0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
288 tayangan19 halaman

Prosedur Penanganan Kusta di Puskesmas

SOP ini memberikan pedoman tentang prosedur diagnosis penyakit kusta. Diagnosis kusta didasarkan pada pemeriksaan klinis yang mencakup observasi tanda-tanda khas pada kulit dan saraf serta pembandingan dengan penyakit lain. Prosedur diagnosis meliputi persiapan, pemeriksaan pasien, penetapan diagnosis, dan koordinasi dengan laboratorium.

Diunggah oleh

PEPEN EFFENDI
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
288 tayangan19 halaman

Prosedur Penanganan Kusta di Puskesmas

SOP ini memberikan pedoman tentang prosedur diagnosis penyakit kusta. Diagnosis kusta didasarkan pada pemeriksaan klinis yang mencakup observasi tanda-tanda khas pada kulit dan saraf serta pembandingan dengan penyakit lain. Prosedur diagnosis meliputi persiapan, pemeriksaan pasien, penetapan diagnosis, dan koordinasi dengan laboratorium.

Diunggah oleh

PEPEN EFFENDI
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PROGRAM P2P KUSTA

No. Dokumen :
No. Revisi :
SOP
Tanggal Terbit :
Halaman :
UPTD [Link],[Link] Ners,MM
PUSKESMAS NIP : 19660609198903 1 008
CIASEM
1. Pengertian Penyakit yang menular menahun yang disebabkan oleh kuman
mycobacterium leprae yang menyerang saraf tepi,kulit organ lain kecuali
susunan saraf pusat.
2. Tujuan Menemukan penyakit kusta secara dini,memutus rantai penularan
mengobati dengan lengkap,mencegah terjadinya kecacatatan dan reaksi
berulang.
3. Kebijakan
4. Referensi - Buku Pedoman Nasional Pemberantasan Penyakit Kusta Tahun 2006
cetakan XVIII
- Buku Saku Pengendalian Penyakit Kusta tahun 2014
- Atlas Kusta,Dirjen Pengendalian penyakit Kusta dan Penyehatan
Lingkungan Kementrian Kesehatan republik Indonesia Tahun 2013.
- Lembar balik “Kusta dapat disembuhkan” Tahun 2006
- Lembar Balik “Kenali Kusta & Frambusia sejak awal”.,Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia Dirjen PP & PL Tahun 2015.
5. Alat/Bahan A. Persiapan Alat dan Bahan
1. Kapas
2. Bolpoin
3. Kartu Penderita Kusta
- Blanko PFS (Pemeriksaan Fungsi Syaraf)
6. Prosedur/  Penemuan penderita dan suspek dilakukan dengan melakukan
Langkah-
kegiatan kontak penderita, survey case, RVS dan skrening pada anak
langkah
sekolah.
 Pasien datang ke loket minta nomor antrian diarahkan ke BP umum.
 Di BP umum dilakukan pemeriksaan pandang dan raba.
 Diagnosis kusta didasarkan pemeriksaan pandang dan periksa. Pasien
dilihat ada kelainan kulit atau tidak, jika ada dilakukan tessemsifitas
pada bercak tersebut. Ada 3 tanda pasti kusta yang disebut Cardinal
Sign yaitu lesi (kelainan, bercak) kulit yang mati rasa.
 Jika sudah ditemukan, maka pasien dibuatkan buku register pasien dan
buku pengobatan kusta.
 Tipe kusta ada 2 : Type PB dan MB
 Type PB bila jumlah bercak mati rasa 1-5, hanya satu saraf yang
terganggu dan hasil tahan asamnya negatif.
 Type MB bila jumlah bercak yang mati rasa lebih dari 5, saraf yag
terganggu lebih dari satu saraf, dan hasil tahan asamnya positif.
 Pengobatan type PB dengan MDT selama 6-9 bulan, jika type MB
dengan MDT selama 12-18 bulan.
 Pasien sebelum pengobatan, selama, dan sesudah pengobatan bisa
terjadi reaksi. Jika timbul reaksi pengobatannya dengan system
tapering off prednisone 40 mg/hari selama 2 minggu, 30 mg/hari
selama 2 minggu, 20 minggu/hari selama 2 minggu, 15 mg/hari selama
2 minggu, 10 mg selama 2 minggu dan 5 mg selama 2 minggu. Setiap
ambil obat prednisone harus dilakukan pemeriksaan POD, untuk
mengetahui kemajuan terapi.
 Pasien dinyatakan RFT jika sudah pengobatan MDT untuk PB selma 6
bulan, MB selama 12 bulan.
7. Unit Terkait Loket, Klinik Umum
Tim Mutu Puskesmas
Koordinator Pelayanan Puskesmas
Pengelola P2P Kusta Puskesmas
Apotek
8. Dokumen Rekam Medis,Buku Register Kohort Kusta,Kartu Penderita Kusta,Resep.
Terkait
9. Rekaman
Historis Tanggal
No Yang dirubah Isi Perubahan
Perubahan Diberlakukan

PEMERIKSAAN PASIEN KUSTA BARU


No. Dokumen :
SOP
No. Revisi :
Tanggal Terbit :
Halaman :
UPTD [Link],[Link],MM
PUSKESMAS NIP : 19660609198903 1 008
CIASEM
1. Pengertian Suatu pemeriksaan yang dilakukan pada pasien dirawat jalan sehingga
dapat ditegakkan diagnosa sebagai pasien kusta.
2. Tujuan Ketepatan penatalaksanaan dan terapi.
3. Kebijakan SK Kepala Puskesmas No. 188.4/ /415.25.33.2019
4. Referensi - Buku Pedoman Nasional Pemberantasan Penyakit Kusta tahun
2006 cetakan XVIII
- Buku Saku Pengendalian Penyakit Kusta tahun 2014
5. Alat/Bahan  Bolpoin,Kapas Pilin,Kartu Penderita Kusta,Register/kohort
Kusta,Form PFS
6. Prosedur/ 1. Pasien daftar ke loket pendaftaran
Langkah-
2. Memeriksa cardinal sign (Bercak mati rasa yang berbatas tegas,
langkah
penebalan syaraf tepi yang disertai penurunan fungsi, BTA).
3. Mengklarifikasi cardinal sign dengan mengambil skin smear.
4. Melakukan charting dan mendokumentasikan kedalam blanko
pasien apabila sudah tegak diagnosa kusta.
5. Memberikan penjelasan tentang prosedur pengobatan.
7. Unit Terkait 1. Loket
2. POLI Umum/BP
3. Laboratorium
4. Apotek
8. Rekaman
Historis Tanggal
No Yang dirubah Isi Perubahan
Perubahan Diberlakukan

PROSEDUR DIAGNOSIS KUSTA


No. Dokumen :
No. Revisi :
SOP
Tanggal Terbit :
Halaman :
UPTD [Link],[Link] Ners,MM
PUSKESMAS NIP : 19660609198903 1 008
CIASEM
1. Pengertian Adalah penilaian klinis atau pernyataan ringkas tentang status kesehatan
individu yang didapatkan melalui proses pengumpulan data yang
sistematis.
2. Tujuan  Mengetahui secara jelas nama penyakit yang diderita oleh individu.
 Menentukan terapi dan tindakan yang sesuai.
3. Kebijakan SK No : 440/ /[Link].15 2015, tentang Penanggung Jawab
Pelayanan dan Program UPTD Puskesmas Ciasem.
4. Referensi - Buku Pedoman Nasional Pemberantasan Penyakit Kusta tahun 2006
cetakan XVIII
- Buku Saku Pengendalian Penyakit Kusta tahun 2014
5. Alat/Bahan  Alat tulis kantor, kapas, status pasien,Kartu Penderita Kusta,form PFS
6. Prosedur/ 1. Petugas mempersiapkan alat tulis, kartu penderita, dan register kohort
Langkah-
kusta.
langkah
2. Petugas mengamati hasil pemeriksaan yang dilakukan pada pasien
kusta yang telah dicatat pada kartu penderita.
3. Petugas mengamati tanda-tanda tersangka kusta pada pasien kusta,
yaitu :
A. Tanda-tanda pada kulit
 Bercak kulit yang merah atau putih dan atau plakat pada kulit,
terutama di wajah dan telinga
 Bercak kurang/mati rasa
 Bercak yang tidak gatal
 Kulit mengkilap atau kering bersisik
 Adanya kelainan kulit yang tidak berkeringat dan atau tidak
berambut
 Kulit melepuh dan tidak nyeri
B. Tanda-tanda pada syaraf
 Nyeri tekan dan atau spontan pada syaraf
 Rasa kesemutan, tertusuk-tusuk dan nyeri pada anggota gerak
 Kelemahan anggota gerak dan atau wajah
 Adanya cacat (deformitas)
 Lukas (ulkus) yang sulit sembuh

C. Lahir dan tinggal di daerah endemik kusta dan mempunyai


kelainan kulit yang tidak sembuh dengan pengobatan rutin,
terutama bila terdapat keterlibatan syaraf tepi.
4. Petugas membandingkan tanda-tanda kusta tersebut dengan penyakit
kulit lainnya, seperti panu, kurap, kudis, psoriasis, vitiligo dan lain-lain.
5. Petugas menanyakan kepada petugas laboratorium, apakah
pengambilan kerokan jaringan kulit untuk pasien kusta tersedia di
laboratorium.
6. Petugas menetapkan diagnosis penyakit kusta pada pasien dengan
memperhatikan tanda-tanda utama atau cardinal sighn, yaitu :
a. Kelainan (lesi) kulit yang mati rasa
Kelainan kulit/lesi dapat berbentuk bercak putih (hipopigmentasi)
atau kemerahan (eritema) yang mati rasa
b. Penebalan syaraf tepi yang disertai dengan gangguan fungsi
syaraf ....
7. Unit Terkait 1. Loket
2. Doter Puskesmas
3. Laboratorium
4. Pelaksana P2P Kusta
8. Rekaman
Historis Tanggal Mulai
No Yang dirubah Isi Perubahan
Perubahan Diberlakukan

PENYULUHAN KELUARGA/KLIEN
TENTANG PENYAKIT KUSTA
No. Dokumen :
No. Revisi :
SOP
Tanggal Terbit :
Halaman :
UPTD [Link],[Link] Ners,MM
PUSKESMAS NIP : 19660609198903 1 008
CIASEM
1. Pengertian Serangkaian kegiatan dalam memberikan pendidikan dan penyluhan
secara individu/keluarga dengan materi tentang masalah/penyakit kusta.
Penyuluhan klien adalah kegiatan untuk menyampaikan informasi atau
pengetahuan secara luas kepada klien/keluarga tentang kusta.
2. Tujuan Sebagai acuan bagi tenaga pelaksana dalam memberikan pendidikan
dan penyluhan klien/keluarga di UPTD Puskesmas Kecamatan Ciasem
agar merubah dan meningkatkan pengetahuan, pemahaman dan cara
pandang klien/keluarga tentang penyakit kusta.
3. Kebijakan Keputusan Kepala UPTD Puskesmas Ciasem Nomor Tahun 2019
tentang Penyuluhan Penyakit Kusta.
4. Referensi a. Pedoman nasional program pengendalian penyakit kusta
b. Modul pelatihan Program P2 Kusta Dinas Provinsi Jawa Barat Tahun
2016
5. Alat/Bahan  Bolpoin, kapas, status pasien,Lembar Balik”Kenali Kusta & Frambusia
sejak awal” Kementerian Kesehatan republik Indonesia Dirjen PP&PL
Tahun 2015.
6. Prosedur/ 1. Mengadakan pertemuan dengan kader Kusta untuk mengetahui
Langkah-
petugas membuat Satuan Acara Penyuluhan
langkah
2. Petugas mempersiapkan sarana dan prasarana
3. Petugas memberikan salam dan memperkenalkan diri
4. Petugas menyampaikan maksud dan tujuan penyuluhan
5. Petugas menyampaikan materi penyuluhan
6. Petugas memberikan kesempatan kepada klien untuk menanyakan
materi yang kurang dipahami
7. Petugas mengadakan evaluasi terhadap materi yang diberikan
8. Petugas mencatat hasil kegiatan penyuluhan
9. Petugas membereskan sarana dan prasarana
7. Unit Terkait Poli umum, Promkes,Kesling,Surveilans
8. Rekaman
Historis Tanggal Mulai
No Yang dirubah Isi Perubahan
Perubahan Diberlakukan

PELAYANAN SCHOOL SURVEY


No. Dokumen :
No. Revisi :
SOP
Tanggal Terbit :
Halaman :
UPTD [Link],[Link] Ners,MM
PUSKESMAS NIP : 19660609198903 1 008
CIASEM
1. Pengertian Merupakan kegiatan pemeriksaan anak sekolah untuk mendeteksi adanya
gejala kusta.
2. Tujuan Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk deteksi dini adanya
penularan kusta pada anak sekolah.
3. Kebijakan Keputusan Kepala UPTD Puskesmas Ciasem Nomor : 440/....
/SK/[Link]/2016 tentang : Jenis-jenis Pelayanan.
4. Referensi Buku Pedoman Nasional Pemberantasan Penyakit Kusta Tahun 2006
Cetakan XVIII
5. Prosedur/ Persiapan Alat :
Langkah-
1. SP(surat perintah) yang sudah ditandatangani Kepala Puskesmas dan
langkah
distempel untuk kegiatan school survey
2. Lembar balik Kusta
3. Kapas pilin
4. Bolpoin
5. Buku Kegiatan Harian
Penatalaksanaan :
1. Beri salam
2. Jelaskan maksud dan tujuan pemeriksaan
3. Beri penjelasan tentang penyakit kusta
4. Tanya jawab
5. Lakukan pemeriksaan
6. Bila ada suspek, catat dan laporkan ke guru dan suspek untuk datang
periksa lebih lanjut ke Puskesmas
6. Unit Terkait 1. Promkes
2. Program Kesehatan Anak
3. P2 Kusta
7. Rekaman
Historis Tanggal Mulai
No Yang dirubah Isi Perubahan
Perubahan Diberlakukan

SOP PELACAKAN KUSTA MANGKIR


No. Dokumen :
No. Revisi :
SOP
Tanggal Terbit :
Halaman :
UPTD [Link],[Link] Ners ,MM
PUSKESMAS NIP : 19660609198903 1 008
CIASEM
1. Pengertian Pelacakan Kusta mangkir adalah rangkaian kegiatan penyelidikan atau
investigasi alasan pasien Kusta tidak datang mengambil obat ke
Puskesmas.
2. Tujuan Sebagai acuan penerapan langkah-langkah petugas untuk pasien berobat
kembali secara teratur tidak sampai drop out.
3. Kebijakan SK Kepala Puskesmas Ciasem Nomor : ....................
Tentang Layanan Klinis
4. Referensi Buku pedoman nasional pengendalian penyakit kusta Kemenkes RI Dirjen
P2PL 2015.
5. Prosedur/ 1. Mendata pasien yang akan dikunjungi
Langkah-
2. Melakukan kunjungan rumah
langkah
3. Mengkaji/analisa mengapa pasien tidak datang mengambil obat
4. Memberikan informasi pentingnya berobat teratur dan akibat tidak
berobat secara teratur
5. Mencatat hasil kunjungan
6. Mengevaluasi apakah pasien melakukan kunjungan ke Puskesmas
setelah dilakukan pelacakan
6. Unit Terkait Promkes, P2 kusta
7. Rekaman
Historis Tanggal Mulai
No Yang dirubah Isi Perubahan
Perubahan Diberlakukan

PEMBERIAN MDT KUSTA


No. Dokumen :
No. Revisi :
SOP
Tanggal Terbit :
Halaman :
UPTD [Link],[Link] Ners,MM
PUSKESMAS NIP : 19660609198903 1 008
CIASEM
1. Pengertian Memberikan therapy kusta sesuai dengan klasifikasi yang telah ditentukan
berdasarkan regimen MDT yang dianjurkan oleh WHO.
2. Tujuan 1. Memutuskan mata rantai penularan
2. Menyembuhkan penderita
3. Mencegah terjadinya kecacatan atau mencegah bertambahnya cacat
yang sudah ada sebelum pengobatan
3. Kebijakan Keputusan Kepala UPTD Puskesmas Nomor Tahun tentang Pemberian
MDT kusta.
4. Referensi 1. Modul pelatihan Program P2 Kusta bagi UPK tahun 2008
2. Atlas kusta tahun 2012
3. Pedoman Nasional Program Pengendalian Penyakit Kusta
5. Prosedur/ 1. Lakukan pemeriksaan secara lengkap
Langkah-
2. Klasifikasi jenis/type penyakit
langkah
Type MB diminum selama 12-18 bulan bulan, type PB diminum selama
6-9 bulan
3. Menyampaikan tujuan pengobatan
4. Menjelaskan mengenai pengobatan kusta (jangka waktu pengobatan
dan macam obat terdapat beberapa hal yang perlu disampaikan
sehingga penderita mendapat penjelasan sebelum diberikan
pengobatan MDT, antara lain :
a. Lama pengobatan
b. Cara minum obat
c. Kusta dapat disembuhkan, bila minum obat teratur dan lengkap
d. Bahaya yang terjadi bila minum obat tidak teratur yaitu dapat
menularkan kepada keluarga dan orang lain, dan juga dapat
menjadi cacat
e. Bila ada keluhan selama masa pengobatan diminta segera periksa
ke Puskesmas
f. Bila penderita kehilangan rasa raba atau sakit, jelaskan pentingnya
perawatan diri untuk mencegah cacat
g. Penderita yang sudah cacat fisik tidak akan kembali normal, tetapi
perawatan diri tetap diperlukan supaya cacat tidak berlanjut
5. Menjelaskan cara penyimpanan obat
6. Menjelaskan efek samping obat
7. Berikan motivasi dan semangat untuk bisa menyelesaikan pengobatan
6. Unit Terkait Loket,Poli umum, Apotik
7. Rekaman
Historis Isi Tanggal Mulai
No Yang dirubah
Perubahan Perubahan Diberlakukan
RVS KUSTA
(Rapid Village Survey)
No. Dokumen :
No. Revisi :
SOP
Tanggal Terbit :
Halaman :
UPTD [Link],[Link] Ners,MM
PUSKESMAS NIP : 19660609198903 1 008
CIASEM
1. Pengertian Kegiatan untuk menemukan penderita kusta baru aktif dalam lingkup
yang lebih kecil (desa) melibatkan partisipasi masyarakat.
2. Tujuan Menjadi acuan bagi petugas kusta untuk menjaring kasus baru kusta
disuatu tempat.
3. Kebijakan
4. Referensi Buku pedoman penatalaksanaan kusta tahun 2013
5. Prosedur/ 1. Membuat rencana untuk dilakukan RVS di wilayah Puskesmas
Langkah-
2. Menyiapkan surat tugas
langkah
3. Menyiapkan data siapa yang akan diundang
4. Menentukan narasumber yang akan memberikan materi
5. Menentukan waktu dan tempat
6. Membuat undangan untuk jumlah kader kesehatan
7. Menyiapkan ruangan, alat-alat perlengkapan pertemuan
8. Pembukaan oleh petugas Puskesmas
9. Sambutan dari Kepala Desa/yang mewakili
10. Pengisian oleh narasumber
6. Unit Pengelola P2 Kusta
Terkait
Kader
Perangkat Desa
7. Rekaman
Historis Tanggal Mulai
No Yang dirubah Isi Perubahan
Perubahan Diberlakukan

STANDAR PROSEDUR
OPERASIONAL PENCATATAN
DAN PELAPORAN KUSTA
No. Dokumen :
No. Revisi :
SOP
Tanggal Terbit :
Halaman :
UPTD [Link],[Link] Ners,MM
PUSKESMAS NIP : 19660609198903 1 008
CIASEM
1. Pengertian Pencatatan adalah cara yang dilakukan untuk mencatat data yang
penting mengenai pasien kusta. Pelaporan adalah mekanisme yang
digunakan untuk melaporkan kegiatan yang telah dilakukan kepada
instansi yang lebih tinggi.
2. Tujuan Memastikan petugas melakukan pencatatan dan pelaporan pasien
kusta sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan. Memantau
secara kohort perkembangan pengobatan pasien kusta.
3. Kebijakan SK Kepala Puskesmas No.
4. Referensi -
5. Prosedur/ 1. Petugas paramedis mencatat rekam medis
Langkah-
2. Petugas paramedis mencatat kartu penderita kusta
langkah
3. Petugas paramedis mencatat kartu identitas penderita kusta
4. Petugas paramedis mencatat register kohort penderita kusta
6. Unit Terkait 1. Ruang pemeriksaan umum
2. Ruang laboratorium
3. Ruang sanitasi
4. Ruang obat
7. Rekaman
Historis Tanggal Mulai
No Yang dirubah Isi Perubahan
Perubahan Diberlakukan

PROSEDUR PEMERIKSAAN KONTAK


SERUMAH PASIEN KUSTA
No. Dokumen :
No. Revisi :
SOP
Tanggal Terbit :
Halaman :
UPTD [Link],[Link] Ners ,MM
PUSKESMAS NIP : 19660609198903 1 008
CIASEM
1. Pengertian Pemeriksaan kontak serumah pasien kusta adalah kegiatan menemukan
penderita kusta baru/suspek kusta sedini mungkin di keluarga/tetangga
sekitar rumah penderita kusta.
2. Tujuan Sebagai acuan programer kusta petugas kesehatan dalam melakukan
pemeriksaan kontak serumah penderita kusta.
3. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPTD Puskesmas Ciasem Nomor : tentang
Penetapan Penanggungjawab Program Puskesmas
4. Referensi Kementerian Kesehatan RI, 2012. Pedoman Nasional Program
Pengendalian Penyakit Kusta. Jakarta : Direktorat Jenderal Pengendalian
Penyakit dan Penyehatan Lingkungan.
5. Prosedur/ - Programer Kusta membuat rencana dan jadwal pemeriksaan kontak
Langkah-
serumah.
langkah
- Programer Kusta menginformasikan kepada Kepala Puskesmas
tentang rencana,jadwal,dan mohon persetujuan untuk melakukan
kegiatan pemeriksaan kontak serumah penderita kusta serta membuat
surat tugas.
- Programer kusta melakukan koordinasi dengan lintas program,bidan
desa, dan lintas sektor untuk melakukan kegiatan pemeriksaan kontak
serumah dirumah penderita kusta.
6. Unit Terkait Dokter Puskesmas,Pemegang program Kusta,Promkes,Kader
7. Rekaman
Historis Isi Tanggal Mulai
No Yang dirubah
Perubahan Perubahan Diberlakukan

PENATALAKSANAAN KUSTA
No. Dokumen :
No. Revisi :
SOP
Tanggal Terbit :
Halaman :
UPTD [Link],[Link] Ners,MM
PUSKESMAS NIP : 19660609198903 1 008
CIASEM
1. Pengertian Suatu Pemeriksaan menyeluruh mengenai fungsi syaraf setelah pasien
didiagnosa terkena penyakit Kusta.
2. Tujuan Sebagai acuan dalam penatalaksanaan Kusta dan mencegah terjadinya
kecacatan.
3. Kebijakan
4. Referensi  Buku Pedoman Nasional Pemberantasan Penyakit Kusta,Cetakan
XVIII, Depkes RI. Direktorat jenderal Pengendalian Penyakit Dan
Penyehatan Lingkungan 2006
 Buku Saku Pengendalian Penyakit Kusta, Direktorat P2M & Dirjen
P2 dan PL 2014
5. Prosedur  Semua suspek dan penderita kusta yang datang di unit pelayanan
umum di Puskesmas
 Keterampilan petugas
Dokter umum, Perawat terampil, Dokter SPKK
 Uraian umum
Menyapa penderita dan keluarga/pengantar
 Menjelaskan hal-hal yang akan dilakukan pada penderita
 Menjelaskan macam-macam pemeriksaan yang akan dilakukan
 Menjelaskan tujuan pemeriksaan, diagnosa, pengobatan,
pencegahan kecatatan
 Melaksanakan anamnesa meliputi nama, umur, alamat, tempat
lahir, pekerjaan
 Nama orang tua, anggota keluarga yang serumah, pernah atau
belum pernah minum obat
 Riwayat penyakit
 Keluhan yang dirasakan
 Pernah kontak dengan penderita kusta atau tidak
 Melakukan pemeriksaan fisik untuk mencari cardinal sign
1. Periksa pandang
 Memeriksa penderita ditempat yang aman, untuk menjaga
privasi, ruangan cukup sinar matahari tidak langsung.
 Menyiapkan sarung bagi penderita
 Menyiapkan :
1. Alat tulis
2. Kartu penderita kusta
3. Kartu pencegah kecatatan/PSF
4. Kartu monitoring
5. Buku register kusta
6. Alat bantu penegahan kecacatan
7. Kapas yang diruncingkan
 Petugas mencuci tangan dan memakai handscoon
 Meminta kepada penderita agar melepas pakaian yang
menutupi badannya
 Penderita disuruh berdiri mengahadap pada petugas dengan
sinar matahari tidak langsung mengenai arah depan
penderita
2. Periksa rasa raba/mati rasa
 Penderita disuruh duduk menghadap petugas
 Petugas memegang kapas yang telah diruncingkan
 Memeriksa adanya mati rasa pada semua bercak dengan
cara menyentuh bercak dengan ujung kapas yang runcing
 Sedapat mungkin penderita tidak melihat setiap sentuhan
kapas untuk menghindari tipuan penderita
 Meminta penderita merespon setiap sentuhan terasa atau
tidak
 Membandingkan dengan kulit yang normal
 Menegakkan diagnosa sementara
 Menggambar setiap bercak yang ada secara berurutan dri
atas ke bawah
3. Periksa adanya kerusakan dan penebalan syaraf. Penderita
duduk menghadap petugas
a. N. Optikus penderita diminta untuk memejamkan mata
sekuatnya, petugas melihat dari samping dan mengukur
lebar kelopak mata yang tidak tertutup.
b. N. Auricularis Maknus
 Penderita dianjurkan memandang sendi bahu kiri untuk
melihat adanya penebalan syaraf Auricularis Maknus
pada leher kanan, pandang dan raba adanya penebalan
syaraf akan kelihatan dan teraba.
 Untuk memeriksa nervus Auricularis Maknus kiri
penderita dianjurkan memaricularis Maknus kiri penderita
dianjurkan memandang sendi bahu kanan, petugas
melakukan hal yang sama dengan memeriksa nervus
kanan dan sendi bahu kanan, petugas melakukan hal
yang sama dengan memeriksa nervus kanan

c. N. Ulnaris
1. Tes penebalan syaraf
 Kanan
• Petugas memegang tangan kanan penderita dengan
tangan kanan petugas. Tangan kiri meraba adanya
penebalan syaraf di siku kanan penderita, merasakan
adanya penebalan syaraf dan mencari adanya nyeri
tekan dengan jari telunjuk dan jari tengah petugas.
 Kiri
 Petugas memegang tangan kiri penderita dengan
tangan kiri petugas.
 Tangan kanan petugas mencari adanya penebalan
dan nyeri tekan pada siku kiri dengan jari telunjuk &
jari tengah
 Kelainan dicatat/digambar pada kartu Penderita Kusta
2. Tes sensoris
 Kanan
 Tangan kiri petugas memegang punggung telapak
tangan kanan penderita dan mengajarkan penderita
test sensorisnya,kemudian melakukan test
sensibilitas terhadap titik telapak tangan area jari
kelingking dan jari manis degan menggunakan
bolpoin
 Kiri
 Tangan kanan petuas memegang punggung telapak
tangan kiri penderita dan mengajarkan penderita test
sensoris, kemudian melakukan test sensibilitas
terhadap telapak tangan area jari kelingking dan jari
manis dengan menggunakan bolpoin.
3. Test Motorik
 Kanan
 Tangan kanan petugas memegang semua jari tangan
kiri penderita kecuali kelingking, petugas meminta
merenggangkan jari kelingking,petugas menekan jari
kelingking bagian luar denagn jari telunjuk
petugas,jika hasil test ditemukan kelemahan lakukan
uji perbandingan menjepit kertas dengan jari
kelingking dan jari manis dengan saling tarik antara
petugas dan penderita

d. N. Medianus
1. Sensoris
 Kanan
 Tangan kiri petugas memegang punggung
telapak tangan kanan penderita dan
mengajarkan penderita test sensorisnya,
kemudian melakukan testsensibilitas terhadap
titik telapak tangan area jari tengah,telunjuk
dan ibu jari.
 Kiri
 Tangan kanan petugas memegang punggung
telapak tangan kiri penderita dan mengajarkan
penderita test sensoris, kemudian melakukan
test sensibilitas terhadap titik telapak tangan
area jari tengah,telunjuk, dan ibu jari.
2. Motorik
 Tangan kanan petugas memegang
pergelangan tangan penderita yang sudah
menggenggam kemudian mengangkat
genggamannya ke atas dan menahannya,
dengan tangan kiri petugas menarik
genggaman tangan penderita.
e. N. Peroneus
 Test penebalan syaraf
 Tangan kanan petugas meraba syaraf
peroneus kiri penderita,tangan kiri petugas
meraba syaraf peroneus kanan penderita.
 Petugas mencari adanya penebalan syaraf
dan nyeri tekan kelainan di catat/gambar pada
kartu PFS.
f. N. Tibialis Posterior
 Penebalan syaraf
 Telunjuk tangan kanan meraba dan mencari
adanya nyeri tekan pada belakang matakaki
sebelah dalam kaki kanan penderita.
 Pada saat bersamaan tangan kiri mencari
adanya penebalan dan nyeri tekan padakaki
kiri
 Kelainan di catat/gambar pada kartu penderita
kusta.

 Sensoris
Penderita disuruh duduk gaya bos tangan kiri
petugas menahan punggung kanan kaki
penderita dan jari-jarinya dengan menggunakan
bolpoin melakukan tes sensoris 10 titik.
 Mengisi form POD (Pencegahan kecacatan):
setiap hasil pemeriksaan hasilnya dicatat dalam
form POD/PFS setiap penderita mengambil obat
baik itu MDT maupun obat reaksi Kusta.
 Petugas memeriksa adakah kecacatan dan
seberapa tingkat kecacatan
 Petugas juga menanyakan adakah pada
penderita berapa lama kelainan mulai timbul.
 Petugas melihat adakah lagoftalmus.
 Tangan
- Petugas meraba syaraf ulnaris kanan dan kiri
- Mengetahui adanya mati rasa pada telapak
tangan kanan dan kiri dengan menggunakan
ujung bolpoin.
- Mencari kelainan pada pergelangan tangan
kanan dan kiri.
 Kaki
- Petugas mencari kelainan dengan meraba
syaraf peroneus terletak dielakang lutut
penderita adakah nyeri tekan.
- Memeriksa kelainan syaraf Tibialis posterior
kanan & kiri adakah nyeri tekan
- Memeriksa pergelangan kaki adakah
kelumpuhan.
- Memeriksa adanya rasa rba pada telapak kaki
kanan dan kiri menggunakan ujung bolpoin.
 Menentukan Tingkat Kecacatan
0 = Mata : Tidak ada kelainan pada mata akibat
Kusta
Telapak tangan/kaki: Tidak ada cacat akibat
Kusta
1 = Mata : -
Telapak Tangan/kaki : Anestesi, kelemahan
otot,(tidak ada cacat/ kerusakan yang terlihat
akibat kusta)

2 = Mata : ada lagoftalmus


Telapak tangan/kaki : ada cacat/kerusakan
yang terlihat akibat [Link] : jari
kiting,kaki lunglai, luka
6. Unit Terkait a. Loket
b. UGD
c. BP/Poli rawat Jalan
d. Laboratorium
e. Apotek
7. Rekaman
Historis Tanggal Mulai
No Yang dirubah Isi Perubahan
Perubahan Diberlakukan

Anda mungkin juga menyukai