0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
48 tayangan9 halaman

Prosedur Intubasi dan Persetujuan

Prosedur intubasi merupakan tindakan memasukkan pipa nafas buatan ke dalam trakea untuk membantu pernafasan pasien. Tindakan ini dilakukan dengan mempersiapkan pasien, alat, dan obat; melakukan pemasangan pipa endotrakeal ke dalam trakea dengan bantuan laringoskop; dan memverifikasi posisi pipa serta melakukan tindakan lanjut seperti ventilasi dan fiksasi pipa."

Diunggah oleh

mokamiami
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
48 tayangan9 halaman

Prosedur Intubasi dan Persetujuan

Prosedur intubasi merupakan tindakan memasukkan pipa nafas buatan ke dalam trakea untuk membantu pernafasan pasien. Tindakan ini dilakukan dengan mempersiapkan pasien, alat, dan obat; melakukan pemasangan pipa endotrakeal ke dalam trakea dengan bantuan laringoskop; dan memverifikasi posisi pipa serta melakukan tindakan lanjut seperti ventilasi dan fiksasi pipa."

Diunggah oleh

mokamiami
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PROSEDUR INTUBASI

NO. DOKUMEN NO. REVISI HALAMAN

SOP / / 00 1/9
ANESTESI/2019

Ditetapkan, 2 Agustus 2019


TANGGAL TERBIT :
Plt. Direktur

PROSEDUR
PELAKSANAAN 05 Agustus 2019

dr. NUNUK KRISTIANI, Sp. Rad


Pembina TK I
NIP. 19701030 200212 2 003

Intubasi adalah memasukkan pipa nafas buatan melalui mulut


atau melalui hidung, dengan sasaran jalan nafas bagian atas atau
trakhea. Pada intinya, Intubasi Endotrakhea adalah tindakan
PENGERTIAN
memasukkan pipa endotrakhea ke dalam trakhea sehingga jalan
nafas bebas hambatan dan nafas mudah dibantu dan
dikendalikan

a. Pembebasan jalan nafas


b. Pemberian nafas buatan dengan bag dan mask
c. Mempermudah pemakaian ventilasi mekanik (ventilator)
d. mempermudah pemberian anesthesia
e. Mempermudah penghisapan sekret tracheobronchial secara
adekuat
f. Mencegah aspirasi isi lambung ( adanya balon yang
TUJUAN
dikembangkan )
g. Mencegah distensi lambung
h. Pemberian oksigen dosis tinggi

Dilakukan kegiatan intubasi sesuai dengan Keputusan Direktur


KEBIJAKAN Nomor 188/ / AK/433.209/2019 Tentang Pedoman Pelayanan
Instalasi Anestesi di RSUD SYAMRABU Bangkalan.
PROSEDUR INTUBASI

NO. DOKUMEN NO. REVISI HALAMAN

SOP / / 00 2/9
ANESTESI/2019

I. Indikasi
1. Ada obstruksi jalan nafas bagian atas
2. Pasien memerlukan bantuan nafas dengan ventilator
3. Menjaga jalan nafas tetap bebas
4. Pemberian anestesi seperti operasi kepala, leher, mulut,
hidung, tenggorokan, operasiabdominal dengan relaksasi
penuh dan operasi thoracotomy
5. Terdapat banyak sputum (pasien tidak dapat
mengeluarkan sendiri)

II. Indikasi intubasi non surgical


1. Asfiksia neonatorum berat
2. Resusitasi penderita
3. Obstruksi laring berat
4. Penderita tidak sadar lebih dari 24 jam
5. Penderita dengan atelektasis paru
6. Post operasi respiratory insufiensi

III. Jenis Intubasi


1. Intubasi oral (orotracheal)
PROSEDUR 2. Intubasi nasal (nasotracheal)

IV. Cara Intubasi


1. Awake intubasi (sadar)
2. Sleep intubasi apnea dan non apnea

V. Komplikasi
a. Ringan
1). Tenggorokan serak
2). Kerusakan pharyng
3). Muntah
4). Aspirasi
5). Gigi copot / rusak
b. Berat
1). Laringeal edema
2). Obstruksi jalan nafas
3). Ruptur trachea perdarahan hidung
4). Fistula tracheoesofagal granuloma
5). Memar
6). Laserasi akan terjadi dysfonia
PROSEDUR INTUBASI

NO. DOKUMEN NO. REVISI HALAMAN

SOP / / 00 3/9
ANESTESI/2019

VI. Penyulit
1. Leher pendek
2. Fraktur servical
3. Rahang bawah kecil
4. Osteoarthritis temporo mandibula joint
5. Trismus.
6. Ada masa di pharing dan laring

VII. Prosedur
a. Persiapan pasien
1). Beritahukan pasien tentang tindakan yang akan
dilakukan.
2). Mintakan persetujuan keluarga / informed consent
3). Berikan support mental
4). Hisap cairan / sisa makanan dari naso gastric
tube.
5). Sebelumnya pasien terpasang IV line dan infus
menetes dengan lancar

b. Persiapan alat

1). Bag and mask + selang O2 dan O2


2). Laringoscope lengkap dengan blade sesuai
ukuran pasien dan lampu harus menyala dengan
terang
3). Alat-alat untuk suction (yakinkan berfungsi dengan
baik)
4). Xyllocain jelly / xyllocain spray dan Ky jelly
5). Naso / orotracheal tube sesuai ukuran pasien
misalnya
a. Laki-laki dewasa no 7, 7.5, 8
b. Perempuan dewasa 6.5, 7, 7.5
c. Anak-anak: usia (dalam tahun ) + 4 dibagi 4
d. Atau berdasarkan jari kelingking pasien

6). Konektor yang cocok dengan tracheal tube yang


disiapkan
7). Stylet / mandrain
8). Magyll forcep
9). Oropharingeal tube (mayo tube)
PROSEDUR INTUBASI

NO. DOKUMEN NO. REVISI HALAMAN

SOP / / 00 4/9
ANESTESI/2019

10). Stetoscope
11). Spuit 20 cc untuk mengisi cuff
12). Plester untuk fiksasi
13). Gunting
14). Bantal kecil setinggi 12 cm

c. Persiapan obat
Obat-obatan untuk intubasi
1). Sedasi
a). Pentothal 25 mg / cc dosis 4-5 mg/kgbb
b). Dormicum 1 mg / cc dosis 0,6 mg/kgbb
c). Propofol 10 mg/cc 1-2 mg/kgbb
2). Muscle relaksan
a). Succynilcholin 20 mg / cc dosis 1-2 mg/kgbb
b). Pancuronium 0,15 mg/kgbb
c). Atracurium 0,5-0,6 mg/kgbb
d). Vercuronium 0,1 mg/kgbb
3). Obat-obatan emergency (troley emergency)
a). Sulfas Atropine
b). Epedrine
c). Adrenalin / Epinephrin
d). Lidocain 2%

d. Prosedur pemasangan
PROSEDUR INTUBASI

NO. DOKUMEN NO. REVISI HALAMAN

SOP / / 00 5/9
ANESTESI/2019

1). Mencuci tangan


2). Posisi pasien terlentang
3). Kepala diganjal bantal kecil setinggi 12 cm
4). Pilih ukuran pipa endotracheal yang akan
digunakan
5). Periksa balon pipa / cuff ETT dengan
mengembangkan dengan udara 10 cc.
6). Pasang blade yang sesuai
7). Oksigenasi dengan bag and mask / ambu bag
dengan O2 100% minimal 30 detik
8). Masukkan obat-obat sedasi dan muscle relaxan
9). Buka mulut dengan cara cross finger dan tangan
kiri memegang laryngoscope.
10). Masukkan bilah laryngoscope dengan lembut
menelusuri mulut sebelah kanan, sisihkan lidah ke
kiri.
11). Masukkan bilah sedikit demi sedikit sampai ujung
laryngoscope mencapai dasar lidah, perhatikan
agar lidah atau bibir tidak terjepit di antara bilah
dan gigi pasien
12). Angkat laryngoscope ke atas dan ke depan
dengan kemiringan 30-40O sejajar dengan aksis
pegangan, jangan sampai menggunakan gigi
sebagai titik tumpu

13). Dorong blade sampai pangkal epiglottis


PROSEDUR INTUBASI

NO. DOKUMEN NO. REVISI HALAMAN

SOP / / 00 6/9
ANESTESI/2019

14). Lakukan penghisapan lendir bila banyak secret


15). Anestesi daerah laring dengan xyllocain spray (bila
kasus emergency tidak perlu dilakukan).
16). Masukkan endotracheal tube yang sebelumnya
sudah diberi jelly. Dari sebelah kanan mulut ke
faring sampai bagian proximal dari cuff
endotracheal tube melewati pita suara 1-2 cm atau
pada orang dewasa kedalaman endotracheal tube
18-24cm. Waktu intubasi tidak boleh dari 30 detik.
17). Cek apakah endotraceal sudah benar posisinya.
Hubungkan pipa ET dengan Bag dan mask dan
lakukan ventilasi sambil melakukan auskultasi
(asisten), Pertama pada lambung kemudian pada
paru kanan dan kiri sambil memperhatikan
pengembangan dada. Bila terdengar gurgling pada
lambung dan dada tidak mengembang berarti pipa
ET masuk ke esophagus dan pemasangan pipa
harus diulangi setelah melakukan hiperventilasi
ulang selama 30 detik.
Berkurangnya bunyi nafas di atas dada kiri
biasanya mengindikasikan pergeseran pipa ke
dalam bronkus utama kanan dan memerlukan
tarikan beberapa cm dari pipa ET.
18). Setelah bunya nafas optimal dicapai, isi cuff
dengan udara 5-10 cc, sampai kebocoran mulai
tidak terdengar.
PROSEDUR INTUBASI

NO. DOKUMEN NO. REVISI HALAMAN

SOP / / 00 7/9
ANESTESI/2019

19). Lakukan fiksasi dengan plester.


20). Pasang orofaring, untuk mencegah pasien
menggigit pipa ET jika korban mulai sadar
21). Lakukan ventilasi terus dengan oksigen 100%
(aliran 10-12 liter/menit) atau sesuai indikasi
22). Lakukan foto thorax jika diperlukan

VIII. Keuntungan dan kerugian intubasi nasal oral


a. Intubasi nasal
i. Keuntungan
1. Pasien merasa lebih enak / nyaman
2. Lebih mudah dilakukan pada pasien sadar
3. Tidak akan tergigit.
ii. Kerugian
1. Pipa ET yang digunakan lebih kecil
2. Penghisapan secret lebih sulit
3. Dapat terjadi kerusakan jaringan dan perdarahan
4. Lebih sering terjadi infeksi (sinusitis)

b. Intubasi oral
i. Keuntungan
1. Lebih mudah dilakukan
2. Bisa dilakukan dengan cepat pada pasien dalam
PROSEDUR INTUBASI

NO. DOKUMEN NO. REVISI HALAMAN

SOP / / 00 8/9
ANESTESI/2019

keadaan emergency
3. Risiko terjadinya trauma jalan napas lebih kecil
ii. Kerugian
1. Tergigit
2. Lebih sulit dilakukan oral hygiene
3. Tidak nyaman.

IX. Perawatan intubasi


a. Fiksasi harus baik
b. Gunakan oropharing air way (guedel) pada pasien yang
tidak kooperatif.
c. Hati-hati pada waktu merubah posisi pasien, ETT harus
dipegang jangan sampai tertarik atau terdorong ke dalam
dan dicek kembali harus simetris
d. Jaga kebersihan mulut dan hidung
e. Jaga patensi jalan napas
f. Humidifikasi yang adekuat
g. Pantau tekanan balon
h. Observasi tanda-tanda vital dan suara paru-paru
i. Lakukan fisioterapi napas tiap 4 jam.
j. Lakukan suction setiap fisioterapi napas dan sewaktu-
waktu bila ada suara lendir
k. Yakinkan bahwa posisi konektor dalam kondisi baik
l. Cek blood gas untuk mengetahui perkembangan.
m. Lakukan foto thorax segera setelah intubasi dan dalam
waktu-waktu tertentu.
n. Observasi terjadinya emphisema kutis
o. Air dalam water trap harus sering terbuang
p. Pipa endotracheal tube ditandai diujung mulut / hidung.

X. Hal – hal yang harus didokumentasikan


a. Tanggal pemasangan, siapa yang memasang
b. Nomor ETT yang digunakan
c. Jumlah udara yang dimasukkan pada balon
d. Batas masuknya NTT / ETT
e. Obat-obat yang diberikan
f. Respon pasien atau kesulitan yang terjadi.

UNIT TERKAIT 1. Ruang Operasi


2. Ruang Pulih Sadar
PROSEDUR INTUBASI

NO. DOKUMEN NO. REVISI HALAMAN

SOP / / 00 9/9
ANESTESI/2019

3. ICU

Anda mungkin juga menyukai