100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
138 tayangan43 halaman

Terapi Visual untuk Pasien Skizofrenia

Perancangan Terapi Audio Visual Untuk Pasien Skizofrenia membahas merancang terapi dengan media audio visual untuk membantu pasien skizofrenia dalam tahap rehabilitasi. Tujuannya adalah merancang kolase terapi berdasarkan asuhan keperawatan jiwa untuk menangani halusinasi pada pasien skizofrenia. Perancangan ini diharapkan dapat memberikan stimulan sosialisasi penyakit skizofrenia dan dukungan bagi pasien dan keluarga.

Diunggah oleh

dhimas tirta
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
138 tayangan43 halaman

Terapi Visual untuk Pasien Skizofrenia

Perancangan Terapi Audio Visual Untuk Pasien Skizofrenia membahas merancang terapi dengan media audio visual untuk membantu pasien skizofrenia dalam tahap rehabilitasi. Tujuannya adalah merancang kolase terapi berdasarkan asuhan keperawatan jiwa untuk menangani halusinasi pada pasien skizofrenia. Perancangan ini diharapkan dapat memberikan stimulan sosialisasi penyakit skizofrenia dan dukungan bagi pasien dan keluarga.

Diunggah oleh

dhimas tirta
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Perancangan Terapi Audio Visual

Untuk Pasien Skizofrenia

SEMINAR / PROPOSAL TUGAS AKHIR


DIAJUKAN UNTUK MEMENUHI SEBAGIAN PERSYARATAN
MENGIKUTI TUGAS AKHIR / SKRIPSI

PROGRAM STUDY SEMINAR

Dhimas Tirta Franata


A14.2007.00179

FAKULTAS ILMU KOMPUTER


UNIVERSITAS DIAN NUSWANTORO
SEMARANG
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI

PENGANTAR

I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
1.2. Rumusan Masalah
1.3. Tujuan
1.4. Manfaat dan Signifikansi Penelitian
1.5. Batasan Masalah

II. METODOLOGI PENELITIAN


2.1. Metode Pengumpulan Data
2.2. Metode Analisis Data
2.3. Bagan Alir Penelitian (flow chart)

III. TINJAUAN PUSTAKA


3.1. Tinjauan Pustaka Terkait Dengan Teori-teori Seputar Permasalahan
3.2. Tinjauan Pustaka Terkait Dengan Teori-teori Desain Komunikasi Visual

IV. DATA AWAL


4.1. Data Primer
4.1.1. Data Konteks
4.1.2. Data Klient
4.1.3. Target Audience
4.2. Data Sekunder

V. ASUMSI DAN HIPOTESIS


5.1. Asumsi
5.2. Hipotesis (strategi desain / simpulan awal)

DAFTAR PUSATAKA

LAMPIRAN-LAMPIRAN
BAB I

[Link]

1.1 Latar Belakang

Kesehatan jiwa merupakan bagian yang sangat penting untuk menjadi manusia
seutuhnya, sebuah faktor yang sangat integral. Kesehatan jiwa bukan sekedar terbebas dari
gangguan jiwa, akan tetapi merupakan suatu hal yang dibutuhkan oleh semua orang.
Kesehatan jiwa adalah perasaan sehat dan bahagia serta mampu mengatasi tantangan hidup,
dapat menerima orang lain sebagai mana adanya. Serta mempunyai sikap positif terhadap diri
sendiri dan orang lain.
Saat ini kesehatan jiwa maupun mental telah menjadi masalah kesehatan global bagi
setiap negara termasuk Indonesia. Proses globalisasi dan pesatnya kemajuan teknologi
informasi memberikan dampak terhadap nilai-nilai sosial dan budaya pada masyarakat. Di
sisi lain, tidak semua orang mempunyai kemampuan yang sama untuk menyusuaikan dengan
berbagai perubahan, serta mengelola konflik dan stres tersebut. Masalah kesehatan jiwa
merupakan masalah kesehatan masyarakat yang demikian tinggi dibandingkan dengan
masalah kesehatan lain yang ada dimasyarakat karena kurva dampak dari permasalahan jiwa,
syaraf maupun perilaku jumlahnya terus bertambah secara persentase dari tahun ke tahun.
Kebanyakan dari mereka yang mengalami gangguan kesehatan mental dan jiwa
didominasi orang dewasa. Berdasarkan data empiris orang yang mengalami mengalami
gangguan mental emosional atau gangguan saraf diakibatkan oleh Kondisi sosial budaya
mempengaruhi gangguan orientasi realita seperti: kemiskinan, konflik sosial budaya (perang,
kerusuhan, bencana alam, kegagalan dalam pencalonan politik) dan kehidupan yang terisolasi
disertai stress.

Permasalahan umum yang cukup relevan untuk masalah ini berkaitan dengan
terlambat berobat dan tidak tertangani akibat kurangnya kesadaran masyarakat akan
pentingnya antisipasi sejak dini juga layanan untuk penyakit kejiwaan ini. Krisis lingkungan
sosial yang semakin berat mendorong jumlah penderita gangguan jiwa di Indonesia kian
meningkat.

Skizofrenia mungkin masih agak asing bagi sebagian besar orang awam. Orang
cenderung menyamakan dengan orang gila dan harus dimasukan kedalam rumah sakit jiwa.
Memang, penderitanya harus mendapatkan penanganan yang tepat agar bisa sembuh. Akan
tetapi Skizofrenia tidak hanya berhubungan dengan kegilaan pada umumnya.

Sinopsis Psikiatri (kaplan dan sadock :686) Skizofrenia merupakan penyakit otak
yang timbul akibat ketidakseimbangan pada dopamin, yaitu salah satu sel kimia dalam otak.
Skizofrenia bisa mengenai siapa saja, dengan ciri hilangnya perasaan afektif atau respons
emosional dan menarik diri dari hubungan antar pribadi normal. Sering kali diikuti dengan
delusi (keyakinan yang salah) dan halusinasi (persepsi tanpa ada rangsang pancaindra).

Kenaikan jumlah penderita skizofrenia terjadi di sejumlah kota besar. Berdasarkan


Riset Kesehatan Dasar tahun 2011 menyatakan 14,1% penduduk Indonesia mengalami
skizofrenia dari yang ringan hingga berat. Data jumlah pasien skizofrenia di Indonesia terus
bertambah. Dari 33 Rumah Sakit Jiwa diseluruh Indonesia, diperoleh data bahwa hingga kini
jumlah penderita skizofrenia berat mencapai hingga 3,5 juta orang (Diktorat Bina Pelayanan
Keperawatan dan Pelayanan Medik Dapertemen Kesehatan, 2007).

Penderita skizofrenia bukanlah orang orang yang berbahaya bagi lingkungannya.


Dengan dukungan yang tepat, mereka akan sanggup bekerja dengan sama baiknya seperti
halnya orang orang normal lainnya. Tantangan terbesar untuk penanganan masalah
skizofrenia terletak pada keluarga dan masyarakat. Masyarakat tidak hanya bertugas
membawa anggotanya ke Rumah Sakit Jiwa jika ada yang menderita gangguan jiwa, tetapi
juga aktif untuk menerima penderita setelah pulang dari Rumah Sakit Jiwa, melibatkannya
dalam kegiatan masyarakat, dan yang paling penting memantau perilaku pasien selama di
Rumah Sakit Jiwa. Dalam hal ini terapi terbaik adalah bentuk dukungan keluarga dalam
mencegah kekambuhan penderita gangguan jiwa.
Berdasarkan data yang diperoleh dari Rumah Sakit Jiwa Dr. Amino Gondohutomo
Semarang, diketahui klien yang mengalami Skizofrenia pada bulan April 2013 sebanyak 428
orang, Hal ini menunujukan bahwa ada peningkatan jumlah pelayanan di Rumah Sakit Jiwa
Dr. Amino Gondohutomo Semarang (Laporan satu bulan terakhir Rumah Sakit Jiwa Dr.
Amino Gondohutomo Semarang). Berbagai terapi dengan dasar asuhan keperawatan jiwa
merupakan aspek utama bagaimana perancangan terapi melalui Audio visual nantinya akan
mampu membantu pasien dalam menangani bentuk dari halusinansi yang merupakan sektor
vital penyimpangan pada penyakit Skizofrenia. Terapi ini mendukung karena cara kerja audio
visual mempengaruhi pikiran dan mempermainkan perasaan kita. Dan juga kita akan
mengetahui bagaimana audio visual (film) menjelaskan tentang psikologi dn bagaimana
psikologi digambarkan di dalamnya. Persepsi merupakan konsep yang sangat penting dalam
psikologi, kalau bukan dikatakan yang paling penting. Melalui persepsilah manusia
memandang dunianya. Apakah dunia terlihat “berwarna” cerah, pucat, atau hitam, semuanya
adalah persepsi manusia yang bersangkutan. Persepsi harus dibedakan dengan sensasi. Yang
terakhir ini merupakan fungsi fisiologis, dan lebih banyak tergantung pada kematangan dan
berfungsinya organ-organ sensoris. Sensasi meliputi fungsi visual, audio, penciuman dan
pengecapan, serta perabaan, keseimbangan dan kendali gerak. Kesemuanya inilah yang
sering disebut indera. (Raymond Tambunan, 2010 : Rumahbelajarpsikologi)

Oleh karena itu proses perancangan Audio Visual ini merupakan proyek yang visible,
Dengan menggunakan tehnologi desain media kreatif, yang didukung dengan dasar dasar
keilmuan psikiatri jiwa dan ilmu desain komunikasi visual. Dalam masa mendatang terapi
dengan Audio Visual nantinya bukan hanya sekedar simulasi terapi, namun lebih kepada
elemen psikoterapi dan rehabilitasi.

Oleh karena itu proses perancangan Audio Visual ini merupakan proyek yang visible,
Dengan menggunakan tehnologi desain media kreatif, yang didukung dengan dasar dasar
keilmuan psikiatri jiwa dan ilmu desain kominikasi visual. Dalam masa mendatang terapi
dengan Audio Visual nantinya bukan hanya sekedar simulasi terapi, namun lebih kepada
elemen psikoterapi dan rehabilitasi.

1.2 Rumusan Masalah

Bagaimana merancang terapi dengan media Audio Visual kepada pasien Skizofrenia,
sebagai stimulant tahap rehabilitasi Untuk penyakit kejiwaan Skizofrenia.

1.3 Tujuan Perancangan

Merancang terapi dengan media Audio Visual dengan berbagai kolase terapi dengan
metode dasar asuhan keperawatan jiwa terhadap pasien penyakit Skizofrenia.

1.4 Manfaat dan Signifikasi Permasalahan

Sosialisasi tentang penyakit skizofrenia, dampak serta ciri penderita, sehingga


nantinya akan mampu memberikan stimulan dalam menanggulagi, mengantisipasi penyakit
kejiwaan tersebut dan memberikan dogma baru kepada masyarakat tentang menanggapi
fenomena sosial dari penyakit skizofrenia.

1. Bagi Masyarakat
 Memberikan informasi bagi masyarakat dalam menanggapi fenomena sosial
dari penyakit kejiwaan skizofrenia.
 Dapat digunakan untuk mengetahui ketrampilan interpersonal dalam
melaksanakan dukungan keluarga.

2. Bagi Klient
 Sebagai strategi dan usaha peningkatan mutu pelayanan kesehatan jiwa
khususnya dengan pengadaan program Terapi Audio Visual untuk pasien
Skizofrenia juga dukungan keluarga untuk lebih terlibat dalam merawat klien
skizofrenia dengan media kreatif.
 Sebagai eksperimen dalam menerapkan metode terapi rehabilisasi dengan
media audio visual yang bersumber pada kombinasi ilmu komunikasi desain
juga ilmu kejiwaan untuk pelaksanaan terapi Audio visual.
3. Bagi Almamater
 Sebagai referensi yang dapat digunakan untuk bahan pengembangan terutama
mengenai hal-hal yang berkaitan dengan masalah psikologi dan bagaimana
memposisikan ilmu kejuruan desain kominikasi visual sebagai sarana
menciptakan media yang tepat dan berperan langsung dalam menghadapi
fenomena sosial khususnya kejiwaan.
 Untuk menambah pembendaharaan kepustakaan dan sekaligus sebagai acuan
terhadap laporan yang berhubungan dengan masalah terkait, juga sebagai
media untuk menambah pengetahuan bagi rekan – rekan mahasiswa.
.
4. Bagi Penulis
 Sebagai penerapan teori dan praktek soft skill dan technical skill selama
bangku perkuliahan.
 Dapat menjalin hubungan mutualistis dengan pihak industri atau perusahaan.

1.5 Batasan Masalah

Perancangan Terapi Audio Visual Untuk Pasien skizofrenia, yang nantinya digunakan
badan kesehatan terkait maupun lembaga yang menaungi Skizofrenia. Dalam bentuk
media teknik kolase, estetika, sesuai metode psikoteraphy dan rehabilitasi pada penyakit
Skizofrenia.

BAB II

2.1 Metodologi Penelitian

Metode penelitian dibagi menjadi beberapa jenis yakni kuantitatif yang bersifat tetap baku
dan tidak berubah-ubah, kualitatif yang bersifat fleksibel dan berubah-ubah sesuai dengan
kondisi lapangan, dan metodologi campuran dari kualitatif dan kuantitatif. Dalam
Perancangan “ Terapi Audio Visual Untuk Pasien Skizofrenia “ ini perancang menggunakan
pendekatan kualitatif sebagai metodologi penelitiannya untuk menunjang keakuratan sebuah
data yakni untuk mengembangkan konsep-konsep dan pengertian pengertian menjadi sebuah
teori/data yang membantu memberikan solusi terhadap permasalahan.
Teknik penelitian kualitatif dapat dibagi menjadi dua, yaitu observasi partisipatif dan non-
partisipatif. Observasi partisipatif bararti peneliti terjun langsung ke dalam lingkungan yang
akan diteliti. Sedangkan observasi non-partisipatif berarti peneliti hanya mengamati bahkan
tidak sampai hadir ke dalam lokasi [Link] pendekatan kualitatif dilandaskan
untuk mengembangkan konsep-konsep dan pengertian-pengertian menjadi sebuah teori/data
yang membantu memberikan solusi terhadap permasalahan untuk mengembangkan data-data
yang didapat ketika pengambilan data sebagai alat pertimbangan untuk memecahkan masalah
dan memenuhi tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.
Jonathan sarwono dan hary Lubis (2007:95) menjelaskan bahwa pendekatan
Kualitatif memiliki model riset yang berupa :

 Penyataan masalah
Perumusan permasalahan terhadap objek perancangan.
 Teknik sampling (pemilihan informan)
Pertimbangan dalam pemilihan informan yang sebagai sumber data yang
dapat dilakukan dengan berbagai teknik meliputi : kesesuaian, penilaian,
bola salju.
 Jenis data
Data premier dan data sekunder dalam bentuk selain angka. Data premier
berupa teks hasil wawancara yang diperoleh memalui wawancara dengan
informan yang dijadikan sample penelitian. Data sekunder berupa data-data
yang sudah tersedia dan dapat diperoleh oleh peneliti dengan cara
membaca, melihat atau mendengarkan.
 Alat pengambilan data
Alat pengambilan data berupa wawancara (in depth interview).
 Metode pengambilan data
Metode pengambilan data dapatt dilakukan dengan wawancara, observasi
dan review dokument.
 Teknis analisis

2.2 Metode Pengumpulan data

Metode pengambilan dan pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara dengan
pasien dan review dokumen pada data di Rumah sakit jiwa Amino Ghondoutomo
Semarang. Adapun data yang didapat berupa:

2.2.1 Data primer

Data primer yang didapat dilakukan dengan cara wawancara (in-depth review) serta
observasi. Wawancara (in-depth preview) dilakukan dengan mode terperinci untuk diajukan
kepada informan. Adapun pemilihan informan sebagai wawancara terarah,untuk memperoleh
suatu data dimana peneliti telah menyusun pertanyaan sumber data meliputi kerjasama
dengan Rumah Sakit Jiwa Dr. Amino Gondohutomo, rujukan dokter polipskiatri jiwa Rumah
sakit dr Karyadi, dan Komunitas peduli Skizofrenia Indonesia yang menaungi para penderita
Skizofrenia., tidak sampai disitu peneliti melakukan tindak komparasi obervatif kepada
keluarga dengan sumber daya manusia yang rendah, yang banyak melakukan tindak
kekerasan dalam sistem pengobatan konvensional yang tidak efektif dan cenderung
mengexploitasi.

2.2.2 Data sekunder


 Data peneletian dari rumah sakit Jiwa Dr. Amino Gondohutomo Semarang,

No Penelitian Nama Metode Variabel Hasil


Penelitian

1 Gambaran pengetahuan Ispendi Kulitatif Penerima keluarga Adanya Gambaran


dan sikap pasien tentang Ilham bermakna antara
skizofrenia tingkat pengetahuan
dan sikap pasien
tentang skizofrenia

2 Prinda Kualitatif Penerima keluarga Adanya hubungan


Keberfungsian sosial kartika Yang positif dan
pada pasien skizofrenia signifikan
pasca perawatan di dengan
rumah sakit keberfungsian sosial
pada pasien
skizofrenia pasca
perawatan di rumah
sakit

3 Hubungan antara lama Siti Kuantitatif Penerima keluarga Ada hubungan baik
sakit dengan dukungan Nurarbiyah antara lama hari
keluarga pada pasien rawat dengan
skizofrenia yang dirawat dukungan keluarga
diruang rawat inap
rumah sakit jiwa prof.
Dr. Soeroyo magelang
2.3 Metode Analisis Data

Metode Analisis Framing

Analisa Framing adalah analisis yang digunakan untuk mengetahui bagaimana realitas (aktor,
kelompok, atau apa saja) dikonstruksi oleh media (Eriyanto, 2005, p.3). Analisa framing
memiliki dua konsep yakni konsep pskiologis dan sosiologis. Konsep psikologis lebih
menekankan pada bagaimana seseorang memproses informasi pada dirinya sedangkan
konsep sosiologis lebih melihat pada bagaimana konstruksi sosial atas realitas. Analisis
Framing sendiri juga merupakan bagian dari analisis isi yang melakukan penilaian tentang
wacana persaingan antar kelompok yang muncul atau tampak di media.

Metode analisis Framing juga dikenal sebagai konsep bingkai, yaitu gagasan sentral yang
terorganisasi, dan dapat dianalisis melalui dua turunannya, yaitu simbol berupa framing
device dan reasoning device. Framing device menunjuk pada penyebutan istilah tertentu yang
menunjukkan “julukan” pada satu wacana, sedangkan reasoning device menunjuk pada
analisis sebab-akibat. Di dalamnya terdapat beberapa ‘turunan’, yaitu metafora,
perumpamaan atau pengandaian. Catchphrases merupakan slogan-slogan yang harus
dikerjakan. Exemplar mengaitkan bingkai dengan contoh, teori atau pengalaman masa silam.
Depiction adalah “musuh yang harus dilawan bersama”, dan visual image adalah gambar-
gambar yang mendukung bingkai secara keseluruhan. Pada instrumen penalaran, Roots
memperlihatkan analisis sebab-akibat, Appeals to principles merupakan premis atau klaim
moral, dan Consequences merupakan kesimpulan logika penalaran.

2.4 Sistematika Pembahasan

Skizofrenia bisa terjadi pada siapa saja. Seringkali pasien Skizofrenia digambarkan sebagai
individu yang bodoh, aneh, dan berbahaya (Bagus Galih, 2012). Alur pemikiran yang difuser,
halusinasi adanya hubungan kognitif terhadap alam bawah sadar, membuat jiwa dan mental
pasien terguncang bahkan kehilangan diri sendiri. Dengan tahap tahap penyembuhan medis
dan rehabilitasi kepada pasien, terapi Audio visual ini nantinya akan ikut menjadi substansi
dari elemen Rehab poliskiatri jiwa, baik gejala awal, penanganan, maupun rawat jalan. Dan
terapi ini harus didukung oleh lingkungan yang baik dan factor primer adalah dukungan
keluarga terhadap kesembuhan pasien.
Pendahuluan
Berisikan pembahasan permasalahan apa itu penyakit skizofrenia melaluli Iklan layanan
masyarakat , batasan-batasan, tujuan serta manfaat perancangan solusi dalam permasalahan
juga fenomena sosial.

2.4.2 Identifikasi Data


Pemaparan variable data baik data primer maupun sekunder yang berupa data
penderita, lembaga swadaya masyarakat yang menaungi Skizofrenia, data statistik
dari instansi kesehatan jiwa, tentang bahaya, penangulangan, ciri dampak, serta
penanggulangan dini.
2.4.3 Analisis Masalah
Berisikan penjelasan tentang penganalisaan data yang telah
didapatkansebelumnya baik berupa analisa teori psikologi, analisa data pasient
dan instansi dan analisa FRAMING serta penentuan strategi media Audio Visual
yang dapat di terima pasien sebagai terapi diri, yang tentu saja harus diawasi oleh
anggota keluarga.

2.4.4 Konsep-Konsep Perancangan


Penjabaran tentang strategi perancangan Teraphy Audio Visual setelah
dilakukannya penganalisaan data psikologi pasien terhadap gambar dan suara
yang kemudian dirancang dalam konsep kreatif berupa penentuan Genre,
Chapter,Scene dan durasi.

2.4.5 Desain dan Pengambangan


Berisikan proses penciptaan karya Terapi Audio visual yang digunakan
oleh instansi terkait seperti Rumah sakit, keperawatan jiwa dan keluarga pasien
pasca perawatan yang dimulai dari hasil riset dan observasi penjaringan ide serta
penentuan segmentasi. Pengaplikasian Terapi Audio Visual dalam penggunaan
konstanta dan variable terhadap Pasien Skizofrenia.
2.5 Bagan Alir (Flow Chart)
BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

3.1. Tinjauan Pustaka Terkait Dengan Teori-Teori Seputar Permasalahan

3.1.1. Teori Psikoanalitik

Psikoanalisis dalam pengertian secara harfiah adalah ilmu yang mengurai tentang “diri”
manusia[1], dan merupakan aliran dari psikologi modern, bapak pendirinya yaitu Sigmund
Freud. Gagasan tentang diri menurut kaum humanis barat di definisikan dengan
beroperasinya kesadaran (seperti berfikir, kehendak bebas, tindakan dan sebagainya) akan
tetapi menurut Freud dengan psikoanalisisnya menyatakan bahwa konsep tentang diri
(kesadaran) dideterminasi atau dipengaruhi oleh ketaksadaran dan berbagai dorongan dan
hasratnya sehingga ia membagi dua wilayah kesadaran dan ketaksadaran itu menjadi sesuatu
yang radikal.
Gagasan-gagasan Freud inilah yang kemundian berkembang menjadi suatu aliran dalam
psikologi modern, sehingga di Prancis Jaques Lacan yang berprofesi sebagai psikoanalisis
pada tahun 1950 mengembangkan pandangan Psikoanalisisnya dengan didasarkan pada
berbagai gagasan yang diartikulasikan dalam antropologi dan linguistic strukturalis. Lacan
mencampur adukan teori Freud dan Saussure (Linguistik) bahkan Lacan juga dipengaruhi
oleh pemikiran-pemikiran filsafat Heidegger, Levi Strauss dan Derrida. Dari hasil
“perenungan” Lacan tentang Psikoanalisis dia menginterpretasikan Freud menggunakan teori
strukturalis dan postrukturalis, Lacan kemudian mengalihkan psikoanalisis yang secara
hakikatnya bersifat humanis menjadi menjadi teori atau filsafat psikoanalisis.
Psikoanalisis Lacanian mempunyai dua garis besar yaitu fenomenologi dan strukturalisme.
Jika dalam fenomenologi menekankan pada konsep diri yang bebas, kemudian strukturalisme
menekankan pada determinisme bahasa. Lacan menggunakan strukturalisme tetapi tidak
pernah “menyangkal subjek”, oleh karena itu konsep diri tidak terelakkan dari psikoanalisis
lacanian, sementara strukturalisme menjadi cara pembahasannya.

Kesadaran dan Ketaksadaran


Jika Freud mengatakan bahwa “dimana ada id disitu ada sang Aku (ego)” yang berarti
id yang dalam hal ini ketaksadaran akan digantikan dengan sang Aku (kesadaran), menurut
Lacan itu mustahil, karena bagi lacan sang Aku (ego) hanyalah ilusi, manifestasi dari
ketaksadaran itu sendiri, sehingga lacan menegaskan bahwa ketaksadaran adalah bagian dari
seluruh kehidupan.
Inti dari konsepsi tentang diri manusia menurut pandangan Lacan adalah gagasan
bahwa ketaksadaran yang mengatur seluruh factor eksistensi manusia secara tersetruktur
seperti bahasa, dia melandaskan pandangan ini pada uraian Freud tentang dua mekanisme
utama dari berbagai proses ketaksadaran, kondensasi dan pemindahan, sehingga menurut
Lacan pada hakekatnya kedua mekanisme ini merupakan fenomena bahasa.
Hal diatas dibuktikan oleh Lacan bahwa analisis mimpi Freud dan kebanyakan analisisnya
yang merupakan symbol dari ketaksadaran bergantung pada permainan kata-kata, asosiasi
dan bersifat verbal, dengan demikian Lacan menyimpulkan bahwa isi dari ketaksadaran
sepenuhnya sadar akan bahasa dan secara khusus terdiri dari struktur bahasa. Lacan
menyebutkan hal tersebut dengan Transalasi Linguistik atas gambaran Freud akan
ketaksadaran sebagai wilayah chaotic[2] yang secara terus-menerus menggeser dorongan dan
hasrat.

Mekanisme Pembentukan “Diri”


Dalam teori Freud tentang tahap perkembangan psikoseksual mengatakan terdapat
tiga tahapan polimorfosa pada bayi yaitu oral, anal, dan phallic, inilah kompleks Oedipus dan
konsep kastrasi yang mengahiri perversitas polimorfosa dan menciptakan mahluk “dewasa”.
Akan tetapi Lacan menciptakan kategori berbeda dengan Freud untuk menjelaskan lintasan
atau tahapan dari bayi menuju dewasa. Dia membahas tentang tiga konsep yaitu kebutuhan
(need), permintaan (demand), dan hasrat (desire) yang berhubungan dengan tiga fase
perkembangan atau tiga ranah dimana manusia berkembang, yaitu ;
1. Fase Pra-Oedipal
Dalam fase ini, subjek (bayi) sama sekali belum mengenal batasan ego atau dirinya. Ia tak
menyadari batasan antara tubuh ibunya dengan tubuhnya sendiri. Bayi dan ibu masih
merupakan kesatuan sehingga identifikasi belum terjadi pada fase ini. Menurut Lacan bayi
yang belum memiliki pemisahan ini hanya memiliki satu kebutuhan yang dapat dipuaskan
dan tidak membuat perbedaan antara dirinya dengan objek yang memuaskan kebutuhannya
sehingga eksis diwilayah Yang Real.
2. Fase cermin atau tatanan Imajiner
Fase ini merupakan bentuk praverbal yang logikanya bersifat visual. Fase ini terjadi pada
bayi berusia 6 bualan dan merupakan fase paling krusial untuk identifikasi perkembangan
ego. Misalkan jika kita anak kecil memperhatikan dirinya sendiri dalam sebuah cermin[3].
Ketika anak tersebut bercermin dirinya yang ada dicermin tersebut bersifat imajiner, karena
yang ada didalam cermin tersebut hanya merupakan image. Saat itulah si anak mulai belajar
untuk menciptakan konstruksi dirinya. Kemudian ketika dewasa dia akan terus membuat
identifikasi imajiner dengan objek-objek yang ditemuinya. Menurut Lacan ini merupakan
fase normal dalam perkembangan diri.
3. Fase Oedipal atau Tatanan Simbolik
Fase ini terjadi ketika si anak harus berpisah dengan ibunya atau harus mengalami kastrasi.
Anak tak lagi melihat dirinya satu kesatuan dengan ibunya tetapi memandang ibunya
sebagai Liyan. Hubungan si ibu dengan si anak ini juga diperparah oleh kehadiran ayah, ayah
disini bersifat metafora. Anak harus kehilangan objek hasratnya, yaitu ibu karena ia harus
menerima kehadiran “ayah simbolik”. Anak harus mengikuti apa yang dikehendaki oleh
ibunya, yaitu menyerap bahasa, penanda-penanda. Dengan demikian anak harus menerima
mekanisme imaji diri lain yang kerap bersifat reppresif (super ego),yang fungsinya menerima
dan mencerna image diluar diri, berupa representasi dari berbagai versi hukum, aturan,
konvensi, adat, tabu dan lain-lain yang diidentifikasikan dengan dirinya sendiri, inilah yang
disebut dengan “symbol ayah”. Secara singkat proses ini dilahirkannya kembali anak-anak
dalam bahasa. Proses pembentukan ini di transliterasikan Lacan ke dalam fenomena linguistic
yang ia pandang sebagai hasil penemuan Atas-Nama-Ayah. Lacan menganggap masa belajar
anak telah mengalienasi psyche (jiwa) tetapi sadar tidak mungkin kembali ketahap jiwa
praverbal, subjek ditentukan oleh bahasa.
Dari ketiga tahap tersebut diatas terdapat satu lagi tatanan selain imajiner dan simbolik, yaitu
Yang Real. Yang Real adalah realitas yang tidak pernah kita ketahui-kenyataan ini berada
diluar bahasa, suatu realitas yang diasumsikan karena tidak pernah kita ketahui. Struktur ini
adalah struktur yang paling problematic dibandingkan dengan dua struktur lain, karena tidak
pernah dialami langsung, melainkan melalui mediasi dua struktur yang lain. Singkatnya
tatanan yang real adalah realitas, atau apa yang dipersepsi sebagai yang nyata merupakan apa
yang mutlak menolak proses simbolisasi.
Relasi Hasrat dan Ego dalam Psikoanalisis Lacanian
Sigmund Freud menelusuri genesis hasrat dari pengalaman badani antara bayi dan
ibunya, karena bayi mengalami ibunya sebagai satu kesatuan sehingga belum ada pembedaan
antara intra dan ekstra, tubuhnya dan tubuh sang ibu. Kebutuhan alami seperti menyusui
merupakan kebutuhan nutrisi yang menurut Freud akan menjelma menjadi hasrat seksual, hal
itu dijelaskan oleh Freud pada saat sang bayi yang menghisap payudara sang ibu, setelah
kebutuhan nutrisinya terpenuhi, muncul sebentuk kenikmatan dari tindak menghisap itu
sendiri.
Akan tetapi keutuhan imajiner retak saat prinsip realitas mendobrak masuk kedalam
jantung pertahanan hasrat, dengan demikian prinsip kenikmatan akhirnya berhadapan dengan
keadaan luar. Dengan Egolah kemudian hasrat tak sadar tersebut di selaraskan dengan
realitas, sehingga Freud menyimpulkan bahwa hasrat dibawah control rasionalitas ego.
Dari pendapat Freud tentang hasrat tersebut membuat pertanyaan bagi Lacan bahwa
kenapa kerapuhan ego terlalu di agung-agungkan oleh para penganut psikologi ego seperti
Freud. Lacan menolak ego sebagai sumber kekuatan psikologis, bahkan menekan
ketergantungan ego pada hasrat yang menginfiltrasikannya dari medan social. Menurut Lacan
Ego tidak dapat membedakan hasratnya dan hasrat orang lain serta cendrung kehilangan
dirinya dalam citraan.
Individu menurut Lacan tidak hanya kehilangan kejernihan atas perbedaannya dengan
yang lain, tetapi juga mencampur adukkan antara hasratnya dengan hasrat orang lain. Dengan
demikian hasrat untuk memiliki identitas mendorong ego untuk meyakini dirinya sebagai
objek, sehingga keyakinan ini membuatnya melihat dirinya sebagai objek dari hasrat orang
lain atau menhasrati dirinya dengan hasrat yang sama. Sederhananya menurut Lacan jika
mencintai orang lain sesungguhnya adalah tindak mental yang narsistik begitupun sebaliknya.
Dari refleksi inilah mendorong para pengikut neofreudian seperti Rene Girard yang
memperkenalkan konsepnya hipotesis mimesis[4]. Dua konklusi Girard tentang hasrat dan
mimesis, pertama: hasrat tidak di validasi oleh property yang terkandung dalam objek yang
dihasrat. Kedua : hasrat sesungguhnya didorong oleh rasa kurang yang perlu dipenuhi.
Seorang menghasrati objek bukan kualitas objek itu sendiri melainkan karena orang lain
menghasrati objek itu dan mendapatkan keutuhan ontologis darinya. Kita menginginkan
mobil tetangga bukan karena kualitas mobil itu, bukan juga kecintaan sang tetangga pada
mobil itu melainkan mobil itu memberikan sense of identity pada sang tetangga.
dari kritik psikoanalisis-struktural Jaques Lacan menghasilkan tiga kesimpulan seputar kodrat
hasrat pertama ;Hasrat adalah sesuatu yang melampaui biologi, ia bekerja saat kekurangan
biologis tercukupi. Kedua Hasrat jauh dari ego cogito, ia adalah syarat yang memungkinkan
formasi ego itu sendiri. Ketiga Hasrat dipacu oleh kodrat manusia sebagai mahluk yang
berkekurangan secara eksistensial.
Kekurangan eksistensial ini memicu dua jenis hasrat yaitu pertama : Hasrat untuk
memiliki (identitas, hasrat ini berkerja pada pengalaman imajiner dan simbolik. Ranah
pengalaman yang memberi rasa keutuhan pada kekurangan primordial yang selalu
membayangi sang subjek. Kedua: adalah hasrat untuk menjadi, hasrat ini bekerja pada ranah
ranah pengalaman Yang Real, Praideologis dan non makana. Ia adalah potensi resistensi yang
selalu mengganjal hasrat memiliki dan menunaikan hasratnya yang berujung pada
simbolisasi.

Ketaksadaran Dan Bahasa


Menurut Lacan ketaksadaran terstruktur seperti bahasa, karena mekanismenya seperti
serupa dengan metafora dan metonimia[5], proses munculnya ketaksadaran dalam pandangan
Lacan berbeda dengan Freud. Jika Freud berpandangan bahwa ketaksadaran sudah eksis
sebelum bahasa memberikan pengaruhnya. Sedangkan Lacan berpandangan bahwa
ketaksadaran terbentuk bersamaan dengan bahasa.
Ketika kata-kata gagal dalam memenuhi janjinya untuk memberikan pemuasan, maka
ketaksadaran menyembul keluar menyajikan penampilannya dalam ketakserasian antara
bahasa dan hasrat. Hal ini lah yang disimpulkan oleh Lacan bahwa ketaksadaran merupakan
hasil dari penstrukturan hasrat oleh bahasa, seolah ketaksadaran tersebut bekerja seperti
bahasa yang terdiri dari penanda dan pertanda. Hal itulah yang menjadi mekanisme didalam
diri, bahwa bukan semata manusialah yang berkata, tetapi didalam manusialah penanda-
penanda berkata.
Dalam hal ini hasrat mempunyai peran penting karena telah memberikan gambaran
pada ketaksadaran. Gambaran tersebut mempunyai struktur yang terdiri dari penanda dan
pertanda, sehingga hasrat itu sendiri pada dasarnya merupakan efek yang terus-menerus yang
diakibatkan artikulasi simbolik, bukan merupakan nafsu tetapi secara esensial bersifat
eksentrik dan tidak pernah puas. Inilah alas an Lacan menghubungkan hasrat bukan objek
yang akan memuaskan tetapi dengan objek yang menyebabkannya.
Sekedar contoh dari apa yang dijelaskan Lacan diatas adalah mimpi, mimpi merupakan salah
satu jalan ketaksadaran tersebut, hal ini dikuatkan oleh Eagleton yang menyatakan mimpi
merupakan pemenuhan simbolik atas berbagai keinginan tak sadar dan dibalut dalam bentuk
simbolik. Dalam hal ini ketaksadaran menutupi, menghaluskan dan menyimpangkan makna-
makna, sehingga mimpi kita bisa menjadi teks-teks simbolik[6].

[1] Kamus Ilmiah Populer, Pius A Partanto dan M. Dahlan Al Barry.

[2] Wilayah chaotic adalah ketidakteraturan.

[3] Film kartun tentang Harold merupakan contoh yang memudahkan pengambaran fase
cermin ini. Ceritanya tentang Harold yang masih balita, sebelum tidur Harold “berjalan-
jalan” melalui coretan pensil ajaibnya. Setiap coretan pensilnya misalnya ketika membentuk
sebuah jendela, maka jendela tersebut menjadi sungguhan sehingga Harold bias keluar dari
kamarnya melalui jendela tersebut. Kemudian Harold menyukai bulan dan iapun
menggambar bulan. Karena cahaya bulan tersebut bayangannya muncul tepat didinding di
hadapannya, Harold belum mengenal konsep bayangan jadi ia terheran-heran
memandangnya. Ia malah menyangka bahwa bayangan tersebut kawannya. Tetapi
kebingungan kembali menghadangnya karena apapun yang dilakuannya misalnya
menggerakkan tubuh maka bayangan yang disangka kawannya itu selalu sama persis
mengikutinya. Dengan berbagai cara Harold berusaha membuktikan mengapa “kawannya”
tersebut selalu meniru gerak-geriknya.

[4] Menurut hipotesis ini kendali total ego atas hasrat adalah ilusi, karena manusia adalah
mahluk yang tidak tahu apa yang harus dihasrati dan oleh karenannya berpaling ke orang lain
untuk menentukan pilihan. Hasrat tidak muncul dari imperative ego, melainkan peniruan
hasrat orang lain.

[5] Menurut tokoh formalis Rusia Roman Jakobson menerangkan bahwa terdapat dua operasi
utama dalam bahasa manusia yaitu metafora dan metonomia. Metafora adalah subtitusi satu
tanda lainya karena adanya kesamaan sedangkan metonomia adalah asosiasi satu tanda oleh
tanda lainnya.
[6] Jaques Lacan Diskursus dan Perubahan social, pengantar kritik budaya psikoanalisis.
Hal.303

3.1.2 Teori Komunikasi

Definisi Komunikasi
Sebenarnya kalau dirunut dari asal muasal bahasa, menurut Deddy Mulyana kata
komunikasi diserap dari bahasa Inggris communication, yang bisa dirujuk dari kata latin
communis yang berarti “sama”, communico, communication atau istilah communicare yang
berarti “membuat sama” (to make common). Istilah communis adalah istilah yang paling
disebut sebagai asal usul kata komunikasi, yang merupakan akar dari kata-kata latin lainnya
yang mirip.

Pengertian ini mengartikanbahwa “suatu pikiran, suatu makna”, atau “suatu pesan
yang dianut secara sama.” Namun perunutan asal kata ini tidak banyak membantu, terutama
karena komunikasi sebagai ilmu telah berkembang sedemikian rupa sehingga tidak lagi bisa
dicarikan maknanya hanya dengan merujuk pada akar katanya.

Komunikasi memiliki banyak definisi. Di dalam buku Filsafat Ilmu Komunikasi,


menurut W. Weaver (1949), komunikasi adalah semua prosedur dimana pikiran seseorang
dapat memengaruhi orang lain. Menurut Hovland, Janis & Kelley (1953), komunikasi adalah
suatu proses di mana individu (komunikator) menyampaikan pesan (biasanya verbal) untuk
mengubah perilaku individu lain (audiens).
Intinya, komunikasi mempunyai pusat perhatian dalam situasi
perilaku dimana sumber menyampaikan pesan kepada penerima secara
sadar untuk mempengaruhi perilaku.

Dari beberapa definisi di atas, penulis menyimpulkan bahwa komunikasi merupakan


suatu proses perpindahan pesan dari komunikator ke audiens yang bertujuan untuk
mempengaruhi orang lain untuk merasa, berpikir, atau berperilaku seperti yang komunikator
inginkan.
Unsur-unsur Dasar Komunikasi
Di dalam buku Pengantar Ilmu Komunikasi karangan Dani Vardiansyah, [Link]., untuk dapat
terjadi proses komunikasi, terdapat enam unsur komunikasi, yaitu:

a. Pengirim Pesan
Pengirim pesan (komunikator) adalah orang yang berinisiatif menyampaikan pesan
untuk mewujudkan motif komunikasinya. Dilihatdari jumlahnya, komunikator dapat terdiri
dari satu orang, lebih dari satu orang, serta massa.

b. Penerima Pesan
Penerima pesan (komunikan) adalah orang yang menerima pesan dari komunikator.
Komunikan dapat terdiri dari satu orang, banyak orang (kelompok), dan massa.

c. Pesan
Pesan disampaikan komunikator kepada komunikan untuk mewujudkan motif
komunikasi: apa yang ia pikir dan rasakan. Karena itu, pesan dapat didefinisikan sebagai
segala sesuatu, verbal maupun nonverbal, yang disampaikan komunikator kepada komunikan
untuk mewujudkan motif komunikasinya.

d. Saluran Komunikasi dan Media Komunikasi


Saluran komunikasi adalah jalan yang dilalui pesan komunikator untuk sampai ke
komunikannya. Terdapat dua jalan agar pesan komunikator sampai ke komunikannyam yaitu
tanpa media (yang berlangsung face-to-face) atau dengan media komunikasi.

e. Efek Komunikasi
Efek komunikasi merupakan pengaruh yang ditimbulkan pesan komunikator dalam
diri komunikannya. Terdapat tiga tataran pengaruh dalam diri komunikan, yaitu kognitif
(seseorang menjadi tahu tentang sesuatu), afektif (sikap seseorang terbentuk, misalnya setuju
atau tidak setuju terhadap sesuatu), dan konatif (tingkah laku nyata, yang membuat seseorang
bertindak melakukan sesuatu).
f. Umpan Balik
Umpan balik dapat dimaknai sebagai jawaban komunikan atas pesan komunikator
yang disampaikan kepadanya. Dalam komunikasi yang dinamis, komunikator dan komunikan
terus-menerus saling bertukar peran. Karenanya, umpan balik pada dasarnya adalah pesan
juga, yakni komunikan berperan sebagai komunikator kedua.

3.1.3 Teori Periklanan

Teori Selective Influence

Bagaimana khalayak merespon pesan-pesan iklan dari media massa dapat diterangkan melalui
teori-teori selective influence yang terdiri dari empat prinsip;

1. Selective attention ( memilih memperhatikan pesan tertentu)

Pertama, perbedaan individu dalam merespon pesan-pesan iklan terjadi hanya karena
perbedaan dalam struktur kognitip yang mereka miliki. Cara pandang,
berpikir,berpengetahuan, kepercayaan setiap orang terhadap sesuatu yang baru ternasuk
pesan-pesan iklan tidaklah sama.

Kedua, karena keanggotaan seseorang dalam masyarakat ada dalam pelbagai kelompok
social maupun kemasyarakatan maka ada dugaan memilih perhatian terhadap pesan tertentu
pun akan dipengaruhi oleh kelompoknya itu.

Ketiga, bahwa orang lebih berminat jika suatu pesan iklan dapat membangun citra
hubungannya dengan pihak lain. Pesan iklan membuat orang harus memperhatikannya karena
pesan itu mengakibatkan orang itu aktif berhubungan dengan anggota keluarganya,
tetangganya, kenalan

2. Selective Perception

Aspek lain yang perlu diperhatikan dalam pemilihanpesan iklan adalah pilihan
terhadap sesuatu pesan yang didasarkan pada “persepsi” tertentu. Karena adanya perbedaan
dalam faktor-faktor kognitif; minat dan kepercayaan, pengetahuan,sikap dan kebutuhan, nilai-
nilai maka individu secara selektif pula mempersepsi pesan iklan yang menerpanya. Jadi
terdapat perbedaan penerimaan pesan yang dipersepsi oleh penerima karena terdapat
perbedaan kognisi itu.

3. Selective Recall

Dalam selective recall ini bahwa seseorang cenderung memilih kembali hanya pesan-
pesan yang diingat saja. Jadi prinsip ini meskipun parallel dengan seleksi pada perhatian
namun setiap orang memilih pesan iklan yang paling berkesan saja.

Teori S-O-R

Bahwa tingkah sosial dapat dimengerti melalui suatu analisa dari stimuli yang
diberikan dan dapat mempengaruhi reaksi yang spesifik dan di dukung oleh hukuman
maupun penghargaan sesuai dengan reaksi yang terjadi. Teori S-O-R menitik beratkan pada
penyebab sikap yang dapat mengubahnya dan tergantung pada kualitas rangsang yang
berkomunikasi dengan organisme. Menurup Hovland, proses dari perubahan sikap adalah
serupa dengan proses belajar, dimana ada tiga variable penting yang menunjang proses belajar
tersebut ialah

1) perhatian

2). Pengertian

3) Penerimaan

Dari pemahaman ini dapat dijelaskan iklan merupakan stimulus yang akan ditangkap
oleh organisme khalayak. komunikasi akan berlangsung jika ada perhatian dari komunikan.
proses selanjutnya komunikan mengerti. Kemampuan dari komunikan ini yang menentukan
proses selanjutnya , setelah komunikan mengolah dan menerimanya maka terjadilah
kesediaan untuk mengubah sikap.

(1).Mencegah kemungkinan orang menjadi lupa yaitu kecenderungan melemahnya


tanggapan yang ditimbulkan kombinasi petunjuk karena tidak dipergunakan.

(2).Memperkuat tanggapan karena setelah membeli konsumen menjadi lebih peka terhadap
iklan-iklan produk yang bersangkutan
Dalam kaitannya dengan teori S-O-R sering terjadi pergeseran karena seringnya
terpaan pesan yang diterima khalayak sehingga khayalak mengalami kehilangan daya
selektivitas ( sistem seleksi yang semestinya melalui penyaringan yang ketat terkalahkan oleh
sifat mudah dipengaruhi). hal ini khususnya terjadi pada segmen kelompok khalayak remaja.
Sehingga implementasinya teori S-O-R sering menjadi teori S-R, artinya respon yang
ditimbulkan sebagai konsekwensi adanya stimulus iklan yang diterima remaja tanpa melalui
filter organisme yang ketat. Pendekatan Psikologi Periklanan.

Dalam kegiatan periklanan dimana seluruh kegiatannya dilakukan oleh manusia maka
di dalam hal ini tidak dapat dikesampingkan masalah segi kejiwaan atau psykologi sebagai
dasar untuk melakukan kegiatan-kegiatan dibidang periklanan secara secara keseluruhan.

Berkaitan dengan ilmu psikologi dalam periklanan maka tidak terlepas dari
pemahaman dan penerapan ilmu jiwa, baik ilmu jiwa perorangan maupun ilmu jiwa sosial.
Ilmu jiwa perorangan mempelajari serta menyelidiki jiwa seseorang, yang diselidiki adalah
anasir-anasir dari jiwa manusia itu dan hubungan-hubungannya dengan pengaruh
pembawaannya dan pengaruh alam sekitarnya.

Ilmu jiwa sosial ialah mempelajari tingkah laku manusia baik secara perorangan
maupun secara berkelompok, yang dimaksud dengan tingkah laku sosial adalah tingkah laku
manusia yang terjadi sehubungan dengan adanya orang lain baik itu secara konkrit maupun
secara psikologis dalam bentuk frame of Reference.

Ilmu jiwa sosial adalah ilmu yang menganalisa faktor-faktor sosial yang
mempengaruhi manusia atau individu. Juga dalam psikologi sosial aspek-aspek dari tingkah
laku dinyatakan atau ditujukan dengan partisipasi individu didalam struktur sosial ada pula
yang berpendapat bahwa psikologi sosial adalah suatu studimengenai interaksi maupun
respon-respon terhadap stimulus sosial. Apapun tingkah laku manusia selalu dipengaruhi oleh
persepsinya tentang lingkungan sosialnya.

Jadi didalam semua hal tujuan periklanan untuk mempengaruhi tingkah laku manusia,
jika tujuan ingin tercapai, pengiklan harus mengetahui dan memahami pengaruh-pengaruh
dasar, pengamatan dasar yang dapat membentuk tingkah laku manusia termasuk didalamnya
proses komunikasi.
Dalam ilmu psikologi aspek yang mendorong manusia untuk bertindak atau
melakukan sesuatu adalah berkaitan dengan motive atau kebutuhan.

Motive akan menciptakan ketidak seimbangan di dalam diri manusia yang


menggerakkan tingkah laku untuk mencapai tujuannya yaitu pemenuhan kebutuhannya.

Bahwa manusia selalu mengaharapkan adanya keseimbangan dalam pemenuhan


kebutuhannya (menuju kearah Homeostatis). Oleh karena itu faktor kebutuhan ini merupakan
titik perhatian utama yang harus diperhatikan oleh para pengiklanKebutuhan manusia tersebut
secara hirarkhis menurut maslow terdiri dari ; kebutuhan dasar, kebutuhan rasa aman,
kebutuhan sosial, kebutuhan penghargaan dan kebutuhan actulisasi diri. Kebutuhan-
kebutuhan tersebut berbeda-beda derajatnya sesuai dengan status sosial dan ekonomi serta
gaya hidup masing masing kelompok dalam masyarakat.

Adanya kebutuhan yang timbul dari diri manusia justru menjadi sasaran dalam medan
kompetisi perebutan perhatian dan pengaruh, yang mana dibawakan oleh pesan-pesan dari
iklan dan reklame melaui media massa. Para ahli periklanan menyadari akan fakta-fakta
selain diusahakan untuk merubah tingkah laku manusia berdasarkan motive yang ada ,
dipikirkan juga jalan keluar untuk memenuhi kebutuhan manusia sebagai pembeli hasil
produk.

Dalam pesan iklan selalu diarahkan kepada penggugahan kebutuhan manusia


khususnya berkaitan dengan bagaimana menjalin hubungan sosial yang baik dengan orang
lain dengan menjaga aspek-aspek dalam individu manusia.

Secara psikologis setiap individu selalu ingin diterima oleh lingkungannnya dan selalu
merasa nyaman dengan kondisi dirinya atau yang dirasakannya dan iklan menawarkan
pemenuhannya.

Pesan iklan selalu mengingatkan kekurang-kekurangan yang dirasakan oleh target


audinecenya atau individu, sehingga diharapkan dapat menggerakannya kearah perubahan
perilaku atau tindakan membeli produk yang diiklankan.
Secara psikologis penyampaian pesan iklan akan mendapatkan suatu perhatian akan
ditentukan oleh faktor-faktor :

1. Permanen Interest

Faktor yang menyangkut pribadi individu atau komunikan

2. Immediate Concern

Perhatian dari seseorang yang tiba-tiba saja timbul karena faktor pribadi yang membutuhkan.

3. Spon of Attention

Kemampuan yang terbatas dari seseorang dalam melihat suatu objek dalam suatu saat

4. Flucultion Attention

Konsentrasi orang untuk memperhatian sesuatu tidak bertahan lama sekitar setelah 4 - 5
second akan cenderung beralih perhatian.

5. Attitude & Opinion

perhatian seseorang akan menyokong sikap dan pendapatnya mereka cenderung menghindari
kata-kata atau pesan yang bertentangan dengan sikapnya.

6. Need

bahwa kebutuhan itu akan dapat mempengaruhi perhatian individu. Untuk minat yang rendah
atas produk maka dibutuhkan rangsangan yang lebih kuat untuk menarik perhatian,kalau
minat kebutuhan tinggi rangsangan yang rendah sudah cukup.

Faktor lain yang juga perlu diperhatian dikaitkan dengan rangsangan psikologis adalah :

1. Faktor Keindahan

2. Faktor Kejelekan

3. Faktor Kebosanan
4. Faktor kontras dan mudah diingat

5. Faktor tokoh yang menyampaikan pesan.

3.1.4 Teori Film


Definisi Film

Gambar bergerak (film) adalah bentuk dominan dari komunikasi massa visual di
belahan dunia ini. Film mempunyai banyak pengertian yang masing-masing artinya dapat
dijabarkan secara luas. Film merupakan media komunikasi sosial yang terbentuk dari
penggabungan dua indra, penglihatan dan pendengaran, yang mempunyai inti atau tema
sebuah cerita yang banyak mengungapkan realita sosial yang terjadi di sekitar lingkungan
tempat dimana film itu sendiri tumbuh.

Film sendiri dapat juga berarti sebuah industri, yang mengutamakan eksistensi dan
ketertarikan cerita yang dapat mengajak banyak orang terlibat. Film berbeda dengan cerita
buku, atau cerita sinetron. Walaupun sama-sama mengangkat nilai esensial dari sebuah cerita,
film mempunyai asas sendiri. Selain asas ekonomi bila dilihat dari kacamata industri, asas
yang membedakan film dengan cerita lainnya adalah asas sinematografi. Asas sinematografi
tidak dapat digabungkan dengan asas-asas lainnya karena asas ini berkaitan dengan
pembuatan film.
Asas sinematografi berisikan bagaimana tata letak kamera sebagai alat pengambilan
gambar, bagaimana tata letak properti dalam film, tata artistik, dan berbagai pengaturan
pembuatan film lainnya.

Definisi Film Menurut UU 8/1992, adalah karya cipta seni dan budaya yang
merupakan media komunikasi massa pandang-dengar yang dibuat berdasarkan asas
sinematografi dengan direkam pada pita seluloid, pita video, piringan video, dan/ atau bahan
hasil penemuan teknologi lainnya dalam segala bentuk, jenis, dan ukuran melalui proses
kimiawi, proses elektronik, atau proses lainnya, dengan atau tanpa suara, yang dapat
dipertunjukkan dan/atau ditayangkan dengan sistem Proyeksi mekanik, eletronik, dan/atau
lainnya.
Karakteristik Film
Dalam buku Komunikasi Massa Suatu Pengantar Edisi Revisi, faktor-faktor yang
dapat menunjukkan karakteristik film adalah layar lebar, pengambilan gambar, konsentrasi
penuh dan identifikasi psikologis.

a. Layar yang Luas/ Lebar


Film dan televisi sama-sama menggunakan layar, namun kelebihan media film adalah
layarnya yang berukuran luas. Layar film yang luas telah memberikan keleluasaan
penontonnya untuk melihat adegan-adegan yang disajikan dalam film. Apalagi dengan
adanya kemajuan teknologi, layar film di bioskop-bioskop pada umumnya sudah tiga
dimensi, sehingga penonton seolah-olah melihat kejadian nyata dan tidak berjarak.

b. Pengambilan Gambar
Sebagai konsekuensi layar lebar, maka pengambilan gambar atau shot dalam film
bioskop memungkinkan dari jarak jauh atau extreme long shot, dan panoramic shot, yakni
pengambilan pemandangan menyeluruh. Shot tersebut dipakai untuk memberi kesan artistik
dan suasana yang sesungguhnya, sehingga film menjadi lebih menarik.

c. Konsentrasi Penuh
Dari pengalaman kita masing-masing, di saat kita menonton film di bioskop, kita
semua terbebas dari gangguan hiruk pikuknya suara diluar karena biasanya ruangan kedap
suara. Semua mata hanya tertuju pada layar, sementara pikiran perasaan kita tertuju pada alur
cerita. Dalam keadaan demikian emosi kita juga terbawa suasana yang diceritakan melalui
adegan-adegan pada film.

d. Identifikasi Psikologis
Kita semua dapat merasakan bahwa suasana di gedung bioskop telah membuat pikiran
dan perasaan kita larut dalam cerita yang disajikan. Karena penghayatan kita yang amat
mendalam, seringkali secara tidak sadar kita menyamakan (mengidentifikasikan) pribadi kita
dengan salah seorang pemeran dalam film itu, sehingga seolaholah kita lah yang sedang
berperan. Gejala ini menurut ilmu jiwa sosial disebut sebagai identifikasi psikologis.
Pengaruh film terhadap jiwa manusia (penonton) tidak hanya sewaktu atau selama duduk di
gedung bioskop, tetapi terus sampai waktu yang cukup lama. Kategori penonton yang mudah
terpengaruh itu biasanya adalah anak-anak dan generasi muda, meski kadang-kadang orang
dewasa pun ada.

Jenis-jenis Film
1. Film Cerita
Film cerita (story film), adalah jenis film yang mengandung suatu cerita yang lazim
dipertunjukkan di gedung-gedung bioskop dengan bintang film tenar dan film ini
didistribusikan sebagai barang dagangan. Cerita yang diangkat menjadi topik film bisa berupa
cerita fiktif atau berdasarkan kisah nyata yang dimodifikasi, sehingga ada unsur menarik,
baik dari jalan ceritanya maupun dari segi gambarnya. Sekalipun film cerita itu fiktif, dapat
saja bersifat mendidik karena mengandung ilmu pengetahuan dan teknologi tinggi.
2. Film Berita
Film berita atau newsreel adalah film mengenai fakta, peristiwa yang benar-benar
terjadi. Karena sifatnya berita, maka film yang disajikan kepada publik harus mengandung
nilai berita.
3. Film Dokumenter
Film dokumenter didefinisikan oleh Robert Flaherty sebagai “karya ciptaan mengenai
kenyataan”. Berbeda dengan film berita yang merupakan rekaman kenyataan, maka film
dokumenter merupakan hasil interpretasi pribadi (pembuatnya) mengenai kenyataan tersebut.
4. Film Mockumentary
Genre baru di mana cerita rekaan atau fiksi difilmkan dengan gaya dokumenter,
sehingga seolah-olah merupakan peristiwa nyata.
3.1.5 Teori Kognitif Sosial
Teori Kognitif Sosial (Social Cognitive Theory) merupakan penamaan baru dari Teori
Belajar Sosial (Social Learning Theory) yang dikembangkan oleh Albert Bandura. Penamaan
baru dengan nama Teori Kognitif Sosial ini dilakukan pada tahun 1970-an dan 1980-an.
Ide pokok dari pemikiran Bandura juga merupakan pengembangan dari ide Miller dan
Dollard tentang belajar meniru (imitative learning). Pada beberapa publikasinya, Bandura
telah mengelaborasi proses belajar social dengan faktor-faktor kognitif dan behavioral yang
memengaruhi seseorang dalam proses belajar sosial. Teori ini sangat berperan dalam
mempelajari efek dari isi media massa pada khalayak media di level individu.

Konsep utama dari teori kognitif sosial adalah pengertian tentang obvervational
learning atau proses belajar dengan mengamati. Jika ada seorang "model" di dalam
lingkungan seorang individu, misalnya saja teman atau anggota keluarga di dalam lingkungan
internal, atau di lingkungan publik seperti para tokoh publik di bidang berita dan hiburan,
proses belajar dari individu ini akan terjadi melalui cara memperhatikan model tersebut.

Terkadang perilaku seseorang bisa timbul hanya karena proses modeling. Modeling
atau peniruan merupakan "the direct, mechanical reproduction of behavior, reproduksi
perilaku yang langsung dan mekanis (Baran & Davis, 2000: 184). Sebagai contoh, ketika
seorang ibu mengajarkan anaknya bagaimana cara mengikat sepatu dengan memeragakannya
berulang kali sehingga si anak bisa mengikat tali sepatunya, maka proses ini disebut proses
modeling. Sebagai tambahan bagi proses peniruan interpersonal, proses modeling dapat juga
terlihat pada narasumber yang ditampilkan oleh media. Misalnya orang bisa meniru
bagaimana cara memasak kue bika dalam sebuah acara kuliner di televisi. Meski demikian
tidak semua narasumber dapat memengaruhi khalayak, meski contoh yang ditampilkan lebih
mudah dari bagaimana cara membuat kue bika. Di dalam kasus ini, teori kognitif sosial
kembali ke konsep dasar "rewards and punishments" – imbalan dan hukuman-- tetapi
menempatkannya dalam konteks belajar sosial.

Kognitif sosial melalui penggunaan tayangan media, beroperasi dengan satu atau
lebih dari tiga cara berikut ini :
1. Pembelajaran melalui observasi. Konsumen dari tayangan dapat memperoleh pola-
pola baru perilaku hanya dengan menonton tayangan tersebut. Kita semua tahu
bagaimana menembakkan pistol, meski banyak dari kita belum pernah betul-betul
melakukannya atau dipaksa untuk tindakan tersebut. Banyak diantara kita mungkin
bahkan berpikir bahwa kita dapat merampok toko. Kita telah melihat hal tersebut
dilakukan.

2. Efek menghambat (inhibitory effects). Melihat model dalam sebuah tayangan media
dihukum karena memperlihatkan perilaku tertentu menurunkan kemungkinan bahwa
pengamat akan melakukan respons tersebut. Kejadian tersebut seperti jika penonton
sendirilah yang sesungguhnya dihukum. Kita melihat penjahat direndahkan karena
kejahatannya. Kemungkinan kita untuk merespons berbagai stimulus dunia nyata kita
dalam cara-cara serupa dikecilkan.

3. Efek menghapus hambatan (disinhibitory effects). Tayangan media yang


menayangkan ganjaran bagi perilaku yang mengancam atau terlarang sering kali
cukup untuk meningkatkan kemungkinan bahwa konsumen representasi akan
melakukan respons tersebut. Seorang pemuda melihat kontestan dalam Fear Factor di
NBC muncul setelah dikurung dalam lubang ular atau tidak mengalami sesuatu yang
berbahaya setelah makan kumbang atau minum martini yang dijus dengan cacing.
Kemungkinan untuk merespons berbagai stimulus dunia nyata dengan cara yang sama
meningkat (Baran, 2010: 230).
BAB IV
DATA AWAL
4.1. DATA PRIMER

Bagus (19 tahun) adalah siswa yang baik di sepanjang masa SMA-nya. Ia anggota tim
Bulu tangkis sekaligus Atlet daerah yang berprestasi. Ia merupakan tipikal melankolis
pragmatis. Menjelang akhir semester pertama di kampus nya, semuanya mulai berubah.
Bagus tak lagi berbaur bersama dengan kawan-kawannya, pada kenyataannya ia mulai
berkurung diri di dalam kamarnya. Ia mulai mengabaikan kesehatan pribadinya dan berhenti
menghadiri kuliah. Bagus mengalami kesulitan untuk berkonsentrasi dan harus membaca
kalimat yang sama secara berulang-ulang. Ia mulai percaya bahwa kata-kata dalam naskah
bukunya memiliki makna yang khusus baginya dan dengan sesuatu cara memberitahukannya
sebuah pesan untuk menjalankan sebuah misi rahasia. Bagus mulai menyangka bahwa kawan
sekamarnya bersekongkol dengan telepon dan komputernya untuk mengawasi kegiatannya.
Bagus menjadi takut jika kawan sekamarnya tahu akan pesan dalam naskah bukunya dan kini
mencoba untuk menipunya. Bagus mulai percaya teman sekamarnya dapat membaca
pikirannya, pada kenyataannya siapapun yang ia lewati di aula atau di jalanan dapat
mengatakan apapun yang ia pikirkan. Saat Bagus sedang sendirian di kamarnya, ia dapat
mendengar bisikan mereka yang ia percayai sedang mengawasinya. Ia tak dapat memastikan
apa yang mereka katakan tapi ia yakin bahwa mereka membicarakannya ( Riset ekslusif).

Setelah mendapatkan perawatan di RSJ klien dinyatakan boleh Rawat jalan sehingga
keluarga mempunyai peranan yang sangat penting didalam hal merawat klien, menciptakan
lingkungan keluarga yang kondusif, dengan berbagai Terapi rutinitas, pengawasan minum
obat dan control rutin kepada psikiatris (Bagus,2013).

4.1.1. Data Konteks

Skizofrenia adalah gangguan jiwa dengan gejala utama berupa waham (keyakinan
salah dan tak dapat dikoreksi) dan halusinasi (seperti mendengar dan melihat sesuatu yang
sebenarnya tidak ada). Skizofrenia adalah juga penyakit yang mempengaruhi wicara serta
perilaku. Seseorang yang menderita skizofrenia mungkin mengaku bahwa diri mereka adalah
'orang besar'.
Pada kasus yang lebih jarang, bahkan ada penderita yang mengaku bahwa ia adalah
Tuhan itu sendiri. namun gejala itu dapat bertumpuk dengan pikiran dan perasaan bahwa
mereka adalah korban dari para penyiksa (victim of persecutors). mereka tak berdaya
menghadapi kenyataan hidup karena pikiran dan perasaan mereka dipenuhi oleh waham dan
halusinasi yang membuat diri mereka melambung dan sekaligus terhempas. Pada banyak
kasus ketersiksaan itulah yang cenderung bertahan lama di dalam diri penderita, sehingga
menurut data statistik 50% penderita skizofrenia pernah berusaha bunuh diri dan 10%
berhasil mati.
Jenis jenis Skizofrenia :
Skizofrenia Simpleks
Skizofrenia simpleks, sering timbul pertama kali pada masa pubertas. Gejala utama ialah
kedangkalan emosi dan kemunduran kemauan. Gangguan proses berfikir biasanya sukar
ditemukan. Waham dan halusinasi jarang sekali terjadi.
Jenis ini timbul secara perlahan. Pada permulaan mungkin penderita kurang memperhatikan
keluarganya atau menarik diri dari pergaulan. Makin lama ia semakin mundur dalam kerjaan
atau pelajaran dan pada akhirnya menjadi pengangguran, dan bila tidak ada orang yang
menolongnya ia akan mungkin akan menjadi “pengemis”, “pelacur” atau “penjahat”
(Maramis, 2004).

Skizofrenia Hebefrenik
Skizofrenia hebefrenik atau disebut juga hebefrenia, menurut Maramis (2004) permulaannya
perlahan-lahan dan sering timbul pada masa remaja atau antara 15–25 tahun. Gejala yang
menyolok adalah gangguan proses berfikir, gangguan kemauan dan adanya depersonalisasi.
Gangguan psikomotor seperti perilaku kekanak-kanakan sering terdapat pada jenis ini.
Waham dan halusinasi banyak sekali.

Skizofrenia Katatonik
Menurut Maramis (2004), skizofrenia katatonik atau disebut juga katatonia, timbulnya
pertama kali antara umur 15-30 tahun dan biasanya akut serta sering didahului oleh stres
emosional. Mungkin terjadi gaduh gelisah katatonik atau stupor katatonik.

Stupor Katatonik
Pada stupor katatonik, penderita tidak menunjukan perhatian sama sekali terhadap
lingkungannya dan emosinya sangat dangkal. Secara tiba-tiba atau perlahan-lahan penderita
keluar dari keadaan stupor ini dan mulai berbicara dan bergerak.
Gaduh Gelisah Katatonik
Pada gaduh gelisah katatonik, terdapat hiperaktivitas motorik, tapi tidak disertai dengan
emosi yang semestinya dan tidak dipengaruhi oleh rangsangan dari luar.
Skizofrenia Paranoid
Jenis ini berbeda dari jenis-jenis lainnya dalam perjalanan penyakit. Hebefrenia dan katatonia
sering lama-kelamaan menunjukkan gejala-gejala skizofrenia simplek atau gejala campuran
hebefrenia dan katatonia. Tidak demikian halnya dengan skizofrenia paranoid yang jalannya
agak konstan, (Maramis, 2004).

Episode Skizofrenia Akut


Gejala skizofrenia ini timbul mendadak sekali dan pasien seperti keadaan mimpi.
Kesadarannya mungkin berkabut. Dalam keadaan ini timbul perasaan seakan-akan dunia luar
dan dirinya sendiri berubah. Semuanya seakan-akan mempunyai arti yang khusus baginya.
Prognosisnya baik dalam waktu beberapa minggu atau biasanya kurang dari enam bulan
penderita sudah baik. Kadang-kadang bila kesadaran yang berkabut tadi hilang, maka timbul
gejala-gejala salah satu jenis skizofrenia yang lainnya, (Maramis, 2004).

Skizofrenia Residual
Skizofrenia residual, merupakan keadaan skizofrenia dengan gejala-gejala primernya Bleuler,
tetapi tidak jelas adanya gejala-gejala sekunder. Keadaan ini timbul sesudah beberapa kali
serangan skizofrenia, (Maramis, 2004).

Skizofrenia Skizoafektif
Pada skizofrenia skizoafektif, di samping gejala-gejala skizofrenia terdapat menonjol secara
bersamaan, juga gejala-gejala depresi atau gejala-gejala mania. Jenis ini cenderung untuk
menjadi sembuh tanpa efek, tetapi mungkin juga timbul lagi serangan (Maramis, 2004).

4.1.2. Data Klient


Rumah Sakit Jiwa Dr. Amino Gondohutomo mempunyai program penyembuhan
dengan dasar Asuhan keperawatan jiwa yang meliputi Aspek psikoteraphy dan rehabilitasi.
Psikoterapi suportif individual atau kelompok sangat membantu karena berhubungan
dengan praktis dengan maksud mempersiapkan klien kembali ke masyarakat, selain itu terapi
kerja sangat baik untuk mendorong klien bergaul dengan orang lain, klien lain, perawat dan
dokter. Maksudnya supaya klien tidak mengasingkan diri karena dapat membentuk kebiasaan
yang kurang baik, dianjurkan untuk mengadakan permainan atau latihan bersama, seperti
therapy modalitas yang terdiri dari :

a. Terapi aktivitas
1. Terapi musik
Fokus : mendengar, memainkan alat musik, bernyanyi. Yaitu menikmati dengan relaksasi
musik yang disukai klien.

2. Terapi seni
Fokus : untuk mengekspresikan perasaan melalui berbagai pekerjaan seni.
3. Terapi menari
Fokus pada : ekspresi perasaan melalui gerakan tubuh

4. Terapi relaksasi
Belajar dan praktek relaksasi dalam kelompok
Rasional : untuk koping / prilaku mal adaptif / deskriptif, meningkatkan partisipasi dan
kesenangan klien dalam kehidupan.

b. Terapi sosial
Klien belajar bersosialisasi dengan klien lain
c. Terapi kelompok
Terapi kelompok (Group therapy)

1. Terapi group (kelompok terapeutik)


2. Terapi aktivitas kelompok (Adjunctive group activity therapy)
TAK Stimulus Persepsi : Halusinasi
- Sesi 1 : Mengenal halusinasi
- Sesi 2 : Mengontrol halusinasi dengan menghardik
- Sesi 3 : Mengontrol halusinasi dengan melakukan kegiatan
- Sesi 4 : Mencegah halusinasi dengan bercakap-cakap
- Sesi 5 : Mengontrol halusinasi dengan patuh minum obat
d. Terapi lingkungan
Suasana rumah sakit dibuat seperti suasana di dalam keluarga (home like atmosphere)
4.1.3. Target Audience

Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI). Komunitas ini berbentuk paguyuban


milis penderita Skizofrenia dan keluarganya untuk bisa berbagi pengalaman dan pengetahuan
tentang Skizofrenia.
Komunitas yang dibentuk sejak tahun 2000 silam telah memiliki anggota sebanyak
3.177 orang. Mereka tersebar dari berbagai pelosok daerah di Indonesia.
Di komunitas ini semua orang bisa sharing, berbagi pengalaman, memberi motivasi dan
belajar aspek medis (obat apa saja yang diperlukan untuk menangani Skizofrenia). Mengingat
komunitas ini bersifat milis maka setiap empat bulan sekali mereka mengadakan ‘kopi darat’.
Dalam kopi darat banyak kegiatan yang digelar, diantaranya menggelar kegiatan melukis
bersama. Dengan kegiatan-kegiatan yang melibatkan para penderita Skizofrenia maka bisa
memutus mitos dan stigma negatif tentang penyakit Skizofrenia.
([Link]

4.2. DATA SEKUNDER

No Penelitian Nama Metode Variabel Hasil


Penelitian

1 Gambaran pengetahuan Ispendi Kulitatif Penerima keluarga Adanya Gambaran


dan sikap pasien tentang Ilham bermakna antara
skizofrenia tingkat pengetahuan
dan sikap pasien
tentang skizofrenia
2 Prinda Kualitatif Penerima keluarga Adanya hubungan
Keberfungsian sosial kartika Yang positif dan
pada pasien skizofrenia signifikan
pasca perawatan di dengan
rumah sakit keberfungsian sosial
pada pasien
skizofrenia pasca
perawatan di rumah
sakit

3 Hubungan antara lama Siti Kuantitatif Penerima keluarga Ada hubungan baik
sakit dengan dukungan Nurarbiy ah antara lama hari
keluarga pada pasien rawat dengan
skizofrenia yang dirawat dukungan keluarga
diruang rawat inap
rumah sakit jiwa prof.
Dr. Soeroyo magelang
BAB V

ANALISA AWAL

5.1. Asumsi

 Skizofrenia merupakan
penyakit jiwa yang dapat
berakhir dengan hilangnya
nyawa seseorang. Menurut
data statistic BKRI, 1%
penduduk indonesia
mempunyai peluang untuk
mengidap penyakit ini.
dibutuhkan terapi,
Masalah
rehabilitasi dan konseling.
selain pengobatan medical,
dukungan keluarga juga
merupakan peranan penting.
 Kurang adanya peranan ilmu
pengetahuan di bidang kajian
ilmu desain komunikasi
visual untuk terjun langsung
dalam tahap rehabilitasi.

 Penyakit Skizofrenia dapat


disembuhkan.
 Media kreatif dapat
membantu pasien dalam
Ideal menghadapi gangguan
halusinasi.
 Riset berekomendasi dari
pakar ahli jiwa juga
dukungan dari Komunitas
peduli skizofrenia Indonesia
( KPSI).
 Diperuntukkan untuk pasien
skizofren afektif dengan
control dari keluarga.

 Banyaknya cara
konvensional yang masih
digunakan dan tidak
Realita
memperhatikan sisi estetis
yang merupakan bagian
intim dari psikologis pasien.

 Kurangnya sosialisasi dan


dukungan dari pemerintah
Penyebab dan department kesehatan
tentang pentingnya
mengetahui penyakit
skizofrenia.

 Keilmuan desain komunikasi


visual mampu terjun
langsung untuk membuat

Statement sebuah solusi design untuk


permasalahan Skizofrenia
tentunya dengan kombinasi
dari ilmu kejiwaan yang
berbasis ilmu asuhan
keperawatan jiwa.
5.2. Hipotesis

Skizofrenia adalah diagnosis psikiatri yang menggambarkan gangguan mental yang


ditandai oleh kelainan dalam persepsi atau ungkapan realitas. Distorsi persepsi dapat
mempengaruhi semua lima indera, termasuk penglihatan, pendengaran, rasa, bau dan
sentuhan, tapi paling sering bermanifestasi sebagai halusinasi pendengaran. Berbagai media
pengobatan medis sampai kejang listrik untuk pasien skizofrenia akut merupakan bagian dari
fase penalangan kesembuhan.

Di sisi lain rehabilitasi dan terapi khusus serta dukungan penuh oleh keluarga,
merupakan penyembuhan yang paling efektif. Khususnya untuk pasien skizo afektif, mereka
mampu beradaptasi dengan lingkungan rehabilitasi dan terapi.

Terapi Audio Visual untuk pasien Skizofrenia ini merupakan pijakan khusus yang
mungkin nantinya bisa dipatenkan oleh dunia kedokteran psikiatri medis, sekaligus menjadi
alternative lain untuk terapi kejang listrik dengan tingkat brainwash audio visual yang sesuai
dengan jenis skizo pasien.

Dalam hal lain Terapi Audio visual ini juga termasuk media sosialisasi dengan kemasan
berbeda, karena Karya audio visual ini menggunakan riset dan sudut pandang si pasien.
Selain itu berguna untuk memberikan sisi edukasi keluarga bahkan masyarakat yang masih
menggunakan media pengobatan alternative yang bersifat konvensional.
Daftar Pustaka

1. Harold, Kaplan 1995. Sinopsis Psikiatri, Ilmu pengetahuan perilaku.: Panduan


Poliskiatri Rumah sakit dokter Karyadi Semarang
2. Doenges M. E., et al. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. : Buku Kedokteran EGC.
Jakarta.
3. Blain Brown, Sadjiman Ebdi. 2011. Image making for Cinematographers, Directors &
Videographers. : Fakultas Televisi dan Film. Institut Kesenian Jakarta
4. Jefkins, Frank, [Link]: Erlangga
BAB V
ANALISA AWAL
5.1. ASUMSI

Logika-logika awal mengenai pemecahan permasalahan, dikatikan dengan landasan teori yang
telah dirumuskan. Asumsi awal ini dilandaskan pada uraian analisa sederhana, menggunakan
teknik analisis yang sudah dirumuskan pada pendahuluan (SWOT,5W1H, brainstorming, dll).
Sifat dari analisis ini adalah memberikan gambaran singkat mengenai kemungkinan pendalaman
analisis lebih lanjut, sehingga paling tidak bisa disimpulkan menjadi sebuah hipotesis strategi
desain.
5.2. HIPOTESIS (STRATEGI DESAIN / SIMPULAN AWAL)

Paparan secara garis besar bentuk strategi perancangan yang akan digunakan untuk melaksanakan
proyek tugas akhir mereka. Strategi perancangan dapat berupa bentuk promosi atau kampanye
yang dijelaskan secara tertulis dan disertai gambar bagan strategi. Strategi perancangan dapat
pula disebut sebagai cara-cara pendekatan persuasif kepada khalayak sasaran.

DAFTAR PUSATAKA
(1) Pengajuan proposal mata kuliah tugas akhir juga wajib dilengkapi data-data literatur sebagai
acuan dalam penyusunan berbagai teori yang akan menjadi kerangka dalam penyusunan konsep.
(2) Daftar pustaka dapat diperoleh melalui berbagai sumber seperti buku ilmiah dalam bentuk
cetak maupun digital, artikel dalam koran dan majalah dalam bentuk cetak maupun online,
makalah seminar, diktat, modul atau materi kuliah, hasil rekaman video dan suara.
(3) Acuan penulisan daftar pustaka mengikuti pola pada umumnya dalam penulisan ilmiah.

Anda mungkin juga menyukai