Terapi Visual untuk Pasien Skizofrenia
Terapi Visual untuk Pasien Skizofrenia
DAFTAR ISI
PENGANTAR
I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
1.2. Rumusan Masalah
1.3. Tujuan
1.4. Manfaat dan Signifikansi Penelitian
1.5. Batasan Masalah
DAFTAR PUSATAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN
BAB I
[Link]
Kesehatan jiwa merupakan bagian yang sangat penting untuk menjadi manusia
seutuhnya, sebuah faktor yang sangat integral. Kesehatan jiwa bukan sekedar terbebas dari
gangguan jiwa, akan tetapi merupakan suatu hal yang dibutuhkan oleh semua orang.
Kesehatan jiwa adalah perasaan sehat dan bahagia serta mampu mengatasi tantangan hidup,
dapat menerima orang lain sebagai mana adanya. Serta mempunyai sikap positif terhadap diri
sendiri dan orang lain.
Saat ini kesehatan jiwa maupun mental telah menjadi masalah kesehatan global bagi
setiap negara termasuk Indonesia. Proses globalisasi dan pesatnya kemajuan teknologi
informasi memberikan dampak terhadap nilai-nilai sosial dan budaya pada masyarakat. Di
sisi lain, tidak semua orang mempunyai kemampuan yang sama untuk menyusuaikan dengan
berbagai perubahan, serta mengelola konflik dan stres tersebut. Masalah kesehatan jiwa
merupakan masalah kesehatan masyarakat yang demikian tinggi dibandingkan dengan
masalah kesehatan lain yang ada dimasyarakat karena kurva dampak dari permasalahan jiwa,
syaraf maupun perilaku jumlahnya terus bertambah secara persentase dari tahun ke tahun.
Kebanyakan dari mereka yang mengalami gangguan kesehatan mental dan jiwa
didominasi orang dewasa. Berdasarkan data empiris orang yang mengalami mengalami
gangguan mental emosional atau gangguan saraf diakibatkan oleh Kondisi sosial budaya
mempengaruhi gangguan orientasi realita seperti: kemiskinan, konflik sosial budaya (perang,
kerusuhan, bencana alam, kegagalan dalam pencalonan politik) dan kehidupan yang terisolasi
disertai stress.
Permasalahan umum yang cukup relevan untuk masalah ini berkaitan dengan
terlambat berobat dan tidak tertangani akibat kurangnya kesadaran masyarakat akan
pentingnya antisipasi sejak dini juga layanan untuk penyakit kejiwaan ini. Krisis lingkungan
sosial yang semakin berat mendorong jumlah penderita gangguan jiwa di Indonesia kian
meningkat.
Skizofrenia mungkin masih agak asing bagi sebagian besar orang awam. Orang
cenderung menyamakan dengan orang gila dan harus dimasukan kedalam rumah sakit jiwa.
Memang, penderitanya harus mendapatkan penanganan yang tepat agar bisa sembuh. Akan
tetapi Skizofrenia tidak hanya berhubungan dengan kegilaan pada umumnya.
Sinopsis Psikiatri (kaplan dan sadock :686) Skizofrenia merupakan penyakit otak
yang timbul akibat ketidakseimbangan pada dopamin, yaitu salah satu sel kimia dalam otak.
Skizofrenia bisa mengenai siapa saja, dengan ciri hilangnya perasaan afektif atau respons
emosional dan menarik diri dari hubungan antar pribadi normal. Sering kali diikuti dengan
delusi (keyakinan yang salah) dan halusinasi (persepsi tanpa ada rangsang pancaindra).
Oleh karena itu proses perancangan Audio Visual ini merupakan proyek yang visible,
Dengan menggunakan tehnologi desain media kreatif, yang didukung dengan dasar dasar
keilmuan psikiatri jiwa dan ilmu desain komunikasi visual. Dalam masa mendatang terapi
dengan Audio Visual nantinya bukan hanya sekedar simulasi terapi, namun lebih kepada
elemen psikoterapi dan rehabilitasi.
Oleh karena itu proses perancangan Audio Visual ini merupakan proyek yang visible,
Dengan menggunakan tehnologi desain media kreatif, yang didukung dengan dasar dasar
keilmuan psikiatri jiwa dan ilmu desain kominikasi visual. Dalam masa mendatang terapi
dengan Audio Visual nantinya bukan hanya sekedar simulasi terapi, namun lebih kepada
elemen psikoterapi dan rehabilitasi.
Bagaimana merancang terapi dengan media Audio Visual kepada pasien Skizofrenia,
sebagai stimulant tahap rehabilitasi Untuk penyakit kejiwaan Skizofrenia.
Merancang terapi dengan media Audio Visual dengan berbagai kolase terapi dengan
metode dasar asuhan keperawatan jiwa terhadap pasien penyakit Skizofrenia.
1. Bagi Masyarakat
Memberikan informasi bagi masyarakat dalam menanggapi fenomena sosial
dari penyakit kejiwaan skizofrenia.
Dapat digunakan untuk mengetahui ketrampilan interpersonal dalam
melaksanakan dukungan keluarga.
2. Bagi Klient
Sebagai strategi dan usaha peningkatan mutu pelayanan kesehatan jiwa
khususnya dengan pengadaan program Terapi Audio Visual untuk pasien
Skizofrenia juga dukungan keluarga untuk lebih terlibat dalam merawat klien
skizofrenia dengan media kreatif.
Sebagai eksperimen dalam menerapkan metode terapi rehabilisasi dengan
media audio visual yang bersumber pada kombinasi ilmu komunikasi desain
juga ilmu kejiwaan untuk pelaksanaan terapi Audio visual.
3. Bagi Almamater
Sebagai referensi yang dapat digunakan untuk bahan pengembangan terutama
mengenai hal-hal yang berkaitan dengan masalah psikologi dan bagaimana
memposisikan ilmu kejuruan desain kominikasi visual sebagai sarana
menciptakan media yang tepat dan berperan langsung dalam menghadapi
fenomena sosial khususnya kejiwaan.
Untuk menambah pembendaharaan kepustakaan dan sekaligus sebagai acuan
terhadap laporan yang berhubungan dengan masalah terkait, juga sebagai
media untuk menambah pengetahuan bagi rekan – rekan mahasiswa.
.
4. Bagi Penulis
Sebagai penerapan teori dan praktek soft skill dan technical skill selama
bangku perkuliahan.
Dapat menjalin hubungan mutualistis dengan pihak industri atau perusahaan.
Perancangan Terapi Audio Visual Untuk Pasien skizofrenia, yang nantinya digunakan
badan kesehatan terkait maupun lembaga yang menaungi Skizofrenia. Dalam bentuk
media teknik kolase, estetika, sesuai metode psikoteraphy dan rehabilitasi pada penyakit
Skizofrenia.
BAB II
Metode penelitian dibagi menjadi beberapa jenis yakni kuantitatif yang bersifat tetap baku
dan tidak berubah-ubah, kualitatif yang bersifat fleksibel dan berubah-ubah sesuai dengan
kondisi lapangan, dan metodologi campuran dari kualitatif dan kuantitatif. Dalam
Perancangan “ Terapi Audio Visual Untuk Pasien Skizofrenia “ ini perancang menggunakan
pendekatan kualitatif sebagai metodologi penelitiannya untuk menunjang keakuratan sebuah
data yakni untuk mengembangkan konsep-konsep dan pengertian pengertian menjadi sebuah
teori/data yang membantu memberikan solusi terhadap permasalahan.
Teknik penelitian kualitatif dapat dibagi menjadi dua, yaitu observasi partisipatif dan non-
partisipatif. Observasi partisipatif bararti peneliti terjun langsung ke dalam lingkungan yang
akan diteliti. Sedangkan observasi non-partisipatif berarti peneliti hanya mengamati bahkan
tidak sampai hadir ke dalam lokasi [Link] pendekatan kualitatif dilandaskan
untuk mengembangkan konsep-konsep dan pengertian-pengertian menjadi sebuah teori/data
yang membantu memberikan solusi terhadap permasalahan untuk mengembangkan data-data
yang didapat ketika pengambilan data sebagai alat pertimbangan untuk memecahkan masalah
dan memenuhi tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.
Jonathan sarwono dan hary Lubis (2007:95) menjelaskan bahwa pendekatan
Kualitatif memiliki model riset yang berupa :
Penyataan masalah
Perumusan permasalahan terhadap objek perancangan.
Teknik sampling (pemilihan informan)
Pertimbangan dalam pemilihan informan yang sebagai sumber data yang
dapat dilakukan dengan berbagai teknik meliputi : kesesuaian, penilaian,
bola salju.
Jenis data
Data premier dan data sekunder dalam bentuk selain angka. Data premier
berupa teks hasil wawancara yang diperoleh memalui wawancara dengan
informan yang dijadikan sample penelitian. Data sekunder berupa data-data
yang sudah tersedia dan dapat diperoleh oleh peneliti dengan cara
membaca, melihat atau mendengarkan.
Alat pengambilan data
Alat pengambilan data berupa wawancara (in depth interview).
Metode pengambilan data
Metode pengambilan data dapatt dilakukan dengan wawancara, observasi
dan review dokument.
Teknis analisis
Metode pengambilan dan pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara dengan
pasien dan review dokumen pada data di Rumah sakit jiwa Amino Ghondoutomo
Semarang. Adapun data yang didapat berupa:
Data primer yang didapat dilakukan dengan cara wawancara (in-depth review) serta
observasi. Wawancara (in-depth preview) dilakukan dengan mode terperinci untuk diajukan
kepada informan. Adapun pemilihan informan sebagai wawancara terarah,untuk memperoleh
suatu data dimana peneliti telah menyusun pertanyaan sumber data meliputi kerjasama
dengan Rumah Sakit Jiwa Dr. Amino Gondohutomo, rujukan dokter polipskiatri jiwa Rumah
sakit dr Karyadi, dan Komunitas peduli Skizofrenia Indonesia yang menaungi para penderita
Skizofrenia., tidak sampai disitu peneliti melakukan tindak komparasi obervatif kepada
keluarga dengan sumber daya manusia yang rendah, yang banyak melakukan tindak
kekerasan dalam sistem pengobatan konvensional yang tidak efektif dan cenderung
mengexploitasi.
3 Hubungan antara lama Siti Kuantitatif Penerima keluarga Ada hubungan baik
sakit dengan dukungan Nurarbiyah antara lama hari
keluarga pada pasien rawat dengan
skizofrenia yang dirawat dukungan keluarga
diruang rawat inap
rumah sakit jiwa prof.
Dr. Soeroyo magelang
2.3 Metode Analisis Data
Analisa Framing adalah analisis yang digunakan untuk mengetahui bagaimana realitas (aktor,
kelompok, atau apa saja) dikonstruksi oleh media (Eriyanto, 2005, p.3). Analisa framing
memiliki dua konsep yakni konsep pskiologis dan sosiologis. Konsep psikologis lebih
menekankan pada bagaimana seseorang memproses informasi pada dirinya sedangkan
konsep sosiologis lebih melihat pada bagaimana konstruksi sosial atas realitas. Analisis
Framing sendiri juga merupakan bagian dari analisis isi yang melakukan penilaian tentang
wacana persaingan antar kelompok yang muncul atau tampak di media.
Metode analisis Framing juga dikenal sebagai konsep bingkai, yaitu gagasan sentral yang
terorganisasi, dan dapat dianalisis melalui dua turunannya, yaitu simbol berupa framing
device dan reasoning device. Framing device menunjuk pada penyebutan istilah tertentu yang
menunjukkan “julukan” pada satu wacana, sedangkan reasoning device menunjuk pada
analisis sebab-akibat. Di dalamnya terdapat beberapa ‘turunan’, yaitu metafora,
perumpamaan atau pengandaian. Catchphrases merupakan slogan-slogan yang harus
dikerjakan. Exemplar mengaitkan bingkai dengan contoh, teori atau pengalaman masa silam.
Depiction adalah “musuh yang harus dilawan bersama”, dan visual image adalah gambar-
gambar yang mendukung bingkai secara keseluruhan. Pada instrumen penalaran, Roots
memperlihatkan analisis sebab-akibat, Appeals to principles merupakan premis atau klaim
moral, dan Consequences merupakan kesimpulan logika penalaran.
Skizofrenia bisa terjadi pada siapa saja. Seringkali pasien Skizofrenia digambarkan sebagai
individu yang bodoh, aneh, dan berbahaya (Bagus Galih, 2012). Alur pemikiran yang difuser,
halusinasi adanya hubungan kognitif terhadap alam bawah sadar, membuat jiwa dan mental
pasien terguncang bahkan kehilangan diri sendiri. Dengan tahap tahap penyembuhan medis
dan rehabilitasi kepada pasien, terapi Audio visual ini nantinya akan ikut menjadi substansi
dari elemen Rehab poliskiatri jiwa, baik gejala awal, penanganan, maupun rawat jalan. Dan
terapi ini harus didukung oleh lingkungan yang baik dan factor primer adalah dukungan
keluarga terhadap kesembuhan pasien.
Pendahuluan
Berisikan pembahasan permasalahan apa itu penyakit skizofrenia melaluli Iklan layanan
masyarakat , batasan-batasan, tujuan serta manfaat perancangan solusi dalam permasalahan
juga fenomena sosial.
TINJAUAN PUSTAKA
Psikoanalisis dalam pengertian secara harfiah adalah ilmu yang mengurai tentang “diri”
manusia[1], dan merupakan aliran dari psikologi modern, bapak pendirinya yaitu Sigmund
Freud. Gagasan tentang diri menurut kaum humanis barat di definisikan dengan
beroperasinya kesadaran (seperti berfikir, kehendak bebas, tindakan dan sebagainya) akan
tetapi menurut Freud dengan psikoanalisisnya menyatakan bahwa konsep tentang diri
(kesadaran) dideterminasi atau dipengaruhi oleh ketaksadaran dan berbagai dorongan dan
hasratnya sehingga ia membagi dua wilayah kesadaran dan ketaksadaran itu menjadi sesuatu
yang radikal.
Gagasan-gagasan Freud inilah yang kemundian berkembang menjadi suatu aliran dalam
psikologi modern, sehingga di Prancis Jaques Lacan yang berprofesi sebagai psikoanalisis
pada tahun 1950 mengembangkan pandangan Psikoanalisisnya dengan didasarkan pada
berbagai gagasan yang diartikulasikan dalam antropologi dan linguistic strukturalis. Lacan
mencampur adukan teori Freud dan Saussure (Linguistik) bahkan Lacan juga dipengaruhi
oleh pemikiran-pemikiran filsafat Heidegger, Levi Strauss dan Derrida. Dari hasil
“perenungan” Lacan tentang Psikoanalisis dia menginterpretasikan Freud menggunakan teori
strukturalis dan postrukturalis, Lacan kemudian mengalihkan psikoanalisis yang secara
hakikatnya bersifat humanis menjadi menjadi teori atau filsafat psikoanalisis.
Psikoanalisis Lacanian mempunyai dua garis besar yaitu fenomenologi dan strukturalisme.
Jika dalam fenomenologi menekankan pada konsep diri yang bebas, kemudian strukturalisme
menekankan pada determinisme bahasa. Lacan menggunakan strukturalisme tetapi tidak
pernah “menyangkal subjek”, oleh karena itu konsep diri tidak terelakkan dari psikoanalisis
lacanian, sementara strukturalisme menjadi cara pembahasannya.
[3] Film kartun tentang Harold merupakan contoh yang memudahkan pengambaran fase
cermin ini. Ceritanya tentang Harold yang masih balita, sebelum tidur Harold “berjalan-
jalan” melalui coretan pensil ajaibnya. Setiap coretan pensilnya misalnya ketika membentuk
sebuah jendela, maka jendela tersebut menjadi sungguhan sehingga Harold bias keluar dari
kamarnya melalui jendela tersebut. Kemudian Harold menyukai bulan dan iapun
menggambar bulan. Karena cahaya bulan tersebut bayangannya muncul tepat didinding di
hadapannya, Harold belum mengenal konsep bayangan jadi ia terheran-heran
memandangnya. Ia malah menyangka bahwa bayangan tersebut kawannya. Tetapi
kebingungan kembali menghadangnya karena apapun yang dilakuannya misalnya
menggerakkan tubuh maka bayangan yang disangka kawannya itu selalu sama persis
mengikutinya. Dengan berbagai cara Harold berusaha membuktikan mengapa “kawannya”
tersebut selalu meniru gerak-geriknya.
[4] Menurut hipotesis ini kendali total ego atas hasrat adalah ilusi, karena manusia adalah
mahluk yang tidak tahu apa yang harus dihasrati dan oleh karenannya berpaling ke orang lain
untuk menentukan pilihan. Hasrat tidak muncul dari imperative ego, melainkan peniruan
hasrat orang lain.
[5] Menurut tokoh formalis Rusia Roman Jakobson menerangkan bahwa terdapat dua operasi
utama dalam bahasa manusia yaitu metafora dan metonomia. Metafora adalah subtitusi satu
tanda lainya karena adanya kesamaan sedangkan metonomia adalah asosiasi satu tanda oleh
tanda lainnya.
[6] Jaques Lacan Diskursus dan Perubahan social, pengantar kritik budaya psikoanalisis.
Hal.303
Definisi Komunikasi
Sebenarnya kalau dirunut dari asal muasal bahasa, menurut Deddy Mulyana kata
komunikasi diserap dari bahasa Inggris communication, yang bisa dirujuk dari kata latin
communis yang berarti “sama”, communico, communication atau istilah communicare yang
berarti “membuat sama” (to make common). Istilah communis adalah istilah yang paling
disebut sebagai asal usul kata komunikasi, yang merupakan akar dari kata-kata latin lainnya
yang mirip.
Pengertian ini mengartikanbahwa “suatu pikiran, suatu makna”, atau “suatu pesan
yang dianut secara sama.” Namun perunutan asal kata ini tidak banyak membantu, terutama
karena komunikasi sebagai ilmu telah berkembang sedemikian rupa sehingga tidak lagi bisa
dicarikan maknanya hanya dengan merujuk pada akar katanya.
a. Pengirim Pesan
Pengirim pesan (komunikator) adalah orang yang berinisiatif menyampaikan pesan
untuk mewujudkan motif komunikasinya. Dilihatdari jumlahnya, komunikator dapat terdiri
dari satu orang, lebih dari satu orang, serta massa.
b. Penerima Pesan
Penerima pesan (komunikan) adalah orang yang menerima pesan dari komunikator.
Komunikan dapat terdiri dari satu orang, banyak orang (kelompok), dan massa.
c. Pesan
Pesan disampaikan komunikator kepada komunikan untuk mewujudkan motif
komunikasi: apa yang ia pikir dan rasakan. Karena itu, pesan dapat didefinisikan sebagai
segala sesuatu, verbal maupun nonverbal, yang disampaikan komunikator kepada komunikan
untuk mewujudkan motif komunikasinya.
e. Efek Komunikasi
Efek komunikasi merupakan pengaruh yang ditimbulkan pesan komunikator dalam
diri komunikannya. Terdapat tiga tataran pengaruh dalam diri komunikan, yaitu kognitif
(seseorang menjadi tahu tentang sesuatu), afektif (sikap seseorang terbentuk, misalnya setuju
atau tidak setuju terhadap sesuatu), dan konatif (tingkah laku nyata, yang membuat seseorang
bertindak melakukan sesuatu).
f. Umpan Balik
Umpan balik dapat dimaknai sebagai jawaban komunikan atas pesan komunikator
yang disampaikan kepadanya. Dalam komunikasi yang dinamis, komunikator dan komunikan
terus-menerus saling bertukar peran. Karenanya, umpan balik pada dasarnya adalah pesan
juga, yakni komunikan berperan sebagai komunikator kedua.
Bagaimana khalayak merespon pesan-pesan iklan dari media massa dapat diterangkan melalui
teori-teori selective influence yang terdiri dari empat prinsip;
Pertama, perbedaan individu dalam merespon pesan-pesan iklan terjadi hanya karena
perbedaan dalam struktur kognitip yang mereka miliki. Cara pandang,
berpikir,berpengetahuan, kepercayaan setiap orang terhadap sesuatu yang baru ternasuk
pesan-pesan iklan tidaklah sama.
Kedua, karena keanggotaan seseorang dalam masyarakat ada dalam pelbagai kelompok
social maupun kemasyarakatan maka ada dugaan memilih perhatian terhadap pesan tertentu
pun akan dipengaruhi oleh kelompoknya itu.
Ketiga, bahwa orang lebih berminat jika suatu pesan iklan dapat membangun citra
hubungannya dengan pihak lain. Pesan iklan membuat orang harus memperhatikannya karena
pesan itu mengakibatkan orang itu aktif berhubungan dengan anggota keluarganya,
tetangganya, kenalan
2. Selective Perception
Aspek lain yang perlu diperhatikan dalam pemilihanpesan iklan adalah pilihan
terhadap sesuatu pesan yang didasarkan pada “persepsi” tertentu. Karena adanya perbedaan
dalam faktor-faktor kognitif; minat dan kepercayaan, pengetahuan,sikap dan kebutuhan, nilai-
nilai maka individu secara selektif pula mempersepsi pesan iklan yang menerpanya. Jadi
terdapat perbedaan penerimaan pesan yang dipersepsi oleh penerima karena terdapat
perbedaan kognisi itu.
3. Selective Recall
Dalam selective recall ini bahwa seseorang cenderung memilih kembali hanya pesan-
pesan yang diingat saja. Jadi prinsip ini meskipun parallel dengan seleksi pada perhatian
namun setiap orang memilih pesan iklan yang paling berkesan saja.
Teori S-O-R
Bahwa tingkah sosial dapat dimengerti melalui suatu analisa dari stimuli yang
diberikan dan dapat mempengaruhi reaksi yang spesifik dan di dukung oleh hukuman
maupun penghargaan sesuai dengan reaksi yang terjadi. Teori S-O-R menitik beratkan pada
penyebab sikap yang dapat mengubahnya dan tergantung pada kualitas rangsang yang
berkomunikasi dengan organisme. Menurup Hovland, proses dari perubahan sikap adalah
serupa dengan proses belajar, dimana ada tiga variable penting yang menunjang proses belajar
tersebut ialah
1) perhatian
2). Pengertian
3) Penerimaan
Dari pemahaman ini dapat dijelaskan iklan merupakan stimulus yang akan ditangkap
oleh organisme khalayak. komunikasi akan berlangsung jika ada perhatian dari komunikan.
proses selanjutnya komunikan mengerti. Kemampuan dari komunikan ini yang menentukan
proses selanjutnya , setelah komunikan mengolah dan menerimanya maka terjadilah
kesediaan untuk mengubah sikap.
(2).Memperkuat tanggapan karena setelah membeli konsumen menjadi lebih peka terhadap
iklan-iklan produk yang bersangkutan
Dalam kaitannya dengan teori S-O-R sering terjadi pergeseran karena seringnya
terpaan pesan yang diterima khalayak sehingga khayalak mengalami kehilangan daya
selektivitas ( sistem seleksi yang semestinya melalui penyaringan yang ketat terkalahkan oleh
sifat mudah dipengaruhi). hal ini khususnya terjadi pada segmen kelompok khalayak remaja.
Sehingga implementasinya teori S-O-R sering menjadi teori S-R, artinya respon yang
ditimbulkan sebagai konsekwensi adanya stimulus iklan yang diterima remaja tanpa melalui
filter organisme yang ketat. Pendekatan Psikologi Periklanan.
Dalam kegiatan periklanan dimana seluruh kegiatannya dilakukan oleh manusia maka
di dalam hal ini tidak dapat dikesampingkan masalah segi kejiwaan atau psykologi sebagai
dasar untuk melakukan kegiatan-kegiatan dibidang periklanan secara secara keseluruhan.
Berkaitan dengan ilmu psikologi dalam periklanan maka tidak terlepas dari
pemahaman dan penerapan ilmu jiwa, baik ilmu jiwa perorangan maupun ilmu jiwa sosial.
Ilmu jiwa perorangan mempelajari serta menyelidiki jiwa seseorang, yang diselidiki adalah
anasir-anasir dari jiwa manusia itu dan hubungan-hubungannya dengan pengaruh
pembawaannya dan pengaruh alam sekitarnya.
Ilmu jiwa sosial ialah mempelajari tingkah laku manusia baik secara perorangan
maupun secara berkelompok, yang dimaksud dengan tingkah laku sosial adalah tingkah laku
manusia yang terjadi sehubungan dengan adanya orang lain baik itu secara konkrit maupun
secara psikologis dalam bentuk frame of Reference.
Ilmu jiwa sosial adalah ilmu yang menganalisa faktor-faktor sosial yang
mempengaruhi manusia atau individu. Juga dalam psikologi sosial aspek-aspek dari tingkah
laku dinyatakan atau ditujukan dengan partisipasi individu didalam struktur sosial ada pula
yang berpendapat bahwa psikologi sosial adalah suatu studimengenai interaksi maupun
respon-respon terhadap stimulus sosial. Apapun tingkah laku manusia selalu dipengaruhi oleh
persepsinya tentang lingkungan sosialnya.
Jadi didalam semua hal tujuan periklanan untuk mempengaruhi tingkah laku manusia,
jika tujuan ingin tercapai, pengiklan harus mengetahui dan memahami pengaruh-pengaruh
dasar, pengamatan dasar yang dapat membentuk tingkah laku manusia termasuk didalamnya
proses komunikasi.
Dalam ilmu psikologi aspek yang mendorong manusia untuk bertindak atau
melakukan sesuatu adalah berkaitan dengan motive atau kebutuhan.
Adanya kebutuhan yang timbul dari diri manusia justru menjadi sasaran dalam medan
kompetisi perebutan perhatian dan pengaruh, yang mana dibawakan oleh pesan-pesan dari
iklan dan reklame melaui media massa. Para ahli periklanan menyadari akan fakta-fakta
selain diusahakan untuk merubah tingkah laku manusia berdasarkan motive yang ada ,
dipikirkan juga jalan keluar untuk memenuhi kebutuhan manusia sebagai pembeli hasil
produk.
Secara psikologis setiap individu selalu ingin diterima oleh lingkungannnya dan selalu
merasa nyaman dengan kondisi dirinya atau yang dirasakannya dan iklan menawarkan
pemenuhannya.
1. Permanen Interest
2. Immediate Concern
Perhatian dari seseorang yang tiba-tiba saja timbul karena faktor pribadi yang membutuhkan.
3. Spon of Attention
Kemampuan yang terbatas dari seseorang dalam melihat suatu objek dalam suatu saat
4. Flucultion Attention
Konsentrasi orang untuk memperhatian sesuatu tidak bertahan lama sekitar setelah 4 - 5
second akan cenderung beralih perhatian.
perhatian seseorang akan menyokong sikap dan pendapatnya mereka cenderung menghindari
kata-kata atau pesan yang bertentangan dengan sikapnya.
6. Need
bahwa kebutuhan itu akan dapat mempengaruhi perhatian individu. Untuk minat yang rendah
atas produk maka dibutuhkan rangsangan yang lebih kuat untuk menarik perhatian,kalau
minat kebutuhan tinggi rangsangan yang rendah sudah cukup.
Faktor lain yang juga perlu diperhatian dikaitkan dengan rangsangan psikologis adalah :
1. Faktor Keindahan
2. Faktor Kejelekan
3. Faktor Kebosanan
4. Faktor kontras dan mudah diingat
Gambar bergerak (film) adalah bentuk dominan dari komunikasi massa visual di
belahan dunia ini. Film mempunyai banyak pengertian yang masing-masing artinya dapat
dijabarkan secara luas. Film merupakan media komunikasi sosial yang terbentuk dari
penggabungan dua indra, penglihatan dan pendengaran, yang mempunyai inti atau tema
sebuah cerita yang banyak mengungapkan realita sosial yang terjadi di sekitar lingkungan
tempat dimana film itu sendiri tumbuh.
Film sendiri dapat juga berarti sebuah industri, yang mengutamakan eksistensi dan
ketertarikan cerita yang dapat mengajak banyak orang terlibat. Film berbeda dengan cerita
buku, atau cerita sinetron. Walaupun sama-sama mengangkat nilai esensial dari sebuah cerita,
film mempunyai asas sendiri. Selain asas ekonomi bila dilihat dari kacamata industri, asas
yang membedakan film dengan cerita lainnya adalah asas sinematografi. Asas sinematografi
tidak dapat digabungkan dengan asas-asas lainnya karena asas ini berkaitan dengan
pembuatan film.
Asas sinematografi berisikan bagaimana tata letak kamera sebagai alat pengambilan
gambar, bagaimana tata letak properti dalam film, tata artistik, dan berbagai pengaturan
pembuatan film lainnya.
Definisi Film Menurut UU 8/1992, adalah karya cipta seni dan budaya yang
merupakan media komunikasi massa pandang-dengar yang dibuat berdasarkan asas
sinematografi dengan direkam pada pita seluloid, pita video, piringan video, dan/ atau bahan
hasil penemuan teknologi lainnya dalam segala bentuk, jenis, dan ukuran melalui proses
kimiawi, proses elektronik, atau proses lainnya, dengan atau tanpa suara, yang dapat
dipertunjukkan dan/atau ditayangkan dengan sistem Proyeksi mekanik, eletronik, dan/atau
lainnya.
Karakteristik Film
Dalam buku Komunikasi Massa Suatu Pengantar Edisi Revisi, faktor-faktor yang
dapat menunjukkan karakteristik film adalah layar lebar, pengambilan gambar, konsentrasi
penuh dan identifikasi psikologis.
b. Pengambilan Gambar
Sebagai konsekuensi layar lebar, maka pengambilan gambar atau shot dalam film
bioskop memungkinkan dari jarak jauh atau extreme long shot, dan panoramic shot, yakni
pengambilan pemandangan menyeluruh. Shot tersebut dipakai untuk memberi kesan artistik
dan suasana yang sesungguhnya, sehingga film menjadi lebih menarik.
c. Konsentrasi Penuh
Dari pengalaman kita masing-masing, di saat kita menonton film di bioskop, kita
semua terbebas dari gangguan hiruk pikuknya suara diluar karena biasanya ruangan kedap
suara. Semua mata hanya tertuju pada layar, sementara pikiran perasaan kita tertuju pada alur
cerita. Dalam keadaan demikian emosi kita juga terbawa suasana yang diceritakan melalui
adegan-adegan pada film.
d. Identifikasi Psikologis
Kita semua dapat merasakan bahwa suasana di gedung bioskop telah membuat pikiran
dan perasaan kita larut dalam cerita yang disajikan. Karena penghayatan kita yang amat
mendalam, seringkali secara tidak sadar kita menyamakan (mengidentifikasikan) pribadi kita
dengan salah seorang pemeran dalam film itu, sehingga seolaholah kita lah yang sedang
berperan. Gejala ini menurut ilmu jiwa sosial disebut sebagai identifikasi psikologis.
Pengaruh film terhadap jiwa manusia (penonton) tidak hanya sewaktu atau selama duduk di
gedung bioskop, tetapi terus sampai waktu yang cukup lama. Kategori penonton yang mudah
terpengaruh itu biasanya adalah anak-anak dan generasi muda, meski kadang-kadang orang
dewasa pun ada.
Jenis-jenis Film
1. Film Cerita
Film cerita (story film), adalah jenis film yang mengandung suatu cerita yang lazim
dipertunjukkan di gedung-gedung bioskop dengan bintang film tenar dan film ini
didistribusikan sebagai barang dagangan. Cerita yang diangkat menjadi topik film bisa berupa
cerita fiktif atau berdasarkan kisah nyata yang dimodifikasi, sehingga ada unsur menarik,
baik dari jalan ceritanya maupun dari segi gambarnya. Sekalipun film cerita itu fiktif, dapat
saja bersifat mendidik karena mengandung ilmu pengetahuan dan teknologi tinggi.
2. Film Berita
Film berita atau newsreel adalah film mengenai fakta, peristiwa yang benar-benar
terjadi. Karena sifatnya berita, maka film yang disajikan kepada publik harus mengandung
nilai berita.
3. Film Dokumenter
Film dokumenter didefinisikan oleh Robert Flaherty sebagai “karya ciptaan mengenai
kenyataan”. Berbeda dengan film berita yang merupakan rekaman kenyataan, maka film
dokumenter merupakan hasil interpretasi pribadi (pembuatnya) mengenai kenyataan tersebut.
4. Film Mockumentary
Genre baru di mana cerita rekaan atau fiksi difilmkan dengan gaya dokumenter,
sehingga seolah-olah merupakan peristiwa nyata.
3.1.5 Teori Kognitif Sosial
Teori Kognitif Sosial (Social Cognitive Theory) merupakan penamaan baru dari Teori
Belajar Sosial (Social Learning Theory) yang dikembangkan oleh Albert Bandura. Penamaan
baru dengan nama Teori Kognitif Sosial ini dilakukan pada tahun 1970-an dan 1980-an.
Ide pokok dari pemikiran Bandura juga merupakan pengembangan dari ide Miller dan
Dollard tentang belajar meniru (imitative learning). Pada beberapa publikasinya, Bandura
telah mengelaborasi proses belajar social dengan faktor-faktor kognitif dan behavioral yang
memengaruhi seseorang dalam proses belajar sosial. Teori ini sangat berperan dalam
mempelajari efek dari isi media massa pada khalayak media di level individu.
Konsep utama dari teori kognitif sosial adalah pengertian tentang obvervational
learning atau proses belajar dengan mengamati. Jika ada seorang "model" di dalam
lingkungan seorang individu, misalnya saja teman atau anggota keluarga di dalam lingkungan
internal, atau di lingkungan publik seperti para tokoh publik di bidang berita dan hiburan,
proses belajar dari individu ini akan terjadi melalui cara memperhatikan model tersebut.
Terkadang perilaku seseorang bisa timbul hanya karena proses modeling. Modeling
atau peniruan merupakan "the direct, mechanical reproduction of behavior, reproduksi
perilaku yang langsung dan mekanis (Baran & Davis, 2000: 184). Sebagai contoh, ketika
seorang ibu mengajarkan anaknya bagaimana cara mengikat sepatu dengan memeragakannya
berulang kali sehingga si anak bisa mengikat tali sepatunya, maka proses ini disebut proses
modeling. Sebagai tambahan bagi proses peniruan interpersonal, proses modeling dapat juga
terlihat pada narasumber yang ditampilkan oleh media. Misalnya orang bisa meniru
bagaimana cara memasak kue bika dalam sebuah acara kuliner di televisi. Meski demikian
tidak semua narasumber dapat memengaruhi khalayak, meski contoh yang ditampilkan lebih
mudah dari bagaimana cara membuat kue bika. Di dalam kasus ini, teori kognitif sosial
kembali ke konsep dasar "rewards and punishments" – imbalan dan hukuman-- tetapi
menempatkannya dalam konteks belajar sosial.
Kognitif sosial melalui penggunaan tayangan media, beroperasi dengan satu atau
lebih dari tiga cara berikut ini :
1. Pembelajaran melalui observasi. Konsumen dari tayangan dapat memperoleh pola-
pola baru perilaku hanya dengan menonton tayangan tersebut. Kita semua tahu
bagaimana menembakkan pistol, meski banyak dari kita belum pernah betul-betul
melakukannya atau dipaksa untuk tindakan tersebut. Banyak diantara kita mungkin
bahkan berpikir bahwa kita dapat merampok toko. Kita telah melihat hal tersebut
dilakukan.
2. Efek menghambat (inhibitory effects). Melihat model dalam sebuah tayangan media
dihukum karena memperlihatkan perilaku tertentu menurunkan kemungkinan bahwa
pengamat akan melakukan respons tersebut. Kejadian tersebut seperti jika penonton
sendirilah yang sesungguhnya dihukum. Kita melihat penjahat direndahkan karena
kejahatannya. Kemungkinan kita untuk merespons berbagai stimulus dunia nyata kita
dalam cara-cara serupa dikecilkan.
Bagus (19 tahun) adalah siswa yang baik di sepanjang masa SMA-nya. Ia anggota tim
Bulu tangkis sekaligus Atlet daerah yang berprestasi. Ia merupakan tipikal melankolis
pragmatis. Menjelang akhir semester pertama di kampus nya, semuanya mulai berubah.
Bagus tak lagi berbaur bersama dengan kawan-kawannya, pada kenyataannya ia mulai
berkurung diri di dalam kamarnya. Ia mulai mengabaikan kesehatan pribadinya dan berhenti
menghadiri kuliah. Bagus mengalami kesulitan untuk berkonsentrasi dan harus membaca
kalimat yang sama secara berulang-ulang. Ia mulai percaya bahwa kata-kata dalam naskah
bukunya memiliki makna yang khusus baginya dan dengan sesuatu cara memberitahukannya
sebuah pesan untuk menjalankan sebuah misi rahasia. Bagus mulai menyangka bahwa kawan
sekamarnya bersekongkol dengan telepon dan komputernya untuk mengawasi kegiatannya.
Bagus menjadi takut jika kawan sekamarnya tahu akan pesan dalam naskah bukunya dan kini
mencoba untuk menipunya. Bagus mulai percaya teman sekamarnya dapat membaca
pikirannya, pada kenyataannya siapapun yang ia lewati di aula atau di jalanan dapat
mengatakan apapun yang ia pikirkan. Saat Bagus sedang sendirian di kamarnya, ia dapat
mendengar bisikan mereka yang ia percayai sedang mengawasinya. Ia tak dapat memastikan
apa yang mereka katakan tapi ia yakin bahwa mereka membicarakannya ( Riset ekslusif).
Setelah mendapatkan perawatan di RSJ klien dinyatakan boleh Rawat jalan sehingga
keluarga mempunyai peranan yang sangat penting didalam hal merawat klien, menciptakan
lingkungan keluarga yang kondusif, dengan berbagai Terapi rutinitas, pengawasan minum
obat dan control rutin kepada psikiatris (Bagus,2013).
Skizofrenia adalah gangguan jiwa dengan gejala utama berupa waham (keyakinan
salah dan tak dapat dikoreksi) dan halusinasi (seperti mendengar dan melihat sesuatu yang
sebenarnya tidak ada). Skizofrenia adalah juga penyakit yang mempengaruhi wicara serta
perilaku. Seseorang yang menderita skizofrenia mungkin mengaku bahwa diri mereka adalah
'orang besar'.
Pada kasus yang lebih jarang, bahkan ada penderita yang mengaku bahwa ia adalah
Tuhan itu sendiri. namun gejala itu dapat bertumpuk dengan pikiran dan perasaan bahwa
mereka adalah korban dari para penyiksa (victim of persecutors). mereka tak berdaya
menghadapi kenyataan hidup karena pikiran dan perasaan mereka dipenuhi oleh waham dan
halusinasi yang membuat diri mereka melambung dan sekaligus terhempas. Pada banyak
kasus ketersiksaan itulah yang cenderung bertahan lama di dalam diri penderita, sehingga
menurut data statistik 50% penderita skizofrenia pernah berusaha bunuh diri dan 10%
berhasil mati.
Jenis jenis Skizofrenia :
Skizofrenia Simpleks
Skizofrenia simpleks, sering timbul pertama kali pada masa pubertas. Gejala utama ialah
kedangkalan emosi dan kemunduran kemauan. Gangguan proses berfikir biasanya sukar
ditemukan. Waham dan halusinasi jarang sekali terjadi.
Jenis ini timbul secara perlahan. Pada permulaan mungkin penderita kurang memperhatikan
keluarganya atau menarik diri dari pergaulan. Makin lama ia semakin mundur dalam kerjaan
atau pelajaran dan pada akhirnya menjadi pengangguran, dan bila tidak ada orang yang
menolongnya ia akan mungkin akan menjadi “pengemis”, “pelacur” atau “penjahat”
(Maramis, 2004).
Skizofrenia Hebefrenik
Skizofrenia hebefrenik atau disebut juga hebefrenia, menurut Maramis (2004) permulaannya
perlahan-lahan dan sering timbul pada masa remaja atau antara 15–25 tahun. Gejala yang
menyolok adalah gangguan proses berfikir, gangguan kemauan dan adanya depersonalisasi.
Gangguan psikomotor seperti perilaku kekanak-kanakan sering terdapat pada jenis ini.
Waham dan halusinasi banyak sekali.
Skizofrenia Katatonik
Menurut Maramis (2004), skizofrenia katatonik atau disebut juga katatonia, timbulnya
pertama kali antara umur 15-30 tahun dan biasanya akut serta sering didahului oleh stres
emosional. Mungkin terjadi gaduh gelisah katatonik atau stupor katatonik.
Stupor Katatonik
Pada stupor katatonik, penderita tidak menunjukan perhatian sama sekali terhadap
lingkungannya dan emosinya sangat dangkal. Secara tiba-tiba atau perlahan-lahan penderita
keluar dari keadaan stupor ini dan mulai berbicara dan bergerak.
Gaduh Gelisah Katatonik
Pada gaduh gelisah katatonik, terdapat hiperaktivitas motorik, tapi tidak disertai dengan
emosi yang semestinya dan tidak dipengaruhi oleh rangsangan dari luar.
Skizofrenia Paranoid
Jenis ini berbeda dari jenis-jenis lainnya dalam perjalanan penyakit. Hebefrenia dan katatonia
sering lama-kelamaan menunjukkan gejala-gejala skizofrenia simplek atau gejala campuran
hebefrenia dan katatonia. Tidak demikian halnya dengan skizofrenia paranoid yang jalannya
agak konstan, (Maramis, 2004).
Skizofrenia Residual
Skizofrenia residual, merupakan keadaan skizofrenia dengan gejala-gejala primernya Bleuler,
tetapi tidak jelas adanya gejala-gejala sekunder. Keadaan ini timbul sesudah beberapa kali
serangan skizofrenia, (Maramis, 2004).
Skizofrenia Skizoafektif
Pada skizofrenia skizoafektif, di samping gejala-gejala skizofrenia terdapat menonjol secara
bersamaan, juga gejala-gejala depresi atau gejala-gejala mania. Jenis ini cenderung untuk
menjadi sembuh tanpa efek, tetapi mungkin juga timbul lagi serangan (Maramis, 2004).
a. Terapi aktivitas
1. Terapi musik
Fokus : mendengar, memainkan alat musik, bernyanyi. Yaitu menikmati dengan relaksasi
musik yang disukai klien.
2. Terapi seni
Fokus : untuk mengekspresikan perasaan melalui berbagai pekerjaan seni.
3. Terapi menari
Fokus pada : ekspresi perasaan melalui gerakan tubuh
4. Terapi relaksasi
Belajar dan praktek relaksasi dalam kelompok
Rasional : untuk koping / prilaku mal adaptif / deskriptif, meningkatkan partisipasi dan
kesenangan klien dalam kehidupan.
b. Terapi sosial
Klien belajar bersosialisasi dengan klien lain
c. Terapi kelompok
Terapi kelompok (Group therapy)
3 Hubungan antara lama Siti Kuantitatif Penerima keluarga Ada hubungan baik
sakit dengan dukungan Nurarbiy ah antara lama hari
keluarga pada pasien rawat dengan
skizofrenia yang dirawat dukungan keluarga
diruang rawat inap
rumah sakit jiwa prof.
Dr. Soeroyo magelang
BAB V
ANALISA AWAL
5.1. Asumsi
Skizofrenia merupakan
penyakit jiwa yang dapat
berakhir dengan hilangnya
nyawa seseorang. Menurut
data statistic BKRI, 1%
penduduk indonesia
mempunyai peluang untuk
mengidap penyakit ini.
dibutuhkan terapi,
Masalah
rehabilitasi dan konseling.
selain pengobatan medical,
dukungan keluarga juga
merupakan peranan penting.
Kurang adanya peranan ilmu
pengetahuan di bidang kajian
ilmu desain komunikasi
visual untuk terjun langsung
dalam tahap rehabilitasi.
Banyaknya cara
konvensional yang masih
digunakan dan tidak
Realita
memperhatikan sisi estetis
yang merupakan bagian
intim dari psikologis pasien.
Di sisi lain rehabilitasi dan terapi khusus serta dukungan penuh oleh keluarga,
merupakan penyembuhan yang paling efektif. Khususnya untuk pasien skizo afektif, mereka
mampu beradaptasi dengan lingkungan rehabilitasi dan terapi.
Terapi Audio Visual untuk pasien Skizofrenia ini merupakan pijakan khusus yang
mungkin nantinya bisa dipatenkan oleh dunia kedokteran psikiatri medis, sekaligus menjadi
alternative lain untuk terapi kejang listrik dengan tingkat brainwash audio visual yang sesuai
dengan jenis skizo pasien.
Dalam hal lain Terapi Audio visual ini juga termasuk media sosialisasi dengan kemasan
berbeda, karena Karya audio visual ini menggunakan riset dan sudut pandang si pasien.
Selain itu berguna untuk memberikan sisi edukasi keluarga bahkan masyarakat yang masih
menggunakan media pengobatan alternative yang bersifat konvensional.
Daftar Pustaka
Logika-logika awal mengenai pemecahan permasalahan, dikatikan dengan landasan teori yang
telah dirumuskan. Asumsi awal ini dilandaskan pada uraian analisa sederhana, menggunakan
teknik analisis yang sudah dirumuskan pada pendahuluan (SWOT,5W1H, brainstorming, dll).
Sifat dari analisis ini adalah memberikan gambaran singkat mengenai kemungkinan pendalaman
analisis lebih lanjut, sehingga paling tidak bisa disimpulkan menjadi sebuah hipotesis strategi
desain.
5.2. HIPOTESIS (STRATEGI DESAIN / SIMPULAN AWAL)
Paparan secara garis besar bentuk strategi perancangan yang akan digunakan untuk melaksanakan
proyek tugas akhir mereka. Strategi perancangan dapat berupa bentuk promosi atau kampanye
yang dijelaskan secara tertulis dan disertai gambar bagan strategi. Strategi perancangan dapat
pula disebut sebagai cara-cara pendekatan persuasif kepada khalayak sasaran.
DAFTAR PUSATAKA
(1) Pengajuan proposal mata kuliah tugas akhir juga wajib dilengkapi data-data literatur sebagai
acuan dalam penyusunan berbagai teori yang akan menjadi kerangka dalam penyusunan konsep.
(2) Daftar pustaka dapat diperoleh melalui berbagai sumber seperti buku ilmiah dalam bentuk
cetak maupun digital, artikel dalam koran dan majalah dalam bentuk cetak maupun online,
makalah seminar, diktat, modul atau materi kuliah, hasil rekaman video dan suara.
(3) Acuan penulisan daftar pustaka mengikuti pola pada umumnya dalam penulisan ilmiah.