidak terjadi rongga-rongga dan
pengantongan udara pada beton yang sedang dipadatkan dan jangan sampai terjadi
perubahan posisi tulangan baja selama pemadatan. Pemadatan/penggetaran dilakukan dalam
waktu tidak terlalu lama sehingga tidak terjadi pemisahan bahan (segregation) beton.
Pelaksanaan pemadatan/penggetaran ini harus dilaksanakan oleh pekerjapekerja yang telah
berpengalaman dan dilaksanakan sesuai dengan pengarahan dan petunjuk Direksi Teknik.
21. Pemadatan dilakukan dengan internal vibrator yang harus dapat memberikan 6000
getaran/menit bila dimasukkan kedalam adukan beton dengan slump 6 cm dan akan
memberikan daerah yang kelihatan bergetar dalam radius tidak kurang dari 46 cm. Alat
penggetar harus dimasukkan searah dengan as memanjangnya. Tidak diperkenankan untuk
menggetarkan beton yang telah mengalami initial set dan jangan sampai alat penggetar
menumpu pada tulangan baja Tidak diperkenankan pula melakukan penggetaran untuk
maksud mengalirkan adukan beton.
22. Semua permukaan jadi hasil pekerjaan beton harus rata, lurus, tidak tampak bagian-bagian
yang keropos, melendut atau bagianbagian yang membekas pada permukaannya. Ujung-
ujung atau sudut-sudut harus berbentuk penuh dan tajam.

BAB VIII

30
RENCANA KERJA & SYARAT-SYARAT
(RKS)

PEKERJAAN LANTAI

8.1 PASIR URUG BAWAH LANTAI.


1. Sebelum pekerjaan lantai dilakukan pekerjaan timbunan tanah dalam ruangan harus sudah
selesai 100%.
2. Diatas timbunan tanah dilakukan pekerjaan lapisan pasir urug setebal minimal 10 cm atau
sesuai Gambar Bestek.
3. Pasir urug yang dipakai harus benar-benar mempunyai susunan butiran yang seragam.
4. Lapisan pasir urug harus dipadatkan sampai mencapai kepadatan yang diinginkan dengan alat
Stemper atau alat pemadat mekanik lain. Tidak dibenarkan melakukan pemadatan secara
manual.
5. Hasil pekerjaan lapisan pasir urug harus benar-benar rata dan elevasi hal ini harus dibuktikan
dengan pekerjaan Waterpassing.

8.2 PASIR PASANG / PASIR HALUS


1. Pasir Pasang/Pasir Halus adalah pasir dengan ukuran butiran halus dan tidak lagi memerlukan
proses penyaringan/ayakan jika hendak digunakan.
2. Pasir Pasang/Pasir Halus adalah apsir yang dipakai untuk keperluan Pasangan Batu Gunung,
Pasangan Batu Bata, Pasangan Keramik, dan Plasteran Dinding.
3. Pasir Pasang tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 5% dari berat kering, apabila pasir
pasang tersebut mengandung Lumpur lebih dari 5% maka pasir tersebut harus dicuci sebelum
dipergunakan.
4. Pasir Pasang/Pasir Halus harus mempunyai butiran yang tajam dan keras.
5. Bersifat kekal dan tidak hancur oleh karena pengaruh panas matahari
6. Pasir Pasang/Pasir Halus adalah pasir yang berasal dari Sungai dan bukan Pasir yang berasal
dari laut.

8.3 BETON COR BAWAH LANTAI


1. Beton cor bawah lantai dibuat dari beton mutu K-175 dengan ketebalan minimal 7 cm atau sesuai
dengan Gambar Bestek.
2. Toleransi perbedaan elevasi muka plat beton hasil pengecoraan adalah ± 5 mm.
3. Hasil pekerjaan pengecoran beton cor bawah lantai harus disetujui oleh Konsultan Supervisi.

8.4 PEKERJAAN PENUTUP LANTAI


Lingkup Pekerjaan
a. Pekerjaan ini meliputi tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan dan alat-alat bantu yang
dibutuhkan dalam terlaksananya pekerjaan ini untuk mendapatkan hasil yang baik.
b. Pekerjaan penutup lantai ini meliputi seluruh detail yang disebutkan/ditunjukan dalam
gambar atau sesuai petunjuk Pengawas lapangan.

8.4.1 PEKERJAAN KERAMIK


1. Lingkup Pekerjaan
a. Pekerjaan ini meliputi tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan dan alat-alat bantu yang
dibutuhkan dalam terlaksananya pekerjaan ini untuk mendapatkan hasil yang baik.
b. Pekerjaan Lantai Keramik meliputi seluruh detail yang disebutkan/ditunjukan dalam
gambar atau sesuai petunjuk Konsultan Pengawas.

2. Persyaratan Bahan
a. Jenis Produk Granit : Setara IKAD
b. Ukuran : 40/40 atau ditentukan lain pada gambar detail.
c. Ketebalan : Minimum 18 mm atau sesuai dalam gambar
d. Daya resap :1%
e. Kekerasan : Minimum 6 skala Mohs

31
RENCANA KERJA & SYARAT-SYARAT
(RKS)

f. Kekuatan tekan : Minimum 900 kb per cm2


g. Daya tahan lengkung : Minimum 350 kg/m2
h. Warna : akan ditentukan kemudian
i. Pengendalian seluruh pekerjaan ini harus sesuai dengan peraturan-peraturan ASTM,
peraturan keramik Indonesia (NI-19), PVBB 1970 dan PVBI 1982.
j. Semen Portland harus memenuhi NI-8, pasir dan air harus memenuhi syarat-syarat
yang ditentukan dalam PVBB 1970 (NI-3), PVBI 1982.
k. Adukan bahan perekat harus mengikuti pasal 04060.
l. Bahan-bahan yang digunakan sebelum dipasang terlebih dahulu harus diserahkan
contoh-contoh kepada Konsultan Pengawas.

3. Syarat-syarat Pelaksanaan Keramik


a. Keramik yang dipasang adalah granit yang sudah dipoles halus dan telah diseleksi
dengan baik, baik bentuk dan ukuran masing-masing unit sama, baik siku, warna
serta pola. Keramik jangan ada yang gompal, retak atau cacat-cacat lainnya dan
telah mendapat persetujuan Konsultan Pengawas. Keramik yang terpasang harus
dalam keadaan baik, tidak retak, cacat dan bernoda.
b. Potongan Keramik menurut ukuran dan detail harus dilakukan dengan mesin
pemotongan gergaji putar dan dihaluskan dengan penggosok Carborundum.
c. Setelah Keramik terpasang, jarak antara masing-masing unit Keramik harus sama dan
membentuk garis lurus bidang permukaan dinding harus rata waterpass dan tidak
ada bagian yang bergelombang dan lubang-lubang antara masing masing diisi
dengan sealant konstruksi untuk pasangan granit kering sedang untuk pasangan
Keramik basah dengan epoxy resin sesuai dengan warna petunjuk dari Konsultan
Pengawas.
d. Pemotongan Keramik harus dilakukan dengan baik dan rapih dan harus diratakan
dengan baik. Bahan-bahan lain yang dapat mengakibatkan noda-noda pada lantai
seperti minyak, residu, teak oil dan lain-lain harus dijauhkan dari dekat bidang kerja
e. Setelah pekerjaan pemasangan Keramik selesai dan mengeras maka dilakukan
pemolesan dan pembersihan.

BAB IX
PEKERJAAN DINDING DAN PASANGAN

9.1 BATU BATA


1. Batu bata harus mempunyai dimensi dan ukuran yang standar sesuai Peraturan Bahan
Bangunan yang berlaku.
2. Batu bata mempunyai dimensi seperti berikut : lebar 10 cm, panjang 20 cm, dan tebal 5 cm
kecuali ditentukan lain dalam Peraturan Bahan Bangunan.
3. Batu bata adalah dari hasil pembakaran yang sempurna dari pabrik batu bata dimana
kondisinya tidak rapuh dan tidak mudah hancur ketika diangkut dan diturunkan pada lokasi
pekerjaan.
4. Batu bata bentuknya harus sempurna tidak melengkung dan permukaanya benar-benar rata
untuk semua sisinya.
5. Batu bata mempunyai Kuat Tekan minimal 30 kg/cm2.

32
RENCANA KERJA & SYARAT-SYARAT
(RKS)

6. Perubahan-perubahan pada dimensi dan ukuran batu bata karena mengikuti dimensi dan
ukuran yang berlaku pada daerah tertentu harus disetujui oleh Konsultan supervisi.
7. Toleransi hanya diperbolehkan untuk dimensi dan bukan untuk kualitas.

9.2 PASIR PASANG / PASIR HALUS


1. Pasir Pasang/Pasir Halus adalah pasir dengan ukuran butiran halus dan tidak lagi
memerlukan proses penyaringan/ayakan jika hendak digunakan.
2. Pasir Pasang/Pasir Halus adalah apsir yang dipakai untuk keperluan Pasangan Batu
Gunung, Pasangan Batu Bata, Pasangan Keramik, dan Plasteran Dinding.
3. Pasir Pasang tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 5% dari berat kering, apabila pasir
pasang tersebut mengandung Lumpur lebih dari 5% maka pasir tersebut harus dicuci
sebelum dipergunakan.
4. Pasir Pasang/Pasir Halus harus mempunyai butiran yang tajam dan keras.
5. Bersifat kekal dan tidak hancur oleh karena pengaruh panas matahari
6. Pasir Pasang/Pasir Halus adalah pasir yang berasal dari Sungai dan bukan Pasir yang
berasal dari laut.

9.3 PASANGAN DINDING BATU BATA 1 BATA CAMPURAN 1 PC : 2 PS


1. Pasangan batu bata 1 bata campuran 1 Pc : 2 Ps dikerjakan hanya pada dinding-dinding
Septictank, Bak Tampungan Air bawah Tanah dan Bak Tampungan Limbah Kimia atau sesuai
Gambar Bestek.
2. Perekat atau spesi yang dipakai adalah dari campuran 1 Pc : 2 Ps dengan ketebalan
maksimal 1,5 cm dan minimal 1 cm.
3. Pasir yang dipakai adalah Pasir Pasang/Pasir Halus.
4. Batu bata harus disiram terlebih dahulu dengan air sebelum dipasang.
5. Batu bata harus dipasang dengan posisi lapis demi lapis saling bersilangan dan tidak satu
garis sambungan.
6. Pasangan batu bata 1 bata dengan campuran 1 Pc : 2 Ps harus kedap air (trasraam).
7. Pasangan batu bata tidak boleh melengkung dalam arah vertikal dan dalam arah horizontal.
8. Setiap tinggi 30 cm pemasangan bata harus disediakan benang-benang untuk ketepatan
elevasi dan kedataran permukaan.
9. Hasil pemasangan batu bata 1 bata dengan campuran 1 Pc : 2 Ps harus disetujui oleh
Konsultan supervisi.

9.4 PASANGAN DINDING BATU BATA 1 BATA CAMPURAN 1 PC : 4 PS


1. Pasangan batu bata 1 bata campuran 1 Pc : 4 Ps dikerjakan pada bagian – bagian
bangunan yang ditentukan dalam Gambar Bestek.
2. Perekat atau spesi yang dipakai adalah dari campuran 1 Pc : 4 Ps dengan ketebalan
maksimal 1,5 cm dan minimal 1 cm.
3. Pasir yang dipakai adalah Pasir Pasang/Pasir Halus.
4. Batu bata harus disiram terlebih dahulu dengan air sebelum dipasang.
5. Batu bata harus dipasang dengan posisi lapis demi lapis saling bersilangan dan tidak satu
garis sambungan.
6. Pasangan batu bata tidak boleh melengkung dalam arah vertikal dan dalam arah horizontal.
7. Setiap tinggi 30 cm pemasangan bata harus disediakan benang-benang untuk ketepatan
elevasi dan kedataran permukaan.
8. Hasil pemasangan batu bata 1 bata dengan campuran 1 Pc : 4 Ps harus disetujui oleh
Konsultan supervisi.

9.5 PLESTERAN CAMPURAN 1 PC : 2 PS


1. Sebelum dilakukan plesteran terlebih dahulu permukaan hasil pemasangan bata harus
disiram dengan air dengan merata.
2. Plesteran dari campuran 1 Pc : 2 Ps .

33
RENCANA KERJA & SYARAT-SYARAT
(RKS)

3. Pasir yang dipakai adalah pasir Pasang/Pasir Halus.


4. Tebal plesteran dinding minimal 1,5 cm.
5. Plesteran campuran 1 Pc : 2 Ps dilakukan pada pasangan Hollow block atau dinding bata
dengan campuran 1 Pc : 2 Ps.
6. Plesteran harus menghasilkan permukaan yang rata untuk semua bidang dinding yang
diplester.
7. Plesteran tidak boleh meninggalkan sambungan-sambungan antara plesteran lama dengan
plesteran baru yang tidak rata.
8. Lama antara plesteran lama dengan plesteran baru tidak boleh lebih dari satu hari kecuali
ditentukan lain oleh Konsultan Supervisi.
9. Hasil pekerjaan plesteran harus benar-benar halus permukaannya sehingga ketika dilakukan
pekerjaan cat dinding tidak menimbulkan bekas.
10. Hasil pekerjaan plesteran harus disetujui oleh Konsultan supervisi.

9.6 PLESTERAN CAMPURAN 1 PC : 4 PS


1. Sebelum dilakukan plesteran terlebih dahulu permukaan hasil pemasangan bata harus
disiram dengan air dengan merata.
2. Plesteran dari campuran 1 Pc : 4 Ps .
3. Pasir yang dipakai adalah Pasir Pasang/Pasir Halus.
4. Tebal plesteran dinding minimal 1,5 cm.
5. Plesteran campuran 1 Pc : 4 Ps dilakukan pada pasangan dinding bata dengan campuran 1
Pc : 4 Ps.
6. Plesteran harus menghasilkan permukaan yang rata untuk semua bidang dinding yang
diplester.
7. Plesteran tidak boleh meninggalkan sambungan-sambungan antara plesteran lama dengan
plesteran baru yang tidak rata.
8. Lama antara plesteran lama dengan plesteran baru tidak boleh lebih dari satu hari kecuali
ditentukan lain oleh Konsultan Supervisi.
9. Hasil pekerjaan plesteran harus benar-benar halus permukaannya sehingga ketika dilakukan
pekerjaan cat dinding tidak menimbulkan bekas.
10. Hasil pekerjaan plesteran harus disetujui oleh Konsultan Supervisi.

9.7 ACIAN BETON


1. Acian Beton adalah dari campuran 1 SM : 2 PS dengan ketebalan minimal 10 mm.
2. Sebelum pekerjaan acian dilakukan terlebih dahulu permukaan beton harus dikasarkan
agar lapisan acian dapat melekat dengan baik.
3. Hasil acian kualitas permukaannya harus dapat melekatnya lapisan Plamur tembok dan
lapisan cat dinding.
4. Hasil pekerjaan acian harus menghasilkan permukaan yang halus dan rata.
5. Hasil pekerjaan acian lantai harus disetujui oleh Konsultan Supervisi.
BAB X
PEKERJAAN KOSEN, PINTU, JENDELA

1.1 Pekerjaan Kusen dan Daun Jendela Bahan Unplasticized Poly Vinyl Chloride (UPVC)
1. Lingkup Pekerjaan
a. Lingkup pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan dan alat-
alat bantu lainnya yang digunakan dalam pelaksanaan, hingga dicapai hasil pekerjaan yang
bermutu baik dan sempurna.
b. Pekerjaan kusen dan daun jendela UPVC dipasang pada jendela-jendela di bagian sisi luar
bangunan serta seluruh detail seperti yang dinyatakan/ditunjukkan dalam gambar.

2. Persyaratan Bahan

34
RENCANA KERJA & SYARAT-SYARAT
(RKS)

a. UPVC yang merupakan singkatan dari Unplasticized Poly Vinyl Chloride, thermolplastic
yang diperoleh dari garam dan minyak mentah. UPVC adalah salah satu bentuk dari plastic
yang menawarkan kekuatan dan keamanan. UPVC tidak mempunyai kandungan elemen
plasticizers di dalamnya membuat UPVC lebih bersifat rigid dan memiliki daya tahan suhu
yang lebih baik dengan kandungan thermally stabilizers didalamnya. Material ini merupakan
pengolahan dari plastik yang mengalami proses tertentu sehingga sifat lentur/plastisnya
dihilangkan. Hasil akhir material ini menjadi keras, lebih kuat daripada PVC. Material UPVC
selalu diperkuat dengan besi (steel reinforcement), sehingga lebih kokoh.
b. Merk yang bisa digunakan setara dengan Conch, Bosca, Aton, Rehau, Broco, Fenster.

3. Syarat-syarat Pelaksanaan
a. Profil UPVC diperkuat dengan rangka besi lapis galvanis yang berguna untuk :
Menguatkan agar lebih rigid, berguna untuk instalasi ke tembok, untuk instalasi hardware.
b. Karet yang digunakan oleh Pintu dan Jendela UPVC :
Menggunakan karet berbahan campuran antara karet dan plastik menjadikan lebih tahan
getas.
c. Locking System & Hardware yang digunakan :
Multipoint locking, rambuncis, casement, engsel kupu-kupu, support arms, flush bolt, floor
hinge.
d. Jendela dan Pintu UPVC menggunakan teknik penyambungan welding system :
UPVC dipanaskan s/d 250° C pada titik penyambungan menjadikan las
titik sambungan akan lebih keras dibanding dengan bagian yang tidak di las.

4. Penggunaan UPVC

a. Penggunaan daun jendela yang overlap dengan kusen sehingga akan didapatkan isolasi
yang lebih baik dibandingkan sistem material lain.
b. Meminimalkan kebocoran energi, misalnya pada ruangan ber AC. Bahan UPVC memiliki
tingkat insulasi yang sangat tinggi. UPVC yang tebal dan rancangan struktur UPVC dengan
pola multi rongga telah dibuktikan dapat menjaga temperatur dan suhu dalam ruangan tetap
konstan. Sebagai hasilnya proses perpindahan panas ataupun dingin sangatlah rendah.
c. Kemampuannya dalam menahan tembusnya suara ke dalam ruangan, sehingga membuat
lebih kedap suara dibandingkan material lain. Kusen UPVC dirancang khusus sehingga
dapat mengurangi kebisingan dan tentunya suasana ruanagan menjadi semakin nyaman.
Dengan Profil UPVC tingkat kebisingan bisa dikurangi hingga 70%.
d. Sifat materialnya yang kurang merambatkan suara dibandingkan logam. Disamping itu karet
profilnya mempunyai tempat khusus sehingga tidak kendor dan terdapat pada kusen
maupun di daunnya. Hal ini diperkuat dengan sistem yang overlapping antara keduanya.
e. Kusen UPVC akan memberikan perlindungan maksimal dalam hal keamanan karena kusen
UPVC dirancang dan dibuat sesuai dengan standart Eropa. Titik penguncian di berbagai
tempat (Multi Point Lock) sehingga aman.
f. Kusen UPVC dibuat dengan menggunakan formula yang mengandung bahan Titanium
Dioxide yang dapat memberikan kekuatan untuk jangka panjang serta memberikan
perlindungan terhadap sinar UV dan juga elemen-elemen yang dapat mengakibatkan
korosi. Jadi Kusen UPVC sangat layak untuk dipakai disegala jenis cuaca maupun
lingkungan. u-PVC dapat menahan terpaan hujan lebat dan angin kencang, serta dapat
menahan suhu cuaca sampai pada ketinggian 65˚C.
g. Bahan UPVC tidak menimbulkan api apabila dibakar karena UPVC adalah Unplasticide
Polyvinyl Chloride, Apabila terjadi kebakaran bahan UPVC dapat memperlambat proses
pembakaran pada struktur permukaannya.
h. Bahan UPVC tidak memerlukan perawatan dan bebas rayap untuk seumur hidup
i. UPVC merupakan profil yang bisa didaur ulang sehingga tidak menimbulkan polusi dan
pencemaran terhadap lingkungan.

35
RENCANA KERJA & SYARAT-SYARAT
(RKS)

j. Merupakan turunan dari plastik yaitu unplasticized poly vinyl chloride (UPVC). Material ini
diproses dengan proses tertentu sehingga sifat plastisnya minimal.
k. UPVC tahan rayap, tidak muai susut, mudah perawatannya hanya butuh perawatan yang
minimal dengan mengelapnya secara rutin, kedap suara dan tahan bocor.
l. Pemesanan ukuran pintu jendela disesuaikan dengan ukuran lapangan, jadi tidak
menyediakan produk berukuran standar.

5. Cara Pemasangan

a. Kusen pintu dengan sepatu ialah teknik pemasangan kusen pintu yang mana kedua ujung
kaki kusen tidak menyentuh keramik/lantai alias dibuatkan sepatu berupa lapisan bata atau
campuran semen/beton setinggi 5-10 sentimeter dari level lantai, setelah terlebih dahulu
ditancapkan besi atau paku di bagian bawah untuk penguat. Mungkin kalau kusen jendela
sedikit berbeda.
b. Tujuan pembuatan sepatu ialah supaya kusen pintu (khususnya kamar mandi) tidak cepat
rusak akibat terkena air sewaktu mengepel dan mencuci lantai. Ini adalah cara lama yang
tidak artistik dan mengurangi nilai keindahan kusen itu sendiri. Kalau pintu UPVC memiliki
perbedaan dengan jendela UPVC karena posisi jendela agak lebih tinggi.
c. Kusen pintu terjepit, yaitu teknik pemasangan dengan kedua kaki kusen yang tertanam di
lantai sedalam beberapa sentimeter dan mendapat jepitan dari ubin (keramik) lantai yang
terpasang di sekelilingnya. Cara ini yang lebih mementingkan keindahan dan banyak
dipergunakan saat ini. Misalnya saja pintu UPVC, dsb.
d. Kusen pintu sistem fischer merupakan teknik yang praktis. Teknik ini mengandalkan
kekuatan sekrup fischer yang diborkan dan ditanam bersama kusen merapat ke tembok
sekeliling kusen pintu yang sudah diplester rapi dan sangat akurat ukuran dan sudut siku-
sikunya. Untuk teknik pemasangan ini, ketebalan kusen bukan masalah; sebaliknya kusen
pintu yang tebal justru mengurangi keindahan. Beberapa kusen UPVC termasuk jendela
UPVC bisa dijadikan sebagai bentuk kusen keindahan.
e. Selain teknis pemasangan, kini kusen pintu dapat tampil lebih kreatif dengan tempelan lis
profil yang berukiran manis dan menawan. Cukup dengan mengoleskan lem kayu pada
kusen atau lis profil serta diperkuat dengan paku kecil, jadilah kusen pintu yang artistik.

10.2 PEKERJAAN KACA


1. Lingkup Pekerjaan
Uraian ini mencakup persyaratan teknis untuk pelaksanaan pekerjaan pemasangan kaca
pada rangka pintu dan jendela , serta pengerjaan dan pemasangan untuk berbagai macam
pekerjaan kaca.
2. Uraian pekerjaan lain yang termasuk/dipakai di dalam pekerjaan ini adalah ; Persyaratan
teknis pelaksanaan pekerjaan pintu dan jendela.
3. Ketentuan
a. Pekerjaan ini harus dilaksanakan oleh tenaga ahli yang telah berpengalaman di dalam
pelaksanaan pekerjaan kaca.
b. Pemotongan, pengangkatan dan penyetelan kaca harus menggunakan peralatan yang
khusus digunakan untuk maksud itu, antara lain peralatan potong khusus kaca, kop
untuk alat pengangkat lembaran kaca dll peralatan yang diperlukan guna pelaksanaan
pekerjaan.
c. Ketentuan tipe material lihat pada gambar kerja.
4. Material
a. Kaca Tempered 12 mm, kaca panasap green tebal 6 mm.
Semua kaca yang dipergunakan di dalam pelaksanaan pekerjaan ini secara umum
harus bebas dari cacat distorsi atau cacat-cacat fisik lainnya. Kaca yang digunakan
minimal dengan ketebalan 6 mm.
b. Peralatan Pelengkap Pemasangan Kaca

36
RENCANA KERJA & SYARAT-SYARAT
(RKS)

Semua peralatan pelengkap untuk pemasangan kaca harus sesuai dengan rangka
tempat kedudukkannya, tepat ukuran serta dari mutu terbaik serta harus mendapat
persetujuan dari Konsultan Pengawas.
5. Pelaksanaan
a. Pemeriksaan Keadaan Pekerjaan
Sebelum mulai pemasangan, Pelaksana Pekerjaan diminta untuk memeriksa keadaan
lokasi pemasangan, baik dalam hal kesiapan maupun ketelitian dan kecermatan
pelaksanaan pekerjaan pendahulunya.
b. Penyimpangan
Dalam hal terjadi penyimpangan pada pelaksanaan pekerjaan pendahulunya, Pelaksana
Pekerjaan diminta untuk segera melaporkan keadaan tersebut guna penyelesaian
permasalahannya.
c. Pemotongan, Pengangkatan dan Pemasangan Kaca
Pemotongan kaca harus lurus, rapi dan halus, tepat ukuran, selanjutnya dipasang pada
lokasinya dengan jepitan yang sesuai, terpasang kuat serta tepat dalam posisinya, baik
dalam hal ketegakan ataupun kemiringan sesuai dengan gambar rancana.
d. Pembersihan
Pada penyelesaian, pekerjaan harus dalam keadaan bersih dan terpasang sesuai
dengan mutu kerja yang disyaratkan.

10.3 ALAT PENGGANTUNG DAN PENGUNCI


1. Lingkup Pekerjaan.
a. Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan, perlengkapan daun pintu/
daun jendela dan alat-alat bantu yang dibutuhkan dalam terlaksananya pekerjaan ini
untuk mendapatkan hasil yang baik.
b. Pemasangan alat penggantung dan pengunci dilakukan meliputi seluruh pemasangan
pada daun pintu, dan daun jendela, seperti yang ditunjukkan/diisyaratkan dalam detail
gambar.
2. Persyaratan Bahan.
Semua material yang digunakan harus sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam buku
Spesifikasi Teknis. Bila terjadi perubahan atau pergantian material akibat pemilihan merk,
Pelaksana Pekerjaan wajib melaporkan hal tersebut pada Pengawas lapangan untuk
mendapatkan persetujuan.
3. Perlengkapan Pintu dan Jendela.
a. Pekerjaan Kunci dan Pegangan Pintu
1) Semua pintu menggunakan peralatan kunci dari merk Dekkson, Dorma atau
CISA atau yang setara dengan segala perlengkapannya antara lain : Lock
case, Handle, Back Plate, Anak Kunci dan perlengkapan lain yang diperlukan.
2) Untuk panel-panel listrik, pintu shaft dan lain-lain, kunci yang dipakai merk
Dekkson, Dorma atau CISA.
3) Untuk daun jendela kaca dipakai handle pengunci merk Dekkson, Dorma atau
CISA.
4) Semua kunci-kunci tanam terpasang dengan kuat pada rangka daun pintu.
Dipasang setinggi 90 Cm dari lantai, atau sesuai petunjuk Pengawas
lapangana.
5) Pegangan pintu masuk utama dipakai handle merk Dekkson, Dorma atau CISA
dengan jenis yang ditentukan oleh Pengawas lapangan atas contoh – contoh
yang sampaikan.
6) Untuk jenis handle dari tipe solid tube, dengan anak kunci minimal 5 pin.
b. Pekerjaan Engsel
1) Untuk pintu-pintu panel pada umumnya menggunakan engsel pintu merk
Dekkson, Dorma atau CISA atau yang setara jenis solid brass hinges atau
stainless steel dan dipasang sekurang-kurangnya 3 buah untuk setiap daun
dengan menggunakan sekrup dengan warna yang sama dengan warna engsel.

37
RENCANA KERJA & SYARAT-SYARAT
(RKS)

Jumlah engsel yang dipasang harus diperhitungkan menurut beban berat daun
pintu, ukuran engsel yang digunakan adalah 4”x3”x20 mm with 2 Ball Bearing
(untuk berat maksimum 35 Kg/daun) untuk pintu kayu dan 4.5”x4”x3,0 mm with
2 Ball Bearing untuk berat 40-75 Kg/daun) untuk pintu besi.
2) Untuk jendela digunakan engsel Sidehung Friction Stays Dekkson, Dorma atau
CISA.

4. Persyaratan Pelaksanaan
a. Engsel atas dipasang + 28 Cm (as) dari permukaan atas pintu.
Engsel bawah dipasang + 32 Cm (as) dari permukaan bawah pintu.
Engsel tengah dipasang di tengah-tengah antara kedua engsel tersebut.
b. Untuk pintu toilet, engsel atas dan bawah dipasang + 28 Cm dari permukaan pintu,
engsel yang dipasang ditengah-tengah antara kedua engsel tersebut.
c. Penarik pintu (door full) dipasang 90 Cm (as) dari permukaan lantai.
d. Pemasangan lock case, handle, back plate, serta door closer harus rapi, lurus dan
sesuai dengan letak posisi yang telah ditentukan oleh Konsultan Pengawas. Apabila
hal tersebut tidak tercapai, Pelaksana Pekerjaan wajib memperbaiki tanpa tambahan
biaya.
e. Seluruh perangkat kunci harus bekerja dengan baik, untuk itu harus dilakukan
pengujian secara kasar dan halus.
f. Tanda pengenal anak kunci harus dipasang sesuai dengan pintunya.
g. Pelaksana Pekerjaan wajib membuat shop drawing (gambar detail pelaksanaan)
berdasarkan gambar Dokumen Kontrak yang telah disesuaikan dengan keadaan di
lapangan. Di dalam shop drawing harus jelas dicantumkan semua data yang
diperlukan termasuk keterangan produk, cara pemasangan atau detail-detail khusus
yang belum tercakup secara lengkap di dalam Gambar Dokumen Kontrak sesuai
dengan Standar Spesifikasi Pabrik.

BAB XI
PEKERJAAN PLAFOND

11.1 MATERIAL UNTUK LANGIT-LANGIT


Material/ bahan yang dimaksud untuk pekerjaan langit-langit adalah dari bahan PVC seperti yang
tertera dalam Gambar Rencana. Bahan yang digunakan harus yang berkualitas baik,mempunyai
suatu bidang datar yang halus, seragam ukurannya, sisi tepinya lurus dan tidak cacat, tidak
melengkung dan cukup keras.

11.2 LIST PROFIL PVC


Material/bahan yang dimaksud untuk List Profil PVC adalah dari Profil pvc seperti yang tertera
dalam Gambar Rencana.

11.3 RANGKA PLAFOND


Rangka Plafond memakai bahan Rangka Furing. Kontraktor harus menunjukan contoh bahan
yang akan digunakan untuk mendapatkan persetujuan dari Pengawas.

11.4 PEMASANGAN PLAFOND


Kontraktor harus membuat Shop Drawing untuk persetujuan perencanaan yang dibuat
berdasarkan Gambar Rencana yang tersedia. Shop Drawing menggambarkan detail hubungan-
hubungan dan sambungan-sambungan, pengangkeran konsruksi dan pemasangan semua
komponen lengkap dengan ukuran-ukurannya.
Rangka untuk plafond semua digunakan rangka dari bahan Rangka Furing, digantung dengan root
ke rangka atap/dak beton (sesuai kondisi lapangan).
Dimensi untuk rangka utama sesuai dengan spesikasi bahan dari pabrikan dengan pola bermodul
60 x 120 cm yang dipasang bersilangan, Sesuai dengan Gambar Rencana dan petunjuk

38
RENCANA KERJA & SYARAT-SYARAT
(RKS)

Pengawas. Rangka plafond yang menempel pada dinding harus memakai alur/sponimg agar
sebelum dilakukan pemasangan terlebih dahulu supaya dibuat sponing dengan ukuran sesuai
dengan Gambar Rencana atau petunjuk Pengawas.
Setelah rangka tepi plafond/ rangka yang menempel pada dinding atau rangka utama sudah
terpasang seluruhnya, tentunya kedudukan dan elevasi disesuaikan dengan Gambar Rencana dan
disetujui Pengawas, selanjutnya dilakukan pembagian untuk pemasangan rangka pembagi dengan
modul as ke as 60 cm (sesuai dengan Gambar Rencana).

BAB XIII
PEKERJAAN PENGECATAN

14.1 PERSETUJUAN
Standard Pengerjaan (Mock-up)
Sebelum pengecatan yang dimulai, Pemborong harus melakukan pengecatan pada satu bidang
untuk tiap warna dan jenis cat yang diperlukan. Bidang-bidang tersebut akan dijadikan contoh
pilihan warna, texture, material dan cara pengerjaan. Bidang-bidang yang akan dipakai sebagai
mock-up ini akan ditentukan oleh Direksi Lapangan.
Jika masing-masing bidang tersebut telah disetujui oleh Direksi Lapangan dan Perencana, bidang-
bidang ini akan dipakai sebagai standard minimal keseluruhan pekerjaan pengecatan.
Contoh dan Bahan untuk Perawatan
Pemborong harus menyiapkan contoh pengecatan tiap warna dan jenis pada bidang-bidang
transparan ukuran 30 x 30 cm2. Pada bidang-bidang tersebut harus dicantumkan dengan jelas
warna, formila cat, jumlah lapisan dan jenis lapisan (dari cat dasar s/d lapisan akhir).
Semua bidang contoh tersebut harus diperlihatkan kepada Direksi Lapangan dan Perencana. Jika
contoh-contoh tersebut telah disetujui secara tertulis oleh Perencana dan Direksi Lapangan, barulah
pemborong melanjutkan dengan pembuatan mock-up seperti tersebut diatas.
Pemborong harus menyerahkan kepada Direksi Lapangan untuk kemudian akan diteruskan kepada
pemberi tugas minimal 5 galon tiap warna dan jenis cat yang dipakai. Kaleng-kaleng cat tersebut
harus tertutup rapat dan mencantumkan dengan jelas indentitas cat yang ada didalamnya. Cat ini
akan dipakai sebagai cadangan untuk perawatan, oleh pemberi tugas.

14.2 PERSYARATAN MATERIAL


Untuk dinding-dinding luar bangunan digunakan cat luar Weathershield product setara ICI, Propan,
Dulux.
Untuk dinding-dinding dalam bangunan digunakan cat jenis Emulsi Acrylic merk ICI/ AKZO NOBEL
dengan lapisan dasar Alkali Resistance Sealer 440-2075 merk AKZO NOBEL warna Lake Stone.
Plamur yang digunakan adalah plamur tembok dan plamer ICI / Putty 550-1967 merk AKZO NOBEL
Untuk Plafond/langit-langit digunakan AKZO NOBEL/ICIPentalite, warna Brillian White.

14.3 PELAKSANAAN PEKERJAAN CAT DINDING


Termasuk pekerjaan cat dinding adalah pengecatan seluruh plesteran bangunan dan/atau bagian-
bagian lain yaang ditentukan gambar.
Sebelum dinding diplamur, plesteran sudah harus betul-betul kering tidak ada retak-retak dan
Pemborong meminta persetujuan kepada Konsultan Pengawas.
Pekerjaan plamur dilaksanakan dengan pisal plamur dari plat baja tipis dan lapisan plamur dibuat
setipis mungkin sampai membentuk bidang yang rata.
Sesudah 7 hari plamur terpasang dan percobaan warna besi No. 00, kemudian dibersihkan dengan
bulu ayam sampai bersih betul. Selanjutnya dinding cat dengan menggunakan Roller.
Untuk mendapatkan tekstur pada pengecatan dinding yang ditentukan dengan finish texture spray
paint, digunakan Texture Finish Pasta texture dengan bahan dasar emulsi acrylic ini disemprotkan
dengan alat penyemprot compressor.
Untuk cat semprot emulsi bertekstur, pada dinding luar digunakan plesteran 1 pc : 5 ps dengan
pasir diayak halus, disemprotkan dengan mesin semprot pada bidang plesteran 1 pc : 5 ps yang
rata. Setelah kering dan keras baru disemprot dengan alkali resistance sealer dan dicat emulssi.

39
RENCANA KERJA & SYARAT-SYARAT
(RKS)

Lapisan pengecatan untuk dinding luar adalah 3 (tiga) lapis dengan kekentalan sama setiap
lapisnya.
Lapisan pengecatan dinding dalam terdiri dari 1 (satu) lapis alkali resistance sealer yang dilanjutkan
dengan 3 (tiga) lapis emulsion dengan kekentalan cat sebagai berikut :
- Lapis I encer ( tambahan 20 % air )
- Lapis II kental
- Lapis III encer.
Untuk warna-warna yang jenis, Kontraktor diharuskan menggunakan kaleng-kaleng dengan nomor
percampuran (batch number) yang sama.
Setelah pekerjaan cat selesai, bidang dinding merupakan bidang yang utuh, rata, licin, tidak ada
bagian yang belang dan bidang dinding dijaga terhadap pengotoran-pengotoran.

BAB XIV
PEKERJAAN MEKANIKAL DAN ELEKTRIKAL

15.1 PEKERJAAN ELEKTRIKAL


Pekerjaan Sistem Elektrikal
1. Umum
1.1. Penjelasan penerangan
Pekerjaan-pekerjaan yang tercakup dalam bidang keahlian ini meliputi :
1). Menyediakan seluruh pekerjaan sistem listrik sehingga dapat beroperasi secara
sempurna.
2). Gambar-gambar dan spesifikasi adalah merupakan bagian yang saling melengkapi
dan sesuatu yang tercantum di dalam gambar dan spesifikasi bersifat mengikat.
3). Seluruh pekerjaan instalasi listrik yang dilaksanakan harus dikerjakan oleh sub
kontraktor instalatur yang dapat dipercaya, mempunyai reputasi yang baik dan
mempunyai pekerja-pekerja yang cakap dan berpengalaman dalam bidangnya.
4). Seluruh pekerjaan instalasi harus dikerjakan menurut "Persyaratan Umum Instalasi
Listrik di Indonesia (PUIL) edisi terakhir tahun 2000 dan Peraturan PLN (SPLN)"
sebagai petunjuk dan juga peraturan yang berlaku pada daerah setempat dan
standar-standar/kode-kode lainnya yang diakui (VDE, DIN).
5). Kontraktor harus menempatkan seorang sarjana atau yang dianggap ahli sebagai
wakil dari perusahaan dan dapat memberikan keputusan-keputusan apabila sewaktu-
waktu diperlukan. Pengawas lapangan dapat meminta pergantian pengawas yang lain
apabila dianggap tidak mampu.

1.2. Bidang Pekerjaan yang Dikerjakan


1). Penyediaan dan pemasangan panel-panel :
a). Panel MDP
b). Panel ATS/AMF
c). Panel-panel penerangan
d). Panel-panel daya
e). Capasitor Bank
f). Panel Mekanikal dan panel control
2). Pengadaan dan pemasangan kabel distribusi tegangan rendah.
3). Instalasi penerangan dalam, luar bangunan dan general purpose outlet/ stop kontak.
4). Pengadaan dan pemasangan fixture dan armature penerangan lengkap dengan
komponen dan accessoriesnya.
5). Sistem pentanahan peralatan.
6). Testing dan commissioning peralatan dan instalasi.
1.3. Koordinasi Pekerjaan

40
RENCANA KERJA & SYARAT-SYARAT
(RKS)

Untuk kelancaran pekerjaan ini harus diadakan koordinasi dari seluruh bagian yang terlibat di
dalam kegiatan proyek ini. Seluruh aktivitas yang menyangkut di dalam proyek harus
dikoordinir lebih dahulu agar gangguan dan konflik satu dengan lainnya dapat dihindarkan.
Melokalisasi/memperinci setiap pekerjaan sampai dengan detail untuk mendapat persetujuan
Pengawas lapangan/Perencana.
1.4. Material dan "Workmanship"
Seluruh peralatan, material yang dipergunakan dalam pekerjaan ini harus baru dan material
harus tahan terhadap iklim tropik. Seluruh pekerjaan harus dilaksanakan dengan cara yang
benar dan setiap pekerja harus mempunyai ketrampilan yang memuaskan. Dimana latihan
khusus bagi pekerja adalah diperlukan dan Pemborong harus melaksanakannya. Pemborong
harus melengkapi surat sertifikat yang sah untuk setiap personal ahli, yang menyatakan
bahwa personal tersebut telah mengikuti latihan-latihan khusus ataupun mempunyai
pengalaman-pengalaman khusus dalam bidang keahlian masing-masing.
1.5. Daftar Material
Pada waktu mengajukan penawaran, Pemborong harus menyertakan/melampirkan "Daftar
Material" yang lebih dahulu diperinci dari semua bahan yang akan dipasang pada proyek dan
harus disebutkan pabrik, merk, manufacturer, type, lengkap dengan brosur/katalog. Ini adalah
mengikat dan harus diajukan lengkap tidak boleh sebagian-sebagian.

1.6. Shop Drawing


Setelah persetujuan, dalam hal ini sebelum daftar spesifikasi material, Pemborong
diharuskan menyerahkan shop drawing untuk disetujui Perencana. Shop Drawing harus
termasuk katalog data dari pabriknya, literatur mengenai uraian-uraian, diagram
pengkabelan, data ukuran dimensi, data pembuatan dan nama serta alamat yang terdekat
dari service dan group perusahaan pemeliharaan yang tetap menyediakan persediaan/stock
suku cadang yang terus menerus, shop drawings harus diberi catatan dari Pemborong, yang
menyatakan bahwa apa yang dianjurkan sudah sesuai dengan spesifikasi dan kondisi ruang
yang disediakan.
Data untuk setiap sistem harus menunjukkan pemasangan yang lengkap dari seluruh
koordinasi komponen untuk peninjauan keseluruhan yang sebenarnya dari keseluruhan
sistem, penyerahan sebagian-sebagian tidak akan diperhatikan. Gambar shop drawing harus
dibuat sebanyak 4 (empat) set.
Shop drawing yang harus diajukan adalah :
1). Panel MDP.
2). Panel ATS/AMF
3). Panel-panel daya dan penerangan, outlet box dan lain-lain.
4). Layout kabel distribusi dan lain-lain.
5). Detail-detail pemasangan lampu.
6). Rencana instalasi penerangan, stop kontak setiap lantai.
7). Dan lain-lain yang diminta oleh Perencana/Pengawas lapangan.
Shop drawing dimasukan untuk diperiksa/ disetujui Perencana/ Pengawas lapangan paling
lambat 14 (empat belas) hari kerja terhitung setelah dikeluarkannya SPK.
1.7. Contoh
Pemborong harus menyerahkan contoh-contoh dari seluruh material untuk mendapatkan
persetujuan sebelumnya. Seluruh biaya ditanggung atas biaya Pemborong. Contoh-contoh
tersebut (mock-up) dimasukan paling lambat 14 (empat belas) hari kerja, terhitung setelah
dikeluarkannya SPK.
1.8. Acces Opening
Pemborong harus menyediakan access opening (bukaan-bukaan) untuk instalasi dan
pemeliharaan dari instalasi listrik. Bukaan-bukaan (access opening) yang terdapat pada
konstruksi bangunan seperti dinding-dinding, langit-langit, dan seterusnya begitu pembukaan
harus dilengkapi dengan fasilitas penutup yang tepat bagi permukaan peralatan, penutup

41
RENCANA KERJA & SYARAT-SYARAT
(RKS)

harus dapat dilepaskan dan dipindahkan tanpa mengakibatkan kerusakan pada permukaan
yang berdekatan.
1.9. Gambar Pemasangan Yang Sebenarnya
Pemborong harus mempergunakan secara baik satu set lengkap gambar-gambar di
lapangan yang mana harus diberi tanda yang tepat pada lokasi dari seluruh jenis sistem
outlet panel/kabinet, peralatan, pengkabelan dan seterusnya dengan dimensi yang diambil
dari patokan center colom (as colom). Pemborong harus melengkapi gambar pemasangan
yang sebenarnya ("as installed") dari instalasi. Pemborong pada saat mendekati penyerahan
(2 minggu sebelum penyerahan) harus menyerahkan gambar "as built drawing" yang
menyatakan gambar-gambar seperti yang telah terpasang untuk diserahkan pada Pejabat
Pembuat Komitmen setelah disetujui Perencana/Pengawas lapangan sebanyak 2 (empat) set
gambar cetak dan 1 (satu) set kalkir.
1.10. Pengetesan
Pemborong harus melakukan seluruh pengetesan seperti disebutkan dan harus melakukan
percobaan seperti operasi sesungguhnya secara tepat dari seluruh sistem. Peralatan,
material dan cara bekerjanya peralatan yang mengalami kerusakan/cacat/salah harus
diganti/dibetulkan dan percobaan diulangi. Seluruh pengkabelan, instalasi "keur" Pemborong
harus bertanggung jawab untuk memperoleh persetujuan PLN bagi pemasangan sistem
jaringan listrik dan seluruh biaya ditanggung atas beban Pemborong.
1.11. Data Suku Cadang
Sejak pengiriman dari bagian-bagian dan peralatan ke tempat lapangan Pemborong harus
menyerahkan kepada Pengawas lapangan daftar lengkap dari suku cadang (spare parts) dan
menyerahkan untuk masing-masing bagian disertai dengan daftar harga satuan dan alamat
supplier dan tambahan daftar dari suku cadang dan suplai yang secara normal harus dalam
setiap pembelian atau suku cadang yang disebutkan dalam spesifikasi yang harus dilengkapi
oleh pemborong dengan biaya dari Pemborong. Lama pengetesan peralatan listrik 1 x 24 jam
tanpa henti biaya pengetesan ditanggung Pemborong.

1.12. Buku Petunjuk (Manual) dan Instruksi


Pemborong harus melengkapi buku petunjuk (manual) pemeliharaan dan manual cara
mengoperasikannya, dan bahasa dari instruksi bagi seluruh bagian peralatan ini harus dalam
bahasa Inggris dan Indonesia.
1.13. Training
Mendidik operator atau orang-orang yang ditunjuk oleh pemilik untuk menjalankan,
mengoperasikan pengujian dan maintenance seperlunya terhadap instalasi. Segala biaya-
biaya tersebut adalah menjadi tanggungan Pemborong
2. Teknik Instalasi
2.1. Instalasi Kabel/ Wiring
1). Umum
Semua kabel yang dipergunakan untuk instalasi listrik harus memenuhi persyaratan
PUIL/ LMK. Semua kabel/wiring harus baru dan harus jelas ditandai mengenai
ukurannya, jenis kabelnya, nomor dan jenis pintalannya. Semua kabel dengan
penampang 6 mm² ke atas haruslah terbuat secara dipilin (stranded). Instalasi ini tidak
boleh memakai kabel dengan penampang lebih kecil 2,5 mm² kecuali untuk
pemakaian remote control. Kecuali persyaratan lain, konduktor yang dipakai ialah
dari type :
a). Untuk instalasi penerangan adalah NYM, semua instalasi penerangan dan stop
kontak menggunakan system 3 core dimana core yang ketiga merupakan
jaringan pentanahan. Pentanahannya disatukan di dalam panel.
b). Untuk kabel tofoer, feeder/distribusi dan penerangan taman dengan
menggunakan kabel NYFGbY atau NYY.
Semua kabel harus berada di dalam conduit PVC super high impact yang disesuaikan
dengan ukurannya, cable tray, cable trench, kabel rack dan harus diklem. Digunakan

42
RENCANA KERJA & SYARAT-SYARAT
(RKS)

flexible conduit dengan bahan yang sama untuk menghubungkan instalasi ke masing-
masing fixture lampu.
2). "Splice"/ Pencabangan
Tidak diperkenankan adanya pencabangan dan penyambungan pada kabel/ feeder
utama dan instalasi kecuali :
a). Feeder utama hanya pada panel dan harus diproteksi dengan breaker.
b). Instalasi penerangan dan stop kontak hanya pada kotak/ junction box dan tidak
diperkenankan adanya sambungan kabel dalam konduit.
Sambungan pada kabel harus dibuat kuat secara mekanis dan harus teguh secara
electris dengan cara-cara "solderless connector". Jenis kabel tegangan, jenis
"compression atau soldered". Dalam membuat "splice" konektor harus dihubungkan
pada konduktor-konduktor dengan baik, demikian sehingga semua konduktor
tersambung tidak ada kabel-kabel telanjang yang kelihatan dan tidak bisa lepas oleh
getaran. Semua sambungan kabel baik di dalam junction box, panel ataupun tempat
lainnya harus mempergunakan connector yang terbuat dari tembaga yang diisolasi
dengan porselein atau bakelite ataupun PVC, yang diameternya disesuaikan dengan
diameter kabel.
3). Bahan Isolasi
Semua bahan isolasi untuk splice, connection dan lain-lain seperti karet, PVC, asbes,
gelas, tape sintetis, resin, splice case, compostion dan lain-lain tertentu itu harus
dipasang memakai cara yang disetujui menurut anjuran perwakilan pemerintah dan
atau manufacturer.
4). Penyambungan Kabel
a). Semua penyambungan kabel harus dilakukan dalam kotak-kotak
penyambungan yang khusus untuk itu.
b). Pemborong harus memberikan brosur-brosur mengenai cara-cara
penyambungan yang dinyatakan oleh pabrik, kepada Perencana dan
Pengawas lapangan.
c). Kabel-kabel harus disambung sesuai dengan warna-warna atau namanya
masing-masing dan harus diadakan pengetesan tahanan isolasi sebelum dan
sesudah penyambungan dilakukan. Hasil pengetesan harus tertulis dan
disaksikan oleh Pengawas lapangan.
d). Penyambungan kabel tembaga harus mempergunakan penyambungan-
penyambungan dari ukuran-ukuran yang sesuai.
e). Penyambungan kabel yang berisolasi PVC harus diisolasi dengan pita
PVC/protolen yang khusus untuk listrik.
f). Penyekat-penyekat khusus harus dipergunakan, bila perlu untuk menjaga nilai
isolasi tertentu.
g). Bila kabel dipasang tegak lurus dipermukaan yang terbuka, maka harus
dilindungi dengan pipa baja dengan tebal 3 mm setinggi minimum 2,5 m.
5). Saluran Penghantar Dalam Bangunan
a). Untuk instalasi penerangan di daerah yang menggunakan ceiling gantung,
saluran penghantar (conduit) dipasang diatas rak kabel dan digantung
tersendiri diatas ceiling.
b). Untuk instalasi saluran penghantar di luar bangunan, dipergunakan saluran
beton, kecuali untuk penerangan taman, dipergunakan pipa galvanized  2".
Saluran beton dilengkapi dengan Hand-hole untuk belokan-belokan (pekerjaan
beton ini harus sesuai dengan yang dipersyaratkan dalam PBI -1971).
c). Setiap saluran kabel dalam bangunan dinding dipergunakan pipa conduit PVC
minimum  3/4". Setiap pencabangan ataupun pengambilan saluran ke luar
harus menggunakan junction box yang sesuai dan sambungan yang lebih dari
satu harus menggunakan terminal strip di dalam junction box.

43
RENCANA KERJA & SYARAT-SYARAT
(RKS)

d). Ujung pipa kabel yang masuk dalam panel dan junction box harus dilengkapi
dengan "Socket/lock nut", sehingga pipa tidak mudah tercabut dari panel. Bila
tidak ditentukan lain, maka setiap kabel yang berada pada ketinggian muka
lantai sampai dengan 2 m harus dimasukkan dalam pipa. Dan pipa harus
diklem ke bangunan pada setiap jarak 50 cm.
2.2. Instalasi Sakelar dan Stop Kontak (Outlet)
1). Sakelar ( switch )
Sakelar-sakelar harus dari jenis rocker mekanisme dengan rating 10 A/ 250 V, sakelar
pada umumnya dipasang inbow kecuali disebutkan lain pada gambar. Jika tidak
ditentukan lain, sakelar-sakelar tersebut bingkainya harus dipasang rata pada tembok
atau tempat yang telah ditentukan pada gambar pada ketinggian 150 cm diatas lantai
yang sudah selesai kecuali ditentukan lain oleh Pengawas lapangan. Sakelar-sakelar
tersebut harus dipasang dalam kotak-kotak dan ring (standar). Sambungan-
sambungan hanya diperbolehkan antara kotak-kotak yang berdekatan.
2). Stop Kontak
Stop kontak haruslah dengan tipe yang memakai earthing contact dengan rating 10 A,
16 A, 25 A, 250 V AC. Semua pasangan stop kontak dengan tegangan kerja 220 V
harus diberi saluran ke tanah (grounding). Stop kontak harus dipasang rata dengan
permukaan dinding dengan ketinggian 50 cm dari atas lantai yang sudah selesai
sesuai gambar rencana atau petunjuk Pengawas lapangan.
2.3. Instalasi Fixtures Penerangan
1) U m um
Fixture penerangan harus dari jenis yang tertera dalam gambar. Harus dibuat dari
bahan yang sesuai dan bentuknya harus menarik dan pekerjaannya harus rapih dan
baik, tebal plat baja yang dipakai untuk housing fixture minimum 0,7 mm. Pemborong
harus menyediakan contoh-contoh dari semua fixture yang akan dipasang kepada
Perencana/Pengawas lapangan untuk disetujui.
2) Kabel-Kabel untuk Fixture
Kecuali ditunjuk atau dipersyaratkan lain, kabel-kabel untuk "fixture" harus ditutup
asbestos dan tahan panas. Tidak boleh ada kabel yang lebih kecil dari 2,5 mm²,
kawat-kawat harus dilindungi dengan "tape" atau "tubing" disemua tempat dimana
mungkin ada abrasi. Semua kabel-kabel harus disembunyikan dalam konstruksi
armature kecuali dimana diperlukan penggantungan rantai atau kalau
pemasangan/perencanaan fixture menunjuk lain. Tidak boleh ada sambungan kabel
dalam suatu armature dan penggantungan dan harus terus menerus utuh mulai dari
kotak sambung ke terminal-terminal khusus pada armature-armature lampu. Saluran-
saluran kabel harus tidak tajam dan dilindungi sehingga tidak merusak kabel.
3) Lampu-lampu
Semua fixture harus dilengkapi dengan lampu-lampu dan dipasang sesuai dengan
persyaratan dan gambar. Untuk lampu pijar memakai lamp holder dan base type
edison screw, untuk lamp holder type edison screw kabel netral tidak boleh
dihubungkan ke centre control, kecuali dipersyaratkan lain. Lampu fluorescent
haruslah dari jenis cool white atau sesuai perencanaan.
Semua lampu fluorescent atau lampu lainnya yang memerlukan perbaikan factor daya
harus dilengkapi dengan capacitor. Dalam spesifikasi ini besarnya "microfarad" (f)
dari kapasitor untuk setiap lampu tidak terlalu ditekankan karena yang dibutuhkan
adalah hasil akhir dari power factor menjadi sekurang-kurangnya 0,95.

2.4. Instalasi / Konstruksi Panel


1). Kabinet
Semua kabinet harus dibuat dari plat baja dengan tebal minimum 2 mm, atau dibuat
dari bahan lain seperti polyester atau bakelite. Kabinet untuk "panel board"
mempunyai ukuran yang proposionil seperti dipersyaratkan untuk panel board, yang

44
RENCANA KERJA & SYARAT-SYARAT
(RKS)

besarnya sesuai dengan ukuran pada gambar perencana atau menurut kebutuhan
sehingga untuk jumlah dan ukuran kabel yang dipakai tidak terlalu penuh/ padat.
Frame/rangka panel harus digrounding/ditanahkan pada kabinet harus ada cara-cara
yang baik untuk memasang, mendukung dan menyetel "panel board" serta tutupnya.
Kabinet dengan kabel-kabel "trough feeder" harus diatur sedemikian sehingga ada
saluran dengan lebar tidak kurang dari 10 cm untuk branch circuit panel board. Setiap
kabinet harus dilengkapi dengan kunci-kunci. Untuk satu kabinet harus disediakan 2
(dua) buah anak kunci, dengan sistem master key.
2). Pemasangan Panel
Pemasangan panel sedemikian rupa sehingga setiap peralatan dalam panel dengan
mudah masih dapat dijangkau, tergantung dari pada macam/tipe panel. Maka bila
dibutuhkan alas/pondasi/penumpu/ penggantung maka pemborong harus
menyediakannya dan memasangnya sekalipun tidak tertera pada gambar.
3). Panel Distribusi Utama
Panel distribusi utama harus seperti tertera pada gambar, kecuali ditunjuk lain.
Seluruh assembly termasuk housing, busbar, alat-alat pelindung harus direncanakan,
dibuat, dicoba dan dimana perlu diperbaiki sesuai dengan persyaratan. Panel
distribusi utama harus dari jenis in door type terbuat dari plat baja tebal minimum 2
mm. Konstruksi harus terbuat dari rangka baja struktur yang kaku, yang bisa
mempertahankan strukturnya oleh strees mekanis pada waktu hubung singkat.
Rangka ini secara lengkap dibungkus pada bagian bawah, atas dan sisi dengan plat-
plat penutup (metal clad) harus cukup louvers untuk ventilasi dimana perlu untuk
mengatasi kenaikan suhu dari bagian-bagian yang mengalirkan arus dan bagian-
bagian yang bertegangan sesuai dengan persyaratan PUIL-2000/LMK/VDE untuk
peralatan yang tertutup. Material-material yang bertegangan harus dicegah dengan
sempurna terhadap kemungkinan percikan air. Semua meteran dan tombol transfer
yang dipersyaratkan harus dikelompokkan pada satu papan panel yang berengsel
yang tersembunyi.

4). Busbar/Rel
Busbar harus dari bahan tembaga yang lapisan luarnya dilapis dengan lapisan perak
dengan ukuran sesuai dengan kemampuan arus 150 % dari arus beban terpasang
yang ukurannya disesuaikan dengan aturan PUIL 2000.
Semua busbar/rel harus dicat dan dipegang oleh bahan isolator dengan kuat dan baik
ke rangka panel. Semua busbar/rel harus dicat dengan warna yang sesuai dengan
disebutkan pada PUIL. Cat-cat tersebut harus tahan sampai temperature 75°C.
Busbar disusun dan dipegang oleh isolator dengan baik untuk sistem 3 , 4 kawat
seperti ditunjuk dalam gambar. Setiap panel harus mempunyai bus netral yang diisolir
terhadap tanah dan sebuah bus penatanahan yang telanjang diklem dengan kuat
pada frame dan panel dilengkapi klem untuk pentanahan. Dari panel peralatan perlu
diketanahkan minimum 2 .
5). Teminal dan Mur-baut
Semua terminal cabang harus diberi lapisan tembaga (ver-tin) dan disekrup dengan
menggunakan mur-baut ring dari bahan tembaga atau mur-baut yang diberi nikel (atau
stainless) dengan ring tembaga.
6). Alat-alat ukur
Setiap panel harus dilengkapi dengan alat-alat ukur seperti pada gambar. Meter-meter
adalah dari type "moving iron vane type" khusus untuk panel, dengan scale sirkular,
flush atau semi flush, dalam kotak tahan getaran, dengan ukuran 144 x 144 mm atau
96 x 96 mm, dengan skala linier dan ketelitian 1,5%. Posisi dari saklar putar untuk
voltmeter (Voltmeter Selector Switch) harus ditandai dengan jelas.

45
RENCANA KERJA & SYARAT-SYARAT
(RKS)

7). Merk Pabrik


Semua peralatan pengaman harus diusahakan buatan satu pabrik, peralatan-
peralatan sejenis harus dapat saling dipindahkan dan ditukar tempatnya pada frame.
8). Pilot lamp
Semua tutup muka panel dilengkapi dengan pilot lamp untuk menyatakan adanya
tegangan R, S dan T. Penyediaan dari pilot lamp yang disebutkan diatas merupakan
keharusan, biarpun pada gambar-gambar tidak tertera.
Warna-warna untuk pilot lamp :
a). Untuk phasa R : warna merah
b). Untuk phasa S : warna kuning
c). Untuk phasa T : warna hijau.
3. Penyambungan dan penambahan Daya listrik
3.1. Umum
Spesifikasi ini menjelaskan persyaratan untuk penyambungan atau penambahan daya listrik
yang harus dilakukan oleh calon kontraktor untuk memenuhi kebutuhan beban yang
terpasang sesuai BQ yang diminta. Biaya penyambungan ( BP ), UJL, Jaminan Gambar
Instalasi, konsuil, Pengadaan dan pemasangan trofo, , penambahan tiang listrik,
penambahan kabel udara tegangan rendah maupun tinggi dan peralatan-peralatan
pendukung lainnya di bebankan oleh pihak calon kontraktor dengan sistem lumpsump.
Kabel harus terdiri atas :
1). Dua atau empat penghantar yang terbuat dari kawat tembaga pilin atau tembaga
"compacted" yang dipilin.
2). Lapisan isolasi bahan PVC pada setiap penghantar phasa maupun penghantar netral.
3). Lapisan pengendap yang tahan air dikelilingi urat-urat penghantar phasa dan pengisi
ruangan diantara kawat phasa.
4). Lapisan pengendap kedua diluar lapisan pengendap diatas.
5). Pelindung dari pita bahan diatas lapisan pengendap kedua sesuai dengan persyaratan
IEC (NYFGbY).
6). Diluar lapisan pelindung pipa baja diberi lapisan plastik sebagai pelindung.
3.2. Penandaan/ Warna
Warna permukaan kabel sebagai tanda-tanda untuk setiap kawat adalah :
Phasa : merah netral : biru
kuning
Hitam

4. Kabel Tegangan Rendah (NYA, NYM, NYY, NYFGbY) 220/380 V


3.3. Umum
Spesifikasi ini menjelaskan persyaratan bagi kabel tegangan rendah yang harus memenuhi
persyaratan kemampuan melakukan arus pada temperatur 35°C, temperatur maximum kabel
dalam keadaan berbeban tidak boleh melebihi 70°C dan temperatur maksimum kabel untuk
arus hubung singkat tidak boleh lebih 250°C.
3.4. Konstruksi
Kabel harus terdiri atas :
7). Dua atau empat penghantar yang terbuat dari kawat tembaga pilin atau tembaga
"compacted" yang dipilin.
8). Lapisan isolasi bahan PVC pada setiap penghantar phasa maupun penghantar netral.
9). Lapisan pengendap yang tahan air dikelilingi urat-urat penghantar phasa dan pengisi
ruangan diantara kawat phasa.
10). Lapisan pengendap kedua diluar lapisan pengendap diatas.
11). Pelindung dari pita bahan diatas lapisan pengendap kedua sesuai dengan persyaratan
IEC (NYFGbY).
12). Diluar lapisan pelindung pipa baja diberi lapisan plastik sebagai pelindung.
3.5. Penandaan/ Warna

46
RENCANA KERJA & SYARAT-SYARAT
(RKS)

Warna permukaan kabel sebagai tanda-tanda untuk setiap kawat adalah :


Phasa : merah netral : biru
kuning
Hitam
4. Peralatan Listrik
4.1. Peralatan Panel MDP
1). Circuit Breaker Motor Operated
Rating Arus : sesuai gambar rencana
Insulation Rating : 750 V AC, Voltage rating : 380 V 50 Hz
Rated Breaking Cap : 50 kA (500 V, 50 Hz) dengan Arc chute.
Relay : Thermis dan magnetis over current release, under
voltage release, Auxiliary contact block (2 NO+1 NC)
Electrical interlocking dengan CB genset.
Drive : Motor, 220 V, 50 Hz.
2). Moulded Case Circuit Breaker
Insulation Rating : 380 V
Dilengkapi dengan : Thermal release dan electromagnetic over current
release
Rating Arus In : Sesuai gambar perencanaan
Rated Breaking Cap : Sesuai gambar perencanaan
3) Ampere Meter
Class : 1,5
Over load cap : 1,2 x In Continue
Ukuran : 90 x 90 mm
Skala : 0 – 1.250 A
Type : Moving Iron, untuk pengukuran AC
Ketelitian : ± 1,5 % untuk pengukuran AC
4) Volt Meter
Class : 1,5
Over load cap : 1,2 x In Continue
Ukuran : 90 x 90 mm
Skala : 0 - 500 A
Ketelitian : ± 1,5 % untuk pengukuran AC

5) kWH - Meter
Rated voltage : 3 x 380 Volt
Rated current output : 5 A
transformer
Ocuracy class : 2,0
Baseplate of moulded
plastic
The register : 6 (six) cipher rollers double pengukuran
6) Lampu Indikator
Tubular lamp, pijar 5 watt, diameter 54 mm
Warna : merah, kuning, biru
7) Push Button
Panel mounting, double on-1, off-0. Semua push button dilengkapi dengan lampu indikator untuk
menyatakan sistem dalam on atau off.
8) Relay - relay
Untuk panel MDP, circuit breaker untuk feeder utama, dilengkapi dengan relay proteksi
OL (over load), SC (short circuit) dan UV (under voltage). Sedangkan untuk generator,
dilengkapi dengan relay OL, SC, UV, EF (Earth Fould) dan RP (Reverse Power).
9) Selector Switch

47
RENCANA KERJA & SYARAT-SYARAT
(RKS)

Dari type rotary switch, untuk switching. Rated voltage 380 Volt AC insulation 660 V.

4.2. Panel AMF


1) Instalasi Automatic Main Failure (AMF)
a. Umum.
a). Yang dimaksud dengan Autoamtic main failure unit, meliputi
keseluruhan perlengkapan perangkat keras yang diperlukan untuk :
1. Memonitor nilai tegangan catu daya utama (pada tiap phase)
2. Menghidupkan catu daya cadangan (back up power source)
3. Mentransfer beban dari catu daya utama kepada catu daya
cadangan.
4. Memonitor catu daya cadangan
5. Mentransfer beban kembali pada catu daya utama (apabila
kondisi memungkinkan)
6. mematikan catu daya cadangan.
b). Perangkat lunak yang merupakan program dari pada unit AMF yang
dimaksud, pada dasarnya berupa suatu controlled switching sequence
yang dilaksanakan dengan mempergunakan sejumlah relay (bukan
electronic switching).
c). Keseluruhan relay dan perlengkapan perangkat keras lain yang
dipergunakan untuk melaksanakan prosedur switching ini, maka harus
beroperasi pada tegangan DC yang disediakan oleh battery yang
terdapat pada catu daya cadangan (terpisah dengan battery cadangan
diesel genset).
d). Untuk menghindari pengurangan muatan battery yang timbul sebagai
akibat beroperasinya unit AMF, pemborong diwajibkan menyediakan
sebuah battery charger dengan kapasitas dan ratting yang memadai.
b. Kontrol Operasional.
a). AMF yang dimaksud harus diperlengkapi dengan sejumlah operasional
control device yang memungkinkan operator melakukan manipulasi-
manipulasi operasional yang diperlukan. Operasional control device
yang dimaksudkan pada dasarnya merupakan non latching flush
mounted push button.
b). Operasional control push button yang disediakan harus dapat
dipergunakan untuk melaksanakan fasilitas operational, yang sekurang-
kurangnya meliputi :
1. Sistim manual (status operasional dari AMF)
2. Sistim automatic (status operasional dari AMF)
3. Engine Start
4. Engine Stop
5. Mains circuit breaker on
6. Mains circuit breaker off
7. Generator circuit breaker on
8. Generator circuit breaker off
9. Emergency stop
10. Horn oil/ acknowledge
11. Reset
12. Lamp test
13. Sistem test
c). Manipulasi fasilitas Engine star/stop dan circuit breaker on/off hanya
dapat dilaksanakan pada status system manual. Manipulasi system test
hanya dapat dilaksanakan dalam status system automatic.
d). Manipulasi fasilitas emergency stop, baik dalam status system manual,
maupun automatic, membatalkan keseluruhan proses switch sequence

48
RENCANA KERJA & SYARAT-SYARAT
(RKS)

yang berlangsung, memutuskan catu daya dari beban dan mematikan


catu daya cadangan. Pemborong hendaknya menyediakan
provisi/cadangan yang diperlukan, sehingga memungkinkan adanya
remote emergency stop stations yang dapat dipasang terpisah dari unit
AMF, pada tempat-tempat yang dianggap perlu (sesuai dengan petunjuk
pemberi tugas).
e). Manipulasi peralihan status system dari manual ke automatic atau
sebaliknya, harus dapat dilaksankanan setiap saat tanpa membatalkan
langkah proses switch sequence yang sedang/ akan berlangsung.
f). Manipulasi fasilitas system reset dimaksudkan untuk merestore
perangkat lunak (Software) yang terblokir, sebagai akibat kegagalan
fungsi mekanisme operational diluar unit AMF. Manipulasi fasilitas reset
ini secara automatic akan menempatkan system dalam status manual
(kondisi ini harus berlaku pula pada manipulasi emergency stop).
g). Fasilitas system test dimaksudkan sebagai sarana yang memungkinkan
operator mensimulir keseluruhan switch sequence operational yang
terkandung dalam perangkat lunak dari pada system (mains failure,
generator set, load transfer, mains restoring, load transfer dan engine
shut off), secara automatis.
2) Monitoring Function and Display
a. Unit AMF yang dimaksudkan, harus diperlengkapi dengan sejumlah indicating
lights, yang berhubungan dengan system sendiri serta peralatan lainnya yang
berhubungan dengan fungsi operational unit AMF
b. Display yang dimaksudkan pada bagian tersebut diatas, sekurang-kurangnya
harus memberi indikasi akan status-status sebagai berikut :
1. Unit AMF on
2. System Automatic
3. Mains on
4. Mains circuit breaker off
5. Mains circuit breaker on
6. Engine Start
7. Generator on
8. Generator circuit breaker off
9. Generator circuit breaker on
10. Generator circuit breaker tripped
11. Engine Stoping Solenoid Engaged
12. Starting failure
13. Transfer failure
14. Low oil pressure
15. High/over temperature
16. Over speed
17. Emergency stop actuated
18. Horn off
19. System Test.
c. Mains on, memberikan indikasi bahwa tegangan jala-jala catu daya utama
(PLN) berbeda dalam batas-batas tolerensi deviasi yang masih diperkenankan,
(baik over maupun under voltage, yang diukur pada ketiga phase dari paca
catu daya). Batas toleransi yang dimaksudkan harus dapat diatur secara
terpisah dan kontinu antara 0 sampai – 25 % untuk under voltage dan 0 sampai
+ 25 % untuk over voltage.
d. Engine stopping solenoid engaged, memberikan indikasi akan bekerjanya
stopping solenoid dari pada diesel engine. Stopping solenoid ini harus
dibebaskan kembali secara automatis (released) setelah engine shut off.

49
RENCANA KERJA & SYARAT-SYARAT
(RKS)

e. Starting failure, menandakan kegagalan start pada diesel engine. Software


daripada system yang dimaksud. Harus memungkinkan terlaksananya
sekurang-kurangnya 3 (tiga) kali percobaan start (starting attempt), sebelum
menyatakan starting failure. Kegagalan ini harus disertai dengan suatu audible
indication yang dapat didengar oleh yang bersangkutan. Dalam hal terjadinya
starting failure, software secara automatis harus menghentikan engine
melakukan percobaan-percobaan start yang selanjutnya. Percobaan start yang
selanjutnya harus dilakukan secara manual oleh operator, setelah system
direset.
f. Transfer failure, menandakan kegagalan mekanisme circuit breaker dalam
melaksanakan operasi yang diinstruksikan oleh software. Dalam hal terjadinya
mains failure, transfer failure tidak boleh diikuti dengan engine shut off
percobaan load transfer harus dapat mencegah engine melakukan percobaan
restart.
g. Indikasi low oil pressure, high over temperatur dan over speed, pada dasarnya
berkaitan dengan kegagalan pada salah satu sub system daripada diesel
engine dan harus langsung diikuti dengan engine shut off. Apabila kegagalan
initerjadi pada waktu catu daya utama/PLN padam, software daripada system
harus dapat mencegah engine melakukan percobaan restart.
h. Generator on, memberikan indikasi berfungsinya generator dalam batas-batas
toleransi seperti yang diuraikan pasal ini ayat 4b.
i. Kondisi-kondisi gangguan yang sebagai mana diuraikan pada bagian 7 sampai
dengan 10 daripada pasal ini, menggunakan emergency stop facility dengan
pelaksanaan system test, harus disertai dengan suatu bentuk audible alarm
yang dapat terdengar oleh petugas yang bersangkutan. Bunyi alarm dalam hal
ini harus dapat dibatalkan/dicancel dengan manipulasi horn off/acknowladge
button yang akan mengakibatkan indicator ‘horn off” menyala.
j. Engine starting, memberikan indikasi bahwa starting device dari pada diesel
engine dalam keadaan engaged.
k. Kondisi trip yang terjadi pada salah satu circuit breaker. Yang diakibatkan oleh
overload atau fault pada sisi beban, tidak boleh mengakibatkan terjadinya
pemindahan beban (Load transfer) pada catu daya alternatif.
3) Operation Delays
a. Guna menjamin kesempurnaan kerja dari pada unit AMF yang dimaksud,
pemborong diwajibkan melengkapi system dengan sejumlah timing devices
yang memungkinkan terjadinya operational delays, yang pada dasarnya
merupakan bagian daripada keseluruhan switch sequence yang dikehendaki.
b. Operational delays/timings yang dikehendaki harus sekurang-kurangnya
meliputi proses-proses :
1. Starting delay 0 – 60 detik
2. Starting time 0 – 15 detik
3. Starting interval time 0 – 15 detik
4. Stabilizing time 0 – 15 detik
5. Switch time 0 – 60 detik
6. Cooling off time 0 – 180 detik
7. Stopping time 0 – 60 detik
8. Test delay 0 – 10 detik
c. Yang dimaksudkan dengan delay adalah tegangan waktu yang terjadi antara
saat matinya catu daya utama (PLN) dan proses percobaan start daripada
generator set.

50
RENCANA KERJA & SYARAT-SYARAT
(RKS)

d. Yang dimaksudkan dengan starting time adalah lamanya periode engagement


daripada starting device diesel generating set untuk satu kali percobaan start.
e. Yang dimaksudkan dengan stabilizing time adalah tenggang waktu yang timbul
anatara beroperasinya generator dan instruksi transfer yang diperintahkan oleh
software daripada system.
f. Yang dimaksudkan dengan switch delay adalah tenggang waktu yang terjadi
antara normal kembalinya kondisi catu daya utama (PLN) dan instruksi transfer
back yang diperintahkan software.
g. Yang dimaksudkan dengan interval time adalah tenggang waktu yang terdapat
antara dua periode percobaan start.
h. Yang dimaksudkan dengan cooling off delay adalah lamanya engagement
daripada stoping solenoid setelah engine dimatikan.
i. Yang dimaksud dengan stopping delay adalah lamanya engagement daripada
stopping solenoid setelah engine dimatikan.
j. Yang dimaksud dengan test delay adalah tenggang waktu yang terjadi antara
manipulasi system test button dengan awal mulainya proses manipulasi.
k. Semua timming device yang dimaksud harus dapat diatur secara kontinyu
dalam range yang dikehendaki (bukan merupakan step contrelers)
4) Lain-lain.
a. Unit AMF yang dimaksudkan harus ditempatkan dalam steel sheet enclosere
yang pada dasarnya memenuhi persyaratan dan ketentuan umum yang
ditetapkan bagi electrical switchboards. Ketentuan dan persyaratan ini telah
dibahas pada bagian lain dari pada persyaratan ini.
b. Unit AMF harus diperlengkapi pula dengan protective switchgear yang lazim
diperlukan, berupa miniatur circuit breaker dengan rating dan kapasitas yang
memadai. Ketentuan dan peraturan mengenai merk harus disesuaikan dengan
persyaratan yang telah dibahwas pada bagian lain dari pada uraian ini.
c. Kewajiban menyediakan mechanisme motor yang diperlukan untuk
menggerakkan circuit breaker yang bersangkutan tidak merupakan bagian dari
pada pekerjaan ini. Dari pemborong kelak diharapkan saran dan petunjuknya
mengenai kelengkapan yang dipersyaratkan dalam hubungan ini.
d. Unit AMF harus dilengkapi pula Timer On dilay untuk mengerakkan breaker
Utama AC agar ada tenggang waktu selama 30 secon antara beban AC
dengan beban non AC untuk mengurangi adanya arus asut yang berlebihan.

4.3. Panel Penerangan dan Daya


1). Panel harus dibuat dari plat baja galvanized tebal plat 2 mm, lipatan dan bentuk sudut
plat melalui proses mekanis.
2). Peralatan panel penerangan :
a). Moulded Case Circuit Breaker (MCCB)
Rating Tegangan : 380 V, 50 Hz
Type : Compact
Breaking Cap. : 18 kA
b). Kontaktor
Rating Arus : 10 A, 16 A, 25 A
Rating Tegangan : 380 V, 50 Hz
Pole : 3 pole
c). Miniature Circuit Breaker
Rated voltage : 380 Volt, 50 Hz
Breaker cap : 10,0 kA (380 V) minimum
Type : yang mempunyai "Instantenous tripping valve"
sebesar 12 (dua belas) kali arus In

51
RENCANA KERJA & SYARAT-SYARAT
(RKS)

4.4. Material Untuk Instalasi


1). Grid Switch
Rocker mekanisme, modular, rating 10 A, 220 Volt AC.
Type : Decorative
Plates : Steel
2). Sakelar Tunggal / Ganda
Rocker mekanisme, modular, rating 10 A, 220 Volt AC.
Type : Decorative push-push, flush, segi empat
Plates : Standard
3). Socket Outlet/ Outlet dan Swicth Type Dinding
Type : Flush
Terminal : 2 P + e, 220 V, AC 10 A
Untuk outlet+switch : 10 A / 16 A
Bentuk : Persegi dengan outlet, swicth, pilot lamp

4.5. Capacitor Bank


Untuk memperbaiki faktor daya maka digunakan Capacitor Bank. Capacitor Bank yang
dipakai harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
1) Capacitor
 Capacitor harus dibuat oleh pabrik pembuat capacitor dan telah di test sesuai
dengan standar IEC 831 atau JIS C4901
 Capacitor bank dari jenis pasangan dalam (in-door)
 Temperatur : -25˚ C s/d +45˚ C
 Rate Voltage : 230 V dan 380 – 440 V
 Kapasitas Capacitor : 2.5 KVAR, 5 KVAR
 Rate Output : 25 KVAR
 Rate Frequency : 50 Hz
 Phase and Connection : Three (3) phase and delta connection.
 Capacitor harus mampu beroperasi pada keadaan over-voltage untuk
durasi sebagai berikut :
Voltage Factor
Maximum Duration
( x rate Voltage)

1,10 8 jam (max) dalam setiap 24 jam


1,15 30 menit (max) dalam 24 jam
1,20 5 menit (max) 2 kali dalam 1 bulan
1,3 1 menit (max) 2 kali dalam 1 bulan
 Capacitance output : +15% dan -5% pada suhu ruang
 Capacitor loses : < 2 watt/KVAR
 Merk : AEG, Merlin Gerin, Siemens
3) Power Factor Controller
 Jenis : Automatic control 6 step dan 11 step
 Capacitor closing time : 15 second, 1 minute, 3 min, 5 min dapat
dipilih tergantung discharge time
capacitor
 Frequency : 50 Hz
 Mode Switching Sequence : Up-down mode atau Circular Mode

52
RENCANA KERJA & SYARAT-SYARAT
(RKS)

 Operating Voltgae : 100 – 120 V ±10%, 200 – 240 V ±10%


 Operating Temperature : -10˚ C s/d +55˚ C
 CT Input Current : 5A max.
 Target Power factor : 0,95 Lag – 0,98 Lead
 Power Factor Reading : Up to date reading always display
 Merk : AEG, Merlin Gerin, Siemens
3) Pengaman Utama dan assesories
 Jenis Pengaman : MCCB 36KA 3phasa
 Jenis Kontaktor : 220V/380V 3pole 25/32A
 Manual-auto operation : Push Button ON-OFF 220V 50Hz
Pilot Lamp ON Kapasitor
 Merk : Merlin Gerin, Siemens, ABB

5. Fixture dan Armature


5.1. Penempatandan jenis, jumlah Armature Lampu mengikuti dari gambar rencana, jika ada
perubahan harus sepengetahuan konsultan pengawas dan owner.
5.2. Lampu Tanda Arah Kebakaran/ Emergency Exit Lamp.
Dipasang pada beberapa tempat sesuai dengan gambar perencanaan lampu tersebut
ditandai dengan arah panah dan tanda "KELUAR" dengan warna merah, untuk lampu yang
dipasang ditengah coridor dipasang 2 (dua) sisi (double side) sedang lampu pada dinding 1
(satu) sisi (single side).
Dilengkapi dengan Ni Cad battery, charger dan peralatan kontrol lainnya, lampu tetap
menyala baik pada saat sumber PLN ada gangguan. Instalasi dipasang sebelum swicth/CB
utama pada incoming feeder panel sedemikian rupa sehingga sejauh masih ada tegangan
pada kabel feeder utama, maka lampu tersebut tetap nyala dan sebaliknya untuk emergency
exit lamp atau diambil dari rangkaian stop kontak.
Spesifikasi Teknis :
Type : Maintained
Durasi : 2 jam
Daya Lampu : TL 10 Watt Exit Lamp
Input Voltage : 220 V, 50 Hz
Power Comsumption : 20 VA
Body : Epoxy coated zintec sheet steel.
Dilengkapi dengan monitor charging current dan battery dapat bekerja selama ± 5 tahun dan
diberikan garansi minimum 2 tahun.

6. Pekerjaan Sistem Proteksi Petir


6.1. Lingkup Pekerjaan
Bagian ini meliputi penyediaan, pengujian dan perbaikan selama masa pemeliharaan dari sistem
penangkal petir yang lengkap sesuai spesifikasi ini, serta pengurusan izin dari badan yang
berwenang (Jawatan Keselamatan Kerja).
6.2. Referensi
Pekerjaan harus dilakukan mengikuti standard dan peraturan yang berlaku dari Departemen
Tenaga Kerja dan bidang Keselamatan Kerja setempat atau standard/peraturan yang dikeluarkan
dari pabrik.
6.3. Syarat-syarat Bahan
Material yang digunakan dalam sistem penangkal petir dalam keadaan baik dan sesuai dengan yang
dimaksudkan serta disetujui oleh Konsultan Pengawas.
Daftar material, katalog dan shop drawing harus diserahkan kepada Konsultan Pengawas sebelum
dilakukan pemasangan. Material atau alat-alat yang tidak sesuai dengan spesifikasi ini akan ditolak.
Sistim proteksi petir yang dipakai adalah : Sistim non radio aktif atau elektrostatis.
Komponen - komponen yang dipakai adalah sebagai berikut :

53
RENCANA KERJA & SYARAT-SYARAT
(RKS)

1) Terminal Udara : Terminal udara khusus untuk sistem proteksi petir eksternal, yang
dimaksudkan untuk menghadang sambaran petir.
2) Penghantar pembumian/konduktor penyalur : Penghantar yang menghubungkan secara listrik
antara terminal udara dan elektroda pembumian.
3) Proteksi ini harus menjamin dapat mentransfer dengan aman energi kilat dari "terminal udara"
ke bumi. Untuk sistem tersebut digunakan jenis kabel: Coaxcial Cable 70 mm2.
4) Sistem Pembumian : Terminal pembumian, terletak di dalam bak kontrol yang dilengkapi
dengan elektroda pembumian bak kontrol diperlukan untuk pengujian tahanan tanah secara
berkala.
5) Elektroda pembumian : Elektroda pembumian, terbuat dari Copper Rod digalvanisir dengan
diameter tidak kurang dari 5/8" dan panjang minimum 6 meter dan harus dimasukkan ke
dalam tanah secara vertikal dan pengukuran tahanan pembumian maksimum 5 Ohm.
6.4. Syarat Pelaksanaan
1 Cara-cara pemasangan penangkal petir sistem ini harus sesuai dengan petunjuk-petunjuk
dan spesifikasi pabrik.
2 Batang penangkal dipasang pada atap bangunan dengan memakai baut angker atau klem.
Pemasangan harus cukup kuat untuk menahan gaya-gaya mekanis pada saat timbulnya
sambaran petir.
3 Pemegang konduktor / klem harus terbuat dari bahan yang sama dengan konduktor untuk
mencegah terjadinya elektrolisa jika terkena air.
4 Sambungan - sambungan :
a) Sambungan yang diperlukan haruslah menjamin kontak yang baik dan tidak mudah
terlepas.
b) Sambungan sedapat mungkin mengurangi kerugian-kerugian tipis akibat adanya
sambungan .
5. Pelindung mekanis : Penghantar pembumian harus dilindungi terhadap kerusakan mekanis
dengan pipa PVC tipe high impact.
6. Syarat Pengujian
Untuk mengetahui baik atau tidaknya sistem proteksi petir yang dipasang, maka harus diadakan
pengetesan terhadap instalasinya maupun terhadap sistem pembumiannya.
Pengujian yang harus dilakukan :
1) Pengujian Tahanan Pembumian, Ukuran tahanan dari pentanahan dengan mempergunakan
metode standar.
2) Pengujian Kontinyuitas.
a. CONTOH
Kontraktor harus menyerahkan contoh dari bahan-bahan yang akan dipergunakan/dipasang, yaitu
minimal penghantar dan elektroda pentanahan yang dimintakan dalam persyaratan. Semua biaya
berkenaan dengan penyerahan dan pengembalian contoh-contoh ini adalah tanggungan Kontraktor.
b. PEMERIKSAAN
Sistem proteksi petir akan diperiksa oleh Konsultan Pengawas untuk memastikan dipenuhinya
spesifikasi ini. Semua bagian dari instalasi ini harus diperiksa oleh Konsultan Pengawas, terlebih
dahulu sebelum tertutup atau tersembunyi. Setiap bagian yang tidak sesuai dengan syarat - syarat
spesifikasi dan gambar-gambar harus segera diganti, tanpa membebankan tambahan pada pemilik
proyek.
c. SURAT IZIN
1) Kontraktor harus mempunyai SPJT – Surat Penanggung Jawab Teknik yang dikeluarkan oleh
Assosiasi Kontraktor AKLI (Assosiasi Kontraktor Listrik Indonesia).
2) Kontraktor harus sudah berpengalaman di dalam pemasangan penangkal petir ini, dibuktikan
dengan memberikan daftar proyek-proyek yang sudah pernah dikerjakan.
d. DAFTAR MATERIAL
Untuk semua material yang ditawarkan, maka Pemborong wajib mengisi daftar material yang
menyebutkan : merk, tipe, kelas lengkap dengan brosur/katalog yang dilampirkan pada waktu tender.

54
RENCANA KERJA & SYARAT-SYARAT
(RKS)

Tabel daftar material ini diutamakan untuk komponen-komponen yang berupa barang-barang
produksi.
Apabila pada spesifikasi teknis ini atau pada gambar disebutkan beberapa merk tertentu atau kelas
mutu (quality performance) dari material atau komponen tertentu terutama untuk material-material
Listrik utama, maka pemborong wajib melakukan didalam penawarannya material yang dalam taraf
mutu/pabrik yang disebutkan itu.
Apabila nanti selama proyek berjalan terjadi, bahwa material yang disebutkan pada tabel material
tidak dapat diadakan oleh Pemborong, yang diakibatkan oleh sesuatu alasan yang kuat dan dapat
diterima Pemilik, Konsultan Pengawas/MK dan Perencana, maka dapat dipikirkan penggantian
merk/tipe dengan suatu sanksi tertentu kepada Kontraktor.
1. Terminal Udara : Setara Thomas,Viking dan KURNZ.
2. Penghantar Pembumian :Coaxcial Cable 70 mm2
4. Pipa Konduit :EGA, Marshall Tuflex, Waler.
5. Elektroda pembumian :Batang copper rod masif diameter 5/8” dan panjang minimum 6 meter.

7. Sistem Pentanahan
7.1 Lingkup Pekerjaan
1) Pengadaan dan pemasangan sistem pentanahan body (tegangan sentuh) terhadap
seluruh peralatan listrik yang terbuat dari metal, yaitu : panel TM, transformator, panel
penerangan, daya dan lain-lain.
2) Penyambungan pentanahan netral dari terminal transformator ke elektroda pentanahan.
3) Sistem pentanahan (grounding system) maksimal 3 .
4) Penyambungan sistem pentanahan Mesh/Loop dengan Bare Standard
7.2 Standar dan Kode-Kode yang Berlaku
1) Sistem pentanahan yang dilaksanakan harus berdasarkan standar-standar dan kode-
kode yang berlaku, antara lain :
2) British Standard, [Link].1013 mengenai pentanahan.
3) Underwriters Laboratories Standard UL. 467, Standar untuk Safety On Grounding dan
Bounding Equipment.

7.3 Sistem Pentanahan


1). Pemborong harus melaksanakan pekerjaan pentanahan ini sesuai gambar
perencanaan.
2). Pemborong harus memperhatikan kondisi tahanan jenis tanah yang ada agar
didapatkan satu sistem pentanahan yang baik.
7.4 Pekerjaan dan Alat Bantu
Setiap penyambungan/pencabangan dari konduktor harus menggunakan "Cadweld
Connection". Dapat juga menggunakan klem penyambung sistem jepit dengan gigi banyak
dengan memperhatikan hal-hal :
1). Bahan klem harus bahan yang telah digalvanized atau di Treatment tertentu sehingga
tidak akan berproses apabila kontak dengan jenis metal yang lain.
2). BC pada titik/tempat penyambungan harus di "tinned".
3). Disarankan agar tempat penyambungan setelah selesai disambung, dibungkus
dengan bahan tertentu, misalnya sejenis epoxy dan lain sebagainya.
Bila ada terminasi yang menggunakan terminal jenis sepatu kabel maka harus
memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1). Sepatu kabel yang digunakan harus mempunyai 2 (dua) lubang baut.
2). Harus dari bahan anti karat dan telah di treatment agar tidak akan berproses bila
kontak dengan jenis metal lainnya.

8. Testing dan Commisioning


8.1. Sesudah semua pemasangan Instalasi dan Sistem

55
RENCANA KERJA & SYARAT-SYARAT
(RKS)

Setelah seluruh instalasi selesai terpasang dan sistem telah dilaksanakan, maka harus
dilakukan pengetesan disaksikan oleh Pemilik/Pengawas lapangan dan Perencana minimum
1 minggu sebelumnya diberitahukan secara tertulis. Biaya testing tersebut dan lain-lain
menjadi beban Pemborong disertai dengan Berita Acara Testing dan Commissioning.
8.2. Sebelum dilakukan penyerahan Instalasi di lapangan
Sebelum penyerahan instalasi harus di test dihadapan Pemilik proyek/Pengawas lapangan
dan Perencana dengan kapasitas beban maksimum dan secara terus menerus selama 3 x 24
jam.
Apabila selama proses pengetesan berlangsung terjadi kerusakan Pemborong harus
mengembalikan seperti dalam keadaan semula secepatnya dan atas beban/tanggungan
pelaksana pekerjaan

9. Kelengkapan untuk Serah Terima


1. Pengurusan penyambungan/penambahan daya ke PLN
2. Instruction/operation manual book – 2 set (asli + copy)
3. parts book – 2 set (asli + copy)
a. Maintenace manual book – 2 set (asli + copy)
b. shedule/program maintenance untuk 1 tahun pertama
c. Surat penawaran kontrak service untuk 1 tahun pertama.
4. Certificate warranty dari pabrik/kartu garansi (asli) yang berlaku minimal untuk 1 tahun
5. As built jumlahnya 2 (dua) set (1 set kalkir dan 1 set blue print meliputi :
a. Schematic diagram untuk panel switch board
b. Shematic wiring/single line diagram
c. Gambar instalasi secara lenkap yang mencantumkan letak armature, group/zone dan
panel-panel.
6. Tool kits :
a. 1 buah tang ampere 300 A merk Hioki Type : 3100
b. 1 buah wire sniper 0,75 mm2 s/d 2,5 mm2 ex japan.
c. 1 buah wire sniper 2,50 mm2 s/d 6 mm2 ex japan
d. 1 buah hand lamp ex jerman + kabel rol 30 meter
7. Surat jaminan “after sales service” dari keagenan peralatan yang dipasang.
8. Training
9. As Built foto
10. Surat Jaminan pas instalator atas instalasi yang terpasang.
Catatan :
Untuk ayat 2 dan 4 diatas agar dibuat ringkasan dalam bahasa Indonesia dan
testing/maintenace shedule untuk 1 tahun pertama.

1.1 Daftar Material


No. Material Merk
1. Kabel Tegangan Rendah NYY, NYM, Kabelindo, Kabel Metal, Supreme, Tranka
NYA, NYFGbY. Kabel
2. Box Panel Lokal dengan Produksi dari Panel Maker yang
bersertifikat
3. MCCB, MCB dan Contactor MG, ABB, Siemens
4. Conduit, Flexible Conduit EGA, Clipsal
5. Isolasi Kabel 3M

56
RENCANA KERJA & SYARAT-SYARAT
(RKS)

6. Armature Lampu Artholite, Panasonic, Interlite, Oni Lite

7. Komponen Lampu
- Tube Philips, Osram
- Ballast Philips, May & Christi
- Capasitor Philips
- Fitting Philips, Sace
- Stater Philips
8. Saklar Tunggal Panasonic, MK, ABB
9. Saklar Ganda Panasonic, MK, ABB
10. Stop Kontak Panasonic, MK, ABB
11. Inbow Dosh, T Dosh Panasonic, MK, ABB
12. Kunci Panel DOM, dengan espagnolet
13. Junction Box Local 1,5 mm
14. Lampu Lapangan (Foodlight) Phillips
15. Panel ATS Original Sole Aggent Suplier Genset/ dari panel
maker yang bersertifikasi
16. Genset Olimpian GEP 88,
Perkin PL 80 P
(Dengan Sertifikat Keaslian dari Sole Aggent)
17. Capasitor Bank Capasitor ABB/MG, Automatic system
Purelogic, Panel Lokal dengan Produksi dari
Panel Maker yang bersertifikat
18. UPS Vektor (10 Menit sistem saving)

15.2 PEKERJAAN MEKANIKAL


Pekerjaan Pemipaan
1. Lingkup Pekerjaan
1.1. Umum
Pekerjaan ini termasuk namun tidak terbatas pada penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan,
peralatan dan alat-alat bantu lainnya yang digunakan untuk seluruh pekerjaan pemipaan pada
pekerjaan Mekanikal sehingga tercapai hasil pekerjaan yang bermutu dan sempurna untuk
operasional.
1.2. Standard dan Code
Standard dan peraturan yang berlaku dalam pekerjaan ini antara lain :
ASTM : American Society of Testing Material.
ANSI : American National Standard Institute.
BS : British Standar.
JIS : Japan Industrial Standard.
SII : Standard Industri Indonesia.
1.3. Bagian Yang berhubungan
Referensi yang harus diperhatikan adalah pekerjaan-pekerjaan yang terkait yaitu Pekerjaan
Plambing.
2 Persyaratan Bahan
2.1. Galvanized Steel Pipe (GSP)
Pipa besi yang dilapis seng ini digunakan untuk :
- Pipa supply dan distribusi air bersih pada pekerjaan plambing.
Standard rating yang digunakan adalah :
- BS 1387 tahun 1967 kelas medium untuk pekerjaan plambing.
2.2. Poly Vinyl Chloride (PVC)

57
RENCANA KERJA & SYARAT-SYARAT
(RKS)

Pipa PVC ini digunakan untuk :


a. Pipa air kotor dari WC dan Urinoir
b. Pipa air buangan dari floor drain, lavatory
c. Pipa drain dari system tata udara
d. Pipa vent pada plambing system
e. Pipa air hujan.
Standard rating yang digunakan adalah :
PVC AW Class : Working Pressure : 10 kg/cm2
3 Syarat – Syarat Pelaksanaan
3.1. Pipa GSP
a. Untuk pipa dengan diameter 50 mm (2”) kebawah digunakan sambungan ulir, sedang
pipa dengan diameter 65 mm (2½”) ke atas digunakan sambungan las atau flange.
b. Pada penyambungan pipa dengan menggunakan flens perlu dilengkapi dengan ring
type gasket untuk menjamin kekuatan sambungan dan terhadap kebocoran.
c. Semua pipa baik yang tampak atau yang ditanam diharuskan diberi lapisan pelindung
cat menie. Pipa yang ditanam ditanah diharuskan dilapisi lagi dengan Bituminuos sheet
2 mm. Khusus untuk pipa yang ditanam didalam tanah, harus diperhatikan hal-hal
sebagai berikut :
Pipa ditanam sedalam 60 cm dari permukaan tanah dan pada sambungan pipa diberi
dudukan dari beton untuk menghindari lendutan bila terkena beban mekanis.
Disekeliling pipa harus diisi dengan pasir dengan ketebalan15 cm kemudian diurug
dengan tanah & dipadatkan.
d. Untuk pipa yang tidak berada dalam tanah baik yang terikat maupun tidak, harus diberi
lapisan cat finish dengan warna ditentukan kemudian.
e. Pipa-pipa diharuskan ditest terhadap kebocoran. Pengetesan wajib diketahui dan
disetujui Pengawas lapangan.
f. Pengetesan yang gagal harus diulang dan biaya pengetesan serta peralatan yang
diperlukan ditanggung oleh Pemborong.
g. Instalasi pipa harus dilengkapi dengan penggantung pipa, support dengan jarak tertentu
dan memenuhi syarat, sebagaimana yang ditunjukkan dalam gambar.
h. Kedalaman pipa yang ditanam didalam tanah harus diperhitungkan terhadap jalur yang
memotong jalan. Pipa yang memotong jalan harus ditanam sampai suatu kedalaman
minimal 1.20 m dari permukaan jalan.

3.2. Pipa PVC


a. System sambungan yang dipakai adalah : Sambungan lem (perekat) untuk 80 mm (3”) ke
bawah.
b. Digunakan sambungan las PVC atau rubber ring joint (dengan ring dari karet).
c. Galian pipa-pipa dalam tanah harus dibuat dengan kedalaman dan kemiringan yang tepat.
d. Dasar lubang galian harus cukup stabil dan rata sehingga seluruh panjang pipa
terletak/tertumpu dengan baik.
e. Pipa yang ditanam dalam tanah harus diberi lapisan pasir kurang lebih 10 cm
disekelilingnya. Pasir adalah pasir urug yang bebas dari batu.
f. Selama pemasangan berkala, Kontraktor harus menutup setiap ujung pipa yang terbuka
untuk mencegah masuknya tanah, debu, kotoran dan lain-lain.
g. Semua sambungan/cabang dari pipa pembuangan air kotor (sanitair) harus dibuat dengan
cabang Y, pipa mendatar untuk air kotor dan air hujan mempunyai kemiringan minimal
2%.
h. Pipa-pipa pembuangan air hujan dari bangunan disambungkan ke saluran utama diluar
bangunan dengan bak kontrol (junction box) dari beton.
i. Sleeves untuk pipa-pipa harus dipasang dengan baik setiap kali pipa tersebut menembus
konstruksi beton.

58
RENCANA KERJA & SYARAT-SYARAT
(RKS)

j. Sleeves harus mempunyai ukuran yang cukup dengan ketebalan minimal 0,2 cm dam
memberikan kelonggaran kira-kira 1 cm pada masing-masing sisi diluar pipa ataupun
isolasinya.
k. Sleeves untuk dinding dibuat dari pipa baja.
l. Semua pipa harus diikatkan/ditetapkan dengan kuat pada penggantung atau angker yang
dipergunakan harus cukup kokoh (rigid).
m. Pipa-pipa tersebut harus ditumpu untuk menjaga agar tidak berubah tempatnya,
inklinasinya harus tetap, untuk mencegah timbulnya getaran, dan harus sedemikian
rupa sehingga masih memungkinkan konstruksi dan expansi pipa oleh perubahan
temperatur.
n. Pipa horizontal harus digantung dengan penggantung yang dapat diatur (adjustable)
dengan jarak antara tidak lebih dari 3 meter.
o. Kontraktor harus mengajukan konstruksi dari penggantungnya untuk disetujui oleh
Pengawas lapangan. Penggantung yang terbuat dari kawat, rantai, strap ataupun
perforated strip tidak boleh digunakan.
p. Penggantung atau penumpu pipa harus disekrupkan (terikat) pada konstruksi bangunan
dengan insert yang dipasang pada waktu pengecoran beton atau penembokan, atau
dengan baut tembok (Ramset Bolt).
q. Pipa vertikal harus ditumpu dengan klem (Clamp atau Collar) U-Bolt.
r. Penggantung/penumpu pipa dan peralatan-peralatan logam lainnya yang akan tertutup
oleh tembok atau bagian bangunan lainnya harus dilapisi terlebih dahulu dengan cat
menie atau cat penahan karat, jenis Zinc Chromate yang dilaksanakan dalam 2 bagian
(2 lapis).
3.1.1 Pengujian /Pengetesan
4.1. Pengujian Pipa GSP
Diuji dengan tekanan sebesar 1.5 kali tekanan kerja dan dibiarkan dalam kondisi ini selama
paling kurang 12 jam tanpa mengalami penurunan tekanan. Segala kerusakan akibat
pengetesan ini menjadi beban kontraktor.
4.2. Pengujian Pipa PVC
a. Seluruh sistem pembuangan air harus mempunyai lubang-lubang yang dapat ditutup
(plugged) agar seluruh sistem tersebut dapat diisi dengan air sampai lubang "pipa"
tertinggi.
b. Sistem tersebut harus dapat menahan air yang diisikan seperti tersebut diatas, minimal
selama 1 (satu) jam dan penurunan air selama waktu tersebut tidak lebih dari 5 cm.
c. Apabila dan pada waktu pengawas menginginkan pengujian lain disamping pengujian
diatas, Pemborong harus melakukannya dan menjadi tanggungan Kontraktor

C.2. Pekerjaan Plumbing


1. Lingkup Pekerjaan
1.1. Umum
Spesifikasi ini melingkupi kebutuhan untuk pelaksanaan pekerjaaan plambing, sebagaimana
yang ditunjukkan pada gambar rencana yang terdiri dari, tetapi tidak terbatas pada :
a. Pengadaan dan pemasangan, pompa-pompa air bersih
b. Pengadaan dan pemasangan instalasi Tower Tank.
c. Pengadaan dan Pemasangan seluruh instalasi air bersih dan air kotor dan bekas sesuai
gambar rencana dan spesifikasi.
d. Pengadaan dan pemasangan peralatan-peralatan bantu bagi seluruh peralatan plumbing.
e. Pengetesan dan pengujian dari seluruh instalasi plambing yang terpasang kecuali
sanitary.
f. Mengadakan masa pemeliharaan selama waktu yang ditentukan oleh pemberi tugas.
g. Pembuatan shop drawing bagi instalasi yang akan dipasang dan pembuatan as built
drawing bagi instalasi yang telah terpasang.
1.2 Koordinasi

59
RENCANA KERJA & SYARAT-SYARAT
(RKS)

a. Adalah tujuan dari spesifikasi ini, ataupun gambar rencana untuk menunjukkan secara
detail berbagai item pekerjaan dari peralatan-peralatan dan penyambungan-
penyambungannya. Kontraktor harus melengkapi dan memasang seluruh peralatan-
peralatan yang dibutuhkan untuk melengkapi pekerjaan.
b. Gambar-gambar rencana menunjukkan tata letak secara umum dari peralatan, pemipaan,
cabinet dan lain-lain. Kontraktor harus memodifikasi tata letak tersebut sebagaimana yang
dibutuhkan untuk mendapatkan pemasangan-pemasangan yang sempurna sesuai
dengan rencana pekerjaan Arsitek dari peralatan-peralatan tersebut.
c. Setiap pekerjaan yang disebutkan dalam spesifikasi ini, tapi tidak ditunjukkan dalam
gambar atau sebaliknya, harus dilengkapi dan dipasang seperti pekerjaan lain yang
disebut oleh spesifikasi dan ditunjukan dalam gambar.

1.3. Kualifikasi Pekerja


a. Untuk pemasangan dan pengetesan pekerjaan-pekerjaan ini harus dilakukan oleh
pekerja-pekerja dan supervisor yang benar-benar ahli dan berpengalaman. Tukang las
harus mempunyai Sertifikat.
b. Pengawas lapangan dapat menolak atau menunda pelaksanaan suatu pekerjaan, bila
dinilai bahwa pelaksana tersebut tidak terampil/tidak berpengalaman.
2. Persyaratan Bahan
Lihat bagian :
1) Bagian Pemipaan
2) Bagian Isolasi dan pengecatan
3) Bagian Pompa
4) Bagian Katub/Valves
3. Syarat – Syarat Pelaksanaan
3.1. Pengajuan-Pengajuan
Pada saat sebelum pelaksanaan pekerjaan, pemborong harus mengajukan :
a. Material list dari seluruh item peralatan yang akan dipasang.
b. Shop drawing yang menunjukkan secara detail pekerjaan-pekerjaan/ pemasangan
peralatan dan pemipaan, penyambungan dengan pekerjaan-pekerjaan lain atau
pekerjaan-pekerjaan yang sulit dilaksanakan. Ataupun perubahan-perubahan atau
modifikasi yang diusulkan terhadap gambar rencana.
c. Prosedur pemasangan yang dikeluarkan oleh pabrik (jika ada) dari peralatan-peralatan
yang akan dipasang.
d. Contoh-contoh material (brosur-brosur untuk peralatan-peralatan yang besar) dari
material/peralatan yang akan dipasang.
3.2. Review
Konsultan Konsultan Manajemen Konstruksi akan memeriksa (mereview) pengajuan-
pengajuan dari Pemborong dan memberi komentar atas hal tersebut.
Pemborong harus memodifikasi/merevisi pengajuannya sesuai dengan komentar, sampai
didapat persetujuan dari Konsultan Konsultan Manajemen Konstruksi.
3.3. Standard dan Code
Kecuali ditentukan lain dalam gambar rencana, maka pada pekerjaan ini berlaku peraturan-
peraturan sebagai berikut :
a. Peraturan Badan Pemadam Kebakaran.
b. Ketentuan Pencegahan dan Penanggulangan kebakaran pada Bangunan Gedung -
Departemen P.U.
c. Pedoman Plambing Indonesia.
3.4. Gambar Instalasi Terpasang dan Petunjuk Operasional
a. Apabila pekerjaan telah selesai dilaksanakan dan setelah serah terima pertama
Pemborong wajib menyerahkan gambar-gambar instalasi terpasang sebanyak 3 set
cetak biru dan 1 set transparant, serta 1 set CD.

60
RENCANA KERJA & SYARAT-SYARAT
(RKS)

b. Pemborong juga berkewajiban untuk menyerahkan 3 set petunjuk operasi dan


maintenance dari system yang dipasang dalam bentuk buku dan CD.
3.5. Bagian Yang berhubungan
Bagian yang berhubungan dengan pekerjaan ini adalah :
a. Bagian Pemipaan
b. Bagian Isolasi dan pengecatan
c. Bagian Pompa
d. Bagian Katub/Valves
3.6. System Air Bersih
a. Dari sumur pompa, air bersih ini dengan menggunakan pompa didistribusikan ke Tower
tank.
b. Selanjutnya dengan cara gravitasi, air bersih ini didistribusikan ke setiap unit Ruangan
pemakai.
3.7. System Air Bekas/Air Kotor
Pada dasarnya air buangan yang berasal dari toilet seperti dari floor drain, lavatory dipisah
dengan air kotor yang berasal dari WC dan urinoir.
3.8. System Air Hujan
a. Pada dasarnya air hujan dari atap bangunan disalurkan melalui pipa-pipa tegak
sampai ke bak kontrol yang ada dilantai dasar.
b. Dari bak kontrol ini, air hujan disalurkan ke saluran drainasi yang ada disekeliling
gedung untuk selanjutnya dialirkan ke lokasi pembuangan akhir/saluran kota.
3.9. Masa Garansi
a. Kontraktor bertanggung jawab atas pencegahan bahan/peralatan untuk instalasi ini
dari pencurian atau kerusakan. Bahan/peralatan yang hilang atau rusak harus diganti
oleh Pemborong tanpa biaya tambahan.
b. Kontraktor harus menggunakan tenaga-tenaga yang ahli dalam bidangnya (Skiller
Labour) agar dapat memberikan hasil kerja terbaik dan rapi. Sebelum suatu pipa
tertutup (oleh dinding, langit-langit dan lain-lain) harus diuji dan disetujui oleh
Konsultan Manajemen Konstruksi dan wakilnya yang ditunjuk.
c. Kontraktor harus memberikan garansi tertulis kepada Konsultan Manajemen
Konstruksi, bahwa seluruh instalasi penyediaan dan distribusi air bersih, instalasi
pemadam kebakaran, instalasi pembuangan air kotor akan bekerja dengan
memuaskan, dan bahwa Pemborong akan menanggung semua biaya atas kerusakan-
kerusakan/penggantian yang perlu selama jangka waktu satu tahun.

3.10. Training/Pelatihan
Kontraktor harus menyiapkan dan menyelenggarakan latihan bagi calon operator yang akan
mengoperasikan dan memelihara sistem air bersih, air kotor dan air hujan. Latihan dapat
dimulai sejak pelaksanaan pemasangan instalasinya, atas petunjuk dan persetujuan
Konsultan Manajemen Konstruksi, dengan biaya ditanggung kontraktor.

3.11. Buku Petunjuk ( Manual Book)


Pemborong wajib membuat dan menyerahkan kepada Konsultan Manajemen Konstruksi buku
petunjuk (manual), yang meliputi cara pengoperasian maupun cara pemeliharaan. Sistem
manual tersebut dibuat sebanyak 4 buku + 1 CD.

PIPA DAN VALVE


a. Pemipaan
Material Pipa yang digunakan Black Steel Pipe Sch. 40, atau ASTM A 53 dan harus diusahakan
semuanya berasal dari satu merk.
· Demikian juga untuk fitting digunakan Black Steel Pipe class 15 K, Weld Type.
b. Valve - valve
Working Pressure : 300 psi (15 bar)

61
RENCANA KERJA & SYARAT-SYARAT
(RKS)

Gate Valve :
Tipe bronze body, non rising stem, screwed bonnet, solid wedge disk, screwed end untuk valve
sampai dengan diameter 50 mm atau bisa digunakan tipe Butterfly untuk diameter 15 mm sampai
dengan diameter 25 mm.
Tipe flanged or lugged body, stainless steel disk, stainless steel shaft, hand wheel operated with
position indicator untuk valve lebih besar dari diameter 50 mm dengan body material cast iron untuk
tekanan 150 psi dan carbon steel untuk tekanan 300 psi.

Check Valve :
· Material bronze body, swing type, Y pattern, screwed cup, metal disk, screwed end untuk valve
sampai dengan diameter 50 mm.
· Swing silent type dengan stainless steel disk dengan body material cast iron untuk tekanan 300 psi
dan carbon steel untuk tekanan 300 psi.
· Khusus untuk pompa-pompa hydrophor digunakan dual plate wafer type check valve.

c. Tekanan Kerja Valve :


· Untuk keperluan fire fighting digunakan valve - valve dengan tekanan kerja minimum 300psi (15
bar).

BAB XVIII
PEKERJAAN LANDSCAPE /TAMAN

Paving Block

Finishing lantai ialah paving block dilakukan pada lantai Pedestrian seperti ditunjukan dalam Gambar
Bestek.
1. Ukuran paving block yang digunakan dia = sesuai gambar, warna dan dimensi pola sesuai dengan
Gambar Bestek.
2. Paving block yang dipasang diaplikasikan dengan ketebalan pasir urug minimal 100 mm.
3. Permukaan paving block harus rapi untuk mendapatkan hasil yang maksimum.
4. Saluran air hujan keliling bangunan, menggunakan dinding penahan saluran dari pasangan bata /batu
dengan campuran 1pc ; 3ps yang diplester dengan adukan
1pc ;3ps pada bagian yang permukaannya terlihat dan bagian bawah saluran menggunakan Grevel
dengan dimeter 30 cm, kemiringan saluran minimal 1% dengan arah kemiringin disesuaikan dengan
arahnya aliran air atau disesuaikan dengan gambar kerja.
5. Saluran air hujan dalam tapak menggunakan dinding penahan saluran dari pasangan batu kali dengan
campuran 1pc : 3ps bagian bawah saluran menggunakan rabat beton 1 pc ; 3 ps ; 5 kr dengan
ketebalan 5 cm dengan lebar dan kedalaman sesuai gambar.

Penanaman Rumput

62
RENCANA KERJA & SYARAT-SYARAT
(RKS)

1. Rumput yang digunakan pada pekerjaan ini adalah rumput swiss dan gajah mini.

2. Teknis pelaksanaan penanaman rumput dapat dilihat gambar bestek dan dalam pelaksanaan harus
melakukan konsultasi dengan konsultan supervisi
3. penyiraman dilakukan 2 (dua) kali sehari selama masa perawatan (30 hari) setelah dilakukan
penanaman.

BAB XIX
PEKERJAAN LAIN-LAIN

19.1 Hal-hal yang timbul pada pelaksanaan yang memerlukan penyelesaian di lapangan akan
diatur/dibicarakan dilapangan oleh konsultan pengawas dan kontraktor, bila diperlukan akan
dibicarakan dengan konsultan perencana
19.2 Sebelum penyerahan pertama,kontraktor wajib meneliti semua bagian pekerjaan yang belum
sempurna,dan harus segera diperbaiki,semua ruangan harus bersih, halaman harus ditata rapih
dan semua barang yang tidak berguna harus disingkirkan dari [Link] halaman ini
harus dilaksanakan sesuai petunjuk konsultan pengawas.
19.3 Meskipun telah ada pengawas dan unsure-unsur lainnya, semua penyimpangan dari ketentuan
gambar kerja dan bestek menjadi tanggung jawab Pelaksana, untuk itu Pelaksana/pemborong harus
menyelesaikan pekerjaan dengan sebaik mungkin

BAB XX
PENUTUP

63
RENCANA KERJA & SYARAT-SYARAT
(RKS)

20.1 Semua yang belum tercantum dalam peraturan ini (RKS) akan ditentukan kemudian dalam Rapat
Penjelasan (Aanwiijzing), dan akan dituangkan/dimuat dalam Berita Acara Rapat Penjelasan.
20.2 Sebelum penyerahan pertama, Kontraktor wajib meneliti semua bagian pekerjaan yang belum
sempurna, dan harus diperbaiki, semua ruangan harus bersih dipel, halaman harus ditata rapi dan
semua barang yang tidak berguna harus disingkirkan dari proyek
20.3 Hal-hal yang timbul pada pelaksanaan yang memerlukan penyelesaian di lapangan akan
dibicarakan dan diatur oleh Konsultan Pengawas/Direksi dan Kontraktor. Bila diperlukan akan
dibicarakan bersama konsultan perencana.
20.4 Selama pemeliharaan, pemborong wajib merawat, mengamankan dan memperbaiki segala cacat
yang timbul, sehingga sebelum penyerahan kedua dilaksanakan pekerjaan benar-benar telah
sempurna.

Diketahui /Disetujui, Dibuat oleh :


Kuasa Pengguna Anggaran PENGGUNA ANGGARAN
Badan Arsip dan Perpustakaan Aceh

TAUFIQ, SH
Didi Setiadi, [Link] NIP. 19660921 198502 1 002
NIP.1974 05 31 199903 1 003

64

Anda mungkin juga menyukai