0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
27 tayangan44 halaman

Pengembangan Rancangan Arsitektur Proyek

Dokumen tersebut membahas tentang koordinasi dengan pihak terkait dalam pengembangan rancangan arsitektur, meliputi penyusunan jadwal koordinasi, persiapan bahan rapat, pelaksanaan koordinasi, dan pengembangan gambar rancangan berdasarkan hasil koordinasi untuk disampaikan kepada pemberi tugas.

Diunggah oleh

Dian Fitriani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
27 tayangan44 halaman

Pengembangan Rancangan Arsitektur Proyek

Dokumen tersebut membahas tentang koordinasi dengan pihak terkait dalam pengembangan rancangan arsitektur, meliputi penyusunan jadwal koordinasi, persiapan bahan rapat, pelaksanaan koordinasi, dan pengembangan gambar rancangan berdasarkan hasil koordinasi untuk disampaikan kepada pemberi tugas.

Diunggah oleh

Dian Fitriani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

4 Membuat Pengembangan

Rancangan Arsitektur

Objektif
 Melaksanakan koordinasi dengan pihak terkait
 Jadwal koordinasi dengan pihak terkait disusun sesuai dengan
kebutuhan.
 Bahan rapat koordinasi dengan pihak terkait disiapkan sesuai dengan
materi Koordinasi
 Koordinasi dengan pihak terkait dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan.
 Gambar pra rancangan dikembangkan setelah disetujui pemberi tugas.
 Gambar pra rancangan dikoordinasikan dengan ahli terkait lain.
 Gambar pengembangan rancangan yang telah dikoordinasikan dengan
ahli terkait lain dibuat sesuai hasil koordinasi.
 Garis besar spesifikasi teknis dan prakiraan biaya disusun sesuai dengan
gambar pengambangan rancangan.
 Gambar pengembangan rancangan dan garis besar spesifikasi teknis
serta prakiraan biaya disampaikan kepada pemberi tugas.

1.1 Melaksanakan koordinasi dengan pihak terkait


Manajemen adalah kemampuan untuk memperoleh hasil dalam rangka pencapaian tujuan
melalui kegiatan Konstruksi adalah semua kegiatan yang berkaitan dengan pelaksanaan
kegiatan membangun suatu bangunan Manajemen Konstruksi adalah bagaimana suatu
pekerjaan pembangunan dikelola agar diperoleh hasil sesuai dengan tujuan dari pembangunan
tersebut Tujuan manajemen konstruksi adalah mengelola sumber daya yang terlibat dalam
proyek konstruksi atau mengatur pelaksanaan pembangunan sehingga diperoleh hasil sesuai
dengan persyaratan (spesification).
Banyaknya kegiatan-kegiatan yang dilakukan dengan resiko yang cukup besar dari
berbagai macam permasalahan yang dihadapi dalam pembangunan proyek konstruksi,
memerlukan tenaga ahli, koordinasi dan pengawasan akan tata cara pelaksanaan pembangunan
yang dilakukan secara menyeluruh mulai dari perancangan, perencanaan sampai dilakukannya

1
pembangunan fisik. Dalam mencapai efisiensi dan efektivitas kerja terpenuhi dengan baik,
maka diperlukan manajemen proyek yang baik. Hal ini bertujuan agar dapat merencanakan dan
mengendalikan waktu perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan sebagainya sesuai dengan
perjanjian tertulis didalam dokumen kontrak dengan biaya murah dan mutu yang baik.
Manajemen proyek adalah tata cara atau pengelolaan perencanaan (rencana kerja),
pelaksanaan, pengendalian dan koordinasi suatu proyek berdasarkan persyaratan teknik dan
administrasi dari awal pelaksanaan sampai dengan selesainya masa kontrak kerja konstruksi
secara efektif dan efisien, untuk menjamin bahwa proyek dilaksanakan tepat mutu, tepat waktu,
dan tepat biaya untuk mencapai tujuan dengan menggunakan metode-metode tertentu agar
tercapai hasil yang maksimal. Tujuan dari penyusunan organisasi proyek adalah untuk
mengetahui posisi setiap unsur yang terlibat dalam proyek tersebut mencakup tugas, kewajiban
dan deskripsi hubungan kerja.
Dalam melaksanakan suatu pekerjaan atau proyek diperlukan kerjasama yang baik antara
beberapa pihak atau orang. Setiap pihak atau orang mempunyai hak dan kewajiban serta
tanggung jawab masing–masing dalam mengatur dan mengendalikan tugas serta tanggung
jawab tersebut sesuai dengan keahliannya masing-masing. Berhasil atau tidaknya suatu proyek
yang dilaksanakan sangat tergantung kepada perilaku atau kegiatan satuan–satuan organisasi
para pelaksananya dikoordinasi dalam suatu sistem manajemen. Dalam suatu proyek,
pelaksanaan proyek harus sesuai dengan syarat–syarat yang telah ditetapkan.
Dalam pelaksanaan suatu proyek harusnya memiliki suatu susunan organisasi yang baik,
kelengkapan, loyalitas, dan hubungan antar anggota organisasi sangat menentukan pelakanaan
suatu proyek apakah berjalan dengan baik atau tidak. Adapun tugas, wewenang dan tanggung
jawab dari masing-masing komponen dari struktur organisasi tersebut adalah:
1. Pemilik atau Owner
Owner dari pekerjaan Pembangunan Rumah Sakit [Link] adalah Bambang
Suwarno. Yang memberikan tugas dan membiayai proyek. mempunyai tugas sebagai
berikut:
a. Menyediakan dan membayar semua biaya yang dikeluarkan untuk membangun
proyek.
b. Menilai pekerjaan ( menyetujui atau menolak perubahan ) dan melakukan
pengawasan secara berkala.
c. Menandatangani surat perjanjian atau kontrak dan mengeluarkan surat perintah
kerja kepada pihak konsultan perencana, konsultan pengawas dan kontaktor
pelaksana.

2
d. Menetapkan waktu pelaksanaan pekerjaan dan menerima pekerjaan apabila telah
selesai seseuai dengan syarat yang telah ditetapkan.
e. Menuntut perbaikan dan penyempurnaan bangunan dalam masa pemeliharaan.

2. Konsultan Perencana
a. Membuat sketsa gagasan atau master plan dan pra rencana serta membuat gambar–
gambar kerja dan detailnya serta menyiapkan gambar bestek.
b. Membuat perhitungan struktur bangunan, operasi proyek dan bertanggung jawab
atas semua yang telah direncanakan dan membuat revisi apabila ada perubahan
rencana.

3. Konsultan Pelaksana
Kontraktor pelaksana merupakan pihak yang berkewajiban melaksanakan
pekerjaan sesuai dengan gambar–gambar kerja dan rencana pekerjaan yang telah
ditetapkan dalam dokumen kontrak, sesuai dengan biaya kontrak yang telah dibuat oleh
owner. Kontraktor pelaksana harus bertanggung jawab untuk menyelesaikan pekerjaan
sesuai dengan dokumen kontrak yang telah ditetapkan, mempunyai tugas dan
kewajiban serta wewenang sebagai berikut:
a. Memenuhi syarat-syarat yang tercantum dalam dokumen kontrak dengan segala
lampirannya, syarat-syarat umum administrasi, syarat-syarat teknis, syarat-
syarat bahan dan lain sebagainya.
b. Mengikuti dan menaati segala petunjuk dari pemilik proyek dan konsultan
pengawas.
c. Kontraktor pelaksana hadir dalam setiap rapat yang diselenggarakan berkaitan
dengan pelaksanaan pekerjaan di lapangan.
d. Memberikan laporan mengenai perkembangan proyek di lapangan.
e. Melaksanakan pekerjan di lapangan sesuai dengan gambar dan dokumen
kontrak yang telah di tentukan.
f. Melakukan pelaporan kegiatan konstruksi sesuai dengan waktu dan format yang
ditentukan oleh konsultan pengawas.
g. Pelaksanaan proyek berkewajiban memenuhi:
 Pengamanan secara wajar dan sehat atas semua orang, tenaga kerja, juga
pengunjung yang berkepentingan terhadap proyek.

3
 Pencegahan terhadap kerusakan, kebakaran, atau hilangnya sebagian atau
semua hasil pekerjaan, bahan, dan peralatan yang berada di lokasi
pekerjaan proyek.
 Penyediaan perlengkapan p3k serta meminta semua tenaga kerja untuk
bekerja menggunakan alat-alat keselamatan kerja.

4. Konsultan Pengawas
Konsultan pengawas adalah suatu badan hukum yang membantu pemilik proyek
dan berperan dalam memberikan pengawasan dan mengontrol pelaksanaan sesuai
dengan dokumen kontrak. Tugas dan kewajiban serta wewenang Konsultan Pengawas
yaitu:
a. Mengawasi dan mengontrol pelaksanaan proyek untuk semua bagian konstruksi
agar sesuai dengan perencanaannya.
b. Mengendalikan dan mengontrol pelaksanaan proyek yang menyangkut aspek
kualitas, biaya dan waktu pelaksanaan proyek.
c. Mengevaluasi dan mengajukan usulan kepada Kontaktor Pelaksana untuk semua
bagian konstruksi dan pelaksanaanya dilapangan.
d. Menunjuk satu atau beberapa staf untuk melaksanakan pengawasan di lapangan.
e. Membuat laporan tentang kemajuan pekerjaan di lapangan baik berupa laporan
harian, laporan mingguan, maupun laporan bulanan.
f. Mengadakan pemeriksaan terhadap mutu bahan yang digunakan.
g. Memberikan saran dan teguran atau peringatan kepada kontraktor seandainya
dalam pelaksanaan pekerjaan di lapangan terjadi yng dapat mengakibatkan mutu
pekerjaan tidak sesuai dengan standar yang telah ditentukan.

5. QC Supervisor
Quality Control adalah seorang ahli teknik dalam kualitas material, kualitas
pekerjaan dan bertugas mengontrol pengadaan material bangunan. Quality Control
dalam pekerjaanya bertanggung jawab kepada manager proyek atas segala
pekerjaan yang dikerjakan dalam proyek

4
6. Administrasi
Pada proyek ini administrasi dalam tugasnya bertanggung jawab pada site
manager proyek. Tugas dan kewajiban administrasi yaitu:
a. Menangani masalah surat menyurat dalam urusan untuk proyek bangunan.
b. Memonitor dan menyusun rencana pengeluaran, pinjaman sera penyedia
anggaran dana proyek pembangunan.
c. Membuat laporan berkala dalam pelaksanaan pekerjaan bangunan.
d. Melakukan pembukuan untuk berkas-berkas transaksi dan surat masuk
serta surat keluar.

7. Site Manager
Memimpin unit engineering dan berwenang mengelola urusan yang menyangkut fungsi
perencanaan, teknik, dan pengendalian antara lain:
a. Perencanaan metode pelaksanaan.
b. Perencanaan gambar kerja.
c. Perencanaan jadwal pelaksanaan, jadwal bahan, jadwal peralatan, dan
jadwal tenaga kerja.
d. Perencanaan mutu.

8. Logistik
Tugas dari logistik adalah sebagai berikut :
a. Menyediakan peralatan dan material yang dibutuhkan untuk pekerjaan di
peroyek
b. Mencatat keluar masuknya bahan yang digunakan selama pelaksanaan proyek.
c. Membuat laporan.
Dalam menjalankan tugasnya bagian logistik berhubungan langsung dengan
pelaksana dalam pembelian bahan material. Kemudian berhubungan dengan site
manager untuk mengesahkan pembelian material, setelah itu berhubungan dengan
pelaksana yaitu dimana baiknya penempatan bahan material yang tiba di lapangan,
kemudian bagian logistik melapokan hasil pembelian bahan material kepada bagian
administrasi proyek.

5
9. Mandor
Mandor mempunyai tugas untuk mengontrol pelaksanaan proyek dan mengontrol
jalannya operasional di lapangan dan mengarahkan pekerja atau tukang. Mandor juga
mempunyai tanggung jawab kepada pelaksana, adapu tugas dan wewenang mandor
antara lain:
a. Bertanggung jawab kepada pimpinan proyek.
b. Mengangkat dan memberhentikan tukang sesuai dengan penilaian dan keahlian dan
kemampuan menyelesaikan tugas.
c. Mengarahkan para tukang dan kuli jika ada kesalahan dalam pelaksanaan
pembangunan.
d. Mengawasi pembangunan proyek yang dikerjakan.
e. Melaksanakan perintah sesuai dengan surat perintah dari pimpinan proyek untuk
pekerjaan yang dilaksanakan sesuai dengan gambar RKS yang telah ditentukan.

10. Kepala Tukang


Kepala tukang memegang peranan penting dalam pelaksanaan pekerjaan secara
langsung sampai bangunan tersebut selesei. Kepala tukang turut menentukan baik
buruknya mutu bangunan dan bertanggung jawab langsung kepada mandor serta turut
mengatur dan mengarahkan.

11. Tukang
a. Menyelesaikan tugasnya dengan baik sesuai dengan keahliannya.
b. Berusaha untuk mendapatkan hasil kerja yang sebaik mungkin.
c. Bertanggung jawab atas pekerjaannya.

[Link]
a. Membantu segala keperluan yang dibutuhkan tukang.
b. Membantu menyediakan barang – barang untuk keperluan tukang
c. Sedia setiap saat bila dibutuhkan oleh tukang.

[Link] (penjaga Keamanan Lapangan)


Penjaga keamanan lapangan adalah orang yang diberikan tugas untuk menjaga
keamanan di daerah proyek pembangunan. Tugas dan kewajiban penjaga keamanan
lapangan yaitu:

6
a. Melakukan pengamanan pada wilayah proyek.
b. Bertanggung jawab atas barang milik proyek atau perusahaan.

1.2 Jadwal koordinasi dengan pihak terkait disusun sesuai dengan kebutuhan
Bekerja di proyek konstruksi tidak akan pernah lepas dari masalah karena kegiatan
membangun itu sendiri merupakan suatu kegiatan memecahkan persoaalan pada suatu
tempat dengan mendirikan bangunan agar bisa menjadi solusi untuk fasilitas aktifitas yang
tidak bisa dilakukan sebelumnya. Bermacam masalah tersebut membutuhkan upaya
pemecahan dan penyatuan visi antar organisasi pekerja proyek sehingga dapat mencapai
tujuan bersama yaitu membangun sebuah bangunan seperti apa yang diharapkan
sebelumnya, hal ini membutuhkan suatu pertemuan khusus untuk membahasnya yang
dinamakan rapat koordianasi proyek.
Dalam proses mencapai tujuan serta sasaran proyek konstruksi ditentukan 3 batasan yaitu
besar anggaran yang dialokasikan dan jadwal serta mutu yang harus dipenuhi Ketiga
batasan disebut tiga kendala (triple constrain):

Gambar 1 Diagram hubungan 3 batasan sasaran dan tujuan

Dalam melaksanakan ketiga batasan tersebut ada 3 tahapan yang harus dilaksanakan :
 Planning, Penetapan tujuan (goal setting) Perencanaan (planning) Pengorganisasian
(organizing)
Fungsi Perencanaan ( Planning ); adalah berupa tindakan pengambilan keputusan yang
mengandung data/informasi, asumsi maupun fakta kegiatan yang akan dipilih dan akan
dilakukan pada masa yang akan datang, antara lain :
 menetapkan tujuan dan sasaran usaha
 menyusun rencana induk jangka panjang dan jangka pendek
 mengembangkan strategi dan prosedur

7
 menyiapkan pendanaan dan prosedur operasi Fungsi Perencanaan ini
manfaatnya adalah sebagai alat kontrol maupun pengendali kegiatan,
pedoman,serta sarana untuk memilih dan menetapkan kegiatan yang diperlukan.

Fungsi peng-Organisasi-an (Organizing); adalah berupa tindakan-tindakan guna


menyatakan kumpulan kegiatan manusia dengan jobs msing-masing, saling
berhubungan dengan tata cara tertentu dan berinteraksi dengan lingkungannya dalam
rangka tercapainya tujuan, tindakannya berupa :
 menetapkan daftar penugasan
 menyusun lingkup kegiatan
 menyusun struktur organisasi
 menyusun daftar personil organisasi berikut lingkup tugasnya.

 Actuating, Pengisian staff (staffing) Pengarahan (directing)


Fungsi Pelaksanaan ( Actuating); adalah berupa tindakan untuk menyelaraskan seluruh
anggota organisasi didalam kegiatan pelaksanaan, sehingga seluruh team dapat bekerja
sama dalam pencapaian tujuan bersama. Tindakan tersebut antara lain:
 mengkoordinasikan pelaksanaan kegiatan
 mendisribusikan tugas, wewenang dan tanggung-jawab
 memberikan pengarahan penugasan dan memotivasi.

 Controlling, Pengawasan (supervising) Pengendalian (controlling) Koordinasi


(cordinating)
Fungsi Pengendalian ( Controlling); adalah berupa tindakan pengukuran kualitas
penampilan, dan penganalisaan serta pengevaluasi performa yang diikuti dengan
tindakan perbaikan yang harus diambil terhadp penyimpangan yang terjadi (diluar batas
toleransi yang dijinkan), tindakan tersebut antara lain adalah:
 mengukur kualitas hasil
 membandingkan hasil terhadap standart kualitas
 mengevaluasi penyimpangan yang terjadi
 memberikan saran-saran perbaikan
 menyusun laporan kegiatan

8
1.3 Bahan rapat koordinasi dengan pihak terkait disiapkan sesuai dengan materi
Koordinasi
Rapat konstruksi dan rapat koordinasi proyek adalah wadah media komunikasi dan
koordinasi antar anggota tim manajemen proyek yang terdiri dari pemilik proyek,
konsultan pengawas dan/atau konsultan manajemen konstruksi, serta kontraktor atau
pihak-pihak lain yang berkepentingan dengan materi rapat tersebut dalam rangka
penyelesaian pelaksanaan proyek. Rapat konstruksi dan rapat koordinasi yang
dilaksanakan bersama tim manajemen proyek bersifat resmi/formal. Namun,
pelaksanaannya kadang bersifat tidak resmi/informal.

Rapat Konstruksi
 Biasanya dilakukan disekali setiap bulan
 Biasanya dilakukan di kantor pemilik proyek atau di kantor proyek
 Rapat bersifat formal
 Undangan resmi diberikan
 Agenda rapat ditentukan
 Peserta rapat membawa data dan alternatif usulan penyelesaian masalah proyek,
rencana kerja berikutnya, dan sebagainya
 Keputusan merupakan kesepakatan bersama dari partisipan rapat dan dituangkan dalam
berita acara rapat
 Rapat dipimpin oleh pemilik proyek (pimpinan proyek/manajer proyek/manajer
konstruksi)

Rapat Koordinasi
 Biasanya dilaksanakan sekali setiap minggu
 Biasanya dilaksanakan di kantor proyek
 Rutin, tanpa undangan, cukup pemberitahuan langsung
 Agenda rapat yang dibahas sekitar rencana kerja, kesiapan sumber daya, kemajuan
pekerjaan, dan hal-hal yang berhubungan dengan kelancaran operasional pelaksanaan
proyek
 Biasanya dilakukan dengan suasana informal
 Peserta rapat membawa data dan materi usulan
 Melaksanakan koordinasi yang perlu untuk mendapatkan penyelesaian bersama
 Rapat dipimpin oleh koordinator pelaksana lapangan

9
Bekerja di proyek konstruksi tidak akan pernah lepas dari masalah karena kegiatan
membangun itu sendiri merupakan suatu kegiatan memecahkan persoaalan pada suatu
tempat dengan mendirikan bangunan agar bisa menjadi solusi untuk fasilitas aktifitas yang
tidak bisa dilakukan sebelumnya. bermacam masalah tersebut membutuhkan upaya
pemecahan dan penyatuan visi antar organisasi pekerja proyek sehingga dapat mencapai
tujuan bersama yaitu membangun sebuah bangunan seperti apa yang diharapkan
sebelumnya, hal ini membutuhkan suatu pertemuan khusus untuk membahasnya yang
dinamakan rapat koordianasi proyek. Terdapat bermacam tipe rapat dapat dikelompokan
menurut pembahasan dan apa yang terlibat di dalamnya. Berikut ini daftar rapat koordinasi
yang ada pada pelaksanaan proyek konstruksi skala besar seperti gedung bertingkat tinggi
atau pembangunan jalan raya.

 Rapat Teknik / Engineering


Koordinasi beberapa staf proyek bagian teknik seperti Quality qontrol, Quantity
surveyor, drafter, logistik dan bagian lainya yang dipimpin oleh manajer teknik untuk
membahas hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan teknik seperti rencana daftar
pekerjaan atau material yang harus diadakan lebih awal, rencana pembuatan shop
drawing, pembuatan dokumen kontrak dll.

 Rapat pelaksana lapangan


Dipimpin oleh manajer lapangan untuk membahas rencana kerja ke depan dan berbagai
permasalahan seputar pelaksanaan dilapangan seperti usulan dari pelaksana atau
mandor untuk merapikan item pekerjaan tertentu agar bisa melakukan langkah
selanjutnya, membahas check list pekerjaan jelek dilapangan agar bisa segera
diperbaiki. rapat ini dapat dilakukan sehari sekali atau seminggu sekali.

 Rapat kontraktor dan management konstruksi


Pertemuan kontraktok dan konsultan pengawas hampir dilakukan setiap hari misalnya
untuk proses pengajuan izin kerja item pekerjaan tertentu, pengajuan gambar shop
drawing sebagai pedoman pelaksanaan, aproval material, perhitungan volume
bangunan bersama, penyampaian memo lapangan atau site instruction dari management
konstruksi kepada kontraktor.

10
 Rapat kontraktor dan perencana
Membahas permasalahan teknis seputar perencanaan seperti pengajuan material yang
akan digunakan oleh kontraktor, usulan perubahan desain dari kontraktor setelah
melakukan value engineering, membahas adanya perbedaan kondisi lapangan dengan
gambar perencanaan sebelumnya sehingga memerlukan desain ulang, dan bermacam
tema bahasan lainya yang diharapkan dapat memperlancar aktifitas jalanya pelaksanaan
pembangunan proyek konstruksi.

 Rapat besar ( Pemilik proyek + perencana + kontraktor + konsultan


pengawas )
Semua pimpinan lembaga yang terlibat dalam pelaksanaan proyek bertemu dalam
waktu seminggu atau sebulan sekali untuk membahas hal-hal seputar pelaksanaan,
seperti penyampaian keinginan pemilik proyek agar dapat diaplikasikan oleh
kontraktor, penyampaian beberapa teguran konsultan pengawas kepada kontraktor agar
jalanya pekerjaan tetap berpedoman pada kontrak awal, pembahasan kontrak kerja
selanjutnya dan lain-lain.
Selain itu bisa diadakan rapat koordinasi proyek lainya apabila dalam keadaan darurat
atau sedang membahas rencana tertentu seperti perencanaan rekreasi bersama karena
proyek sudah dapat selesai dengan baik

1.4 Koordinasi dengan pihak terkait dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan.


Dengan telah terbentuknya organisasi, juklak dan jadwal pelaksanaan proyek dan rencana
pengadaan sumber daya, maka langkah selanjutnya adalah melaksanakan kegiatan
konstruksi di lapangan. Pelaksanaan kegiatan / pekerjaan konstruksi di lapangan dilakukan
di bawah pengelolaan tim proyek yang dipimpin oleh Manager Proyek.
Agar pelaksanaannya mencapai target yang telah ditetapkan dalam rencana pelaksanaan,
maka diadakan rapat koordinasi sebagai salah satu alat bantu manajemen. Rapat koordinasi
dilakukan untuk membahas tentang masalah operasional dan diadakan di proyek yang
terdiri dari :
 Kick of meeting
Kick of Meeting dilaksanakan saat kegiatan proyek akan dimulai dan kalau belum bisa
dilokasi proyek dilaksanakan sedekat mungkin dengan lokasi.

11
Tujuan rapat adalah untuk
- "Team Building", membangun tim proyek agar seluruh petugas, sesuai dengan
struktur organisasi dan uraian kerja, memahami benar tugas yang menjadi tanggung
jawabnya.
- Menyamakan presepsi tentang jadwal, kualitas dan anggaran proyek
- Menyatukan langkah agar masing-masing unit tidak berjalan sendiri dalam
menjalankan tugasnya
- Mengikuti SOP (Standard Operating Procedure) yang berlaku

 Tool box meeting


adalah rapat persiapan untuk membahas pelaksanaan suatu bagian pekerjaan tertentu.
Misalnya setelah selesai pekerjaan kolom beton, maka untuk memulai pekerjaan
berikutnya yaitu erection rangka atap baja, dilakukan tool box meeting.
Agenda rapat
- metoda kerja yang akan diterapkan
- Personil / unit kerja masing-masing yang terkait
- rute dan lay out peralatan dan bahan

 Rapat Harian
adalah rapat yang diadakan untuk merencanakan apa yang harus dikerjakan besok hari,
serta memantau apa yang telah dikerjakan hari ini, apakah sudah sesuai dengan rencana
kerja harian. Peserta rapat dihadiri oleh General Superintendent / Kepala Pelaksana,
Superintendent / Pelaksana lapangan, Subkontraktor, Mandor dan bila perlu staf terkait.

Rapat dipimpin oleh Manajer Operasi.


Agenda rapat Melakukan evaluasi apakah target yang diterapkan tercapai dan
menetapkan target untuk besok [Link] rapat, dapat dilakukan siang / sore hari,
dimana pekerja sudah running well mengerjakan program harian, dilaksanakan secara
singkat +/- 1 jam.

12
 Rapat Mingguan
adalah untuk merencanakan apa yang dikerjakan minggu depan, serta memantau apa
yang telah dikerjakan minggu ini, untuk mengetahui apakah sudah sesuai dengan
rencana kerja mingguan. Peserta rapat adalah Manager Teknik, Manager Operasi,
Manager Administrasi. Rapat dipimpin oleh Manager [Link] rapat antara lain
adalah
- Mengevaluasi progress dan pencapaian pekerjaan yang ditargetkan minggu lalu
- Membahas target penyelesaian pekerjaan seminggu yang akan datang.

 Rapat Bulanan
Peserta rapat adalah Manager Teknik, Manager Operasi, Manager Administrasi, Staf
dan pihak ketiga bila diperlukan. Agenda rapat antara lain meliputi:
- Meninjau notulen rapat bulan lalu
- Pembahasan pencapaian Objectives / Program Kerja Proyek, antara lain
- EBPP (Evaluasi Biaya Pelaksanaan Proyek)
- Kinerja
- Quality Target (mutu produk, House keeping, Safety)
- Potensial problem
- Customer Complaint
- Masalah SDM
- Cash Flow (termin, dropping, pembayaran hutang, jurnal akutansi dan keuangan)
- Lain-lain (inovasi, sistem dokumentasi)

1.5 Membuat Pengembangan Rancangan


Merupakan tahap pengembangan dari pra rancangan yang sudah dibuat dan perhitungan-
perhitungan yang lebih detail, mencakup :
 Perhitungan-perhitungan detail (struktural maupun non struktural) secara terperinci
 Gambar-gambar detail (gambar arsitektur, elektrikal, struktur, mekanal, dsb)
 Outline specification (garis besar)
 Estimasi cost untuk konstruksi secara terperinci

13
1.6 Menyusun Laporan Pengembangan Rancangan.
A. Maksud dan tujuan
Maksud dibuat lapaoran secara tertulis dan dilengkapi dengan gambar gambar adalah
untuk memberikan gambaran kepada pemberi tugas meneganai garis besar taerkait
perencanaan dan perancangan arsitektur dari awal hingga akhir sedangkan tujuannya
adalah memudahkan dalam memahamai materi ,argumentasi dan solusi dari bentuk,
sistem dan pola yang diterapkan dalam rancangan bangunan

B. Isi laporan
Isi laporan adalah laporan secara tertulis yang memuat garis besar proses
perancangan,sebagai upaya memudahkan memahami tentang alur pikir arsitek terhadap
pemilik bangunan. Umumnya laporan disampaikan oleh arsitek pada tahap akhir
presentasi perancangan diselesikan
Laporan ini disampaikan dalam bentuk buku yang disertai dengan paparan disaat
presentasi, hal ini untuk memeudahkan cross chek.
Laporan perancangan ini terdiri dari beberapa hal:
1. Latar belakang judul tugas
Berisi latar belakang atau sebab musabab diberikannya tugas.
2. Pengertian dan ruang lingkup judul
Menguraikan judul fungsi dengan penegrtian yang benar dan teori arsitektur
,lengkap dengan ruang lingkup desainnya, apakah sampe gamabar rencana atau
dengan rancangannya
3. Batasan permasalahan
Berisis tingkat kedalamaa teknis permasalahan yang hendak diangkat dan
dimunculkan yg menjadi dasar pengolahan dan analisis pada tahap selanjutnya
4. Sintesis dan kesimpulan
Permasalahan. Dari yang di dapat maka sinteis permasalahan menjadi dasar yg
kan mempengaruhi perancangan gedung
5. Konsep pemecahan permasalahan
Merupakan titik tolak perancangan sebagai pedoman maksuknya gagasan dan
prinsip arsitek dan sebagai pemacahan masalah fungsi, estetika, kekuatan dan
anggaran biaya bangunan
6. Aplikasi dan solusi perancangan

14
Berisi gambar-gambar perancangan beserta keterangan tentang bahan bangunan
yang digunakan.

1.7 Pengembangan Rancangan


Tahapan Proses Perancangan Menurut IAI Tdalam proses perancangan menurut Ikatan
Arsitek Indonesia pada buku “ Pedoman Hubungan Kerja Antara Arsitek dengan Pengguna
Jasa” Pasal 36 (IAI, 2007, p.24) adalah :
Tahap 1 : Tahap Konsep Rancangan
a. Sebelum kegiatan perancangan dimulai, perlu ada kejelasan mengenai
semua data dan informasi dari pengguna jasa yang terkait tentang
kebutuhan dan persyaratan pembangunan agar supaya maksud dan
tujuan pembangunan dapat terpenuhi dengan sempurna
b. Pada tahap ini arsitek melakukan persiapan perancangan yang meliputi
pemeriksaan seluruh data serta informasi yang diterima, membuat
analisis dan pengolahan data yang menghasilkan:
 Program Rancangan yang disusun arsitek berdasarkan
pengolahan data primer maupun sekunder serta informasi lain
untuk mencapai batasan tujuan proyek serta kendala
persyaratan/ketentuan pembangunan yang berlaku. Setelah
program rancangan diperiksa dan mendapat persetujuan
pengguna jasa, selanjutnya digunakan sebagai dasar untuk
konsep rancangan.
 Konsep Rancangan yang merupakan dasar pemikiran dan
pertimbangan-pertimbangan semua bidang terkait (baik struktur,
mekanikal, elektrikal, dan atau bidang keahlian lain bila
diperlukan) yang melandasi perwujudan gagasan rancangan
yang menampung semua aspek, kebutuhan, tujuan, biaya, dan
kendala [Link] mendapatkan persetujuan dari pengguna
jasa konsep ini merupakan dasar perancangan tahap selanjutnya.

Tahap 2: prarancangan/skematik desain meliputi :


a. Prarancangan Pada tahap ini berdasarkan konsep rancangan yang paling sesuai
dan dapat memenuhi persyaratan program perancangan, arsitek menyusun pola

15
dan gubahan bentuk arsitektur yang diwujudkan dalam gambar-gambar.
Sedangkan nilai fungsional dalam bentuk diagram-diagram. Aspek kualitatif
lainnya serta aspek kuantitatif seperti perkiraan luas lantai, informasi
penggunaan bahan, sistem konstruksi, biaya, dan waktu pelaksanaan
pembangunan disajikan dalam bentuk laporan tertulis maupun gambar-
[Link] diperiksa dan mendapat persetujuan dari pengguna jasa, arsitek
akan melakukan kegiatan tahap selanjutnya.
b. Sasaran tahap ini adalah untuk:
 Membantu pengguna jasa dalam memperoleh pengertian yang tepat atas
program dan konsep rancangan yang telah dirumuskan arsitek.
 Mendapatkan pola dan gubahan bentuk rancangan yang tepat, waktu
pembangunan yang paling singkat, serta biaya yang paling ekonomis.
 Memperoleh kesesuaian pengertian yang lebih tepat atas konsep rancangan
serta pengaruhnya terhadap kelayakan lingkungan.
 Menunjukkan keselarasan dan keterpaduan konsep rancangan terhadap
ketentuan Rencana Tata Kota dalam rangka perizinan

Proses Perancangan Menurut IAI

Gambar 2 Kajian Ringkas Proses Perancangan Menurut IAI

16
Tahap Pengembangan Rancangan Tahap Prarancangan / Skematik Desain menurut “
Pedoman Hubungan Kerja Antara Arsitek dengan Pengguna Jasa” Pasal 38 (IAI, 2007,
p.26) adalah: a. Pada tahap Pengembangan Rancangan, arsitek bekerja atas dasar
prarancangan yang telah disetujui oleh pengguna jasa untuk menentukan:
a) Sistem konstruksi dan struktur bangunan, sistem mekanikal-elektrikal, serta
disiplin terkait lainnya dengan mempertimbangkan kelayakan dan kelaikannya
baik terpisah maupun secara terpadu.
b) Bahan bangunan akan dijelaskan secara garis besar dengan mempertimbangkan
nilai manfaat, ketersediaan bahan, konstruksi, dan nilai ekonomi.
c) Perkiraan biaya konstruksi akan disusun berdasarkan sistem bangunan,
kesemuanya disajikan dalam bentuk gambar-gambar, diagram-diagram sistem,
dan laporan tertulis.
d) Setelah diperiksa dan mendapat persetujuan dari pengguna jasa, hasil
pengembangan rancangan ini dianggap sebagai rancangan akhir dan digunakan
oleh arsitek sebagai dasar untuk memulai tahap selanjutnya.

Sasaran tahap ini adalah:


a. Untuk memastikan dan menguraikan ukuran serta wujud karakter bangunan
secara menyeluruh, pasti, dan terpadu.
b. Untuk mematangkan konsep rancangan secara keseluruhan, terutama ditinjau dari
keselarasan sistem-sistem yang terkandung di dalamnya baik dari segi kelayakan
dan fungsi, estetika, waktu, dan ekonomi bangunan

1.8 Gambar Pra Rancangan Dikembangkan Setelah Di Setujui Pemberi Tugas


Tahap Pembuatan Gambar Kerja menurut “ Pedoman Hubungan Kerja Antara Arsitek
dengan Pengguna Jasa” Pasal 39 (IAI, 2007, p.27) adalah pada tahap pembuatan gambar kerja,
berdasarkan hasil pengembangan rancangan yang telah disetujui pengguna jasa, arsitek
menerjemahkan konsep rancangan yang terkandung dalam pengembangan rancangan tersebut
ke dalam gambar-gambar dan uraian-uraian teknis yang terinci sehingga secara tersendiri
maupun secara keseluruhan dapat menjelaskan proses pelaksanaan dan pengawasan konstruksi.
Arsitek menyajikan dokumen pelaksanaan dalam bentuk gambar-gambar kerja dan tulisan

17
spesifikasi dan syarat-syarat teknik pembangunan yang jelas, lengkap dan teratur, serta
perhitungan kuantitas pekerjaan dan perkiraan biaya pelaksanaan pembangunan yang jelas,
tepat, dan terinci. Setelah diperiksa dan mendapat persetujuan dari pengguna jasa, Gambar
Kerja yang dihasilkan ini dianggap sebagai rancangan akhir dan siap digunakan untuk proses
selanjutnya.

Sasaran tahap ini adalah:


a. Untuk memperoleh kejelasan teknik pelaksanaan konstruksi, agar supaya
konsep rancangan yang tergambar dan dimaksud dalam Pengembangan
Rancangan dapat diwujudkan secara fisik dengan mutu yang baik.
b. Untuk memperoleh kejelasan kuantitatif, agar supaya biaya dan waktu
pelaksanaan pembangunan dapat dihitung dengan seksama dan dapat
dipertanggungjawabkan.
c. Untuk melengkapi kejelasan teknis dalam bidang administrasi pelaksanaan
pembangunan dan memenuhi persyaratan yuridis yang terkandung dalam
dokumen pelelangan dan dokumen perjanjian/kontrak kerja konstruksi.

Ilustrasi kasus dalam pengembangan pra rancangan sebagai berikut :


 Pengembangan Desain / Design Development
Setelah desain skematik diperiksa dan mendapat persetujuan dari klien, arsitek akan
melakukan kegiatan tahap selanjutnya, yaitu design development (pengembangan desain).
Pada tahap ini, desain skematik yang telah dibuat akan disempurnakan menjadi desain
akhir yang utuh dan menyeluruh. Setiap aspek desain harus diperhatikan secara mendetail
karena akan dipergunakan pada tahap pembangunan proyek.
Dengan mengacu pada desain skematik, pada tahap pengembangan desain ini, arsitek akan
merencanakan:
1. Sistem konstruksi dan struktur bangunan
Arsitek pada tahapan design development dapat merancang sistem konstruksi dan struktur
bangunan. Sistem konstruksi berikut mengikuti rancangan desain keseluruhan yang telah
dibuat pada desain skematik. Selain itu, konstruksi dan struktur bangunan yang dibuat juga
mempertimbangkan kelayakan dan kelaikannya baik terpisah maupun secara terpadu.
Design development dikembangkan untuk membuat rencana ukuran dan dimensi yang
sebenarnya. Dimensi garis dibuat untuk menunjukkan penempatan dinding dan elemen

18
lainnya. Design development juga mengukur ukuran furniture dan barang lainnya yang
dicantumkan di dalam desain.
Setelah itu, arsitek dapat mendesain keperluan eksterior di dalam bangunan. Dalam hal
ini, banyak arsitek yang menggunakan program computer drawing program (CAD) untuk
membuat desain.

Gambar 3. Denah lantai 1 beserta layout Bandung Eye Center di Bandung, Jawa Barat,
Indonesia (sumber : [Link])

2. Sistem mekanikal-elektrikal-plumbing (MEP)


yang menyangkut segala hal yang berkaitan dengan mesin-mesin, aliran listrik, serta pipa
air bersih dan kotor untuk membuat suatu bangunan berfungsi dengan baik.

19
Gambar 4. Diagram instalasi MEP (Sumber: [Link])

Selanjutnya, arsitek dapat membuat rancangan MEP atau dikenal sebagai Sistem Mekanikal-
Elektrikal-Plumbing. Rancangan berikut menyangkut segala hal yang berkaitan dengan mesin-
mesin, aliran listrik, serta pipa air bersih dan kotor. Pada tahapan ini, rancangan harus
dipertimbangkan dengan baik karena pada sistem inilah yang membuat suatu bangunan
berfungsi dengan baik.

3. Bahan bangunan
Arsitek juga bertanggung jawab dalam merencanakan bahan bangunan seperti apa untuk
digunakan dalam keseluruhan bangunan. Tentunya seorang arsitek harus mempertimbangkan
nilai manfaat, ketersediaan bahan, konstruksi, dan nilai ekonomi.
Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat struktur bangunan dapat dirancang dalam
tahapan design development. Pada tahap ini juga dirancang dekorasi dinding, lantai, dan
penggunaan material lainnya seperti kayu pada rancang bangunan.

20
Gambar 5 Potongan yang diperjelas dengan keterangan bahan bangunan

4. Perkiraan Biaya Konstruksi


Setelah itu, rancangan desain juga akan dibuat biaya konstruksinya. Pada tahapan
ini, biaya konstruksi disusun berdasarkan sistem bangunan, semuanya disajikan dalam
bentuk gambar-gambar, diagram-diagram sistem, dan laporan tertulis. Klien atau home
owner dapat berdiskusi mengenai permasalahan biaya yang ada. Klien juga dapat
mengemukakan pendapat dan masukan mengenai spesifikasi material dan detil-detil
arsitektural maupun struktural yang diinginkan. Atau dengan kata lain, klien dapat
meminta penyesuaian biaya yang telah dibuat.
Pada tahap akhir design development, maka akan dihasilkan gambar site plan,
denah, tampak, potongan, dan perspektif. Jika klien telah menyetujui semua proses pada
tahapan ini, maka akan dilanjutkan ke tahap selanjutnya yaitu DED atau gambaran kerja.
Tahapan pengembangan desain atau design development adalah tahapan yang menantang,
memakan waktu yang panjang, dan membutuhkan biaya besar. Desain yang baik tidak
hanya dirancang secara visual, namun juga merupakan hasil dari penelitian yang terus
menerus dan berkesinambungan, analisa, studi perancangan, engineering,

21
prototyping, modifikasi, percobaan lagi dari masa ke masa hingga desain yang dihasilkan
benar-benar sempurna.
Kesimpulannya, tahapan desain skematis dan design development adalah tahapan
dimana arsitek dan klien sebagai home owner berinteraksi untuk menentukan
rancangan final desain. Setelah menentukan desain dan struktur bangunan yang tepat,
barulah perhitungan budget apakah sesuai dengan anggaran dana dan ketentuan lainnya
atau tidak. Oleh karena itu, pada tahapan ini bisa dikatakan arsitek dan klien harus benar-
benar jeli dalam menentukan rancangan sehingga anggaran dana dapat digunakan dengan
cara terbaik.
.

Gambar 6 Tabel Estimasi Kasar Anggaran Pembangunan Masjid Al-Aminiyah di


Tangerang, Banten (Sumber: [Link])

Dari tahap pengembangan desain ini, arsitek akan memastikan dan menguraikan ukuran
serta wujud karakter bangunan secara menyeluruh, pasti, dan terpadu sesuai kebutuhan
dan keinginan klien. Di sinilah klien dapat berdiskusi secara mendetail mengenai
spesifikasi material dan detail-detail arsitektural maupun struktural. Biasanya yang
menjadi concern utama adalah masalah biaya. Banyak penyesuaian yang perlu dilakukan
agar desain dapat dieksekusi sesuai budget yang tersedia

22
Gambar7 Denah pada tapak lengkap dengan keterangan ruang, skala, dan akses
bangunan (Sumber: [Link])

Tahap pengembangan desain juga dilakukan untuk mematangkan konsep rancangan secara
keseluruhan, terutama ditinjau dari keselarasan sistem-sistem yang terkandung di
dalamnya baik dari segi kelayakan dan fungsi, estetika, waktu, dan ekonomi bangunan.
Hasil dari tahap pengembangan desain ini adalah gambar site plan, denah, tampak,
potongan, dan perspektif. Setiap gambar sudah menjelaskan secara rinci tentang
keseluruhan desain. Setelah diperiksa dan mendapat persetujuan dari klien, hasil
pengembangan desain ini dianggap sebagai rancangan akhir yang akan digunakan oleh
arsitek sebagai dasar untuk memulai tahap selanjutnya, yaitu ‘gambar kerja’.

1.9 Gambar Pra Rancangan Dikoordinasikan Dengan Ahli Terkait


Hasil gambar pra rancangan adalah gambar yang belum siap di terapkan oleh karenanya
dibutuhkan penyempurnaanya dengan cara dikoordinasikan dengan tenaga tenaga ahli yang
terlibat dalam kaitannya kebutuhan bidang ilmunya,seperti pihak pihak terkait tersebut
adalah :
a. Pra-Rancangan merupakan gagasan rancangan menyeluruh, komprehensif, belum
detail

23
b. Pra-Rancangan disajikan dalam gambar proyeksi ortogonal, perspektif, dan maket
c. Pra-Rancangan perlu didiskusikan dengan klien
d. Pra-Rancangan dimintakan Ijin Prinsip Pembangunan kepada Pemerintah
Kota/daerah setempat
e. Pra-Rancangan dikoordinasikan dengan konsultan/tenaga ahli pendukung (struktur,
mekanikal, elektrikal, dsb)

1.10 Gambar Pengembangan Rancangan Yang Telah Dikoordinasikan Dengan Ahli


Terkait Lain Dibuat Sesuai Hasil Koordinasi
Hasil karya tahap pengembangan rancangan dan gambar kerja hasil karya tahap ini adalah
pengembangan secara lebih rinci dan terukur dari dokumen pra rancangan yang telah mendapat
persetujuan dari pengguna jasa, meliputi antara lain :
a. Gambar Pengembangan, dalam skala yang memadai untuk kejelasan informasi yang
dibutuhkan (skala 1 : 500, 1 : 200, 1 : 100, 1 : 50), meliputi antara lain:
 Rancangan Tapak untuk menunjukan hubungan-hubungan antara lantai dasar
bangunan dan Tata Ruang Luar terhadap garis sempadan bangunan, jalan dan
ketentuan rencana Tata Kota lainnya.
 Denah yang menunjukan lantai-lantai dalam bangunan, susunan tata ruang
dalam, koordinat bangunan, peil lantai, dan ukuran-ukuran elemen bangunan
serta jenis bahan yang digunakan.
 Tampak Bangunan, yang menujukan pandangan ke empat arah bangunan dan
bahan bangunan yang digunakan secara jelas.
 Potongan Bangunan, secara melintang dan memanjang yang menjelaskan
sistem struktur, ukuran dan peil elemen bangunan (Pondasi, lantai, dinding,
langit-langit dan atap) secara menyeluruh.

b. Gambar Detail
Gambar-gambar detail dengan skala yang sesuai untuk kebutuhan dilapangan
(1:20, 1:10 1:5 dan seterusnya), yang memberikan penjelasan mengenai :
 Detail pelaksanaan dan pemasangan serta penyelesaian bahan/ material dan
elemen / unsur bangunan.
 Detail peralatan dan perlengkapan bangunan yang melekat langsung pada
bangunan.

24
 Detail-detail pekerjaan lain yang memerlukan penjelasan yang lebih rinci dan
jelas.

Gambar 8 contoh detail gambar kerja


Sumber :
[Link]
ei=WWYhXYvUDcS1mgf_8aWQBw&q=contoh+gambar+detail+&oq=contoh+gambar
+detail+&gs_l=img.3..35i39j0i19l2j0i30i19.18771.21436..22261...0.0..0.118.1593.22j
1......0....1..gws-wiz-img.KhRm2_xWdrw#imgrc=TtLZ0qm1BAo7vM:

c. Garis Besar Spesifikasi Teknis (Outline Specifications) yang menjelaskan jenis, tipe dan
karakteristik material/bahan yang dipergunakan.

d. Pra Rencana Anggaran Biaya mencakup laporan uraian perhitungan biaya yang meliputii
masing-masing elemen arsitektur, struktur, mekanikal, elektrikal, tata ruang luar / lansekap
dan lain-lain.

1.11 Penyusunan Laporan Pengembangan Rancangan


Tahap Proses Pengadaan Pelaksana Konstruksi Tahap Proses Pengadaan Pelaksana
Konstruksi menurut “ Pedoman Hubungan Kerja Antara Arsitek dengan Pengguna Jasa”
Pasal 40 (IAI, 2007, p.28) adalah: Penyiapan Dokumen Pengadaan Pelaksana Konstruksi

25
Pada tahap ini, arsitek mengolah hasil pembuatan Gambar Kerja ke dalam bentuk format
Dokumen Pelelangan yang dilengkapi dengan tulisan Uraian Rencana Kerja dan Syarat-
Syarat teknis pelaksanaan pekerjaan-(RKS) serta Rencana Anggaran Biaya (RAB)
termasuk Daftar Volume (Bill of Quantity/BQ). Sehingga secara tersendiri maupun
keseluruhan dapat mendukung proses: - Pemilihan pelaksana konstruksi - Penugasan
pelaksana konstruksi - Pengawasan pelaksanaan konstruksi - Perhitungan besaran luas dan
volume serta biaya pelaksanaan pembangunan yang jelas

1.12 Membuat Detail Gambar Kerja, Garis Besar Spesifikasi Teknis Dan Prakiraan
Biaya Disusun Dengan Gmbaran Pengembangan Rancangan
Gambaran kerja atau DED adalah tahapan dimana arsitek merancang gambar kerja
detail dengan skala (perbandingan ukuran) setelah tahapan desain skematis dan design
development dilakukan. DED atau Detail Engineering Design adalah pekerjaan konstruksi
dari konsultan perencana, yang biasa digunakan dalam membuat sebuah perencanaan
(gambar kerja) detail bangunan sipil seperti gedung, jalan, jembatan, bendungan, dan
pekerjaan konstruksi lainnya. Lebih dari itu, DED dapat memuat beberapa komponen
pekerjaan seperti:

1. Gambar detail bangunan


Adalah gambar desain bangunan yang dibuat lengkap untuk konstruksi yang akan dikerjakan.
Gambar detail bangunan juga sering disebut sebagai bestek yang menyangkut tentang gambar
rencana teknis. Selanjutnya, gambar ini meliputi arsitektur, struktur, mekanikal dan elektrikal,
serta tata lingkungan. Pembuatan gambaran ini dilakukan agar mempermudah rancangan
konstruksi bangunan dan menyelesaikan pekerjaan dengan efektif dan efisien.

26
Gambar 9 Potongan bangunan
Sumber :
[Link]
hXcb_G-
Taz7sP4ciA4A4&q=contoh+detail+bangunan&oq=contoh+detail+bangunan&gs_l=img.3...5
04223.515530..516312...1.0..3.189.2678.23j9......0....1..gws-wiz-
img.....0..0i67j0j35i39j0i8i30j0i30j0i24.JQjbs5gUvsA#imgrc=70uef4MZoC5TAM:

Penggunaan gambaran kerja atau DED dapat membantu kontraktor pelaksana lapangan untuk
memandu pelaksanaan proyek. Selain itu, gambaran ini dapat menggambarkan fisik bangunan
sesuai ide arsitek mulai dari awal sampai akhir. Tentunya gambaran ini harus dibuat secara
detail dan akurat sehingga kontraktor nantinya dapat merealisasikan bangunan dengan tepat.

27
Berikut adalah fungsi gambaran kerja atau DED:
1. Membantu Kontraktor Melaksanakan Proyek
Penyajian gambaran kerja, spesifikasi dan syarat-syarat teknik pembangunan yang jelas,
lengkap dan teratur, serta perhitungan kuantitas pekerjaan dan perkiraan biaya pelaksanaan
pembangunan yang terinci dapat membantu kontraktor melaksanakan proyek. Gambaran ini
dapat mengarahkan hal-hal yang harus dilakukan oleh seorang kontraktor. Gambaran kerja juga
berisi keterangan nama proyek, nama klien, nama arsitek, dan keterangan gambar lainnya.
Setelah mendapat persetujuan dari pengguna jasa, maka DED atau gambaran kerja dapat
dikatakan sebagai rancangan akhir.

2. Mendeskripsikan Rancangan Proyek


Dengan adanya rincian gambaran bangunan, pekerjaan, dan spesifikasi lainnya, maka
gambaran kerja atau DED dapat mendeskripsikan dan menggambarkan rincian rancangan
proyek. Pada umumnya, gambaran kerja berisi:

 Block Plan
 Site Plan
 Denah, Tampak, Potongan, dan Potongan Struktural
 Rencana Pondasi, Sloof, dan Detail
 Rencana Balok lantai dan Detail
 Rencana Atap, Plafong, dan Detail
 Rencana Pola Lantai dan Detail Pemasangan
 Perletakan Pintu dan Jendela beserta Detail
 Rencana Air Bersih, Sanitasi, dan Detail
 Rencana Furniture dan Detail
 Rencana Elektrikal dan Titik Lampu
 Gambar-gambar rencana lainnya beserta detail yang diperlukan.
Dengan adanya rancangan gambar berikut, maka dapat menentukan dimensi, peletakan, dan
bahan bangunan yang akan digunakan nantinya.

3. Mengetahui Rancangan Biaya yang Tepat


Selanjutnya, setelah gambaran kerja dibuat, maka dapat diperoleh kejelasan kuantitatif untuk
menghitung biaya dan waktu pelaksanaan proyek. Hal ini sangat penting karena dapat

28
menghitung bahan yang diperlukan secara efisien dan sebagai dasar Rencana Anggaran
Bangunan (RAB). Selain itu, gambaran kerja berfungsi untuk administrasi pelaksanaan
pembangunan dan memenuhi persyaratan yuridis yang terkandung dalam dokumen pelelangan
dan dokumen perjanjian/kontrak kerja konstruksi.

4. Proyek Termonitor dengan Baik


Berhubung gambaran kerja dapat menjadi panduan pelaksanaan pembangunan proyek, maka
hal ini dapat dijadikan alat untuk memonitor pekerjaan dengan baik.
Kesimpulannya adalah gambaran kerja atau DED dirancang agar digunakan sebagai acuan
atau pedoman pelaksanaan pembangunan, sehingga hasil nantinya sesuai dengan rencana yang
telah dibuat.

2. Engineer’s Estimate (EE) atau Rencana Anggaran Biaya (RAB)


Proses ini adalah penting karena dibutuhkan untuk menghitung keseluruhan harga dari
volume masing-masing satuan pekerjaan. Setelah itu, rancangan biaya dibuat Daftar Volume
Pekerjaan (Bill of Quantity) serta spesifikasi dan harga. Rancangan biaya ini belum selesai
sampai situ saja, karena harus ditelaah, diperbaiki, dan disesuaikan dengan harga pasar
sehingga menjadi Harga Perkiraan Sendiri (HPS).

29
Gambar 10 Contoh RAB
Sumber :
[Link]
860qAk&q=contoh+RAB&oq=contoh+RAB&gs_l=img.3..0l10.161924.166281..167643...0.0..0.141.1408.15j3.
.....0....1..gws-wiz-img.......35i39j0i8i30j0i30j0i24.82U6rV5SwGM#imgrc=35wNWr60O09WPM:

3. Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS)


Pada bagian ini meliputi dimensi material bangunan, persyaratan mutu dan kuantitas material
bangunan, prosedur pemasangan material dan persyaratan-persyaratan lain yang wajib
dipenuhi oleh penyedia pekerjaan konstruksi.

30
Gambar 11 Contoh RKS
Sumber :
[Link]
u2wKA&q=contoh+RKS&oq=contoh+RKS&gs_l=img.3..0i30j0i24l9.143390.145068..145919...0.0..0.123.329.
3j1......0....1..gws-wiz-img.......[Link]#imgrc=08jP-R9B5D7mTM:

4. Laporan akhir tahap perencanaan, yang meliputi laporan arsitektur, laporan perhitungan
struktur, laporan perhitungan mekanikal dan elektrikal, dan laporan perhitungan IT (Informasi
& Teknologi)

1.13 Garis Besar Spesifikasi Teknis Serta Perkiraaan Biaya Disampaikan Kepada
Pemberi Tugas
1.13.1 Garis Besar Spesifikasi Teknis (Outline Specifications)
Secara umum spesifikasi teknis menjelaskan jenis, tipe dan karakteristik material/bahan yang
dipergunakan
Tujuan Dan Maksud Spesifikasi

31
Spesifikasi merupakan dokumen legal yang harus dipenuhi dan merupakan bagian dari
sebuah kontrak antara pengguna jasa dengan penyedia jasa/kontraktor. Tujuan utama
adanya spesifikasi adalah menyamakan persepsi antara pengguna jasa dengan penyedia
jasa, sehingga tercapainya produk akhir pekerjaan yang memenuhi keinginan Pemilik
Pekerjaan (Owner). hal ini menjadi sangat penting mengingat karakteristik proyek konstruksi
berbeda dengan industri manufaktur.

Maksud Adanya Spesifikasi


1. Sebagai pedoman bagi Peserta Pelelangan dalam mengajukan Penawaran
Bagi penyedia jasa, spesifikasi merupakan pedoman dalam pemenuhan harapan/keinginan
dari pengguna jasa melalui proses pelaksanaan kegiatan di lokasi pekerjaan yang
didasarkan pada gambar-gambar rencana dan spesifikasi. Gambar rencana sebagai
pedoman untuk mewujudkan aspek bentuk, dimensi bangunan sedangkan spesifikasi
sebagai pedoman untuk mewujudkan aspek kualitas bangunan.
2. Sebagai pedoman bagi Pelaksana/ Kontraktor dalam melaksanakan Pekerjaan
Bagi estimator, spesifikasi menjadi hal yang sangat penting dikarenakan hal tersebut
menyatakan kualitas dari material yang akan digunakan. Notasi untuk material tertentu
dituliskan/digambarkan sama meskipun dari aspek kualitasnya berbeda, hal ini akan
menjadi sumber konflik apabila tidak ada penjelasan tertulis yang merepresentasikan
tentang kualitas material tersebut. Misalnya cat yang akan digunakan untuk sebuah
dinding, dalam gambar hanya dituliskan warna catnya saja sedangkan penjelasan tentang
kualitas cat yang akan digunakan dituangkan dalam spesifikasi. Implikasi dari hal ini tentu
saja pada masalah harga material itu sendiri yang secara keseluruhan akan mempengaruhi
harga bangunan.
3. Sebagai pedoman bagi Pengawas dalam mengawasi pelaksanaan Pekerjaan oleh
Kontraktor
4. Sebagai pedoman bagi Pengguna Anggaran yang mewakili Employer, dalam memper
tanggungjawabkan proyek secara keseluruhan

Interpretasi Spesifikasi
Bagian terpenting setelah spesifikasi selesai disusun adalah terciptanya pemahaman yang
sama antara pembuat spesifikasi dengan pengguna spesifikasi, dalam hal ini adalah
penyedia jasa. Tidak jarang spesifikasi menjadi sumber perselisihan antar pihak di
lapangan, hal ini terjadi dikarenakan terganggunya proses komunikasi antar pihak.

32
Pembuat spesifikasi sudah seharusnya memaparkan seluruh keinginan pengguna jasa
melalui bahasa tulis sedemikian rupa sehingga dapat menunjuk pada sesuatu yang spesifik.
Harus dihindari dalam penyusunan spesifikasi adalah terciptanya arti samar, arti ganda,
atau bahkan tidak ada artinya. Spesifikasi yang memuat arti ganda sebaiknya dihindari,
kondisi demikian ini yang menyebabkan timbulnya perselisihan antar pihak dan apabila
tidak dapat diselesaikan secara musyawarah maka akan dilanjutkan dengan proses tuntut
menuntut yang tentunya akan merugikan kedua belah pihak. Spesifikasi adalah sesuatu
yang sangat berarti bagi berbagai pihak yang berkepentingan, apabila tidak terdefinisi
dengan baik maka akan terjadi distorsi dari keinginan pengguna jasa pada setiap tahapan
proyek

Contoh spesifikasi galian tanah :

33
MATERIAL KONSTRUKSI
1. Urugan biasa
2. Urugan Pilihan
 Tidak termasuk tanah yang plastisitasnya tinggi, bukan sebagai A-7-6 atau CH
 CBR tidak kurang dari 6 %.
 Tanah yang pengembangannya tinggi yang memiliki nilai aktif lebih besar dari 1,25
tidak boleh digunakan.
 Urugan hanya boleh diklasifikasikan sebagai “Urugan Pilihan” bila digunakan pada
lokasi atau untuk maksud yang telah ditentukan atau disetujui secara tertulis oleh
Pengawas
 Terdiri dari bahan tanah berpasir (sandy clay) atau padas yang memenuhi persyaratan
 CBR  10 %
 Indeks Plastisitas  6 % Pengujian material dilakukan sekurang-kurangnya setiap 1.000
m3 stock material, jumlah benda uji masing-masing 3 buah, masingmasing 50 kg tiap
jenis material.

34
TATA CARA PELAKSANAAN
Penempatan dan pemadatan timbunan
1. .Timbunan mencapai 1 m, dasar timbunan harus dipadatkan sampai lapisan 15 - 30 cm
teratas memenuhi persyaratan kepadatan.
2. Timbunan diatas sisi / tepi bukit, lereng yang ada harus membentuk terasering.
3. Tanah dasar harus ditutup secepat mungkin dengan lapisan pondasi bawah.
4. Segera setelah penghamparan timbunan setiap lapisan harus dipadatkan.
5. Pemadatan dilaksanakan hanya bila kadar air berada dalam rentang
kurang dari 3 % sampai lebih dari 1 % dari kadar air optimum.
6. Masing-masing lapis harus diuji kepadatannya.
7. Timbunan dipadatkan mulai pada tepi luar kearah sumbu jalan.

Persiapan lapangan
1. Lapisan dasar yang ada harus bersih dari rumput, bahan-bahan organis, hasil
bongkaran.
2. Drainase samping harus telah dipersiapan.
3. Alat perata, alat pemadat dan alat bantu lainnya telah berada dilapangan.
4. Pengaturan lalu lintas agar tidak menggangu pelaksanaan.
5. Urugan tidak boleh dipasang, dihampar atau dipadatkan sewaktu hujan.
Ketebalan gembur tidak lebih dari 30 cm atau kurang dari 10 cm

Penghamparan Pemadatan
1. Kadar air : pada rentang 3 % kurang dari kadar air opt. Sampai dengan 1 %
lebih dari kadar air opt.
2. Lapisan pada kedalaman > 30 cm dibawah elevasi akhir tanah dasar harus
dipadatkan 95 %.
3. Lapisan pada kedalaman  30 cm dibawah elevasi akhir tanah dasar harus
dipadatkan 100 %.
4. Test kepadatan dengan sand-cone, setiap jarak  200 m.

1.13.2 Rencana Anggaran Biaya


RAB berupa laporan uraian perhitungan biaya yang meliputii masing-masing
elemen arsitektur, struktur, mekanikal, elektrikal, tata ruang luar / lansekap dan lain-lain.
Definisi Rencana Anggaran Biaya (RAB)
35
RAB adalah perhitungan rincian biaya yang diperlukan untuk setiap pekerjaan dalam proyek
konstruksi, sehingga diperoleh estimasi biaya total yang diperlukan untuk menyelesaikan
proyek tersebut.

Sedangkan definisi rencana anggaran biaya (RAB) menurut para ahli akan dijelaskan sebagai
berikut:
1) J. A. Mukomoko
Dalam bukunya Dasar Penyusunan Anggaran Biaya Bangunan, 1987 Rencana Anggaran
Biaya (RAB) Proyek adalah perkiraan nilai uang dari suatu kegiatan (proyek) yang telah
memperhitungkan gambar-gambar bestek serta rencana kerja, daftar upah, daftar harga
bahan, buku analisis, daftar susunan rencana biaya, serta daftar jumlah tiap jenis pekerjaan.
2) Bachtiar Ibrahim
Dalam bukunya Rencana dan Estimate Real of Cost,1993, yang dimaksud Rencana
Anggaran Biaya (RAB) Proyekadalah perhitungan banyaknya biaya yang diperlukan
untuk bahan dan upah, serta biaya-biaya lain yang berhubungan dengan pelaksanaan
bangunan atau proyek tersebut.
3) Menurut Sugeng Djojowirono
Rencana Anggaran Biaya (RAB) Proyek merupakan perkiraan biaya yang diperlukan
untuk setiap pekerjaan dalam suatu proyek konstruksi sehingga akan diperoleh biaya total
yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu proyek.

Komponen Pembentuk Rencana anggaran Biaya (RAB)


Untuk menentukan biaya yang diperlukan pada suatu proyek perlu mengetahui komponen –
komponen pembentuk biaya tersebut yang terdiri atas:
1) Biaya Material dan Bahan
Material adalah seluruh bahan yang digunakan dalam proyek yang pada akhirnya merupakan
bagian dari akhir proyek. Biaya material diperoleh berdasarkan harga satuan yang dikalikan
dengan besarnya volume pekerjaan. Bila data kuantitas diperoleh dari gambar, maka data
kualitas diperoleh dari spesifikasi. Umumnya harga tersebut berasal dari produsen maupun
distributor.
2) Biaya Upah
Biaya upah buruh terdiri dari upah langsung dan upah tidak langsung. Upah langsung
merupakan upah yang dibayarkan kepada buruh pada tiap periode tertentu. Upah tidak
langsung meliputi asuransi dan berbagai macam tunjangan.

36
Untuk menentukan upah buruh dapat dihitung dengan menentukan banyak pekerja berdasarkan
volume pekerjaan dan produktivitas buruh. Upah buruh dapat ditentukan berdasarkan
pengalaman/proyek terdahulu dengan berbagai penyesuaian, sehingga bisa dihitung total biaya
upah.
3) Biaya Peralatan
Penentuan jumlah dan jenis alat disesuaikan dengan volume pekerjaan dan kondisi lapangan.
Biaya dapat berupa biaya kepemilikan, biaya bahan bakar, dan biaya perawatan.

Jenis Rencana Anggaran Biaya (RAB)


1) Umum
Secara Umum berikut ini jenis-jenis anggaran biaya dalam mengelola usaha:
a. Anggaran biaya untuk pengenalan produk baru dengan menambah dan
menggunakan mesin-mesin dan peralatan baru
b. Anggaran biaya untuk penggantian mesin-mesin dan peralatan baru
c. Anggran biaya untuk perluasan produk dengan menambah kapasitas mesin-mesin
dan peralatan yang dibutuhkan perusahaan
d. Anggaran biaya untuk memperluas gedung kantor, toko, pabrik, gudang dll

2) Proyek Konstruksi
Rencana Anggaran Biaya dibagi dalam 4 jenis jika dilihat berdasarkan pada proses
perkembangan proyek dari mulai gagasan sampai proyek diserahkan dari kontraktor ke owner.
Berikut dijelaskan dibawah ini:
a. Rencana Anggaran Biaya Detail (Kontraktor)
Anggaran Biaya ini dibuat oleh kontraktor setelah melihat desain konsultan
perencana seperti gambar bestek dan rencana kerja dan syarat (RKS), dalam
pengerjaan pembuatannya lebih terperinci, teliti dan menyeluruh karena sudah
memperhitungkan segala kemungkinan seperti melihat medan pekerjaan di
lapangan dan mempertimbangkan metode - metode pelaksanaan. Rencana
Anggaran Biaya ini kemudian dijabarkan dalam bentuk penawaran oleh kontraktor
pada waktu pelelangan, dan menjadi harga yang pasti (fixed price) bagi pemilik
setelah salah satu rekanan ditunjuk sebagi pemenang dan Surat Perjanjian Kerja
(SPK) telah ditanda tangani.
b. Rencana Anggaran Biaya Taksiran (Owner)
Rencana Anggaran Biaya dibutuhkan oleh pemilik untuk memutuskan akan

37
melaksanakan ide / gagasan untuk membangunan proyek atau tidak biasanya masih
dibantu dengan Studi Kelayakan Proyek. Rencana Anggaran Biaya kasar ini juga
dipakai sebagai pedoman terhadap anggaran biaya yang dihitung secara teliti.
c. Rencana Anggaran Biaya Pendahuluan (Konsultan Perencana)
Bisa disebut juga sebagai rencanan anggaran biaya pendahuluan, perhitungan
anggaran Biaya ini dilakukan setelah gambar rencana (desain) selesai dibuat oleh
konsultan Perencana. Perhitungan anggaran biaya ini lebih teliti dan cermat sesuai
ketentuan dan syarat-syarat penyusunan anggaran biaya. Penyusunan anggaran
biaya ini didasarkan pada:
 Harga Satuan Pekerjaan
Dihitung dari harga satuan bahan dan harga satuan upah berdasarkan
perhitungan analisa BOW.
 Gambar Bestek
Gunanya untuk menentukan / menghitung besarnya volume masing – masing
pekerjaan.
 Bestek atau Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS)
Gunanya untuk menetukan spesifikasi bahan dan syarat-syarat teknis.
d. Anggaran Biaya Sesungguhnya (Real Cost)
Bagi pemilik fixed price yang tercantum dalam kontrak adalah yang terakhir, kecuali
dalam pelaksanaan terjadi tambah dan kurang (meer & minder werk). Bagi kontraktor
nilai tersebut adalah penerimaan yang fixed, sedangkan pengeluaran yang
sesungguhnya (Real cost) yaitu segala yang kontraktor keluarkan untuk menyelesaikan
proyek tersebut. Besarnya real cost tersebut hanya diketahui oleh kontraktor sendiri.
Penerimaan di atas dikurangi Real Cost adalah laba diperoleh oleh kontraktor.

Peran Rencanan Anggaran Biaya (RAB)


1) Secara Umum
Tanpa adanya RAB, sangat mungkin terjadi pembengkakan biaya dikarenakan pembelian
bahan bangunan yang tidak sesuai dengan volume pekerjaan, upah pekerja yang tidak
terkontrol, pengadaan peralatan yang tidak tepat, dan berbagai dampak negatif lainnya. Peran
rencanan anggaran biaaya (RAB) secara umum adalah:
a. Sebagia Alat Koordinasi,

38
Peran RAB sebagai alat koordinasi ialah pada saat melaksanakan program kegiatan tentunya
harus memperlihatkan berbagai fungsi atau bagian yang ada dalam perusahaan.
b. Sebagai Pedoman Perencanaan
Contoh sederhanan misalnya digunakan sebagai pedoman untuk penyusunan program kegiatan
perusahaan.
c. Sebagai Alat Pengendalian
Dikatakan sebagai alat pengendalian misalnya saat pengevaluasiann hasil pelaksanaan program
kegiatan atau pekerjaan dalam perusahaan dengan standar yang telah ditentukan.

2) Peran Pada Proyek Konstruksi


Perkiraan biaya memegang peranan penting dalam penyelenggaraan proyek. Pada taraf
pertama dipergunakan untuk mengetahui berapa besar biaya yang diperlukan untuk
membangun proyek atau investasi, selanjutnya mempunyai fungsi dengan spectrum yang amat
luas yaitu merencanakan dan mengendalikan sumber daya seperti: material, tenaga kerja,
pelayanan, maupun waktu. Meskipun kegunaannya sama, namun untuk masing-masing
organisasi peserta proyek mempunyai penekanannya yang berbeda-beda/ fungsi estimasi
antara lai sebagai berikut:
a. Bagi kontraktor
Merupakan angka finansial yang diajukan dalam proses lelang gunan memperoleh pekerjaan
dan memperhitungkan keuntungan, dimana angka tersebut tergantung kepada seberapa
kecakapanya dalam membuat perkiraan biaya. Bila penawaran yang diajukan didalam proses
lelang terlalu tinggi, kemunngkinan besar kontraktor yang bersangkutan akan mengalamai
kekalahan dalam lelang. Sebaiknya, bila mememnangkan lelang dengan harga yang terlalu
rendah akan mengalami kesulitan di belakang hari. Harga yang diajukan oleh kontraktor ini
disebut dengan estimasi Engineering
Sebagai dokumen pengajuan kridit membangun rumah kepada pihak banksekaligus ebagai
pengurusan izin mendirikan bangunan IMB

b. Bagi Konsultan
Merupakan angka yang diajukan kepada pemilik proyek (Ouwner) sebagai usulan biaya yang
terbaik untuk berbagai kegunaan sesuai perkembangan proyek dan sampai derajat ketelitian
tertentu, kredibilitasnya terkait dengan kebenaran atau ketepatan angka-angka yang diusulkan.
Harga estimasi yang diajukan oleh konsultan disebut dengan Bill of Quantity (BQ).

39
c. Bagi Owner
Merupakan angka yang menunjukkan jumlah perkiraan biaya yang akan menjadi salah satu
patokan untuk menentukan kelanjutan suatu investasi. Secara praktis di lapangan disebut
dengan Ouwner Estimation (OE)serta sebagai pembanding tehadap RAB yang dibuat
kontraktor .

Manfaaat Rencana Anggaran Biaya


RAB berfungsi sebagai acuan dasar pelaksanaan proyek, mulai dari pemilihan kontraktor yang
sesuai, pembelian bahan bangunan, sampai pengawasan proyek agar berjalan sesuai dengan
rancangan dan kesepakatan awal Anda dengan kontraktor.
Dengan membuat RAB, biaya pekerjaan proyek bangun atau renovasi akan menjadi lebih jelas
dan terperinci. RAB juga dapat membantu memilih bahan bangunan yang cocok untuk proyek.
Untuk itu, pastikan sudah membuat RAB sebelum memulai pekerjaan proyek
a. Untuk perbandingan secara berkala antara hasil nyata yang telah tercapai dengan target.
b. Untuk menetapkan tujuan khusus oprasional usaha dimasa yang akan dating.
c. Untuk menetapkan gambaran taksiran biaya usaha.
d. Untk menetapkan pengawasan terhadap semua kegiatan usaha.
e. Untuk menetakan suatu rencana biaya dalam pengelolaan usaha.
f. Unuk mengadakan koordinasi semua jenis pekerjaan dalam usaha atau bisnis.
g. Untuk pemeriksaan maju mundurnya kegiatan usaha.
h. Untuk pemberian tuga kepada bagia para pelaksana dalam usaha.

Faktor Yang Mempengaruhi Perhitungan Rencanan Anggaran Biaya (RAB)


1) Desain ekonomi
Bilamana terjadi perubahan desain seperti misalnya perubahan bentuk, tinggi, ukuran dan
sebagainya, maka beberapa penyesuaian terhadap tariff yang dipakai dalam estimasi
pendekatan pasti dilakukan. Keadaan tapak bangunan dapat juga mempengaruhi desain dan
cara membangun bangunan tersebut.
2) Kondisi Pasar
Ketika menyiapkan estimasi, tarif dan harga yang dipakai biasanya akan diperoleh dari proyek
- proyek sebelumnya atau data biaya histories. Akan tetapi estimasi pendekatan merupakan
perkiraan harga tender pada waktu tertentu di masa mendatang. Karenanya sangatlah perlu
untuk memperbaruhi harga - harga tersebut denagn menggunakan indeks harga tender sehingga

40
sesuai dengan tingkat harga sekarang. Selain itu perlu pula untuk memasukkan peningkatan
biaya buruh dan material yang telah diumumkan tetapi belum dilaksanakan. Kelonggaran juga
pasti diberikan untuk memperhitungkan perubahan kondisi kontrak, tipe ouwner, tersedianya
buruh, beban kerja dan sebagainya serta naik turunnya dunia industri.
3) Sarana Teknis
Masalah ini menimbulkan suatu peningkatan proporsi proyek bangunan. Pentingnya biaya ini
menghendaki agar peninjauanya terpisah dari komponen biaya bangunan lainnya. Pada rencana
proyek yang besar, Quantity Surveyor ahli pasti dipakai untuk memberikan pedoman terutama
pada tahap estimasi perkiraan. Sebagai contoh penyediaan alat pendingin udara (AC) dapat
meningkatkan biaya proyek yang cukup besar.
4) Pertimbangan Kualitas
Tariff dari proyek lama adalah ditetapkan berdasarkan standart kualitas tertentu. Jika standart
ini akan dinaikkan atau diturunkan maka diperlukan adanya perubahan dalam tariff estimasi
yang diajukan. Mungkin perlu pula mlakukan penyesuaian berdasarkan perkiraan atas
peningkatan standart kualitas, dengan menunjukkan keseluruhan perubahan. Alternatifnya,
penyesuaian ini dapat pula lebih tepat, misalnya dengan memilih kualitas lapisan luar dinding
bata yang lebih baik, maka tariff estimasinya dapat disesuaikan lebih obyektif.
5) Harga Dan Resiko Desain
Estimasi disusun berdasarkan kombinasi tiga factor yaitu: kualitas, kuantitas dan [Link] hal
pertama dari komponen ini menyangkut tentang desain, yang selalu mengalami perubahan
hingga penanda tangan kontrak. Desain selanjutnya akan mempengaruhi metode konstruksi
yang dipakai oleh kontraktor. Pada permulaan skema suatu desain akan digambarkan oleh
sketsa denah dan elevasi, dan karena kebutuhan, sketsa-sketsa ini akan lebih diperinci selama
proses desain. proses ini dapat berdampak penting terhadap biaya konstruksi. Resiko biaya
yang berkaitan dengan desain akan lebih banyak terjadi pada tahap permulaan dari pada tahap
tender. Oleh karenanya persentase yang lebih besar harus ditambahkan untuk menutup resiko
desain pada tahap permulaan, dari pada dalam tahap selanjutnya selama proses desain terjadi.
6) Pekerjaan Eksternal
Akibat sering terjadinya perbedaan yang cukup besar antara tapak-tapak bangunan, maka
terdapat hubungan biaya antara elemen pekerjaan eksternal dengan bangunan sesungguhnya.
Karenanya umumnya perlulah mencakup biaya-biaya ini sebagai komponen tersendiri dalam
estimasi. Ukuran tapak atau lokasi dan pekerjaan yang harus dilaksanakan merupakan factor
penting yang harus dipertimbangkan.

41
7) Kealpaan
Usulan estimasi biaya harus secara jelas memperlihatkan apa saja yang telah dicakup, melaui
spesifikasi, dan apa saja yang tidak tercakup. Ouwner mungkin dapat memaklumi atas
pengasumsian bahwa estimasi satu juta telah mencakup semua pengeluarannya bagi proyek
tersebut. Ia tampaknya kurang dapat memaklumi bila kemudian ia mengetahui bahwa beberapa
kelompok pengeluarannya luput ditinjau. Contoh nyata dari kealpaan ini antara lain: fee
professional dan ongkos-ongkos lain, VAT (Value Added Tax, pajak pertambahan nilai), biaya
lahan, tagihan bunga, perabot kecil- kecil dan komponen-komponen peralatan khusus yang
mungkin dibutuhkan untuk bengkel atau laboratorium.
Jadi dapat disimpulkan pada materi ini bahwa harga pada umumnya berbeda sesuai dengan
jenis dan mutunya (termasuk sumber daya manusia). Selain itu, dipengaruhi oleh keadaan
perekonomian nasional serta kebijaksanaan pemerintah. Dari sisi ekonomi harga dapat
berfluktuasi sesuai dengan supply dan demand. Yang perlu diperhatikan adalah kemungkinan
kenaikkan biaya pada saat konstruksi.

SOAL LATIHAN
1. Apa yang dimaksud dengan Manajemen Proyek?
2. Sebutkan pihak-pihak yang terlibat dalam sebuah proyek secara garis besar!

42
3. Apa saja tugas dan kewajiban dari pihak yang terlibat dalam sebuah proyek konstruksi?
4. Sebutkan 3 kendala yang sering muncul dalam sebuah proyek konstruksi!
5. Sebutkan Fungsi dari Planning!
6. Jelaskan apa saja perbedaan rapat koordinasi dengan rapat konstruksi!
7. Apa saja isi dari laporan perancangan arsitektur?
8. Apa yang dimaksud dengan gambar DED?
9. Informasi apa saja yang terdapat dalam dokumen Rencana Kerja dan Syarat?
10. Sebutkan Komponen Pembentuk RAB!

DAFTAR PUSTAKA

43
 [Link]
[Link]
 [Link]
 [Link]
konstruksi-bangunan/
 [Link]
konstruksi-bangunan/
 [Link]
konstruksi-bangunan/
 [Link]
konstruksi-95
 [Link]
 [Link]
 [Link]
 [Link]
 [Link]
 Laksito B. , Metode perecanaan dan perancangan arsitektur, 2012
 Memahami Gambar Kerja & Spesifikasi Teknis 2018 (1JP), Balai Penerapan Teknologi
Konstruksi Direktorat Jenderal Bina Konstruksi Kementerian Pekerjaan Umum Dan
Perumahan Rakyat
 Pedoman Hubungan Kerja Antara Arsitek Dengan Pengguna Jasa
 Seminar Desain Arsitektur “Proses Perancangan Pada Bangunan Inkremental Dalam
Perspektif IAI Dan AIA”
 Dwi Agnes ., Manajemen Kontruksi Untuk Bangunan,

44

Anda mungkin juga menyukai