0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
370 tayangan20 halaman

Pemodelan Tanah dengan Plaxis dan Parameter

BAB I memberikan dasar teori untuk pemodelan tanah dan pondasi menggunakan program Plaxis. Pemodelan ini melibatkan pemilihan parameter tanah seperti modulus elastisitas, rasio Poisson, berat isi, sudut geser dalam, dan kohesi yang diperoleh dari pengujian laboratorium. Pemodelan juga melibatkan pemilihan parameter material pondasi seperti pelat.

Diunggah oleh

Irene Lumban raja
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
370 tayangan20 halaman

Pemodelan Tanah dengan Plaxis dan Parameter

BAB I memberikan dasar teori untuk pemodelan tanah dan pondasi menggunakan program Plaxis. Pemodelan ini melibatkan pemilihan parameter tanah seperti modulus elastisitas, rasio Poisson, berat isi, sudut geser dalam, dan kohesi yang diperoleh dari pengujian laboratorium. Pemodelan juga melibatkan pemilihan parameter material pondasi seperti pelat.

Diunggah oleh

Irene Lumban raja
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

DASAR TEORI

1.1 Pemodelan Pada Program Plaxis


Perhitungan dengan metode numerik digunakan dengan bantuan komputer, yaitu
menggunakan program Plaxis. Sebelum melakukan perhitungan secara numerik, maka harus
terlebih dahulu dibuat model dari pondasi bore pile yang akan dianalisis, seperti pada Gambar
1.1 di bawah ini :

Gambar 1.1 Contoh Pemodelan Tanah dan Pondasi

Material yang dipergunakan dalam pemodelan tersebut meliputi material tanah dan
material pondasi, dimana masing-masing material mempunya sifat-sifat teknis yang
mempengaruhi perilakunya. Pada Program Plaxis, sifat-sifat tersebut diwakili oleh parameter
dan pemodelan yang spesifik.
Pemodelan ini mengasumsikan bahwa perilaku tanah bersifat isotropis elastis linier
berdasarkan hukum Hooke. Namun demikian, model ini sangat terbatas dalam memodelkan
perilaku tanah, sehingga umum digunakan untuk struktur yang padat dan kaku di dalam tanah.

1
1.1.1 Model Mohr-Coloumb
Pemodelan Mohr-Coloumb mengasumsikan bahwa perilaku tanah bersifat plastis
sempurna, dengan menetapkan suatu nilai tegangan batas, dimana pada titik tersebut tegangan
tidak lagi dipengaruhi oleh regangan. Model Elastik-Plastik Mohr-Coloumb melibatkan lima
parameter masukan, yaitu : E dan μ untuk elastisitas tanah; Ø dan c untuk plastisitas tanah dan
Ψ sebagai sudut dilantansi. Model Mohr-Coloumb ini merupakan urutan pertama dalam
pendekatan perilaku tanah dan disarankan untuk menggunakan model ini untuk analisis
pertama dari masalah yang dipertimbangkan. Untuk setiap lapisan yang memperkirakan rata-
rata kekakuan yang konstan sehingga perhitungan cenderung relatif cepat dan dapat diperoleh
kesan pertama deformasi. Selain lima parameter model yang disebutkan di atas, kondisi tanah
awal memiliki peran penting dalam masalah tanah yang paling deformasi. Tegangan
horizontal kondisi awal tanah harus dihasilkan dengan memilih nilai K0 yang tepat.

1.2 Pemilihan Parameter


a. Tanah
Model tanah yang dipilih yaitu model Mohr-Coloumb, dimana perilaku tanah dianggap
elastis dengan parameter yang dibuthkan yaitu :
1. Modulus elastisitas, E (stiffness modulus)
2. Poisson’s ratio (μ) diambil 0,2 – 0,4
3. Sudut geser dalam (ø) didapat dari hasil pengujian laboratorium
4. Kohesi (c) di dapat dari hasil pengujian laboratorium
5. Sudut dilantansi (Ψ) diasumsikan sama dengan nol
6. Berat isi tanah γ (kN/m3) didapat dari hasil pengujian laboratorium
b. Bore pile, material yang dipilih adalah sebagai pelat

2
Gambar 1.2 Tabel Parameter Tanah untuk Model Mohr-Coloumb

Gambar 1.3 Tabel Parameter Pelat

3
1.3 Parameter Tanah
1. Modulus Young (E)
Karena sulitnya pengambilan contoh asli di lapangan untuk tanah granuler maka
beberapa pengujian lapangan (in-situ-test) telah dikerjakan untuk mengestimasi nilai
modulus elastisitas tanah. Terdapat beberapa usulan nilai E yang diberikan oleh peneliti,
diantaranya pengujian sondir yang dilakukan oleh DeBeer (1965) dan Webb (1970)
memberikan korelasi antara tahanan kerucut qc dan E sebagai berikut :
E = [Link] (dalam satuan kg/cm2) (1.1)
Bowles memberikan persamaan yang dihasilkan dari pengumpulan data
pengumpulan data sondir, sebagai berikut :
E = [Link] (untuk pasir) (1.2)
E = [Link] dengan [Link] (untuk lempung) (1.3)
dengan qc dalam kg/cm2
Nilai perkiraan modulus elastisitas dapat diperoleh dari pengujian SPT (Standard
Penetration Test). Nilai modulus elastis yang dihubungkan dengan nilai SPT, sebagai
berikut:
E = 6 ( N + 5 ) k/ft2 (untuk pasir berlempung) (1.4)
E = 10 ( N + 15 ) k/ft2 (untuk pasir) (1.5)
(Sumber : Hardiyatmo,1994)

Tabel 1.1 Nilai Perkiraan Modulus Elastisitas Tanah (Hardiyatmo,1994)


Es
Macam Tanah
Kg/cm2
LEMPUNG
1. sangat lunak 3.0 - 30
2. lunak 20 - 40
3. sedang 45 - 90
4. berpasir 300 - 425
PASIR
1. berlanau 50 - 200
2. tidak padat 100 - 250
3. padat 500 - 1000
PASIR DAN
KERIKIL
1. padat 800 - 2000
2. tidak padat 500 - 1400
LANAU 20 - 200
LOSES 150 - 600
CADAS 1400- 14000
4
2. Poisson’s Ratio (μ')
Rasio Poisson sering dianggap sebesar 0,2–0,4 dalam pekerjaan–pekerjaan
mekanika tanah. Nilai sebesar 0,5 biasanya dipakai untuk tanah jenuh dan nilai 0 sering
dipakai untuk tanah kering dan tanah lainnya untuk kemudahan dalam perhitungan. Ini
disebabkan nilai dari rasio poisson sukar untuk diperoleh untuk tanah.
Tabel 1.2 Hubungan Jenis Tanah, Konsistensi dan Poisson Ratio (μ)
(Hardiyatmo, 1994)

Soil type Description (μ')

Soft 0,35 - 0,40


Clay medium 0,30 - 0,35
Stiff 0,20 - 0,30
Loose 0,15 - 025
Sand medium 0,25 - 0,30
dense 0,25 - 0,35

3. Berat Isi Tanah Kering (γdry)


Berat isi tanah kering adalah perbandingan antara berat tanah kering dengan
satuan volume tanah. Berat jenis tanah kering dapat diperoleh dari data Bulk density.

4. Berat Isi Tanah Jenuh (γwet)


Berat isi tanah jenuh adalah perbandingan antara berat tanah jenuh air dengan
satuan volume tanah jenuh. Dimana ruang porinya terisi penuh oleh air. Nilai dari berat
jenis tanah jenuh didapat dengan menggunakan rumus:
𝐺𝑠+𝑒
γsat = ( ) 𝛾𝑤 (1.6)
1+𝑒
(Sumber : Braja, 1995)
Di mana :
Gs : Specific Gravity
e : Angka Pori
γw : Berat Isi Air

5
5. Sudut Geser Dalam (ø)
Sudut geser dalam bersama dengan kohesi merupakan faktor dari kuat geser tanah
yang menentukan ketahanan tanah terhadap deformasi akibat tegangan yang bekerja
pada tanah. Deformasi dapat terjadi akibat adanya kombinasi keadaan kritis dari
tegangan normal dan tegangan geser. Nilai dari sudut geser dalam didapat dari
engineering properties tanah, yaitu dengan triaxial test dan direct shear test.

6. Kohesi (c)
Kohesi merupakan gaya tarik menarik antar partikel tanah. Bersama dengan sudut
geser tanah, kohesi merupakan parameter kuat geser tanah yang menentukan ketahanan
tanah terhadap deformasi akibat tegangan yang bekerja pada tanah. Deformasi dapat
terjadi akibat adanya kombinasi keadaan kritis dari tegangan normal dan tegangan
geser. Nilai dari kohesi didapat dari engineering properties, yaitu dengan triaxial test
dan direct shear test.

7. Permeabilitas (k)
Berdasarkan persamaan Kozeny-Carman nilai permeabilitas untuk setiap layer
tanah dapat dicari dengan menggunakan rumus :
𝑒3
k= (1.7)
1+𝑒
Untuk tanah yang berlapis-lapis harus dicari nilai permeabilitas untuk arah
vertikal dan horizontal dapat dicari dengan rumus :
𝐻
kv = 𝐻 𝐻 𝐻 (1.8)
( 1 )+ ( 2 )+⋯+( 𝑛 )
𝑘1 𝑘2 𝑘𝑛

1
kh = 𝐻(kH1 + kH2 + ... + kHn) (1.9)

(Sumber : Braja, 1995)


Di mana :
H = Tebal lapisan
e = Angka Pori
k = Koefisien Permeabilitas
kv = Koefisien Permeabilitas Arah Vertikal
kh = Koefisien Permeabilitas Arah Horizontal
Nilai koefisien permeabilitas tanah dapat ditentukan berdasarkan jenis tanah
tersebut seperti pada tabel 2.12 berikut ini:

6
Tabel 1.3 Nilai Koefisien Permeabilitas Tanah (Braja, 1995)
K
Jenis Tanah
cm/dtk ft/mnt
Kerikil bersih 1.0 - 100 2.0 – 200
Pasir kasar 1.0 - 0.01 2.0 - 0.02
Pasir halus 0.01 - 0.001 0.02 - 0.002
Lanau 0.001 - 0.00001 0.002 - 0.00002
Lempung < 0.000001 < 0.000002

1.4 Faktor Aman


Untuk memperoleh kapasitas ijin tiang, maka diperlukan untuk membagi kapasitas
ultimit tiang dengan faktor aman tertentu. Faktor aman ini diberikan dengan maksud :
a. Untuk memberikan keamanan terhadap ketidakpastian metode hitungan yang digunakan
b. Untuk memberikan keamanan terhadap variasi kuat geser dan kompresibilitas tanah.
c. Untuk meyakinkan bahwa bahan tiang cukup aman dalam mendukung beban yang
bekerja.
d. Untuk meyakinkan bahwa penurunan total yang terjadi pada tiang tunggal atau
kelompok tiang masih dalam batas-batas toleransi.
e. Untuk meyakinkan bahwa penurunan tidak seragam di antara tiang-tiang masih dalam
batas toleransi.
Reese dan O’Neill menyarankan pemilihan faktor aman (F) untuk perancangan
pondasi tiang dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 1.4 Faktor Aman yang Disarankan (Hardiyatmo,2002)

Faktor aman (F)


Klasifikasi
Struktur Kontrol Kontrol Kontrol Kontrol
baik Normal Jelek sangat jelek

Monumental 2,3 3 3,5 4


Permanaen 2 2,5 2,8 3,4
Sementara 1,4 2 2,3 2,8

7
BAB II
DATA TANAH DAN BORE PILE

Dari hasil pengujian Bor Mesin Titik 1, Titik 2 dan Titik 3 maka disimpulkan lapisan
tanah seperti berikut :

Gambar 2.1 Lapisan Tanah

Sedangkan untuk data-data parameter tanah dapat dilihat pada Tabel 2.1, dan data Bore
Pile dapat dilihat pada Tabel 2.2 di bawah ini.

8
Tabel 2.1 Parameter Tanah untuk Program Plaxis
Jenis tanah dan Tebal
No MAT ϒdry ϒwet Es' C'
Konsistensi lap kx (m/day) ky (m/day) μ' ø Ψ
Lap (m) kN/m3 kN/m3 kN/m2 kN/m2
tanah (m)
Sandy clay
1 N=20 2,8 11,20 17,70 6 E-03 6 E-03 1960 0,35 10,19 8,5 0
Soft
Gravelly sand
2 N=28 2,2 10,20 17,10 1 1 49000 0,25 9,898 25 0
Medium dense
Sandy clay
3 N=15 2,0 11,20 17,70 6 E-03 6 E-03 29400 0,30 10,19 8,5 0
Medium stiff
Fine sand
4 N=20 1,8 -1,6 10,20 17,10 1 1 9800 0,25 9,898 25 0
Medium Dense
Medium sand
5 N=13 1,2 10,20 17,10 1 1 49000 0,30 9,898 25 0
Dense
Sandy clay
6 N=11 3,0 10,40 16,30 2 E-03 2 E-03 4410 0,30 7,74 5,5 0
Medium stiff
Medium sand
7 N=60 11,5 10,20 17,10 1 1 49000 0,30 9,898 25 0
Dense

Tabel 2.2 Data Bore Pile

No Keterangan Nilai

1 Jenis Pondasi Tiang Pondasi bore pile Pondasi bore pile


2 Mutu beton K-300 K-300
3 Diameter Tiang (m) 0,4 0,5
4 Panjang Tiang (m) 8,0 8,0
5 Luas Penampang (m2) 0,1256 0,1962
Modulus Elastisitas (E)
6 23452950 = 2,3 E07 23452950 = 2,3 E07
(kN/m2)
7 Momen Inersia (I) (m4) 0,001256 0,003066
8 EA (kN/m) 2888800 4601468
9 EI (kNm2/m) 29456 71906
10 Angka Poisson (μ) 0,12 0,12

9
BAB III
PERHITUNGAN DENGAN METODE ELEMEN HINGGA
MENGGUNAKAN PROGRAM PLAXIS

Model tanah yang digunakan pada pemodelan ini adalah model Mohr Coloumb dengan
analisis plane strain. Pada model ini diasumsikan perilaku tanah bersifat plastis sempurna.
Adapun parameter yang dibutuhkan dalam pemodelan ini yaitu : Modulus Young, E (stiffness
modulus), Poisson’s ratio (υ), sudut geser dalam (ø), kohesi (c), sudut dilantansi (Ψ) berat isi
tanah (γ).
Parameter tanah dari hasil uji SPT dan laboratorium ini di ambil dari penyelidikan tanah
yang dilaksanakan. Karena keterbatasan data, maka sebagian parameter tanah pada lapisan
tertentu diasumsikan berdasarkan buku referensi teori mekanika tanah.
1. Untuk koefisien rembesan (kx, ky) tanah yang tidak diketahui diambil dari nilai koefisien
permeabilitas tanah pada berbagai jenis tanah Tabel 1.3
2. Untuk modulus elastisitas (E) diambil dari nilai perkiraan modulus elastisitas tanah dapat
dilihat pada Tabel 1.1
3. Untuk angka poisson (μ), diambil dari hubungan jenis tanah, konsistensi dan poisson ratio
(μ) yaitu pada Tabel 1.2

3.1 Proses Masukan Data ke Program Plaxis


1. Langkah pertama dalam setiap analisis adalah mengatur parameter dasar dari model
elemen hingga. Hal ini dilakukan di jendela Pengaturan Global.

Gambar 3.1 Jendela Pengaturan Global

10
2. Struktur tanah yang hendak dihitung, digambar terlebih dahulu menggunakan garis

geometri dengan lebar diambil sebesar 20 m dan kedalaman 24,5 m (kedalaman

bore hole-1) yang terdiri dari beberapa layer dengan ketebalan tertentu pada tampilan

geometri.

3. Gambarkan dinding diafagma sebagai tiang dengan menggunakan tombol pelat .

Kemudian gunakan tombol antarmuka yang diindikasikan sebagai garis teputus-

putus sepanjang garis geometri.

4. Gambarkan beban permukaan, yaitu sistem beban A-beban terbagi rata dengan
menggunakan tombol , kemudian berikan nilai bebannya dengan mengklik
ujung beban.
5. Untuk membentuk kondisi batas, klik tombol jepit standar sehingga akan
terbentuk jepit penuh pada bagian dasar dan jepit rol pada sisi-sisi vetikal.

Gambar 3.2 Penggambaran Struktur Tanah dan Tiang

11
6. Kemudian masukkan data material dengan menggunakan tombol material set.

Untuk data tanah, pilih soil & interface pada set type, sedangkan data tiang pilih

plates pada set type.

Gambar 3.3 Input Material Set Tanah

(a) (b)
Gambar 3.4 Input Material Set Pondasi
12
Beban Vertikal

Bor Pile

7 Lapisan

Gambar 3.5 Pemodelan Plaxis


7. Kemudian di meshing dengan memilih ikon Generate Mesh

Gambar 3.6 Generated Mesh


13
Gambar 3.7 Initial Water Pressure

Gambar 3.8 Initial Pore Pressure


Dalam window calculation terdapat beberapa fase yang akan dikerjakan dari awal
hingga akhir pemodelan.
14
Gambar 3.8 Proses Perhitungan
Untuk Fase 1 yaitu fase awal dimana beban dan pondasi diaktifkan. Kemudian masukan
beban sebesar 50 kN/m2.

Gambar 3.9 Pengaktifan Beban dan Pondasi

15
Untuk Fase 2 yaitu fase dimana galian sedalam 3 m. Maka kita klik lapisan pertama
untuk menonaktifkannya.

Gambar 3.10 Galian 3 m


Kemudian fase terakhir atau Fase 3 yaitu untuk mengetahui nilai Safety Factor atau
Faktor Keamanan. Setelah ketiga fase dimasukan maka akan dimulai perhitungan.

Gambar 3.11 Proses Perhitungan


16
Setelah perhitungan selesai (ditandai dengan tanda centang berwarna hijau). Maka
diperoleh data penurunan dan nilai ΣMsf dari kotak dialog Phi/c reduction yang ditunjukkan
pada berikut.

ΣMsf

(a)

ΣMsf

(b)
Gambar 3.12 Hasil Kalkulasi dan Besar ΣMsf

17
Untuk hasil Output ditampilkan pada Gambar 3.13 berikut. Dapat dilihat bahwa
penurunan yang terjadi untuk Pondasi diameter 40 cm sebesar 10,93 x 10-3 m atau setara
dengan 11 mm. Sedangkan untuk Pondasi diameter 50 cm sebesar 12,78 x 10-3 m atau setara
dengan 13 mm.

(a) (b)
Gambar 3.13 Total Displacement

18
BAB IV
KESIMPULAN

4.1 Kesimpulan
Dari perhitungan untuk kedua jenis dimensi Pondasi Bore Pile, dengan menggunakan
Metode Elemen Hingga memakai Program Plaxis, maka diambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Penurunan yang terjadi pada kedua pondasi yaitu :
a. Pondasi Ø 40 cm 10,93 x 10-3 m ≈ 11 x 10-3 m
b. Pondasi Ø 50 cm 12,78 x 10-3 m ≈ 13 x 10-3 m
2. Nilai ΣMsf yang diperoleh untuk kedua pondasi yaitu :
a. Pondasi Ø 40 cm ΣMsf = 1,8354
b. Pondasi Ø 50 cm ΣMsf = 1,7209
3. Maka untuk kedua dimensi pondasi tersebut aman untuk digunakan sebagai dimensi
Pondasi Bore Pile.

19
REFERENSI

Das, M. B., 1995, Mekanika Tanah (Prinsip-prinsip Rekayasa Geoteknis) Jilid 1, Jakarta :
Erlangga
Hardiyatmo, H. C., 1994, Mekanika Tanah 2, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama
Liong, G. T., 2016, Dasar Teori Metoda Elemen Hingga Dalam Geoteknik. Jakarta
Plaxis Version 8 Material Models Manual.

20

Anda mungkin juga menyukai