Konstruksi dan Prinsip Generator Sinkron
Konstruksi dan Prinsip Generator Sinkron
2.1 Umum
Oleh sebab itu generator sinkron memegang peranan penting dalam sebuah pusat
bahwa rotor generator sinkron yang terdiri dari belitan medan dengan suplai arus
searah akan menghasilkan medan magnet yang diputar dengan kecepatan yang
sama dengan kecepatan putar rotor. Dikatakan generator sinkron karena jumlah
putaran rotornya sama dengan jumlah putaran medan magnet (medan putar) pada
stator. Kecepatan sinkron ini dihasilkan dari kecepatan putar rotor dengan kutub-
kutub magnet yang berputar dengan kecepatan yang sama dengan medan putar
pada stator. Mesin sinkron tidak dapat start sendiri karena kutub-kutub yang berat
dan tidak dapat tiba-tiba mengikuti kecepatan medan putar pada waktu saklar
terhubung dengan jala-jala oleh sebab itu diperlukan suatu alat bantu start (prime
mover) . Ada dua jenis generator sinkron, yaitu generator sinkron 1 fasa dan
Secara umum, konstruksi generator sinkron terdiri dari stator (bagian yang diam)
dan rotor (bagian yang bergerak). Keduanya merupakan rangkaian magnetik yang
berbentuk simetris dan silindris yang berkaitan. Selain itu generator sinkron
memiliki celah udara ruang antara stator dan rotor yang berfungsi sebagai tempat
berputarnya rotor dan tempat terjadinya fluksi atau induksi energi listrik dari rotor
ke stator.
Pada Gambar 2.1 dapat dilihat konstruksi dari sebuah generator sinkron
secara umum :
A. Rotor
magnet yang menghasilkan tegangan dan akan di induksikan ke stator. Pada rotor
terdapat kutub-kutub magnet dengan lilitannya yang dialiri arus searah, melewati
cincin geser dan sikat. Generator sinkron memiliki dua tipe rotor, yaitu :
2.) Rotor yang berbentuk kutub dengan celah udara sama rata (cylindrical)
kumparan medannya terdiri dari bilah tembaga persegi. Kutub menonjol ditandai
Selain itu jenis kutub salient pole, kutub magnetnya menonjol keluar dari
permukaan rotor. Belitan-belitan medan dihubung seri. Ketika belitan medan ini
disuplai oleh eksiter, maka kutub yang berdekatan akan membentuk kutub yang
berlawanan. Bentuk kutub menonjol generator sinkron tampak seperti Gambar 2.2
berikut :
kecepatan putaran rendah dan sedang (120-400 rpm). Generator sinkron tipe
seperti ini biasanya dikopel oleh mesin diesel atau turbin air pada sistem
pembangkit listrik. Rotor kutub menonjol baik digunakan untuk putaran rendah
b. Kutub menonjol akan mengalami rugi-rugi yang besar dan bersuara bising
2. Rotor kutub tak menonjol dengan celah udara sama rata (Rotor Silinder)
Rotor tipe ini dibuat dari plat baja berbentuk silinder yang mempunyai
sejumlah slot sebagai tempat kumparan. Karena adanya slot-slot dan juga
kumparan medan yang terletak pada rotor maka jumlah kutub pun sedikit yang
dapat dibuat. Belitan-belitan medan dipasang pada alur-alur di sisi luarnya dan
terhubung seri yang dienerjais oleh eksiter. Rotor yang umumnya berdiameter
kecil dengan sumbu yang panjang. Dengan begitu kontruksi rotor ini memberikan
keseimbangan mekanis yang lebih baik karena rugi-rugi anginya lebih kecil.
Gambar bentuk kutub silinder generator sinkron tampak seperti pada Gambar 2.3
berikut:
a. Slip Ring
Slip ring merupakan cincin logam yang melingkari poros rotor tetapi
dipisahkan oleh isolasi tertentu. Dibuat dari bahan kuningan atau tembaga yang
dipasang pada poros dengan memakai bahan isolasi. Terminal kumparan rotor
dipasangkan ke-slip ring ini kemudian dihubungkan kesumber arus searah melalui
b. Sikat
Sebagaian dari generator sinkron ada yang memiliki sikat ada juga yang
tidak memiliki sikat. Sikat pada generator sinkron berfungsi sebagai saklar putar
dalam menghasilkan medan magnet. Kumparan ini mendapat arus searah dari
10
poros tersebut telah terbentuk slot-slot secara paralel terhadap poros rotor.
B. Stator
Stator ialah bagian generator yang diam dan berfungsi sebagai tempat
untuk menerima induksi magnet dari rotor. Arus bolak-balik (AC) yang menuju
silinder dengan lilitan kawat konduktor yang sangat banyak. Armatur selalu diam
(tidak bergerak). Oleh karena itu, komponen ini juga disebut dengan stator. Lilitan
armatur generator dalam wye dan titik netral dihubungkan ke tanah. Lilitan dalam
Stator dari mesin sinkron terbuat dari bahan ferromagnetik yang berbentuk
dan di laminasi untuk mengurangi rugi-rugi arus pusar. Dengan inti ferromagnetik
yang bagus berarti permeabilitas dan resistivitas dari bahan tinggi. Pada Gambar
11
a. Rangka stator
generator.
b. Inti Stator
Inti stator terbuat dari laminasi-laminasi baja campuran atau besi magnetic khusus
Alur dan gigi merupakan tempat meletakkan kumparan stator. Ada 3 (tiga)
bentuk alur stator yaitu terbuka, setengah terbuka, dan tertutup seperti pada
12
adalah tetap.
2. Unit penggerak mula (Prime Mover) yang sudah terkopel dengan rotor
f = frekuensi (Hz)
dihasilkan oleh kumparan medan. Medan putar yang dihasilkan pada rotor,
jangkar yang terletak di stator akan dihasilkan fluks magnetik yang berubah-
13
…….. (2.3)
….. (2.4)
………………… (2.5)
…. (2.6)
…………………….. (2.7)
……… (2.8)
… (2.9)
….. (2.10)
…….. (2.11)
…………. …(2.12)
………………(2.13)
14
listrik. [2]
terminal generator maka pada belitan stator akan mengalir arus, sehigga timbul
medan magnet pada belitan stator yang akan berinteraksi dengan medan rotor.
Medan magnet ini akan mendistorsi medan magnet yang dihasilkan belitan rotor
sehingga menghasilkan fluks resultan. Seperti yang dijelaskan pada Gambar 2.6 :
15
tegangan induksi E . Bila generator melayani beban dengan induktif, maka arus
a
pada stator akan tertinggal seperti pada Gambar 2.6.b. Arus stator tadi akan
Gambar 2.6.c. Vektor penjumlahan antara BS dan BR akan menjadi Bnet dan
terhadap tegangan jangkar. Arus pada belitan stator akan menghasilkan medan
V t = Ea + Estat .............................................................(2.14)
16
V = E -jXI .................................................................(2.15)
t a a
sinkron juga karena adanya tahanan R dan Induktansi belitan stator X ,dan
a a,
V = E -jX I - I R ..........................................................(2.17)
t a s a aa
Dimana:
Xs = Reaktansi Sinkron
Ia = Arus Jangkar
sistem eksitasi terdiri dari dua sistem yaitu sistem eksitasi dengan menggunakan
(brushless).
17
generator arus searah berkapasitas kecil yang disebut eksiter. Generator sinkron dan
generator arus serah tersebut terkopel dalam satu poros, sehingga putaran generator
Tegangan yang dihasilkan oleh generator arus searah ini diberikan kebelitan
rotor generator sinkron melalui sikat karbon dan slip ring. Akibatnya arus searah
mengalir ke dalam rotor atau kumparan medan dan menimbulkan medan magnet
Pada generator konvensional ini ada beberapa kerugian yaitu generator arus
searah merupakan beban tambahan untuk penggerak mula. Penggunaan slip ring
dan sikat menimbulkan masalah ketika digunakan untuk mensuplai sumber arus
searah padabelitan medan generator sinkron. Terdapat sikat arang yang menekan
slip ring sehingga timbul rugi gesekan pada generator utamanya. Selain itu pada
generator arus searah juga terdapat sikat karbon yang menekan komutator. Selama
pemakaian slip ring dan sikat harus diperiksa secara teratur, generator arus searah
juga memiliki keandalan yang rendah. Karena hal-hal seperti diatas dipikirkan
hubungan lain dan dikenal apa yang dikenal sebagai generator sinkron static exciter
(penguat statis). Gambar 2.7 adalah sistem eksitasi yang menggunakan generator
arus searah.
18
(static), artinya peralatan eksitasi tidak ikut berputar bersama dengan rotor
generator sinkron. Sistem eksitasi statis (static excitation sistem) atau disebut juga
pada sistem eksitasi statis berasal dari tegangan output generator itu sendiri yang
Pada mulanya pada rotor ada sedikit magnet sisa, magnet sisa ini akan
penyearah dan dimasukkan kembali pada rotor akibatnya medan magnet yang
dihasilkan makin besar dan tegangan AC naik demikian seterusnya sampai dicapai
19
sistem eksitasi statis memang sudah jauh lebih baik yaitu tidak ada generator arus
searah (yang keandalannya rendah) dan beban generator arus searah pada
penggerak mula hilang. Eksiter diganti dengan eksiter yang tidak berputar yaitu
penyearah karena itu disebut eksiter statis. Gambar 2.8 berikut adalah sistem
eksitasi statis.
Untuk keperluan eksitasi awal pada generator sinkron, maka sistem eksitasi statis
dilengkapi dengan field flashing. Hal ini dibutuhkan karena generator sinkron
tidak memiliki sumber arus dan tegangan sendiri untuk mensuplai kumparan
medan. Penggunaan slip ring dan sikat pada eksitasi ini menyebabkan sistem
20
suplai arus searah kebelitan medan dilakukan tanpa melalui sikat. Arus searah
untuk suplai eksitasi untuk awal start generator digunakan suplai dari baterai,
yang sering dinamakan penguat mula, dimana arus ini selanjutnya disalurkan ke
rectifier, yang diletakkan pada bagian poros ataupun pada bagian dalam dari rotor
generator sinkron, sehingga rotating rectifier tersebut ikut berputar sesuai dengan
Dari Gambar 2.9 diatas, untuk menghindari adanya kontak geser pada
21
karena dioda penyearah ditempatkan pada bagian poros yang dimiliki bersama-
sama oleh rotor generator utama dan penguat medannya. Arus medan pada
generator utama dikontrol oleh arus yang mengalir pada kumparan medan penguat
(eksiter).
magnet ini dapat dihasilkan dari belitan rotor yang disuplai dengan sumber listrik
arus searah. Cara lain untuk menghasilkan medan magnet pada rotor adalah
eksitasi brushless yang dilengkapi dengan permanen magnet generator. Hal ini
dimaksudkan agar sistem eksitasi dari generator sama sekali tidak tergantung pada
sumber daya listrik dari luar mesin itu. Pada Gambar 2.10 dapat dilihat bentuk
22
Dari Gambar 2.17, bahwa pada bagian mesin yang berputar (rotor)
slip ring dan sikat dalam pengoperasiannya sehingga lebih efektif dan efisiensi.
[9]
Stator terdiri dari belitan-belitan. Suatu belitan konduktor akan terdiri dari
tahanan R dan induktansi X maka rangkaian ekivalen suatu generator sinkron dapat
a Ia
23
persamaan (2.18).
E = V + jX I + jX I + R I ……….................................................(2.18)
a ar a La a a a
Dan persamaan terminal generator sinkron dapat ditulis pada persamaan (2.19)
Vt = E – jX I – jX I – R I ..............................................................(2.19)
a ar a La a a a
Dengan menyatakan reaktansi reaksi jangkar dan reaktansi fluks bocor sebagai
Vt = E – jX I – R I [Volt]…..….........................................................(2.20)
a sa aa
Dimana:
24
berikut:
Sementara itu, rangkaian ekivalen generator sinkron tiga fasa untuk tiap jenis
Gambar 2.14 Rangkaian ekivalen belitan stator generator sinkron 3 fasa (a).
25
Ada dua jenis belitan stator yang banyak digunakan untuk generator sinkron 3
phasa, yaitu:
Gambar 2.15 memperlihatkan belitan satu lapis karena hanya ada satu sisi
lilitan di dalam masing - masing alur. Bila kumparan tiga phasa dimulai pada Sa,
Sb, dan Sc dan berakhir di Fa, Fb, dan Fc bisa disatukan dalam dua cara, yaitu
hubungan bintang dan segitiga. Antar kumparan phasa dipisahkan sebesar 120
derajat listrik atau 60 derajat mekanik, satu siklus ggl penuh akan dihasilkan bila
rotor dengan 4 kutub berputar 180 derajat mekanis. Satu siklus ggl penuh
26
mempunyai satu lilitan per kutub per phasa, akibatnya masing – masing kumparan
hanya dua lilitan secara seri. Bila alur-alur tidak terlalu lebar, masing-masing
penghantar yang berada dalam alur akan membangkitkan tegangan yang sama.
Masing – masing tegangan phasa akan sama untuk menghasilkan tegangan per
Dalam kenyataannya cara seperti ini tidak menghasilkan cara yang efektif dalam
penggunaan inti stator, karena variasi kerapatan fluks dalam inti dan juga
melokalisir pengaruh panas dalam daerah alur dan menimbulkan harmonik. Untuk
dalam beberapa alur per kutub per phasa. Gambar 2.16 memperlihatkan bagian
dari sebuah kumparan jangkar yang secara umum banyak digunakan. [5]
27
oleh turbin hidrolik kecepatan rendah sedangkan cylindrical rotor digerakkan oleh
turbin uap berkecepatan tinggi. Bentuk rotor yang terdapat pada generator sinkron
ditentukan dengan melakukan test beban nol (open circuit) yang memiliki
28
c.) Arus medan (If) dinaikkan dari nol hingga maksimum secara bertahap
d.) Catat harga tegangan terminal (Vt) pada setiap harga arus medan (If)
Dari Gambar dapat diperoleh persamaan umum generator pada persamaan (2.21).
E = V + I (R + jX ).......................................(2.21)
0 t a a s
persamaan (2.22).
E0 = Vt = …......................................…..(2.22)
Karena tidak ada beban yang terpasang, maka yang dihasilkan hanya f.
E0 = f
.........................................................(2.23)
E0 = [Link].......................................................... (2.25)
29
Xs = Reaktansi Sinkron
Pengujian beban nol terkait dengan karakteristik beban nol yaitu hubungan
antara tegangan induksi Ea dengan arus penguat /eksitasi If . pada pengujian beban
nol, rotor generator diputar pada kecepatan nominal dan terminal jangkar dalam
keadaan terbuka. Arus medan If diatur bertahap nol hingga diperoleh harga
tegangan induksi Ea. bersekitar kurang lebih 125% dari tegangan nominal
generator. Pada kondisi ini arus jangkar Ia = 0 dan tegangan induksi Ea = Vt.
Dari Gambar 2.19 di atas terlihat bahwa pada awalnya kurva berbentuk
hampir benar-benar linear. Hingga pada harga-harga arus medan yang tinggi,
30
mesin sinkron memiliki reluktansi beberapa ratus kali lebih rendah daripada
reluktansi air gap. Sehingga pertama-tama hampir seluruh MMF melewati celah
udara dan peningkatan fluksi yang terjadi linear. Ketika inti besi mengalami
saturasi, reluktansi besi meningkat secara drastis dan fluksi meningkat lebih
lambat dengan peningkatan nilai MMF. Bentuk linear dari grafik OCC disebut
dihubung singkat terdapat beberapa langkah yang harus dilakukan antara lain :
d.) Ukur arus armatur (I ) pada setiap peningkatan arus medan (If)
a
Dimana, rangkaian test hubung singkat pada generator sinkron akan diperlihatkan
31
persamaan (2.26)
Ea = V + I (R + jX )............................................ (2.26)
t a a s
E
a = I (R + jX ) ......................................... (2.27)
sc a s
Cn = I (R + jX )....................................... (2.28)
sc a s
persamaan (2.29)
Cn = k ........................................................... (2.29)
1
(R + jX ) = k .............................................. (2.30)
a s 2
.......................................................... (2.34)
hubungan antara arus jangkar Ia dengan arus penguat/eksitasi If. Pada pengujian
hubung singkat mula-mula arus medan dibuat menjadi nol dan terminal jangkar
dihubung singkat. Lalu arus jangkar diperbesar dengan menaikkan secara bertahap
32
disebabkan oleh medan magnet yang terjadi sangat kecil sehingga inti besi tidak
........................... (2.35)
.................................(2.36)
Dimana:
33
c.) Arus medan (I ) dinaikkan dari nol hingga maksimum secara bertahap
f
d.) Catat tegangan terminal (V ) pada setiap peningkatan arus medan (I ) yang
t f
Dari Gambar 2.22 diperoleh persamaan umum generator sinkron berbeban pada
persamaan (2.37)
E = V + I (R + jX )........................ (2.37)
a t a a s
V = E - I (R + jX ) ........................ (2.38)
t a a a s
Dimana :
Ea = Tegangan Induksi
34
terjadinya reaksi jangkar. Reaksi jangkar bersifat reaktif karna itu dinyatakan
sebagai reaktansi, dan disebut reaktansi magnetisasi (Xm). reaktansi ini bersama-
sama dengan reaktansi fluks bocor (Xa) yang dikenal dengan reaktansi sinkron
antara tegangan terminal (Vt) dan arus medan (Ia) dimana beban generator tetap,
35
Seiring perubahan beban maka akan mengalir arus beban (Ia) yg berubah-ubah
sesuai dengan perubahan beban. Yang berpengaruh pada tahanan (Ra) dan
reaktansi sinkron (Xs) atau yang disebut dengan impedansi sinkron (Zs). arus
beban akan merubah harga tegangan induksi jangkar (Ea) sesuai dengan
tegangan terminal agar tetap stabil seiring dengan perubahan arus beban yaitu
tegangan induksi dilakukan dengan mengatur jumlah putaran (n) dan fluksi
magnetik ).
mekanis yang berasal dari penggerak mula. Penggerak mula dioperasikan dengan
menggunakan energi primer (Ep) dan energi sekunder (Es) yang berhubungan
Pada rangkaian tertutup akan mengalir arus DC (If). Arus DC yang mengalir pada
Fluksi yang besarnya sama terhadap waktu. Ketika rotor diputar oleh penggerak
mula maka fluks akan ikut berputar sehingga akan timbul medan putar yang akan
36
bagian diantaranya :
Rugi-rugi angin dan gesekan dipengaruhi oleh ukuran dan bentuk dari
bagian yang berputar, rancangan sudu kipas rotor, desain bantalan (bearing) dan
susunan rumah (housing) mesin. Rugi yang hilang tersebut berupa daya yang
Rugi-rugi inti dan besi (P ) disebabkan oleh fluksi utama mesin dan terjadi
i
terutama pada gigi-gigi stator (jangkar), pada bagian inti jangkar dekat gigi-gigi
stator dan pada permukaan kutub rotor. Inti stator umumnya dibentuk dari
laminasi tipis baja silikon yang terisolasi satu sama lain untuk membatasi rugi-
Rugi-rugi mekanik dan inti sering digabung bersama yang disebut dengan
rugi-rugi beban nol pada mesin. Pada keadaan beban nol, daya input mesin
digunakan untuk mengatasi rugi-rugi ini. Oleh karena itu pengukuran daya input
stator.
2
Rugi-rugi tembaga rotor (P = I .R ) dihitung dari arus medan dan
RCL f f
0
tahanan arus searah dari kumparan penguat pada suhu 75 C. Jatuh tegangan pada
cincin kolektor sikat umumnya diabaikan, tapi bisa juga disertakan dalam rugi-
37
0
umumnya dihitung dari tahanan arus searah kumparan jangkar pada suhu 75
Dari gambar 2.25 dapat dilihat bahwa persamaan (2.39) di bawah ini:
…….. (2.39)
Maka semakin baik faktor daya yang dihasilkan maka daya out put juga semakin
besar, dengan kata lain rugi – rugi yang dihasilkan menjadi lebih kecil. Maka dari
Persamaan 2.39 dapat disimpulkan semakin baik faktor daya, maka efisiensi yang
dengan generator yang lain adalah tingkat regulasi tegangan (VR) adalah suatu
ukuran kemampuan dari sebuah generator untuk menjaga tegangan terminal tetap
38
Dimana:
............(2.41)
dimana :
P =P + Σ rugi P
in out
P = daya keluaran
out
P = daya masukan
in
Dalam sistem listrik AC/Arus Bolak-Balik ada tiga jenis daya yang
sinusoida, besarnya daya setiap saat tidak sama. Maka daya yang merupakan daya
rata-rata diukur dengan satuan Watt. Daya ini membentuk energi aktif persatuan
waktu dan dapat diukur dengan kwh meter dan juga merupakan daya nyata atau
39
VA), menyatakan kapasitas peralatan listrik, seperti yang tertera pada peralatan
terdapat beban tertentu seperti motor listrik, yang memerlukan bentuk lain dari daya,
yaitu daya reaktif (VAR) untuk membuat medan magnet atau dengan kata lain daya
reaktif adalah daya yang terpakai sebagai energi pembangkitan flux magnetik
sehingga timbul magnetisasi dan daya ini dikembalikan ke sistem karena efek induksi
Faktor daya atau faktor kerja adalah perbandingan antara daya aktif (watt)
dengan daya semu/daya total (VA), atau cosinus sudut antara daya aktif dan daya
semu/daya total (lihat Gambar 2.26). Daya reaktif yang tinggi akan meningkatkan
sudut ini dan sebagai hasilnya faktor daya akan menjadi lebih rendah. Faktor daya
selalu lebih kecil atau sama dengan satu. Faktor daya menggambarkan sudut
phasa antara daya aktif dan daya semu. Faktor daya yang rendah merugikan
karena mengakibatkan arus beban tinggi. Perbaikan faktor daya ini menggunakan
kapasitor. [5]
40
………. (2.43)
Dimana :
ΔQ : Jumlah daya reaktif yang dibutuhkan untuk memperbaiki faktor daya (VAR)
nyata atau daya reaktif yang mengalir dari generator. Maka pertambahan beban
akan menambah arus saluran yang mengalir dari generator, pertambahan arus
saluran ini akan mempengaruhi nilai tegangan terminal Vt. hal yang berpengaruh
terutama oleh factor daya beban, seperti pada Gambar 2.28 , diperlihatkan
diagram fasor untuk penambahan beban dengan faktor daya tertinggal, faktor daya
41
beban dengan faktor daya yang sama ditambahkan, dan Vt menyatakan tegangan
(a)
(a)
(b)
Gambar 2.28 Perubahan fasor untuk berbagai beban yang berubah (a) Induktif,
42
mengurangi tegangan terminal akan mengecil. Begitu juga jika beban resistif
ditambahkan maka tegangan terminal juga akan mengecil. Jika beban kapasitif
tanpa beban dan berbeban, ternyata terdapat perbedaan dari hasil pengukuran
tersebut. Dimana terlihat bahwa dengan berubahnya beban maka tegangan terminal
dari generator juga akan berubah. Perubahan besarnya (magnitude) tegangan tidak
hanya tergantung dari besarnya beban, tetapi juga dipengaruhi cos φ beban.
dapat didefinisikan sebagai perubahan tegangan terminal dari beban nol (no-load)
ke beban penuh (full-load) dengan menjaga eksitasi medan dan putaran tetap,
dibagi dengan tegangan beban penuh (full-load). Dimana tegangan pada terminal
dari generator sinkron tergantung dari beban yang terpasang dan juga faktor daya
(power factor) beban tersebut. Pengaturan tegangan ini dinyatakan dalam persen
(%) dari tegangan nominal dan perbedaan tegangan bukan secara vektor, tetapi
………(2.44)
Ef = Tegangan Induksi
43
antara lain :
Dari Gambar 2.29 dapat dilihat bahwa perubahan tegangan terminal karena
reaksi jangkar bergantung pada arus beban (I ) L dan faktor daya (PF) dari beban.
Untuk beban dengan faktor daya mendahului (leading), tegangan terminal tanpa
beban lebih kecil daripada tegangan terminal beban penuh. Oleh karena itu, regulasi
tegangan bernilai negatif. Untuk beban dengan faktor daya tertinggal (lagging),
tegangan terminal tanpa beban lebih besar daripada tegangan terminal beban penuh.
44
1 (unity), nilai tegangan terminal tanpa beban hampir sama dengan nilai tegangan
terminal beban penuh. Oleh karena itu, regulasi tegangan bernilai mendekati 0 persen.
[5]
sebagai berikut :
pengukuran langsung dan bernilai searah (DC). Harga tahanan jangkar efektif
(AC) lebih besar dari pada nilai DC ini karena adanya skin effect. Untuk
memperoleh nilai efektifnya, nilai hasil pengukuran (nilai DC) biasanya dikalikan
R = 1,5 R
a dc
Sama seperti kurva magnetisasi pada suatu mesin DC, karakteristik beban nol
dari suatu generator sinkron adalah kurva antara tegangan terminal jangkar
(tegangan fasa – fasa) pada keadaan hubungan terbuka dan arus medan ketika
dihubung singkat melalui ampere meter dan arus medan (If) dinaikkan secara
45
kali arus nominal. Selama test ini kecepatan yang mungkin bukan kecepatan
sinkron harus dijaga konstan. Untuk metode Potier faktor daya adalah nol.
Tidak diperlukan pembacaan lebih dari sekali karena SCC merupakan suatu
garis lurus yang melewati titik awal. Hal ini disebabkan karena tahanan jangkar R
a
lebih kecil daripada reaktansi sinkron (X ), arus hubung singkat (I ) tertinggal hampir
s sc
sebesar 90º terhadap tegangan terinduksi V . Akibatnya, fluks armatur ( φ ) dan fluks
f a
bernilai kecil, pengaruh saturasi akan diabaikan dan arus hubung singkat (I )
sc
berbanding lurus dengan arus medan melebihi batas (range) dari nol sampai
diperoleh dengan cara langsung, yaitu generator sinkron diputar pada kecepatan
nominal, eksitasi diatur sehingga menghasilkan tegangan nominal (V) pada beban
penuh, kemudian beban dilepas dengan menjaga agar putaran tetap konstan. Selain
itu, arus eksitasi juga harus dijaga konstan. Maka, akan diperoleh harga tegangan
pada beban nol (E0) dan regulasi tegangan dapat dihitung dengan persamaan di atas.
regulasi tegangan dengan cara langsung sering kali tidak dapat dilakukan. Hal ini
disebabkan oleh rating kVA yang sangat tinggi. Terdapat beberapa metode tidak
46
daya yang diperlukan pada metode langsung. Beberapa metode tersebut antara lain :
dalam Tugas Akhir ini hanya akan dibahas metode Potier (zero power factor)
Metode ini disebut juga metode umum , atau metode reaktansi potier, atau
EMF, fasor tegangan digunakan dan pada metode MMF fasor mmf digunakan,
untuk metode ZPF kedua fasor ini digunakan, yakni emf dan mmf sebagai
Khusus untuk karakteristik beban penuh dengan faktor daya nol dapat
pada saat percobaan tanpa beban, yaitu menaikkan arus medan secara bertahap,
harus diberi beban reaktor murni. Arus jangkar dan faktor daya nol saat dibebani
1. Pada kecepatan sinkron dengan beban reaktor, atur arus medan sampai
tegangan nominal dan beban reaktor (arus beban) sampai arus nominal.
47
menunjukkan nilai arus medan pada percobaan faktor daya nol pada saat tegangan
nominal.
3. Buat titik B, berdasarkan percobaan hubung singkat dengan arus jangkar penuh.
5. Melalui titik D tarik garis sejajar kurva senjang udara sampai memotong kurva
48
- Bila vektor BH ditambah kan ke OG, maka besarnya arus medan yang
% VR =
Diagram vektor potier juga dapat digambarkan terpisah seperti Gambar 6.8.2
Berikut:
a.) Untuk faktor daya lagging dengan sudut φ, vektor I digambarkan tertinggal
dari V sebesar φ.
b.) Vektor IRa digambarkan sejajar dengan vektor I dan IXL digambarkan tegak
c.) Garis OJ menunjukkan besar tegangan E dengan besar eksitasinya (garis OG)
49
yang sebanding dengan reaksi jangkar beban penuh dan digambarkan sejajar
e.) Garis OI menunjukkan eksitasi medan untuk tegangan E0. Dimana, vektor E0
hasil yang lebih memuaskan dan dapat digunakan untuk kedua jenis mesin
sinkron type rotor silent maupun rotor silient kompleks. Hanya dua titik A dan F’
yang diperlukan dari ZPFC . titik A ditentukan dari pembebanan over exiter (
untuk alternator dan under exiter ( untuk motor ) sampai arus jankar beban penuh
dihasilkan arus jangkar beban penuh pada saat test hubung singkat . Dan reaktansi
Xat ditentukan dari garis BC pada segitiga potiernya. Untuk mesin yangh didesain
dengan baik tahan kumparannya cukup kecil, sehingga dapat diabaikan dan I.r =
0.
50