0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
100 tayangan24 halaman

Analisis Jaminan Mutu Radiologi

Tinjauan pustaka membahas tentang jaminan mutu, kendali mutu, sinar-X, dan computed radiography. Jaminan mutu dan kendali mutu merupakan program manajemen untuk menjamin mutu pelayanan radiologi. Sinar-X dijelaskan proses terjadinya dan sifat-sifatnya. Computed radiography adalah metode digitalisasi citra radiologi menggunakan imaging plate.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
100 tayangan24 halaman

Analisis Jaminan Mutu Radiologi

Tinjauan pustaka membahas tentang jaminan mutu, kendali mutu, sinar-X, dan computed radiography. Jaminan mutu dan kendali mutu merupakan program manajemen untuk menjamin mutu pelayanan radiologi. Sinar-X dijelaskan proses terjadinya dan sifat-sifatnya. Computed radiography adalah metode digitalisasi citra radiologi menggunakan imaging plate.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Jaminan Mutu / Quality Assurance

Jaminan mutu (QA) adalah keseluruhan dari program manajemen

(pengolahan) yang diselenggarakan guna menjamin pelayanan kesehatan radiologi

prima dengan cara pengumpulan data dan melakukan evaluasi secara sistematis.

(Papp, 2006). Mutu pelayanan radiologi sangat tergantung pada mutu atau kualitas

sumber daya manusia, kualitas produk radiografi, kualitas diagnosa fasilitas

radiologi meliputi sarana, prasarana dan peralatan radiologi, serta kualitas

tindakan proteksi radiasi. Pelayanan radiologi yang meliputi standar jaminan mutu

akan memberikan informasi diagnostik yang tepat dengan paparan radiasi yang

serendah mungkin terhadap pasien dan personil. Jaminan mutu biasanya

membutuhkan evaluasi secara terus-menerus dan biasanya digunakan sebagai alat

manajemen (Permenkes No 780/Menkes/VIII/2008).

2.1.1. Tujuan Quality Assurance

Menurut permenkes No 1250/Menkes/SK/XII/2009 tujuan dari Quality

Assurance meliputi:

1. Tujuan umum:

Untuk meningkatkan pelayanan radiodiagnostik yang diselenggarakan

oleh sarana pelayanan masyarakat di seluruh Indonesia.

6
7

2. Tujuan khusus:

a. Sebagai pedoman bagi sarana prasarana kesehatan dalam upaya

meningkatkan mutu pelayanan radiodiagnostik.

b. Sebagai acuan bagi sarana pelayanan kesehatan dalam

menyelenggarakan kendali mutu peralatan radiodiagnostik.

2.2. Kendali Mutu / Quality Control (QC)

Quality Control adalah bagian dari program jaminan mutu yang

berhubungan dengan teknik yang digunakan dalam pemantauan dan pemeliharaan

unsur-unsur teknis dari sistem yang mempengaruhi kualitas gambar. Oleh karena

itu, kendali mutu adalah bagian dari program QA yang berhubungan dengan

instrumentasi dan peralatan (Papp, 2006).

1. Pengujian dilakukan pada peralatan baru atau peralatan yang telah

mengalami perbaikan besar. Hal ini juga dapat mendeteksi cacat yang ada

didalam peralatan. Hasil yang diperoleh selama pengujian penerimaan

juga digunakan untuk menetapkan baseline kinerja dari peralatan yang

digunakan sebagai titik acuan dalam pengujian kendali kontrol dimasa

depan.

2. Evaluasi kinerja rutin adalah tes khusus dilakukan pada peralatan yang

digunakan setelah jangka waktu tertentu telah berlalu. Evaluasi ini dapat

memverifikasi bahwa peralatan yang digunakan sesuai dengan standar

yang digunakan sebelumnya dan dapat digunakan untuk mendiagnosa

setiap pemeriksaan untuk mendapatkan kualitas yang baik.


8

3. Tes koreksi kesalahan yaitu untuk mengevaluasi peralatan yang rusak

atau tidak diketahui saat pembuatan alat dan juga digunakan untuk

memverifikasi penyebab yang benar dari kerusakan sehingga perbaikan

dapat dilakukan dengan tepat (Papp, 2006).

2.3. Sinar-X

Sinar-X ditemukan pertama kali oleh fisikawan berkebangsaan Jerman

Wilhelm Conrad Rontgen pada tanggal 8 November 1895. Pada saat rontgen

menyalakan sumber listrik tabung untuk penelitian sinar katoda, W. C Rontgen

mendapat kan bahwa sejenis cahaya berpendar pada layar yang terbuat dari

Barium Platino Cyanida yang kebetulan berada di dekatnya. Jika sumber listrik

dipadamkan, maka cahaya pendar pun hilang. Rontgen segera menyadari adanya

sinar yang tidak kelihatan telah muncul dari dalam tabung sinar katoda. Karena

sinar ini sebelumnya tidak pernah diketahui maka diberi nama sinar-X (Akhadi,

2000).

2.3.1. Proses terjadinya sinar-X

Tabung sinar-X adalah tabung yang berbuat dari gelas atau pyrex yang

hampa udara. Didalam tabung sinar-X terdapat dua buah elektroda yaitu katoda

dan anoda. Katoda betfungsi sebagai elektroda negatif dan anoda sebagai

elektroda positif. Ketika filamen yang melekat pada katoda dipanaskan maka

filamen akan mengeluarkan elektron, semakin lama di panaskan maka jumlah

elektron yang berbentuk semakin banyak yang disebut dengan awan elektron.

Kemudian diantara anoda dan katoda diberikan tegangan antara 40 kV sampai

dengan 125 kV sehingga elektron akan bergerak cepat menuju target yang akan
9

menghasilkan tumbukan. Tumbukan ini akan menghasilkan sinar-X adalah 1 %

dan panas 99 %. Elektron yang bergerak ini disebut elektron proyektil, karena

perbedaan tegangan antar anoda dan katoda menyebabkan elektron ini bergerak

cepat dari anoda ke katoda. Sehingga sinar-X yang dihasilkan akan keluar dari

tabung melalui window/jendela (Sari, 2010). Proses terjadinya sinar-X ditunjukan

oleh gambar 2.1. di bawah ini:

Gambar 2.1. Proses terjadinya sinar-X


(Sumber : Rahman, 2009)

2.3.2. Sifat-sifat Sinar-X

Menurut Rahman (2009) sinar-X sebagaimana gelombang elektromagnetik

lainnya mempunyai sifat. Sifat-sifat sinar-X tersebut adalah:

1. Mempunyai panjang gelombang (λ) yang sangat pendek yaitu antara

10ˉ¹³ s/d 10ˉ¹º meter.

2. Mempunyai energi yang sangat besar yaitu antara 104 s/d 105 eV

sehingga sinar-X mempunyai daya tembus yang besar pula.

3. Mengalami atenuasi ( perlemahan ) intensitas setelah menembus bahan

4. Tidak terlihat, tidak terasa dan tidak berbau.


10

5. Dapat memendarkan beberapa jenis bahan tertentu (biasanya bahan

jenis phosfor).

6. Tidak berpengaruh terhadap medan magnet maupun medan listrik.

7. Dapat menghitamkan emulsi film.

8. Mempunyai efek terhadap sel-sel hidup, efek ini bisa bersifat negatif

tetapi ada juga yang bersifat positif.

9. Apabila mengenai suatu bahan/materi akan terjadi 3 hal yaitu :

a. Dipantulkan (dengan energi yang lebih rendah).

b. Diserap.

c. Diteruskan

2.4. Computed Radiography (CR)

Computed radiography (CR) merupakan metode akuisisi citra digital yang

digunakan secara umum dalam radiografi diagnostik. Faktor eksposi diperlukan

untuk CR sama dengan yang digunakan dalam teknik film-screen pada

konvensional. CR merupakan sitem pencitraan digital yang memiliki exposure

lalitude yang luas, yang mengurangi jumlah pengulangan yang disebabkan oleh

pemilihan faktor eksposi yang salah. Akurasi faktor eksposi yang dipilih

dikonfirmasi dengan memeriksa indeks paparan, setalah citra diproses secara

digital (Bushong, 2001).


11

CR di RSSN Bukittinggi ditunjukkan oleh gambar 2.2 di bawah ini:

Gambar 2.2 Computed Radiography


(Sumber: Dokumentasi RSSN Bukittinggi: 2017)

1. Prinsip Kerja Computed Radiography adalah:

a. IP (Imaging plate) di ekspos dengan sinar-X, maka akan

menghasilkan bayangan laten pada IP.

b. IP cassete kemudian dimasukkan ke dalam image reader. Pada

image reader, bayangan laten yang disimpan pada phosphor, dibaca

dan dikeluarkan menggunakan cahaya infra merah untuk

menstimulus phosphor, sehingga mengakibatkan energi yang

tersimpan berubah menjadi cahaya tampak.

c. Cahaya yang dikeluarkan dari permukaan plate akan ditangkap oleh

sebuah pengumpul cahaya dan diteruskan ke tabung photomultiplier

yang mengubah energi cahaya tersebut menjadi sinyal listrik analog.

d. Selanjutnya sinyal analog diubah menjadi sinyal digital oleh

rangkaian Analog to Digital Converter (ADC) dan diproses dalam

komputer.
12

e. Setelah proses pembacaan selesai, data gambar pada imaging plate

dapat dihapus dengan cara imaging plate dikenai cahaya yang kuat.

Hal ini membuat imaging plate dapat dipergunakan kembali.

f. Setelah gambaran tampil dilayar monitor, gambaran tersebut dapat

direkonstruksi atau dimanipulasi pada image console sehingga

mendapatkan gambaran yang diinginkan.

g. Apabila gambaran sudah baik, maka terdapat dua pilihan, apakah

gambaran akan dicetak dengan film atau disimpan dengan file

khusus. Jika ingin dicetak maka gambaran akan dicetak

menggunakan lasser (Bushong, 2001).

2. Kelebihan CR adalah :

a. Biaya operasional lebih rendah dari konvensional.

b. Foto bisa diprint lebih kecil.

c. Tidak menggunakan bahan kimia, tetapi menggunakan komputer.

d. Gambar dapat diatur sesuai keinginan.

e. Gambar dapat disimpan dalam bentuk cetak film, hard disk,

compact disk (Bushong, 2001).

3. Komponen CR adalah :

Menurut bushong (2001), adapun komponen Computed Radiography

adalah ;
13

a. Kaset

Kaset pada Computed Radiography terbuat dari carbon fiber dan

bagian belakang terbuat dari aluminium, kaset ini berfungsi sebagai

pelindung dari Imaging Plate.

b. Imaging Plate Storage Phospore Screen

Imaging Plate (IP) merupakan komponen utama pada sistem

Computed Radiography. Imaging plate adalah plat film yang

mempunyai kemampuan menyimpan energi sinar-X, dan energi

tersebut dapat dibebaskan atau dikeluarkan melalui proses scanning

dengan menggunakan laser.

c. Imaging Plate Reader

Imaging Plate Reeader (IP Reader) adalah komponen penting lain

dari kontrol akusisi gambar. IP Reader mengubah continous analog

information (gambaran laten) pada IP menjadi format digital.

d. Image Reader

Image reader adalah komponen pada sistem CR yang mempunyai

beberapa fungsi yaitu melakukan proses pembacaan pada Imaging

Plate dan melakukan proses penghapusan data pada Imaging Plate.

Data pada Imaging plate berupa bayangan laten distimulasi dengan

neon-helium laser kemudian akan terjadi peristiwa Luminisensi,

sehingga Imaging Plate akan memancarkan cahaya. Selanjutnya

cahaya tersebut akan ditangkap oleh Photo Multiplier Tube (PMT)

menjadi sinyal elektrik yang akan dikonversi ke dalam data digital


14

oleh Analog Digital Converter (ADC), kemudian data digital

tersebut akan ditampilkan pada layar monitor atau LCD.

e. Laser Printer

Laser Printer merupakan alat pengolah gambar dan memprosesnya

diatas film. Dilengkapi dengan Multi-Formeter Main Features yang

memungkinkan untuk memformat gambar dan mengolah gambar

lebih tajam, dapat mengolah radiograf dengan kecepatan tinggi serta

menghasilkan kualitas yang baik dan stabil.

f. Film Computed Radiography

Film yang digunakan adalah photothemographic yang tidak

menggunakan butiran perak halida, namun butiran perak behenate

(AgC22H43O2). Film yang telah dieksposi kemudian discan dengan

laser. Setelah dilaser, film dipanaskan pada temperatur 1250 oC

selama 24 detik untuk memproses gambar.

2.5. Kualitas Radiografi

Sebuah radiografi diharuskan biasa memberikan informasi yang jelas

dalam upaya menegakkan sebuah diagnosa. Ketika radiograf yang dihasilkan

mempunyai semua informasi yang dibutuhkan dalam menegakkan diagnosa, maka

radiografi dikatakan memiliki kualitas radiograf yang tinggi. Untuk memenuhi

kualiatas gambaran radiografi yang tinggi, maka sebuah radiografi harus

memenuhi beberapa aspek yang akan dinilai pada sebuah radiograf yaitu densitas,

kontras, ketajaman dan detail. Semua aspek ini harus bernilai baik supaya
15

radiograf bisa dikatakan mempunyai kualitas gambaran yang baik (Rahman,

2009).

1. Densitas

Densitas yang umum adalah derajat kehitaman pada film. Hasil dari

eksposi film setelah diproses menghasilkan efek penghitaman karena

sesuai dengan sifat emulsi film yang akan menghitam apabila di ekposi.

Derajat kehitaman ini tergantung pada tingkat eksposi yang diterima baik

itu KV maupun mAs (Rahman, 2009).

Jumlah keseluruhan wilayah gelap yang dihasilkan pada gambar setelah

pengolahan. Radiografi harus memiliki densitas yang cukup untuk

menggambarkan struktur anatomi. Radiografi yang terlalu terang tidak

memiliki densitas yang cukup untuk menggambarkan struktur anatomi.

Sebaliknya, radiografi yang terlalu gelap memiliki densitas yang melebihi

batas, dan bagian anatomi tidak akan tergambar dengan baik. Radiografe

harus mengevaluasi densitas pada radiograf untuk menetukan apakah

cukup untuk menggambarkan daerah anatomi yang diamati radiografer

tersebut selanjutnya akan memutuskan apakah radiograf sudah optimal,

dapat didiagnosa, atau menolaknya (Fauber, 2000).

2. Kontras

Kontras merupakan faktor fotografi yang juga mempengaruhi visibilitas

detail gambaran. Kontras adalah derajat perbedaan antara densitas yang

berdekatan. Untuk membedakan antara densitas ini memungkinkan

perbedaan jaringan anatomi unntuk divisualisasikan. Gambar yang


16

memiliki densitas yang cukup tetapi tidak berbeda pada densitas akan

terlihat sebagai objek yang sama (Fauber, 2000).

Menurut Rahman tahun (2009) Kontras adalah perbedaan densitas pada

area yang berdekatan dalam radiograf. Kontras dapat dirumuskan sebagai

berikut :

C = D2 –D1

Kontras antara bagian yang berbeda pada gambaran akan membentuk

gambaran tersebut. Semakin besar nilai kontras maka gambaran akan

semakin jelas terlihat.

3. Ketajaman

Sifat-sifat geometri suatu gambar mengacu pada ketajaman garis struktur

yang dicatat dalam gambar radiografi. Gambar radiografi tidak dapat

menjadi konstruksi-rekonstruksi yang tepat dari struktur anatomi.

Beberapa informasi selalu hilang selama proses pembentukan gambar. Ini

adalah tanggung jawab radiografer untuk meminimalkan jumlah

informasi yang hilang dengan akurat memanipulasi faktor-faktor yang

mempengaruhi ketajaman gambar yang direkam (Fauber, 2000).

Jika kontras didefenisikan sebagai penguat densitas, maka ketajaman

memperlihatkan bagaimana perubahan densitas pada perbatasan antara

daerah yang berdekatan. Batas antara dua area yang muncul bisa sangat

tajam, hal ini dikarenakan terdapat perubahan drastis nilai densitas pada

batas tersebut. Dapat diambil kesimpulan bahwa semakin tinggi nilai

kontras, maka semakin tajam gambar yang dihasilkan (Rahman, 2009).


17

4. Detail

Detail adalah kemampuan untuk memperlihatkan struktur yang sangat

kecil pada sebuah film. Pada sebuah pemeriksaan radiografi, ada bagian

dari gambaran tersebut yang memiliki struktur sangat kecil namun sangat

penting dalam menegakkan diagnosa (Rahman, 2009).

Detail yang tercatat mengacu pada keunikan atau ketajaman garis

struktural yang membentuk gambar yang direkam. Kemampuan gambar

radiografi untuk menunjukan garis tajam akan menentukan kualitas detail

direkam. Proses pencitraan tidak memugkinkan untuk menghasilkan

gambar radiografi tanpa beberapa derajat ketidak tajaman (Fauber, 2000).

2.6. Repeat Analysis

Repeat Analysis adalah suatu proses sistematik untuk mendata gambar-

gambar yang di ulang dan menentukan penyebab pengulangan yang terjadi

sehingga pengulangan akan dapat diminimalisasi bahkan dihilangkan.

(Papp, 2006).

Menurut AAPM (American Association of Physicists in Medicine) No 74,

Salah satu tujuan utama dari setiap fasilitas radiologi harus meminimalkan

exposur kepada pasien, salah satu cara untuk mencapai tujuan ini yaitu dengn

meminimalkan jumlah exposur radiasi pengion kepada pasien. Menurut defenisi

repeat analysis adalah hasil radiograf pasien yang tidak dapat diterima dan

memerlukan exposur tambahan untuk mendapatkan hasil gambaran yg optimal.

Manfaat yang dapat diambil dari pelaksanaan program Repeat Analysis yaitu

untuk mempertahankan kualitas radiograf, menekan jumlah dosis yang diterima


18

pasien dengan tidak melakukan pengulangan foto dan juga dapat menekan biaya

produksi dalam unit instalasi radiologi.

2.6.1. Tujuan Repeat Analysis

Tujuan dari program Repeat Analysis adapun sebagai berikut:

1. Mencoba mengidentifikasi dimana dan mengapa pengulangan foto

terjadi.

2. Memastikan peralatan dapat dimanfaatkan secara konsisten dengan

standar yang tinggi.

3. Untuk menekan dosis radiasi yang diterima pasien.

4. Menyediakan data untuk digunakan dalam menganalisa film yang

ditolak dan aspek-aspek penyebab yang membutuhkan perhatian.

5. Memastikan bahan-bahan yang ada digunakan secara efektif.

6. Sebagai perencanaan awal dari quality control program.

7. Menganalisa jumlah pengulangan yang dilakukan sebagai sebuah

persentase dari pengulangan yang dilakukan (J Lloyd,2001).

2.6.2. Faktor-Faktor Penyebab Pengulangan (Repeat)

Adapun faktor-faktor penyebeb pengulangan (Repeat) yaitu:

1. Kesalahan Pengulangan Akibat Pergerakan Pasien

Pergerakan pasien akan menyebabkan gambaran radiografi menjadi

kabur hal ini mengakibatkan kerugian yang signifikan terhadap

gambaran radiograf yang dihasilkan (Papp, 2006)

Menurut Rahman (2009) Biasanya pergerakan pasien terjadi pada

pasien yang tidak kooperatif. Oleh karena itu sebaiknya pada pasien
19

yang seperti ini harus dilakukan fiksasi dan menggunakan faktor

eksposi yang tepat dengan menggunakan mA dan s yang kecil, sehingga

waktu yang digunakan relatif singkat.

Gambar 2.3 Kesalahan akibat pergerakan pasien


(Sumber: Papp, 2006)

2. Kesalahan penolakan radiograf akibat faktor Petugas

Posisi pasien sangat berpengaruh terhadap hasil yang diperoleh untuk

keperluan diagnosa, agar mendapatkan hasil diagnosa yang akurat maka

salah satunya harus dibuat posisi pasien yang baik sesuai dengan

kriteria, karena apabila posisi pasien tidak sesuai dengan kriteria yang

ada, maka dalam pembacaan dokter radiolog akan terjadi kesalahan dan

akan menjadi kesalahan yang fatal. Saat memposisikan pasien sering

terjadi kesalahan terutama pada pasien yang non kooperatif. Persentase

dari pasien yang kooperatif dengan yang non kooperatif, lebih tinggi

terjadi kegagalan pada pasien yang non kooperatif. Hal ini yang sering
20

terjadi dan merupakan masalah untuk menghasilkan gambaran yang

optimal (Papp, 2006).

Contoh foto kesalahan akibat petugas ditunjukan oleh gambar 2.4

dibawah ini :

Gambar 2.4 Kesalahan akibat petugas


(Sumber: Papp, 2006)

3. Kesalahan pengulangan akibat peralatan (machine errors)

a. Pesawat sinar-X

Komponen yang tersedia ketika sinar-X diproduksi antara lain :

1) Tube Housing atau rumah tabung

Rumah tabung terbuat dari besi baja, berfungsi untuk menahan

radiasi bocor dari tabung sinar-X, menahan tegangan tinggi,

pendingin tabung sinar-X, disamping itu juga berfungsi

melindungi insert tube yang terbuat dari pyrex.

2) Tabung gelas hampa udara atau glass envelope

Pada pesawat sinar-X harus memiliki tabung gelas hampa udara.

Hal ini dikarenakan kalau kondisi tabung tidak dalam tekanan


21

rendah atau vakum maka electron yang akan dipercepat dari

katoda menuju anoda justru akan berinteraksi dengan ion-ion

udara akibatnya jumlah elektron yang menuju anoda akan

berkurang sehingga mengakibatkan berkas sinar-X berkurang.

3) Katoda

Pada katoda terdapat filament dan focusing cup. Katoda

berfungsi sebagai kutub negatif, dan sebagai penyalur panas.

Apabila dipanaskan pada temperature tertentu filamen akan

terjadi pembentukan ion negatif atau elektron.

4) Anoda

Anoda adalah tempat terjadinya tumbukan elektron yang terbuat

dari bahan tungsten. Anoda diam sudah sejak lama ditinggalkan

karena tumbukan hanya terjadi pada satu titik, akibatnya anoda

akan cepat haus atau bopeng.

5) Perangkat tambahan

Terdiri dari filter atau pembatas berkas sinar-X dengan

intensitas yang rendah dan meneruskan berkas sinar-X dengan

intensitas yang tinggi. Pembatas berkas adalah suatu cara untuk

membatasi sinar-X yang keluar dari tabung yang dipasang pada

bagian bawah tabung sehingga sinar-X yang keluar dari tabung

sesuai obyek.
22

b. Processing Menggunakan CR

Meskipun pengolahan film pada Computed Radiography sudah

tidak menggunakan cairan seperti yang dipakai pada Automatic

Processing, artefact masih dapat terjadi (Papp, 2006).

Adapun pengulangan yang disebabkan oleh Computed Radiography

adalah:

1) Cacat pada plat pencitraan

Adanya goresan atau retakan dalam gambar plat Computed

Radiography dapat mengganggu gambaran yang dapat

mengakibatkan kesalahan dalam pengambilan suatu keputusan

dokter, oleh karna itu plat gambar harus diperiksa secara berkala

dan plat yang rusak harus diganti.

2) Phantome image artifacts

Suatu data dari gambar sebelumnya yang mengganggu data

gambaran baru dikarnakan berkas yang masih tertinggal tidak

terhapus dengan benar sebelum digunakan kembali.

3) Double exposure

Disebabkan karena kaset terkena dua kali ekspos saat

pengambilan gambar pada saat yang bersamaan.

4) Malfunction scanner

Kerusakan scanner pada CR dapat mengakibat kan terlewat nya

bagian plat yang seharusnya dilewati garis scan, ini juga dapat

disebabkan oleh debu, masalah memori dan masalah digitalisasi.


23

Laser juga memiliki masa yang terbatas dan harus diganti secara

berkala.

5) Error printer

Dalam pemprosesannya CR bergantung pada printer laser kering

untuk menghasilkan hard copy gambar. Meskipun perangkat ini

umum nya lebih handal dari pemprosesan film basah, perangkat

ini masih memiliki kelemahan terhadap kebocoran cahaya dan

masalah transportasi, ini dapat mengakibatkan artifact seperti

(shadding) yang mengakibatkan area gelap pada gambar dan

(efek korduroi) dimana garis scan disebabkan oleh masalah

transportasi muncul dalam gambar.

Under Exposure Over Exposure


Gambar 2.5 Under Exposure dan Over Exposure
(Sumber: Papp, 2006)
24

4. Kesalahan pengulangan akibat Artefact


Artefact adalah kesalahan pengolahan film yang membentuk bayangan
putih pada film setelah diproses. Artefact biasanya terjadi karena
permukaan IS yang tidak bersih. Maka pendaran yang dihasilkan oleh
IS akan tertahan sehingga sedikit pendaran cahaya yang sampai ke film.
Akibatnya film tidak menghitam atau putih saat pengolahan film.
Artefact biasanya disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain :
a. Artefact yang disebabkan oleh intensifying screen
Intensifying screen adalah sebuah tabir atau lapisan yang apabila
terkena eksposi sinar-X akan mengalami pendaran cahaya. Pendaran
cahaya ini dimanfaatkan untuk menghasilkan bayangan pada film
yang berada pada kaset. Intensifying screen berfungsi untuk
merubah foton sinar-x menjadi foton cahaya tampak.
b. Artefact yang disebabkan oleh light fog
Light fog adalah fog yang terjadi karena adanya eksposi oleh cahaya
yang berasal dari safelight. Meskipun safelight memiliki sifat yang
aman terhadap emulsi, tetapi bagaiman juga cahaya safelight akan
mengakibatkan fog jika waktu kontak dengan cahaya safelight
dengan film terlalu lama. Secara spesifik penyebab light fog adalah
sebagai berikut :
1) kesalahan warna safelight.
2) Filter bocor / cahaya lampu terlalu kuat.
3) Film terlalu lama terkena cahaya safelight.
c. Artefact yang disebabkan oleh streaking
Streaking adalah jalur atau coretan yang terdapat pada film.
Gambaran streaking bisa berbentuk jalur berwarna hitam atau bisa
berbentuk jalur berminyak pada permukaan film yang bisa dilihat
saat film dimiringkan. Penyebab streaking adalah sebagai berikut :
1) Pada waktu pembangkitan film diangkat, sehingga cairan
developer menetes kebawah. Cairan yang menetes kebagian
25

bawah silm saat diproses masih bisa menghitamkan bagian yang


dilewatinya.
2) Adanya residu fixer yang mongering. Penanganannya, ketika
film selesai dari fixer maka harus langsung dicuci sampai bersih.
Dengan menggunakan air bersih yang bertujuan untuk
mencegah agar tidak terdapat residu dari [Link] jika residu
dari fixer masih ada kemudian langsung dikeringkan maka
residu ini akan mengering, maka film akan mengalami streaking
(Rahman, 2009).

2.6.3. Persiapan dalam Program Repeat Analysis

Menurut J Lloyd (2001) adapun persiapan yang dilakukan:

1. Merancang program.

2. Menentukan periode dimana program ini akan berjalan.

3. Menentukan awal dan akhir tanggal dan waktu pelaksanaan.

4. Menginformasikan staf tentang program yang akan dilakukan.

2.6.4. Metode Program Repeat Analysis

1. Mengumpulkan semua pengulangan yg dilakukandalam rentang waktu

3 bulan.

2. Mencatat jumlah pengulangan pada lembar data.

3. Setelah pengumpulan data selesai, hitung pengulangan yang dilakukan.

4. menghitung pengulangan yang dilakukan dikurangi jumlah pemeriksaan

yang dilakukan.
26

5. menghitung pemeriksaan yang dilakukan dikurangi penghitungan

pengulangan dengan sebab tertentu.

6. Menganalisa data

Informasi berikut dapat diperoleh dari analisis data :

a. Jumlah keseluruhan pengulangan.

b. Jumlah pengulangan oleh kesalahan.

c. Identifikasi kesalahan umum.

d. Pengulangan film sebagai persentase dari pemeriksaan yang

dilakukan (J Lloyd, 2001).

Menurut Papp (2006), besarnya angka pengulangan dapat dihitung dengan

rumus :

Jumlah pengulangan yang dilakukan


x 100 %
Jumlah pemeriksaan yang dilakukan

Menentukan angka pengulangan setiap kategori :

Jumlah pengulangan dengan sebab tertentu


x 100%
Jumlah pengulangan yang dilakukan

2.6.5. Batasan-batasan Radiograf yang Diterima

Menurut kepmenkes RI nomor: 129/Menkes/SK/II/2008 Batasan radiograf

yang diterima adalah:

1. Periode analisis dilakukan selama 3 bulan.

2. Idealnya angka pengulangan radiograf < 2% selama 3 bulan.


27

2.6.6. Manfaat Repeat Analysis

Adapun manfaat dari Repeat analysisyaitu:

1. Mampu mengidentifikasi kesalahan utama dan menempatkan langkah-

langkah untuk mengurangi pengulangan.

2. Menghemat uang / dana dengan mengurangi penolakan film.

3. Mengurangi dosis radiasi kepada pasien.

4. Menghemat waktu dan tenaga.

5. Memberikan data yang ada sebagai perbandingan (J Lloyd, 2001).

2.6.7. Tindakan Setelah Program Repeat Analysis

Adapun tindakan yang dilakukan setelah programRepeat analysis selesai

adalah :

1. Peringkat kesalahan dalam urutan frekuensi.

2. Mengidentifikasi kesalahan yang paling umum.

3. Menyiapkan program perbaikan untuk memperbaiki kesalahan.

4. Menginformasikan staf temuan dan tindakan perbaikan.

5. Memulai program tindakan perbaikan.

6. Mencalonkan tanggal untuk analisis lain jika dirasa perlu.

7. Data file untuk referensi dimasa mendatang (J Lloyd,2001).


28

2.7. Kerangka Teori

Pemeriksaan Radiograf

Jumlah Pemeriksaan

Radiograf yang diulang Radiograf yang tidak


diulang

Repeat Analysis

Faktor Faktor Faktor Artefacts


Pasien Petugas Peralatan

Gambar 2.6 Kerangka Teori


(Sumber : Papp,2006)
29

2.8. Kerangka Konsep

2.8.1. Variabel Penelitian

1. Variabel Independen merupakan variable bebas yang mempengaruhi

faktor yang diukur atau dipilih oleh seorang peneliti untuk menetapkan

atau menentukan fenomena yang diamati. Dalam penelitian ini variabel

Independen adalah Repeat analysis

2. Variabel Dependen sering diebut dengan terkait yaitu variabel yang

disebabkan atau dipengaruhi oleh variabel bebas atau Independen. Dalam

penelitian ini variabel Dependen adalah Faktor pasien, faktor petugas dan

faktor peralatan.

Variabel Independen Variabel Dependen

Faktor pasien
Repeat Analysis
Faktor petugas

Faktor peralatan

Artefacts

Gambar 2.7 Kerangka Konsep

Anda mungkin juga menyukai