0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
265 tayangan123 halaman

Hubungan Anemia Kehamilan dan Stunting

Tiga kalimat ringkasan dokumen tersebut adalah: Dokumen tersebut meneliti hubungan antara riwayat anemia kehamilan dengan stunting pada balita di Desa Ketandan Dagangan Madiun menggunakan pendekatan studi kasus kontrol dan menemukan hubungan yang signifikan antara riwayat anemia kehamilan dengan stunting pada balita.

Diunggah oleh

ongkydyah anggraini
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
265 tayangan123 halaman

Hubungan Anemia Kehamilan dan Stunting

Tiga kalimat ringkasan dokumen tersebut adalah: Dokumen tersebut meneliti hubungan antara riwayat anemia kehamilan dengan stunting pada balita di Desa Ketandan Dagangan Madiun menggunakan pendekatan studi kasus kontrol dan menemukan hubungan yang signifikan antara riwayat anemia kehamilan dengan stunting pada balita.

Diunggah oleh

ongkydyah anggraini
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

S K RI PS I

HUBUNGAN RIWAYAT ANEMIA KEHAMILAN DENGAN


KEJADIAN STUNTING PADA BALITA
DI DESA KETANDAN DAGANGAN
MADIUN

Oleh :
DHIYAH AYU ROMADHONI
NIM : 201402009

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BHAKTI HUSADA MULIA
MADIUN
2018
S K RI PS I

HUBUNGAN RIWAYAT ANEMIA KEHAMILAN DENGAN


KEJADIAN STUNTING PADA BALITA
DI DESA KETANDAN DAGANGAN
MADIUN

Diajukan untuk memenuhi


Salah satu persyaratan dalam mencapai gelar
Sarjana Keperawatan ([Link])

Oleh :
DHIYAH AYU ROMADHONI
NIM : 201402009

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BHAKTI HUSADA MULIA
MADIUN
2018

ii
iii
iv
v
DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Dhiyah Ayu Romadhoni

Tempat, Tanggal Lahir : Madiun, 04 Februari 1996

Jenis Kelamin : Perempuan

Agama : Islam

Alamat : [Link] RT/RW 09/02 [Link] [Link]

Email : ayudhiyah0@[Link]

Riwayat Pendidikan :

1. Sekolah Dasar Negri Tapelan Tahun 2002-2008

2. Madrasah Tsanawiyah Darul Huda Ponorogo Tahun 2008-2011

3. Madrasah Aliyah Darul Huda Ponorogo Tahun 2011-2014

4. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Bhakti Husada Mulia Madiun Tahun 2014-

sekarang

vi
LEMBAR PERSEMBAHAN

Al-hamdu lillahi robbil alamin


Sujud syukurku ku persembahkan kepadamu Tuhanku yang Maha Agung dan
Maha Tinggi atas takdirMu telah Kau jadikan aku manusia yang senantiasa
berpikir, berilmu, beriman dan bersabar. Semoga ini menjadi satu langkah awal
untuk meraih cita-citaku. Kupersembahkan sebuah karya kecil ini untuk :
1. Ayahanda dan Ibunda tercinta yang selalu memberikan doa, semangat,
nasehat dan kasih sayang serta pengorbanan yang tak terkira sehingga aku
selalu kuat dalam menjalani segala rintangan. Kalian ikhlas demi hidupku
mengorbankan perasaan tanpa kenal lelah, dalam lapar berjuang separuh
nyawa hingga segalanya. Terima kasih telah Kau lahirkan aku dari rahim
seorang perempuan yang begitu penyayang dan tangguh serta seorang laki-
laki yang begitu ikhlas menjagaku.
2. Bapak dan Ibu dosen pembimbing serta penguji ;
- Ibu Dian Anisia, [Link]., Ners., [Link] selaku Pembimbing I
- Bapak Muhidin, [Link]., Ners., [Link] selaku Pembimbing II
Terima kasih telah sabar dalam memberikan bimbingan, nasehat dukungan,
mendengarkan keluh kesah kesulitan saya, menuntun, mengarahkan saya agar
menjadi lebih baik hingga terseleseikan sebuah karya kecil ini. Terima kasih
dosen pengajar telah ikhlas memberikan pelajaran, dan pengetahuan tak
ternilai harganya.
3. Bude, Pakde, Nenek dan Kakek yang tersayang terimakasih telah merawat
dan mendidikku dari kecil hingga aku besar dan terimakasih telah
mengajariku sopan santun, berbicara baik dan bersikap baik dan lain
sebagainya. Terimakasih untuk kakak ku Rizkika dan Mas Wawan yang telah
tulus ikhlas memberikan doa nya untukku, semangat dan dukunganya.
4. Sahabat dan Teman tersayang, terkhusus untuk kelas 8A Keperawatan terima
kasih untuk semangat, dukungan dan bantuan yang kalian berikan,

vii
canda,tawa tangis dan perjuangan yang selama ini kita lewati bersama,
kenangan manis yang telah terukir.
5. Terima kasih untuk sahabat terbaikku Iin Ebtasari, yang selama ini telah
memberikan semangat, dukungan, doa dan segalanya yang terbaik. Terima
kasih untuk kesiapan waktunya yang selalu siap diajak kesana kemari, terima
kasih bisa menjadi partner berjuang selama 4 tahun, dan partner dari segala
partner suka maupun duka.
6. Terima kasih teman-teman tersolid, terkece, terbaik, dan tersegalanya,
terimakasih banyak Anita, Desi, Fitrotin, Vrisca, Reni, Titis, Shielda love you
more gaes.
Terimakasih semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

Madiun, Agustus 2018


By Dhiyah

viii
Program Studi Keperawatan STIKES Bhakti Husada Mulia Madiun 2018

ABSTRAK

Dhiyah Ayu Romadhoni

HUBUNGAN RIWAYAT ANEMIA KEHAMILAN DENGAN KEJADIAN


STUNTING PADA BALITA DI DESA KETANDAN DAGANGAN MADIUN

102 halaman + 14 tabel + 3 gambar + 13 lampiran

Anemia kehamilan merupakan masalah kesehatan masyarakat yang sangat


besar di dunia terutama bagi wanita usia reproduksi (WUS). Anemia kehamilan
sangat berisiko terhadap bayi yang akan dilahirkan dan akan menyebabkan
stunting pada balita. Hal ini dikarenakan asupan gizi yang didapatkan tidak
mencukupi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan riwayat anemia
kehamilan dengan kejadian stunting pada balita di Desa Ketandan Dagangan
Madiun.
Desain penelitian yang digunakan adalah analitik dengan pendekatan case
control study. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh balita di Desa
Ketandan Dagangan Madiun sebanyak 287 balita. Teknik pengambilan sampel
yang digunakan simple random sampling, dengan jumlah sampel sejumlah 82
balita, dengan 27 balita kasus dan 55 balita kontrol. Pengumpulan data
menggunakan lembar observasi. Analisa data menggunakan uji Chi Square
dengan α= 0,05.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa proporsi riwayat anemia kehamilan
pada kelompok kasus adalah 18 (66,7%) dan yang tidak menderita anemia adalah
9 (33%), Sedangkan nilai proporsi riwayat anemia kehamilan pada kelompok
kontrol adalah 17 (30,9%) dan yang tidak menderita anemia adalah 38 (69,1%).
Analisis Uji statistic dengan menggunakan uji chi square (ρ value= 0,005 <
0,05) dan OR 4,471 yang menunjukkan ada hubungan yang signifikan riwayat
anemia kehamilan dengan kejadian stunting pada balita di Desa Ketandan
Dagangan Madiun.
Ibu hamil yang menderita anemia memiliki resiko 4 kali terjadinya anak
mengalami stunting dibandingkan dengan ibu yang tidak anemia. Menurut
pembahasan diatas bahwa anemia masih sangat tinggi. Saran untuk ibu hamil di
Desa Ketandan Dagangan Maadiun supaya mengkonsumsi tablet Fe saat hamil
untuk mencegah terjadinya anemia dan stunting pada balita.

Kata Kuci: Anemia, Stunting, Balita

ix
Nursing Program STIKES Bhakti Husada Mulia Madiun 2018

ABSTRACT

Dhiyah Ayu Romadhoni

CORRELATION OF PREGNANCY ANEMIA STORY WITH EVENT


OF STUNTING IN TODDLER IN THE KETANDAN VILLAGE
DAGANGAN MADIUN

102 Pages + 14 tables + 3 pictures + 13 appendix

Pregnancy anemia is a very big public health problem in the world


especially for women of reproductive age (WUS). Pregnancy anemia is very risky
for the baby to be born and will cause stunting in infants. This is because the
intake of nutrients obtained is not sufficient. The purpose of this study was to
determine the association of history of pregnancy anemia with stunting incident in
infants in Desa Ketandan Dagangan Madiun.
The research design used was analytical with case control study approach.
The population in this research is all children under five in Desa Ketandan
Dagangan Madiun as many as 287 children under five years old. The sampling
technique used simple random sampling, with the number of samples of 54 balit,
with 27 infant cases and 27 controlled toddlers. Data collection using observation
sheets. Data analysis using Chi Square test with α = 0,05.
The results of this study indicate that the proportion of pregnancy episode
anemia was 18 (66,7%) and non anemic was 9 (33%), whereas the proportion of
pregnancy control anemia was 9 (33,3%) and who did not have anemia is 18
(66,7%).
The statistic test using chi square test (ρ value = 0,029 <0,05) and OR
4,000 indicated that there was a significant correlation between the history of
pregnancy anemia and stunting incidence in under-five children in Desa
Ketandan Dagangan Madiun.
Pregnant women with anemia are at four times more likely to have stunting
compared with non-anemic mothers. According to the above discussion anemia is
very long. Suggestion for pregnant women in Ketandan Dagangan Madiun
Village to consume Fe tablet during pregnancy to prevent the occurrence of
anemia and stunting.

Key Words: Anemia, Stunting, Toddler

x
DAFTAR ISI

Sampul Depan ................................................................................................... i


Sampul Dalam .................................................................................................... ii
Lembar Persetujuan ............................................................................................ iii
Lembar Pengesahan ........................................................................................... iv
Persembahan ...................................................................................................... v
Lembar Pernyataan ............................................................................................. vii
Daftar Riwayat Hidup ......................................................................................... viii
Abstrak ................................................................................................................ ix
Abstract ............................................................................................................... x
Daftar Isi ............................................................................................................. xi
Daftar Tabel ....................................................................................................... xiv
Daftar Gambar .................................................................................................... xv
Daftar Lampiran ................................................................................................. xvi
Daftar Istilah ....................................................................................................... xvii
Daftar Singkatan .................................................................................................xviii
Kata Pengantar ................................................................................................... xix
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ......................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah .................................................................... 5
1.3 Tujuan Penelitian ..................................................................... 5
1.3.1 Tujuan Umum .............................................................. 5
1.3.2 Tujuan Khusus .............................................................. 5
1.4 Manfaat Penelitian ................................................................... 6
1.4.1 Manfaat Teoritis ........................................................... 6
1.4.2 Manfaat Praktis ............................................................ 6
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Anemia pada Ibu Hamil .............................................. 7
2.1.1 Pengertian Anemia ....................................................... 7
2.1.2 Pengertian Anemia Pada Ibu Hamil ............................. 7
2.1.3 Etiologi dan Klasifikasi Anemia pada Ibu Hamil ........ 7
2.1.4 Diagnosis Anemia pada Ibu Hamil ............................... 9
2.1.5 Kebutuhan Fe pada Ibu Hamil ...................................... 9
2.1.6 Tanda Dan Gejala Anemia pada Ibu Hamil .................. 13
2.1.7 Faktor yang Mempengaruhi Anemia Pada Ibu Hamil .. 14
2.1.8 Pencegahan Anemia pada Ibu Haamil .......................... 15
2.1.9 Dampak Anemia pada Ibu Hamil .................................. 15
2.2 Konsep Stunting ....................................................................... 16
2.2.1 Pengertian Stunting Pada Balita ................................... 16
2.2.2 Faktor Penyebab Stunting Pada Balita ......................... 17
2.2.3 Dampak Stunting Pada Balita ....................................... 22
2.2.4 Penanganan Stunting Pada Balita ................................. 22
2.2.5 Pengukuran Stunting .................................................... 23

xi
2.3 Konsep Pertumbuhan dan Perkembangan ................................ 27
2.3.1 Pengertian Pertumbuhan dan Perkembangan ............... 27
2.3.2 Faktor-faktor yang Mempegaruhi Tumbuh Kembang .. 28
2.3.3 Ciri-ciri Tumbuh Kembang Balita ............................... 35
2.4 Konsep Balita ............................................................................ 36
2.4.1 Pengertian Balita ........................................................... 36
2.4.2 Perkembangan dan Pertumbuhan Balita ....................... 36
BAB 3 KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS
3.1 Kerangka Konsep ..................................................................... 45
3.2 Hipotesis Penelitian .................................................................. 46
BAB 4 METODOLOGI PENELITIAN
4.1 Desain Penelitian ...................................................................... 47
4.2 Populasi Dan Sampel ............................................................... 47
4.2.1 Populasi ........................................................................ 47
4.2.2 Sampel .......................................................................... 48
4.3 Kriteria Kasus dan Kontrol ...................................................... 49
4.4 Teknik Pengambilan Sampel .................................................... 50
4.5 Kerangka Kerja Penelitian ....................................................... 51
4.6 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional .......................... 52
4.6.1 Variabel Penelitian ....................................................... 52
4.6.2 Definisi Operasional ...................................................... 52
4.7 Instrumen Penelitian.................................................................. 53
4.8 Waktu dan Tempat Penelitian ................................................... 53
4.8.1 Waktu ........................................................................... 53
4.8.2 Tempat .......................................................................... 53
4.9 Prosedur Pengumpulan Data .................................................... 54
4.10 Analisa Data ............................................................................. 54
4.11 Etika Penelitian ........................................................................ 57
BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.1 Gambaran Umum ...................................................................... 59
5.2 Hasil Penelitian ......................................................................... 60
5.2.1 Data Umum .................................................................. 60
5.2.2 Data Khusus ................................................................. 63
5.3 Pembahasan ............................................................................... 66
5.3.1 Riwayat Anemia Kehamilan Ibu Pada Kelompok
Kasus dengan Kejadian Stunting Pada Balita Di
Desa Ketandan Dagangan Madiun ............................... 66
5.3.2 Riwayat Anemia Kehamilan Ibu Pada Kelompok
Kontrol dengan Kejadian Stunting Pada Balita Di
Desa Ketandan Dagangan Madiun ................................ 68
5.3.3 Hubungan Riwayat Anemia Kehamilan dengan
Kejadian Stunting Pada Balita Di Desa Ketandan
Dagangan Madiun ......................................................... 69

xii
BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan ............................................................................... 73
6.2 Saran .......................................................................................... 74

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 75


LAMPIRAN-LAMPIRAN ................................................................................. 80

xiii
DAFTAR TABEL

Nomor Judul Tabel Halaman


Tabel 2.1 Diagnosis Anemia Pada Ibu Hamil ........................................ 9
Tabel 2.2 Standar Panjang Badan Menurut Umur (PB/U) Anak Laki-
laki Umur 0-24 Bulan ............................................................. 24
Tabel 2.3 Standar Tinggi Badan Menurut Umur (TB/U) Anak Laki-
laki Umur 24-60 Bulan ........................................................... 25
Tabel 2.4 Standar Tinggi Badan Menurut Umur (TB/U) Anak
Perempuan Umur 24-60 Bulan .............................................. 26
Tabel 2.5 Standar Panjang Badan Menurut Umur (PB/U) Anak
Perempuan Umur 0-24 Bulan ................................................. 27
Tabel 4.1 Definisi Operasional ............................................................... 52
Tabel 5.1 Deskripsi Responden Berdasarkan Umur Ibu ........................ 60
Tabel 5.2 Deskripsi Responden Berdasarkan Umur Balita .................... 61
Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Jenis
Kelamin Balita........................................................................ 61
Tabel 5.4 Deskripsi Tinggi Badan Balita ............................................... 62
Tabel 5.5 Deskripsi Berat Badan Balita ................................................. 63
Tabel 5.6 Distribusi Frekuensi Karakteristik Riwayat Anemia
Kehamilan .............................................................................. 64
Tabel 5.7 Distribusi Frekuensi Karakteristik Kejadian Stunting Pada
Balita ...................................................................................... 64
Tabel 5.8 Distribusi Frekuensi Hubungan Riwayat Anemia
Kehamilan Dengan Kejadian Stunting Pada Balita................ 65

xiv
DAFTAR GAMBAR

Nomor Judul Gambar Halaman


Gambar 3.1 Kerangka Konsep Penelitian ............................................. 45
Gambar 4.1 Skema Rancangan Studi Kasus Kontrol ........................... 47
Gambar 4.2 Kerangka Kerja Penelitian ................................................. 51

xv
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Lembar Izin pengambilan data awal ........................................... 80


Lampiran 2 Surat Ijin Penelitian ..................................................................... 81
Lampiran 3 Surat Keterangan Penelitian ........................................................ 82
Lampiran 4 Lembar Permohonan menjadi responden ................................... 83
Lampiran 5 Lembar Pernyataan menjadi responden ...................................... 84
Lampiran 6 Lembar SOP (Standart Operasional Prosedur) ........................... 85
Lampiran 7 Lembar Observasi Responden .................................................... 86
Lampiran 8 Tabulasi Data Responden ............................................................ 88
Lampiran 9 Distribusi Frekuensi Responden .................................................. 91
Lampiran 10 Hasil Uji Chi square .................................................................... 97
Lampiran 11 Dokumentasi Penelitian ............................................................... 99
Lampiran 12 Jadwal Penyusunan Skripsi ......................................................... 100
Lampiran 13 Lembar Konsultasi ...................................................................... 101

xvi
DAFTAR ISTILAH

Anonymity : Tanpa Nama


Case Control : Kasus Kontrol
Club Foot : Kelainan Bentuk dan Pergelangan Kaki Bayi
Confidence Interval : Derajat Kepercayaan
Confidentiality : Kerahasiaan
Development : Perkembangan
Fe : Tablet Besi
Growth : Pertumbuhan
Heredokonstitusional : Faktor Genetik
Host : Manusia
Informed consent : lembar persetujuan menjadi responden
Malnutrisi : Kurang Gizi
Microtoise : Alat Ukur
Milieu : Lingkungan Hidup
Phytates : Menghambat Penyerapan Besi
Power Test : Nilai Z pada Kekuatan Uji
Probality Sampling : Teknik Pengambilan Sampel
Provider : Kebutuhan Dasar Anak
Severely Stunted : Sangat Pendek
Simpel Random Sampling : Teknik Pengambilan Sampel
Skill : Kemampuan
Stunting : Pendek

xvii
DAFTAR SINGKATAN

ACC/SCN : Administrative Committee On Coordination/Sub-Committee


On Nutrition
AKB : Angka Kematian Bayi
AKG : Angka Kecakupan Gizi
AKI : Angka Kematian Ibu
ASI : Air Susu Ibu
BAPPENAS RI : Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Republik
Indonesia
BB : Berat Badan
BBLR : Bayi Berat Lahir Rendah
HB : Hemoglobin
IMT : Indeks Masa Tubuh
IPM : Indeks Pembangunan Manusia
IQ : Intellegence Quotient
ISPA : Inspeksi Saluran Pernafasan Atas
KEK : Kekurangan Energi Kronis
KEMENKES : Kementrian Kesehatan
KMS : Kartu Menuju Sehat
LILA : Lingkar Lengan Atas
PB : Panjang Badan
RISKESDAS : Riset Kesehatan Dasar
SD : Standar Defisiensi
SDKI : Survai Demografi dan Kesehatan Indonesia
SDM : Sumber Daya Manusia
TB : Tinggi Badan
TTD : Tablet Tambah Darah
U : Umur
UNDP : United Nations Development Programme
UNICEF : United Nations Children’s Fund
WHO : World Health Organization

xviii
KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah

memberikan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penyusunan skripsi dengan judul

“Hubungan Riwayat Anemia Kehamilan dengan Kejadian Stunting Pada Balita

Di Desa Ketandan Dagangan Madiun”.

Adapun maksud penulis menyusun skripsi ini adalah memenuhi persyaratan

dalam menyeleseikan Pendidikan Sarjana Keperawatan di STIKES Bhakti Husada

Mulia Madiun.

Penulis sadar bahwa skripsi ini dapat terseleseikan berkat dorongan dan

bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis dengan setulus hati

mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Zaenal Abidin, [Link]., [Link] selaku ketua STIKES Bhakti Husada Mulia

Madiun.

2. Ifa, [Link] selaku bidan Desa Ketandan Kec. Dagangan Kab. Madiun.

3. Mega Arianti Putri, [Link]., Ns., [Link] selaku Ketua Prodi Sarjana

Keperawatan STIKES Bhakti Husada Mulia Madiun.

4. Dian Anisia W, [Link]., Ners., [Link] selaku pembimbing 1 dalam

penyusunan skripsi ini.

5. Muhidin, [Link]., Ners., [Link] selaku pembimbing 2 dalam penyususnan

skripsi ini.

6. Keluarga tercinta yang selalu memberikan semangat dan dukungan dalam

penyusunan skripsi ini.

xix
7. Teman-teman kelas 8a keperawatan dan semua pihak yang banyak

membantu dalam penyusunan skripsi ini.

Penulis menyadari karena keterbatasan pengetahuan dan kemampuan dalam

penyusunan skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu saran dan kritik

yang membangun dari pembaca sangat kami harapkan untuk kesempurnaan

skripsi ini.

Madiun, 23 Juli 2018


Penulis,

Dhiyah Ayu Romadhoni


201402009

xx
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Masalah gizi terjadi di setiap siklus kehidupan, dimulai sejak dalam

kandungan (janin), bayi, anak, dewasa dan usia lanjut. Periode dua tahun pertama

kehidupan merupakan masa kritis, karena pada masa ini terjadi pertumbuhan dan

perkembangan yang sangat pesat (Kemenkes RI, 2010). Salah satu masalah gizi

yang diderita oleh balita yaitu stunting yang merupakan keadaan tubuh yang

pendek atau sangat pendek yang terjadi akibat kekurangan gizi dan penyakit

berulang dalam waktu lama pada masa janin hingga 2 tahun pertama kehidupan

seorang anak (Black et al., 2008).

United Nation Children’s Fund pada tahun 2014 mengeluarkan hasil

bahwa lebih dari 162 juta anak dibawah 5 tahun di dunia mengalami stunting

(pendek). Anak dengan keadaan wasting (kurus) sebanyak 51 juta anak, dan 17

juta anak dalam kondisi sangat kurus yang memerlukan penanganan khusus.

Keadaan tersebut, akan mengalami efek jangka panjang yang berdampak bagi

dirinya, keluarga, dan pemerintah, bahkanberisiko tinggi meninggal (UNICEF,

2014). Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 di Indonesia mencatat

bahwa prevalensi stunting sebesar 37,2%, meningkat dari tahun 2007 (35,6%) dan

tahun 2010 (36,8%). Persentase tersebut dengan pembagian untuk kategori sangat

pendek 19,2% dan pendek 18,1%. Artinya, diperkirakan lebih dari sepertiga atau

lebih dari 8,9 juta anak usia dibawah 5 tahun di Indonesia mengalami

pertumbuhan yang tidak sesuai ukuran standar internasional untuk tinggi badan

1
2

berbanding usia. Selain itu, untuk anak Indonesia yang dalam keadaan kurus,

diperkirakan ada sekitar 3,3 juta anak (Kemenkes R1, 2013)

Stunting adalah masalah gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang

kurang dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai

dengan kebutuhan gizi. WHO mengartikan stunting adalah keadaan tubuh yang

sangat pendek hingga melampaui defisit 2 SD dibawah median panjang atau tinggi

badan populasi yang menjadi referensi [Link] ini terjadi akibat

dari faktor lingkungan dan faktor manusia (host) yang didukung oleh kekurangan

asupan zat-zat gizi (Rudert, 2014).

Stunting atau gangguan pertumbuhan merupakan dampak dari masalah gizi

kurang yang terjadi pada anak-anak di negara berkembang. Stunting

mengindikasikan masalah kesehatan masyarakat karena berhubungan dengan

meningkatnya resiko morbiditas dan mortalitas, penurunan perkembangan fungsi

motorik dan mental serta mengurangi kapasitas fisik (Administrative Committee

on Coordination/Sub-Committee on Nutrition [ACC/SCN], 2000).Stunting

disebabkan oleh akumulasi episode stress yang sudah berlangsung lama, yang

kemudian tidak terimbangi oleh catch up growth (kejar tumbuh).Hal ini

mengakibatkan menurunnya pertumbuhan apabila dibandingkan dengan anak-

anak yang tumbuh dalam lingkungan yang mendukung (Kusharisupeni, 2008).

Kejadian stunting pada balita akan mempengaruhi kondisi balita pada periode

siklus kehidupan berikutnya.

Stunting juga akan berdampak pada Indeks Pembangunan Manusia (IPM)

dimana Indonesia sekarang berada pada peringkat 113 dari 188 negara di seluruh
3

dunia. Rendahnya IPM ini dipengaruhi oleh status gizi dan kesehatan penduduk

Indonesia yang ditunjukkan dengan tingkat kemiskinan dan kelaparan sekitar 140

juta orang yang hidup dengan biaya kurang dari Rp 20.000/hari dan 19,4 juta

orang menderita gizi buruk. Tingginya angka kematian bayi, balita dan ibu

menunjukkan hasil yang belum maksimal pada upaya perbaikan atau pemerataan

pelayanan kesehatan di Indonesia. Begitu pula pada upaya perbaikan kondisi

ekonomi yang berarti meningkatkan pendapatan penduduk sehingga upaya

perbaikan gizi dapat diperbaiki dalam rangka peningkatan daya tahan tubuh

terhadap infeksi penyakit (UNDP, 2016).

Salah satu faktor risiko yang mempengaruhi kejadian stunting pada anak

balita adalah status giziibusaathamil. Tingginya angka kurang gizi pada ibu hamil

mempunyai kontribusi terhadap tingginya angka stunting di Indonesia yang

diperkirakan mencapai 350.000 bayi setiap tahunnya (Hadi, 2005). Menurut

Soekirman et al. (2010) kekurangan gizi yang terjadi pada ibu hamil trimester I

dapat mengakibatkan janin mengalami kematian dan bayi berisiko lahir prematur.

Jika kekurangan gizi terjadi pada trimester II dan III, janin dapat terhambat

pertumbuhannya dan tak berkembang sesuai dengan umur kehamilan ibu. Ibu

hamil yang terpapar anemia mengakibatkan berkurangnya suplai oksigen ke sel

tubuh maupun otak sehingga menimbulkan gejala-gejala letih, lesu, cepat lelah

dan gangguan nafsu makan, sehingga berdampak kepada keadaan gizi ibu, yang

tercermin dalam berat badannya. Bila hal ini terjadi pada saat trimester III, maka

risiko melahirkan prematur ataupun BBLR 3,7 kali lebih besar dibandingkan ibu

hamil trimester III non anemia (Hidayati et al, 2005).


4

Penelitian Ratna Ayu Wulandari tahun 2016 menemukanan bahwa ada

hubungan bermakna antara kadar hemoglobin pada ibu hamil dengan status gizi

anak 0-6 bulan. Penelitian lainnya oleh Kartikawati tahun 2016 memperoleh hal

status gizi kurang pada ibu hamil merupakan faktor risiko kejadian stunting.

Penelitian tersebut memperoleh hasil bahwa anemia pada ibu hamil berisiko

terhadap kejadian stunting pada anak 0-6 bulan. Hal ini dikarenakan asupan gizi

yang didapatkan tidak mencukupi. Salah satu faktor risiko kejadian stunting

menurut penelitian Welassih tahun 2011 adalah riwayat penyakit infeksi. Menurut

UEU-Undergraduated tahun 2008 mendapatkan hasil bahwa salah satu faktor

kejadian stunting yaitu riwayat penyakit yang diderita oleh balita. Sedangkan

dalam penelitian lainnya dari Onetusfifsi Putra tahun 2010 didapatkan bahwa bayi

yang mempunyai keadaan gizi kurang (BBLR) akan berisiko terkena penyakit

infeksi dan akan menderita stunting.

Hasil Riskesdas tahun 2013 di provinsi JawaTimur mencatat prevalensi

stunting sebesar 26,1%. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Madiun

tahun 2016, beberapa permasalahan kesehatan khususnya gizi kurang yang terjadi

di Kecamatan Dagangan tercatat prevalensi stunting sebesar 28,3%. Kecamatan

Dagangan pada tahun 2016 merupakan kecamatan yang memiliki kasus

tertinggiuntuk kategori sangat pendek dari pada kecamatan lain yang ada di

KabupatenMadiun yaitu sebanyak 77 orang atau 6,50%. Di Desa Ketandann

Dagangan Madiun terdapat 43 kasus stunting. Kecamatan Dagangan terdiri dari

satu Puskesmas yaitu Puskesmas Dagangan. Pada tahun 2017, terjadi peningkatan

kasus stunting pada balita di Puskesmas Dagangan yang sebelumnya 338 kasus di
5

tahun 2016 menjadi 342 kasus tahun 2017 ditambah lagi pada tahun 2017

ditemukan kasus anemia pada ibu hamil yaitu sebesar 104 kasus.

Dengan ditemukannya beberapa permasalahan kesehatan khususnya gizi di

Kecamatan Dagangan, perlunya perhatian khusus bagi pemerintah seperti

mengoptimalkan gerakan masyarakat sehat guna memberikan pengetahuan

kesehatan ibu dan anak. Berdasarkan uraian yang telah di paparkan, peneliti

tertarik untuk meneliti hubungan riwayat anemia kehamilan dengan kejadian

stunting pada balita di Desa Ketandan Dagangan Madiun.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, rumusan masalah dalam penelitian ini

adalah “Apakah ada hubungan riwayat anemia kehamilan dengan kejadian

stunting pada balita di Desa Ketandan Dagangan Madiun”?

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Untuk Menganalisis hubungan riwayat anemia kehamilan dengan kejadian

stunting pada balita di Desa Ketandan Dagangan Madiun.

1.3.2 Tujuan Khusus

Adapun tujuan khusus dari penelitian ini antara lain:

1. Mendiskripsikan riwayat anemia kehamilan ibu pada kelompok kasus

dengan kejadian stunting pada balita di Desa Ketandan Dagangan Madiun.

2. Mendeskripsikan riwayat anemia kehamilan ibu pada kelompok kontrol

dengan kejadian stunting pada balita di Desa Ketandan Dagangan Madiun.


6

3. Menganalisis hubungan riwayat anemia kehamilan dengan kejadian

stunting pada balita di Desa Ketandan Dagangan Madiun.

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Manfaat Teoritis

1. Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan evaluasi maupun kajian

lebih lanjut bagi pemegang program gizi khususnya dalam kejadian

stunting dalam mengetahui faktor lain yang berhubungan dengan kejadian

stunting.

2. Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan masukan lebih

lanjut bagi Puskesmas Dagangan dalam perencanaan strategi

pengembangan program

1.4.2 Manfaat Praktis

1. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan pengetahuan bagi

peneliti dalam penyusunan tugas akhir kuliah sebagai syarat untuk

mendapatkan gelar Sarjana Keperawatan.

2. Peneliti mampu mengaplikasikan disiplin ilmu yang telah di dapat dari

proses pendidikan maupun hasil penelitian ini nantinya untuk di

implementasikan dalam dunia kerja.


BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Anemia Pada Ibu Hamil

2.1.1 Pengertian Anemia

Anemia adalah suatu keadaan dimana tubuh memiliki jumlah sel darah

merah (eritrosit) yang terlalu sedikit, yang mana sel darah merah itu mengandung

hemoglobin yang berfungsi untuk membawa oksigen ke seluruh jaringan tubuh

(Proverawati, 2013).

Anemia adalah suatu keadaan adanya penurunan kadar hemoglobin di

bawah nilai normal. Pada penderita anemia lebih sering disebut dengan kurang

darah, kadar sel darah merah dibawah nilai normal (Rukiyah, 2010)

2.1.2 Pengertian Anemia Pada Ibu Hamil

Anemia dapat didefinisikan sebagai kondisi dengan kadar Hb berada di

bawah normal. Di Indonesia Anemia umumnya disebabkan oleh kekurangan Zat

Besi, sehingga lebih dikenal dengan istilah Anemia Defisiensi [Link]

didefinisikan besi merupakan salah satu gangguan yang paling sering terjadi

selama kehamilan. Ibu hamil umumnya mengalami deplesi besi sehingga hanya

memberi sedikit besi kepada janin yang dibutuhkan untuk metabolism besi yang

normal. Selanjutnya akan menjadi anemia pada saat kadar hemoglobin ibu turun

sampai dibawah 11 gr/dl selama trimester III (Waryana, 2010).

2.1.3 Etiologi dan Klasifikasi Anemia Pada Ibu Hamil

Anemia dan Kekurangan Energi Kronis (KEK) pada ibu hamil menjadi

penyebab utama terjadinya perdarahan dan infeksi yang merupakan faktor

7
8

kematian ibu (Suwandi, 2010). Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu

indikator keberhasilan layanan kesehatan di suatu Negara dan berpengaruh

terhadap kualitas Sumber Daya Manusia (SDM)di Indonesia (Winkjosastro,

2007).

Anemia terbagi dalam bermacam macam jenis. Pembagian anemia dalam

kehamilan antara lain yaitu anemia defisiensi besi, anemia megaloblastik, anemia

hipoplastik, dan anemia hipolitik menurut Waryana (2010) :

1. Anemia Defisiensi Gizi Besi

Anemia jenis ini biasanya berbentuk normositik dan hipokromik serta

keadaan tersebut paling banyak dijumpai. Anemia dalam kehamilan yang

sering dijumpai ialah anemia akibat kekurangan besi. Kekurangan ini

dapat disebabkan karena kurangnya masuknya unsur besi dalam makanan,

karena gangguan reabsorbsi, gangguan pencernaan, atau karena terlampau

banyaknya besi yang keluar dari badan, misal pada perdarahan.

2. Anemia Megaloblastik

Anemia megaloblastik dalam kehamilan jarang sekali disebabkan karena

defisiensi vitamin B12, kebanyakan disebabkan oleh asam [Link]

anemia megaloblastik ditegagkan apabila ditemukan megaloblas atau

promeglaloblas dalam darah atau sumsum tulang.

3. Anemia Hipoplastik

Anemia hipoplastik dalam kehamilan disebabkan karena kurang

mempunyai sumsum tulang dalam membuat sel-sel darah baru. Penyebab

pasti dari kondisi anemia hipoplastik ini sampai sekarang belum diketahui,
9

namun diperkirakan karena sepsis, sinar roentgen racun atau obat-obatan.

Pada kondisi ini, darah tepi memperlihatkan gambaran normositer dan

normokrom, serta tidak ditemukan cirri-ciri defisiensi besi, asam folik atau

vitamin B12.

4. Anemia Hipolitik

Proses penghancuran sel darah merah yang berlangsung lebih cepat

daripada pembuatannya dapat menyebabnya anemia hipolitik .Tanda-tanda

yang biasanya ditemukan yaitu hemoglobinia, hemoglobinuria,

hiperbilirubinia, hiperurobiliurineria, dan sterkobilin lebih banyak dalam

feses.

2.1.4 Diagnosis Anemia Pada Ibu Hamil

Pemeriksaan darah dilakukan minimal selama dua kali selama kehamilan

yaitu pada Trisemester I dan III, dengan pertimbangan bahwa sebagian besar ibu

hamil mengalami anemia (Waryana, 2010).

Tabel 2.1 Diagnosis Anemia pada Ibu Hamil

Kadar Haemoglobin Status Anemia


11 Gr % Tidak anemia
9- 10 Gr % Anemia ringan
7-8 Gr % Anemia sedang
< 7 Gr % Anemia berat
Sumber : WHO, 2010

2.1.5 Kebutuhan Fe Ibu Hamil

Fe merupakan mineral mikro yang paling banyak terdapat dalam tubuh,

yaitu sebanyak 3-5 gram di dalam tubuh manusia. Fe sangat dibutuhkan oleh

tenaga kerja untuk menunjang aktivitas [Link] dalam tubuh Fe berperan

sebagai alat angkut electron pada metabolism energy, sebagai bagian dari enzim
10

pembentuk sebagai kekebalan tubuh dan sebagai pelarut obat-obatan (Almatsier,

2002 dalam buku Waryana, 2010).

Makanan sumber Fe yang baik antara lain daging, ayam, ikan, telur, serelia

tumbuk, kacang-kacangan, sayuran hujau, dan pisang ambon. Fe yang berasal

dari makanan hewani lebih mudah diserap oleh tubuh daripada Fe yang berasal

dari makanan nabati. Faktor-faktor yang mempengaruhi absorpsi Fe yaitu

(Waryana, 2010) :

1. Bentuk Fe

Besi-hem yang merupakan bagian dari hemoglobin dan mioglobin yang

terdapat dalam daging hewan dapat diserap dua kali lipat daripada besi-

non hem yang berasal dari makanan nabati.

2. Asam Organik

Vitamin C dan asam sitrat sangat membantu penyerapan besi-nonhem

dengan merubah bentuk feri menjadi fero.

3. Asam Fitat, asam oksalat dan tannin

Ketiga jenis zat tersebut dapat mengikat Fe sehingga menghambat

penyerapannya. Namun pengaruh negatif ini dapat berkurang dengan

mengkonsumsi vitamin C.

4. Tingkat Keasaman Lambung

Keasaman lambung dapat meningkatkan daya larut besi.


11

5. Kebutuhan tubuh

Jika tubuh kekurangan Fe atau kebutuhan meningkat maka penyerapannya

juga akan meningkat. Kebutuhan Fe untuk tenaga kerja laki-laki dewasa

adalah 13 miligram per hari.

Saat kehamilan zat besi yang dibutuhkan oleh tubuh lebih banyak

dibandingkan saat tidak hamil. Zat besi bagi wanita hamil dibutuhkan sel-sel

darah merah yang semakin banyak serta janin dan plasentanya. Seiring dengan

bertambahnya umur kehamilan, zat besi yang dibutuhkan semakin banyak.

Dengan demikian resiko anemia zat besi semakin besar (Wirakusumah, 1998

dalam buku Waryana, 2010).

Ibu hamil yang anemia gizi akan melahirkan bayi yang anemia pula, yang

dapat menimbulkan disfungsi pada otaknya dan gangguan proses tumbuh

kembang otak. Selanjutnya, maka bumil dianjurkan mengkonsumsi zat besi

sebanyak 60-100 mg/hari.

Keanekaragaman konsumsi makanan berperan penting dalam membantu

meningkatkan penyerapan Fe di dalam tubuh. Kehadiran protein hewani, Vitamin

C, Vitamin A, Zn, asam folat, zat gizi mikro lain dapat meningkatkan penyerapan

zat besi dalam tubuh. Manfaat lain dari mengkonsumsi makanan sumber zat besi

adalah terpenuhinya kecukupan vitamin A, karena makanan sumber zat besi

biasanya juga merupakan sumber Vitamin A (Depkes RI, 1995 dalam buku

Waryana 2010).

Salah satu upaya yang telah dilakukan pemerintah untuk mengatasi

tingginya prevalensi ibu hamil yang menderita anemia gizi adalah suplementasi
12

tablet besi pada ibu hamil. Namun ada masalah yang dihadapi dalam suplementasi

tablet besi ini yaitu ibu hamil sukar untuk mengkonsumsinya setiap hari dengan

alasan lupa, perut merasa perih, enek, dsb (Ridwan, 1997 dalam buku Waryana

2010)

Departemen Kesehatan telah melaksanakan program penanggulangan

AGB dengan membagikan tablet besi atau Tablet Tambah Darah (TTD) kepada

ibu hamil sebanyak 1 tablet setiap hari berturut-turut selama 90 hari selama masa

kehamilan (Depkes RI, 1995 dalam buku Waryana 2010).Agar penyerapan besi

dapat maksimal, dianjurkan minum tablet zat besi dengan air minum yang sudah

dimasak. Dengan minum tablet Fe, maka tanda-tanda kurang darah akan

menghilang. Bila tidak menghilang, berarti yang bersangkutan bukan menderita

AGB, tetapi menderita anemia jenis lain (Depkes RI, 1995 dalam buku Waryana

2010).

Jumlah zat besi yang dibutuhkan pada waktu jauh lebih besar dari pada

tidak hamil. Pada waktu triwulan I kehamilan, kebutuhan zat gizi lebih rendah

dari sebelum hamil karena tidak menstruasi dan jumlah zat besi yang di transfer

kepada janin lebih rendah, pada waktu mulai menginjak triwulan II, sampai pada

triwulan III. Penambahan massa sel darah merah ini mencapai 35% dengan

penambahan kebutuhan zat besi sebanyak 450 mg. kenaikan kebutuhan konsumsi

oksigen oleh janin. Keadaan ini diimbangi dengan menurunya kadar Hg yaitu

sebanyak 1 gr/100 ml (pada wanita tidak hamil batas kadar Hg normal adalah 12

gr/100 ml). Fisiologis anemia disebabkan karena volume plasma naik melebihi
13

dari pertambahan banyak jumlah red cell mass, sehingga menghasilkan adanya

haemoditulion pada tingkat tertentu (Waryana, 2010).

Kebutuhan zat besi menurut Triwulan adalah sebagai berikut (Waryana,

2010) :

1. Pada Triwulan I zat besi yang dibutuhkaan adalah 1 mg/ hari yaitu untuk

kebutuhan basal 0,8 mg/ hari ditambah dengan kebutuhan janin dan read

cell mss 30-40 mg.

2. Pada Triwulan II zat besi yang diberlakukan adalah kurang lebih 5 mg/

hari yaitu untuk kebutuhan red cell mass 300 mg dan conceptus 115 mg.

3. Pada Triwulan III, zat besi dibutuhkan adalah 5 mg/ hari yaitu untuk

kebutuhan basal 0,8/ hari ditambah dengan kebutuhan red cell mass 150

mg dan conceptus 223 mg. Maka kebutuhan pada Triwulan II dan III jauh

lebih besar dari jumlah zat besi yang didapat dari makanan (Husaini, 1989

dalam buku waryana 2010).

2.1.6 Tanda dan Gejala Anemia Ibu Hamil

Pucat merupakan salah satu tanda yang paling sering dikaitkan dengan

anemia. Keadaan ini biasanya disebabkan karena berkurangnya volume darah,

berukurangnya hemoglobin serta vasokontriksi, untuk memaksimalkan pasokan

O2 ke organ-organ vital, Bantalan kuku telapak tangan, serta membrane mukosa

mulut dan konjungtiva merupakan indikator yang lebih baik untuk menilai pucat

jika dibandingkan dengan warna kulit. Jika lipatan tangan tidak lagi tampak

berwarna merah muda, kadar hemoglobin biasanya kurang dari 8 g/dl (Fuady M,

2013).
14

Pada anemia defisiensi besi biasanya dijumpai gejala cepat lelah, nafsu

makan berkurang, berdebar-debar serta takikardi (WHO, 2002). Keadaan cepat

lelah, serta nafas pendek ketika melakukan aktifitas jasmani merupakan

manifestasi dari berkurangnya distribusi O2. Takikardi mencerminkan beban kerja

dan curah jantung yang [Link] anemia yang berat dapat terjadi gagal

jantung kongestif akibat otot jantung yang anostik sehingga tidak tadap

beradaptasi terhadap kerja jantung yang meningkat. Selain itu, pada anemia

defisiensi besi yang berat juga dapat timbul gejala-gejala mual, anoreksia,

konstipasi atau diare, dan stomatitis (Fuady M, 2013).

2.1.7 Faktor yang Mempengaruhi Anemia Pada Ibu Hamil

Banyak faktor yang menyebabkan anemia pada ibu hamil antara lain

disebabkan karena kurang gizi (malnutrisi). Di antara faktor gizi yang

berkontribusi terhadap anemia adalah kekurangan zat besi. Hal ini karena

konsumsi makanan yang monoton, namun kaya akan zat yang menghambat

penyerapan zat besi (phytates) sehingga zat besi tidak dapat dimanfaatkan oleh

tubuh (Agrawal, S, 2006).Kekurangan zat besi juga dapat diperburuk oleh status

gizi yang buruk, terutama ketika dikaitkan dengan kekurangan asam folat, vitamin

A atau B12, seperti yang sering terjadi di negara-negara berkembang (Kaur,

2014). Malabsorpsi, Kehilangan darah yang banyak saat persalinan atau haid yang

lalu, dan penyakit kronis seperti: TB paru, cacing usus, dan malaria. Tingkat

kepatuhan mengkonsumsi tablet Fe atau tablet zat besi oleh ibu hamil mempunyai

pengaruh terhadap kejadian anemia. Anemia kehamilan terjadi karena cara minum

tablet zat besi dengan menggunakan kopi atau the yang bersifat mengikat zat besi,
15

sehingga zat besi tidak bisa diabsorpsi tubuh (Depkes RI, 1996 dalam buku

Waryana 2010).

2.1.8 Pencegahan Anemia Pada Ibu Hamil

Pencegahan anemia menurut Waryana (2010)

1. Selalu menjaga kebersihan dan mengenakan alas kaki setiap hari.

2. Istiraha yang cukup.

3. Makan makanan yang bergizi dan banyak mengandung Fe, misalnya :

daun papaya, kangkung, daging sapi, hati ayam dan susu.

4. Pada ibu hamil, dengan rutin memeriksakan kehamilannya minimal 4 kali

selama hamil untuk mendapatkan Tablet Besi (Fe) dan vitamin yang

lainnya pada petugas kesehatan, serta makan makanan yang bergizi 3X1

hari, dengan porsi 2 kali lipat lebih banyak.

2.1.9 Dampak AnemiaPada Ibu Hamil

Kekurangan kadar hemoglobin (Hb) ibu hamil merupakan salah satu

permasalahan kesehatan yang rentan terjadi selama kehamilan. Kadar Hb yang

kurang dari 11 g/dl mengindikasikan ibu hamil menderita [Link] pada

ibu hamil meningkatkan resiko mendapatkan Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR),

risiko perdarahan sebelum dan saat persalinan, bahkan dapat menyebabkan

kematian ibu dan bayinya jika ibu hamil tersebut menderita anemia berat. Hal ini

tentunya dapat memberikan sumbangan besar terhadap angka kematian ibu

bersalin maupunangka kematian bayi, dimana berdasarkan SDKI tahun 2007

angka tersebut masih cukup tinggi, yaitu angka kematian ibu (AKI) 228 per
16

100.000 kelahiran hidup dan angka kematian bayi (AKB) 34 per 1.000 kelahiran

hidup (Depkes RI, 2008 dalam buku Waryana).

Kadar hemoglobin merupakan indikator biokimia untuk mengetahui status

gizi ibu hamil. Kehamilan normal terjadi penurunan sedikit konsentrasi

hemoglobin dikarenakan hipervolemia yang terjadi sebagai suatu adaptasi

fisiologis di dalam [Link] hemoglobin <11 gr/dl merupakan

keadaan abnormal yang tidak berhubungan dengan hipervolemia tersebut.

Ketidakadekuatan hipervolemia yang terjadi malah dapat mengakibatkan

tingginya kadar hemoglobin ibu hamil. Kadar hemoglobin ibu hamil yang tinggi

juga dapat mengakibatkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan janin

normal (Cunningham, 2006)

2.2 Konsep Stunting

2.2.1 Pengertin Stunting Pada Balita

Balita Pendek (Stunting) adalah status gizi yang didasarkan pada indeks

PB/U atau TB/U dimana dalam standar antropometri penilaian status gizi anak,

hasil pengukuran tersebut berada pada ambang batas (Z-Score) <-2 SD sampai

dengan -3 SD (pendek/ stunted) dan <-3 SD (sangat pendek/ severely stunted)

(Kemenkes R.I, 2012). Stunting digunakan sebagai indikator malnutrisi kronik

yang menggambarkan riwayat kurang gizi anak dalam jangka waktu lama

sehingga kejadian ini menunjukkan bagaimana keadaan gizi sebelumnya

(Kartikawati, 2011).Pada anak balita masalah stunting lebih banyak dibandingkan

masalah kurang gizi lainnya.


17

Stunting adalah salah satu kondisi kegagalan mencapai perkembangan fisik

yang diukur berdasarkan tinggi badan menurut umur. Batasan stunting menurut

WHO yaitu tinggi badan menurut umur berdasarkan Z-score sama dengan atau

kurang dari -2 SD di bawah rata-rata standar (WHO, 2013)

2.2.2 Faktor Penyebab Stunting Pada Balita

Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya keadaan stunting pada

[Link]-faktor tersebut dapat berasal dari diri anak itu sendiri maupun dari

luar diri anak tersebut. Faktor penyebab stunting ini dapat disebabkan oleh faktor

langsung maupun tidak langsung. Penyebab langsung dari kejadian stunting

adalah asupan gizi dan adanya penyakit infeksi sedangkan penyebab tidak

langsungnya adalah pola asuh, pelayanan kesehatan, ketersediaan pangan, faktor

budaya, ekonomi dan masih banyak lagi faktor lainnya (Bappenas R.I, 2013).

1. Faktor Langsung

a. Asupan Gizi Balita

Saat ini Indonesia mengahadapi masalah gizi ganda,

permasalahan gizi ganda tersebut adalah adanya masalah kurang

[Link] gizi yang adekuat sangat diperlukan untuk pertumbuhan

dan perkembangan tubuh balita. Masa kritis ini merupakan masa saat

balita akan mengalami tumbuh kembang dan tumbuh kejar. Balita

yang mengalami kekurangan gizi sebelumnya masih dapat diperbaiki

dengan asupan yang baik sehingga dapat melakukan tumbuh kejar

sesuai dengan perkembangannya. Namun apabila intervensinya

terlambat balita tidak akan dapat mengejar keterlambatan


18

pertumbuhannya yang disebut dengan gagal tumbuh. Begitu pula

dengan balita yang normal kemungkinan terjadi gangguan

pertumbuhan bila asupan yang diterima tidak mencukupi. Dalam

penelitian yang menganalisis hasil Riskesdas menyatakan bahwa

konsumsi energi balita berpengaruh terhadap kejadian balita pendek,

selain itu pada level rumah tangga konsumsi energi rumah tangga di

bawah rata-rata merupakan penyebab terjadinya anak balita pendek

(Sihadi dan Djaiman, 2011).

Asupan gizi yang sesuai dengan kebutuhan akan membantu

pertumbuhan dan perkembangan anak. Sebaliknya asupan gizi yang

kurang dapat menyebabkan kekurangan gizi salah salah satunya dapat

menyebabkan stunting.

b. Penyakit Infeksi

Penyakit infeksi yang sering diderita balita seperti cacingan,

Infeksi saluran pernafasan Atas (ISPA), diare dan infeksi lainnya

sangat erat hubungannya dengan status mutu pelayanan kesehatan

dasar khususnya imunisasi, kualitas lingkungan hidup dan perilaku

sehat (Bappenas R.I, 2013). Ada beberapa penelitian yang meneliti

tentang hubungan penyakit infeksi dengan stunting yang menyatakan

bahwa diare merupakan salah satu faktor risiko kejadian stunting pada

anak usia dibawah 5 tahun (Taguri et al, 2007).


19

2. Faktor Tidak Langsung

a. Ketersediaan Pangan

Akses pangan pada rumah tangga menurut Bappenas adalah

kondisi penguasaan sumberdaya (sosial, teknologi, finansial/

keuangan, alam, dan manusia) yang cukup untuk memperoleh dan atau

ditukarkan untuk memenuhi kecukupan pangan, termasuk kecukupan

pangan di rumah tangga. Masalah ketersediaan ini tidak hanya terkait

masalah daya beli namun juga pada pendistribusian dan keberadaan

pangan itu sendiri, sedangkan pola konsumsi pangan merupakan

susunan makanan yang biasa dimakan mencakup jenis dan jumlah dan

frekuensi dan jangka waktu tertentu. Aksesibilitas pangan yang rendah

berakibat pada kurangnya pemenuhan konsumsi yang beragam,

bergizi, seimbang dan nyaman di tingkat keluarga yang mempengaruhi

pola konsumsi pangan dalam keluarga sehingga berdampak pada

semakin beratnya masalah kurang gizi masyarakat (Bappenas R.I,

2011).

Ketersediaan pangan yang kurang dapat berakibat pada

kurangnya pemenuhan asupan nutrisi dalam keluarga itu sendiri. Rata-

rata asupan kalori dan protein anak balita di Indonesia masih di bawah

Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang dapat mengakibatkan anak balita

perempuan dan anak balita laki-laki Indonesia mempunyai rata-rata

tinggi badan masing-masing 6,7 cm dan 7,3 cm lebih pendek dari pada

standar rujukan WHO 2005 (Bappenas R.I, 2011). Oleh karena itu
20

penanganan masalah gizi ini tidak hanya melibatkan sektor kesehatan

saja namun juga melibatkan lintas sektor lainnya.

Ketersediaan pangan merupakan faktor penyebab kejadian

stunting, ketersediaan pangan di rumah tangga dipengaruhi oleh

pendapatan keluarga, pendapatan keluarga yang lebih rendah dan biaya

yang digunakan untuk pengeluaran pangan yang lebih rendah

merupakan beberapa ciri rumah tangga dengan anak pendek (Sihadi

dan Djaiman, 2011).

b. Status Gizi Ibu saat Hamil

Status gizi ibu sebelum dan selama hamil dapat mempengaruhi

pertumbuhan janin yang sedang dikandung. Bila status gizi ibu normal

pada masa sebelum dan selama hamil kemungkinan besar akan

melahirkan bayi yang sehat, cukup bulan dengan berat badan normal.

Namun sampai saat ini masih banyak ibu hamil yang mengalami gizi

khususnya gizi kurang seperti Kurang Energi Kronis (KEK) dan

Anemia Gizi (Andriani, dkk, 2012) Untuk mengetahui anemia atau

tidak maka perlu melakukan pemeriksaan kadar hemoglobin (Hb) yang

menunjukkan gambaran kadar Hb dalam darah (Yongky dkk, 2009)

Kadar Hemoglobin (Hb) Pemeriksaan darah dilakukan pada ibu hamil

untuk mengetahui kadar Hb ibu sehingga dapat diketahui status anemia

yang dialami ibu saat hamil. Anemia pada saat kehamilan merupakan

suatu kondisi terjadinya kekurangan sel darah merah atau hemoglobin

(Hb) pada saat kehamilan. Ada banyak faktor predisposisi dari anemia
21

tersebut yaitu diet rendah zat besi, vitamin B12, dan asam folat, adanya

penyakit gastrointestinal, serta adanya penyakit kronis ataupun adanya

riwayat dari keluarga sendiri (Moegni dan Ocviyanti, 2013).

Ibu hamil dengan anemia sering dijumpai karena pada saat

kehamilan keperluan akan zat makanan bertambah dan terjadi

perubahan-perubahan dalam darah dan sumsum tulang (Wiknjosastro

dkk, 2005). Nilai cut-off anemia ibu hamil adalah bila hasil

pemeriksaan Hb <11,0 g/dl (Kemenkes R.I, 2013). Penyebab anemia

pada ibu hamil adalah karena gangguan penyerapan pada pencernaan,

kurangnya asupan zat besi dan protein dari makanan, perdarahan akut

maupun kronis, meningkatnya kebutuhan zat besi, kekurangan asam

folat dan vitamin, menjalankan diet miskin zat besi dan pola makan

yang kurang baik ataupun karena kelainan pada sumsum tulang

belakang.

Akibat anemia bagi janin adalah hambatan pada pertumbuhan

janin, bayi lahir prematur, bayi lahir dengan BBLR, serta lahir dengan

cadangan zat besi kurang sedangkan akibat dari anemia bagi ibu hamil

dapat menimbulkan komplikasi, gangguan pada saat persalinan dan

dapat membahayakan kondisi ibu seperti pingsan, bahkan sampai pada

kematian (Direktorat Bina Gizi dan KIA, 2012). Kadar hemoglobin

saat ibu hamil berhubungan dengan panjang bayi yang nantinya akan

dilahirkan, semakin tinggi kadar Hb semakin panjang ukuran bayi

yang akan dilahirkan (Ruchayati, 2012). Prematuritas, dan BBLR juga


22

merupakan faktor risiko kejadian stunting, sehingga secara tidak

langsung anemia pada ibu hamil dapat menyebabkan kejadian stunting

pada balita.

2.2.3 Dampak Stunting Pada Balita

Stunting adalah masalah gizi utama yang akan berdampak pada kehidupan

social dan ekonomi dalam masyarakat. Anak yang pada masa balitanya

mengalami stunting yaitu sebagai berikut menurut Jalal (2017) dapat menurunkan

intelligence quotient (IQ)/ tingkat kecerdasaan seseorang sampai 15 point dan

perkembangan motorik yang lambat, terlambat masuk sekolah dan memiliki

prestasi kedemik lebih buruk, postur tubuh yang pendek, akan meraih pendapatan

20% lebih rendah di usia kerja. Menurut Anugraheni (2012) stunting juga

meningkatkan resiko obesitas dan penyakit degeneratif. Hal ini dikarenakan orang

dengan tubuh pendek berat badan idealnya juga rendah, kenaikan berat badan

beberapa kilogram saja bisa menjadikan Indeks Masa Tubuh (IMT) naik melebihi

batas normal. Keadaan overweight dan obesitas yang terus berlangsung lama akan

meningkatkan resiko kejadian penyakit degeneratif.

2.2.4 Penanganan Stunting Pada Balita

Dalam upaya penanganan masalah stunting ini, khusus untuk bayi dan

anak telah dikembangkan standar emas makanan bayi dalam pemenuhan

kebutuhan gizinya (Bappenas R.I, 2011) :

1. Inisiasi Menyusui Dini (IMD) yang harus dilakukan sesegera mungkin

setelah melahirkan
23

2. Memberikan ASI eksklusif sampai bayi berusia 6 bulan tanpa pemberian

makanan dan minuman tambahan lainnya.

3. Pemberian makanan pendamping ASI yang berasal dari makanan keluarga,

diberikan tepat waktu mulai bayi berusia 6 bulan.

4. Pemberian ASI diteruskan sampai anak berusia 2 tahun.

Asupan gizi yang sesuai dengan kebutuhan akan membantu pertumbuhan

dan perkembangan anak. Sebaliknya asupan gizi yang kurang dapat menyebabkan

kekurangan gizi salah satunya dapat menyebabkan stunting.

2.2.5 Pengukuran Stunting

Indeks antropometri yang umum digunakan dalam penilaian status gizi

adalah berat badan menurut umur (BB/U) tinggi badan menurut umur (TB/U) dan

berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) yang dinyatakan dengan standar

deviasi unit z (Z-score). Normal, pendek dan Sangat Pendek adalah status gizi

yang didasarkan pada indeks Panjang Badan menurut Umur (PB/U) atau Tinggi

Badan menurut Umur (TB/U) yang merupakan padanan istilah stunted (pendek)

dan severely stunted (sangat pendek).

Berikut klasifikasi status gizi stunting berdasarkan indikator tinggi badan

per umur (TB/U).

1. Sangat pendek : Z-score< -3,0

2. Pendek : Z-score< -2,0 s.d. Z-score ≥ -3,0

3. Normal : Z-score ≥ -2,0


24

Dan di bawah ini merupakan klasifikasi status gizi stunting berdasarkan

indikator TB/U dan BB/TB.

1. Pendek-kurus : Z-score TB/U < -2,0 dan Z-score BB/TB < -2,0

2. Pendek –normal : Z-score TB/U < -2,0 dan Z-score BB/TB antara -2,0 s/d

2,0

3. Pendek-gemuk : Z-score ≥ -2,0 s/d Z-score ≤ 2,0

Rumus perhitungan z-skor

Nilai individu subjek−Nilai median buku rujukan


z-skor=
Nilai simpang buku rujukan

Tabel 2.2 Standar Panjang Badan Menurut Umur (PB/U) (Anak Laki-laki umur 0-
24 Bulan)
Panjang Badan (cm)
Umur/bulan
-3 SD -2 SD -1 SD Median 1 SD 2 SD 3 SD
0 44.2 46.1 48.0 49.9 51.8 53.7 55.6
1 48.9 50.8 52.8 54.7 56.7 58.6 60.6
2 52.4 54.4 56.4 58.4 60.4 62.4 64.4
3 55.3 57.3 59.4 61.4 63.5 65.5 67.6
4 57.6 59.7 61.8 63.9 66.0 68.0 70.1
5 59.6 61.7 63.8 65.9 68.0 70.1 72.2
6 61.2 63.3 65.5 67.6 69.8 71.9 74.0
7 62.7 64.8 67.0 69.2 71.3 73.5 75.7
8 64.0 66.2 68.4 70.6 72.8 75.0 77.2
9 65.2 67.5 69.7 72.0 74.2 76.5 78.7
10 66.4 68.7 71.0 73.3 75.6 77.9 80.1
11 67.6 69.9 72.2 74.5 76.9 79.2 81.5
12 68.6 71.0 73.4 75.7 78.1 80.5 82.9
13 69.6 72.1 74.5 76.9 79.3 81.8 84.2
14 70.6 73.1 75.6 78.0 80.5 83.0 85.5
15 71.6 74.1 76.6 79.1 81.7 84.2 86.7
16 72.5 75.0 77.6 80.2 82.8 85.4 88.0
17 73.3 76.0 78.6 81.2 83.9 86.5 89.2
18 74.32 76.9 79.6 82.3 85.0 87.7 90.4
19 75.0 77.7 80.5 83.2 86.0 88.8 91.5
20 75.8 78.6 81.4 84.2 87.0 89.8 92.6
21 76.5 79.4 82.3 85.1 88.0 90.9 93.8
22 77.2 80.2 83.1 86.0 89.0 91.9 94.9
23 78.0 81.0 83.9 86.9 89.9 92.9 95.9
24 78.7 81.7 84.8 87.8 90.9 93.9 97.0
Kementrian Kesehatan RI, 2011
25

Tabel 2.3 Standar Tinggi Badan Menurut Umur (TB/U) (Anak Laki-laki Umur
24-60 Bulan)

Umur Tinggi Badan (cm)


(Bulan) -3 SD -2 SD -1 SD Median 1 SD 2 SD 3 SD
24 78.0 81.0 84.1 87.1 90.2 93.2 96.3
25 78.6 81.7 84.9 88.0 91.1 94.2 97.3
26 79.3 82.5 85.6 88.8 92.0 95.2 98.3
27 79.9 83.1 86.4 89.6 92.9 96.1 99.3
28 80.5 83.8 87.1 90.4 93.7 97.0 100.3
29 81.1 84.5 87.8 91.2 94.5 97.9 101.2
30 81.7 85.1 88.5 91.9 95.3 98.7 102.1
31 82.3 85.7 89.2 92.7 96.1 99.6 103.0
32 82.8 84.4 89.9 93.4 96.9 100.4 103.9
33 83.4 86.9 90.5 94.1 97.6 101.2 104.8
34 83.9 87.5 91.1 94.8 98.4 102.0 105.6
35 84.4 88.1 91.8 95.4 99.1 102.7 106.4
36 85.0 88.7 92.4 96.1 99.8 103.5 107.2
37 85.5 89.2 93.0 96.7 100.5 104.2 108.0
38 86.0 89.8 93.6 97.4 101.2 105.0 108.8
39 86.5 90.3 94.2 98.0 101.8 105.7 109.5
40 87.0 90.9 94.7 98.6 102.5 106.4 110.3
41 87.5 91.4 95.3 99.2 103.2 107.1 111.0
42 88.0 91.9 95.9 99.9 103.8 107.8 111.7
43 88.4 92.4 96.4 100.4 104.5 108.5 112.5
44 88.9 93.0 97.0 101.0 105.1 109.1 113.2
45 89.4 93.5 97.5 101.6 105.7 109.8 113.9
46 89.8 94.0 98.1 102.2 106.3 110.4 114.6
47 90.3 94.4 98.6 102.8 106.9 111.1 115.2
48 90.7 94.9 99.1 103.3 107.5 111.7 115.9
49 91.2 95.4 99.7 103.9 108.1 112.4 116.6
50 91.6 95.9 100.2 104.4 108.7 113.0 117.3
51 92.1 96.4 100.7 105.0 109.3 113.6 117.9
52 92.5 96.9 101.2 105.6 109.9 114.2 118.6
53 93.0 97.4 101.7 105.6 109.9 114.2 118.6
54 93.4 97.8 102.3 106.7 111.1 115.5 119.9
55 93.9 98.3 102.8 107.2 111.7 116.1 120.6
56 94.3 98.8 103.3 107.8 112.3 116.7 121.2
57 94.7 99.3 103.8 108.3 112.8 117.4 121.9
58 95.2 99.7 104.3 108.9 113.4 118.0 122.6
59 95.6 100.2 104.8 109.4 114.0 118.6 123.2
60 96.1 100.7 105.3 110.0 114.6 119.2 123.9
Kementrian Kesehatan RI, 2011
26

Tabel 2.4 Standar Tinggi Badan Menurut Umur (TB/U) (Anak Perempuan Umur
24-60 Bulan)

Umur Tinggi Badan (cm)


( Bulan) -3 SD -2 SD -1 SD Median 1 SD 2 SD 3 SD
24 76.0 79.3 82.5 85.7 88.9 92.2 95.4
25 76.8 80.0 83.3 86.6 89.9 93.1 96.4
26 77.5 80.8 84.1 87.4 90.8 94.1 97.4
27 78.1 81.5 84.9 88.3 91.7 95.0 98.4
28 78.8 82.2 85.7 89.1 92.5 96.0 99.4
29 79.5 82.9 86.4 89.9 93.4 96.9 100.3
30 80.1 83.6 87.1 90.7 94.2 97.7 101.3
31 80.7 84.3 87.9 91.4 95.0 98.6 102.2
32 81.3 84.9 88.6 92.2 95.8 99.4 103.1
33 81.9 85.6 89.3 92.9 96.6 100.3 103.9
34 82.5 86.2 89.9 93.6 97.4 101.1 104.8
35 83.1 86.8 90.6 94.4 98.1 101.9 105.6
36 83.6 87.4 91.2 95.1 98.9 102.7 106.5
37 84.2 88.0 91.9 95.7 99.6 103.4 107.3
38 84.7 88.6 92.5 96.4 100.3 104.2 108.1
39 85.3 89.2 93.1 97.1 101.0 105.0 108.9
40 85.8 89.8 93.8 97.7 101.7 105.7 109.7
41 86.3 90.4 94.4 98.4 102.4 106.4 110.5
42 86.8 90.9 95.0 99.0 103.1 107.2 111.2
43 87.4 91.5 95.6 99.7 103.8 107.9 112.0
44 87.9 92.0 96.2 100.3 104.5 108.6 112.7
45 88.4 92.5 96.7 100.9 105.1 109.3 113.5
46 88.9 93.1 97.3 101.5 105.8 110.0 114.2
47 89.3 93.6 97.9 102.1 106.4 110.7 114.9
48 89.9 94.1 98.4 102.7 107.0 111.3 115.7
49 90.3 94.6 99.0 103.3 107.7 112.0 116.4
50 90.7 95.1 99.5 103.9 108.3 112.7 117.1
51 91.2 95.6 100.1 104.5 108.9 113.3 117.7
52 91.7 96.1 100.6 105.0 109.5 114.0 118.4
53 92.1 96.6 101.1 105.6 110.1 114.6 119.8
54 92.6 97.1 101.6 106.2 110.7 115.2 119.8
55 93.0 97.6 102.2 106.7 111.3 115.9 120.4
56 93.4 98.1 102.7 107.3 111.9 116.5 121.1
57 93.9 98.5 103.2 107.8 112.5 117.1 121.8
58 94.3 99.0 103.7 108.4 113.0 117.7 122.4
59 94.7 99.5 104.2 108.9 113.6 118.3 123.1
60 95.2 99.9 104.7 109.4 114.2 118.9 123.7
Kementrian Kesehatan RI, 2011
27

Tabel 2.5 Standar Panjang Badan Menurut Umur (TB/U) (Anak Perempuan Umur
0-24 Bulan)

Umur Panjang Badan (cm)


(Bulan) -3 SD -2 SD -1 SD Median 1 SD 2 SD 3 SD
0 43.6 45.4 47,3 49.1 51.0 52.9 54.7
1 47.8 49.8 51.7 53.7 55.6 57.6 59.5
2 51.0 53.0 55.0 57.1 59.1 61.1 63.2
3 53.5 55.6 57.7 59.8 61.9 64.0 66.1
4 55.6 57.8 59.9 62.1 64.3 66.4 68.6
5 57.4 59.6 61.8 64.0 66.2 68.5 70.7
6 58.9 61.2 63.5 65.7 68.0 70.3 72.6
7 60.3 62.7 65.0 67.3 69.6 71.9 74.2
8 61.7 64.0 66.4 68.7 71.1 73.5 75.8
9 62.9 65.3 67.7 70.1 72.6 75.0 77.4
10 64.1 66.5 69.0 71.5 73.9 76.4 78.9
11 65.2 67.7 70.3 72.8 75.3 77.8 80.3
12 66.3 68.9 71.4 74.0 76.6 79.2 81.7
13 67.3 70.0 72.6 75.2 77.8 80.5 83.1
14 68.3 71.0 73.7 76.4 79.1 81.7 84.4
15 69.3 72.0 74.8 77.5 80.2 83.0 85.7
16 70.2 73.0 75.8 78.6 81.4 84.2 87.0
17 71.1 74.0 76.8 79.7 82.5 85.4 88.2
18 72.0 74.9 77.8 80.7 83.6 86.5 89.4
19 72.8 75.8 78.8 81.7 84.7 87.6 90.6
20 73.7 76.7 79.7 82.7 85.7 88.7 91.7
21 74.5 77.5 80.6 83.7 86.7 89.8 92.9
22 75.2 78.4 81.5 84.6 87.7 90.8 94.0
23 76.0 79.2 82.3 85.5 88.7 91.9 95.0
24 76.7 80.0 83.2 86.4 89.6 92.9 96.1
Kementrian Kesehatan RI, 2011

2.3 Konsep Prtumbuhan dan Perkembangan

2.3.1 Pengertian Pertumbuhan dan Perkembangan

Pertumbuhan (growth) adalah perubahan yang bersifat kuantitatif, yaitu

bertambahnya jumlah, ukuran, dimensi pada tingkat sel, organ, maupun individu.

Anak tidak hanya tumbuh besar secara fisik, melainkan juga ukuran dan struktur

organ-organ tubuh dan otak (Soetjiningsih, 2012)

Perkembanngan (development) adalah bertambah kemampuan (skill)

dalam struktur fungsi alat tubuh yang dapat dicapai melalui tingkat kematangan
28

dan belajar. Perkembangan pada anak bisa terjadi pada perubahan bentuk dan

fungsi pematangan organ, mulai dari aspek social, emosional, hingga intelektual

(Mahayu, 2016).

2.3.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Tumbuh Kembang

Secara umum terdapat dua faktor utama yang berpengaruh pada proses

tumbuh kembang anak, yaitu Mahayu (2016) :

1. Faktor Genetik

Faktor genetic merupakan modal dasar dalam mencapai hasil akhir

proses tumbuh kembang anak. Faktor ini juga merupakan faktor bawaan

anak, yaitu potensi anak yang menjadi cirri khasnya. Melalui genetic yang

terkandung di dalam sel telur yang telah dibuahi, dapat ditentikan kualitas

dan kuantitas pertumbuhan. Ditandai dengan intensitas dan kecepatan

pembelahan, derajat sensitivitas jaringan terhadap rangsanga, umur

pubertas dan berhentinya pertumbuhan tulang.

2. Faktor Lingkungan

Lingkungan merupakan faktor yang sangat menentukan tercapainya

atau tidakna potensi bawaan. Faktor ini disebut juga milieu merupakan

tempat anak tersebut hidup, dan berfungsi sebagai penyedia kebutuhan

dasar anak. Lingkungan yang cukup baik akan memungkinkan tercapainya

potensi bawaan, sedangkan yang kurang baik akan menghambatnya. Anak

yang memiliki pola pertumbuhan dan perkembangan normal merupakan

hasil interaksi banyak faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan


29

perkembangan. Lingkungan secara garis besar, faktor lingkungan dibagi

menjadi Mahayu (2016) :

a. Lingkungan Pranatal

Faktor lingkungan prenatal yang berpengaruh terhadap tumbuh

kembang anak, antara lain :

1) Gizi ibu pada waktu hamil

2) Mekanis (trauma dan cairan ketuban yang kurang, posisi janin

dalam uterus dapat kelainan bawaan, talipes, dislokasi panggul,

tortikolis congenital, palsi fasialis, atau kranio tabes).

3) Toksin/ zat kimia.

4) Endokrin (komdisi hormone-hormon yang mungkin berperan

pada pertumbuhan janin, seperti somatotropon, tiroid, insulin,

hormone plasenta, peptide-peptida lainnya dengan aktivitas mirip

insulin).

5) Radiasi.

6) Infeksi.

7) Stress

8) Kelainan omunitas.

9) Anoreksia embrio.

b. Lingkungan Posnatal

Adapun lingkungan postnatal yang mempengaruhi tumbuh kembang

anak adalah sebagai berikut Mahayu (2016) :


30

1) Lingkungan biologis (ras/suku bangsa, jenis kelamin, umur, gizi,

perawatan kesehatan, kepekaan terhadap penyakit, penyakit

kronis, fungsi metabolism, dan hormon).

2) Faktor fisik (cuaca, musim, keadaan geografis suatu daerah,

sanitasi, keadaan rumah, baik dari struktur bangunan, ventilasi,

cahaya dan kepadatan hunian, serta radiasi).

3) Faktor psikososial

4) Faktor keluarga dan adat istiadat (pekerjaan/pendapatan keluarga,

pendidikan ayah/ibu, kenis kelamin dalam keluaraga, kehidupat

politik dalam masyarakat yang mempengaruhi prioritas

kepentingan anak, anggaran, dan lain-lain).

Menurut Andriana (2011) ada beberapa faktor yang mempengaruhi

pertumbuhan dan perkembangan anak yaitu:

1. Faktor Internal

Berikut adalah faktor-faktor internal yang berpengaruh pada tumbuh

kembang anak

a. Ras/etnik atau bangsa

Anak yang dilahirkan dari ras/ bangsa Amerika tidak memiliki faktor

herediter ras/ bangsa Indonesia atau sebaliknya.

b. Keluarga

Ada kecenderungan keluarga yang memiliki postur tubuh tinggi,

pendek, gemuk atau kurus.


31

c. Umur

Kecepatan pertumbuhan yang pesat adalah pada masa prenatal, tahun

pertama kehidupan dan masa remaja.

d. Jenis Kelamin

Fungsi reproduksi pada balita perempuan berkembang lebih cepat

daripada laki-laki. Akan tetapi setelah melewati mmasa pubertas,

pertumbuhan anak laki-laki akan lebih cepat.

e. Genetik

Genetik (heredokonstitusional) adalah bawaan anak yaitu potensi anak

yang akan menjadi cirri khasnya. Ada beberapa kelainan genetik yang

berpengaruh pada tumbuh kembang anak, contohnya seperti kerdil.

f. Kelainan Kromosom

Kelainan kromosom umumnya disertai dengan kegagalan

pertumbuhan seperti pada sindroma Down’s dan sindroma Turner’s.

2. Faktor Eksternal

Berikut ini adalah faktor-faktor eksternal yang berpengaruh pada tumbuh

kembang anak.

a. Faktor Prenatal

1) Gizi

Nutrisi ibu hamil terutamaa pada trimester akhir kehamilan akan

mempengaruhi pertumbuhan janin.


32

2) Mekanis

Posisi fetus yang abnormal bisa menyebabkan kelainan congenital

seperti club foot.

3) Toksin/Zat kimia

Beberapa obat-obatan seperti Aminopterin atau Thalidomid dapat

menyebabkan kelainan congenital seperti palatoskisis.

4) Endokrin

Diabetes militus dapat menyebabkan makrosomia,kardimegali

dan hyperplasia adrenal.

5) Radiasi

Paparan radiasi dan sinar Rontgen dapat mengakibatkan kelainan

pada janin seperti mikrosefali, spina bifida, retardasi mental dan

deformitas anggota gerak, kelainan congenital mata,serta kelainan

jantung.

6) Infeksi

Infeksi pada trimester pertama dan kedua oleh TORCH

(Tokslopasma, Rubella, Citimegalo virus, Herpes simpleks) dapat

menyebabkan kelainan pada janin seperti katarak, bisu, tuli,

mikrisefali, retardasi mentak dan kelainan jantung congenital.

7) Kelainan Imunologi

Eritoblastosis fetalis timbul atas dasar perbedaan golongan darah

antara janin dan ibu sehingga ibu membentuk antibody terhadap

sel darah merah janin, kemudian melalui plasenta masuk ke dalam


33

peredaran darah janin dan akan menyebabkan hemolisis yang

selanjutnya mengakibatkan hiperbilurubinemia dan kernikterus

yang akan menyebabkan kerusakan jaringan otak.

8) Anoksia Embrio

Anoksia embrio yang disebabkan oleh gangguan fungsi plasenta

menyebabkan pertumbuhan terganggu.

9) Psikologi ibu

Kehamilan yang tidak diinginkan serta perlakuan salah atau

kekerasan mental pada ibu hamil dan lain-lain.

b. Faktor Persalinan

Komplikasi persalinan pada bayi seperti trauma kepala, asfiksia dapat

menyebabkan kerusakan jaringan otak.

c. Faktor pascapersalinan

1) Gizi

Untuk tumbuh kembang bayi diperlukan zat makanan yang

adekuat.

2) Penyakit kronis atau kelainan congenital

Tuberkolosisi, anemia dan kelainan jantung bawaan

mengakibatkan retardasi pertumbuhan jasmani.

3) Lingkungan fisik dan kimia

Lingkungan yang sering disebut melieu adalah tempat anak

tersebut hidup yang berfungsi sebagai pentedia kebutuhan dasar

anak (provider). Sanitasi lingkungan yang kurng baik, kurangnya


34

sinar matahari, paparan sinar radioaktif dan zat kimia tertentu (Pb,

merkuri, rokok dan lain-lain) mempunyai dampak yang negatif

terhadap pertumbuhan anak.

4) Psikologis

Hubungan anak dengan orang sekitarnya. Seorang anak yang

tidak dikehendaki oleh orang tuanya atau anak yang selalau

merasa tertekan, akan mengalami hambatan didalam pertumbuhan

dan perkembangannya.

5) Endokrin

Gangguan hormone, misalnya pada penyakkit hipotiroid akan

menyebabkan anak mengalami hambatan pertumbuhan.

6) Sosio ekonomi

Kemiskinan selalu berkaitan dengan kekurangan makanan serta

kesehatan lingkungan yang jelek dan ketidaktahuan hal tersebut

menghambat pertumbuhan anak.

7) Lingkungan Pengasuhan

Pada lingkungan pengasuhan interaksi ibu dan anak sangat

mempengaruhi tumbuh kembang anak.

8) Stimulasi

Perkembangan memerlukan rangsangan atau stimulasi khususnya

dalam keluarga mislnya penyediaan mainan, sosialisasi anak serta

keterlibatan ibu dan anggota keluarga lain terhadap kegiatan anak.


35

9) Obat-obatan

Pemakaian Kortikosteroid jangka panjang akan menghambat

pertumbuhan demikian halnya dengan pemakaian obat

perangsang terhadap susuan saraf yang menyebabkan

terhambatnya produksi.

2.3.3 Ciri-ciri Tumbuh Kembang Balita

Tumbuh- kembang merupakan suatu proses utama yng hakiki dan khas

pada anak, dan merupakan sesuatu yang terpenting pada anak tersebut. Tumbuh-

kembang anak ini terutama mempunyai ciri-ciri antara lain (Maryunani, 2010) :

1. Bahwa manusia itu bertumbuh dan berkembang sejak dalam rahim

sebagian janin, akan berlanjut dengan proses tumbuh kembang anak, dan

kemudian proses tumbuh-kembang dewasa.

2. Dalam periode tertentu, terdapat adanya periode percepatan atau periode

perlambatan, antara lain :

a. Pertumbuhan cepat terdapat pada masa janin.

b. Pertumbuhan yang cepat sekali terjadi dalam tahun pertama. Yang

kemudian secara berangsur-angsur berkurang sampai usia 3- 4 tahun.

c. Pertumbuhan berjalan lamban dan teratur sampai masa akil baik.

d. Kemudian pertumbuhan cepat kembali pada masa akil baik (12- 16

tahun).

e. Selanjutnya pertumbuhan kecepatannya secara berangsur- angsur

berkurang sampai suatu waktu (sekitar usia 18 tahun berhenti).


36

3. Terdapat adanya laju tumbuh- kembang yang berlainan di antara organ-

organ.

4. Tumbuh-kembang merupakan suatu proses yang dipengaruhi oleh dua

faktor penentu, yaitu faktor genetik yang merupakan faktor bawaan, yang

menunjukkan potensi anak dan faktor lingkungan, yang merupakan faktor

yang menentukan apakah faktor genetik (potensi) anak akan tercapai.

5. Pola perkembangan anak mengikuti arah perkembangan yang disebut

sefalokaudal (dari arah kepala kemudian ke kaki) dan prolsomal- distal

(menggerakkan anggota gerak yang paling dekat dengan pusat, kemudian

baru yang jauh).

6. Pola perkembangan anak sama pada setiap anak, tetapi kecepatannya

berbed- beda.

2.4 Konsep Balita

2.4.1 Pengertian Balita

Balita adalah individu atau sekelompok dari suatu penduduk yang berada

dalam rentang usia tertentu. Usia balita dapat dikelompokkam menjadi tiga

golongan usia bayi (0-2 tahun), golongan batita (2-3 tahun), dan golongan pra

sekolah (> 3-5 tahun) (Merryana, dkk, 2012). Adapun menurut WHO. Kelompok

balita adalah 0-60 bulan. Sumber lain mengatakan bahwa usia balita adalah 1-5

tahun.

2.4.2 Perkembangan dan Pertumbuhan Balita

Adapun pertumbuhan dan pekembangan yang terjadi saat usia balita

(Andriani, dkk, 2012) :


37

1. Usia 12-18 bulan

a. Perkembangan Fisik dan mental

1) Berjalan sendiri tanpa jatuh.

2) Berjalan dan mengeksplorasi sekeliling rumah.

3) Menyususn 2-3 kotak.

4) Memungut benda kecil seperti kacang dengan ibu jari dan

telunjuk.

5) Minum sendiri dari gelas tanpa tumpah.

6) Dapat mengatakan 5-10 kata.

7) Mengungkapkan keinginan secara sederhana.

8) Memperlihatkan rasa cemburu dan bersaing.

b. Stimulasi dini di rumah

1) Latih anak naik turun tangga.

2) Bermain dengan anak, menunjukkan cara menangkap bola besar

dan melemparkannya kembali kepada anda.

3) Latih anak menyebut nama bagian tubuh, dengan menunjukkan

bagian tubuh anak, menyebut namanya dan usahakan agar dia

mau menyebutnya kembali.

4) Beri kesempatan kepada anak untuk melepas pakaiannya sendiri.

c. Hal penting yang perlu diketahui:

1) Ukur LILA sekurang-kurangnya satu kali pada umur 18 bulan.

2) Timbang berat badan tiap bulan.

3) Minta kapsul Vitamin A setiap bulan Februari dan Agustus.


38

4) Perhatikan kesehatan gigi anak:

a) Dapat mulai belajar menyikat gigi dibantu ibu dari belakang.

b) Gunakan pasta gigi mengandung fosfor yang tidak manis.

c) Sikat gigi dua kali sehari sesudah sarapan dan sebelum tidur.

d) Hindari makanan yang lengket dan manis (permen atau

coklat) diantara waktu makan.

5) Pemberian makan sehat pada nak:

a) Anak tetap diberi ASI, ASI diberikan sebelum pemberian

MP-PASI.

b) Anak mulai diberi makanan keluarga sesuai gizi seimbang

dengann jumlah setengah porsi orang dewasa, sebanyak tiga

kali sehari.

c) Makanan selingan bergizi tetap diberikan sebanyak 1-2 kali

sehari, seperti kue bolu pandan, kue lapis, biscuit, arem-arem.

d) Beri buah-buahan segar atau sari buah.

2. Usia 18-24 bulan

a. Perkembangan fisik dan mental :

1) Naik turun tangga.

2) Berjalan mundur sedikitnya lima langkah.

3) Menyusun enam kotak.

4) Menunjukkan bagian tubuh dan menyebut namanya.

5) Mencoret-coret dengan alat tulis.

6) Menyusun dua kata.


39

7) Belajar makan sendiri.

8) Meniru melakukan pekerjaan rumah tangga, misalnya membantu

menyiapkan meja makan.

9) Menggambar garis di kertas atau pasir.

10) Mulai belajar mengontrol buan air besar dan buang air kecil.

11) Menaruh minat terhadap apa yang dikerjakan orang yang lebih

dewsa.

12) Memperlihatkan minat kepada anak lain dan bermain dengan

mereka.

b. Stimulasi dini di rumah :

1) Latih kesimbangan tubuh anak dengan cara berdiri pada satu kaki

secara bergantian.

2) Latih anak menggambar bulatan, garis, segitiga dan gambar

wajah.

3) Latih anak agar mau menceritakan apa yang tadi dilihatnya.

4) Latih anak dalam hal menceritakan diri seperti : buang air kecil

dan buang air besaar pada tempatnya, namun jangan terlalu ketat.

c. Hal penting yang perlu diketahui:

1) Ukur LILA sekurang-kurangnya satu kali pada umur 24 bulan.

2) Minta kapsul Vitamin A setiap bulan februari dan Agustud.

3) Timbang berat badan tiap bulan.

4) Perhatikan kesehatan gigi anak :

a) Gigi susu lengkap (20 buah) pada umur 24 bulan.


40

b) Anak dibiasakan sikat gigi dibantu ibu.

c) Bila ada kerusakan gigi anak, segera ke Puskesmas.

5) ASI tetap diberikan sampai anak umur dua tahun. Beri anak

makanan keluarga sesuai gizi seimbang sebanyak tiga kali sehari.

3. Usia 2-3 tahun

a. Perkembangan fisik dan mental :

1) Belajar meloncat, memanjat, melompat dengan satu kaki tanpa

berpegangan sedikitnya dua hitungan.

2) Membuat jembatan dengan tiga kotak.

3) Mampu menyusun kalimat.

4) Menggunakan kata saya, bertanya, mengerti kata yang ditujukan

untuk/ untuknya.

5) Menggambar lingkaran.

6) Meniru membuat garis lurus.

7) Bermain bersama dengan anak lain dan menyadari adanya

lingkungan lain di luar keluarganya.

b. Stimulasi dini di rumah :

1) Latih anak melompat dengan satu kaki.

2) Latih anak menyusun dan menumpuk balok.

3) Latih anak mengenal bentuk dan warna.

4) Latih anak dlam hal kebersihan diri seperti cuci tangan dan kaki

serta mengeringkan sendiri.


41

c. Hal penting yang perlu diketahui :

1) Ukur LILA sekurang-kurangnya satu kali pada umur tiga tahun.

2) Timbang berat badan tiap bulan.

3) Minta kapsul Vitamin A setiap bulan Februari dan Agustus.

4) Perhatikan kesehatan gigi anak.

5) Cara menyikat gigi :

a) Kumur-kumur sebelum menyikat gigi. Siapkan sikat gigi

kecil dan pasta gigi yang mengandung fosfor

b) Sikat permukaan gigi yang mengahdap langit-langit atau

lidah.

c) Sikat permukaan gigi yan mengahadap pipi dan bibir.

d) Sikat permukaan gigi yang di pakai untuk mengunyah.

6) Pemberian makanan dengan gizi seimbang pada anak umur 2-3

tahun :

a) Anak berangsur-angsur disapih, dengan memberikan susu

sapi atau susu formula sebanyak dua kali sehari.

b) Anak diberi makanan keluarga beraneka ragam sesuai dengan

gizi seimbang sebanyak tiga kali.

c) Makanan selingan begizi tetap diberikan sebanyak 1-2 kali

sehari.

d) Beri buah-buahan segar.


42

4. Usia 3-4 tahun

a. Perkembang fisik dan mental :

1) Berjalan sendiri mengunjungi tetangga.

2) Berjalan pada jari kaki.

3) Belajar berpakaian dan membuka pakaian sendiri.

4) Menggambar garis silang.

5) Menggambar orang hanya kepala dan badan.

6) Mengenal 2-3 warna.

7) Menyebut namanya, jenis kelamin dan umur.

8) Banyak bertanya

9) Mendengarkan cerita.

10) Bermain dengan anak lain.

11) Dapat melakukan tugas-tugas sederhana.

b. Stimulasi dini di rumah :

1) Beri kesempatan agar anak dapat melakukan hal yang

diperkirakan mampu dia kerjakan, misalnya melompat dengan

satu kaki.

2) Latih anak cara memotong atau menggunting gambar-gmbar.

Mulai dengan gambar besar.

3) Latih anak mengancingkan kancing baaju.

4) Latih anak dalam sopan santun, misalnya berterima kasih,

mencium tangan dan sebagainya.


43

c. Hal penting yang perlu diketahui :

1) Ukur LILA sekurang-kurangnya satu kali pada umur empat tahun.

2) Timbang berat badan tiap bulan.

3) Periksa ke petugas kesehatan “apabila anak anda sakit”.

4) Minta kapsul Vitamin A setiap bulan Februari dan Agustus.

5) Teruskan mengawasi dan membimbing anak dalam memelihara

kesehatan gigi.

6) Hindari kebiiasaan buruk (mengisap jempol), makan permen,

cokelat.

7) Teruskan pemberian makanan keluarga, makanan selingan

bergizi, dan buah-buahan segar.

5. Usia 4-5 tahun

a. Perkembanga fisik dan mental :

1) Melompat dan menari.

2) Menggambar orang terdiri dari kepala, lengan, dan badan.

3) Menggambar segitiga dan segiempat.

4) Pandai berbicara.

5) Dapat menghitung jari-jarinya.

6) Dapat menyebut hari dalam satu minggu.

7) Mendengar dan mengulang hal penting dan bercerita.

8) Minat kepada katabaru dan artinya.

9) Memprotes bila dilarang apa yang diinginkan.

10) Mengenal empat warna.


44

11) Memperkirakan bentuk dan besarnya benda, membedakan besar

dan kecil.

12) Minat kepada aktivitas orang dewasa.

b. Stimulasi dini dirumah :

1) Beri kesempatan agar anak dapat melakukan hal yang

diperkirakan mampu dia kerjakan, misalnya main engkleng,

lompat tali dan sebagainya.

2) Melatih anak melengkapi gambar misalnya menggambar baju

pada gambar orang atau menggambar pohon, bunga pada gambar

rumah, an sebagainya.

3) Ajak anak dalam aktifitas keluarga seperti berbelanja ke pasar,

memasak, membetulkan mainan.

c. Hal penting yang perlu diketahui :

1) Ukur LILA sekurang-kurangnya satu kali pada umur lima thun.

2) Timbang berat badan tiap bulan.

3) Teruskan mengawasi membimbing anak dalam memelihara

kesehatan gigi dan memeriksa gigi dan memeriksa kesehatan gigi

atau mulut secara teratur.

4) Teruskan pemberian makanan keluarga beraneka ragam sesuai

dengan gizi seimbang, makanan selingan bergizi, dan buah-

buahan yang segar.


BAB 3

KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS

3.1 Kerangka Konsep

Faktor yang Mempengaruhi Stunting

Faktor Langsung Stunting:


1. Asupan Gizi
2. Penyakit Infeksi

Faktor tidak langsung Stunting:


1. Ketersediaan pangan
2. Status gizi ibu saat hamil, Hb Stunting Balita
3. Berat badan lahir rendah
4. Panjang badan lahir
5. ASI eklusif
6. MP-ASI

Keterangan:

: Hubungan

: Faktor yang tidak diteliti

: Faktor yang diteliti

Gambar 3.1 Kerangka Konsep Penelitian

Menjelaskan bahwa ada faktor yang menyebabkan terjadinya stunting pada

anak usia 1-3 bulan yaitu faktor langsung dan faktor tidak langsung. Faktor

langsung terdiri dari asupan gizi dan penyakit infeksi sedangkan faktor tidak

langsung terdiri dari kesedian pangan, status gizi ibu, berat badan lahir rendah,

Panjang badan lahir, ASI eklusif dan MPP-ASI. Salahsatu faktor risiko yang

mempengaruhi kejadian stunting pada anak balita adalah status gizi ibu saat hamil

yang terkena KEK ataupun anemia. Status gizi dan kesehatan ibu pada masa pra-

45
46

hamil, saat kehamilan dan saat menyusui merupakan periode yang sangat kritis

bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Atas dasar tersebut, maka peneliti

ingin meneliti apakah ada hubungan riwayat anemia kehamilan dengan kejadian

stunting pada balita di Desa Ketandan Dagangan Madiun.

3.2 Hipotesis Penelitian

Hipotesis merupakan jawaban sementara penelitian, patokan dugaan, atau

dalil sementara, yang kebenarannya akan dibuktikan dalam penelitian tersebut

(Notoatmodjo, 2010). Hipotesis dari penelitian ini adalah :

H1 : Ada hubungan riwayat anemia kehamilan dengan kejadian stunting pada

balita di Desa Ketandan Dagangan Madiun.


BAB 4

METODOLOGI PENELITIAN

4.1 Desain Penelitian

Jenis penelitian ini termasuk penelitian kuantitatif yaitu penelitian dengan

memperoleh data yang berbentuk angka atau data kualitatif yang diangkakan

(Sugiyono, 2013). Desain penelitian ini menggunakan case control bahwa

penelitian ini akan menghubungkan kasus stunting pada ibu saat kehamilan apa

ada riwayat anemia atau tidak. Dengan skema studi kasus kontrol di bawah ini:

Riwayat Anemia
Kehamilan (+)
Kasus:
Riwayat Anemia Stunting (+)
Kehmilan (-)

Balita
Riwayat Anemia
Kehamilan (+)
Kontrol:
Stunting (-)
Riwayat Anemia
Kehamilan (-)

Gambar 4.1 Skema Rancangan Studi Kasus Kontrol

4.2 Populasi dan Sampel

4.2.1 Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah balita di 5 posyandu di Desa

Ketandan Kecamatan Dagangan Kabupaten Madiun yaitu Posyandu Ketandan,

Sidodadi, Njeles, Nguren dan Ndeles sebanyak 287 balita.

47
48

4.2.2 Sampel

Besaran sampel dalam penelitian ini adalah balita yang stunting dan

ibunya yang tercatat dalam register KIA sesuai criteria eklusi. Besar sampel ini

diambil menggunakan rumus sebagai berikut:

𝛼
{𝑧 2 + 𝑧𝛽 √𝑝𝑞 } ²
𝑛=
[𝑝 − 1⁄2]²

𝑅
P =1+𝑅

3,2
P =1+3,2 = 0,76

Q = 1-P = 1-0,76 =0,24

Besar sampel Kasus :

n= (N.𝑧 2 p.q ) /(𝑑2 (N-1)+𝑧 2 .p.q)

= 43 (1,96)² 0,76.0,24) /(0,1²(43-1)+1,96².0,76.0,24)

= 30,13/0,01 (42)+ 0,70

= 30,13/1,12

= 26,9

= 27

Besar sampel kontrol

n= (N.z² p.q ) / ( d² (N-1) + z².p.q)

= 244 (196)².0,76.0,24) / (0,1²(244-1)+1,96².0,76.0,24

= 170,97 / (0,01 (243)+ 0,70

=170,97/ 3,13

=54,6

= 55
49

Keterangan:

N : Besar Populasi

n : Jumlah sampel

Z1-α/2 : derajat kepercayaan (confidense Interval) 95% atau α sebesar 5%

Z1-β : nilai Z pada kekuatan uji (power test) 1-β sebesar 80%= 0,0842

P : proporsi efek pada kelompok dengan faktor risiko (ditetapkan

peneliti)

d : Tingkat kesalahan yang dipilih (d=0,1)

OR : 3,2 (diambil dari penelitian sebelumnya)

Hasil perhitungan dengan rumus diatas diperoleh sampel minimum untuk

penilitian ini adalah 27 sampel. Jadi, jumlah sampel kasus dalam penelitian ini

adalah 27 balita. Rasio kasus dan control adalah 1:2. Jadi, total sampel menjadi 82

responden, yang terdiri dari 27 kasus dan 55 kontrol. Teknik sampling yang

digunakan dalam pengambilan sampel yaitu menggunakan simple random

sampling yaitu peneliti melakukan pengukuran dengan TB/U dan BB/U pada

balita.

4.3 Kriteria Kasus dan Kontrol

Kriteria kasus dan kontrol

1. Kriteria kasus

a. Kriteria inklusi

Responden adalah balita stunting dan ibunya yang tercatat dalam

register KIA di Desa Ketandan Dagangan Madiun.


50

b. Kriteria ekslusi

Responden tidak berada di tempat sewaktu penelitian

2. Kriteria kontrol

a. Kriteria inklusi

Responden adalah balita yang memiliki status gizi yang normal yang

tercatat dalam register KIA di Desa Ketandan Dagangan Madiun.

b. Kriteria eksklusi

Responden tidak berada di tempat sewaktu penelitian.

4.4 Teknik Pengambilan Sampling

Teknik pengambilan sampel pada penlitian ini adalah probality sampling

yaitu teknik pengambilan sampel yang tidak memberikan peluang atau

kesempatan yang sama bagi setiap unsur populasi untuk dipilih menjadi anggota

sampel (Sugiyono, 2013). Metode yang digunakan dalam pengambilan sampel

yaitu menggunakan metode simple random sampling. Karena ketidaktersedian

data stunting maka peneliti akan melakukan pengukuran dengan TB/U dan BB/U

pada balita untuk ditetapkan sebagai stunting dengan rumus z skor, bila diketahui

seorang balita pada pengukuran pertama stunting maka akan diambil sebagai

sampel bila pada pengukuran kedua tidak di temukan stunting maka tidak di ambil

sebagai stunting begitu juga dengan pengukuran berikutnya.


51

4.5 Kerangka Kerja Penelitian

Adapun kerangka kerja penelitian sebagai berikut:

Populasi
Seluruh balita di Desa Ketandan Dagangan Madiun sebanyak 287 anak

Sampel
Sebagian balita di Desa Ketandan Dagangan Madiun sebanyak 82 anak

Sampling
Simple random sampling

Desain Penelitian
Desain penelitian ini adalah analitik dengan pendekatan
Case control study

Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan yaitu data kasus anemia pada ibu hamil dan
kejadian stunting di Desa Ketandan Dagangan Madiun

Pengolahan Data
Uji Chi-squaredengan SPSS for windows vers 16

Penyajian hasil dan pelaporan berupa tabel distribusi frekuensi

Gambar 4.2 Kerangka Kerja Penelitian


52

4.6 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional

4.6.1 Variabel Penelitian

Variabel dalam penelitian ini mencakup dua variabel yaitu variabel

dependen dan variabel independen.

1. Variabel Independen

Variabel independen dalam penelitian ini adalah riwayat anemia

kehamilan.

2. Variabel Dependen

Variabel dependen dalam penelitian ini adalah Kejadian stunting pada

balita.

4.6.2 Definisi Operasional

Adapun definisi operasional penelitian ini sebagai berikut:

Tabel 4.1 Definisi Operasional

Definisi
Variabel Parameter Alat ukur Skala Hasil Ukur
operasional
Riwayat Riwayat kondisi Rerata kadar Lembar Nominal 0= Anemia
Anemia kadar Hb darah Hb ibu pada Observasi (<11gr%)
Kehamilan pada saat ibu saat hamil KMS 1= Tidak
melahirkan anak kurang dari Anemia
kurang dari 11gr% (11gr%)
11gr%
Stunting Keterlambatan TB/U <-2 Z- Lembar Nominal 0= Stunting
pertumbuhan score Observasi (<-2 SD)
pada balita. Antropometri 1= Tidak
TB/U Stunting
(>- 2 SD)
53

4.7 Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti

dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih

baik (cermat, lengkap, dan sistematis) sehingga lebih mudah diolah (Saryono dan

Mekar, 2013).Instrumen pada penelitian ini adalah lembar observasi berupa

kuesioner.

Instrumen pada penelitian ini untuk menentukan data stunting maka

peneliti melakukan pengukuran indeks antropometri yang digunakan untuk

pengukuran TB/U dengan menggunakan alat ukur mikrotaise sedangkan BB/U

menggunakan timbangan yang dinyatakan dengan standar deviasi unit z (Z-

score). Untuk menentukan data tentang riwayat anemia peneliti menggunakan

lebar observasi kadar Hb pada ibu melalui data KMS.

4.8 Waktu dan Tempat Penelitian

4.8.1 Waktu

Penelitian ini dilaksanakan di Desa Ketandan Dagangan Madiun. Waktu

penelitian dan pengumpulan data dilaksanakan pada bulan Desember 2017- Juli

2018 di Desa Ketandan Dagangan Madiun

4.8.2 Tempat

Penelitian ini telah dilakukan di Desa Ketandan Dagangan Madiun.


54

4.9 Prosedur Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini prosedur pengumpulan data yang ditetapkan adalah

sebagai berikut :

1. Mengurus surat ijin penelitian dengan membawa surat dari Stikes Bhakti

Husada Mulia Madiun, kemudian ditujukan kepada BANKESBANGPOL

Madiun, setelah diijinkan dilanjutkan ke Dinas Kesehatan Madiun.

2. Setelah mendapat ijin dari Dinas Kesehatan Madiun, surat ijin ditujukan

kepada Kepala Puskesmas Dagangan dan kemudian di arahkan ke Desa

Ketandan.

3. Peneliti bekerjasama dengan bidan Desa Ketandan.

4. Setelah semua surat izin penelitian sudah didapatkan, peneliti datang

secara langsung ke Posyandu Ketandan, Sidodadi, Njeles, Kenet dan

Nguren

5. Selanjutnya peneliti memilih responden sesuai kriteria inklusi dan kriteria

eksklusi.

6. Peneliti memberikan penjelasan kepada calon responden tentang tujuan

penelitian, manfaat dan prosedur peneliti.

7. Bersedia menjadi responden dipersilahkan untuk menandatangani lembar

persetujuan (Lembar Inform Consent).

4.10 Analisis Data

Analisis data merupakan kegiatan setelah data dari seluruh responden atau

sumber data lain terkumpul. Kegiatan dalam analisis data adalah

mengelompokkan data berdasarkan variabel dan jenis responden mentabulasikan


55

data berdasarkan variabel dari seluruh responden, menyajikan data tiap variabel

yang diteliti dan melakukan perhitungan untuk menjawab rumusan masalah

(Sugiyono, 2013). Analisis data kuantitatif dilakukan dengan metode tertentu

yaitu:

1. Analisis Univariat

Pada analisis univariat, data yang diperoleh dari hasil pengumpulan dapat

disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi, ukuran tendensi sentral

atau grafik (Saryono dan Mekar, 2013).Pada penelitian ini analisis

univariat dilakukan dengan menggunakan tabel distribusi frekuensi

terhadap masing-masing variabel yaitu Riwayat Anemia Kehamilan

dengan Stunting.

a. Distribusi frekuensi

Suatu uraian atau ringkasan yang dapat dibuat dalam bentuk tabel

suatu kelompok data yang menunjukkan sebaran data observasi dalam

beberapa kelas.

b. Ukuran Tendensi Sentral

Data yang dianalisis Jenis tendensi sentral adalah mean (rata-rata),

median (nilai tengah), modus (nilai yang sering muncul). Data yang

dianalisis merupakan data numerik yang berskala nominal dan

nominal. Di dalam penelitian data yang dianalisis tendensi sentral

adalah riwayat anemia kehamilan dan stunting.


56

2. Analisis Bivariat

Analisis bivariat merupakan analisis untuk mengetahui interaksi dua

variabel, baik berupa komparatif, asosiatif maupun korelatif (Saryono dan

Mekar, 2013). Dalam penelitian ini analisis bivariat dilakukan untuk

mengetahui Hubungan Riwayat Anemia Kehamilan terhadap Kejadian

Stunting pada Balita di Desa Ketandan Dagangan Madiun tahun 2018.

Pengolahan analisis bivariat dilakukan dengan menggunakan bantuan

komputerisasi. Uji statistik yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji

Chi-square adalah mencari hubungan atau pengaruh variabel bebas (X)

dengan Variabel terikat (Y) dan data berbentuk nominal. Pada tabulasi

silang akan dicari nilai OR (Odds Ratio) untuk mengetahui asosiasi

paparan (faktor risiko) dengan kejadian penyakit; dihitung dari angka

kejadian penyakit pada kelompok berisiko (terpapar faktor risiko)

dibanding angka kejadian penyakit pada kelompok yang tidak berisiko

(tidak terpapar faktor risiko). Untuk mengetahui terdapat pengaruh atau

tidak dapat dilihat dari nilai signifikan (Sujarweni, 2015).

a. Jika Sig > 0,05 maka H0 diterima, tidak ada Hubungan Riwayat

Anemia Kehamilan pada Ibu terhadap Kejadian Stunting pada Balita

di Desa Ketandan Dagangan Madiun.

b. Jika Sig < 0,05 maka H0ditolak, ada Hubungan Riwayat Anemia

Kehamilan pada Ibu terhadap Kejadian stunting pada Balita di Desa

Ketandan Dagangan Madiun.


57

c. Perhitungan Odds Ratio

1) Odds Stunting (+) pada kelompok factor resiko (+) = a/b

2) Odds Stunting (-) pada kelompok factor resiko (-) = c/d

3) OR/Odds Ratio = (a/c) : (b/d)= ad/bc

d. Interpretasinilai OR

1) OR ≤ 1 : Faktor resiko berhubungan negative dengan kejadian

stunting

2) OR= 1 : Tidak ada faktor yang berhubungan dengan kejadian

stunting

3) OR≥1 : Faktor resiko berhubungan positif dengan kejadian

stunting

4.11 Etika Penelitian

1. Inform Consent (Lembar persetujuan menjadi responden)

Responden membaca dan menyetujui maksud dan tujuan dari

penelitian yang dijelaskan oleh peneliti dan yang sudah tertulis di dalam

lembaran formulir. Kemudian mengisi formulir dan memberikan tanda

tangan sebagai persetujuan untuk menjadi responden penelitian. Namun

dalam penelitian ini jika ada responden yang tidak bersedia memberikan

tanda tangan akan tetap bersedia menjadi responden, sehingga peneliti

menghormati penuh kemauan responden.

2. Anonymity (Tanpa Nama)

Untuk menjaga kerahasiaan identitas subjek, peneliti tidak

mencantumkan nama lengkap subyek pada lembar pengumpulan data.


58

Peneliti memberikan informasi kepada reponden untuk mencantumkan

inisial nama saja. Namun jika ada responden yang bersedia mencantumkan

nama lengkap, maka peneliti akan menjaga privasi dari responden.

3. Confidentiality (Kerahasiaan)

Segala informasi yang didapat oleh peneliti baik dari responden

langsung maupun dari hasil pengamatan dijamin kerahasiaannya oleh

penelitian.
BAB 5

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini penulis menyajikan hasil dan pembahasan penelitian tentang

hubungan riwayat anemia kehamilan dengan kejadian stunting pada balita di Desa

Ketandan Dagangan Madiun. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei- Juni

2018 penelitian ini dilaukan di desa ketandan yang terdiri dari 5 posyandu yaitu

ketandan, nguren, njeles, kenet dan sidodadi dengan jumlah responden sebanyak

82 responden. Dimana terdapat dua kelompok, yang pertama kelompok kasus

sebanyak 27 responden dan kelompok kontrol sebanyak 55 responden.

5.1 Gambaran Umum

Pengambilan data pada penelitian ini dilakukan di Desa Ketandan

Dagangan Madiun yang menaungi 5 desa yaitu ketandan, nguren, njeles, kenet

dan [Link] balita di desa ketandan sebanyak 287 balita yang terdiri dari

laki-laki dan perempuan. Di Desa Ketandan dilakukan pelaksanaan posyandu

balita setiap satu bulan sekali, dan di Desa Ketandan sendiri terdapat unit

pelayanan seperti polindes, posyandu dan kantor kepala desa. Di Desa Ketandan

masih banyak yang menderita anemia yang sanggat tinggi karena saat petugas

kesehatan memberikan tablet Fe banyak ibu yang lalai untuk minum tablet Fe

sehingga janin yang akan dikeluarkan nanti kemungkinan besar megalami

stunting.

59
60

5.2 Hasil Penelitian

5.2.1 Data Umum

Data umum akan menyajikan karakteristik responden berdasarkan jenis

kelamin, karakteristik responden berdasarkan umur, karakteristik responden

berdasarkan tinggi badan balita, karakteristik responden berdasarkan berat badan

balita.

1. Karakteristik reponden berdasarkan umur ibu

Karakteristik reponden berdasarkan umur ibu pada kasus anemia dan

tidak anemia ditampilkan pada tabel 5.1 seperti di bawah ini:

Tabel 5.1 Deskripsi responden berdasarkan umur ibu di Desa Ketandan


Dagangan Madiun bulan Mei-Juni 2018

Min-
Variabel n Mean Median SD CI-95%
Max
Kasus 27 34,70 35,00 3,698 28-40 33,24-36,17
Kontrol 55 35,04 36,00 4,371 22-41 33,85-36,22
Sumber: Data primer 2018

Berdasarkan tabel 5.1 diatas dapat dilihat bawa nilai rata-rata umur

ibu pada kelompok kasus adalah 34 tahun sedangkan umur terendah adalah

28 tahun dan tertinggi 40 tahun, sedangkan umur ibu pada kelompok

kontrol rata-ratanya 35 tahun sedangkan umur terendah adalah 22 tahun

dan tertinggi 41 tahun. Dan pada tingkat kepercayaan 95% diperkirakan

usia ibu pada kelompok kasus berada pada rentan 33-36 tahun,

Seadangkan usia ibu pada kelompok kontrol berada pada rentan 33-36

tahun.
61

2. Karakteristik responden berdasarkan umur balita

Karakteristik responden berdasarkan umur balita pada kasus stunting

dan tidak stunting ditampilkan pada tabel 5.2 seperti di bawah ini:

Tabel 5.2 Deskripsi umur balita di Desa Ketandan Dagangan Madiun


bulan Mei-Juni 2018
Min-
Variabel n Mean Median SD CI-95%
Max
Kasus 27 31,11 33,00 10,54 13-49 26,94-35,28
Kontrol 55 30,00 30,00 8,87 12-49 27,60-32,40
Sumber: Data primer 2018

Berdasarkan tabel 5.2 diatas dapat dilihat bawa nilai rata-rata umur

balita pada kelompok kasus adalah 31 bulan sedangkan umur terendah

adalah 13 bulan dan tertinggi 49 bulan, sedangkan nilai rata-rata umur

balita pada kelompok kontrol adalah 30 bulan sedangkan umur terendah

adalah 12 bulan dan tertinggi 49 bulan. Dan pada tingkat kepercayaan 95%

diperkirakan umur balita pada kelompok kasus berada pada rentan 26-35

bulan, Sedangkan umur balita pada kelompok kontrol berada pada rentan

27-32 bulan.

3. Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin balita

Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin balita pada kasus

stunting dan tidak stunting ditampilkan pada tabel 5.3 seperti di bawah ini:

Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi responden berdasarkan jenis kelamin balita


di Desa Keandan Dagangan Madiun bulan Mei-Juni 2018
Jenis Kelamin
Variabel Laki-laki Perempuan Jumlah %
Jumlah % Jumlah %
Kasus 13 32,5 14 33,3 27 32,9
Kontrol 27 67,5 28 66,7 55 67,1
Jumlah 40 100 42 100 82 100
Sumber : Data primer 2018
62

Berdasarkan tabel 5.3 di atas dapat dilihat bahwa nilai dari kelompok

kasus sebagian besar terjadi pada balita perempuan sebanyak 14 (33,3%),

dan sebagian kecil adalah terjadi pada balita laki-laki sebanyak 13(32,5%).

Sedangkan untuk kelompok kontrol sebagian besar terjadi pada balita

perempuan sebanyak 28 (66,7%), dan sebagian kecil adalah terjadi pada

balita laki-laki sebanyak 27 (67,5%)

4. Karakteristik responden berdasarkan tinggi badan balita

Karakteristik responden berdasarkan jenis tinggi badan balita pada

kasus stunting dan tidak stunting ditampilkan pada tabel 5.4 seperti di

bawah ini:

Tabel 5.4 Deskripsi tinggi badan balita di Desa Ketandan Dagangan


Madiun bulan Mei-Juni 2018
Min-
Variabel n Mean Median SD CI-95%
Max
Kasus 27 81,93 83,80 7,91624 70,10- 78,8018-
95,10 85,0649
Kontrol 55 88,34 90,60 7,04285 70,40- 86,4415-
101,00 90,2494
Sumber: Data primer 2018

Berdasarkan tabel 5.4 diatas dapat dilihat bawa nilai rata-rata tinggi

badan balita pada kelompok kasus adalah 81 cm sedangkan tinggi badan

yang terrendah adalah 70 cm dan tertinggi 95 cm, sedangkan balita pada

kelompok kontrol rata-ratanya 88 cm sedangkan tinggi badan yang

terendah adalah 70 cm dan tertinggi 101 cm. Dan pada tingkat

kepercayaan 95% diperkirakan tinggi badan balita pada kelompok kasus

berada pada rentan 78-85 cm, sedangkan tinggi badan balita pada

kelompok kontrol berada pada rentan 86-90 cm.


63

5. Karakteristik responden berdasarkan berat badan balita

Karakteristik responden berdasarkan berat badan balita pada kasus

stunting dan tidak stunting ditampilkan pada tabel 5.5 seperti di bawah ini:

Tabel 5.5 Deskripsi berat badan balita di Desa Ketandan Dagangan


Madiun bulan Mei-Juni 2018
Min-
Variabel n Mean Median SD CI-95%
Max
Kasus 4,80- 10,4082-
27 11,41 11,40 2,55404
19,10 12,4289
Kontrol 6,80- 12,1049-
55 12,74 13,00 2,23622
17,50 13,3500
Sumber: Data primer 2018

Berdasarkan tabel 5.5 diatas dapat dilihat bahwa nilai rata-rata berat

badan balita pada kelompok kasus adalah 11 kg sedangkan berat badan

yang terrendah adalah 4,80 kg dan tertinggi 19,10 kg, sedangkan balita

pada kelompok kontrol rata-ratanya 12 kg sedangkan berat badan yang

terrendah adalah 6,80 kg dan tertinggi 17,50 kg. Dan pada tingkat

kepercayaan 95% diperkirakan berat badan balita pada kelompok kasus

berada pada rentan 10-12 kg, sedangkan berat badan balita pada kelompok

kontrol berada pada rentan 12-13 kg.

5.2.2 Data Khusus

Setelah mengetahui data umum atau karakteristik responden dalam

penelitian ini, maka berikut ini ditampilkan data hasil penelitian yang terkait

dengan data khusus yang meliputi riwayat anemia kehamilan, kejadian stunting

pada balita dan hubungan riwayat anemia kehamilan dengan kejadian stunting

pada balita dalam bentuk tabel distribusi frekuensi serta tabulasi silang tentang

variabel independen dan dependen.


64

1. Riwayat anemia kehamilan ibu pada kelompok kasus dengan kejadian


stunting pada balita di Desa Ketandaan Dagangan Madiun

Karakteristik hasil tabulasi antara riwayat anemia kehamilan ibu pada

kelompok kasus dengan kejadian stunting pada balita akan disajikan dalam

tabel 5.6 yang ada di bawah ini:

Tabel 5.6 Distribusi frekuensi karakteristik riwayat anemia kehamilan ibu


pada kelompok kasus di Desa Ketandan Dagangan Madiun
bulan Mei- Juni 2018 (n=27)
Riwayat Anemi Kehamilan Frekuensi (f) Presentasi (%)
Ya 18 66,7
Tidak 9 33,3
Total 27 100
Sumber : Data Primer 2018

Berdasarkan tabel 5.6 dapat diketahui bahwa nilai proporsi riwayat

anemia kehamilan pada kelompok kasus adalah 18 (66,7%), dan yang

tidak anemia adalah 9 (33,3%) Kejadian stunting pada balita di Desa

Ketandan Dagangan Madiun.

2. Riwayat anemia kehamilan ibu pada kelompok kasus dengan kejadian


stunting pada balita di Desa Ketandaan Dagangan Madiun

Karakteristik hasil tabulasi antara riwayat anemia kehamilan ibu pada

kelompok kontrol dengan kejadian stunting pada balita akan disajikan

dalam tabel 5.7 yang ada di bawah ini:

Tabel 5.7 Distribusi frekuensi karakteristik riwayat anemia kehamilan ibu


pada kelompok kontrol di Desa Ketandan Dagangan Madiun
bulan Mei- Juni 2018 (n=55)
Riwayat Anemi Kehamilan Frekuensi (f) Presentasi (%)
Ya 17 30,9
Tidak 38 69,1
Total 55 100
Sumber : Data Primer 2018
65

Berdasarkan tabel 5.7 dapat diketahui bahwa nilai proporsi riwayat

anemia kehamilan pada kelompok kontrol adalah 17 (30,9%), dan yang

tidak anemia adalah 38 (69,1%)

3. Hubungan riwayat anemia kehamilan dengan kejadian stunting pada balita


di Desa Ketandan Dagangan Madiun

Karakteristik hasil frekuensi riwayat anemia kehamilan dengan

kejadian stunting pada balita akan disajikan dalam tabel 5.8 yang ada di

bawah ini

Tabel 5.8 Distribusi frekuensi hubungan riwayat anemia kehamilan


dengan kejadian stunting pada balita di Desa Ketandan
Dagangan Madiun bulan Mei-Juni 2018
Kejadian Stunting
Anemia
Ya Tidak
Jumlah % Jumlah %
Ya 18 66,7% 17 30,9%
Tidak 9 33,3% 38 69,1%
Jumlah 27 100% 55 100%
OR 4,471
CI 1,672-11,954
𝝆 0,005

Berdasarkan tabel 5.8 dapat diketahui bahwa dari 27 ibu yang anemia

terdapat 18 (66,7%) balita yang stunting dan 9 (33,3%) balita yang tidak

stunting, Dari 55 ibu yang anemia terdapat 17 (30,9%) balita yang stunting

dan 38 (69,1%) balita yang tidak stunting.

Berdasarkan hasil uji Chi Square dengan nilai continuity correction

didapatkan nilai ρ= 0,005<α= 0,05, maka dapat dikatakan ada hubungan

signifikan kejadian riwayat anemia kehamilan dengan kejadian stunting

pada balita di Desa Ketandan Dagangan Madiun. Sesuai hasil tabel diatas,

hasil nilai OR sebesar 4,471 maka dapat disimpulkan bahwa ibu yang
66

memiliki riwayat anemia pada kehamilan memiliki resiko sebesar 4 kali

anaknya mengalami stunting pada masa balita.

5.3 Pembahasan

5.3.1 Riwayat Anemia Kehamilan Ibu Pada Kelompok Kasus Dengan


Kejadin Stunting Pada Balita Di Desa Ketandan Dagangan Madiun

Berdasarkan tabel 5.6 menunjukkan bahwa hasil penelitian yang dilakukan

terhadap 82 responden dapat diketahui bahwa pada kelompok kasus ibu yang

anemia sebanyak 18 (66,7%) sedangkan ibu yang tidak anemia sebanyak 9

(33,3%). Negara dengan prevalensi anemia pada wanita hamil tertinggi adalah

India (88 %), diikuti oleh Afrika (50 %), Amerika Latin (40 %) , dan Karibia

(30%) (WHO, 2013).

Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2013,

prevalensi anemia pada ibu hamil di Indonesia sebesar 37,1%, angka ini

menunjukkan bahwa prevalensi Indonesia lebih tinggi dari Karibia sehingga

menempatkan Indonesia pada peringkat ke 4 prevalensi anemi terbesar di Dunia,

sedangkan untuk Desa Ketandan Dagangan Madiun prevalensi anemia pada ibu

hamil tahun 2018 sebesar 66,7%. Angka ini menunjukkan lebih tinggi dari

persentase Nasional . Prevalensi ibu hamil dengan anemia di Desa Ketandan

Dagangan Madiun ini sangat tinggi, yang berarti nilai ambang batas masalah gizi

sebagai masalah kesehatan masyarakat masih kurang.

Padaumumnya penyebab anemia pada ibu hamil adalah kurangnya gizi,

kurangnya zat besi dalam makanan yang dikonsumsi, penyerapan yang kurang

baik dan penyakit-penyakit kronik (seperti TBC, paru-paru, cacing usus, dan
67

malaria). Ibu hamil dikategorikan mengalami anemia jika kadar haemoglobin

pada pemeriksaan laboratorium < 11 gr% dan pada anamnesa didapatkan keluhan

cepat lelah, sering pusing, mata berkunang-kunang dan muntah yang lebih hebat

pada kehamilan muda (Sulistyoningsih, 2011).

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Rolla Destarina (2017) yang

berjudul Faktor Resiko Status Anemia Ibu Hamil Terdapat Panjang Badan Lahir

Pendek Di Puskesmas Sentolo 1 Kulon Progo D.I Yogyakarta bahwa hasil

penelitiannya dapat diketahui bahwa ibu hamil yang mengalami anemia di

Puskesmas Sentolo 1 ada sebanyak 30% atau ada 96 ibu hamil. Sedangkan yang

ibu yang tidak anemia berjumlah 219 (70%) ibu hamil. Anemia merupakan kadar

hemoglobin dibawah rentang nilai normal, Rendahnya kadar hemoglobin tidak

selalu diikuti dengan berkurangnya masa eritrosit (Sanyal, 2015). Anemia dapat

ditegagkan berdasarkan pemeriksaan pemeriksaan hematologi yaitu apabila

ditemukan penurunan kadar Hb. Secara fisiologis, kadar hemoglobin dapat

bervariasi tergantung pada usia, jenis kelamin, adanya kehamilan dan tingginya

tempat tinggal (Sylvia, 2015). Menurut (Manuba, 2010) Pada wanita dewasa yang

jika kadar hemoglobinnya berada di bawah 11 g/dl.

Hal ini didukung dari teori yang menyatakan Ibu hamil yang anemia gizi

akan menimbulkan disfungsi pada otaknya dan gangguan proses tumbuh kembang

otak. Selanjtnya, maka ibu hamil dianjurkan mengkonsumsi zat besi sebanyak 60-

100mg/harii Keanekaragaman konsumsi makanan berperan penting dalam

membantu meningkatkan penyerapan Fe di dalam tubuh. Kehadiran protein

hewani, Vitamin C, Vitamin A, Zn, Asam folat, Zat gizi mikro lain dapat
68

meningkatkan penyerapan zat besi dalam tubuh. Maanfaat lain dari

mengkonsumsi makanan sumber zat besi adalah terpenuhinya kecukupan vitamin

A, karena makanan sumber zat besi biasanya juga merupakan sumber Vitamin A

(Waryana, 2010)

Berdasarkan pembahasan diatas peneliti menyimpulkan bahwa riwayat

anemia pada ibu hamil masih tinggi. Pada kejadian ini disebabkan karena

kurangnya status gizi dan asupan energy kurang. Salah satu permasalahan

kesehatan yang sangat rentang terjadi selama kehamilan yaitu kadar Hb yang

kurang dari 11 g/dl mengindikasikan ibu hamil menderita anemia. Anemia pada

ibu hamil meningkatkan resiko mendapatkan Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR),

panjang badan lahir pendek atau stunting, resiko perdarahan sebelum dan saat

persalinan bahkan dapat menyebabkn kematian pada ibu dan bayinya jika ibu

tersebut menderita anemia berat.

5.3.2 Riwayat Anemia Kehamilan Ibu Pada Kelompok Kontrol dengan


Kejadian Stunting Pada Balita Di Desa Ketandan Dagangan Madiun

Berdasarkan tabel 5.7 menunjukkan bahwa hasil penelitian yang dilakukan

terhadap 82 responden dapat diketahui bahwa pada kelompok kontrol ibu yang

anemia sebanyak 17 (30,9%) sedangkan ibu yang tidak anemia sebanyak 38

(69,1%). Hal ini menunjukkan bahwa ibu menjaga kehamilan dengan

mengkonsumsi zat besi dan tablet Fe secara rutin.

Menurut Laporan Rencana Kerja Pembinaan Gizi Masyarakat (RKPGM,

2013), Program penanggulangan anemia gizi pada ibu hamil telah dikembangkan

melalui distribusi Tablet Tambah Darah (TTD). TTD merupakan suplementasi

gizi mikro khususnya zat besi dan folat yang diberikan kepada ibu hamil untuk
69

mencegah kejadian anemia gizi besi selama kehamilan. Pemberian zat besi

sebanyak 30 gram per hari akan mening-katkan kadar hemoglobin sebesar 0,3

gr/dl per minggu atau dalam 10 hari (Sulistyoningsih, 2011).

Hal ini didukung dari teori yang menyatakan ibu hamil dianjurkan

mengkonsumsi zat besi sebanyak 60-100mg/hari. Keanekaragaman konsumsi

makanan berperan penting dalam membantu meningkatkan penyerapan Fe di

dalam tubuh. Kehadiran protein hewani, Vitamin C, Vitamin A, Zn, Asam folat,

Zat gizi mikro lain dapat meningkatkan penyerapan zat besi dalam tubuh.

Maanfaat lain dari mengkonsumsi makanan sumber zat besi adalah terpenuhinya

kecukupan vitamin A, karena makanan sumber zat besi biasanya juga merupakan

sumber Vitamin A (Waryana, 2010)

Berdasarkan pembahasan diatas penelliti menyimpulkan bahwa pentingnya

zat besi untuk ibu hamil supaya ibu hamil tidak terjadi anemi yang menyebabkan

anak stunting.

5.3.3 Hubungan Riwayat Anemia Kehamilan dengan Kejadian Stunting


Pada Balita di Desa Ketandan Dagangan Madiun

Berdasarkan hasil penelitian ini, dengan menggunakan uji analisis Chi

Square menunjukkan hasil uji statistic didapatkan nilai ρ = 0,005 < α = 0,05,

sehingga statistic H0 ditolak H1 diterima, bahwa ada hubungan antara riwayat

anemia kehamilan dengan kejadian stunting di Desa Ketandan Dagangan Madiun

dengan nilai koefisien kontingensi sebesar 322 yang diinterprestasikan dengan

kekuatan hubungan antar variable pada tingkat rendah. Nilai Odds Ratio (Or)

menunjukkan bahwa ibu hamil anemia lebih beresiko 4,471 kali lebih besar

melahirkan bayi dengan panjang badan pendek (stunted) daripada ibu hamil yang
70

tidak anemia. Ibu hamil anemia mempunyai resiko melahirkan bayi dengan

panjang badan pendek (stunted) serendah rendahnya 1,672 dan setinggi tingginya

11,954 dari pada ibu hamil yang tidak anemia.

Hasil dari analisis tesebut dapat dinyatakan bahwa anemia merukapan

faktor risiko terhadap kejadian panjang badan lahir pendek atau hipotesis dapat

diterima. Anemia merupakan kadar hemoglobin dibawah rentang nilai normal,

Rendahnya kadar hemoglobin tidak selalu diikuti dengan berkurangnya masa

eritrosit (Sanyal, 2015). Anemia dapat ditegagkan berdasarkan pemeriksaan

pemeriksaan hematologi yaitu apabila ditemukan penurunan kadar Hb. Secara

fisiologis, kadar hemoglobin dapat bervariasi tergantung pada usia, jenis kelamin,

adanya kehamilan dan tingginya tempat tinggal (Sylvia, 2015). Menurut (Manuba,

2010) Pada wanita dewasa yang jika kadar hemoglobinnya berada di bawah 11

g/dl.

Beberapa tanda dan gejala dari anemia defisiensi zat besi (Fe) adalah

kehilangan nafsu makan, kelelahan, gangguan kapasitas fungsional (penurunan

produksi ATP), sulit berkonsentrasi, sensitifitas terhadap dingin, bernafas cepat

saat melakukan aktifitas. Selain itu, kulit kering dan pucat, rambut mudah rontok,

kuku berbentuk sendok dan rapuh. Tanda lainnya bisa diketahui dengan

memperhatikan sistem kardiovaskular yaitu dispnea eksertional, denyut jantung

cepat, palpitasi, dan mudah pusing. Terjadinya penurunan sistem imun sehingga

mudah terkena infeksi dan rentan terhadap malaria. Sedangkan gejala pada anak-

anak dapat dilihat adanya gangguan pertumbuhan dan gangguan perkembangan

intelektual (Grober, 2012).


71

Ibu hamil yang mengalami anemia gizi besi rentan terhadap kelahiran

prematur dan berat badan bayi lahir kurang. Hal ini karena selama kehamilan

dibutuhkan peningkatan produksi eritrosit yang komposisinya relatif pada

lingkungan hypoxintrauterine dan suplai oksigen ke janin yang dibutuhkan untuk

perkembangan. Zat besi yang adekuat dibutuhkan pada perjalanan melintasi

plasenta untuk memastikan kelahiran sesuai dengan usia kehamilan penuh. Selain

itu, zat besi juga dibutuhkan untuk pertumbuhan postnatal pada peningkatan sel

darah merah dan sebagai unsur pembangun masa tubuh bayi (Ibanez, 2015).

Beberapa penyebab utama stunting diantaranya adalah hambatan

pertumbuhan dalam kandungan, asupan zat gizi yang tidak mencukupi untuk

mendukung pertumbuhan dan perkembangan yang cepat pada masa bayi dan

anak-anak, serta seringnya terkena penyakit infeksi selama awal masa kehidupan

(Istiany, 2013). Kekurangan gizi pada Ibu saat hamil dapat mempengaruhi dan

menghambat pertumbuhan janin, selain juga dapat menyebabkan adanya

gangguan pada fetus, plasenta, dan kesehatan ibu. Beberapa hal ini terutama

terjadi di lingkungan masyarakat miskin di mana tidak cukup ketersediaan

makanan yang bergizi serta pelayanan kesehatan yang tidak memadai untuk Ibu

Hamil (Finawati, 2014).

Hasil penelitian asupan energi yang dikonsumsi lebih sering makan

makanan nasi 50 gram dengan frekuensi 3 kali sehari, ikan goreng 50 gram

dengan frekuensi 3 kali sehari, dan sayur kangkung cah 10-20 gram sehari sekali.

Asupan tersebut belum terpenuhi jika tidak minum susu, seperti penelitian yang

dilakukan oleh Hidayati menunjukkan bahwa kurangnya asupan energi pada anak
72

tersebut dikarenakan kurangnya asupan nasi dan susu. Susu sebenarnya

mengandung energi yang cukup baik, dianjurkan pada anak-anak untuk

mengkonsumsi sedikit namun sering (Hidayati, 2010).

Asupan energi kurang yang terjadi pada anak-anak usia 13-36 bulan di

wilayah kerja Puskesmas Tuminting karena faktor-faktor yang mempengaruhi

pilihan makanan anak yaitu kebiasaan menerima makanan, dan pengaruh dari

orangtua yaitu ketersediaan makanan dan pengetahuan gizi dari orangtua tersebut

(Almatsier, 2011). Asupan energi kurang lebih banyak terjadi pada usia 13-24

bulan, hal itu disebabkan oleh perilaku makan anak tersebut yang susah/rewel

makan, makanan yang dikemut dimulut dan meminta makanan yang sama setiap

makan (Soetardjo, 2011).

Hasil dari penelitian ini adalah upaya yang harus dilakukan tenaga

kesehatan khususnya bidan dalam rangka pencegahan anemia terhadap ibu hamil

adalah dengan meningkatkan konsumsi zat besi yang bersumber dari makanan

seperti sayuran, buah-buahan, kacang-kacangan dan padi-padian, serta pemberian

suplemen zat besi. Untuk meningkatkan penyerapan zat besi di dalam tubuh perlu

di tambah dengan pemberian vitamin C. Dengan kondisi seperti itu, penanganan

ibu hamil harus betul-betul dalam pengawasan kepada pihak kesehatan dan

dianjurkan untuk cek rutin hb saat ibu hamil.


BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

Kesimpulan dari hasil penelitian yang dapat diambil adalah sebagai

berikut:

1. Riwayat anemia kehamilan ibu pada kelompok kasus dengan kejadian

stunting pada balita di Desa Ketandan Dagangan Madiun sebanyak 18

(66,7%) responden, dan yang tidak anemia sebanyak 9 (33,3%) responden.

2. Riwayat anemia kehamilan ibu pada kelompok kontrol dengan kejadian

stunting pada balita di Desa Ketandan Dagangan Madiun sebanyak 17

(30,9%) responden dan yang tidak anemia sebanyak 38 (69,1%)

responden.

3. Ada hubungan riwayat anemia kehamilan dengan kejadian stunting pada

balita di Desa Ketandan Dagangan Madiun dengan nilai ρ value 0,005,

Nilai OR sebesar 4,471 maka riwayat anemia kehamilan dapat

mempertinggi resiko kejadian stunting sebesar 4 kali dibandingkan ibu

yang tidak anemia.

73
74

6.2 Saran

Dari hasil penelitian yang penulis lakukan, maka penulis ingin

menyampaikan beberapa saran sebagai berikut :

1. Bagi Tenaga Kesehatan Puskesmas Dagangan Madiun

Bagi Puskesmas Dagangan Kota Madiun untuk lebih mengoptimalkan

program sosialisas terhadap ibu hamil untuk mencegah terjadinya anemia

dan stunting sehingga setiap anggota keluarga memiliki status gizi yang

baik termasuk anak, agar supaya status gizi stunting yang terjadi pada anak

usia 12-60 bulan bisa berubah dan semakin baik pada usia selanjutnya.

2. Bagi Ibu Hamil

Bagi ibu hamil dapat memberikan informasi tentang cara pencegahan

anemia dan stunting.

3. Bagi Mahasiswa STIKES Bhakti Husada Mulia Madiun

Diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan referensi dan

digunakan bagi mahasiswa yang akan melakukan penelitian selanjutnya,

sehingga mahasiswa akan mampu mengetahui mengenai pembelajaran

pemberian riwayat anemia kehamilan dengan kejadian stunting pada

balita.

4. Bagi Peneliti Selanjutnya

Peneliti selanjutnya diharapkan dapat mengembangkan penelitian

serupa dengan pengembangan penelitian lebih lanjut seperti dengan

menggunakan metode kesehatan yang berbeda.


DAFTAR PUSTAKA

ACC/SCN & International Food Policy Research Institute (IFPRI). 2000. “4th
Report on The World Nutrition Situation Throught The Life Cycle”.

Agrawal, S. 2006. Prevalensi dan Faktor Risiko Anemia pada Wanita Usia Subur
di Rumah Tangga Miskin di Kabupaten Tasikmalaya dan Ciamis Provinsi
Jawa Barat, [Link] Penelitian dan Pengembangan Upaya Kesehatan
Masyarakat, Badan
[Link]://[Link]/[Link]/kespro. diakses
pada 16 February 2018 pada pukul 22.01 WIB.

Almatsier, S., Soetardjo S. & Soekatri, M. [Link] Seimbang Dalam Daur


Kehidupan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Almatsier, S., Soetardjo, S.,
Soekarti, M. [Link] Seimbang Dalam Daur Kehidupan. Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama.

Almatsier.2002 dalam Waryana, [Link] Reproduksi. Yogyakarta: Pustaka


Rihana.

Andriana, Dian. 2017. Tumbuh Kembang dan Terapi Bermain pada Anak Edisi 2.
Jakarta: Salemba Medika.

Andriani, M, Wirjatmadi, B. 2012. Peranan Gizi Dalam Siklus Kehidupan.


Jakarta: Kencana.

Anugraheni. 2012. Faktor Resiko Kejadian Stunting pada Anak Usia 12-36 Bulan
di Kecamatan Pati Kabupaten Pati. Artikel Penelitian. Program Studi Ilmu
Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro. Semarang.

BAPPENAS. 2011. Rencana Aksi Nasional Pangan dan Gizi 2011-1013.


[Link]

Black et al. [Link] and child undernutrition: global and regional


exposures and healt consequences.

Cunningham. 2006. Hubungan Kadar Hemoglobin Ibu Hamil Trimester III


Dengan Berat Bayi Lahir di Kota Pariaman, [Link] Kedokteran
Universitas Andalas [Link]://[Link]. Diakses pada 20
February 2018 pada pukul 08.00 WIB.

Departemen Kesehatan RI. Laporan hasil riset kesehatan dasar (RISKESDAS


INDONESIA 2007).Jakarta : Depkes RI; 2008.

75
76

Depkes RI, 1995 dalam Waryana, 2010. Gizi Reproduksi. Yogyakarta: Pustaka
Rihana.

, 1996 dalam Waryana, 2010. Gizi Reproduksi. Yogyakarta: Pustaka


Rihana.

, 2008 dalam Waryana, 2010. Gizi Reproduksi. Yogyakarta: Pustaka


Rihana.

Dinas Kesehatan Kabupaten Madiun 2016. Data Anak Stunting di Madiun.


Madiun: Dinas Kesehatan Madiun.

Direktorat Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak, 2012. Keputusan Mentri
Kesehatan. Jakarta: Kementrian Kesehatan RI; 2012.

Fuady M, Bangun D. [Link] Pengetahuan Ibu Hamil tentang Anemia


Defisiensi Besi terhadap Kepatuhan Mengkonsumsi Tablet Zat Besi,
[Link] Studi DIII
[Link]://[Link]/[Link]/ejurnalfk/article/viewFile/1425/
[Link] pada 29 Januari 2018 pada pukul 21.00 WIB.

Hadi, H., Julia, M., & Herman, S. [Link] Vitamin A dan Zinc Sebagai
Faktor Risiko Terjadinya Stunting pada Balita di Nusa Tenggara Barat,
Media Penelitian dan Pengenbangan Kesehatan.

Hidayati et al. 2005. Kekurangan Energi dan Zat Gizi Merupakan Kejadain
Stunted pada Anak Usia 1-3 Tahun yang Tinggal di Wilayah Perkotaan
Surakarta, Jurnal.

Hidayati, L. 2010. Kekurangan Energi dan Zat Gizi Merupakan Faktor Risiko
Kejadian Stunted pada Anak Usia 1-3 tahun yang Tinggal di Wilayah
Kumuh Perkotaan Suakarta. Jurnal Kesehatan [Internet], 3 (2) pp, 89-104.
Available from: [Link]
tream/handle/123456789/2315/10.%20LI STYANI%[Link]?sequence=1>
.[Accessed 1 Mei 2014].

Husaini.1989 dalam Waryana, [Link] Reproduksi. Yogyakarta: Pustaka


Rihana.

Jalal, F. 2017. Penanggulangan Stunting dan Peningkatan Mutu Pendidikan


Sebagai Contoh Upaya Pencapaian Tujuan SDGs.

Jalal, Fadli. 2017. Penanggulangan Stunting dan Peningkatan Mutu Pendidikan


Sebagai Contoh Upaya Upaya Pencapaian SDGs.
[Link] diakses pada 22 Desember pada pukul 13.00
WIB.
77

Kartikawati. 2011. Faktor yang Mempengaruhi Kejadian Stunted Growth pada


Anak Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Arjasari Kabupaten Jember.

Kaur, 2014. Prevalensi dan Faktor Risiko Anemia pada Wanita Usia Subur di
Rumah Tangga Miskin di Kabupaten Tasikmalaya dan Ciamis Provinsi
Jawa Barat, [Link] Penelitian dan Pengembangan Upaya Kesehatan
Masyarakat, Badan Litbangkes
[Link] pada 16
February 2018 pada pukul 22.01 WIB.

Kemenkes RI. Profil Kesehatan Indonesia tahun 2013. Jakarta: Kemenkes RI;
2014.

Kusharisupeni. (2002). Peran status kelahiran terhadap stunting pada bayi: Sebuah
studi prospektif. Jurnal Kedokteran Trisakti, 23(3), 73-80. Diakses dari
[Link] wp-content/uploads/2011/[Link].

Kusharisupeni. 2008. Peran Status Kelahiran terhadap Stunting pada Bayi, Jurnal.
Kedokteran Triskti.

Mahayu, Puri. 2016. Buku Lengkap Perawatan Bayi & Balita. Yogyakarta: Saufa.

Maryunani,A. 2010. Ilmu Kesehatan Anak Dalam Kebidanan. Jakarta: Trans Info
Media.

Meilyasari, F. & Isnawati, M. (2014). Faktor risiko kejadian stunting pada balita
usia 12 bulan di Desa Purwokerto Kecamatan Patebon, Kabupaten Kendal.
Journal of Nutrition College, 3(2), 16-25. Diakses dari [Link]
[Link].

Moegni, E, M., Ocviyanti, D. [Link] Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di


Fasilitas Kesehatan Dasar dan [Link].

Notoatmodjo, S. [Link] Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.

Nursalam. 2013. Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta: Salemba


medika.

Proverawati. 2013. Kejadian Anemia pada Ibu Hamil Ditinjau dari Paritas dan
Usia. [Link] Studi DIII Kebidanan STIKES Al-Ma’arif
[Link]://[Link]/index/php/jika/ diakses pada 12
February 2018 pada pukul 16.00 WIB.

Ridwan, 1997 dalam Waryana, [Link] Reproduksi. Yogyakarta: Pustaka


Rihana.
78

Riset Kesehatan Dasar (RISKESDES). 2013. Badan Penelitian dan


Pengembangan Kesehatan Kementrian RI tahun 2013.

Ruchayati, F. 2012. Hubungan Kadar Hemoglobin dan Lingkar LENGAN Atas


Ibu Hamil Trimester III dengan Panjang Bayi Lahir di Puskesmas
Halmahera Kota Semarang, Jurnal Kesehatan Masyarakat.

Rudert, C. 2014. Malnutrition In Asia. Vientiane: UNICEF East Pasific.

Saryono, Mekar. 2013. Metodologi Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: Nuha


Medika.

Sihadi, Djamin. 2011. Faktor Risiko Untuk Mencegah Stunted berdasarkan


Perubahan Status Panjang/ Tinggi Badan Anak Usia 6-11 Bulan ke Usia 3-4
Tahun. Bulletin Penelitian Kesehatan.

Soekirman et al. [Link] Gizi dan Aplikasinya. Jakarta: PT Gramedia Pustaka


Utama.

Soetjiningsih. 2012. Tumbuh Kembang Anak Edisi [Link]: Buku Kedokteran


EGC.

Sugiyono, 2013. Metode Penelitian Kualitatif Kuantitatif. Jakarta: Alfabeta.

Sujarweni. 2015. SPSS Untuk Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Baru Press.

Taguri, A,E. et al. 2008. Risk Faktor for Stunting Among Under Fives in Libya.
Public Health Nutrition.

UNDP. 2016. Indeks Pembangunan Manusia Indonesia Meningkat tapi


Kesenjangan Masih Tetap Ada.
[Link]/content/indonesia/id/home/pressreleases/2017/03/22/indo
[Link].
diakses pada 29 Desember pada jam 13.00 WIB.

UNICEF. 2014. Ringkasan Kajian Gizi. Jakarta: Pusat Promosi Kesehatan


Kementrian Kesehatan.

Waryana. 2010. Gizi Reproduksi. Yogyakarta: Pustaka Rihana.

WHO. 2013. Prevalensi, Faktor Risiko, dan Dampak Stunting pada Anak Usia
Sekolah, Jurnal. Fakultas Teknologi dan Industri Pangan, Universitas
Slamet Riyadi,
[Link]://[Link]/nutgrowthdb/about/introduction/en/[Link]
ml. diakses pada 01 Januri pada jam 13.03 WIB.
79

Williamson, C, S. 2006. Nutrition in [Link] Bulletin.

Winkjosastro. 2009. Ilmu Kebidanan Edisi Ke 4 Cetakan ke -2. Jakarta:


YAYASAN Bina Pustaka.

Wirakusumah, 1998 dalam Waryana, [Link] Reproduksi. Yogyakarta: Pustaka


Rihana.

Wulandari R Ayu. 2016. Hubungan Antara Kadar Hemoglobin Ibu dengan Status
Gizi. Jurnal. Fakultas Kedokteran Universitas Surakarta.

Yongki, Hardinsyah. 2009. Status Gizi Awal Kehamilan dan Pertumbuhan Berat
Badan Ibu Hamil Kaitanya Dengan BBLR. Jurnal Gizi dan Pangan.
80

Lampiran 1

Lembar Izin Pengambilan Data Awal


81

Lampiran 2

Surat Izin Penelitian


82

Lampiran 3

Surat Keterangan Penelitian


83

Lampiran 4

LEMBAR PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN

Kepada
Yth. Calon Responden
Di Tempat

Dengan hormat,
Saya yang bertanda tangan di bawah ini adalah mahasiswa Progam Studi
Ilmu Keperawatan STIKES Bhakti Husada Mulia Madiun,
Nama : Dhiyah Ayu Romadhoni
NIM : 201402009
Bermaksud melakukan penelitian tentang berjudul “Hubungan Riwayat
Anemia Kehamilan Dengan Kejadian Stunting Pada Balita di Desa Ketandan
Dagangan Madiun”. Sehubungan dengan ini, saya mohon kesediaan saudara untuk
bersedia menjadi responden dalam penelitian yang akan saya lakukan.
Kerahasiaan data pribadi saudara akan sangat kami jaga dan informasi yang akan
saya gunakan untuk kepentingan penelitian.
Demikian permohonan saya, atas perhatian dan kesediaan saudara saya
ucapkan terima kasih.

Madiun, Mei 2018


Peneliti,

Dhiyah Ayu Romadhoni


NIM 201402009
84

Lampiran 5

PERNYATAAN MENJADI RESPONDEN


(informed consent)

Dengan menandatangani lembar ini, saya:


Nama :
Usia :
Alamat :

Memberikan persetujuan untuk menjadi responden dalam penelitian yang


berjudul “Riwayat Anemia Kehamilan dengan Kejadian StuntingPada Balita di
Desa Ketandan Dagangan Madiun”.
Saya telah dijelaskan bahwa anemia bisa menyebabkan anak menjadi stunting
dan dilakukannya pengukuran tinggi badan dan melihat buku KMS untuk
keperluan penelitian dan saya secara suka rela bersedia menjadi responden
penelitian ini.

Madiun, Mei 2018

Yang Menyatakan,

( )
85

Lampiran 6

SOP (STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR)


MENGUKUR TINGGI BADAN BALITA

Pengertian Cara untuk mengetahui tinggi badan

Tujuan 1. Mengetahui pertuumbuhan balita.


2. Sebagai pedoman petugas dalam mengukur tinggi badan yang
benar.

Prosedur I. Persiapan alat :


1. Mikrota (microtoise).
II. Persiapan klien
1. Menjelaskan secara singkat tentang pengukuran tinggi
badan kepada orang tua.
2. Lepas sepatu atau sendal
III. Pelaksanaan
1. Tempelkan mikrotoa dengan paku pada dinding yang lurus
dan datar setinggi tept 2 meter. Angka 0 (nol) pada lantai
yang datar rata.
2. Anak harus berdiri tegak seperti siap sempurna dalam baris
berbaris, kaki lurus, tumit, pantar, punggung, dan kepala
bagian belakang harus menempel pada dinding dan muka
menghadap lurus dengan pandangan ke depan.
3. Turunkan mikrotoa sampai rapat pada kepala bagian atas,
siku-siku harus lurus menempel pada dinding.
4. Baca angka pada skala yang tampak pada lubang dalam
gulungan mikrotoa. Angka tersebut menunjukkan tinggi
anak yang diukur.
86

Lampiran 7

LEMBAR OBSERVASI

ANEMIA KEHAMILAN PADA IBU

Nama Jenis Anemia Tidak Anemia


No Umur
Responden Kelamin <11 gr% 11 gr%
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
87

LEMBAR OBSERVASI

STUNTING PADA BALITA

Tidak
Nama Jenis Stunting<-
No Umur BB TB Stunting>-
Responden Kelamin 2 SD
2 SD
88

Lampiran 8
TABULASI DATA RESPONDEN
Kelompok Kasus

Nama Umur Nama Jenis


No Umur Hb Anemia BB TB Stunting
Ibu Ibu Anak Kelamin

1 Ny.E 37 An.G 1 43 9.5 0 10.5 89.1 0


2 Ny.I 38 An.A 1 20 10 0 9.2 75.9 0
3 Ny.K 37 An.A 2 13 12.5 1 4.8 70.1 0
4 Ny.T 36 An.Z 1 34 10.6 0 11.4 88.8 0
5 Ny.L 37 An.Z 2 16 10 0 9.9 72.2 0
6 Ny.V 35 An.N 2 19 11.5 1 9.3 75.2 0
7 Ny.L 36 An.M 1 22 10.1 0 11.4 78.1 0
8 Ny.N 35 An.K 2 27 9.5 0 10.2 80 0
9 Ny.S 39 An.S 2 34 9.5 0 12.8 86 0
10 [Link] 38 An.M 1 48 12.1 1 19.1 94.2 0
11 Ny.H 35 An.D 2 20 8.9 0 8.7 75.6 0
12 [Link] 38 An.K 2 35 9.6 0 12.1 86.2 0
13 Ny.M 37 An.M 2 44 11.5 1 13.7 91.1 0
14 [Link] 35 An.R 2 35 8.5 0 14.6 83.8 0
15 Ny.K 40 An.F 1 36 10.8 0 13.4 85.3 0
16 [Link] 32 An.N 2 19 12.5 1 9.3 75.2 0
17 Ny.K 35 An.G 1 49 8.5 0 13.3 95.1 0
18 Ny.S 29 An.R 1 31 9.8 0 11.5 83.2 0
19 Ny.A 28 An.N 1 36 12.3 1 10.2 70.6 0
20 Ny.S 38 An.K 1 29 8.2 0 12.3 75.5 0
21 Ny.N 30 An.E 2 16 12.9 1 10.2 70.2 0
22 Ny.S 29 An.D 1 24 10.5 0 9.2 70.7 0
23 Ny.S 28 An.D 1 34 9.3 0 11.3 86.2 0
24 Ny.H 38 An.A 2 33 10.5 0 12.7 91.2 0
25 Ny.D 28 An.D 1 33 12.7 1 11.4 84.2 0
26 Ny.A 34 An.C 2 45 8.7 0 13.6 88.4 0
27 Ny.S 35 An.A 2 45 12 1 12.2 90.1 0
89

Kelompok Kontrol

Nama Umur Nama Jenis


No Umur Hb Anemia BB TB Stunting
Ibu Anak
Ibu Kelamin
1 Ny.U 37 An.R 1 33 11.2 1 13.7 89.1 1
2 Ny.S 37 An.S 2 17 12.5 1 6.8 74.2 1
3 [Link] 35 An.E 2 27 13.5 1 13.2 88 1
4 Ny.D 37 An.D 1 22 10.4 0 13 83 1
5 Ny.J 36 An.I 1 22 9.8 0 12.8 82 1
6 Ny.P 39 An.A 2 41 14.2 1 12.3 92.2 1
7 Ny.N 37 An.G 1 37 9 0 16 92 1
8 Ny.B 36 An.N 2 30 15 1 11.5 96.2 1
9 Ny.K 38 An.S 2 23 10.3 0 10.5 80.2 1
10 Ny.Y 39 An.Z 1 36 11.1 1 14.3 96.1 1
11 Ny.Z 35 An.N 2 28 11.1 1 11.5 93.2 1
12 [Link] 38 An.K 1 24 12.8 1 10.6 80.2 1
13 [Link] 39 An.H 1 31 7.5 0 14.4 92.1 1
14 [Link] 38 An.B 1 35 12 1 16.8 99.1 1
15 [Link] 34 An.N 1 38 9.2 0 13.3 91.1 1
16 Ny.T 35 An.F 1 21 12.1 1 12.7 81.1 1
17 Ny.A 30 An.A 1 18 11.8 1 10.8 77.2 1
18 Ny.K 36 An.B 1 17 8.5 0 8.5 77.1 1
19 Ny.B 38 An.Y 1 36 12.1 1 15.3 94.1 1
20 Ny.P 35 An.A 1 26 11.4 1 9.5 83.2 1
21 Ny.R 34 An.M 2 46 10.3 0 17.5 97.1 1
22 Ny.T 37 An.Z 2 38 11.5 1 12.7 96.3 1
23 Ny.N 40 An.R 2 37 13.1 1 14.1 93.1 1
24 NyM 38 [Link] 2 31 9.6 0 10.1 87.2 1
25 Ny.H 33 [Link] 2 29 12.8 1 11.2 92.1 1
26 Ny.P 38 An.K 2 41 13.2 1 13.5 90.6 1
27 Ny.W 29 An.N 2 39 12.4 1 14.2 90.6 1
28 Ny.S 29 An.A 2 24 13.5 1 10.4 82 1
29 Ny.W 30 An.H 1 20 12 1 11.8 84 1
30 Ny.V 28 An.R 1 36 9.5 0 14.3 94 1
31 Ny.M 25 An.A 1 19 8.3 0 12 81 1
32 Ny.L 31 An.G 1 37 14 1 15.5 101 1
33 Ny.P 39 An.I 2 34 13.2 1 14.8 94 1
34 Ny.S 38 An.N 2 17 12.7 1 10.2 75 1
35 Ny.A 41 An.A 1 20 13.5 1 10.4 75 1
36 Ny.D 22 An.R 1 15 14 1 10.7 81 1
37 Ny.S 40 An.J 2 49 10.3 0 14.1 95 1
90

Nama Umur Nama Jenis


No Umur Hb Anemia BB TB Stunting
Ibu Anak
Ibu Kelamin
38 Ny.A 39 An.A 2 33 11 0 14.8 91.5 1
39 Ny.A 39 An.A 2 33 11 0 14.7 91.5 1
40 Ny.W 35 An.F 2 22 14.5 1 14.2 86 1
41 Ny.Y 33 An.A 1 26 14.8 1 11.2 91 1
42 Ny.A 26 An.A 2 12 13 1 8.5 70.4 1
43 Ny.I 30 An.G 1 26 15 1 12 91 1
44 Ny.S 35 An.Q 2 33 13.8 1 13.1 87 1
45 Ny.L 37 An.A 2 34 12.7 1 10.3 87 1
46 Ny.H 40 An.S 2 30 11.2 0 13 98 1
47 Ny.L 36 An.F 1 32 14.9 1 16.3 86 1
48 Ny.Y 35 An.H 2 29 14.3 1 13.4 87.5 1
49 NY.R 37 An.A 1 40 13.5 1 14 94 1
50 Ny.A 25 An.B 1 22 13.7 1 13.2 92 1
51 Ny.S 31 An.A 2 29 12 1 11.2 90 1
52 Ny.S 34 An.V 2 48 9.5 0 15.2 96 1
53 Ny.H 35 An.P 1 34 13.3 1 11.3 90.1 1
54 Ny.K 39 An.D 1 25 14.3 1 15.9 94.5 1
55 Ny.S 40 An.N 2 48 8.6 0 13.7 85.1 1
91

Lampiran 9
DISTRIBUSI FREKUENSI RESPONDEN
Kelompok Kasus
Descriptives

Statistic Std. Error


umur_ibu Mean 34.70 .712
95% Confidence Interval for Lower Bound 33.24
Mean
Upper Bound 36.17
5% Trimmed Mean 34.80
Median 35.00
Variance 13.678
Std. Deviation 3.698
Minimum 28
Maximum 40
Range 12
Interquartile Range 6
Skewness -.771 .448
Kurtosis -.646 .872

Descriptives

Statistic Std. Error


umur balita Mean 31.11 2.029
95% Confidence Interval for Lower Bound 26.94
Mean
Upper Bound 35.28
5% Trimmed Mean 31.09
Median 33.00
Variance 111.103
Std. Deviation 10.541
Minimum 13
Maximum 49
Range 36
Interquartile Range 16
Skewness -.006 .448
Kurtosis -1.014 .872
92

jenis kelamin
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid 1 13 48.1 48.1 48.1
2 14 51.9 51.9 100.0
Total 27 100.0 100.0

Descriptives
Statistic Std. Error
tinggi badan anak Mean 81.9333 1.52348
95% Confidence Interval Lower Bound 78.8018
for Mean Upper Bound 85.0649
5% Trimmed Mean 81.8708
Median 83.8000
Variance 62.667
Std. Deviation 7.91624
Minimum 70.10
Maximum 95.10
Range 25.00
Interquartile Range 13.60
Skewness -.084 .448
Kurtosis -1.304 .872

Descriptives
Statistic Std. Error
berat badan anak Mean 11.4185 .49152
95% Confidence Interval Lower Bound 10.4082
for Mean
Upper Bound 12.4289
5% Trimmed Mean 11.3681
Median 11.4000
Variance 6.523
Std. Deviation 2.55404
Minimum 4.80
Maximum 19.10
Range 14.30
Interquartile Range 2.90
Skewness .418 .448
Kurtosis 3.162 .872
93

Kelompok Kontrol

Case Processing Summary

Cases

Valid Missing Total

N Percent N Percent N Percent

umur_ibu 55 100.0% 0 .0% 55 100.0%

Descriptives

Statistic Std. Error

umur_ibu Mean 35.04 .589

95% Confidence Interval for Lower Bound 33.85


Mean
Upper Bound 36.22

5% Trimmed Mean 35.36

Median 36.00

Variance 19.110

Std. Deviation 4.371

Minimum 22

Maximum 41

Range 19

Interquartile Range 5

Skewness -1.132 .322

Kurtosis .765 .634


94

Descriptives

Statistic Std. Error

umur balita Mean 30.00 1.197

95% Confidence Interval for Lower Bound 27.60


Mean
Upper Bound 32.40

5% Trimmed Mean 29.84

Median 30.00

Variance 78.778

Std. Deviation 8.876

Minimum 12

Maximum 49

Range 37

Interquartile Range 14

Skewness .148 .322

Kurtosis -.510 .634

jenis kelamin

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 1 27 49.1 49.1 49.1

2 28 50.9 50.9 100.0

Total 55 100.0 100.0


95

Descriptives

Statistic Std. Error

berat badan anak Mean 12.7455 .30153

95% Confidence Interval for Lower Bound 12.1409


Mean
Upper Bound 13.3500

5% Trimmed Mean 12.7838

Median 13.0000

Variance 5.001

Std. Deviation 2.23622

Minimum 6.80

Maximum 17.50

Range 10.70

Interquartile Range 3.10

Skewness -.240 .322

Kurtosis -.127 .634

Descriptives

Statistic Std. Error

tinggi badan anak Mean 88.3455 .94966

95% Confidence Interval for Lower Bound 86.4415


Mean
Upper Bound 90.2494

5% Trimmed Mean 88.5768

Median 90.6000

Variance 49.602

Std. Deviation 7.04285

Minimum 70.40

Maximum 101.00

Range 30.60

Interquartile Range 11.00

Skewness -.590 .322


96

Descriptives

Statistic Std. Error

tinggi badan anak Mean 88.3455 .94966

95% Confidence Interval for Lower Bound 86.4415


Mean
Upper Bound 90.2494

5% Trimmed Mean 88.5768

Median 90.6000

Variance 49.602

Std. Deviation 7.04285

Minimum 70.40

Maximum 101.00

Range 30.60

Interquartile Range 11.00

Skewness -.590 .322

Kurtosis -.316 .634

Anemi

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid anemia 17 30.9 30.9 30.9

tidak anemia 38 69.1 69.1 100.0

Total 55 100.0 100.0


97

Lampiran 10

Hasil Uji Chi Square

Case Processing Summary

Cases

Valid Missing Total

N Percent N Percent N Percent

anemia * status pertumbuhsn 82 100.0% 0 .0% 82 100.0%

anemia * status pertumbuhsn Crosstabulation

status pertumbuhsn

Stunting Tidak Stunting Total

anemia anemia Count 18 17 35

% within status pertumbuhsn 66.7% 30.9% 42.7%

tidak anemia Count 9 38 47

% within status pertumbuhsn 33.3% 69.1% 57.3%

Total Count 27 55 82

% within status pertumbuhsn 100.0% 100.0% 100.0%

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-


Value df sided) sided) sided)

Pearson Chi-Square 9.465a 1 .002

Continuity Correctionb 8.060 1 .005

Likelihood Ratio 9.521 1 .002

Fisher's Exact Test .004 .002

Linear-by-Linear Association 9.349 1 .002

N of Valid Casesb 82

a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 11.52.

b. Computed only for a 2x2 table


98

Symmetric Measures

Value Approx. Sig.

Nominal by Nominal Contingency Coefficient .322 .002

N of Valid Cases 82

Risk Estimate

95% Confidence Interval

Value Lower Upper

Odds Ratio for anemia


4.471 1.672 11.954
(anemia / tidak anemia)

For cohort status


2.686 1.374 5.248
pertumbuhsn = Stunting

For cohort status


pertumbuhsn = Tidak .601 .416 .868
Stunting

N of Valid Cases 82
99

Lampiran 11

DOKUMENTASI PENELITIAN
100

Lampiran 12

JADWAL PENYUSUNAN SKRIPSI

Bulan
No Kegiatan
Desember Januari Februari Maret April Mei Juni Juli
1. Pengajuan dan konsul judul
2. Penyusunan proposal
3. Bimbingan Proposal
4. Ujian proposal
5. Revisi proposal
6. Pengambilan data (Penelitian)
7. Penyusunan dan bimbingan skipsi
8. Ujian skripsi
101

Lampiran 13
102

Anda mungkin juga menyukai