Prosedur Penanganan Kusta di Puskesmas
Prosedur Penanganan Kusta di Puskesmas
No. Dokumen :
No. Revisi :
SOP
Tanggal Terbit :
Halaman :
UPTD [Link],[Link] Ners,MM
PUSKESMAS NIP : 19660609198903 1 008
CIASEM
1. Pengertian Penyakit yang menular menahun yang disebabkan oleh kuman
mycobacterium leprae yang menyerang saraf tepi,kulit organ lain kecuali
susunan saraf pusat.
2. Tujuan Menemukan penyakit kusta secara dini,memutus rantai penularan
mengobati dengan lengkap,mencegah terjadinya kecacatatan dan reaksi
berulang.
3. Kebijakan
4. Referensi - Buku Pedoman Nasional Pemberantasan Penyakit Kusta Tahun 2006
cetakan XVIII
- Buku Saku Pengendalian Penyakit Kusta tahun 2014
- Atlas Kusta,Dirjen Pengendalian penyakit Kusta dan Penyehatan
Lingkungan Kementrian Kesehatan republik Indonesia Tahun 2013.
- Lembar balik “Kusta dapat disembuhkan” Tahun 2006
- Lembar Balik “Kenali Kusta & Frambusia sejak awal”.,Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia Dirjen PP & PL Tahun 2015.
5. Alat/Bahan A. Persiapan Alat dan Bahan
1. Kapas
2. Bolpoin
3. Kartu Penderita Kusta
- Blanko PFS (Pemeriksaan Fungsi Syaraf)
6. Prosedur/ Penemuan penderita dan suspek dilakukan dengan melakukan
Langkah-
kegiatan kontak penderita, survey case, RVS dan skrening pada anak
langkah
sekolah.
Pasien datang ke loket minta nomor antrian diarahkan ke BP umum.
Di BP umum dilakukan pemeriksaan pandang dan raba.
Diagnosis kusta didasarkan pemeriksaan pandang dan periksa. Pasien
dilihat ada kelainan kulit atau tidak, jika ada dilakukan tessemsifitas
pada bercak tersebut. Ada 3 tanda pasti kusta yang disebut Cardinal
Sign yaitu lesi (kelainan, bercak) kulit yang mati rasa.
Jika sudah ditemukan, maka pasien dibuatkan buku register pasien dan
buku pengobatan kusta.
Tipe kusta ada 2 : Type PB dan MB
Type PB bila jumlah bercak mati rasa 1-5, hanya satu saraf yang
terganggu dan hasil tahan asamnya negatif.
Type MB bila jumlah bercak yang mati rasa lebih dari 5, saraf yag
terganggu lebih dari satu saraf, dan hasil tahan asamnya positif.
Pengobatan type PB dengan MDT selama 6-9 bulan, jika type MB
dengan MDT selama 12-18 bulan.
Pasien sebelum pengobatan, selama, dan sesudah pengobatan bisa
terjadi reaksi. Jika timbul reaksi pengobatannya dengan system
tapering off prednisone 40 mg/hari selama 2 minggu, 30 mg/hari
selama 2 minggu, 20 minggu/hari selama 2 minggu, 15 mg/hari selama
2 minggu, 10 mg selama 2 minggu dan 5 mg selama 2 minggu. Setiap
ambil obat prednisone harus dilakukan pemeriksaan POD, untuk
mengetahui kemajuan terapi.
Pasien dinyatakan RFT jika sudah pengobatan MDT untuk PB selma 6
bulan, MB selama 12 bulan.
7. Unit Terkait Loket, Klinik Umum
Tim Mutu Puskesmas
Koordinator Pelayanan Puskesmas
Pengelola P2P Kusta Puskesmas
Apotek
8. Dokumen Rekam Medis,Buku Register Kohort Kusta,Kartu Penderita Kusta,Resep.
Terkait
9. Rekaman
Historis Tanggal
No Yang dirubah Isi Perubahan
Perubahan Diberlakukan
PENYULUHAN KELUARGA/KLIEN
TENTANG PENYAKIT KUSTA
No. Dokumen :
No. Revisi :
SOP
Tanggal Terbit :
Halaman :
UPTD [Link],[Link] Ners,MM
PUSKESMAS NIP : 19660609198903 1 008
CIASEM
1. Pengertian Serangkaian kegiatan dalam memberikan pendidikan dan penyluhan
secara individu/keluarga dengan materi tentang masalah/penyakit kusta.
Penyuluhan klien adalah kegiatan untuk menyampaikan informasi atau
pengetahuan secara luas kepada klien/keluarga tentang kusta.
2. Tujuan Sebagai acuan bagi tenaga pelaksana dalam memberikan pendidikan
dan penyluhan klien/keluarga di UPTD Puskesmas Kecamatan Ciasem
agar merubah dan meningkatkan pengetahuan, pemahaman dan cara
pandang klien/keluarga tentang penyakit kusta.
3. Kebijakan Keputusan Kepala UPTD Puskesmas Ciasem Nomor Tahun 2019
tentang Penyuluhan Penyakit Kusta.
4. Referensi a. Pedoman nasional program pengendalian penyakit kusta
b. Modul pelatihan Program P2 Kusta Dinas Provinsi Jawa Barat Tahun
2016
5. Alat/Bahan Bolpoin, kapas, status pasien,Lembar Balik”Kenali Kusta & Frambusia
sejak awal” Kementerian Kesehatan republik Indonesia Dirjen PP&PL
Tahun 2015.
6. Prosedur/ 1. Mengadakan pertemuan dengan kader Kusta untuk mengetahui
Langkah-
petugas membuat Satuan Acara Penyuluhan
langkah
2. Petugas mempersiapkan sarana dan prasarana
3. Petugas memberikan salam dan memperkenalkan diri
4. Petugas menyampaikan maksud dan tujuan penyuluhan
5. Petugas menyampaikan materi penyuluhan
6. Petugas memberikan kesempatan kepada klien untuk menanyakan
materi yang kurang dipahami
7. Petugas mengadakan evaluasi terhadap materi yang diberikan
8. Petugas mencatat hasil kegiatan penyuluhan
9. Petugas membereskan sarana dan prasarana
7. Unit Terkait Poli umum, Promkes,Kesling,Surveilans
8. Rekaman
Historis Tanggal Mulai
No Yang dirubah Isi Perubahan
Perubahan Diberlakukan
STANDAR PROSEDUR
OPERASIONAL PENCATATAN
DAN PELAPORAN KUSTA
No. Dokumen :
No. Revisi :
SOP
Tanggal Terbit :
Halaman :
UPTD [Link],[Link] Ners,MM
PUSKESMAS NIP : 19660609198903 1 008
CIASEM
1. Pengertian Pencatatan adalah cara yang dilakukan untuk mencatat data yang
penting mengenai pasien kusta. Pelaporan adalah mekanisme yang
digunakan untuk melaporkan kegiatan yang telah dilakukan kepada
instansi yang lebih tinggi.
2. Tujuan Memastikan petugas melakukan pencatatan dan pelaporan pasien
kusta sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan. Memantau
secara kohort perkembangan pengobatan pasien kusta.
3. Kebijakan SK Kepala Puskesmas No.
4. Referensi -
5. Prosedur/ 1. Petugas paramedis mencatat rekam medis
Langkah-
2. Petugas paramedis mencatat kartu penderita kusta
langkah
3. Petugas paramedis mencatat kartu identitas penderita kusta
4. Petugas paramedis mencatat register kohort penderita kusta
6. Unit Terkait 1. Ruang pemeriksaan umum
2. Ruang laboratorium
3. Ruang sanitasi
4. Ruang obat
7. Rekaman
Historis Tanggal Mulai
No Yang dirubah Isi Perubahan
Perubahan Diberlakukan
PENATALAKSANAAN KUSTA
No. Dokumen :
No. Revisi :
SOP
Tanggal Terbit :
Halaman :
UPTD [Link],[Link] Ners,MM
PUSKESMAS NIP : 19660609198903 1 008
CIASEM
1. Pengertian Suatu Pemeriksaan menyeluruh mengenai fungsi syaraf setelah pasien
didiagnosa terkena penyakit Kusta.
2. Tujuan Sebagai acuan dalam penatalaksanaan Kusta dan mencegah terjadinya
kecacatan.
3. Kebijakan
4. Referensi Buku Pedoman Nasional Pemberantasan Penyakit Kusta,Cetakan
XVIII, Depkes RI. Direktorat jenderal Pengendalian Penyakit Dan
Penyehatan Lingkungan 2006
Buku Saku Pengendalian Penyakit Kusta, Direktorat P2M & Dirjen
P2 dan PL 2014
5. Prosedur Semua suspek dan penderita kusta yang datang di unit pelayanan
umum di Puskesmas
Keterampilan petugas
Dokter umum, Perawat terampil, Dokter SPKK
Uraian umum
Menyapa penderita dan keluarga/pengantar
Menjelaskan hal-hal yang akan dilakukan pada penderita
Menjelaskan macam-macam pemeriksaan yang akan dilakukan
Menjelaskan tujuan pemeriksaan, diagnosa, pengobatan,
pencegahan kecatatan
Melaksanakan anamnesa meliputi nama, umur, alamat, tempat
lahir, pekerjaan
Nama orang tua, anggota keluarga yang serumah, pernah atau
belum pernah minum obat
Riwayat penyakit
Keluhan yang dirasakan
Pernah kontak dengan penderita kusta atau tidak
Melakukan pemeriksaan fisik untuk mencari cardinal sign
1. Periksa pandang
Memeriksa penderita ditempat yang aman, untuk menjaga
privasi, ruangan cukup sinar matahari tidak langsung.
Menyiapkan sarung bagi penderita
Menyiapkan :
1. Alat tulis
2. Kartu penderita kusta
3. Kartu pencegah kecatatan/PSF
4. Kartu monitoring
5. Buku register kusta
6. Alat bantu penegahan kecacatan
7. Kapas yang diruncingkan
Petugas mencuci tangan dan memakai handscoon
Meminta kepada penderita agar melepas pakaian yang
menutupi badannya
Penderita disuruh berdiri mengahadap pada petugas dengan
sinar matahari tidak langsung mengenai arah depan
penderita
2. Periksa rasa raba/mati rasa
Penderita disuruh duduk menghadap petugas
Petugas memegang kapas yang telah diruncingkan
Memeriksa adanya mati rasa pada semua bercak dengan
cara menyentuh bercak dengan ujung kapas yang runcing
Sedapat mungkin penderita tidak melihat setiap sentuhan
kapas untuk menghindari tipuan penderita
Meminta penderita merespon setiap sentuhan terasa atau
tidak
Membandingkan dengan kulit yang normal
Menegakkan diagnosa sementara
Menggambar setiap bercak yang ada secara berurutan dri
atas ke bawah
3. Periksa adanya kerusakan dan penebalan syaraf. Penderita
duduk menghadap petugas
a. N. Optikus penderita diminta untuk memejamkan mata
sekuatnya, petugas melihat dari samping dan mengukur
lebar kelopak mata yang tidak tertutup.
b. N. Auricularis Maknus
Penderita dianjurkan memandang sendi bahu kiri untuk
melihat adanya penebalan syaraf Auricularis Maknus
pada leher kanan, pandang dan raba adanya penebalan
syaraf akan kelihatan dan teraba.
Untuk memeriksa nervus Auricularis Maknus kiri
penderita dianjurkan memaricularis Maknus kiri penderita
dianjurkan memandang sendi bahu kanan, petugas
melakukan hal yang sama dengan memeriksa nervus
kanan dan sendi bahu kanan, petugas melakukan hal
yang sama dengan memeriksa nervus kanan
c. N. Ulnaris
1. Tes penebalan syaraf
Kanan
• Petugas memegang tangan kanan penderita dengan
tangan kanan petugas. Tangan kiri meraba adanya
penebalan syaraf di siku kanan penderita, merasakan
adanya penebalan syaraf dan mencari adanya nyeri
tekan dengan jari telunjuk dan jari tengah petugas.
Kiri
Petugas memegang tangan kiri penderita dengan
tangan kiri petugas.
Tangan kanan petugas mencari adanya penebalan
dan nyeri tekan pada siku kiri dengan jari telunjuk &
jari tengah
Kelainan dicatat/digambar pada kartu Penderita Kusta
2. Tes sensoris
Kanan
Tangan kiri petugas memegang punggung telapak
tangan kanan penderita dan mengajarkan penderita
test sensorisnya,kemudian melakukan test
sensibilitas terhadap titik telapak tangan area jari
kelingking dan jari manis degan menggunakan
bolpoin
Kiri
Tangan kanan petuas memegang punggung telapak
tangan kiri penderita dan mengajarkan penderita test
sensoris, kemudian melakukan test sensibilitas
terhadap telapak tangan area jari kelingking dan jari
manis dengan menggunakan bolpoin.
3. Test Motorik
Kanan
Tangan kanan petugas memegang semua jari tangan
kiri penderita kecuali kelingking, petugas meminta
merenggangkan jari kelingking,petugas menekan jari
kelingking bagian luar denagn jari telunjuk
petugas,jika hasil test ditemukan kelemahan lakukan
uji perbandingan menjepit kertas dengan jari
kelingking dan jari manis dengan saling tarik antara
petugas dan penderita
d. N. Medianus
1. Sensoris
Kanan
Tangan kiri petugas memegang punggung
telapak tangan kanan penderita dan
mengajarkan penderita test sensorisnya,
kemudian melakukan testsensibilitas terhadap
titik telapak tangan area jari tengah,telunjuk
dan ibu jari.
Kiri
Tangan kanan petugas memegang punggung
telapak tangan kiri penderita dan mengajarkan
penderita test sensoris, kemudian melakukan
test sensibilitas terhadap titik telapak tangan
area jari tengah,telunjuk, dan ibu jari.
2. Motorik
Tangan kanan petugas memegang
pergelangan tangan penderita yang sudah
menggenggam kemudian mengangkat
genggamannya ke atas dan menahannya,
dengan tangan kiri petugas menarik
genggaman tangan penderita.
e. N. Peroneus
Test penebalan syaraf
Tangan kanan petugas meraba syaraf
peroneus kiri penderita,tangan kiri petugas
meraba syaraf peroneus kanan penderita.
Petugas mencari adanya penebalan syaraf
dan nyeri tekan kelainan di catat/gambar pada
kartu PFS.
f. N. Tibialis Posterior
Penebalan syaraf
Telunjuk tangan kanan meraba dan mencari
adanya nyeri tekan pada belakang matakaki
sebelah dalam kaki kanan penderita.
Pada saat bersamaan tangan kiri mencari
adanya penebalan dan nyeri tekan padakaki
kiri
Kelainan di catat/gambar pada kartu penderita
kusta.
Sensoris
Penderita disuruh duduk gaya bos tangan kiri
petugas menahan punggung kanan kaki
penderita dan jari-jarinya dengan menggunakan
bolpoin melakukan tes sensoris 10 titik.
Mengisi form POD (Pencegahan kecacatan):
setiap hasil pemeriksaan hasilnya dicatat dalam
form POD/PFS setiap penderita mengambil obat
baik itu MDT maupun obat reaksi Kusta.
Petugas memeriksa adakah kecacatan dan
seberapa tingkat kecacatan
Petugas juga menanyakan adakah pada
penderita berapa lama kelainan mulai timbul.
Petugas melihat adakah lagoftalmus.
Tangan
- Petugas meraba syaraf ulnaris kanan dan kiri
- Mengetahui adanya mati rasa pada telapak
tangan kanan dan kiri dengan menggunakan
ujung bolpoin.
- Mencari kelainan pada pergelangan tangan
kanan dan kiri.
Kaki
- Petugas mencari kelainan dengan meraba
syaraf peroneus terletak dielakang lutut
penderita adakah nyeri tekan.
- Memeriksa kelainan syaraf Tibialis posterior
kanan & kiri adakah nyeri tekan
- Memeriksa pergelangan kaki adakah
kelumpuhan.
- Memeriksa adanya rasa rba pada telapak kaki
kanan dan kiri menggunakan ujung bolpoin.
Menentukan Tingkat Kecacatan
0 = Mata : Tidak ada kelainan pada mata akibat
Kusta
Telapak tangan/kaki: Tidak ada cacat akibat
Kusta
1 = Mata : -
Telapak Tangan/kaki : Anestesi, kelemahan
otot,(tidak ada cacat/ kerusakan yang terlihat
akibat kusta)