0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
15 tayangan25 halaman

Tatalaksana Asma Gina 2024

Dokumen tersebut membahas tentang pengertian, gejala, tipe, dan faktor risiko penyakit asma. Asma adalah gangguan inflamasi kronis saluran napas yang ditandai dengan sesak napas, batuk dan mengi akibat penyempitan saluran pernafasan. Terdapat dua tipe utama asma, yaitu asma akut intermiten dan asma kronik persisten. Beberapa faktor risiko asma antara lain alergen, infeksi, status sosial ekonomi

Diunggah oleh

winda muslira
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
15 tayangan25 halaman

Tatalaksana Asma Gina 2024

Dokumen tersebut membahas tentang pengertian, gejala, tipe, dan faktor risiko penyakit asma. Asma adalah gangguan inflamasi kronis saluran napas yang ditandai dengan sesak napas, batuk dan mengi akibat penyempitan saluran pernafasan. Terdapat dua tipe utama asma, yaitu asma akut intermiten dan asma kronik persisten. Beberapa faktor risiko asma antara lain alergen, infeksi, status sosial ekonomi

Diunggah oleh

winda muslira
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

A.

DEFINISI
Penyakit asma berasal dari kata “Asthma” yang diambil dari bahasa Yunani yang berarti
“sukar bernapas.” Penyakit asma dikenal karena adanya gejala sesak napas, batuk dan mengi yang
disebabkan oleh penyempitan saluran napas. Asma juga disebut penyakit paru-paru kronis yang
menyebabkan penderita sulit bernapas. Hal ini disebabkan karena pengencangan dari otot sekitar
saluran pernafasan, peradangan, rasa nyeri, pembengkakan, dan iritasi pada saluran nafas di paru-
paru. Peningkatan respon dari trakhea dan bronkus terhadap bermacam – macam stimuli yang
ditandai dengan penyempitan bronkus atau bronkhiolus dan sekresi yang berlebih dari kelenjar –
kelenjar di mukosa bronchus juga dapat menjadi penyebab asma (Ardinata, 2008).
Asma adalah gangguan inflamasi kronik saluran napas yang melibatkan banyak sel dan
elemennya. Inflamasi yang terjadi pada asma adalah inflamasi yang khas yaitu inflamasi yang
disertai infiltrasi eosinofil, hal ini yang membedakan asma dari gangguan inflamasi jalan napas
lainnya. Eosinofil merupakan inflamasi utama pada asma, terbukti setelah inhalasi dengan alergen
didapatkan peningkatan eosinofil pada cairan kurasan bronkoalveolar ( BAL) pada saat reaksi
asma lambat yang desertai dengan inflamasi (Najoan, 2008).
Adapun faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian asma adalah:
1. Imunitas dasar
Mekanisme imunitas terhadap kejadian inflamasi pada asma kemungkinan terjadi ekspresi
sel Th2 yang berlebihan. Gen ORMDL3 mempunyai hubungan kuat sebagai faktor predisposisi
asma (Moffatt, 2007).
2. Umur
Insidensi tertinggi asma biasanya mengenai anak-anak (7-10%), yaitu umur 5 – 14 tahun.
Sedangkan pada orang dewasa, angka kejadian asma lebih kecil yaitu sekitar 3-5%. Kejadian asma
pada kelompok umur 18 – 34 tahun adalah 14% sedangkan >65 tahun menurun menjadi 8.8%. Di
Jakarta, sebuah studi pada RSUP Persahabatan menyimpulkan rerata angka kejadian asma adalah
umur 46 tahun (Pratama, 2009).
3. Jenis Kelamin
Jenis kelamin laki-laki merupakan sebuah faktor resiko terjadinya asma pada anak-anak.
Akan tetapi, pada masa pubertas, rasio prevalensi bergeser dan menjadi lebih sering terjadi pada
perempuan. Pada manusia dewasa tidak didapati perbedaan angka kejadian asma di antara kedua
jenis kelamin (Maryono, 2009).
4. Faktor pencetus
Paparan terhadap alergen merupakan faktor pencetus asma yang paling penting. Alergen –
allergen ini dapat berupa kutu debu, kecoak, binatang, dan polen/tepung sari. Kutu debu umumnya
ditemukan pada lantai rumah, karpet dan tempat tidur yang kotor. Kecoak telah dibuktikan
menyebabkan sensitisasi alergi, terutama pada rumah di perkotaan. Paparan terhadap binatang,
khususnya bulu anjing dan kucing dapat meningkatkan sensitisasi alergi asma. Konsentrasi polen
di udara bervariasi pada setiap daerah dan biasanya dibawa oleh angin dalam bentuk partikel –
partikel besar (Nurafiatin, 2007).
Iritan – iritan berupa paparan terhadap rokok dan bahan kimia juga telah dikaitkan dengan
kejadian asma. Dimana rokok diasosiasikan dengan penurunan fungsi paru pada penderita asma,
meningkatkan derajat keparahan asma, dan mengurangi responsivitas terhadap pengobatan asma
dan pengontrolan asma. Balita dari ibu yang merokok mempunyai resiko 4 kali lebih tinggi
menderita kelainan seperti mengi dalam tahun pertama kehidupannya (Nurafiatin, 2007).
Kegiatan fisik yang berat tanpa diselingi istirahat yang adekuat juga dapat memicu
terjadinya serangan asma. Riwayat penyakit infeksi saluran pernapasan juga telah dihubungkan
dengan kejadian asma. Sekitar 40% anak penderita asma dengan riwayat infeksi saluran
pernapasan (Respiratory syncytial virus) akan terus menderita mengi atau menderita asma dalam
kehidupannya (Nurafiatin, 2007).
5. Status sosial ekonomi
Hubungan antara status sosial ekonomi/ pendapatan dengan prevalensi derajat asma berat.
Dimana, prevalensi derajat asma berat paling banyak terjadi pada penderita dengan status sosio-
ekonomi yang rendah, yaitu sekitar 40% (Nurafiatin, 2007).

Adapun tipe asma adalah sebagai berikut :


1. Asma akut intermiten
Di luar serangan, tidak ada gejala sama sekali. Pemeriksaan fungsi paru tanpa provokasi
tetap normal. Penderita ini sangat jarang jatuh ke dalam status asmatikus dan dalam pengobatannya
sangat jarang memerlukan kortikosteroid (Syaifuddun, 2008).
Pencetus serangan asma dapat disebabkan oleh sejumlah faktor antara lain alergen, virus,
iritan yang dapat menginduksi respons inflamasi akut yang terdiri atas reaksi asma tipe cepat dan
pada sejumlah kasus diikuti reaksi asma tipe lambat (Syaifuddun, 2008).
a. Reaksi Asma Tipe Cepat
Alergen akan terikat pada IgE yang menempel pada sel mast dan terjadi degranulasi sel
mast tersebut. Degranulasi tersebut mengeluarkan preformed mediator seperti histamin, protease
dan newly generated mediator seperti leukotrin, prostaglandin dan PAF yang menyebabkan
kontraksi otot polos bronkus, sekresi mukus dan vasodilatasi (Syaifuddun, 2008).
b. Reaksi Fase Lambat
Reaksi ini timbul antara 6-9 jam setelah provokasi alergen dan melibatkan pengerahan serta
aktivasi eosinofil, sel T CD4+, neutrofil dan makrofag (Syaifuddun, 2008).

2. Asma kronik persisten (asma kronik)


Pada asma kronik selalu ditemukan gejala-gejala obstruksi jalan napas, sehingga
diperlukan pengobatan yang terus menerus. Hal tersebut disebabkan oleh karena saluran nafas
penderita terlalu sensitif selain adanya faktor pencetus yang terus-menerus. Berbagai sel terlibat
dan teraktivasi pada inflamasi kronik. Sel tersebut ialah limfosit T, eosinofil, makrofag , sel mast,
sel epitel, fibroblast dan otot polos bronkus (Syaifuddun, 2008).
a. Limfosit T
Limfosit T yang berperan pada asma ialah limfosit T-CD4+ subtipe Th2). Limfosit T ini
berperan sebagai orchestra inflamasi saluran napas dengan mengeluarkan sitokin antara lain IL-3,
IL-4,IL-5, IL-13 dan GM-CSF. Interleukin-4 berperan dalam menginduksi Th0 ke arah Th2 dan
bersama-sama IL-13 menginduksi sel limfosit B mensintesis IgE. IL-3, IL-5 serta GM-CSF
berperan pada maturasi, aktivasi serta memperpanjang ketahanan hidup eosinofil (Syaifuddun,
2008).

b. Epitel
Sel epitel yang teraktivasi mengeluarkan a.l 15-HETE, PGE2 pada penderita asma. Sel
epitel dapat mengekspresi membran markers seperti molekul adhesi, endothelin, nitric oxide
synthase, sitokin atau khemokin (Syaifuddun, 2008).
Epitel pada asma sebagian mengalami sheeding. Mekanisme terjadinya masih
diperdebatkan tetapi dapat disebabkan oleh eksudasi plasma, eosinophil granule protein, oxygen
free-radical, TNF-alfa, mast-cell proteolytic enzym dan metaloprotease sel epitel (Syaifuddun,
2008).
c. Eosinofil
Eosinofil jaringan (tissue eosinophil) karakteristik untuk asma tetapi tidak spesifik.
Eosinofil yang ditemukan pada saluran napas penderita asma adalah dalam keadaan teraktivasi.
Eosinofil berperan sebagai efektor dan mensintesis sejumlah sitokin antara lain IL-3, IL-5, IL-6,
GM-CSF, TNF-alfa serta mediator lipid antara lain LTC4 dan PAF. Sebaliknya IL-3, IL-5 dan
GM-CSF meningkatkan maturasi, aktivasi dan memperpanjang ketahanan hidup eosinofil.
Eosinofil yang mengandung granul protein ialah eosinophil cationic protein (ECP), major basic
protein (MBP), eosinophil peroxidase (EPO) dan eosinophil derived neurotoxin (EDN) yang
toksik terhadap epitel saluran napas (Syaifuddun, 2008).
d. Sel Mast
Sel mast mempunyai reseptor IgE dengan afiniti yang tinggi. Cross-linking reseptor IgE
dengan “factors” pada sel mast mengaktifkan sel mast. Terjadi degranulasi sel mast yang
mengeluarkan preformed mediator seperti histamin dan protease serta newly generated mediators
antara lain prostaglandin D2 dan leukotrin. Sel mast juga mengeluarkan sitokin antara lain TNF-
alfa, IL-3, IL-4, IL-5 dan GM-CSF (Syaifuddun, 2008).
e. Makrofag
Merupakan sel terbanyak didapatkan pada organ pernapasan, baik pada orang normal
maupun penderita asma, didapatkan di alveoli dan seluruh percabangan bronkus. Makrofag dapat
menghasilkan berbagai mediator antara lain leukotrin, PAF serta sejumlah sitokin. Selain berperan
dalam proses inflamasi, makrofag juga berperan pada regulasi airway remodeling. Peran tersebut
melalui a.l sekresi growth-promoting factors untuk fibroblast, sitokin, PDGF dan TGF-b
(Syaifuddun, 2008).
Modifikasi asma berdasarkan National Asthma Education Program (NAEPP) yaitu :
1. Asma Ringan
 Singkat (< 1 jam ) eksaserbasi symptomatic < dua kali/minggu
 Puncak aliran udara ekspirasi > 80% diduga akan tanpa gejala.
2. Asma Sedang
 Kemampuan puncak ekspirasi /detik dan kemampuan volume ekspirasi berkisar
 Gejala asma kambuh >2 kali / mingggu
 Kekambuhan mempengaruhi aktivitasnya
 Kekambuhan mungkin berlangsung berhari-hari antara 60-80%.
3. Asma Berat
 Gejala terus menerus menganggu aktivitas sehari-hari
 Puncak aliran ekspirasi dan kemampuan volume ekspirasi kurang dari 60% dengan variasi
luas
 Diperlukan kortikosteroid oral untuk menghilangkan gejala
(Muchid, 2007).

B. GEJALA ASMA
Gejala asma bersifat episodik, seringkali reversibel dengan/atau tanpa pengobatan. Gejala
awal berupa :
1. Batuk terutama pada malam atau dini hari
2. Sesak napas
3. Napas berbunyi (mengi) yang terdengar jika pasien menghembuskan napasnya
4. Rasa berat di dada
5. Dahak sulit keluar
Gejala yang berat adalah keadaan gawat darurat yang mengancam jiwa. Yang termasuk
gejala yang berat adalah :
1. Serangan batuk yang hebat
2. Sesak napas yang berat dan tersengal-sengal
3. Sianosis (kulit kebiruan, yang dimulai dari sekitar mulut)
4. Sulit tidur dan posisi tidur yang nyaman adalah dalam keadaan duduk
5. Kesadaran menurun
(Muchid, 2007).

C. EPIDEMIOLOGI ASMA
Asma merupakan penyakit kronik yang benyak diderita oleh anak dan dewasa baik di
negara maju maupun di negara berkembang. Sekitar 300 juta manusia di dunia menderita asma
dan diperkirakan akan terus meningkat hingga mencapai 400 juta pada tahun 2025. Satu dari 250
orang yang meninggal adalah penderita asma (Ratnawati, 2011).
Penelitian cross sectional International Study of Asthma and Allergies in Childhood
(ISAAC) yang dilaukan di 56 negara mendapatkan angka prevalens yang sangat bervariasi berkisar
antara 2,1 % hingga 32,2% pada kelompok 13-14 tahun dan 4,1% hingga 32,1% pada kelompok
6-7 tahun. Angka kekerapan yang tinggi terutama pada negara Inggris, Australia dan New Zealand,
sedangkan prevalens asma rendah pada negara berkembang seperti China, India, Meksiko dan
Indonesia (Ratnawati, 2011).
Asma merupakan sepuluh besar penyebab kesakitan dan kematian di Indonesia, hal itu
tergambar dari data studi survey kesehatan rumah tangga (SKRT) di berbagai propinsi di
Indonesia. Pada SKRT 1992, asma, bronchitis kronik dan emfisema sebagai penyebab kematian
(mortalitas) ke-4 di Indonesia atau sebesar 5,6 %. Tahun 1995, prevalens asma di seluruh Indonesia
sebesar 13/1000, dibandingkan bronchitis kronis 11/1000 dan obstruksi paru 2/1000. Di Indonesia
belum ada survei asma secara nasional. Hasil penelitian menunjukkan prevalens asma di Indonesia
sangat bervariasi. Perbedaan ini antara lain disebabkan kriteria definisi asma yang berbeda dalam
penelitian, perbedaan metodologi yang digunakan, perbedaan etnik, perbedaan faktor lingkungan
dan tempat tinggal serta perbedaan status social ekonomi subjek penelitian (Ratnawati, 2011).

Prevalensi Asma Anak


Meskipun belum ada survei asma secara nasional di Indonesia, dari penelitian yang ada
menyimpulkan bahwa prevalens asma di daerah rural (4,3%) lebih rendah dari pada di daerah
urban (6,5%) dan yan tertinggi adalah di kota besar seperti di Jakarta (16,4%) (Ratnawati, 2011).
Penelitian prevalens asma anak di beberapa kota besar di Indonesia mendapatkan hasil
yang bervariasi mulai dari 2,1 % hingga 22,2%. Penelitian Rahayu dkk terhadap 1515 anak
sekolaha dasar di Jakarta Timur mendapatkan prevalens asma sebesar 10,4%. Di Manado
prevalens asma sebesar 10,1% . Penelitian di Malang terhadap 2232 anak didapatkan prevalens
asma berumur 6-12 tahun 8,4% dan dikatakan bahwa sebagai faktor pencetus serangan asma
adalah infeksi (94,1%), makanan (51,3%), cuaca (45,5%) dan kelelahan (42,2%). Penelitian di
Jakarta Selatan terhadap 471 anak sekolah dasar yang berumur 6-12 tahun mendapatkan angka
prevalens asma 9,8 %. Beberapa penelitian terhadap anak pubertas di beberapa kota besar di
Indonesia dengan menggunakan kuesioner yang diisi sendiri menunjukkan bahwa prevalens asma
bervariasi antara 5,8% hingga 22,2% (Ratnawati, 2011).

Prevalensi Asma Dewasa


Tahun 1993 UPF Paru RSUD dr. Sutomo, Surabaya melakukan penelitian di lingkungan
37 puskesmas di Jawa Timur. Seluruhnya 6662 responden usia 13-70 tahun (rata-rata 35,6 tahun)
mendapatkan prevalens asma sebesar 7,7%, dengan rincian laki-laki 9,2% dan perempuan 6,6%.
Di Bandung, studi pada 381 mahasiswa kedokteran, mendapatkan prevalens asma 6,6%.
Sedangkan penelitian pada 153 mahasiswa di Menado dan mendapatkan prevalens asma sebesar
6.5% (Ratnawati, 2011).

Asma di Rumah Sakit


Rumah sakit Persahabatan, Jakarta merupakan pusat rujukan nasional penyakit paru di
Indonesia, menunjukkan perawatan penyakit asma tampak menurun. cenderung menurun pada
tahun 2006. Demikian juga dengan pasien rawat inap dan unit perawatan intensif. Kunjungan ke
unit gawat darurat cukup tinggi pada tahun 2000 (1653 pasien), tetapi kunjungan mulai berkurang
hingga tahun 2006 (1463 pasien). Angka kematian karena asma jarang dijumpai di RS
Persahabatan, bahkan pada tahun 2006 tidak dijumpai kematian akibat asma. Keadaan ini dapat
dimungkinkan karena berbagai alasan, antara lain keberhasilan penangan pasien rawat jalan di poli
asma RS Persahabatan, meningkatnya pengertian masyarakat mengenai penyakit asma sehingga
penderita dapat menghindari faktor pencetus asma, mudahnya mendapatkan obat-obatan asma,
atau mungkin pasien tidak datang berobat ke rumah sakit karena faktor sosial ekonomi (Ratnawati,
2011).

D. PATOFISIOLOGI ASMA
Asma merupakan peradangan saluran napas yang bisa dimediasi oleh berbagai subtipe sel,
sehingga terjadi hiperresponsive saluran udara yang pada akhirnya membatasi aliran udara dan
menyebabkan Gejala yang bervariasi. Bronkokonstriksi saluran napas awal terjadi dengan diikuti
oleh edema saluran napas dan produksi lendir yang berlebihan, disertai dengan hiperresponsif
saluran napas dan diikuti dengan perubahan kronis dalam epitel saluran napas (airway
remodeling). Peradangan saluran napas dimediasi oleh berbagai sitokin dan kemokin (sitokin yang
spesifik untuk kemotaksis dan aktivasi leukosit). Sitokin diproduksi oleh sejumlah tipe sel,
termasuk limfosit, eosinofil, dan sel mast. sitokin proinflamasi (interleukin-4 [IL-4], IL-5, dan IL-
13), diproduksi terutama oleh T-helper (Th) 2 limfosit, diyakini dapat memicu peradangan alergi
asma. Ketidakseimbangan antara limfosit Th1 dan Th2 (khususnya, menurunnya aktivitas Th1
dengan peningkatan Aktivitas Th2) memberikan kontribusi untuk peradangan kronis asma.
Kemokin memainkan peran kunci dalam peradangan. Protein ini merekrut sel proinflamasi,
termasuk Limfosit Th2, sel mast, neutrofil, dan eosinofil. Eosinofil dan sel mast memiliki peran
yang berbeda dalam patogenesis asma. Jenis sel menghasilkan proinflamasi sitokin serta
leukotrien, yang menyebabkan bronkokonstriksi (Hill, 2012).
Infeksi virus dan alergen udara dapat memicu respon yang pada akhirnya menyebabkan
gejala asma. IgE memainkan peran penting dalam proses ini, karena ditunjukkan dengan bukti
bahwa pemberian anti-IgE antibodi monoklonal mengurangi gejala asma dan meningkatkan fungsi
paru-paru. Respon IgE terhadap allergen menyebabkan sel mast dan basofil terdegranulasi,
penyebab bronkospasme serta pelepasan proinflamasi sitokin dan kemokin. Bronkodilator dapat
meregangkan otot polos saluran napas, jika diberikan selama periode awal bronkospasme. Namun,
karena meningkatnya hyperresponsiveness saluran napas dan peradangan yang terjadi pada akhir
respon, terapi bronkodilator tidak efektif, dan obat anti-inflamasi diperlukan (Hill, 2012).
Keterbatasan aliran udara pada penyakit asma dapat muncul secara berulang dan
disebabkan oleh berbagai macam perubahan yang terjadi pada saluran udara. Antara lain:
1. Bronkokonstriksi
Pada asma, kondisi fisiologi seseorang yang secara dominan menyebabkan simptom klinik
adalah penyempitan saluran pernapasan dan adanya gangguan pada aliran udara. Pada asma akut,
kontraksi dari otot halus bronchial (bronkokonstriksi) terjadi secara cepat untuk menyempitkan
saluran pernapasan sebagai respon dari paparan stimulus seperti allergen atau irritant.
Bronkokonstriksi akut terinduksi allergen adalah hasil dari pelepasan IgE-dependent mediator dari
sel mast yang termasuk histamine, triptase, leukotrien, dan prostaglandin yang secara langsung
akan menyebabkan kontraksi otot halus saluran pernapasan. Aspirin dan golongan obat anti-
inflamasi nonsteroid lain dapat juga menyebabkan obstruksi saluran pernapasan akut pada
sebagian pasien, dan bukti menunjukkan bahwa respon dari non-IgE-dependent juga berpengaruh
pada pelepasan mediator dari sel saluran pernapasan. Sebagai tambahan, stimulus lain (termasuk
olahraga, udara dingin, dan irritant) dapat menyebabkan obstruksi saluran pernapasan akut (Hill,
2012).

Gambar 1. Perbedaan bronkial normal dan asma bronkial (Hill, 2012).

2. Edema pada saluran pernapasan


Seiring berkembangnya penyakit menjadi semakin persisten dan inflamasi semakin
progresif, faktor lain nantinya akan membatasi aliran udara. Hal ini termasuk edema, inflamasi,
hipersekresi mukus, dan adanya pembentukan sumbatan mukus, seiring dengan perubahan struktur
termasuk hipertropi dan hiperplasia dari otot halus saluran pernapasan (Hill, 2012).
3. Hiperresponsivitas dari saluran pernapasan
Derajat hiperresponsivitas saluran pernapasan diukur dari respon kontraksi korelasi
metakolin dengan gejala klinis asma. Mekanisme yang mempengaruhi hiperresponsivitas saluran
pernapasan ada berbagai macam, termasuk inflamasi, disfungsi neuroregulasi, dan perubahan
struktur. inflamasi muncul sebagai faktor utama mempengaruhi derajat dari hiperresponsivitas
saluran pernapasan. Pengobatan langsung mengurangi inflamasi dapat menurunkan
hiperresponsivitas saluran pernapasan dan meningkatkan kontrol terhadap asma (Hill, 2012).
4. Perubahan bentuk dari saluran pernapasan
Pada sebagian orang dengan asma, keterbatasan aliran udara mungkin hanya bersifat
reversible. Perubahan struktur secara permanen dapat terjadi pada saluran pernapasan, hal ini
terkait dengan hilangnya fungsi paru-paru secara progresif yang tidak dapat dicegah atau
dikembalikan seperti semula dengan terapi biasa. Perubahan bentuk saluran pernapasan
melibatkan aktivasi banyak sel, dengan konsekuensi perubahan permanen pada saluran pernapasan
yang meningkatkan obstruksi aliran napas dan responsivitas saluran pernapasan dan menyebabkan
pasien kurang responsif terhadap terapi. Perubahan struktur ini termasuk penebalan membran,
fibrosis subepitelial, hipertropi dan hiperplasia otot halus saluran pernapasan, dan hipersekresi
(Hill, 2012).

E. MEKANISME PATOFISIOLOGI DARI INFLAMASI SALURAN PERNAPASAN


Inflamasi memiliki peranan utama dalam patofisiologi asma. Seperti definisi asma,
inflamasi saluran napas melibatkan interaksi dari banyak tipe sel dan berbagai mediator dengan
saluran napas yang akan menyebabkan ciri karakter patofisiologi asma: inflamasi bronchial dan
terbatasnya aliran napas menyebabkan timbulnya peristiwa batuk, mendesah dan napas pendek
yang berulang. Walaupun jenis asma banyak (intermittent, persistent, aspirin-sensitive, asma
berat), inflamasi saluran napas tetap menjadi pola utama (NHLBI, 2007).
Gambar 2. Inflamasi Saluran Pernapasan (NHLBI, 2007).
Antigen dapat mengaktifkan sel mast dan sel Th2 dalam saluran napas. Mereka kemudian
menginduksi produksi mediator inflamasi (seperti histamin dan leukotrien) dan sitokin termasuk
interleukin-4 dan interleukin-5. Interleukin-5 menuju ke sumsum tulang dan menyebabkan
diferensiasi terminal eosinofil. Eosinofil bersirkulasi memasuki area inflamasi alergi dan mulai
bermigrasi ke paru-paru, melalui interaksi dengan selektin, dan akhirnya mengikuti endotelium
melalui pengikatan integrin kepada anggota immunoglobulin protein adhesi : molekul sel -
vaskular adhesi 1 (VCAM-1) dan intersel molekul adhesi 1(ICAM-1) (NHLBI, 2007).
Dengan masuknya eosinofil ke jalur pernapasan melalui pengaruh berbagai kemokin dan
sitokin, kelangsungan hidup mereka diperpanjang oleh interleukin-4 dan granulocyte-makrofag
colony-stimulating factor (GM-CSF). Pada aktivasi, eosinofil melepaskan mediator inflamasi,
seperti leukotrien dan protein granula, melukai jaringan saluran napas. Selain itu, eosinofil dapat
menghasilkan GM-CSF untuk memperpanjang dan mempotensiasi kelangsungan hidup mereka
dan berkontribusi terhadap peradangan saluran napas persisten. MCP-1, monocyte chemotactic
protein, dan MIP-1α, macrophage inflammatory protein (NHLBI, 2007).

F. DIAGNOSTIK ASMA
Asma dapat diklasifikasikan berdasarkan etiologi, berat penyakit dan pola keterbatasan
aliran udara. Klasifikasi asma berdasarkan berat penyakit penting bagi pengobatan dan
perencanaan penatalaksanaan jangka panjang, semakin berat asma semakin tinggi tingkat
pengobatan (Depkes RI, 2007).
(Depkes RI, 2007).

G. PEMERIKSAAN KLINIS ASMA


Untuk menegakkan diagnosis asma, harus dilakukan anamnesis secara rinci, menentukan
adanya episode gejala dan obstruksi saluran napas. Pada pemeriksaan fisis pasien asma, sering
ditemukan perubahan cara bernapas, dan terjadi perubahan bentuk anatomi toraks. Pada inspeksi
dapat ditemukan: napas cepat, kesulitan bernapas, menggunakan otot napas tambahan di leher,
perut dan dada. Pada auskultasi dapat ditemukan: mengi, ekspirasi memanjang (Rengganis, 2008).

Pemeriksaan Penunjang:
1. Spirometer
Spirometri adalah mesin yang dapat mengukur kapasitas vital paksa (KVP) dan volume
ekspirasi paksa detik pertama (VEP1). Pemeriksaan ini sangat tergantung kepada kemampuan
pasien sehingga diperlukan instruksi operator yang jelas dan kooperasi pasien. Untuk mendapatkan
nilai yang akurat, diambil nilai tertinggi dari 2-3 nilai yang diperiksa. Sumbatan jalan napas
diketahui dari nilai VEP1 < 80% nilai prediksi atau rasio VEP1/KVP < 75% (Depkes RI, 2007).
Selain itu, dengan spirometri dapat mengetahui reversibiliti asma, yaitu adanya perbaikan
VEP1 > 15 % secara spontan, atau setelah inhalasi bronkodilator (uji bronkodilator), atau setelah
pemberian bronkodilator oral 10-14 hari, atau setelah pemberian kortikosteroid (inhalasi/oral) 2
minggu (Depkes RI, 2007).
2. Peak Expiratory Flow Meter/PEFM.

Gambar 3. Penggunaan alat PEFM (DepKes RI, 2007).


Alat ini adalah alat yang paling sederhana untuk memeriksa gangguan sumbatan jalan
napas, yang relatif sangat murah, mudah dibawa. Dengan PEF meter fungsi paru yang dapat diukur
adalah arus puncak ekspirasi (APE) (Depkes RI, 2007).
Cara pemeriksaan APE dengan PEF meter adalah sebagai berikut :
Penuntun meteran dikembalikan ke posisi angka 0. Pasien diminta untuk menghirup napas dalam,
kemudian diinstruksikan untuk menghembuskan napas dengan sangat keras dan cepat ke bagian
mulut alat tersebut, sehingga penuntun meteran akan bergeser ke angka tertentu. Angka tersebut
adalah nilai APE yang dinyatakan dalam liter/menit (Depkes RI, 2007).
Sumbatan jalan napas diketahui dari nilai APE < 80% nilai prediksi. Selain itu juga dapat
memeriksa reversibiliti, yang ditandai dengan perbaikan nilai APE > 15 % setelah inhalasi
bronkodilator, atau setelah pemberian bronkodilator oral 10-14 hari, atau setelah pemberian
kortikosteroid (inhalasi/oral) 2 minggu (Depkes RI, 2007).
Variabilitas APE ini tergantung pada siklus diurnal (pagi dan malam yang berbeda nilainya), dan
nilai normal variabilitas ini < 20%. Cara pemeriksaan variabilitas APE: Pada pagi hari diukur
APE untuk mendapatkan nilai terendah dan malam hari untuk mendapatkan nilai tertinggi.
APE malam – APE pagi
Variabilitas harian = ------------------------------------- x 100%
½ (APE malam + APE pagi)
(Depkes RI, 2007).
3. X-ray dada/thorax
Dilakukan untuk menyingkirkan penyakit yang tidak disebabkan asma (Rengganis, 2008).
4. Pemeriksaan IgE
Uji tusuk kulit (skin prick test) untuk menunjukkan adanya antibodi IgE spesifik pada kulit.
Uji tersebut untuk menyokong anamnesis dan mencari faktor pencetus. Uji alergen yang positif
tidak selalumerupakan penyebab asma. Pemeriksaan darah IgE Atopi dilakukan dengan cara
radioallergosorbent test (RAST) bila hasil uji tusuk kulit tidak dapat dilakukan (pada
dermographism) (Rengganis, 2008).
5. Petanda inflamasi
Derajat berat asma dan pengobatannya dalam klinik sebenarnya tidak berdasarkan atas
penilaian obyektif inflamasi saluran napas. Gejala klinis dan spirometri bukan merupakan petanda
ideal inflamasi. Penilaian semi-kuantitatif inflamasi saluran napas dapat dilakukan melalui biopsi
paru, pemeriksaan sel eosinofil dalam sputum, dan kadar oksida nitrit udara yang dikeluarkan
dengan napas. Analisis sputum yang diinduksi menunjukkan hubungan antara jumlah eosinofil
dan Eosinophyl Cationic Protein (ECP) dengan inflamasi dan derajat berat asma. Biopsi
endobronkial dan transbronkial dapat menunjukkan gambaran inflamasi, tetapi jarang atau sulit
dilakukan di luar riset (Rengganis, 2008).
6. Uji Hipereaktivitas Bronkus/HRB.
Pada penderita yang menunjukkan FEV1 >90%, HRB dapat dibuktikan dengan berbagai
tes provokasi. Provokasi bronkial dengan menggunakan nebulasi droplet ekstrak alergen spesifik
dapat menimbulkan obstruksi saluran napas pada penderita yang sensitif. Respons sejenis dengan
dosis yang lebih besar, terjadi pada subyek alergi tanpa asma. Di samping itu, ukuran alergen
dalam alam yang terpajan pada subyek alergi biasanya berupa partikel dengan berbagai ukuran
dari 2 um sampai 20 um, tidak dalam bentuk nebulasi. Tes provokasi sebenarnya kurang
memberikan informasi klinis dibanding dengan tes kulit. Tes provokasi nonspesifik untuk
mengetahui HRB dapat dilakukan dengan latihan jasmani, inhalasi udara dingin atau kering,
histamin, dan metakolin (Rengganis, 2008).

H. PENATALAKSANAAN TERAPI
Tujuan penatalaksanaan asma :
1. Menghilangkan dan mengendalikan gejala asma
2. Mencegah eksaserbasi akut
3. Meningkatkan dan mempertahankan faal paru seoptimal mungkin
4. Mengupayakan aktiviti normal termasuk exercise
5. Menghindari efek samping obat
6. Mencegah terjadinya keterbatasan aliran udara (airflow limitation) ireversibel
7. Mencegah kematian karena asma
(Depkes RI, 2007).

1. TERAPI NON FARMAKOLOGI


a. Edukasi pasien
Edukasi pasien dan keluarga, untuk menjadi mitra dokter dalam penatalaksanaan asma.
Edukasi kepada pasien/keluarga bertujuan untuk :
 Meningkatkan pemahaman (mengenai penyakit asma secara umum dan pola penyakit asma
sendiri)
 Meningkatkan keterampilan (kemampuan dalam penanganan asma sendiri/asma mandiri)
 Meningkatkan kepuasan
 Meningkatkan rasa percaya diri
 Meningkatkan kepatuhan (compliance) dan penanganan mandiri
 Membantu pasien agar dapat melakukan penatalaksanaan dan mengontrol asma
(Depkes RI, 2007).
Bentuk pemberian edukasi:
 Komunikasi/nasehat saat berobat
 Ceramah
 Latihan/training
 Supervisi
 Diskusi
 Tukar menukar informasi (sharing of information group)
 Film/video presentasi
 Leaflet, brosur, buku bacaan, dll
(Depkes RI, 2007).
Komunikasi yang baik adalah kunci kepatuhan pasien, upaya meningkatkan kepatuhan
pasien dilakukan dengan :
1. Edukasi dan mendapatkan persetujuan pasien untuk setiap tindakan/penanganan yang akan
dilakukan. Jelaskan sepenuhnya kegiatan tersebut dan manfaat yang dapat dirasakan pasien
2. Tindak lanjut (follow-up). Setiap kunjungan, menilai ulang penanganan yang diberikan dan
bagaimana pasien melakukannya. Bila mungkin kaitkan dengan perbaikan yang dialami
pasien (gejala dan faal paru).
3. Menetapkan rencana pengobatan bersama-sama dengan pasien.
4. Membantu pasien/keluarga dalam menggunakan obat asma.
5. Identifikasi dan atasi hambatan yang terjadi atau yang dirasakan pasien, sehingga pasien
merasakan manfaat penatalaksanaan asma secara konkret.
6. Menanyakan kembali tentang rencana penganan yang disetujui bersama dan yang akan
dilakukan, pada setiap kunjungan.
7. Mengajak keterlibatan keluarga.
8. Pertimbangkan pengaruh agama, kepercayaan, budaya dan status sosioekonomi yang dapat
berefek terhadap penanganan asma.
(Depkes RI, 2007).

2. Pengukuran peak flow meter


Perlu dilakukan pada pasien dengan asma sedang sampai berat. Pengukuran Arus Puncak
Ekspirasi (APE) dengan Peak Flow Meter ini dianjurkan pada :
a. Penanganan serangan akut di gawat darurat, klinik, praktek dokter dan oleh pasien di rumah.
b. Pemantauan berkala di rawat jalan, klinik dan praktek dokter.
c. Pemantauan sehari-hari di rumah, idealnya dilakukan pada asma persisten usia di atas > 5
tahun, terutama bagi pasien setelah perawatan di rumah sakit, pasien yang sulit/tidak
mengenal perburukan melalui gejala padahal berisiko tinggi untuk mendapat serangan yang
mengancam jiwa.
(Depkes RI, 2007).
Pada asma mandiri pengukuran APE dapat digunakan untuk membantu pengobatan seperti
:
a. Mengetahui apa yang membuat asma memburuk.
b. Memutuskan apa yang akan dilakukan bila rencana pengobatan berjalan baik.
c. Memutuskan apa yang akan dilakukan jika dibutuhkan penambahan atau penghentian obat.
d. Memutuskan kapan pasien meminta bantuan medis/dokter/IGD.
(Depkes RI, 2007).
1. Identifikasi dan mengendalikan faktor pencetus
2. Pemberian oksigen
3. Banyak minum untuk menghindari dehidrasi terutama pada anak-anak
4. Kontrol secara teratur
5. Pola hidup sehat, Dapat dilakukan dengan :
 Penghentian merokok
 Menghindari kegemukan
 Kegiatan fisik misalnya senam asma
(Depkes RI, 2007).

2. TERAPI FARMAKOLOGI
a. Asma Akut
Gambar 4. Managemen eksaserbasi asma akut (DiPiro, 2008).

1. First line  β2-Agonists


Inhalasi short-acting β2-agonists merupakan obat yang paling efektif sebagai bronkodilator
dan merupakan pilihan pertama untuk pasien dengan asma akut. Reseptor β2-adrenergik
transmembran protein yang terdiri dari kelompok-kelompok tujuh heliks asam amino membentuk
ligand-binding core. Reseptor β2-adrenergik pada manusia berbentuk dalam struktur polimorfik,
dengan polimorfisme yang umum di reseptor amino terminus pada posisi asam amino 16 (termasuk
di dalamnya arginin [Arg] atau glisin [Gly] dan termasuk didalamnya glutamin [Gln] atau glutamat
[Glu]). Beberapa polimorfisme menentukan respon terhadap β2-agonis, sedangkan yang lain
mungkin beraksi dengan penyakit. Stimulasi reseptor β2-adrenergik mengaktifkan protein
sitoplasma G yang pada gilirannya mengaktifkan adenilat siklase untuk menghasilkan adenosin
monofosfat siklik (cAMP), umumnya dianggap bertanggung jawab untuk sebagian besar aktivitas
melalui aktivasi berbagai protein oleh cAMP bergantung protein kinase A. Aktivasi ini pada
gilirannya mengurangi ikatan kalsium-intrasel, memproduksi relaksasi otot polos, stabilisasi
membran sel mast dan stimulasi otot rangka. β2-agonis adalah penghambat yang kuat dari
degranulasi sel mast in vitro yang tidak menghambat respon asma lambat dari allergen atau
berikutnya hiperresponsif bronchial. Agonis β2 kerja singkat (seperti albuterol, bitolterol,
pirbuterol, terbutalin) adalah terapi pilihan untuk menghilangkan gejala akut dan bronkospasmus
yang diinduksi oleh latihan fisik (DiPiro, 2008).

(Depkes RI, 2007).

2. Second line  Kortikosteroid


Kortikosteroid sistemik diindikasikan untuk pasien dengan asma akut yang tidak berespon
dengan terapi awal menggunakan β2-agonis. Obat-obat ini merupakan steroid adrenokortikal
steroid sintetik dengan cara kerja dan efek yang sama dengan glukokortikoid. Glukokortikoid
dapat menurunkan jumlah dan aktivitas dari sel yang terinflamasi dan meningkatkan efek obat beta
adrenergik dengan memproduksi AMP siklik, inhibisi mekanisme bronkokonstriktor, atau
merelaksasi otot polos secara langsung (DiPiro, 2008).
Obat ini tidak diindikasikan untuk pasien asma yang dapat diterapi dengan bronkodilator
dan obat non steroid lain, pasien yang kadang-kadang menggunakan kortikosteroid sistemik atau
terapi bronkhitis non asma (DiPiro, 2008).
(DepKes RI, 2007).

b. Asma Kronik

Gambar 5. Tatalaksana pengobatan asma pada anak 0-4 tahun (DiPiro, 2008).
Tabel diatas merupakan tata laksana manajemen pengobatan untuk anak usia 0 – 4 tahun
yang mengalami asma dibedakan menjadi intermittent asma dan persistent asma (obat harian).
Pada anak usia 0 – 4 tahun yang menderita intermittent asma langkah pertama yang dapat diambil
adalah pemberian SABA PRN, pada anak usia 0 – 4 tahun yang menderita persistent asma ringan,
langkah pertama yang disarankan yaitu pemberian ICS dosis rendah atau dapat diberikan cromolin
sebagai alternative. Pada anak usia 0 – 4 tahun yang menderita persistent asma menengah dapat
disarankan dengan pemberian ICS dosis medium-tinggi dan dapat dibantu dengan pemberian
LABA dan pada anak usia 0 – 4 tahun penderita persistent asma berat dapat diberikan ICS dosis
tinggi dengan LABA dan juga dapat dibantu dengan penambahan kortikosteroid oral untuk
meningkatkan efektifitas pengobatan (DiPiro, 2008).

Gambar 6. Tatalaksana pengobatan asma pada anak 5-11 tahun (DiPiro, 2008).
Tabel diatas merupakan tata laksana manajemen pengobatan untuk anak usia 5-11 tahun
yang mengalami asma dibedakan menjadi intermittent asma dan persistent asma (obat harian).
Pada anak usia 5-11 tahun yang menderita intermittent asma langkah pertama yang dapat diambil
adalah pemberian SABA PRN, pada anak usia 5-11 tahun yang menderita persistent asma ringan,
langkah pertama yang disarankan yaitu pemberian ICS dosis rendah atau dapat diberikan cromolin,
nedokromil dan teofilin sebagai alternative. Pada anak usia 5-11 tahun yang menderita persistent
asma menengah dapat disarankan dengan pemberian ICS dosis medium atau dapat dibantu dengan
pemberian LABA. Dan pada anak usia 5-11 tahun penderita persistent asma berat dapat diberikan
ICS dosis tinggi dengan LABA atau dapat dibantu dengan penambahan kortikosteroid oral untuk
meningkatkan efektifitas pengobatan. Langkah 2-4 dapat dipertimbangkan sebagai pengobatan
asma alergi (DiPiro, 2008).

Gambar 7. Tatalaksana pengobatan asma pada orang dewas tahun (DiPiro, 2008).
Tabel diatas merupakan tata laksana manajemen pengobatan untuk anak dewasa yang
mengalami asma dibedakan menjadi intermittent asma dan persistent asma (obat harian). Pada
orang dewasa yang menderita intermittent asma langkah pertama yang dapat diambil adalah
pemberian SABA PRN, pada orang dewasa yang menderita persistent asma ringan, langkah
pertama yang disarankan yaitu pemberian ICS dosis rendah atau dapat diberikan cromolin,
nedokromil dan teofilin sebagai alternative. Pada orang dewasa yang menderita persistent asma
menengah dapat disarankan dengan pemberian ICS dosis medium atau dapat dibantu dengan
pemberian LABA. Dan pada orang dewasa penderita persistent asma berat dapat diberikan ICS
dosis tinggi dengan LABA , serta penggunaan Omalizumab pada pasien yang memiliki alergi
(DiPiro, 2008).
ICS telah dipertimbangkan digunakan untuk terapi kontrol jangka panjang untuk asma
persisten pada semua pasien karena potensi dan efektivitasnya. Dosis rendah hingga menengah
ICSs mengurangi Bronkohiperresponsivitas (BHR), meningkatkan fungsi paru dan mengurangi
eksaserbasi berat. ICS lebih efektif daripada kromolin, nedokromil, teofilin atau antagonis reseptor
leukotrien. Selain itu, ICSs merupakan satu-satunya terapi yang mengurangi resiko kematian
akibat asma. Meskipun penelitian tentang alternative terapi kontrol jangka panjang ( kromolin,
antagonis reseptor leukotrien, nedokromil dan teofilin) menunjukkan peningkattan symptom dan
fungsi paru, obat tersebut tidak dapat megurangi BHR dan memiliki aktivitas antiinflamasi rendah.
Untuk pasien dengan ICSs dosis rendah yang tidak terkontrol, maka dilakukan peningkatan dosis
atau kombinasi ICSs dengan LABA pada langkah selanjutnya. Alternative lain juga dapat
menambahkan modifikator leukotrien atau teofilin dengan ICSs. Penambahan teofilin atau
leukotrien dengan ICS kurang efektif dibandingkan ICS dengan LABA dalam mengurangi
eksaserbasi asma berat (DiPiro, 2008).

1. Kortikosteroid inhalasi (ICS)


Kortikosteroid inhalasi merupakan terapi untuk kontrol untuk jangka panjang yang paling
efektif untuk asma persisten, dan merupakan satu-satunya terapi yang menunjukkan penurunan
resiko kematian yang disebabkan asma meski dalam dosis yang relative kecil. Kortikosteroid
meningkatkan jumlah reseptor β2-adrenergik dan meningkatkan respon reseptor terhadap
stimulasi β2-adrenergik yang mengakibatkan penurunan produksi mukus dan hipersekresi,
mengurangi hiperresponsivitas bronkus serta mencegah dan mengembalikan perbaikan jalur nafas.
Pada pasien dengan tingkat keparahan menengah dapat dikontrol dengan dosis 2x sehari. Pasien
dengan sakit yang lebih parah memerlukan dosis pembarian berulang dalam sehari. Karena respon
inflamasi asma mengihibisi ikatan reseptor steroid, pemberian obat harus dimulai dari dosis tinggi
dan pemberian yang sering lalu diturunkan ketika kontrol telah dicapai (DiPiro, 2008).

2. Long Acting Inhaled β2 Agonist (LABA)


Formoterol dan Salmeterol merupakan inhalasi agonis β2 aksi panjang yang diindikasikan
sebagai kontrol tambahan jangka panjang untuk pasien yang telah mengkonsumsi inhalasi
kortikosteroid dosis rendah hingga sedang sebelum ditingkatkan menjadi dosis sedang atau tinggi.
LABA bersifat larut lemak, sehingga dapat menembus phospolipid layer dan masuk ke membrane
sel. Salmeterol lebih β2 selektif dibandingkan albuterol dan lebih bronkoselektif, sehingga akan
dihasilkan durasi yang lebih panjang. Kombinasi LABA dengan ICS dapat mengontrol asma lebih
baik dibandingkan peningkatan dosis tunggal ICS, karena LABA tidak memiliki aktivitas
antiinflamasi (DiPiro, 2008).

3. Metilxantin
Teofilin merupakan metilxantin yang utama, menghasilkan bronkodilatasi dengan
menginhibisi fosfodiesterase yang juga dapat menghasilkan antiinflamasi melalui inhibisi
pelepasan mediator sel mast, penurunan pelepasan protein dasar eosinofil, penurunan poliferasi
limfosit T, penurunan pelepasan sitokin sel T dan penurunan eksudasi plasma. Teofilin juga
menginhibisi permeabilitas vaskuler, meningkatkan klirens mukosiliar, dan memperkuat kontraksi
diafragma. Metilxantin tidak efektif dalam bentuk aerosol dan harus diberikan secara sistemik (p.o
atau i.v). Rentang steady state 5-15 mcg/mL efektif dan aman untuk kebanyakan pasien (DiPiro,
2008).

4. Kromolin Natrium dan Nedokromil Natrium


Kromolin Natrium dan Nedokromil Natrium mempunyai efek menguntungkan yang
merupakan hasil dari stabilisasi membrane sel mast, mengihinbisi respon terhadap paparan alergen
dan bronkospasme yang diinduksi karena latihan tetapi tidak menyebakan bronkodilatasi.
Kromolin Natrium dan Nedokromil Natrium diindikasikan untuk profilaksis asma persisten ringan
pada anak dan dewasa tanpa melihat etiologinya. Kromolin merupakan obat pilhan kedua untuk
pencegahan bronkospasme yang diinduksi latihan fisik dan dapat digunakan bersama agonis β2
dalam kasus yang lebih parah namun tidak berespon pada tiap zat masing-masing. Kromolin
Natrium dan Nedokromil Natrium hanya efektif jika dihirup dan tersedia sebagai obat inhalasi
dosis terukur. Pasien pada awalnya menerima Kromolin Natrium atau Nedokromil Natrium 4x
sehari, setelah stabilisasi gejala frekuensi dapat diturunkan hingga 2x sehari untuk nedokromil dan
3x sehari untuk kromolin (DiPiro, 2008).

5. Modifikator Leukotrien
Zafirlukas dan montelukas merupakan antagonis reseptor leukotrien local yang
mengurangi proinflamasi (peningkatan permeabilitas mikrovaskular dan edema jalur udara) dan
efek bronkokonstriksi leukotrien D4. Dosis dewasa zafirlukas adalah 20 mg 2x seahari, diminum
paling tidak 1 jam sebelum atau 2 jam setelah makan. Dosis untuk anak umur 5-11 tahun adalah
10mg 2x sehari, sedangkan montelukas dosis dewasa 10mg 1x sehari diminum pada sore hari tanpa
memperhintungkan makanan, dosis anak umur 6-14 tahun adalah 1 tablet kunyah dosis 5mg sehari
pada sore hari (DiPiro, 2008).
Zileuton merupakan inhibitor sintesis leukotrien, dosisnya 600 mg 4x sehari bersama
makanan dan ketika mau tidur (DiPiro, 2008).

6. Anti IgE (Omalizumab)


Omalizumab merupakan antibody anti IgE yang digunakan untuk pengobatan asma yang
tidak dapat ditangani dengan baik pada penggunaan inhalasi kortikosteroid dosis tinggi. Obat
hanya diindikasikan untuk pasien atopik bergantung kortikosteroid yang memerlukan
kortikosteroid dosis tinggi dengan berlanjutnya gejala dan kadar IgE tinggi. Omalizumab mengikat
bagian Fc dari antibody IgE untuk mencegah pengikatan IgE terhadap FcεRI sel mast dan basofil.
Penurunan pengikatan IgE pada permukaan menyebabkan penurunan dalam pelepasan mediator
dalam menanggapi paparan alergen. Omalizumab juga menurunkan ekspresi FcεRI pada basofil
dan sel saluran napas submukosa. Dosis ditentukan berdasarkan IgE serum total dasar (IU/mL)
dan BB pasien (kg), dosis berkisar antara 150-375 mg secara s.c dengan interval pemberian 2 atau
4 minggu (DiPiro, 2008).

Anda mungkin juga menyukai