BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Jaminan Mutu / Quality Assurance
Jaminan mutu (QA) adalah keseluruhan dari program manajemen
(pengolahan) yang diselenggarakan guna menjamin pelayanan kesehatan radiologi
prima dengan cara pengumpulan data dan melakukan evaluasi secara sistematis.
(Papp, 2006). Mutu pelayanan radiologi sangat tergantung pada mutu atau kualitas
sumber daya manusia, kualitas produk radiografi, kualitas diagnosa fasilitas
radiologi meliputi sarana, prasarana dan peralatan radiologi, serta kualitas
tindakan proteksi radiasi. Pelayanan radiologi yang meliputi standar jaminan mutu
akan memberikan informasi diagnostik yang tepat dengan paparan radiasi yang
serendah mungkin terhadap pasien dan personil. Jaminan mutu biasanya
membutuhkan evaluasi secara terus-menerus dan biasanya digunakan sebagai alat
manajemen (Permenkes No 780/Menkes/VIII/2008).
2.1.1. Tujuan Quality Assurance
Menurut permenkes No 1250/Menkes/SK/XII/2009 tujuan dari Quality
Assurance meliputi:
1. Tujuan umum:
Untuk meningkatkan pelayanan radiodiagnostik yang diselenggarakan
oleh sarana pelayanan masyarakat di seluruh Indonesia.
6
7
2. Tujuan khusus:
a. Sebagai pedoman bagi sarana prasarana kesehatan dalam upaya
meningkatkan mutu pelayanan radiodiagnostik.
b. Sebagai acuan bagi sarana pelayanan kesehatan dalam
menyelenggarakan kendali mutu peralatan radiodiagnostik.
2.2. Kendali Mutu / Quality Control (QC)
Quality Control adalah bagian dari program jaminan mutu yang
berhubungan dengan teknik yang digunakan dalam pemantauan dan pemeliharaan
unsur-unsur teknis dari sistem yang mempengaruhi kualitas gambar. Oleh karena
itu, kendali mutu adalah bagian dari program QA yang berhubungan dengan
instrumentasi dan peralatan (Papp, 2006).
1. Pengujian dilakukan pada peralatan baru atau peralatan yang telah
mengalami perbaikan besar. Hal ini juga dapat mendeteksi cacat yang ada
didalam peralatan. Hasil yang diperoleh selama pengujian penerimaan
juga digunakan untuk menetapkan baseline kinerja dari peralatan yang
digunakan sebagai titik acuan dalam pengujian kendali kontrol dimasa
depan.
2. Evaluasi kinerja rutin adalah tes khusus dilakukan pada peralatan yang
digunakan setelah jangka waktu tertentu telah berlalu. Evaluasi ini dapat
memverifikasi bahwa peralatan yang digunakan sesuai dengan standar
yang digunakan sebelumnya dan dapat digunakan untuk mendiagnosa
setiap pemeriksaan untuk mendapatkan kualitas yang baik.
8
3. Tes koreksi kesalahan yaitu untuk mengevaluasi peralatan yang rusak
atau tidak diketahui saat pembuatan alat dan juga digunakan untuk
memverifikasi penyebab yang benar dari kerusakan sehingga perbaikan
dapat dilakukan dengan tepat (Papp, 2006).
2.3. Sinar-X
Sinar-X ditemukan pertama kali oleh fisikawan berkebangsaan Jerman
Wilhelm Conrad Rontgen pada tanggal 8 November 1895. Pada saat rontgen
menyalakan sumber listrik tabung untuk penelitian sinar katoda, W. C Rontgen
mendapat kan bahwa sejenis cahaya berpendar pada layar yang terbuat dari
Barium Platino Cyanida yang kebetulan berada di dekatnya. Jika sumber listrik
dipadamkan, maka cahaya pendar pun hilang. Rontgen segera menyadari adanya
sinar yang tidak kelihatan telah muncul dari dalam tabung sinar katoda. Karena
sinar ini sebelumnya tidak pernah diketahui maka diberi nama sinar-X (Akhadi,
2000).
2.3.1. Proses terjadinya sinar-X
Tabung sinar-X adalah tabung yang berbuat dari gelas atau pyrex yang
hampa udara. Didalam tabung sinar-X terdapat dua buah elektroda yaitu katoda
dan anoda. Katoda betfungsi sebagai elektroda negatif dan anoda sebagai
elektroda positif. Ketika filamen yang melekat pada katoda dipanaskan maka
filamen akan mengeluarkan elektron, semakin lama di panaskan maka jumlah
elektron yang berbentuk semakin banyak yang disebut dengan awan elektron.
Kemudian diantara anoda dan katoda diberikan tegangan antara 40 kV sampai
dengan 125 kV sehingga elektron akan bergerak cepat menuju target yang akan
9
menghasilkan tumbukan. Tumbukan ini akan menghasilkan sinar-X adalah 1 %
dan panas 99 %. Elektron yang bergerak ini disebut elektron proyektil, karena
perbedaan tegangan antar anoda dan katoda menyebabkan elektron ini bergerak
cepat dari anoda ke katoda. Sehingga sinar-X yang dihasilkan akan keluar dari
tabung melalui window/jendela (Sari, 2010). Proses terjadinya sinar-X ditunjukan
oleh gambar 2.1. di bawah ini:
Gambar 2.1. Proses terjadinya sinar-X
(Sumber : Rahman, 2009)
2.3.2. Sifat-sifat Sinar-X
Menurut Rahman (2009) sinar-X sebagaimana gelombang elektromagnetik
lainnya mempunyai sifat. Sifat-sifat sinar-X tersebut adalah:
1. Mempunyai panjang gelombang (λ) yang sangat pendek yaitu antara
10ˉ¹³ s/d 10ˉ¹º meter.
2. Mempunyai energi yang sangat besar yaitu antara 104 s/d 105 eV
sehingga sinar-X mempunyai daya tembus yang besar pula.
3. Mengalami atenuasi ( perlemahan ) intensitas setelah menembus bahan
4. Tidak terlihat, tidak terasa dan tidak berbau.
10
5. Dapat memendarkan beberapa jenis bahan tertentu (biasanya bahan
jenis phosfor).
6. Tidak berpengaruh terhadap medan magnet maupun medan listrik.
7. Dapat menghitamkan emulsi film.
8. Mempunyai efek terhadap sel-sel hidup, efek ini bisa bersifat negatif
tetapi ada juga yang bersifat positif.
9. Apabila mengenai suatu bahan/materi akan terjadi 3 hal yaitu :
a. Dipantulkan (dengan energi yang lebih rendah).
b. Diserap.
c. Diteruskan
2.4. Computed Radiography (CR)
Computed radiography (CR) merupakan metode akuisisi citra digital yang
digunakan secara umum dalam radiografi diagnostik. Faktor eksposi diperlukan
untuk CR sama dengan yang digunakan dalam teknik film-screen pada
konvensional. CR merupakan sitem pencitraan digital yang memiliki exposure
lalitude yang luas, yang mengurangi jumlah pengulangan yang disebabkan oleh
pemilihan faktor eksposi yang salah. Akurasi faktor eksposi yang dipilih
dikonfirmasi dengan memeriksa indeks paparan, setalah citra diproses secara
digital (Bushong, 2001).
11
CR di RSSN Bukittinggi ditunjukkan oleh gambar 2.2 di bawah ini:
Gambar 2.2 Computed Radiography
(Sumber: Dokumentasi RSSN Bukittinggi: 2017)
1. Prinsip Kerja Computed Radiography adalah:
a. IP (Imaging plate) di ekspos dengan sinar-X, maka akan
menghasilkan bayangan laten pada IP.
b. IP cassete kemudian dimasukkan ke dalam image reader. Pada
image reader, bayangan laten yang disimpan pada phosphor, dibaca
dan dikeluarkan menggunakan cahaya infra merah untuk
menstimulus phosphor, sehingga mengakibatkan energi yang
tersimpan berubah menjadi cahaya tampak.
c. Cahaya yang dikeluarkan dari permukaan plate akan ditangkap oleh
sebuah pengumpul cahaya dan diteruskan ke tabung photomultiplier
yang mengubah energi cahaya tersebut menjadi sinyal listrik analog.
d. Selanjutnya sinyal analog diubah menjadi sinyal digital oleh
rangkaian Analog to Digital Converter (ADC) dan diproses dalam
komputer.
12
e. Setelah proses pembacaan selesai, data gambar pada imaging plate
dapat dihapus dengan cara imaging plate dikenai cahaya yang kuat.
Hal ini membuat imaging plate dapat dipergunakan kembali.
f. Setelah gambaran tampil dilayar monitor, gambaran tersebut dapat
direkonstruksi atau dimanipulasi pada image console sehingga
mendapatkan gambaran yang diinginkan.
g. Apabila gambaran sudah baik, maka terdapat dua pilihan, apakah
gambaran akan dicetak dengan film atau disimpan dengan file
khusus. Jika ingin dicetak maka gambaran akan dicetak
menggunakan lasser (Bushong, 2001).
2. Kelebihan CR adalah :
a. Biaya operasional lebih rendah dari konvensional.
b. Foto bisa diprint lebih kecil.
c. Tidak menggunakan bahan kimia, tetapi menggunakan komputer.
d. Gambar dapat diatur sesuai keinginan.
e. Gambar dapat disimpan dalam bentuk cetak film, hard disk,
compact disk (Bushong, 2001).
3. Komponen CR adalah :
Menurut bushong (2001), adapun komponen Computed Radiography
adalah ;
13
a. Kaset
Kaset pada Computed Radiography terbuat dari carbon fiber dan
bagian belakang terbuat dari aluminium, kaset ini berfungsi sebagai
pelindung dari Imaging Plate.
b. Imaging Plate Storage Phospore Screen
Imaging Plate (IP) merupakan komponen utama pada sistem
Computed Radiography. Imaging plate adalah plat film yang
mempunyai kemampuan menyimpan energi sinar-X, dan energi
tersebut dapat dibebaskan atau dikeluarkan melalui proses scanning
dengan menggunakan laser.
c. Imaging Plate Reader
Imaging Plate Reeader (IP Reader) adalah komponen penting lain
dari kontrol akusisi gambar. IP Reader mengubah continous analog
information (gambaran laten) pada IP menjadi format digital.
d. Image Reader
Image reader adalah komponen pada sistem CR yang mempunyai
beberapa fungsi yaitu melakukan proses pembacaan pada Imaging
Plate dan melakukan proses penghapusan data pada Imaging Plate.
Data pada Imaging plate berupa bayangan laten distimulasi dengan
neon-helium laser kemudian akan terjadi peristiwa Luminisensi,
sehingga Imaging Plate akan memancarkan cahaya. Selanjutnya
cahaya tersebut akan ditangkap oleh Photo Multiplier Tube (PMT)
menjadi sinyal elektrik yang akan dikonversi ke dalam data digital
14
oleh Analog Digital Converter (ADC), kemudian data digital
tersebut akan ditampilkan pada layar monitor atau LCD.
e. Laser Printer
Laser Printer merupakan alat pengolah gambar dan memprosesnya
diatas film. Dilengkapi dengan Multi-Formeter Main Features yang
memungkinkan untuk memformat gambar dan mengolah gambar
lebih tajam, dapat mengolah radiograf dengan kecepatan tinggi serta
menghasilkan kualitas yang baik dan stabil.
f. Film Computed Radiography
Film yang digunakan adalah photothemographic yang tidak
menggunakan butiran perak halida, namun butiran perak behenate
(AgC22H43O2). Film yang telah dieksposi kemudian discan dengan
laser. Setelah dilaser, film dipanaskan pada temperatur 1250 oC
selama 24 detik untuk memproses gambar.
2.5. Kualitas Radiografi
Sebuah radiografi diharuskan biasa memberikan informasi yang jelas
dalam upaya menegakkan sebuah diagnosa. Ketika radiograf yang dihasilkan
mempunyai semua informasi yang dibutuhkan dalam menegakkan diagnosa, maka
radiografi dikatakan memiliki kualitas radiograf yang tinggi. Untuk memenuhi
kualiatas gambaran radiografi yang tinggi, maka sebuah radiografi harus
memenuhi beberapa aspek yang akan dinilai pada sebuah radiograf yaitu densitas,
kontras, ketajaman dan detail. Semua aspek ini harus bernilai baik supaya
15
radiograf bisa dikatakan mempunyai kualitas gambaran yang baik (Rahman,
2009).
1. Densitas
Densitas yang umum adalah derajat kehitaman pada film. Hasil dari
eksposi film setelah diproses menghasilkan efek penghitaman karena
sesuai dengan sifat emulsi film yang akan menghitam apabila di ekposi.
Derajat kehitaman ini tergantung pada tingkat eksposi yang diterima baik
itu KV maupun mAs (Rahman, 2009).
Jumlah keseluruhan wilayah gelap yang dihasilkan pada gambar setelah
pengolahan. Radiografi harus memiliki densitas yang cukup untuk
menggambarkan struktur anatomi. Radiografi yang terlalu terang tidak
memiliki densitas yang cukup untuk menggambarkan struktur anatomi.
Sebaliknya, radiografi yang terlalu gelap memiliki densitas yang melebihi
batas, dan bagian anatomi tidak akan tergambar dengan baik. Radiografe
harus mengevaluasi densitas pada radiograf untuk menetukan apakah
cukup untuk menggambarkan daerah anatomi yang diamati radiografer
tersebut selanjutnya akan memutuskan apakah radiograf sudah optimal,
dapat didiagnosa, atau menolaknya (Fauber, 2000).
2. Kontras
Kontras merupakan faktor fotografi yang juga mempengaruhi visibilitas
detail gambaran. Kontras adalah derajat perbedaan antara densitas yang
berdekatan. Untuk membedakan antara densitas ini memungkinkan
perbedaan jaringan anatomi unntuk divisualisasikan. Gambar yang
16
memiliki densitas yang cukup tetapi tidak berbeda pada densitas akan
terlihat sebagai objek yang sama (Fauber, 2000).
Menurut Rahman tahun (2009) Kontras adalah perbedaan densitas pada
area yang berdekatan dalam radiograf. Kontras dapat dirumuskan sebagai
berikut :
C = D2 –D1
Kontras antara bagian yang berbeda pada gambaran akan membentuk
gambaran tersebut. Semakin besar nilai kontras maka gambaran akan
semakin jelas terlihat.
3. Ketajaman
Sifat-sifat geometri suatu gambar mengacu pada ketajaman garis struktur
yang dicatat dalam gambar radiografi. Gambar radiografi tidak dapat
menjadi konstruksi-rekonstruksi yang tepat dari struktur anatomi.
Beberapa informasi selalu hilang selama proses pembentukan gambar. Ini
adalah tanggung jawab radiografer untuk meminimalkan jumlah
informasi yang hilang dengan akurat memanipulasi faktor-faktor yang
mempengaruhi ketajaman gambar yang direkam (Fauber, 2000).
Jika kontras didefenisikan sebagai penguat densitas, maka ketajaman
memperlihatkan bagaimana perubahan densitas pada perbatasan antara
daerah yang berdekatan. Batas antara dua area yang muncul bisa sangat
tajam, hal ini dikarenakan terdapat perubahan drastis nilai densitas pada
batas tersebut. Dapat diambil kesimpulan bahwa semakin tinggi nilai
kontras, maka semakin tajam gambar yang dihasilkan (Rahman, 2009).
17
4. Detail
Detail adalah kemampuan untuk memperlihatkan struktur yang sangat
kecil pada sebuah film. Pada sebuah pemeriksaan radiografi, ada bagian
dari gambaran tersebut yang memiliki struktur sangat kecil namun sangat
penting dalam menegakkan diagnosa (Rahman, 2009).
Detail yang tercatat mengacu pada keunikan atau ketajaman garis
struktural yang membentuk gambar yang direkam. Kemampuan gambar
radiografi untuk menunjukan garis tajam akan menentukan kualitas detail
direkam. Proses pencitraan tidak memugkinkan untuk menghasilkan
gambar radiografi tanpa beberapa derajat ketidak tajaman (Fauber, 2000).
2.6. Repeat Analysis
Repeat Analysis adalah suatu proses sistematik untuk mendata gambar-
gambar yang di ulang dan menentukan penyebab pengulangan yang terjadi
sehingga pengulangan akan dapat diminimalisasi bahkan dihilangkan.
(Papp, 2006).
Menurut AAPM (American Association of Physicists in Medicine) No 74,
Salah satu tujuan utama dari setiap fasilitas radiologi harus meminimalkan
exposur kepada pasien, salah satu cara untuk mencapai tujuan ini yaitu dengn
meminimalkan jumlah exposur radiasi pengion kepada pasien. Menurut defenisi
repeat analysis adalah hasil radiograf pasien yang tidak dapat diterima dan
memerlukan exposur tambahan untuk mendapatkan hasil gambaran yg optimal.
Manfaat yang dapat diambil dari pelaksanaan program Repeat Analysis yaitu
untuk mempertahankan kualitas radiograf, menekan jumlah dosis yang diterima
18
pasien dengan tidak melakukan pengulangan foto dan juga dapat menekan biaya
produksi dalam unit instalasi radiologi.
2.6.1. Tujuan Repeat Analysis
Tujuan dari program Repeat Analysis adapun sebagai berikut:
1. Mencoba mengidentifikasi dimana dan mengapa pengulangan foto
terjadi.
2. Memastikan peralatan dapat dimanfaatkan secara konsisten dengan
standar yang tinggi.
3. Untuk menekan dosis radiasi yang diterima pasien.
4. Menyediakan data untuk digunakan dalam menganalisa film yang
ditolak dan aspek-aspek penyebab yang membutuhkan perhatian.
5. Memastikan bahan-bahan yang ada digunakan secara efektif.
6. Sebagai perencanaan awal dari quality control program.
7. Menganalisa jumlah pengulangan yang dilakukan sebagai sebuah
persentase dari pengulangan yang dilakukan (J Lloyd,2001).
2.6.2. Faktor-Faktor Penyebab Pengulangan (Repeat)
Adapun faktor-faktor penyebeb pengulangan (Repeat) yaitu:
1. Kesalahan Pengulangan Akibat Pergerakan Pasien
Pergerakan pasien akan menyebabkan gambaran radiografi menjadi
kabur hal ini mengakibatkan kerugian yang signifikan terhadap
gambaran radiograf yang dihasilkan (Papp, 2006)
Menurut Rahman (2009) Biasanya pergerakan pasien terjadi pada
pasien yang tidak kooperatif. Oleh karena itu sebaiknya pada pasien
19
yang seperti ini harus dilakukan fiksasi dan menggunakan faktor
eksposi yang tepat dengan menggunakan mA dan s yang kecil, sehingga
waktu yang digunakan relatif singkat.
Gambar 2.3 Kesalahan akibat pergerakan pasien
(Sumber: Papp, 2006)
2. Kesalahan penolakan radiograf akibat faktor Petugas
Posisi pasien sangat berpengaruh terhadap hasil yang diperoleh untuk
keperluan diagnosa, agar mendapatkan hasil diagnosa yang akurat maka
salah satunya harus dibuat posisi pasien yang baik sesuai dengan
kriteria, karena apabila posisi pasien tidak sesuai dengan kriteria yang
ada, maka dalam pembacaan dokter radiolog akan terjadi kesalahan dan
akan menjadi kesalahan yang fatal. Saat memposisikan pasien sering
terjadi kesalahan terutama pada pasien yang non kooperatif. Persentase
dari pasien yang kooperatif dengan yang non kooperatif, lebih tinggi
terjadi kegagalan pada pasien yang non kooperatif. Hal ini yang sering
20
terjadi dan merupakan masalah untuk menghasilkan gambaran yang
optimal (Papp, 2006).
Contoh foto kesalahan akibat petugas ditunjukan oleh gambar 2.4
dibawah ini :
Gambar 2.4 Kesalahan akibat petugas
(Sumber: Papp, 2006)
3. Kesalahan pengulangan akibat peralatan (machine errors)
a. Pesawat sinar-X
Komponen yang tersedia ketika sinar-X diproduksi antara lain :
1) Tube Housing atau rumah tabung
Rumah tabung terbuat dari besi baja, berfungsi untuk menahan
radiasi bocor dari tabung sinar-X, menahan tegangan tinggi,
pendingin tabung sinar-X, disamping itu juga berfungsi
melindungi insert tube yang terbuat dari pyrex.
2) Tabung gelas hampa udara atau glass envelope
Pada pesawat sinar-X harus memiliki tabung gelas hampa udara.
Hal ini dikarenakan kalau kondisi tabung tidak dalam tekanan
21
rendah atau vakum maka electron yang akan dipercepat dari
katoda menuju anoda justru akan berinteraksi dengan ion-ion
udara akibatnya jumlah elektron yang menuju anoda akan
berkurang sehingga mengakibatkan berkas sinar-X berkurang.
3) Katoda
Pada katoda terdapat filament dan focusing cup. Katoda
berfungsi sebagai kutub negatif, dan sebagai penyalur panas.
Apabila dipanaskan pada temperature tertentu filamen akan
terjadi pembentukan ion negatif atau elektron.
4) Anoda
Anoda adalah tempat terjadinya tumbukan elektron yang terbuat
dari bahan tungsten. Anoda diam sudah sejak lama ditinggalkan
karena tumbukan hanya terjadi pada satu titik, akibatnya anoda
akan cepat haus atau bopeng.
5) Perangkat tambahan
Terdiri dari filter atau pembatas berkas sinar-X dengan
intensitas yang rendah dan meneruskan berkas sinar-X dengan
intensitas yang tinggi. Pembatas berkas adalah suatu cara untuk
membatasi sinar-X yang keluar dari tabung yang dipasang pada
bagian bawah tabung sehingga sinar-X yang keluar dari tabung
sesuai obyek.
22
b. Processing Menggunakan CR
Meskipun pengolahan film pada Computed Radiography sudah
tidak menggunakan cairan seperti yang dipakai pada Automatic
Processing, artefact masih dapat terjadi (Papp, 2006).
Adapun pengulangan yang disebabkan oleh Computed Radiography
adalah:
1) Cacat pada plat pencitraan
Adanya goresan atau retakan dalam gambar plat Computed
Radiography dapat mengganggu gambaran yang dapat
mengakibatkan kesalahan dalam pengambilan suatu keputusan
dokter, oleh karna itu plat gambar harus diperiksa secara berkala
dan plat yang rusak harus diganti.
2) Phantome image artifacts
Suatu data dari gambar sebelumnya yang mengganggu data
gambaran baru dikarnakan berkas yang masih tertinggal tidak
terhapus dengan benar sebelum digunakan kembali.
3) Double exposure
Disebabkan karena kaset terkena dua kali ekspos saat
pengambilan gambar pada saat yang bersamaan.
4) Malfunction scanner
Kerusakan scanner pada CR dapat mengakibat kan terlewat nya
bagian plat yang seharusnya dilewati garis scan, ini juga dapat
disebabkan oleh debu, masalah memori dan masalah digitalisasi.
23
Laser juga memiliki masa yang terbatas dan harus diganti secara
berkala.
5) Error printer
Dalam pemprosesannya CR bergantung pada printer laser kering
untuk menghasilkan hard copy gambar. Meskipun perangkat ini
umum nya lebih handal dari pemprosesan film basah, perangkat
ini masih memiliki kelemahan terhadap kebocoran cahaya dan
masalah transportasi, ini dapat mengakibatkan artifact seperti
(shadding) yang mengakibatkan area gelap pada gambar dan
(efek korduroi) dimana garis scan disebabkan oleh masalah
transportasi muncul dalam gambar.
Under Exposure Over Exposure
Gambar 2.5 Under Exposure dan Over Exposure
(Sumber: Papp, 2006)
24
4. Kesalahan pengulangan akibat Artefact
Artefact adalah kesalahan pengolahan film yang membentuk bayangan
putih pada film setelah diproses. Artefact biasanya terjadi karena
permukaan IS yang tidak bersih. Maka pendaran yang dihasilkan oleh
IS akan tertahan sehingga sedikit pendaran cahaya yang sampai ke film.
Akibatnya film tidak menghitam atau putih saat pengolahan film.
Artefact biasanya disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain :
a. Artefact yang disebabkan oleh intensifying screen
Intensifying screen adalah sebuah tabir atau lapisan yang apabila
terkena eksposi sinar-X akan mengalami pendaran cahaya. Pendaran
cahaya ini dimanfaatkan untuk menghasilkan bayangan pada film
yang berada pada kaset. Intensifying screen berfungsi untuk
merubah foton sinar-x menjadi foton cahaya tampak.
b. Artefact yang disebabkan oleh light fog
Light fog adalah fog yang terjadi karena adanya eksposi oleh cahaya
yang berasal dari safelight. Meskipun safelight memiliki sifat yang
aman terhadap emulsi, tetapi bagaiman juga cahaya safelight akan
mengakibatkan fog jika waktu kontak dengan cahaya safelight
dengan film terlalu lama. Secara spesifik penyebab light fog adalah
sebagai berikut :
1) kesalahan warna safelight.
2) Filter bocor / cahaya lampu terlalu kuat.
3) Film terlalu lama terkena cahaya safelight.
c. Artefact yang disebabkan oleh streaking
Streaking adalah jalur atau coretan yang terdapat pada film.
Gambaran streaking bisa berbentuk jalur berwarna hitam atau bisa
berbentuk jalur berminyak pada permukaan film yang bisa dilihat
saat film dimiringkan. Penyebab streaking adalah sebagai berikut :
1) Pada waktu pembangkitan film diangkat, sehingga cairan
developer menetes kebawah. Cairan yang menetes kebagian
25
bawah silm saat diproses masih bisa menghitamkan bagian yang
dilewatinya.
2) Adanya residu fixer yang mongering. Penanganannya, ketika
film selesai dari fixer maka harus langsung dicuci sampai bersih.
Dengan menggunakan air bersih yang bertujuan untuk
mencegah agar tidak terdapat residu dari [Link] jika residu
dari fixer masih ada kemudian langsung dikeringkan maka
residu ini akan mengering, maka film akan mengalami streaking
(Rahman, 2009).
2.6.3. Persiapan dalam Program Repeat Analysis
Menurut J Lloyd (2001) adapun persiapan yang dilakukan:
1. Merancang program.
2. Menentukan periode dimana program ini akan berjalan.
3. Menentukan awal dan akhir tanggal dan waktu pelaksanaan.
4. Menginformasikan staf tentang program yang akan dilakukan.
2.6.4. Metode Program Repeat Analysis
1. Mengumpulkan semua pengulangan yg dilakukandalam rentang waktu
3 bulan.
2. Mencatat jumlah pengulangan pada lembar data.
3. Setelah pengumpulan data selesai, hitung pengulangan yang dilakukan.
4. menghitung pengulangan yang dilakukan dikurangi jumlah pemeriksaan
yang dilakukan.
26
5. menghitung pemeriksaan yang dilakukan dikurangi penghitungan
pengulangan dengan sebab tertentu.
6. Menganalisa data
Informasi berikut dapat diperoleh dari analisis data :
a. Jumlah keseluruhan pengulangan.
b. Jumlah pengulangan oleh kesalahan.
c. Identifikasi kesalahan umum.
d. Pengulangan film sebagai persentase dari pemeriksaan yang
dilakukan (J Lloyd, 2001).
Menurut Papp (2006), besarnya angka pengulangan dapat dihitung dengan
rumus :
Jumlah pengulangan yang dilakukan
x 100 %
Jumlah pemeriksaan yang dilakukan
Menentukan angka pengulangan setiap kategori :
Jumlah pengulangan dengan sebab tertentu
x 100%
Jumlah pengulangan yang dilakukan
2.6.5. Batasan-batasan Radiograf yang Diterima
Menurut kepmenkes RI nomor: 129/Menkes/SK/II/2008 Batasan radiograf
yang diterima adalah:
1. Periode analisis dilakukan selama 3 bulan.
2. Idealnya angka pengulangan radiograf < 2% selama 3 bulan.
27
2.6.6. Manfaat Repeat Analysis
Adapun manfaat dari Repeat analysisyaitu:
1. Mampu mengidentifikasi kesalahan utama dan menempatkan langkah-
langkah untuk mengurangi pengulangan.
2. Menghemat uang / dana dengan mengurangi penolakan film.
3. Mengurangi dosis radiasi kepada pasien.
4. Menghemat waktu dan tenaga.
5. Memberikan data yang ada sebagai perbandingan (J Lloyd, 2001).
2.6.7. Tindakan Setelah Program Repeat Analysis
Adapun tindakan yang dilakukan setelah programRepeat analysis selesai
adalah :
1. Peringkat kesalahan dalam urutan frekuensi.
2. Mengidentifikasi kesalahan yang paling umum.
3. Menyiapkan program perbaikan untuk memperbaiki kesalahan.
4. Menginformasikan staf temuan dan tindakan perbaikan.
5. Memulai program tindakan perbaikan.
6. Mencalonkan tanggal untuk analisis lain jika dirasa perlu.
7. Data file untuk referensi dimasa mendatang (J Lloyd,2001).
28
2.7. Kerangka Teori
Pemeriksaan Radiograf
Jumlah Pemeriksaan
Radiograf yang diulang Radiograf yang tidak
diulang
Repeat Analysis
Faktor Faktor Faktor Artefacts
Pasien Petugas Peralatan
Gambar 2.6 Kerangka Teori
(Sumber : Papp,2006)
29
2.8. Kerangka Konsep
2.8.1. Variabel Penelitian
1. Variabel Independen merupakan variable bebas yang mempengaruhi
faktor yang diukur atau dipilih oleh seorang peneliti untuk menetapkan
atau menentukan fenomena yang diamati. Dalam penelitian ini variabel
Independen adalah Repeat analysis
2. Variabel Dependen sering diebut dengan terkait yaitu variabel yang
disebabkan atau dipengaruhi oleh variabel bebas atau Independen. Dalam
penelitian ini variabel Dependen adalah Faktor pasien, faktor petugas dan
faktor peralatan.
Variabel Independen Variabel Dependen
Faktor pasien
Repeat Analysis
Faktor petugas
Faktor peralatan
Artefacts
Gambar 2.7 Kerangka Konsep