A.
Katedral Jakarta mempunyai gaya arsitektur neogotik
Karakter dari neo gotik adalah lengkungan yang bertemu melancip ke atas dan memberikan ekspresi ke
atas yang sangat sesuai dengan bangunan ibadah. Ditambah melangsingkan batu alam tersebut dengan
bentuk alur menjulang tinggi, maka kesannya lebih mengarah pada ketinggian bangunan. Dalam arsitektur
asli Gotik dibuat dari susunan batu alam pula secara filigran (rajutan halus), pada Gereja Katedral sudah
diganti dengan bahan modern waktu itu, yaitu baja. Pada waktu itu di Eropa digunakan konstruksi baja,
dengan hiasan seolah-olah pahatan batu. Langit-langit yang dibuat melengkung dari kayu jati berwarna
cokelat mengkilap. Kesan agung dan sakral semakin terasa ketika menginjakkan kaki di pintu masuk.
Katedral merupakan jenis gereja salib yaitu ruangannya berbentuk salib. Ruang altar menempati bagian
atas batang salibnya. Arah bangunan dari segi panjang diletakkan pada sumbu timur-barat yang mengurangi
terik Matahari [Link] bangunan berbentuk salib dengan panjang 60 meter dan lebar 20 meter.
Pada kedua belah terdapat balkon selebar 5 meter dengan ketinggian 7 meter.
B. Ciri khas dari Katedral Jakarta
Memiliki 3 menara ikonik, yaitu
Menara Benteng Daud (Fort of David) yang letaknya di sebelah
utara,
Menara Gading (Tower of Ivory) yang letaknya di sebelah selatan
dan hingga kini masih memiliki jam yang masih berfungsi,
Menara berbentuk salib yang disebut Menara Malaikat Tuhan (The
Angelus Dei Tower).
Menara Malaikat Tuhan menjulang setinggi 45m, sedangkan Menara Benteng Daud dan Menara Gading
menjulang setinggi 60m
Menara yang mengapit Menara malaikat tuhan memiliki arti khusus. Menara Benteng Daud melambangkan
Maria sebagai perlindungan terhadap kuasa-kuasa kegelapan, dan Menara Gading melambangkan
keperawanan Maria.