0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
109 tayangan45 halaman

Konstruksi dan Prinsip Generator Sinkron

Bab ini membahas generator sinkron 3 fasa, termasuk konstruksinya yang terdiri dari stator dan rotor. Rotor dapat berbentuk kutub menonjol atau silinder, sedangkan stator berisi kumparan yang menghasilkan arus bolak-balik. Prinsip kerjanya adalah medan magnet rotor yang diputar oleh motor primer akan menginduksi arus pada kumparan stator.

Diunggah oleh

YN Huda
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
109 tayangan45 halaman

Konstruksi dan Prinsip Generator Sinkron

Bab ini membahas generator sinkron 3 fasa, termasuk konstruksinya yang terdiri dari stator dan rotor. Rotor dapat berbentuk kutub menonjol atau silinder, sedangkan stator berisi kumparan yang menghasilkan arus bolak-balik. Prinsip kerjanya adalah medan magnet rotor yang diputar oleh motor primer akan menginduksi arus pada kumparan stator.

Diunggah oleh

YN Huda
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

GENERATOR SINKRON 3 FASA

2.1 Umum

Genetaror sinkron merupakan pembangkit listrik yang banyak digunakan.

Oleh sebab itu generator sinkron memegang peranan penting dalam sebuah pusat

pembangkit listrik. Mesin Sinkron dapat bekerja sebagai generator apabila

kumparan jangkarnya (stator) menghasilkan daya arus bolak-balik. Generator

sinkron (alternator) merupakan sebuah mesin sinkron yang berfungsi mengubah

energi mekanik berupa putaran menjadi energi listrik bolak-balik.

Generator sinkron atau generator AC (alternating current) mempunyai arti

bahwa rotor generator sinkron yang terdiri dari belitan medan dengan suplai arus

searah akan menghasilkan medan magnet yang diputar dengan kecepatan yang

sama dengan kecepatan putar rotor. Dikatakan generator sinkron karena jumlah

putaran rotornya sama dengan jumlah putaran medan magnet (medan putar) pada

stator. Kecepatan sinkron ini dihasilkan dari kecepatan putar rotor dengan kutub-

kutub magnet yang berputar dengan kecepatan yang sama dengan medan putar

pada stator. Mesin sinkron tidak dapat start sendiri karena kutub-kutub yang berat

dan tidak dapat tiba-tiba mengikuti kecepatan medan putar pada waktu saklar

terhubung dengan jala-jala oleh sebab itu diperlukan suatu alat bantu start (prime

mover) . Ada dua jenis generator sinkron, yaitu generator sinkron 1 fasa dan

generator sinkron 3 fasa.

Universitas Sumatera Utara


2.2 Konstruksi Generator Sinkron

Pada dasarnya konstruksi generator sinkron sama dengan motor sinkron.

Secara umum, konstruksi generator sinkron terdiri dari stator (bagian yang diam)

dan rotor (bagian yang bergerak). Keduanya merupakan rangkaian magnetik yang

berbentuk simetris dan silindris yang berkaitan. Selain itu generator sinkron

memiliki celah udara ruang antara stator dan rotor yang berfungsi sebagai tempat

berputarnya rotor dan tempat terjadinya fluksi atau induksi energi listrik dari rotor

ke stator.

Pada Gambar 2.1 dapat dilihat konstruksi dari sebuah generator sinkron

secara umum :

Gambar 2.1 Konstruksi generator sinkron secara umum

A. Rotor

Rotor merupakan bagian berputar yang berfungsi untuk membangkitkan medan

magnet yang menghasilkan tegangan dan akan di induksikan ke stator. Pada rotor

terdapat kutub-kutub magnet dengan lilitannya yang dialiri arus searah, melewati

cincin geser dan sikat. Generator sinkron memiliki dua tipe rotor, yaitu :

Universitas Sumatera Utara


1.) Rotor yang berbentuk kutub sepatu (salient pole)

2.) Rotor yang berbentuk kutub dengan celah udara sama rata (cylindrical)

1. Rotor kutub menonjol (Salient Pole Rotor)

Rotor tipe ini mempunyai kutub yang jumlahnya banyak. Kumparan

dibelitkan pada tangkai kutub, dimana kutub-kutub diberi laminasi untuk

mengurangi panas yang ditimbulkan oleh rugi-rugi arus Eddy, kumparan-

kumparan medannya terdiri dari bilah tembaga persegi. Kutub menonjol ditandai

dengan rotor berdiameter besar dan panjang serta sumbunya pendek.

Selain itu jenis kutub salient pole, kutub magnetnya menonjol keluar dari

permukaan rotor. Belitan-belitan medan dihubung seri. Ketika belitan medan ini

disuplai oleh eksiter, maka kutub yang berdekatan akan membentuk kutub yang

berlawanan. Bentuk kutub menonjol generator sinkron tampak seperti Gambar 2.2

berikut :

Gambar 2.2 Rotor Kutub Menonjol Generator Sinkron

Universitas Sumatera Utara


Rotor kutub menonjol umumnya digunakan pada generator sinkron dengan

kecepatan putaran rendah dan sedang (120-400 rpm). Generator sinkron tipe

seperti ini biasanya dikopel oleh mesin diesel atau turbin air pada sistem

pembangkit listrik. Rotor kutub menonjol baik digunakan untuk putaran rendah

dan sedang karena :

a. Konstruksi kutub menonjol tidak terlalu kuat untuk menahan tekanan

mekanis apabila diputar dengan kecepatan tinggi.

b. Kutub menonjol akan mengalami rugi-rugi yang besar dan bersuara bising

jika diputar dengan kecepatan tinggi.

2. Rotor kutub tak menonjol dengan celah udara sama rata (Rotor Silinder)

Rotor tipe ini dibuat dari plat baja berbentuk silinder yang mempunyai

sejumlah slot sebagai tempat kumparan. Karena adanya slot-slot dan juga

kumparan medan yang terletak pada rotor maka jumlah kutub pun sedikit yang

dapat dibuat. Belitan-belitan medan dipasang pada alur-alur di sisi luarnya dan

terhubung seri yang dienerjais oleh eksiter. Rotor yang umumnya berdiameter

kecil dengan sumbu yang panjang. Dengan begitu kontruksi rotor ini memberikan

keseimbangan mekanis yang lebih baik karena rugi-rugi anginya lebih kecil.

Gambar bentuk kutub silinder generator sinkron tampak seperti pada Gambar 2.3

berikut:

Universitas Sumatera Utara


Gambar 2.3 Rotor Kutub tak Menonjol Generator Sinkron

Beberapa komponen utama rotor yaitu :

a. Slip Ring

Slip ring merupakan cincin logam yang melingkari poros rotor tetapi

dipisahkan oleh isolasi tertentu. Dibuat dari bahan kuningan atau tembaga yang

dipasang pada poros dengan memakai bahan isolasi. Terminal kumparan rotor

dipasangkan ke-slip ring ini kemudian dihubungkan kesumber arus searah melalui

sikat (brush) yang letaknya menempel pada slip ring.

b. Sikat

Sebagaian dari generator sinkron ada yang memiliki sikat ada juga yang

tidak memiliki sikat. Sikat pada generator sinkron berfungsi sebagai saklar putar

untuk mengalirkan arus DC ke-kumparan medan pada rotor generator sikron.

Sikat terbuat dari bahan karbon tertentu.

c. Kumpara rotor (kumparan medan)

Kumparan medan merupakan unsure yang memegang peranan utama

dalam menghasilkan medan magnet. Kumparan ini mendapat arus searah dari

sumber eksitasi tertentu.

10

Universitas Sumatera Utara


d. Poros Rotor

Poros rotor merupakan tempat meletakkan kumparan medan, dimana pada

poros tersebut telah terbentuk slot-slot secara paralel terhadap poros rotor.

B. Stator

Stator ialah bagian generator yang diam dan berfungsi sebagai tempat

untuk menerima induksi magnet dari rotor. Arus bolak-balik (AC) yang menuju

ke beban disalurkan melalui armatur, komponen ini berbentuk sebuah rangka

silinder dengan lilitan kawat konduktor yang sangat banyak. Armatur selalu diam

(tidak bergerak). Oleh karena itu, komponen ini juga disebut dengan stator. Lilitan

armatur generator dalam wye dan titik netral dihubungkan ke tanah. Lilitan dalam

wye dipilih karena:

1. Meningkatkan daya output.

2. Menghindari dan meminimalisir tegangan harmonik, sehingga tegangan line

tetap sinusoidal dalam kondisi beban apapun.

Stator dari mesin sinkron terbuat dari bahan ferromagnetik yang berbentuk

dan di laminasi untuk mengurangi rugi-rugi arus pusar. Dengan inti ferromagnetik

yang bagus berarti permeabilitas dan resistivitas dari bahan tinggi. Pada Gambar

2.4 berikut memperlihatkan alur stator tempat kumparan jangkar

11

Universitas Sumatera Utara


Gambar 2.4 Inti dalam Stator dan Alur Pada Stator

Stator terdiri dari beberapa komponen utama, yaitu:

a. Rangka stator

Rangka stator merupakan rumah (kerangka) yang menyangga inti jangkar

generator.

b. Inti Stator

Inti stator terbuat dari laminasi-laminasi baja campuran atau besi magnetic khusus

terpasang ke rangka stator.

c. Alur (slot) dan Gigi

Alur dan gigi merupakan tempat meletakkan kumparan stator. Ada 3 (tiga)

bentuk alur stator yaitu terbuka, setengah terbuka, dan tertutup seperti pada

gambar 2.5 berikut :

Gambar 2.5 Bentuk-bentuk alur

12

Universitas Sumatera Utara


d. Kumparan Stator (Kumparan Jangkar)

Kumparan jangkar biasanya terbuat dari tembaga. Kumparan ini

merupakan tempat timbulnya ggl induksi. [5]

2.3 Prinsip Kerja Generator Sinkron

Adapun prinsip kerja dari suatu generator sinkron adalah:

1. Kumparan medan yang terdapat pada rotor dihubungkan dengan sumber

eksitasi tertentu yang akan mensuplai arus searah terhadap kumparan

medan. Dengan adanya arus searah yang mengalir melalui kumparan

medan maka akan menimbulkan fluksi yang besarnya terhadap waktu

adalah tetap.

2. Unit penggerak mula (Prime Mover) yang sudah terkopel dengan rotor

segera dioperasikan sehingga memutar rotor pada kecepatan nominalnya

persamaan (2.1) dimana : …………(2.1)

n = Kecepatan putar rotor (rpm)

p = Jumlah kutub rotor

f = frekuensi (Hz)

3. Perputaran rotor tersebut sekaligus akan memutar medan magnet yang

dihasilkan oleh kumparan medan. Medan putar yang dihasilkan pada rotor,

akan diinduksikan pada kumparan jangkar sehingga pada kumparan

jangkar yang terletak di stator akan dihasilkan fluks magnetik yang berubah-

ubah besarnya terhadap waktu. Adanya perubahan fluks magnetik yang

13

Universitas Sumatera Utara


melingkupi suatu kumparan akan menimbulkan ggl induksi pada ujung-

ujung kumparan tersebut, hal tersebut sesuai dengan persamaan berikut

dimana : ………………. (2.2)

…….. (2.3)

….. (2.4)

………………… (2.5)

…. (2.6)

…………………….. (2.7)

……… (2.8)

… (2.9)

….. (2.10)

…….. (2.11)

…………. …(2.12)

………………(2.13)

14

Universitas Sumatera Utara


Dimana:

E = ggl induksi (Volt) N = Jumlah belitan

C = Konstanta p = Jumlah kutub

n = Putaran (rpm) f = Frequensi (Hz)

= Fluks magnetik (weber)

Untuk generator sinkron tiga phasa, digunakan tiga kumparan

jangkar yang ditempatkan di stator yang disusun dalam bentuk tertentu,

sehingga susunan kumparan jangkar yang sedemikian akan

membangkitkan tegangan induksi pada ketiga kumparan jangkar yang


0
besarnya sama tapi berbeda fasa 120 satu sama lain. Setelah itu ketiga

terminal kumparan jangkar siap dioperasikan untuk menghasilkan energi

listrik. [2]

2.4 Reaksi Jangkar

Bila generator sinkron (alternator) melayani beban yang terhubung ke

terminal generator maka pada belitan stator akan mengalir arus, sehigga timbul

medan magnet pada belitan stator yang akan berinteraksi dengan medan rotor.

Medan magnet ini akan mendistorsi medan magnet yang dihasilkan belitan rotor

sehingga menghasilkan fluks resultan. Seperti yang dijelaskan pada Gambar 2.6 :

15

Universitas Sumatera Utara


Gambar 2.6 Model Reaksi Jangkar

Pada Gambar 2.6.a. Medan magnet yang berputar akan menghasilkan

tegangan induksi E . Bila generator melayani beban dengan induktif, maka arus
a

pada stator akan tertinggal seperti pada Gambar 2.6.b. Arus stator tadi akan

meghasilkan medan magnet sendiri B dan tegangan stator E seperti pada


s stat,

Gambar 2.6.c. Vektor penjumlahan antara BS dan BR akan menjadi Bnet dan

penjumlahan Estat dan Ea, akan menghasilkan , V pada terminal jangkar.

Saat beban terhubung ke beban induktif, arus jangkar akan tertinggal

terhadap tegangan jangkar. Arus pada belitan stator akan menghasilkan medan

magnet B , yang kemudian kan menghasilkan tegangan stator E . Dua tegangan


s stat

yaitu tegangan jangkar E dan tegangan reaksi jangkar E akan menghasilkan V ,


a stat t

dimana ditunjukkan pada persamaan (2.14)

V t = Ea + Estat .............................................................(2.14)

16

Universitas Sumatera Utara


Tegangan Reaksi Jangkar E = - j X Ia
stat

Sehingga persaman 2.14 dapat ditulis kembali pada persamaan (2.15).

V = E -jXI .................................................................(2.15)
t a a

Selain pengaruh reaksi jangkar ini, pengurangan tegangan induksi generator

sinkron juga karena adanya tahanan R dan Induktansi belitan stator X ,dan
a a,

penjumlahan X dan Xa sering disebut Reaktansi Sinkron Xs, sehingga persamaan

(2.15) dapat ditulis kembali sebagai persamaan (2.16).

V = E -jXI -jX I - I R ................................................(2.16)


t a a a a aa

Lalu menjadi persamaan (2.17)

V = E -jX I - I R ..........................................................(2.17)
t a s a aa

Dimana:

Vt = Tegangan terminal jangkar Ra = Tahanan Jangkar

Ea = Tegangan Jangkar BS = Medan Magnet Stator

Estat = Tegangan Reaksi Jangkar BR = Medan Magnet Rotor

Xs = Reaktansi Sinkron

Ia = Arus Jangkar

2.5 Sistem Eksitasi

Berdasarkan cara penyaluran arus searah pada rotor generator sinkron,

sistem eksitasi terdiri dari dua sistem yaitu sistem eksitasi dengan menggunakan

sikat (brushless excitation) dan sistem eksitasi tanpa menggunakan sikat

(brushless).

Ada dua jenis sistem eksitasi dengan menggunakan sikat yaitu :

1. Sistem eksitasi konvensional (menggunakan generator arus searah).

17

Universitas Sumatera Utara


Untuk sistem eksitasi yang konvensional, arus searah diperoleh dari sebuah

generator arus searah berkapasitas kecil yang disebut eksiter. Generator sinkron dan

generator arus serah tersebut terkopel dalam satu poros, sehingga putaran generator

arus searah sama dengan putaran generator sinkron.

Tegangan yang dihasilkan oleh generator arus searah ini diberikan kebelitan

rotor generator sinkron melalui sikat karbon dan slip ring. Akibatnya arus searah

mengalir ke dalam rotor atau kumparan medan dan menimbulkan medan magnet

yang diperlukan untuk dapat menghasilkan tegangan arus bolak-balik pada

kumparan utama yang terletak di stator generator sinkron.

Pada generator konvensional ini ada beberapa kerugian yaitu generator arus

searah merupakan beban tambahan untuk penggerak mula. Penggunaan slip ring

dan sikat menimbulkan masalah ketika digunakan untuk mensuplai sumber arus

searah padabelitan medan generator sinkron. Terdapat sikat arang yang menekan

slip ring sehingga timbul rugi gesekan pada generator utamanya. Selain itu pada

generator arus searah juga terdapat sikat karbon yang menekan komutator. Selama

pemakaian slip ring dan sikat harus diperiksa secara teratur, generator arus searah

juga memiliki keandalan yang rendah. Karena hal-hal seperti diatas dipikirkan

hubungan lain dan dikenal apa yang dikenal sebagai generator sinkron static exciter

(penguat statis). Gambar 2.7 adalah sistem eksitasi yang menggunakan generator

arus searah.

18

Universitas Sumatera Utara


Gambar 2.7 Sistem Eksitasi Menggunakan Generator Arus Searah

2 Sistem Eksitasi Statis

Sistem eksitasi statis menggunakan peralatan eksitasi yang tidak bergerak

(static), artinya peralatan eksitasi tidak ikut berputar bersama dengan rotor

generator sinkron. Sistem eksitasi statis (static excitation sistem) atau disebut juga

dengan self excitation merupakan sistem eksitasi yang tidak memerlukan

generator tambahan sebagai sumber eksitasi generator sinkron. Sumber eksitasi

pada sistem eksitasi statis berasal dari tegangan output generator itu sendiri yang

disearahkan terlebih dahulu dengan menggunakan penyearah thyristor.

Pada mulanya pada rotor ada sedikit magnet sisa, magnet sisa ini akan

menimbulkan tegangan pada stator tegangan ini kemudian masuk dalam

penyearah dan dimasukkan kembali pada rotor akibatnya medan magnet yang

dihasilkan makin besar dan tegangan AC naik demikian seterusnya sampai dicapai

tegangan nominal dari generator AC tersebut. Biasanya penyearah itu mempunyai

pengatur sehingga tegangan generator dapat diatur konstan. Bersama dengan

penyearah, blok tersebut sering disebut AVR.

19

Universitas Sumatera Utara


Dibandingkan dengan generator yang konvensional generator dengan

sistem eksitasi statis memang sudah jauh lebih baik yaitu tidak ada generator arus

searah (yang keandalannya rendah) dan beban generator arus searah pada

penggerak mula hilang. Eksiter diganti dengan eksiter yang tidak berputar yaitu

penyearah karena itu disebut eksiter statis. Gambar 2.8 berikut adalah sistem

eksitasi statis.

Gambar 2.8 Sistem eksitasi statis

Untuk keperluan eksitasi awal pada generator sinkron, maka sistem eksitasi statis

dilengkapi dengan field flashing. Hal ini dibutuhkan karena generator sinkron

tidak memiliki sumber arus dan tegangan sendiri untuk mensuplai kumparan

medan. Penggunaan slip ring dan sikat pada eksitasi ini menyebabkan sistem

eksitasi ini tidak efisien dan efektif.

Sedangkan sistem eksitasi tanpa menggunakan sikat terdiri dari :

1. Sistem eksitasi dengan menggunakan baterai.

2. Sistem eksitasi dengan menggunakan Permanen Magnet Generator (PMG).

20

Universitas Sumatera Utara


Sedangkan sistem eksitasi tanpa menggunakan sikat :

1. Sistem Eksitasi Menggunakan Baterai

Sistem eksitasi tanpa sikat diaplikasikan pada generator sinkron, dimana

suplai arus searah kebelitan medan dilakukan tanpa melalui sikat. Arus searah

untuk suplai eksitasi untuk awal start generator digunakan suplai dari baterai,

yang sering dinamakan penguat mula, dimana arus ini selanjutnya disalurkan ke

belitan medan AC exiter. Tegangan keluaran dari generator sinkron ini

disearahkan oleh penyearah yang menggunakan dioda, yang disebut rotating

rectifier, yang diletakkan pada bagian poros ataupun pada bagian dalam dari rotor

generator sinkron, sehingga rotating rectifier tersebut ikut berputar sesuai dengan

putaran rotor, seperti pada gambar 2.9 berikut:

Gambar 2.9 Sistem Eksitasi Dengan Menggunakan Baterai

Dari Gambar 2.9 diatas, untuk menghindari adanya kontak geser pada

bagian rotor generator sinkron, maka penguat medan generator dirancang

sedemikian sehingga arus searah yang dihasilkan dari penyearah langsung

21

Universitas Sumatera Utara


disalurkan kebagian belitan medan dari generator utama. Hal ini dimungkinkan

karena dioda penyearah ditempatkan pada bagian poros yang dimiliki bersama-

sama oleh rotor generator utama dan penguat medannya. Arus medan pada

generator utama dikontrol oleh arus yang mengalir pada kumparan medan penguat

(eksiter).

2. Sistem Eksitasi Menggunakan Pemanen Magnet Generator

Suatu generator sinkron harus memiliki sebuah medan magnet yang

berputar agar generator tersebut menghasilkan tegangan pada statornya. Medan

magnet ini dapat dihasilkan dari belitan rotor yang disuplai dengan sumber listrik

arus searah. Cara lain untuk menghasilkan medan magnet pada rotor adalah

dengan menggunakan magnet permanen sebagai sumber eksitasinya ini disebut

dengan Permanen Magnet Generator (PMG).

Generator sinkron yang berkapasitas besar biasanya menggunakan sistem

eksitasi brushless yang dilengkapi dengan permanen magnet generator. Hal ini

dimaksudkan agar sistem eksitasi dari generator sama sekali tidak tergantung pada

sumber daya listrik dari luar mesin itu. Pada Gambar 2.10 dapat dilihat bentuk

skematik dari sistem eksitasi dengan menggunakan Permanen Magnet Generator.

22

Universitas Sumatera Utara


Gambar 2.10 Sistem Eksitasi Dengan Menggunakan Permanen Magnet Generator

Dari Gambar 2.17, bahwa pada bagian mesin yang berputar (rotor)

terdapat magnet permanen, kumparan jangkar generator eksitasi, kumparan medan

generator utama. Hal ini memungkinkan generator tersebut tidak menggunakan

slip ring dan sikat dalam pengoperasiannya sehingga lebih efektif dan efisiensi.

[9]

2.6 Rangkaian Ekivalen

Stator terdiri dari belitan-belitan. Suatu belitan konduktor akan terdiri dari

tahanan R dan induktansi X maka rangkaian ekivalen suatu generator sinkron dapat
a Ia

dibuat seperti Gambar 2.11

Gambar 2.11 Rangkaian ekivalen generator sinkron

23

Universitas Sumatera Utara


Dengan melihat Gambar 2.11 maka tegangan generator sinkron dapat ditulis pada

persamaan (2.18).

E = V + jX I + jX I + R I ……….................................................(2.18)
a ar a La a a a

Dan persamaan terminal generator sinkron dapat ditulis pada persamaan (2.19)

Vt = E – jX I – jX I – R I ..............................................................(2.19)
a ar a La a a a

Dengan menyatakan reaktansi reaksi jangkar dan reaktansi fluks bocor sebagai

reaktansi sinkron, atau X = X + X , maka menjadi persamaan (2.20).


s ar La

Vt = E – jX I – R I [Volt]…..….........................................................(2.20)
a sa aa

Dimana:

Vt = Tegangan Terminal Ia = Arus Jangkar

Ea = Tegangan Induksi Ra = Tahanan Jangkar

Xs = Reaktansi Sinkron Xar = Reaktansi Jangkar

XLa = Reaktansi Fluks Bocor

Gambar 2.12 Penyederhanaan rangkaian ekivalen generator sinkron

Karena tegangan yang dibangkitkan oleh generator sinkron adalah

tegangan bolak-balik tiga fasa maka gambar yang menunjukkan hubungan

24

Universitas Sumatera Utara


tegangan induksi perfasa dengan tegangan terminal generator akan ditunjukkan

pada Gambar 2.13

berikut:

Gambar 2.13 Rangkaian ekivalen generator sinkron 3 fasa

Sementara itu, rangkaian ekivalen generator sinkron tiga fasa untuk tiap jenis

hubungan ditunjukkan oleh Gambar 2.14 berikut ini:

Gambar 2.14 Rangkaian ekivalen belitan stator generator sinkron 3 fasa (a).

Belitan-Y, (b). Belitan-∆

25

Universitas Sumatera Utara


2.7 Rangkaian Belitan

2.7.1 Belitan Stator

Ada dua jenis belitan stator yang banyak digunakan untuk generator sinkron 3

phasa, yaitu:

1. Belitan satu lapis (Single Layer Winding).

2. Belitan berlapis ganda (Double Layer Winding).

1. Belitan satu lapis (Single Layer Winding).

Gambar 2.15 Belitan satu lapis (Single Layer Winding).

Gambar 2.15 memperlihatkan belitan satu lapis karena hanya ada satu sisi

lilitan di dalam masing - masing alur. Bila kumparan tiga phasa dimulai pada Sa,

Sb, dan Sc dan berakhir di Fa, Fb, dan Fc bisa disatukan dalam dua cara, yaitu

hubungan bintang dan segitiga. Antar kumparan phasa dipisahkan sebesar 120

derajat listrik atau 60 derajat mekanik, satu siklus ggl penuh akan dihasilkan bila

rotor dengan 4 kutub berputar 180 derajat mekanis. Satu siklus ggl penuh

menunjukkan 360 derajat listrik. [5]

26

Universitas Sumatera Utara


2. Belitan berlapis ganda (Double Layer Winding).

Kumparan jangkar yang diperlihatkan pada Gambar 2.15 hanya

mempunyai satu lilitan per kutub per phasa, akibatnya masing – masing kumparan

hanya dua lilitan secara seri. Bila alur-alur tidak terlalu lebar, masing-masing

penghantar yang berada dalam alur akan membangkitkan tegangan yang sama.

Masing – masing tegangan phasa akan sama untuk menghasilkan tegangan per

penghantar dan jumlah total dari penghantar per phasa.

Dalam kenyataannya cara seperti ini tidak menghasilkan cara yang efektif dalam

penggunaan inti stator, karena variasi kerapatan fluks dalam inti dan juga

melokalisir pengaruh panas dalam daerah alur dan menimbulkan harmonik. Untuk

mengatasi masalah ini, generator praktisnya mempunyai kumparan terdistribusi

dalam beberapa alur per kutub per phasa. Gambar 2.16 memperlihatkan bagian

dari sebuah kumparan jangkar yang secara umum banyak digunakan. [5]

Gambar 2.16 Belitan berlapis ganda (Double Layer Winding)

27

Universitas Sumatera Utara


2.7.2 Belitan Rotor

Rotor berfungsi untuk membangkitkan medan magnet yang kemudian

tegangan dihasilkan dan akan diinduksikan ke stator. Generator sinkron memiliki

dua tipe rotor, yaitu :

1).Rotor berbentuk kutub sepatu (salient pole)

2).Rotor berbentuk kutub dengan celah udara sama rata (cylindrical)

Perbedaan utama antara keduanya adalah salient pole rotor digerakkan

oleh turbin hidrolik kecepatan rendah sedangkan cylindrical rotor digerakkan oleh

turbin uap berkecepatan tinggi. Bentuk rotor yang terdapat pada generator sinkron

dapat dilihat pada Gambar 2.17 berikut

(a) Rotor Kutub Menonjol (b) Rotor Silinder

Gambar 2.17 Bentuk Rotor

2.8 Karakteristik Generator Sinkron 3 Fasa

2.8.1 Karakteristik Beban Nol

Karakteristik tanpa beban (beban nol) pada generator sinkron dapat

ditentukan dengan melakukan test beban nol (open circuit) yang memiliki

langkah-langkah sebagai berikut :

28

Universitas Sumatera Utara


a.) Generator diputar pada kecepatan nominal (n)

b.) Tidak ada beban yang terhubung pada terminal

c.) Arus medan (If) dinaikkan dari nol hingga maksimum secara bertahap

d.) Catat harga tegangan terminal (Vt) pada setiap harga arus medan (If)

yang terlihat pada gambar 2.18 di bawah ini:

Gambar 2.18 Rangkaian Test Tanpa Beban

Dari Gambar dapat diperoleh persamaan umum generator pada persamaan (2.21).

E = V + I (R + jX ).......................................(2.21)
0 t a a s

Pada hubungan generator terbuka (beban nol), I = 0. Maka persamaannya menjadi


a

persamaan (2.22).

E0 = Vt = …......................................…..(2.22)

Karena tidak ada beban yang terpasang, maka yang dihasilkan hanya f.

Sehingga menjadi persamaan (2.23)

E0 = f
.........................................................(2.23)

Dari persamaan (2.23) menjadi persamaan (2.24)

E0 = CnI .......................................................... (2.24)


f

Nilai Cn adalah konstan sehingga persamaan menjadi persamaan (2.25)

E0 = [Link].......................................................... (2.25)

29

Universitas Sumatera Utara


Dimana:

E0 = Tegangan pada saat beban nol Ia = Arus Jangkar

C = Konstanta n = Jumlah Putaran

If = Arus Medan Ra = Tahanan Jangkar

Xs = Reaktansi Sinkron

Pengujian beban nol terkait dengan karakteristik beban nol yaitu hubungan

antara tegangan induksi Ea dengan arus penguat /eksitasi If . pada pengujian beban

nol, rotor generator diputar pada kecepatan nominal dan terminal jangkar dalam

keadaan terbuka. Arus medan If diatur bertahap nol hingga diperoleh harga

tegangan induksi Ea. bersekitar kurang lebih 125% dari tegangan nominal

generator. Pada kondisi ini arus jangkar Ia = 0 dan tegangan induksi Ea = Vt.

sehingga pembacaan tegangan induksi jangkar dengan pengaruh variasi medan

eksitasi digambarkan karakteristik hubung terbuka dari generator atau OCC

(Open-Circuit Characteristic). Yang terlihat pada gambar 2.19 dibawah:

Gambar 2.19 Karakteristik Hubung Terbuka (OCC)

Dari Gambar 2.19 di atas terlihat bahwa pada awalnya kurva berbentuk

hampir benar-benar linear. Hingga pada harga-harga arus medan yang tinggi,

30

Universitas Sumatera Utara


bentuk kurva mulai terlihat saturasi. Inti besi yang tidak jenuh dalam bingkai

mesin sinkron memiliki reluktansi beberapa ratus kali lebih rendah daripada

reluktansi air gap. Sehingga pertama-tama hampir seluruh MMF melewati celah

udara dan peningkatan fluksi yang terjadi linear. Ketika inti besi mengalami

saturasi, reluktansi besi meningkat secara drastis dan fluksi meningkat lebih

lambat dengan peningkatan nilai MMF. Bentuk linear dari grafik OCC disebut

karakteristik air gap line. [5]

2.8.2 Karakteristik Hubung Singkat

Untuk menentukan karakteristik dan parameter generator sinkron yang

dihubung singkat terdapat beberapa langkah yang harus dilakukan antara lain :

a.) Generator diputar pada kecepatan nominal

b.) Atur arus medan (I ) pada nol


f

c.) Hubung singkat terminal

d.) Ukur arus armatur (I ) pada setiap peningkatan arus medan (If)
a

Dimana, rangkaian test hubung singkat pada generator sinkron akan diperlihatkan

pada Gambar 2.20 berikut.

Gambar 2.20 Rangkaian Hubung Singkat

31

Universitas Sumatera Utara


Dari Gambar, persamaan umum generator sinkron dihubung singkat adalah

persamaan (2.26)

Ea = V + I (R + jX )............................................ (2.26)
t a a s

Pada saat generator sinkron dihubung singkat, V = 0 dan I = I . Maka persamaan


t a sc

menjadi persamaan (2.27)

E
a = I (R + jX ) ......................................... (2.27)
sc a s

Ea = maka persamaan nya menjadi persamaan (2.28).

Cn = I (R + jX )....................................... (2.28)
sc a s

Karena Cn dan (R + jX ) bernilai konstan, maka persamaan nya menjadi


a s

persamaan (2.29)

Cn = k ........................................................... (2.29)
1

sehingga menjadi persamaan (2.30)

(R + jX ) = k .............................................. (2.30)
a s 2

Sehingga menjadi persamaan (2.31)

k .I = Isc. k ................................................. (2.32)


1 f 2

sehingga menjadi persamaan (2.33)

.......................................................... (2.34)

Pengujian hubung singkat terkait dengan karakteristik hubung singkat yaitu

hubungan antara arus jangkar Ia dengan arus penguat/eksitasi If. Pada pengujian

hubung singkat mula-mula arus medan dibuat menjadi nol dan terminal jangkar

dihubung singkat. Lalu arus jangkar diperbesar dengan menaikkan secara bertahap

arus medan hingga tercapai nilai arus jangkar maksimum.

32

Universitas Sumatera Utara


Pada karakteristik generator hubung singkat bentuk kurva adalah linear. Hal ini

disebabkan oleh medan magnet yang terjadi sangat kecil sehingga inti besi tidak

mengalami saturasi. Gambar 2.21 berikut ini akan memperlihatkan karakteristik

hubung singkat pada generator sinkron. [5]

Gambar 2.21 Karakteristik Hubung Singkat

Ketika generator dihubung singkat, arus armatur pada persamaan (2.35)

........................... (2.35)

Harga Mutlaknya adalah pada persamaan (2.36)

.................................(2.36)

Dimana:

Isc =Arus Hubung Singkat Ia = Arus Jangkar

C = Konstanta n = Jumlah Putaran

If = Arus Medan Ra = Tahanan Jangkar

Xs = Reaktansi Sinkron Ea = Tegangan Induksi

33

Universitas Sumatera Utara


2.8.3 Karakteristik Berbeban

Beberapa langkah untuk menentukan parameter generator sinkron berbeban

antara lain sebagai berikut :

a.) Generator diputar pada kecepatan nominal (n)

b.) Beban (Z ) terpasang pada terminal generator sinkron


L

c.) Arus medan (I ) dinaikkan dari nol hingga maksimum secara bertahap
f

d.) Catat tegangan terminal (V ) pada setiap peningkatan arus medan (I ) yang
t f

terlihat pada gambar 2.22 berikut:

Gambar 2.22 Rangkaian Generator Sinkron Berbeban

Dari Gambar 2.22 diperoleh persamaan umum generator sinkron berbeban pada

persamaan (2.37)

E = V + I (R + jX )........................ (2.37)
a t a a s

Sehingga menjadi persamaan (2.38)

V = E - I (R + jX ) ........................ (2.38)
t a a a s

Dimana :

Vt = Tegangan Terminal Ia = Arus Jangkar

Ra = Tahanan Jangkar Xs = Reaktansi Sinkron

Ea = Tegangan Induksi

34

Universitas Sumatera Utara


Dalam keadaan berbeban arus jangkar akan mengalir dan mengakibatkan

terjadinya reaksi jangkar. Reaksi jangkar bersifat reaktif karna itu dinyatakan

sebagai reaktansi, dan disebut reaktansi magnetisasi (Xm). reaktansi ini bersama-

sama dengan reaktansi fluks bocor (Xa) yang dikenal dengan reaktansi sinkron

(Xs). Pada generator berbeban, Ia = I bernilai konstan karena beban (Z )


L L

[Link] pada gambar 2.23 di bawah ini:

Gambar 2.23 Karakteristik Generator Sinkron Berbeban

Watak berbeban suatu generator sinkron merupakan penggambaran dari hubungan

antara tegangan terminal (Vt) dan arus medan (Ia) dimana beban generator tetap,

dan jumlah putaran tetap. [5]

2.9 Pengaturan Tegangan Terminal

Gambar 2.24 Prinsip Kerja Generator sinkron 3 fasa

35

Universitas Sumatera Utara


Dimana tegangan terminal dituntut untuk bekerja stabil dalam sistem.

Seiring perubahan beban maka akan mengalir arus beban (Ia) yg berubah-ubah

sesuai dengan perubahan beban. Yang berpengaruh pada tahanan (Ra) dan

reaktansi sinkron (Xs) atau yang disebut dengan impedansi sinkron (Zs). arus

beban akan merubah harga tegangan induksi jangkar (Ea) sesuai dengan

persamaan (2.20) yaitu V = E - I (R + jX ). oleh sebab itu untuk menjaga


t a a a s

tegangan terminal agar tetap stabil seiring dengan perubahan arus beban yaitu

dengan mengatur tegangan induksinya (Ea). dimana tegangan induksi seperti

persamaan (2.13) dimana pada beban nol. Sehingga untuk mengatur

tegangan induksi dilakukan dengan mengatur jumlah putaran (n) dan fluksi

magnetik ).

Pengaturan jumlah putaran mengakibatkan Penggerak mula (Prime

Mover). karena kecepatan putaran rotor diputar dengan menggunakan energi

mekanis yang berasal dari penggerak mula. Penggerak mula dioperasikan dengan

menggunakan energi primer (Ep) dan energi sekunder (Es) yang berhubungan

dengan bahan bakar.

Sedangkan pengaturan fluksi magnetik berdasarkan eksitasi yang

diberikan. Yaitu dengan memberikan tegangan DC (Vf) pada kumparan medan.

Pada rangkaian tertutup akan mengalir arus DC (If). Arus DC yang mengalir pada

kumparan medan akan menimbulkan medan magnet (B) yang menghasilkan

Fluksi yang besarnya sama terhadap waktu. Ketika rotor diputar oleh penggerak

mula maka fluks akan ikut berputar sehingga akan timbul medan putar yang akan

memotong kumparan jangkar sehingga dihasilkan ggl induksi pada kumparan

stator akibat adanya peristiwa induksi elektromagnetik.

36

Universitas Sumatera Utara


2.10 Rugi-Rugi Generator Sinkron

Rugi-rugi yangterdapat pada generator sinkron dibagi menjadi beberapa

bagian diantaranya :

1. Rugi-rugi tembaga rotor dan stator (copper losses)

2. Rugi-rugi inti (core losses)

3. Rugi-rugi mekanik (mechanical losses)

4. Rugi-rugi nyasar (stray losses)

Rugi-rugi angin dan gesekan dipengaruhi oleh ukuran dan bentuk dari

bagian yang berputar, rancangan sudu kipas rotor, desain bantalan (bearing) dan

susunan rumah (housing) mesin. Rugi yang hilang tersebut berupa daya yang

diperlukan untuk memutarkan kipas guna mensirkulasi udara pendingin dan

gesekan bantalan dan sikat.

Rugi-rugi inti dan besi (P ) disebabkan oleh fluksi utama mesin dan terjadi
i

terutama pada gigi-gigi stator (jangkar), pada bagian inti jangkar dekat gigi-gigi

stator dan pada permukaan kutub rotor. Inti stator umumnya dibentuk dari

laminasi tipis baja silikon yang terisolasi satu sama lain untuk membatasi rugi-

rugi histeresis dan arus eddy pada baja.

Rugi-rugi mekanik dan inti sering digabung bersama yang disebut dengan

rugi-rugi beban nol pada mesin. Pada keadaan beban nol, daya input mesin

digunakan untuk mengatasi rugi-rugi ini. Oleh karena itu pengukuran daya input

stator.
2
Rugi-rugi tembaga rotor (P = I .R ) dihitung dari arus medan dan
RCL f f

0
tahanan arus searah dari kumparan penguat pada suhu 75 C. Jatuh tegangan pada

cincin kolektor sikat umumnya diabaikan, tapi bisa juga disertakan dalam rugi-

37

Universitas Sumatera Utara


2
rugi penguat. Rugi-rugi tembaga kumparan jangkar (P = 3I .R ) pada
SCL A A

0
umumnya dihitung dari tahanan arus searah kumparan jangkar pada suhu 75

Gambar 2.25 Diagram Aliran daya Generator sinkron

Dari gambar 2.25 dapat dilihat bahwa persamaan (2.39) di bawah ini:

…….. (2.39)

Maka semakin baik faktor daya yang dihasilkan maka daya out put juga semakin

besar, dengan kata lain rugi – rugi yang dihasilkan menjadi lebih kecil. Maka dari

Persamaan 2.39 dapat disimpulkan semakin baik faktor daya, maka efisiensi yang

dihasilkan juga semakin baik. [1]

2.11 Pengaruh Faktor Daya Terhadap Regulasi dan Efisiensi

Adapun faktor yang menjadi keunggulan generator sinkron dibandingkan

dengan generator yang lain adalah tingkat regulasi tegangan (VR) adalah suatu

ukuran kemampuan dari sebuah generator untuk menjaga tegangan terminal tetap

konstan walaupun terjadi perubahan beban. Regulasi tegangan dapat didefenisikan

dengan persamaan (2.40)

38

Universitas Sumatera Utara


.............(2.40)

Dimana:

Ef= Tegangan terminal generator pada saat beban nol

Vt = Tegangan terminal generator pada saat beban penuh [volt]

Seperti halnya dengan mesin-mesin listrik lainnya, maupun transformator, maka

efisiensi generator sinkron dapat dituliskan sebagai persamaan (2.41).

............(2.41)

dimana :

P =P + Σ rugi P
in out

P = daya keluaran
out

P = daya masukan
in

2.12 Faktor Daya

Dalam sistem listrik AC/Arus Bolak-Balik ada tiga jenis daya yang

dikenal, khususnya untuk beban yang memiliki impedansi (Z), yaitu:

 Daya semu (S), VA (Volt Amper)

 Daya aktif (P), Watt

 Daya reaktif (Q), VAR (Volt Amper Reaktif)

Untuk rangkaian listrik AC, bentuk gelombang tegangan dan arus

sinusoida, besarnya daya setiap saat tidak sama. Maka daya yang merupakan daya

rata-rata diukur dengan satuan Watt. Daya ini membentuk energi aktif persatuan

waktu dan dapat diukur dengan kwh meter dan juga merupakan daya nyata atau

daya aktif (daya yang sebenarnya) yang digunakan oleh beban.

39

Universitas Sumatera Utara


Sedangkan daya semu dinyatakan dengan satuan Volt-Ampere (disingkat,

VA), menyatakan kapasitas peralatan listrik, seperti yang tertera pada peralatan

generator dan transformator. Pada suatu instalasi, khususnya di pabrik/industri juga

terdapat beban tertentu seperti motor listrik, yang memerlukan bentuk lain dari daya,

yaitu daya reaktif (VAR) untuk membuat medan magnet atau dengan kata lain daya

reaktif adalah daya yang terpakai sebagai energi pembangkitan flux magnetik

sehingga timbul magnetisasi dan daya ini dikembalikan ke sistem karena efek induksi

elektromagnetik itu sendiri, sehingga daya ini sebenarnya merupakan beban

(kebutuhan) pada suatu sistim tenaga listrik.

Gambar 2.26 Segitiga Daya

Faktor daya atau faktor kerja adalah perbandingan antara daya aktif (watt)

dengan daya semu/daya total (VA), atau cosinus sudut antara daya aktif dan daya

semu/daya total (lihat Gambar 2.26). Daya reaktif yang tinggi akan meningkatkan

sudut ini dan sebagai hasilnya faktor daya akan menjadi lebih rendah. Faktor daya

selalu lebih kecil atau sama dengan satu. Faktor daya menggambarkan sudut

phasa antara daya aktif dan daya semu. Faktor daya yang rendah merugikan

karena mengakibatkan arus beban tinggi. Perbaikan faktor daya ini menggunakan

kapasitor. [5]

40

Universitas Sumatera Utara


Besarnya daya reaktif yang diperlukan untuk mengubah faktor daya dari

cos φ menjadi cos φ dapat ditentukan dengan persamaan (2.42)


1 2

ΔQ = P Tan (φ – φ ) VAR ...................... (2.42)


1 2

Gambar 2.27 Perbaikan Faktor Daya

Kemudian besar nilai kapasitornya dapat dihitung dengan persamaan (2.43)

………. (2.43)

Dimana :

φ : adalah faktor daya sebelum diperbaiki


1

φ : adalah faktor daya sesudah diperbaiki


2

ΔCperfasa : Besar nilai kapasitor perfasa

ΔQ : Jumlah daya reaktif yang dibutuhkan untuk memperbaiki faktor daya (VAR)

Bertambahnya beban yang dilayani generator identik dengan bertambahnya daya

nyata atau daya reaktif yang mengalir dari generator. Maka pertambahan beban

akan menambah arus saluran yang mengalir dari generator, pertambahan arus

saluran ini akan mempengaruhi nilai tegangan terminal Vt. hal yang berpengaruh

terutama oleh factor daya beban, seperti pada Gambar 2.28 , diperlihatkan

diagram fasor untuk penambahan beban dengan faktor daya tertinggal, faktor daya

41

Universitas Sumatera Utara


satu, dan faktor daya terdahulu, dimana Vt' adalah tegangan terminal setelah

beban dengan faktor daya yang sama ditambahkan, dan Vt menyatakan tegangan

terminal pada saat awal.

(a)

(a)

(b)

Gambar 2.28 Perubahan fasor untuk berbagai beban yang berubah (a) Induktif,

(b) Resistif, (c) Kapasitif.

42

Universitas Sumatera Utara


Terlihat bahwa untuk beban induktif, pertambahan beban akan

mengurangi tegangan terminal akan mengecil. Begitu juga jika beban resistif

ditambahkan maka tegangan terminal juga akan mengecil. Jika beban kapasitif

ditambahkan, maka tegangan terminal cenderung membesar. [8]

2.13 Regulasi Tegangan

Jika pada sebuah generator dilakukan pengukuran tegangan dalam keadaan

tanpa beban dan berbeban, ternyata terdapat perbedaan dari hasil pengukuran

tersebut. Dimana terlihat bahwa dengan berubahnya beban maka tegangan terminal

dari generator juga akan berubah. Perubahan besarnya (magnitude) tegangan tidak

hanya tergantung dari besarnya beban, tetapi juga dipengaruhi cos φ beban.

Pengaturan tegangan (voltage regulation) dari suatu generator sinkron

dapat didefinisikan sebagai perubahan tegangan terminal dari beban nol (no-load)

ke beban penuh (full-load) dengan menjaga eksitasi medan dan putaran tetap,

dibagi dengan tegangan beban penuh (full-load). Dimana tegangan pada terminal

dari generator sinkron tergantung dari beban yang terpasang dan juga faktor daya

(power factor) beban tersebut. Pengaturan tegangan ini dinyatakan dalam persen

(%) dari tegangan nominal dan perbedaan tegangan bukan secara vektor, tetapi

besaran yang dinyatakan dalam persamaan (2.44)

………(2.44)

VR = Regulasi Tegangan Vt = Tegangan Terminal

Ef = Tegangan Induksi

43

Universitas Sumatera Utara


Perlu dicatat bahwa E - V adalah selisih aritmatik bukan selisih fasor.
0 FL

Faktor – faktor yang mempengaruhi regulasi tegangan sebuah generator sinkron

antara lain :

a.) Jatuh tegangan akibat I R pada belitan jangkar


a a

b.) Jatuh tegangan akibat I X


a L

c.) Perubahan tegangan akibat reaksi jangkar

Gambar 2.29 menunjukkan pengaruh perubahan beban terhadap perubahan

tegangan terminal dengan faktor daya (power factor) yang berbeda.

Gambar 2.29 Pengaruh Perubahan beban terhadap tegangan terminal

Dari Gambar 2.29 dapat dilihat bahwa perubahan tegangan terminal karena

reaksi jangkar bergantung pada arus beban (I ) L dan faktor daya (PF) dari beban.

Untuk beban dengan faktor daya mendahului (leading), tegangan terminal tanpa

beban lebih kecil daripada tegangan terminal beban penuh. Oleh karena itu, regulasi

tegangan bernilai negatif. Untuk beban dengan faktor daya tertinggal (lagging),

tegangan terminal tanpa beban lebih besar daripada tegangan terminal beban penuh.

44

Universitas Sumatera Utara


Maka, regulasi tegangan bernilai positif. Sedangkan untuk beban dengan faktor daya

1 (unity), nilai tegangan terminal tanpa beban hampir sama dengan nilai tegangan

terminal beban penuh. Oleh karena itu, regulasi tegangan bernilai mendekati 0 persen.

[5]

Untuk setiap metode mencari regulasi tegangan, diperlukan data – data

sebagai berikut :

1.) Tahanan jangkar (armatur) R


a

Tahanan jangkar R per fasa ditentukan dengan menggunakan metode


a

pengukuran langsung dan bernilai searah (DC). Harga tahanan jangkar efektif

(AC) lebih besar dari pada nilai DC ini karena adanya skin effect. Untuk

memperoleh nilai efektifnya, nilai hasil pengukuran (nilai DC) biasanya dikalikan

faktor kali (f) :

R = 1,5 R
a dc

2.) Karakteristik beban nol atau open circuit characteristic (OCC)

Sama seperti kurva magnetisasi pada suatu mesin DC, karakteristik beban nol

dari suatu generator sinkron adalah kurva antara tegangan terminal jangkar

(tegangan fasa – fasa) pada keadaan hubungan terbuka dan arus medan ketika

generator sinkron (alternator) bekerja pada kecepatan nominal.

3.) Karakteristik hubung singkat atau short circuit characteristic (SCC)

Gambar rangkaian, langkah – langkah dan karakteristik hubung singkat (SCC)

telah diperlihatkan disub bab sebelumnya. Dimana, terminal – terminal armatur

dihubung singkat melalui ampere meter dan arus medan (If) dinaikkan secara

45

Universitas Sumatera Utara


bertahap dari nol hingga diperoleh arus hubung singkat (I ) bernilai hampir dua
sc

kali arus nominal. Selama test ini kecepatan yang mungkin bukan kecepatan

sinkron harus dijaga konstan. Untuk metode Potier faktor daya adalah nol.

Tidak diperlukan pembacaan lebih dari sekali karena SCC merupakan suatu

garis lurus yang melewati titik awal. Hal ini disebabkan karena tahanan jangkar R
a

lebih kecil daripada reaktansi sinkron (X ), arus hubung singkat (I ) tertinggal hampir
s sc

sebesar 90º terhadap tegangan terinduksi V . Akibatnya, fluks armatur ( φ ) dan fluks
f a

medan (φ ) berlawanan arah sehingga fluks resultan ( φ ) bernilai kecil. Karena ( φ )


f R R

bernilai kecil, pengaruh saturasi akan diabaikan dan arus hubung singkat (I )
sc

berbanding lurus dengan arus medan melebihi batas (range) dari nol sampai

melampaui arus nominal.

2.15 Metode Penentuan Regulasi Tegangan Generator 3 Fasa

Cara menentukan pengaturan tegangan untuk mesin – mesin kecil dapat

diperoleh dengan cara langsung, yaitu generator sinkron diputar pada kecepatan

nominal, eksitasi diatur sehingga menghasilkan tegangan nominal (V) pada beban

penuh, kemudian beban dilepas dengan menjaga agar putaran tetap konstan. Selain

itu, arus eksitasi juga harus dijaga konstan. Maka, akan diperoleh harga tegangan

pada beban nol (E0) dan regulasi tegangan dapat dihitung dengan persamaan di atas.

Untuk mesin – mesin besar, metode yang digunakan untuk menentukan

regulasi tegangan dengan cara langsung sering kali tidak dapat dilakukan. Hal ini

disebabkan oleh rating kVA yang sangat tinggi. Terdapat beberapa metode tidak

46

Universitas Sumatera Utara


langsung yang hanya memerlukan sejumlah kecil daya jika dibandingkan dengan

daya yang diperlukan pada metode langsung. Beberapa metode tersebut antara lain :

a.) Metode impedansi sinkron (EMF)

b.) Metode ampere lilit (MMF)

c.) Metode Potier (zero power factor)

d.) Metode New ASA (American Standard Association)

dalam Tugas Akhir ini hanya akan dibahas metode Potier (zero power factor)

dan metode New ASA (American Standard Association)

2.15.1 Metode Potier

Metode ini disebut juga metode umum , atau metode reaktansi potier, atau

metode reaksi jangkar dalam menentukan pengaturan tegangannya. Pada metode

EMF, fasor tegangan digunakan dan pada metode MMF fasor mmf digunakan,

untuk metode ZPF kedua fasor ini digunakan, yakni emf dan mmf sebagai

tegangan, dan mmf sebagai eksitasi atau amper medan.

Khusus untuk karakteristik beban penuh dengan faktor daya nol dapat

diperoleh dengan cara melakukan percobaan terhadap generator seperti halnya

pada saat percobaan tanpa beban, yaitu menaikkan arus medan secara bertahap,

yang membedakannya supaya menghasilkan faktor daya nol, maka generator

harus diberi beban reaktor murni. Arus jangkar dan faktor daya nol saat dibebani

harus dijaga konstan.

Langkah-langkah untuk menggambar Diagram Potier sebagai berikut :

1. Pada kecepatan sinkron dengan beban reaktor, atur arus medan sampai

tegangan nominal dan beban reaktor (arus beban) sampai arus nominal.

47

Universitas Sumatera Utara


2. Gambarkan garis sejajar melalui kurva beban nol. Buat titik A yang

menunjukkan nilai arus medan pada percobaan faktor daya nol pada saat tegangan

nominal.

3. Buat titik B, berdasarkan percobaan hubung singkat dengan arus jangkar penuh.

OB menunjukkan nilai arus medan saat percobaan tersebut.

4. Tarik garis AD yang sama dan sejajar garis OB.

5. Melalui titik D tarik garis sejajar kurva senjang udara sampai memotong kurva

beban nol dititik J. Segitiga ADJ disebut segitiga Potier.

6. Gambar garis JF tegak lurus AD. Panjang JF menunjukkan kerugian tegangan

akibat reaktansi bocor.

7. AF menunjukkan besarnya arus medan yang dibutuhkan untuk mengatasi efek

magnetisasi akibat reaksi jangkar saat beban penuh.

8. DF untuk penyeimbang reaktansi bocor jangkar (JF).

Seperti yang di tunjukkan pada Gambar 6.8.1 dibawah ini :

Gambar 2.30 Diagram Lengkap Metode Segitiga Potier

48

Universitas Sumatera Utara


Dari Gambar diagram Potier diatas, bisa dilihat bahwa :

- V nilai tegangan terminal saat beban penuh.

a. V ditambah JF (I.X) menghasilkan tegangan E.

- BH = AF = arus medan yang dibutuhkan untuk mengatasi reaksi jangkar.

- Bila vektor BH ditambah kan ke OG, maka besarnya arus medan yang

dibutuhkan untuk tegangan tanpa beban E dapat diketahui dengan persamaan


0

% VR =

Diagram vektor potier juga dapat digambarkan terpisah seperti Gambar 6.8.2

Berikut:

Gambar 2.31 Diagram Vektor Potier

Dari Gambar 3.14 di atas dapat diketahui bahwa :

a.) Untuk faktor daya lagging dengan sudut φ, vektor I digambarkan tertinggal

dari V sebesar φ.

b.) Vektor IRa digambarkan sejajar dengan vektor I dan IXL digambarkan tegak

lurus terhadap IRa.

c.) Garis OJ menunjukkan besar tegangan E dengan besar eksitasinya (garis OG)

yang digambarkan dengan sudut 90º terhadap E (garis OJ).

49

Universitas Sumatera Utara


d.) Garis GI (garis BH = garis AF pada gambar 3.13) menunjukkan arus medan

yang sebanding dengan reaksi jangkar beban penuh dan digambarkan sejajar

dengan vektor arus I.

e.) Garis OI menunjukkan eksitasi medan untuk tegangan E0. Dimana, vektor E0

tertinggal sebesar 90º terhadap garis OI.

f.) Garis JK menunjukkan jatuh tegangan akibat reaktansi jangkar (IXL).

6.8.2 Metode New ASA ( American Standart Association )

Metode ini merupakan modifikasi dari metode MMF yang memberikan

hasil yang lebih memuaskan dan dapat digunakan untuk kedua jenis mesin

sinkron type rotor silent maupun rotor silient kompleks. Hanya dua titik A dan F’

yang diperlukan dari ZPFC . titik A ditentukan dari pembebanan over exiter (

untuk alternator dan under exiter ( untuk motor ) sampai arus jankar beban penuh

mengalir pada tegangan normalnya. Titik F’ ditentukan dari ( Fa + Fat ) yang

dihasilkan arus jangkar beban penuh pada saat test hubung singkat . Dan reaktansi

Xat ditentukan dari garis BC pada segitiga potiernya. Untuk mesin yangh didesain

dengan baik tahan kumparannya cukup kecil, sehingga dapat diabaikan dan I.r =

0.

50

Universitas Sumatera Utara

Anda mungkin juga menyukai