0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
17 tayangan7 halaman

Analisa Keausan Pipa Tailing HDPE 44 Inch

1. Analisis keausan dan perkiraan sisa umur pipa tailing bawah laut jenis HDPE milik PT Amman Mineral Nusa Tenggara. 2. Pipa tailing rentan rusak karena gesekan partikel slurry, menyebabkan penipisan dinding pipa. 3. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui laju keausan pipa, memperkirakan sisa umur pipa, dan mengetahui pengaruh elevasi terhadap keausan dan kecepatan aliran slurry
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
17 tayangan7 halaman

Analisa Keausan Pipa Tailing HDPE 44 Inch

1. Analisis keausan dan perkiraan sisa umur pipa tailing bawah laut jenis HDPE milik PT Amman Mineral Nusa Tenggara. 2. Pipa tailing rentan rusak karena gesekan partikel slurry, menyebabkan penipisan dinding pipa. 3. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui laju keausan pipa, memperkirakan sisa umur pipa, dan mengetahui pengaruh elevasi terhadap keausan dan kecepatan aliran slurry
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pipa merupakan sarana transportasi fluida yang efektif dan efisien. Pipa

memiliki berbagai ukuran dan bentuk penampang. Aliran fluida didalam pipa pada

kenyataannya mengalami penurunan tekanan seiring dengan panjang pipa yang

dilalui fluida tersebut. Viskositas fluida menyebabkan timbulnya gaya geser yang

sifatnya menghambat. Fluida yg mengalir dalam pipa akan mengalami hambatan

berupa gesekan dengan dinding pipa hal ini mengakibatkan berkurangnya laju

aliran dan penurunan tekanan. Walaupun dapat terjadi berbagai jenis kehilangan

energi gerak, umumnya hambatan yang paling utama adalah akibat gesekan yang

sangat tergantung dari kekasaran dinding pipa. Semakin kasar dinding pipa makin

besar terjadinya penurunan atau kehilangan tekanan aliran (Sihite, 2013).

Jaringan pipa adalah bagian dari proses flow diagram suatu industri. Pipa

rentan memiliki resiko kegagalan atau kerusakan yang perlu diperhitungkan

sehingga perlu lakukannya pemeriksaan. Pada industri pertambangan, bagian yang

rentan terjadi kerusakan dan sangat perlu diantisipasi sebelum terjadi kerusakan

adalah pada pipa penyalur, hal ini dikarenakan pipa merupakan bagian terbesar dari

unit produksi pertambangan, sehingga peluang kerusakan juga besar dibandingkan

dengan equipment yang lainnya (Meryanalinda, 2014).

Kerusakan pada permukaan pipa akan menimbulkan penipisan pada dinding

material sehingga dapat mengganggu kondisi proses maupun faktor keselamatan.

1
2

Pada umumnya cacat kerusakan permukaan dinding pipa jenis HDPE (High Density

Polyethylene) disebabkan oleh laju aliran pada pipa tailing di industri petambangan.

Aliran limbah didalam pipa yang mengalir secara terus menerus akan menyebabkan

terjadinya keausan pada pipa. Keausan terjadi karena gesekan antara par tikel

lumpur yang mengalir dengan dinding pipa (Hariyotejo, 2013).

Tambang terbuka Batu Hijau Project milik PT. Amman Mineral Nusa

Tenggara merupakan perusahaan tambang emas terbesar di Indonesia yang

dioperasikan dengan metode penambangan terbuka (open pit). Dalam proses

pengolahan mineral, tentunya banyak sekali instalasi dan jaringan pipan yang

digunakan untuk berbagai aktivitas produksi tambang, salah satunya adalah saluran

pipa untuk penempatan limbah. Pemeriksaan untuk pipa tailing rutin dilakukan

untuk mengidentifikasi dan mendokumentasikan kerusakan tambahan atau

penurunan kualitas yang terjadi pada lapisan karet pelindung. Sejak 16 oktober

2000 hingga saat ini, telah dilakukan penggantian dan pemasangan baru sejumlah

473 spool pipa tailing darat, 444 spool pipa tailing laut diganti karena alasan telah

terjadi keausan, penurunan kualitas karet pelapis, dan program penggantian

menyeluruh spool pipa original. Delapan belas spool pipa dipasang pada 9 juli 2002

untuk menghubungkan pipa tailing darat ke pipa HDPE lepas pantai jalur timur,

serta sebelas spool pipa dipasang pada 8 mei 2008 untuk menghubungkan pipa

tailing darat ke pipa HDPE lepas pantai jalur barat. Secara berkala perusahaan akan

melakukan Shut Down untuk Maintenance seluruh peralatan tambang.

Maintenance adalah salah satu kegiatan utama industri yang bertujuan untuk

inspeksi kontrol kualitas (Modul Training PT NNT. 1997).


3

Dalam proses Maintenance, banyak sekali jenis yang diterapkan pada

industri tambang mineral emas dan tembaga, khususnya di PT Amman Mineral

Nusa Tenggara Batu Hijau Project Sumbawa. Pada pipa Tailing HDPE (Offshore),

jenis maintenance yang dilakukan adalah Predictive Maintenance. Dalam metode

ini umur penggunaan antar maintenance diprediksi berdasarkan inspeksi atau

diagnosa, untuk memaksimalkan penggunaan komponen pada batas umur

penggunaannya. Metode predictive maintenance adalah mengelola nilai

kecenderungan, dengan mengukur dan menganalisa data tentang kerusakan dan

membentuk sistem monitoring untuk mengamati kondisi secara real-time. Teknik

Predictive Maintenance yang gunakan adalah Ultrasonic Monitoring. Teknik ini

memiliki prinsip kerja yang sama dengan vibration analysis. Keduanya mematau

gelombang suara yang dipancarkan oleh masing-masing alat instrumen yang

digunakan. Idealnya teknik ini digunakan untuk mendeteksi kebocoran katup,

ketebalan pipa dan sebagainya. Alat yang digunakan untuk inspeksi ketebalan

dinding pipa adalah PIG (Pipe Intelligen Gauge) atau PIGGING (Moubray, 1997).

Proses pengolahan slurry tailing dari sisa pengolahan konsentrat tembaga

dan emas PT. Amman Mineral Nusa Tenggara menggunakan proses Deep Sea

Tailing Placement. Proses ini dipilih PT. Amman Mineral Nusa Tenggara dan

Pemerintah Republik Indonesia dalam proses Analisa Dampak Lingkungan yang

telah dilakukan sebelum kegiatan eksploitasi berlangsung di tambang Batu Hijau.

Slurry tailing ditempatkan di laut dengan kedalaman yang berada dibawah zona

yang produktif dan meminimalisir dampak kepada lingkungan. Langkah ini di

ambil perusahan karenakan apabila penempatan slurry tailing dilakukan di daratan

akan mempengaruhi hutan produktif dan tanah pertanian (Environment PT. NNT).
4

Berdasarkan latar belakang diatas, bagian yang rentan terjadi kerusakan dan

sangat perlu diantisipasi sebelum terjadi kerusakan adalah pada pipa penyalur. Pipa

rentan memiliki resiko kegagalan atau kerusakan yang perlu diperhitungkan

sehingga perlu lakukannya inspeksi. Dari modul Training and Development PT

Amman Mineral Nusa Tenggara, diketahui bahwa laju aliran Tailing yang

dikeluarkan adalah 14.500 meter kubik per jam (12.241 ton per jam), dengan

komposisi Slurry Tailing 30 persen dan air 70 persen. Oleh sebab itu, sangat perlu

dilakukan inspeksi dan analisa guna mengontrol kualitas dan memperkirakan sisa

umur operasional berdasarkan laju keausan yang terjadi pada pipa Tailing. Hal yang

tidak kalah penting juga adalah guna untuk mengantisipasi dampak penempatan

limbah terhadap lingkungan sekitar daerah tambang. Mengingat pentingnya hal itu,

maka penulis mengangkat topik tugas akhir dengan judul “ Analisa Keausan dan

Sisa Umur Pipa Tailing Bawah Laut Jenis HDPE 44 Inch H10 Eastern PT.

Amman Mineral Nusa Tenggara”

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut dapat dirumuskan permasalahannya

sebagai berikut :

1. Bagaimana mengetahui laju keausan pipa tailing laut.

2. Bagaimana memperkiakan sisa umur operasional pipa tailing.

3. Apakah pengaruh elevasi terhadap keausan pipa.

4. Apakah pengaruh elevasi terhadap kecepatan aliran tailing.


5

1.3 Tujuan Penulisan

Tujuan dari penelitian ini adalah

1. Mengetahui laju keausan yang terjadi pada dinding dalam pipa

berdasarkan data yang di dapat dari perusahaan

2. Memperkirakan sisa umur pemakaian pipa berdasarkan laju keausan

yang terjadi.

3. Mengetahui pengaruh elevasi pipa terhadap keausan.

4. Mengetahui pengaruh elevasi pipa terhadap kecepatan aliran slurry

tailing.

1.4 Manfaat Penulisan

Mengingat aktivitas produksi konsentrat terus dilakukan, seiring

berjalannya waktu semua mesin-mesin dan peralatan pabrik lainnya, sisa

umur operasionalnya akan berkurang baik di sebabkan oleh korosi maupun

keausan. Khususnya pada pipa penyalur limbah, laju aliran total limbah

yang keluar dari tanki deaerasi menuju dasar laut adalah sebesar 12.241 ton

perjam (14.500 meter kubik per jam) dengan komposisi 30 persen Slurry

dan 70 persen air. Laju aliran ini akan menyebabkan terjadinya keausan

akibat gesekan partikel Slurry yang mengalir dengan dinding pipa.

Sehingga dengan analisis perhitungan ini diharapkan dapat

mengetahui laju keausan yang terjadi pada pipa dan dapat memperkirakan

sisa umur operasional pipa sehingga dapat memberikan laporan atau

rekomendasi waktu pergantian pipa selanjutnya kepada perusahaan. Selain

bermanfaat untuk perusahaan, penulisan ini juga bemanfaat untuk


6

mahasiswa sendiri, yakni dapat meningkatkan dan menambah wawasan

mahasiswa di bidang perpipaan industri serta dapat memberikan pandangan

mengenai dunia kerja yang dapat dijadikan sebagai tolak ukur kemampuan

mahasiswa untuk mempersiapkan diri menghadapi persaingan dalam dunia

kerja. Demikian pula untuk perguruan tinggi, dapat dijadikan bahan evaluasi

dalam meningkatkan kualitas mahasiswa dimasa mendatang dan dapat

terjalin hubungan baik antara instansi akademik (Universitas

Muhammadiyah Malang) dengan perusahaan yang bersangkutan (PT.

Amman Mineral Nusa Tenggara).

1.5 Batasan Masalah

Ruang lingkup dan batasan pada penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Jaringan pipa yang dibahas adalah pipa offshore H10 Eastern sepanjang

3,4 km milik PT. Amman Mineral Nusa Tenggara.

2. Jenis pipa off-shore yang digunakan adalah pipa High Density

Polyethylene (HDPE) dan mengabaikan densitas pipa HDPE

3. Penelitian ini tidak membahas secara detail tentang aliran fluida.

4. Asumsi bahwa aliran didalam pipa adalah aliran lurus tanpa elbow dan

jenis fluida yang digunakan adalah air serta data kecepatan aliran fliuda

yang digunakan adalah data kecepatan aliran pada titik tengah pipa.

5. Asumsi pada perhitungan laju keausan, bahwa bentuk keausan yang

terjadi pada pipa berbentuk lingkaran dengan sudut 360 derajat.

6. Penelitian ini hanya menghitung angka Reynold untuk mengetahui jenis

aliran pada pipa.


7

7. Penelitian ini hanya menghitung kehilangan energi (Head Loss) akibat

faktor gesekan dengan menggunakan persamaan Darcy-Weisbach.

Anda mungkin juga menyukai