Electrical Resistivity Tomography
Eka Harris Suryawan(1), Dinda Indinana B.(2), Gregorio Adri Prawira(3), Erdyanti Rinta Bi Tari(4),
Sugeng Kurniawan(5), Silvia Veronica(6)
03411540000005, 03411540000018, 03411540000020, 03411540000024, 03411540000030,
03411540000046
Departemen Teknik Geofisika
Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Abstrak: Telah dilakukan penelitian tomografi resistivitas listrik (ERT) dengan acuan model paper Nur
Amalina. Paper ini mengamati sebuah singkapan untuk diketahui bentuk model penampang geologinya,
hasil yang didapatkan berupa zona patahan dan zona kontak pada singkapan tersebut. Penelitian dilakukan
dengan menggunakan perangkat lunak Res2Dmod dan Res2Dinv. Pengerjaan dilakukan dengan membuat
[Link] sesuai bentuk model lalu dimasukkan ke dalam Res2Dmod untuk dilakukan forward modelling,
forward modelling dilakukan sebanyak 3 kali dengan menggunakan konfigurasi Dipole-dipole, Wenner-
Alpha & Wenner-Schlumberger. Hasil forward modelling dari ketiga konfigurasi tersebut dimasukkan ke
dalam perangkat lunak Res2Dinv untuk dilakukan inversi. Hasil yang didapatkan pada penelitian ini adalah
pada hasil forward modelling didapatkan rentang jangkauan kedalaman 10.5 – 11.5 meter, dengan rentang
nilai resis 126 - 4329 Ωm, Pada penampang inverse model hasil inversi didapatkan bentukan geologi yang
paling menyerupai model adalah pada konfigurasi Wenner-Schlumberger karena mampu menampilkan
patahan dan zona kontak dengan jelas.
Kata Kunci: forward modelling, inversi, tomografi,
1. Pendahuluan 2. Tinjauan pustaka
Dalam Geofisika, electrical resistivity Electrical Resistivity Tomography (ERT)
tomography (ERT) adalah salah satu teknik yang
populer untuk permodelan bawah permukaan Metode geolistrik tahanan jenis adalah
dengan menggunakan prinsip kelistrikan. Pada metode geofisika yang memanfaatkan sifat aliran
dasarnya metode ERT menggunakan empat buah listrik di dalam bumi untuk mengetahui kondisi bawah
elektroda yang terdiri dari dua elektroda arus dan permukaan tanah. Sifat aliran listrik ini dipelajari
dua elektroda potensial kemudian disusun untuk mendapatkan gambaran bawah permukaan
sedemikian rupa Susunan empat elektroda dengan cara memanfaatkan nilai-nilai pengukuran
tersebut dinamakan konfigurasi elektroda. medan potensial, arus listrik dan nilai resistansi yang
Pemilihan konfigurasi elektroda sangat diijenksikan ke dalam bumi. Nilai-nilai tersebut ialah
menentukan hasil permodelan bawah permukaan, untuk mendapatkan distribusi resistivitas bawah
namun pada prakteknya sangat sulit untuk permukaan (Lowrie, 2007). Pengukuran yang
menentukan jenis konfigurasi yang akan dilakukan di lapangan digunakan empat elektroda, dua
digunakan. Berdasarkan penelitian diatas maka elektroda berfungsi untuk mengalirkan arus (C1 dan
dilakukan penelitian untuk membandingkan hasil C2) dan dua elektroda potensial (P1 dan P2) yang
penampang bawah permukaan hasil inversi untuk mengukur beda potensial diukur antara dua titik.
konfigurasi wenner-alfa, wenner-schlumberger, Resistivitas di titik pengukuran dihitung dengan
dan dipole-dipole pada studi kasus singkapan
geologi. Diharapkan penelitian ini mampu Konsep Resistivitas Semu
memberikan gambaran hasil pengukuran untuk Nilai resistivtias yang didapatkan saat
ketiga konfigurasi tersebut serta menentukan pengukuran bukanlah nilai resistivitas sebenarnya
konfigurasi dengan hasil terbaik untuk studi
melainkan adalah nilai resistivtias semu. Hal itu
kasus singkapan geologi tertentu.
dikarenakan bumi diasumsikan sebagai bola homogen,
1
namun kenyataannya bumi terdiri atas lapisan-lapisan
dengan nilai resistivtias yang berbeda Nilai resistivtias ∆𝑉 (2.3)
𝜌𝑎 = 𝜋𝑎𝑛 (1 + 𝑛)(2 + 𝑛)
yang didapatkan saat pengukuran bukanlah nilai 𝐼
resistivitas sebenarnya melainkan adalah nilai Dengan a adalah spasi elektroda, I
resistivtias semu. Hal itu dikarenakan bumi merupakan arus listrik yang diinjeksikan, dan ΔV
diasumsikan sebagai bola homogen, namun adalah selisih beda potensial primer dan beda potensial
kenyataannya bumi terdiri atas lapisan-lapisan dengan sekunder.
nilai resistivtias yang berbeda sehingga potensial yang Konfigurasi Wenner
terukur merupakan pengaruh dari lapisan-lapisan
tersebut. Nilai resistivtias semu didapatkan melalui Konfigurasi Wenner – Alpha yaitu
persamaan: konfigurasi empat elektroda dimana jarak antar C1-
P1=P1-P2=P2-C2=a, dimana kedua pasang elektroda
∇𝑉 ini dipasang secara simetris terhadap titik sounding.
𝜌𝑎 = 𝑘 (2.1)
𝐼 Jarak untuk masing-masing elektroda arus terhadap
Dengan 𝜌𝑎 adalah resistivitas semu yang titik sounding adalah a/2, maka jarak masing-masing
bergantung pada spasi elektroda ∇𝑉 (beda potensial) elektroda terhadap titik sounding sebesar 3a/2.
dan I (arus). Nilai resistivitas semu tergantung pada Apabila digunakan untuk melakukan mapping maka
geometri dari susunan elektroda yang digunakan, yang spasi a tidak diubah-ubah, sedangkan untuk sounding
didefinisikan dengan faktor geometri (K) (Reynold, dilakukan pengubahan jarak elektroda yang diperbesar
1997; Telford, 2004). secara gradual. Konfigurasi wenner ini terdapat tiga
macam yaitu wenner alfa, beta dan gama yang
Konfigurasi Dipole-Dipole
memiliki sensitivitas yang berbeda pula. Konfigurasi
Pada kegiatan eksplorasi bahan mineral ini memiliki kemampuan sangat baik dalam resolusi
ekonomis biasanya konfigurasi yang digunakan adalah vertikal. Resistivitas semu untuk konfigurasi ini dicari
konfigurasi dipole-dipole. Konfigurasi ini dgunakan dnegan persamaan (Lowrie, 2007):
karena dinilai efektif, rendah efek elektromagnetik
∆𝑉
antara sirkuit arus dan potensial serta mampu 𝜌𝑎 = 2𝜋𝑎 (2.4)
𝐼
memetakan kondisi bawah permukaan secara
horizontal dan vertikal (Lowrie, 2007).
Gambar 2 Diagram Konfigurasi Wenner-Alpha
(Lowrie, 2007)
Gambar 1 Diagram Konfigurasi Dipole-Dipole
(Lowrie, 2007) Konfigurasi Wenner - Schlumberger
Sesuai dengan gambar 1, konfigurasi ini Konfigurasi Wenner – Schlumberger
memiliki ciri khas jarak elektroda potensial (A-B) merupakan gabungan antara konfigurasi Wenner dan
rapat namun jarak elektroda potensial ke elektroda Schlumberger. Dalam konfigurasi ini jarak antara
arus (C-D) jauh. Elektroda yang berpindah adalah elektroda P1-P2 adalah a dan jarak spasi antar C1-
elektroda potensial (A-B) dan elektroda arusnya tetap P1=P2-C2 yaitu na. Dalam konfigurasi ini jarak
(C-D). Konstanta geometri (K) dan apparent resistivity elektrodanya konstan. Konfigurasi ini memiliki
(ρa) konfigurasi dipole-dipole dinyatakan dalam kelebihan cakupan secara horizontal, penetrasi
persamaan berikut ini: kedalaman yang baik. Sangat sensitif terhadap
perubahan horizontal oleh sebab itu baik untuk survey
kedalaman. Resistivitas semu untuk konfigurasi ini
𝐾 = 𝜋𝑎𝑛 (1 + 𝑛)(2 + 𝑛) (2.2)
didapatkan dengan persamaan (Lowrie, 2007):
2
𝜋 ∆𝑉 𝐿2 − 𝑎2 Forward Modelling
𝜌𝑎 = (2.5)
4 𝐼 𝑎 Forward Modelling merupakan proses
perhitungan data dari hasil teori yang akan teramati di
permukaan bumi jika parameter model diketahui.
Gambar 3 Diagram Konfigurasi Wenner –
Schlumberger (Lowrie, 2007)
Metode Inversi
Proses inversi adalah suatu proses
pengolahan data lapangan yang melibatkan teknik
penyelesaian matematika dan statistik untuk
mendapatkan informasi yang berguna mengenai
distribusi sifat fisis bawah permukaan. Di dalam
proses inversi, kita melakukan analisis terhadap data
lapangan dengan cara melakukan curve fitting
(pencocokan kurva) antara model matematika dan data
lapangan. Tujuan dari proses inversi adalah untuk
mengestimasi parameter fisis batuan yang tidak
diketahui sebelumnya (unknown parameter). Gambar 5. Diagram Alir Penelitian
Inversi yang digunakan dalam program Pada saat melakukan interpretasi, dicari
RES2DINV ialah inversi smoothness-constrainted model yang menghasilkan respon yang cocok dan fit
least-square yang dinyatakan dengan persamaan: dengan data pengamatan atau data lapangan. Sehingga
(𝐽𝑇 𝐽 + 𝑢𝐹)d = 𝐽𝑇 𝑔 (2.6) diharapkan kondisi model itu bisa mewakili atau
mendekati keadaan sebenarnya. Seringkali istilah
Yang mana F adalah flatness filter, J adalah matriks forward modelling digunakan untuk proses trial and
derivatif parsial, u adalah damping factor, d adalah error. Trial and error adalah langkah coba-coba atau
vektor model pertubasi, g vektor discrepancy tebakan untuk memperoleh kesesuaian antara data
(Geotomo, 2004). Penelitian ini menggunakan teoritis dengan data lapangan. Diharapkan dari
beberapa parameter inversi dalam perangkat lunak proses trial and error ini diperoleh model yang cocok
RES2DINV antara lain; damping factor 0.16, iteration responnya dengan data (Grandis, 2009).
5 kali, RMS convergence limit 1 %, number of nodes
4, dan digunakan finer mesh, sedangkan parameter 3. Metodologi Penelitian
lainnya digunakan pengauran default. Dalam penelitian ini dilakukan perbandingan
antara ketiga konfigurasi dalam metode resisitivitas
dalam hasil tomografinya dengan studi kasus geologi
Gambar 4. Singkapan daerah penelitian (Amalina, 2017)
3
struktur kontak litologi sedimen dan patahan Langkah berikutnya yaitu dilakukan
berdasarkan penelitian oleh M.K.A Nur Amalina, kalkulasi nilai potensial hasil Geometry Editing agar
Nordiana, dkk dari Universiti Sains Malaysia, 2017. didapatkan model forward-nya, tahapan ini dilakukan
Alat bahan yang digunakan pada peneletian ini adalah sebanyak tiga kali sesuai jumlah konfigurasi yang
sebuah laptop yang telah terpasang perangkat lunak digunakan. Hasil setiap kalkulasi masing-masing
Notepad, RES2DMOD, dan RES2DINV. Langkah- konfigurasi di simpan dalam format Res2DInv untuk
langkah kerja yang dilakukan pada penelitian ini bawa ke perangkat lunak RES2DINV.
meliputi pembuatan notepad berformat .dat untuk
inisiasi model penampang geolistrik 2D yang
mengikuti geologi penelitian oleh M.K.A Nur
Amalina yang disajikan dalam gambar 4.
Model geologi yang digunakan berupa
singkapan dengan dimensi 60 m x 6 m yang tersusun
dari dua komponen batuan utama yaitu mudstone Gambar 6 Penampang Geometry Editing
dengan rentang nilai resistivitas 1-1500 ohm.m dan
chert dengan rentang nilai resistivitas 2600-35000
ohm.m. Terdapat dua feature geologi yang mencolok
yaitu patahan yang memisahkan batuan chert menjadi
dua bagian dan zona kontak mudstone dengan chert.
Patahan tersebut ditandai dengan nilai resistivitas
rendah diantara resistivitas tinggi sedangkan zona
kontak ditandai dengan gradasi nilai resistivitas
Gambar 7 Hasil Forward Modelling
rendah.
Pada perangkat lunak RES2DINV
Pemodelan singkapan dilakukan melalui
dimasukkan data hasil Forward Modelling untuk
proses Geometry Editing yang menyerupai bentuk asli
setiap konfigurasi untuk dilakukan inversi dengan
singkapan pada perangkat lunak RES2DMOD dengan
parameter sesuai dengan subbab metode inversi diatas.
memasukkan file .dat yang sebelumnya telah dibuat.
Proses inversi tersebut menghasilkan penampang
Geometry Editing dilakukan untuk mengubah bentuk
inverse model resistivity section seperti pada gambar
penampang geolistrik 2D sesuai dengan model yang
8. yang mana resistivitas yang didapatkan sudah
diinginkan serta mengatur parameter a dan n, agar
merupakan nilai resistivitas sebenarnya (true
hasil yang didapatkan mendekati bentuk model yang
resistivity).
diharapkan. Model yang dibuat memiliki jarak lateral
60 m, kedalaman 42.6 m dan rentang nilai resistivitas
berkisar 60 – 35000 ohm.m.
Tabel 1. Hasil forward modelling ketiga konfigurasi
4
Hasil Inversi 2D
Didapatkan permodelan hasil Inversi untuk
setiap kenfigurasi yang disajikan pada gambar 9.
Lingkaran merah menunjukkan zona patahan dan
lingkaran kuning menunjukkan zona kontak.
Parameter yang ditinjau untuk membandingkan ketiga
konfigurasi antara lain jangkauan kedalaman, rentang
nilai resistivitas dan nilai rms error. Penjelasan
masing-masing konfigurasi dijelaskan sebagai berikut:
a. Konfigurasi Dipole-Dipole
Gambar 8. Hasil Inverse Modelling Didapatkan hasil inversi konfigurasi
4. Analisa Hasil Dan Pembahasan dipole-dipole dengan jangkauan lateral 60 m
dan jangkauan kedalaman 13.4 m. Rentang
Forward Modelling nilai resistivitasnya sebesar 16.1 ohm.m –
Hasil forward modelling untuk tiap 13029 ohm.m. Nilai RMS error yang didapat
konfigurasi memiliki perbedaan meskipun inputan yaitu sebesar 4.7%. Hasil inversi ini
modelnya sama. Didapati hasil forward modelling memperlihatkan dengan jelas daerah patahan
memiliki kedalaman antara 10.2 m hingga 11.5 m yang membagi dua blok batuan chert, namun
dengan rentang nilai resistivitas semu sebesar 126 nilai resistivitas yang didapatkan jauh dari
ohm.m hingga 4217 ohm.m. Datum yang didapatkan nilai inputan resistivitas model. Sedangkan
juga bervariasi sebesar 590 hingga 2419. Datum untuk zona kontak didapati nilai resistivtias
terbanyak dimiliki oleh konfigurasi dipole-dipole. yang mendekati inputan model dan mampu
Secara lenkap hasil forward modelling disajikan menggambarkan perlapisan horizontal zona
dalam tabel 1. kontak
a
)
b
)
c
)
Gambar 9. Hasil inverse modelling a) Dipole-dipole b) Wenner-Alfa c) Wenner-Schlumberger
5
b. Konfigurasi Wenner - Alpha Dipole-dipole (11 meter)
Wenner-Alpha (10.2 meter)
Hasil inversi konfigurasi Wenner
Wenner Schlumberger (11.5 meter)
Alfa memiliki jangkauan lateral sebesar 60 m
dan jangkauan kedalamannya sebesar 10.5 m. Nilai resistivity
Nilai RMS error hasil inversi ini sebesar
2.4% dengan rentang nilai resistivitas 118 Dipole-dipole (126 - 4330 Ωm)
ohm.m – 14894 ohm.m. Model ini Wenner-Alpha (470 – 4320 Ωm)
memperlihatkan dengan jelas daerah patahan Wenner Schlumberger (395 – 4217 Ωm)
yang membagi dua blok batuan chert, nilai Nilai RMS error
resistivitas yang didapatkan lebih baik dari
pada konfigurasi Dipole-Dipole. Sedangkan Dipole-dipole (4.7%)
untuk zona kontak didapati nilai resistivtias Wenner-Alpha (1.4%)
yang mendekati inputan model namun kurang Wenner Schlumberger (1.33%)
mampu menggambarkan perlapisan 2. Pada hasil model Inversi yang didapatkan
horizontal zona kontak. konfigurasi Wenner Schlumberger merupakan
c. Konfigurasi Wenner - Schlumberger konfigurasi dengan hasil yang terbaik, karena mampu
menampilkan patahan dan zona kontak dengan jelas,
Hasil inversi konfigurasi Wenner dan juga memiliki nilai RMS error terkecil.
Schlumberger memiliki jangkauan lateral
sebesar 60 m dan jangkauan kedalamannya 6. Daftar Pustaka
sebesar 12 m. Nilai RMS error yang Amalina, N., 2017. Application of 2-D Resistivity
didapatkan sebesar 1.33 % dengan rentang Imaging and Seismic Refraction Method in
nilai resistivitas 49.1 ohm. – 21565 ohm.m.
Identifying the Structural Geological Contact of
Model ini mampu memperlihatkan dengan
Sedimentary Lithologies. s.l., Southeast Asian
jelas daerah patahan yang membagi dua blok
Conference on Geophysics.
batuan chert, nilai resistivitas yang
didapatkan paling mendekati inputan model. Grandis, H., 2009. Pengantar Pemodelan Inversi
Sedangkan untuk zona kontak didapati nilai Geofisika. Bandung: Himpunan Ahli Teknik
resistivtias yang mendekati inputan model
Geofisika (HAGI).
dan mampu menggambarkan perlapisan
horizontal zona kontak. Lowrie, W., 2007. Fundamental of Geophysics. New
York: Cambridge University Press.
Berdasarkan hasil ketiga model tersebut
dapat disimpulkan bahwa konfigurasi yang paling baik Reynolds, J. M., 1997. An Introduction to Applide and
merupakan konfigurasi wenner-schlumberger. Hal itu Enviromental Geophysics. New York: John
dapat dibuktikan dari nilai RMS error paling rendah Wiley & Sons.
dibanding kedua konfigurasi lainnya yaitu sebesar
1.33%. Jangkauan kedalaman model konfigurasi ini Software, G., 2004. Rapid 2-D resistivity & IP
merupakan kedua yang terbaik dibawah konfigurasi inversion using the least-square method. Penang:
dipole-dipole dan nilai resistivitasnya pun yang paling Geotomo Software.
mendekati model awal. Zona kontak dan profil
Telford, W. G. L. S., 2004. Applied Geophysics :
patahan yang membagi batuan chert dapat terhilat
Second Edition. Cambridge: Cambride
jelas.
University Press.
5. Kesimpulan
Dari hasil penelitian didapatkan beberapa
kesimpulan sebagai berikut:
1. Pada model Forward Modelling didapatkan
jangkauan kedalaman pada masing-masing
konfigurasi: