92% menganggap dokumen ini bermanfaat (12 suara)
3K tayangan35 halaman

Penerapan dan Audit SMKP Minerba

Dokumen tersebut membahas tentang penerapan Sistem Manajemen Keselamatan Pertambangan (SMKP) pada pertambangan mineral dan batubara. Ia menjelaskan tujuan, ruang lingkup, aspek-aspek, pedoman dan pembinaan/pengawasan penerapan SMKP untuk meningkatkan keselamatan pertambangan.

Diunggah oleh

Aditya Roni SN
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
92% menganggap dokumen ini bermanfaat (12 suara)
3K tayangan35 halaman

Penerapan dan Audit SMKP Minerba

Dokumen tersebut membahas tentang penerapan Sistem Manajemen Keselamatan Pertambangan (SMKP) pada pertambangan mineral dan batubara. Ia menjelaskan tujuan, ruang lingkup, aspek-aspek, pedoman dan pembinaan/pengawasan penerapan SMKP untuk meningkatkan keselamatan pertambangan.

Diunggah oleh

Aditya Roni SN
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.

BRIDGING FOR GL

SMKP
TUJUAN PEMBELAJARAN

Setelah mengikuti training ini diharapkan peserta


harus mampu :

1. Mengetahui Elemen-elemen yang terdapat dalam


Sistem Manajemen Keselamatan Pertambangan
2. Mengetahui dasar hukum penerapan SMKP
3. Mampu mengimplementasikan SMKP di area
kerjanya
HIRARKI HUKUM SMKP

UUD 1945
UUD 1945 Pasal 33 (2 & 3)
Pasal 27 (2)

UU Keselamatan UU Ketenagakerjaan UU Minerba


Kerja UU No.4 /2009
UU No.13 /2003
UU No.1/1970 Pasal 86 & 87 Pasal 96 & 141

PP Penerapan SMK3 PP Binwas Minerba


PP No. 50 / 2012 PP No.55 /2010
Pasal 4 (2) & 19 Pasal 16, 26 & 27

PP Keselamatan
SMKP
Kerja Tambang Kepmen PE
Permen ESDM
No.555.K/26/MPE/1995
PP No.19/1973 No.38 Th.2014
DASAR HUKUM SMKP

- Undang-Undang No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.


- Undang Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.
- Undang-Undang No. 04 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan
Batubara.
- Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 1973 tentang Pengaturan dan
Pengawasan Keselamatan Kerja di Bidang Pertambangan.
- Peraturan Pemerintah No. 55 Tahun 2010 tentang pembinaan dan
Pengawasan Penyelenggaraan Pengelolaan Usaha Pertambangan Mineral &
Batubara.
- Peraturan pemerintah No. 50 Tahun 2012 tentang Penerapan Sistem
Manajemen Keselamatan & Kesehatan Kerja.
- Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No. 38 Tahun 2014
tentang Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan Pertambangan Mineral &
Batubara.
- Keputusan Menteri PE No. 555.K/26/[Link]/1995 tentang Keselamatan dan
Kesehatan Kerja Pertambangan Umum
DEFINISI SMKP
• SMKP Minerba (Sistem Manajemen Keselamatan Pertambangan Mineral dan Batubara)

adalah bagian dari sistem manajemen perusahaan secara keseluruhan dalam


rangka pengendalian risiko keselamatan pertambangan yang terdiri atas keselamatan dan
kesehatan kerja (K3) pertambangan, dan keselamatan operasi (Ko) pertambangan.

• KO Pertambangan (Keselamatan Operasi Pertambangan)

adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi operasional tambang yang
aman, efisien, dan produktif melalui upaya, antara lain pengelolaan sistem dan pelaksanaan
pemeliharaan/ perawatan sarana, prasarana, instalasi, dan peralatan pertambangan,
pengamanan instalasi, kelayakan sarana, prasarana instalasi, dan peralatan pertambangan,
kompetensi tenaga teknik, dan evaluasi laporan hasil kajian teknis pertambangan.

• K3 Pertambangan (Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pertambangan)

adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi pekerja tambang agar
selamat dan sehat melalui upaya pengelolaan keselamatan kerja, kesehatan kerja,
lingkungan kerja, dan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja.
• Keselamatan Pertambangan
adalah segala kegiatan yang meliputi pengelolaan keselamatan dan
kesehatan kerja pertambangan dan keselamatan operasional pertambangan.

• Perusahaan Pertambangan
adalah perusahaan yang melakukan kegiatan usaha pertambangan
mineral dan batubara.

• Perusahaan Jasa Pertambangan


adalah perusahaan yang melakukan usaha jasa pertambangan mineral
dan batubara.

• IUP (Izin Usaha Pertambangan)


adalah izin untuk melaksanakan usaha pertambangan.

• IUPK (Izin Usaha Pertambangan Khusus)


adalah izin untuk melaksanakan usaha pertambangan khusus di Wilayah
Izin Usaha Pertambangan Khusus.
IUP Operasi Produksi khusus untuk pengolahan dan/atau pemurnian
adalah izin usaha yang diberikan kepada perusahaan untuk membeli, mengangkut,
mengolah, dan memurnikan termasuk menjual komoditas tambang mineral atau batubara hasil
olahannya.

•IUJP (Izin Usaha Jasa Pertambangan)


adalah izin yang diberikan kepada pelaku usaha jasa pertambangan untuk melakukan
kegiatan usaha jasa pertambangan.

• SKT (Surat Keterangan Terdaftar)


adalah surat keterangan tanda terdaftar yang diberikan kepada perusahaan usaha jasa
pertambangan non inti yang melakukan kegiatan secara terus-menerus di lokasi tambang.

• KK (Kontrak Karya)
adalah perjanjian antara Pemerintah Republik Indonesia dengan perusahaan berbadan
hukum Indonesia dalam rangka penanaman modal asing untuk melaksanakan usaha pertambangan
bahan galian mineral.

• PKP2B (Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara)


adalah perjanjian antara Pemerintah Republik Indonesia dengan perusahaan berbadan
hukum Indonesia untuk melaksanakan usaha pertambangan bahan galian batubara.
• KAIT (Kepala Inspektur Tambang)
adalah pejabat yang secara ex officio menduduki jabatan:
a. direktur yang mempunyai tugas pokok dan fungsi di bidang keteknikan pertambangan
mineral dan batubara pada Kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan
di bidang pertambangan mineral dan batubara; atau
b. kepala dinas teknis provinsi yang mempunyai tugas pokok dan fungsi di bidang
pertambangan mineral dan batubara pada pemerintah provinsi.

• Inspektur Tambang
adalah Pegawai Negeri Sipil yang diberi tugas, tanggung jawab, wewenang, dan hak
untuk melakukan inspeksi tambang ditingkat pemerintah pusat, pemerintah daerah
provinsi, pemerintah daerah kabupaten/kota sesuai dengan kewenangannya.

• KTT (Kepala Teknik Tambang)


adalah orang yang menduduki jabatan tertinggi dalam struktur organisasi Perusahaan
Pertambangan di wilayah kegiatan usaha pertambangan yang bertanggung jawab
kepada KAIT atas dilaksanakan dan ditaatinya ketentuan peraturan perundang-
undangan di bidang Keselamatan Pertambangan di wilayah yang menjadi tanggung
jawabnya.
• PJO (Penanggung Jawab Operasional)
adalah orang yang menduduki jabatan tertinggi dalam struktur organisasi Perusahaan
Jasa Pertambangan di wilayah kegiatan usaha jasa pertambangan yang bertanggung
jawab kepada KTT atas dilaksanakan dan ditaatinya peraturan perundang- undangan di
bidang Keselamatan Pertambangan di wilayah yang menjadi tanggung jawabnya.

• Audit SMKP Minerba


adalah pemeriksaan secara sistematis dan independen terhadap pemenuhan criteria
yang telah ditetapkan untuk mengukur suatu hasil kegiatan yang telah direncanakan
dan dilaksanakan dalam penerapan SMKP Minerba oleh Perusahaan.

• Menteri
adalah menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pertambangan
mineral dan batubara.

• Direktur Jenderal
adalah adalah Direktur Jenderal yang melaksanakan tugas dan bertanggung jawab atas
perumusan serta pelaksanaan kebijakan dan standardisasi teknis di bidang mineral.
TUJUAN PENERAPAN SMKP
Penerapan SMKP Minerba bertujuan untuk:
a. meningkatkan efektifitas Keselamatan Pertambangan yang terencana, terukur,
terstruktur, dan terintegrasi;
b. mencegah kecelakaan tambang, penyakit akibat kerja, dan kejadian berbahaya;
c. menciptakan kegiatan operasional tambang yang aman, efisien, dan produktif; dan
d. menciptakan tempat kerja yang aman, sehat, nyaman, dan efisien untuk
meningkatkan produktivitas.
PENERAPAN SMKP MINERAL DAN BATUBARA
Perusahaan wajib menerapkan SMKP Minerba di perusahaannya. Perusahaan sebagaimana
dimaksud terdiri atas:
a. Perusahaan Pertambangan, yaitu pemegang:
1. IUP;
2. IUPK;
3. IUP Operasi Produksi khusus untuk pengolahan dan/atau pemurnian;
4. KK; dan
5. PKP2B.
b. Perusahaan Jasa Pertambangan, yaitu pemegang:
1. IUJP; dan
2. SKT.

Dalam menerapkan SMKP Minerba Perusahaan Pertambangan wajib memiliki KTT,


sedangkan Perusahaan Jasa Pertambangan wajib memiliki PJO.
Aspek K3 Pertambangan KO Pertambangan
Sasaran Menghindari Kecelakaan Terciptanya kegiatan operasi
dan Penyakit Akibat Kerja pertambangan yang aman dan
selamat.

Ruang
Lingkup [Link] Kerja [Link],
[Link] Kerja prasaranainstalasi dan peralatan
[Link] Kerja pertambangan;
[Link] Manajemen K3 [Link] Instalasi
[Link] & Pelaksanaan
(Pasal 26 PP 55 Th 2010) Pemeliharaan Peralatan;
[Link] tenaga teknik;
[Link] laporan hasil KajianTeknis;

(Pasal 27 PP 55 Th 2010)
PEDOMAN PENERAPAN DAN AUDIT SMKP MINERBA
• Perusahaan wajib melakukan audit internal penerapan SMKP Minerba sekurang-
kurangnya 1 (satu) kali dalam jangka waktu 1 (satu) tahun.

• Tingkat pencapaian penerapan SMKP dapat diklasifikasikan sebagai berikut :


a. Tingkat pencapaian pemenuhan penerapan ≥90% dan tidak ada temuan mayor,
mendapatkan sertifikat berkategori emas.
b. Tingkat pencapaian pemenuhan penerapan 80% - <90% dan tidak ada temuan mayor,
mendapatkan sertifikat berkategori perak.
c. Tingkat pencapaian pemenuhan penerapan 70% – <80 % dan tidak ada temuan mayor,
mendapatkan sertifikat berkategori perunggu.
d. Tingkat pencapaian pemenuhan penerapan <70% hanya mendapatkan surat keterangan
telah diaudit SMKP.

• Hasil pelaksanaan audit internal dan/atau audit eksternal penerapan SMKP Minerba wajib
disampaikan kepada KAIT dalam jangka waktu paling lambat 14 (empat belas) hari kerja
sejak audit internal dan/atau audit eksternal penerapan SMKP Minerba dinyatakan selesai
sesuai dengan Format Laporan Audit Penerapan SMKP Minerba.
PEMBINAAN DAN PENGAWASAN

• Direktur Jenderal atas nama Menteri atau gubernur melakukan


pembinaan dan pengawasan penerapan SMKP Minerba sesuai
dengan kewenangannya.

• Pembinaan dan pengawasan penerapan SMKP Minerba oleh


Direktur Jenderal atas nama Menteri atau gubernur dilaksanakan
oleh Inspektur Tambang.

• Gubernur wajib menyampaikan laporan pembinaan dan


pengawasan penerapan SMKP Minerba sesuai dengan
kewenangannya kepada Menteri, Direktur Jenderal sekurang-
kurangnya 1 (satu) kali dalam jangka waktu 1 (satu) tahun.
SANKSI ADMINISTRATIF
• Perusahaaan dikenakan sanksi administratif apabila melakukan pelanggaran terhadap
ketentuan yang berkaitan hal hal sebagai berikut:
1. Tidak menerapkan SMKP Minerba
2. Tidak mempunyai KTT atau PJO
3. Tidak Menerapkan SMKP Minerba sesuai lampiran 1
4. Tidak melakukan audit internal & eksternal
5. Tidak melakukan audit sesuai lampiran 2
6. Tidak melaporkan hasil audit ke KAIT

• Sanksi administratif sebagaimana dimaksud dapat berupa:


a. peringatan tertulis;
b. penghentian sementara sebagian atau seluruh kegiatan usaha pertambangan atau kegiatan
usaha jasa pertambangan; dan/atau
c. pencabutan IUP, IUPK, IUP Operasi Produksi khusus untuk pengolahan dan/atau pemurnian,
IUJP, atau SKT.

• Sanksi administratif diberikan oleh Direktur Jenderal atas nama Menteri atau gubernur
sesuai dengan kewenangannya.

• Sanksi administratif berupa peringatan tertulis diberikan dengan jangka waktu 30 (tiga
puluh) hari kalender.
• Perusahaan yang mendapat sanksi peringatan tertulis setelah berakhirnya jangka
waktu peringatan tertulis belum melaksanakan kewajibannya, dikenakan sanksi
administratif berupa penghentian sementara sebagian atau seluruh kegiatan usaha
pertambangan atau kegiatan usaha jasa pertambangan.

• Sanksi administratif berupa penghentian sementara sebagian atau seluruh kegiatan


usaha pertambangan atau kegiatan usaha jasa pertambangan dikenakan dalam
jangka waktu paling lama 90 (sembilan puluh) hari kalender.

• Sanksi administratif berupa pencabutan IUP, IUPK, IUP Operasi Produksi khusus
untuk pengolahan dan/atau pemurnian, IUJP, atau SKT dikenakan kepada pemegang
IUP, IUPK, IUP Operasi Produksi khusus untuk pengolahan dan/atau pemurnian, IUJP,
atau SKT yang tidak melaksanakan kewajiban sampai dengan berakhirnya jangka
waktu pengenaan sanksi penghentian sementara sebagian atau seluruh kegiatan
usaha pertambangan atau kegiatan usaha jasa pertambangan.
ELEMEN 1 KEBIJAKAN
(PASAL 6 )

1.1 Penyusunan kebijakan


A. Tinjauan Awal ( HIRA, Benchmark dengan
perushaan lain dsb)
B. Performance keselamatan pertambangan
C. Masukan pekerja dan atau serikat pekerja tambang
1.2 Isi kebijakan
A. Visi, misi dan tujuan perusahaan
B. Komitmen K3 Pertambangan
C. Komitmen KO pertambangan dsb
1.3 Penetapan kebijakan ( pengesahan oleh pimpinan
tertingi manajemen, tertulis di
tandatangani,terdokumentasi, dinamis)
1.4 Komunikasi ( diberluaskan kepada seluruh
karyawan)
1.5 Tinjauan kebijakan ( dilakukan peninjauan ulang
kebijakan secara berkala)
ELEMEN 2 PERENCANAAN
(PASAL 7 )

2.1. Penelaahan Awal


Penelaahan awal adalah kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan untuk mengetahui
posisi/kondisi/tingkat pelaksanaan keselamatan pertambangan di perusahaan terhadap penerapan
peraturan perundang- undangan di bidang keselamatan pertambangan.

2.2 Manajemen Risiko


Proses manajemen resiko ini meliputi 5 (lima) kegiatan, yaitu :
1. Komunikasi & Konsultasi Resiko
2. Penetapan Konteks Resiko
3. Identifikasi Bahaya & Penilaian Resiko
4. Pengendalian Resiko
5. Pemantauan & Peninjauan

2.3 Identifikasi peraturan perundangan dan persyaratan lainnya


Peraturan perundangan-undangan dan persyaratan lain yang terkait harus :
1. Diidentifikasi, diinventarisasi, dan dipatuhi oleh perusahaan
2. Disosialisasikan kepada seluruh pekerja tambang dan pihak-pihak lain yang terkait
ELEMEN 2 PERENCANAAN
(PASAL 7 )

2.4 Tujuan sasaran dan Program


Perusahaan harus membuat, menetapkan, menerapkan, dan memelihara, serta
mendokumentasikan Tujuan, Sasaran, dan Program Keselamatan Pertambangan (TSP KP) pada
setiap fungsi dan tingkat yang relevan di dalam perusahaan. Tujuan, Sasaran dan Program harus
selaras dengan kebijakan perusahaan dan dapat terukur. TSP KP ditetapkan dan disahkan oleh
Komite Keselamatan Pertambangan.

2.5 Rencana kerja dan anggaran keselamatan pertambangan


Perusahaan wajib menyusun dan menetapkan rencana kerja tahunan dan anggaran
keselamatan pertambangan. Untuk pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP),
rencana kerja tahunan dan anggaran keselamatan pertambangan yang telah
ditetapkan tersebut harus tertuang dalam dokumen Rencana Kerja Tahunan Teknik dan
Lingkungan (RKTTL) serta Rencana Kerja Anggaran dan Biaya (RKAB). Dokumen RKTTL
dan RKAB harus mendapat persetujuan dari pemerintah sesuai dengan peraturan
perundang – undangan.
ELEMEN 3 ORGANISASI DAN PERSONIL
(PASAL 8 )

3.1 Struktur organisasi, Tugas tanggungjawab dan wewenang


Perusahaan harus memiliki struktur organisasi yang menggambarkan posisi Kepala
Teknik Tambang (KTT), PJO, Pengawas Operasional, Pengawas Teknis, dan Pengelola
Keselamatan Pertambangan sesuai peraturan perundang-undangan.

3.2 KTT, KTBT, KKK


Pimpinan perusahaan pertambangan wajib menunjuk KTT dan mendapat pengesahan
dari KAIT ( hanya untuk pemilik tambang atau owner).

3.3 PJO untuk perushaan jasa pertambangan


Pelaku usaha jasa pertambangan inti dan non inti wajib menunjuk Penanggung Jawab
Operasional (PJO) yang bertanggung jawab langsung kepada KTT
ELEMEN 3 ORGANISASI DAN PERSONIL
(PASAL 8)

3.4 Bagian K3 dan KO Pertambangan


Perusahaan wajib membentuk dan menetapkan Bagian K3 dan KO Pertambangan berdasarkan
pertimbangan jumlah pekerja serta sifat atau luasnya pekerjaan;
Bagian K3 dan KO Pertambangan di perusahaan jasa pertambangan harus berada langsung di
bawah PJO ( PM)
3.5 Pengawas Operasional dan Teknik
• Tugas & Tanggung Jawab Pengawas Operasional
• Tugas & Tanggung Jawab Pengawas Teknis
3.6 Tenaga teknik khusus pertambangan
juru ledak, juru ukur, juru las, juru bor, juru derek, juru rawat atau paramedis, juru langsir,
petugas proteksi radiasi, ahli listrik, pemadam kebakaran, rigger, petugas industrial hygiene,
Petugas Gudang Bahan Peledak, Operator Pesawat Angkat Angkut.
3.7 Komite Keselamatan Pertambangan
Perusahaan harus membentuk dan menetapkan KKP yang beranggotakan : Perwakilan bagian
K3 dan KO, Operasional pertambangan, wakil pekerja dengan struktur Ketua (KTT/PJO), Wakil
ketua, sekretaris (Pengelolal keselematan tertinggi di perusahaan) dan anggota
ELEMEN 3 ORGANISASI DAN PERSONIL
(PASAL 8)

3.8 Penunjukan Tim Tanggap Darurat


Perusahaan harus memiliki tim ERT dan di laporkan ke KAIT

3.9 Seleksi dan penempatan personil


Setiap personil memiliki jobdesk

3.10 Pendidikan pelatihan dan kompetensi kerja


Pelaksanaan pendidikan dan pelatihan serta kompetensi kerja meliputi pendidikan dan pelatihan
serta kompetensi kerja pekerja tambang, pengawas operasional, dan pengawas teknik

3.11 Komunikasi keselamatan pertambangan


Perusahaan harus menerapkan mekanisme untuk mengkomunikasikan hal-hal yang memiliki
dampak terhadap Keselamatan Pertambangan kepada pihak internal dan eksternal.

3.12 Administrasi keselamatan pertambangan


Buku Tambang , Buku Daftar Kecelakaan Tambang , Pelaporan Pengelolaan Keselamatan
Pertambangan

3.13 Partisipasi, Konsultasi, Motivasi dan kesadaran


ELEMEN 4 IMPLEMENTASI
(PASAL 9)

4.1 Pelaksanaan Pengelolaan Operasional


1. Prosedur operasi/ kerja yang disusun sekurang-kurangnya memenuhi hal-hal dibawah ini:
a. Sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
b. Sesuai dengan kebijakan keselamatan pertambangan perusahaan
c. Dikomunikasikan kepada pihak-pihak terkait
d. Disahkan oleh oleh pimpinan perusahaan atau KTT untuk perusahaan pertambangan atau PJO untuk
perusahaan jasa pertambangan
e. Diberi nomor, didokumentasikan, dan ditinjau ulang secara berkala.
2. Izin Kerja Khusus
Perusahaan wajib menetapkan jenis pekerjaan yang memerlukan izin kerja khusus. Perusahaan wajib
menyusun, menetapkan, menerapkan, mendokumentasikan, dan mengevaluasi izin kerja khusus.
3. Alat Pelindung Diri & Alat Keselamatan

4.2 Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan


1. Menetapkan prosedur pengelolaan lingkungan kerja
2. Pemantauan / pengukuran lingkungan kerja
3. Prosedur yang terdokumentasi mengenai identifikasi, kalibrasi, pemeliharaan, dan penyimpanan
untuk alat pemeriksaan, ukur, dan uji lingkungan kerja
4. Prosedur pengelolaan tata graha ( housekeeping) tempat kerja
ELEMEN 4 IMPLEMENTASI
(PASAL 9)

4.3 Pelaksanaan Pengelolaan Kesehatan Kerja


1. Prosedur pengelolaan kesehatan kerja
2. Pengelolaan kegiatan kesehatan di tempat kerja
3. Pengelolaan keselamatan makanan dan minuman
4. Unit pelayanan kesehatan kerja dan dokter hiperkes

4.4 Pelaksanaan Pengelolaan Keselamatan Operasional Pertambangan


1. Prosedur pengelolaan KO pertambangan
2. Tenaga teknik yang memiliki kompetensi
3. Sistem dan Pelaksanaan Pemeliharaan / Perawatan Sarana, Prasarana, Instalasi, dan Peralatan
Pertambangan
4. Pengamanan Instalasi
5. Kelayakan Sarana, Prasarana, Instalasi, dan Peralatan Pertambangan
6. Kompetensi Tenaga Teknik
7. Evaluasi Hasil Kajian Teknis Pertambangan

4.5 Pelaksanaan Bahan Peledak dan Peledakan


Gudang Bahan Peledak
Penyimpanan Bahan Peledak
Pengangkutan Bahan Peledak
Pekerjaan Peledakan
ELEMEN 4 IMPLEMENTASI
(PASAL 9)

4.6 Penetapan Sistem Perancangan dan Rekayasa


1. Perancangan & Rekayasa
2. Perubahan

4.7 Penetapan Sistem Pembelian


Prosedur pembelian tersebut sekurang-kurangnya terdiri atas.
a. Penetapan spesifikasi pembelian sesuai dengan persyaratan Keselamatan Pertambangan
dan ketentuan peraturan perundang-undangan;
b. Proses seleksi pembelian termasuk daftar pekerja tambang yang memiliki kompetensi;
dan
c. Proses verifikasi kesesuaian dengan spesifikasi pembelian.

4.8 Pemantauan dan Pengelolaan Perusahaan Jasa Pertambangan


Prosedur pengelolaan Perusahaan Jasa Pertambangan sekurang-kurangnya terdiri atas.
a. Persyaratan, seleksi dan penetapan Perusahaan Jasa Pertambangan;
b. Tanggung jawab, pemantauan, dan pelaporanperusahaan Jasa Pertambangan; dan
c. Evaluasi Perusahaan Jasa Pertambangan.
ELEMEN 4 IMPLEMENTASI
(PASAL 9)

4.9 Pengelolaan Keadaan Darurat


Prosedur Pengelolaan Keadaan Darurat tersebut sekurang-kurangnya terdiri atas:
a. Identifikasi dan penilaian potensi keadaan darurat;
b. Pencegahan keadaan darurat;
c. Kesiapsiagaan keadaan darurat;
d. Respons keadaan darurat; dan
e. Pemulihan keadaan darurat.

4.10 Penyediaan dan Penyiapan P3K


Perusahaan harus menyusun, menetapkan, menerapkan, dan mendokumentasikan prosedur
Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) yang sekurang-kurangnya terdiri atas petugas P3K, kotak
P3K, isi kotak P3K, dan pencatatan penggunaan isi kotak P3K.

4.11 Pelaksanaan Keselamatan di Luar Pekerjaan (off the job safety)


Keselamatan di luar pekerjaan harus dikomunikasikan kepada semua pekerja tambang dan
keluarganya, baik secara formal maupun informal.
ELEMEN 5 EVALUASI DAN TINDAK LANJUT
(PASAL 10)

5.1 Pemantauan dan Pengukuran Kinerja


a. tujuan, sasaran, dan program Keselamatan Pertambangan, pengelolaan lingkungan kerja,
pengelolaan kesehatan kerja, pengelolaan KO Pertambangan;pengelolaan bahan peledak dan
peledakan.

5.2 Inspeksi K3 dan KO

Prosedur inspeksi pelaksanaan Keselamatan Pertambangan sekurang-kurangnya terdiri atas:


a. Tujuan inspeksi
h. Metode atau tata cara inspeksi
b. Jenis inspeksi
i. Pelaksanaan inspeksi
c. Pelaksana inspeksi
j. Klasifikasi bahaya
d. Objek inspeksi
k. Laporan inspeksi
e. Jadwal dan frekuensi inspeksi
l. Tindak lanjut inspeksi
f. Lembar periksa inspeksi
m. Evaluasi hasil tindak lanjut inspeksi; dan
g. Peralatan inspeksi
n. Dokumentasi.
ELEMEN 5 EVALUASI DAN TINDAK LANJUT
(PASAL 10)

5.3 Pemenuhan/Kepatuhan Peraturan Perundang- undangan


Melakukan pengecekan terhadapa perundangan yang ada, dan seberapa besar dari
requirement UU yang sudah dipenuhi perusahaan.

5.4 Penyelidikan Kecelakaan, Kejadian Berbahaya dan Penyakit Akibat Kerja


Perusahaan wajib menyusun, menetapkan, menerapkan, dan mendokumentasikan prosedur
penyelidikan kecelakaan, kejadian berbahaya, dan penyakit akibat kerja, sekurang-kurangnya
terdiri atas :
a. Pelaporan awal
b. Pengamanan lokasi dan barang bukti di tempat kejadian
c. Pembentukan tim penyelidikan
d. Tahapan penyelidikan yang terdiri atas:
I. Pengumpulan data dan informasi
II. Evaluasi dan analisis
III. Kesimpulan dan rekomendasi
e. Tindak lanjut hasil penyelidikan
f. Pelaporan dan dokumentasi hasil penyelidikan
g. Komunikasi hasil penyelidikan
ELEMEN 5 EVALUASI DAN TINDAK LANJUT
(PASAL 10)

5.5 Evaluasi Administrasi K3 dan KO


Perusahaan harus melakukan evaluasi pengelolaan administrasi Keselamatan Pertambangan
yang sekurang-kurangnya meliputi Buku Tambang, Buku Daftar Kecelakaan Tambang, dan
pelaporan pengelolaan Keselamatan Pertambangan sekurang-kurangnya 1 (satu) kali dalam
jangka waktu 6 (enam) bulan.

5.6 Audit Internal SMKP Minerba


Perusahaan wajib menyusun, menetapkan, menerapkan, dan mendokumentasikan prosedur
pelaksanaan audit internal untuk meninjau secara berkala dan mengevaluasi penerapan
SMKP Minerba. Tujuan dari audit internal adalah:
a. menentukan efektifitas penerapan SMKP Minerba; dan
b. memberikan informasi tentang hasil audit internal kepada pimpinan Perusahaan.

Temuan hasil audit dibagi menjadi tiga kategori yaitu :


a. Kategori Kritikal
Temuan hasil audit kategori kritikal adalah temuan yang dapat mengakibatkan kematian
(fatality).
ELEMEN 5 EVALUASI DAN TINDAK LANJUT
(PASAL 10)

b. Kategori Mayor
Temuan hasil audit kategori mayor adalah temuan yang:
1. Tidak memenuhi ketentuan peraturan perundang-undangan;
2. Pada hasil pemeriksaan elemen ditemukan subelemen yang nilainya kurang dari 50% (lima
puluh persen) nilai maksimal subelemen tersebut;
3. Terdapat temuan minor untuk satu subelemen audit di lebih dari 30% (tiga puluh persen)
lokasi atau temuan yang berulang.
c. Kategori Minor
Ketidakkonsistenan dalam kepatuhan terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan,
standar, pedoman, dan acuan lainnya

5.7 Tindak Lanjut Ketidaksesuaian


Prosedur tindak lanjut ketidaksesuaian sekurang-kurangnya terdiri atas:
a. identifikasi dan perbaikan ketidaksesuaian;
b. analisis penyebab ketidaksesuaian;
c. evaluasi kebutuhan tindakan untuk mencegah ketidaksesuaian;
d. catatan dan komunikasi hasil tindakan perbaikan dan pencegahan; dan
e. evaluasi efektifitas tindakan perbaikan dan pencegahan
ELEMEN 6 DOKUMENTASI
(PASAL 11)

Perusahaan harus mendokumentasikan pelaksanaan SMKP Minerba yang meliputi :


a. Pernyataan terdokumentasikannya kebijakan, tujuan, sasaran, dan program
Keselamatan Pertambangan;
b. Pedoman / manual;
c. Penjelasan elemen-elemen SMKP Minerba dan interaksinya serta acuan dokumen dari
elemen terkait;
d. Dokumen termasuk rekaman yang disyaratkan dalam SMKP Minerba; dan
e. Dokumen termasuk rekaman yang ditetapkan Perusahaan untuk menjamin
perencanaan, pengorganisasian, dan pengendalian proses yang efektif terkait dengan
risiko Keselamatan Pertambangan.

6.1 Manual SMKP


Perusahaan wajib menyusun, menetapkan, dan mendokumentasikan manual SMKP Minerba
yang meliputi:
a. Ruang lingkup SMKP Minerba;
b. Prosedur terdokumentasi yang ditetapkan untuk SMKP Minerba; dan
c. Uraian dari interaksi antara elemen-elemen dalam SMKP Minerba dan acuan dokumen
dari elemen terkait.
ELEMEN 6 DOKUMENTASI
(PASAL 11)

6.2 Pengendalian Dokumen


• Persetujuan pengeluaran / penerbitan dan pengendalian dokumen
• Perubahan dan modifikasi dokumen
• Identifikasi dan pengelolaan dokumen-dokumen yang berasal dari luar yang terkait

6.3 Pengendalian Rekaman


Perusahaan wajib menyusun, menetapkan, menerapkan, dan mendokumentasikan
prosedur untuk mengidentifikasi, menyimpan, melindungi, mengakses, menentukan masa
simpan, dan memusnahkan rekaman. Rekaman harus didokumentasikan agar tetap dapat
dibaca, diidentifikasi, dan ditelusuri

6.4 Dokumen dan rekaman


Perusahaan menetapkan jenis dokumen dan rekaman yang disusun sesuai dengan elemen-
elemen SMKP Minerba :
1. Kebijakan
2. Perencanaan 5. Evaluasi & Tindak Lanjut
3. Organisasi & Personel 6. Dokumentasi
4. Implementasi 7. Tinjauan Management
ELEMEN 7 TINJAUAN MANAJEMEN
(PASAL 12)

7.1 Masukan Tinjauan Manajemen

Manajemen tertinggi Perusahaan wajib melakukan tinjauan manajemen terhadap penerapan SMKP
Minerba secara berkala dan terencana. Tinjauan manajemen mencakup juga menilai kesempatan
untuk peningkatan dan kebutuhan akan perubahan terhadap SMKP Minerba, termasuk kebijakan,
tujuan, sasaran, dan program Keselamatan Pertambangan. Catatan hasil tinjauan manajemen
harus didokumentasikan. Masukan tinjauan manajemen sekurang-kurangnya meliputi :
h. kebijakan Keselamatan Pertambangan;
i. hasil audit penerapan SMKP Minerba;
j. daftar risiko;
k. hasil evaluasi kepatuhan terhadap ketentuan peraturan perundangundangan dan persyaratan
lainnya yang terkait;
l. tindak lanjut terhadap tinjauan manajeman sebelumnya;
m. hasil dari partisipasi dan konsultasi;
n. komunikasi yang berhubungan dengan pihak eksternal terkait, termasuk keluhan-keluhan;
o. tingkat pencapaian kinerja Keselamatan Pertambangan termasuk tujuan, sasaran, dan program;
p. status penyelidikan kecelakaan, kejadian berbahaya, dan penyakit akibat kerja, tindakan perbaikan,
dan pencegahan;
q. perubahan yang terjadi, termasuk peraturan perundang-undangan dan struktur organisasi
Keselamatan Pertambangan; dan
r. rekomendasi peningkatan Keselamatan Pertambangan
ELEMEN 7 TINJAUAN MANAJEMEN
(PASAL 12)

7.2 Keluaran Tinjauan Manajemen

Keluaran dari tinjauan manajemen Keselamatan Pertambangan harus menghasilkan


keputusan dan tindakan yang berhubungan dengan efektifitas sistem manajemen dan
kegiatan / prosesnya, peningkatan kinerja Keselamatan Pertambangan dengan
mempertimbangkan kemungkinan perubahan pada:
a. kebijakan Keselamatan Pertambangan;
b. kinerja Keselamatan Pertambangan;
c. sumber daya; dan
d. elemen-elemen lain SMKP Minerba

Hasil dari tinjuan manajemen harus dicatat, didokumentasikan, dilaporkan kepada pihak yang
berkepentingan dan dikomunikasikan kepada yang memerlukannya.
SMKP:
KESIMPULAN

1. Terdapat 7 Elemen pada Sistem Manajemen Keselamatan


Pertambangan
( SMKP )
2. Dasar Hukum SMKP Permen ESDM No.38 Th.2014
3. Perusahaan wajib melakukan audit internal penerapan SMKP
Minerba sekurang-kurangnya 1 (satu) kali dalam jangka waktu 1
(satu) tahun
4. Sanksi administratif berupa peringatan tertulis diberikan dengan
jangka waktu 30 (tiga puluh) hari kalender, dan setelah
berakhirnya jangka waktu peringatan tertulis belum
melaksanakan kewajibannya, dikenakan sanksi administratif
berupa penghentian sementara 90 ( Sembilan Puluh ) Hari
Kalender.

Anda mungkin juga menyukai