0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
143 tayangan23 halaman

Definisi dan Tujuan PPDGJ-III

[Ringkasan] Dokumen tersebut membahas tentang Pedoman Penggolongan Diagnostik Gangguan Jiwa (PPDGJ) di Indonesia. PPDGJ merupakan pedoman klasifikasi dan diagnosis gangguan jiwa yang mengacu pada standar International Classification of Disease (ICD-10) dan sistem multiaksial dari Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-IV). Dokumen tersebut menjelaskan definisi, tujuan, perkembangan dan perbandingan versi PPDGJ I, II, dan III.

Diunggah oleh

Meindha
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
143 tayangan23 halaman

Definisi dan Tujuan PPDGJ-III

[Ringkasan] Dokumen tersebut membahas tentang Pedoman Penggolongan Diagnostik Gangguan Jiwa (PPDGJ) di Indonesia. PPDGJ merupakan pedoman klasifikasi dan diagnosis gangguan jiwa yang mengacu pada standar International Classification of Disease (ICD-10) dan sistem multiaksial dari Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-IV). Dokumen tersebut menjelaskan definisi, tujuan, perkembangan dan perbandingan versi PPDGJ I, II, dan III.

Diunggah oleh

Meindha
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Psikiatri merupakan cabang ilmu kedokteran yang mempelajari
mengenai emosi, persepsi, kognisi dan perilaku. Sedangkan gangguan jiwa
adalah suatu gangguan yang secara klinis bermakna dan menimbulkan
disfungsi dalam pekerjaan. Menurut arti dari PPDGJ III gangguan jiwa
adalah pola perilaku atau psikologik yang secara klinis bermakna dan secara
khas berkaitan dengan gejala, penderitaan (distress) serta hendaya
(impairment) dalam fungsi psikososial. Istilah yang digunakan dalam
PPDGJ adalah gangguan Jiwa atau gangguan mental (mental disorder),
tidak mengenal istilah penyakit Jiwa (mental illness/mental desease).
Klasifikasi yang paling populer digunakan orang adalah klasifikasi
gangguan yang dikemukakan oleh American Psychiatric association (APA)
pada tahun 1952 yang akhirnya pada tahun 1992 telah berhasil melahirkan
Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder IV (DSM-IV), setelah
mengalami tiga kali revisi sejak tahun 1979. Di Indonesia, pemerintah telah
berhasil melahirkan klasifikasi gangguan kejiwaan yang memuat gangguan
kejiwaan yang disebut PPDGJ atau Pedoman Penggolongan Diagnostik
Gangguan Jiwa, yang saat ini telah secara resmi digunakan adalah PPDGJ.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang masalah diatas, dapat dirumuskan
beberapa permasalahan yang akan dibahas sebagai berikut :
1.2.1 Apa definisi dari PPDGJ-III?
1.2.2 Apa tujuan adanya PPDGJ?
1.2.3 Bagaimana perkembangan PPDGJ?
1.2.4 Bagaimana perbandingan diagnosis?

1
1.2.5 Bagaimana konsep gangguan jiwa?
1.2.6 Bagaimana penggolongan gangguan jiwa?
1.2.7 Bagaimana proses diagnosis gangguan jiwa?
1.2.8 Bagaimana urutan hierarki blok diagnosis?
1.2.9 Apa diagnosis multiaksial?
1.2.10 Apa pedoman diagnosis dari PPDGJ?
1.2.11 Apa Diagnostic & Statistica Manual Of Mental Disorder?

1.3 Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan dari penulisan
makalah ini adalah sebagai berikut :
1.3.1 Untuk mengetahui definisi dari PPDGJ-III
1.3.2 Untuk mengetahui tujuan adanya PPDGJ
1.3.3 Untuk mengetahui perkembangan PPDGJ
1.3.4 Untuk mengetahui perbandingan diagnosis gangguan jiwa
1.3.5 Untuk mengetahui konsep gangguan jiwa
1.3.6 Untuk mengetahui penggolongan gangguan jiwa
1.3.7 Untuk mengetahui proses diagnosis gangguan jiwa
1.3.8 Untuk mengetahui urutan hierarki blok diagnosis
1.3.9 Untuk mengetahui diagnosis multiaksial
1.3.10 Untuk mengetahui pedoman diagnosis dari PPDGJ
1.3.11 Untuk mengetahui diagnostic & statistica manual of mental
dissorder

1.4 Manfaat Penulisan


1.4.1 Manfaat Teoretis
Secara teoretis, makalah ini diharapkan dapat bermanfaat untuk
dijadikan sebagai sumber informasi dalam menjawab permasalahan-
permasalahan yang terjadi dalam proses pembelajaran terutama
dalam meningkatkan hasil belajar mahasiswa. Selain itu makalah ini
dapat bermanfaat sebagai bahan referensi dalam merancang desain
pembelajaran dengan pendekatan pembelajaran.
1.4.2 Manfaat Praktis
[Link] Bagi Dosen

2
Manfaat makalah ini dapat mengembangkan kualitas
pembelajaran menjadi lebih menarik, dapat menjalankan tugas
sebagai pendidik dengan baik yaitu dengan merencanakan
pembelajaran secara matang, dapat mengidentifikasi kesulitan-
kesulitan belajar yang dialami oleh mahasiswa pada
pembelajaran juga dapat menciptakan kreativitas dan inovasi-
inovasi dalam pembelajaran salah satunya dengan
menggunakan pendekatan pembelajaran.
[Link] Bagi Mahasiswa
Manfaat makalah ini bagi siswa dapat meningkatkan
semangat dan motivasi dalam mengikuti pembelajaran.
Penggunaan pendekatan pembelajaran yang inovatif
diharapkan dapat memberikan pengalaman belajar yang
bermakna dan tidak membuat mahasiswa jenuh. Seslain itu
kesulitan-kesulitan yang dialami oleh mahasiswa dalam
memahami mata kuliah Keperawatan Jiwa khususnya materi-
materi yang terdapat dalam pembelajaran subtema
Penggolongan Gangguan Jiwa (PPDGJ dan Diagnostic and
Statistic Manual of Mental Disorder IV/DSM IV).
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi PPDGJ-III


Istilah yang digunakan dalam PPDGJ adalah gangguan Jiwa atau
gangguan mental (mental disorder), tidak mengenal istilah penyakit Jiwa
(mental illness/mental desease).

3
Gangguan jiwa merupakan kondisi terganggunya kejiwaan manusia
sedemikian rupa sehingga mengganggu kemampuan individu itu untuk
berfungsi secara normal didalam masyarakat maupun dalam menunaikan
kewajibannya sebagai insan dalam masyarakat itu (Dep Kes RI, 1997)
Gangguan jiwa adalah perubahan perilaku yang terjadi tanpa alasan
yang masuk akal, berlebihan, berlangsung lama dan menyebabkan kendala
terhadap individu tersebut atau orang lain. ( Suliswati, 2005)

2.2 Tujuan PPDGJ


Tujuan dari adanya pedoman penggolongan dan diagnosis
gangguan jiwa di Indonesia adalah:
1. Bidang pelayanan kesehatan (service and clinical use)
-Modifikasi penyakit atau gangguan untuk statistik kesehatan
-Keseragaman diagnosis klinis untuk tata laksana terapi
2. Bidang pendidikan kedokteran (educational use)
-Kesamaan konsep diagnosis gangguan jiwa untuk komunikasi
akademik.
3. Bidang penelitian kesehatan (research use)
-Memberikan batasan dan kriteria operasional diagnosis gangguan jiwa
yang memungkinkan perbandingan data dan analisis ilmiah
2.3 Perkembangan PPDGJ
1. PPDGJ I
 Terbit tahun 1973
 Nomor kode dan diagnosis mengacu pada ICD 8
( International Clasification of Desease -8 ) yang diterbitkan
oleh WHO chapter V, nomor 290-315 (sitem numerik)
 Diagnosis : mono-aksial
2. PPDGJ II
 Diterbitkan pada tahun 1983

4
 Diagnosis multi aksial menurut DSM-III
 Nomor kode dan diagnosis :mengacu pada ICD-9 (sistem
numerik )
 Konsep klasifikasi dengan kelas diagnosis memakai kriteria
diagnosis DSM ( The Diagnosis statistical manual of mental
disorder)
3. PPDGJ III
 Diterbitkan pada tahun 1993
 Diagnosis multi-aksial
 Nomor kode dan diagnosis merujuk pada ICD-10
 Konsep klasifikasi dengan hirarki blok memakai pedoman
diagnosis ICD-10
 Diagnosis multi aksial menurut DSM-IV (APA,1994)

Pedoman Penggolongan Penyakit dan Diagnosis Gangguan Jiwa


(PPDGJ-III) merujuk pada standard dan sistem pengkodean dari
International Classification of Disease (ICD-10) dan system multiaksis dari
Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-IV). Berikut
sedikit dijelaskan sekilas tentang DSM yang dikeluarkan oleh American
Psychiatric Association (APA) dan ICD yang dikeluarkan oleh WHO.
DSM-I telah selesai disusun pada tahun 1952 oleh APA (American
Psychiatric Association). Edisi kedua keluar pada tahun 1968, kemudaian
disusul setelahnya edisi ke-13 pada tahun 1980, yang akhirnya dilakukan
revisi kembali pada tahun1987(DSM-III R), dan pada tahun 1994 APA
mengeluarkan lagi DSM-IV, yang akhirnya di revisi kembali manjadi
DSM-IV TR(text revision) pada tahun 2000. DSM-IV dan DSM-IV TR
dikeluarkan setelah melalui persetujuan dengan ICD-9 CM (clinical
modification).
ICD sudah digunakan lebih lama, dan pada saat ini infrastruktur
ICD telah menginvestasikan dalam pengembangan sistem pengkodean

5
komputer, “case-mix”, dan sistem diagnosis. Dari sumber lain berbahasa
Indonesia dikatakan “DSM-IV didesain untuk mendampingi ICD-10,
disusun pada tahun 1992. Pada waktu itu terdapat konsensus yang kuat
bahwa sistem diagnosis di USA harus sesuai dgn klasifikasi penyakit
internasional (ICD-10) sedangkan ICD-10 merupakan sistem klasifikasi
tertinggi yg digunakan di Eropa & negara-negara lain di dunia.
Klasifikasi yang paling populer digunakan orang adalah klasifikasi
gangguan yang dikemukakan oleh American Psychiatric association (APA)
pada tahun 1952 yang akhirnya pada tahun 1992 telah berhasil melahirkan
Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder IV (DSM-IV),
setelah mengalami tiga kali revisi sejak tahun 1979. Di Indonesia,
pemerintah telah berhasil melahirkan klasifikasi gangguan kejiwaan yang
memuat gangguan kejiwaan yang disebut PPDGJ atau Pedoman
Penggolongan Diagnostik Gangguan Jiwa, yang saat ini telah secara resmi
digunakan adalah PPDGJ.
2.4 Perbandingan Diagnosis

No PPDGJ-I PPDGJ-II PPDGJ-III


I 290-294 290-294 F00-F09
Psikosa organik Gg. Mental organic Gg. Mental organic
(psikotik-non psikotik) (termasuk Gg.
Mental simtomatik)
F10-F19
Gg. Mental dan
perilaku akibat zat
psiko aktif
II 295-299 295-299 F20-F29
Psikosa fungsional Gg. Psikotik lainnya Skizofrenia, Gg.

6
Skizotipal dan Gg.
Waham
F30-F39
Gg. Suasana
perasaan (“mood”
atau afektif )
III 300-309 300-316 F40-F48
Neurosa, Gg. Gg. Neurotik, Gg. Gg. Neurotik, Gg.
Kepribadian, Gg. Kepribadian dan Gg. Somatoform dan
Jiwa non psikosa Mental non psikotik Gg. Terkait stress
317 lainnya. F50-F59
Kondisi yang terkait 307.91-307.92 Sindrom perilaku
pada kebudayaan Fenomena dan sindrom berhubungan dengan
setempat yang berkaitan dengan Gg. Fisiologis dan
faktor sosial budaya di faktor fisik.
Indonesia F60-F69
Gg. Kepribadian dan
perilaku masa
dewasa .
IV 310-315 317-319 F70-F79
Retardasi mental Retardasi mental Retardasi mental
V 308 307, 309, 312, 313, 314, F80-F89
Gg. Tingkah laku 315, dll Gg. Perkembangan
masa anak dan remaja Gg. Yang biasanya psikologis
mulai Nampak pada F90-F98
masa bayi, kanak atau Gg. Perilaku dan
remaja. emosional dengan
konsep biasanya

7
pada masa kanak
dan remaja
Kode 316 dan 138 Kondisi yang tidak Kondisi lain yang
V Kegagalan tercantum sebagai menjadi focus
penyesuaian sosial gangguan jiwa, tetapi perhatian klinis.
tanpa Gg. Psikiatrik menjadi pusat perhatian
yang nyata atau terapi

2.5 Konsep Gangguan Jiwa


Istilah yang digunakan dalam PPDGJ adalah “Gangguan Jiwa” atau
“Gangguan Mental” (mental disorder), tidak mengenal istilah “penyakit jiwa”
(mental disease/mental illness).
Konsep Gangguan Jiwa dari PPDGJ II yang merujuk ke DSM-III :
Sindrom atau pola prilaku, atau psikologis seseorang yang secara klinik cukup
bermakna dan secara khas berkaitan dengan suatu gejala penderitaan (distress)
atau hendaya (impairment/disability) di dalam satu atau lebih fungsi yang
penting dari manusia. Sebagai tambahan, disimpulkan bahwa disfungsi itu
adalah disfungsi dalam segi prilaku, psikologik, atau biologik, dan gangguan itu
tidak semata-mata terletak di dalam hubungan antara oranng itu dengan
masyarakat.
Konsep Gangguan Jiwa dari DSM-IV (yang merupakan rujukan dari
PPDGJ-III): Mental disorder is conceptualized as clinically significant
behavioural or psychological syndrome or pattern that occurs in an individual
and that is associated with present distress or disability or with a significant

8
increased risk of suffering death, pain, disability, or an important loss of
freedom.
Konsep “Disabillity” dari “The ICD-10 Classification on Mental and
Behaviour Disorder”: Gangguan kinerja (Performance) dalam peran sosial dan
pekerjaan tidak digunakan sebagai komponen esensial untuk diagnosis
gangguan jiwa, oleh karena hal ini berkaitan dengan varias sosial-budaya yang
ssangat luas. Yang diartikan sebagai “Disabillity” adalah
keterbatasan/kekurangan kemampuan untuk melakukan suatu aktivitas pada
tingkat personal, yaitu melakukan kegiatan sehari-hari yang biasa dan
diperlukan untuk perawatan diri dan kelangsungan hidup (mandi, berpakaian,
makan, kebersihan diri, buang air besar dan kecil).
Dari konsep tersebut diatas, dapat dirumuskan bahwa di dalam Konsep
Gangguan Jiwa didapatkan butir-butir :

1. Adanya gejala klinis yang bermakna berupa sindrom atau pola prilaku
dan sindrom atau pola psikologik.
2. Gejala klinis tersebut menimbulkan “penderitaan” (distress), antara lain
dapat berupa rasa nyeri, tidak nyaman, tidak tentram, terganggu,
disfungsi organ tubuh, dll.
3. Gejala klinis tersebut menimbulkan “disabilitas” (disability) dalam
aktivitas kehidupan sehari-hari yang biasa dan diperlukan untuk
perawatan diri dan kelangsungan hidup (mandi, berpakaian, makan,
kebersihan diri, dll)

2.6 Penggolongan Gangguan Jiwa


PPDGJ-III menganut pendekatan aerotik, yaitu tidak mengacu pada
teori tertentu berkenaan dengan etiologic atau proses patofisiologik, kecuali
untuk gangguan-gangguan yang sudah jelas dan disepakati penyebabnya,
misalnya Gangguan Mental Organik, dimana factor organic merupakan factor

9
yang penting. Pendekatan ateoretik itu dilaksanakan dengan cara
mendeskripsikan (menguraikan dan melukiskan) secara menyeluruh apa
manifestasi gangguan jiwa (deskripsi gambaran klinis) dan jarang
mengusahakan penjelasan bagaimana timbulnya gangguan itu.
Pengelompokkan diagnosis gangguan jiwa berdasarkan persamaan dalam
gambaran klinisnya.

PPDGJ-III tidak menganggap bahwa setiap gangguan jiwa adalah suatu


kesatuan yang tegas dengan batas-batas yang jelas antara gangguan jiwa
tertentu dengan gangguan jiwa lainnya, sebagaimana juga antara adanya
gangguan jiwa dan tidak ada gangguan jiwa. Suatu anggapan yang salah bahwa
ppenggolongan gangguan jiwa menggolongkan orang-orang. Yang digolongkan
adalah gangguan-gangguan yang diderita oleh seseorang. Sehingga harus
dihindarkan pemakaian istilah seperti “seorang skizifrenik”, “seorang neurotic”,
atau “seorang pecandu”. Hendaklah dipakai istilah : seorang dengan
skizofrenia, seorang dengan neurotic, atau seorang dengan ketergantungan obat.
Anggapan salah lainnya bahwa semua orang yang menderita gangguan
jiwa yang sama adalah juga serupa dalam berbagai hal yang penting. Yang
benar adalah walaupun seseorang menderita gangguan jiwa yang sama,
persamaannya hanyalah terletak ada ciri-ciri gangguan jiwa itu, tetapi mereka
dapat pula menunjukkan perbedaan dalam banyak hal yang penting yang dapat
mempengaruhi terapi dan hasil terapi. Dalam PPDGJ-III terdapat kondisi lain
yang menjadi foku perhatian klinis yang tidak atau belum digolongkan sebagai
gangguan jiwa tetapi menjadi pusat perhatian klinikus atau kalangan yang
bekerja di bidang kesehatan jiwa.
PPDGJ-III mengelompokkan diagnosis ganggua jiwa ke dalam 100
Ktegori Diagnosis, mulai dari F00 sampai dengan F98.
AKSIS 1

10
F00-F09 : gangguan mental organic (+simtomatik)

F10-F19 : gangguan mental dan perilaku  zat psikoaktif

F20-F29 : skizofrenia, gangguan skizotipal dan gangguan waham

F30-F39 : gangguan suasana perasaan (afektif/mood)

F40-F49 : gangguan neurotic, gangguan somatoform, dan gangguan


terkait stress

F50-F59 : sindrom prilaku  gangguan fisiologis dan fisik

F62-F68 : perubahan kepribadian  non-organik, gangguan infuls,


gangguan seks

F80-F89 : gangguan perkembangan psikologis

F90-F98 : gangguan prilaku dan emosional onset kanak-remaja

F99 : gangguan jiwa YTT (yang tidak tergolongkan), untuk


mengelompokkan gangguan jiwa tidak khas

Kondisi lain yang menjadi focus perhatian klinis :

Z 03.2 : tidak ada diagnosis aksis I

R 69 : diagnosis aksis I tertunda

AKSIS II

F60 : gangguan kepribadian khas

F60.0 : gangguan kepribadian paranoid

F60.1 : gangguan kepribadian skizoid

F60.2 : gangguan kepribadian dissosial

F60.3 : gangguan kepribadian emosional tak stabil

F60.4 : gangguan kepribadian histrionik

11
F60.5 : gangguan kepribadian anankastik

F60.6 : gangguan kepribadian cemas (menghindar)

F60.7 : gangguan kepribadian dependen

F60.8 : gangguan kepribadian khas lainnya

F60.9 : gangguan kepribadian YTT

F61 : gangguan kepribadian campuran dan lainnya

F61.0 : gangguan kepribadian campuran

F61.1 : perubahan kepribadian yang bermasalah

F70-F79 : retardasi mental

Z 03.2 : tidak ada diagnosis aksis II

R 46.8 : diagnosis aksis II tertunda.

AKSIS III

BAB I A00-B99 penyakit infeksi dan parasite tertentu

BAB II C00-D48 neoplasma

BAB IV E00-G90 penyakit endokrin, nutrisi, dan metabolic

BAB VI G00-G99 penyakit susunan saraf

BAB VII H00-H59 penyakit mata dan adneksa

BAB VIII H60-H95 penyakit telingan dan proses mastoid

BAB IX I00-I99 penyakit sistem sirkulasi

BAB X J00-J99 penyakit sistem pernapasan

BAB XI K00-K93 penyakit sistem pencernaan

BAB XII L00-L99 penyakit kulit dn jaringan subkutan

12
BAB XIII M00-M99 peny. Sistem musculoskeletal & jaringan ikat

BAB XIV N00-N99 penyakit sistem genitourinaria

BAB XV O00-O99 kehamilan, kelahiran anak & masa nifas

BAB XVII Q00-Q99 malformasi, kongenital, deformasi

BAB XVIII R00-R99 gejala, tanda & temuan klinis lab

BAB XIX S00-T98 cedera, keracunan

BAB XX V01-Y98 kausa eksternal

BAB XXI Z00-Z99 faktor  status kesehatan & pelayanan kesehatan

AKSIS IV

Masalah dengan “primary support group” (keluarga)

Masalah berkaitan dengan lingkungan sosial

Masalah Pendidikan

Masalah pekerjaan

Masalah perumahan

Masalah ekonomi

Masalah akses ke pelayanan kesehatan

Masalah berkaitan interaksi dengan hukum/criminal

Masalah psikososial & lingkungan lain.

AKSIS V

Global assessment of functioning (GAF) scale :

100- 91 : gejala tidak ada, berfungsi maksimal, tidak ada masalah yang
tak tertanggulangi

13
90-81 : gejala minimal, berfungsi baik, cukup puas, tidak lebih dari
masalah harian

80-71 : gejala sementara & dapat diatasi, disabilitas ringan dalam


sosial, pekerjaan, dll

70-61 : beberapa gejala ringan & menetap, disabilitas ringan dalam


fungsi, secara umum masih baik

60-51 : gejala sedang (moderate), disabilitas sedang

50-41 : gejala berat, disabilitas berat

40-31 : beberapa disabilitas dalam hubungan dengan realita &


komunikasi, disabilitas berat dalam beberapa fungsi

30-21 : disabilitas berat dalam beberapa komunikasi & daya nilai, tidak
mampu berfungsi hamper semua bidang

20-11 : bahaya mencederai diri/orang lain, disabilitas sangat berat dala


komunikasi & mengurus diri

10-01 : seperti diatas  persisten dan lebih serius

0 : informasi tidak adekuat.

2.7 Proses Diagnosis Gangguan Jiwa


Proses diagnosis gangguan jiwa mengikuti prosedur klinis yang lazim
dilakukan dalam praktek kedokteran klinis, yaitu meliputi langkah-langkah
sebagai berikut :

1. Anamnesis
- Alasan berobat
- Riwayat gangguan sekarang
- Riwayat gangguan dahulu
- Riwayat perkembangan diri
- Latar belakang sosial, keluarga, Pendidikan, pekerjaan, perkawinan,
dll

14
2. Pemeriksaan
- Fisik-diagnostik
- Status mental
- Laboratorium
- Radiologic
- Evaluasi psikologik
3. Diagnosis
- Aksis I  klinis
- Aksis II  kepribadian
- Aksis III  kondisi medik
- Aksis IV  psiko-sosial
- Aksis V  taraf fungsi
4. Terapi
- Farmakoterapi
- Psikoterapi
- Terapi sosial
- Terapi okupasional
5. Tindak lanjut
- Evaluasi terapi
- Evaluasi diagnosis

Dengan rumusan matematis, dapat disimpulkan bahwa : diagnosis =


anamnesis+pemeriksaan.

2.8 Urutan Hierarki Blok Diagnosis


Pada beberapa jenis gangguan jiwa (misalnya gangguan mental
organic) terdapat berbagai tanda dan gejala yang sangat luas. Pada beberapa
jenis gangguan jiwa lainnya ( seperti gangguan cemas) hanya terdapat beberapa
tanda dan gejla yang sangat terbatas. Atas dasar ini, dilakukan suatu
penyusunan urutan blok-blok diagnosis yang berdasarkan suatu hierarki,
dimana suatu gangguan yang mempunyai cri-ciri dari gangguan yang terletak
dalam hierarki lebih rendah, tetapi tidak sebaliknya. Terdapat hubungan hierarki
ini memungkinkan untuk penyajian diagnosis bamding dari berbagai jenis
gejala utama.

15
Suatu diagnosis atau kategori diagnosis baru dapat dipastikan setelah
kemungkinan kepastian diagnosis/diagnosis banding dalam blok diatasnya
dapat ditiadakan secara pasti.

Urutan hierarki blok diagnosis gangguan jiwa berdasarkan PPDGJ-III :

I : gangguan mental organic dan simtomatik (F00-F09).

: gangguan mental & prilaku abikat zat psikoaktif (F10-F19)

Ciri khas : etiologic organic/fisik jelas, primer/sekunder

II : skizofrenia, gangguan skixotipal & gangguan waham (F20-F29)

Ciri khas : gejala psikoaktif, etiologic organic tidak jelas

III : gangguan suasan perasaan (F30-F39)

Ciri khas : gejala gangguan afek

IV : gangguan neurotic, gangguan somatoform & gangguan stress (F40-48)

Ciri khas : gejala non-psikoaktif, etiologic non-organik

V : sindrom prilaku yg berhubungan dengan gangguan fisiologis (F50-


F59)

Ciri khas : gejala disfungsi fisiologis, etiologic non-organik

VI : gangguan kepribadian dan prilaku masa dewasa (F60-F69)

Ciri khas : gejala prilaku, etiologic non-organik

VII : retardasi mental (F70-79)

16
Ciri khas : gejala perkembangan IQ , onset masa kanak

VIII : gangguan perkembangan psikologis (F80-F89)

Ciri khas : gejala perkembangan khusus, onset masa kanak

IX : gangguan prilaku dan emosional dengan onset masa kanak remaja


(F90-98)

Ciri khas : gejala prilaku emosional, onset masa kanak

X : kondisi lain yang menjadu focus perhatian klinis (kode z)

Ciri khas : tidak tergolong gangguan jiwa.

2.9 Diagnosis Multiaksial


Terdiri dari 5 aksis yaitu :

- Aksis I : gangguan klinis, kondisi lain yang menjadi focus


perhatian klinis
- Aksis II : gangguan kepribadian, retardasi mental
- Aksis III : kondisi medik umum
- Aksis IV : masalah psikososial dan lingkungan
- Aksis V : penilaian fungsi secara global

Antara aksis I, II, III tidak selalu harus ada hubungan etilogik atau
pathogenesis. Hubungan antara aksis I, II, III, IV dapat timbal balik saling
mempengaruhi.

Tujuan dari diagnosis multiaksial adalah :

1. Mencangkup informasi yang komperehensif sehingga dapat membantu


dalam perencanaan terapi dan meramalkan outcome atau prognosis.
2. Format yang mudah dan sistematik sehinga dapat membantu dalam
menata dan mengkomunikasikan informasi klinis, menangkap

17
kompleksitas situasi klinis dan menggambarkan heterogenitas individual
dengan diagnosis klinis yang sama.
3. Memacu penggunaan model bio-psikoo-sosial dalam klinis, Pendidikan
dan penelitian.

2.10 Pedoman Diagnosis Dari PPDGJ


1. Pedoman diagnostik disusun berdasarkan atas jumlah dan
keseimbangan gejala –gejala, yang biasanya ditemukan pada
kebanyakan kasus untuk dapat menegakkan suatu diagnostic pasti.
Pedoman ini disusun sedemikian rupa agar luwes dalam penggunaan
untuk menetapkan diagnosis dalam klinik, misalnya pada pencantuman
lamanya gejala, ini dimaksudkan sebagai suatu petunjuk umum dan
bukan merupakan persyaratan yang ketat. Para klinisi selayaknya
menggunakan penilaian mereka sendiri tentang pemilihan diagnosis
yang cocok, bila lamanya gejala itu lebih panjang atau lebih pendek
dari yang telah ditentukan.
2. Apabila syarat-syarat yang tercantum didalam pedoman diagnostik
dapat dipenuhi, maka diagnosis dapat dianggap pasti. Namun bila
hanya sebagian saja terpenuhi, maka diagnosis masih bermanfaat
direkam untuk berbagai tujuan. Keadaan ini sangat tergantung kepada
pembuat diagnosis dan para pemakai lainnya untuk menetapkan apakah
akan merekam suatu diagnosis pasti atau diagnosis dengan tingkat
kepastian yang lebih rendah (misal : diagnosis sementara, bila masih
akan ada informasi tambahan, atau diagnosis tentative, bila informasi
tersebut tidak akan diperoleh lagi).
3. Deskripsi klinis dari pedoman diagnostic ini tidak mengandung
implikasi teoretis, dan bukan merupakan pernyataan yang komperhensif
mengenai tingkat pengetahuan yang mutakhir dari gangguan tersebut
pedoman ini hanya merupakan suatu kumpulan gejala dan konsep yang

18
telah disetujui oleh sejumlah besar pakar dan konsultan dari berbagai
Negara, untuk dijadikan dasar yang rasional dalam memberikan batasan
terhadap kategori-kategori diagnosis dan diagnosis gangguan jiwa.
4. Disarankan agar para klinisi mengikuti anjuran umum untuk mencatat
sebanyak mungkin diagnosis yang mencakup seluruh gambaran klinis.
Bila mencantumkan lebih dari satu diagnosis, diagnosis utama
diletakkan paling atas dan selanjutnya diagnosis lain sebagai tambahan.
Diagnosis utama dikaitkan dengan kebutuhan tindakan segera atau
tuntutan pelayanan terhadap kondisi pasien saat ini atau tujuan lainnya.
Bila terdapat keraguan mengenai urutan untuk merekam beberapa
diagnosis, atau pembuat diagnosis tidak yakin tentang tujuan untuk apa
informasi itu akan digunakan, agar mencatat diagnosis menurut urutan
numeric dalam kalsifikasi.

2.11 Diagnostic & Statistica Manual Of Mental Dissorder


A. Definisi
diterbitkan oleh American Psychiatric Association (APA),
menawarkan bahasa yang umum dan kriteria standar untuk klasifikasi
gangguan mental. Buku ini digunakan, atau diandalkan, oleh dokter,
peneliti, lembaga regulasi obat kejiwaan, perusahaan asuransi kesehatan,
perusahaan farmasi, sistem hukum, dan pembuat kebijakan bersama-
sama dengan alternatif seperti Klasifikasi Statistik Internasional
Penyakit dan Masalah Kesehatan Terkait (ICD), diproduksi oleh
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). DSM sekarang dalam edisi
kelima, DSM-5, yang diterbitkan pada 18 Mei 2013. [1] Ia mengevaluasi
pasien di lima sumbu atau dimensi, bukan hanya satu aspek yang luas
dari 'gangguan jiwa'. Dimensi ini berhubungan dengan aspek biologis,
psikologis, sosial dan aspek lainnya. DSM berevolusi dari sistem

19
mengumpulkan sensus dan statistik rumah sakit jiwa, dan dari manual
Angkatan Darat Amerika Serikat. Revisi sejak publikasi pertamanya
pada tahun 1952 telah secara bertahap menambahkan jumlah gangguan
mental meski juga menghapus yang tidak lagi dianggap sebagai
gangguan mental.
B. Ciri – ciri Diagnostic & Statistica Manual Of Mental Dissorder
1) Menggunakan kriteria diagnostic yang spesifik
- Klinisi mendiagnosis dengan cara mencocokan perilaku
klien dengan kriteria yang menggambarkan pola perilaku
abnormal tertentu.
- Kriteria diagnostic di deskripsikan melalui ciri-ciri
essensial (kriteria yang harus ada supaya diagnosis dapat
di tegakkan) dan ciri-ciri assosiatif (kriteria yang sering
di asosiasikan dengan gangguan tapi tidak esensial
dengan penegakan diagnostic)

2) Pola perilaku abnormal yang mempunyai ciri-ciri klinis yang


sama dikelompokkan menjadi 1
- Tidak berdasarkan spekulatif teoritis tentang
penyebabnya
- Pola perilaku yang ditandai dengan kecemasan di
golongkan sebagai gangguan kecemasan (GAD),
Dsb.
3) Sistem multiaksial

20
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Istilah yang digunakan dalam PPDGJ adalah gangguan Jiwa atau


gangguan mental (mental disorder), tidak mengenal istilah penyakit Jiwa
(mental illness/mental desease).
Menurut PPDGJ II: Gangguan jiwa adalah sindrom atau perilaku
tertentu atau kondisi psikologis seseorang yang secara klinis cukup
bermakna, dan secara khusus berkaitan dengan distress (gejala
penderitaan) dan disability (keterbatasan kemampuan normal pada
aktivitas normal pada tingkat personal).
Konsep gangguan jiwa dari DSM IV: Gangguan jiwa itu adalah
perilaku penting yang signifikan secara klinis atau sindrom psikologis
atau pola acuan tertentu yang terjadi pada individu yang dihubungkan
dengan kondisi distress dan disability atau dihubungkan dengan
peningkatan resiko untuk menderita nyeri, disability, hilangnya

21
kemampuan bergerak bebas, bahkan kematian. Diagnosis Multi Aksial
terdiri atas 5 Aksis :
 Aksis I : - Gg. Klinis
- Kondisi lain yg menjadi fokus
perhatian
 Aksis II : - Gg Kepribadian
- Retardasi Mental
 Aksis III : - Kondisi Medik Umum
 Aksis IV : - Masalah Psikososial & lingkungan
 Aksis V : - Penilaian fungsi secara glo
3.2 Saran

Adapun saran penulis sebagai mahasiswa yang berada dijenjang


pendidikan, yaitu menyarankan kepada pembaca agar makalah ini dapat
dimengerti dan dipahami dengan baik, sehingga kita dapat mengetahui
tentang pengggolongan gangguan jiwa. Agar dapat menjadi pedoman buat
kita sebagai perawat serta dapat kita aplikasikan di dunia kerja nanti.

22
DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1993. Pedoman Penggolongan


Diagnosis Gangguan Jiwa, Jakarta: Direktorat Kesehatan Jiwa

Departemen Kesehatan. 1993. Direktorat Jenderal Pelayanan Medik. Pedoman


Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia III.
Jakarta: Departemen Kesehatan

Maslim, Rusdi. 2001. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkas
PPDGJ-III. Jakarta: PT. Nuh Jaya

23

Anda mungkin juga menyukai