0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
183 tayangan8 halaman

Jeruk Nipis dan Madu untuk Batuk Balita

Dokumen tersebut membahas tentang pengaruh pemberian jeruk nipis dan madu terhadap lama penyembuhan batuk pada balita dengan ISPA. ISPA merupakan penyebab utama kematian pada balita di negara berkembang. Studi ini menunjukkan bahwa pemberian jeruk nipis dicampur madu lebih efektif menurunkan lama penyembuhan batuk dibandingkan dengan pemberian jahe dicampur madu pada balita dengan ISPA.

Diunggah oleh

Aryatella
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
183 tayangan8 halaman

Jeruk Nipis dan Madu untuk Batuk Balita

Dokumen tersebut membahas tentang pengaruh pemberian jeruk nipis dan madu terhadap lama penyembuhan batuk pada balita dengan ISPA. ISPA merupakan penyebab utama kematian pada balita di negara berkembang. Studi ini menunjukkan bahwa pemberian jeruk nipis dicampur madu lebih efektif menurunkan lama penyembuhan batuk dibandingkan dengan pemberian jahe dicampur madu pada balita dengan ISPA.

Diunggah oleh

Aryatella
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Pengaruh pemberian jeruk nipis (Citrus aurantifolia), dan madu terhadap lama penyembuhan

batuk pada Balita dengan ISPA

Yulia Anggraini1Maftuchah2 Fery Agusman3


1,2, Prodi Sarjana Terapan Kebidanan, Stikes Karya Husada Semarang, Jl. Kompol R Soekanto No. 46, 081239340554
Prodi Diploma Kebidanan Stikes Karya Husada Semarang, Jl. Kompol R Soekanto No. 46

Alamat emaili:

Abstrak
Latar Belakang : Penyakit batuk, pilek dan demam merupakan bentuk dari ISPA yang paling sering menyerang
pada balita. Penderita ISPA di Jawa Tengah tahun 2018 yaitu 54,3%, Tahun 2017 tercatat 50,5% pada Balita,
Walaupun data ISPA pada Balita mengalami penurunan akan tetapi faktor resiko bahaya berpotensi terhadap
kematian masih cukup tinggi terhadap Balita. Jeruk nipis, madu dan jahe adalah sebuah solusi untuk pengobatan
non Farmakologi ISPA tanpa efek samping dan terjangkau oleh semua kalangan [Link] :
Mengetahui Perbedaan pemberian jeruk nipis (Citrus aurantifolia), madu terhadap lama penyembuhan batuk
pada Balita dengan ISPA di Puskesmas Ngaliyan [Link] : Penelitian ini merupakan penelitian yang
bersifat deskriptif kuantitatif. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah Eksperimen semu (quasy
experiment) dengan metode posttest only design control group design. Populasi dalam penelitian ini adalah
semua balita dengan batuk di Puskesmas Ngaliyan Semarang sebanyak 32 balita [Link] : lebih efektif Lama
penyembuhan batuk dengan pemberian Jeruk nipis di campur madu mempunyai rata-rata/mean 4.25 hari dan
Lama penyembuhan batuk dengan Jahe dicampur madu mempunyai rata-rata/mean 5.87 hari. Kesimpulan: Ada
Perbedaan lama penyembuhan batuk pada Balita yang diberikan Jeruk nipis (Citrus aurantifolia) dicampur madu
dan Jahe dicampur madu di Puskesmas Ngaliyan Semarang p value sebesar 0,000 < 0,0
Kata kunci : jeruk nipis, dan madu terhadap lama penyembuhan batuk

Effect of lime (Citrus aurantifolia), and honey to cure old cough in toddlers with ISPA in Puskesmas
Ngaliyan Semarang

Abstract
Background :Cough, runny nose and fever is a form of acute respiratory infection that most often affects children
under [Link] ARI in Central Java in 2018, namely 54.3%, 50.5% Year 2017 recorded in Toddlers, Toddlers
Although data ARI has decreased but the potential dangers of risk factors on mortality is still high enough to
[Link], honey and ginger is a solution for non Pharmacological treatment of ARI no side effects and are
affordable by all [Link] :Know the Difference Award limes (Citrus aurantifolia), honey to cure old cough
in toddlers with ISPA in Puskesmas Ngaliyan Semarang,Method :This research is descriptive quantitative. The
design used in this research is quasi experiment (quasy experiment) method only design posttest control group
design. The population in this study are all the toddlers with cough in Semarang Ngaliyan health centers were 32
toddlers [Link]: more effectiveLong healing by administering cough Lime mixed honey have average / mean
4:25 today andOld healing cough Ginger mixed with honey have average / mean 5.87 days. Conclusion:There is
Differences longer healing cough in toddlers given Lime (Citrus aurantifolia) mixed with honey and ginger mixed
with honey in Puskesmas Ngaliyan Semarangp value of 0.000 <0.0
Keywords : lemon, and honey to cure old cough

PENDAHULUAN anak berulang kali. Kebanyakan orang tua tidak


Penyakit batuk, pilek dan demam mengerti bahwa penyakit ini dapat menimbulkan
merupakan bentuk dari ISPA yang paling sering penyakit yang lebih berat jika tidak segera
menyerang pada balita. ISPA adalah proses diobati terutama saat daya tahan tubuh
inflamasi yang disebabkan oleh virus, bakteri, menurun. (WHO, 2015)
atipikal (mikroplasma) atau substansi asing yang World Health Organization (WHO)
melibatkan suatu atau semua bagian saluran menyatakan bahwa ISPA merupakan salah satu
pernafasan (Kemenkes, 2012). Penyakit ini penyebab kematian tersering pada anak di
masih dianggap remeh oleh beberapa keluarga Negara berkembang. Infeksi saluran
dan tidak berbahaya, sehingga dapat mengenai pernapasan akut ini menyebabkan empat dari
15 juta perkiraan kematian pada anak berusia dapat disimpulkan bahwa kejadian penyakit dan
dibawah 5 tahun pada setiap tahunnya, kematian ISPA dikota Semarang masih tinggi.
sebanyak dua pertiga kematian tersebut adalah Angka kematian akibat ISPA pada balita
bayi. Insiden menurut kelompok umur Balita tahun 2018 sebanyak 0,22%, tahun 2017
diperkirakan 0,29 episode per anak /tahun di menjadi 0,34%. Sedangkan angka kematian
Negara maju[1]. Penyakit ini menyumbang 16% diIndonesia akibat ISPA pada balita sebanyak
dari seluruh kematian anak dibawah 5 0,23%[2]. Di Indonesia kasus kematian yang
tahun,yang menyebabkan kematian pada disebabkan oleh penyakit ISPA masih cukup
920.136 balita, atau lebih dari 2.500 per hari, tinggi yaitu sekitar 4 dari 15 juta perkiraan
atau diperkirakan 2 anak balita meninggal setiap kematian pada anak usia kurang dari 5 tahun
menit pada tahun 2015 (WHO, 2015). setiap tahunnya di Indonesia 10% masyarakat
Berdasarkan data Laporan Rutin Subdit menderita ISPA (Riskesdas, 2018)
ISPA di Indonesia tahun 2018 sebanyak 0,20%, Penderita ISPA di Jawa Tengah tahun
dan pada Tahun 2017 sebanyak 1,60%. Salah 2018 yaitu 54,3%, Tahun 2017 tercatat 50,5%
satu upaya yang dilakukan untuk pada Balita, Walaupun data ISPA pada Balita
mengendalikan penyakit ini yaitu dengan mengalami penurunan akan tetapi faktor resiko
meningkatkan penemuan ISPA pada balita[2]. bahaya berpotensi terhadap kematian masih
Angka kematian akibat ISPA pada balita tahun cukup tinggi terhadap Balita (Dinkes Jateng,
2018 sebanyak 0,22%, tahun 2017 menjadi 2016)
0,34%. Sedangkan angka kematian diIndonesia Pada tahun 2018 di Semarang kasus
akibat ISPA pada balita sebanyak 0,23%[2]. Di ISPA Balita sebanyak 2.963 (36,5%). Menurut
Indonesia kasus kematian yang disebabkan oleh jenis kelamin kasus ISPA balita pada
penyakit ISPA masih cukup tinggi yaitu sekitar 4 perempuan 46% lebih sedikit dibanding dengan
dari 15 juta perkiraan kematian pada anak usia kasus ISPA balita pada laki-laki 54%.
kurang dari 5 tahun setiap tahunnya di Sedangkan tahun 2017 kasus ISPA pada Balita
Indonesia 10% masyarakat menderita ISPA sebanyak 6.830 (20%),menurut jenis kelamin
(Riskesdas, 2018) balita perempuan (46%), pada balita laki-laki
Penderita ISPA di Jawa Tengah tahun (54%). Angka kematian akibat ISPA pada tahun
2018 yaitu 54,3%, Tahun 2017 tercatat 50,5% 2018 sebesar 0,22% pada tahun 2017 menjadi
pada Balita, Walaupun data ISPA pada Balita 0,34%[5]. Angka Kematian Balita pada ISPA dari
mengalami penurunan akan tetapi faktor resiko tahun 2018 ke tahun 2017 semakin naik padahal
bahaya berpotensi terhadap kematian masih upaya penerapan tatalaksana standar ISPA
cukup tinggi terhadap Balita .(Dinkes Jateng, dengan melaksanakan Manajemen Terpadu
2018) Balita Sakit (MTBS) sudah dilaksanakan akan
Pada tahun 2018 di Semarang kasus tetapi belum mencapai target penurunan, maka
ISPA Balita sebanyak 2.963 (36,5%). Menurut dapat disimpulkan bahwa kejadian penyakit dan
jenis kelamin kasus ISPA balita pada kematian ISPA dikota Semarang masih
perempuan 46% lebih sedikit dibanding dengan tinggi.(Dinkes Kota Semarang, 2018)
kasus ISPA balita pada laki-laki 54%. Peran aktif keluarga dalam menangani
Sedangkan tahun 2017 kasus ISPA pada Balita ISPA sangat penting, karna penyakit ISPA
sebanyak 6.830 (20%),menurut jenis kelamin merupakan penyakit yang sangat sering terjadi
balita perempuan (46%), pada balita laki-laki dalam kehidupan keluarga. Hal ini perlu
(54%). Angka kematian akibat ISPA pada tahun mendapatkan perhatian serius, karena biasanya
2018 sebesar 0,22% pada tahun 2017 menjadi keluarga menganggap ISPA pada balita
0,34%[5]. Angka Kematian Balita pada ISPA dari merupakan penyakit biasa yang sering timbul
tahun 2018 ke tahun 2017 semakin naik padahal dan tidak berbahaya serta bisa menghilang
upaya penerapan tatalaksana standar ISPA dengan sendirinya (Asriati A, 2015).
dengan melaksanakan Manajemen Terpadu Beberapa faktor yang mempengaruhi
Balita Sakit (MTBS) sudah dilaksanakan akan terjadinya ISPA yaitu pengetahuan, status gizi,
tetapi belum mencapai target penurunan, maka lingkungan merokok, iklim atau cuaca, sikap dan
peran keluarga. Peran orang tua yang belum pneumonia, dan pneumonia berat. Klasifikasi
tepat dalam merawat balita dengan ISPA, tersebut berdasarkan temuan pengkajian yang
seperti terlambat membawa ke fasilitas dilakukan oleh petugas. Jika dalam pengkajian
kesehatan dan penanganan yang kurang tepat batuk tidak ada tanda - tanda pneumonia atau
dalam mengatasi tanda da gejala. Hal ini bisa penyakit sangat berat maka batuk tersebut di
dikarenakan orang tua belum mengerti bahwa klasifikasikan batuk bukan pneumonia dengan
penyakit ISPA adalah penyakit yang berbahaya salah satu pengobatannya adalah memberi
dan dapat mengakibatkan penyebaran infeksi pelega tenggorokan dan pereda batuk yang
yang lebih luas, sehingga akhirnya infeksi aman (Permenkes, 2015)
menyerang saluran nafas bagian bawah dan Penatalaksanaan ISPA Bukan
selanjutnya akan menyebabkan radang paru- Pneumonia atau Batuk pada Buku Manajemen
paru atau pneumonia yang sangat berbahaya Terpadu Balita Sakit (MTBS) adalah Meredakan
dan menyebabkan kematian. Akibat penyakit Batuk dan melegakan Tenggorokan dengan
ISPA yang parah ini, maka diperlukan peran bahan yang aman, bahan yang aman yang
orang tua yang aktif dan tepat dalam menangani dianjurkan:ASI ekslusif sampai umur 6 bulan,
balita dengan ISPA dirumah serta peran orang jeruk nipis dicampur kecap manis atau madu
tua yang tanggap dalam memberikan (Silvia Sari Prastiwi 2014)
pengobatan (Ditjen P2PL, 2012) Jeruk nipis, madu dan jahe adalah
Selama ini pasien yang mengalami sebuah solusi untuk pengobatan ISPA tanpa
ISPA cenderung memperoleh pengobatan dari efek samping dan terjangkau oleh semua
pihak medis yang menggunakan senyawa- kalangan masyarakat. Jeruk nipis, madu dan
senyawa kimia atau Farmakologi, sehingga jahe adalah tanaman poliembrionik yang
menimbulkan efek samping dalam jangka ditanam Negara dan tumbuh di daerah
panjang. WHO merekomendasikan penggunaan subtropik, selain itu di Indonesia juga banyak
obat tradisional atau Non Farmakologi dalam terdapat tanaman ini karena iklimnya yang
pemeliharaan kesehatan masyarakat, tropis. Tanaman ini termasuk ke dalam Divisi:
pencegahan dan pengobatan penyakit. WHO Spermatophyta, [Link] : Angiospermae,
juga mendukung upaya-upaya dalam kelas: Dicotyledoneae, Bangsa : Sapindales,
peningkatan keamanan dan kasiat dari obat Suku: Rutaceae, Marga: Citrus, Jenis : Citrus
tradisional (Permenkes, 2015) aurantium [Link] swingle, Nama
Pendekatan yang dilakukan adalah lokal : Limau Tipis(Melayu), Jeruk Nipis (Jawa
dengan melaksanakan Manajemen Terpadu Tengah). Jeruk nipis adalah salah satu tanaman
Balita Sakit (MTBS). MTBS atau Integrated yang banyak digunakan oleh masyarakat
Management of Childhood Illness (IMCI) adalah Indonesia baik sebagai bumbu masakan
suatu pendekatan terintegrasi yang digunakan ataupun secara empirik digunakan sebagai obat.
untuk penatalaksanaan anak balita sakit mulai Tanaman ini mudah diperoleh serta memiliki
dari usia 0 bulan sampai 59 bulan secara harga yang relatif murah (Silvia Sari Prastiwi
keseluruhan. Salah satu tujuan pelaksanaan 2014)
MTBS adalah menurunkan secara bermakna Berdasarkan Studi pendahuluan di
angka kematian dan kesakitan yang terkait Puskesmas Ngaliyan, dilakukan wawancara
penyakit tersering pada balita. Puskesmas dapat terhadap 10 ibu balita yang mengalami ISPA
dikatakan telah menggunakan pendekatan menyatakan bahwa selama ini pengobatan ibu
MTBS jika telah melakukan minimal 60% dari balita hanya dengan obat dari Puskesmas,
banyaknya balita sakit yang datang dan hanya ada penatalaksanaan Farmakologi saja.
ditangani menggunakan MTBS di puskesmas [9]. dan berdasarkan wawancara juga hanya
Balita yang ditangani dengan menggunakan didapatkan bahwa ibu balita sudah di berikan
MTBS akan mendapatkan klasifikasi yang penyuluhan tentang pemberian jeruk nipis di
berbeda. Anak datang dengan keluhan batuk campur madu, tetapi tidak dilaksanakan hanya
akan ditangani dengan tiga klasifikasi di beri obat saja. Studi pendahuluan juga
pengobatan, yaitu batuk bukan pneumonia, dilakukan terhadap Bidan yang menyatakan
bahwa pengobatan ISPA pada Balita hanya Berdasarkan tabel 4.1. maka dapat
dengan obat saja atau hanya di berikan terapi diketahui bahwa lama penyembuhan batuk
Farmakologi saja, lama penyembuhan lebih dari dengan pemberian Jeruk nipis di campur
3 hari dan penyuluhan tentang pemberian jeruk madu mempunyai median 4.000 hari,
nipis belum efektif dilakukan. Peneliti juga [Link] 0.856 dan lama batuk minimal 3
melihat dasar acuan buku Manajemen Terpadu hari dan maksimal 6 hari.
Balita Sakit (MTBS) yang dimana cara 2. Lama penyembuhan batuk dengan
pemberian terapi batuk pada balita dengan pemberian Jahe dicampur madu
Terapi Farmakologi dan Non Farmakologi yaitu Tabel 4.2. Analisa statistik lama
dengan bahan aman yang dianjurkan air jeruk penyembuhan batuk dengan pemberian
nipis dicampur kecap manis atau madu, tetapi Jahe dicampur madu pada Balita
belum dilaksanakan efektif oleh tenaga Lama
Std.
kesehatan dan ibu balita yang mengalami batuk. penyembuhan N Median Min Max
deviation
batuk
Hubungan pemberian jeruk nipis
Jahe dan madu 16 6.000 0.718 5 7
dicampur madu dengan Bidan yaitu upaya
membersihkan jalan napas pada Balita setelah
Berdasarkan tabel 4.2. maka
diberikan terapi Asuhan Kebidanan yang
dapat diketahui bahwa lama penyembuhan
diberikan didampingi dengan pemberian secara batuk dengan pemberian Jahe dicampur
Natural Basic Therapy (NBT) dengan jeruk nipis
madu mempunyai median 6.000 hari
dicampur Madu sehingga penyembuhan batuk
[Link] 0.718 dan lama batuk minimal
terjadi secara efektif.
5 hari dan maksimal 7 hari
Berdasarkan dari latar belakang di atas 3. Perbedaan lama penyembuhan batuk
maka peneliti tertarik untuk melakukan
pada Balita yang diberikan Jeruk nipis
penelitian tentang “Pengaruh pemberian jeruk
(Citrus aurantifolia) dicampur madu dan
nipis (Citrus aurantifolia), dan madu terhadap
Jahe dicampur madu
lama penyembuhan batuk pada Balita dengan
Sebelum dilakukan analisa bivariat
ISPA di Puskesmas Ngaliyan Semarang”.
terlebih dahulu dilakukan uji normalitas
METODE PENELITIAN
untuk menentukan alat ukur yang akan
Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat
digunakan dalam analisa bivariat. Hasil uji
deskriptif kuantitatif. Desain yang digunakan
normalitas lama penyembuhan batuk pada
dalam penelitian ini adalah Eksperimen semu
Balita yang diberikan Jeruk nipis (Citrus
(quasy experiment) dengan metode posttest
aurantifolia) dicampur madu dan Jahe
only design control group design yaitu cara
dicampur madu didapatkan nilai p value
penelitian yang dilakukan pada dua kelompok
0,044 dan 0,004 < 0,05 sehingga data
yaitu pada kelompok intervensi dan kelompok
disimpulkan terdistribusi tidak normal
kontrol. Populasi dalam penelitian ini adalah
sehingga menggunakan uji korelasi Mann-
semua balita dengan batuk di Puskesmas
Whitney Test dengan hasil sebagai berikut :
Ngaliyan Semarang pada bulan Juli tahun 2019
Tabel 4.3. Analisa statistik perbedaan
sebanyak 32 balita batuk.
lama penyembuhan batuk pada Balita yang
HASIL DAN PEMBAHASAN
diberikan Jeruk nipis (Citrus aurantifolia)
Hasil Penelitian
dicampur madu dan Jahe dicampur madu di
1. Lama penyembuhan batuk dengan
Puskesmas Ngaliyan Semarang.
pemberian Jeruk nipis di campur madu Mean p_value
Tabel 4.1. Analisa statistik lama Rank
penyembuhan batuk dengan pemberian perbedaan lama
Jeruk nipis di campur madu pada Balita penyembuhan batuk pada
Lama N Median Std. Min Max Balita yang diberikan Jeruk
9.84
penyembuhan deviation nipis (Citrus aurantifolia) 0,000
23.16
batuk dicampur madu dan Jahe
Jeruk nipis 16 4.000 0.856 3 6 dicampur madu di Puskesmas
dan madu Ngaliyan Semarang
efektor. Refleks batuk tidak akan
Berdasarkan analisa bivariat sempurna apabila salah satu unsurnya
dengan menggunakan uji korelasi Mann- tidak terpenuhi. Adanya rangsangan pada
Whitney Test maka didapatkan p value reseptor batuk akan dibawa oleh saraf
sebesar 0,000 < 0,05 maka dapat aferen ke pusat batuk yaitu medula untuk
disimpulkan ada Perbedaan lama diteruskan ke efektor melalui saraf
penyembuhan batuk pada Balita yang eferen.[20] Reseptor batuk terdapat pada
diberikan Jeruk nipis (Citrus aurantifolia) farings, larings, trakea, bronkus, hidung
dicampur madu dan Jahe dicampur madu di (sinus paranasal), telinga, lambung,dan
Puskesmas Ngaliyan Semarang. Dilihat dari perikardium sedangkan efektor batuk dapat
rata-percepatan setelah diberikan Jeruk berupa ototfarings, larings, diafragma,
nipis (Citrus aurantifolia) di campur madu interkostal, dan lain-lain.
dan Jahe dicampur madu, Jeruk nipis Jeruk nipis Citrus aurantifolia. L
(Citrus aurantifolia) dicampur madu lebih (Cristm.) Swingle mengandung unsur-
efektif dalam lama penyembuhan batuk unsur senyawa kimia yang bermanfaat,
pada Balita. Didapatkan nila mean rank misalnya: asam sitrat, asam amino
Jeruk nipis (Citrus aurantifolia) dicampur (triptofan, lisin), minyak atsiri (sitral,
madu 9.84 dan Jahe dicampur madu 23.16, limonen, felandren, lemon kamfer,
nilai mean rank Jahe dicampur madu lebih kadinen, gera ni-lasetat, linali-lasetat,
tinggi dibandingkan Jeruk nipis (Citrus aktilaldehid, nonildehid), damar, glikosida,
aurantifolia) dicampur madu, dapat asam sitrun, lemak, kalsiu m, fosfor, besi,
disimpulkan bahwa lama penyembuhan belerang vitamin B1 dan C. Jeruk nipis
batuk dengan Jeruk nipis (Citrus juga mengandung 7% minyak essensial
aurantifolia) dicampur madu lebih efektif. yang mengandung citral, limonen, fenchon,
terpineol, bisabolene, dan terpenoid
PEMBAHASAN lainnya. Senyawa limonoida terdapat
1. Lama penyembuhan batuk dengan dalam 2 bentuk yaitu limonoida aglicones
pemberian Jeruk nipis di campur madu (La) dan limonoida glucosides (Lg)
Berdasarkan hasil penelitian maka (Susanti D., et all., 2013)
dapat diketahui bahwa lama penyembuhan Limonoida aglicones (La)
batuk dengan pemberian Jeruk nipis di menyebabkan rasa pahit pada jeruk dan
campur madu mempunyai rata-rata/mean tidak larut dalam air. Sedangkan limonoida
4.25 hari, [Link] 0.856 dan lama batuk glucosoides tidak menyebabkan rasa pahit
terendah 3 hari dan tertinggi 6 hari. Lama pada jeruk dan dapat larut dalam air.
batuk yang sembuh selama 3 hari balita Limonoida aglycones dibagi lagi menjadi 4
mempunyai imun atau daya tahan tubuh golongan yaitu limonin, colamin,
yang kuat sehingga bila disaat menderita ichangensin dan 7a-acetate limonoida.
sakit batuk pilek akan cepat sembuh Diantara empat golongan tersebut yang
didukung oleh lingkungan yang baik. paling dominan menyebabkan rasa pahit
Sedangkan lama batuk 6 hari hal tersebut dan mempunyai efek paling potensial
balita dalam lingkungan keluarga yang adalah 7a-acetate limonoida.
merokok dan sering terpapar oleh debu Kandungan senyawa limonoida
jalan yang sering lalu lalang kendaraan paling tinggi pada tanaman jeruk nipis
proyek. Jika batuk tidak diatasi dengan non terdapat pada bagian biji yaitu 927
farmokologi pemberian jeruk nipis dicampur µg/100 mg, pada bagian daun 36,6
madu batuk pada Balita lama µg/100mg, pada bagian kulit 2,5 µg/100
penyembuhan bisa lebih dari 7 hari. mg, dan yang paling sedikit pada
Batuk merupakan suatu rangkaian buah yaitu hanya 0,7 µg/100mg
refleks yang terdiri dari reseptor batuk, (Susanti D., et all., 2013)
saraf aferen, pusat batuk, saraf eferen,dan
Madu dipercaya sebagai super food mengobati batuk, sedangkan zat antibiotik
karena berasal dari nectar bunga-bungaan pada madu yang dapat menyembuhkan
yang dikumpulkan oleh lebah. Kemudian beberapa penyakit infeksi seperti batuk
diproses di dalam sarang mereka sehingga anak pada ISPA. Anak yang telah
menjadi cairan manis yang kaya manfaat. diberikan minuman jahe madu oleh peneliti
Nutrisi yang terkandung di dalam madu gejala keparahan batuk seperti batuk
terutama adalah zat gula berupa fruktosa berdahak, pilek, rewel, tidak nafsu makan
dan glukosa. Ada juga karbohidrat, sedikit dan gejala lainnya menjadi berkurang.
vitamin dan mineral. Selain itu terkandung Dengan demikian pada penelitian ini
di dalamnya beberapa senyawa penting dapat disimpulkan bahwa pemberian
yang dianggap sebagai anti oksidan minuman jahe madu dapat menurunkan
(Sarwono, 2009) tingkat keparahan batuk pada anak
Jeruk nipis dicampur madu dapat dengan ISPA.
meredakan batuk,kandungan jeruk nipis Pemanfaatan jahe oleh manusia
mengandung minyak atsiri dan berbagai zat yaitu pada bagian rimpangnya. Rimpang
yang bisa melemaskan otot-otot pada jahe mengandung minyak atsiri di mana di
saluran pernapasan, mengatasi rasa gatal dalamnya terkandung beberapa senyawa
ditenggorokan, mengencerkan dahak dan seperti Zingeron, seskuiterpen, oleoresin,
dikombinasi dengan madu kalau rasa zingiberen, limonen, kamfena, sineol,
manis pada madu bisa memicu produksi air zingiberal, sitral, felandren, dan borneol.
liur dan lendir untuk melembapkan Selain itu, terdapat juga damar, pati,
tenggorokan sehingga dapat vitamin A, B, C, senyawa flavonoid dan
menyembuhkan batuk pada Balita polifenol, serta asam organik seperti asam
(Kliegman Behrman.2012) malat dan asam oksalat (Ristiyaningsih
Penelitian ini juga didukung sebuah dan susane, 2016)
penelitian di Amerika yang dilakukan oleh Jahe memiliki efek yang
Cohen, dkk pada tahun 2009. Anak-anak menghangatkan dan melegakan saat batuk,
dengan ISPA dan batuk malam hari diberi demam, flu, dan masalah pernapasan
1 dari 3 produk madu, plasebo pada lainnya. (Kliegman Behrman.2012)
pemberian 30 menit sebelum tidur dan Madu dipercaya sebagai super food karena
tanpa ada perawatan. Hasil yang berasal dari nectar bunga-bungaan yang
ditemukan madu menghasilkan dikumpulkan oleh lebah. Kemudian
peningkatan perbaikan yang terbesar. diproses di dalam sarang mereka sehingga
Frekuensi batuk anak yang menerima menjadi cairan manis yang kaya manfaat.
madu memiliki rata- rata peningkatan 1,89 Nutrisi yang terkandung di dalam madu
poin, 1,39 poin bagi anak yang menerima terutama adalah zat gula berupa fruktosa
plasebo dan 0,92 poin bagi yang tidak dan glukosa. Ada juga karbohidrat, sedikit
memerima perawatan (p 0,01). vitamin dan mineral. Selain itu terkandung
2. Lama penyembuhan batuk dengan di dalamnya beberapa senyawa penting
pemberian Jahe dicampur madu yang dianggap sebagai anti oksidan
Berdasarkan hasil penelitian maka (Sarwono, 2009)
dapat diketahui bahwa lama penyembuhan Pemberian minuman jahe madu
batuk dengan pemberian Jahe dicampur dapat menurunkan keparahan batuk pada
madu mempunyai rata-rata/mean 5.87 hari anak, karena kandungan minyak atsiri
[Link] 0.718 dan lama batuk minimal dalam jahe yang merupakan zat aktif yang
5 hari dan maksimal 7 hari. Pemberian dapat mengobati batuk, sedangkan zat
minuman jahe madu dapat menurunkan antibiotik pada madu yang dapat
keparahan batuk pada anak, karena menyembuhkan beberapa penyakit infeksi
kandungan polifenol dan flavonoid dalam seperti batuk anak pada ISPA. Anak yang
jahe yang merupakan zat aktif yang dapat telah diberikan minuman jahe madu oleh
peneliti gejala keparahan batuk seperti senyawa kimia yang bermanfaat, misalnya:
batuk berdahak, pilek, rewel, tidak nafsu asam sitrat, asam amino (triptofan, lisin),
makan dan gejala lainnya menjadi minyak atsiri (sitral, limonen, felandren,
berkurang. Dengan demikian pada lemon kamfer, kadinen, gera ni-lasetat,
penelitian ini dapat disimpulkan bahwa linali-lasetat, aktilaldehid, nonildehid),
pemberian minuman jahe madu dapat damar, glikosida, asam sitrun, lemak,
menurunkan tingkat keparahan batuk pada kalsiu m, fosfor, besi, belerang vitamin B1
anak dengan ISPA (Hadisoesilo, S., dan C. Jeruk nipis juga mengandung 7%
Kahono, S. dan Suwandi 2011) minyak essensial yang mengandung citral,
Hal ini sejalan dengan penelitian limonen, fenchon, terpineol, bisabolene,
yang dilakukan oleh Yulfina (2011) tentang dan terpenoid lainnya. Senyawa limonoida
efektifitas pemberian minuman jahe terdapat dalam 2 bentuk yaitu limonoida
terhadap penurunan keparahan batuk aglicones (La) dan limonoida glucosides
pada anak dengan ISPA di wilayah kerja (Lg). Limonoida aglicones (La)
Puskesmas Lima Puluh Pekanbaru menyebabkan rasa pahit pada jeruk dan
dengan hasil p value = 0,000 atau p < α tidak larut dalam air. Sedangkan limonoida
(0,05) maka Ho ditolak artinya pemberian glucosoides tidak menyebabkan rasa pahit
minuman jahe efektif untuk menurunkan pada jeruk dan dapat larut dalam air.
keparahan batuk pada anak dengan ISPA. Limonoida aglycones dibagi lagi menjadi 4
3. Perbedaan lama penyembuhan batuk golongan yaitu limonin, colamin,
pada Balita yang diberikan Jeruk nipis ichangensin dan 7a-acetate limonoida.
(Citrus aurantifolia) dicampur madu dan Diantara empat golongan tersebut yang
Jahe dicampur madu di Puskesmas paling dominan menyebabkan rasa pahit
Ngaliyan Semarang dan mempunyai efek paling potensial
Berdasarkan analisa bivariat adalah 7a-acetate limonoida. Kandungan
dengan menggunakan uji korelasi Mann- senyawa limonoida paling tinggi pada
Whitney Test maka didapatkan p value tanaman jeruk nipis terdapat pada bagian
sebesar 0,000 < 0,05 maka dapat biji yaitu 927 µg/100 mg, pada bagian daun
disimpulkan ada Perbedaan lama 36,6 µg/100mg, pada bagian kulit 2,5
penyembuhan batuk pada Balita yang µg/100 mg, dan yang paling sedikit
diberikan Jeruk nipis (Citrus aurantifolia) pada buah yaitu hanya 0,7 µg/100mg
dicampur madu dan Jahe dicampur madu di (Susanti D., et all., 2013)
Puskesmas Ngaliyan Semarang. Dilihat dari Hasil penelitian yang dilakukan oleh
rata-rata penyembuhan batuk pada balita Apri Nur Ramadhani, Riri Novayelinda,
setelah diberikan Jeruk nipis (Citrus Rismadefi Woferst tentang Efektivitas
aurantifolia) di campur madu dan Jahe pemberian minuman jahe madu terhadap
dicampur madu, Jeruk nipis (Citrus keparahan batuk pada anak dengan ISPA.
aurantifolia) dicampur madu lebih efektif Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada
dalam lama penyembuhan batuk pada perbedaan tingkat keparahan batuk anak
Balita. Didapatkan nilai mean rank Jeruk dengan di berikan minuman jahe madu pada
nipis (Citrus aurantifolia) dicampur madu kelompok eksperimen dan tanpa diberikan
9.84 dan Jahe dicampur madu 23.16, nilai minuman jahe madu.
mean rank Jahe dicampur madu lebih tinggi Kesimpulan
dibandingkan Jeruk nipis (Citrus aurantifolia) 1. Lama penyembuhan batuk dengan
dicampur madu, dapat disimpulkan bahwa pemberian Jeruk nipis di campur madu
lama penyembuhan batuk dengan Jeruk mempunyai rata-rata/mean 4.25 hari,
nipis (Citrus aurantifolia) dicampur madu [Link] 0.856 dan lama batuk minimal 3
lebih efektif. hari dan maksimal 6 hari.
Jeruk nipis Citrus aurantifolia. L 2. Lama penyembuhan batuk dengan
(Cristm.) Swingle mengandung unsur-unsur pemberian Jahe dicampur madu
mempunyai rata-rata/mean 5.87 hari, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan
[Link] 0.718 dan lama batuk minimal 5 Penyehatan Lingkungan (Ditjen P2PL).
hari dan maksimal 7 hari (2012). Pedoman Pengendalian Infeksi
3. Ada Perbedaan lama penyembuhan batuk Saluran Pernapasan Akut. Jakarta :
pada Balita yang diberikan Jeruk nipis Kementerian Kesehatan RI.
(Citrus aurantifolia) dicampur madu dan
Jahe dicampur madu di Puskesmas Hadisoesilo, S., Kahono, S. dan Suwandi
Ngaliyan Semarang p value sebesar 0,000 < (2011). Potensi Sumbawa,
0,0 , jeruk nipis dicampur madu lebih efektif Nusa Tenggara Barat. Laporan
dalam lama penyembuhan batuk pada balita Survei Pontianak.
Saran Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
1. Bagi Puskesmas Ngaliyan Semarang (2012). Pedoman Pemberantasan
Tenaga kesehatan khususnya Puskesmas Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan
Ngaliyan Semarang untuk dapat melakukan akut untuk Penanggulangan Pneumonia
penyuluhan terhadap ibu balita tentang Balita. Jakarta: Departemen Kesehatan
manfaat jeruk nipis dicampur dengan madu Republik Indonesia
dalam penyembuhan batuk ISPA pada
Kliegman [Link] Ilmu
balita.
Keperawatan Anaked. 15, alih bahasa
2. Bagi masyarakat
Indonesia, [Link] [Link]:
Masyarakata khususnya ibu balita untuk
EGC
dapat menerapkan penanganan batuk pada
balitanya secara non farmakologis dengan Peraturan Menteri Kesehatan Indonesia (2015)
memberikan jeruk nipis di campur madu
terhadap balitanya. Riset Kesehatan Dasar. (2018). Badan
3. Bagi STIKes Karya Husada Penelitian dan Pengembangan
Hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI.
kepustakaan guna menunjang penelitian Jakarta : Depkes RI.
yang akan datang
4. Bagi Peneliti Sarwono, 2009. Didalam Firdhany Armanda,
Bagi peneliti selanjutnya hasil penelitian ini Studi Pemanfaatan Buah Jeruk Nipis
dapat dijadikan tambahan informasi untuk (Citrus Auranti folia Swingle) sebagai
mengembangkan penelitian lebih aplikatif Chelator Logam Pb dan Cd dalam
tentang jahe dan madu terhadap batuk pada Udang Windu (Penaeus Monodon),
anak. Bahan Skripsi Fakultas Farmasi,
DAFTAR PUSTAKA Universitas Sumatera Utara
Asriati A, Zamrud Z, Kalenggo DF. Analisis Silvia Sari Prastiwi 2014 Kandungan Dan
Faktor Risiko Kejadian Infeksi Aktivitas Farmakologi Jeruk Nipis
Saluran Pernapasan Akut pada Anak (Citrus aurantifolia s.)
Balita. Medula. 2015;1(2). Susanti D., et all., 2013. Pemeriksaan Basil
Data Puskesmas ngaliyan 2018 Tahan Asam (BTA) Pada Sputum
Penderita Batuk Lebih Dari Sama
Dinas Kesehatan Jawa Tengah. (2016). Profil Dengan 2 Minggu Di Poliklinik Penyakit
Kesehatan Jawa Tengah 2016 Dalam BLU [Link]. Dr. R.D. Kandou
Manado. Jurnale-CliniC (eCI).
Dinkes Kota Semarang. [Link] World Health Organization. Definisi Sehat WHO:
Kota Semarang Tahun 2016. Dinas WHO; 1947 [cited 2016 20 February].
KesehatanKota Semarang Available from: [Link].

Common questions

Didukung oleh AI

Cultural practices and perceptions significantly impact the management of ARI in children in Indonesia by influencing how families prioritize traditional remedies over seeking formal healthcare. Many families view ARI as a common and non-threatening condition, leading to reliance on traditional remedies such as lime and honey. This can delay proper medical treatment, contributing to prolonged illness and increasing the risk of complications. Additionally, societal knowledge and attitudes about health significantly influence when and how medical care is sought .

Aligning traditional remedies with modern medical practices could improve child health outcomes in ARI cases by integrating vetted traditional methods like lime and honey with medical treatments to enhance recovery and patient acceptance. Health professionals can respect cultural practices by providing guidance on using traditional remedies safely alongside modern treatment, ensuring they don't replace necessary medical care. Educational initiatives can help inform parents about the benefits and limitations of both approaches, fostering a balanced use that can lead to improved health outcomes .

The perception of ARI as a trivial condition is significant because it results in delayed medical intervention and poor treatment practices, which can lead to severe health consequences including death. In developing countries, many parents are unaware of the potential severity of untreated ARI, which can escalate to pneumonia, a leading cause of mortality in children under five. This lack of awareness contributes to continued high rates of infection and complicates public health efforts to reduce childhood mortality from ARI .

The statistical analysis of recovery times from coughs treated with lime and honey showed a mean recovery time of 4.25 days, while ginger and honey had a mean recovery of 5.87 days. The study used a Mann-Whitney Test, which revealed a statistically significant difference in recovery times with a p-value of 0.000, indicating the lime and honey treatment was more effective in reducing the duration of coughs in children with ARI .

The mixture of lime (Citrus aurantifolia) and honey is more effective than ginger and honey in treating cough in toddlers with acute respiratory infections. The study found that the average recovery time when using lime and honey was 4.25 days, while it was 5.87 days for ginger and honey. This difference is statistically significant with a p-value of 0.000, indicating that lime and honey provide a faster recovery from cough than ginger and honey .

The potential benefits of using lime mixed with honey for treating coughs in children include its natural composition that offers a non-pharmacological treatment option without side effects. Lime (Citrus aurantifolia) contains citric acid and vitamin C, which help in soothing the throat and boosting immunity. Honey acts as a natural cough suppressant and has antibacterial properties. Together, they help in easing the symptoms associated with coughs and provide a faster recovery time compared to other remedies .

The key factors contributing to high mortality rates of ARI among children under five in developing countries include limited access to healthcare, delays in seeking medical attention due to cultural perceptions, underestimating the seriousness of ARI, and poor nutritional status that weakens children's immune systems. Environmental factors, such as pollution and household smoke, exacerbate respiratory conditions, while lack of effective public health interventions compounds the risk and prevalence of these conditions .

The Integrated Management of Childhood Illness (IMCI) approach plays a crucial role in addressing ARI by providing a comprehensive, standardized framework for diagnosing and treating children with respiratory infections. The IMCI approach emphasizes early recognition of symptoms, appropriate medical intervention, and education of caregivers, thereby aiming to reduce mortality and improve recovery times. By focusing on overall child health, IMCI supports the integration of both preventive and curative measures, which are essential in managing ARI effectively .

Honey has significant potential as a treatment for cough and respiratory infections in children due to its natural properties, including antioxidants and antimicrobial components. Honey can soothe sore throats, act as a cough suppressant, and enhance the immune response, making it a viable option for managing mild respiratory infections. However, it should be used with caution, especially in young children under one year due to the risk of botulism, and always in conjunction with medical advice to ensure comprehensive care .

In Semarang, the incidence rates of ARI in toddlers show a higher prevalence in males compared to females. Specifically, in 2018, 54% of ARI cases in toddlers were male, while only 46% were female, indicating a noticeable gender disparity in ARI incidence. This difference could be due to various biological, environmental, or cultural factors that predispose male toddlers to higher ARI occurrences .

Anda mungkin juga menyukai