0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
26 tayangan6 halaman

QoS dan Manajemen Bandwidth WLAN PNM

1. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas layanan dan kinerja jaringan Wireless LAN di Politeknik Negeri Madiun serta mengoptimalkan pembagian bandwidth dengan metode PCQ. 2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum menggunakan metode PCQ, throughput rata-rata adalah 374,98 Kbps dengan packet loss 23,94% sedangkan setelah menggunakan metode PCQ throughput rata-rata menjadi 362,56 Kbps dengan

Diunggah oleh

Rizal Fauzi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
26 tayangan6 halaman

QoS dan Manajemen Bandwidth WLAN PNM

1. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas layanan dan kinerja jaringan Wireless LAN di Politeknik Negeri Madiun serta mengoptimalkan pembagian bandwidth dengan metode PCQ. 2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum menggunakan metode PCQ, throughput rata-rata adalah 374,98 Kbps dengan packet loss 23,94% sedangkan setelah menggunakan metode PCQ throughput rata-rata menjadi 362,56 Kbps dengan

Diunggah oleh

Rizal Fauzi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Research : Journal of Computer, information system, & technology management Online ISSN: 2615-7357

Vol. 2, No. 1. April 2019, Pages 7-12 Print ISSN: 2615-7233


==========================================================================================
Penerapan Quality Of Service (QoS) dengan Metode PCQ untuk Manajemen Bandwidth
Internet pada WLAN Politeknik Negeri Madiun
Hendrik Kusbandono*1, Eva Mirza Syafitri 2
1
Program Studi Teknologi Informasi, 1Program Studi Administrasi Bisnis
Politeknik Negeri Madiun
e-mail: * h3ndrik57@[Link], 2evamirzas@[Link]
1

Teknologi Wireless LAN difungsikan untuk memfasilitasi kemudahan untuk koneksi jaringan, tidak
lain termasuk jaringan internet. Manajemen bandwidth merupakan mengalokasikan suatu bandwidth
yang berfungsi untuk mendukung kebutuhan atau keperluan suatu jaringan internet agar memberikan
jaminan kualitas layanan suatu jaringan QoS (Quality of Services). Dengan tujuan untuk mengetahui
bagaimana kualitas layanan dan kinerja jaringan Wireless LAN (WLAN), serta mengoptimalkan
pembagian bandwidth secara merata ke sejumlah client yang aktif. Metode penelitian ini adalah
penerapan Quality of Service (QoS) yang digunakan untuk mengukur kualitas bandwidth internet yang
berjalan pada Wireless LAN dengan parameter download, upload, throughput, delay, jitter, dan packet loss
dan manajemen bandwidth dengan PCQ (Per Connection Queue). Hasil penelitian ini adalah pada
rentang waktu 08.00 s/d 16.00 WIB quota IP Address dinamis habis, sehingga tidak dapat
mengkoneksikan ke hotspot PNM-MHS. Menunjukkan rata-rata nilai sebelum dilakukan manajemen
bandwidth metode PCQ pada throughput adalah 374,98 Kbps, nilai delay adalah 40,16 ms dengan
kategori latensi “Sangat Bagus”, nilai jitter adalah 99,43 ms dengan kategori degradasi “Sedang”, nilai
packet loss adalah 23,94 % dengan kategori degredasi “Sedang”. Sedangkan setelah melakukan
manajemen bandwidth nilai throughput adalah 362,56 Kbps, nilai delay adalah 29,84 ms dengan
kategori latensi “Sangat Bagus”, nilai jitter adalah 55,53 ms dengan kategori degradasi “Bagus”, nilai
packet loss adalah 14,29 % dengan kategori degredasi “Bagus”. Manajemen bandwidth metode PCQ
bekerja dengan sebuah algoritma yang akan membagi bandwidth secara merata ke sejumlah client
yang aktif. PCQ ideal diterapkan apabila dalam pengaturan bandwidth kesulitan dalam penentuan
bandwidth per client.
Kata kunci : Wireless LAN (WLAN), Quality of Services, Bandwidth, PCQ (Per Connection Queue)

I. PENDAHULUAN kampus Politeknik Negeri Madiun, khususnya gedung


M. NUH difungsikan untuk memfasilitasi koneksi
Seiring dengan berkembangnya teknologi internet, baik untuk Dosen, Karyawan, maupun
informasi dan komunikasi, menuntut perubahan yang Mahasiswa. Gedung M. NUH terdapat tiga lantai,
besar di dalam sistem pendidikan nasional, termasuk dengan tiap-tiap lantai terdapat beberapa titik terpasang
perguruan tinggi. Implementasi teknologi informasi perangkat Wireless LAN. Dari perangkat hotspot di
tidak hanya berguna untuk hal-hal yang memang secara berbagai sudut titik diharapkan dapat memberikan
langsung mengeksploitasi potensi teknologi, tapi juga layanan koneksi internet dengan baik, yang difungsikan
mendorong munculnya ide-ide baru dalam melakukan untuk kebutuhan proses perkuliahan maupun akademik.
aktivitas/kegiatan.
Fasilitas di lantai 1 (satu), 2 (dua), maupun 3
Politeknik Negeri Madiun (PNM) merupakan (tiga) tidak hanya dalam kelas saja, di luar kelas pun
Perguruan Tinggi Negeri di Madiun yang melakukan harus berfungsi dengan baik. Kenyataannya tidak
berbagai inovasi dalam mengimplemntasikan teknologi demikian, laptop/notebook sering terjadi sulitnya
informasi untuk mendukung dan menyelerasakan visi terkoneksi dengan perangkat Wireless LAN (hotspot),
misi perguruan tinggi. Hal ini didukung oleh UPT apabila dapat terkoneksi dengan jaringan, akan tetapi
Teknologi Informasi dengan visi-nya sebagai pusat koneksi akses internet kurang baik. Hal-hal seperti ini
pengelolaan, pelayanan, dan pengembangan teknologi sering dijumpai oleh dosen maupun mahasiswa di
informasi yang mendukung kegiatan Tridharma dalam kelas atau luar kelas, apalagi pada waktu-waktu
Perguruan Tinggi dan tata kelola organisasi. Dengan padat dengan mahasiswa (pukul 08.00 s/d 16.00 WIB).
kapasitas kelola 6 program studi, yaitu Administrasi
Bisnis, Komputerisasi Akuntansi, Teknik Komputer Jaringan yang terkoneksi internet, baik yang
Kontrol, Teknik Listrik, Mesin Otomotif, dan Bahasa menggunakan media kabel ataupun wireless LAN
Inggris. (WLAN), akan dipengaruhi masalah besarnya kapasitas
bandwidth dan seberapa efektif bandwidth dapat
Implemantasi teknologi Wireless LAN (WLAN) digunakan untuk kerlancar transmisi data upload
(atau umunya disebut dengan hotspot) di tiap-tiap titik maupun download. Bandwidth merupakan kapasitas

7
Research : Journal of Computer, information system, & technology management Online ISSN: 2615-7357
Vol. 2, No. 1. April 2019, Pages 7-12 Print ISSN: 2615-7233
==========================================================================================
atau daya tampung kabel ethernet agar dapat dilewati second). Throughput adalah jumlah total
trafik paket data dalam jumlah tertentu [1]. kedatangan paket yang sukses yang diamati pada
tujuan selama interval waktu tertentu dibagi oleh
Penggunaan bandwidth pada umumnya seringkali
durasi interval waktu.
tidak difungsikan dengan optimal. Hal ini dapat
Tabel 2. Parameter Throughput
disebabkan oleh adanya satu atau lebih client yang
menghabiskan kapasitas bandwidth untuk proses Kategori Throughput Indeks
download maupun mengakses aplikasi-aplikasi yang Sangat Bagus 100 % 4
dapat menyita kapasitas bandwidth. Semakin baik Bagus 75 % 3
kualitas bandwidth yang diberikan, maka pengguna Sedang 50 % 2
juga semakin nyaman dalam menggunakan jaringan. Jelek < 25 % 1
Penerapan jaringan berbasis wireless harus memiliki
(TIPHON, 1999)
sebuah standar layanan atau yang dikenal sebagai
Quality of Services (QoS). QoS merupakan kemampuan Persamaan perhitungan throughput :
sebuah jaringan untuk menyediakan layanan trafik data
yang melewatinya. Pada operting system mikrotik, ...........................(1)
metode PCQ (Per Connection Queue) merupakan 2) Delay (Latency)
program untuk mengelola jaringan lalu lintas pada Merupakan total waktu yang dilalui suatu paket
Quality of Service (QoS) [2]. Metode manajemen dari pengirim ke penerima melalui jaringan. Delay
bandwidth dengan PCQ (Per Connection Queue) dapat dipengaruhi oleh jarak, media fisik, kongesti
berfungsi untuk melakukan bandwidth sharing otomatis atau juga waktu proses yang lama.
dan merata ke multi client.
Tabel 3. Parameter Delay (Latency)
Kategori Delay Indeks
II. LANDASAN TEORI Sangat Bagus < 150 ms 4
a. Quality of Service (QoS) Bagus 150 s/d 300 ms 3
Sedang 300 s/d 450 ms 2
Quality of Service (QoS) merupakan metode Jelek > 450 ms 1
pengukuran tentang seberapa baik jaringan dan
merupakan suatu usaha untuk mendefinisikan (TIPHON, 1999)
karakteristik dan sifat dari satu layanan. QoS berfungsi Persamaan perhitungan delay (latency) :
untuk mengukur sekumpulan atribut kinerja yang telah
dispesifikasikan dan diasosiasikan dengan suatu .............(2)
layanan [3].
3) Jitter (Variasi kedatangan paket)
Tabel 1. Persentase dan nilai Quality of Service (QoS) Merupakan variasi dari delay end-to-end. Level-
Nilai Persentase (%) Indeks level yang tinggi pada jitter dalam aplikasi-aplikasi
berbasis UDP merupakan situasi yang tidak dapat
3,8 - 4 95 - 100 Sangat Memuaskan
diterima dimana aplikasi-aplikasinya merupakan
3 - 3,79 75 - 94,75 Memuaskan
aplikasi-aplikasi real-time. Pada kasus seperti itu,
2 - 2,99 50 - 74,75 Kurang Memuaskan jitter akan menyebabkan sinyal terdistorsi, yang
1 - 1,99 25 - 49,75 Jelek dapat diperbaiki hanya dengan meningkatkan
(TIPHON, 1999) buffer di antrian.
Tujuan QoS adalah untuk memenuhi kebutuhan- Tabel 4. Parameter Jitter
kebutuhan layanan yang berbeda dengan menggunakan Kategori Jitter Indeks
infrastruktur yang sama. Elemen kinerja jaringan dalam Sangat Bagus 0 ms 4
cakupan QoS seringkali termasuk ketersediaan Bagus 0 s/d 75 ms 3
(uptime), bandwith (throughput), keterlambatan Sedang 75 s/d 125 ms 2
(latency/delay), dan tingkat kesalahan. Beberapa Jelek 125 s/d 225 ms 1
parameter yang dapat digunakan untuk penilaian
(TIPHON, 1999)
Quality of Service (QoS) yaitu Throughput, Delay
(Latency), Jitter (Variasi kedatangan paket), dan Packet Persamaan perhitungan jitter :
Loss [4].
..............................(3)
1) Throughput
Throughput merupakan kecepatan (rate) transfer 4) Packet Loss
data efektif, yang diukur dalam bps (bit per

8
Research : Journal of Computer, information system, & technology management Online ISSN: 2615-7357
Vol. 2, No. 1. April 2019, Pages 7-12 Print ISSN: 2615-7233
==========================================================================================
Merupakan suatu parameter yang menggambarkan
suatu kondisi yang menunjukkan jumlah total
paket yang hilang, dapat terjadi karena collision
dan congestion pada jaringan. Umumnya perangkat
jaringan memiliki buffer untuk menampung data
yang diterima. Jika terjadi kongesti yang cukup
lama, buffer akan penuh, dan data baru tidak akan
diterima.

Tabel 5. Parameter Packet Loss


Kategori Packet Loss Indeks Gambar 1. Cara kerja PCQ
Sangat Bagus 0% 4 d. Wireless Local Area Network (WLAN)
Bagus 3% 3
Wireless Local Area Network (WLAN)
Sedang 15 % 2 merupakan jaringan komputer yang menggunakan
Jelek 25 % 1 frekuensi radio dan infrared sebagai media transmisi
TIPHON, 1999) data. Wireless LAN sering disebut jaringan nirkabel
Persamaan perhitungan Packet Loss : atau jaringan wireless. Wireless LAN (WLAN)
merupakan komunikasi wireless dalam lingkup area
yang terbatas, biasanya antara 10 sampai dengan 100
meter dari base station ke Access Point (AP). keluarga
.................................................................................... (4) IEEE 802.11 (seperti 802.11b, 802.11a, 802.11g),
b. Manajemen Bandwidth HomeRF, 802.15 (Personal Area Network) yang
berbasis Bluetooth, 802.16 (Wireless Metropolitan Area
Bandwidth Management adalah suatu cara yang Network) [8][9].
dapat digunakan untuk management dan
mengoptimalkan berbagai jenis jaringan dengan
menerapkan layanan Quality Of Service (QoS) untuk III. METODE
menetapkan tipe-tipe lalu lintas jaringan. Sedangkan
Metode penelitian ini menggunakan metode
QoS adalah kemampuan untuk menggambarkan
eksperimental dan studi pustaka yang melibatkan
suatu tingkatan pencapaian didalam suatu sistem
penyelidikan tentang proses pada setiap parameter dan
komunikasi data [5].
variabel. Adapun metode penelitian yang digunakan di
c. Metode PCQ (Per Connection Queue) pada penelitian ini , diantaranya adalah :
PCQ (Per Connection Queue) pada queue type a. Pengumpulan Data
merupakan salah satu feature dari MikroTik untuk
Pengumpulan data dilakukan dengan cara studi pustaka,
membantu memanage traffic rate dan traffic packet.
metode observasi, dan metode wawancara.
Pada operting system mikrotik, PCQ merupakan
program untuk mengelola jaringan lalu lintas Quality of b. Penerapan Quality of Service (QoS) dan PCQ
Service (QoS) [2]. Tujuan utama dari metode ini adalah (Per Connection Queue)
untuk melakukan bandwidth sharing otomatis dan - Pengujian QoS Sebelum
merata ke multi client[6]. Prinsip kerja metode PCQ
Tahapan ini adalah melakukan penerapan
adalah menerapkan simple queue dimana hanya ada
Quality of Service (QoS) untuk mengukur
satu client aktif yang menggunakan bandwidth,
kualitas layanan dan kinerja jaringan Wireless
sementara client lain berada dalam posisi idle, maka
LAN (WLAN) dengan parameter download,
client aktif tersebut dapat menggunakan bandwidth
upload, throughput, delay, jitter, dan packet
maksimum, tetapi jika client lain aktif, maka bandwidth
loss. Pengukuran terhadap parameter QoS
yang maksimal dapat digunakan oleh kedua client,
dilakukan pada sesi jam sibuk (sekitar pukul
sehingga bandwidth dapat terdistribusi secara adil untuk
08.00-16.00 WIB). Sedangkan pengukuran
semua client [7]. Cara kerja PCQ adalah dengan
parameter QoS, penulis menggunakan aplikasi
menambahkan sub-queue, berdasar classifier tertentu.
Wireshark[10].
Berikut Gambaran 2.1. cara kerja PCQ dengan
parameter PCQ-Rate = 0. - Konfigurasi sistem dengan metode PCQ (Per
Connection Queue)

9
Research : Journal of Computer, information system, & technology management Online ISSN: 2615-7357
Vol. 2, No. 1. April 2019, Pages 7-12 Print ISSN: 2615-7233
==========================================================================================
Tahapan ini adalah melakukan setting
manajemen bandwidth internet dengan metode
PCQ (Per Connection Queue) menggunakan
router Mikrotik[11].
- Pengujian QoS Sesudah
Tahapan ini adalah melakukan penerapan
Quality of Service (QoS) untuk mengukur
kualitas layanan dan kinerja jaringan Wireless
Berdasarkan tabel diatas hasil perhitungan nilai
LAN (WLAN) setelah implementasi metode
parameter QoS sebelum melakukan manajamen
PCQ (Per Connection Queue).
bandwidth dengan rentang waktu, menunjukkan rata-
c. Analisis Quality of Service (QoS) dan PCQ (Per rata nilai throughput adalah 374,98 Kbps, sedangkan
Connection Queue) nilai delay adalah 40,16 ms dengan kategori latensi
“Sangat Bagus”, sedangkan nilai jitter adalah 99,43 ms
Pada tahapan ini adalah analisis gap hasil pengukuran
dengan kategori degradasi “Sedang”, sedangkan nilai
Quality of Service (QoS) baik sebelum maupun sesudah
packet loss adalah 23,94 % dengan kategori degredasi
melakukan manajemen bandwidth internet dengan
“Sedang”.
metode PCQ (Per Connection Queue) terhadap kualitas
layanan dan kinerja jaringan Wireless LAN (WLAN). Tabel 7 Nilai Pengujian Parameter QoS sesudah manajamen
d. Alat dan Bahan Penelitian bandwidth

Adapun alat dan bahan pada penelitian ini, sebagai berikut :


1. Perangkat Keras (Hardware) yang digunakan,
meliputi :
- Komputer (Laptop/Notebook) yang digunakan
untuk mengukur kualitas layanan dan kinerja
jaringan Wireless LAN (WLAN).
- Router Mikrotik digunakan untuk manajemen Berdasarkan tabel diatas hasil perhitungan nilai
bandwidth internet dengan menggunakan metode parameter QoS sebelum melakukan manajamen
PCQ (Per Connection Queue). bandwidth dengan rentang waktu, menunjukkan rata-
2. Perangkat Lunak (Software) rata nilai throughput adalah 362,56 Kbps, sedangkan
nilai delay adalah 29,84 ms dengan kategori latensi
Perangkat software yang digunakan adalah “Sangat Bagus”, sedangkan nilai jitter adalah 55,53 ms
Wireshark merupakan aplikasi yang digunakan
dengan kategori degradasi “Bagus”, sedangkan nilai
untuk mengukur kualitas layanan dan kinerja
packet loss adalah 14,29 % dengan kategori degredasi
jaringan Wireless LAN (WLAN). Wireshark “Bagus”.
merupakan sebuah software sniffer freeware yang
dapat di download di [Link]. Dapat disimpulkan dari Tabel 6 dan Tabel 7,
bahwa nilai rata-rata throughput mengalami
penurunan, hal ini disebabkan pembagian share
IV. HASIL bandwidth yang diberikan kepada client secara merata.
Nilai delay mengalami peningkatan, yaitu penurunan nilai
Adapun hasil rekap pengujian QoS sebelum
dari sebelum ke sesudah dengan kategori latensi “Sangat
melakukan manajemen bandwidth menggunakan metode
Bagus”. Sedangkan untuk nilai jitter dan packet loss
PCQ (Per Connection Queue) pada Tabel 6, sedangkan
mengalami peningkatan dari kategori latensi “Sedang”
sesudah melakukan manajemen bandwidth pada tabel 7.
menjadi kategori latensi “Bagus”.
Tabel 6. Nilai pengujian QoS sebelum manajamen bandwidth Adapun hasil rata-rata pengujian di masing-
masing parameter QoS dari sebelum manajemen
bandwidth dan setelah manajemen bandwidth dengan
metode PCQ sebagaimana tampil pada Gambar 2.

10
Research : Journal of Computer, information system, & technology management Online ISSN: 2615-7357
Vol. 2, No. 1. April 2019, Pages 7-12 Print ISSN: 2615-7233
==========================================================================================
disimpulkan dengan menurunya packet loss,
menunjukkan bahwa jumlah paket data yang dikirim
tidak banyak yang hilang. Hal ini diakibatkan
penurunan signal pada WLAN (hotspot), terjadi
tabrakan data, melebihi batas saturasi jaringan, dan
kesalahan pada perangkat jaringan

V. KESIMPULAN
Kesimpulan penelitian ini adalah parameter
download, upload, throughput, delay, jitter, dan packet
loss yang menunjukkan rata-rata nilai sebelum
Gambar 2. Nilai rata-rata pengujian parameter QoS dilakukan manajemen bandwidth metode PCQ pada
throughput adalah 374,98 Kbps, nilai delay adalah
Berdasarkan Gambar 5.2 nilai rata-rata 40,16 ms dengan kategori latensi “Sangat Bagus”, nilai
pengujian parameter QoS pada parameter throughput jitter adalah 99,43 ms dengan kategori degradasi
dengan manajemen bandwidth metode PCQ maupun “Sedang”, nilai packet loss adalah 23,94 % dengan
yang tidak menggunakan metode PCQ. Manajemen kategori degredasi “Sedang”. Sedangkan setelah
bandwidth tanpa metode PCQ diperoleh throughput melakukan manajemen bandwidth nilai throughput
sebesar 374,98 Kbps, sedangkan menggunakan adalah 362,56 Kbps, nilai delay adalah 29,84 ms
manajemen bandwidth dengan PCQ diperoleh dengan kategori latensi “Sangat Bagus”, nilai jitter
throughput sebesar 362,56 Kbps. Dari kedua data adalah 55,53 ms dengan kategori degradasi “Bagus”,
tersebut dapat disimpulkan, bahwa setelah dilakukan nilai packet loss adalah 14,29 % dengan kategori
manajemen bandwidth metode PCQ mengalami degredasi “Bagus”. Manajemen bandwidth metode
penurunan throughput sebesar 12,42 Kbps. Hal ini PCQ bekerja dengan sebuah algoritma yang akan
menunjukkan bahwa kemampuan suatu jaringan membagi bandwidth secara merata ke sejumlah client
dalam melakukan pengiriman data mengalami yang aktif. PCQ ideal diterapkan apabila dalam
penurunan, yang disebabkan pembatasan bandwidth pengaturan bandwidth kesulitan dalam penentuan
yang diberikan merata ke multi client. bandwidth per client.
Hasil nilai delay rata-rata sebelum dilakukan
manajemen bandwidth metode PCQ adalah 40,16 ms
dengan kategori latensi “Sangat Bagus”, sedangkan
untuk sesudah nilainya adalah 29,84 ms dengan
DAFTAR PUSTAKA
kategori latensi “Sangat Bagus”. Setelah dilakukan
manajemen bandwidth dengan metode PCQ, nilai delay
mengalami penurunan. Hal ini menunjukkan bahwa [1] R. Towidjojo, “Mikrotik Kung Fu : Kitab 3,” 3 ed.,
bahwa pengaruh manajemen bandwidth terhadap waktu Jakarta: Jasakom, 2016.
yang dibutuhkan untuk menempuh data sampai ke [2] R. Towidjojo, “Mikrotik Kung Fu : Kitab 2,” 2 ed.,
tujuan. Jakarta: Jasakom, 2013.
[3] E. Febriyanti, S. Raharjo, dan M. Sholeh,
Hasil nilai rata-rata jitter sebelum dilakukan
“PERBANDINGAN MANAJEMEN BANDWIDTH
manajemen bandwidth metode PCQ adalah 99,43 ms MENGGUNAKAN METODE FIFO (FIRST-IN
dengan kategori degredasi “Sedang”, sedangkan untuk FIRST-OUT) DAN PCQ (PER CONNECTION
sesudah nilainya adalah 55,53 ms dengan kategori QUEUE) PADA ROUTER MIKROTIK,” JARKOM,
degredasi “Bagus”. Hal ini dapat disimpulkan bahwa vol. 5, no. 2, hal. 89–98, 2017.
nilai jitter yang diakibatkan oleh variasi-variasi dalam [4] T. Pratama, M. A. Irwansyah, dan Yulianti,
panjang antrian, dalam waktu pengolahan data, dan “Perbandingan Metode PCQ, SFQ, RED Dan FIFO
juga dalam waktu penghimpunan ulang paket-paket Pada Mikrotik Sebagai Upaya Optimalisasi Layanan
data dalam perjalanan semakin membaik setelah Jaringan Pada Fakultas Teknik Universitas
dilakukan manajemen bandwidth metode PCQ. Tanjungpura,” J. Tek. Inform. Univ. Tanjungpura,
vol. 3, no. 3, hal. 298–303, Okt 2015.
Hasil nilai rata-rata packet loss sebelum [5] A. I. Wijaya dan L. B. Handoko, “Manajemen
dilakukan manajemen bandwidth metode PCQ adalah Bandwidth Dengan Metode Htb ( Hierarchical Token
23,94% dengan kategori degredasi “Sedang”, Bucket ) Pada Sekolah Menengah Pertama Negeri 5
sedangkan untuk sesudah nilainya adalah 14,29% Semarang,” J. Tek. Inform. Udinus, vol. 1, no. 1, hal.
dengan kategori degredasi “Bagus”. Dapat 5–7, 2014.
[6] M. F. Asnawi, “APLIKASI KONFIGURASI

11
Research : Journal of Computer, information system, & technology management Online ISSN: 2615-7357
Vol. 2, No. 1. April 2019, Pages 7-12 Print ISSN: 2615-7233
==========================================================================================
MIKROTIK SEBAGAI MANAJEMEN
BANDWIDTH DAN INTERNET GATEWAY
BERBASIS WEB,” J. Penelit. dan Pengabdi. Kpd.
Masy. UNSIQ, vol. 5, no. 1, hal. 42–48, Jan 2018.
[7] Mirsantoso, T. U. Kalsum, dan R. Supardi,
“Implementasi Dan Analisa Per Connection Queue (
Pcq ) Sebagai,” J. Media Infotama, vol. 11, no. 2, hal.
139–148, 2015.
[8] Aji Supriyanto, “Analisis Kelemahan Keamanan pada
Jaringan Wireless,” J. Teknol. Infromasi Din., vol.
11, no. 1, hal. 38–46, 2006.
[9] F. I. Aziz, B. A. P, dan R. Ritzkal, “SISTEM
MONITORING JARINGAN DAN OPTIMALISASI
MANAJEMEN BANDWIDTH DENGAN
ALGORITMA HTB (HIERARCHICAL TOKEN
BUCKET) PADA ZABBIX DENGAN
NOTIFIKASI SMS GATEWAY DAN EMAIL
(STUDI KASUS DINAS KOMUNIKASI DAN
INFORMATIKA KAB. BOGOR),” Pros. Semin.
Nas. ENERGI Teknol., hal. 231–245, Apr 2018.
[10] TIPHON, Telecommunications and Internet Protocol
Harmonization Over Network (TIPHON) General
aspects of Quality of Service (QoS). France: ETSI,
1999.
[11] N. F. Puspitasari dan A. Dahlan, “Analisa Trafik dan
Quality of Service (QoS) untuk Optimalisasi
Manajemen Bandwidth (Studi Kasus : Universitas
Amikom Yogyakarta),” Dasi, vol. 18, no. 3, hal. 63–
70, 2017.

12

Anda mungkin juga menyukai