Tatalaksana Asma Gina 2024
Tatalaksana Asma Gina 2024
DEFINISI
Penyakit asma berasal dari kata “Asthma” yang diambil dari bahasa Yunani yang berarti
“sukar bernapas.” Penyakit asma dikenal karena adanya gejala sesak napas, batuk dan mengi yang
disebabkan oleh penyempitan saluran napas. Asma juga disebut penyakit paru-paru kronis yang
menyebabkan penderita sulit bernapas. Hal ini disebabkan karena pengencangan dari otot sekitar
saluran pernafasan, peradangan, rasa nyeri, pembengkakan, dan iritasi pada saluran nafas di paru-
paru. Peningkatan respon dari trakhea dan bronkus terhadap bermacam – macam stimuli yang
ditandai dengan penyempitan bronkus atau bronkhiolus dan sekresi yang berlebih dari kelenjar –
kelenjar di mukosa bronchus juga dapat menjadi penyebab asma (Ardinata, 2008).
Asma adalah gangguan inflamasi kronik saluran napas yang melibatkan banyak sel dan
elemennya. Inflamasi yang terjadi pada asma adalah inflamasi yang khas yaitu inflamasi yang
disertai infiltrasi eosinofil, hal ini yang membedakan asma dari gangguan inflamasi jalan napas
lainnya. Eosinofil merupakan inflamasi utama pada asma, terbukti setelah inhalasi dengan alergen
didapatkan peningkatan eosinofil pada cairan kurasan bronkoalveolar ( BAL) pada saat reaksi
asma lambat yang desertai dengan inflamasi (Najoan, 2008).
Adapun faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian asma adalah:
1. Imunitas dasar
Mekanisme imunitas terhadap kejadian inflamasi pada asma kemungkinan terjadi ekspresi
sel Th2 yang berlebihan. Gen ORMDL3 mempunyai hubungan kuat sebagai faktor predisposisi
asma (Moffatt, 2007).
2. Umur
Insidensi tertinggi asma biasanya mengenai anak-anak (7-10%), yaitu umur 5 – 14 tahun.
Sedangkan pada orang dewasa, angka kejadian asma lebih kecil yaitu sekitar 3-5%. Kejadian asma
pada kelompok umur 18 – 34 tahun adalah 14% sedangkan >65 tahun menurun menjadi 8.8%. Di
Jakarta, sebuah studi pada RSUP Persahabatan menyimpulkan rerata angka kejadian asma adalah
umur 46 tahun (Pratama, 2009).
3. Jenis Kelamin
Jenis kelamin laki-laki merupakan sebuah faktor resiko terjadinya asma pada anak-anak.
Akan tetapi, pada masa pubertas, rasio prevalensi bergeser dan menjadi lebih sering terjadi pada
perempuan. Pada manusia dewasa tidak didapati perbedaan angka kejadian asma di antara kedua
jenis kelamin (Maryono, 2009).
4. Faktor pencetus
Paparan terhadap alergen merupakan faktor pencetus asma yang paling penting. Alergen –
allergen ini dapat berupa kutu debu, kecoak, binatang, dan polen/tepung sari. Kutu debu umumnya
ditemukan pada lantai rumah, karpet dan tempat tidur yang kotor. Kecoak telah dibuktikan
menyebabkan sensitisasi alergi, terutama pada rumah di perkotaan. Paparan terhadap binatang,
khususnya bulu anjing dan kucing dapat meningkatkan sensitisasi alergi asma. Konsentrasi polen
di udara bervariasi pada setiap daerah dan biasanya dibawa oleh angin dalam bentuk partikel –
partikel besar (Nurafiatin, 2007).
Iritan – iritan berupa paparan terhadap rokok dan bahan kimia juga telah dikaitkan dengan
kejadian asma. Dimana rokok diasosiasikan dengan penurunan fungsi paru pada penderita asma,
meningkatkan derajat keparahan asma, dan mengurangi responsivitas terhadap pengobatan asma
dan pengontrolan asma. Balita dari ibu yang merokok mempunyai resiko 4 kali lebih tinggi
menderita kelainan seperti mengi dalam tahun pertama kehidupannya (Nurafiatin, 2007).
Kegiatan fisik yang berat tanpa diselingi istirahat yang adekuat juga dapat memicu
terjadinya serangan asma. Riwayat penyakit infeksi saluran pernapasan juga telah dihubungkan
dengan kejadian asma. Sekitar 40% anak penderita asma dengan riwayat infeksi saluran
pernapasan (Respiratory syncytial virus) akan terus menderita mengi atau menderita asma dalam
kehidupannya (Nurafiatin, 2007).
5. Status sosial ekonomi
Hubungan antara status sosial ekonomi/ pendapatan dengan prevalensi derajat asma berat.
Dimana, prevalensi derajat asma berat paling banyak terjadi pada penderita dengan status sosio-
ekonomi yang rendah, yaitu sekitar 40% (Nurafiatin, 2007).
b. Epitel
Sel epitel yang teraktivasi mengeluarkan a.l 15-HETE, PGE2 pada penderita asma. Sel
epitel dapat mengekspresi membran markers seperti molekul adhesi, endothelin, nitric oxide
synthase, sitokin atau khemokin (Syaifuddun, 2008).
Epitel pada asma sebagian mengalami sheeding. Mekanisme terjadinya masih
diperdebatkan tetapi dapat disebabkan oleh eksudasi plasma, eosinophil granule protein, oxygen
free-radical, TNF-alfa, mast-cell proteolytic enzym dan metaloprotease sel epitel (Syaifuddun,
2008).
c. Eosinofil
Eosinofil jaringan (tissue eosinophil) karakteristik untuk asma tetapi tidak spesifik.
Eosinofil yang ditemukan pada saluran napas penderita asma adalah dalam keadaan teraktivasi.
Eosinofil berperan sebagai efektor dan mensintesis sejumlah sitokin antara lain IL-3, IL-5, IL-6,
GM-CSF, TNF-alfa serta mediator lipid antara lain LTC4 dan PAF. Sebaliknya IL-3, IL-5 dan
GM-CSF meningkatkan maturasi, aktivasi dan memperpanjang ketahanan hidup eosinofil.
Eosinofil yang mengandung granul protein ialah eosinophil cationic protein (ECP), major basic
protein (MBP), eosinophil peroxidase (EPO) dan eosinophil derived neurotoxin (EDN) yang
toksik terhadap epitel saluran napas (Syaifuddun, 2008).
d. Sel Mast
Sel mast mempunyai reseptor IgE dengan afiniti yang tinggi. Cross-linking reseptor IgE
dengan “factors” pada sel mast mengaktifkan sel mast. Terjadi degranulasi sel mast yang
mengeluarkan preformed mediator seperti histamin dan protease serta newly generated mediators
antara lain prostaglandin D2 dan leukotrin. Sel mast juga mengeluarkan sitokin antara lain TNF-
alfa, IL-3, IL-4, IL-5 dan GM-CSF (Syaifuddun, 2008).
e. Makrofag
Merupakan sel terbanyak didapatkan pada organ pernapasan, baik pada orang normal
maupun penderita asma, didapatkan di alveoli dan seluruh percabangan bronkus. Makrofag dapat
menghasilkan berbagai mediator antara lain leukotrin, PAF serta sejumlah sitokin. Selain berperan
dalam proses inflamasi, makrofag juga berperan pada regulasi airway remodeling. Peran tersebut
melalui a.l sekresi growth-promoting factors untuk fibroblast, sitokin, PDGF dan TGF-b
(Syaifuddun, 2008).
Modifikasi asma berdasarkan National Asthma Education Program (NAEPP) yaitu :
1. Asma Ringan
Singkat (< 1 jam ) eksaserbasi symptomatic < dua kali/minggu
Puncak aliran udara ekspirasi > 80% diduga akan tanpa gejala.
2. Asma Sedang
Kemampuan puncak ekspirasi /detik dan kemampuan volume ekspirasi berkisar
Gejala asma kambuh >2 kali / mingggu
Kekambuhan mempengaruhi aktivitasnya
Kekambuhan mungkin berlangsung berhari-hari antara 60-80%.
3. Asma Berat
Gejala terus menerus menganggu aktivitas sehari-hari
Puncak aliran ekspirasi dan kemampuan volume ekspirasi kurang dari 60% dengan variasi
luas
Diperlukan kortikosteroid oral untuk menghilangkan gejala
(Muchid, 2007).
B. GEJALA ASMA
Gejala asma bersifat episodik, seringkali reversibel dengan/atau tanpa pengobatan. Gejala
awal berupa :
1. Batuk terutama pada malam atau dini hari
2. Sesak napas
3. Napas berbunyi (mengi) yang terdengar jika pasien menghembuskan napasnya
4. Rasa berat di dada
5. Dahak sulit keluar
Gejala yang berat adalah keadaan gawat darurat yang mengancam jiwa. Yang termasuk
gejala yang berat adalah :
1. Serangan batuk yang hebat
2. Sesak napas yang berat dan tersengal-sengal
3. Sianosis (kulit kebiruan, yang dimulai dari sekitar mulut)
4. Sulit tidur dan posisi tidur yang nyaman adalah dalam keadaan duduk
5. Kesadaran menurun
(Muchid, 2007).
C. EPIDEMIOLOGI ASMA
Asma merupakan penyakit kronik yang benyak diderita oleh anak dan dewasa baik di
negara maju maupun di negara berkembang. Sekitar 300 juta manusia di dunia menderita asma
dan diperkirakan akan terus meningkat hingga mencapai 400 juta pada tahun 2025. Satu dari 250
orang yang meninggal adalah penderita asma (Ratnawati, 2011).
Penelitian cross sectional International Study of Asthma and Allergies in Childhood
(ISAAC) yang dilaukan di 56 negara mendapatkan angka prevalens yang sangat bervariasi berkisar
antara 2,1 % hingga 32,2% pada kelompok 13-14 tahun dan 4,1% hingga 32,1% pada kelompok
6-7 tahun. Angka kekerapan yang tinggi terutama pada negara Inggris, Australia dan New Zealand,
sedangkan prevalens asma rendah pada negara berkembang seperti China, India, Meksiko dan
Indonesia (Ratnawati, 2011).
Asma merupakan sepuluh besar penyebab kesakitan dan kematian di Indonesia, hal itu
tergambar dari data studi survey kesehatan rumah tangga (SKRT) di berbagai propinsi di
Indonesia. Pada SKRT 1992, asma, bronchitis kronik dan emfisema sebagai penyebab kematian
(mortalitas) ke-4 di Indonesia atau sebesar 5,6 %. Tahun 1995, prevalens asma di seluruh Indonesia
sebesar 13/1000, dibandingkan bronchitis kronis 11/1000 dan obstruksi paru 2/1000. Di Indonesia
belum ada survei asma secara nasional. Hasil penelitian menunjukkan prevalens asma di Indonesia
sangat bervariasi. Perbedaan ini antara lain disebabkan kriteria definisi asma yang berbeda dalam
penelitian, perbedaan metodologi yang digunakan, perbedaan etnik, perbedaan faktor lingkungan
dan tempat tinggal serta perbedaan status social ekonomi subjek penelitian (Ratnawati, 2011).
D. PATOFISIOLOGI ASMA
Asma merupakan peradangan saluran napas yang bisa dimediasi oleh berbagai subtipe sel,
sehingga terjadi hiperresponsive saluran udara yang pada akhirnya membatasi aliran udara dan
menyebabkan Gejala yang bervariasi. Bronkokonstriksi saluran napas awal terjadi dengan diikuti
oleh edema saluran napas dan produksi lendir yang berlebihan, disertai dengan hiperresponsif
saluran napas dan diikuti dengan perubahan kronis dalam epitel saluran napas (airway
remodeling). Peradangan saluran napas dimediasi oleh berbagai sitokin dan kemokin (sitokin yang
spesifik untuk kemotaksis dan aktivasi leukosit). Sitokin diproduksi oleh sejumlah tipe sel,
termasuk limfosit, eosinofil, dan sel mast. sitokin proinflamasi (interleukin-4 [IL-4], IL-5, dan IL-
13), diproduksi terutama oleh T-helper (Th) 2 limfosit, diyakini dapat memicu peradangan alergi
asma. Ketidakseimbangan antara limfosit Th1 dan Th2 (khususnya, menurunnya aktivitas Th1
dengan peningkatan Aktivitas Th2) memberikan kontribusi untuk peradangan kronis asma.
Kemokin memainkan peran kunci dalam peradangan. Protein ini merekrut sel proinflamasi,
termasuk Limfosit Th2, sel mast, neutrofil, dan eosinofil. Eosinofil dan sel mast memiliki peran
yang berbeda dalam patogenesis asma. Jenis sel menghasilkan proinflamasi sitokin serta
leukotrien, yang menyebabkan bronkokonstriksi (Hill, 2012).
Infeksi virus dan alergen udara dapat memicu respon yang pada akhirnya menyebabkan
gejala asma. IgE memainkan peran penting dalam proses ini, karena ditunjukkan dengan bukti
bahwa pemberian anti-IgE antibodi monoklonal mengurangi gejala asma dan meningkatkan fungsi
paru-paru. Respon IgE terhadap allergen menyebabkan sel mast dan basofil terdegranulasi,
penyebab bronkospasme serta pelepasan proinflamasi sitokin dan kemokin. Bronkodilator dapat
meregangkan otot polos saluran napas, jika diberikan selama periode awal bronkospasme. Namun,
karena meningkatnya hyperresponsiveness saluran napas dan peradangan yang terjadi pada akhir
respon, terapi bronkodilator tidak efektif, dan obat anti-inflamasi diperlukan (Hill, 2012).
Keterbatasan aliran udara pada penyakit asma dapat muncul secara berulang dan
disebabkan oleh berbagai macam perubahan yang terjadi pada saluran udara. Antara lain:
1. Bronkokonstriksi
Pada asma, kondisi fisiologi seseorang yang secara dominan menyebabkan simptom klinik
adalah penyempitan saluran pernapasan dan adanya gangguan pada aliran udara. Pada asma akut,
kontraksi dari otot halus bronchial (bronkokonstriksi) terjadi secara cepat untuk menyempitkan
saluran pernapasan sebagai respon dari paparan stimulus seperti allergen atau irritant.
Bronkokonstriksi akut terinduksi allergen adalah hasil dari pelepasan IgE-dependent mediator dari
sel mast yang termasuk histamine, triptase, leukotrien, dan prostaglandin yang secara langsung
akan menyebabkan kontraksi otot halus saluran pernapasan. Aspirin dan golongan obat anti-
inflamasi nonsteroid lain dapat juga menyebabkan obstruksi saluran pernapasan akut pada
sebagian pasien, dan bukti menunjukkan bahwa respon dari non-IgE-dependent juga berpengaruh
pada pelepasan mediator dari sel saluran pernapasan. Sebagai tambahan, stimulus lain (termasuk
olahraga, udara dingin, dan irritant) dapat menyebabkan obstruksi saluran pernapasan akut (Hill,
2012).
F. DIAGNOSTIK ASMA
Asma dapat diklasifikasikan berdasarkan etiologi, berat penyakit dan pola keterbatasan
aliran udara. Klasifikasi asma berdasarkan berat penyakit penting bagi pengobatan dan
perencanaan penatalaksanaan jangka panjang, semakin berat asma semakin tinggi tingkat
pengobatan (Depkes RI, 2007).
(Depkes RI, 2007).
Pemeriksaan Penunjang:
1. Spirometer
Spirometri adalah mesin yang dapat mengukur kapasitas vital paksa (KVP) dan volume
ekspirasi paksa detik pertama (VEP1). Pemeriksaan ini sangat tergantung kepada kemampuan
pasien sehingga diperlukan instruksi operator yang jelas dan kooperasi pasien. Untuk mendapatkan
nilai yang akurat, diambil nilai tertinggi dari 2-3 nilai yang diperiksa. Sumbatan jalan napas
diketahui dari nilai VEP1 < 80% nilai prediksi atau rasio VEP1/KVP < 75% (Depkes RI, 2007).
Selain itu, dengan spirometri dapat mengetahui reversibiliti asma, yaitu adanya perbaikan
VEP1 > 15 % secara spontan, atau setelah inhalasi bronkodilator (uji bronkodilator), atau setelah
pemberian bronkodilator oral 10-14 hari, atau setelah pemberian kortikosteroid (inhalasi/oral) 2
minggu (Depkes RI, 2007).
2. Peak Expiratory Flow Meter/PEFM.
H. PENATALAKSANAAN TERAPI
Tujuan penatalaksanaan asma :
1. Menghilangkan dan mengendalikan gejala asma
2. Mencegah eksaserbasi akut
3. Meningkatkan dan mempertahankan faal paru seoptimal mungkin
4. Mengupayakan aktiviti normal termasuk exercise
5. Menghindari efek samping obat
6. Mencegah terjadinya keterbatasan aliran udara (airflow limitation) ireversibel
7. Mencegah kematian karena asma
(Depkes RI, 2007).
2. TERAPI FARMAKOLOGI
a. Asma Akut
Gambar 4. Managemen eksaserbasi asma akut (DiPiro, 2008).
b. Asma Kronik
Gambar 5. Tatalaksana pengobatan asma pada anak 0-4 tahun (DiPiro, 2008).
Tabel diatas merupakan tata laksana manajemen pengobatan untuk anak usia 0 – 4 tahun
yang mengalami asma dibedakan menjadi intermittent asma dan persistent asma (obat harian).
Pada anak usia 0 – 4 tahun yang menderita intermittent asma langkah pertama yang dapat diambil
adalah pemberian SABA PRN, pada anak usia 0 – 4 tahun yang menderita persistent asma ringan,
langkah pertama yang disarankan yaitu pemberian ICS dosis rendah atau dapat diberikan cromolin
sebagai alternative. Pada anak usia 0 – 4 tahun yang menderita persistent asma menengah dapat
disarankan dengan pemberian ICS dosis medium-tinggi dan dapat dibantu dengan pemberian
LABA dan pada anak usia 0 – 4 tahun penderita persistent asma berat dapat diberikan ICS dosis
tinggi dengan LABA dan juga dapat dibantu dengan penambahan kortikosteroid oral untuk
meningkatkan efektifitas pengobatan (DiPiro, 2008).
Gambar 6. Tatalaksana pengobatan asma pada anak 5-11 tahun (DiPiro, 2008).
Tabel diatas merupakan tata laksana manajemen pengobatan untuk anak usia 5-11 tahun
yang mengalami asma dibedakan menjadi intermittent asma dan persistent asma (obat harian).
Pada anak usia 5-11 tahun yang menderita intermittent asma langkah pertama yang dapat diambil
adalah pemberian SABA PRN, pada anak usia 5-11 tahun yang menderita persistent asma ringan,
langkah pertama yang disarankan yaitu pemberian ICS dosis rendah atau dapat diberikan cromolin,
nedokromil dan teofilin sebagai alternative. Pada anak usia 5-11 tahun yang menderita persistent
asma menengah dapat disarankan dengan pemberian ICS dosis medium atau dapat dibantu dengan
pemberian LABA. Dan pada anak usia 5-11 tahun penderita persistent asma berat dapat diberikan
ICS dosis tinggi dengan LABA atau dapat dibantu dengan penambahan kortikosteroid oral untuk
meningkatkan efektifitas pengobatan. Langkah 2-4 dapat dipertimbangkan sebagai pengobatan
asma alergi (DiPiro, 2008).
Gambar 7. Tatalaksana pengobatan asma pada orang dewas tahun (DiPiro, 2008).
Tabel diatas merupakan tata laksana manajemen pengobatan untuk anak dewasa yang
mengalami asma dibedakan menjadi intermittent asma dan persistent asma (obat harian). Pada
orang dewasa yang menderita intermittent asma langkah pertama yang dapat diambil adalah
pemberian SABA PRN, pada orang dewasa yang menderita persistent asma ringan, langkah
pertama yang disarankan yaitu pemberian ICS dosis rendah atau dapat diberikan cromolin,
nedokromil dan teofilin sebagai alternative. Pada orang dewasa yang menderita persistent asma
menengah dapat disarankan dengan pemberian ICS dosis medium atau dapat dibantu dengan
pemberian LABA. Dan pada orang dewasa penderita persistent asma berat dapat diberikan ICS
dosis tinggi dengan LABA , serta penggunaan Omalizumab pada pasien yang memiliki alergi
(DiPiro, 2008).
ICS telah dipertimbangkan digunakan untuk terapi kontrol jangka panjang untuk asma
persisten pada semua pasien karena potensi dan efektivitasnya. Dosis rendah hingga menengah
ICSs mengurangi Bronkohiperresponsivitas (BHR), meningkatkan fungsi paru dan mengurangi
eksaserbasi berat. ICS lebih efektif daripada kromolin, nedokromil, teofilin atau antagonis reseptor
leukotrien. Selain itu, ICSs merupakan satu-satunya terapi yang mengurangi resiko kematian
akibat asma. Meskipun penelitian tentang alternative terapi kontrol jangka panjang ( kromolin,
antagonis reseptor leukotrien, nedokromil dan teofilin) menunjukkan peningkattan symptom dan
fungsi paru, obat tersebut tidak dapat megurangi BHR dan memiliki aktivitas antiinflamasi rendah.
Untuk pasien dengan ICSs dosis rendah yang tidak terkontrol, maka dilakukan peningkatan dosis
atau kombinasi ICSs dengan LABA pada langkah selanjutnya. Alternative lain juga dapat
menambahkan modifikator leukotrien atau teofilin dengan ICSs. Penambahan teofilin atau
leukotrien dengan ICS kurang efektif dibandingkan ICS dengan LABA dalam mengurangi
eksaserbasi asma berat (DiPiro, 2008).
3. Metilxantin
Teofilin merupakan metilxantin yang utama, menghasilkan bronkodilatasi dengan
menginhibisi fosfodiesterase yang juga dapat menghasilkan antiinflamasi melalui inhibisi
pelepasan mediator sel mast, penurunan pelepasan protein dasar eosinofil, penurunan poliferasi
limfosit T, penurunan pelepasan sitokin sel T dan penurunan eksudasi plasma. Teofilin juga
menginhibisi permeabilitas vaskuler, meningkatkan klirens mukosiliar, dan memperkuat kontraksi
diafragma. Metilxantin tidak efektif dalam bentuk aerosol dan harus diberikan secara sistemik (p.o
atau i.v). Rentang steady state 5-15 mcg/mL efektif dan aman untuk kebanyakan pasien (DiPiro,
2008).
5. Modifikator Leukotrien
Zafirlukas dan montelukas merupakan antagonis reseptor leukotrien local yang
mengurangi proinflamasi (peningkatan permeabilitas mikrovaskular dan edema jalur udara) dan
efek bronkokonstriksi leukotrien D4. Dosis dewasa zafirlukas adalah 20 mg 2x seahari, diminum
paling tidak 1 jam sebelum atau 2 jam setelah makan. Dosis untuk anak umur 5-11 tahun adalah
10mg 2x sehari, sedangkan montelukas dosis dewasa 10mg 1x sehari diminum pada sore hari tanpa
memperhintungkan makanan, dosis anak umur 6-14 tahun adalah 1 tablet kunyah dosis 5mg sehari
pada sore hari (DiPiro, 2008).
Zileuton merupakan inhibitor sintesis leukotrien, dosisnya 600 mg 4x sehari bersama
makanan dan ketika mau tidur (DiPiro, 2008).