Struktur dan Fungsi Mononatrium Glutamat
Struktur dan Fungsi Mononatrium Glutamat
p
e
m
i
l Mononatrium glutamat
i
h
a
n Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
o
r
g Belum Diperiksa
a
n Artikel atau bagian dari artikel ini menggunakan gaya bahasa
i naratif yang tidak sesuai dengan Wikipedia sehingga
s
m menurunkan kualitas artikel ini.
e
Bantulah Wikipedia memperbaikinya. Setelah dirapikan,
h tolong hapus pesan ini.
a
r Mononatrium glutamat
u
s
s
Nama IUPAC[sembunyikan]
e
l Sodium 2-
e
k Aminopentanedioate
t Identifikasi
i
f Nomor CAS [142-47-2]
,
PubChem 85314
u
Nomor EC 205-538-1
n
t C(CC(=O)O)C(C(
u SMILES
k =O)[O-])N.[Na+]
m
Sifat
e
n
Rumus molekul C5H8NNaO4
c
a
Massa molar 169.111 g/mol
p sebuk kristal
a Penampilan
i putih
k
u
a
l
Titik leleh
Kelarutan dala
74g/100mL
m air
Bahaya
16600 mg/kg
LD50
(oral, rat)
Kecuali dinyatakan
sebaliknya, data di atas
berlaku
pada temperatur dan tekanan
standar (25 °C, 100 kPa)
Sangkalan dan referensi
[sunting]Sejarah MSG
Manfaat asam amino glutamat sebagai penyedap rasa baru
diketahui pada tahun 1908 oleh seorang ilmuwan Jepang
bernama Dr. Kikunae Ikeda.
Penemuan MSG oleh Dr. Ikeda diawali oleh keprihatinannya
terhadap kondisi fisik rakyat Jepang di kala itu. Sewaktu
belajar ilmu Kimia modern di Jerman, dia membandingkan
tubuh orang Jerman yang lebih tinggi dari pada orang Jepang.
Dia juga mengamati makanan Jerman dan merasakan
kesamaan cita rasa unik pada makanan Jerman yang juga
ada pada makanan Jepang.
Setelah kembali ke Jepang, Dr. Ikeda memusatkan
penelitiannya pada bumbu tradisionil Jepang, yaitu kaldu yang
terbuat dari rumput laut (Kombu). Dia berhasil mengisolasi
sumber rasa unik tersebut, yaitu asam Glutamat. Rasa ini
kemudian diperkenalkannya dalam bahasa Jepang sebagai
rasa “Umami”.
Penemuan Glutamat sebagai sumber rasa “Umami”
mengukuhkan ambisi Ikeda untuk memperbaiki kondisi fisik
bangsanya, yaitu melalui bumbu masak yang menambah
citarasa dan kelezatan makanan Jepang. Dr. Ikeda
mendapatkan paten atas metode produksi MSG. Namun,
asam Glutamat murni yang dihasilkannya tidak menarik
secara komersial karena sifat fisik dan kimianya. Hingga
akhirnya Dr. Ikeda berhasil mensenyawakan glutamate
dengan sodium menjadi Monosodium Glutamat (MSG).
Dengan membagi hak patennya dengan seorang pemilik
pabrik Iodine, Saburousuke Suzuki, Dr Ikeda kemudian
berhasil mewujudkan hasratnya memproduksi dan
memasarkan MSG secara massal.
Demikianlah, AJI-NO-MOTO (MSG) mulai dipasarkan di
Jepang pada tahun 1909. Pada waktu itu MSG diproduksi
melalui proses ekstraksigluten hingga tahun 1960-an. Proses
produksi ini tidak dapat memenuhi permintaan yang
meningkat dengan cepat dari pasar Jepang dan dunia. Inovasi
teknologi fermentasi pada tahun 1956 kemudian membantu usaha
meningkatkan produksi MSG yang terus diterapkan hingga
sekarang. MSG sekarang umumnya diproduksi dengan
menggunakan bahan baku yang kaya glukosa seperti tetes
tebu, singkong, jagung, gandum, sagu dan beras.
Proses fermentasi merupakan proses pengolahan makanan
traditional yang juga digunakan untuk membuat tape, tempe,
kecap dan lain lain.
Meskipun MSG baru ditemukan oleh Dr Ikeda 100 tahun yang
lalu, namun bumbu masak yang kaya glutamat ternyata sudah
digunakan di zaman kuno dulu. Kecap ikan yang menjadi
bumbu wajib di Asia tenggara ternyata sudah dipakai untuk
melezatkan makanan oleh orang-orang Yunani dan Romawi
2500 tahun yang lalu. Kecap ikan sangat kaya kandungan
glutamat bebasnya, yaitu 1370mg/100g. Di sepanjang Teluk
Mediterania dan Laut Hitam ditemukan gerabah-gerabah kuno
yang dipakai untuk membuat dan menyimpan kecap ikan oleh
penduduk Yunani dan Romawi kuno. Pada masa Yunani kuno
kecap ikan dinamakan Garon, sementara pada masa Romawi
kuno dinamakan Garum atau Liquamen.
[sunting]Glutamat dalam makanan dan tubuh
Glutamat adalah salah satu dari 20 asam amino penyusun
protein. Sebagai asam amino, glutamat termasuk dalam
kelompok non esensial, yang artinya tubuh mampu
memproduksi sendiri. Glutamat ada di setiap mahluk hidup
baik dalam bentuk terikat maupun bebas.
Glutamat sebagai asam amino no-essensial ditemukan pada
tahun 1866 oleh seorang ilmuwan Jerman bernama Prof
Ritthausen yang berhasil mengisolasinya dari gluten (protein
gandum).
Glutamat yang masih terikat dengan asam amino lain sebagai
protein tidak memiliki rasa. Hanya jika glutamat yang dalam
bentuk bebas memiliki rasa Umami (gurih). Dengan demikian,
semakin tinggi kandungan glutamate bebas dalam suatu
makanan, semakin kuat rasa Umaminya.
Kadar glutamat dalam makanan bervariasi tergantung dari
macam makanan, kondisi makanan (mentah atau matang)
dan proses pengolahannya.
Glutamat bebas dalam makanan sehari-hari umumnya
rendah, sehingga ketika memasak kita perlu menambahkan
bumbu-bumbu yang kaya kandungan glutamat bebas agar cita
rasa masakan menjadi lebih enak.
Makanan Glutamat bebas,
sehari-hari mg/100g
Daging Sapi 10
Daging Ayam 22
Scallop 140
Kepiting Salju 19
Kepiting Biru 43
Udang Putih 20
Kol 50
Bayam 48
Tomat 246
Asparagus
49
hijau
Jagung 106
Green Peas 106
Bawang
51
Bombay
Kentang 10
Jamur 42
Tomat mentah yang berwarna hijau hanya mengandung 20mg/100g glutamat
bebas dan setelah matang meningkat drastis menjadi 246mg/100g. Sementara air
susu sapi yang hanya mengandung 1mg/100g glutamat bebas, setelah melalui
proses enzimatik, fermentasi dan disimpan selama dua tahun meningkat
kandungan glutamat bebasnya menjadi 1680mg/100 sebagai Keju Parmegiana
Regiano.
1. MSG dibuat melalui proses fermentasi dari tetes-gula (molases) oleh bakteri
(Brevibacterium lactofermentum). Dalam peroses fermentasi ini, pertama-tama
akan dihasilkan Asam Glutamat. Asam Glutamat yang terjadi dari proses
fermentasi ini, kemudian ditambah soda (Sodium Carbonate), sehingga akan
terbentuk Monosodium Glutamat (MSG). MSG yang terjadi ini, kemudian
dimurnikan dan dikristalisasi, sehingga merupakan serbuk kristal-murni, yang
siap di jual di pasar.
2. SEBELUM bakteri (pada Butir 1) tersebut digunakan untuk proses fermentasi
pembuatan MSG, maka terlebih dahulu bakteri tersebut harus diperbanyak
(dalam istilah mikrobiologi: dibiakkan atau dikultur) dalam suatu media yang
disebut Bactosoytone. Proses pada Butir 2 ini dikenal sebagai proses
pembiakan bakteri, dan terpisah sama-sekali (baik ruang maupun waktu)
dengan proses pada Butir 1. Setelah bakteri itu tumbuh dan berbiak, maka
kemudian bakteri tersebut diambil untuk digunakan sebagai agen-biologik pada
proses fermentasi membuat MSG (Proses pada Butir 1).
3. Bactosoytone sebagai media pertumbuhan bakteri, dibuat tersendiri (oleh Difco
Company di AS), dengan cara hidrolisis-enzimatik dari protein kedelai
(Soyprotein). Dalam bahasa yang sederhana, protein-kedelai dipecah dengan
bantuan enzim sehingga menghasilkan peptida rantai pendek (pepton) yang
dinamakan Bactosoytone itu. Enzim yang dipakai pada proses hidrolisis inilah
yang disebut Porcine, dan enzim inilah yang diisolasi dari pankreas-babi.
4. Perlu dijelaskan disini bahwa, enzim Porcine yang digunakan dalam proses
pembuatan mediaBactosoytone, hanya berfungsi sebagai katalis, artinya enzim
tersebut hanya mempengaruhi kecepatan reaksi hidrolisis dari protein kedelai
menjadi Bactosoytone, TANPA ikut masuk ke dalam struktur
molekul Bactosoytone itu. Jadi Bactosoytone yang diproduksi dari proses
hidrolisis-enzimatik itu, JELAS BEBAS dari unsur-unsur babi!!!, selain karena
produk Bactosoytone yang terjadi itu mengalami proses “clarification” sebelum
dipakai sebagai media pertumbuhan, juga karena memang unsur
enzim Porcine ini tidak masuk dalam struktur molekul Bactosoytone,
karenaPorcine hanya sebagai katalis saja .
5. Proses clarification yang dimaksud adalah pemisahan
enzim Porcine dari Bactosoytone yang terjadi. Proses ini dilakukan dengan
cara pemanasan 160oF selama sekurang-kurangnya 5 jam, kemudian
dilakukan filtrasi, untuk memisahkan enzim Porcine dari produk Bactosoytone-
nya. Filtrat yang sudah bersih ini kemudian diuapkan, dan Bactosoytone yang
terjadi diambil.
6. Perlu dijelaskan disini, bahwa proses pembuatan Media Bactosoytone ini
merupakan proses yang terpisah sama sekali dengan proses pembuatan
MSG. Media Bactosoytone merupakan suatu media pertumbuhan bakteri, dan
dijual di pasar, tidak saja untuk bakteri pembuat MSG, tetapi juga untuk bakteri-
bakteri lainnya yang digunakan untuk keperluan pembuatan produk biotek-
industri lainnya.
7. Catatan: nama Bactosoytone merupakan nama dagang, yang dapat diurai
sebagai berikut: Bacto adalah nama dagang dari Pabrik pembuatnya (Difco
Co); Soy dari asal kata soybean:kedelai, tone, singkatan dari peptone; jadi
Bactosoyton artinya pepton kedelai yang dibuat oleh pabrik Difco.
8. Setelah bakteri tersebut ditumbuhkan pada Media bactosoytone, kemudian
dipindahkan ke Media Cair Starter. Media ini sama sekali tidak
mengandung bactosoytone. Pada Media Cair Starter ini bakteri berbiak dan
tumbuh secara cepat.
9. Kemudian, bakteri yang telah berbiak ini dimasukkan ke Media Cair Produksi,
dimana bakteri ini mulai memproduksi asam glutamat; yang kemudian diubah
menjadi MSG. Media Cair Produksi ini juga tidak mengandung bactosoytone.
10. Perlu dijelaskan disini bahwa bakteri penghasil MSG
adalah Brevibacterium lactofermentum atauCorynebacterium glutamicum,
adalah bakteri yang hidup dan berkembang pada media air. Jadi bakteri itu
termasuk aqueous microorganisms.
11. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal POM di Jakarta
menunjukkan bahwa:
Bactosoytone tidak terkontaminasi (tidak tercampur) dengan Lemak babi (data
Analisis Gas Chromatography); Protein babi (data Analisis HPLC), maupun
DNA-babi (data Analisis PCR).
MSG tidak terkontaminasi (tidak tercampur) dengan: Lemak babi (data Analisis
Gas Chromatography); Protein babi (data Analisis HPLC), maupun DNA babi
(data Analisis PCR).
12. Hasil Analisis yang dilakukan di Jepang (Kyoto University) juga
menunjukkan bahwa baik MSG maupun Bactosoytone tidak terkontaminasi
oleh enzim babi.
Read more:Monosodium Glutamat (MSG) - Karakteristik MSG - Acid, Flavor, glutamat, Kimia,
Isomer, dan Makanan[Link]
%7Cid&u=[Link]
[Link]&rurl=[Link]&usg=ALkJrhgdVfg4MT8o2hFKuM9_mIRI-
5UCFA#ixzz14rmK7Lzz
8
penyaringan dipekatkan dalam evaporator triple effect forward feed yang
dilengkapi dengan barometric condensor.
Kemudian produk yang telah dipekatkan, diumpankan menuju
Kristalizer untuk mengkristalkan asam glutamat, leusin dan tyrosin. Setelah
asam glutamat, leusin dan tyrosin dikristalkan ditambahkan HCl sebanyak
30% berat untuk menetralkan larutan yang mengandung sodium hidroksida.
Reaksi :
OHNaClHClNaOH 2+→+
Produk akan dipisahkan dengan centrifuge, sehingga padatan asam glutamat
dengan liquor yang berupa air dan NaCl akan terpisah. Padatan asam
glutamat yang masih mengandung sedikit air dikeringkan dengan
menggunakan rotary dryer untuk mendapatkan produk asam glutamat
kering (Faith Keyes, 1961).
2. Proses sintesis
Proses sintesis yang mengubah acrylonitrile menjadi
cyanopropianaldehide yang terdiri dari hidroformitasi olefin dengan
hidrogen dan karbon monoksida pada temperatur sedang dan tekanan tinggi.
CHOCHNCCHHCONCCHCH 2222 →+
Setelah itu dengan menggunakan reaksi steeker, cyanopropianaldehide
direaksika dengan amina sianida yang diperoleh dari pembakaran partial
methane dan ammonia sehingga dihasilkan amino glutarrodinitrite.
Reaksi :
OHCN)CH(NHCHNCCHCNNHCHNCCH 2222422 +→+
Hidrolisis amino glutaronitrite dengan menambah NaOH sehingga
dihasilkan asam glutamat, yang selanjutnya dikristalkan dengan cara
9
menetralkan larutan alkali dan merecyecle larutan asam glutamat yang
mengandung asam sulfat pada titik isolektrik dengan pH 3,2 dari asam
amino tersebut. Selanjutnya dilakukan optical resolution, yaitu proses
pemutaran campuran nomer-nomer optical dari asam glutamat yang
menggandung leburan recemic dari asam glutamat pada konsentrasi tertentu,
sehingga kristal L dan D akan keluar secara bergantian dengan masingmasing isomer
aktifnya. Selanjutnya di centrifuge dan dikeringkan sehingga
diperoleh asam glutamat (McKetta, 1983).
3. Proses fermentasi
Secara umum tahapan pembuatan MSG dengan menggunakan
proses fermentasi dalah sebagai berikut:
- Seeding
Tangki seeding ini mirip tangki fermentor tapi lebih kecil volumenya.
Di tangki ini bakteri tersebut dibiarkan berkembangbiak dengan baik,
dilengkapi dengan penganduk, alat pendingin, pemasukan udara dan
lain-lain.
- Fermentasi
Setelah dari tangki seeding, bakteri tersebut dipindahkan ke tangki
fermentor. Di tangki ini mulailah proses fermentasi yang sebenarnya
berjalan. Pengawasan proses merupakan pekerjaan yang sangat
penting. Pengaturan pH dengan pemberian NH3, pemberian udara,
jumlah gula, jumlah bakteri harus selalu diamati.
- Pengambilan asam glutamat
Setelah fermentasi selesai ± 30-40 jam cairan hasil fermentasi yaitu
TB (Thin Broth) dipekatkan untuk mengurangi kadar airnya kemudian
ditambahkan HCl untuk mencapai titik isoelektrik pada pH ± 3,2.
10
- Netralisasi atau refining, pada tahapan ini dilakukan pencampuran
NaOH.
- Kristalisasi asam glutamat.
- Tahap lanjutan pereaksian asam glutamat dengan NaOH sehingga
terbentuk monosodium glutamat liquor.
- Decolorisasi atau penjernihan warna menggunakan karbon aktif.
- Kristalisasi monosodium glutamat, menghasilkan kristal monosodium
glutamat yang masih mengandung liquor.
- Pengeringan kristal monosodium glutamat dengan menggunakan
Rotary dryer sehingga didapatkan kristal Monosodium glutamat yang
mempunyai kemurnian tinggi ± 99,7 %. 4 Tinjauan proses secara umum
Proses pembuatan monosodium glutamat dari molasses dengan
menggunkan metode fermantasi menggunakan fermentor batch pada suhu
35 °C dan tekanan atmosferis. Kandungan sukrosa dalam molasses
dikonversi terlebih dahulu hingga terbentuk glukosa. Selanjutnya dilakukan
proses fermentasi dengan menggunakan bakteri Micrococcus glutamicus
Reaksi .
OH3CONOHCO2/3NHOHC 22495
glutamicu sMicrococcu
236126 ++++ →
s
Kemurnia
Lebih dari 90%
n
Kadar Air Tidak lebih dari 0,5%
NaC Tidak lebih dari 0,5%
Harus tidak ada senyawa arsen, besi, dan
Pengotor
kalsium
4
2.2.1. Molase
Sifat-sifat fisika dan kimia :
Wujud
: Cairan coklat
Warna
: Coklat kehitam-hitaman
Densitas
: 1.47 gr/mL
Viscositas
: 4.323
Cp Panas Spesifik
: 0.5 Kkal/Kg ° C
Komponen dalam molase :
Gula: 62 %
Air: 20 %
Non Gula
: 18 %
2.2.2. Bahan pendukung
Bahan pendukung digunakan pula sebagai bahan pembantu dalam proses
produksi. Bahan pendukung yang digunakan adalah :
a.H2SO4
b.NH3
[Link]
[Link]
[Link] (CC 222)
f.H3PO4,Urea, dan MgSO4
[Link]
[Link]
[Link]
[Link] Aktif
[Link]
Pembuatan MSG
Pengambilan glutamat; Setelah fermentasi selesai ± 30-40 jam cairan hasil
fermentasi yaitu Original Broth Glutamic Acid (OBGA) dipekatkan untuk
mengurangi kadar airnya kemudian ditambahkan HCl untuk mencapai titik
isoelektrik pada pH ± 3,2.
Netralisasi ataurefining, pada tahapan ini dilakukan pencampuran NaOH.
Kristalisasi asam glutamat.
Tahap lanjutan pereaksian asam glutamat dengan NaOH sehingga
terbentuk
monosodium glutamatl i quor.
Decolorisasi atau penjernihan warna menggunakan karbon aktif.
Kristalisasi monosodium glutamat, menghasilkan kristal monosodium
glutamat yang masih mengandungliquor.
Pengeringan kristal monosodium glutamat dengan menggunakan Rotary
dryer
sehingga didapatkan serbuk kristal Monosodium glutamat yang mempunyai
kemurnian tinggi ± 99,7
Ve Wong Budi Indonesia, PT [Lampung Branch]
Jl. Ikan Kakap No. 9-12, Teluk Betung, Teluk Betung, Lampung 35223
Business Line: Monosodium glutamate
Phone: (0721) 486122 Fax: (0721) 486754
Ve Wong Budi Indonesia, PT
Wisma Budi, 8th Floor, Jl. HR. Rasuna Said Kav. C-6, Kuningan, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12940
Business Line: Monosodium glutamate
Phone: (021) 5213383 Fax: (021) 5213392
Sasa Inti, PT
Jl. Letjen. S. Parman Kav. 32-34, Jakarta Barat, DKI Jakarta 11480
Business Line: Monosodium glutamate; Chili sauce
Phone: (021) 5482308, (021) 5601560 Fax: (021) 5482520, (021) 5493011
Sasa Inti, PT [Surabaya Branch]
Jl. Raya Rungkut No. 19-21, Surabaya, Jawa Timur 60293
Business Line: Monosodium glutamate
Phone: (031) 8700077 Fax: (031) 8700073
Sasa Inti, PT [Factory]
Jl. Raya Gending, Gending, Probolinggo, Jawa Timur 67272
Business Line: Monosodium glutamate
Phone: (0335) 611652
Miwon Indonesia, PT [Factory]
Jl. Driyorejo Km. 24, Driyorejo, Gresik, Jawa Timur 61177
Business Line: Monosodium glutamate
Phone: (031) 7590040 Fax: (031) 7507595
Kirin Miwon Foods, PT
Menara Global, 21st Floor, Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 27, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12950
Business Line: Monosodium glutamate
Phone: (021) 5270107 Fax: (021) 5270117
Ajinex International, PT
Graha Rekso Building, 5th Floor, Jl. Boulevard Artha Gading Kav. 1-A, Kelapa Gading, Jakarta Utara, DKI Jakarta 14240
Business Line: Monosodium glutamate
Phone: (021) 45856855 Fax: (021) 45856850
Ajinex International, PT [Factory]
Jl. Raya Mlirip, Jetis, Mojokerto, Jawa Timur 61352
Business Line: Monosodium glutamate
Phone: (0321) 361710 Fax: (0321) 321708
Miwon Indonesia, PT
Jl. Perintis Kemerdekaan No. 1-3, Jakarta Timur, DKI Jakarta 13260
Business Line: Monosodium glutamate
Phone: (021) 47863124 Fax: (021) 47863146
Persatuan Pabrik Monosodium Glutamate dan Glutamic Acid Indonesia (PPMI)
Kedoya Elok Plaza Office Centre Block DC No. 52, Jl. Panjang No. 7, Kedoya – Kebon Jeruk, Jakarta Barat, DKI Jakarta 11520
Business Line: Monosodium glutamate and glutamic acid
Phone: (021) 5806109, (021) 5806110 Fax: (021) 5806110
Palur Raya, PT
Jl. Imam Bonjol No. 17, Semarang, Jawa Tengah 50173
Business Line: Monosodium glutamate; Glutamic acid
Phone: (024) 3551574, (024) 3546178, (024) 3511449 Fax: (024) 3516754, (024) 3511234