Lima Komponen Pengendalian Internal COSO
Lima Komponen Pengendalian Internal COSO
mengeluarkan definisi tentang pengendalian internal. Definisi COSO tentang pengendalian intern
sebagai berikut: Internal control is process, affected by entility’s board of directors, management and other
personnel, designed to provide reasonable assurance regarding the achievement of objectives in the
following categories:
Effectiveness and efficiency of operations
Realibillty of Financial Reporting
Compliance with Applicable laws and regulations
Dalam bahasa Indonesia, terjemahannya sebagai berikut: sistem pengendalian internal merupakan
suatu proses yang melibatkan dewan komisaris, manajemen, dan personil lain, yang dirancang
untuk memberikan keyakinan memadai tentang pencapaian tiga tujuan berikut ini:
5. Monitoring (pemantauan).
Sistem pengendalian internal harus dipantau secara berkala. Apabila terjadi kekurangan yang
signifikan, harus segera dilaporkan kepada manajemen puncak and ke dewan komisaris.
KERANGKA PENGENDALIAN
COSO
Kerangka konseptual pengendalian internal (COSO) sekarang
telah menjadi standar di seluruh dunia untuk membangun
pengendalian internal. The Committee of Sponsoring
Organizations of the Treadway Commission’s didirikan pada
tahun 1985, yang merupakan aliansi dari lima organisasi profesi
diantaranya :
Kelebihan
Kekurangan
Pengendalian intern dapat memastikan keberhasilan entitas yaitu,
ia akan memastikan tercapainya dasar tujuan bisnis atau
setidaknya menjamin kelangsungan hidup. Pengendalian yang
efektif hanya dapat membantu entitas mencapai tujuan tersebut.
Hal ini memberikan manajemen informasi tentang kemajuan
entitas, atau kurang dari itu terhadap prestasi mereka. Tapi
pengendalian intern tidak dapat mengubah manajer inheren
buruk menjadi baik. Dan pergeseran kebijakan atau program
pemerintah, tindakan pesaing atau kondisi ekonomi dapat
melampaui control manajemen. Control internal tidak menjamin
keberhasilan atau bahkan bertahan hidup.
Sumber :
1. Suharso, Pengendlian Intern Ala COSO
terbaru, [Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
II.1 Definisi COSO
Committee of Sponsoring Organizations of the Treadway Commission, atau
disingkat COSO, adalah suatu inisiatif dari sektor swasta yang dibentuk pada tahun
1985. Tujuan utamanya adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang menyebabkan
penggelapan laporan keuangan dan membuat rekomendasi untuk mengurangi kejadian
tersebut. COSO telah menyusun suatu definisi umum untuk pengendalian, standar, dan
kriteria internal yang dapat digunakan perusahaan untuk menilai sistem pengendalian
mereka.
COSO ini membentuk framework COSO Internal Control yang memfokuskan
pada pengelolaan keuangaan, seiring waktu berlangsung terjadi perkembangan dan
COSO membentuk Framework COSO Enterprise Risk Management yang mulai
meluaskan fokus pada pengelolaan resiko.
MISI COSO :
Memberikan pemikiran kepemimpinan melalui pengembangan kerangka kerja dan
pedoman yang komprehensif tentang manajemen risiko perusahaan , pengendalian
internal dan pencegahan kecurangan yang dirancang untuk meningkatkan kinerja
organisasi dan tata pemerintahan dan untuk mengurangi tingkat kecurangan dalam
organisasi .
VISI COSO :
Menjadi pemikiran pemimpin yang diakui di pasar global pada pengembangan di
bidang risiko dan pengendalian yang memungkinkan tata kelola organisasi yang baik
dan pengurangan kecurangan .
COSO selanjutnya menggandung kantor akuntan besar Coopers & Lybrand untuk
melakukan studi dan menerbitkan kerangka kerja pengendalian intern. Pada tahun
1992 COSO mempublikasikan sebuah kerangka kerja pengendalian intern yang
akhirnya banyak menjadi acuan bagi para dewan direksi, eksekutif, regulator, penyusun
standar, organisasi profesi untuk mengukur efektivitas pengendalian item. Kerangka
kerja itu dikenal dengan sebutan Internal Control-Integrated Framework. Pada tahun
1994 kerangka krja tersebut mengalami perubahan minor dengan tambahan ruang
lingkup terkait management report on internal control. Kerangka kerja pengendalian
intern COSO 1992 memberikan definisi umum tentang pengendalian intern dan
memberikan kerangka kerja untuk menilai dan memperbaiki system pengendalian
intern. Kerangka tersebut menyatakan bahwa pengendalian intern dirancang untuk
meberikan keyakinan memadai terhadap pencapaian tiga tujuan organisasi yaitu;
1. Efektivitas dan efisiensi operasi
2. Keandalan pelaporan keuangan
3. Kepatuhan terhadap hukum dan peraturan
Terjadinya kegagalan dan skandal bisnis besar seperti Enron, Tyco International,
Adelphia, Peregrine Systems dan WorldCom telah menyadarkan perlunya penguatan
tata kelola dan manajemen risiko organisasi. Merespon hal itu, pada tahun 2001 COSO
menggandeng kantor akuntan PricewaterhouseCooper(PwC) untuk mengembangkan
kerangka kerja yang dapat dipakai untuk menilai dan memperbaiki manajemen risiko
organisasi. Hasilnya, pada tahun 2004 COSO mempublikasikan Enterprise Risk
Managemen-Integraed Framework. Kerangka terbut pada dasrnya merupakan
kerangka pengendaian intern yang diperluas dengan perhatian yang lebih kuat pada
aspek manajemen risiko. Tujuan organisasi yang hendak dicapai melalui kerangka kerja
manajemen risiko meliputi empat hal yaitu;
1. Tujuan strategis yang sejalan dengan misi organisasi
2. Efektivitas dan efisiensi operasi
3. Keandalan pelaporan
4. Kepatuhan terhadap hukum dan peraturan.
Komponen kerangka kerja manjemen resiko lebih banyak pengendalian intern,
yaitu delapan unsur;
1. Internal environment
2. Objective setting
3. Event identification
4. Risk assessment
5. Risk response
6. Control activities
7. Information and communication
8. Monitoring
Meskipun kerangka kerja tersebut merupakan perluasan dari kerangka kerja
pengendalian intern namun COSO menyatakan bahwa kerangka itu tidak dimaksudkan
untuk menggantikan kerangka kerja pengendalian item.
Untuk mendukung penerapan manajemen risiko, COSO juga mengeluarkan
beberapa pedoma dia antaranya;
• Developing Key Risk Indicators to Strengthen Enterprise Risk Management
(2011);
• Embracing Enterprise Risk Management; Practical Approaches for Getting
Started (2011);
• Enterprise Risk Management-Understanding and Communicating Risk Appetite
(2012);
• Enterprise Risk Management for Cloud Computing (2012);
• ERM Risk Assessment in Practice (2012);
• Demystifying Sustainability Risk (2013);
Di sisi lain, proyek penelitian COSO terkai pengendalian intern masih terus
berjalan. Pada tahun 2006 COSO menerbitkan Internal Control over Financial Reporting
– Guidance for Smaller Public Companies. Pedoman ini dikeluarkan sebagai acuan
terutama bagi perusahaan public yang berukuran kecil untuk memenuhi ketentuan
Sarbane Oxley Act Sectio 404 yang mengatur perusahaan ublik untuk menilai dan
melaporkan efektivitas pengendalian intern dalam pelaporan keuangan setiap tahun.
Rupanya ketentuan tersebut mengakiantkan timbulnya biaya uang memberatkan bagi
perusahaan kecil. Oleh karena itu COSO membuat pedoman agar masalah tersebut
dapat diatasi. Pedoman terdiri dari empat paket yaitu
1. Executive Summary
2. Guidance
3. Evaluation Tools
4. Working Tools
Pada tahun 2009 COSO menerbitkan pedoman baru berjudul Guidance on
Monitoring Internal Control Systems. COSO menyadari bahwa organisasi dapat
meningkatkan efisiensi dan efektivitas dengan mengoptimalkan salah satu komponen
pengendalian intern yaitu pemantuan. Anmun kenyataannya banyak organisasi belum
mengoptimalkannya. Atas pertimbangan COSO mempublikasikan pedoman yang terdiri
dari tiga paket yaitu : (1) Guidance; (2) Application; dan (3) Sample. Dalam Guidance
disebutkan bahwa pemantuan pengendalian intern yang efektif akan menghasilkan
perbaikan organisasi dengan cara
1. Meminimalkan kegagalan pengendalian intern dan kesalahan/kerusakan
yang memerlukan koreksi, dan
2. Meningkatkan kualitas dan keandalan informasi yang dipakai dengan
pengambilan keputusan
Pada akhir tahun 2010, COSO mengumumkan sebuah proyek untuk memperbarui
Internal Control-Integrated Framework yang diterbitkan tahun 1992. Sama dengan
proyek manajemen resiko, proyek ini juga dilaksanakan oleh PwC. Proyek ini
membuahkan hasil nyata dengan terbitnya kerangka kerja pengendalian intern
yangbaru pada tahun 2013 dengan judul yang sama dengan kerangka kerja tahun 1992
yaitu Internal Control – Integrated Framework. Pada kerangka kerja yang baru ini tidak
terjadi perubahan definisi dan komponen system pengendalian intern dari kerangka
kerja yang lama. Hal yang baru dari kerangk kerja pengendalian intern 2013 di
antaranya;
• Membuat kodifikasi prinsip yang merepresentasikan konsep fundamental terkai
dengan lima komponen pengendalian intern. Hal ini dilakukan untk meningkatkan
pemaham manajemen atas pelaksanaan pengedalian intern secara efektif. Komponen
dan prinsi yang telah ditetapkan akan menciptakan suatu kriteria dan titik focus yang
akan membantu manajemen dalam menilai apakah komponen pengendalian intern ada,
berfungsi dan beroperasi secara bersamaan dalam organisasi
• Memprjelas peran epnetapan tujuan dalam pengendalian intern. Pada kerangka
yang lama disebut bahwa penetapan tujuan merupakan proses maajemen yang
dilakukan di pra-kondisi pengendalian intern. Konsep tersebut dipertegas pada
kerangka yang baru engan menunjukkan bahwa penetapan tujuan bukan merupakan
bagian dari pengendali intern.
• Mencerminkan relevansi peningkatan teknologi dalam mempengaruhi penerapan
komponen pengendalian intern. Hal ini penting karena jumlah organisasi yang
menggunakan atau bergantung pada teknologi telah berkembang secara pesat.
• Memperkuat konsep Governance terutama yang terkait dengan dewan direksi,
anggota dewan, termasuk komite audit, kompensasi, nominasi, dan Governance.
Dewan direksi memiliki peran yang penting dalam pengawasan untuk menciptakan
pengendalian yang efektif
• Memuat lebih banyak pembahasan mengenai kecurangan
• Memperluas kategori tujuan pelaporan keuangan dengan mempertimbangkan
pelaporan eksternal di luar pelaporan keuangan serta pelaporal internal baik keuangan
maupun non-keuangan.
• Meningkatkan focus pada tujuan selain pelaporan keuangan. Perluasan focus
memberikan panduan yang lebih jelas terkait tujuan operasi, kepatuhan dan tujuan non-
pelaoran keuangan. Dengan itu diharapkan akan lebih banyak pengguna yang
menerapkan kerangka yang baru untuk keperluan selain pelaporan kuangan.
Setelah berhasil menyelesaiikan revisi kerangka kerja pengendalian intern, pada
Oktober 2014 COSOS mengumumkan proyek baru untuk memperbaiki kerangka kerja
manajemen risiko. Tujuan proyek tersebut adalah untuk menyesuaikan kerangka kerja
dengan kondisi lingkungan bisnis yang semakin kompleks saat ini. Diharapkan
pemutakhiran kerangka kerja akan mencerminkan evolusi pemikiran dan praktik
manajemen risiko, dan juga memenuhi perubahan harapan stakeholders. Proyek
tersebut juga diharapkan dapat mengembangkan suatu perangkat yang dapat
membantu manajemen untuk melaporkan informasi risiko serta untuk mereview dan
menilai penerapan enterprise risk management. Sampai tahun 2016 ini, proyek
perbaikan kerangka kerja manajemen risiko masih dalam proses pengerjaan.
- Monitoring
Monitoring adalah pemantauan terhadap organisasi tersebut. Pemantauan yang
dilakukan adalah pemantauan terhadap setiap aktifitas dalam oganisasi, dalam hal ini
yang berhubungan dengan Teknologi informasi adalah pemantauan akan Penggunaan
TI, Pemantauan pada pengelolaan TI, dan pemantauan kepada keadaan fisik dari TI
tersebut.
Evaluasi berkelanjutan, terpisah, atau kombinasi keduanya untuk memastikan
seluruh komponen IC ada dan berfungsi. Terdapat dua prinsip dalam komponen ini yaitu:
Organisasi memilih, mengembangkan, dan melaksanakan evaluasi berkelanjutan
dan/atau terpisah untuk memastikan seluruh komponen IC ada dan berfungsi.
Organisasi mengevaluasi dan mengomunikasikan defisiensi IC pada pihak yang
bertanggung jawab agar diambil tindakan korektif.
- Control Activites merupakan tindakan penentuan melalui kebijakan dan prosedur yang
membantu menjamin bahwa arahan manajemen untuk mengurangi resiko dalam
pencapaian tujuan itu terlaksana. Control activities diterapkan pada semua level entitas,
di berbagai tingkat dalam proses bisnis dan seluruh lingkungan teknologi. Mereka dapat
mencegah atau mendeteksi secara alami dan dapat mencakup jangkauan aktivitas
manual dan otomatis seperti otorisasi dan aproval, verivikasi, rekonsiliasi dan review
prestasi bisnis. Pemisahan tugas biasanya dibangun dalam seleksi dan pengembangan
aktivitas pengendalian. Jika pemisahan tugas tidak diterapkan, manajemen memilih dan
mengembangkan alternatif aktivitas pengendalian. Aktivitas Pengendalian
merupakan tindakan yang ditetapkan dengan prosedur dan kebijakan untuk meyakinkan
bahwa manajemen telah mengarah untuk memitigasi risiko dalam rangka pencapaian
tujuan. Terdapat tiga prinsip dalam komponen ini yaitu:
Organisasi memilih dan mengembangkan aktivitas pengendalian yang
berkontribusi terhadap mitigasi risiko sampai pada tingkat yang dapat diterima dalam
rangka pencapaian tujuan.
Organisasi memilih dan mengembangkan aktivitas pengendalian secara umum
terkait teknologi dalam rangka pencapaian tujuan.
Organisasi menyebarkan aktivitas pengendalian melalui kebijakan dan prosedur
dalam pengimplementasiannya.
- Risk Assesment
Penilaian risiko melibatkan proses yang dinamis dan berulang untuk
mengidentifikasi dan menganalisis risiko untuk mencapai tujuan, serta membentuk dasar
mengenai bagaimana risiko harus dikelola. Terdapat empat prinsip yang berkaitan dengan
komponen ini yaitu:
Organisasi menentukan tujuan yang spesifik sehingga memungkinkan untuk
dilakukan identifikasi dan penilaian risiko yang terkait dengan tujuan.
Organisasi mengidentifikasi risiko yang terkait dengan pencapaian tujuan di
seluruh entitas dan menganalisis risiko untuk menjadi dasar bagaimana risiko akan
diperlakukan.
Organisasi mempertimbangkan potensi fraud dalam penilaian risiko.
Organisasi mengidentifikasi dan menilai perubahan yang akan memengaruhi
sistem pengendalian internal secara signifikan.
- Control Environment
*Lingkungan internal (internal environment)
Lingkungan pengendalian mencakup sikap manajemen dan karyawan terhadap
pentingnya pengendalian dalam organisasi tersebut. Peranan lingkungan pengendalian
adalah menetapkan suasana dari suatu organisasi yang mempengaruhi kesadaran
akan pengendalian dari orang – orangnya. Komponen ini merupakan pondasi dari
semua komponen pengendalian internal lainnya yang menyediakan disiplin dan
struktur.
Beberapa faktor pembentuk lingkungan pengendalian di antaranya :
- Integritas dan nilai etika
- Komitmen terhadap kompetensi
- Dewan direksi dan komite audit
- Filosofi dan gaya operasi manajemen
- Struktur organisasi
- Penetapan wewenang dan tanggung jawab
- Kebijakan dan praktik sumberdaya manusia
- Operations.
Tujuan operasional terkait dengan pencapaian visi, misi, dan tujuan didirikannya
entitas. Tujuan ini terkait dengan peningkatan financial performance, produktivitas,
kualitas, enviromental practices, return of assets, dan likuiditas. Salah satu tujuan yang
terkait dengan tujuan operasional adalah Pengamanan Aset. Entitas dapat menentukan
tujuan yang terkait dengan pencegahan kehilangan aset serta secara periodik
mendeteksi dan melaporkan kehilangan aset.
- Financial Reporting
Tujuan pelaporan berkaitan dengan penyusunan laporan untuk digunakan oleh
organisasi dan stakeholders dalam hubungannya dengan pelaporan finansial/non-
finansial serta pelaporan eksternal/internal. Karakteristik dari pelaporan finansial/non-
finansial eksternal adalah disesuaikan dengan aturan dan kebutuhan eksternal,
dipersiapkan sesuai dengan standar eksternal, dan mungkin diharuskan menurut
regulator, kontrak, dan perjanjian. Sedangkan karakteristik pelaporan finansial/non-
finansial internal adalah digunakan dalam pengambilan keputusan dan pengelolaan
bisnis serta ditetapkan oleh manajemen dan board.
- Compliance
Aturan dan hukum merupakan standar minimal dari perilaku organisasi. Organisasi
diharapkan akan menggabungkan standar tersebut ke dalam tujuan dari entitas, bahkan
organisasi dapat menetapkan standar yang lebih tinggi daripada yang ditetapkan oleh
hukum dan peraturan.
Satu tujuan dan tujuan lainnya dapat saling tumpang tindih atau saling membantu.
Misalnya dalam hal pelaporan keuangan, dapat menjadi dasar bagi manajemen dalam
melakukan review dalam kinerja operasionalnya serta kepatuhannya terhadap aturan.
Selain itu, pengamanan aset yang merupakan salah satu contoh tujuan operasional
juga berpengaruh terhadap ketepatan jumlah aset dalam pelaporan. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa penetapan tujuan-tujuan ini tetap saling berkesinambungkan, tapi
tetap bergantung dengan situasi yang ada.
Judgement.
Keterbatasan kedua adalah fakta bahwa penilaian manusia dalam pengambilan
keputusan bisa keliru. Manusia memiliki kelemahan dalam mengambil keputusan bisnis
yang berdasarkan pada waktu, informasi yang terbatas, serta di bawah tekanan,
sehingga bisa menghasilkan keputusan (penilaian) yang tidak tepat dan perlu diubah.
Breakdowns.
Keterbatasan ketiga adalah kerusakan yang dapat terjadi karena kesalahan
pegawai. Sistem IC yang baik bisa mengalami kerusakan. Personel mungkin dapat
salah memahami instruksi, melakukan kesalahan, atau memiliki terlalu banyak tugas
Management Override.
Keterbatasan keempat adalah kemampuan manajemen untuk mengabaikan IC.
Entitas dengan sistem pengendalian internal yang efektif masih mungkin untuk memiliki
manajer yang mengesampingkan IC.
Collusion
Keterbatasan kelima adalah kemampuan manajemen, personel lain, dan pihak
ketiga untuk melakukan kolusi. Kolusi dapat mengakibatkan defisiensi dalam IC.
Individu yang beraksi secara bersama-sama dapat menyembunyikan tindakan
kecurangan dan mengubah informasi keuangan atau lainnya sehingga tidak dapat
dicegah dan dideteksi oleh IC.
a. Lingkungan pengendalian
Pimpinan Instansi Pemerintah dan seluruh pegawai harus menciptakan dan
memelihara lingkungan dalam keseluruhan organisasi yang menimbulkan perilaku
positif dan mendukung terhadap pengendalian intern dan manajemen yang sehat.
b. Penilaian risiko
Pengendalian intern harus memberikan penilaian atas risiko yang dihadapi unit
organisasi baik dari luar maupun dari dalam.
c. Kegiatan pengendalian
Informasi harus dicatat dan dilaporkan kepada pimpinan Instansi Pemerintah dan
pihak lain yang ditentukan. Informasi disajikan dalam suatu bentuk dan sarana tertentu
serta tepat waktu sehingga memungkinkan pimpinan Instansi Pemerintah
melaksanakan pengendalian dan tanggung jawabnya.
e. Pemantauan
Pemantauan harus dapat menilai kualitas kinerja dari waktu ke waktu dan
memastikan bahwa rekomendasi hasil audit dan reviu lainnya dapat segera
ditindaklanjuti.
Dan dalam Pasal 58 UU No. 1 Tahun 2004 menyatakan bahwa “Dalam rangka
meningkatkan kinerja, transparansi, dan akuntabilitas pengelolaan keuangan negara,
Presiden selaku Kepala Pemerintahan mengatur dan menyelenggarakan system
pengendalian intern di lingkungan pemerintahan secara menyeluruh. Sistem
pengendalian intern sebagaimana dimaksud ditetapkan dengan peraturan pemerintah”.
Disini bisa dilihat bahwa Framework ini sudah masuk sebagai kerangka kerja
pemerintahan dalam pengelolaan keuangan yang kegiatannya sama seperti yang
dijelaskan pada kerangka kerja framework internal control.
III. Kesimpulan
Framework COSO Internal Control sangat cocok dengan
Organisasi atau institusi yang ingin memfokuskan kepada pengelolaan
finansial. Framework ini mempunyai kerangka-kerangka yang dapat
meyakinkan pengelolaan yang baik terutama pada pengelolaan keuangan.
Pada pengelolaan keuangan jika dilihat dari investasi terhadap IT maka
keuangan tersebut harus dikelola dengan baik untuk mencapai tujuan
organisasi tersebut. Pengelolaan yang baik terhadap implementasi IT
dapat mencegah terjadinya kesalahan dalam pengaturan uang tersebut
contohnya penggelapan uang sehingga Framework ini menawarkan
Kerangka yang dapat mengelola keuangan dengan baik bahkan dapat
mengelola kinerja dari organisasi tersebut.