BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Perkembangan industri di Indonesia saat ini khususnya industri kimia
telah mengalami peningkatan baik kualitas maupun kuantitas sehingga
kebutuhan akan bahan baku, bahan pembantu, maupun tenaga kerja semakin
meningkat. Salah satu industri yang memiliki prospek ke depan yang bagus
adalah industri asam benzoat. Menurut Kirk dan Othmer (1989) kebutuhan
dunia akan asam benzoat setiap tahun mengalami kenaikan sebesar 2% per
tahun.
Asam benzoat merupakan senyawa kimia organik produk indusri
kimia yang dapat menjadi bahan baku untuk industri kimia lain seperti
industri makanan, farmasi, dan lain-lain. Kegunaan asam benzoat antara lain
sebagai pengawet makanan, dalam farmasi sebagai antiseptik, bahan pembuat
fenol, kaprolaktam, glikol benzoat, sodium dan potasium benzoat.
Asam benzoat disebut juga asam benzene karboksilat atau asam
phenil karboksilat yang memiliki rumus molekul C7H6O2 atau C6H5COOH.
Asam benzoat merupakan gugus aromatis asam karboksilat yang paling
sederhana. Asam benzoat terdapat di alam dalam bentuk turunan seperti
garam, ester, dan amida. Asam benzoat murni tidak terdapat di alam. Asam
benzoat dalam bentuk garam maupun ester sangat banyak digunakan dalam
industri medis, industri makanan, industri bahan pengawet, kosmetik, resin
serta fiber.
1
2
Kebutuhan asam benzoat di Indonesia sebagian besar diimpor dari
negara–negara lain seperti: Cina, Hongkong, USA, Belanda, Jepang, Perancis
dan Jerman. Faktor penting yang menetukan kelangsungan produksi adalah
kebutuhan bahan baku. Toluena dan oksigen merupakan bahan baku dalam
pembuatan asam benzoat ini. Kebutuhan toluena di Indonesia dipenuhi oleh
PT Makasar Petrosel dengan kapasitas produksi 150.000 ton/tahun, PT
Humpuss Aromatic 4.000 ton/tahun, PT Citra Pacific Aromatic 72.000
ton/tahun, PT Trans Pasific Petrochemical Indotama 300.000 ton/tahun, PT
Pertamina Unit Refinery IV 70.000 ton/tahun dan PT Stryrindo Mono
Indonesia dengan kapasitas 6.200 ton/tahun ([Link] diakses
pada 28 Maret 2019).
1.1.1. Kebutuhan Asam Benzoat dalam Negeri
Kebutuhan asam benzoat di Indonesia selama ini dipenuhi
oleh impor dari berbagai negara–negara tetangga, hal ini disebabkan
karena belum adanya pabrik asam benzoat yang telah berdiri di
Indonesia ([Link] diakses pada 28 Maret 2019).
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (2018), negara Indonesia
mengimpor asam benzoat seperti yang ditunjukkan pada tabel 1.1
3
Tabel 1.1 Kebutuhan Asam Benzoat Berdasarkan Data Impor
Tahun Jumlah (Ton)
2013 6894,7670
2014 7232,7870
2015 6709,4420
2016 7608,9670
2017 7416,6350
2018 6992,4320
1.1.2. Ketersediaan Bahan Baku
Ketersediaan bahan baku di dalam negeri perlu
dipertimbangkan dalam mendirikan suatu pabrik dan pemilihan
proses. Pertimbangan ini ditujukan agar dapat memudahkan kinerja
pabrik sehingga proses produksi dapat berjalan dengan baik. Bahan
baku berupa toluene didapat dari PT. Trans Pasific Petrochemical
Indotama yang memiliki kapasitas 300.000 ton/tahun dan oksigen
terdapat bebas di udara. Kebutuhan katalis Cobalt Acetate diperoleh
dari American Elements.
1.1.3. Kapasitas Produksi Pabrik
Pabrik asam benzoat di Indonesia direncanakan berdiri pada
tahun 2024. Data statistik tabel 1.1 menunjukkan impor asam benzoat
dari luar negeri yang diproyeksikan setara dengan jumlah kebutuhan
dalam negeri. Berdasarkan data impor diatas, selanjutnya dilakukan
regresi linear untuk mendapatkan nilai kenaikan impor asam benzoat
di Indonesia. Regresi linear untuk data impor ditunjukan dalam
gambar 1.1 berikut.
4
Grafik Impor Asam Benzoat
7800
7600
Jumlah (ton)
7400
7200
7000 y = 55.411x - 104539
6800 R² = 0.0939
6600
2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019
Tahun
Gambar 1. 1 Data Impor Asam Benzoat di Indonesia Tahun 2013 - 2018
Dari regresi linear terhadap data impor asam benzoat didapatkan
persamaan empirik seperti berikut:
𝑦 = 55,411𝑥 − 104539
Berdasarkan persamaan dapat diketahui bahwa kebutuhan asam
benzoat di Indonesia pada tahun 2024 diperkirakan mencapai
7612,8640 ton/tahun. Kebutuhan asam benzoat di Indonesia masih
bergantung dari negara – negara tetangga. Kebutuhan domestik akan
asam benzoat di Indonesia cenderung fluktuatif dalam 5 tahun terakhir.
Pemilihan kapasitas pabrik yang akan diambil adalah berdasarkan
kapasitas minimal skala komersial pabrik yang telah berdiri.
Pertimbangan ini dipilih karena pabrik dengan kapasitas tersebut telah
layak berdiri dan menghasilkan keuntungan. Menurut Kirk dan Othmer
(1989) pabrik asam benzoat yang terdapat di Amerika Utara adalah
sebagai berikut:
5
Table 1.2 Daftar Pabrik Asam Benzoat di Amerika Utara
Pabrik Kapasitas (ton/tahun)
Kalama Chemical 80.000
Chatterton Petrochemical 65.000
Velsicol Chemical 32.500
Melalui pertimbangan diatas, maka kapsitas produksi pabrik
asam benzoat yang akan didirikan adalah 35.000 ton/tahun. Kapasitas
ini digunakan untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri, mengurangi
ketergantungan impor, serta di ekspor. Asam benzoat akan di ekspor ke
beberapa negara di Asia. Berdasarkan data dari United Nation Statistic
Division, impor asam benzoat dari beberapa negara di Asia cenderung
naik setiap tahunnya seperti yang ditunjukan dalam tabel 1.3.
Tabel 1. 3 Data Impor Asam Benzoat Beberapa Negara di Asia
Jumlah (ton)
Negara
2012 2013 2014 2015 2016 2017
India 8166,797 7371,579 9642,319 9145,066 11327,106 12622,771
Thailand 7945,126 7764,979 8223,713 7856,953 7090,619 7299,100
Malaysia 1665,650 1884,163 4435,604 2336,683 3210,613 3183,038
Jepang 6738,569 7110,368 7389,050 6943,935 7013,982 7448,538
Filipina 2088,912 1798,372 1972,541 2192,916 2142,704 2621,799
Singapura 1037,938 1136,848 1217,557 1299,278 1259,811 1412,191
Turki 5168,730 5795,380 5744,866 7297,524 7837,914 7589,023
Korea Selatan 5774,700 5597,510 4926,101 5629,356 5830,714 7227,724
Jumlah 38586,422 38459,199 43551,751 42701,711 45713,463 49404,184
6
1.2. Tinjauan Pustaka
Asam benzoat dengan rumus kimia C6H5COOH merupakan senyawa
yang memiliki banyak kegunaan di industri. Senyawa ini paling banyak
digunakan dalam proses pengawetan makanan. Senyawa ini dapat diproduksi
dengan beberapa metode, antara lain:
1. Proses Dekarboksilat Pthalat Anhidrat
Pada proses ini, senyawa phtalat anhidrat mengalami dekarboksilasi
(pemutusan ikatan karboksil), setelah kontak dengan steam pada suatu
reaktor berbentuk batch kettle tertutup yang dilengkapi dengan
pengaduk. Supaya dapat berjalan sempurna, maka dalam reaksi ini
ditambahkan katalis sebanyak 2%-6% dari jumlah ptalat anhidrat yang
dimasukkan ke dalam reaktor. Mula-mula, campuran ptalat anhidrat dan
katalis dipanaskan dahulu sampai suhunya menjadi 200oC, lalu kemudian
dimasukkan ke dalam reaktor. Tekanan dalam reaktor yaitu sekitar 20
atm. Kemudian, steam diinjeksikan sambil diaduk supaya penyebaran
steam merata pada seluruh sisi reaktor. Proses yang terjadi bersifat
eksotermis, sehingga perlu ditambahkan reflux kondensor. Setelah proses
selesai, produk berupa asam benzoat dipisahkan dengan menara distilasi.
Yield yang diperoleh yaitu sebesar 80%-85%.
𝑁𝑎𝐶𝑟2
Reaksi : 𝐶6 𝐻4 (𝐶𝑂)2 𝑂 + 𝐻2 𝑂 → 𝐶6 𝐻5 𝐶𝑂𝑂𝐻 + 𝐶𝑂2
7
Gambar 1. 2 Process Folw Diagram Pembuatan Asam Benzoat dengan Proses
Dekarboksilasi Ptalat Anhidrat
(Faith Keyes & Clark, 1975)
2. Proses Hidrolisis Benzotriklorida
Pada proses ini, bahan baku berupa toluena, mengalami proses
klorinasi terlebih dahulu dengan bantuan sinar matahari pada suhu
100oC-150oC untuk menghasilkan senyawa benzotriklorida. Selain
benzotriklorida, dihasilkan juga produk berupa asam klorida, sehingga
perlu ditambahkan senyawa basa untuk menetralkan asam klorida yang
terbentuk. Asam klorida selanjutnya dipisahkan dengan benzotriklorida.
Benzotriklorida selanjutnya dimasukkan ke dalam hydrolyzer untuk
selanjutnya mengalami proses hidrolisis. Bersamaan dengan itu,
dimasukkan juga air dan katalis ZnCl2. Proses dijalankan pada suhu
100oC -150oC. Dihasilkan produk berupa air dan asam benzoat, sehingga
perlu proses separasi kembali untuk mendapatkan asam benzoat. Setelah
proses separasi selesai, asam benzoat dimurnikan dengan menggunakan
8
crystallizer untuk mendapatkan asam benzoat dengan kemurnian yang
cukup tinggi. Reaksi-reaksi yang terjadi yaitu :
𝑙𝑖𝑔ℎ𝑡
𝐶6 𝐻5 𝐶𝐻3(𝑙) + 3𝐶𝑙2(𝑔) → 𝐶6 𝐻5 𝐶𝐶𝑙3(𝑙) + 3𝐻𝐶𝑙(𝑎𝑞)
𝑍𝑛𝐶𝑙2
𝐶6 𝐻5 𝐶𝐶𝑙3(𝑙) + 2𝐻2 𝑂(𝑙) → 𝐶6 𝐻5 𝐶𝑂𝑂𝐻(𝑙) + 3𝐻𝐶𝑙(𝑎𝑞)
Berikut adalah PFD berupa diagram blok pembuatan asam benzoat
dengan proses hidrolisis benzotriklorida
Gambar 1. 3 Process Flow Diagram Pembuatan Asam Benzoat dengan Proses
Hidrolisis Benzotriklorida.
(Faith Keyes & Clark, 1975)
3. Proses Oksidasi Toluena
Bahan baku berupa toluen, dialirkan dari atas ke dalam reaktor.
Kemudian, udara yang sudah dibersihkan terlebih dahulu, dialirkan juga
dari bawah reaktor dengan kompresor. Untuk mempercepat proses
oksidasi, ditambahkan katalis yang sebelumnya dilarutkan sempurna
dalam toluen. Tujuannya yaitu untuk memastikan terjadinya kontak
dengan gelembung udara yang digelembungkan ke dalam cairan. Reaksi
9
terjadi di dalam reaktor gelembung dengan kondisi suhu operasi sekitar
136°C – 160°C dan tekanan sekitar 2 – 7 atm (Kirk & Othmer,1989).
Konversi toluen dijaga sekitar 50%. Yield yang dihasilkan sebesar 90%.
Reaksi oksidasi toluen dengan udara ini bersifat eksotermis,
sehingga perlu pendingin untuk mengontrol suhu reaksinya. Pada proses
ini, asam benzoat tidak langsung dihasilkan. Oksidasi pertama dari toluen
menghasilkan senyawa benzaldehid, yang selanjutnya akan bereaksi
dengan oksigen menghasilkan asam benzoat. Hasil keluar reaktor berupa
toluen sisa, asam benzoat, benzaldehid, uap air, dan gas O2, dimasukkan
kembali ke reaktor sebagai arus recycle untuk menghasilkan asam
benzoat lebih banyak.
Produk keluar reaktor, selanjutnya dimurnikan dengan beberapa
proses separasi, hingga didapatkan asam benzoat dengan kemurnian
sebesar 99,8%. Berikut adalah persamaan reaksi dari oksidasi toluen
dengan udara serta process flow diagramnya dalam bentuk diagram blok.
𝐶𝑜
𝐶6 𝐻5 𝐶𝐻3(𝑙) + 𝑂2(𝑔) → 𝐶6 𝐻5 𝐶𝐻𝑂(𝑙) + 𝐻2 𝑂(𝑔)
𝐶𝑜
𝐶6 𝐻5 𝐶𝐻𝑂(𝑙) + 0,5𝑂2(𝑔) → 𝐶6 𝐻5 𝐶𝑂𝑂𝐻(𝑙)
10
Gambar 1. 4 Process Flow Diagram Proses Pembuatan Asam Benzoat dengan
Oksidasi Toluen Menggunakan Udara.
Tabel 1. 3 Perbandingan Tiga Macam Proses untuk Pembuatan Asam Benzoat
Proses Proses
Proses Oksidasi
Tinjauan Dekarboksilat Hidrolisis
Toluene
Phtalat Anhidrat Benzotriklorida
Bahan Baku Phtalic Anhydride Toluene dan Toluene dan
dan Steam Khlorin Oksigen
Katalis 𝑁𝑎𝐶𝑟2 𝑆𝑛𝐶𝑙2 𝐶𝑜𝐶𝐻3 𝐶𝑂𝑂
Kondisi Operasi T : 200°C T : 100oC -150oC T : 136°C – 160°C
P : 20 atm P: 5 atm P : 2 – 7 atm
Yield Yield : 80 – 85% Yield : 75-80% Yield : 90%
Dengan melihat perbandingan ketiga proses diatas maka pada
perancangan pabrik asam benzoat ini dipilih proses oksidasi toluene dengan
pertimbangan :
11
1. Proses lebih sederhana dibanding dengan proses dekarboksilat phtalat
anhidrat dan proses hidrolisis benzotriklorida karena berjalan pada
kondisi operasi yang tidak terlalu tinggi.
2. Yield yang dihasilkan lebih tinggi dibandingkan dengan proses
dekarboksilat phtalat anhidrat dan proses hidrolisis benzotriklorida.
3. Harga bahan baku relatif murah serta tersedia di indonesia.
4. Tidak menghasilkan asam klorida seperti proses hidrolisis
benzotriklorida sehingga tidak terjadi korosifitas pada proses pembuatan
asam benzoat.