Kasus Skrofuloderma pada Anak
Kasus Skrofuloderma pada Anak
SKROFULODERMA
Disusun oleh :
dr. Dio Syaherma
Pembimbing 1 :
dr. Eka Siloe, Sp. THT-KL
Pembimbing 2 :
dr. Derallah Ansusa Lindra, Sp. P, MM
Puji syukur penulis panjatkan kehadiran Allah SWT karena berkat dan rahmatnya saya
dapat menyelesaikan laporan kasus ini dengan judul ‘Skrofuloderma’ sebagai salah satu tugas
dari program Internship Dokter Indonesia di RSD Kolonel Abundjani Bangko Kabupaten
Merangin.
Terima kasih kepada dokter pembimbing saya dr. Eka Siloe Sp. THT-KL dan dr.
Derallah A. Sp. P, MM selaku pembimbing yang telah memberikan arahan dan bimbingan dalam
menyelesaikan laporan kasus ini. Saya menyadari bahawa laporan kasus ini masih jauh dari
kesempurnaan. Oleh karena itu, saran dan kritik sangat diharapkan dari semua pihak.
Tuberkulosis kutis (tb kutis) merupakan salah satu penyakit kulit yang sulit untuk
ditegakkan diagnosisnya terutama bagi ahli kulit di negara-negara berkembang. Hal ini tidak
hanya dikarenakan banyaknya diagnosis banding yang harus dipikirkan namun juga diakibatkan
sulitnya untuk mendapatkan konfirmasi mikrobiologi untuk kasus ini.1 Secara garis besar
terdapat empat kategori dari tb kutis yaitu inokulasi dari faktor eksogen (inokulasi tb primer dan
tuberkulosis verukosa kutis), penyebaran secara endogen (skrofuloderma) atau yang dikenal
sebagai autoinokulasi (tuberkulosis kutis orifisialis), penyebaran secara hematogen (lupus
vulgaris, tuberkulosis miliaris akut dan tuberkulosis ulkus, guma atau abses) dan tuberkulid
(eritema induratum [Bazin’s disease], tuberkulid papulonekrotik, dan liken skrofulosorum).2
Skrofuloderma merupakan bentuk tertua tb kutis yang disebutkan dalam literatur
kedokteran dan dikenal sebagai the king’s evil. Skrofuloderma adalah bentuk tb kutis tersering di
negara berkembang dan sebagian eropa. Penyakit ini menyerang semua usia mulai dari anak-
anak, dewasa muda hingga orang tua.1 Skrofuloderma merupakan hasil penjalaran secara
perkontinuitatum dari organ di bawah kulit yang menjadi fokus tuberkulosis. Biasanya berupa
kelenjar limfe, tulang atau sendi, kelenjar lakrimalis dan duktus yang terinfeksi tb sebelumnya.
Pada sebuah laporan kasus yang melibatkan dua puluh tiga pasien dengan skrofuloderma,
didapatkan hasil skrofuloderma yang terjadi berasal dari nodus limfe servikal, lalu diikuti oleh
aksila, inguinal, epitroklear, retroaurikular, tibia dan fibula. Wajah, leher dan dinding dada
adalah tempat predileksi utama lesi dari skrofuloderma.1,3
Penegakan diagnosis skrofuloderma dibangun berdasarkan gejala klinis, pemeriksaan
fisik dan pemeriksaan penunjang. Gambaran klinis skrofuloderma awalnya ditandai dengan
limfadenitis tuberkulosis, lalu timbul nodul subkutan, likuifaksi hingga terbentuknya jaringan
parut.5. Pengobatan dengan obat antituberkulosis (OAT) menjadi pilihan utama terapi
skrofuloderma disamping terapi pembedahan.1
Walaupun skrofuloderma merupakan penyakit yang bisa sembuh sendiri, namun
dikarenakan tingginya insidensi penyakit ini dan kemungkinan timbulnya jaringan parut yang
dikenal sebagai typical cord-like scars, maka penulis tertarik untuk membahas srofuloderma
pada sari pustaka ini.1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
[Link]
Bakteri Mycobacterium tuberculosis hanya sekitar 5-10% infeksi menunjukkan
manifestasi klinis. Bakteri ini memiliki distribusi di seluruh dunia, lebih umum di daerah
dengan iklim dingin dan lembab, tetapi juga dapat terjadi di daerah tropis.4 Kini
skofuloderma paling sering terdapat pada anak-anak dan imigran dewasa dari negara-
negara berkembang. Konsumsi susu yang belum dipasteurisasi dan mengandung
Mycobacterium bovis adalah penyebab umum terjadinya skrofuloderma di negara
berkembang.6 Prevalensinya lebih tinggi pada anak, remaja, dan orang tua.1,5
[Link]
Skrofuloderma diakibatkan kuman tb yang secara langsung menginvasi kulit
(ekstensi dari suatu fokus tuberkulosis ke jaringan luar sehingga menimbulkan kerusakan
jaringan kulit dan luka terbuka).5 Mycobacterium tuberkulosis merupakan penyebab
utama dari skrofuloderma. Bakteri ini adalah bakteri aerobik, non motil, tahan terhadap
asam dan alkohol yang dibungkus oleh senyawa lipid kompleks sehingga membuat
bakteri ini resisten terhadap degradasi setelah fagositosit. Mycobacterium scrofulaceum,
Mycobacterium bovis, Mycobacterium avium, juga merupakan etiologi lain dari
skrofuloderma.5
[Link]
Skrofuloderma timbul akibat penjalaran per kontinuitatum dari organ di bawah
kulit yang telah diserang penyakit tuberkulosis, yang tersering berasal dari kelenjar getah
bening, juga dapat berasal dari sendi dan tulang. Oleh karena itu tempat predileksinya
pada tempat-tempat yang banyak didapati kelenjar getah bening superfisialis, yang
tersering pada leher, kemudian disusul di ketiak dan yang terjarang di lipatan paha.6
Porte d’entree skrofuloderma di daerah leher ialah pada tonsil atau paru. Jika di
ketiak maka kemungkinan porte d’entree pada apeks pleura, jika dilipat paha pada
ekstremitas bawah. Kadang-kadang ketiga tempat predileksi tersebut diserang sekaligus,
yakni pada leher, ketiak dan lipat paha. Pada kejadian tersebut kemungkinan besar terjadi
penyebaran secara hematogen.6
Kelenjar limfe yang terinfeksi tuberkulosis akan mengalami adenitis, kemudian
periadenitis. Akibatnya satu kelenjar dengan kelenjar lain yang bersamaan terinfeksi
dapat bergabung menyebabkan perlengketan kelenjar tersebut dengan jaringan
sekitarnya. Kelenjar-kelenjar tersebut akan melunak membentuk abses, lalu membentuk
fistula dan ulkus ke permukaan kulit secara per kontinuitatum. Sifat khas ulkus berbentuk
linier atau ireguler dengan terowongan dibawahnya, daerah sekitar berwarna merah
kebiru-biruan, dasar jaringan yang bergranulasi, dan teraba lunak. Dapat pula terbentuk
jaringan parut menghubungkan daerah yang mengalami ulserasi atau bahkan kulit
normal. Kadang-kadang di atas sikatriks (jaringan parut) tersebut terdapat jembatan kulit
(skin brigde).6
[Link] Klinis
Skrofuloderma paling sering timbul di regio parotid, submandibula, dan
supraklavicula, serta di leher sebelah lateral. Hal ini diduga merupakan penjalaran dari
kelenjar getah bening (KGB) servikal, sedangkan lokasi lain yang cukup sering adalah
aksila dan inguinal.5
Skrofuloderma diawali dengan limfadenitis tuberkulosis, setelah berbulan-bulan,
liquifaksi dan perforasi terjadi, membentuk ulkus dan sinus. Karakteristik ulkus yaitu
bentuk memanjang, tidak panas maupun nyeri tekan, serpiginosa, tidak teratur, dengan
dasar yang cekung, sekitarnya berwarna merah kebiru-biruan (livid), menggaung, lunak
dengan dasar jaringan granulasi tertutup pus seropurulen. Terdapat saluran-saluran
sinusoid di bawah kulit.5
Gambar 3. Skrofuloderma pada regio klavikula: abses, ulkus, dan ekstrusi purulen dan
perkijuan.5
Gambar 4. Skrofuloderma pada regio aksila: plak dan nodul dengan ulkus sentral yang
mengakibatkan skar dan retraksi.4
Saluran sinusoid yang terbentuk dapat berhubungan langsung dengan area infeksi
organ dalam, atau membentuk saluran menuju fokus primer infeksi terutama di leher,
dinding dada, dan pelvis. Kadang-kadang terbentuk cordlike scars atau jaringan parut.
Jaringan parut ini menghubungkan area ulseratif atau bahkan menarik kulit normal
dengan proses penyembuhannya memakan waktu yang lama.4
[Link]
Skrofuloderma ditegakkan diagnosisnya berdasarkan beberapa hal berikut:
1. Anamnesis
Riwayat tinggal di daerah endemis tuberkulosis.
Riwayat terpapar tuberkulosis dari orang sekitar penderita (rumah, sekolah,
tempat kerja, dan lain-lain).
Riwayat mendapatkan pengobatan tuberkulosis sebelumnya.
Riwayat penyakit sistemik yang meningkatkan faktor resiko infeksi tuberkulosis.
Riwayat keluhan mengarah pada tanda tuberkulosis pada penderita, misalnya:
batuk lama, berkeringat banyak di malam hari, nafsu makan menurun, kelainan
miksi, dan lain-lain.7
2. Pemeriksaan fisik
Pembesaran kelenjar getah bening
Abses dan multipel sinus
Ulkus yang khas
Jaringan parut
Jembatan kulit (skin bridge)3,5
3. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan radiologis Toraks pada posisi posterior-anterior.
Pemeriksaan ini ditujukan untuk mencari fokal infeksi terutama yang berasal dari
paru.8
Pemeriksaan bakteriologik.
Pemeriksaan bakteriologik yang dimaksud adalah pemeriksaan basil tahan asam
(BTA) dengan pengecatan Ziehl-Neelsen (ZN) terhadap bahan yang diambil dari
dasar ulkus dan biakan pada media Lowenstein Jensen atau inokulasi pada
marmut. Pada penderita dengan skrofuloderma, hasil pemeriksaan BTA akan
ditemukan adanya bakteri penyebab skrofuloderma, misal Mycobacterium
tuberculosis.8
Gambar 5. Pewarnaan Ziehl-Neelsen: kelompok kecil basil tahan asam, merah, pada tengah lapangan
pandang.8
[Link] Banding
Skrofuloderma didiagnosis banding dengan limfadenitis Mycobacterium avium-
intraselular, infeksi Mycobacterium scrofuloderma, guma sifilis, sporotrikosis,
aktinomikosis, bentuk-bentuk berat dari akne konglobata, dan hidradenitis supurativa.2,5
Limfadenitis M. Avium intracellulare dan infeksi M. Scrofuloderma dapat
dibedakan melalui pemeriksaan biakan bakteri. Jika didaerah aksila, dibedakan dengan
hidradenitis supurativa, yakni infeksi oleh piokokus pada daerah apokrin. Penyakit
tersebut sering didahului oleh trauma/mikrotrauma, misalnya banyak keringat, pemakaian
deodorant, atau rambut ketiak digunting. Hidradenitis supurativa bersifat akut disertai
tanda-tanda radang akut yang jelas, terdapat gejala konstitusi, dan leukositosis.5
Skrofuloderma di daerah inguinal kadang-kadang mirip penyakit venerik yaitu
limfogranuloma venereum. Perbedaan yang penting adalah pada limfogranuloma
venereum terdapat tersangka senggama pada anamnesis, disertai gejala konstitusi
(demam, malaise, artralgia), dan terdapat tanda radang akut. Lokalisasinya juga berbeda,
pada limfogranuloma venereum yang diserang adalah kelenjar getah bening inguinal
medial dan perineal, sedangkan pada skrofuloderma menyerang kelenjar getah bening
inguinal lateral dan femoral. Pada stadium lanjut, pada limfogranuloma venereum
terdapat gejala bubo bertingkat yang berarti pembesaran kelenjar di inguinal medial dan
fossa iliaca.5
Skrofuloderma di daerah ektremitas harus dibedakan dengan sporotrikosis.
Biasanya pada sporotrikosis timbulnya nodul subkutan disertai dengan tanda-tanda
radang, terdapat indurasi, dan penyebarannya khas limfogen proksimal sesuai dengan
perjalanan pembuluh getah bening. Pada pembiakkan akan ditemukan jamur
penyebabnya. Uji tuberkulin biasanya negatif. 5
Limfoma dijadikan diagnosis banding karena penyakit ini menyerang kelenjar
limfe. Merupakan penyakit keganasan yang menyerang sistem limfoid. Dibedakan
menjadi 2 jenis yaitu tipe hodkin dan non hodkin. Dibedakan dengan scrofuloderma salah
satunya adalah dengan melakukan biopsi ditemukannya sel reed stenberg
Gambar 7. Aktinomycosis
[Link]
Penatalaksanaan tb kutis terdiri dari pemberian regimen obat multipel dengan
durasi yang panjang dan terapi bedah ditujukan tidak hanya untuk membunuh
mikroorganisme yang menjadi etiologi tetapi juga untuk mencegah resistensi strain
bakteri tertentu terhadap obat dan timbulnya rekurensi.7
Tata laksana tb kutis sama dengan tb sistemik. Hal ini dikarenakan jumlah bakteri
penyebab tb kutis jauh lebih sedikit dibandingkan dengan tb sistemik. Tb kutis, termasuk
skrofuloderma, tergolong tb ekstra paru ringan yang mendapat pengobatan tb kategori I.
Centers for disease control and prevention (CDC) merekomendasikan pengobatan tb
kutis menjadi 2 fase terdiri dari:7
Fase inisial
Fase ini meliputi pemberian dosis harian regimen obat antituberkulosis (OAT);
isoniazid, rifampisin, pirazinamid, dan etambutol selama 8 minggu. Terapi fase inisial
dimaksudkan untuk memusnahkan bakteri penyebab tb kutis.7
Fase lanjutan
Fase ini diberikan regimen obat isoniazid dan rifampisin dosis harian, selama 16
minggu. Terapi pada fase ini ditujukan untuk mengeliminasi sisa bakteri yang menjadi
etiologi tb kutis.7
OAT kategori I
OAT kategori I diindikasikan pada penderita baru BTA positif, penderita baru
dengan BTA negatif dengan kelainan radiologis yang luas dan penderita tb ekstraparu
berat misalnya tb ginjal, tb milier, meningitis tb, peritonitis tb, perikarditis tb, efusi
pleura bilateral, osteomielitis dan spondilitis. Regimen pengobatan terdiri dari
pemberian Isoniazid, rifamfisin, pirazinamid, dan etambutol (2HRZE/ 4H3R3).14
OAT kategori I disediakan dalam bentuk paket obat kombinasi dosis tetap (KDT)
dan bentuk kombipak, yaitu paket obat lepas yang terdiri dari isoniazid, rifamfisin,
pirazinamid, dan etambutol dalam kemasan blister.14
Tabel 1 Paduan OAT KDT kategori I10
Tahap Intensif Tahap Lanjutan
tiap hari selama 56 hari 3 kali seminggu
Berat badan RHZE selama 16 minggu
(150mg/75mg/400mg/275mg) RH (150mg/150mg)
30 – 37 kg 2 tablet 4KDT 2 tablet 2KDT
38 – 54 kg 3 tablet 4KDT 3 tablet 2KDT
55 – 70 kg 4 tablet 4KDT 4 tablet 2KDT
≥ 71 kg 5 tablet 4KDT 5 tablet 2KDT
OAT kategori II
OAT kategori II diindikasikan untuk kasus gagal, kambuh dan pengobatan setelah
lalai. Regimen OAT kategori II juga tersedia dalam bentuk KDT dan kombipak, terdiri
dari isoniazid, rifamfisin, pirazinamid, sterptomisin dan etambutol (2HRZES/ HRZE/
5H3R3E3).10
3.2 ANAMNESIS
Keluhan Utama : Benjolan di leher kanan bawah
Telaah : Hal ini dialami pasien sejak 3 bulan yang lalu. Benjolan awalnya
kecil sebesar biji jagung dan tidak nyeri. Benjolan dirasakan semakin lama semakin
membesar, sebesar bola pinpong. Benjolan tidak nyeri. Benjolan berjumlah satu, semakin
membesar dan berwarna kemerahan. Pasien juga mengeluhkan demam yang naik-turun sejak
2 bulan ini, dan tidak menghilang dengan obat yang dibeli di warung. Pasien merasa berat
badannya semakin turun dan nafsu makannya berkurang. Pasien tidak mengeluhkan adanya
batuk. Pasien telah mencoba pengobatan, baik itu dengan obat kampung maupun dengan
dokter untuk mengurangi keluhan, namun keluhan tidak membaik.
Riwayat Penyakit Dahulu: Riwayat gula darah tinggi, gula darah tinggi asma, alergi obat
disangkal.
Riwayat Penyakit Keluarga: Tidak terdapat anggota keluarga yang mengalami batuk-batuk
lama dan mengeluarkan darah ataupun mengalami demam yang lama serta tidak kunjung
sembuh. Tidak terdapat riwayat keganasan (kanker) pada keluarga.
Riwayat minum obat OAT disangkal.
3.3 STATUS GENERALIS
Keadaan Umum : Baik.
Kesadaran : Compos mentis.
Keadaan Gizi : kurus BB: 50 kg
Tanda Vital
Tekanan darah : 100/70 mmHg.
Nadi : 80x/ menit, reguler, kuat angkat
Pernafasan : 20x/menit.
Suhu : 37.30C
Kepala : Normocephali, distribusi rambut merata
Mata : Konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-, pupil isokor ø ± 3mm.
Hidung : Simetris, deviasi septum (-), sekret (-), darah (-).
Telinga : Normotia, liang telinga lapang, sekret (-).
Mulut : Bibir simetris, sianosis (-), lesi di sekitar bibir (-).
Tenggorokan : Faring hiperemis (-), tonsil T1-T1 tenang.
Leher : terdapat pembesaran KGB pada regio supraclavicula dekstra , tidak
nyeri pada palpasi, teraba kenyal, ukuran 3x3cm, eritem.
3.2 ANAMNESIS
Keluhan Utama : Luka Bernanah di Leher Kiri
Telaah : Hal ini dialami pasien sejak 7 hari yang lalu. Luka bernanah dan
tidak nyeri. Awalnya benjolan muncul 2 tahun yang lalu, ukuran kecil sebesar biji jagung
dan tidak nyeri. Lalu oleh pasien di urut dan berobat kampung tapi malah benjolan dirasakan
semakin lama semakin membesar, sebesar telur puyuh. Seminggu yang lalu, benjolan terasa
semakin membesar dan pecah mengeluarkan nanah serta tidak nyeri. Pasien juga
mengeluhkan demam yang naik-turun sejak 2 bulan ini, Pasien kadang keringat pada malam
hari. Pasien merasa berat badannya semakin turun dan nafsu makannya berkurang. Os tidak
mengeluhkan batuk saat ini, tapi os pernah mengeluhkan batuk sebelumnya 2 bulan yang
lalu, dan keluhan telah hilang.
Riwayat Penggunaan Obat : Os menyangkal pernah minum obat paket
Riwayat Penyakit Dahulu: Riwayat gula darah tinggi, gula darah tinggi asma, alergi obat
disangkal.
Riwayat Penyakit Keluarga: Tidak terdapat anggota keluarga yang mengalami batuk-batuk
lama dan mengeluarkan darah ataupun mengalami demam yang lama serta tidak kunjung
sembuh. Tidak terdapat riwayat keganasan (kanker) pada keluarga.
3.3 STATUS GENERALIS
Keadaan Umum : Baik.
Kesadaran : Compos mentis.
Keadaan Gizi : kurus, BB : 52kg
Tanda Vital
Tekanan darah : 110/70 mmHg.
Nadi : 80x/ menit, reguler, kuat angkat
Pernafasan : 20x/menit.
Suhu : 37.20C
Kepala : Normocephali, distribusi rambut merata
Mata : Konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-, pupil isokor ø ± 3mm.
Hidung : Simetris, deviasi septum (-), sekret (-), darah (-).
Telinga : Normotia, liang telinga lapang, sekret (-).
Mulut : Bibir simetris, sianosis (-), lesi di sekitar bibir (-).
Tenggorokan : Faring hiperemis (-), tonsil T1-T1 tenang.
Leher : terdapat ulkus pada regio colli sinistra , tidak nyeri pada palpasi,
ukuran 4x2cm, batas tegas, dan tampak ulkus dan jaringan nekrosis.
Pada kedua kasus Skrofuloderma yang telah dipaparkan, terdapat beberapa kesamaan
pada kasus tersebut. Pasien sama sama berusia sekitar 21 - 22 tahun, yang mana berdasarkan
teori epidemiologi dikatakan bahwa skrofuloderma sering terjadi pada anak anak, remaja dan
orang tua. Gejala klinis sama, ada benjolan di bagian kelenjar getah bening di region leher, yang
mana tidak nyeri dan tidak panas serta berisikan pus. Pasien juga mengeluhkan sering demam
naik turun, pernah batuk lama, keringat pada malam hari, berat badan juga semakin menurun dan
nafsu makan berkurang. Gejala seperti ini khas untuk penyakit TB kelenjar.
Pemeriksaan tambahan, laboratorium, leukosit sama sama meningkat, menandakan
bahwa telah terjadi infeksi atau peradangan. Pada pemeriksaan foto rongent, hanya tampak
gambaran bronkovaskular, tidak ada tanda tanda infeksi bakteri Tuberculosis. Pada pemeriksaan
swab BTA, hasilnya sama sama negatif, tidak ditemukan adanya kuman BTA pada kelenjar
getah bening. Ini dikarenakan sensitivitas pada pemeriksaan BTA kecil kurang dari 50%. Jadi
belum bisa dipastikan bahwa pasien itu bebas dari kuman TB, kembali lagi ke gejala klinis
pasien yang mendukung ke arah gejala TB.
Pemeriksaan yang terpenting adalah biopsy jaringan, pada pasien pertama dilakukan
insisi, drainase serta biopsi jaringan. Pada pemeriksaan biopsi, hasilnya positif menunjukan
adanya infeksi bakteri Tuberculosis. Inilah yang membuat kuatnya diagnosa ke arah
skrofuloderma. Sedangkan pasien kedua tidak dilakukan pemeriksaan tersebut dikarenakan
gejala klinis pasien sudah mendukung ke arah skrofuloderma. Pasien sama sama disarakan
untuk mendapatkan terapi OAT.
BAB V
KESIMPULAN
Pasien laki-laki dan perempuan usia 21-22 tahun, dengan keluhan adanya
benjolan di leher, di diagnosa dengan Sklofuroderma dan dianjurkan untuk mendapatkan
terapi OAT kategori 1.
Daftar Pustaka