PEMURIDAN: SEBUAH PENGANTAR
Yakub Tri Handoko
Pendahuluan
1. Berbagai riset menunjukkan adanya kekristenan yang meluas tetapi tidak
mengakar (baca buku The Scandal of Evangelical Conscience atau UnChristian)
2. Kebingungan di antara para petobat baru tentang cara-cara yang strategis untuk
bertumbuh sehingga mereka tetap kanak-kanak secara rohani (Ibr. 6:1-3; 1Kor.
3:2-3)
3. Inti: kita perlu membuat kata “Kristen” dan “murid” menjadi sinonim lagi
seperti di Kisah Para Rasul 11:26b “Di Antiokhialah murid-murid itu untuk
pertama kalinya disebut Kristen” (Greg Ogden, Discipleship Essentials, 7).
Definisi
Istilah “pemuridan” banyak muncul di berbagai tulisan dan forum. Sayangnya, tidak
semua orang memahami istilah ini secara seragam.
1. Penggunaan di Alkitab: kata benda “murid” (mathētēs) muncul sekitar 160x,
sedangkan kata kerja “memuridkan” atau “menjadi murid” cuma muncul 4x (Mat.
13:52; 27:57; 28:19; Kis. 14:21)
2. Murid: “orang yang memiliki pengenalan pribadi dengan Kristus yang
mengubahkan hidupnya seperti Kristus dan yang mengakui keberhargaan Kristus
sedemikian rupa sehingga dia rela meninggalkan segala sesuatu untuk dapat
menyelesaikan tugas dari Kristus, yaitu memuridkan orang lain” (Mat. 4:19 “Mari,
ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia”). Kita bukan hanya
menjangkau dunia tetapi menyiapkan para penjangkau dunia.
3. Pemuridan: “proses mengenalkan Kristus secara pribadi dan menjelaskan
keberhargaan-Nya kepada seseorang secara intensional dan personal sehingga
orang itu mengalami transformasi hidup ke arah Kristus dan rela membayar
harga demi memenuhi panggilan-Nya untuk memuridkan orang lain”.
Disclaimer
1. Pemuridan bukan substitusi atau kompetitor bagi ibadah akhir pekan: masing-
masing memiliki desain, kelebihan dan tujuan yang spesifik
2. Pemuridan bukan sekadar tambahan aktivitas (program) gerejawi
3. Pemuridan bukan penentu pertumbuhan rohani: banyak faktor turut berperan
Alasan Teologis
Alkitab menyediakan fondasi teologis yang kokoh bagi pemuridan. Pemuridan
bukanlah pilihan, melainkan keharusan.
1. Kekristenan bukan tentang aturan tapi relasi (Mat. 11:28-29 “mari
datanglah…belajarlah kepada-Ku”)
2. Pemuridan merupakan perintah terakhir sebelum Yesus Kristus naik ke surga
(Mat. 28:19-20 “jadikanlah semua bangsa murid-Ku”)
1|Page
3. Pemuridan merupakan strategi pelayanan Yesus Kristus (Mat. 4:19)
a. Dia lebih banyak menghabiskan waktu bersama 12 murid daripada orang
banyak (bdk. misalnya Yoh. 13-17)
b. Apa yang Dia ajarkan sama pentingnya dengan bagaimana Dia mengajar
4. Pemuridan merupakan strategi pelayanan para rasul (1Kor. 11:1 “Jadilah
pengikutku sama seperti aku telah menjadi pengikut Kristus”; 2Tim. 3:10-14)
5. Pemuridan sesuai dengan natur gereja dan pertumbuhannya (1Kor. 12:12-31; Ef.
4:11-16): perlu struktur organik yang kuat untuk mengarah pada Kristus (Ef.
4:11-16; Discipleship, 66)
Alasan-Alasan Praktis
Pemuridan bukan hanya memiliki kekuatan teologis, tetapi juga manfaat-manfaat
praktis. Pemuridan sangat efektif.
1. Natur manusia yang sosial dan memerlukan pemenuhan eksistensial (pengakuan,
perhatian, penerimaan, dukungan, dsb)
2. Kisah-kisah sukses gereja yang memuridkan
3. Perhitungan matematis multiplikasi mendukung pertumbuhan gereja yang lebih
efektif
Via negativa
Di tengah kerancuan penggunaan dan penerapan “pemuridan”, ada baiknya kita
memahami apa yang bukan dimaksud dengan pemuridan.
1. Bukan hanya kegiatan, tetapi fokus perhatian & tujuan
2. Bukan hanya program, tapi kultur
3. Bukan hanya perkumpulan (ada di tempat dan waktu yang sama, melakukan hal
yang sama), tapi persekutuan (ada kebersamaan)
4. Bukan hanya penyampaian materi (informasi), tapi impartasi kebenaran dan
kehidupan (inspirasi dan transformasi)
5. Bukan hanya jumlah orang yang sedikit, tapi kedekatan yang kondusif: tidak
semua kelompok kecil adalah kelompok pemuridan
6. Bukan hanya pemuridan korporasi (Bible study, khotbah, seminar, pelatihan,
persekutuan doa, kelompok kecil) tapi personal (firman Tuhan, komitmen,
keteladanan, impartasi kehidupan, perhatian secara individual)
Halangan umum bagi pemuridan yang radikal (Edmund Chan, Radical
Discipleship, 65-74)
1. Bertabrakan dengan naluri
2. Ketidakadaan teladan
3. Kekurangan kesabaran yang strategis
4. Kepuasan yang melekat
Halangan-halangan secara khusus
1. Konsep yang keliru tentang efisiensi dan efektivitas
2. Ketergesaan dalam multiplikasi
3. Ketidakadaan materi
4. Ketidakadaan alat monitoring dan evaluasi
5. Belum terciptanya kultur: masih sebatas wacana, aktivitas, atau program
2|Page
6. Kerancuan antara pemuridan (esensi/tujuan) dan kelompok kecil (sarana)
Beberapa pedoman penting
1. Berdasarkan Kolose 1:28-29 “Dialah yang kami beritakan, apabila tiap-tiap orang
kami nasihati dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk
memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus. Itulah yang
kuusahakan dan kupergumulkan dengan segala tenaga sesuai dengan kuasa-Nya,
yang bekerja dengan kuat di dalam aku.”
a. Berpusat pada Kristus (“Dialah….dalam Kristus”)
b. Menggunakan berbagai pendekatan yang personal (“tiap-tiap orang”),
beragam (“nasihati…ajari…”) dan berhikmat (“dalam segala hikmat”)
c. Ada kesungguhan (“kuusahakan dan kupergumulkan dengan segala tenaga”)
d. Persandaran pada kekuatan Allah (“sesuai dengan kuasa-Nya”)
2. Berdasarkan 1 Tesalonika 2:7-13 “Tetapi kami berlaku ramah di antara kamu,
sama seperti seorang ibu mengasuh dan merawati anaknya. Demikianlah kami,
dalam kasih sayang yang besar akan kamu, bukan saja rela membagi Injil Allah
dengan kamu, tetapi juga hidup kami sendiri dengan kamu, karena kamu telah
kami kasihi. Sebab kamu masih ingat, saudara-saudara, akan usaha dan jerih lelah
kami. Sementara kami bekerja siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi
siapapun juga di antara kamu, kami memberitakan Injil Allah kepada kamu.
Kamu adalah saksi, demikian juga Allah, betapa saleh, adil dan tak bercacatnya
kami berlaku di antara kamu, yang percaya. Kamu tahu, betapa kami, seperti
bapa terhadap anak-anaknya, telah menasihati kamu dan menguatkan hatimu
seorang demi seorang, dan meminta dengan sangat, supaya kamu hidup sesuai
dengan kehendak Allah, yang memanggil kamu ke dalam Kerajaan dan
kemuliaan-Nya.”
a. Membangun relasi yang personal: seperti ayah dan ibu (ayat 7, 11), penuh
afeksi & kasih (ayat 7-8), mengasuh dan merawat (ayat 7)
b. Berbagi kehidupan (ayat 8)
c. Menggunakan berbagai pendekatan: memberitakan Injil (ayat 9), menasihati
dan menguatkan (ayat 11), meminta dengan sangat (ayat 11)
d. Memberikan perhatian yang personal: “seorang demi seorang” (ayat 11)
e. Menjadi teladan (ayat 9-10): kehidupan yang terpuji (mau berkurban, saleh,
adil, tak bercacat) dan otentik (di hadapan Allah)
f. Menyandarkan diri pada kuasa firman Tuhan yang mengubahkan: hidup
sesuai kehendak Allah (ayat 12) hanya dimungkinkan jika firman Allah
bekerja dalam diri mereka (ayat 13)
Pertumbuhan rohani
1. Alkitab mengajarkan bahwa pertumbuhan rohani tidak terjadi dalam sekejap
(1Kor. 3:6 “Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi
pertumbuhan”). Butuh proses. Butuh sarana. Butuh kasih karunia.
2. Alkitab yang sama juga mengajarkan bahwa sebagian orang yang mengaku
Kristen tidak mengalami pertumbuhan yang signifikan (1Kor. 3:1-3; Ibr. 6:1-2)
3. Beberapa prinsip penting:
a. Tujuan yang kekal dan ultimat adalah keserupaan dengan Allah atau Kristus
(Rm. 8:29; Kol. 3:10; 2Kor. 3:18): dewasa dalam Kristus (Kol. 1:28)
3|Page
b. Keserupaan ini berlangsung sepanjang hidup (Kol. 3:10; 2Kor. 3:17-18)
c. Yang lebih ditekankan adalah proses, bukan hanya hasil (Mat. 5:48)
Fase-fase pertumbuhan
Penting untuk memahami karakteristik dan kebutuhan dasar dan frasa-frasa kunci
umum di tiap tahapan (Discipleshift, 76-91)
Memulai pemuridan
Pemuridan harus dilakukan secara intensional dan strategis.
1. Menumbuhkan kesadaran melalui seminar dan khotbah
2. Menyiapkan bahan/materi yang sistematis
3. Mendoakan calon-calon potensial
4. Mendekati secara personal: apa, mengapa, untuk apa, dan bagaimana pemuridan
5. Melakukan secara teratur
6. Melakukan monitoring yang baik dan evaluasi yang periodik
Kualitas Komunitas
Tidak semua kedekatan menghasilkan pertumbuhan. Bukan hanya sering berkumpul,
tetapi menjadi sahabat-sahabat rohani sebagai tempat untuk berbagi kelemahan,
mengaku dosa, mendapatkan pertolongan, dan menerima akuntabilitas.
1. Keterbukaan
2. Firman Tuhan
3. Pengawasan silang
4. Komitmen
Antisipasi bahaya pemuridan
1. Tingkatan relasi pemuridan: 120, 70, 12, 3 (Discipleshift, 136-141)
2. Keterbukaan yang progresif
3. Keterbukaan yang mutual
Pemimpin
Peranan seorang pemimpin dalam pemuridan tidak tergantikan.
1. Yang penting "siapa kita di depan Allah", bukan apa yang kita lakukan di depan
orang
2. Nilai penting otentisitas: (1) tidak lelah melakukan pencitraan demi penghargaan
& pengakuan; (2) lebih alamiah untuk diteladani, termasuk dalam panggilan
untuk memimpin; (3) mendorong keterbukaan dalam kelompok; (4) menciptakan
komunitas yang Gospel-centered: penerimaan tanpa syarat; (5) lebih sesuai
dengan kondisi riil orang-orang Kristen; (6) lebih memuliakan Kristus (2Kor.
12:7-10); (7) lebih selaras dengan perjalanan iman para tokoh Alkitab; (8)
memberi ruang nasihat, dorongan, dan bantuan dari orang lain
4|Page