SATUAN ACARA PENYULUHAN
PENYAKIT SKABIES
PROGRAM STUDI PROFESI NERS
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN dr. SOEBANDI JEMBER
YAYASAN PENDIDIKAN JEMBER INTERNATIONAL SCHOOL (JIS)
2019
SATUAN ACARA PENYULUHAN
Pokok Bahasan : Penyakit scabies
Sasaran : Masyarakat
Hari/Tanggal : Jum’at, 26 Juli 2019
Waktu : Menyesuaikan
Tempat : Puskesmas Kaliwining Rambipuji
I. LATAR BELAKANG
Scabies menurut WHO merupakan suatu penyakit signifikan bagi
kesehatan masyarakat karena merupakan kontributor yang substansial bagi
morbiditas dan mortalitas global. Prevalensi scabies di seluruh dunia
dilaporkan sekitar 300 juta kasus pertahunya (Nugraheni, 2016).
Di Indonesia pada tahun 2011 didapatkan jumlah penderita scabies
sebesar 6.915.135 (2,9%) dari jumlah penduduk 238.452.952 jiwa. Jumlah ini
mengalami peningkatan pada tahun 2012 yang jumlah penderita scabies
diperkirakan sebesar 3,6 % dari jumlah penduduk (Depkes RI, 2012). Pada
hasil penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, dikabupaten Jember jenis
kelamin laki-laki terkena scabies lebih besar dari pada perempuan
ditunjukkan dengan hasil penelitian laki-laki 24,89% dan perempuan 5,82%
(zaelany, 2017)
Selain manifestasi klinik yang khas, skabies dapat menunjukkan
manifestasi klinis yang klasik atau dapat menyerupai penyakit lain seperti
pioderma, dermatitis atopik, dermatitis kontak, dan eksema dishidrotik.
Berbagai manifestasi klinis yang bervariasi sering menyebabkan kesalahan
dalam mendiagnosis penyakit ini. Hal ini dapat mengakibatkan
penatalaksanaan yang tidak adekuat sehingga terjadi peningkatan risiko
penularan bahkan menjadi wabah yang dapat mengganggu aktivitas dan
menambah biaya untuk pengobatan penyakit ini (Stone et al., 2008).
Penularan terjadi akibat kontak langsung dengan kulit pasien atau
tidak langsung dengan benda yang terkontaminasi tungau. Skabies dapat
mewabah pada daerah padat penduduk seperti daerah kumuh, penjara, panti
asuhan, panti jompo, dan sekolah asrama (Stone et al., 2008). Penyebab
skabies antara lain disebabkan oleh rendahnya faktor sosial ekonomi,
kebersihan yang buruk seperti mandi, pemakaian handuk, mengganti pakaian
dan melakukan hubungan seksual. Penyakit ini biasanya banyak ditemukan di
tempat seperti di asrama, panti asuhan, penjara, pondok pesantren yang
kurang terjaga personal hygienenya. Terdapat banyak faktor yang menunjang
perkembangan penyakit skabies antara lain turunnya imunitas tubuh akibat
HIV, sosial ekonomi yang rendah, higiene yang buruk, hubungan seksual
yang sifatnya promiskuitas (Murtiastutik, 2009).
Higiene atau biasanya disebut juga dengan kebersihan adalah upaya
untuk memelihara hidup sehat yang meliputi personal hygiene, kehidupan
bermasyarakat dan kebersihan bekerja. Kebersihan merupakan suatu perilaku
yang diajarkan dalam kehidupan manusia untuk mencegah timbulnya
penyakit karena pengaruh lingkungan serta membuat kondisi lingkungan agar
terjaga kesehatannya. Personal hygiene atau kebersihan pribadi merupakan
perawatan diri sendri yang dilakukan untuk mempertahankan kesehatan, baik
secara fisik maupun psikologis. Personal hygiesne ini dipengaruhi oleh
berbagai faktor, diantaranya budaya, nilai sosial individu atau keluarga,
pengetahuan dan persepsi mengenai personal hygiene (Alimul, 2009).
Personal hygiene yang buruk dapat meningkatkan kejadian skabies.
Oleh sebab itu, kami menyusun satuan acara penyuluhan ini guna
memberikan informasi kepada masyarakat, yang nantinya diharapkan dapat
menambah pengetahuan untuk meningkatkan kebersihan tubuh agar
mencegah timbulnya penyakit scabies.
II. TUJUAN UMUM
Setelah diberikan penyuluhan diharapkan masyarakat dapat mengerti,
memahami, dan mencegah terjadinya scabies
III. TUJUAN KHUSUS
Setelah mengikuti penyuluhan selama 30 menit diharapkan masyarakat
dapat:
1. Mendefinisikan pengertian penyakit skabies
2. Mengatasi penyebaran serta penularan penyakit skabies
3. Menyebutkan ciri-ciri penyakit skabies
4. Menjelaskan tentang cara penanggulangan penyakit skabies
5. Menjelaskan tentang cara pencegahan penyakit skabies
IV. METODE
Ceramah, dan diskusi/tanya jawab
V. MEDIA
Leaflet dan power point
VI. ISI MATERI (materi lengkap terlampir)
1. Pengertian penyakit skabies
2. Penyebaran serta penularan penyakit skabies
3. Tanda gejala penyakit skabies
4. Cara penanggulangan penyakit skabies
5. Cara pencegahan penyakit skabies
VII. PROSES PELAKSANAAN
No Kegiatan Respon Waktu
Pasien/Keluarga
1 Pendahuluan
Memberi salam Menjawab salam 5 menit
Menyampaikan pokok bahasan Menyimak
Menyampaikan tujuan Menyimak
Melakukan apersepsi Menyimak
2 Isi
Pengertian penyakit skabies Memperhatikan 15 menit
Penyebaran serta penularan Memperhatikan
penyakit skabies
Memperhatikan
Tanda gejala penyakit skabies
Cara penanggulangan penyakit Memperhatikan
skabies
Memperhatikan
Cara pencegahan penyakit skabies
3 Penutup
Diskusi Aktif bertanya 10 menit
Kesimpulan Memperhatikan
Evaluasi Menjawab pertanyaan
Memberikan salam penutup Menjawab salam
VIII. ORGANISASI
1. Moderator : Melya Nur Aziza
2. Penyaji : Nikmatul Husna
3. Fasilitator : Elvira Ade Pradita
Enggal Widodo
Mistin Indah Safitri
Agung Firmansyah
Asmil Nurhayati M
Jaziluddin
Eria Citra M
Govinda Yanuar
IX. EVALUASI
1. Struktur :
a. Media yang digunakan dalam acara penyuluhan semuanya lengkap
b. Materi disiapkan dalam bentuk SAP dan dibuat dalam leaflet agar
penyampaian kepada masyarakat lebih mudah
2. Proses penyuluhan :
a. Penyuluhan kesehatan tentang penyakit skabies berjalan dengan
baik, masyarakat dapat memahami penyuluhan yang diberikan.
b. Di dalam proses penyuluhan diharapkan terjadi interaksi
3. Hasil penyuluhan
a. Peserta penyuluhan dapat memahami dan mengerti dari apa yang
disampaikan dan mampu menjawab pertanyaan yang diberikan oleh
penyuluh
X. REFERENSI
Depkes RI. 2007. Profil Kesehatan 2007. Departemen Kesehtan RI
Djuanda, Adhi. 2010. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta : Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia
Siregar. 2005. Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit. Jakarta ; EGC
Sudirman. T. 2006. Scabies : Masalah Diagnosis dan Pengobatan. Majalah
Kesehatan Damianus. Vol. 5, No. 3. September 2006. Hal : 177-
190
MATERI
PENYAKIT SKABIES
A. Pengertian Skabies
Skabies adalah penyakit kulit akibat investasi dan sensitisasi oleh
tungau Sarcoptes scabei. Skabies tidak membahayakan bagi manusia. Adanya
rasa gatal pada malam hari merupakan gejala utama yang mengganggu
aktivitas dan produktivitas. Penyakit scabies banyak berjangkit di: lingkungan
yang padat penduduknya, lingkungan kumuh, lingkungan dengan tingkat
kebersihan kurang. Skabies cenderung tinggi pada anak-anak usia sekolah,
remaja bahkan orang dewasa (Siregar, 2005).
B. Penyebaran Serta Penularan Penyakit Skabies
Penularan penyakit skabies dapat terjadi secara langsung maupun tidak
langsung, adapun cara penularannya adalah:
1. Kontak langsung (kulit dengan kulit)
Penularan skabies terutama melalui kontak langsung seperti berjabat
tangan, tidur bersama dan hubungan seksual. Pada orang dewasa hubungan
seksual merupakan hal tersering, sedangkan pada anakanak penularan
didapat dari orang tua atau temannya.
2. Kontak tidak langsung (melalui benda)
Penularan melalui kontak tidak langsung, misalnya melalui
perlengkapan tidur, pakaian atau handuk dahulu dikatakan mempunyai
peran kecil pada penularan. Namun demikian, penelitian terakhir
menunjukkan bahwa hal tersebut memegang peranan penting dalam
penularan skabies dan dinyatakan bahwa sumber penularan utama adalah
selimut (Djuanda, 2010).
C. Tanda Gejala Penyakit Skabies
Gejala yang ditunjukkan adalah warna merah, iritasi dan rasa gatal pada
kulit yang umumnya muncul di sela-sela jari, selangkangan dan lipatan paha,
dan muncul gelembung berair pada kulit (Djuanda, 2010).
D. Cara Penanggulangan Penyakit Skabies
Menurut Sudirman (2006), penatalaksanaan skabies dibagi menjadi 2
bagian :
1. Penatalaksanaan secara umum.
Pada pasien dianjurkan untuk menjaga kebersihan dan mandi
secara teratur setiap hari. Semua pakaian, sprei, dan handuk yang telah
digunakan harus dicuci secara teratur dan bila perlu direndam dengan air
panas. Demikian pula dengan anggota keluarga yang beresiko tinggi untuk
tertular, terutama bayi dan anak-anak, juga harus dijaga kebersihannya dan
untuk sementara waktu menghindari terjadinya kontak langsung. Secara
umum meningkatkan kebersihan lingkungan maupun perorangan dan
meningkatkan status gizinya.
Beberapa syarat pengobatan yang harus diperhatikan:
a. Semua anggota keluarga harus diperiksa dan semua harus diberi
pengobatan secara serentak.
b. Higiene perorangan : penderita harus mandi bersih, bila perlu
menggunakan sikat untuk menyikat badan. Sesudah mandi pakaian
yang akan dipakai harus disetrika.
c. Semua perlengkapan rumah tangga seperti bangku, sofa, sprei, bantal,
kasur, selimut harus dibersihkan dan dijemur dibawah sinar matahari
selama beberapa jam.
2. Penatalaksanaan secara khusus.
Dengan menggunakan obat-obatan (Djuanda, 2010), obat-obat anti
skabies yang tersedia dalam bentuk topikal antara lain:
a. Belerang endap (sulfur presipitatum), dengan kadar 4-20% dalam
bentuk salep atau krim. Kekurangannya ialah berbau dan mengotori
pakaian dan kadang-kadang menimbulkan iritasi. Dapat dipakai pada
bayi berumur kurang dari 2 tahun.
b. Emulsi benzil-benzoas (20-25%), efektif terhadap semua stadium,
diberikan setiap malam selama tiga hari. Obat ini sulit diperoleh, sering
memberi iritasi, dan kadang-kadang makin gatal setelah dipakai.
c. Gama benzena heksa klorida (gameksan = gammexane) kadarnya 1%
dalam krim atau losio, termasuk obat pilihan karena efektif terhadap
semua stadium, mudah digunakan, dan jarang memberi iritasi.
Pemberiannya cukup sekali, kecuali jika masih ada gejala diulangi
seminggu kemudian.
d. Krotamiton 10% dalam krim atau losio juga merupakan obat pilihan,
mempunyai dua efek sebagai anti skabies dan anti gatal. Harus
dijauhkan dari mata, mulut, dan uretra.
e. Permetrin dengan kadar 5% dalam krim, kurang toksik dibandingkan
gameksan, efektifitasnya sama, aplikasi hanya sekali dan dihapus
setelah 10 jam. Bila belum sembuh diulangi setelah seminggu. Tidak
anjurkan pada bayi di bawah umur 12 bulan.
E. Cara Pencegahan Penyakit Skabies
Cara pencegahan penyakit skabies adalah dengan :
1. Mandi secara teratur dengan menggunakan sabun.
2. Mencuci pakaian, sprei, sarung bantal, selimut dan lainnya secara teratur
minimal 2 kali dalam seminggu.
3. Menjemur kasur dan bantal minimal 2 minggu sekali.
4. Tidak saling bertukar pakaian dan handuk dengan orang lain.
5. Hindari kontak dengan orang-orang atau kain serta pakaian yang dicurigai
terinfeksi tungau skabies.
6. Menjaga kebersihan rumah dan berventilasi cukup.
Menjaga kebersihan tubuh sangat penting untuk menjaga infestasi
parasit. Sebaiknya mandi dua kali sehari, serta menghindari kontak
langsung dengan penderita, mengingat parasit mudah menular pada kulit.
Walaupun penyakit ini hanya merupakan penyakit kulit biasa, dan tidak
membahayakan jiwa, namun penyakit ini sangat mengganggu kehidupan
sehari-hari. Bila pengobatan sudah dilakukan secara tuntas, tidak
menjamin terbebas dari infeksi ulang, langkah yang dapat diambil adalah
sebagai berikut :
a. Cuci sisir, sikat rambut dan perhiasan rambut dengan cara merendam di
cairan antiseptik.
b. Cuci semua handuk, pakaian, sprei dalam air sabun hangat dan gunakan
seterika panas untuk membunuh semua telurnya, atau dicuci kering.
c. Keringkan peci yang bersih, kerudung dan jaket. d. Hindari pemakaian
bersama sisir, mukena atau jilbab (Depkes, 2007).