Teknologi Mesin Diesel Common Rail
Teknologi Mesin Diesel Common Rail
Yang diinginkan pengguna mobil diesel adalah mobil dengan mesin yang suara mesinnya
halus seperti mesin bensin, nyaman dipakai, kecepataannya tinggi, konsumsi pemakaian
bahan bakar ekonomis dan emisi gas buang ramah lingkungan. Maka diterapkanlah teknologi
mesin diesel Common rail.
Sistem common-rail adalah sistem yang sangat fleksibel untuk menyesuaikan injeksi bahan-
bakar ke mesin (engine). Hal ini dapat dicapai dengan :
Tekanan injeksi tinggi sampai sekitar 1600 bar, dan pada masa depan sampai 1800
bar.
Tekanan injeksi diadaptasi ke kondisi kerja (200-1800 bar).
Awal injeksi yang bervariasi.
Kemungkinan dari beberapa peristiwa pra injeksi dan injeksi sekunder (bahkan kondisi
injeksi sekunder yang terlambat).
Sistem common-rail umum terdiri dari kelompok komponen utama berikut :
Tahap tekanan rendah, meliputi komponen sistem pengaliran bahan bakar.
Sistem tekanan tinggi, meliputi komponen seperti pompa tekanan tinggi, rel bahan
bakar, injektor, dan saluran bahan bakar tekanan tinggi.
Kontrol Diesel Elektronik (Electronic Diesel Control atau EDC), terdiri dari modul
sistem, sensor, unit kontrol elektronik dan aktuator.
Komponen pokok dari sistem common-rail adalah injector, disatukan dengan katup aksi cepat
(actuator katup solenoid atau piezo) yang membuka dan menutup nosel, komponen ini
mengontrol proses injeksi untuk masing-masing silinder. Semua injektor dilayani oleh rel bahan
bakar umum (common-rail), inilah yang menjadi asal dari istilah "common-rail”.
Gambar 1. Modul Sistem Unit Kontrol Mesin dan Sistem Injeksi Bahan Bakar Common-Rail
C. Konsep Operasi
Pada sistem common-rail, fungsi dari pembangkitan tekanan dan penginjeksian bahan-bakar
adalah terpisah. Tekanan injeksi dihasilkan independen dari kecepatan putar mesin dan jumlah
bahan bakar yang disemprotkan. Pada kontrol diesel elektronik (EDC) mengontrol setiap
komponen.
1. Pembangkitan Tekanan
Pembangkitan tekanan dan injeksi bahan-bakar dipisahkan atas pertolongan volume
akumulator. Bahan bakar di bawah tekanan disediakan pada volume akumulator dari
common-rail siap untuk injeksi. Pompa tekanan tinggi bekerja terus-menerus yang diputar
oleh mesin menghasilkan tekanan injeksi yang diinginkan. Tekanan pada rel bahan bakar
dipelihara tanpa tergantung dengan putaran mesin atau kuantitas bahan bakar yang
diinjeksikan. Pompa tekanan tinggi adalah pompa piston radial.
Perhatikan gambar 2 berikut:
a. Kontrol tekanan pada sisi tekanan tinggi dengan cara mengaplikasikan katup kontrol
tekanan untuk mobil penumpang.
b. Kontrol tekanan pada sisi isap dengan unit metering yang disambungkan ke pompa
tekanan tinggi (untuk mobil penumpang dan kendaraan komersial).
c. Kontrol tekanan pada sisi isap dengan unit metering dan kontrol tambahan dengan
katup kontrol tekanan (untuk mobil penumpang).
Keterangan gambar :
1. Pompa tekanan tinggi
2. Saluran masuk bahan bakar
3. Pengembalian bahan bakar
4. Katup kontrol tekanan
5. Rel bahan bakar
6. Sensor tekanan rel
7. Sambungan injektor
8. Sambngan pengmbalian bahan bakar
9. Katup relief tekanan
10. Unit metering
11. Katup kontrol tekanan
2. Kontrol Tekanan
a. Kontrol Pada Sisi Tekanan Tinggi
Pada sistem mobil penumpang, tekanan rel yang diperlukan dikontrol pada sisi tekanan tinggi
oleh sebuah katup kontrol tekanan (gambar 2a, 4 ). Bahan bakar tidak diperlukan untuk
pengembalian aliran injeksi ke sirkuit tekanan rendah melalui katup kontrol tekanan.
Kontrol pada sisi tekanan tinggi diadopsi pada sistem common-rail yang pertama. Katup
kontrol tekanan dipasang terutama pada rel bahan bakar.
c. Sistem Dua-Aktuator
Sistem dua-aktuator (Gambar 2c) mengombinasikan kontrol tekanan pada sisi isap melalui
unit metering dan kontrol pada sisi tekanan tinggi melalui katup kontrol tekanan, dengan
demikian menggabungkan keuntungan dari kontrol sisi tekanan tinggi dan kontrol aliran bahan
bakar sisi isap.
3. Injeksi Bahan-Bakar
Injektor menyemprotkan bahan bakar secara langsung ke dalam ruang bakar mesin. Injektor
dilayani oleh aliran bahan bakar tekanan tinggi yang pendek yang dihubungkan dengan rel
bahan bakar. Unit kontrol mesin mengontrol katup switching yang diintegrasikan pada injektor
untuk membuka dan menutup nosel injektor. Waktu buka injektor dan tekanan sistem
menentukan kuantitas bahan bakar yang dialirkan. Pada tekanan tetap, kuantitas bahan bakar
yang dialirkan sebanding dengan waktu switching dari katup solenoid. Oleh sebab itu, tidak
tergantung dengan kecepatan putar mesin atau pompa (berdasar waktu injeksi bahan bakar).
b. Fungsi Dasar
Fungsi dasar melibatkan kontrol presisi waktu injeksi bahan-bakar Diesel dan kuantitas bahan
bakar pada tekanan referensi. Dengan cara ini, mereka memastikan bahwa mesin Diesel
mempunyai karakteristik konsumsi bahan bakar yang rendah dan putaran mesin yang halus.
c. Fungsi Koreksi
Sejumlah fungsi koreksi mampu untuk mengkompensasi toleransi antara sistem injeksi bahan-
bakar dan mesin, yaitu :
Kompensasi aliran injektor
Kalibrasi tanpa aliran
Kontrol keseimbangan bahan bakar
Adaptasi aliran rata-rata.
d. Fungsi Tambahan
Penambahan fungsi kontrol open-and closed-loop memiliki tugas mereduksi emisi gas buang
dan konsumsi bahan bakar atau meningkatkan keselamatan dan kenyamanan. Beberapa
contoh adalah :
Kontrol dari resirkulasi gas buang
Kontrol tekanan naik
Kontrol penjelajahan
Immobilizer elektronik, dsb.
Mengintegrasikan EDC pada sistem kendaraan secara keseluruhan membuka sejumlah
peluang baru, misalnya pertukaran data dengan kontrol transmisi atau sistem pengaturan suhu
AC.
Daftar Pustaka :
Mesin berbahan bakar solar atau biasa dikenal dengan mesin diesel banyak digunakan pada kendaraan
berbobot berat seperti truk dan bus.
Tapi tidak menutup kemungkinan mesin diesel digunakan untuk dapur pacu mobil-mobil penumpang
seperti SUV bahkan MPV. Hal ini ditambah pula dengan perkembangan dunia otomotif dimana
sekarang sudah banyak sekali mobil bermesin diesel dengan teknologi common rail.
Lalu seperti apa sebenarnya bentuk dari mesin diesel common rail dan apa kelebihan dari mesin diesel
common rail ini ? mari kita bahas selengkap-lengkapnya.
Pengertian Mesin Diesel Common Rail
Sistem common rail adalah mekanisme penyaluran bahan bakar solar dari tanki ke dalam ruang bakar
secara langsung, dengan bantuan perangkat elektronik sebagai pengontrol volume bahan bakar yang
disuplai.
Dengan kata lain, common rail itu seperti sistem EFI pada mesin diesel.
Perkembangan sistem common rail sendiri sebenarnya sudah dimulai dari tahun 1960-an, saat itu
prototype dari mekanisme common rail telah diciptakan oleh Robert Hubber dari Swiss. Namun
penggunaannya pada kendaraan, pertama kali dimulai pada tahun 1990-an di Jepang. Saat itu skema
common rail dipakai pada mesin diesel alat berat.
Namun di era sekarang, mekanisme common rail sudah semakin disempurnakan oleh masing-masing
insinyur developer kendaraan. Sehingga, mesin diesel common rail bisa diaplikasikan pada mobil
MPV sekalipun. Contoh MPV yang menggunakan mesin diesel common rail adalah Chevrolet Spin
1.3 Diesel dan Ertiga Diesel.
Dari penjelasan diatas, setidaknya anda sudah paham apa itu sistem common rail dan apa kelebihan
sistem ini. Untuk anda yang masih penasaran tentang skema common rail, mari kita bahas lebih dalam
tentang cara kerja dan konstruksi sistem common rail.
img ; [Link]
Seperti yang dikatakan diawal, sistem common rail itu merupakan sistem EFInya mesin diesel. Artinya
sistem ini berperan pada sektor suplai bahan bakar. Dimana pada skema konvensional, solar dari tanki
akan disalurkan ke pompa tekanan tinggi.
Pompa tekanan tinggi ini tidak hanya sekedar menaikan tekanan solar. Pompa ini akan menaikan
tekanan solar secara spontan dan pada timming tertentu. Bisa dikatakan, untuk mesin diesel
konvensional 4 silinder maka ada 4 chanel pada pompa yang masing-masing akan bekerja secara
bergantian sesuai timmingnya.
Sehingga kalau ada pertanyaan, bagaimana solar bisa mengabut pada injektor tipe konvensional ?
Jawabannya solar dapat mengabut karena ada peningkatan tekanan solar yang signifikan secara
spontan. Dimana ujung injektor (nozle) sudah dibuat dengan lubang super kecil. Sehingga saat solar
bertekanan tinggi berinteraksi dengan ujung nozle tersebut, maka solar akan mengabut.
Tapi pada sistem common rail sedikit berbeda. Dimana letak perbedaanya ?
Advertisement
Sistem common rail tetap memiliki pompa tekanan tinggi, namun fungsi pompa ini disederhanakan
hanya untuk menaikan solar secara konstan. Artinya tidak seperti pompa tipe konvensional yang hanya
akan menaikan tekanan solar saat mencapai timming, melainkan pompa common rail ini akan terus
menekan solar untuk menjaga tekanan solar tetap tinggi (stabil).
Dan yang berbeda lagi, ada pada bagian injektor. Injektor pada sistem common rail dibuat normaly
closem, artinya dalam kondisi off injektor akan tertutup rapat tanpa celah sedikitpun. Ketika timming
pengapian tercapai, maka solenoid akan membuka nozle sehingga akan ada celah pada ujung injektor.
Hasilnya, solar yang sebelumnya sudah dalam kondisi full pressure otomatis keluar dengan kondisi
terkabut karena lubang pada nozle yang dibuka soleniod ini juga cukup kecil.
Dan yang mengendalikan kapan solenoid terbuka, itu adalah ECU selaku otak atau processor utama
dari sistem common rail.
Lebih detail tentang bagaimana common rail bekerja, bisa anda lanjutkan pada artikel berikut cara
kerja sistem common rail.
Tentu ini adalah tugas dari perangkat elektronik. Perangkat ini pula yang akan mengatur RPM dari
mesin dengan mengatur volume solar yang diinject didalam ruang bakar. Secara kasar ada tiga
kelompok perangkat elektronik yang digunakan yakni ;
Sensor
ECU
Aktuator
1. Sensor
Sensor adalah perangkat pendeteksi, artinya sensor akan mendeteksi semua informasi yang diperlukan
untuk menghitung berapa bahan bakar yang ideal. Sensor ini tidak hanya satu, karena yang diukur itu
ada lebih dari satu. Beberapa sensor yang ada pada sistem common rail antara lain ;
2. ECU
ECU (electronic control unit) adalah perangkat processor yang berfungsi memproses semua informasi
yang didapat dari semua sensor. ECU terbuat dari serangkaian IC dan perangkat elektronik lain seperti
CPU pada komputer.
Bentuk data komunikasi pada ECU umumnya menggunakan tegangan (analog), dimana nominal
tegangan akan mengartikan informasi tertentu. Namun ada pula ECU yang sudah menggunakan skema
digital.
3. Aktuator
Aktuator adalah perangkat output yang akan melaksanakan perintah dari ECU. Dalam hal ini, solenoid
didalam injektor berperan sebagai aktuator. Hasil perhitungan dari ECU akan berupa tegangan dengan
interval tertentu, tegangan ini akan disalurkan ke masing-masing injektor. Tugas aktuator/solenoid
adalah mengkonversi tegangan dari ECU ke bentuk gerakan pembukaan nozle sehingga solar dapat
mengabut.
Mesin diesel common rail adalah inovasi baru pada mesin berbahan bakar solar. Layaknya EFI pada
mesin bensin, sistem common rail juga menerapkan skema pengontrol elektronik dalam menentukan
jumlah solar yang dinjeksikan kedalam ruang bakar.
Hasilnya, pembakaran berlansung lebih efisien, hemat BBM dan lebih ramah lingkungan.
Pada artikel sebelumnya sudah kita ulas secara detail bagaimana sistem common rail ini bekerja.
Diartikel ini, kita akan membahas secara rinci semua komponen yang berinteraksi pada mesin diesel
common rail.
Beberapa komponen pada sistem common rail merupakan komponen sistem bahan bakar diesel.
Namun pada sistem ini, terdapat penambahan komponen elektrikal yang akan menopang cara kerja
common rail ini. Nama komponen common rail meliputi ;
Komponen ini terletak membentang dari awal solar dimasukan hingga solar disuplai ke dalam mesin.
Komponen ini meliputi
Baik sistem bahan bakar konvensional maupun elektronik, komponen bahan bakar berupa tanki wajib
hadir. Hal ini dikarenakan fungsi dari komponen ini adalah sebagai penyimpan cadangan solar yang
akan di masukan ke dalam mesin saat proses pembakaran.
Pompa bahan bakar elektrik adalah sebuah komponen yang berfungsi memompa atau menyuplai solar
dari tanki ke pompa tekanan tinggi pada mesin.
Baik diesel konvensional atau common rail sama-sama memiliki komponen ini, tapi pada tipe modern
fuel pump sudah bersifat elektrik dan posisinya ditenggelamkan kedalam tanki. Dengan kata lain,
pompa bekerja menggunakan motor listrik dimana seluruh fuel pump akan tenggelam oleh solar
didalam tanki. Sehingga kalau anda mencari dimana letak pompanya, anda harus membuka bagian
tanki.
Didalam satu set electric fuel pump ini, juga terdapat saringan kasar dan fuel lever gauge.
saringan kasar berfungsi untuk menyaring kotoran berukuran besar dari solar.
fuel lever gauge berfungsi untuk mendeteksi volume solar didalam tanki
3. Filter Solar
Filter solar ini terletak pada fuel line setelah keluar dari fuel pump sebelum masuk ke dalam pompa
tekanan tinggi. Fungsinya untuk menyaring partikel kotoran yang terbawa oleh aliran solar dan
mengendapkan air yang terbawa pada aliran solar.
Fuel filter pada mesin diesel common rail bersifat lebih halus, karena sistem ini lebih sensitif terhadap
kotoran yang terbawa pada aliran solar. Kotoran ini berpotensi menggagalkan proses pembakaran
karena merusak injector.
Advertisement
Supply pump akan bertugas untuk membangkitkan tekanan bahan bakar solar dari tanki hingga sekitar
160 MPa. Pompa ini bekerja secara mekanis mirip seperti sistem bahan bakar konvensional. Namun
pompa ini memiliki konstruksi lebih simple. Umumnya pompa ini terletak pada kepala silinder mesin
dan terhubung dengan camshaft sebagai penggerak pompa.
Pompa ini juga tidak mempedulikan timing seperti pada diesel konvensional, karena pompa ini
hanyalah membangkitkan tekanan bahan bakar. Untuk masalah timing, diatur oleh solenoid pada
injector.
5. Fuel rail
Fuel rail terletak setelah pompa tekanan tinggi. Fungsi fuel rail adalah untuk mempertahankan bahan
bakar dalam tekanan tinggi setelah dibangkitkan oleh pompa tekanan tinggi.
6. Injector
Injector adalah komponen utama sistem bahan bakar diesel yang fungsinya untuk mengeluarkan solar
dari sistem bahan bakar ke dalam mesin dalam bentuk kabutan. Pada sistem common rail, injector
sudah di desain khusus hingga memiliki rangkaian solenoid yang akan bekerja saat ada arus listrik
yang mengalirinya.
Saat solenoid bekerja, maka noozle akan terbuka sehingga bahan bakar bertekanan dari fuel rail akan
keluar dalam bentuk kabutan.
B. Komponen kontrol
Bagian kedua dari rangkaian komponen sistem common rail adalah dari sisi kontrol elektrikal.
Beberapa komponen yang termasuk dalam rangkaian sistem electric control adalah ;
1. Sensor
Sensor adalah komponen elektronika yang berfungsi mendeteksi suatu kondisi pada mesin atau obyek
lainya sebagai acuan untuk menghitung nilai aktuator. Mudahnya, sensor pada mesin diesel common
rail berfungsi mendeteksi beberapa kondisi untuk menentukan timing dan volume solar yang akan di
injeksikan. Sensor yang termasuk pada sistem common rail antara lain ;
MAF & IAT. Sensor ini terletak pada area filter udara. Fungsinya untuk mendeteksi suhu dan
massa udara intake.
MAP Sensor. Berfungsi untuk mendeteksi kevakuman pada intake manifold.
CKP & CMP Sensor. Sensor ini akan mendeteksi kecepatan mesin untuk menentukan timing
dan RPM mesin.
Knock Sensor. Berfungsi untuk mendeteksi engine knocking pada mesin.
Fuel rail pressure sensor. Sensor ini terletak di ujung fuel rail. Fungsinya untuk mendeteksi
tekanan fuel rail.
ECT Sensor. Sensor yang berfungsi mendeteksi suhu mesin melalui air pendingin.
App Sensor. Sensor yang terletak pada pedal gas untuk mendeteksi berapa dalam pedal gas
diinjak oleh pengguna.
2. ECM
ECM adalah kependekan dari Engine Control module. Beberapa menyebutnya ECU (Electronic
Control Unit). Fungsinya sebagai processor utama pada mesin untuk melakukan berbagai perhitungan
khususnya menghitung jumlah bahan bakar yang diinjeksikan ke dalam mesin sesuai data sensor yang
masuk.
3. Solenoid actuator
Soleniod aktuator adalah perangkat yang berfungsi untuk menggerakan noozle didalam injektor.
Bentuk dari solunoid ini berupa coil yang memiliki kemagnetan saat dialiri arus listrik. Kemagnetan
tersebut dimanfaatkan untuk membuka noozle sehingga terbentuk celah pada ujung injektor sebagai
tempat keluarnya solar.
Jadi, solenoid ini terletak didalam injektor yang dikendalikan oleh ECM.
Common rail adalah sebutan untuk sistem EFI pada mesin diesel. Artinya, sistem common rail
merupakan mekanisme kelistrikan yang digunakan untuk menyuplai solar dari tanki kedalam ruang
bakar dengan takaran yang ideal pada semua kondisi.
Lalu, seperti apa cara kerja mesin diesel common rail ? dan seperti apa rangkaian kelistrikannya ? mari
kita bahas secara detail diartikel ini.
Prinsip kerja sistem common rail sebenarnya sama dengan sistem bahan bakar diesel konvensional.
Sama-sama menggunakan tekanan tinggi pada solar, tapi perbedaannya ada pada pola tekanan solar.
Pada mesin diesel konvensional tekanan solar akan dinaikan hanya saat timing pengapian
tercapai. Artinya tekanan solar pada mesin diesel konvensional berlangsung dengan interval
tertentu.
Pada mesin diesel common rail tekanan solar akan dinaikan secara konstan selama mesin
hidup. Jadi tekanan solar akan selalu tinggi dan yang mengatur timming adalah pembukaan
injektor oleh solenoid.
Saat kunci kontak ON fuel pump akan bekerja beberapa detik hal ini bertujuan untuk menaikan tekana
awal solar setelah mesin mati. Perlu diketahui ketika mesin mati dalam waktu lama tekanan solar
didalam saluran solar bisa semakin drop. Kalau tekanan drop maka berpotensi masuk angin.
Jadi saat kunci kontak baru ON, anda akan mendengar bunyi dengung pada tanki selama beberapa
detik. Ini adalah bunyi fuel pump yang sedang bekerja.
Hasilnya, tekanan solar didalam saluan bahan bakar bisa naik sesuai standar tekanan solar.
Disisi lain, saat kunci kontak ON maka main relay aktif sehingga arus listrik dari aki disalurkan ke
ECM dan beberapa sensor.
2. Saat start
Ketika kita tekan tombol starter, poros engkol mesin akan berputar sehingga pompa tekanan tinggi
juga akan berputar. Hal ini menyebabkan tekanan solar naik hingga 2000 Kg/Cm2.
Advertisement
Solar bertekanan tinggi tersebut akan disimpan didalam komponen yang bernama fuel rail, anda bisa
mengetahuinya dengan melihat bentuk dari komponen ini yang seperti pipa besi memanjang dengan
beberapa channel menuju injektor.
Disaat yang sama, skema kelistrikan common rail juga bekerja. Skema kelistrikan ini akan mengontrol
kapan dan berapa lama injektor membuka. Hasilnya, karena tekanan solar sudah tinggi maka saat
injektor membuka solar bisa mengabut kedalam ruang bakar.
Dan terjadilah pembakaran didalam ruang bakar secara berkelanjutan atau mesin running.
Sensor berfungsi sebagai pendeteksi. Apa yang dideteksi ? semua informasi yang dibutuhkan
untuk mencari volume solar yang pas. Antara lain, masa udara yang masuk ke mesin, suhu
udara, suhu mesin RPM mesin, dan posisi Top mesin.
ECM berfungsi sebagai pengontrol, komponen ini akan melakukan perhitungan dari semua
data yang dikirim oleh sensor. Hasil perhitungan ECM akan dikirim ke injektor.
Injektor berfungsi sebagai aktuator/output yang akan mengeksekusi perintah dari ECM.
Injektor memiliki sebuah solenoid yang akan terbuka apabila dialiri arus listrik. Saat solenoid
itu terbuka maka solar bisa mengabut kedalam ruang bakar.
Dari ketiga perangkat inilah solar bisa diinjeksikan secara ideal pada segala kondisi mesin. Misal saat
mesin dalam putaran idle, maka aliran udara yang melewati intake itu rendah sehingga ECM bisa
menyesuaikan kecepatan aliran dengan jumlah solar yang diperlukan.
Sementara penentuan timming atau waktu pembukaan injektor, itu CKP dan CMP sensor yang
menentukan. Kedua komponen ini berbanding lurus dengan RPM mesin.
Untuk melengkapi pembahasan kita kali ini, sistem common rail memiliki beberapa komponen antara
lain ;
Teknologi Common Rail adalah sistem injeksi bahan bakar langsung pada berbagai mesin diesel
modern yang setara dengan sistem injeksi bahan bakar langsung pada mesin bensin.
Pada mesin diesel biasa, sebuah pompa injeksi, akan diatur oleh mesin, yang mennyalurkan solar ke
injektor, kemudian akan disemprotkan ke dalam ruang bakar mesin.
Dibandingkan dengan common rail, tekanan solar tersebut dianggap belum tinggi/masih rendah,
sehingga pengabutannya pun kurang halus, maka pembakaran yang dihasilkan pun relatif menjadi
kurang sempurna.
Pada engine dengan common rail systems, pompa injeksi tidak akan dipakai lagi, sebagai gantinya
adalah sebuah pompa yang menghasilkan solar yang bertekanan tinggi hingga mencapai 1.800 kg/cm2,
yang akan disimpan dalam sebuah reservoir yang bercabang dan akan berujung pada tiap-tiap nozzle,
hingga solar pun siap untuk disemprotkan.
Pada nozzle ada sebuah solenoid yang siap menunggu perintah dari ECU untuk menyemprotkan
sejumlah solar ke dalam ruang pembakaran.
Dan dalam hal ini, ECU akan mengalirkan sejumlah arus listrik ke solenoid pada nozzle.
Lama atau tidaknya listrik yang dialirkan, juga akan berpengaruh terhadap jumlah solar yang akan
disemprotkan. Sehingga pengabutan dan suara menjadi halus, emisi rendah, pembakaran bersih, dan
efisiensi solar pun meningkat.
Sistem Kerja Diesel Commonrail Memakai Pengontrol Katup Selenoid Yang Dikendalikan Secara Elektrikal.
Dipastikan Solar Terinjeksi Sesuai Jumlah Yang Dibutuhkan. Konsekwensinya Harus Pakai Jenis Solar Performa
Tinggi, Bukan Yang Rendah.
Oleh Karenanya Dibutuhkan Kadar Partukulat-Sulphur Content Yang rendah Dan Angka Cetane Yang Tinggi, Yaitu
Minyak Diesel Setara Solardex.
HEMATBENSIN dot COM- Commonrail pada kendaraan bermesin diesel semakin banyak kita temui
beberapa tahun belakangan ini. SUV dan kendaraan 4x4 terbaru di Indonesia saat ini rata-rata tersedia
dalam versi diesel dengan menerapkan teknologi Common Rail, sebut saja Mitsubishi Triton dan Pajero
Sport , Toyota Hilux dan Fortuner, Ford Ranger dan Everest, Isuzu D-Max, Nissan Frontier, Mazda
BT50, dan masih banyak lagi.
Tiap fabrikasi kendaraan mempunyai nama untuk masing-masing teknologi ini: Mitsubishi diberi nama
DI- belakangan dikembangkan di Mesin 4NI, Toyota diberi nama D-4D, Isuzu diberi nama iTEQ, BMW
: Mesin D , Cevrolet diberi nama VCDi , Nissan diberi nama dCi tapi tidak diberi merk dCi, Land Rover
Freelanderr namanya TD4, Ford Motor Company diberi nama TDCi, Tata diber nama DICOR & CR4,
Volvo diberi nama 2.4D, dan masih banyak yang lainnya.
Berkat peranti tersebut, mesin diesel tidak lagi dicap sebagai mesin yang “lemot” dan tidak ramah
lingkungan. Tidak hanya itu, berkat Common rail kendaraan bermesin diesel kini sudah bisa bersaing
dengan mobil bermesin bensin biasa di lintasan balap. Tapi, apa sih sebenarnya Common Rail itu?
Commonrail Rail Direct Injection
Adalah sistem injeksi bahan bakar langsung pada berbagai mesin diesel modern yang setara dengan
sistem injeksi bahan bakar langsung pada mesin bensin.
Teknologi ini sebetulnya telah dikenal sejak satu abad silam, yang digunakan pada mesin lokomotif dan
kapal selam. Hanya saja common rail di masa itu masih menggunakan sistem mekanis dalam membuka
katup injektor.
Common Rail modern yang berbasis elektronik kemudian dkembangkan pertama kali pada tahun 1960-
an oleh ilmuwan asal Swiss Robert Huber, yang kemudian dikembangkan lebih jauh lagi oleh Dr. Marco
Ganser.
Pada tahun 1990-an, Magneti Marelli, Centro Ricerche Fiat dan Elasis berkolaborasi membuat prototipe
Common rail. Robert Bosch Gmbh, kemudian membeli paten prototipe tersebut dari Fiat Group untuk
direpoduksi massal. Mobil penumpang pertama yang mengadopsi Common Rail adalah Alfa Romeo
156 pada 1997.
Namun, penggunaan Common rail modern secara massal sebetulnya dilakukan di Jepang pada tahun
1995. Hanya saja kendaraan yang memakai teknologi tersebut adalah truk, bukan mobil penumpang.
Pengembangan di Jepang dilakukan oleh Dr. Shohei Itoh dan Masahiko Miyaki. Dua insinyur yang
bekerja untuk Denso Corporation itu mengembangkan Common Rail untuk kendaraan berat.
Kelebihan Commonrail modern, dibandingkan dengan injektor pada generasi mesin diesel sebelumnya
adalah pada common rail semua injeksinya diatur oleh sistem elektronik, seperti pengaturan jumlah
injeksi, waktu penginjeksian, dan tekanan injeksi sehingga dapat menghasilkan kerja mesin yang
optimal. Bahkan pada generasi ketiga, dimana komputasi sudah masuk, kerja sistem Common rail
semakin presisi.
Common Rail Injector pada mesin generasi baru menyemprotkan bahan bakar solar langsung ke ruang
pembakaran (bukan intake manifold) dengan tekanan yang sangat tinggi, sehingga menghasilkan uap
pengabutan bahan bakar yang sangat halus. Akibatnya proses pembakaran menjadi jauh lebih sempurna.
Sebelum Common rail hadir, sistem yang digunakan adalah sistem dimana pompa bahan bakar dengan
tekanan rendah memberikan tekanan diesel ke masing-masing injector Unit (Pump/Duse atau pompa
nozel).
Pada generasi ketiga common rail diesel sekarang telah menggunakan fitur injector piezoelektrik untuk
meningkatkan presisi, dengan tekanan bahan bakar diesel hingga 3.000 bar atau setara 44.000 psi.
Bandingkan saja dengan pompa bensin pada berbagai kendaraan balap yang hanya menggunakan
tekanan pompa bensin antara 25-75-psi. Pompa bahan bakar yang digunakan juga khusus, karena tidak
mudah untuk memampatkan bahan bakar cair ini menjadi puluhan ribu psi. Pada umumnya digunakan
mechanical pump (bukan electric fuel pump) untuk mampu menghasilkan tekanan sebesar ini.
Dengan tekanan pompa bahan bakar diesel yang sangat tinggi ini dan kombinasi penggunaan injektor
modern, menghasilkan pengabutan uap diesel yang sangat halus. Proses pembakaran pun akan semakin
sempurna.
Waktu pembukaan (timing) pada injector diatur oleh Engine Control Unit (ECU) yang berhubungan
dengan berbagai sensor pada mesin lainnya, untuk mengatur waktu buka / tutup injector secara presisi
yang tentunya mengakibatkan proses pembakaran jauh lebih sempurna.
Sistem pada common rail terbagi atas:
1) Electric feed pump (Tidak semua kendaraan menggunakan sistem pompa bahan bakar elektrik) Fungsi
utamanya adalah memberikan asupan bahan bakar pompa utama yang mampu memberikan tekanan
sangat tinggi ke “Rail”.
2) Filter Memiliki fungsi yang sangat penting sekali untuk menyaring bahan bakar sebelum memasuki
pompa dan selanjutnya dikirimkan ke Rail dan berakhir di injektor. Injektor ini memiliki tingkat
kerapatan yang sangat kecil dan presisi, sehingga adanya partikel kotoran pada bahan bakar akan
menyebabkan injektor mampet.
3) Overflow valve Klep yang mengatur kelebihan bahan bakar dengan tekanan tinggi untuk dapat
kembali ke tangki utama bahan bakar.
4) Return manifold Mengontrol bahan bakar kembali ke ke tangki utama bahan bakar.
5) High Pressure pump Pompa bahan bakar dengan tekanan sangat tinggi ini merupakan “jantung” dari
sistem Common Rail Injection. Ini adalah alat yang dapat meningkatkan pasokan bahan bakar sehingga
memiliki tekanan yang sangat tinggi. Saat mesin dalam keadaan hidup, pompa bahan bakar ini dapat
menghasilkan tekanan lebih dari 2.000 BAR Bandingkan tekanan pada common rail ini dengan tekanan
pada ban kendaraan pada umumnya yang hanya memiliki tekanan sekitar 2,5 sampai 3,5 BAR!
6) High pressure control valve (Tidak semua kendaraan menggunakan sistem pompa bahan bakar
elektrik) . Fungsi utamanya adalah mengkontrol tekanan didalam pompa (High Pressure pump). Kontrol
ini dilakukan oleh ECU / ECM.
7) Rail pressure sensor memonitor tekanan pada sistem Rail.
8) Rail ini adalah terminology common rail dimana bahan bakar dari pompa disalurkan dan disimpan
menunggu waktu bukaan injektor yang dikontrol oleh ECU / ECM untuk selanjutnya disemprotkan ke
ruang pembakaran.
9) Injectors Injectors pada sistem common rail dikontrol oleh ECU / ECM. Penggunaan injector yang
berkualitas dengan presisi yang sangat tinggi akan menentukan tingkat pengkabutan bahan bakar
sehingga menjadi butiran yang sangat halus dan sempurna.
10) ECU / ECM Engine Control Unit yang mengatur waktu buka / tutup injektor, serta lamanya waktu
buka injektor. Sistem elekronik komputer ini saling tersambung dengan berbagai perangkat dan sensor
lainnya (kecepatan mesin, tekanan turbo, beban mesin, dll) sehingga akan menentukan berbagai faktor
lainnya demi memberikan pasokan bahan bakar yang tepat waktu dengan jumlah yang sesuai.
.
Keuntungan penggunaan Common Rail:
1) Sistem commonrail menawarkan peningkatan atomisasi bahan bakar, sehingga meningkatkan
pengapian dan pembakaran dalam mesin.
2) Sistem commonrail juga memberikan peningkatan kinerja, menurunkan konsumsi bahan bakar, dan
membuat getaran mesin lebih halus.
3) Waktu pembakaran yang lebih sempurna, sehingga menghasilkan tenaga mesin yang jauh lebih baik.
.
Di sisi lain Common rail membutuhkan bahan bakar jenis minyak diesel performa tinggi seperti
PertaminaDEX atau setaranya. Penggunaan minyak diesel biasa atau performa rendah dapat membuat
injektor mampet-jebol dan pada penghujungnya mesin mati total, harus turun mesin. Jika tidak terdapat
pertaminaDEX atau setaranya, tindakan preventif yang bisa dilakukan adalah rajin mengganti filter solar
dan mengecek kondisi injektor .
Disisi lain juga, bahan bakar hidrokarbon apapun merknya, apakah Pertaminadex, Biosolar, Petronas
Diesel, Total Diesel,Sheel Diesel, atau solar yang lainnya, secara kimiawi memiliki kelemahan. Yaitu
semakin lama tersimpan, energi potensialnya turun karena pengaruh berkembang-biaknya jamur
mikroba dan proses oksidasi alam, sehingga hasil pembakaran tidak sempurna. Parameter menurunnya
Energi potensil minyak diesel dapat dilihat dari: tingginya emisi, asap mengebul hitam, tarikan jadi berat,
dan otomatis konsumsi minyak diesel jadi boros
Penyempurna Kualitas Solar.
Agar Biosolar atau solar biasa kualitasnya fresh setara dengan minyak diesel performa tinggi seperti
Pertaminadex, harus diadakan tindakan penyempurnaan untuk minyak diesel itu sendiri. Hal ini bisa
pakai teknologi katalisator logam (Fuel Catalyst) seperti Broquet Fuel Catalyst, Flitch Fuel Catalyst, dan
jenis katalisator logam lainnya. Untuk lebih jelasnya, bisa kunjungi situs HEMATBENSIN
Berdasarkan Surat keputusan Direktorat Jenderal Minyak Dan Gas Bumi, telah ditentukan parameter/
specifikasi jenis minyak solar 48 dan solar 5. Berikut datanya:
Terkait hal tersebut diatas, Jasa Laboratorium Kalibrasi PT. PETROLAB Service ( Laboratorium ini
sudah teruji kompetensinya karena telah mendapatkan Sertifikat ISO 17025:2005 yang dikeluarkan
Lembaga Akreditasi Nasional LAN Indonesia ) telah mendapatkan Hasil Uji/ pembuktian lewat tes
laboratorium Tentang Kualitas Berbagai Merk Minyak Diesel yang beredar di Indonesia.
Kesimpulan
1)Performa teknologi Commonrail Direct injection mengedepankan hasil pembakaran minyak diesel
yang sempurna.
2) Menekan tingkat konsumsi bahan bakar.
3) Menurunkan emisi dan ramah lingkungan.
4) Teknologi Commonrail identik dengan pemakaian jenis bahan bakar performa tinggi. Jika dipaksakan
pakai minyak diesel performa rendah maka berakibat fatal pada mesin, terutamata injector, piston, dan
piranti sparepart pembakaran lainnya.
5) Atau bisa pakai minyak diesel performa rendah yang sudah disempurnakan terlebih dahulu
Semoga ulasan saya bermanfaat bagi dunia automotif khususnya bagi pengendara kendaraan mesin
diesel Commonrail Rail Direct Injection di Indonesia
Kontrol secara elektronik pengiriman bahan bakar dan injeksi di depan memungkinkan bahan bakar
dapat dipompa secara optimal terlepas dari kecepatan putaran mesin. Oleh karena itulah tekanan tinggi
dapat dipertahankan secara konstan meskipun mesin berputar dengan kecepatan rendah. Masalah utama
yang harus dihadapi untuk meningkatkan performa dan konsumsi bahan bakar adalah : tingkat
keakuratan jumlah bahan bakar yang disemprotkan ke ruang bahan bakar.
2. Aliran Bahan Bakar
Di dalam low pressure circuit, bahan bakar ditarik ke tangki oleh pre-supply pump, yang
mendesak bahan bakar melalui jalur ke sirkuit tekanan tinggi. Kotoran atau campuran yang ada di dalam
bahan bakar akan dibuang oleh pre-filter, sehingga bisa mencegah keausan dini pada komponen yang
mempunyai tingkat presisi tinggi.
Bahan bakar yang lewat melalui saringan bahan bakar ke pompa tekanan tinggi yang mendesaknya
masuk ke high-pressure accumulator (rail) dan menghasilkan tekanan tinggi maksimal sebesar 1,350
bar. Untuk setiap proses injeksi, bahan bakar ditarik dari high-prssure accumulator. Tekanan di dalam
rail tetap konstan, di dalamnya ada satu pressur-control vavle yang berguna untuk memastikan bahwa
tekanan di dalam rail tidak melebihi angka yang diperbolehkan atau turun dibawah standar.
Mesin diesel common rail EFI merupakan mesin diesel modern yang sistem kerjanya sudah
computerize, artinya sudah menggunakan komponen elektronik seperti sensor-sensor dan control unit
untuk mengontrol kinerjanya.
Saat mengalami kerusakan yang berhubungan dengan sistem kontrol maka kode kerusakan akan
disimpan di dalam memori control unit untuk memudahkan melakukan analisa perbaikan, ikuti
petunjuk kode DTC yang ditampilkan saat melakukan perbaikan.
Namun jika tidak terdapat kode kerusakan atau DTC lakukanlah pemeriksaan dasar sebagai langkah
awal perbaikan.
Ikuti langkah-langkah berikut untuk melakukan troubleshooting yang sistematis sehingga kerusakan dapat
diperbaiki secara akurat dan cepat.
Starter
Relay starter
Water temp. sensor
Injektor
Saluran bahan bakar (Pengurasan udara)
Sirkuit kontrol EGR
Tekanan kompresi
Celah katup
ECU mesin
Supply pump
Sensor tekanan bahan bakar
Diesel throttle
Injektor
Sirkuit sumber daya ECU
Tekanan kompresi
Saluran bahan bakar (Pengurasan udara)
Celah katup
ECU mesin
Supply pump
Sensor tekanan bahan bakar
Diesel throttle
Injektor
Sirkuit sumber daya ECU
Tekanan kompresi
Saluran bahan bakar (Pengurasan udara)
Celah katup
ECU mesin
Supply pump
Sensor tekanan bahan bakar
Diesel throttle
Injektor
Saringan bahan bakar
Sirkuit kontrol EGR
Tekanan kompresi
ECU mesin
Supply pump
Sensor tekanan bahan bakar
Diesel throttle
Injeckor
Sirkuit kontrol EGR
ECU mesin
Supply pump
Sensor tekanan bahan bakar
Injektor
Sirkuit kontrol EGR
ECU mesin
Supply pump
Sensor tekanan bahan bakar
Diesel throttle
Injektor
ECU mesin
Supply pump
Sensor tekanan bahan bakar.
- Mengganti Filter Udara dengan Free Flow / Modifikasi Filter. Dengan mengganti Filter udara yang
berhambatan Rendah tentunya maka udara akan semakin banyak masuk ke ruang bakar, Udara makin banyak
tentunya kandungan Oksigen makin banyak tentuknya hasil pembakaran akan lebih signifikan.
- Melakukan Porting dan Pengaturan ulang Efisensi Aliran Udara. Seperti Kita tau udara adalah sebuah massa
yang bergerak, Masih ingat kisah normalisasi sungai jakarta untuk menangkal banjir bukan, Demikian juga
dengan porting akan mempermudah udara mengalir masuk kedalan ruang bakar.
- Pemasangan unit Turbo dan Super Charger. Dengan ke dua unit ini maka udara bisa dimasukkan ke ruang
bakar tanpa melalui hisapan beda tekan tapi langsung dipaksakan ke ruang bakar, tentu hasilnya volume udara
masuk akan lebih banyak.
- Merubah Jumlah Bahan Bakar yang dibakar dimesin. Tentu setelah udara yang dipasok sudah semakin banyak
tentu hasilnya tidak akan optimal bila semprotan jumlah bahan bakar tidak diperbanyak. cara memperbanyak
bisa dari kalibrasi IP, Modifikasi Nosel, Penyetelan Baut Load Solar.
- Memasang Piggy Back. Untuk unit Commonrail untuk menipu data ECU anda bisa memasang Piggy back
sehingga waktu semprotan dan jumlah Bahan Bakar bisa diatur ulang,
Seperti manusia ketika kita banyak makan maka juga akan sering kita ke WC untuk buang air bukan, demikian
juga dengan mesin.
- Porting Exhaust Manifold. Dengan adanya porting maka proses keluarnya gas buang akan semakin mudah. -
Modifikasi Katalitic. Ada yang ekstrim dengan membuang katalitic karena akan dinilai menghambat proses
pembuangan gas pada mesin.
- Penggantian Manifold dan Knalpot dengan lebih Free Flow. dengan diganti maka udara yang keluar akan
lebih besar bukan.
- Pengaturan ulang dimensi dan ukuran exhaust agar diperoleh Tendangan balik yang maksimal.
- Menurunkan Suhu Udara yang masuk ke intake Manifold. Menurunkan suhu udara yang masuk terutama
untuk unit Non Normaly Aspirated biasanya dengan pemasangan Intercooler. selain Intercooler ada juga
modifikasi dengan AIC ( udara yang masuk dilewatkan ke kisi2 AC agar udara lebih dingin)
- Memakai Bahan Bakar Berkualitas baik. Memakai bahan bakar berkualitas baik tentu akan menaikkan tenaga
mesin anda.
- Memakai Doping Bahan Bakar. Ada banyak cairan untuk meningkatkan Performa.
- Memasang CAI. Cold Air Intake. Ada banyak teknik modifikasi CAI
- Memodifikasi Bahan Bakar. Misal memakai injeksi Propane, Pemasangan Water Methanol Injection dll.
Setelah unit mesin meningkat daya putarnya tentu unit lain pun akan disesuaikan Beberapa diantaranya
adalah.
- Modifikasi Kopling. Untuk unit kopling manual kadang kala harus dimodifikasi agar tidak selip dihajar torsi
mesin yang meningkat.
- Modifikasi Rasio Verneling. Bisa dilakaukan pengangitan gigi verneling untuk memakai gigi rasio yang lebih
berat.
- Modifikasi Final Geer. Cara termudah dan lebih gampang dengan mengganti unit Final Geer dengan
perbandingan yang lebih kecil/ Berat.
- Modifikasi Rem. Tentunya mesin makin cepat anda harus memodifikasi unit pengereman agar lebih pakem.
bisa dengan mengganti unit rem yang lebih besar atau mengganti dengan unit berkemampuan lebih tinggi.
- Modifikasi Suspensi. Mobil makin cepat maka dibutuhkan suspensi lebih mumpuni
TEMPO Interaktif, Jakarta - Mobil bermesin diesel kerap dinilai kurang bertenaga. Akselerasinya
pun dianggap tak segesit mobil bermesin bensin. Tak hanya itu. Para mekanik pun kerap mengaku
kesulitan untuk melakukan tuning mesin deisel untuk mendapatkan performa mesin yang benar-benar
tokcer. Tapi itu dulu. Pasalnya, saat ini pabrikan produsen bermesin disel juga melakukan sejumlah
terobosan dengan menggunakan turbocharger atau supercharger dengan teknologi yang terus
disempurnakan.
Hanya, karena teknologinya yang khas maka perawatan khusus juga harus dilakukan terhadap mesin
disel. “Kuncinya harus rajin perawatan pompa injeksi, injektor, serta filter udara yang harus
dibersihkan atau diganti,” papar Khairul Azhar, Mekanik Berkah Motor, Cengkareng, Jakarta Barat,
Rabu (22/12).
Menurut Khairul, pentingnya tiga komponen itu karena mesin diesel memiliki karakter khas yaitu
pembakaran dalam. “Proses pembakaran terjadi setelah bahan bakar yang dinyalakan oleh gas yang
bersuhu suhu tinggi dikompresi oleh piston yang merapat, bukan oleh alat lain atau busi pada mesin
bensin,” ujar dia.
Bahan bakar disuntikkan ke ruang bakar dalam tekanan tinggi melalui nosel supaya bercampur dengan
udara panas yang bertekanan tinggi. Hasil pencampuran tersebut menyala dan membakar dengan cepat
dan menghasilkan tenaga.
Itulah sistem kerja mesin disel yang mengandalkan semburan bahan bakar dan udara. Lantaran itulah
untuk menjaga maupun meningkatkan tenaga mesin disel ada beberapa hal yang bisa dilakukan :
Pompa injektor memiliki peran vital dalam proses penyemprotan bahan bakar ke ruang bakar. Semakin
sempurna semburan yang dihasilkan maka semakin sempurna pula proses pembkaran dan sebaliknya.
Namun, seiring dengan waktu dan penggunaan yang terus menerus maka performa peranti ini
mengalami penurunan. Oleh karena itu lakukan kalibrasi atau penyetelan ulang.
Cara itu bertujuan untuk mengatur kembali semprotan bahan bakar agar lebih maksimal. Selain
itu, kalibrasi juga mengatur pasokan bahan bakar ke ruang kompresi melalui nosel.
Seperti diketahui, proses pembakaran di ruang bakar mesin sangat membutuhkan pasokan udara.
Semakin banyak oksigen, maka semakin sempurna pula proses pembakaran, dan sebaliknya.
Lantaran itulah, peranan filter udara sangat memengang peranan penting. Usahakan menggunakan
filter udara yang minim hambatan. Anda bisa menggunakan filter udara model open air.
Hal itu dimaksudkan agar pasokan udara juga bisa mengimbangi semburan bahan bakar yang semakin
cepat seiring dengan telah dikalibrasinya pompa bahan bakar serta dipercepatnya waktu penyemprotan
bahan bakar. Jangan lupa rajin membersihkan peranti itu secara teratur.
5. Tambahi peranti maximize/piggybcak
Bila Anda masih merasa kurang yakin dengan car-cara itu, bisa juga menggunakan maximize atau
piggyback. Peranti itu kini sudah banyak dijual di pasaran. Harganya pun bervariasi.
Hanya, konsultasikan ke ahlinya bila ingin menggunakan peranti tersebut. Cermati keuntungan dan
kerugian menggunakan peranti itu, berikut cara pemasangan yang benar dan aman
Jakarta - Saat kendaraan bermesin diesel sudah mencapai angka pemakaian 10 ribu km, maka ada beberapa
part yang sudah harus diganti. Enggak banyak, tapi harus diganti agar performanya enggak mengalami
penurunan.
“Baru setelah memasuki usia pakai 20 ribu km, banyak hal yang mesti dilakukan,” ungkap Wisnu Gading
Prasadana, Front Line Service Advisor dealer Mitsubishi PT Sun Star Prima Motor di Fatmawati, Jaksel. Memang
banyak namun dengan mesin diesel modern yang sudah common-rail, treatment-nya enggak ribet.
“Seperti saat melakukan tune up, enggak perlu sampai bongkar-bongkar mesin. Cukup memanfaatkan cairan
pembersih, semua kotoran akan larut dan mesin kembali prima,” kata Jaya dari Rev Engineering di JL. Panjang,
Jakbar. Nah, berikut daftar item yang masuk dalam urusan perawatan kendaraan bermesin diesel. •
([Link])
Filter Udara
Udara yang bersih akan membuat proses pembakaran bahan bakar menjadi lebih sempurna. Sehingga tenaga
mesin yang dihasilkan menjadi lebih maksimal
dan pemakaian bahan bakar lebih efisien.
Ukuran pori-pori pada filter udara mesin diesel mencapai 50-60 mikron dan dari situ bisa dilihat betapa
sensitifnya filter udara mesin diesel terhadap kotoran yang lewat. Melihat dari buku servis, maka setiap
kendaraan sudah menempuh jarak 10 ribu km diwajibkan untuk mengganti filter udara.
Namun angka jarak penggantian normal itu bisa berubah lebih cepat. Dalam kondisi jalanan yang dilewati banyak
debu, bisa membuat lebih cepatnya penggantian filter udara dari waktu normal. Selain produk orisinal yang
pastinya dianjurkan oleh bengkel resmi, ada juga barang aftermarket yang juga direkomendasikan oleh bengkel
umum.
Produk-produk tersebut biasanya untuk high performance, namun tetap bisa dipakai untuk mesin standar.
Contohnya seperti filter udara berlabel Sakura atau K&N.
Filter Oli
"Saat melakukan ganti oli di 10 ribu km, maka diwajibkan untuk melakukan penggantian saringan oli. Selain itu
sangat dianjurkan untuk menggunakan filter oli orisinal," terang Wisnu.
Gesekan antar part didalam mesin, menimbulkan residu yang bisa mempercepat proses keausan. Memang hal
tersebut enggak terjadi secara langsung alias butuh waktu yang lama.
Agar residu itu tidak mempengaruhi kinerja dalaman mesin, maka diperlukan penyaringan pada pelumas yang
digunakan. Filter oli orisinal sudah disesuaikan dengan kebutuhan dari mesin diesel yang dipakai.
Tune Up
Dengan kandungan sulfur yang rendah dan juga cetane number yang tinggi, maka Pertamina Dex paling
direkomendasikan untuk mesin diesel modern yang sudah common-rail. Tapi dengan harga yang tinggi, jenis
bahan bakar tersebut bukan jadi pilihan utama.
Namun yang perlu diketahui, bahwa pemakaian Solar biasa ke diesel common-rail tidak sesuai. Akibat
pemaksaan kehendak itu, maka di ruang bakar, saluran masuk juga buang punya potensi timbul kerak.
“Pemakaian Solar dengan spesifikasi yang enggak sesuai kebutuhan, sudah dipastikan bisa menimbulkan
masalah. Namun enggak perlu khawatir, diesel dengan common-rail lebih gampang perawatannya,” papar Jaya.
Untuk membersihkan kerak yang menempel, enggak perlu bongkar-bongkar yang endingnya memakan waktu
dan biaya. Cukup masukkan saja cairan pembersih dan biarkan bersirkulasi, maka injektor, pompa bahan bakar,
ruang bakar, oksigen sensor dan lainnya bisa bersik.
Oli Mesin
Perkembangan teknologi mesin diesel, ternyata enggak terlalu diikuti oleh ketersediaan pelumas yang sesuai
dengan kebutuhan. Untuk yang paling standar, pilihan pelumas saat ganti oli adalah yang 15W/40.
“Pada mesin diesel masa kini yang clearance antar-komponen makin sempit, butuh oli yang lebih encer dan
pilihannya bisa melirik ke spesifikasi yang 10W/40,” kata [Link] umur mesin lebih dari 5 tahun dan belum
melakukan penggantian part dalaman mesin, maka bisa pakai oli yang lebih kental.
Tapi tentunya itu juga berpengaruh pada kinerja mesin yang jadi lebih berat dan ujung-ujungnya juga colek
pemakaian bahan bakar yang jadi boros Oh iya, anjuran ganti olinya setiap 5 ribu km itu batas aman dengan
melihat kondisi pemakaian yang sering kena macet.
Tapi bila kondisi jalanan yang dilalui lebih sering lengang, maka ganti olinya bisa lebih dari angka tersebut (10
ribu km).
Filter Solar
Mesin diesel modern yang sudah common-rail, butuh pengabutan bahan bakar yang lebih sempurna dari mesin
generasi terdahulu. Oleh karenanya, dibutuhkan kualitas bahan bakar yang bersih dari kotoran apapun. Agar
nosel injektor dapat langsung menyemburkan dengan tekanan tinggi ke ruang bakar.
Jadi syarat mutlaknya adalah penggunaan filter Solar yang benar-benar mampu secara maksimal melakukan
penyaringan kotoran. Filter bahan bakar pada diesel modern, tingkat kerapatannya sampai 2 mikron, sedangkan
yang konvensional 5 mikron. Itu yang membuat part tersebut jadi cepat kotor kalau pakai Solar yang kandungan
sulfurnya tinggi.
Penggantian filter Solar bisa dilakukan pada saat kendaraan sudah menempuh jarak 20 ribu km. Atau kalau
penggantian olinya setiap 10 ribu km, maka setiap ganti oli 2 kali plus ganti filter Solar.
Teknologi mesin diesel dengan sebuah mesin dengan bahan bakar solar . sistem
ini justru main di sistemBahan bakar , di sistem konvensional ada komponen-
komponen penunjang sistem . di konvensional ada injection pump assembly , priming
pump dan juga feed pump yang menyalurkan bahan bakar ke ruangpembakaran
.sekarang Mesin diesel sudah bekerja dengan sistem elektronis atau sekarang
familiar dengan Commonrail . common rail terdiri dari pressure sensor,pressure
limiter, solenoid injector sebagai komponentambahan .Ada perbedaan dengan type
diesel yang lama, yaitu sistem common rail ini digabungkan dengan sisteminjeksinya
yang dikontrol secara elektronik. type diesel yang lama injektor membuka karena
tekananbahan bakar, tetapi pada common rail yang membuka injektor adalah arus
dari ECU. jadi injektornya prinsip kerjanya hampir sama dengan injektor mobil
bensin.
Sedangkan tekanan bahan bakar yang dipompa oleh pompa, ditampung dahulu
dalam common [Link] pada semua kondisi diharapkan sama
tekananya. jenis ini memeiliki beberapa keuntungan diantaranya :Tekanan, jumlah
dan waktu penginjecsian dikontrol secara elektronik, sehingga diperlukan
akurasikontrol mesin yang tinggiTekanan bahan bakar tinggi, sehingga menjamin
atomisasi bahan bakar yang lebih baikTekanan bahan bakar tersedia setiap
[Link] situ akan didapat peforma mesin yang :1. peforma bagus dan irit
bahan bakar2. getaran dan suara mesin yang lebih halus3. gas buang yang lebih
bersih
Mesin diesel pada mobil-mobil baru saat ini umumnya sudah dibekali
teknologi common-rail. Sistem kerjanya memakai pengontrol
katup solenoide elektronik, yang memungkinkan solar terinjeksi sesuai jumlah yang
dibutuhkan. Konsekuensinya, mesin mesti menggunakan jenis solar sesuai standar
yang dibutuhkan teknologi common-rail.
Nyatanya, mesin diesel tetaplah diesel. Karakternya masih mencerminkan peminum
solar tipe lawas. Misalnya, dari zaman dulu mesin diesel akan terasa lebih loyo kalau
kondisi saringan udaranya kotor. Pada mesin bensin, kondisi ini bisa sedikit terobati
karena percikan api di dalam silinder yang memantik bahan bakar.
Dalam pemilihan bahan bakar juga harus menggunakan BBM yang sesuai.
Syaratnya mesti memenuhi dua unsur penting, yaitu angka cetana (cetane number)
sesuai spek mesin serta kandungan sulfur yang tidak terlalu banyak. Semakin tinggi
angka cetana semakin baik karena dapat memperbesar daya ledak.
Sulfur awalnya dibutuhkan untuk melumasi fuel system. Pada perjalanannya, kualitas
saluran BBM meningkat. Sulfur pun mulai dikurangi perannya. Apalagi terbukti
keberadaannya bisa menimbulkan kerak dan menghambat saluran BBM itu sendiri.
Jika sudah begini, performa mesin dapat menurun drastis.
Mobil diesel Anda bisa mengalami beberapa gejala seperti tenaga mesin drop, susah
start di pagi hari, atau mesin terasa lebih bergetar dibanding biasanya dalam keadaan
dingin. Atau lebih parah lagi, muncul gejala pincang saat idle maupun berjalan.
Hal itu bisa menjadi indikasi kalau injektor mesin diesel Anda bermasalah. “Yang
paling umum menyebabkan masalah-masalah tersebut adalah kotoran yang
menyumbat nosel injektor,” ucap Theodorus S. dari bengkel Rev Engineering di
Jakbar. Kotoran-kotoran itu berukuran sangat kecil, berskala mikron (seperseribu
milimeter), namun seiring waktu akan terjadi penumpukan hingga akumulasinya
menghasilkan residu yang menyumbat injektor. Alhasil, debit solar yang masuk pun
terganggu bahkan di beberapa kasus bisa terhenti sama sekali.
Lantas, bagian mana saja yang harus diperhatikan ketika merawat mesin diesel?
Bagaimana jika Anda sampai harus memperbaiki lantaran rusak? Berikut uraian
kami.
1. NOSEL INJEKTOR
Dengan mengisi bahan bakar yang
tidak sesuai kebutuhan ke mesin
diesel berteknologi common-rail akan
menyebabkan injektor kotor. Jika
injektor kotor, mobil akan
mengeluarkan asap dari knalpot dan
tenaga berkurang. Untuk
mengantisipasinya adalah dengan
mengkalibrasi injektor minimal satu
tahun sekali.
2. FILTER SOLAR
Gejalanya, mesin tersendat-sendat
saat berjalan atau saat digeber ke
putaran tinggi mesin mengalami
'batuk-batuk'. “Bisa dipantau dari
indikator di dasbor, kalau sudah
menyala harus diperiksa,” ujar Edwin
Prihadi, kepala bengkel Tunas
Toyota Pasar Minggu, Jakarta
Selatan.
3. GUNAKAN BAHAN
BAKAR YANG SESUAI
Kita perlu memperhatikan kandungan
sulfur (sulphur content) dalam solar.
Sebab mesin diesel masa kini memang
membutuhkan bahan bakar dengan
kandungan sulfur rendah. Material
belerang ini bisa memicu karat, yang
memungkinkan terjadinya
penyumbatan di saluran-saluran kecil
pada sistemcommon-rail. Umurfuel
pump juga berkurang. Dalam jangka
panjang akan mengakibatkan tenaga
mobil berkurang.
4. FILTER UDARA
Nah, pada diesel, saringan udara
kotor mengurangi jumlah udara yang
bisa diledakkan. Perawatan saringan
udara bisa mengikuti prosedur
pengecekan servis rutin. Misalnya
dibersihkan setiap 10 ribu kilometer.
Cara yang paling simpel dilakukan adalah membersihkan intake manifold. Karena mobil diesel
cenderung memiliki saluran masuk yang lebih kotor ketimbang mesin bensin. Uniknya, proses
pembersihan ini mirip dengan menyemprotkan engine conditioner yang dipakai buat mobil bensin.
gbr.1
gbr.2
Bedanya, cairan yang dipakai harus khusus buat diesel dengan harga Rp 100 ribuan. Sebab karakternya
jelas berbeda dengan bensin. Mudah kok mencarinya, tabung kemasan memang mirip engine conditioner
buat bensin tetapi ada tulisan khusus buat diesel (Gbr.1).
Aplikasinya cukup mudah, tinggal semprot ke arah intake manifold alias saluran masuk udara menuju
mesin. Buat mesin diesel konvensional seperti pada Mitsubishi Kuda, Isuzu Panther atau Toyota Kijang,
tinggal copot saja slang pada intake (Gbr.2) dan semprotkan cairannya.
gbr.3
Begini cara menyemprotnya, usahakan semprotan rata memutar (Gbr.3). Biasanya lubang intake ada di
tengah, usahakan semprotan rata ke kiri dan kanan agar terisapnya juga rata ke masing-masing silinder.
Semprot memutar sekali saja, lalu biarkan. Putaran stasioner mesin bakal meninggi sebentar, lalu turun
lagi. Setelah turun, bisa disemprot lagi. Langkah ini bisa dilakukan dua atau tiga kali. Lalu gas mesin
supaya busa dan keraknya tersedot.
Setelah tiga kali menyemprot dan mesin digas, proses ini bisa diulangi lagi sampai tiga kali. Jadi semprot
lagi beberapa kali dan gas, terus ulangi lagi. Nanti bakal kelihatan kalau diintip, kerak di dalam intake
bakal berkurang.
Proses ini juga bisa dilakukan pada mobil diesel canggih, bahkan dengan sistem common-rail. Hanya,
bedanya pada mesin diesel seperti ini biasanya ada katup yang mirip skep gas pada intake. Katup ini
bukan skep gas dan hanya berfungsi seperti choke pada mesin bensin.
Sebelum membuka slang intake, cek dulu apakah mesin common-rail Anda memiliki air mass sensor.
Alat ini berupa kotak hitam kecil dengan soket kabel di sekitar saringan udara. Kalau tidak ada, silahkan
buka slang dan semprot saja di sekitar katup skep tadi. Langkahnya bisa sama dengan mesin diesel
konvensional.
Tetapi kalau ada mass air sensor, slang intake tidak boleh dibuka. Penyemprotan harus dilakukan lewat
slang kecil yang menempel pada intake. Misalnya slang PCV. Buka saja slang PCV dan selipkan pipa
kecil untuk menyemprot lewat lubang yang terbuka. Mudah kan?
gbr.4
gbr.5
Proses yang satu ini mirip ‘sedot lemak’ dalam tubuh. Bedanya, ‘lemak’ dari karbon sisa pembakaran
yang berada dalam ruang bakar dilebur bersama kotoran yang juga berada pada saluran pompa injeksi
dan nosel. Khasiatnya punya dampak lebih ketimbang engine conditioner model semprot pada saluran
hawa.
Aplikasinya selain sebagai media tune-up. Bisa juga sebagai obat pembersih saluran pompa injeksi.
Seperti kejadian mesin yang menyendat pada putaran tinggi yang pernah dialami Isuzu Panther lansiran
tahun 2001 milik operasional kantor. Tanpa harus melakukan servis pompa injeksi. Ternyata masih bisa
dirawat dengan bantuan cairan tersebut.
Karena cukup mudah, Anda sendiri dapat melakukan sendiri aplikasinya. Hanya perlu mencari
bahannya, berupa cairan yang bisa dimasukkan ke dalam saluran bahan bakar. Salah satunya berlabel
Diesel Purge yang bisa didapat di pasaran dengan harga Rp 120 ribuan. Ada dua macam perawatan
dengan cairan semacam ini. Mau tahu? Simak prosesnya berikut ini.
Pertama sebagai perawatan ringan, maksudnya jika performa mesin ingin dijaga walaupun masih relatif
terasa normal saat dipacu. Caranya cukup tuang satu botol penuh ke dalam tangki bahan bakar. Proses
pembersihan berjalan bersama Solar yang terisap oleh pompa injeksi.
gbr.6
gbr.7
Kedua, buat mesin yang performanya mulai kendur namun tidak mengeluarkan asap putih saat
akselerasi. Caranya, biarkan mesin ‘minum’ obat ini dengan menyedot langsung cairan tersebut dari
botolnya. Agar cairan bisa benar-benar bersirkulasi pada pompa injeksi dan berfungsi seolah BBM.
Maka sebaiknya cairan ini ditampung dalam satu wadah khusus. Cabut selang Solar masuk dari keluaran
filter Solar yang terhubung dengan pompa (Gbr.4). Saluran balik minyak ke tangki dari pompa injeksi
juga dilepas dan dimasukan ke dalam wadah (Gbr.5). Agar cairan yang tersedot dari setengah isi botol
ini bisa terlihat, sebaiknya gunakan wadah yang relatif bening (Gbr.6).
Cairan pembakar lemak ini sedapat mungkin bisa tersedot habis, sehingga putaran mesin perlu dibuat
tinggi setiap 2 detik lamanya. Caranya dengan membenamkan pedal gas hingga putaran sekitar 3.000
rpm lalu langsung dilepas agar kembali stasioner.
Ketiga, buat perawatan yang cukup berat. Indikasinya asap putih dari knalpot cukup pekat terlihat dan
mesin terasa menyendat saat dipacu namun tetap mudah distater saat mesin dingin. Dari proses kedua
(Gbr.7), tinggal tuangkan sisa cairan setengah botol yang sudah terhisap murni langsung ke pompa
injeksi, untuk dimasukan ke dalam tangki bersama BBM.