Pengendalian Mutu Nanas Kaleng GGF
Pengendalian Mutu Nanas Kaleng GGF
PENDAHULUAN
Provinsi Lampung merupakan salah satu sentra agroindustri yang ada di Indonesia.
Salah satu perusahaan yang bergerak di bidang agroindustri adalah PT. Great Giant
Food (GGF) yang berada di Kabupaten Lampung Tengah. PT. GGF merupakan
macam produk. Nanas (Ananas comosus, L. Merr) merupakan buah tropis yang
yang cukup menjanjikan untuk dikembangkan. Buah nanas selalu ada sepanjang
waktu karena waktu pemanenannya dapat diatur dan tidak tergantung musim. Buah
nanas merupakan salah satu jenis tanaman hortikultura yang dikonsumsi dalam
bentuk segar atau dikalengkan. Buah nanas yang bisa dikonsumsi hanya sebesar
53% sedangkan sisanya berupa limbah kulit nanas (Haryani, 2011). Buah nanas
mudah mengalami kerusakan yaitu rusak setelah 48 jam jika dalam keadaan telah
terkupas, oleh karena itu buah nanas perlu dikalengkan. Tujuan dilakukannya
masa simpan buah nanas dan memperluas jangkauan pemasaran. PT. GGF
2
mengolah buah nanas menjadi berbagai produk olahan salah satunya adalah produk
nanas dalam kaleng. Menurut Haryanto dan Beni (2007), produk nanas kaleng
pada peningkatan nilai ekspor non migas nasional dan menduduki peringkat
pertama pada nilai ekspor Indonesia untuk buah dalam kaleng yaitu sebesar 90%.
Nanas kaleng merupakan hasil proses pengalengan buah nanas segar yang diberi
larutan gula dengan atau tanpa bahan tambahan. Menurut Luh dan Woodroof
sehingga mutu dan keamanan produk tetap terjaga serta dapat disimpan dalam
waktu yang lebih lama. Pengolahan buah nanas dalam kaleng membutuhkan proses
yang cukup panjang dan dibutuhkan pengawasan serta pengendalian mutu di setiap
Pengendalian mutu adalah kegiatan terpadu mulai dari pengendalian standar mutu
bahan, standar mutu proses pengolahan bahan, barang setengah jadi, barang jadi,
hingga pengiriman akhir ke konsumen agar sesuai dengan spesifikasi mutu yang
tersebut dengan tujuan. Hal tersebut meliputi semua kegiatan dalam rangka
pengawasan rutin mulai dari bahan baku, proses produksi hingga produk akhir.
Pengawasan mutu bahan baku yang digunakan harus sesuai dengan mutu yang
direncanakan. Hal ini perlu diamati sejak rencana pembelian bahan baku,
dengan saat bahan baku tersebut akan digunakan. Mutu bahan baku sangat
3
mempengaruhi hasil akhir dari produk yang dibuat. Bahan baku dengan mutu yang
baik akan menghasilkan produk yang baik, sebaliknya jika mutu bahan baku yang
2004).
Sebagai perusahaan dengan motto “Dengan Kualitas, Kami Sajikan Kualitas”, PT.
yang diinginkan oleh pelanggan. Cara yang dilakukan untuk menghasilkan produk
pada masing-masing proses mulai dari penerimaan nanas segar dari kebun sampai
bahan baku (Quality Control Raw Material) merupakan pengendalian kualitas yang
dilakukan diawal proses sebelum nanas segar masuk ke area proses untuk melalui
nanas kaleng yang sesuai dengan spesifikasi, maka terdapat laboratorium Quality
Control di Cannery Department PT. GGF dengan tenaga analis berkompeten serta
Department PT. Great Giant Food (GGF) Terbanggi Besar Lampung Tengah.
4
yang berguna.
3. Melaksanakan salah satu mata kuliah wajib sebagai syarat untuk menjadi
4. Mempelajari proses pengendalian mutu bahan baku (raw material) pada proses
Praktik umum ini dilaksanakan di PT. Great Giant Food (GGF) bagian Cannery
pada tanggal 17 Juli sampai dengan 18 Agustus 2017 dengan hari kerja dari Senin-
Sabtu dengan rincian jam kerja hari Senin-Jumat pukul 08.00-16.00 WIB dan pada
1. Wawancara
pengendalian mutu (quality control) secara fisik dan kimia pada produksi nanas
kaleng.
berbasiskan pertanian yang kegiatan utamanya berupa perkebunan nanas dan pabrik
pengalengan nanas. Sebelum berubah nama menjadi PT. Great Giant Food,
perusahaan ini awalnya memiliki nama PT. Great Giant Pineapple. Perubahan
nama ini dilakukan pada bulan Januari 2016. PT. GGF secara yuridis formal berdiri
pada tanggal 14 Mei 1979 dengan Akte Notaris No. 48. Perusahaan yang terletak
dipelopori oleh PT. Umas Jaya Farm (UJF) yang secara hukum berdiri pada tahun
1973. PT. UJF bergerak di bidang perkebunan singkong dan pengolahan tapioka
yang diberi merek dagang Tepung Tapioka Cap Kodok. Pada tahun 1975
dilakukan penelitian untuk mencari tanaman penyelang yang cocok bagi tanaman
singkong. Pilihan pun jatuh pada tanaman nanas yang berbuah sepanjang tahun
Penanaman secara komersial pada areal perkebunan telah dimulai sejak tahun 1979,
dimulai dengan penanaman tanaman singkong sebagai bahan baku produksi tepung
tapioka di PT. UJF. Kemudian pada tahun 1980, mulai dilakukan penanaman nanas
tanaman nanas terbaik yang cocok ditanam di areal perkebunan PT. GGF adalah
varietas Smooth Cayenne yang berasal dari daerah Subang, provinsi Jawa Barat
dengan ciri khas daunnya yang tidak berduri. Pembangunan pabrik pengalengan
nanas dimulai pada tahun 1983-1994 dan produksi percobaan nanas kaleng dimulai
pada bulan Oktober 1984. Ekspor perdana nanas kaleng dilakukan pada bulan
Januari 1985 dengan negara Jerman Barat sebagai negara tujuan. Jumlah ekspor
Sampai tahun 2014, PT. GGF telah mengekspor produknya ke 63 negara dan 5
benua dengan benua Amerika dan Benua Eropa sebagai tujuan utama ekspor
dengan persentase 40,8% dan 44,0%, kemudian diikuti oleh daerah Timur Tengah
dan Afrika sebesar 4,2% serta Asia Pasifik 11,1%. Negara-negara tujuan ekspor di
benua Amerika meliputi Amerika Serikat, Kanada, Meksiko, Brazil dan Puertoriko.
dan sejumlah negara Eropa Barat lainnya Selanjutnya, negara-negara Asia dan
Afrika, yakni Jepang, Australia, Israel, Saudi Arabia, Uni Emirat Arab, Tiongkok,
Hongkong, Korea, Lebanon, dan Libya. Proses produksi nanas kaleng di PT. GGF
menggunakan satuan standard case untuk menentukan target dan budget dari
manajemen. Satu standard case mempunyai nilai yang setara dengan 90 kaleng
untuk jenis kaleng A-1; 45 kaleng untuk jenis kaleng A-1,5; 36 kaleng untuk jenis
kaleng A-2; 24 kaleng untuk jenis kaleng A-2,5; 12 kaleng untuk jenis kaleng A-3;
Sampai tahun 2014, PT. GGF telah mampu memproduksi 8,5 juta standard case
per tahunnya. Dengan jumlah produksi tersebut, PT GGF mampu menyuplai 20%
produsen nanas kaleng terbesar ketiga di dunia. Pada tahun 1989, PT. GGF
Ekspor perdana juice concentrate dilakukan pada tahun 1990 dengan menggunakan
diinstalasinya unit mill juice pada tahun 1995. Produk concentrate sendiri
merupakan produk olahan yang menggunakan bagian nanas yang tidak diolah di
bagian cannery. Bagian nanas berupa core buah, kerokan buah, buah memar, over
ripped, undersize meat yang tidak dikalengkan, diolah menjadi produk Pineapple
Juice Concentrate (PJC) dan kulit buah serta buah Pine o matte (POM) diolah
PT. GGF mengembangkan pabrik yang modern dan terintegrasi di mana antara unit
satu dan lainnya saling sinergis sehingga menjadi suatu kesatuan operasi yang
menghasilkan berbagai jenis produk nanas kaleng seperti slice, chunk, tidbit,
crushed dan cocktail dalam sari buah atau sirup dan produk sampingnya yang
clarrified pineapple concentrate, dan not from concentrate, serta dalam beberapa
tahun ini telah diproduksi fruits in plastic cup (pineapple dan tropical fruit salad)
9
dalam potongan tidbit. Produk yang dikirim oleh PT. GGF mengacu pada standar
USFDA (United States Food & Drug Administration) dan regulasi EC (Europen
Community).
Visi yang dimiliki PT. Great Giant Food adalah “Menjadi Mitra Pilihan dan
Terpercaya dalam Buah Olahan yang Bermutu di Seluruh Dunia”. Motto yang
dimiliki oleh PT. GGF adalah “Dengan Kualitas, Kami Sajikan Kualitas”. Nilai-
nilai perusahaan yang dianut oleh PT. GGF adalah sebagai berikut :
komitmen
Tidak ada cara terbaik, tetapi selalu ada cara yang lebih baik
PT. Great Giant Food berlokasi di Jalan Raya Lintas Timur KM 77, Kecamatan
Terbanggi Besar, Kabupaten Lampung Tengah. Secara geografis PT. GGF terletak
pada lintang 040 49’07” LS dan 1050 13’ 13” BT pada ketinggian 46 meter di atas
permukaan laut (mdpl). Di lokasi ini terdapat areal perkebunan, pabrik pengolahan,
serta unit pendukung operasional lainnya. Kota-kota lain yang terdekat dari PT.
GGF adalah Bandar Jaya yang berjarak 18 km, Kota Bumi yang berjarak 50 km,
dan Bandar Lampung yang berjarak 78 km. Industri-industri lain yang terdekat
adalah industri asam sitrat PT. Budi Acid Jaya yang berjarak 3 km, industri gula
putih PT. Gunung Madu Plantation yang berjarak 4 km, dan industri gula putih PT.
Luas areal PT. GGF saat ini mencapai 80.000 hektare yang mencakup areal
terjadinya erosi, areal penggemukan sapi dan lain-lain. Areal perkebunan PT. GGF
mencapai 32.200 Ha dengan luas efektif penanaman 25.595 Ha. Dari areal
perkebunan tersebut dihasilkan buah nanas lebih dari 500.000 ton/tahun yang
menunjukkan hubungan antara pejabat maupun bidang kerja satu dengan yang lain,
PT. GGF dalam menjalankan usahanya memiliki sruktur organisasi yang jelas dan
sesuai dengan tujuan. Bentuk struktur organisasi yang digunakan oleh PT. GGF
adalah bentuk lini dan staf. Organisasi lini dan staf merupakan struktur yang
departemen lini serta komunikasi pengetahuan langsung dan dukungan teknis dari
departemen staf (Soegoto, 2009). Struktur organisasi PT. Great Giant Food dapat
dilihat Gambar 1. Struktur organisasi bagian factory dapat dilihat pada Lampiran
Keterangan :
= Garis Staf B&D = Business & Development
= Garis Lini Forc & Spr =
* = Staff Function TFI = Transpacifik Incorporation
CEQS = Chief Executive
Quality System SSN = Sewu Segar Nusantara
Mgr = Manager HRD = Human Resources &Development
PP & C = Production Planning
& Control Tech. Eng = Technical Engineering
PIR = Perusahaan Inti Rakyat MIS = Management Information System
QA & NPD = Quality Assurance &
New Development Product
Chase Podium 5, Jl. Jend. Sudirman, Jakarta merupakan pemimpin tertinggi yang
Administration Director & Associate, Tax and Legal Manager serta Internal Audit
Manager. PPC Plant Manager, Riset Manager dan PIR Manager merupakan staff
& Development (HRD) Manager, General Service Manager serta Public Relation
Manager.
pengembangan perusahaan.
pengapalan.
secara menyeluruh.
dan penggudangan.
10. Production Department yang berperan dalam produksi, mulai dari bahan
PT. GGF khususnya Factory Department dipimpin oleh factory asc. director
sebagai pimpinan tertinggi dan dibagi menjadi beberapa departemen yang letaknya
Manager yang mebawahi kasie dan kashift di departemen cannery. Setiap kasie
2.5. Ketenagakerjaan
Tenaga kerja di PT. GGF terdiri atas karyawan tetap dan tidak tetap. Karyawan
tidak tetap terdiri dari tenaga kerja harian tetap dan tenaga kerja harian lepas.
16
Tenaga kerja harian tetap merupakan tenaga kerja yang dibayar atau diupah dengan
perhitungan per hari, sifat pekerjaan terus menerus (continous) dan jenis
kerja harian lepas merupakan tenaga kerja yang sifatnya insidentil, absensi tidak
Penetapan jam kerja sesuai dengan Perjanjian Kerja Bersama PT. GGF, pasal 8 ayat
2 adalah 7 (tujuh) jam kerja sehari, 40 (empat puluh) jam seminggu dan 6 (enam)
hari kerja seminggu untuk kerja siang, kerja malam 37 (tiga puluh tujuh) jam
seminggu dan 6 (enam) hari kerja seminggu. Kelebihan jam kerja akan
diperhitungkan sebagai lembur. Tenaga kerja harian pabrik terbagi dalam dua
kelompok kerja berdasarkan jam kerjanya yaitu kelompok (shift) A dan B, dimana
jika shift A bekerja di pagi hari maka shift B akan bekerja di malam hari, begitupun
sebaliknya. Pergantian jam kerja shift A dan B ini dilakukan secara mingguan.
Shift pagi bekerja dari pukul 07.45 sampai pukul 16.00 WIB, sedangkan shift malam
oleh UU No. 1 tahun 1970 yang menyatakan bahwa tenaga kerja berhak mendapat
perlindungan atas kesehatan dan keselamatan selama berada di tempat kerja. Hal
17
itu dikarenakan dalam suatu industri biasanya menggunakan alat-alat dan bahan
yang berbahaya sehingga mempunyai resiko yang tinggi terhadap kecelakaan kerja.
Sebagai bukti kepedulian terhadap K3, PT. GGF menerapkan Sistem Manajemen
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) dan Social Accountability (SA 8000)
fasilitas kesenian, koperasi karyawan “Dwi Karya”, jatah pakaian kerja, kantin,
Sasaran training adalah seluruh karyawan baik harian maupun karyawan tetap.
Sumbang Saran Kreatif (SSK), lomba poster tentang lingkungan hidup, dan
lain-lain.
III. HASIL KEGIATAN DAN PEMBAHASAN
Proses produksi (Cannery Process) yang dilakukan di PT. GGF yaitu mengolah
buah nanas segar menjadi nanas dalam kaleng. Bahan baku buah nanas segar yang
digunakan untuk pengolahan buah kaleng diperoleh dari hasil perkebunan sendiri,
hal ini dilakukan untuk menjaga kualitas, kontinuitas dan efisiensi suplai bahan
dalam bentuk buah segar diantaranya lama masa simpan lebih panjang dan
distribusi lebih mudah karena produk nanas sudah dalam kemasan. Nanas kaleng
adalah salah satu produk olahan nanas yang potensial di bidang pertanian.
berupaya mengolah nanas dengan baik. Pengalengan nanas menjadi faktor yang
Prinsip pengalengan pada dasarnya yaitu pemberian panas dalam jumlah yang
cukup untuk membunuh semua mikroba patogen dan perusak dalam bahan pangan
dalam kemasan atau wadah yang hermetis. Nanas kaleng merupakan pengolahan
lebih lanjut dari buah nanas segar yang merupakan produk utama buah kalengan
dan hampir seluruh produksinya ditujukan untuk ekspor. Proses produksi nanas
kaleng dilakukan sepanjang tahun tanpa mengenal musim karena sudah diatur agar
buah nanas dapat dipanen setiap hari. Proses pengolahan buah nanas di PT. GGF
20
dapat dibagi menjadi tiga tahap utama, yaitu penerimaan bahan baku/mentah (raw
Penerimaan bahan baku (buah nanas) di peroleh dari hasil panen kebun nanas milik
PT. GGF dari PG1, PG2, PG3 dan Nusantara Tropical Fruit (NTF) yang berada di
provinsi Lampung Tengah. Buah nanas yang digunakan merupakan buah nanas
jenis Smooth cayenne dengan varietas GP1, GP2, GP3 dan F180. Buah nanas jenis
Smooth cayenne berbentuk silinder dengan berat antara 2,3-2,5 kg, mempunyai
daging buah berwarna kuning pucat sampai kuning, banyak mengandung air,
mempunyai flavour dan aroma yang khas juga tekstur daging buah yang lunak dan
tidak berserabut (Corone dan Verheij, 1997). Buah nanas biasanya dipanen mulai
dari 4-5 kali di setiap lokasi dengan selang waktu empat hari. Pemanenan dilakukan
secana manual dengan umur panen buah antara 140-160 hari. Buah nanas yang
telah dipanen selanjutnya diangkut menggunakan truk dan diletakkan dalam bin
yaitu tempat penampungan sementara buah nanas setelah dipanen. Buah nanas
dalam bin lalu ditimbang beratnya hingga berkisar antara 3,7-4,0 ton tiap bin,
Buah nanas yang disuplay ke pabrik adalah buah nanas segar dan telah memiliki
tingkat kematangan dan kualitas tertentu karena berpengaruh terhadap mutu dan
kualitas produk yang dihasilkan. Buah nanas segar memiliki ciri-ciri tekstur buah
yang padat dan beratnya seimbang, mata nanas tidak berwarna hitam dan tekstur
tidak lunak, tidak memiliki penyakit yang ditandai dengan adanya bercak coklat
21
(Yanti, 2013). Namun biasanya di area penerimaan bahan baku ini masih terdapat
persediaan buah nanas dari pemanenan sebelumnya yaitu buah yang belum dioleh
atau sisa dari proses pengolahan bagian kelompok (shift) A maupun B. Sistem yang
diterapkan di area ini yaitu dengan sistem FIFO (First In First Out), bahan baku
yang masuk terlebih dahulu maka akan diolah terlebih dahulu dari buah yang baru
dipanen. Dalam satu kali produksi biasanya dapat menghabiskan hingga ± 2000
ton buah nanas segar setiap hari. Pada tahap ini terdiri dari beberapa tahapan proses
Penimbangan buah nanas dilakukan dengan menggunakan bin yang telah diangkut
menggunakan truk. Truk yang mengangkut buah nanas dalam bin di timbang di
jembatan timbang yang memiliki panjang 40 m dan kapasitas timbang sekitar 100
ton. Berat buah nanas dalam bin diketahui dari berat total truk dengan bin penuh
dikurangi dengan berat bin kosong, sehingga dapat diketahui berapa banyak buah
nanas yang diangkut dalam satu truk. Setiap penimbangan dilakukan pencatatan
dilakukan untuk mengetahui berapa banyak buah nanas yang telah masuk ke pabrik.
Selanjutnya bin-bin tersebut diangkut menggunakan forklift menuju stock area raw
Dumping merupakan proses penumpahan buah nanas dari bin melalui konveyor
menuju RMC (Raw Material Conveyor). Proses dumping dilakukan oleh operator
22
dumper. Alat dumping yang digunakan di PT. GGF berjumlah 5 unit dengan 1 unit
Pengawasan mutu pada area ini dilakukan oleh operator dengan melakukan
pencatatan apabila terdapat buah cacat yaitu biasanya berupa banyaknya crown
pada buah dan buah nanas yang berbentuk kipas. Crown yaitu mahkota nanas yang
masih terdapat pada buah nanas di dalam bin, dibedakan menjadi crown A dan B.
Buah kipas yaitu apabila terdapat nanas dengan mahkota berbentuk melebar seperti
kipas. Prioritas dan urutan buah yang ditumpahkan untuk selanjutnya di proses
dilakukan juga menggunakan sistem FIFO (First In First Out), selain itu tingkat
kematangan buah juga menjadi prioritas buah yang akan ditumpahkan. Pada tahap
ini toleransi penundaan penumpahan buah maksimal 36 jam setelah pemetikan, hal
itu dilakukan untuk menjaga kualitas produk yang dihasilkan. Proses penumpahan
atas RMC (Raw Material Conveyor) secara spray atau penyemprotan menggunakan
air dengan tekanan tinggi sebanyak dua kali pencucian dan lama pencucian tidak
nanas dapat berputar-putar karena adanya sistem konveyor, dengan sistem ini maka
setiap sisi dari buah nanas dapat tersemprot dengan air pencuci secara merata dan
menghilangkan kotoran berupa tanah dan bakteri ACB (Alisiclo bacillus) yang
menempel pada kulit buah nanas. Air yang digunakan untuk mencuci nanas telah
ditambahkan klorin dalam bentuk gas sehingga menjadi gas klorin serta
ditambahkan sodium hipoklorin. Kadar klorin yang digunakan yaitu antara 2-7
Klorin adalah bahan kimia yang penting untuk beberapa proses penurunan air,
salah satu zat desinfektan yang umum digunakan dalam pengolahan limbah,
mencuci sayuran dan buah. Tujuan pencucian menggunakan klorin adalah untuk
membunuh mikroba patogen dan mikroba pembusuk yang ada pada sayuran dan
buah. Namun pencucian menggunakan klorin harus dibatasi kadarnya karena dapat
menimbulkan bau dan rasa yang tidak diinginkan (Anwar dan Ali, 2009).
Pengaturan sistem pencucian buah nanas dilakukan dilakukan secara auto dengan
cara menginjeksikan gas klorin ke dalam air dan secara manual dilakukan dengan
terutama bakteri ACB (Alisiclo bacillus) yang terdapat pada kulit buah nanas.
Kadar klorin residu cucian tidak boleh lebih dari 0,5 ppm karena air pencuci akan
kontak langsung dengan kulit nanas yang nantinya akan diproses kembali oleh
Juice (DCPC). Selain itu penambahan klorin yang terlalu berlebihan dapat
Buah nanas yang digunakan terdiri dari berbagai ukuran, pada tahap ini dilakukan
diameter buah nanas. Pemisahan ukuran bertujuan untuk memisahkan ukuran buah
(Pineapple Grader) yang merupakan mesin size grader. Mesin grader bekerja
dengan memisahkan nanas yang berukuran lebih kecil terlebih dahulu lalu diikuti
Hal tersebut dikarenakan jarak ulir pada mesin grader telah diatur sehingga buah
yang berukuran kecil akan jatuh lebih dahulu. Terdapat 3 unit mesin pineapple
grader yang digunakan di PT. GGF setiap unit terdiri dari 5 pipa scroll dengan
diameter terdiri dari beberapa macam seperti dapat dilihat pada Tabel 1.
Buah nanas yang akan diproses menjadi nanas kaleng merupakan buah nanas yang
Pineapple Conveyor) bersama dengan buah nanas yang tidak memenuhi spesifikasi.
Buah yang telah terpisah berdasarkan ukuran selanjutnya akan jatuh ke dalam
konveyor yang akan bergerak membawa buah nanas ke mesin SCR (Supplay
Conveyor) berdasarkan diameter buah nanas yang berbeda yang telah disesuaikan
dengan diameter pada mesin pengupas buah nanas. Selanjutnya buah nanas akan
Pengendalian mutu pada area ini dilakukan dengan memberi pembatas pada tiap
pembatas bertujuan agar buah nanas dengan diameter yang berbeda tidak akan
nanas. Pendistribusian buah nanas menuju mesin pengupas nanas akan melewati
konveyor yang ada pada jalur mesin RMDC sehingga biasanya banyak terjadi
kerusakan buah nanas dikarenakan banyaknya buah nanas yang saling berhimpitan
antara buah yang sudah matang dengan yang masih mentah. Selain itu biasanya
buah nanas tersangkut di bagian pinggiran konveyor. Untuk mengatasi hal tersebut
dan mencegah semakin banyak buah nanas yang rusak, biasanya operator akan
tidak membuat nanas yang lain menumpuk berhimpitan akibat terdapat buah nanas
Pengupasan buah nanas dilakukan dengan mesin yang dinamakan Ginaca Machine
spesifikasi diameter yang berbeda-beda, yaitu untuk mesin ginaca 01-05 nanas
diameter 95 mm (2,5 T), ginaca 06-10 serta 13-17 nanas diameter 82 mm (2T),
ginaca 18-20 nanas diameter 75 mm (1 3/8 T), ginaca 21-24 serta 27-29, nanas
Namun beberapa mesin ginaca bersifat fleksibel, artinya dapat juga digunakan
untuk mengupas buah dengan ukuran yang berbeda sesuai dengan ketentuan
banyaknya buah yang diproduksi, yaitu untuk ginaca 03-05 dapat digunakan untuk
(1T) dan ginaca 23-24 serta 28-19 dapat digunakan untuk nanas diameter 65 mm
(<1T).
Buah nanas akan masuk ke mesin ginaca sesuai diameternya kemudian menuju
elevator untuk dibawa ke mesin pengupasan. Buah yang akan dikupas di mesin
ginaca diseleksi terlebih dahulu dengan tujuan untuk memisahkan buah yang
pengaturan buah nanas yang harus sejajar dan arah mahkota buah nanas menghadap
operator sehingga ketika buah nanas didorong masuk ke mesin pengupas dapat
stabil dan menghasilkan hati nanas yang sesuai standar yaitu berada tepat di tengah
buah nanas serta menghasilkan slugh buah nanas yang baik. Proses pengupasan
Pada proses pengupasan ini dilakukan oleh 1-2 orang operator mesin ginaca.
Operator tersebut bertugas untuk melakukan inspeksi cacat yang terdapat pada buah
nanas yang masuk melalui RMDC seperti memar, sunburn, abnormal, buah
abnormal kipas, busuk dan undersize. Selain itu juga operator bertugas untuk
memotong crown yang masih menyatu pada buah nanas, memisahkan buah nanas
yang cacat, crown dan daun, dengan buah nanas yang telah sesuai dengan
spesifikasi serta memastikan posisi top dan bottom nanas telah sesuai. Pada mesin
ginaca, buah nanas yang berukuran 1T-2,5T akan dikupas dan menjadi nanas kupas
berdiameter 65 mm, 72 mm, 75 mm, 82 mm dan 95 mm. Buah nanas yang telah
Tahap persiapan bahan baku dilakukan di area line preparation yang merupakan
area pengolahan buah nanas yang sudah dikupas menjadi bentuk slugh. Tahap
persiapan bahan bahan baku meliputi beberapa tahapan proses yaitu rinsing, slicing,
30
slice selection, grade selection, pocking, defect selection, decoring, dan filling.
Seluruh tahapan proses pada area ini sebagian besar dilakukan secara manual oleh
pekerja sehingga seluruh tahapan pada area ini harus dilakukan dengan hati-hati
Slugh yang berasal dari mesin ginaca selanjutnya akan masuk ke area line preparasi
dan dilakukan tahap pertama yaitu pembilasan slugh dengan menggunakan air yang
masih terbawa slugh seperti daun nanas dan lainnya. Namun sebelum tahap
pembilasan slugh dilakukan seleksi terlebih dahulu dengan memotong bagian top
bottom pada slugh yang tidak terpotong secara sempurna oleh mesin ginaca. Tahap
ini juga dilakukan seleksi slugh dari penyakit berupa spot, memar, busuk dan off
konveyor untuk pengolahan crushed atau juice. Tahapan ini dilakukan secara
Tahapan selanjutnya yaitu slugh yang telah melalui seleksi di tahap pembilasan
akan masuk ke tahap slicing yaitu pengirisan slugh nanas menggunakan mesin SKS
(Single Knife Slicer) untuk memotong bentuk slugh nanas menjadi berbentuk slice
dengan ketebalan tertentu. Slugh yang masuk mesin SKS terlebih dahulu dibilas
dengan menyemprotkan air dari spray washer yang posisinya menyatu dengan
mesin SKS. Ketebalan slice yang dihasilkan bergantung pada spesifikasi produk
Setelah slugh diiris menjadi bentuk slice, tahap selanjutnya adalah proses seleksi
slice. Seleksi slice dilakukan untuk memilih nanas yang memenuhi kriteria slice,
crush dan standard tidbit. Slice dengan ketebalan yang sesuai ukuran standar
termasuk dalam kriteria slice, sedangkan slice dengan ketebalan yang tidak sesuai
ukuran standar akan masuk pada kritera standard tidbit atau crush. Tahapan ini
dilakukan secara manual oleh pekerja berdasarkan seleksi ketebalan slice. Proses
slice sesuai kelasnya menjadi produk choice dan standar. Pemisahan kelas
dilakukan secara manual oleh pekerja berdasarkan seleksi pada kriteria warna slice.
Produk choice digolongkan berdasarkan nanas slice yang berwarna antara kuning
nanas slice yang berwarna kuning muda sampai kuning tua. Tahap pemisahan
nanas berdasarkan kelas perlu dilakukan secara cermat oleh pekerja agar tidak
terjadi kesalahan dalam penggolongan kelas produk nanas slice. Proses seleksi
Slice yang telah melalui tahap slicing biasanya masih terdapat mata nanas, untuk
menghilangkan mata nanas yang masih terdapat pada slice maka dilakukan tahap
dengan menggunakan alat pinset seperti pada Gambar 10. Mata nanas yang
terdapat pada slice harus dihilangkan karena pada mata nanas diduga terdapat
sumber kontaminan yang dapat menyebabkan penurunan mutu serta masa simpan
produk (Andar, 2014). Tahap peminsetan perlu dilakukan dengan berhati-hati agar
slice nanas yang bersih dengan slice nanas yang masih terdapat mata nanas. Pada
tahap seleksi kerusakan dilakukan juga pemisahan slice yang rusak akibat proses
peminsetan (memilki bekas pinset terlalu dalam). Slice dengan bekas peminsetan
yang terlalu dalam (lebih dari 2 pinsetan) tidak akan masuk sebagai produk slice
dengan kriteria choice. Biasanya slice yang rusak akibat proses peminsetan akan
masuk ke dalam kriteria produk standar atau jika terlalu parah dapat diproses
menjadi nanas produk chunk ataupun tidbit. Slice yang telah sesuai persyaratan
menggunakan mesin can loader untuk menghilangkan inti nanas (core) pada slugh
seperti pada Gambar 11. Penghilangan hati nanas atau core pada irisan tidak harus
34
hilang semua karena hati nanas yang masih tersisa digunakan untuk menahan serat
dilakukan dengan pisau yang akan dipasang pada mesin can loader apabila
dikehendaki dan dapat disesuaikan dengan produk yang berbentuk chunk dan tidbit.
Tahapan pengisian atau filling dilakukan pada nanas yang telah berbentuk slice,
chunk, standartd tidbit dan crush ke dalam kaleng berbagai ukuran yaitu A1 (8 oz),
A1,5 (15 oz), A2 (20 oz), A2,5 (30 oz) dan A10 (107 oz) (1 oz = 28,35g). Pengisian
produk nanas dilakukan sesuai spesifikasi produk yang akan diproduksi. Produk
mesin, sedangkan untuk produk nanas chunk, standard tidbit dan crush dimasukkan
ke dalam kaleng secara manual lalu ditimbang untuk mengetahui berat produk
dalam kaleng. Proses pengisian atau filling dilakukan menggunakan mesin can
loader yang juga digunakan untuk menghilangkan hati nanas (core). Namun untuk
35
pengisian nanas produk slice pada kaleng ukuran A10 dilakukan secara manual
(processing) dilakukan di area cook room yang terdiri dari beberapa tahapan proses
pendinginan (cooking and cooling) serta selection and palletizing. Nanas kaleng
yang berasal dari line preparasi oleh tenaga kerja OKD (Operator Kereta Dorong)
dibawa menuju mesin seamer di area cook room yang sesuai dengan papan
spesifikasi produksi yang terdapat di mesin seamer seperti pada Gambar 13.
Pekerjaan ini harus dilakukan dengan teliti agar produk tidak tertukar dengan
Tahap pertama setelah nanas kaleng berada di mesin seamer yaitu kaleng akan
dimasukkan ke dalam mesin inlet exhaust box untuk dilakukan proses exhausting.
Tahap exhausting juga bertujuan untuk melayukan buah nanas dan menyeragamkan
warna serta mencerahkan warna buah nanas dalam kaleng. Exhausting merupakan
suatu perlakuan pada kaleng dan isinya yang bertujuan untuk menghilangkan
oksigen pada bahan maupun dalam kaleng, menghasilkan ruang vakum pada kaleng
serta menaikkan suhu bahan dalam kaleng yang merupakan suhu awal processing
(Pujimulyani 2009). Kondisi vakum dapat menjaga tutup kaleng tertutup sehingga
mengurangi tingkat oksigen dalam head space. Hal ini juga dapat memperpanjang
umur simpan dari produk makanan dan mencegah pengembangan kaleng pada
daerah yang tinggi. Pengurangan jumlah udara pada saat proses exhausting
Exhausting dilakukan dalam mesin inlet exhaust box yang prinsipnya adalah
menyemprotkan uap panas (steam) yang bertujuan melepaskan udara dari dalam
37
kaleng dan jaringan buah. Pada pengolahan nanas kaleng di PT. GGF, exhausting
atau kondisi vakum dihasilkan dari pelayuan buah nanas dalam inlet exhaust box
Larousse (1997), kondisi vakum dalam kaleng dihasilkan dari pemanasan kaleng
menggunakan steam pada suhu 80-900C selama 5-7 menit atau dengan cara
mekanis. Kondisi vakum memberikan beberapa keuntungan antara lain dapat lebih
mudah memusnahkan spora bakteri pembusuk yang umumnya tidak tahan panas,
serta dapat mengurangi reaksi oksidasi yang mungkin terjadi selama pemanasan
Nanas kaleng yang telah melewati tahap exhausting selanjutnya ditempatkan pada
elevator menuju bowl sirraper untuk dilakukan proses pengisian dengan media
sirup (syruping). Syruping adalah tahap pengisian media berupa sirup ke dalam
nanas kaleng. Nanas yang telah melewati tahap exhausting akan menuju mesin
syruper kemudian diisi dengan sirup atau media yang sebelumnya telah dilakukan
media sirup dinyatakan dalam brix (obrix). Jenis-jenis media sirup yang digunakan
sebagai pengisi nanas kaleng yaitu, jus nanas tanpa penambahan gula (natural
juice), media sirup berupa gula pasir yang dicairkan (water sugar) dan media sirup
Pengisian media sirup ke dalam kaleng tidak boleh terlalu penuh (hanya 90%)
karena harus disisakan tempat kosong dibagian atas kaleng sebagai head space
(volume head space 10%). Pemberian head space ditujukan agar pada saat proses
Pengisian media sirup ke dalam kaleng harus dilakukan sedemikan rupa sehingga
tidak terlalu banyak udara yang tertahan dalam kaleng. Pemberian head space
dilakukan oleh mesin head spacing yang prinsipnya yaitu memberikan tekanan ke
dalam kaleng sebesar 50 cmHg sehingga udara yang terdapat di dalam head space
akan terdorong keluar kaleng (Prasetyo, 2012). Selain itu, adanya tekanan panas
Volume head space dalam kaleng sangat penting diperhatikan, volume head space
tidak lebih dari 10% dari kapasitas kaleng. Headspace yang terlalu kecil akan
sangat berbahaya karena ujung kaleng dapat pecah akibat pengembangan isi produk
dalam kaleng selama proses pemasakan (sterilisasi). Bila head space tidak cukup
maka kecepatan pindah panas akan menurun dan waktu pemanasan menjadi lebih
lama. Sedangkan bila headspace terlalu besar maka udara yang terkumpul akan
lebih banyak sehingga dapat menyebabkan oksidasi dan perubahan warna bahan di
dalam kaleng (Prasetyo, 2012). Perubahan pada warna bahan yang dikalengkan
Nanas kaleng yang telah diisi media sirup dan sudah melewati tahap exhausting,
selanjutnya nanas kaleng masuk pada tahap penutupan kaleng (seaming). Proses
39
Gambar 14. Mesin seamer di PT. GGF terdiri dari 15 unit mesin yang memiliki
spesifikasi produk dan kaleng yang berbeda-beda dan proses penutupan dilakukan
pengemasan yang dilakukan sangat rapat tidak dapat ditembus udara, air, mikroba
atau bahan asing lainnya. Teknik penutupan kaleng secara hermetis ini
perubahan kadar air, kerusakan akibat oksidasi atau perubahan terhadap citarasa
produk didalamnya
Tutup kaleng yang digunakan dalam proses seaming terdiri dari 2 jenis tutup yang
berbeda yaitu tutup kaleng biasa dan tutup kaleng EO (End Open). Tutup kaleng
EO yaitu tutup kaleng yang bisa dibuka tanpa menggunakan pisau. Mekanisme
dimana proses lipatan dua bagian antara Flange Can Body dan Flange Cover dilipat
dalam sekali proses rolling ganda (First Roll and Second Roll) (Nuraeni, 2009).
40
kode (coding) pada setiap produk nanas kaleng. Kode yang dicantumkan terdiri
dari tahun produksi, jumlah hari produksi, nama perusahaan, jenis media sirup yang
digunakan, nama dan jenis produk yang diproduksi, waktu pengerjaan/produksi dan
Nanas kaleng yang telah ditutup selanjutnya akan masuk ke ruang cookroom untuk
and cooling yaitu tahap pemanasan pada nanas kaleng dengan cara sterilisasi.
Sterilisasi pada pengalengan adalah proses pemanasan wadah serta isinya pada suhu
(Pujimulyani, 2009). Suhu sterilisasi yang digunakan di PT. GGF biasanya antara
97-1080C selama 20-40 menit tergantung dari jenis produk dan ukuran kaleng yang
digunakan di PT. GGF yaitu CCC 01, CCC 02, CCC 03, FMC 01, FMC 02, FMC
03, FMC 04, FMC 05, LTCC 01, LTCC 02, Italy 01, Itali 02 dan Italy 03. Masing-
Tahap pemasakan (cooking) dilakukan menggunakan air panas ataupun uap panas
bergantung pada ukuran kaleng dan spesifikasi produk yang akan dihasilkan.
bergantung pada ukuran kaleng dan spesifikasi produk yang diproduksi. Proses
pemasakan menggunakan air panas atau uap panas dilakukan secara spray di dalam
bowl cooker. Keuntungan proses pemasakan dengan uap panas (steam) adalah
dapat mempertahankan bentuk asli bahan sehingga tetap menarik dan dapat
melunakkan bahan tanpa banyak zat gizi yang hilang. Suhu steam yang digunakan
di PT. GGF berkisar antara 96-1050C (Andar, 2014). Setelah melalui tahap
(cooling) di dalam mesin cooker and cooler. Nanas kaleng yang telah dimasak
harus langsung didinginkan karean jika tetap dalam kondisi panas, produk akan
penyok.
42
dilakukan dengan menyemprotkan air dingin yang telah melalui tahap klorinasi.
Tujuannya adalah untuk mencegah terjadinya proses korosi pada kaleng akibat air
dalam kaleng untuk mencegah terjadinya over cooking pada produk didalamnya
yang digunakan di PT. GGF adalah sekitar 32-40o celcius selama kurang lebih 20
menit (Andar, 2014). Menurut Larousse (1997), pendinginan yang baik dilakukan
menggunakan air dingin pada wadah yang sudah disterilisasi hingga suhu mencapai
oleh hembusan angin dari blower yang dilengkapi dengan last blast drier untuk
kaleng yang telah siap akan masuk ke tahap selection terhadap produk yang sudah
ditempatkan pada volta menuju ke area selection untuk dilakukan seleksi terhadap
kaleng yang rusak (penyok). Volta merupakan jalur jalannya kaleng secara
otomatis tanpa tersentuh oleh tangan pekerja, yang bergerak secara kontinyu
menuju ruang seleksi. Seleksi kerusakan kaleng dilakukan secara manual dengan
melihat seluruh bagian kaleng secara visual dan menyeleksi terhadap kaleng yang
mengalami kerusakan. Pada area ini juga nanas kaleng akan dilakukan seleksi
43
berdasarkan spesifikasi produk (choice atau standar), jenis produk dan ukuran
kaleng). Tahap ini dilakukan secara manual oleh pekerja seperti pada Gambar 16.
Nanas kaleng yang telah melewati tahap seleksi selanjutnya dilakukan penyusunan
ke dalam pallet-pallet yang telah disesuaikan dengan ukuran dan jenis produknya
menggunakan alat bantu berupa stic. Jumlah nanas kaleng dalam satu pallet
menggunakan forklift. Tahap terakhir ialah kaleng yang telah dalam pallet-pallet
(packing).
Mutu adalah kesesuaian serangkaian karakteristik produk atau jasa dengan standar
yang ditetapkan suatu perusahaan atau industri berdasarkan syarat, ketentuan dan
pemahaman tentang mutu sangat penting untuk dimiliki oleh suatu perusahaan atau
dan cita-cita perusahaan dapat dicapai dengan lebih cepat dan efisien dengan
menyamakan persepsi mengenai mutu. Produk yang bermutu adalah produk yang
dihasilkan oleh suatu perusahaan atau industri sesuai dengan spesifikasi yang telah
Pengendalian mutu merupakan salah satu teknik yang perlu dilakukan mulai dari
sebelum proses produksi dilakukan, saat proses produksi dilakukan dan sampai
proses produksi berakhir atau selesai menjadi produk jadi. Secara umum
pengendalian mutu adalah suatu tindakan yang terencana yang dilakukan untuk
mencapai, mempertahankan dan meningkatkan kualitas suatu produk atau jasa agar
sesuai dengan standar yang telah ditetapkan dan dapat memenuhi kepuasan
kerusakan bahan selama proses atau setelah menjadi produk jadi, juga untuk
Berbagai upaya untuk menjaga mutu produk (khususnya nanas kaleng) di PT. GGF
dijaga ketat oleh perusahaan untuk konsisten dan memastikan produk dan
bahaya dan kontaminasi selalu dilakukan agar tidak menurunkan mutu produk yang
dihasilkan. Kontaminasi akan sangat berdampak besar bagi perusahaan karena jika
produk yang dikirim bersamaan produk yang terkontaminasi. Oleh karena itu perlu
adanya pengawasan terhadap mutu pada produk dengan cara pemeriksaan produk
secara berkala. Pengawasan dan pegendalian mutu di PT. GGF dilakukan di semua
lini produksi, salah satunya adalah pengendalian mutu pada tahap peneriman bahan
baku (raw material) yang dilakukan saat buah nanas pertama kali masuk ke area
pabrik.
46
Bahan mentah (raw material) yaitu bahan yang baru dipanen atau masih akan diolah
lebih lanjut oleh suatu industri. Bahan mentah biasanya merupakan bahan dasar
yang digunakan untuk menghasilkan produk akhir setelah melewati suatu proses
produksi. Bahan baku yang baik cenderung menghasilkan produk dengan mutu
yang sangat baik pula. Oleh karena itu sangatlah penting untuk dilakukan
pemeriksaan serta pengendalian terhadap mutu bahan baku yang akan digunakan
agar diperoleh bahan baku bermutu baik seperti yang diharapkan. Pengendalian
mutu bahan baku harus dilakukan sejak penerimaan bahan baku di gudang, selama
penyimpanan dan saat bahan baku akan dimasukkan dalam proses produksi (work
in process). Kelainan mutu bahan baku akan memeberi akibat mutu produk yang
Pengendalian mutu bahan baku berkaitan dengan mutu produk yang akan
sehingga akan mengakibatkan masalah pada produk akhir dan termasuk dalam
mutu bahan baku (raw material) merupakan pengendalian mutu yang pertama kali
dilakukan di PT. GGF ketika buah nanas dari kebun tiba di pabrik dan sebelum
selanjutnya. Pengendalian mutu bahan baku akan menentukan apakah bahan baku
tersebut dapat digunakan untuk produksi atau tidak. Pengendalian mutu bahan baku
dilakukan oleh bagian Quality Control Raw Material pada tahap penerimaan bahan
berdasarkan instruksi kerja PT. GGF yang meliputi ukuran buah nanas, inspeksi
abnormalitas buah serta inspeksi kandungan brix dan nitrat buah nanas.
Inspeksi kematangan buah dilakukan terhadap buah nanas yang baru datang ke
pabrik berdasarkan regu petik/regu panen yang meliputi pengecekan kualitas luar
luar buah nanas secara visual. Pengecekan dilakukan dengan melakukan sampling
terhadap buah nanas yang dikirim ke pabrik berdasarkan regu petik/regu panen.
Setiap regu petik/regu panen diambil sampel 2 bin. Masing-masing bin diambil
sampel buah nanas sebanyak 20 buah pada lima titik yang berbeda-beda (sudut
kanan, sudut kiri, tengah) secara acak, seperti pada Gambar 18. Tujuannya agar
X X
X X
kualitas luar buah nanas meliputi tingkat kematangan buah nanas seperti pada
Gambar 19. Berdasarkan standar kualitas kematangan luar buah nanas dapat dilihat
pada Tabel 3.
(a) (b)
bagian dalam buah nanas serta porositas buah nanas. Pengecekan dilakukan dengan
melakukan sampling terhadap buah nanas yang dikirim ke pabrik berdasarkan regu
petik/regu panen. Setiap regu petik/regu panen diambil sampel 2 bin. Masing-
masing bin diambil sampel buah nanas sebanyak 20 buah pada lima titik yang
berbeda-beda (sudut kanan, sudut kiri dan tengah) secara acak, tujuannya adalah
hasil sampling diletakkan pada konveyor, menuju ke mesin ginaca seperti pada
Gambar 20.
Selanjutnya dilakukan pengupasan terhadap sampel buah nanas yang telah diambil
menggunakan mesin ginaca seperti pada Gambar 21, untuk selanjutnya diinspeksi
Gambar 21. Pengupasan buah nanas untuk inspeksi kualitas dalam buah nanas
bagian quality control seperti pada Gambar 22, berdasarkan standar kualitas
dalam buah nanas seperti pada Gambar 23. Standar kualitas kematangan
pengamatan secara visual pada sampel buah nanas yang telah diambil
langsung jumlah presentase porous yang terdapat pada bagian badan slugh
Buah baik : buah yang mempunyai porous < 25% dari panjang/
diameter buah
diameter buah
Kememaran pada buah nanas dapat terjadi selama proses penerimaan bahan baku
akibat adanya benturan karena buah nanas saling timpa atau mengenai permukaan
bin. Selain itu kememaran pada buah nanas dapat terjadi selama proses distribusi
buah nanas di mesin RMDC (raw material distribution conveyor) akibat saling
berbenturan antar buah nanas. Proses penumpahan buah nanas (dumping) juga
dapat mempengaruhi kememaran pada buah nanas, oleh karena itu pada saat
penumpahan buah nanas dari bin harus dilakukan secara perlahan untuk
melakukan sampling terhadap buah nanas yang dikirim ke pabrik berdasarkan regu
petik/regu panen. Setiap regu petik/regu panen diambil sampel 2 bin, masing-
53
masing bin diambil sampel buah nanas sebanyak 20 buah pada lima titik yang
lebih representative.
langsung secara visual sebelum kulit buah nanas dikupas (bagian luar) dan setelah
dikupas (bagian dalam). Inspeksi memar pada buah nanas sebelum dikupas
dilakukan dengan melihat kondisi kulit luar yang lunak setelah ditekan
menggunakan jari seperti pada Gambar 24. Hal tersebut dikarenakan terjadi
benturan antar buah nanas selama penerimaan bahan baku, maupun selama
Sedangkan pengamatan memar buah nanas setelah dikupas dapat dilakukan dengan
melihat presentase memar yang terdapat pada bagian badan buah nanas yang telah
Buah baik : buah yang mempunyai memar < 25% dari panjang/
diameter buah
diameter buah
Jika terdapat buah dengan memar ≥ 30%, maka lakukan resampling dari bin yang
berbeda namun lokasi yang sama dan dilakukan inspeksi kembali seperti
sebelumnya.
Buah nanas merupakan salah satu buah yang rentan terhadap penyakit. Penyakit
buah yang sering dijumpai pada buah nanas adalah penyakit busuk hati, busuk akar,
busuk pangkal dan penyakit lain. Penyakit busuk hati dan busuk akar disebabkan
Gejala penyakit ini adalah pada daun terjadi perubahan warna menjadi hijau belang-
pada bagian pangkal, batang, daun, buah dan bibit terdapat bentuk lunak berwarna
Penyakit lain yang ada pada buah nanas antara lain penyakit marbling (warna coklat
tapi jaringannya mengeras), penyakit brownspot (dalam satu slugh terdapat bercak
berwarna coklat dan jaringannya lunak), penyakit chokspot (berbentuk bercak kecil
dan berwarna hitam), penyakit sunburn (buah menjadi busuk) dan penyakit softrot
(jaringan lunak, berwarna hitam dan lebar). Inspeksi penyakit pada buah nanas
55
dapat dilakukan pengamatan secara visual sebelum nanas dikupas maupun setelah
dilakukan untuk buah yang berpenyakit dibagian luar seperti pada Gambar 25.
Inspeksi penyakit setelah kulit buah nanas dikupas yakni dengan melihat jumlah
spot (titik penyakit) yang terdapat pada bagian badan buah nanas yang telah dikupas
(slugh). Penentuan buah nanas yang memiliki titik penyakit dapat dilakukan
Buah abnormal adalah buah yang perkembangannya tidak baik dan menjadi
berbeda dengan buah yang lain dalam satu jenis buah yang sama. Pada buah nanas,
buah yang dikatakan abnormal adalah buah yang bentuk buahnya tidak normal yaitu
56
berbentuk kipas seperti pada Gambar 26, dan juga cacat pada bagian crown atau
mahkota nanas. Inspeksi pada buah nanas abnormal dilakukan saat buah nanas
dilakukan untuk menentukan apakah buah nanas tersebut masih dapat digunakan
sehingga boleh dikirim ke pabrik atau buah tersebut tidak dapat lagi digunakan.
Kriteria buah abnormal yang boleh dikirim dan tidak boleh dikirim dapat dilihat
pada Tabel 5.
Inspeksi brix dan kandungan nitrat pada buah nanas dilakukan pada buah alami
maupun buah lokasi (non alami). Pengujian nitrat pada buah nanas perlu dilakukan
untuk mengetahui kandungan nitrat pada buah nanas sehingga jika kandungan nitrat
pada buah melebihi standar yang telah ditetapkan maka perlu dilakukan
pengendalian terhadap kandungan nitrat. Pengendalian nitrat pada buah nanas perlu
korosif pada produk nanas kaleng. Nitrat berasal dari penggunaan pupuk yang
Beberapa sayuran dan buah-buahan seperti nanas dapat terakumulasi nitrat hingga
level yang tinggi, sehingga perlu dilakukan pengendalian terhadap nitrat dalam
buah tersebut.
Pengujian brix dan kandungan nitrat buah nanas di PT. GGF dilakukan berdasarkan
lokasi buah yaitu buah non alami dan buah alami. Pengambilan sampel untuk buah
lokasi (non alami), diambil dari sampel buah yang telah dianalisis kualitas dalam
dan kualitas luarnya berdasarkan regu petik yaitu 1 sampel per lokasi. Sedangkan
pengambilan sampel untuk buah alami diambil sebanyak 10 buah dari 1 bin pada
lima titik berbeda (sudut-sudut dan tengah) secara acak. Kemudian dilakukan
pengupasan pada mesin ginaca lalu ambil juice nanas dengan cara mengambil sisa
pengupasan kulit buah nanas, selanjutnya diperas lalu disaring dan diambil sarinya
seperti pada Gambar 27. Analisa brix di PT. GGF dilakukan dengan menggunakan
alat refraktometer, satuan yang digunakan adalah derajat brix (obrix). Sedangkan
Bila hasil analisa nitrat >15 ppm, maka dilakukan resampling dan jika kandungan
nitratnya masih >15 ppm maka buah tersebut di hold selama satu hari/malam dan
dilakukan resampling. Buah yang di hold adalah semua buah dari lokasi tersebut,
dan jika hasil analisa dari resampling buah yang telah di hold masih > 15 ppm maka
nitrat maksimal 15 ppm dikarenakan jika melebihi ambang batas 15 ppm maka saat
nitrat bertemu dengan senyawa protein akan menjadi racun pada makanan tersebut.
Selain itu, 15 ppm juga termasuk dalam kebijakan PT. GGF dengan pembeli
(buyer). Nitrat merupakan sumber korosi, kadar nitrat yang tinggi dan proses
Inspeksi kualitas buah dilakukan ketika setelah pengiriman buah dari plantation
apakan buah dalam bin akan di reject atau di proses. Inspeksi kualitas buah dalam
bin dilakukan jika dalam bin dijumpai bin dengan kualitas buah yang jelek, atau
terdapat buah yang di stok di pabrik (cannery) lebih dari 36 jam serta jika ditemukan
banyak buah undersize (tidak sesuai ukuran) dalam satu bin. Inspeksi kualitas buah
dalam bin dapat dilakukan setelah ditemukan bin dengan kriteria reject di atas, lalu
dilakukan sampling masing-masing diambil buah nanas sebanyak 50 buah tiap bin
pada lima titik yang berbeda-beda (sudut-sudut dan tengah) secara acak agar
a. Defect buah
Bila buah jelek (OR, memar, busuk) ≥ 50%, buah dinyatakan reject
tonase pengiriman
Bila buah jelek < 50%, maka buah diproses seperti biasa dan buah jelek
Adapun kriteria defect buah reject bin dapat dilihat pada Tabel 6.
b. Buah undersize
Bia ditemukan buah berukuran kecil dengan panjang atau diameter <
9.8 cm
Pengendalian mutu buah nanas di mesin ginaca dilakukan untuk mengetahui buah
nanas yang telah dikupas (slugh) sudah sesuai kriteria atau belum untuk dilakukan
sesuai kriteria. Pengendalian mutu di mesin ginaca diantaranya yaitu tahap seleksi
buah, pengecekan pisau pengirisan, tebal tipis irisan daging buah di kulit nanas, dan
Buah nanas yang akan dikupas di mesin ginaca harus dilakukan seleksi dengan
tujuan untuk memisahkan buah nanas yang tidak sesuai kriteria seperti undersize
(dibawah ukuran), oversize (lewat ukuran), memar, busuk dan abnormal seperti
pada Gambar 29. Pengecekan harus dilakukan dengan teliti karena dilakukan
Gambar 29. Buah nanas yang tidak boleh masuk ginaca (memar, undersize,
abnormal, busuk)
Pisau pengirisan yang terdapat dalam mesin ginaca harus dilakukan pengecekan
untuk mengetahui ketajaman pisau pengiris yang digunakan. Jika pisau pengiris
yang digunakan sudah tidak tajam, maka bagian QC akan menghubungi bagian
diketahui dari mulus atau berseratnya slugh yang dihasilkan ketika keluar dari
mesin ginaca. Jika slugh yang dihasilkan berserat maka pisau pengiris perlu
diganti, karena hal tersebut dapat sangat mempengaruhi produk nanas kaleng yang
dihasilkan.
62
Pengecekan slugh dilakukan untuk mengetahui hasil irisan di mesin ginaca sesuai
ukuran irisan top bottom slugh, dan pengecekan letak hati nanas pada slugh. Irisan
top bottom yang sesuai standar adalah masing-maising 12 mm. Jika top bottom
pada slugh belum terpotong, maka dilakukan pemotongan secara manual di area
line preparasi. Pengecekan hati nanas dilakukan untuk mengetahui apakah hati
nanas berada di tengah slugh (center core) atau terjadi penyimpangan pada slugh
yang dihasilkan. Penyimpangan yang biasa terjadi adalah hati nanas pada slugh
melintang (out center core) dan hati nanas terlihat miring pada slugh (off center
core). Selain itu dilakukan juga pengecekan tebal tipisnya irisan daging buah yang
menempel di kulit nanas. Tujuannya adalah untuk mengetahui daging buah yang
layak dijadikan jus dan kulit buah agar tidak ikut ke proses pembuatan jus karena
4.1. Kesimpulan
tahapan proses yaitu penerimaan bahan baku (buah nanas segar), penimbangan,
head spacing, seaming, cooking and cooling dan selection and palletizing.
mempertahankan dan meningkatkan kualitas suatu produk atau jasa agar sesuai
konsumen.
peneriman bahan baku, area persiapan bahan baku, area prosesing sampai tahap
yang pertama kali dilakukan di PT. GGF ketika buah nanas dari kebun tiba di
6. Pengendalian mutu bahan baku dilakukan oleh bagian Quality Control Raw
7. Pengendalian mutu bahan baku yang dilakukan di PT. GGF meliputi inspeksi
abnormalitas buah, serta inspeksi brix dan kandungan nitrat buah nanas.
8. Pengendalian mutu di area penerimaan bahan baku juga dilakukan pada mesin
4.2. Saran
Setelah melaksanakan kegiatan praktik Umum di PT. Great Giant Food (GGF),
berkualitas.
seperti melakukan seleksi pada buah nanas yang masih terdapat crown di area
penumpahan buah (dumping) serta operator lebih teliti terhadap buah yang
tersangkut pada bagian RMC hingga RMDC sehingga terjadinya buah memar
dapat diminimalkan.
65
DAFTAR PUSTAKA
Andar, R. 2014. Mempelajari Proses Produksi Nanas Kaleng di PT. Great Giant
Pineapple Terbanggi Besar Lampung Tengah. (Laporan Praktik Umum).
Fakultas Pertanian Universitas Lampung. Bandar Lampung.
Anwar, F. dan A. Khomsan. 2009. Makan Tepat Badan Sehat. Hikmat Publisher.
Jakarta.
Hariyadi, P. 2000. Dasar-dasar Teori dan Praktek Proses Thermal. Pusat Studi
Pangan dan Gizi, Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Murhadi. 1994. Identifikasi dan Ketahanan Panas Bakteri pada Produk Rendang
Daging Sapi. (Tesis). Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.
Bogor.
Nando, E. P. L. 2014. Rancang Bangun Alat Pengupas Kulit Nanas Sistem Press
Manual. (Skripsi). Program Studi Keteknikan Pertanian, Fakultas
Pertanian Universitas Sumatera Utara. Medan.
PT. Great Giant Food. 2017. Work Instruction Quality Control Raw Material.
PT. Great Giant Food. Terbanggi Besar Lampung Tengah.
Winarno, F. G. dan Surono. 2002. Cara Pengolahan Pangan yang Baik. M-Brio
Press. Bogor.