S K RI PS I
HUBUNGAN RIWAYAT ANEMIA KEHAMILAN DENGAN
KEJADIAN STUNTING PADA BALITA
DI DESA KETANDAN DAGANGAN
MADIUN
Oleh :
DHIYAH AYU ROMADHONI
NIM : 201402009
PROGRAM STUDI KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BHAKTI HUSADA MULIA
MADIUN
2018
S K RI PS I
HUBUNGAN RIWAYAT ANEMIA KEHAMILAN DENGAN
KEJADIAN STUNTING PADA BALITA
DI DESA KETANDAN DAGANGAN
MADIUN
Diajukan untuk memenuhi
Salah satu persyaratan dalam mencapai gelar
Sarjana Keperawatan ([Link])
Oleh :
DHIYAH AYU ROMADHONI
NIM : 201402009
PROGRAM STUDI KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BHAKTI HUSADA MULIA
MADIUN
2018
ii
iii
iv
v
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Nama : Dhiyah Ayu Romadhoni
Tempat, Tanggal Lahir : Madiun, 04 Februari 1996
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Alamat : [Link] RT/RW 09/02 [Link] [Link]
Email : ayudhiyah0@[Link]
Riwayat Pendidikan :
1. Sekolah Dasar Negri Tapelan Tahun 2002-2008
2. Madrasah Tsanawiyah Darul Huda Ponorogo Tahun 2008-2011
3. Madrasah Aliyah Darul Huda Ponorogo Tahun 2011-2014
4. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Bhakti Husada Mulia Madiun Tahun 2014-
sekarang
vi
LEMBAR PERSEMBAHAN
Al-hamdu lillahi robbil alamin
Sujud syukurku ku persembahkan kepadamu Tuhanku yang Maha Agung dan
Maha Tinggi atas takdirMu telah Kau jadikan aku manusia yang senantiasa
berpikir, berilmu, beriman dan bersabar. Semoga ini menjadi satu langkah awal
untuk meraih cita-citaku. Kupersembahkan sebuah karya kecil ini untuk :
1. Ayahanda dan Ibunda tercinta yang selalu memberikan doa, semangat,
nasehat dan kasih sayang serta pengorbanan yang tak terkira sehingga aku
selalu kuat dalam menjalani segala rintangan. Kalian ikhlas demi hidupku
mengorbankan perasaan tanpa kenal lelah, dalam lapar berjuang separuh
nyawa hingga segalanya. Terima kasih telah Kau lahirkan aku dari rahim
seorang perempuan yang begitu penyayang dan tangguh serta seorang laki-
laki yang begitu ikhlas menjagaku.
2. Bapak dan Ibu dosen pembimbing serta penguji ;
- Ibu Dian Anisia, [Link]., Ners., [Link] selaku Pembimbing I
- Bapak Muhidin, [Link]., Ners., [Link] selaku Pembimbing II
Terima kasih telah sabar dalam memberikan bimbingan, nasehat dukungan,
mendengarkan keluh kesah kesulitan saya, menuntun, mengarahkan saya agar
menjadi lebih baik hingga terseleseikan sebuah karya kecil ini. Terima kasih
dosen pengajar telah ikhlas memberikan pelajaran, dan pengetahuan tak
ternilai harganya.
3. Bude, Pakde, Nenek dan Kakek yang tersayang terimakasih telah merawat
dan mendidikku dari kecil hingga aku besar dan terimakasih telah
mengajariku sopan santun, berbicara baik dan bersikap baik dan lain
sebagainya. Terimakasih untuk kakak ku Rizkika dan Mas Wawan yang telah
tulus ikhlas memberikan doa nya untukku, semangat dan dukunganya.
4. Sahabat dan Teman tersayang, terkhusus untuk kelas 8A Keperawatan terima
kasih untuk semangat, dukungan dan bantuan yang kalian berikan,
vii
canda,tawa tangis dan perjuangan yang selama ini kita lewati bersama,
kenangan manis yang telah terukir.
5. Terima kasih untuk sahabat terbaikku Iin Ebtasari, yang selama ini telah
memberikan semangat, dukungan, doa dan segalanya yang terbaik. Terima
kasih untuk kesiapan waktunya yang selalu siap diajak kesana kemari, terima
kasih bisa menjadi partner berjuang selama 4 tahun, dan partner dari segala
partner suka maupun duka.
6. Terima kasih teman-teman tersolid, terkece, terbaik, dan tersegalanya,
terimakasih banyak Anita, Desi, Fitrotin, Vrisca, Reni, Titis, Shielda love you
more gaes.
Terimakasih semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu.
Madiun, Agustus 2018
By Dhiyah
viii
Program Studi Keperawatan STIKES Bhakti Husada Mulia Madiun 2018
ABSTRAK
Dhiyah Ayu Romadhoni
HUBUNGAN RIWAYAT ANEMIA KEHAMILAN DENGAN KEJADIAN
STUNTING PADA BALITA DI DESA KETANDAN DAGANGAN MADIUN
102 halaman + 14 tabel + 3 gambar + 13 lampiran
Anemia kehamilan merupakan masalah kesehatan masyarakat yang sangat
besar di dunia terutama bagi wanita usia reproduksi (WUS). Anemia kehamilan
sangat berisiko terhadap bayi yang akan dilahirkan dan akan menyebabkan
stunting pada balita. Hal ini dikarenakan asupan gizi yang didapatkan tidak
mencukupi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan riwayat anemia
kehamilan dengan kejadian stunting pada balita di Desa Ketandan Dagangan
Madiun.
Desain penelitian yang digunakan adalah analitik dengan pendekatan case
control study. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh balita di Desa
Ketandan Dagangan Madiun sebanyak 287 balita. Teknik pengambilan sampel
yang digunakan simple random sampling, dengan jumlah sampel sejumlah 82
balita, dengan 27 balita kasus dan 55 balita kontrol. Pengumpulan data
menggunakan lembar observasi. Analisa data menggunakan uji Chi Square
dengan α= 0,05.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa proporsi riwayat anemia kehamilan
pada kelompok kasus adalah 18 (66,7%) dan yang tidak menderita anemia adalah
9 (33%), Sedangkan nilai proporsi riwayat anemia kehamilan pada kelompok
kontrol adalah 17 (30,9%) dan yang tidak menderita anemia adalah 38 (69,1%).
Analisis Uji statistic dengan menggunakan uji chi square (ρ value= 0,005 <
0,05) dan OR 4,471 yang menunjukkan ada hubungan yang signifikan riwayat
anemia kehamilan dengan kejadian stunting pada balita di Desa Ketandan
Dagangan Madiun.
Ibu hamil yang menderita anemia memiliki resiko 4 kali terjadinya anak
mengalami stunting dibandingkan dengan ibu yang tidak anemia. Menurut
pembahasan diatas bahwa anemia masih sangat tinggi. Saran untuk ibu hamil di
Desa Ketandan Dagangan Maadiun supaya mengkonsumsi tablet Fe saat hamil
untuk mencegah terjadinya anemia dan stunting pada balita.
Kata Kuci: Anemia, Stunting, Balita
ix
Nursing Program STIKES Bhakti Husada Mulia Madiun 2018
ABSTRACT
Dhiyah Ayu Romadhoni
CORRELATION OF PREGNANCY ANEMIA STORY WITH EVENT
OF STUNTING IN TODDLER IN THE KETANDAN VILLAGE
DAGANGAN MADIUN
102 Pages + 14 tables + 3 pictures + 13 appendix
Pregnancy anemia is a very big public health problem in the world
especially for women of reproductive age (WUS). Pregnancy anemia is very risky
for the baby to be born and will cause stunting in infants. This is because the
intake of nutrients obtained is not sufficient. The purpose of this study was to
determine the association of history of pregnancy anemia with stunting incident in
infants in Desa Ketandan Dagangan Madiun.
The research design used was analytical with case control study approach.
The population in this research is all children under five in Desa Ketandan
Dagangan Madiun as many as 287 children under five years old. The sampling
technique used simple random sampling, with the number of samples of 54 balit,
with 27 infant cases and 27 controlled toddlers. Data collection using observation
sheets. Data analysis using Chi Square test with α = 0,05.
The results of this study indicate that the proportion of pregnancy episode
anemia was 18 (66,7%) and non anemic was 9 (33%), whereas the proportion of
pregnancy control anemia was 9 (33,3%) and who did not have anemia is 18
(66,7%).
The statistic test using chi square test (ρ value = 0,029 <0,05) and OR
4,000 indicated that there was a significant correlation between the history of
pregnancy anemia and stunting incidence in under-five children in Desa
Ketandan Dagangan Madiun.
Pregnant women with anemia are at four times more likely to have stunting
compared with non-anemic mothers. According to the above discussion anemia is
very long. Suggestion for pregnant women in Ketandan Dagangan Madiun
Village to consume Fe tablet during pregnancy to prevent the occurrence of
anemia and stunting.
Key Words: Anemia, Stunting, Toddler
x
DAFTAR ISI
Sampul Depan ................................................................................................... i
Sampul Dalam .................................................................................................... ii
Lembar Persetujuan ............................................................................................ iii
Lembar Pengesahan ........................................................................................... iv
Persembahan ...................................................................................................... v
Lembar Pernyataan ............................................................................................. vii
Daftar Riwayat Hidup ......................................................................................... viii
Abstrak ................................................................................................................ ix
Abstract ............................................................................................................... x
Daftar Isi ............................................................................................................. xi
Daftar Tabel ....................................................................................................... xiv
Daftar Gambar .................................................................................................... xv
Daftar Lampiran ................................................................................................. xvi
Daftar Istilah ....................................................................................................... xvii
Daftar Singkatan .................................................................................................xviii
Kata Pengantar ................................................................................................... xix
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ......................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah .................................................................... 5
1.3 Tujuan Penelitian ..................................................................... 5
1.3.1 Tujuan Umum .............................................................. 5
1.3.2 Tujuan Khusus .............................................................. 5
1.4 Manfaat Penelitian ................................................................... 6
1.4.1 Manfaat Teoritis ........................................................... 6
1.4.2 Manfaat Praktis ............................................................ 6
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Anemia pada Ibu Hamil .............................................. 7
2.1.1 Pengertian Anemia ....................................................... 7
2.1.2 Pengertian Anemia Pada Ibu Hamil ............................. 7
2.1.3 Etiologi dan Klasifikasi Anemia pada Ibu Hamil ........ 7
2.1.4 Diagnosis Anemia pada Ibu Hamil ............................... 9
2.1.5 Kebutuhan Fe pada Ibu Hamil ...................................... 9
2.1.6 Tanda Dan Gejala Anemia pada Ibu Hamil .................. 13
2.1.7 Faktor yang Mempengaruhi Anemia Pada Ibu Hamil .. 14
2.1.8 Pencegahan Anemia pada Ibu Haamil .......................... 15
2.1.9 Dampak Anemia pada Ibu Hamil .................................. 15
2.2 Konsep Stunting ....................................................................... 16
2.2.1 Pengertian Stunting Pada Balita ................................... 16
2.2.2 Faktor Penyebab Stunting Pada Balita ......................... 17
2.2.3 Dampak Stunting Pada Balita ....................................... 22
2.2.4 Penanganan Stunting Pada Balita ................................. 22
2.2.5 Pengukuran Stunting .................................................... 23
xi
2.3 Konsep Pertumbuhan dan Perkembangan ................................ 27
2.3.1 Pengertian Pertumbuhan dan Perkembangan ............... 27
2.3.2 Faktor-faktor yang Mempegaruhi Tumbuh Kembang .. 28
2.3.3 Ciri-ciri Tumbuh Kembang Balita ............................... 35
2.4 Konsep Balita ............................................................................ 36
2.4.1 Pengertian Balita ........................................................... 36
2.4.2 Perkembangan dan Pertumbuhan Balita ....................... 36
BAB 3 KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS
3.1 Kerangka Konsep ..................................................................... 45
3.2 Hipotesis Penelitian .................................................................. 46
BAB 4 METODOLOGI PENELITIAN
4.1 Desain Penelitian ...................................................................... 47
4.2 Populasi Dan Sampel ............................................................... 47
4.2.1 Populasi ........................................................................ 47
4.2.2 Sampel .......................................................................... 48
4.3 Kriteria Kasus dan Kontrol ...................................................... 49
4.4 Teknik Pengambilan Sampel .................................................... 50
4.5 Kerangka Kerja Penelitian ....................................................... 51
4.6 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional .......................... 52
4.6.1 Variabel Penelitian ....................................................... 52
4.6.2 Definisi Operasional ...................................................... 52
4.7 Instrumen Penelitian.................................................................. 53
4.8 Waktu dan Tempat Penelitian ................................................... 53
4.8.1 Waktu ........................................................................... 53
4.8.2 Tempat .......................................................................... 53
4.9 Prosedur Pengumpulan Data .................................................... 54
4.10 Analisa Data ............................................................................. 54
4.11 Etika Penelitian ........................................................................ 57
BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.1 Gambaran Umum ...................................................................... 59
5.2 Hasil Penelitian ......................................................................... 60
5.2.1 Data Umum .................................................................. 60
5.2.2 Data Khusus ................................................................. 63
5.3 Pembahasan ............................................................................... 66
5.3.1 Riwayat Anemia Kehamilan Ibu Pada Kelompok
Kasus dengan Kejadian Stunting Pada Balita Di
Desa Ketandan Dagangan Madiun ............................... 66
5.3.2 Riwayat Anemia Kehamilan Ibu Pada Kelompok
Kontrol dengan Kejadian Stunting Pada Balita Di
Desa Ketandan Dagangan Madiun ................................ 68
5.3.3 Hubungan Riwayat Anemia Kehamilan dengan
Kejadian Stunting Pada Balita Di Desa Ketandan
Dagangan Madiun ......................................................... 69
xii
BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan ............................................................................... 73
6.2 Saran .......................................................................................... 74
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 75
LAMPIRAN-LAMPIRAN ................................................................................. 80
xiii
DAFTAR TABEL
Nomor Judul Tabel Halaman
Tabel 2.1 Diagnosis Anemia Pada Ibu Hamil ........................................ 9
Tabel 2.2 Standar Panjang Badan Menurut Umur (PB/U) Anak Laki-
laki Umur 0-24 Bulan ............................................................. 24
Tabel 2.3 Standar Tinggi Badan Menurut Umur (TB/U) Anak Laki-
laki Umur 24-60 Bulan ........................................................... 25
Tabel 2.4 Standar Tinggi Badan Menurut Umur (TB/U) Anak
Perempuan Umur 24-60 Bulan .............................................. 26
Tabel 2.5 Standar Panjang Badan Menurut Umur (PB/U) Anak
Perempuan Umur 0-24 Bulan ................................................. 27
Tabel 4.1 Definisi Operasional ............................................................... 52
Tabel 5.1 Deskripsi Responden Berdasarkan Umur Ibu ........................ 60
Tabel 5.2 Deskripsi Responden Berdasarkan Umur Balita .................... 61
Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Jenis
Kelamin Balita........................................................................ 61
Tabel 5.4 Deskripsi Tinggi Badan Balita ............................................... 62
Tabel 5.5 Deskripsi Berat Badan Balita ................................................. 63
Tabel 5.6 Distribusi Frekuensi Karakteristik Riwayat Anemia
Kehamilan .............................................................................. 64
Tabel 5.7 Distribusi Frekuensi Karakteristik Kejadian Stunting Pada
Balita ...................................................................................... 64
Tabel 5.8 Distribusi Frekuensi Hubungan Riwayat Anemia
Kehamilan Dengan Kejadian Stunting Pada Balita................ 65
xiv
DAFTAR GAMBAR
Nomor Judul Gambar Halaman
Gambar 3.1 Kerangka Konsep Penelitian ............................................. 45
Gambar 4.1 Skema Rancangan Studi Kasus Kontrol ........................... 47
Gambar 4.2 Kerangka Kerja Penelitian ................................................. 51
xv
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Lembar Izin pengambilan data awal ........................................... 80
Lampiran 2 Surat Ijin Penelitian ..................................................................... 81
Lampiran 3 Surat Keterangan Penelitian ........................................................ 82
Lampiran 4 Lembar Permohonan menjadi responden ................................... 83
Lampiran 5 Lembar Pernyataan menjadi responden ...................................... 84
Lampiran 6 Lembar SOP (Standart Operasional Prosedur) ........................... 85
Lampiran 7 Lembar Observasi Responden .................................................... 86
Lampiran 8 Tabulasi Data Responden ............................................................ 88
Lampiran 9 Distribusi Frekuensi Responden .................................................. 91
Lampiran 10 Hasil Uji Chi square .................................................................... 97
Lampiran 11 Dokumentasi Penelitian ............................................................... 99
Lampiran 12 Jadwal Penyusunan Skripsi ......................................................... 100
Lampiran 13 Lembar Konsultasi ...................................................................... 101
xvi
DAFTAR ISTILAH
Anonymity : Tanpa Nama
Case Control : Kasus Kontrol
Club Foot : Kelainan Bentuk dan Pergelangan Kaki Bayi
Confidence Interval : Derajat Kepercayaan
Confidentiality : Kerahasiaan
Development : Perkembangan
Fe : Tablet Besi
Growth : Pertumbuhan
Heredokonstitusional : Faktor Genetik
Host : Manusia
Informed consent : lembar persetujuan menjadi responden
Malnutrisi : Kurang Gizi
Microtoise : Alat Ukur
Milieu : Lingkungan Hidup
Phytates : Menghambat Penyerapan Besi
Power Test : Nilai Z pada Kekuatan Uji
Probality Sampling : Teknik Pengambilan Sampel
Provider : Kebutuhan Dasar Anak
Severely Stunted : Sangat Pendek
Simpel Random Sampling : Teknik Pengambilan Sampel
Skill : Kemampuan
Stunting : Pendek
xvii
DAFTAR SINGKATAN
ACC/SCN : Administrative Committee On Coordination/Sub-Committee
On Nutrition
AKB : Angka Kematian Bayi
AKG : Angka Kecakupan Gizi
AKI : Angka Kematian Ibu
ASI : Air Susu Ibu
BAPPENAS RI : Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Republik
Indonesia
BB : Berat Badan
BBLR : Bayi Berat Lahir Rendah
HB : Hemoglobin
IMT : Indeks Masa Tubuh
IPM : Indeks Pembangunan Manusia
IQ : Intellegence Quotient
ISPA : Inspeksi Saluran Pernafasan Atas
KEK : Kekurangan Energi Kronis
KEMENKES : Kementrian Kesehatan
KMS : Kartu Menuju Sehat
LILA : Lingkar Lengan Atas
PB : Panjang Badan
RISKESDAS : Riset Kesehatan Dasar
SD : Standar Defisiensi
SDKI : Survai Demografi dan Kesehatan Indonesia
SDM : Sumber Daya Manusia
TB : Tinggi Badan
TTD : Tablet Tambah Darah
U : Umur
UNDP : United Nations Development Programme
UNICEF : United Nations Children’s Fund
WHO : World Health Organization
xviii
KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penyusunan skripsi dengan judul
“Hubungan Riwayat Anemia Kehamilan dengan Kejadian Stunting Pada Balita
Di Desa Ketandan Dagangan Madiun”.
Adapun maksud penulis menyusun skripsi ini adalah memenuhi persyaratan
dalam menyeleseikan Pendidikan Sarjana Keperawatan di STIKES Bhakti Husada
Mulia Madiun.
Penulis sadar bahwa skripsi ini dapat terseleseikan berkat dorongan dan
bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis dengan setulus hati
mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Zaenal Abidin, [Link]., [Link] selaku ketua STIKES Bhakti Husada Mulia
Madiun.
2. Ifa, [Link] selaku bidan Desa Ketandan Kec. Dagangan Kab. Madiun.
3. Mega Arianti Putri, [Link]., Ns., [Link] selaku Ketua Prodi Sarjana
Keperawatan STIKES Bhakti Husada Mulia Madiun.
4. Dian Anisia W, [Link]., Ners., [Link] selaku pembimbing 1 dalam
penyusunan skripsi ini.
5. Muhidin, [Link]., Ners., [Link] selaku pembimbing 2 dalam penyususnan
skripsi ini.
6. Keluarga tercinta yang selalu memberikan semangat dan dukungan dalam
penyusunan skripsi ini.
xix
7. Teman-teman kelas 8a keperawatan dan semua pihak yang banyak
membantu dalam penyusunan skripsi ini.
Penulis menyadari karena keterbatasan pengetahuan dan kemampuan dalam
penyusunan skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu saran dan kritik
yang membangun dari pembaca sangat kami harapkan untuk kesempurnaan
skripsi ini.
Madiun, 23 Juli 2018
Penulis,
Dhiyah Ayu Romadhoni
201402009
xx
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Masalah gizi terjadi di setiap siklus kehidupan, dimulai sejak dalam
kandungan (janin), bayi, anak, dewasa dan usia lanjut. Periode dua tahun pertama
kehidupan merupakan masa kritis, karena pada masa ini terjadi pertumbuhan dan
perkembangan yang sangat pesat (Kemenkes RI, 2010). Salah satu masalah gizi
yang diderita oleh balita yaitu stunting yang merupakan keadaan tubuh yang
pendek atau sangat pendek yang terjadi akibat kekurangan gizi dan penyakit
berulang dalam waktu lama pada masa janin hingga 2 tahun pertama kehidupan
seorang anak (Black et al., 2008).
United Nation Children’s Fund pada tahun 2014 mengeluarkan hasil
bahwa lebih dari 162 juta anak dibawah 5 tahun di dunia mengalami stunting
(pendek). Anak dengan keadaan wasting (kurus) sebanyak 51 juta anak, dan 17
juta anak dalam kondisi sangat kurus yang memerlukan penanganan khusus.
Keadaan tersebut, akan mengalami efek jangka panjang yang berdampak bagi
dirinya, keluarga, dan pemerintah, bahkanberisiko tinggi meninggal (UNICEF,
2014). Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 di Indonesia mencatat
bahwa prevalensi stunting sebesar 37,2%, meningkat dari tahun 2007 (35,6%) dan
tahun 2010 (36,8%). Persentase tersebut dengan pembagian untuk kategori sangat
pendek 19,2% dan pendek 18,1%. Artinya, diperkirakan lebih dari sepertiga atau
lebih dari 8,9 juta anak usia dibawah 5 tahun di Indonesia mengalami
pertumbuhan yang tidak sesuai ukuran standar internasional untuk tinggi badan
1
2
berbanding usia. Selain itu, untuk anak Indonesia yang dalam keadaan kurus,
diperkirakan ada sekitar 3,3 juta anak (Kemenkes R1, 2013)
Stunting adalah masalah gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang
kurang dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai
dengan kebutuhan gizi. WHO mengartikan stunting adalah keadaan tubuh yang
sangat pendek hingga melampaui defisit 2 SD dibawah median panjang atau tinggi
badan populasi yang menjadi referensi [Link] ini terjadi akibat
dari faktor lingkungan dan faktor manusia (host) yang didukung oleh kekurangan
asupan zat-zat gizi (Rudert, 2014).
Stunting atau gangguan pertumbuhan merupakan dampak dari masalah gizi
kurang yang terjadi pada anak-anak di negara berkembang. Stunting
mengindikasikan masalah kesehatan masyarakat karena berhubungan dengan
meningkatnya resiko morbiditas dan mortalitas, penurunan perkembangan fungsi
motorik dan mental serta mengurangi kapasitas fisik (Administrative Committee
on Coordination/Sub-Committee on Nutrition [ACC/SCN], 2000).Stunting
disebabkan oleh akumulasi episode stress yang sudah berlangsung lama, yang
kemudian tidak terimbangi oleh catch up growth (kejar tumbuh).Hal ini
mengakibatkan menurunnya pertumbuhan apabila dibandingkan dengan anak-
anak yang tumbuh dalam lingkungan yang mendukung (Kusharisupeni, 2008).
Kejadian stunting pada balita akan mempengaruhi kondisi balita pada periode
siklus kehidupan berikutnya.
Stunting juga akan berdampak pada Indeks Pembangunan Manusia (IPM)
dimana Indonesia sekarang berada pada peringkat 113 dari 188 negara di seluruh
3
dunia. Rendahnya IPM ini dipengaruhi oleh status gizi dan kesehatan penduduk
Indonesia yang ditunjukkan dengan tingkat kemiskinan dan kelaparan sekitar 140
juta orang yang hidup dengan biaya kurang dari Rp 20.000/hari dan 19,4 juta
orang menderita gizi buruk. Tingginya angka kematian bayi, balita dan ibu
menunjukkan hasil yang belum maksimal pada upaya perbaikan atau pemerataan
pelayanan kesehatan di Indonesia. Begitu pula pada upaya perbaikan kondisi
ekonomi yang berarti meningkatkan pendapatan penduduk sehingga upaya
perbaikan gizi dapat diperbaiki dalam rangka peningkatan daya tahan tubuh
terhadap infeksi penyakit (UNDP, 2016).
Salah satu faktor risiko yang mempengaruhi kejadian stunting pada anak
balita adalah status giziibusaathamil. Tingginya angka kurang gizi pada ibu hamil
mempunyai kontribusi terhadap tingginya angka stunting di Indonesia yang
diperkirakan mencapai 350.000 bayi setiap tahunnya (Hadi, 2005). Menurut
Soekirman et al. (2010) kekurangan gizi yang terjadi pada ibu hamil trimester I
dapat mengakibatkan janin mengalami kematian dan bayi berisiko lahir prematur.
Jika kekurangan gizi terjadi pada trimester II dan III, janin dapat terhambat
pertumbuhannya dan tak berkembang sesuai dengan umur kehamilan ibu. Ibu
hamil yang terpapar anemia mengakibatkan berkurangnya suplai oksigen ke sel
tubuh maupun otak sehingga menimbulkan gejala-gejala letih, lesu, cepat lelah
dan gangguan nafsu makan, sehingga berdampak kepada keadaan gizi ibu, yang
tercermin dalam berat badannya. Bila hal ini terjadi pada saat trimester III, maka
risiko melahirkan prematur ataupun BBLR 3,7 kali lebih besar dibandingkan ibu
hamil trimester III non anemia (Hidayati et al, 2005).
4
Penelitian Ratna Ayu Wulandari tahun 2016 menemukanan bahwa ada
hubungan bermakna antara kadar hemoglobin pada ibu hamil dengan status gizi
anak 0-6 bulan. Penelitian lainnya oleh Kartikawati tahun 2016 memperoleh hal
status gizi kurang pada ibu hamil merupakan faktor risiko kejadian stunting.
Penelitian tersebut memperoleh hasil bahwa anemia pada ibu hamil berisiko
terhadap kejadian stunting pada anak 0-6 bulan. Hal ini dikarenakan asupan gizi
yang didapatkan tidak mencukupi. Salah satu faktor risiko kejadian stunting
menurut penelitian Welassih tahun 2011 adalah riwayat penyakit infeksi. Menurut
UEU-Undergraduated tahun 2008 mendapatkan hasil bahwa salah satu faktor
kejadian stunting yaitu riwayat penyakit yang diderita oleh balita. Sedangkan
dalam penelitian lainnya dari Onetusfifsi Putra tahun 2010 didapatkan bahwa bayi
yang mempunyai keadaan gizi kurang (BBLR) akan berisiko terkena penyakit
infeksi dan akan menderita stunting.
Hasil Riskesdas tahun 2013 di provinsi JawaTimur mencatat prevalensi
stunting sebesar 26,1%. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Madiun
tahun 2016, beberapa permasalahan kesehatan khususnya gizi kurang yang terjadi
di Kecamatan Dagangan tercatat prevalensi stunting sebesar 28,3%. Kecamatan
Dagangan pada tahun 2016 merupakan kecamatan yang memiliki kasus
tertinggiuntuk kategori sangat pendek dari pada kecamatan lain yang ada di
KabupatenMadiun yaitu sebanyak 77 orang atau 6,50%. Di Desa Ketandann
Dagangan Madiun terdapat 43 kasus stunting. Kecamatan Dagangan terdiri dari
satu Puskesmas yaitu Puskesmas Dagangan. Pada tahun 2017, terjadi peningkatan
kasus stunting pada balita di Puskesmas Dagangan yang sebelumnya 338 kasus di
5
tahun 2016 menjadi 342 kasus tahun 2017 ditambah lagi pada tahun 2017
ditemukan kasus anemia pada ibu hamil yaitu sebesar 104 kasus.
Dengan ditemukannya beberapa permasalahan kesehatan khususnya gizi di
Kecamatan Dagangan, perlunya perhatian khusus bagi pemerintah seperti
mengoptimalkan gerakan masyarakat sehat guna memberikan pengetahuan
kesehatan ibu dan anak. Berdasarkan uraian yang telah di paparkan, peneliti
tertarik untuk meneliti hubungan riwayat anemia kehamilan dengan kejadian
stunting pada balita di Desa Ketandan Dagangan Madiun.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, rumusan masalah dalam penelitian ini
adalah “Apakah ada hubungan riwayat anemia kehamilan dengan kejadian
stunting pada balita di Desa Ketandan Dagangan Madiun”?
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk Menganalisis hubungan riwayat anemia kehamilan dengan kejadian
stunting pada balita di Desa Ketandan Dagangan Madiun.
1.3.2 Tujuan Khusus
Adapun tujuan khusus dari penelitian ini antara lain:
1. Mendiskripsikan riwayat anemia kehamilan ibu pada kelompok kasus
dengan kejadian stunting pada balita di Desa Ketandan Dagangan Madiun.
2. Mendeskripsikan riwayat anemia kehamilan ibu pada kelompok kontrol
dengan kejadian stunting pada balita di Desa Ketandan Dagangan Madiun.
6
3. Menganalisis hubungan riwayat anemia kehamilan dengan kejadian
stunting pada balita di Desa Ketandan Dagangan Madiun.
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Manfaat Teoritis
1. Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan evaluasi maupun kajian
lebih lanjut bagi pemegang program gizi khususnya dalam kejadian
stunting dalam mengetahui faktor lain yang berhubungan dengan kejadian
stunting.
2. Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan masukan lebih
lanjut bagi Puskesmas Dagangan dalam perencanaan strategi
pengembangan program
1.4.2 Manfaat Praktis
1. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan pengetahuan bagi
peneliti dalam penyusunan tugas akhir kuliah sebagai syarat untuk
mendapatkan gelar Sarjana Keperawatan.
2. Peneliti mampu mengaplikasikan disiplin ilmu yang telah di dapat dari
proses pendidikan maupun hasil penelitian ini nantinya untuk di
implementasikan dalam dunia kerja.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Anemia Pada Ibu Hamil
2.1.1 Pengertian Anemia
Anemia adalah suatu keadaan dimana tubuh memiliki jumlah sel darah
merah (eritrosit) yang terlalu sedikit, yang mana sel darah merah itu mengandung
hemoglobin yang berfungsi untuk membawa oksigen ke seluruh jaringan tubuh
(Proverawati, 2013).
Anemia adalah suatu keadaan adanya penurunan kadar hemoglobin di
bawah nilai normal. Pada penderita anemia lebih sering disebut dengan kurang
darah, kadar sel darah merah dibawah nilai normal (Rukiyah, 2010)
2.1.2 Pengertian Anemia Pada Ibu Hamil
Anemia dapat didefinisikan sebagai kondisi dengan kadar Hb berada di
bawah normal. Di Indonesia Anemia umumnya disebabkan oleh kekurangan Zat
Besi, sehingga lebih dikenal dengan istilah Anemia Defisiensi [Link]
didefinisikan besi merupakan salah satu gangguan yang paling sering terjadi
selama kehamilan. Ibu hamil umumnya mengalami deplesi besi sehingga hanya
memberi sedikit besi kepada janin yang dibutuhkan untuk metabolism besi yang
normal. Selanjutnya akan menjadi anemia pada saat kadar hemoglobin ibu turun
sampai dibawah 11 gr/dl selama trimester III (Waryana, 2010).
2.1.3 Etiologi dan Klasifikasi Anemia Pada Ibu Hamil
Anemia dan Kekurangan Energi Kronis (KEK) pada ibu hamil menjadi
penyebab utama terjadinya perdarahan dan infeksi yang merupakan faktor
7
8
kematian ibu (Suwandi, 2010). Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu
indikator keberhasilan layanan kesehatan di suatu Negara dan berpengaruh
terhadap kualitas Sumber Daya Manusia (SDM)di Indonesia (Winkjosastro,
2007).
Anemia terbagi dalam bermacam macam jenis. Pembagian anemia dalam
kehamilan antara lain yaitu anemia defisiensi besi, anemia megaloblastik, anemia
hipoplastik, dan anemia hipolitik menurut Waryana (2010) :
1. Anemia Defisiensi Gizi Besi
Anemia jenis ini biasanya berbentuk normositik dan hipokromik serta
keadaan tersebut paling banyak dijumpai. Anemia dalam kehamilan yang
sering dijumpai ialah anemia akibat kekurangan besi. Kekurangan ini
dapat disebabkan karena kurangnya masuknya unsur besi dalam makanan,
karena gangguan reabsorbsi, gangguan pencernaan, atau karena terlampau
banyaknya besi yang keluar dari badan, misal pada perdarahan.
2. Anemia Megaloblastik
Anemia megaloblastik dalam kehamilan jarang sekali disebabkan karena
defisiensi vitamin B12, kebanyakan disebabkan oleh asam [Link]
anemia megaloblastik ditegagkan apabila ditemukan megaloblas atau
promeglaloblas dalam darah atau sumsum tulang.
3. Anemia Hipoplastik
Anemia hipoplastik dalam kehamilan disebabkan karena kurang
mempunyai sumsum tulang dalam membuat sel-sel darah baru. Penyebab
pasti dari kondisi anemia hipoplastik ini sampai sekarang belum diketahui,
9
namun diperkirakan karena sepsis, sinar roentgen racun atau obat-obatan.
Pada kondisi ini, darah tepi memperlihatkan gambaran normositer dan
normokrom, serta tidak ditemukan cirri-ciri defisiensi besi, asam folik atau
vitamin B12.
4. Anemia Hipolitik
Proses penghancuran sel darah merah yang berlangsung lebih cepat
daripada pembuatannya dapat menyebabnya anemia hipolitik .Tanda-tanda
yang biasanya ditemukan yaitu hemoglobinia, hemoglobinuria,
hiperbilirubinia, hiperurobiliurineria, dan sterkobilin lebih banyak dalam
feses.
2.1.4 Diagnosis Anemia Pada Ibu Hamil
Pemeriksaan darah dilakukan minimal selama dua kali selama kehamilan
yaitu pada Trisemester I dan III, dengan pertimbangan bahwa sebagian besar ibu
hamil mengalami anemia (Waryana, 2010).
Tabel 2.1 Diagnosis Anemia pada Ibu Hamil
Kadar Haemoglobin Status Anemia
11 Gr % Tidak anemia
9- 10 Gr % Anemia ringan
7-8 Gr % Anemia sedang
< 7 Gr % Anemia berat
Sumber : WHO, 2010
2.1.5 Kebutuhan Fe Ibu Hamil
Fe merupakan mineral mikro yang paling banyak terdapat dalam tubuh,
yaitu sebanyak 3-5 gram di dalam tubuh manusia. Fe sangat dibutuhkan oleh
tenaga kerja untuk menunjang aktivitas [Link] dalam tubuh Fe berperan
sebagai alat angkut electron pada metabolism energy, sebagai bagian dari enzim
10
pembentuk sebagai kekebalan tubuh dan sebagai pelarut obat-obatan (Almatsier,
2002 dalam buku Waryana, 2010).
Makanan sumber Fe yang baik antara lain daging, ayam, ikan, telur, serelia
tumbuk, kacang-kacangan, sayuran hujau, dan pisang ambon. Fe yang berasal
dari makanan hewani lebih mudah diserap oleh tubuh daripada Fe yang berasal
dari makanan nabati. Faktor-faktor yang mempengaruhi absorpsi Fe yaitu
(Waryana, 2010) :
1. Bentuk Fe
Besi-hem yang merupakan bagian dari hemoglobin dan mioglobin yang
terdapat dalam daging hewan dapat diserap dua kali lipat daripada besi-
non hem yang berasal dari makanan nabati.
2. Asam Organik
Vitamin C dan asam sitrat sangat membantu penyerapan besi-nonhem
dengan merubah bentuk feri menjadi fero.
3. Asam Fitat, asam oksalat dan tannin
Ketiga jenis zat tersebut dapat mengikat Fe sehingga menghambat
penyerapannya. Namun pengaruh negatif ini dapat berkurang dengan
mengkonsumsi vitamin C.
4. Tingkat Keasaman Lambung
Keasaman lambung dapat meningkatkan daya larut besi.
11
5. Kebutuhan tubuh
Jika tubuh kekurangan Fe atau kebutuhan meningkat maka penyerapannya
juga akan meningkat. Kebutuhan Fe untuk tenaga kerja laki-laki dewasa
adalah 13 miligram per hari.
Saat kehamilan zat besi yang dibutuhkan oleh tubuh lebih banyak
dibandingkan saat tidak hamil. Zat besi bagi wanita hamil dibutuhkan sel-sel
darah merah yang semakin banyak serta janin dan plasentanya. Seiring dengan
bertambahnya umur kehamilan, zat besi yang dibutuhkan semakin banyak.
Dengan demikian resiko anemia zat besi semakin besar (Wirakusumah, 1998
dalam buku Waryana, 2010).
Ibu hamil yang anemia gizi akan melahirkan bayi yang anemia pula, yang
dapat menimbulkan disfungsi pada otaknya dan gangguan proses tumbuh
kembang otak. Selanjutnya, maka bumil dianjurkan mengkonsumsi zat besi
sebanyak 60-100 mg/hari.
Keanekaragaman konsumsi makanan berperan penting dalam membantu
meningkatkan penyerapan Fe di dalam tubuh. Kehadiran protein hewani, Vitamin
C, Vitamin A, Zn, asam folat, zat gizi mikro lain dapat meningkatkan penyerapan
zat besi dalam tubuh. Manfaat lain dari mengkonsumsi makanan sumber zat besi
adalah terpenuhinya kecukupan vitamin A, karena makanan sumber zat besi
biasanya juga merupakan sumber Vitamin A (Depkes RI, 1995 dalam buku
Waryana 2010).
Salah satu upaya yang telah dilakukan pemerintah untuk mengatasi
tingginya prevalensi ibu hamil yang menderita anemia gizi adalah suplementasi
12
tablet besi pada ibu hamil. Namun ada masalah yang dihadapi dalam suplementasi
tablet besi ini yaitu ibu hamil sukar untuk mengkonsumsinya setiap hari dengan
alasan lupa, perut merasa perih, enek, dsb (Ridwan, 1997 dalam buku Waryana
2010)
Departemen Kesehatan telah melaksanakan program penanggulangan
AGB dengan membagikan tablet besi atau Tablet Tambah Darah (TTD) kepada
ibu hamil sebanyak 1 tablet setiap hari berturut-turut selama 90 hari selama masa
kehamilan (Depkes RI, 1995 dalam buku Waryana 2010).Agar penyerapan besi
dapat maksimal, dianjurkan minum tablet zat besi dengan air minum yang sudah
dimasak. Dengan minum tablet Fe, maka tanda-tanda kurang darah akan
menghilang. Bila tidak menghilang, berarti yang bersangkutan bukan menderita
AGB, tetapi menderita anemia jenis lain (Depkes RI, 1995 dalam buku Waryana
2010).
Jumlah zat besi yang dibutuhkan pada waktu jauh lebih besar dari pada
tidak hamil. Pada waktu triwulan I kehamilan, kebutuhan zat gizi lebih rendah
dari sebelum hamil karena tidak menstruasi dan jumlah zat besi yang di transfer
kepada janin lebih rendah, pada waktu mulai menginjak triwulan II, sampai pada
triwulan III. Penambahan massa sel darah merah ini mencapai 35% dengan
penambahan kebutuhan zat besi sebanyak 450 mg. kenaikan kebutuhan konsumsi
oksigen oleh janin. Keadaan ini diimbangi dengan menurunya kadar Hg yaitu
sebanyak 1 gr/100 ml (pada wanita tidak hamil batas kadar Hg normal adalah 12
gr/100 ml). Fisiologis anemia disebabkan karena volume plasma naik melebihi
13
dari pertambahan banyak jumlah red cell mass, sehingga menghasilkan adanya
haemoditulion pada tingkat tertentu (Waryana, 2010).
Kebutuhan zat besi menurut Triwulan adalah sebagai berikut (Waryana,
2010) :
1. Pada Triwulan I zat besi yang dibutuhkaan adalah 1 mg/ hari yaitu untuk
kebutuhan basal 0,8 mg/ hari ditambah dengan kebutuhan janin dan read
cell mss 30-40 mg.
2. Pada Triwulan II zat besi yang diberlakukan adalah kurang lebih 5 mg/
hari yaitu untuk kebutuhan red cell mass 300 mg dan conceptus 115 mg.
3. Pada Triwulan III, zat besi dibutuhkan adalah 5 mg/ hari yaitu untuk
kebutuhan basal 0,8/ hari ditambah dengan kebutuhan red cell mass 150
mg dan conceptus 223 mg. Maka kebutuhan pada Triwulan II dan III jauh
lebih besar dari jumlah zat besi yang didapat dari makanan (Husaini, 1989
dalam buku waryana 2010).
2.1.6 Tanda dan Gejala Anemia Ibu Hamil
Pucat merupakan salah satu tanda yang paling sering dikaitkan dengan
anemia. Keadaan ini biasanya disebabkan karena berkurangnya volume darah,
berukurangnya hemoglobin serta vasokontriksi, untuk memaksimalkan pasokan
O2 ke organ-organ vital, Bantalan kuku telapak tangan, serta membrane mukosa
mulut dan konjungtiva merupakan indikator yang lebih baik untuk menilai pucat
jika dibandingkan dengan warna kulit. Jika lipatan tangan tidak lagi tampak
berwarna merah muda, kadar hemoglobin biasanya kurang dari 8 g/dl (Fuady M,
2013).
14
Pada anemia defisiensi besi biasanya dijumpai gejala cepat lelah, nafsu
makan berkurang, berdebar-debar serta takikardi (WHO, 2002). Keadaan cepat
lelah, serta nafas pendek ketika melakukan aktifitas jasmani merupakan
manifestasi dari berkurangnya distribusi O2. Takikardi mencerminkan beban kerja
dan curah jantung yang [Link] anemia yang berat dapat terjadi gagal
jantung kongestif akibat otot jantung yang anostik sehingga tidak tadap
beradaptasi terhadap kerja jantung yang meningkat. Selain itu, pada anemia
defisiensi besi yang berat juga dapat timbul gejala-gejala mual, anoreksia,
konstipasi atau diare, dan stomatitis (Fuady M, 2013).
2.1.7 Faktor yang Mempengaruhi Anemia Pada Ibu Hamil
Banyak faktor yang menyebabkan anemia pada ibu hamil antara lain
disebabkan karena kurang gizi (malnutrisi). Di antara faktor gizi yang
berkontribusi terhadap anemia adalah kekurangan zat besi. Hal ini karena
konsumsi makanan yang monoton, namun kaya akan zat yang menghambat
penyerapan zat besi (phytates) sehingga zat besi tidak dapat dimanfaatkan oleh
tubuh (Agrawal, S, 2006).Kekurangan zat besi juga dapat diperburuk oleh status
gizi yang buruk, terutama ketika dikaitkan dengan kekurangan asam folat, vitamin
A atau B12, seperti yang sering terjadi di negara-negara berkembang (Kaur,
2014). Malabsorpsi, Kehilangan darah yang banyak saat persalinan atau haid yang
lalu, dan penyakit kronis seperti: TB paru, cacing usus, dan malaria. Tingkat
kepatuhan mengkonsumsi tablet Fe atau tablet zat besi oleh ibu hamil mempunyai
pengaruh terhadap kejadian anemia. Anemia kehamilan terjadi karena cara minum
tablet zat besi dengan menggunakan kopi atau the yang bersifat mengikat zat besi,
15
sehingga zat besi tidak bisa diabsorpsi tubuh (Depkes RI, 1996 dalam buku
Waryana 2010).
2.1.8 Pencegahan Anemia Pada Ibu Hamil
Pencegahan anemia menurut Waryana (2010)
1. Selalu menjaga kebersihan dan mengenakan alas kaki setiap hari.
2. Istiraha yang cukup.
3. Makan makanan yang bergizi dan banyak mengandung Fe, misalnya :
daun papaya, kangkung, daging sapi, hati ayam dan susu.
4. Pada ibu hamil, dengan rutin memeriksakan kehamilannya minimal 4 kali
selama hamil untuk mendapatkan Tablet Besi (Fe) dan vitamin yang
lainnya pada petugas kesehatan, serta makan makanan yang bergizi 3X1
hari, dengan porsi 2 kali lipat lebih banyak.
2.1.9 Dampak AnemiaPada Ibu Hamil
Kekurangan kadar hemoglobin (Hb) ibu hamil merupakan salah satu
permasalahan kesehatan yang rentan terjadi selama kehamilan. Kadar Hb yang
kurang dari 11 g/dl mengindikasikan ibu hamil menderita [Link] pada
ibu hamil meningkatkan resiko mendapatkan Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR),
risiko perdarahan sebelum dan saat persalinan, bahkan dapat menyebabkan
kematian ibu dan bayinya jika ibu hamil tersebut menderita anemia berat. Hal ini
tentunya dapat memberikan sumbangan besar terhadap angka kematian ibu
bersalin maupunangka kematian bayi, dimana berdasarkan SDKI tahun 2007
angka tersebut masih cukup tinggi, yaitu angka kematian ibu (AKI) 228 per
16
100.000 kelahiran hidup dan angka kematian bayi (AKB) 34 per 1.000 kelahiran
hidup (Depkes RI, 2008 dalam buku Waryana).
Kadar hemoglobin merupakan indikator biokimia untuk mengetahui status
gizi ibu hamil. Kehamilan normal terjadi penurunan sedikit konsentrasi
hemoglobin dikarenakan hipervolemia yang terjadi sebagai suatu adaptasi
fisiologis di dalam [Link] hemoglobin <11 gr/dl merupakan
keadaan abnormal yang tidak berhubungan dengan hipervolemia tersebut.
Ketidakadekuatan hipervolemia yang terjadi malah dapat mengakibatkan
tingginya kadar hemoglobin ibu hamil. Kadar hemoglobin ibu hamil yang tinggi
juga dapat mengakibatkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan janin
normal (Cunningham, 2006)
2.2 Konsep Stunting
2.2.1 Pengertin Stunting Pada Balita
Balita Pendek (Stunting) adalah status gizi yang didasarkan pada indeks
PB/U atau TB/U dimana dalam standar antropometri penilaian status gizi anak,
hasil pengukuran tersebut berada pada ambang batas (Z-Score) <-2 SD sampai
dengan -3 SD (pendek/ stunted) dan <-3 SD (sangat pendek/ severely stunted)
(Kemenkes R.I, 2012). Stunting digunakan sebagai indikator malnutrisi kronik
yang menggambarkan riwayat kurang gizi anak dalam jangka waktu lama
sehingga kejadian ini menunjukkan bagaimana keadaan gizi sebelumnya
(Kartikawati, 2011).Pada anak balita masalah stunting lebih banyak dibandingkan
masalah kurang gizi lainnya.
17
Stunting adalah salah satu kondisi kegagalan mencapai perkembangan fisik
yang diukur berdasarkan tinggi badan menurut umur. Batasan stunting menurut
WHO yaitu tinggi badan menurut umur berdasarkan Z-score sama dengan atau
kurang dari -2 SD di bawah rata-rata standar (WHO, 2013)
2.2.2 Faktor Penyebab Stunting Pada Balita
Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya keadaan stunting pada
[Link]-faktor tersebut dapat berasal dari diri anak itu sendiri maupun dari
luar diri anak tersebut. Faktor penyebab stunting ini dapat disebabkan oleh faktor
langsung maupun tidak langsung. Penyebab langsung dari kejadian stunting
adalah asupan gizi dan adanya penyakit infeksi sedangkan penyebab tidak
langsungnya adalah pola asuh, pelayanan kesehatan, ketersediaan pangan, faktor
budaya, ekonomi dan masih banyak lagi faktor lainnya (Bappenas R.I, 2013).
1. Faktor Langsung
a. Asupan Gizi Balita
Saat ini Indonesia mengahadapi masalah gizi ganda,
permasalahan gizi ganda tersebut adalah adanya masalah kurang
[Link] gizi yang adekuat sangat diperlukan untuk pertumbuhan
dan perkembangan tubuh balita. Masa kritis ini merupakan masa saat
balita akan mengalami tumbuh kembang dan tumbuh kejar. Balita
yang mengalami kekurangan gizi sebelumnya masih dapat diperbaiki
dengan asupan yang baik sehingga dapat melakukan tumbuh kejar
sesuai dengan perkembangannya. Namun apabila intervensinya
terlambat balita tidak akan dapat mengejar keterlambatan
18
pertumbuhannya yang disebut dengan gagal tumbuh. Begitu pula
dengan balita yang normal kemungkinan terjadi gangguan
pertumbuhan bila asupan yang diterima tidak mencukupi. Dalam
penelitian yang menganalisis hasil Riskesdas menyatakan bahwa
konsumsi energi balita berpengaruh terhadap kejadian balita pendek,
selain itu pada level rumah tangga konsumsi energi rumah tangga di
bawah rata-rata merupakan penyebab terjadinya anak balita pendek
(Sihadi dan Djaiman, 2011).
Asupan gizi yang sesuai dengan kebutuhan akan membantu
pertumbuhan dan perkembangan anak. Sebaliknya asupan gizi yang
kurang dapat menyebabkan kekurangan gizi salah salah satunya dapat
menyebabkan stunting.
b. Penyakit Infeksi
Penyakit infeksi yang sering diderita balita seperti cacingan,
Infeksi saluran pernafasan Atas (ISPA), diare dan infeksi lainnya
sangat erat hubungannya dengan status mutu pelayanan kesehatan
dasar khususnya imunisasi, kualitas lingkungan hidup dan perilaku
sehat (Bappenas R.I, 2013). Ada beberapa penelitian yang meneliti
tentang hubungan penyakit infeksi dengan stunting yang menyatakan
bahwa diare merupakan salah satu faktor risiko kejadian stunting pada
anak usia dibawah 5 tahun (Taguri et al, 2007).
19
2. Faktor Tidak Langsung
a. Ketersediaan Pangan
Akses pangan pada rumah tangga menurut Bappenas adalah
kondisi penguasaan sumberdaya (sosial, teknologi, finansial/
keuangan, alam, dan manusia) yang cukup untuk memperoleh dan atau
ditukarkan untuk memenuhi kecukupan pangan, termasuk kecukupan
pangan di rumah tangga. Masalah ketersediaan ini tidak hanya terkait
masalah daya beli namun juga pada pendistribusian dan keberadaan
pangan itu sendiri, sedangkan pola konsumsi pangan merupakan
susunan makanan yang biasa dimakan mencakup jenis dan jumlah dan
frekuensi dan jangka waktu tertentu. Aksesibilitas pangan yang rendah
berakibat pada kurangnya pemenuhan konsumsi yang beragam,
bergizi, seimbang dan nyaman di tingkat keluarga yang mempengaruhi
pola konsumsi pangan dalam keluarga sehingga berdampak pada
semakin beratnya masalah kurang gizi masyarakat (Bappenas R.I,
2011).
Ketersediaan pangan yang kurang dapat berakibat pada
kurangnya pemenuhan asupan nutrisi dalam keluarga itu sendiri. Rata-
rata asupan kalori dan protein anak balita di Indonesia masih di bawah
Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang dapat mengakibatkan anak balita
perempuan dan anak balita laki-laki Indonesia mempunyai rata-rata
tinggi badan masing-masing 6,7 cm dan 7,3 cm lebih pendek dari pada
standar rujukan WHO 2005 (Bappenas R.I, 2011). Oleh karena itu
20
penanganan masalah gizi ini tidak hanya melibatkan sektor kesehatan
saja namun juga melibatkan lintas sektor lainnya.
Ketersediaan pangan merupakan faktor penyebab kejadian
stunting, ketersediaan pangan di rumah tangga dipengaruhi oleh
pendapatan keluarga, pendapatan keluarga yang lebih rendah dan biaya
yang digunakan untuk pengeluaran pangan yang lebih rendah
merupakan beberapa ciri rumah tangga dengan anak pendek (Sihadi
dan Djaiman, 2011).
b. Status Gizi Ibu saat Hamil
Status gizi ibu sebelum dan selama hamil dapat mempengaruhi
pertumbuhan janin yang sedang dikandung. Bila status gizi ibu normal
pada masa sebelum dan selama hamil kemungkinan besar akan
melahirkan bayi yang sehat, cukup bulan dengan berat badan normal.
Namun sampai saat ini masih banyak ibu hamil yang mengalami gizi
khususnya gizi kurang seperti Kurang Energi Kronis (KEK) dan
Anemia Gizi (Andriani, dkk, 2012) Untuk mengetahui anemia atau
tidak maka perlu melakukan pemeriksaan kadar hemoglobin (Hb) yang
menunjukkan gambaran kadar Hb dalam darah (Yongky dkk, 2009)
Kadar Hemoglobin (Hb) Pemeriksaan darah dilakukan pada ibu hamil
untuk mengetahui kadar Hb ibu sehingga dapat diketahui status anemia
yang dialami ibu saat hamil. Anemia pada saat kehamilan merupakan
suatu kondisi terjadinya kekurangan sel darah merah atau hemoglobin
(Hb) pada saat kehamilan. Ada banyak faktor predisposisi dari anemia
21
tersebut yaitu diet rendah zat besi, vitamin B12, dan asam folat, adanya
penyakit gastrointestinal, serta adanya penyakit kronis ataupun adanya
riwayat dari keluarga sendiri (Moegni dan Ocviyanti, 2013).
Ibu hamil dengan anemia sering dijumpai karena pada saat
kehamilan keperluan akan zat makanan bertambah dan terjadi
perubahan-perubahan dalam darah dan sumsum tulang (Wiknjosastro
dkk, 2005). Nilai cut-off anemia ibu hamil adalah bila hasil
pemeriksaan Hb <11,0 g/dl (Kemenkes R.I, 2013). Penyebab anemia
pada ibu hamil adalah karena gangguan penyerapan pada pencernaan,
kurangnya asupan zat besi dan protein dari makanan, perdarahan akut
maupun kronis, meningkatnya kebutuhan zat besi, kekurangan asam
folat dan vitamin, menjalankan diet miskin zat besi dan pola makan
yang kurang baik ataupun karena kelainan pada sumsum tulang
belakang.
Akibat anemia bagi janin adalah hambatan pada pertumbuhan
janin, bayi lahir prematur, bayi lahir dengan BBLR, serta lahir dengan
cadangan zat besi kurang sedangkan akibat dari anemia bagi ibu hamil
dapat menimbulkan komplikasi, gangguan pada saat persalinan dan
dapat membahayakan kondisi ibu seperti pingsan, bahkan sampai pada
kematian (Direktorat Bina Gizi dan KIA, 2012). Kadar hemoglobin
saat ibu hamil berhubungan dengan panjang bayi yang nantinya akan
dilahirkan, semakin tinggi kadar Hb semakin panjang ukuran bayi
yang akan dilahirkan (Ruchayati, 2012). Prematuritas, dan BBLR juga
22
merupakan faktor risiko kejadian stunting, sehingga secara tidak
langsung anemia pada ibu hamil dapat menyebabkan kejadian stunting
pada balita.
2.2.3 Dampak Stunting Pada Balita
Stunting adalah masalah gizi utama yang akan berdampak pada kehidupan
social dan ekonomi dalam masyarakat. Anak yang pada masa balitanya
mengalami stunting yaitu sebagai berikut menurut Jalal (2017) dapat menurunkan
intelligence quotient (IQ)/ tingkat kecerdasaan seseorang sampai 15 point dan
perkembangan motorik yang lambat, terlambat masuk sekolah dan memiliki
prestasi kedemik lebih buruk, postur tubuh yang pendek, akan meraih pendapatan
20% lebih rendah di usia kerja. Menurut Anugraheni (2012) stunting juga
meningkatkan resiko obesitas dan penyakit degeneratif. Hal ini dikarenakan orang
dengan tubuh pendek berat badan idealnya juga rendah, kenaikan berat badan
beberapa kilogram saja bisa menjadikan Indeks Masa Tubuh (IMT) naik melebihi
batas normal. Keadaan overweight dan obesitas yang terus berlangsung lama akan
meningkatkan resiko kejadian penyakit degeneratif.
2.2.4 Penanganan Stunting Pada Balita
Dalam upaya penanganan masalah stunting ini, khusus untuk bayi dan
anak telah dikembangkan standar emas makanan bayi dalam pemenuhan
kebutuhan gizinya (Bappenas R.I, 2011) :
1. Inisiasi Menyusui Dini (IMD) yang harus dilakukan sesegera mungkin
setelah melahirkan
23
2. Memberikan ASI eksklusif sampai bayi berusia 6 bulan tanpa pemberian
makanan dan minuman tambahan lainnya.
3. Pemberian makanan pendamping ASI yang berasal dari makanan keluarga,
diberikan tepat waktu mulai bayi berusia 6 bulan.
4. Pemberian ASI diteruskan sampai anak berusia 2 tahun.
Asupan gizi yang sesuai dengan kebutuhan akan membantu pertumbuhan
dan perkembangan anak. Sebaliknya asupan gizi yang kurang dapat menyebabkan
kekurangan gizi salah satunya dapat menyebabkan stunting.
2.2.5 Pengukuran Stunting
Indeks antropometri yang umum digunakan dalam penilaian status gizi
adalah berat badan menurut umur (BB/U) tinggi badan menurut umur (TB/U) dan
berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) yang dinyatakan dengan standar
deviasi unit z (Z-score). Normal, pendek dan Sangat Pendek adalah status gizi
yang didasarkan pada indeks Panjang Badan menurut Umur (PB/U) atau Tinggi
Badan menurut Umur (TB/U) yang merupakan padanan istilah stunted (pendek)
dan severely stunted (sangat pendek).
Berikut klasifikasi status gizi stunting berdasarkan indikator tinggi badan
per umur (TB/U).
1. Sangat pendek : Z-score< -3,0
2. Pendek : Z-score< -2,0 s.d. Z-score ≥ -3,0
3. Normal : Z-score ≥ -2,0
24
Dan di bawah ini merupakan klasifikasi status gizi stunting berdasarkan
indikator TB/U dan BB/TB.
1. Pendek-kurus : Z-score TB/U < -2,0 dan Z-score BB/TB < -2,0
2. Pendek –normal : Z-score TB/U < -2,0 dan Z-score BB/TB antara -2,0 s/d
2,0
3. Pendek-gemuk : Z-score ≥ -2,0 s/d Z-score ≤ 2,0
Rumus perhitungan z-skor
Nilai individu subjek−Nilai median buku rujukan
z-skor=
Nilai simpang buku rujukan
Tabel 2.2 Standar Panjang Badan Menurut Umur (PB/U) (Anak Laki-laki umur 0-
24 Bulan)
Panjang Badan (cm)
Umur/bulan
-3 SD -2 SD -1 SD Median 1 SD 2 SD 3 SD
0 44.2 46.1 48.0 49.9 51.8 53.7 55.6
1 48.9 50.8 52.8 54.7 56.7 58.6 60.6
2 52.4 54.4 56.4 58.4 60.4 62.4 64.4
3 55.3 57.3 59.4 61.4 63.5 65.5 67.6
4 57.6 59.7 61.8 63.9 66.0 68.0 70.1
5 59.6 61.7 63.8 65.9 68.0 70.1 72.2
6 61.2 63.3 65.5 67.6 69.8 71.9 74.0
7 62.7 64.8 67.0 69.2 71.3 73.5 75.7
8 64.0 66.2 68.4 70.6 72.8 75.0 77.2
9 65.2 67.5 69.7 72.0 74.2 76.5 78.7
10 66.4 68.7 71.0 73.3 75.6 77.9 80.1
11 67.6 69.9 72.2 74.5 76.9 79.2 81.5
12 68.6 71.0 73.4 75.7 78.1 80.5 82.9
13 69.6 72.1 74.5 76.9 79.3 81.8 84.2
14 70.6 73.1 75.6 78.0 80.5 83.0 85.5
15 71.6 74.1 76.6 79.1 81.7 84.2 86.7
16 72.5 75.0 77.6 80.2 82.8 85.4 88.0
17 73.3 76.0 78.6 81.2 83.9 86.5 89.2
18 74.32 76.9 79.6 82.3 85.0 87.7 90.4
19 75.0 77.7 80.5 83.2 86.0 88.8 91.5
20 75.8 78.6 81.4 84.2 87.0 89.8 92.6
21 76.5 79.4 82.3 85.1 88.0 90.9 93.8
22 77.2 80.2 83.1 86.0 89.0 91.9 94.9
23 78.0 81.0 83.9 86.9 89.9 92.9 95.9
24 78.7 81.7 84.8 87.8 90.9 93.9 97.0
Kementrian Kesehatan RI, 2011
25
Tabel 2.3 Standar Tinggi Badan Menurut Umur (TB/U) (Anak Laki-laki Umur
24-60 Bulan)
Umur Tinggi Badan (cm)
(Bulan) -3 SD -2 SD -1 SD Median 1 SD 2 SD 3 SD
24 78.0 81.0 84.1 87.1 90.2 93.2 96.3
25 78.6 81.7 84.9 88.0 91.1 94.2 97.3
26 79.3 82.5 85.6 88.8 92.0 95.2 98.3
27 79.9 83.1 86.4 89.6 92.9 96.1 99.3
28 80.5 83.8 87.1 90.4 93.7 97.0 100.3
29 81.1 84.5 87.8 91.2 94.5 97.9 101.2
30 81.7 85.1 88.5 91.9 95.3 98.7 102.1
31 82.3 85.7 89.2 92.7 96.1 99.6 103.0
32 82.8 84.4 89.9 93.4 96.9 100.4 103.9
33 83.4 86.9 90.5 94.1 97.6 101.2 104.8
34 83.9 87.5 91.1 94.8 98.4 102.0 105.6
35 84.4 88.1 91.8 95.4 99.1 102.7 106.4
36 85.0 88.7 92.4 96.1 99.8 103.5 107.2
37 85.5 89.2 93.0 96.7 100.5 104.2 108.0
38 86.0 89.8 93.6 97.4 101.2 105.0 108.8
39 86.5 90.3 94.2 98.0 101.8 105.7 109.5
40 87.0 90.9 94.7 98.6 102.5 106.4 110.3
41 87.5 91.4 95.3 99.2 103.2 107.1 111.0
42 88.0 91.9 95.9 99.9 103.8 107.8 111.7
43 88.4 92.4 96.4 100.4 104.5 108.5 112.5
44 88.9 93.0 97.0 101.0 105.1 109.1 113.2
45 89.4 93.5 97.5 101.6 105.7 109.8 113.9
46 89.8 94.0 98.1 102.2 106.3 110.4 114.6
47 90.3 94.4 98.6 102.8 106.9 111.1 115.2
48 90.7 94.9 99.1 103.3 107.5 111.7 115.9
49 91.2 95.4 99.7 103.9 108.1 112.4 116.6
50 91.6 95.9 100.2 104.4 108.7 113.0 117.3
51 92.1 96.4 100.7 105.0 109.3 113.6 117.9
52 92.5 96.9 101.2 105.6 109.9 114.2 118.6
53 93.0 97.4 101.7 105.6 109.9 114.2 118.6
54 93.4 97.8 102.3 106.7 111.1 115.5 119.9
55 93.9 98.3 102.8 107.2 111.7 116.1 120.6
56 94.3 98.8 103.3 107.8 112.3 116.7 121.2
57 94.7 99.3 103.8 108.3 112.8 117.4 121.9
58 95.2 99.7 104.3 108.9 113.4 118.0 122.6
59 95.6 100.2 104.8 109.4 114.0 118.6 123.2
60 96.1 100.7 105.3 110.0 114.6 119.2 123.9
Kementrian Kesehatan RI, 2011
26
Tabel 2.4 Standar Tinggi Badan Menurut Umur (TB/U) (Anak Perempuan Umur
24-60 Bulan)
Umur Tinggi Badan (cm)
( Bulan) -3 SD -2 SD -1 SD Median 1 SD 2 SD 3 SD
24 76.0 79.3 82.5 85.7 88.9 92.2 95.4
25 76.8 80.0 83.3 86.6 89.9 93.1 96.4
26 77.5 80.8 84.1 87.4 90.8 94.1 97.4
27 78.1 81.5 84.9 88.3 91.7 95.0 98.4
28 78.8 82.2 85.7 89.1 92.5 96.0 99.4
29 79.5 82.9 86.4 89.9 93.4 96.9 100.3
30 80.1 83.6 87.1 90.7 94.2 97.7 101.3
31 80.7 84.3 87.9 91.4 95.0 98.6 102.2
32 81.3 84.9 88.6 92.2 95.8 99.4 103.1
33 81.9 85.6 89.3 92.9 96.6 100.3 103.9
34 82.5 86.2 89.9 93.6 97.4 101.1 104.8
35 83.1 86.8 90.6 94.4 98.1 101.9 105.6
36 83.6 87.4 91.2 95.1 98.9 102.7 106.5
37 84.2 88.0 91.9 95.7 99.6 103.4 107.3
38 84.7 88.6 92.5 96.4 100.3 104.2 108.1
39 85.3 89.2 93.1 97.1 101.0 105.0 108.9
40 85.8 89.8 93.8 97.7 101.7 105.7 109.7
41 86.3 90.4 94.4 98.4 102.4 106.4 110.5
42 86.8 90.9 95.0 99.0 103.1 107.2 111.2
43 87.4 91.5 95.6 99.7 103.8 107.9 112.0
44 87.9 92.0 96.2 100.3 104.5 108.6 112.7
45 88.4 92.5 96.7 100.9 105.1 109.3 113.5
46 88.9 93.1 97.3 101.5 105.8 110.0 114.2
47 89.3 93.6 97.9 102.1 106.4 110.7 114.9
48 89.9 94.1 98.4 102.7 107.0 111.3 115.7
49 90.3 94.6 99.0 103.3 107.7 112.0 116.4
50 90.7 95.1 99.5 103.9 108.3 112.7 117.1
51 91.2 95.6 100.1 104.5 108.9 113.3 117.7
52 91.7 96.1 100.6 105.0 109.5 114.0 118.4
53 92.1 96.6 101.1 105.6 110.1 114.6 119.8
54 92.6 97.1 101.6 106.2 110.7 115.2 119.8
55 93.0 97.6 102.2 106.7 111.3 115.9 120.4
56 93.4 98.1 102.7 107.3 111.9 116.5 121.1
57 93.9 98.5 103.2 107.8 112.5 117.1 121.8
58 94.3 99.0 103.7 108.4 113.0 117.7 122.4
59 94.7 99.5 104.2 108.9 113.6 118.3 123.1
60 95.2 99.9 104.7 109.4 114.2 118.9 123.7
Kementrian Kesehatan RI, 2011
27
Tabel 2.5 Standar Panjang Badan Menurut Umur (TB/U) (Anak Perempuan Umur
0-24 Bulan)
Umur Panjang Badan (cm)
(Bulan) -3 SD -2 SD -1 SD Median 1 SD 2 SD 3 SD
0 43.6 45.4 47,3 49.1 51.0 52.9 54.7
1 47.8 49.8 51.7 53.7 55.6 57.6 59.5
2 51.0 53.0 55.0 57.1 59.1 61.1 63.2
3 53.5 55.6 57.7 59.8 61.9 64.0 66.1
4 55.6 57.8 59.9 62.1 64.3 66.4 68.6
5 57.4 59.6 61.8 64.0 66.2 68.5 70.7
6 58.9 61.2 63.5 65.7 68.0 70.3 72.6
7 60.3 62.7 65.0 67.3 69.6 71.9 74.2
8 61.7 64.0 66.4 68.7 71.1 73.5 75.8
9 62.9 65.3 67.7 70.1 72.6 75.0 77.4
10 64.1 66.5 69.0 71.5 73.9 76.4 78.9
11 65.2 67.7 70.3 72.8 75.3 77.8 80.3
12 66.3 68.9 71.4 74.0 76.6 79.2 81.7
13 67.3 70.0 72.6 75.2 77.8 80.5 83.1
14 68.3 71.0 73.7 76.4 79.1 81.7 84.4
15 69.3 72.0 74.8 77.5 80.2 83.0 85.7
16 70.2 73.0 75.8 78.6 81.4 84.2 87.0
17 71.1 74.0 76.8 79.7 82.5 85.4 88.2
18 72.0 74.9 77.8 80.7 83.6 86.5 89.4
19 72.8 75.8 78.8 81.7 84.7 87.6 90.6
20 73.7 76.7 79.7 82.7 85.7 88.7 91.7
21 74.5 77.5 80.6 83.7 86.7 89.8 92.9
22 75.2 78.4 81.5 84.6 87.7 90.8 94.0
23 76.0 79.2 82.3 85.5 88.7 91.9 95.0
24 76.7 80.0 83.2 86.4 89.6 92.9 96.1
Kementrian Kesehatan RI, 2011
2.3 Konsep Prtumbuhan dan Perkembangan
2.3.1 Pengertian Pertumbuhan dan Perkembangan
Pertumbuhan (growth) adalah perubahan yang bersifat kuantitatif, yaitu
bertambahnya jumlah, ukuran, dimensi pada tingkat sel, organ, maupun individu.
Anak tidak hanya tumbuh besar secara fisik, melainkan juga ukuran dan struktur
organ-organ tubuh dan otak (Soetjiningsih, 2012)
Perkembanngan (development) adalah bertambah kemampuan (skill)
dalam struktur fungsi alat tubuh yang dapat dicapai melalui tingkat kematangan
28
dan belajar. Perkembangan pada anak bisa terjadi pada perubahan bentuk dan
fungsi pematangan organ, mulai dari aspek social, emosional, hingga intelektual
(Mahayu, 2016).
2.3.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Tumbuh Kembang
Secara umum terdapat dua faktor utama yang berpengaruh pada proses
tumbuh kembang anak, yaitu Mahayu (2016) :
1. Faktor Genetik
Faktor genetic merupakan modal dasar dalam mencapai hasil akhir
proses tumbuh kembang anak. Faktor ini juga merupakan faktor bawaan
anak, yaitu potensi anak yang menjadi cirri khasnya. Melalui genetic yang
terkandung di dalam sel telur yang telah dibuahi, dapat ditentikan kualitas
dan kuantitas pertumbuhan. Ditandai dengan intensitas dan kecepatan
pembelahan, derajat sensitivitas jaringan terhadap rangsanga, umur
pubertas dan berhentinya pertumbuhan tulang.
2. Faktor Lingkungan
Lingkungan merupakan faktor yang sangat menentukan tercapainya
atau tidakna potensi bawaan. Faktor ini disebut juga milieu merupakan
tempat anak tersebut hidup, dan berfungsi sebagai penyedia kebutuhan
dasar anak. Lingkungan yang cukup baik akan memungkinkan tercapainya
potensi bawaan, sedangkan yang kurang baik akan menghambatnya. Anak
yang memiliki pola pertumbuhan dan perkembangan normal merupakan
hasil interaksi banyak faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan
29
perkembangan. Lingkungan secara garis besar, faktor lingkungan dibagi
menjadi Mahayu (2016) :
a. Lingkungan Pranatal
Faktor lingkungan prenatal yang berpengaruh terhadap tumbuh
kembang anak, antara lain :
1) Gizi ibu pada waktu hamil
2) Mekanis (trauma dan cairan ketuban yang kurang, posisi janin
dalam uterus dapat kelainan bawaan, talipes, dislokasi panggul,
tortikolis congenital, palsi fasialis, atau kranio tabes).
3) Toksin/ zat kimia.
4) Endokrin (komdisi hormone-hormon yang mungkin berperan
pada pertumbuhan janin, seperti somatotropon, tiroid, insulin,
hormone plasenta, peptide-peptida lainnya dengan aktivitas mirip
insulin).
5) Radiasi.
6) Infeksi.
7) Stress
8) Kelainan omunitas.
9) Anoreksia embrio.
b. Lingkungan Posnatal
Adapun lingkungan postnatal yang mempengaruhi tumbuh kembang
anak adalah sebagai berikut Mahayu (2016) :
30
1) Lingkungan biologis (ras/suku bangsa, jenis kelamin, umur, gizi,
perawatan kesehatan, kepekaan terhadap penyakit, penyakit
kronis, fungsi metabolism, dan hormon).
2) Faktor fisik (cuaca, musim, keadaan geografis suatu daerah,
sanitasi, keadaan rumah, baik dari struktur bangunan, ventilasi,
cahaya dan kepadatan hunian, serta radiasi).
3) Faktor psikososial
4) Faktor keluarga dan adat istiadat (pekerjaan/pendapatan keluarga,
pendidikan ayah/ibu, kenis kelamin dalam keluaraga, kehidupat
politik dalam masyarakat yang mempengaruhi prioritas
kepentingan anak, anggaran, dan lain-lain).
Menurut Andriana (2011) ada beberapa faktor yang mempengaruhi
pertumbuhan dan perkembangan anak yaitu:
1. Faktor Internal
Berikut adalah faktor-faktor internal yang berpengaruh pada tumbuh
kembang anak
a. Ras/etnik atau bangsa
Anak yang dilahirkan dari ras/ bangsa Amerika tidak memiliki faktor
herediter ras/ bangsa Indonesia atau sebaliknya.
b. Keluarga
Ada kecenderungan keluarga yang memiliki postur tubuh tinggi,
pendek, gemuk atau kurus.
31
c. Umur
Kecepatan pertumbuhan yang pesat adalah pada masa prenatal, tahun
pertama kehidupan dan masa remaja.
d. Jenis Kelamin
Fungsi reproduksi pada balita perempuan berkembang lebih cepat
daripada laki-laki. Akan tetapi setelah melewati mmasa pubertas,
pertumbuhan anak laki-laki akan lebih cepat.
e. Genetik
Genetik (heredokonstitusional) adalah bawaan anak yaitu potensi anak
yang akan menjadi cirri khasnya. Ada beberapa kelainan genetik yang
berpengaruh pada tumbuh kembang anak, contohnya seperti kerdil.
f. Kelainan Kromosom
Kelainan kromosom umumnya disertai dengan kegagalan
pertumbuhan seperti pada sindroma Down’s dan sindroma Turner’s.
2. Faktor Eksternal
Berikut ini adalah faktor-faktor eksternal yang berpengaruh pada tumbuh
kembang anak.
a. Faktor Prenatal
1) Gizi
Nutrisi ibu hamil terutamaa pada trimester akhir kehamilan akan
mempengaruhi pertumbuhan janin.
32
2) Mekanis
Posisi fetus yang abnormal bisa menyebabkan kelainan congenital
seperti club foot.
3) Toksin/Zat kimia
Beberapa obat-obatan seperti Aminopterin atau Thalidomid dapat
menyebabkan kelainan congenital seperti palatoskisis.
4) Endokrin
Diabetes militus dapat menyebabkan makrosomia,kardimegali
dan hyperplasia adrenal.
5) Radiasi
Paparan radiasi dan sinar Rontgen dapat mengakibatkan kelainan
pada janin seperti mikrosefali, spina bifida, retardasi mental dan
deformitas anggota gerak, kelainan congenital mata,serta kelainan
jantung.
6) Infeksi
Infeksi pada trimester pertama dan kedua oleh TORCH
(Tokslopasma, Rubella, Citimegalo virus, Herpes simpleks) dapat
menyebabkan kelainan pada janin seperti katarak, bisu, tuli,
mikrisefali, retardasi mentak dan kelainan jantung congenital.
7) Kelainan Imunologi
Eritoblastosis fetalis timbul atas dasar perbedaan golongan darah
antara janin dan ibu sehingga ibu membentuk antibody terhadap
sel darah merah janin, kemudian melalui plasenta masuk ke dalam
33
peredaran darah janin dan akan menyebabkan hemolisis yang
selanjutnya mengakibatkan hiperbilurubinemia dan kernikterus
yang akan menyebabkan kerusakan jaringan otak.
8) Anoksia Embrio
Anoksia embrio yang disebabkan oleh gangguan fungsi plasenta
menyebabkan pertumbuhan terganggu.
9) Psikologi ibu
Kehamilan yang tidak diinginkan serta perlakuan salah atau
kekerasan mental pada ibu hamil dan lain-lain.
b. Faktor Persalinan
Komplikasi persalinan pada bayi seperti trauma kepala, asfiksia dapat
menyebabkan kerusakan jaringan otak.
c. Faktor pascapersalinan
1) Gizi
Untuk tumbuh kembang bayi diperlukan zat makanan yang
adekuat.
2) Penyakit kronis atau kelainan congenital
Tuberkolosisi, anemia dan kelainan jantung bawaan
mengakibatkan retardasi pertumbuhan jasmani.
3) Lingkungan fisik dan kimia
Lingkungan yang sering disebut melieu adalah tempat anak
tersebut hidup yang berfungsi sebagai pentedia kebutuhan dasar
anak (provider). Sanitasi lingkungan yang kurng baik, kurangnya
34
sinar matahari, paparan sinar radioaktif dan zat kimia tertentu (Pb,
merkuri, rokok dan lain-lain) mempunyai dampak yang negatif
terhadap pertumbuhan anak.
4) Psikologis
Hubungan anak dengan orang sekitarnya. Seorang anak yang
tidak dikehendaki oleh orang tuanya atau anak yang selalau
merasa tertekan, akan mengalami hambatan didalam pertumbuhan
dan perkembangannya.
5) Endokrin
Gangguan hormone, misalnya pada penyakkit hipotiroid akan
menyebabkan anak mengalami hambatan pertumbuhan.
6) Sosio ekonomi
Kemiskinan selalu berkaitan dengan kekurangan makanan serta
kesehatan lingkungan yang jelek dan ketidaktahuan hal tersebut
menghambat pertumbuhan anak.
7) Lingkungan Pengasuhan
Pada lingkungan pengasuhan interaksi ibu dan anak sangat
mempengaruhi tumbuh kembang anak.
8) Stimulasi
Perkembangan memerlukan rangsangan atau stimulasi khususnya
dalam keluarga mislnya penyediaan mainan, sosialisasi anak serta
keterlibatan ibu dan anggota keluarga lain terhadap kegiatan anak.
35
9) Obat-obatan
Pemakaian Kortikosteroid jangka panjang akan menghambat
pertumbuhan demikian halnya dengan pemakaian obat
perangsang terhadap susuan saraf yang menyebabkan
terhambatnya produksi.
2.3.3 Ciri-ciri Tumbuh Kembang Balita
Tumbuh- kembang merupakan suatu proses utama yng hakiki dan khas
pada anak, dan merupakan sesuatu yang terpenting pada anak tersebut. Tumbuh-
kembang anak ini terutama mempunyai ciri-ciri antara lain (Maryunani, 2010) :
1. Bahwa manusia itu bertumbuh dan berkembang sejak dalam rahim
sebagian janin, akan berlanjut dengan proses tumbuh kembang anak, dan
kemudian proses tumbuh-kembang dewasa.
2. Dalam periode tertentu, terdapat adanya periode percepatan atau periode
perlambatan, antara lain :
a. Pertumbuhan cepat terdapat pada masa janin.
b. Pertumbuhan yang cepat sekali terjadi dalam tahun pertama. Yang
kemudian secara berangsur-angsur berkurang sampai usia 3- 4 tahun.
c. Pertumbuhan berjalan lamban dan teratur sampai masa akil baik.
d. Kemudian pertumbuhan cepat kembali pada masa akil baik (12- 16
tahun).
e. Selanjutnya pertumbuhan kecepatannya secara berangsur- angsur
berkurang sampai suatu waktu (sekitar usia 18 tahun berhenti).
36
3. Terdapat adanya laju tumbuh- kembang yang berlainan di antara organ-
organ.
4. Tumbuh-kembang merupakan suatu proses yang dipengaruhi oleh dua
faktor penentu, yaitu faktor genetik yang merupakan faktor bawaan, yang
menunjukkan potensi anak dan faktor lingkungan, yang merupakan faktor
yang menentukan apakah faktor genetik (potensi) anak akan tercapai.
5. Pola perkembangan anak mengikuti arah perkembangan yang disebut
sefalokaudal (dari arah kepala kemudian ke kaki) dan prolsomal- distal
(menggerakkan anggota gerak yang paling dekat dengan pusat, kemudian
baru yang jauh).
6. Pola perkembangan anak sama pada setiap anak, tetapi kecepatannya
berbed- beda.
2.4 Konsep Balita
2.4.1 Pengertian Balita
Balita adalah individu atau sekelompok dari suatu penduduk yang berada
dalam rentang usia tertentu. Usia balita dapat dikelompokkam menjadi tiga
golongan usia bayi (0-2 tahun), golongan batita (2-3 tahun), dan golongan pra
sekolah (> 3-5 tahun) (Merryana, dkk, 2012). Adapun menurut WHO. Kelompok
balita adalah 0-60 bulan. Sumber lain mengatakan bahwa usia balita adalah 1-5
tahun.
2.4.2 Perkembangan dan Pertumbuhan Balita
Adapun pertumbuhan dan pekembangan yang terjadi saat usia balita
(Andriani, dkk, 2012) :
37
1. Usia 12-18 bulan
a. Perkembangan Fisik dan mental
1) Berjalan sendiri tanpa jatuh.
2) Berjalan dan mengeksplorasi sekeliling rumah.
3) Menyususn 2-3 kotak.
4) Memungut benda kecil seperti kacang dengan ibu jari dan
telunjuk.
5) Minum sendiri dari gelas tanpa tumpah.
6) Dapat mengatakan 5-10 kata.
7) Mengungkapkan keinginan secara sederhana.
8) Memperlihatkan rasa cemburu dan bersaing.
b. Stimulasi dini di rumah
1) Latih anak naik turun tangga.
2) Bermain dengan anak, menunjukkan cara menangkap bola besar
dan melemparkannya kembali kepada anda.
3) Latih anak menyebut nama bagian tubuh, dengan menunjukkan
bagian tubuh anak, menyebut namanya dan usahakan agar dia
mau menyebutnya kembali.
4) Beri kesempatan kepada anak untuk melepas pakaiannya sendiri.
c. Hal penting yang perlu diketahui:
1) Ukur LILA sekurang-kurangnya satu kali pada umur 18 bulan.
2) Timbang berat badan tiap bulan.
3) Minta kapsul Vitamin A setiap bulan Februari dan Agustus.
38
4) Perhatikan kesehatan gigi anak:
a) Dapat mulai belajar menyikat gigi dibantu ibu dari belakang.
b) Gunakan pasta gigi mengandung fosfor yang tidak manis.
c) Sikat gigi dua kali sehari sesudah sarapan dan sebelum tidur.
d) Hindari makanan yang lengket dan manis (permen atau
coklat) diantara waktu makan.
5) Pemberian makan sehat pada nak:
a) Anak tetap diberi ASI, ASI diberikan sebelum pemberian
MP-PASI.
b) Anak mulai diberi makanan keluarga sesuai gizi seimbang
dengann jumlah setengah porsi orang dewasa, sebanyak tiga
kali sehari.
c) Makanan selingan bergizi tetap diberikan sebanyak 1-2 kali
sehari, seperti kue bolu pandan, kue lapis, biscuit, arem-arem.
d) Beri buah-buahan segar atau sari buah.
2. Usia 18-24 bulan
a. Perkembangan fisik dan mental :
1) Naik turun tangga.
2) Berjalan mundur sedikitnya lima langkah.
3) Menyusun enam kotak.
4) Menunjukkan bagian tubuh dan menyebut namanya.
5) Mencoret-coret dengan alat tulis.
6) Menyusun dua kata.
39
7) Belajar makan sendiri.
8) Meniru melakukan pekerjaan rumah tangga, misalnya membantu
menyiapkan meja makan.
9) Menggambar garis di kertas atau pasir.
10) Mulai belajar mengontrol buan air besar dan buang air kecil.
11) Menaruh minat terhadap apa yang dikerjakan orang yang lebih
dewsa.
12) Memperlihatkan minat kepada anak lain dan bermain dengan
mereka.
b. Stimulasi dini di rumah :
1) Latih kesimbangan tubuh anak dengan cara berdiri pada satu kaki
secara bergantian.
2) Latih anak menggambar bulatan, garis, segitiga dan gambar
wajah.
3) Latih anak agar mau menceritakan apa yang tadi dilihatnya.
4) Latih anak dalam hal menceritakan diri seperti : buang air kecil
dan buang air besaar pada tempatnya, namun jangan terlalu ketat.
c. Hal penting yang perlu diketahui:
1) Ukur LILA sekurang-kurangnya satu kali pada umur 24 bulan.
2) Minta kapsul Vitamin A setiap bulan februari dan Agustud.
3) Timbang berat badan tiap bulan.
4) Perhatikan kesehatan gigi anak :
a) Gigi susu lengkap (20 buah) pada umur 24 bulan.
40
b) Anak dibiasakan sikat gigi dibantu ibu.
c) Bila ada kerusakan gigi anak, segera ke Puskesmas.
5) ASI tetap diberikan sampai anak umur dua tahun. Beri anak
makanan keluarga sesuai gizi seimbang sebanyak tiga kali sehari.
3. Usia 2-3 tahun
a. Perkembangan fisik dan mental :
1) Belajar meloncat, memanjat, melompat dengan satu kaki tanpa
berpegangan sedikitnya dua hitungan.
2) Membuat jembatan dengan tiga kotak.
3) Mampu menyusun kalimat.
4) Menggunakan kata saya, bertanya, mengerti kata yang ditujukan
untuk/ untuknya.
5) Menggambar lingkaran.
6) Meniru membuat garis lurus.
7) Bermain bersama dengan anak lain dan menyadari adanya
lingkungan lain di luar keluarganya.
b. Stimulasi dini di rumah :
1) Latih anak melompat dengan satu kaki.
2) Latih anak menyusun dan menumpuk balok.
3) Latih anak mengenal bentuk dan warna.
4) Latih anak dlam hal kebersihan diri seperti cuci tangan dan kaki
serta mengeringkan sendiri.
41
c. Hal penting yang perlu diketahui :
1) Ukur LILA sekurang-kurangnya satu kali pada umur tiga tahun.
2) Timbang berat badan tiap bulan.
3) Minta kapsul Vitamin A setiap bulan Februari dan Agustus.
4) Perhatikan kesehatan gigi anak.
5) Cara menyikat gigi :
a) Kumur-kumur sebelum menyikat gigi. Siapkan sikat gigi
kecil dan pasta gigi yang mengandung fosfor
b) Sikat permukaan gigi yang mengahdap langit-langit atau
lidah.
c) Sikat permukaan gigi yan mengahadap pipi dan bibir.
d) Sikat permukaan gigi yang di pakai untuk mengunyah.
6) Pemberian makanan dengan gizi seimbang pada anak umur 2-3
tahun :
a) Anak berangsur-angsur disapih, dengan memberikan susu
sapi atau susu formula sebanyak dua kali sehari.
b) Anak diberi makanan keluarga beraneka ragam sesuai dengan
gizi seimbang sebanyak tiga kali.
c) Makanan selingan begizi tetap diberikan sebanyak 1-2 kali
sehari.
d) Beri buah-buahan segar.
42
4. Usia 3-4 tahun
a. Perkembang fisik dan mental :
1) Berjalan sendiri mengunjungi tetangga.
2) Berjalan pada jari kaki.
3) Belajar berpakaian dan membuka pakaian sendiri.
4) Menggambar garis silang.
5) Menggambar orang hanya kepala dan badan.
6) Mengenal 2-3 warna.
7) Menyebut namanya, jenis kelamin dan umur.
8) Banyak bertanya
9) Mendengarkan cerita.
10) Bermain dengan anak lain.
11) Dapat melakukan tugas-tugas sederhana.
b. Stimulasi dini di rumah :
1) Beri kesempatan agar anak dapat melakukan hal yang
diperkirakan mampu dia kerjakan, misalnya melompat dengan
satu kaki.
2) Latih anak cara memotong atau menggunting gambar-gmbar.
Mulai dengan gambar besar.
3) Latih anak mengancingkan kancing baaju.
4) Latih anak dalam sopan santun, misalnya berterima kasih,
mencium tangan dan sebagainya.
43
c. Hal penting yang perlu diketahui :
1) Ukur LILA sekurang-kurangnya satu kali pada umur empat tahun.
2) Timbang berat badan tiap bulan.
3) Periksa ke petugas kesehatan “apabila anak anda sakit”.
4) Minta kapsul Vitamin A setiap bulan Februari dan Agustus.
5) Teruskan mengawasi dan membimbing anak dalam memelihara
kesehatan gigi.
6) Hindari kebiiasaan buruk (mengisap jempol), makan permen,
cokelat.
7) Teruskan pemberian makanan keluarga, makanan selingan
bergizi, dan buah-buahan segar.
5. Usia 4-5 tahun
a. Perkembanga fisik dan mental :
1) Melompat dan menari.
2) Menggambar orang terdiri dari kepala, lengan, dan badan.
3) Menggambar segitiga dan segiempat.
4) Pandai berbicara.
5) Dapat menghitung jari-jarinya.
6) Dapat menyebut hari dalam satu minggu.
7) Mendengar dan mengulang hal penting dan bercerita.
8) Minat kepada katabaru dan artinya.
9) Memprotes bila dilarang apa yang diinginkan.
10) Mengenal empat warna.
44
11) Memperkirakan bentuk dan besarnya benda, membedakan besar
dan kecil.
12) Minat kepada aktivitas orang dewasa.
b. Stimulasi dini dirumah :
1) Beri kesempatan agar anak dapat melakukan hal yang
diperkirakan mampu dia kerjakan, misalnya main engkleng,
lompat tali dan sebagainya.
2) Melatih anak melengkapi gambar misalnya menggambar baju
pada gambar orang atau menggambar pohon, bunga pada gambar
rumah, an sebagainya.
3) Ajak anak dalam aktifitas keluarga seperti berbelanja ke pasar,
memasak, membetulkan mainan.
c. Hal penting yang perlu diketahui :
1) Ukur LILA sekurang-kurangnya satu kali pada umur lima thun.
2) Timbang berat badan tiap bulan.
3) Teruskan mengawasi membimbing anak dalam memelihara
kesehatan gigi dan memeriksa gigi dan memeriksa kesehatan gigi
atau mulut secara teratur.
4) Teruskan pemberian makanan keluarga beraneka ragam sesuai
dengan gizi seimbang, makanan selingan bergizi, dan buah-
buahan yang segar.
BAB 3
KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS
3.1 Kerangka Konsep
Faktor yang Mempengaruhi Stunting
Faktor Langsung Stunting:
1. Asupan Gizi
2. Penyakit Infeksi
Faktor tidak langsung Stunting:
1. Ketersediaan pangan
2. Status gizi ibu saat hamil, Hb Stunting Balita
3. Berat badan lahir rendah
4. Panjang badan lahir
5. ASI eklusif
6. MP-ASI
Keterangan:
: Hubungan
: Faktor yang tidak diteliti
: Faktor yang diteliti
Gambar 3.1 Kerangka Konsep Penelitian
Menjelaskan bahwa ada faktor yang menyebabkan terjadinya stunting pada
anak usia 1-3 bulan yaitu faktor langsung dan faktor tidak langsung. Faktor
langsung terdiri dari asupan gizi dan penyakit infeksi sedangkan faktor tidak
langsung terdiri dari kesedian pangan, status gizi ibu, berat badan lahir rendah,
Panjang badan lahir, ASI eklusif dan MPP-ASI. Salahsatu faktor risiko yang
mempengaruhi kejadian stunting pada anak balita adalah status gizi ibu saat hamil
yang terkena KEK ataupun anemia. Status gizi dan kesehatan ibu pada masa pra-
45
46
hamil, saat kehamilan dan saat menyusui merupakan periode yang sangat kritis
bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Atas dasar tersebut, maka peneliti
ingin meneliti apakah ada hubungan riwayat anemia kehamilan dengan kejadian
stunting pada balita di Desa Ketandan Dagangan Madiun.
3.2 Hipotesis Penelitian
Hipotesis merupakan jawaban sementara penelitian, patokan dugaan, atau
dalil sementara, yang kebenarannya akan dibuktikan dalam penelitian tersebut
(Notoatmodjo, 2010). Hipotesis dari penelitian ini adalah :
H1 : Ada hubungan riwayat anemia kehamilan dengan kejadian stunting pada
balita di Desa Ketandan Dagangan Madiun.
BAB 4
METODOLOGI PENELITIAN
4.1 Desain Penelitian
Jenis penelitian ini termasuk penelitian kuantitatif yaitu penelitian dengan
memperoleh data yang berbentuk angka atau data kualitatif yang diangkakan
(Sugiyono, 2013). Desain penelitian ini menggunakan case control bahwa
penelitian ini akan menghubungkan kasus stunting pada ibu saat kehamilan apa
ada riwayat anemia atau tidak. Dengan skema studi kasus kontrol di bawah ini:
Riwayat Anemia
Kehamilan (+)
Kasus:
Riwayat Anemia Stunting (+)
Kehmilan (-)
Balita
Riwayat Anemia
Kehamilan (+)
Kontrol:
Stunting (-)
Riwayat Anemia
Kehamilan (-)
Gambar 4.1 Skema Rancangan Studi Kasus Kontrol
4.2 Populasi dan Sampel
4.2.1 Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah balita di 5 posyandu di Desa
Ketandan Kecamatan Dagangan Kabupaten Madiun yaitu Posyandu Ketandan,
Sidodadi, Njeles, Nguren dan Ndeles sebanyak 287 balita.
47
48
4.2.2 Sampel
Besaran sampel dalam penelitian ini adalah balita yang stunting dan
ibunya yang tercatat dalam register KIA sesuai criteria eklusi. Besar sampel ini
diambil menggunakan rumus sebagai berikut:
𝛼
{𝑧 2 + 𝑧𝛽 √𝑝𝑞 } ²
𝑛=
[𝑝 − 1⁄2]²
𝑅
P =1+𝑅
3,2
P =1+3,2 = 0,76
Q = 1-P = 1-0,76 =0,24
Besar sampel Kasus :
n= (N.𝑧 2 p.q ) /(𝑑2 (N-1)+𝑧 2 .p.q)
= 43 (1,96)² 0,76.0,24) /(0,1²(43-1)+1,96².0,76.0,24)
= 30,13/0,01 (42)+ 0,70
= 30,13/1,12
= 26,9
= 27
Besar sampel kontrol
n= (N.z² p.q ) / ( d² (N-1) + z².p.q)
= 244 (196)².0,76.0,24) / (0,1²(244-1)+1,96².0,76.0,24
= 170,97 / (0,01 (243)+ 0,70
=170,97/ 3,13
=54,6
= 55
49
Keterangan:
N : Besar Populasi
n : Jumlah sampel
Z1-α/2 : derajat kepercayaan (confidense Interval) 95% atau α sebesar 5%
Z1-β : nilai Z pada kekuatan uji (power test) 1-β sebesar 80%= 0,0842
P : proporsi efek pada kelompok dengan faktor risiko (ditetapkan
peneliti)
d : Tingkat kesalahan yang dipilih (d=0,1)
OR : 3,2 (diambil dari penelitian sebelumnya)
Hasil perhitungan dengan rumus diatas diperoleh sampel minimum untuk
penilitian ini adalah 27 sampel. Jadi, jumlah sampel kasus dalam penelitian ini
adalah 27 balita. Rasio kasus dan control adalah 1:2. Jadi, total sampel menjadi 82
responden, yang terdiri dari 27 kasus dan 55 kontrol. Teknik sampling yang
digunakan dalam pengambilan sampel yaitu menggunakan simple random
sampling yaitu peneliti melakukan pengukuran dengan TB/U dan BB/U pada
balita.
4.3 Kriteria Kasus dan Kontrol
Kriteria kasus dan kontrol
1. Kriteria kasus
a. Kriteria inklusi
Responden adalah balita stunting dan ibunya yang tercatat dalam
register KIA di Desa Ketandan Dagangan Madiun.
50
b. Kriteria ekslusi
Responden tidak berada di tempat sewaktu penelitian
2. Kriteria kontrol
a. Kriteria inklusi
Responden adalah balita yang memiliki status gizi yang normal yang
tercatat dalam register KIA di Desa Ketandan Dagangan Madiun.
b. Kriteria eksklusi
Responden tidak berada di tempat sewaktu penelitian.
4.4 Teknik Pengambilan Sampling
Teknik pengambilan sampel pada penlitian ini adalah probality sampling
yaitu teknik pengambilan sampel yang tidak memberikan peluang atau
kesempatan yang sama bagi setiap unsur populasi untuk dipilih menjadi anggota
sampel (Sugiyono, 2013). Metode yang digunakan dalam pengambilan sampel
yaitu menggunakan metode simple random sampling. Karena ketidaktersedian
data stunting maka peneliti akan melakukan pengukuran dengan TB/U dan BB/U
pada balita untuk ditetapkan sebagai stunting dengan rumus z skor, bila diketahui
seorang balita pada pengukuran pertama stunting maka akan diambil sebagai
sampel bila pada pengukuran kedua tidak di temukan stunting maka tidak di ambil
sebagai stunting begitu juga dengan pengukuran berikutnya.
51
4.5 Kerangka Kerja Penelitian
Adapun kerangka kerja penelitian sebagai berikut:
Populasi
Seluruh balita di Desa Ketandan Dagangan Madiun sebanyak 287 anak
Sampel
Sebagian balita di Desa Ketandan Dagangan Madiun sebanyak 82 anak
Sampling
Simple random sampling
Desain Penelitian
Desain penelitian ini adalah analitik dengan pendekatan
Case control study
Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan yaitu data kasus anemia pada ibu hamil dan
kejadian stunting di Desa Ketandan Dagangan Madiun
Pengolahan Data
Uji Chi-squaredengan SPSS for windows vers 16
Penyajian hasil dan pelaporan berupa tabel distribusi frekuensi
Gambar 4.2 Kerangka Kerja Penelitian
52
4.6 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional
4.6.1 Variabel Penelitian
Variabel dalam penelitian ini mencakup dua variabel yaitu variabel
dependen dan variabel independen.
1. Variabel Independen
Variabel independen dalam penelitian ini adalah riwayat anemia
kehamilan.
2. Variabel Dependen
Variabel dependen dalam penelitian ini adalah Kejadian stunting pada
balita.
4.6.2 Definisi Operasional
Adapun definisi operasional penelitian ini sebagai berikut:
Tabel 4.1 Definisi Operasional
Definisi
Variabel Parameter Alat ukur Skala Hasil Ukur
operasional
Riwayat Riwayat kondisi Rerata kadar Lembar Nominal 0= Anemia
Anemia kadar Hb darah Hb ibu pada Observasi (<11gr%)
Kehamilan pada saat ibu saat hamil KMS 1= Tidak
melahirkan anak kurang dari Anemia
kurang dari 11gr% (11gr%)
11gr%
Stunting Keterlambatan TB/U <-2 Z- Lembar Nominal 0= Stunting
pertumbuhan score Observasi (<-2 SD)
pada balita. Antropometri 1= Tidak
TB/U Stunting
(>- 2 SD)
53
4.7 Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti
dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih
baik (cermat, lengkap, dan sistematis) sehingga lebih mudah diolah (Saryono dan
Mekar, 2013).Instrumen pada penelitian ini adalah lembar observasi berupa
kuesioner.
Instrumen pada penelitian ini untuk menentukan data stunting maka
peneliti melakukan pengukuran indeks antropometri yang digunakan untuk
pengukuran TB/U dengan menggunakan alat ukur mikrotaise sedangkan BB/U
menggunakan timbangan yang dinyatakan dengan standar deviasi unit z (Z-
score). Untuk menentukan data tentang riwayat anemia peneliti menggunakan
lebar observasi kadar Hb pada ibu melalui data KMS.
4.8 Waktu dan Tempat Penelitian
4.8.1 Waktu
Penelitian ini dilaksanakan di Desa Ketandan Dagangan Madiun. Waktu
penelitian dan pengumpulan data dilaksanakan pada bulan Desember 2017- Juli
2018 di Desa Ketandan Dagangan Madiun
4.8.2 Tempat
Penelitian ini telah dilakukan di Desa Ketandan Dagangan Madiun.
54
4.9 Prosedur Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini prosedur pengumpulan data yang ditetapkan adalah
sebagai berikut :
1. Mengurus surat ijin penelitian dengan membawa surat dari Stikes Bhakti
Husada Mulia Madiun, kemudian ditujukan kepada BANKESBANGPOL
Madiun, setelah diijinkan dilanjutkan ke Dinas Kesehatan Madiun.
2. Setelah mendapat ijin dari Dinas Kesehatan Madiun, surat ijin ditujukan
kepada Kepala Puskesmas Dagangan dan kemudian di arahkan ke Desa
Ketandan.
3. Peneliti bekerjasama dengan bidan Desa Ketandan.
4. Setelah semua surat izin penelitian sudah didapatkan, peneliti datang
secara langsung ke Posyandu Ketandan, Sidodadi, Njeles, Kenet dan
Nguren
5. Selanjutnya peneliti memilih responden sesuai kriteria inklusi dan kriteria
eksklusi.
6. Peneliti memberikan penjelasan kepada calon responden tentang tujuan
penelitian, manfaat dan prosedur peneliti.
7. Bersedia menjadi responden dipersilahkan untuk menandatangani lembar
persetujuan (Lembar Inform Consent).
4.10 Analisis Data
Analisis data merupakan kegiatan setelah data dari seluruh responden atau
sumber data lain terkumpul. Kegiatan dalam analisis data adalah
mengelompokkan data berdasarkan variabel dan jenis responden mentabulasikan
55
data berdasarkan variabel dari seluruh responden, menyajikan data tiap variabel
yang diteliti dan melakukan perhitungan untuk menjawab rumusan masalah
(Sugiyono, 2013). Analisis data kuantitatif dilakukan dengan metode tertentu
yaitu:
1. Analisis Univariat
Pada analisis univariat, data yang diperoleh dari hasil pengumpulan dapat
disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi, ukuran tendensi sentral
atau grafik (Saryono dan Mekar, 2013).Pada penelitian ini analisis
univariat dilakukan dengan menggunakan tabel distribusi frekuensi
terhadap masing-masing variabel yaitu Riwayat Anemia Kehamilan
dengan Stunting.
a. Distribusi frekuensi
Suatu uraian atau ringkasan yang dapat dibuat dalam bentuk tabel
suatu kelompok data yang menunjukkan sebaran data observasi dalam
beberapa kelas.
b. Ukuran Tendensi Sentral
Data yang dianalisis Jenis tendensi sentral adalah mean (rata-rata),
median (nilai tengah), modus (nilai yang sering muncul). Data yang
dianalisis merupakan data numerik yang berskala nominal dan
nominal. Di dalam penelitian data yang dianalisis tendensi sentral
adalah riwayat anemia kehamilan dan stunting.
56
2. Analisis Bivariat
Analisis bivariat merupakan analisis untuk mengetahui interaksi dua
variabel, baik berupa komparatif, asosiatif maupun korelatif (Saryono dan
Mekar, 2013). Dalam penelitian ini analisis bivariat dilakukan untuk
mengetahui Hubungan Riwayat Anemia Kehamilan terhadap Kejadian
Stunting pada Balita di Desa Ketandan Dagangan Madiun tahun 2018.
Pengolahan analisis bivariat dilakukan dengan menggunakan bantuan
komputerisasi. Uji statistik yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji
Chi-square adalah mencari hubungan atau pengaruh variabel bebas (X)
dengan Variabel terikat (Y) dan data berbentuk nominal. Pada tabulasi
silang akan dicari nilai OR (Odds Ratio) untuk mengetahui asosiasi
paparan (faktor risiko) dengan kejadian penyakit; dihitung dari angka
kejadian penyakit pada kelompok berisiko (terpapar faktor risiko)
dibanding angka kejadian penyakit pada kelompok yang tidak berisiko
(tidak terpapar faktor risiko). Untuk mengetahui terdapat pengaruh atau
tidak dapat dilihat dari nilai signifikan (Sujarweni, 2015).
a. Jika Sig > 0,05 maka H0 diterima, tidak ada Hubungan Riwayat
Anemia Kehamilan pada Ibu terhadap Kejadian Stunting pada Balita
di Desa Ketandan Dagangan Madiun.
b. Jika Sig < 0,05 maka H0ditolak, ada Hubungan Riwayat Anemia
Kehamilan pada Ibu terhadap Kejadian stunting pada Balita di Desa
Ketandan Dagangan Madiun.
57
c. Perhitungan Odds Ratio
1) Odds Stunting (+) pada kelompok factor resiko (+) = a/b
2) Odds Stunting (-) pada kelompok factor resiko (-) = c/d
3) OR/Odds Ratio = (a/c) : (b/d)= ad/bc
d. Interpretasinilai OR
1) OR ≤ 1 : Faktor resiko berhubungan negative dengan kejadian
stunting
2) OR= 1 : Tidak ada faktor yang berhubungan dengan kejadian
stunting
3) OR≥1 : Faktor resiko berhubungan positif dengan kejadian
stunting
4.11 Etika Penelitian
1. Inform Consent (Lembar persetujuan menjadi responden)
Responden membaca dan menyetujui maksud dan tujuan dari
penelitian yang dijelaskan oleh peneliti dan yang sudah tertulis di dalam
lembaran formulir. Kemudian mengisi formulir dan memberikan tanda
tangan sebagai persetujuan untuk menjadi responden penelitian. Namun
dalam penelitian ini jika ada responden yang tidak bersedia memberikan
tanda tangan akan tetap bersedia menjadi responden, sehingga peneliti
menghormati penuh kemauan responden.
2. Anonymity (Tanpa Nama)
Untuk menjaga kerahasiaan identitas subjek, peneliti tidak
mencantumkan nama lengkap subyek pada lembar pengumpulan data.
58
Peneliti memberikan informasi kepada reponden untuk mencantumkan
inisial nama saja. Namun jika ada responden yang bersedia mencantumkan
nama lengkap, maka peneliti akan menjaga privasi dari responden.
3. Confidentiality (Kerahasiaan)
Segala informasi yang didapat oleh peneliti baik dari responden
langsung maupun dari hasil pengamatan dijamin kerahasiaannya oleh
penelitian.
BAB 5
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pada bab ini penulis menyajikan hasil dan pembahasan penelitian tentang
hubungan riwayat anemia kehamilan dengan kejadian stunting pada balita di Desa
Ketandan Dagangan Madiun. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei- Juni
2018 penelitian ini dilaukan di desa ketandan yang terdiri dari 5 posyandu yaitu
ketandan, nguren, njeles, kenet dan sidodadi dengan jumlah responden sebanyak
82 responden. Dimana terdapat dua kelompok, yang pertama kelompok kasus
sebanyak 27 responden dan kelompok kontrol sebanyak 55 responden.
5.1 Gambaran Umum
Pengambilan data pada penelitian ini dilakukan di Desa Ketandan
Dagangan Madiun yang menaungi 5 desa yaitu ketandan, nguren, njeles, kenet
dan [Link] balita di desa ketandan sebanyak 287 balita yang terdiri dari
laki-laki dan perempuan. Di Desa Ketandan dilakukan pelaksanaan posyandu
balita setiap satu bulan sekali, dan di Desa Ketandan sendiri terdapat unit
pelayanan seperti polindes, posyandu dan kantor kepala desa. Di Desa Ketandan
masih banyak yang menderita anemia yang sanggat tinggi karena saat petugas
kesehatan memberikan tablet Fe banyak ibu yang lalai untuk minum tablet Fe
sehingga janin yang akan dikeluarkan nanti kemungkinan besar megalami
stunting.
59
60
5.2 Hasil Penelitian
5.2.1 Data Umum
Data umum akan menyajikan karakteristik responden berdasarkan jenis
kelamin, karakteristik responden berdasarkan umur, karakteristik responden
berdasarkan tinggi badan balita, karakteristik responden berdasarkan berat badan
balita.
1. Karakteristik reponden berdasarkan umur ibu
Karakteristik reponden berdasarkan umur ibu pada kasus anemia dan
tidak anemia ditampilkan pada tabel 5.1 seperti di bawah ini:
Tabel 5.1 Deskripsi responden berdasarkan umur ibu di Desa Ketandan
Dagangan Madiun bulan Mei-Juni 2018
Min-
Variabel n Mean Median SD CI-95%
Max
Kasus 27 34,70 35,00 3,698 28-40 33,24-36,17
Kontrol 55 35,04 36,00 4,371 22-41 33,85-36,22
Sumber: Data primer 2018
Berdasarkan tabel 5.1 diatas dapat dilihat bawa nilai rata-rata umur
ibu pada kelompok kasus adalah 34 tahun sedangkan umur terendah adalah
28 tahun dan tertinggi 40 tahun, sedangkan umur ibu pada kelompok
kontrol rata-ratanya 35 tahun sedangkan umur terendah adalah 22 tahun
dan tertinggi 41 tahun. Dan pada tingkat kepercayaan 95% diperkirakan
usia ibu pada kelompok kasus berada pada rentan 33-36 tahun,
Seadangkan usia ibu pada kelompok kontrol berada pada rentan 33-36
tahun.
61
2. Karakteristik responden berdasarkan umur balita
Karakteristik responden berdasarkan umur balita pada kasus stunting
dan tidak stunting ditampilkan pada tabel 5.2 seperti di bawah ini:
Tabel 5.2 Deskripsi umur balita di Desa Ketandan Dagangan Madiun
bulan Mei-Juni 2018
Min-
Variabel n Mean Median SD CI-95%
Max
Kasus 27 31,11 33,00 10,54 13-49 26,94-35,28
Kontrol 55 30,00 30,00 8,87 12-49 27,60-32,40
Sumber: Data primer 2018
Berdasarkan tabel 5.2 diatas dapat dilihat bawa nilai rata-rata umur
balita pada kelompok kasus adalah 31 bulan sedangkan umur terendah
adalah 13 bulan dan tertinggi 49 bulan, sedangkan nilai rata-rata umur
balita pada kelompok kontrol adalah 30 bulan sedangkan umur terendah
adalah 12 bulan dan tertinggi 49 bulan. Dan pada tingkat kepercayaan 95%
diperkirakan umur balita pada kelompok kasus berada pada rentan 26-35
bulan, Sedangkan umur balita pada kelompok kontrol berada pada rentan
27-32 bulan.
3. Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin balita
Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin balita pada kasus
stunting dan tidak stunting ditampilkan pada tabel 5.3 seperti di bawah ini:
Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi responden berdasarkan jenis kelamin balita
di Desa Keandan Dagangan Madiun bulan Mei-Juni 2018
Jenis Kelamin
Variabel Laki-laki Perempuan Jumlah %
Jumlah % Jumlah %
Kasus 13 32,5 14 33,3 27 32,9
Kontrol 27 67,5 28 66,7 55 67,1
Jumlah 40 100 42 100 82 100
Sumber : Data primer 2018
62
Berdasarkan tabel 5.3 di atas dapat dilihat bahwa nilai dari kelompok
kasus sebagian besar terjadi pada balita perempuan sebanyak 14 (33,3%),
dan sebagian kecil adalah terjadi pada balita laki-laki sebanyak 13(32,5%).
Sedangkan untuk kelompok kontrol sebagian besar terjadi pada balita
perempuan sebanyak 28 (66,7%), dan sebagian kecil adalah terjadi pada
balita laki-laki sebanyak 27 (67,5%)
4. Karakteristik responden berdasarkan tinggi badan balita
Karakteristik responden berdasarkan jenis tinggi badan balita pada
kasus stunting dan tidak stunting ditampilkan pada tabel 5.4 seperti di
bawah ini:
Tabel 5.4 Deskripsi tinggi badan balita di Desa Ketandan Dagangan
Madiun bulan Mei-Juni 2018
Min-
Variabel n Mean Median SD CI-95%
Max
Kasus 27 81,93 83,80 7,91624 70,10- 78,8018-
95,10 85,0649
Kontrol 55 88,34 90,60 7,04285 70,40- 86,4415-
101,00 90,2494
Sumber: Data primer 2018
Berdasarkan tabel 5.4 diatas dapat dilihat bawa nilai rata-rata tinggi
badan balita pada kelompok kasus adalah 81 cm sedangkan tinggi badan
yang terrendah adalah 70 cm dan tertinggi 95 cm, sedangkan balita pada
kelompok kontrol rata-ratanya 88 cm sedangkan tinggi badan yang
terendah adalah 70 cm dan tertinggi 101 cm. Dan pada tingkat
kepercayaan 95% diperkirakan tinggi badan balita pada kelompok kasus
berada pada rentan 78-85 cm, sedangkan tinggi badan balita pada
kelompok kontrol berada pada rentan 86-90 cm.
63
5. Karakteristik responden berdasarkan berat badan balita
Karakteristik responden berdasarkan berat badan balita pada kasus
stunting dan tidak stunting ditampilkan pada tabel 5.5 seperti di bawah ini:
Tabel 5.5 Deskripsi berat badan balita di Desa Ketandan Dagangan
Madiun bulan Mei-Juni 2018
Min-
Variabel n Mean Median SD CI-95%
Max
Kasus 4,80- 10,4082-
27 11,41 11,40 2,55404
19,10 12,4289
Kontrol 6,80- 12,1049-
55 12,74 13,00 2,23622
17,50 13,3500
Sumber: Data primer 2018
Berdasarkan tabel 5.5 diatas dapat dilihat bahwa nilai rata-rata berat
badan balita pada kelompok kasus adalah 11 kg sedangkan berat badan
yang terrendah adalah 4,80 kg dan tertinggi 19,10 kg, sedangkan balita
pada kelompok kontrol rata-ratanya 12 kg sedangkan berat badan yang
terrendah adalah 6,80 kg dan tertinggi 17,50 kg. Dan pada tingkat
kepercayaan 95% diperkirakan berat badan balita pada kelompok kasus
berada pada rentan 10-12 kg, sedangkan berat badan balita pada kelompok
kontrol berada pada rentan 12-13 kg.
5.2.2 Data Khusus
Setelah mengetahui data umum atau karakteristik responden dalam
penelitian ini, maka berikut ini ditampilkan data hasil penelitian yang terkait
dengan data khusus yang meliputi riwayat anemia kehamilan, kejadian stunting
pada balita dan hubungan riwayat anemia kehamilan dengan kejadian stunting
pada balita dalam bentuk tabel distribusi frekuensi serta tabulasi silang tentang
variabel independen dan dependen.
64
1. Riwayat anemia kehamilan ibu pada kelompok kasus dengan kejadian
stunting pada balita di Desa Ketandaan Dagangan Madiun
Karakteristik hasil tabulasi antara riwayat anemia kehamilan ibu pada
kelompok kasus dengan kejadian stunting pada balita akan disajikan dalam
tabel 5.6 yang ada di bawah ini:
Tabel 5.6 Distribusi frekuensi karakteristik riwayat anemia kehamilan ibu
pada kelompok kasus di Desa Ketandan Dagangan Madiun
bulan Mei- Juni 2018 (n=27)
Riwayat Anemi Kehamilan Frekuensi (f) Presentasi (%)
Ya 18 66,7
Tidak 9 33,3
Total 27 100
Sumber : Data Primer 2018
Berdasarkan tabel 5.6 dapat diketahui bahwa nilai proporsi riwayat
anemia kehamilan pada kelompok kasus adalah 18 (66,7%), dan yang
tidak anemia adalah 9 (33,3%) Kejadian stunting pada balita di Desa
Ketandan Dagangan Madiun.
2. Riwayat anemia kehamilan ibu pada kelompok kasus dengan kejadian
stunting pada balita di Desa Ketandaan Dagangan Madiun
Karakteristik hasil tabulasi antara riwayat anemia kehamilan ibu pada
kelompok kontrol dengan kejadian stunting pada balita akan disajikan
dalam tabel 5.7 yang ada di bawah ini:
Tabel 5.7 Distribusi frekuensi karakteristik riwayat anemia kehamilan ibu
pada kelompok kontrol di Desa Ketandan Dagangan Madiun
bulan Mei- Juni 2018 (n=55)
Riwayat Anemi Kehamilan Frekuensi (f) Presentasi (%)
Ya 17 30,9
Tidak 38 69,1
Total 55 100
Sumber : Data Primer 2018
65
Berdasarkan tabel 5.7 dapat diketahui bahwa nilai proporsi riwayat
anemia kehamilan pada kelompok kontrol adalah 17 (30,9%), dan yang
tidak anemia adalah 38 (69,1%)
3. Hubungan riwayat anemia kehamilan dengan kejadian stunting pada balita
di Desa Ketandan Dagangan Madiun
Karakteristik hasil frekuensi riwayat anemia kehamilan dengan
kejadian stunting pada balita akan disajikan dalam tabel 5.8 yang ada di
bawah ini
Tabel 5.8 Distribusi frekuensi hubungan riwayat anemia kehamilan
dengan kejadian stunting pada balita di Desa Ketandan
Dagangan Madiun bulan Mei-Juni 2018
Kejadian Stunting
Anemia
Ya Tidak
Jumlah % Jumlah %
Ya 18 66,7% 17 30,9%
Tidak 9 33,3% 38 69,1%
Jumlah 27 100% 55 100%
OR 4,471
CI 1,672-11,954
𝝆 0,005
Berdasarkan tabel 5.8 dapat diketahui bahwa dari 27 ibu yang anemia
terdapat 18 (66,7%) balita yang stunting dan 9 (33,3%) balita yang tidak
stunting, Dari 55 ibu yang anemia terdapat 17 (30,9%) balita yang stunting
dan 38 (69,1%) balita yang tidak stunting.
Berdasarkan hasil uji Chi Square dengan nilai continuity correction
didapatkan nilai ρ= 0,005<α= 0,05, maka dapat dikatakan ada hubungan
signifikan kejadian riwayat anemia kehamilan dengan kejadian stunting
pada balita di Desa Ketandan Dagangan Madiun. Sesuai hasil tabel diatas,
hasil nilai OR sebesar 4,471 maka dapat disimpulkan bahwa ibu yang
66
memiliki riwayat anemia pada kehamilan memiliki resiko sebesar 4 kali
anaknya mengalami stunting pada masa balita.
5.3 Pembahasan
5.3.1 Riwayat Anemia Kehamilan Ibu Pada Kelompok Kasus Dengan
Kejadin Stunting Pada Balita Di Desa Ketandan Dagangan Madiun
Berdasarkan tabel 5.6 menunjukkan bahwa hasil penelitian yang dilakukan
terhadap 82 responden dapat diketahui bahwa pada kelompok kasus ibu yang
anemia sebanyak 18 (66,7%) sedangkan ibu yang tidak anemia sebanyak 9
(33,3%). Negara dengan prevalensi anemia pada wanita hamil tertinggi adalah
India (88 %), diikuti oleh Afrika (50 %), Amerika Latin (40 %) , dan Karibia
(30%) (WHO, 2013).
Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2013,
prevalensi anemia pada ibu hamil di Indonesia sebesar 37,1%, angka ini
menunjukkan bahwa prevalensi Indonesia lebih tinggi dari Karibia sehingga
menempatkan Indonesia pada peringkat ke 4 prevalensi anemi terbesar di Dunia,
sedangkan untuk Desa Ketandan Dagangan Madiun prevalensi anemia pada ibu
hamil tahun 2018 sebesar 66,7%. Angka ini menunjukkan lebih tinggi dari
persentase Nasional . Prevalensi ibu hamil dengan anemia di Desa Ketandan
Dagangan Madiun ini sangat tinggi, yang berarti nilai ambang batas masalah gizi
sebagai masalah kesehatan masyarakat masih kurang.
Padaumumnya penyebab anemia pada ibu hamil adalah kurangnya gizi,
kurangnya zat besi dalam makanan yang dikonsumsi, penyerapan yang kurang
baik dan penyakit-penyakit kronik (seperti TBC, paru-paru, cacing usus, dan
67
malaria). Ibu hamil dikategorikan mengalami anemia jika kadar haemoglobin
pada pemeriksaan laboratorium < 11 gr% dan pada anamnesa didapatkan keluhan
cepat lelah, sering pusing, mata berkunang-kunang dan muntah yang lebih hebat
pada kehamilan muda (Sulistyoningsih, 2011).
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Rolla Destarina (2017) yang
berjudul Faktor Resiko Status Anemia Ibu Hamil Terdapat Panjang Badan Lahir
Pendek Di Puskesmas Sentolo 1 Kulon Progo D.I Yogyakarta bahwa hasil
penelitiannya dapat diketahui bahwa ibu hamil yang mengalami anemia di
Puskesmas Sentolo 1 ada sebanyak 30% atau ada 96 ibu hamil. Sedangkan yang
ibu yang tidak anemia berjumlah 219 (70%) ibu hamil. Anemia merupakan kadar
hemoglobin dibawah rentang nilai normal, Rendahnya kadar hemoglobin tidak
selalu diikuti dengan berkurangnya masa eritrosit (Sanyal, 2015). Anemia dapat
ditegagkan berdasarkan pemeriksaan pemeriksaan hematologi yaitu apabila
ditemukan penurunan kadar Hb. Secara fisiologis, kadar hemoglobin dapat
bervariasi tergantung pada usia, jenis kelamin, adanya kehamilan dan tingginya
tempat tinggal (Sylvia, 2015). Menurut (Manuba, 2010) Pada wanita dewasa yang
jika kadar hemoglobinnya berada di bawah 11 g/dl.
Hal ini didukung dari teori yang menyatakan Ibu hamil yang anemia gizi
akan menimbulkan disfungsi pada otaknya dan gangguan proses tumbuh kembang
otak. Selanjtnya, maka ibu hamil dianjurkan mengkonsumsi zat besi sebanyak 60-
100mg/harii Keanekaragaman konsumsi makanan berperan penting dalam
membantu meningkatkan penyerapan Fe di dalam tubuh. Kehadiran protein
hewani, Vitamin C, Vitamin A, Zn, Asam folat, Zat gizi mikro lain dapat
68
meningkatkan penyerapan zat besi dalam tubuh. Maanfaat lain dari
mengkonsumsi makanan sumber zat besi adalah terpenuhinya kecukupan vitamin
A, karena makanan sumber zat besi biasanya juga merupakan sumber Vitamin A
(Waryana, 2010)
Berdasarkan pembahasan diatas peneliti menyimpulkan bahwa riwayat
anemia pada ibu hamil masih tinggi. Pada kejadian ini disebabkan karena
kurangnya status gizi dan asupan energy kurang. Salah satu permasalahan
kesehatan yang sangat rentang terjadi selama kehamilan yaitu kadar Hb yang
kurang dari 11 g/dl mengindikasikan ibu hamil menderita anemia. Anemia pada
ibu hamil meningkatkan resiko mendapatkan Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR),
panjang badan lahir pendek atau stunting, resiko perdarahan sebelum dan saat
persalinan bahkan dapat menyebabkn kematian pada ibu dan bayinya jika ibu
tersebut menderita anemia berat.
5.3.2 Riwayat Anemia Kehamilan Ibu Pada Kelompok Kontrol dengan
Kejadian Stunting Pada Balita Di Desa Ketandan Dagangan Madiun
Berdasarkan tabel 5.7 menunjukkan bahwa hasil penelitian yang dilakukan
terhadap 82 responden dapat diketahui bahwa pada kelompok kontrol ibu yang
anemia sebanyak 17 (30,9%) sedangkan ibu yang tidak anemia sebanyak 38
(69,1%). Hal ini menunjukkan bahwa ibu menjaga kehamilan dengan
mengkonsumsi zat besi dan tablet Fe secara rutin.
Menurut Laporan Rencana Kerja Pembinaan Gizi Masyarakat (RKPGM,
2013), Program penanggulangan anemia gizi pada ibu hamil telah dikembangkan
melalui distribusi Tablet Tambah Darah (TTD). TTD merupakan suplementasi
gizi mikro khususnya zat besi dan folat yang diberikan kepada ibu hamil untuk
69
mencegah kejadian anemia gizi besi selama kehamilan. Pemberian zat besi
sebanyak 30 gram per hari akan mening-katkan kadar hemoglobin sebesar 0,3
gr/dl per minggu atau dalam 10 hari (Sulistyoningsih, 2011).
Hal ini didukung dari teori yang menyatakan ibu hamil dianjurkan
mengkonsumsi zat besi sebanyak 60-100mg/hari. Keanekaragaman konsumsi
makanan berperan penting dalam membantu meningkatkan penyerapan Fe di
dalam tubuh. Kehadiran protein hewani, Vitamin C, Vitamin A, Zn, Asam folat,
Zat gizi mikro lain dapat meningkatkan penyerapan zat besi dalam tubuh.
Maanfaat lain dari mengkonsumsi makanan sumber zat besi adalah terpenuhinya
kecukupan vitamin A, karena makanan sumber zat besi biasanya juga merupakan
sumber Vitamin A (Waryana, 2010)
Berdasarkan pembahasan diatas penelliti menyimpulkan bahwa pentingnya
zat besi untuk ibu hamil supaya ibu hamil tidak terjadi anemi yang menyebabkan
anak stunting.
5.3.3 Hubungan Riwayat Anemia Kehamilan dengan Kejadian Stunting
Pada Balita di Desa Ketandan Dagangan Madiun
Berdasarkan hasil penelitian ini, dengan menggunakan uji analisis Chi
Square menunjukkan hasil uji statistic didapatkan nilai ρ = 0,005 < α = 0,05,
sehingga statistic H0 ditolak H1 diterima, bahwa ada hubungan antara riwayat
anemia kehamilan dengan kejadian stunting di Desa Ketandan Dagangan Madiun
dengan nilai koefisien kontingensi sebesar 322 yang diinterprestasikan dengan
kekuatan hubungan antar variable pada tingkat rendah. Nilai Odds Ratio (Or)
menunjukkan bahwa ibu hamil anemia lebih beresiko 4,471 kali lebih besar
melahirkan bayi dengan panjang badan pendek (stunted) daripada ibu hamil yang
70
tidak anemia. Ibu hamil anemia mempunyai resiko melahirkan bayi dengan
panjang badan pendek (stunted) serendah rendahnya 1,672 dan setinggi tingginya
11,954 dari pada ibu hamil yang tidak anemia.
Hasil dari analisis tesebut dapat dinyatakan bahwa anemia merukapan
faktor risiko terhadap kejadian panjang badan lahir pendek atau hipotesis dapat
diterima. Anemia merupakan kadar hemoglobin dibawah rentang nilai normal,
Rendahnya kadar hemoglobin tidak selalu diikuti dengan berkurangnya masa
eritrosit (Sanyal, 2015). Anemia dapat ditegagkan berdasarkan pemeriksaan
pemeriksaan hematologi yaitu apabila ditemukan penurunan kadar Hb. Secara
fisiologis, kadar hemoglobin dapat bervariasi tergantung pada usia, jenis kelamin,
adanya kehamilan dan tingginya tempat tinggal (Sylvia, 2015). Menurut (Manuba,
2010) Pada wanita dewasa yang jika kadar hemoglobinnya berada di bawah 11
g/dl.
Beberapa tanda dan gejala dari anemia defisiensi zat besi (Fe) adalah
kehilangan nafsu makan, kelelahan, gangguan kapasitas fungsional (penurunan
produksi ATP), sulit berkonsentrasi, sensitifitas terhadap dingin, bernafas cepat
saat melakukan aktifitas. Selain itu, kulit kering dan pucat, rambut mudah rontok,
kuku berbentuk sendok dan rapuh. Tanda lainnya bisa diketahui dengan
memperhatikan sistem kardiovaskular yaitu dispnea eksertional, denyut jantung
cepat, palpitasi, dan mudah pusing. Terjadinya penurunan sistem imun sehingga
mudah terkena infeksi dan rentan terhadap malaria. Sedangkan gejala pada anak-
anak dapat dilihat adanya gangguan pertumbuhan dan gangguan perkembangan
intelektual (Grober, 2012).
71
Ibu hamil yang mengalami anemia gizi besi rentan terhadap kelahiran
prematur dan berat badan bayi lahir kurang. Hal ini karena selama kehamilan
dibutuhkan peningkatan produksi eritrosit yang komposisinya relatif pada
lingkungan hypoxintrauterine dan suplai oksigen ke janin yang dibutuhkan untuk
perkembangan. Zat besi yang adekuat dibutuhkan pada perjalanan melintasi
plasenta untuk memastikan kelahiran sesuai dengan usia kehamilan penuh. Selain
itu, zat besi juga dibutuhkan untuk pertumbuhan postnatal pada peningkatan sel
darah merah dan sebagai unsur pembangun masa tubuh bayi (Ibanez, 2015).
Beberapa penyebab utama stunting diantaranya adalah hambatan
pertumbuhan dalam kandungan, asupan zat gizi yang tidak mencukupi untuk
mendukung pertumbuhan dan perkembangan yang cepat pada masa bayi dan
anak-anak, serta seringnya terkena penyakit infeksi selama awal masa kehidupan
(Istiany, 2013). Kekurangan gizi pada Ibu saat hamil dapat mempengaruhi dan
menghambat pertumbuhan janin, selain juga dapat menyebabkan adanya
gangguan pada fetus, plasenta, dan kesehatan ibu. Beberapa hal ini terutama
terjadi di lingkungan masyarakat miskin di mana tidak cukup ketersediaan
makanan yang bergizi serta pelayanan kesehatan yang tidak memadai untuk Ibu
Hamil (Finawati, 2014).
Hasil penelitian asupan energi yang dikonsumsi lebih sering makan
makanan nasi 50 gram dengan frekuensi 3 kali sehari, ikan goreng 50 gram
dengan frekuensi 3 kali sehari, dan sayur kangkung cah 10-20 gram sehari sekali.
Asupan tersebut belum terpenuhi jika tidak minum susu, seperti penelitian yang
dilakukan oleh Hidayati menunjukkan bahwa kurangnya asupan energi pada anak
72
tersebut dikarenakan kurangnya asupan nasi dan susu. Susu sebenarnya
mengandung energi yang cukup baik, dianjurkan pada anak-anak untuk
mengkonsumsi sedikit namun sering (Hidayati, 2010).
Asupan energi kurang yang terjadi pada anak-anak usia 13-36 bulan di
wilayah kerja Puskesmas Tuminting karena faktor-faktor yang mempengaruhi
pilihan makanan anak yaitu kebiasaan menerima makanan, dan pengaruh dari
orangtua yaitu ketersediaan makanan dan pengetahuan gizi dari orangtua tersebut
(Almatsier, 2011). Asupan energi kurang lebih banyak terjadi pada usia 13-24
bulan, hal itu disebabkan oleh perilaku makan anak tersebut yang susah/rewel
makan, makanan yang dikemut dimulut dan meminta makanan yang sama setiap
makan (Soetardjo, 2011).
Hasil dari penelitian ini adalah upaya yang harus dilakukan tenaga
kesehatan khususnya bidan dalam rangka pencegahan anemia terhadap ibu hamil
adalah dengan meningkatkan konsumsi zat besi yang bersumber dari makanan
seperti sayuran, buah-buahan, kacang-kacangan dan padi-padian, serta pemberian
suplemen zat besi. Untuk meningkatkan penyerapan zat besi di dalam tubuh perlu
di tambah dengan pemberian vitamin C. Dengan kondisi seperti itu, penanganan
ibu hamil harus betul-betul dalam pengawasan kepada pihak kesehatan dan
dianjurkan untuk cek rutin hb saat ibu hamil.
BAB 6
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
Kesimpulan dari hasil penelitian yang dapat diambil adalah sebagai
berikut:
1. Riwayat anemia kehamilan ibu pada kelompok kasus dengan kejadian
stunting pada balita di Desa Ketandan Dagangan Madiun sebanyak 18
(66,7%) responden, dan yang tidak anemia sebanyak 9 (33,3%) responden.
2. Riwayat anemia kehamilan ibu pada kelompok kontrol dengan kejadian
stunting pada balita di Desa Ketandan Dagangan Madiun sebanyak 17
(30,9%) responden dan yang tidak anemia sebanyak 38 (69,1%)
responden.
3. Ada hubungan riwayat anemia kehamilan dengan kejadian stunting pada
balita di Desa Ketandan Dagangan Madiun dengan nilai ρ value 0,005,
Nilai OR sebesar 4,471 maka riwayat anemia kehamilan dapat
mempertinggi resiko kejadian stunting sebesar 4 kali dibandingkan ibu
yang tidak anemia.
73
74
6.2 Saran
Dari hasil penelitian yang penulis lakukan, maka penulis ingin
menyampaikan beberapa saran sebagai berikut :
1. Bagi Tenaga Kesehatan Puskesmas Dagangan Madiun
Bagi Puskesmas Dagangan Kota Madiun untuk lebih mengoptimalkan
program sosialisas terhadap ibu hamil untuk mencegah terjadinya anemia
dan stunting sehingga setiap anggota keluarga memiliki status gizi yang
baik termasuk anak, agar supaya status gizi stunting yang terjadi pada anak
usia 12-60 bulan bisa berubah dan semakin baik pada usia selanjutnya.
2. Bagi Ibu Hamil
Bagi ibu hamil dapat memberikan informasi tentang cara pencegahan
anemia dan stunting.
3. Bagi Mahasiswa STIKES Bhakti Husada Mulia Madiun
Diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan referensi dan
digunakan bagi mahasiswa yang akan melakukan penelitian selanjutnya,
sehingga mahasiswa akan mampu mengetahui mengenai pembelajaran
pemberian riwayat anemia kehamilan dengan kejadian stunting pada
balita.
4. Bagi Peneliti Selanjutnya
Peneliti selanjutnya diharapkan dapat mengembangkan penelitian
serupa dengan pengembangan penelitian lebih lanjut seperti dengan
menggunakan metode kesehatan yang berbeda.
DAFTAR PUSTAKA
ACC/SCN & International Food Policy Research Institute (IFPRI). 2000. “4th
Report on The World Nutrition Situation Throught The Life Cycle”.
Agrawal, S. 2006. Prevalensi dan Faktor Risiko Anemia pada Wanita Usia Subur
di Rumah Tangga Miskin di Kabupaten Tasikmalaya dan Ciamis Provinsi
Jawa Barat, [Link] Penelitian dan Pengembangan Upaya Kesehatan
Masyarakat, Badan
[Link]://[Link]/[Link]/kespro. diakses
pada 16 February 2018 pada pukul 22.01 WIB.
Almatsier, S., Soetardjo S. & Soekatri, M. [Link] Seimbang Dalam Daur
Kehidupan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Almatsier, S., Soetardjo, S.,
Soekarti, M. [Link] Seimbang Dalam Daur Kehidupan. Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama.
Almatsier.2002 dalam Waryana, [Link] Reproduksi. Yogyakarta: Pustaka
Rihana.
Andriana, Dian. 2017. Tumbuh Kembang dan Terapi Bermain pada Anak Edisi 2.
Jakarta: Salemba Medika.
Andriani, M, Wirjatmadi, B. 2012. Peranan Gizi Dalam Siklus Kehidupan.
Jakarta: Kencana.
Anugraheni. 2012. Faktor Resiko Kejadian Stunting pada Anak Usia 12-36 Bulan
di Kecamatan Pati Kabupaten Pati. Artikel Penelitian. Program Studi Ilmu
Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro. Semarang.
BAPPENAS. 2011. Rencana Aksi Nasional Pangan dan Gizi 2011-1013.
[Link]
Black et al. [Link] and child undernutrition: global and regional
exposures and healt consequences.
Cunningham. 2006. Hubungan Kadar Hemoglobin Ibu Hamil Trimester III
Dengan Berat Bayi Lahir di Kota Pariaman, [Link] Kedokteran
Universitas Andalas [Link]://[Link]. Diakses pada 20
February 2018 pada pukul 08.00 WIB.
Departemen Kesehatan RI. Laporan hasil riset kesehatan dasar (RISKESDAS
INDONESIA 2007).Jakarta : Depkes RI; 2008.
75
76
Depkes RI, 1995 dalam Waryana, 2010. Gizi Reproduksi. Yogyakarta: Pustaka
Rihana.
, 1996 dalam Waryana, 2010. Gizi Reproduksi. Yogyakarta: Pustaka
Rihana.
, 2008 dalam Waryana, 2010. Gizi Reproduksi. Yogyakarta: Pustaka
Rihana.
Dinas Kesehatan Kabupaten Madiun 2016. Data Anak Stunting di Madiun.
Madiun: Dinas Kesehatan Madiun.
Direktorat Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak, 2012. Keputusan Mentri
Kesehatan. Jakarta: Kementrian Kesehatan RI; 2012.
Fuady M, Bangun D. [Link] Pengetahuan Ibu Hamil tentang Anemia
Defisiensi Besi terhadap Kepatuhan Mengkonsumsi Tablet Zat Besi,
[Link] Studi DIII
[Link]://[Link]/[Link]/ejurnalfk/article/viewFile/1425/
[Link] pada 29 Januari 2018 pada pukul 21.00 WIB.
Hadi, H., Julia, M., & Herman, S. [Link] Vitamin A dan Zinc Sebagai
Faktor Risiko Terjadinya Stunting pada Balita di Nusa Tenggara Barat,
Media Penelitian dan Pengenbangan Kesehatan.
Hidayati et al. 2005. Kekurangan Energi dan Zat Gizi Merupakan Kejadain
Stunted pada Anak Usia 1-3 Tahun yang Tinggal di Wilayah Perkotaan
Surakarta, Jurnal.
Hidayati, L. 2010. Kekurangan Energi dan Zat Gizi Merupakan Faktor Risiko
Kejadian Stunted pada Anak Usia 1-3 tahun yang Tinggal di Wilayah
Kumuh Perkotaan Suakarta. Jurnal Kesehatan [Internet], 3 (2) pp, 89-104.
Available from: [Link]
tream/handle/123456789/2315/10.%20LI STYANI%[Link]?sequence=1>
.[Accessed 1 Mei 2014].
Husaini.1989 dalam Waryana, [Link] Reproduksi. Yogyakarta: Pustaka
Rihana.
Jalal, F. 2017. Penanggulangan Stunting dan Peningkatan Mutu Pendidikan
Sebagai Contoh Upaya Pencapaian Tujuan SDGs.
Jalal, Fadli. 2017. Penanggulangan Stunting dan Peningkatan Mutu Pendidikan
Sebagai Contoh Upaya Upaya Pencapaian SDGs.
[Link] diakses pada 22 Desember pada pukul 13.00
WIB.
77
Kartikawati. 2011. Faktor yang Mempengaruhi Kejadian Stunted Growth pada
Anak Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Arjasari Kabupaten Jember.
Kaur, 2014. Prevalensi dan Faktor Risiko Anemia pada Wanita Usia Subur di
Rumah Tangga Miskin di Kabupaten Tasikmalaya dan Ciamis Provinsi
Jawa Barat, [Link] Penelitian dan Pengembangan Upaya Kesehatan
Masyarakat, Badan Litbangkes
[Link] pada 16
February 2018 pada pukul 22.01 WIB.
Kemenkes RI. Profil Kesehatan Indonesia tahun 2013. Jakarta: Kemenkes RI;
2014.
Kusharisupeni. (2002). Peran status kelahiran terhadap stunting pada bayi: Sebuah
studi prospektif. Jurnal Kedokteran Trisakti, 23(3), 73-80. Diakses dari
[Link] wp-content/uploads/2011/[Link].
Kusharisupeni. 2008. Peran Status Kelahiran terhadap Stunting pada Bayi, Jurnal.
Kedokteran Triskti.
Mahayu, Puri. 2016. Buku Lengkap Perawatan Bayi & Balita. Yogyakarta: Saufa.
Maryunani,A. 2010. Ilmu Kesehatan Anak Dalam Kebidanan. Jakarta: Trans Info
Media.
Meilyasari, F. & Isnawati, M. (2014). Faktor risiko kejadian stunting pada balita
usia 12 bulan di Desa Purwokerto Kecamatan Patebon, Kabupaten Kendal.
Journal of Nutrition College, 3(2), 16-25. Diakses dari [Link]
[Link].
Moegni, E, M., Ocviyanti, D. [Link] Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di
Fasilitas Kesehatan Dasar dan [Link].
Notoatmodjo, S. [Link] Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Nursalam. 2013. Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta: Salemba
medika.
Proverawati. 2013. Kejadian Anemia pada Ibu Hamil Ditinjau dari Paritas dan
Usia. [Link] Studi DIII Kebidanan STIKES Al-Ma’arif
[Link]://[Link]/index/php/jika/ diakses pada 12
February 2018 pada pukul 16.00 WIB.
Ridwan, 1997 dalam Waryana, [Link] Reproduksi. Yogyakarta: Pustaka
Rihana.
78
Riset Kesehatan Dasar (RISKESDES). 2013. Badan Penelitian dan
Pengembangan Kesehatan Kementrian RI tahun 2013.
Ruchayati, F. 2012. Hubungan Kadar Hemoglobin dan Lingkar LENGAN Atas
Ibu Hamil Trimester III dengan Panjang Bayi Lahir di Puskesmas
Halmahera Kota Semarang, Jurnal Kesehatan Masyarakat.
Rudert, C. 2014. Malnutrition In Asia. Vientiane: UNICEF East Pasific.
Saryono, Mekar. 2013. Metodologi Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: Nuha
Medika.
Sihadi, Djamin. 2011. Faktor Risiko Untuk Mencegah Stunted berdasarkan
Perubahan Status Panjang/ Tinggi Badan Anak Usia 6-11 Bulan ke Usia 3-4
Tahun. Bulletin Penelitian Kesehatan.
Soekirman et al. [Link] Gizi dan Aplikasinya. Jakarta: PT Gramedia Pustaka
Utama.
Soetjiningsih. 2012. Tumbuh Kembang Anak Edisi [Link]: Buku Kedokteran
EGC.
Sugiyono, 2013. Metode Penelitian Kualitatif Kuantitatif. Jakarta: Alfabeta.
Sujarweni. 2015. SPSS Untuk Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Baru Press.
Taguri, A,E. et al. 2008. Risk Faktor for Stunting Among Under Fives in Libya.
Public Health Nutrition.
UNDP. 2016. Indeks Pembangunan Manusia Indonesia Meningkat tapi
Kesenjangan Masih Tetap Ada.
[Link]/content/indonesia/id/home/pressreleases/2017/03/22/indo
[Link].
diakses pada 29 Desember pada jam 13.00 WIB.
UNICEF. 2014. Ringkasan Kajian Gizi. Jakarta: Pusat Promosi Kesehatan
Kementrian Kesehatan.
Waryana. 2010. Gizi Reproduksi. Yogyakarta: Pustaka Rihana.
WHO. 2013. Prevalensi, Faktor Risiko, dan Dampak Stunting pada Anak Usia
Sekolah, Jurnal. Fakultas Teknologi dan Industri Pangan, Universitas
Slamet Riyadi,
[Link]://[Link]/nutgrowthdb/about/introduction/en/[Link]
ml. diakses pada 01 Januri pada jam 13.03 WIB.
79
Williamson, C, S. 2006. Nutrition in [Link] Bulletin.
Winkjosastro. 2009. Ilmu Kebidanan Edisi Ke 4 Cetakan ke -2. Jakarta:
YAYASAN Bina Pustaka.
Wirakusumah, 1998 dalam Waryana, [Link] Reproduksi. Yogyakarta: Pustaka
Rihana.
Wulandari R Ayu. 2016. Hubungan Antara Kadar Hemoglobin Ibu dengan Status
Gizi. Jurnal. Fakultas Kedokteran Universitas Surakarta.
Yongki, Hardinsyah. 2009. Status Gizi Awal Kehamilan dan Pertumbuhan Berat
Badan Ibu Hamil Kaitanya Dengan BBLR. Jurnal Gizi dan Pangan.
80
Lampiran 1
Lembar Izin Pengambilan Data Awal
81
Lampiran 2
Surat Izin Penelitian
82
Lampiran 3
Surat Keterangan Penelitian
83
Lampiran 4
LEMBAR PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN
Kepada
Yth. Calon Responden
Di Tempat
Dengan hormat,
Saya yang bertanda tangan di bawah ini adalah mahasiswa Progam Studi
Ilmu Keperawatan STIKES Bhakti Husada Mulia Madiun,
Nama : Dhiyah Ayu Romadhoni
NIM : 201402009
Bermaksud melakukan penelitian tentang berjudul “Hubungan Riwayat
Anemia Kehamilan Dengan Kejadian Stunting Pada Balita di Desa Ketandan
Dagangan Madiun”. Sehubungan dengan ini, saya mohon kesediaan saudara untuk
bersedia menjadi responden dalam penelitian yang akan saya lakukan.
Kerahasiaan data pribadi saudara akan sangat kami jaga dan informasi yang akan
saya gunakan untuk kepentingan penelitian.
Demikian permohonan saya, atas perhatian dan kesediaan saudara saya
ucapkan terima kasih.
Madiun, Mei 2018
Peneliti,
Dhiyah Ayu Romadhoni
NIM 201402009
84
Lampiran 5
PERNYATAAN MENJADI RESPONDEN
(informed consent)
Dengan menandatangani lembar ini, saya:
Nama :
Usia :
Alamat :
Memberikan persetujuan untuk menjadi responden dalam penelitian yang
berjudul “Riwayat Anemia Kehamilan dengan Kejadian StuntingPada Balita di
Desa Ketandan Dagangan Madiun”.
Saya telah dijelaskan bahwa anemia bisa menyebabkan anak menjadi stunting
dan dilakukannya pengukuran tinggi badan dan melihat buku KMS untuk
keperluan penelitian dan saya secara suka rela bersedia menjadi responden
penelitian ini.
Madiun, Mei 2018
Yang Menyatakan,
( )
85
Lampiran 6
SOP (STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR)
MENGUKUR TINGGI BADAN BALITA
Pengertian Cara untuk mengetahui tinggi badan
Tujuan 1. Mengetahui pertuumbuhan balita.
2. Sebagai pedoman petugas dalam mengukur tinggi badan yang
benar.
Prosedur I. Persiapan alat :
1. Mikrota (microtoise).
II. Persiapan klien
1. Menjelaskan secara singkat tentang pengukuran tinggi
badan kepada orang tua.
2. Lepas sepatu atau sendal
III. Pelaksanaan
1. Tempelkan mikrotoa dengan paku pada dinding yang lurus
dan datar setinggi tept 2 meter. Angka 0 (nol) pada lantai
yang datar rata.
2. Anak harus berdiri tegak seperti siap sempurna dalam baris
berbaris, kaki lurus, tumit, pantar, punggung, dan kepala
bagian belakang harus menempel pada dinding dan muka
menghadap lurus dengan pandangan ke depan.
3. Turunkan mikrotoa sampai rapat pada kepala bagian atas,
siku-siku harus lurus menempel pada dinding.
4. Baca angka pada skala yang tampak pada lubang dalam
gulungan mikrotoa. Angka tersebut menunjukkan tinggi
anak yang diukur.
86
Lampiran 7
LEMBAR OBSERVASI
ANEMIA KEHAMILAN PADA IBU
Nama Jenis Anemia Tidak Anemia
No Umur
Responden Kelamin <11 gr% 11 gr%
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
87
LEMBAR OBSERVASI
STUNTING PADA BALITA
Tidak
Nama Jenis Stunting<-
No Umur BB TB Stunting>-
Responden Kelamin 2 SD
2 SD
88
Lampiran 8
TABULASI DATA RESPONDEN
Kelompok Kasus
Nama Umur Nama Jenis
No Umur Hb Anemia BB TB Stunting
Ibu Ibu Anak Kelamin
1 Ny.E 37 An.G 1 43 9.5 0 10.5 89.1 0
2 Ny.I 38 An.A 1 20 10 0 9.2 75.9 0
3 Ny.K 37 An.A 2 13 12.5 1 4.8 70.1 0
4 Ny.T 36 An.Z 1 34 10.6 0 11.4 88.8 0
5 Ny.L 37 An.Z 2 16 10 0 9.9 72.2 0
6 Ny.V 35 An.N 2 19 11.5 1 9.3 75.2 0
7 Ny.L 36 An.M 1 22 10.1 0 11.4 78.1 0
8 Ny.N 35 An.K 2 27 9.5 0 10.2 80 0
9 Ny.S 39 An.S 2 34 9.5 0 12.8 86 0
10 [Link] 38 An.M 1 48 12.1 1 19.1 94.2 0
11 Ny.H 35 An.D 2 20 8.9 0 8.7 75.6 0
12 [Link] 38 An.K 2 35 9.6 0 12.1 86.2 0
13 Ny.M 37 An.M 2 44 11.5 1 13.7 91.1 0
14 [Link] 35 An.R 2 35 8.5 0 14.6 83.8 0
15 Ny.K 40 An.F 1 36 10.8 0 13.4 85.3 0
16 [Link] 32 An.N 2 19 12.5 1 9.3 75.2 0
17 Ny.K 35 An.G 1 49 8.5 0 13.3 95.1 0
18 Ny.S 29 An.R 1 31 9.8 0 11.5 83.2 0
19 Ny.A 28 An.N 1 36 12.3 1 10.2 70.6 0
20 Ny.S 38 An.K 1 29 8.2 0 12.3 75.5 0
21 Ny.N 30 An.E 2 16 12.9 1 10.2 70.2 0
22 Ny.S 29 An.D 1 24 10.5 0 9.2 70.7 0
23 Ny.S 28 An.D 1 34 9.3 0 11.3 86.2 0
24 Ny.H 38 An.A 2 33 10.5 0 12.7 91.2 0
25 Ny.D 28 An.D 1 33 12.7 1 11.4 84.2 0
26 Ny.A 34 An.C 2 45 8.7 0 13.6 88.4 0
27 Ny.S 35 An.A 2 45 12 1 12.2 90.1 0
89
Kelompok Kontrol
Nama Umur Nama Jenis
No Umur Hb Anemia BB TB Stunting
Ibu Anak
Ibu Kelamin
1 Ny.U 37 An.R 1 33 11.2 1 13.7 89.1 1
2 Ny.S 37 An.S 2 17 12.5 1 6.8 74.2 1
3 [Link] 35 An.E 2 27 13.5 1 13.2 88 1
4 Ny.D 37 An.D 1 22 10.4 0 13 83 1
5 Ny.J 36 An.I 1 22 9.8 0 12.8 82 1
6 Ny.P 39 An.A 2 41 14.2 1 12.3 92.2 1
7 Ny.N 37 An.G 1 37 9 0 16 92 1
8 Ny.B 36 An.N 2 30 15 1 11.5 96.2 1
9 Ny.K 38 An.S 2 23 10.3 0 10.5 80.2 1
10 Ny.Y 39 An.Z 1 36 11.1 1 14.3 96.1 1
11 Ny.Z 35 An.N 2 28 11.1 1 11.5 93.2 1
12 [Link] 38 An.K 1 24 12.8 1 10.6 80.2 1
13 [Link] 39 An.H 1 31 7.5 0 14.4 92.1 1
14 [Link] 38 An.B 1 35 12 1 16.8 99.1 1
15 [Link] 34 An.N 1 38 9.2 0 13.3 91.1 1
16 Ny.T 35 An.F 1 21 12.1 1 12.7 81.1 1
17 Ny.A 30 An.A 1 18 11.8 1 10.8 77.2 1
18 Ny.K 36 An.B 1 17 8.5 0 8.5 77.1 1
19 Ny.B 38 An.Y 1 36 12.1 1 15.3 94.1 1
20 Ny.P 35 An.A 1 26 11.4 1 9.5 83.2 1
21 Ny.R 34 An.M 2 46 10.3 0 17.5 97.1 1
22 Ny.T 37 An.Z 2 38 11.5 1 12.7 96.3 1
23 Ny.N 40 An.R 2 37 13.1 1 14.1 93.1 1
24 NyM 38 [Link] 2 31 9.6 0 10.1 87.2 1
25 Ny.H 33 [Link] 2 29 12.8 1 11.2 92.1 1
26 Ny.P 38 An.K 2 41 13.2 1 13.5 90.6 1
27 Ny.W 29 An.N 2 39 12.4 1 14.2 90.6 1
28 Ny.S 29 An.A 2 24 13.5 1 10.4 82 1
29 Ny.W 30 An.H 1 20 12 1 11.8 84 1
30 Ny.V 28 An.R 1 36 9.5 0 14.3 94 1
31 Ny.M 25 An.A 1 19 8.3 0 12 81 1
32 Ny.L 31 An.G 1 37 14 1 15.5 101 1
33 Ny.P 39 An.I 2 34 13.2 1 14.8 94 1
34 Ny.S 38 An.N 2 17 12.7 1 10.2 75 1
35 Ny.A 41 An.A 1 20 13.5 1 10.4 75 1
36 Ny.D 22 An.R 1 15 14 1 10.7 81 1
37 Ny.S 40 An.J 2 49 10.3 0 14.1 95 1
90
Nama Umur Nama Jenis
No Umur Hb Anemia BB TB Stunting
Ibu Anak
Ibu Kelamin
38 Ny.A 39 An.A 2 33 11 0 14.8 91.5 1
39 Ny.A 39 An.A 2 33 11 0 14.7 91.5 1
40 Ny.W 35 An.F 2 22 14.5 1 14.2 86 1
41 Ny.Y 33 An.A 1 26 14.8 1 11.2 91 1
42 Ny.A 26 An.A 2 12 13 1 8.5 70.4 1
43 Ny.I 30 An.G 1 26 15 1 12 91 1
44 Ny.S 35 An.Q 2 33 13.8 1 13.1 87 1
45 Ny.L 37 An.A 2 34 12.7 1 10.3 87 1
46 Ny.H 40 An.S 2 30 11.2 0 13 98 1
47 Ny.L 36 An.F 1 32 14.9 1 16.3 86 1
48 Ny.Y 35 An.H 2 29 14.3 1 13.4 87.5 1
49 NY.R 37 An.A 1 40 13.5 1 14 94 1
50 Ny.A 25 An.B 1 22 13.7 1 13.2 92 1
51 Ny.S 31 An.A 2 29 12 1 11.2 90 1
52 Ny.S 34 An.V 2 48 9.5 0 15.2 96 1
53 Ny.H 35 An.P 1 34 13.3 1 11.3 90.1 1
54 Ny.K 39 An.D 1 25 14.3 1 15.9 94.5 1
55 Ny.S 40 An.N 2 48 8.6 0 13.7 85.1 1
91
Lampiran 9
DISTRIBUSI FREKUENSI RESPONDEN
Kelompok Kasus
Descriptives
Statistic Std. Error
umur_ibu Mean 34.70 .712
95% Confidence Interval for Lower Bound 33.24
Mean
Upper Bound 36.17
5% Trimmed Mean 34.80
Median 35.00
Variance 13.678
Std. Deviation 3.698
Minimum 28
Maximum 40
Range 12
Interquartile Range 6
Skewness -.771 .448
Kurtosis -.646 .872
Descriptives
Statistic Std. Error
umur balita Mean 31.11 2.029
95% Confidence Interval for Lower Bound 26.94
Mean
Upper Bound 35.28
5% Trimmed Mean 31.09
Median 33.00
Variance 111.103
Std. Deviation 10.541
Minimum 13
Maximum 49
Range 36
Interquartile Range 16
Skewness -.006 .448
Kurtosis -1.014 .872
92
jenis kelamin
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid 1 13 48.1 48.1 48.1
2 14 51.9 51.9 100.0
Total 27 100.0 100.0
Descriptives
Statistic Std. Error
tinggi badan anak Mean 81.9333 1.52348
95% Confidence Interval Lower Bound 78.8018
for Mean Upper Bound 85.0649
5% Trimmed Mean 81.8708
Median 83.8000
Variance 62.667
Std. Deviation 7.91624
Minimum 70.10
Maximum 95.10
Range 25.00
Interquartile Range 13.60
Skewness -.084 .448
Kurtosis -1.304 .872
Descriptives
Statistic Std. Error
berat badan anak Mean 11.4185 .49152
95% Confidence Interval Lower Bound 10.4082
for Mean
Upper Bound 12.4289
5% Trimmed Mean 11.3681
Median 11.4000
Variance 6.523
Std. Deviation 2.55404
Minimum 4.80
Maximum 19.10
Range 14.30
Interquartile Range 2.90
Skewness .418 .448
Kurtosis 3.162 .872
93
Kelompok Kontrol
Case Processing Summary
Cases
Valid Missing Total
N Percent N Percent N Percent
umur_ibu 55 100.0% 0 .0% 55 100.0%
Descriptives
Statistic Std. Error
umur_ibu Mean 35.04 .589
95% Confidence Interval for Lower Bound 33.85
Mean
Upper Bound 36.22
5% Trimmed Mean 35.36
Median 36.00
Variance 19.110
Std. Deviation 4.371
Minimum 22
Maximum 41
Range 19
Interquartile Range 5
Skewness -1.132 .322
Kurtosis .765 .634
94
Descriptives
Statistic Std. Error
umur balita Mean 30.00 1.197
95% Confidence Interval for Lower Bound 27.60
Mean
Upper Bound 32.40
5% Trimmed Mean 29.84
Median 30.00
Variance 78.778
Std. Deviation 8.876
Minimum 12
Maximum 49
Range 37
Interquartile Range 14
Skewness .148 .322
Kurtosis -.510 .634
jenis kelamin
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid 1 27 49.1 49.1 49.1
2 28 50.9 50.9 100.0
Total 55 100.0 100.0
95
Descriptives
Statistic Std. Error
berat badan anak Mean 12.7455 .30153
95% Confidence Interval for Lower Bound 12.1409
Mean
Upper Bound 13.3500
5% Trimmed Mean 12.7838
Median 13.0000
Variance 5.001
Std. Deviation 2.23622
Minimum 6.80
Maximum 17.50
Range 10.70
Interquartile Range 3.10
Skewness -.240 .322
Kurtosis -.127 .634
Descriptives
Statistic Std. Error
tinggi badan anak Mean 88.3455 .94966
95% Confidence Interval for Lower Bound 86.4415
Mean
Upper Bound 90.2494
5% Trimmed Mean 88.5768
Median 90.6000
Variance 49.602
Std. Deviation 7.04285
Minimum 70.40
Maximum 101.00
Range 30.60
Interquartile Range 11.00
Skewness -.590 .322
96
Descriptives
Statistic Std. Error
tinggi badan anak Mean 88.3455 .94966
95% Confidence Interval for Lower Bound 86.4415
Mean
Upper Bound 90.2494
5% Trimmed Mean 88.5768
Median 90.6000
Variance 49.602
Std. Deviation 7.04285
Minimum 70.40
Maximum 101.00
Range 30.60
Interquartile Range 11.00
Skewness -.590 .322
Kurtosis -.316 .634
Anemi
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid anemia 17 30.9 30.9 30.9
tidak anemia 38 69.1 69.1 100.0
Total 55 100.0 100.0
97
Lampiran 10
Hasil Uji Chi Square
Case Processing Summary
Cases
Valid Missing Total
N Percent N Percent N Percent
anemia * status pertumbuhsn 82 100.0% 0 .0% 82 100.0%
anemia * status pertumbuhsn Crosstabulation
status pertumbuhsn
Stunting Tidak Stunting Total
anemia anemia Count 18 17 35
% within status pertumbuhsn 66.7% 30.9% 42.7%
tidak anemia Count 9 38 47
% within status pertumbuhsn 33.3% 69.1% 57.3%
Total Count 27 55 82
% within status pertumbuhsn 100.0% 100.0% 100.0%
Chi-Square Tests
Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-
Value df sided) sided) sided)
Pearson Chi-Square 9.465a 1 .002
Continuity Correctionb 8.060 1 .005
Likelihood Ratio 9.521 1 .002
Fisher's Exact Test .004 .002
Linear-by-Linear Association 9.349 1 .002
N of Valid Casesb 82
a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 11.52.
b. Computed only for a 2x2 table
98
Symmetric Measures
Value Approx. Sig.
Nominal by Nominal Contingency Coefficient .322 .002
N of Valid Cases 82
Risk Estimate
95% Confidence Interval
Value Lower Upper
Odds Ratio for anemia
4.471 1.672 11.954
(anemia / tidak anemia)
For cohort status
2.686 1.374 5.248
pertumbuhsn = Stunting
For cohort status
pertumbuhsn = Tidak .601 .416 .868
Stunting
N of Valid Cases 82
99
Lampiran 11
DOKUMENTASI PENELITIAN
100
Lampiran 12
JADWAL PENYUSUNAN SKRIPSI
Bulan
No Kegiatan
Desember Januari Februari Maret April Mei Juni Juli
1. Pengajuan dan konsul judul
2. Penyusunan proposal
3. Bimbingan Proposal
4. Ujian proposal
5. Revisi proposal
6. Pengambilan data (Penelitian)
7. Penyusunan dan bimbingan skipsi
8. Ujian skripsi
101
Lampiran 13
102