TUGAS MATA KULIAH ANALISIS LAPORAN KEUANGAN SYARIAH
ANALISIS RASIO PADA LAPORAN KEUANGAN PT ANGKASA PURA I
OLEH :
1. Fithrotin Azizah Rahmah (041611433134)
2. Yanti Andiani (041611433136)
3. Nabila Rizky Maulida (041611433168)
4. Della Safira Radi Putri (041611433176)
5. Dhea Nanda Tri Ramadina (041611433190)
PROGRAM STUDI EKONOMI ISLAM
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS AIRLANGGA
2019
Analisis Rasio
Analisis Rasio Keuangan atau Financial Ratio adalah merupakan suatu alat analisa yang
digunakan oleh perusahaan untuk menilai kinerja keuangan berdasarkan data perbandingan
masing-masing pos yang terdapat di laporan keuangan seperti Laporan Neraca, Rugi / Laba, dan
Arus Kas dalam periode tertentu.
Rasio Likuiditas
𝐴𝑘𝑡𝑖𝑣𝑎 𝑙𝑎𝑛𝑐𝑎𝑟 𝐴𝑘𝑡𝑖𝑣𝑎 𝑙𝑎𝑛𝑐𝑎𝑟
Rasio Lancar 2016 = Rasio Lancar 2017 =
𝑈𝑡𝑎𝑛𝑔 𝑙𝑎𝑛𝑐𝑎𝑟 𝑈𝑡𝑎𝑛𝑔 𝑙𝑎𝑛𝑐𝑎𝑟
[Link] [Link]
Rasio lancer = = 0,3460707907 Rasio lancer = = 0,3078601133
[Link] [Link]
Jadi, dari data rasio lancer antara tahun 2016 dengan tahun 2017 mengalami
penurunan sebesar 0,0382106674 Di lihat dari hasil yang di dapatkan karena dari
tahun ke tahun semakin menurun, dapat di perkirakan bahwa, tidak dapat dengan
lancer dalam memenuhi utang yang harus di bayar pada saat jatuh tempo.
𝐴𝑘𝑡𝑖𝑣𝑎 𝑙𝑎𝑛𝑐𝑎𝑟−𝐼𝑛𝑣𝑒𝑠𝑡𝑎𝑠𝑖 𝐴𝑘𝑡𝑖𝑣𝑎 𝑙𝑎𝑛𝑐𝑎𝑟−𝐼𝑛𝑣𝑒𝑠𝑡𝑎𝑠𝑖
Rasio cepat 2016 = Rasio cepat 2017 =
𝑈𝑡𝑎𝑛𝑔 𝑙𝑎𝑛𝑐𝑎𝑟 𝑈𝑡𝑎𝑛𝑔 𝑙𝑎𝑛𝑐𝑎𝑟
[Link]− 96.129.584 [Link]− 86.642.338
Rasio cepat = = Rasio cepat = =
[Link] [Link]
0,3406033668 0,303336845
Jadi, dari data rasio cepat antara tahun 2016 dengan tahun 2017 mengalami
penurunan sebesar 0,0372665218. Dari nilai yang di hasilkan. Di ketahui bahwa
komponen inventory di anggap tidak dengan lancer dapat di gunakan untuk
memenuhi kewajiban yang segera jatuh tempo, hal ini di sebabkan karena hasil
yang di dapatkan tambah kecil dari tahun sebelumnya.
𝐾𝑎𝑠 𝐾𝑎𝑠
Rasio Kas 2016 = Rasio Kas 2017 =
𝑈𝑡𝑎𝑛𝑔 𝑙𝑎𝑛𝑐𝑎𝑟 𝑈𝑡𝑎𝑛𝑔 𝑙𝑎𝑛𝑐𝑎𝑟
[Link] [Link]
Rasio kas = = 0,278749669 Rasio kas = = 0,216451446
[Link] [Link]
Jadi, dari data rasio kas antara tahun 2016 dengan tahun 2017 memiliki selisih
sebesar 0,0671298223. Hal ini menunjukkan bahwa kas yang di miliki oleh
perusahaan tambah lama tambah sedikit yang di gunakan untuk memenuhi
kewajiban dalam jangka pendek.
𝑃𝑒𝑛𝑗𝑢𝑎𝑙𝑎𝑛 𝐵𝑒𝑟𝑠𝑖ℎ 𝑃𝑒𝑛𝑗𝑢𝑎𝑙𝑎𝑛 𝐵𝑒𝑟𝑠𝑖ℎ
Rasio perputaran kas 2016 = Rasio perputaran kas 2017 =
𝑀𝑜𝑑𝑎𝑙 𝐾𝑒𝑟𝑗𝑎 𝐵𝑒𝑟𝑠𝑖ℎ 𝑀𝑜𝑑𝑎𝑙 𝐾𝑒𝑟𝑗𝑎 𝐵𝑒𝑟𝑠𝑖ℎ
734.818 1.017.802
Rasio perputaran kas = = 0,0190704504 Rasio perputaran kas = =
385.318.759 419.961.137
0,0024235623
Jadi, dari data rasio perputaran kas antara tahun 2016 dengan tahun 2017 memiliki
selisih sebesar 0,01664688881. Dengan ini membuktikan bahwa nilai penjuaan
dari tahun 2016 sampai 2017 yang di peroleh untuk modal kerja yang di miliki
oleh perusahaan mengalami penurunan.
Rasio Solvabilitas
Rasio solvabilitas disebut juga Ratio leverage yaitu mengukur perbandingan dana yang
disediakan oleh pemiliknya dengan dana yang dipinjam dari kreditur perusahaan tersebut. Rasio
ini dimaksudkan untuk mengukur sampai seberapa jauh aktiva perusahaan dibiayai oleh utang.
Rasio solvabilitas terbagi menjadi beberapa bagian, yaitu:
1. Rasio Utang terhadap Aset (Debt Ratio to Assets)
Rasio ini mengukur seberapa banyak aktiva perusahaan yang dibiayai oleh utang
atau seberapa besar utang perusahaan berpengaruh terhadap pengelolaan aktiva, atau
mengukur persentase berapa besar dana yang berasal dari utang. Utang di sini adalah utang
perusahaan, baik utang jangka panjang maupun jangka pendek. Rasio ini menggambarkan
seberapa jauh utang dapat ditutupi oleh aktiva. Semakin rendah debit rasio, maka tingkat
keamanan dananya menjadi semakin baik. Rumus yang digunakan adalah
2. Rasio Utang terhadap Modal (Debt Ratio to Capital)
Rasio ini digunakan untuk mengetahui hubungan antara utang jangka panjang
dengan jumlah modal sendiri yang telah diberikan oleh pemilik perusahaan, dengan
maksud untuk mengetahui berapa jumlah dana yang disediakan kreditor dengan pemilik
perusahaan.
Jika semakin tinggi rasio, maka semakin kecil modal sendiri dibanding utangnya.
Seharusnya kebijakan perusahaan harus memiliki utang yang tidak lebih besar dari modal
yang dimiliknya. Karena semakin kecil rasio ini maka akan memperbaiki keadaan
perusahaan, artinya semakin kecil utang yang dimiliki maka semakin aman. Rumus yang
digunakan adalah:
Seperti halnya dengan perusahaan lainnya, PT Angkasa Pura I juga telah membuat
laporan tahunan yang menganut rasio solvabilitas didalamnya, berikut data terkait rasio
solvabilitas PT Angkasa Pura I:
Menurut data yang tersedia, perkembangan kondisi solvabilitas dari tahun 2016 sampai
dengan tahun 2017 mengalami peningkatan dan penurunan. Untuk rasio hutang terhadap aset di
tahun 2017 sebesar 46,51% mengalami penurunan sebesar 2,8%, untuk rasio hutang terhadap
modal di tahun 2017 sebesar 86,93% mengalami penurunan sebesar 10,34%, dan untuk rasio
hutang terhadap aset tetap di tahun 2017 sebesar 95,43% mengalami peningkatan sebesar 28,2%.
Walaupun adanya kenaikan tersebut namun secara keseluruhan Perseroan masih mampu untuk
memenuhi kewajibanya dengan aset yang dimiliki.
Berdasarkan hasil pengukuran rasio solvabilitas juga, kemampuan Perseroan dalam
melunasi seluruh utangnya di tahun 2017 meningkat dibandingkan tahun 2016, indikator tersebut
dilihat dari semakin turunnya rasio utang terhadap aset dan rasio utang terhadap modal.
Rasio Profitabilitas
Rasio Profitabilitas (Profitability Ratio) adalah rasio atau perbandingan untuk mengetahui
kemampuan perusahaan untuk mendapatkan laba (profit) dari pendapatan (earning) terkait
penjualan, aset, dan ekuitas berdasarkan dasar pengukuran tertentu. Jenis-jenis rasio profitabilitas
dipakai untuk memperlihatkan seberapa besar laba atau keuntungan yang diperoleh dari kinerja
suatu perusahaan yang memengaruhi catatan atas laporan keuangan yang harus sesuai dengan
standar akuntansi keuangan.
Rasio profitabilitas diperlukan untuk pencatatan transaksi keuangan biasanya dinilai oleh
investor dan kreditur (bank) untuk menilai jumlah laba investasi yang akan diperoleh oleh investor
dan besaran laba perusahaan untuk menilai kemampuan perusahaan membayar utang kepada
kreditur berdasarkan tingkat pemakaian aset dan sumber daya lainnya sehingga terlihat tingkat
efisiensi perusahaan.
Efektivitas dan efisiensi manajemen bisa dilihat dari laba yang dihasilkan terhadap
penjualan dan investasi perusahaan yang dilihat dari unsur unsur laporan keuangan. Semakin tinggi
nilai rasio maka kondisi perusahaan semakin baik berdasarkan rasio profitabilitas. Nilai yang
tinggi melambangkan tingkat laba dan efisiensi perusahaan tinggi yang bisa dilihat dari tingkat
pendapatan dan arus kas. Rasio-rasio profitabilitas memaparkan informasi yang pentingkan
daripada rasio periode sebelumnya dan rasio pencapaian pesaing.
Dengan demikian, analisis tren industri dibutuhkan untuk menarik kesimpulan yang
berguna tentang tingkat laba (profitabilitas) sebuah perusahaan. Rasio profitabilitas
mengungkapkan hasil akhir dari seluruh kebijakan keuangan dan keputusan operasional yang
dilakukan oleh manajemen suatu perusahaan di mana sistem pencatatan kas kecil juga
berpengaruh.
Jenis-jenis Rasio Profitabilitas:
1. Margin Laba Kotor (Gross Profit Margin)
Margin laba kotor merupakan rasio profitabilitas untuk menilai persentase laba kotor
terhadap pendapatan yang dihasilkan dari penjualan. Laba kotor yang dipengaruhi oleh
laporan arus kas memaparkan besaran laba yang didapatkan oleh perusahaan dengan
pertimbangan biaya yang terpakai untuk memproduksi produk atau jasa.
Margin Laba Kotor ini sering disebut juga dengan Gross Margin Ratio (Rasio
Marjin Kotor). Gross profit margin mengukur efisiensi perhitungan harga pokok atau biaya
produksi. Semakin besar gross profit margin semakin baik (efisien) kegiatan operasional
perusahaan yang menunjukkan harga pokok penjualan lebih rendah daripada penjualan
(sales) yang berguna untuk audit operasional. Jika sebaliknya, maka perusahaan kurang
baik dalam melakukan kegiatan operasional.
Rumus perhitungan laba kotor sebagai berikut:
2. Margin Laba Bersih (Net Profit Margin)
Net profit margin atau margin laba bersih merupakan rasio profitabilitas untuk
menilai persentase laba bersih yang didapat setelah dikurangi pajak terhadap pendapatan
yang diperoleh dari penjualan. Margin laba bersih ini disebut juga profit margin ratio. Rasio
ini mengukur laba bersih setelah pajak terhadap penjualan. Semakin tinggi Net profit
margin semakin baik operasi suatu perusahaan.
Net profit margin dihitung dengan rumus berikut ini:
3. Rasio Pengembalian Aset (Return on Assets Ratio)
Tingkat pengembalian aset merupakan rasio profitabilitas untuk menilai persentase
keuntungan (laba) yang diperoleh perusahaan terkait sumber daya atau total asset sehingga
efisiensi suatu perusahaan dalam mengelola asetnya bisa terlihat dari persentase rasio ini.
Rumus Rasio Pengembalian Aset sebagai berikut:
4. Return on Equity Ratio (Rasio Pengembalian Ekuitas)
Return on Equity Ratio (ROE) merupakan rasio profitabilitas untuk menilai
kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dari investasi pemegang saham
perusahaan tersebut yang dinyatakan dalam persentase. ROE dihitung dari penghasilan
(income) perusahaan terhadap modal yang diinvestasikan oleh para pemilik perusahaan
(pemegang saham biasa dan pemegang saham preferen). Return on equity menunjukkan
seberapa berhasil perusahaan mengelola modalnya (net worth), sehingga tingkat
keuntungan diukur dari investasi pemilik modal atau pemegang saham perusahaan. ROE
yaitu rentabilitas modal sendiri atau yang disebut rentabilitas usaha.
Rumus Return On Equity sebagai berikut:
Seperti halnya dengan perusahaan lainnya, PT Angkasa Pura I juga telah membuat
laporan tahunan dengan rasio profitabilitas untuk tahun 2016 dan 2017, berikut data yang
terkait rasio profitabilitas PT Angkasa Pura I:
Tahun 2016
a. Gross Profit Margin = (Laba kotor : Total pendapatan) x 100%
= ( 1.508.853 : 6.138.272) x 100%
= 0,245
b. Net Profit Margin = (Laba bersih setelah pajak : Penjualan)
= 1.159.577 : 6.138.272
= 0,188
c. ROA = Laba Bersih : Total Aset
= 1.159.577 : 23.666.946
= 0,048
d. ROE = Laba bersih setalah pajak : Ekuitas pemegang saham
= 1.159.577 : 6.414.412
= 0,180
Tahun 2017
a. Gross Profit Margin = (Laba kotor : Total pendapatan) x 100%
= ( 1.789.497 : 7.194.347) x 100%
= 0,248
b. Net Profit Margin = (Laba bersih setelah pajak : Penjualan)
= 1.420.353 : 7.194.347
= 0,197
c. ROA = Laba Bersih : Total Aset
= 1.420.353: 25.052.810
= 0,056
d. ROE = Laba bersih setalah pajak : Ekuitas pemegang saham
= 1.420.353 : 6.414.412
= 0,221
Tabel Rasio Profitabilitas:
Uraian 2016 2017 Perubahan
Margin Laba Kotor 0,245 0,248 (0,003)
(Gross Profit Margin)
Margin Laba Bersih 0.188 0,197 (0,009)
(Net Profit Margin)
Rasio Pengembalian Aset 0.048 0,056 (0,008)
(Return On Asset)
Rasio Pengembalian Ekuitas 0,180 0,221 (0.021)
(Return On Equity)
Menurut data yang tersedia, perkembangan kondisi profitabilitas dari tahun 2016 sampai
dengan tahun 2017 mengalami peningkatan. Untuk margin laba kotor di tahun 2016 sebesar 24,5%
mengalami peningkatan sebesar 0,3% di tahu 2017, untuk margin laba bersih di tahun 2016 sebesar
1,88% mengalami peningkatan sebesar 0.9% di tahun 2017, dan untuk rasio pengembalian aset di
tahun 2016 sebesar 4,8% mengalami peningkatan sebesar 0,8% di tahun 2017,dan untuk rasio
pengembalian ekuitas terhadap modal di tahun 2016 sebesar 18% mengalami peningkatan sebesar
0.21% di tahun 2017. Dengan adanya kenaikan tersebut perusahan semakin baik dalam melakukan
kegiatan operasionalnya.
Rasio Aktivitas
Rasio aktivitas adalah rasio yang mengukur seberapa efektif perusahaan dalam memanfaatkan
semua sumber daya yang ada padanya.
1. Total Assets Turn Over (Perputaran Aktiva)
Total assets turn over adalah perbandingan antara penjualan dengan total aktiva suatu
perusahaan yang menjelaskan tentang kecepatan perputaran total aktiva dalam satu periode
tertentu. Total assets turn over memaparkan bahwa tingkat efisiensi pemakaian aktiva perusahaan
secara keseluruhan dalam menghasilkan volume penjualan tertentu sesuai catatan atas laporan
keuangan.
Tahun 2016
Penjualan = 6138272
Total Aktiva 23666946
= 0,259360544
Tahun 2017
Penjualan = 7194347
Total Aktiva 25051810
= 0,287178731
Semakin besar rasio ini maka kondisi operasional perusahaan semakin baik. Maksudnya yaitu
perputaraan aktiva lebih cepat sehingga menghasilkan laba dan pemakaian keseluruhan aktiva dalam
menghasilkan penjualan semakin optimal. Dalam hal ini, penjualan pada PT Angkasa Pura 1 dilihat dari
akun pendapatan usaha. Dari tahun 2016 ke 2017 mengalami peningkatan sebesar 0.027 yang artinya
kondisi operasional perusahaan semakin baik.
2. Working Capital Turn Over (Rasio Perputaran Modal Kerja)
Rasio perputaran modal kerja adalah perbandingan antara penjualan dengan modal kerja
bersih suatu perusahaan. Nilai modal kerja bersih diperoleh dari aktiva lancar dikurangi utang
lancar. Rasio ini mengukur aktivitas bisnis yang dibandingkan dengan kelebihan aktiva lancar atas
kewajiban lancar sehingga banyaknya penjualan (dalam rupiah) yang diperoleh perusahaan untuk
setiap rupiah modal kerja dapat terlihat. Working capital turn over ini juga dikatakan sebagai
pengukuran kemampuan modal kerja (netto) dalam suatu periode siklus kas (cash cycle) pada suatu
perusahaan yang memengaruhi pencatatan transaksi keuangan.
Tahun 2016
Penjualan = 6138272
Aktiva Lancar - Utang Lancar 6084701 - 3871792
= 6138272
2212909
= 2,773847456
Tahun 2017
Penjualan = 7194347
Aktiva Lancar - Utang Lancar 5897001 - 4268030
= 7194347
1628971
= 4,4164979
Modal kerja dikatakan efektif berputar dalam perusahaan selama perusahaan yang
bersangkutan melakukan kegiatan operasional usaha. Periode perputaran modal kerja (working
capital turn over period) dimulai dari kas diinvestasikan dalam komponen-komponen modal kerja
hingga kembali menjadi kas. Semakin pendek periode tersebut berarti perputaran (turn over rate)
semakin cepat. Periode perputaran modal kerja tergantung durasi periode perputaran dari setiap
komponen modal kerja tersebut. Dari data di atas, dapat diketahui bahwa perputaran modal dari
tahun 2016 ke tahun 2017 mengalami penurunan kecepatan perputaran.
3. Rasio Perputaran Aktiva Tetap (Fixed Assets Turnover)
Rasio perputaran akltiva tetap adalah perbandingan antara penjualan dengan aktiva tetap yang
dimiliki suatu perusahaan. Fixed assets turn over ratio ini mengukur efektivitas pemakaian dana
yang tertanam pada harta (aktiva) tetap seperti pabrik dan peralatan untuk menghasilkan penjualan
yang dihasilkan oleh setiap rupiah yang diinvestasikan pada aktiva tetap tersebut.
Tahun 2016
Penjualan = 6138272
Aktiva Tetap 17582245
= 0,349117647
Tahun 2017
Penjualan = 7194347
Aktiva Tetap 19154808
= 0,375589617
Rasio ini berfungsi untuk mengevaluasi kemampuan perusahaan dalam memanfaatkan
aktivanya secara efektif sehingga pendapatan meningkat yang dicatat sesuai jenis jenis laporan
keuangan. Jika perputarannya lambat (rendah), maka kapasitas akan terlalu besar atau ketersediaan
aktiva tetap banyak sehingga kurang bermanfaat. Kemungkinan lain yang terjadi yaitu investasi
pada aktiva tetap biasanya berlebihan daripada nilai output yang diperoleh. Semakin tinggi rasio
ini maka pemakaian aktiva tetap semakin efektif. Dari perhitungan diatas, dapat diketahui bahwa
rasio ini mengalami peningkatan perputaran dari 0,35 ke 0,37 sehingga dapat dikatakan
ketersediaan aktiva tetap dimanfaatkan dengan cukup optimal.
4. Rasio Perputaran Persediaan (Inventory Turnover)
Rasio perputaran persediaan ini mengukur efisiensi pemakaian persediaan barang dagang
pada perusahaan sehingga kinerja manajemen dalam mengontrol modal yang ada pada persediaan
bisa terlihat baik atau kurang baiknya.
Tahun 2016
Penjualan = 6138272
Persediaan 40617
= 151,1256863
Tahun 2017
Penjualan = 7194347
Persediaan 68668
= 104,7700093
Pada perhitungan diatas, diketahui rasio ini mengalami penurunan dari 151 ke 104
sedangkan semakin tinggi rasio perputarannya semakin efisien perusahaan tersebut dalam
mengendalikan persediaannya. Rasio perputaran yang tinggi menandakan perusahaan yang
bersangkutan tidak mengeluarkan biaya yang terlalu banyak untuk membeli barang dagangannya
dan dapat menghindari pemborosan-pemborosan pada sumber daya perusahaanya apabila
persediaan tersebut tidak terjual sesuai dengan harapan. Dapat disimpulkan bahwa perputaran
persediaan PT Angkasa Pura 1 pada tahun 2017 kurang efektif dibanding tahun 2016.
5. Rata-Rata Umur Piutang
Rasio rata-rata umur piutang adalah pengukuran efisiensi manajemen piutang perusahaan dan
durasi (waktu) yang diperlukan untuk melunasi piutang atau mengubah piutang menjadi kas. Rasio
ini dihitung dengan membandingkan jumlah piutang dengan penjualan per hari yaitu penjualan
dibagi 360 atau 365 hari.
Tahun 2016
Piutang x 365 = 482770 x 365
Penjualan 6138272
= 176211050
6138272
= 28,70694717
Tahun 2017
Piutang x 365 = 520295 x 365
Penjualan 7194347
= 189907675
7194347
= 26,39679112
Dari perhitungan tersebut, dapat diketahui bahwa manajemen piutang PT Angkasa Pura 1
membaik dari tahun 2016 ke tahun 2017 seiring dengan menurunnya waktu yang diperlukan untuk
mengubah piutang menjadi kas yaitu dari 28 hari ke 26 hari.
Rasio Pertumbuhan
Raso pertumbuhan (growth ratio) merupakan rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan
dalam mempertahankan posisi ekonominya di tengah pertumbuhan perekonomian dan sektor
usahanya. Dalam rasio pertumbuhan yang dianalisis adalah pertumbuhan penjualan, laba bersih,,
pendapatan per saham, dan dividen.
a. Pertumbuhan Aset
𝑻𝒐𝒕𝒂𝒍 𝑨𝒔𝒆𝒕 𝟐𝟎𝟏𝟕−𝑻𝒐𝒕𝒂𝒍 𝑨𝒔𝒆𝒕 𝟐𝟎𝟏𝟔
Pertumbuhan Aset = 𝑻𝒐𝒕𝒂𝒍 𝑨𝒔𝒆𝒕 𝟐𝟎𝟏𝟔
𝟐𝟓,𝟎𝟓𝟏,𝟖𝟏𝟎−𝟐𝟑,𝟔𝟔𝟔,𝟗𝟒𝟔
= = 0.06 = 6%
𝟐𝟑,𝟔𝟔𝟔,𝟗𝟒𝟔
Pertumbuhan Aset pada PT Angkasa Pura I yang terjadi pada tahun 2017 adalah 6 %,
sehingga dapat dilihat dari Tahun 2016 ke Tahun 2017 mengalami kenaikan.
b. Pertumbuhan Penjualan
𝑷𝒆𝒏𝒋𝒖𝒂𝒍𝒂𝒏 𝟐𝟎𝟏𝟕−𝑷𝒆𝒏𝒋𝒖𝒂𝒍𝒂𝒏 𝟐𝟎𝟏𝟔
Pertumbuhan Penjualan = 𝑷𝒆𝒏𝒋𝒖𝒂𝒍𝒂𝒏 𝟐𝟎𝟏𝟔
𝟕,𝟏𝟗𝟒,𝟑𝟒𝟕−𝟔,𝟏𝟑𝟖,𝟐𝟕𝟐
= = 0.172 = 17.20%
𝟔,𝟏𝟑𝟖,𝟐𝟕𝟐
Pertumbuhan Penjualan pada PT Angkasa Pura I yang terjadi pada Tahun 2017 adalah
17.20%, sehingga dapat dilihat dari Tahun 2016 ke Tahun 2017 mengalami kenaikan.
c. Pertumbuhan Laba bersih per Saham
𝐋𝐚𝐛𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐬𝐢𝐡 𝐩𝐞𝐫 𝐒𝐚𝐡𝐚𝐦 𝟐𝟎𝟏𝟕− 𝐋𝐚𝐛𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐬𝐢𝐡 𝐩𝐞𝐫 𝐒𝐚𝐡𝐚𝐦 𝟐𝟎𝟏𝟔
PertumbuhanLababersih per Saham = 𝐋𝐚𝐛𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐬𝐢𝐡 𝐩𝐞𝐫 𝐒𝐚𝐡𝐚𝐦 𝟐𝟎𝟏𝟔
𝟐𝟐𝟏.𝟒𝟑−𝟏𝟖𝟎.𝟕𝟖
= = 0.2249 = 22.49%
𝟏𝟖𝟎.𝟕𝟖
Pertumbuhan Laba bersih per saham pada PT Angkasa Pura I yang terjadi pada Tahun 2017
adalah 22.49%, sehingga dapat dilihat dari Tahun 2016 ke Tahun 2017 mengalami
kenaikan.
d. Pertumbuhan Dividen
𝐃𝐢𝐯𝐢𝐝𝐞𝐧 𝟐𝟎𝟏𝟕−𝐃𝐢𝐯𝐢𝐝𝐞𝐧 𝟐𝟎𝟏𝟔
Pertumbuhan Dividen = 𝑫𝒊𝒗𝒊𝒅𝒆𝒏 𝟐𝟎𝟏𝟔
𝟏𝟔𝟒,𝟒𝟐𝟑,𝟕𝟒𝟔−𝟏𝟔𝟖,𝟑𝟎𝟖,𝟓𝟎𝟎
= = - 0.0231 = 2.31%
𝟏𝟔𝟖,𝟑𝟎𝟖,𝟓𝟎𝟎
Pertumbuhan Penjualan pada PT Angkasa Pura I yang terjadi pada Tahun 2017 adalah
2.31%, sehingga dapat dilihat dari Tahun 2016 ke Tahun 2017 mengalami penurunan.
Rasio Penilaian
Rasio penilaian (valuation ratio), yaitu rasio yang memberikan ukuran kemampuan manajemen
menciptakan nilai pasar usahanya di atas biaya investasi seperti Rasio harga saham terhadap
pendapatan, Rasio nilai pasar saham terhadap nilai buku.
a. Price Earnings Ratio
𝐻𝑎𝑟𝑔𝑎 𝑝𝑒𝑟 𝑆𝑎ℎ𝑎𝑚
PER 2017=
𝐿𝑎𝑏𝑎 𝑝𝑒𝑟 𝑆𝑎ℎ𝑎𝑚
1,000,000
= = 4,516.1
221.43
𝐻𝑎𝑟𝑔𝑎 𝑝𝑒𝑟 𝑆𝑎ℎ𝑎𝑚 1,000,000
PER 2016 = = = 5,531.6
𝐿𝑎𝑏𝑎 𝑝𝑒𝑟 𝑆𝑎ℎ𝑎𝑚 180.78
Terjadi penurunan Price Earning Ratio dari Tahun 2016 ke Tahun 2017 sebanyak 18.36%
{((4,516.1-5,531.6):5,531.6)x100%}
Sehingga menunjukkan nilai perusahaan turun di Tahun 2017 karena rasio ini
menunjukkan semakin tinggi nilai rasio ini maka, semakin nilai perusahaan tersebut.
b. Nilai Buku
𝐸𝑘𝑢𝑖𝑡𝑎𝑠 𝐵𝑖𝑎𝑠𝑎
Nilai Buku per Saham 2017 = 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑆𝑎ℎ𝑎𝑚 𝐵𝑒𝑟𝑒𝑑𝑎𝑟
13,401,461
= = 2.09
6,414,412
𝐸𝑘𝑢𝑖𝑡𝑎𝑠 𝐵𝑖𝑎𝑠𝑎
Nilai Buku per Saham 2016 = 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑆𝑎ℎ𝑎𝑚 𝐵𝑒𝑟𝑒𝑑𝑎𝑟
11,997,497
= = 1.87
6,414,412
Terjadi kenaikan Nilai Buku dari Tahun 2016 ke Tahun 2017 sebanyak 11.76% {((2.09-
1.87):1.87)x100%}
Sehingga menunjukkan nilai perusahaan naik di Tahun 2017 karena rasio ini menunjukkan
semakin tinggi nilai rasio ini maka, semakin nilai perusahaan tersebut.
c. Dividend Per Share (DPS)
𝐷𝑖𝑣𝑖𝑑𝑒𝑛 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙
DPS 2017= 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑆𝑎ℎ𝑎𝑚 𝐵𝑒𝑟𝑒𝑑𝑎𝑟
𝟏𝟔𝟒,𝟒𝟐𝟑,𝟕𝟒𝟔
= = 25.63
6,414,412
𝐷𝑖𝑣𝑖𝑑𝑒𝑛 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙
DPS 2016= 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑆𝑎ℎ𝑎𝑚 𝐵𝑒𝑟𝑒𝑑𝑎𝑟
𝟏𝟔𝟖,𝟑𝟎𝟖,𝟓𝟎𝟎
= = 26.24
6,414,412
Terjadi penurunan Dividend Per Share dari Tahun 2016 ke Tahun 2017 sebanyak 2.32%
{((25.63-26.24):26.24)x100%}
Sehingga menunjukkan nilai perusahaan turun di Tahun 2017 karena rasio ini
menunjukkan semakin tinggi nilai rasio ini maka, semakin nilai perusahaan tersebut.
d. Dividend Payout Ratio
DPR 2017 = DPS / EPS
= 25.63 / 221.43 = 0.116
DPR 2016 = DPS / EPS
= 26.24 / 180.78 = 0.145
Terjadi penurunan Dividend Payout Ratio dari Tahun 2016 ke Tahun 2017 sebanyak 20%
{((0.116-0.145):0.145)x100%}
Sehingga menunjukkan nilai perusahaan turun di Tahun 2017 karena rasio ini
menunjukkan semakin tinggi nilai rasio ini maka, semakin nilai perusahaan tersebut.
e. Dividend Yield
DY 2017= DPS / Harga Saham Per Lembar
= 25.63 / 1.000.000 = 0.00002563
DY 2017= DPS / Harga Saham Per Lembar
= 26.24 / 1.000.000 = 0.00002624
Terjadi penurunan Dividend Yield dari Tahun 2016 ke Tahun 2017 sebanyak 2.32%
{((0.00002563-0.00002624):0.00002624)x100%}
Sehingga menunjukkan nilai perusahaan turun di Tahun 2017 karena rasio ini
menunjukkan semakin tinggi nilai rasio ini maka, semakin nilai perusahaan tersebut.