MICROTHEACHING
“Keterampilan Memberikan Penguatan”
Oleh:
Nadya Leticia Laning
1501050045
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISKA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NUSA CENDANA
KUPANG
2018
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas terselesainya
makalah yangberisitentang materi mengenai“Keterampilan Memberikan
Penguatan”denganbaik.
Makalah ini disajikan secara sistematis dan
denganpemikiran-pemikiran yang relevan, sehingga mempermudah
pembaca untuk memahaminya. Dalam makalah ini diharapkan dapat
menambah wawasan pembaca mengenai materi yang disajikan.
Akhir kata makalah ini, masih jauh dari sempurna. Oleh
karena itu, saran dan kritik yang membangun kami harapkan untuk
kesempurnaan makalah ini dan menjadi perbaikan untuk
penyusunan makalah-makalah selanjutnya.
Kupang, Maret 2018
Penyusun
2
Daftar Isi
Halaman Judul
Kata Pengantar................................................................................ ii
Daftar Isi........................................................................................... iii
Bab Pengantar.................................................................................. 1
Bab Capaian Pembelajaran............................................................ 2
Bab Uraian Materi........................................................................... 3
Pengertian Penguatan................................................................... 4
Komponen-komponen yang terdapat dalam pemberian
Penguatan..................................................................................... 5
Prinsip Penggunaan Penguatan.................................................... 10
Cara Penggunaan Pemberian Penguatan Dalam
Pembelajaran................................................................................ 16
Kelebihan dalam pemberian penguatan dalam pembelajaran...... 17
Kelemahan dalam pemberian penguatan dalam pembelajaran.... 18
Bab Rangkuman.............................................................................. 18
Bab Latihan...................................................................................... 20
Daftar Pustaka................................................................................. 21
3
Bab Pengantar
Guru merupakan sosok yang digugu dan ditiru. Program kelas tidak
akan berarti bilamana tidak diwujudkan menjadi kegiatan. Untuk itu peranan
guru sangat menentukan karena kedudukannya sebagai pemimpin pendidikan
di antara siswa di dalam suatu kelas .
Semua usaha yang dilakukan guru di dalam pembelajaran mengacu
pada bagaimana memfasilitasi siswa mencapai kompetensi yang sudah
ditetapkan. Pencapaian kompetensi tidak mungkin terjadi tanpa melibatkan
secara langsung di dalam pembelajaran. Oleh sebab itu guru mestinya
merencsiswaan pembelajaran yang mendorong siswa untuk berpartisipasi
secara aktif di dalam proses pembelajaran.
Partisipasi siswa di dalam pembelajaran sebaiknya diberikan
tanggapan balik oleh guru sehingga siswa termotivasi untuk mengulangi
aktivitas tersebut dengan kualitas yang lebih baik. Tanggapan yang diberikan
guru sesaat setelah siswa berpartisipasi disebut penguatan atau reinforcement.
Reinforcement berbeda dengan reward. Reward merupakan hadiah
keberhasilan siswa yang mencapai hasil memuaskan dalam kegiatan
pembelajaran. Berbagai bentuk penguatan dapat dikombinasikan oleh guru,
sehingga tidak terkesan mengada-ada, tidak alami atau tidak spontan.
Keterampilan dasar memberikan penguatan perlu dimiliki oleh
seorang guru, karena terkadang guru suka bersikap dingin terhadap respon
yang diberikan siswa ketika di kelas. Sepertinya pemikiran tersebut tidak
dihargai. Tentu hal ini dapat mengakibatkan melemahnya motivasi dalam
belajar. Tanpa motivasi, mungkin tidak akan tercipta pembelajaran yang
kondusif.
Dengan demikian, seorang guru harus mampu untuk menjaga motivasi
belajar siswanya agar dapat mencapai suatu hasil yang optimal ketika
melakukan suatu proses pembelajaran.
BAB Capaian Pembelajaran
a. Meningkatkan perhatian siswa dan membangkitkan motivasi siswa
Melalui penguatan yang diberikan oleh guru terhadap perilaku
belajar siswa, siswa akan merasa diperhatikan oleh gurunya, dengan
demikian perhatian siswa pun akan semakin meningkat seiring dengan
perhatian guru melalui respon yang diberikan kepada siswanya. Apabila
perhatian siswa semakin baik, maka dengan sendirinya motivasi(energy dari
dalam diri seseorang yang mengarahkan tingkah lakunya) belajarnya pun
akan semakin baik pula.
b. Memudahkan siswa belajar
Tugas guru sebagai fasilitator pembelajaran bertujuan untuk
memudahkan siswa belajar. Kemudahan berfungsi untuk memberikan
suasana yang dapat mendorong siswa untuk meningkatkan aktivitas
belajarnya. Untuk memudahkan belajar harus ditunjang oleh kebiasaan-
kebiasaan positif dalam pembelajaran, yaitu dengan memberikan respon-
respon (penguatan) yang akan semakin mendorong keberanian siswa untuk
mencoba, bereksplorasi dan terhindar dari perasaan takut salah dalam belajar.
c. Menumbuhkan rasa percaya diri pada diri siswa
Perasaan khawatir, ragu-ragu, takut salah dan perasaan-perasaan
negatif yang akan mempengaruhi terhadap kualitas proses pembelajaran
harus dihindari. Salah satu upaya untuk memperkecil perasaan-perasaan
negatif dalam belajar, yaitu melalui pemberian penguatan atau respon yang
diberikan oleh guru terhadap sekecil apapun perbuatan belajar siswa.
d. Memelihara iklim kelas yang kondusif
Suasana kelas yang menyenangkan, aman dan dinamis akan
mendorong aktivitas belajar siswa lebih maksimal. Melalui penguatan yang
dilakukan oleh guru, suasana kelas akan lebih demokratis, sehingga siswa
akan lebih bebas untuk mengemukakan pendapat, berbuat, mencoba dan
2
melakukan perbuatan-perbuatan belajar lainnya. Untuk memelihara iklim
kelas dapat dilakukan dengan cara menanggapi dengan penuh kepekaan yang
mengganggu PBM, memeratakan perhatian, mengurangi keteganagan dengan
humor,dll.
Bab Uraian materi
KETERAMPILAN MEMBERI PENGUATAN
Keterampilan dasar mengajar merupakan kemampuan yang bersifat
khusus yang harus dimiliki tenaga pengajar agar dapat melaksanakan tugas
mengajar secara efektif, efisien, dan profesional. Keterampilan dasar
mengajar bagi guru diperlukan agar guru dapat melaksanakan peranya dalam
pengelolaan proses pembelajaran, sehingga pembelajaran dapat berjalan
secara efektif dan efesien. Salah satu keterampilan dasar mengajar guru yang
tidak boleh dilupakan adalah keterempilan dalam memberi penguatan.
Penguatan berasal dari kata kuat yang berarti kukuh, teguh, tahan,
dan awet, mendapat awalan pe dan akhiran –an menjadi penguatan yang
berarti perbuatan mengukuhkan, meneguhkan, mempertahankan dan
mengawetkan. Secara tradisional, Penguat dianggap sebagai sebuah stimulasi
atau perangsang
Keterampilan memberi penguatan (reinforcement) adalah segala
bentuk respon baik verbal ataupun non verbal, yang diberikan guru terhadap
tingkah laku siswa untuk memberikan umpan balik atas perbuatannya sebagai
suatu dorongan atau koreksi dan memotivasi siswa yang lain untuk berbuat
hal yang sama seperti siswa yang diberikan penguatan tadi.
Keterampilan memberikan penguatan juga diartikan dengan tingkah
laku guru dalam merespon secara positif suatu tingkah laku tertentu siswa
yang memungkinkan tingkah laku tersebut timbul kembali, dimaksudkan
untuk membesarkan hati siswa agar mereka lebih giat berpartisipasi dalam
interaksi belajar-mengajar.
3
Ada pula pendapat lain, Keterampilan memberikan penguatan
adalah respon terhadap suatu tingkah laku yang dapat meningkatkan
kemungkinan berulangnya kembali tingkah laku tersebut. Seorang guru perlu
menguasai keterampilan memberika penguatan karena “penguatan
merupakan dorongan bagi siswa untuk meningkatkan penampilannya, serta
dapat meningkatkan perhatian.
A. PENGERTIAN PENGUATAN
Penguatan adalah respon terhadap suatu perilaku yang dapat
meningkatkan kemungkinan berulangnya kembali perilaku itu. Dalam rangka
pengelolaan kelas, dikenal penguatan positif dan penguatan negatif.
Penguatan positif adalah penguatan yang bertujuan untuk mempertahankan
dan memelihara perilaku positif, sedangkan penguatan negatif merupakan
penguatan perilaku dengan cara menghentikan atau menghapus rangsangan
yang tidak menyenangkan. Misalnya dalam penguatan negatif, guru
memberikan sindiran kepada siswa yang tidak memperhatikan saat guru
tersebut menerangkan suatu materi pelajaran.
Manfaat penguatan bagi siswa, antara lain.
1. Meningkatnya perhatian dalam belajar.
2. Membangkitkan dan memelihara perilaku.
3. Menumbuhkan rasa percaya diri.
4. Memelihara suasana belajar yang kondusif.
Keterampilan memberikan penguatan merupakan keterampilan yang harus
dikuasai oleh guru karena penguatan yang diberikan kepada siswa akan
4
membangkitkan semangat dalam melakukan kegiatan pembelajaran.
Semangat siswa yang tinggi akan meningkatkan daya tangkap ilmu sehingga
nantinya tujuan yang ingin dicapai oleh guru dapat diraih dengan baik.
Penguatan harus dilakukan secara merata kepada siswa yang baik ataupun
kurang baik perilakunya. Guru tidak boleh membeda-bedakan dalam
memberikan penguatan.
B. KOMPONEN-KOMPONEN YANG TERDAPAT DALAM
PEMBERIAN PENGUATAN
a. Penguatan Verbal
Salah satu bentuk penguatan yang bisa diberikan oleh guru untuk memotivasi
siswa agar berpartisipasi dalam pembelajaran adalah lewat ucapan. Segala
ungkapan kata-kata yang dilontarkan guru untuk menanggapi balik aktivitas
siswa termasuk ke dalam penguatan verbal.
Beberapa contoh pemberian penguatan verbal.
1) Guru bertanya ,“Konsep apa yang diterapkan pada kapal laut?”
Beny mengacungkan tangan dan menjawab, “Hukum Archimedes, Bu!!”
Guru menanggap balik, “Ya benar. Bagaimana bunyi Hukum Archimedes?”
Beny menjawab, “Setiap benda padat yang dimasukan ke dalam zat cair akan
mendapat gaya ke atas seberat zat cair yang dipisahkan. Gaya ke atas itulah
yang membuat kapal terapung di dalam air.”
Guru menanggapi, “Hebat Beny. Kita beri tepuk tangan buat Beny.”
5
2) Pada saat belajar tentang tekanan, guru mengajukan pertanyaan, “Mengapa
ujung paku dibuat runcing?”
Sally menjawab, “Karena ujung paku yang runcing memiliki luas penampang
kecil, sehingga tekanan terhadap benda menjadi besar.”
Guru menanggap balik, “Iya, lengkap sekali jawaban Santi,” atau “Betul,
tepat sekali!!”
3) Pada saat belajar tentang pemuaian, guru meminta siswanya untuk
menyebutkan aplikasi konsep pemuaian di kehidupan sehari-hari.
Salah satu siswa menyebutkan, “Penyambungan rel kereta api, Bu!!”
Guru menanggapi balik, “Bagaimana dengan penyambungan rel kereta api?”
Siswa tersebut menjelaskan, “Pada daerah sambungan diberi jarak antara
batang satu dengan lainnya, sehingga pada saat panas batang tersebut
memiliki tempat untuk memuai.”
Guru memberikan tanggapan balik, “Tepat sekali. Kamu memang pintar,
Nak!!”
4) Pada saat guru memberikan pertanyaan kepada siswanya. Jawaban dari
siswa kurang benar. Guru tidak boleh berkata, “Jawabanmu salah!!” atau
“Bodoh sekali, Kamu!”. Seharusnya guru berkata, “Ya, jawabanmu sudah
baik tetapi masih kurang tepat. Ada pendapat yang lain?”.
Beragam ucapan-ucapan lain yang bisa dilontarkan guru secara spontan, kata
yang digunakan diusahakan bervariasi agar tetap segar dan bersemangat.
Dengan ucapan atau tanggapan balik tersebut siswa merasa terpuji, dihargai,
6
diberikan perhatian, dan yang tidak kurang pentingnya adalah siswa merasa
bahwa belajar tersebut sangat bermanfaat bagi dia.
b. Penguatan Non Verbal
Memberikan tanggapan balik yang bertujuan agar siswa terdorong untuk
lebih berprestasi, tidak terbatas dalam bentuk ucapan saja. Banyak bentuk
pemberian penguatan yang dapat dipilih oleh guru, sehingga tidak
membosankan bagi siswa. Bentuk-bentuk perbuatan tersebut dapat dibedakan
dalam kategori berikut.
1) Mimik dan gerak badan
Komunikasi akan berjalan dengan baik apabila dua orang atau lebih yang
berinteraksi saling berhadapan. Selama proses interaksi tersebut
dipertahankan agar mimik muka atau wajah tidak cemberut, dingin, tanpa
ekspresi, dan tampilan-tampilan lain yang menimbulkan kesan tidak
simpatik. Selama proses pembelajaran, interaksi antara siswa dengan guru
berlangsung terus menerus selama waktu 2 x 40 menit atau 2 x 45 menit.
Selama selang waktu yang relatif panjang tersebut diharapkan siswa
berpartisipasi secara aktif dan untuk mempertahankan kondisi positif tersebut
guru secara berkesinambungan memberikan berbagai penguatan. Salah satu
bentuk penguatan tersebut adalah mimik. Senyuman, anggukan, gelengan
yang mengisyaratkan rasa takjub dengan tanggapan siswa, mengangkat kedua
alis, acungan jempol, dan lain-lain. Variasi-variasi tersebut dapat dipilih dan
divariasikan guru selama proses pembelajaran berlangsung.
2) Mendekati
Setiap siswa memiliki kecenderungan yang sangat mungkin berbeda dengan
temannya. Ada siswa yang senang dipuji dan dibesarkan hatinya dengan kata-
7
kata manis dan simpatik, ada siswa yang puas hanya dengan senyuman atau
tatapan bangga sesaat dari gurunya. Tapi ada siswa yang berharap lebih dari
itu. Mereka lebih senang kalau guru berada di sampingnya saat memberikan
penguatan.
Tipe siswa yang lebih suka didekati tersebut. Sebaiknya guru berusaha
memenuhi harapan tersebut. Karena tidak berat bagi guru untuk berpindah
dari depan ke tempat siswa yang baru saja memberi tanggapan atau jawaban
dari pertanyaan yang diberikan, atau memberi penjelasan. Mendekati di sini
bukan sekedar berdekatan secara fisik, tetapi digabung dengan bentuk
penguatan yang lain, sehingga tidak terkesan hambar atau dingin.
3) Sentuhan
Kontak fisik atau sentuhan yang diberikan oleh guru suatu kebanggaan
tersendiri bagi sekelompok siswa. Bagi siswa yang sudah memberikan
jawaban pertanyaan, melengkapi jawaban temannya atau memberi
penjelasan, tanggapan bahkan kritikan atau meralat argumentasi temannya,
guru dapat memberikan penguatan dengan menyalami, menepuk-nepuk
pundak siswa, membelai kepala siswa atau sentuhan lain yang membuat
siswa bangga dan ingin tampil lebih baik lagi.
4) Kegiatan yang menyenangkan hati siswa
Guru yang profesional berusaha mengenal kecenderungan dan karakter
semua siswanya. Guru berusaha mengetahui hal-hal seperti apa yang lebih
disenangi oleh siswa. Sehingga apabila diberikan suatu tugas, mereka merasa
senang melakukannya.
Sehubungan dengan pemberian penguatan di dalam pembelajaran fisika guru
juga dapat memilih aktivitas yang membuat siswa senang. Misalnya,
mengajukan pertanyaan yang bersifat kompetisi dalam menjawab,
8
memperagakan sesuatu di depan kelas, mengerjakan latihan berbentuk teka-
teki silang, melakukan studi tour, atau memberikan tugas proyek dan banyak
lagi aktivitas lain yang dapat dipilih dan divariasikan.
Bentuk kegiatan yang dipilih oleh guru disesuaikan dengan kesenangan siswa
di dalam belajar fisika. Misalnya, apabila kelas tersebut dinominasi oleh
siswa yang senang berolahraga. Pada saat mempelajari gerak dalam bidang,
guru membawa siswa ke lapangan untuk memperagakan berbagai bentuk
gerak parabola, gerak melingkar, ataupun gerak pada bidang miring.
5) Simbol atau benda
Bentuk lain dari penguatan non verbal adalah simbol atau pemberian hadiah
berbentuk benda. Misalnya guru mempersiapkan mainan kecil dan lucu atau
alat tulis, atau mungkin hanya permen untuk dibagikan kepada siswa yang
berpartisipasi secara aktif di dalam pembelajaran.
Bagi siswa yang mendapatkan hadiah, pemberian tersebut akan mendorong
dia untuk tampil lebih baik dari sebelumnya. Sedangkan siswa yang lain
menjadi lebih bersemangat, juga ingin mendapat hadiah. Karena hadiah
tersebut melambangkan prestasi mereka dalam belajar fisika. Hadiah dapat
memberi kebanggaan dan mendorong semangat mereka untuk lebih baik lagi
pada kesempatan berikutnya.
6) Penguatan tak penuh
Pada penguatan ini, siswa yang menyampaikan pendapat yang kurang benar
atau tidak benar tidak langsung disalahkan secara kasar tetapi dengan
memberikan penguatan tetapi tidak penuh, misalnya “Jawabanmu sudah baik,
tetapi masih kurang tepat”. Kemudian guru meminta siswa lain untuk
menyempurnakan atau menambahkan sehingga siswa tadi mengetahui bahwa
jawabannya tidak seluruhnya benar, namun juga tidak salah.
9
C. PRINSIP PENGGUNAAN PENGUATAN
Supaya penguatan yang diberikan oleh guru tepat sasaran. Pemberian
penguatan di dalam pembelajaran harus memperhatikan beberapa prinsip
pemberian penguatan, sebagai berikut.
a. Hangat dan Antusias
Guru adalah pemberi semangat bagi siswanya. Semangat tentu saja tidak
mampu diberikan oleh orang yang kurang atau tidak bersemangat. Aktivitas
yang bertujuan memberikan semangat tersebut juga tidak akan sampai pada
sasaran, apabila pemberiannya dilakukan tanpa dukungan kehangatan.
Kehangatan yang ditampilkan oleh guru secara psikologis berdampak positif
terhadap siswa. Kehangatan tersebut dapat mencairkan suasana kaku, diam,
ramai, dan tegang menjadi kondusif.
Sikap antusias dalam batas kewajaran atau tidak berlebihan punya makna
sendiri di hati siswa. Melihat gurunya antusias, siswa yang tadinya malas,
mengantuk, capek, atau melakukan aktivitas lain menjadi tertarik ikut di
dalam pembelajaran. Jadi apabila sebelumnya hanya sebagian siswa yang
aktif di dalam pembelajaran, sikap antusias yang ditampilkan guru dapat
menarik yang belum aktif menjadi aktif.
b. Kebermaknaan
Penguatan yang diberikan oleh guru sangat berarti atau bermakna bagi siswa.
Mereka merasa lebih percaya diri, merasa dihargai, merasa diperhatikan,
merasa berhasil dalam belajar, merasa terpuji dan tersanjung. Perasaan ini
berdampak terhadap mental mereka. Siswa jadi lebih berani mengemukakan
pendapatnya, meningkat rasa ingin tahunya, dan lebih percaya diri. Dengan
demikian diharapkan partisipasinya menjadi lebih baik pada kesempatan
berikutnya.
10
Bila guru melakukan penguatan secara tepat dan terus menerus, rasa ingin
tahu siswa terpenuhi, akibatnya mereka merasakan bahwa belajar fisika
membuat mereka jadi tahu banyak hal. Apa yang mereka ketahui tersebut
membantu mereka menjawab pertanyaan tentang suatu kejadian, yang
mungkin sebelumnya membuat mereka penasaran atau bingung.
c. Menghindari respon negatif
Kadangkala siswa kurang baik dalam mengungkapkan buah pikirannya di
dalam kelas atau bahkan bisa jadi pendapat tersebut keliru. Seorang guru
profesional berusaha membesarkan hati siswa dengan tanggapan yang positif.
Tidak langsung menyalahkan atau menghakimi siswa di hadapan teman-
temannya. Contoh.
Guru tahu ada siswa yang kurang memperhatikan pada saat
memperagakan. Guru berpikir mungkin si siswa sudah paham, jadi
demonstrasi itu tidak menarik buat dia.
Guru menganggap semua siswa sudah paham dan bersiap untuk
memberi kesempatan kepada siswa untuk berlatih menggunakan
jangka sorong.
Guru menunjuk siswa yang tadinya tidak memperhatikan untuk
membaca hasil pengukuran dan menyampaikan kepada teman-
temannya.
Siswa tersebut tidak tahu cara membacanya, sehingga kebingungan.
Pada kejadian seperti ini, seorang guru professional guru tidak
langsung menyalahkan atau memarahi siswa karena tidak
memperhatikan sewaktu guru menerangkan pelajaran. Guru bisa
menunjuk siswa lain untuk melaksanakan tugas itu dan siswa tadi
11
disuruh memperhatikan. Kepada siswa yang menggantikan tugas
tadi guru memberi penguatan dan kepada siswa pertama. Guru
memberikan dorongan agar belajar lebih tekun atau lebih serius dari
sebelumnya. Guru tidak perlu mengeluarkan ucapan, “Makanya
perhatikan saat saya menerangkan, jangan sok tahu!!”
Ucapan atau tanggapan negatif dapat merusak kondisi kelas. Tidak
hanya siswa yang mendapat perlakuan tidak enak saja yang
terpengaruh, siswa lain akan ikut terkena dampaknya. Perasaan
tenang yang dirasakan siswa-siswa lain bisa berubah menjadi
tertekan, takut, cemas, dan was-was akan menghantui mereka.
Suasana yang tadinya santai dan nyaman bagi sebagian siswa
berubah menjadi menegangkan. Akibatnya mereka tidak konsentrasi
lagi mengikuti pelajaran. Khawatir hal yang sama menimpa mereka.
Siswa yang menerima perlakuan atau tanggapan yang tidak mengenakan
atau bersifat negatif, bukannya akan menjadi bersemangat. Tetapi malah
semakin mundur. Dia malu dengan guru dan teman-temannya. Merasa diadili,
dipersalahkan, dinilai tidak mampu, dan berbagai perasaan lainnya. Ini dapat
berakibat tumbuhnya rasa antipati terhadap guru dan pelajaran fisika dan
menimbulkan ketidaknyamanan dan lebih ekstrim lagi menimbulkan dendam
dan rasa benci. Jadi sebaiknya guru tidak pernah memberikan tanggapan
negatif terhadap siswa. Guru boleh menghukum atau memarahi siswa, tetapi
harus dengan santun dan penuh rasa kasih orang tua kepada siswanya.
Dalam memberikan penguatan sebaiknya guru menghindari dari
respon-respon negatif seperti kata-kata kasar dan tidak mendidik,
cercaan, hinaan dan isyarat yang menyudutkan siswa. Dalam
pembelajaran ada kalanya proses dan hasil yang ditujukan siswa itu
sesuai dengan tujuan dan kompetensi yang diharapkan atau sebaliknya.
Kadang-kadang karena guru tidak puas dengan proses dan hasil yang
12
ditujukan siswa, muncul kainginan untuk membentak dan mengeluarkan
kata-kata menyindir serta penguatan negatif lainnya walaupun
maksudnya mungkin baik yaitu untuk lebih meningkatkan proses dan
hasil pembelajaran secara lebih berkualitas. Akan tetapi dengan
mengeluarkan kata-kata atau isyarat (penguatan negatif) harus dihindari.
Jika siswa memberikan jawaban atau menunjukkan penampilan yang tak
memuaskan, guru hendaknya menahan diri dari keinginan mencela atau
mengejek jawaban atau penampilan siswa. Apabila jawaban siswa keliru
guru dapat mengalihkan pertanyaan kepada siswa yang lain. Jika siswa
menunjukkan penampilan yang tak sempurna, guru dapat meminta siswa
yang dianggap mampu untuk mendemontrasikan penampilan tersebut,
kemudian siswa pertama diminta perbaiki penampilannya. Dengan cara-
cara tersebut guru akan tetap memberikan balikan kepada siswa serta
sekaligus terhindar dari penggunaan respon negatif.
Disamping ketiga prinsip tersebut diatas, dalam memberikan
penguatan, guru hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
Sasaran Penguatan
Agar penguatan dapat berjalan secara efektif, maka setiap jenis dan
bentuk penguatan yang diberikan guru harus tepat pada sasarannya.
Sasaran yang dimaksud yaitu baik kepada siswa yang ingin diberi
penguatan maupun ketepatan berkenaan dengan bentuk atau jenis prilaku
belajar yang dilakukannya itu sendiri. Misalnya jika penguatan itu
diberikan kepada salah seorang siswa, maka harus jelas siswa mana yang
dituju dengan penguatan yang diberikan itu. Demikian pula terhadap
perbuatan atau prilaku belajarnya. Selain kepada individu penguatan juga
dapat diberikan kepada kelompok siswa tertentu
Dilakukan dengan Segera
13
Setiap penguataqn yang diberikan oleh guru, hendaknya dilakukan
dengan segera. Artinya penguatan tersebut diberikan atau dilakukan
bersamaan dengan setiap prilaku belajar yang ditampilkan oleh masing-
masing siswa. Misalnya apabila guru melihat siswa membuang sampah
pada tempatnya, segera hampiri siswa tersebut dan sampaikan
penghargaan pada saat itu pula. Dengan kata lain, bahwa antara
penguatan yang diberikan oleh guru dengan perbuatan belajar siswa
sebaiknya tidak menunggu waktu berlama-lama, tetapi segera.
Penguatan secara bervariasi
Prilaku yang ditunjukkan siswa dalam proses dan hasil
pembelajarannya sangat beragam, dan jika dikelompokkan akan terbagi
kedalam tiga bagian utama, yaitu pengetahuan, sikap dan keterampilan.
Oleh karena itu, jenis maupun bentuk penguatan yang diberikan oleh
guru harus di sesuaikan dengan karakteristik prilaku belajar yang
ditunjukkan oleh siswa itu sendiri.
Memberikan penguatan merupakan tingkah laku yang mudah
diucapkan, tetapi sukar untuk dilakukan. Oleh karena itu latihan-latihan yang
intensif perlu dilakukan oleh guru. Untuk mempermudah mengetahui
sejauhmana perubahan siswa dalam proses belajar mengajar melalui
penguatan-penguatan yang diberikan, guru dapat menggunakan format
observasi keterampilan memberikan penguatan.
Contoh format tersebut sebagai berikut :
14
FORMAT OBSERVASI
KETERAMPILAN MEMBERI PENGUATAN
Nama Guru : Hari/Tanggal :
Bidang Studi : Sekolah :
Pokok Bahasan : Kelas :
No Aspek keterampilan Nilai Rata- Keterangan
yang diamati rata
1 2 3 4
1. Penguatan verbal
[Link]-kata
- baik
- bagus sekali
- tepat
[Link]
- jawabanmu tepat
sekali
- jawabanmu benar
- pendapatmua makin
mantap
15
2. Penguatan non verbal
[Link]
[Link]
[Link]/Acungan
jempol
Pengamat,
...............
d. Pemberian penguatan dengan segera
Penguatan seharusnya diberikan dengan segera setelah muncul tingkah laku
atau respon dari siswa. Penguatan yang ditunda pemberiannya, cenderung
menyebabkan menjadi kurang efektif. Agar dampak positif yang diharapkan
tidak menurun bahkan hilang, penguatan haruslah diberikan segera setelah
siswa menunjukkan respon yang diharapkan. Dengan kata lain, tidak ada
waktu tunggu antara respon yang ditunjukkan dengan penguatan yang
diberikan.
e. Variasi bentuk penguatan
Proses pembelajaran yang bersifat tatap muka berlangsung 1 atau 2 jam
pelajaran, sekitar 40 atau 45 sampai 80 atau 90 menit. Waktu yang cukup
lama untuk menjaga interaksi positif berlangsung secara terus menerus, atau
untuk mempertahankan semangat belajar.
16
Banyak aktivitas dan tugas yang bisa diberikan guru selama selang waktu
tersebut. Tentu saja beragam pula pertisipasi yang bisa diberikan oleh siswa.
Setiap sumbangan pikiran siswa layak diberikan penghargaan, semua siswa
berhak mendapatkan penguatan. Agar tidak membosankan dan selalu hidup,
guru harus pintar memvariasikan berbagai bentuk penguatan. Kadang
mengatakan bagus, pada kesempatan lain mengacungkan jempol, berikutnya
tersenyum sambil menganggukan kepala, lalu mendekati siswa, begitu
seterusnya. Sehingga ucapan atau tanggapan yang sama tidak keluar
berulang-ulang dalam waktu terbatas.
D. CARA PENGGUNAAN PEMBERIAN PENGUATAN DALAM
PEMBELAJARAN
Ada dua cara dalam menggunakan penguatan, antara lain.
a. Penguatan kepada pribadi tertentu
Penguatan harus jelas kepada siapa ditujukan. Karena apabila tidak, akan
kurang efektif. Oleh karena itu, sebelum memberikan penguatan, guru
terlebih dahulu menyebut nama siswa yang bersangkutan sambil menatap
kepadanya.
b. Penguatan kepada kelompok
Penguatan dapat pula diberikan kepada sekelompok siswa, misalnya “Bapak
sangat senang kalian menyelesaikan tugas ini dengan baik”. Dapat juga
memberikan sebuah penghargaan lain.
E. KELEBIHAN DALAM PEMBERIAN PENGUATAN DALAM
PEMBELAJARAN
17
Pemberian penguatan dalam proses pembelajaran mempunyai beberapa
kelebihan atau manfaat apabila dapat dilakukan dengan tepat, antara lain.
1. Dapat meningkatkan perhatian dan motivasi siswa terhadap materi.
2. Dapat mendorong siswa untuk berbuat baik dan produktif.
3. Dapat menumbuhkan rasa kepercayaan diri siswa itu sendiri.
4. Dapat meningkatkan cara belajar siswa menjadi aktif.
5. Dapat mendorong siswa untuk meningkatkan belajarnya secara
mandiri.
Kelebihan-kelebihan dalam memberikan penguatan bergantung pada guru
yang memberikan penguatan. Apabila guru tersebut sesuai dalam
memberikan penguatan, maka proses pembelajaran akan tercapai secara
maksimal.
F. KELEMAHAN DALAM PEMBERIAN PENGUATAN DALAM
PEMBELAJARAN
Walaupun pemberian penguatan sifatnya sederhana dalam pelaksanaannya,
namun dapat pula pemberian penguatan yang diberikan kepada siswa justru
membuat siswa enggan belajar karena penguatan yang diberikan tidak sesuai
dengan tindakan yang dilakukan siswa tersebut.
Pemberian penguatan yang berlebihan juga akan berakibat fatal. Misalnya,
pemberian penguatan berupa hadiah secara terus-menerus dapat
mengakibatkan siswa menjadi bersifat materialistis.
18
Bab Rangkuman
Penguatan adalah respon terhadap suatu perilaku yang dapat meningkatkan
kemungkinan berulangnya kembali perilaku itu.
Komponen-komponen yang terdapat dalam pemberian penguatan, antara lain
penguatan verbal dan penguatan non verbal. Penguatan verbal adalah respon
yang ditunjukkan secara lisan atau ucapan terhadap suatu perilaku. Penguatan
non verbal adalah respon yang ditunjukkan dengan perbuatan-perbuatan yang
berupa mimik, gerak badan, mendekati siswa, menyentuh, hal yang
menyenangkan hati siswa, simbol atau benda, dan penguatan tak penuh.
Pemberian penguatan di dalam pembelajaran harus memperhatikan beberapa
prinsip pemberian penguatan, antara lain memberikan kehangatan,
keantusiasan, kebermaknaan, menghindari respon negatif, pemberian
penguatan dengan segera, dan memvariasikan bermacam-macam bentuk
penguatan.
Ada dua cara dalam menggunakan penguatan, antara lain penguatan kepada
pribadi tertentu dan penguatan kepada kelompok.
Pemberian penguatan dalam proses pembelajaran mempunyai beberapa
kelebihan apabila dapat dilakukan dengan tepat, antara lain dapat
meningkatkan perhatian dan motivasi siswa terhadap materi, dapat
mendorong siswa untuk berbuat baik dan produktif, dapat menumbuhkan rasa
kepercayaan diri siswa itu sendiri, dapat meningkatkan cara belajar siswa
menjadi aktif, dan dapat mendorong siswa untuk meningkatkan belajarnya
secara mandiri.
Pemberian penguatan yang diberikan tidak sesuai dengan tindakan yang
dilakukan siswa tersebut akan menyebabkan siswa enggan belajar. Pemberian
penguatan yang berlebihan juga akan berakibat fatal.
19
Bab Latihan
Jawablah pertanyaan berikut ini dengan tepat!
1. Apa yang saudara ketahui tentang keterampilan memberikan
penguatan!
2. Mengapa sebagai calon guru diperlukan untuk memahami
keterampilan dasar memberikan penguatan?
3. Jelaskan tujuan dari memahami keterampilan dasar memberikan
penguatan!
20
4. Jelaskan prinsip-prinsip dalam memberikan penguatan materi
kepada siswa!
5. Jelakan tahap-tahap dalam melakukan aktifitas memberikan
penguatan!
6. Jelaskan apa yang dimaksud dengan keterampilan memberikan
variasi dalam pembelajaran!
7. Mengapa guru diperlukan untuk memberikan variasi dalam
pembelajaran?
8. Jelaskan tujuan dan manfaat dari pemberian vairasi mengajar!
9. Jelaskan prinsip-prinsip dalam pemberian variasi mengajar!
10. Salah satu jenis dari komponen dalam variasi mengajar adalah
variasi gaya mengajar. Jelaskan!
11. Salah satu jenis dari komponen dalam variasi mengajar adalah
variasi media pembelajaran. Jelaskan!
12. Salah satu jenis dari komponen dalam variasi mengajar adalah
variasi pola interaksi. Jelaskan!
13. Apa yang saudara ketahui tentang keterampilan menjelaskan!
14. Mengapa sebagai calon guru diperlukan untuk memahami
keterampilan dasar menjelaskan?
15. Jelaskan tujuan dari memahami keterampilan dasar menjelaskan!
Daftar Pustaka
21
Aqib, Zainal,2007. Membangun Prefesionalisme Guru dan Pengawas
Sekolah. Bandung: Yrama Widya
Baharuddin dan Nur Wahyuni, Eka,2010. Teori Belajar &
Pembelajaran. Jogjakarta: Ar-ruzz Media
Danim, Sudarwan,2011. Pengembangan Profesi Guru:Dari Pra-
Jabatan, Induksi, Ke Professional Madani. Jakarta: Prenada Media Group
Djalil, [Link].2002, CET 4. Pembelajaran Kelas Rangkap. Jakarta:
Universitas Terbuka
Djamarah, Syaiful Bahri,2005,cet 2. Guru dan Anak Didik dalam
Interaksi Edukatif. Suatu Pendekatan Teoritis Psikologis. Jakarta : Rineka
Cipta
Djamarah, Syaiful Bahri dan Zain ,Aswan,2006. Strategi Belajar
Mengajar .Jakarta: Rineka Cipta
E Gredler,Margaret,2011,ed ke-6. Learning and Instruction (Teori dan
Aplikasi). Jakarta: Kencana
22